Kumpulan Cerita Silat

04/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 05

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 05
Oleh Liang Yu Sheng

Dalam pada itu mendadak Coh Ciau-lam menarik serangannya dan melompat mundur, selagi Hui-ang-kin merasa heran, tiba-tiba terdengar suara bentakan, “Berhenti!”

Baru saja Hui-ang-kin menoleh, terlihat olehnya seorang secepat burung terbang sudah menghadang di depan Coh Ciau-lam.

Coh Ciau-lam melihat suhengnya hanay bertangan kosong, walaupun hatinya rada takut, ia masih yakin dengan menggunakan pedang pusakanya tentunya dapat meloloskan diri. Maka dengan segera ‘Yu-liong-kiam’ ia tusukkan dengan beringas.

“Kau berani bertarung denganku ?” bentak Nyo Hun-cong dengan gusar.

Kedua tangannya segera bergerak, di bawah sinar pedang musuh telapak tangannya membelah ke depan, hanya sekejap saja mereka sudah bergebrak dua-tiga puluh jurus.

Hui-ang-kin menjadi heran dan kagum melihat pertarungan mereka, ia tidak mengerti orang ini dengan tangan kosong berani menggempur Coh Ciau-lam yang memakai pedang pusaka.

Ia ingin maju membantu, akan tetapi mereka bertarung dengan seru sekali, kecepatan mereka luar biasa, hendak membantu pun sulit.

Kepandaian Coh Ciau-lam sebagian besar dipelajari dari Nyo Hun-cong yang mewakili sang guru, maka sekalipun dengan mata tertutup bisa mengetahui setiap perubahan jurus pedangnya, sebaliknya Coh Ciau-lam harus mengandalkan pedang pusaka barulah bisa bergebrak sampau empat-lima puluh jurus.

Akan tetapi, setelah lebih lama lagi segera ia merasa tak tahan, selagi ia berniat mencari jalan untuk kabur, mendadak tangan Nyo Hun-cong menyambar dan tahu-tahu pedang Coh Ciau-lam sudah dapat dirampas olehnya, berbareng itu dua jari lain menutuk dan tepat mengenai ‘Ih-gi-hiat’ di pinggang Coh Ciau-lam.

“Nona, orang ini kuserahkan kepadamu!” ia menoleh dan berkata kepada Hui-ang-kin dengan tertawa.

Sinar mata Hui-ang-kin memandang dengan tajam, ternyata Nyo Hun-cong adalah orang yang tadi siang meminta air minum padanya di tengah gurun itu.

Ia mengacungkan jempolnya dan memuji, “Bagus!” Kemudian ia minta Nyo Hun-cong menuntun Coh Ciau-lam dan ia sendiri menyeret Abu, lalu bersama-sama masuk ke dalam kubu kuno tadi.

Setelah berada didalam kubu, Hui-ang-kin memandang Coh Ciau-lam dengan mata mendelik.

“Ternyata memang betul kau sudah takluk pada musuh, kini apa yang akan kau katakan lagi ?” bentaknya kemudian.

Coh Ciau-lam terdiam dan tidak bisa menjawab, hanya matanya terus mengincar Hui-ang-kin dengan sorot yang suram.

“Biar kubereskan dulu biji matamu!” teriak Hui-ang-kin sambil menjulurkan dua jarinya, segera hendak mencolok kedua mata Coh Ciau-lam.

Akan tetapi mendadak ia merasakan bahunya kaku pegal, kiranya telah menyanggah tangannya dengan perlahan.

“Apa artinya ini ?” tanya Hui-ang-kin dengan heran.

“Ia adalah suteku” jawab Nyo Hun-cong dengan tersenyum.

Hui-ang-kin terbelalak heran dan terkejut, “Jadi kau ini -. ”

“Aku bernama Nyo Hun-cong,” ia memperkenalkan diri. “Aku telah membantu bangsa Kazak di medan tempur, tetapi sangat memalukan , kami kalah dan kini hendak menuju ke selatan untuk mengumpulkan orang -orang Kazak di sana dan hendak menggempur pula tentara Boan untuk menentukan siapa yang lebih unggul.”

“Ah, kiranya Nyo-taihiap,” seru Hui-ang-kin sambil meloncat senang, ” Ayahku waktu masih hidup suka memujimu, sayang beliau tidak ada kesempatan bertemu denganmu.”

Nyo Hun-cong tersenyum dan akan bicaram tiba-tiba Hui-ang-kin mendahului berkata, “Aku juga telah lama mengagumi namamu.”

“Apa kau bermaksud melepaskan dia ?” tanyanya pula sambil menuding Coh Ciau-lam.

Mendengar itu Nyo Hun-cong bergelak tertawa.

“Nona, apakah kau pun hendak melepaskan dia ?” balasnya dan juga menuding Abu.

“Tentu tidak!” jawab Hui-ang-kin dengan marah.

“Kalau begitu apa gunakan kau tanya padaku?” kata Nyo Hun-cong. “Kalau kau hendak menggiring dia kembali ke tempat suku bangsamu, akupun hendak menggiring kembali Suteku yang tidak becus ini ke Thian-san.

Muka Hui-ang-kin menjadi merah, ia tahu dirinya telah salah omong dan mencurigai Nyo Hun-cong, kini berbalik ditanya orang, seketika oa terdiam dan tidak menjawab.

Sementara itu, air muka Nyo Hun-cong sudah berubah kereng, ia memandang Coh Ciau-lam dengan sinar mata yang tajam.

“Ciau-lam!” bentaknya kemudian, “Masih ingatkah kau dulu waktu masih belajar di Thian-san betapa Suhu dan aku memperlakukan dirimu ? Kau anak piatu, aku melindungimu seperti adik kandung sendiri, bagaimana Suhu telah berpesan padamu, bukankah beliau selalu berharap supaya kau harus ingat asal-usul dirimu yang berasal dari keluarga miskin, berharap setelah tamat belajar kau bisa berbuat sesuatu pahala bagi rakyat jelata di padang rumput ? Bukankah beliau selalu berpesan supaya kau harus ingat, jangan sekali-kali mengandalkan kepandaian ilmu silatmu untuk membantu dan menjadi budak kaum amtenar dan menindas kaum yang lemah?”

Coh Ciau-lam tidak berani bersuara, ia menghindari sinar mata Nyo Hun-cong yang tajam.

“Sute,” Hun-cong melanjutkan, ” Inilah terakhir kalinya aku memanggilmu, jika kau tetap tidak mau sadar, maka kau juga adalah musuhku, aku tidak perlu menggiringmu ke Thian-san dan kini boleh juga kuberi hanjaran yang setimpal padamu. Coba jawab, apakah kau sendiri yang rela menjadi pengikut musuh atau karena bujukan orang lain? Takluk pada musuh-musuh dan menindas bangsa sendiri, hmm, perbuatan ini lebih mabuk daripada menjadi budak kaum amtenar.”

“Kedua-duanya bukan,” jawab Coh Ciau-lam dengan suara lirih.

“Kalau begitu, cara bagaimana kau menyeberang kesana?” tanya Nyo Hun-cong dengan gusar.

“Boleh kau tanya dia,” kata Coh Ciau-lam sambil menuding Hui Ang-kin.

Keruan Hui-ang-kin menjadi gusar sekali mendengar ucapan itu, ia angkat cambuk dan segera menyabet.

“Tanya aku?” ia mendamprat. “Hmm, memangnya aku yang menyuruhmu takluk pada musuh ?”

“Nona, kau jangan marah dulu, sukalah kau ceritakan saja cara bagaimana ia berkenalan denganmu!” ucap Nyo Hun-cong.

“Tiga tahun yang lalu,” begitulah Hui-ang-kin mulai bercerita, ” Di antara suku bangsaku kedatangan seorang pemuda, dia sendiri mengaku sebagai murid Hui-bing Siansu, tentu saja kami menerimanya dengan baik, dia sering mendekati diriku, akupun menganggap dia sebagai saudara, hmmm, siapa kira kedatangannya ternyata mengandung maksud busuk.”

“Kalau dia hanya mengejar cintamu, kiranya hal itu belum termasuk maksud busuk,” demikian pikir Nyo Hun-cong dengan geli.

Hui-ang-kin mendengus hina, lalu menyambung lagi, “waktu itu kami sedang bertempur dengan pasukan Boan dan sangat membutuhkan tenaga orang, apalagi pemuda yang mempunyai kepandaian seperti dia tentu saja sangat kami hargai, tetapi siapa kira, tidak lama kemudian lantas kami tahu bahwa dia tidka bersungguh-sungguh hendak membantu kami.”

“Waktu berjuang bersama diantara sukumu, serdadu Boan yang kubunuh tidaklah jauh lebih banyak daripada siapapun?” kata Coh Ciau-lam membela diri.

“Ya, kalau kau kebetulan termasuk kedalam satu pasukan bersama aku, kau selalu menunjukkan kegagahanmu yang berlebihan, tetapi jika tidak berbareng denganku kau lantas tidak bersemangat, kau membunuh serdadu Boan hanya hendak pamer kepadaku saja.” Kata Hui-ang-kin berolok-olok.

Nyo Hun Cong berkerut kening mendengarnya.

“Ilmu pedangmu diantara kami memang tidak ada yang mampu menandingi,” Hui-ang-kin melanjutkan. “Tetapi kalau datang saat berbahaya, pedangmu hanya digunakan untuk melindungi dirimu sendiri.”

“Nyo taihiap, kau sendiri sudah memimpin bangsa Kazak bertempur sekian lama, tentu kau paham waktu bertempur tidak bisa hanya mengandalkan pada tenaga satu-dua orang, waktu bertemp[r seluruh pasukan adalah suatu kesatuan, harus ada kerjasama yang baik, betul tidak Nyo Taihiap ?”

Yang ditanya manggut-manggut kepala, lalu sahutnya , “Benar nona, kau pun ternyata sangat mahir dalam medan pertempuran.

“Akan tetapi kau berbeda dengan sutemu ini,, ia hanya tahu akan diri sendiri saja, hanya menunjukkan kegagahan sendiri, sedikit sekali mau menolong orang lain,” tutur Hui-ang-kin pula. “Pada suatu hari, dia dan aku tidak dalam satu pasukan, dia berada bersama saudara lelakiku, mendadak mereka terjebak oleh musuh dan terkepung, keadaannya sangat gawat, tapi dia lantas gugup, seorang diri menerjang dengan pedangnya dan ternyata bisa meloloskan diri, akan tetapi saudaraku tetap terkepung hingga tiga hari tiga malam. Karena ingin menolong yang terluka dan melindungi kawan-kawan lain, saudaraku terluka dan tidak kurang tujuh tempat dan bertempur mati-matian. Akhirnya syukurlah kami datang pada waktunya dan berhasil membobol kepungan musuh dan menolong keluar banyak saudara bangsaku, namun saudaraku sendiri tidak tertolong lagi, lewat dua hari kemudian dia meninggal akibat luka parah yang dideritanya.”

Nyo Hun-cong gusar sekali mendengar cerita ini. Ia mendamprat, “Manusia rendah!”

“Sejak peristiwa itulah aku lantas merasa muak terhadap dia,” Hui-ang-kin meneruskan. “Akan tetapi ayahku masih dapat memaafkannya, beliau bilang bagaimanapun dia adalah tamu, kalau ada bahaya dia sendiri mendahului lari keluar juga tidak dapat di cela, kalau dia mau terus membantu kita boleh tidak perlu menyalahkannya, umpama dia tidak datang membantu kita, waktu dikepung musuh, kakakmu pun tidak akan luput dari kematian.”

Ayahku sangat mencintai saudara -saudara sebangsa kami, kalau dia saja dapat memaafkannya, aku tentu tidak dapat banyak bicara lagi, Cuma sejak saat itu, bila berdekatan dengan dia, aku lantas seperti mencium semacam bau busuk. Ya, aku dapat memaafkan dia tetapi betapapun tidak ingin dekat dengan dia,” Hui-ang-kin mengakhiri ceritanya.

“Dengan begitu, tidak lama kemudian dia lantas angkat kaki dari tempat kalian, bukankah begitu ?” tanya Hun-cong.

“Betul, memang begitulah!” sahut Hui-ang-kin mengangguk.

Nyo Hun-cong gusar dan juga menyesal, ia menoleh, terlihat mata Coh Ciau-lam menggembeng air mata, hatinya jadi lemah lagi.

Pikirnya, “Coh Ciau-lam ini orang yang sangat cerdik, pula ia anak piatu, oleh karena itulah waktu berada di Thian-san Suhu dan diriku sendiri sangat sayang kepadanya. Mungkin juga karena dimanja itulah yang membuat dia mengumbar tabiatnya dan tinggi hati, setelah turun gunung, ditambah tak ada orang yang menuntunnya, benih jahat dari tabiatnya perlahan lantas timbul dan akhirnya menyimpang ke jalan sesat. Untuk itu, aku sendiripun harus memikul sebagian dari tanggung jawab ini, aku adalah Suhengnya, mengetahui sang Sute turun gunung, namum tak kusuruh orang mencarinya, walaupun tatkala itu sedang repot dalam mengatur pasukan dan tidak sempat berpikir sampai ke situ, namum jelas hal ini harus disesalkan, andaikata dia berada disampingku sendiri, mungkin dia tidak akan tersesat sampai sejauh itu.”

Setelah Nyo Hun-cong berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Ciau-lam, menurut penuturannya tadi seharusnya kubunuh dirimu, kuberi satu kesempatan lagi padamu, jika kau bisa sadar dan mengubah kelakuanmu, aku akan melepaskanmu!”

“Hanya berkata di mulut saja tidak boleh dipercaya, siapa berani menjamin kalau dia betul-betul akan sadar dan berubah kelakukannya ?” sela Hui-ang-kin dengan gusar.

“Kau boleh berpikir sendiri, sebentar lagi boleh katakan pada kami,” ucap Nyo Hun-cong kepada Coh Ciau-lam. “Letak kesalahanmu ada dimana tentunya kau sudah tahu sendiri, takluk pada tentara Boan itu adalah kesalahan besar, tapi sebelum ini kau sudah banayk berbuat kesalahan lebih dulu. Umpama kau hanya bertempur demi nona ini, sekalipun bertempur dengan gagah berani pun percuma dan terhitung kesalahan pula.”

Setelah diam sebentar, ia berkata pula, “Aku tidak akan omong lagi tentang dirimu, kesalahan orang harus dipikirkan sendiri oleh yang bersangkutan, kau sendiri boleh menimbang bahwa takluk pada musuh, kesalahan besar ini adalah akibat keseluruhan dari banyak kesalahan lainnya, hendaklah kau buang akar dari kesalahanmu itu!”

Muka Nyo Hun-cong kelihatan serius, Hui-ang-kin mengikutinya dengan sinar mata yang terang, ia merasa diantara perkataan orang seperti mengandung banyak dasar-dasar yang sebenarnya hendak ia bantah, tetapi tidak jadi.

“Baiklah, dia boleh berpikir,” katanya kemudian.

Sesaat itu hati Coh Ciau-lam bergejolak bagai gelombang ombak samudera, perkataan sang Suheng seperti genta yang bergema di lubuk hatinya, dengan serta merta semua hal-hal yang lalu membanjir terbayang dalam benaknya.

Ia terkenang pada waktu baru turun gunung, dengan mengandalkan kepandaiannya ia telah melakukan beberapa perbuatan mulia dan terpuji, kemudian ia mendengar Hui-ang-kin atau si Selendang Merah adalah seorang nona yang paling cantik di padang rumput, ilmu silatnya pun sangat tinggi, tanpa terasa timbul keinginannya untuk meminang, dari jauh ia datang mencari Hui-ang-kin, dikiranya dengan usianya yang masih muda dan dengan kegagahannya, bersama Hui-ang-kin boleh dibilang pasangan yang cocok.

Tidak terduga makin lama Hui-ang-kin makin menjauhi dirinya, tidak lama ia pun mengetahui si nona malah mencintai penyanyi gurun itu, pemuda seniman yang rupawan tetapi berjiwa kotor dan rendah.

Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia mengangkat kepala dan memandang si Abu, orang ini sedang mendengkur dengan nyenyaknya seperti babi mampus.

Coh Ciau-lam tertawa menghina dalam hati.

“Hmm, oran gsemacam ini apanay yang dapat menandingiku, tetapi Hui-ang-kin justru mencintainya!” pikirnya dalam hati.

Ternyata sampai saat ini ia masih belum mengerti mengapa Hui-ang-kin tidak mencintainya, Sebaliknya malah tergila-gila pada seorang penyanyi murahan, sungguh dalam hatinya merasakan ketidak adilan dan penuh penasaran.

Sekarang saja demikian jalan pikirannya, apalagi dahulu, tentu bisa dibayangkan!

Tatkala itu ia betul-betul sangat benci dan seakan-akan hendak membunuh mampus keduanya, si Selendang Merah dan si Abu, tetapi ilmu silat Hui-ang-kin tidak dibawahnya dan juga Abu berdampingan dengan si nona, ia tidak mempunyai kesempatan buat turun tangan keji.

Pada waktu yang sama ia pun mengetahui bahwa si pahlawan tua Danu, makin menjauhi dirinya, walaupun masih tetap ramah terhadapnya, tetapi urusan dan tugas yan gpenting sudah tidak diserahkan padanya lagi, hanya menganggap dia seorang biasa saja.

Tentu saja ia bisa melihat gelagat dan diam-diam mendongkol, ia hanya bisa saja mengomel, “Hmm, aku Coh Ciau-lam betapa gagahnya, ilmu pedangku siapa yang dapat menandingi, tetapi kau justru memandang hina padaku.”

Semula ia hanya mengomel dalam hati, tapi lama kelamaan tercetus juga omelannya dari mulut.

Ada beberapa ‘kawan’ yang sepaham dengan dia, demi mendengar omelannya lantas ada yang mencoba menghiburnya, “Dengan kegagahanmu, apa gunanya menderita kemasgulan disini, jika dibilang hanya karena Hui-ang-kin, kini si rase cilik itu sudah mempunyai idaman hatinya, lalu kau mau tunggu apalagi ?”

Begitulah maka pada suatu hari, beberapa ‘kawan’ itu lantas membawa dia pergi menemui seorang opsir Boan yang menyaru sebagai saudagar, sekali omong saja dia lantas tertarik ke pihak sana.

Beberapa ‘kawan’ itu ternyata adalah mata-mata pasukan Boan.

Kala itu Coh Ciau-lam bahkan berpikir begini, “Jika pada suatu saat aku berjaya, pasti akan kubalas membuat Hui-ang-kin mati kesal.” Tidak disadarinya sejak saat itu ia telah terjeblos semakin dalam, dan telah berubah menjadi algojo bagi pasukan Boan untuk membunuh rakyat padang rumput yang tidak berdosa.

Kini makin dipikir makin kalut pikiran Coh Ciau-lam, sinar mata Suhengnya yang kereng masih terus mendesaknya.

Teringat olehnya berapa kasih sayang Suhu dan Suhengnya terhadap dirinya, karena itu, suatu saat timbul rasa penyesalan didalam hatinya.

Akan tetapi kesalahan dirinya terletak dimana ? Orang Boan sudah menduduki tanah air kitadengan kukuh, jika ingin membuat pahala dan mendapatkan kedudukan, kalau tidak berjuang untuk kerajaan Boan, lantas pada siapa lagi ?

