Kumpulan Cerita Silat

02/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 03

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 03
Oleh Liang Yu Sheng

Hati Nyo-hun-cong tergetar, ia menjadi tidak tega, sedikit ia serongkan pedangnya, ujung pedang menyerempet lewat dipinggir leher Nilan Siu-kiat.

Sekalipun sudah cukup berpengalaman di medan pertempuran, namun Nilan Siu-kiat masih juga merasakan ada angin tajam dingin menyambar lewat lehernya, sehingga membuatnya gugup dan takut tidak kepalang, tangan kaki pun terasa lemas.

Pada saat itu pula, Nyo-hun-cong yang kuat laksana gunung segera menutuk iga Nilan Siu-kiat dan segera pula menarik orangnya dan dikempitnya sekalian.

“Jika kauingin hidup, lekas biarkan aku keluar dari sini!”, bentak Hun-cong.

Melihat panglimanya tertangkap musuh, dengan sendirinya, pasukan Boan tidak berani mendesak maju lebih dekat lagi.

Dengan satu suitan panjang segera Hun-cong lari keluar dan kepungan, ia mengincar dengan tepat seekor kuda bagus, segera ia mencemplak ke atas kuda itu berbareng tangan menyikut sehingga membuat opsir diatas kuda itu jatuh terjungkal, tangan kanan Nyo-hun-cong masih tetap mengempit Nilan Siu-kiat dan kudanya segera dilarikan dengan cepat.

Serdadu Boan tidak berani memanah, kuatir melukai penglima mereka sendiri, mereka hanya menguntit saja dari belakang.

Nyo-hun-cong melarikan kudanya secepat terbang, sebentar saja serdadu Boan sudah tertinggal jauh, hanya terdapat seorang penunggang kuda saja yang masih menguntit dengan kencang.

“Kau sudah berhasil lolos dengan selamat, mengapa kau masih terus mengempit dan membawa lagi ayahku!” begitu terdengar suara nyaring perempuan berteriak dari belakang.

Nyo-hun-cong segera berpaling ke belakang, ternyata yang masih menguntit itu adalah Nilan Ming-hui yang telah menolong jiwanya beberapa hari yang lalu.

Hun-cong tercengang, dilihatnya Nilan Ming-hui menbedsal kudanya seceat kuda terbang mendatangi, suaranya rada gemetaran, Hun-cong menjadi tertegun, seketika ia menjadi bingung.

Pemuda yang gagah berani kian kemari menerobos di tengah ribuan tentara, ternyata tidka berdaya dan terpengaruh di bawah sinar mata seorang gadis yang seperti minta di kasihani, perasaannya terguncang bagaikan debur ombak samudera, ia ingat bagaimana bangsa Kazak yang tidak berdosa di tindas secara kejam, justru orang yang ia kempit sekarang ini adalah musuh besar bangsa Kazak, teringat pula olehnya beberapa malam berada dalam perkemahan yang hangat itu, yang menolong jiwanya justru adalah gadis asing ini, yang ternyata adalah anak gadis musuh besarnya.

Mendadak ia menahan kudanya, ia berpaling sambil melepaskan Nilan Siu-kiat dari tutukannya tadi dan membantingnya ke tanah pasir.

“Siocia, Ayahmu ada disini, ia tidak terluka, kini boleh legalah hatimu,” katanya sambil memapak kedatangan Nilam Ming-hui.

Nilan Siu-kiat menjadi heran melihat anak gadisnya melenggong terkesima dengan nafas tersengal-sengal, ia tidak mengerti apakah artinya semua ini.

“Terima kasih, ” kata Nilan Ming-hui kemudian setelah ayahnya naek keatas kudanya.

“Tidak perlu berterima kasih padaku, ” kata Nyo-hun-cong dengan dingin, “Kau telah menolong jiwaku, kini aku mengembalikan ayahmu, jadi kita sama-sama tidak berhutang budi.”

Setelah berkata begitu, kakinya mengempit kencang kudanya, segera kuda dilarikan lagi menuju padang rumput yang luas dan tanpa berpaling lagi.

Kata-kata Nyo-hun-cong tadi begitu ketus, akan tetapi dalam hati penuh kemasgulan, ia sayang akan jiwanya yang berharga, juga merasakan kekosongan perasaannya, ia adalah seorang Eng Hiong, seorang pendekar atau pahlawan, tetapi ia tidak lebih daripada orang biasa dalam urusan asmara, sama sekali ia tidak berani membayangkan bahwa gadis yang mempesona ini adalah anak gadis musuhnya, namun ini adalah kenyataan, kenyataan yang kejam, hampir ia tak percaya seorang gadis yang begitu halus dan jelita ternyata mempunyai ayah yang tangannya penuh berlumuran darah rakyat tak berdosa.

Dalam keadaan pikiran bimbang dan cemas, Nyo-hun-cong melarikan kudanya dengan cepat menuju selatan.

Matahari yang tadinya merah membara kini mulai beralih ke barat, pemandangan senja yang kemerah-merahan menyoroti padang rumput yang luas ini, membuat suasana indah beraneka warna.

“Siang hari dengan cepat akan lewat dan malam gelap akan segera tiba pula,” kata Hun-cong dalam hati.

Dalam waktu itu, ia merasakan badan letih dan perut lapar. Pagi tadi waktu ia merebut kuda seorang opsir Boan untuk melarikan diri, ia lupa untuk sekalian merampas ransumnya.

Begitulah ia termenung dan melarikan kudanya dengan rasa cemas. Perut lapar adalah mirip musuh yang tersembunyi, yang tidak menampakan diri, kini sang surya mulai terbenam di ufuk barat, musuh yang tersembunyi itu telah muncul pula, ia merasakan serangan kelaparan yang amat sangat.

Dari tiupan angin malam, sayup-sayup terdengar oleh Hun-cong di depan sana seperti ada suara derapan kaki dan kelengenan kuda.

“Jika beruntung, bisa bertemu kafilah yang sedang lewat, aku bisa minta air dan rangsum padanya, ” begitu pikirnya.

Ia tiarap diatas kua dan mengentak perut kudanya, binatang itu segera mementang kaki dan lari secepat terbang menyusul ke depan sana.

Setelah mengejar beberapa lama baru tertampak olehnya dimuka sana sedang berlari dua ekor kuda, penunggangnya mempunyai kecakapan menunggang yang luar biasa, Hun-cong sendiri telah letih dan kudanya pun lelah sekali, walaupun dengan sekuat tenaga ia mengejar lagi, namum masih belum bisa menyusul mereka.

Selagi Hun-conh merasa putus asa, mendadak kedua penunggang kuda di depan melambatkan kuda mereka dan berjalan berendeng.

Dengan girang Nyo-hun-cong keprak kudanya menyusul pula, ia melihat seorang penunggang diantaranya adalah seorang nona cantik, kepalanya memakai ikat kain merah, jung kain melambai-lambai tertiup angin, sedang seorang penunggang yang lain adalah seorang pemuda.

Selagi Hun-cong hendak memanggilnya, sayup-sayup tetapi terputus-putus terbawa angin, didengarnya percakapan kedua muda-mudi itu.

“Hui-ang-kin, mengapa kau terus mengeprak kuda mengejar perjalanan -.. berikankan aku hidup lebih lama -.. bukankah kau juga takkan merasakan kebahagiaan ? — Ah, Hui-ang-kin sungguh kau begitu tega ?”

Sayup-sayup dari depan sana lalu terdengar helaan napas yang penuh dengan rasa kehalusan wanita.

Jalan kedua kuda di muka kini lebih lambat lagi.

“Hui-ang-kin ?” hati Hun-cong tergerak oleh nama ini. “Apakah gadis di depan ini betul adalah pahlawan wanita yang tesohor di pdang rumput ini ?”

Hui-ang-kin atau si selendang merah adalah anak gadis seorang pahlawan tua, Danu, kepala suku bangsa Lopuh, nama aslinya adalah Hamaya, ia mahir sekali dalam hal ilmu pedang dan menunggang kuda, ia selalu mengembara di sekitar selatan dan utara Thian-san, seperti juga Nyo-hun-cong, iapun sangat dikagumi dan dihormati suku-suku bangsa di padang rumput, karena ia senantiasa memakai selendang merah, maka orang menjulukinya Hui-ang-kin atau si selendang merah.

Nyo-hun-cong sudah lama mendengar namanya, tetapi karena terlalu sibuk di medan pertempuran, maka belum pernah berjumpa dengannya.

Sekalipun Nyo-hun-cong sudah merasa kelaparan, namun terpaksa bertahan untuk sementara dan melambatkan lari kudanya untuk mendengarkan apa yang sedang mereka percakapkan.

Tak lama kemudian, terlihat di selendang merah mengayun cambuknya yang panjang sambil berkata seperti memerintah, “Kau boleh menyanyikan pula satu lagu!”

Pemuda itu menuruti perintahnya, ia lantas meniup seruling, suaranya terdengar mengharukan sekali, seperti mengandung rasa ketakutan dan kekecewaan, habis meniup seruling ia pun mulai bernyanyi :

O, Nona!
Ingatkah saat gembira ria masa lalu,
Katamu cintamu -.. melebihi dalamnya lautan!
Betapa engkau begitu tega,
Hendak mencelakai kekasih sendiri ?
Engkau memuji suara nyanyianku,
Bagaikan burung kenari di padang rumput,
Kupuji kecantikanmu dan kecerdikanmu,
Suara nyanyian yang merdu ini,
Kemana hendak kaucari ?
Mengapa engkau begitu tega ?
Menggiring aku menuju kematian

Mendengar lagu nyanyian itu perasaan Nyo-hun-cong seperti tertusuk, teringat pada Nilan Ming-hui, apakah si selendang merah dengan pemuda ini juga sedang mengalami hal yang sama seperti dia dengan Nilan Ming-hui? Sama-sama jatuh cinta tetapi keduanya juga musuh? Akan tetapi rasanya seperti tidak sama.

Tengah Nyo Hun-cong termenung dengan berbagai pertanyaan yang timbul di dalam pikirannya, terlihat pemuda yang berada di depan itu menggunakan saat si Selendang Merah sedang tenggelam dalam lamunan seperti mabuk oleh suara nyanyian yang merdu merayu tadi, mendadak tali kendali kudanya di tarik dan segera dilarikan untuk kabur.

Si Selendang Merah menjadi gusar, cambuk kulitnya segera di ayunkan.

“Abu, kau cari mampus!”, bentaknya.

Baru saja kuda pemuda itu mulai berlari, tiba-tiba sabetan cambuk si Selendang Merah sudah menyambar dan melilit badannya dan terus di tarik kembali.

“Haya!” tanpa sengaja Hun-cong mengeluarkan suara kaget karena kejadian itu.

“Siapa kau?” si Selendang Merah berpaling dan membentak Nyo Hun-cong.

“Aku adalah saudagar yang kebetulan lewat di sini,” jawab Hun-cong.

“Kalau begitu, ” kata si Selendang Merah lagi, “Kau boleh jalan terus dan tidak perlu ikut campur urusan orang lain.”

Hun-cong melarikan kudanya sambil memberi hormat dengan merangkapkan tangannya, ucapnya, “Lienghiong (Pendekar Wanita), maafkan atas kecerobohanku, akan tetapi terus terang, sebenarnya aku kehabisan rangsum dan air. Jika sekiranya Lienghiong ada kelebihan bekal, bisakah tolong memberi sedikit bantuan ?”

“Hmm, rupanya kau adalah bangsa Han yang baik, tidak pakai pura-pura dan suka terus terang,” kata si Selendang Merah dengan tersenyum setelah memandang Nyo Hun-cong sekejap, lalu ia keluarkan sebungkus rangsum kering dan melemparkan sebuah kantong ait kepada Hun-cong.

“Bungkusan rangsum itu boleh ku berikan padamu, tetapi air jangan kau habiskan,” katanya pula pada Nyo Hun-cong.

“Terima kasih, nona!” sahut Hun-cong, setelah minum dua teguk air dan makan sedikit rangsum, ia melemparkan kantongan air itu kepada si Selendang Merah sambil mengucapkan terima kasih.

“Baiklah kini kau boleh lekas pergi,” kata si Selendang Merah, “Aku tidak ingin sejalan denganmu.”

Hun-cong mengiyakan perlahan dan kemudian memutar kudanya ke arah depan.

Sebentar ia melihat si Selendang Merah beserta si pemuda tadi melarikan kuda mereka dengan cepat, sekejap saja mereka sudah mendahului pula di depan Nyo Hun-cong.

Terlihat tiada henti-hentinya si Selendang Merah membentak-bentak pemuda tadi dan mencambuki kudanya supaya berlari lebih cepat lagi.

Heran sekali Nyo Hun-cong melihat tingkah laku kedua orang itu, ia tidak mengerti bagaimana sebenarnya hubungan antara mereka berdua itu.

Hung-ang-kin mempunyai nama baik di daerah Sinkiang selatan dan berpengaruh besar, tidak peduli apa yang terjadi sebenarnya, aku harus menyelidikinya sampai jelas, Jika bisa berkerja sama dengan dia dalam gerakan melawan tentara Boan sungguh merupakan tambahan tenaga yang kuat sekali, demikian pikir Hun-cong dalam hati.

Nyo Hun-cong pun mahir dalam menunggang kuda, diam-diam ia menguntit di belakang Hui-ang-kin dan selalu mempertahankan jarak di antara mereka asal cukup terlihat dari jauh saja.

Tidak lama setelah berjalan lagi, cuaca mulai gelap, Hui-ang-kin seperti paham betul jalan itu, ia menghalau kudanya menuju sebuah rumah panggung kuno yang berada di depan, kuda di ikat di pinggir jalan, kemudian dengan menyeret tangan pemuda itu mereka masuk ke dalam tumah panggung kuno itu.

Nyo Hun-cong coba mengelilingi dan memeriksa sekitarnya, ternyata tempat ini sudah berada di luar batas gurun pasir, mereka sudah berada di padang rumput.

Di padang rumput hendak mencari sumber air tidaklah sulit, setelah Hun-cong mendapatkan air, ia biarkan kudanya minum sekenyangnya, ia sendiripun minum sedikit dan makan sisa rangsum yang masih ada.

Setelah beristirahat sejenak, ia menambat kudanya di tepi sumber air itu, dengan menggunakan ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi ia pergi menyelidiki bangunan kuno yang dipakai mengaso Hui-ang-kin tadi.

Waktu itu sang dewi malam telah menggantung di tengah langir. Di bawah sinar bulan, Hun-cong melihat di depan bangunan kuno itu terukir tidaga huruf, “Hong-hwe-tai” atau panggung api unggun.

Hun-cong cukup paham sejarah kuno, ia tahu rumah panggung begitu didirikan oleh tentara di jaman dulu, dibuat dari tanah liat dan kayu, bentuknya mirip piramid.

Jalan di padang rumput dan gurun pasir menyesatkan, maka tentara jaman dulu membuat panggung semacam ini untuk mengetahui jarak antara satu pos dan pos lainnya dan juga untuk pedoman jalan serta untuk tempat istirahat. Jika terjadi sesuatu, penjaga di atas panggung segera membakar api obor, karena itulah juga dapat dibuat sebagai tanda untuk meminta bala bantuan.

Rumah panggung kuno semacam itu yang ada si Sinkiang kebanyakan dibuat pada dinasti Tong, didaerah utara hanya sedikit, tetapi di selatan agak banyak, ditambah lagi sudah berumur sekian abad, kebanyakan panggung itu rusak dan ambruk, kalau bukan orang yang cukup paham dalam perjalanan, susah mendapatkannya dan apalagi menggunakannya untuk beristirahat.

Segera Hun-cong melayang ke atas dan hinggap di atap panggung kuno itu.

Rumah panggung atau kubu ini terdiri dari dua tingkat, tingkat atas terbuka sehingga dapat dibuat memandang sekeliling, tingkat bawah dipergunakan untuk tempat istirahat.

Setelah berada di atas, Hun-cong mendekam, pedangnya menusuk perlahan hingga terbentuk sebuah lubang kecil, ia mengintip ke bawah, dilihatnya Hui-ang-kin bersama pemuda itu telah membuat api unggun dengan rumput kering, dan sedang berbicara dengan asyik sekali.

Di lain pihak tiba-tiba Hui-ang-kin melihat debu jatuh dari atas, ia memandang sekejap ke atas, tetapi tidak menemukan apa-apa.

“Kubu ini sudah terlalu tua, tertiup angin sedikit saja sudah seperti mau ambruk,” katanya.

Tetapi hatinya masih belum mantap, mendadak tangannya seperti di ayunkan, cepat Hun-cong berkelit sambil menyampuk dengan telapak tangannya, ternyata beberapa jarum perak telah jatuh di lantai.

“Sungguh lihai sekali Hui-ang-kin,” pikir Nyo Hun-cong, “Rupanya iapun curiga ada orang mengintipdi atas, maka menimpuknya dengan jarum, kalau aku tidak sempat berkelit, tentu mataku sudah dibuatnya buta?”

Akan tetapi ia lantas mendekam dan mengintip lagi.

Melihat tiada sesuatu kejadian di atas, Hui-ang-kin tidak curiga lebih lanjut.

“Abu, masih adakah yang hendak kau katakan ?” begitulah Hun-cong mendengar Hui-ang-kin bertanya.

“Hui-ang-kin, mengapa kau hanya percaya omongan orang dan tidak percaya pada keteranganku ?” kata orang yang di panggil Abu itu. “Engkaulah orang yang kucinta, bagaimana aku bisa mencelakai ayahmu? Dipadang rumput Daun-loenghiong telah kepergok pasukan Boan, ia terkepung, pertempuran seru berlangsung hingga tiga hari tiga malam, aku selalu mendampingi beliau, belakangan tentara Boan dapat menerobos pertahanan kita dan menyerbu ke perkemahan. Danu-loenghiong dan membunuhnya, hatiku sendiri sangat sedih, bagaimana kau bisa malah menyalahkan aku?”

“Bohong!” bentak Hui-ang-kin, “Ayahku begitu perkasa, mungkinkah kalian yang tinggal bersama dalam satu kemah, kau bisa melarikan diri, tetapi ayahku tidak? Lagipula menurut laporan Pak Kiai, ia mempunyai bukti-bukti cukup yang menunjukan kaulah yang membawa tentara Boan menyerang di tengah malam dan membunuh ayah. Jika benar kau tidak berdosa, kenapa jauh-jauh, kau kabur dan tidak berani kembali ke tengah-tengah suku kita?”

Mendadak Abu menangis tergerung-gerung.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: