Kumpulan Cerita Silat

02/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 03

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 03
Oleh Liang Yu Sheng

Hati Nyo-hun-cong tergetar, ia menjadi tidak tega, sedikit ia serongkan pedangnya, ujung pedang menyerempet lewat dipinggir leher Nilan Siu-kiat.

Sekalipun sudah cukup berpengalaman di medan pertempuran, namun Nilan Siu-kiat masih juga merasakan ada angin tajam dingin menyambar lewat lehernya, sehingga membuatnya gugup dan takut tidak kepalang, tangan kaki pun terasa lemas.
(more…)

Pendekar Budiman: Bagian 04

Filed under: Gu Long, Pendekar Budiman — Tags: — ceritasilat @ 10:33 pm

Pendekar Budiman: Bagian 04
Oleh Gu Long

Hari itu juga turun salju, Lim Si-im khusus menyajikan hidangan lezat baginya dan makan minum bersamanya.

Sejak kecil Lim Si-im tinggal di rumah Li Sun-hoan, antara orang tua mereka adalah saudara misan, sebelum orang tua kedua pihak meninggal sebenarnya sudah disepakati akan menjodohkan kedua muda-mudi itu.
(more…)

Hina Kelana: Bab 5. Ilmu Pukulan “Cui-sim-ciang” dari Jing-sia-pay

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 9:51 pm

Hina Kelana
Bab 5. Ilmu Pukulan “Cui-sim-ciang” dari Jing-sia-pay
Oleh Jin Yong

Baru saja Peng-ci hendak menjawab, sekonyong-konyong di kamar senjata sebelah sana ada suara keletik yang perlahan. Dari celah-celah jendela juga tampak ada sinar lampu. Cepat ia melompat ke sana, ia colok kertas jendela dan mengintip ke dalam, segera ia berseru girang, “Ayah, kiranya engkau berada di sini?”

Waktu itu Cin-lam mestinya lagi asyik entah apa yang dikerjakan dan menghadap ke sebelah sana, demi mendengar seruan Peng-ci segera ia berpaling. Hati Peng-ci tergetar demi lihat air muka sang ayah yang menampilkan rasa kejut dan ngeri, wajahnya yang berseri-seri karena telah menemukan sang ayah seketika lenyap, mulutnya sampai ternganga tak sanggup bicara.
(more…)

Hina Kelana: Bab 4. Keluar Pintu Lebih Dari Sepuluh Langkah: Mati

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 9:51 pm

Hina Kelana
Bab 4. Keluar Pintu Lebih Dari Sepuluh Langkah: Mati
Oleh Jin Yong

Semula Cin-lam menduga ada orang mendadak binasa lagi, tetapi semalam orang-orang yang dikirim keluar untuk menyelidiki dan meronda itu seluruhnya ada 23 orang, masakah mungkin seluruhnya amblas?

Maka cepat ia tanya, “Apakah ada orang mati lagi? Besar kemungkinan mereka masih melakukan tugas penyelidikan dan belum sempat pulang lapor.”
(more…)

Hina Kelana: Bab 3. Keajaiban di Kebun Sayur

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 9:50 pm

Hina Kelana
Bab 3. Keajaiban di Kebun Sayur
Oleh Jin Yong

Cerita-cerita dan contoh yang dikemukakan ayahnya itu selalu dijadikan pedoman dan senantiasa berlaku waspada. Sebab itulah Cin-lam telah mengadakan pengawasan yang sangat ketat terhadap gerak-gerik dan tingkah laku para Piausu yang dia terima.

Begitulah, sesudah agak lama kemudian, dua tukang kawal tampak masuk dengan tergesa-gesa, mereka lantas melapor, “Congpiauthau, Su-piauthau juga ti … tidak diketemukan di tempat … di tempat yang sering dikunjunginya.”
(more…)

Hina Kelana: Bab 2. Kematian Para Piauthau Secara Ganjil

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 9:49 pm

Hina Kelana
Bab 2. Kematian Para Piauthau Secara Ganjil
Oleh Jin Yong

Tan Jit coba mendekati mayat orang she Ih itu dan menendangnya sekali sehingga mayat itu terbalik ke atas. Darah tampak masih mengucur keluar dari luka di bagian perut. “Inilah ganjaranmu, mungkin kau memang sudah bosan hidup, maka kau berani mengusik Siaupiauthau kami?!”

Baru pertama kali inilah Peng-ci membunuh orang, keruan air mukanya pucat saking takutnya. Katanya dengan gemetar, “Su … Su-piauthau … bagai … bagaimana baiknya ini! Sesungguhnya aku … aku tidak bermaksud membunuh dia!”
(more…)

Hina Kelana: Bab 1. Si Gadis Penjual Arak

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 9:40 pm

Hina Kelana
Bab 1. Si Gadis Penjual Arak
Oleh Jin Yong

Di depan sebuah gedung megah yang dibangun di jalan raya pintu gerbang barat kota Hokciu di provinsi Hokkian terdapat dua altar batu di kanan-kiri, di atas altar-altar batu itu masing-masing menjulang tinggi sebuah tiang bendera, dua helai bendera hijau tampak berkibar-kibar tertiup angin. Bendera sebelah kiri bersulamkan seekor singa jantan yang garang, bendera yang lain bersulamkan empat huruf yang berbunyi “Hok-wi-piaukiok”, huruf-huruf yang indah dan kuat itu terang ditulis oleh kaum ahli yang ternama.

Pintu gerbang gedung itu bercat merah dengan hiasan paku-paku tembaga yang besar dan digosok mengilat. Di atas pintu terdapat sebuah papan merek berdasar hitam dan berhuruf kuning emas yang tertulis “Hok-wi-piaukiok” (perusahaan pengawalan Hok-wi), di bawah huruf-huruf besar itu terlintang pula dua huruf lebih kecil yang berbunyi “Kantor Pusat”.
(more…)

Blog at WordPress.com.