Ternyata selama dua tahun ikut dalam pasukan Boan ini, ia sudah diberi dasar pemikiran, ‘Belajar ilmu silat maupun kesusastraan harus dijual kepada keluarga kerajaan’, maka pesan – pesan Suhu dan Suhengnya sudah terbuang jauh di belakang kepalanya, bahkan ia menganggap waktu ikut perjuangan pahlawan tua Danu dahulu sebagai perbuatan anak remaja yag masih hijau.

Nyo Hun-cong melihatnya sampai sekian lama tidak berbicara, ia mendesak lagi, “Ciau-lam, bagaimana, sudah tembus pikiranmu belum ? Sudahkah kau tahu dimana letak kesalahanmu?”

Sebenarnya Coh Ciau-lam ingin membantah, “Aku tidak bersalah!” Namun ia takut pada sorot mata sang Suheng, ia pun keder akan sambaran cambuk Hui-ang-kin.

“Suheng masih mendingan,” begitu pikirnya, “Tetapi Hui-ang-kin ini perempuan liar, wataknya jelek sekali, jika aku berbantahan dengan mereka, mungkin ia bisa memukul mampus aku!”

Maka ia lantas putar haluan dan berkata, “Suhengm biarlah aku berpikir lagi.”

“Ya, watakku sungguh kurang sabar, hanya sebentar saja menyuruhmu berpikir dengan matang-matang memang sulit, ” kata Nyo Hun-cong dengan menghela nafas. “Baiklah, biarlah kuberi tempo dua hari lagi padamu, kita mengawani dahulu nona ini kembali ke tempatnya, baru nanti kubawa pergi dirimu, kala itu kukira pikiranmu sudah bisa jernih.”

Kiranya Nyo Hun-cong berpikir, Coh Ciau-lam pernah ikut perjuangan bersama dengan pahlawan tua Danu, disana ada banyak kawan seperjuangannya, jika kubawa dia kesana dan bertemu dengan kawan-kawannya dahulu, setelah mendengar tentang kepahlawanan Danu-loenghiong, mungkin bisa mempengaruhi perasaannya dan membantunya menemukan letak kesalahannya sehingga dapat kembali ke jalan yang benar.

Akan tetapi setelah mendengar kata-kata itu Coh Ciau-lam malah merasa takut.

Ia tahu bangsa Lopuh membenci serdadu Boan sampai ke tulang sumsum, jika mengetahui dia adalah opsir pasukan Boan, cukup sebutir batu saja bisa membuatnya mampus, maka diam-diam ia mencari jalan untuk melarikan diri.

Waktu itu sudah lewat tengah malan, diluar kubu kuno itu angin bertiup tak henti-hentinya dengan keras.

Nyo Hun-cong telah berlari seharian, pula telah menderita lapar setengah hari, dan baru sembuh dari sakit, tanpa teras ia menguap beberapa kali.

Melihat itu, Hui-ang-kin berkata kepadanya, “Nyo Tai-hiap, biarlah kita jaga bergiliran, kau boleh tidur dahulu sampai pukul tiga nanti kubangunkan kau, lalu bergantian aku yang tidur, besok kita berangkat sedikit agak siang.”

“Biar aku jaga lebih dulu, kau pergi tidur saja,” kata Nyo Hun-cong.

“Aku dibesarkan di padang rumput dan biasa berkeliling di gurun pasir, aku tidak merasa lelah,” kata Hui-ang-kin.

Nyo Hun-cong tertawa melihat si nona suka unggul, tetapi lebih dulu ia tutuk dengan keras ‘Nui-moa-hiat’, hiat-to kelumpuhan di tubuh Coh Ciau-lam.

“Kini tak perlu kuatir lagi, boleh kau jaga dia, kalau sudah pukul tiga bangunkan aku,” katanya pada Hui-ang-kin.

Waktu Hui-ang-kin dinas jaga, beberapa Coh Ciau-lam ingin sekali berbicara padanya, tetapi Hui-ang-kin tidak menggubrisnya, sekali-kali malah mengayunkan cambuknya mengancam.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: