<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Cerita Silat</title>
	<atom:link href="http://ceritasilat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritasilat.wordpress.com</link>
	<description>Cerita Silat Untuk Semua</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 14:22:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ceritasilat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kumpulan Cerita Silat</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ceritasilat.wordpress.com/osd.xml" title="Kumpulan Cerita Silat" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ceritasilat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 17 Epilog</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/17/imbauan-pendekar-17-epilog/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/17/imbauan-pendekar-17-epilog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 01:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1629</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia dan Bpranoto) Ketika Ji Pwe-giok berjalan dia melihat 2 orang lari ke arahnya. Mereka adalah dua orang wanita muda cantik yang menatap Ji Pwe-giok dengan kebahagiaan, kegembiraan tetapi juga kesedihan, mereka adalah: Lim Tay-ih dan Kim Yan-cu. Ji Pwe-giok terkejut, gembira dan juga sedih melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1629&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Bpranoto)</p>
<p>Ketika Ji Pwe-giok berjalan dia melihat 2 orang lari ke arahnya. Mereka adalah dua orang wanita muda cantik yang menatap Ji Pwe-giok dengan kebahagiaan, kegembiraan tetapi juga kesedihan, mereka adalah: Lim Tay-ih dan Kim Yan-cu. Ji Pwe-giok terkejut, gembira dan juga sedih melihat keduanya terutama Lim Tay-ih, dia kelihatan pucat dan lebih lemah dibandingkan dengan saat terakhir dia melihatnya.</p>
<p>Ada air mata kebahagiaan dan kesedihan di matanya, Ji Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam sekejap kedua gadis itu telah berdiri di hadapan Ji Pwe-giok.<br />
<span id="more-1629"></span><br />
Lim Tay-ih berkata dengan lembut, &#8220;Kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Pada saat yang sama Ji Pwe-giok juga berkata, &#8220;Kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Keduanya berhenti dan saling memandang dengan kikuk, sampai kemudian Kim Yan-cu yang memecahkan keheningan dan berkata, &#8220;Ini tentu adalah Cu siocia yang terkenal itu, Lim cici dan aku telah sering mendengar banyak hal mengenai dirinya. Ji kongcu, Lim cici dan aku sekarang telah menjadi saudara angkat&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih diam-diam melihat ke arah gadis yang berdiri di belakang Ji Pwe-giok dan terpesona terhadap kecantikannya, Cu Lui-ji juga mengamati Lim Tay-ih dengan cermat dan memujinya dalam hati.</p>
<p>Cu Lui-ji berkata dengan lembut, &#8220;Aku&#8230;aku akan pergi dengan sa-cek (paman ketiga) sekarang&#8221;, matanya terlihat merah dan dia kelihatan sedih sekali.</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata terbata-bata, &#8220;Lui-ji, aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya, untung Kim Yan-cu kemudian menarik tangan Cu Lui-ji dan berkata, &#8220;Siau-moay (adik kecil), mari kita berikan waktu untuk Ji kongcu dan Lim siocia untuk berbincang-bincang, sementara itu aku juga ingin mengenalmu lebih jauh.&#8221;</p>
<p>Selang beberapa lama, Ji Pwe-giok berkata, &#8220;Emmm&#8230; maaf sekali, seharusnya aku harus lebih memperhatikan dirimu&#8230;&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih menjawab dengan air mata berlinang, &#8220;Tidak, engkau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti engkau tidak bermaksud membiarkanku dalam bahaya. Tapi&#8230;tapi&#8230;, apakah kau tahu bahwa aku akan mati bila terjadi sesuatu padamu?&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok mengeluh, &#8220;Aku juga tidak sanggup hidup lagi bila sesuatu terjadi padamu&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih melihat ke arah mata Ji Pwe-giok dalam-dalam dan berpikir, &#8220;Tidak percuma semua penderitaan yang telah ku alami, hanya dengan mendengar perkataannya ini semua yang telah kulalui tidak sia-sia&#8221;.</p>
<p>Lim Tay-ih kemudian memeluk Ji Pwe-giok dan seketika semua kekuatiran dan kesedihannya hilang musnah, yang tertinggal hanyalah cinta dan kasih sayang.</p>
<p>Ji Pwe-giok bukan laki-laki yang pandai mengutarakan perasaannya, dia menatap mata Lim Tay-ih dan mencium bibirnya. Itulah caranya mengutarakan perasaannya, tidak dengan kata-kata namun dengan tindakan.</p>
<p>Seketika suasana dipenuhi dengan rasa cinta.</p>
<p>Ji Pwe-giok duduk di atas batu sambil memegang tangan Lim Tay-ih, mereka baru saja menikmati kebersamaan mereka. Tetapi Ji Pwe-giok tetap sedikit bingung dan bertanya, &#8220;Bagaimana kau bisa sampai di sini? Dan mengapa ke 13 pangcu tiba-tiba berbalik arah?&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih tersenyum, &#8220;Ketika Hayhong-hujin menerima perintah dari Ji Tok-ho untuk memimpin Pek-hoa-pang untuk melawanmu, aku sangat terkejut. Kim Yan-cu dan aku berpikir bahwa kami harus menemukan sesuatu cara untuk mencegah semua ini terjadi. Pada beberapa bulan terakhir ini Kim Yan-cu dan aku telah menyelidiki orang yang memalsukan ayahku dan juga pemalsu-pemalsu lainnya. Setelah membuntuti mereka selama beberapa waktu, pada akhirnya kita berhasil menemukan kantor pusat dari Ji Tok-ho&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata, &#8220;Di manakah kantor pusat mereka?&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih berkata, &#8220;Mereka sangat licin. Mereka membeli sebuah gedung besar di kota Chengdu dan membohongi orang-orang di sekitarnya seolah-olah gedung itu adalah tempat tinggal seorang pensiunan pejabat pemerintah. Setelah kami menemukan tempat itu, kami memberitahu Ang-lian pangcu dari Kay-pang untuk mengintai gedung tersebut. </p>
<p>Beberapa hari yang lalu, beberapa murid Kay-pang melaporkan ada kegiatan-kegiatan misterius di sekitar gedung itu, pelayan-pelayan di gedung itu kelihatan tegang dan ketakutan. Kami juga mendengar bahwa rahasia isi buku Giam-oh-ceng telah dibeberkan dan Ji Tok-ho telah memerintahkan pengiriman pasukan untuk membunuhmu. </p>
<p>Hayhong hujin sama sekali tidak mempunyai niat untuk membantu mereka, tapi mereka tidak bisa apa-apa karena dia harus mematuhi perintah Bulim Bengcu, kecuali ada bukti nyata bahwa dia bukan Ji Hong-ho yang sebenarnya. Hayhong hujin mengatakan kalau ada seseorang yang dapat memberikan bukti nyata, segala sesuatu akan menjadi berubah. </p>
<p>Dari perkataannya kami mengambil kesimpulan bahwa dia menawarkan bantuannya untuk mencari bukti-bukti itu. Kami menarik kesimpulan bahwa kantor pusat Ji Tok-ho tidak akan dijaga ketat saat ini dan Kim Yan-cu berpikir adalah baik untuk juga menghubungi Anglian pangcu mengenai hal ini. </p>
<p>Singkat kata, dengan gabungan kekuatan Pek-hoa-pang dan Kay-pang kamu menyerbu kantor pusat Ji Tok-ho dan menawan beberapa pimpinan organisasi Ji Tok-ho seperti Sebun Hong, tapi Lim&#8230; Lim gadungan itu berhasil lolos. Dengan Sebun Hong dan yang lainnya sebagai saksi kami membujuk aliran-aliran lain untuk menghentikan permusuhan mereka terhadapmu&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok mulai mengerti dan sangat tersentuh atas usaha Lim Tay-ih, Kim yan-cu, Ang Lian-hoa dan Hayhong hujin.</p>
<p>Ji Pwe-giok tiba-tiba bertanya, &#8220;Bagaimana ceritanya pertama kali kau bertemu Kim Yan-cu?&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih menjawab, &#8220;Ang-lian pangcu menulis surat kepada Hayhong hujin meminta kami untuk melindungi Kim Yan-cu, dia terlibat dalam perkara kejadian di perkampungan Tong beberapa bulan yang lalu. Meskipun dia luput dari tuduhan, Anglian pangcu kuatir beberapa murid keluarga Tong akan mencari gara-gara kepadanya, maka Anglian pangcu meminta pertolongan kepada kami untuk melindungi Kim Yan-cu&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tahu bahwa kejadian itu disebabkan oleh ulah Gin Hoa-nio yang menyusup ke Tong-keh-ceng demi ambisinya sendiri. Mengingat Gin Hoa-nio dia mengeluh dalam hati.</p>
<p>Memikirkan Gin Hoa-nio membuat Ji Pwe-giok teringat pada Cu Lui-ji, apa yang harus dilakukannya pada Lui-ji? Beberapa bulan terakhir ini dia makin sayang kepada Lui-ji, dan tanpa disadarinya benih-benih cinta telah bersemi dihatinya pula.</p>
<p>Hatinya menjadi pedih dan dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan hal ini kepada Lim Tay-ih, dia menjadi bingung dan putus asa. Dia menyalahkan dirinya sendiri mengapa sampai terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan ini.</p>
<p>Dia merasa harus mengatakan kepada Lim Tay-ih apa yang telah terjadi, dan dia mulai berkata, &#8220;Tay-ih, aku&#8230;aku&#8230; Ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus kubicarakan denganmu&#8230; aku tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih tersenyum manis, &#8220;Ini mengenai Cu siocia bukan?&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tersipu-sipu.</p>
<p>Lim Tay-ih berkata dengan lembut, &#8220;Aku telah mendengar apa yang terjadi antara kau dan dirinya&#8230; Dia adalah seorang gadis yang harus dikasihani juga. Aku iri terhadap dirinya karena dialah yang mendampingi dan menunjangmu selama beberapa bulan terakhir ini. Dan aku juga telah melihat di matamu bahwa engkau juga mempunyai perasaan mendalam terhadapnya juga. Cu siocia, Kim moay dan aku semuanya mempunyai perasaan mendalam terhadapmu, kami semua tidak dapat menanggung beban berpisah denganmu lagi. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak cemburu dan aku akan belajar menyayangi pula Cu siocia seperti halnya aku menjadi saudara angkat dengan Kim Yan-cu&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tersipu-sipu dan berkata dengan lembut, &#8220;Aku&#8230;aku sangat malu&#8230; aku tak tahu harus berkata apa, tetapi terima kasih banyak atas pengertianmu&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih tersenyum nakal sekarang, &#8220;Sebenarnya, aku juga tahu teman-teman perempuanmu yang lain seperti Tong Lin dan Gin Hoa-nio dan Thi Hoa-nio bersaudara&#8230;&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok menjadi semakin malu dan cepat-cepat berkata, &#8220;Aku&#8230; tidak ada apa-apa di antara aku dan nona Tong&#8230; Jujur!&#8230; Aku harus menjelaskan hal ini kepada anak murid keluarga Tong&#8230; Dan Thi-hoa-nio sekarang telah menjadi istri Yang Cu-kang&#8230; aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih menyelanya dengan tersenyum, &#8220;Aku hanya bergurau.&#8221;</p>
<p>Dengan mengeluh ia menambahkan, &#8220;Apakah kau tahu kalau nona Tong sekarang telah menjadi nikou?&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berseru dengan terkejut, &#8220;Apa?&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih mengeluh, &#8220;Aku dengar setelah engkau menghilang dari perkampungan keluarga Tong, Tong Lin jadi tidak disukai dan dijauhi oleh keluarganya. Pada suatu malam dia menyelinap keluar dari perkampungan keluarga Tong dan bermaksud bunuh diri. Untung dia akhirnya diselamatkan oleh Ji-sim suthay, pemimpin Gobi-pay. Nona Tong memohon kepada Ji-sim suthay untuk menerimanya menjadi murid. Melihat keteguhan hatinya, Jisim suthay menyetujuinya. Sebelum orang-orang dari ke tiga-belas aliran pergi ke sini, Thian-in taysu dari Siau lim-pay mengadakan pertemuan untuk membahas apa yang harus dilakukan&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok mengernyitkan muka dan mendengarkan dengan seksama.</p>
<p>Lim Tay-ih melanjutkan, &#8220;Ketiga belas aliran terbelah menjadi dua, satu kelompok tidak ingin turut campur dalam urusan ini dan kelompok yang lain ingin menangkapmu. Orang-orang Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay ingin menangkapmu karena mereka berpendapat bahwa engkau bertanggung jawab atas kematian pemimpin mereka&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok menjadi sedih mengenang bagaimana gurunya, Thian-kang totiang, mati dengan mengenaskan dalam rencana keji Ki Go-ceng, Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho.</p>
<p>Lim Tay-ih tahu Ji Pwe-giok bersedih atas kehilangan gurunya. Lim Tay-ih memegang tangan Ji Pwe-giok erat-erat untuk menguatkan hatinya.</p>
<p>Dia menambahkan, &#8220;Pemimpin Kun-lun-pay, Shi-kang Totiang dan Bwe Jing-hoa dari Tiam-jong-pay menghendaki menuntut balas kepadamu atas kematian Thian-kang totiang dan Cia Thian-pi. Shi-kang totiang adalah sute dari gurumu sedangkan Bwe Jing-hoa adalah paman guru dari Cia-thian-pi. Anglian pangcu berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan mereka agar bersabar menunggu sampai hal-hal ini dapat diselidiki dengan jelas, tetapi keluarga Tong juga ingin memburumu atas kematian Tong Bu-siang&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok menghela napas dalam-dalam ketika mendengar hal ini dan berkata dengan sedih, &#8220;Kau tidak bisa menyalahkan mereka, akupun mungkin akan berlaku sama kalau berada dalam posisi mereka&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih juga menghela napas tapi dia juga bahagia melihat Ji Pwe-giok sebijaksana itu.</p>
<p>Dia berkata, &#8220;Para pemimpin dari 13 aliran berdebat dengan sengit, Ji-sim suthay sangat mendukung pendapat Anglian Pangcu. Aku pikir, nona Tong pasti mempunyai peran dalam hal ini. Untungnya, kebanyakan pemimpin bersikap netral seperti: Jut Tun totiang dari Bu-tong dan Thian-in taysu dari Siau-lim, akan tetapi di tengah-tengah perdebatan seorang murid Siau-lim dan seorang murid Bu-tong menghampiri ketua mereka masing-masing dan membisikkan sesuatu di telinga ketua mereka. Setelah itu, Thian-in taysu dan Jut Tun totiang meninggalkan pembicaraan dan ketika dua jam kemudian mereka kembali mereka berkata bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam rencana menghukummu&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok sangat terkejut dan berkata, &#8220;Mengapa kedua locianpwe ini tiba-tiba bersikap tegas?&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih menggelengkan kepalanya dan berkata, &#8220;Aku juga tidak tahu, tetapi mendengar bahwa ketua dari dua aliran terbesar tidak mematuhi perintah Bulim Bengcu lagi, pihak-pihak yang lain juga menolak untuk mengikuti perintah Ji Tok-ho. Hanya Tiam-jong, Kunlun dan pihak keluarga Tong yang berkukuh pada pendapat mereka untuk menangkapmu. Untung akhirnya Lo Cinjin tiba, dia dengan marah mengomeli dan memaki Shikang, Bwe Jing-hoa dan yang lain untuk tidak ikut-ikut dalam hal ini&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tersenyum ketika mendengar hal ini dan Lim Tay-ih juga tertawa geli mengingat bagaimana Lo Cinjin mengkuliahi orang-orang itu.</p>
<p>Lim Tay-ih menambahkan dengan tersenyum, &#8220;Begitulah, akhirnya para pemimpin sepakat untuk tidak mengikuti perintah Ji Tok-ho lagi. Semua begundal Ji Tok-ho ditahan untuk diinterogasi nantinya. Sekarang mereka ditahan oleh murid-murid Kay-pang dan Bwe Su-bong cianpwe diberi tugas untuk menjaga mereka&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok bangun dan menghela napas dalam-dalam, kini semua pertanyaannya telah terjawab.</p>
<p>Dia memandang ke depan dan melihat Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji sedang berbicara, Lim Tay-ih berkata, &#8220;Mari kita kesana&#8221;</p>
<p>Ketika dia berjalan menghampiri, Cu Lui-ji tersipu-sipu dan tidak tahu mau berkata apa, dia hanya mengelus-elus kucingnya dan menghindari matanya bentrok dengan mata Ji Pwe-giok. Kim yan-cu tentunya telah mengatakan kepadanya bahwa Lim Tay-ih tidak keberatan terhadap dirinya dan mengerti posisinya.</p>
<p>Kim Yan-cu tertawa terhadap Ji Pwe-giok, &#8220;Jangan kau lupakan aku! Ingat kau telah mengatakan di gua pada waktu itu bahwa engkau juga menyukaiku, aku akan lengket terhadapmu seperti lem&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba sebuah suara memanggil, &#8220;Ji kongcu&#8230; Ji kongcu&#8230;”, ternyata itu adalah Tangkwik Ko yang memanggilnya, Lim Tay-ih berkata, &#8220;Pergilah, aku mau bercakap-cakap dengan nona Cu di sini&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tersentuh hatinya dan berkata, &#8220;Terima kasih&#8221;</p>
<p>Dia berjalan ke arah Tangkwik Ko dan terkejut melihat Hai Tong-jin, Yang Cu-kang dan Thi Hoa-nio berdiri saling berdampingan.</p>
<p>Ji Pwe-giok sangat terkejut dan bertanya, &#8220;Saudara Yang, apakah engkau baik-baik?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kiang tertawa, &#8220;Ah, cuma sedikit setan-setan tidak akan membahayakan diriku, biarpun aku tidak bisa mengalahkan mereka aku masih bisa lolos dari mereka. Aku masih belum ingin mati, aku belum punya anak sekarang&#8221;</p>
<p>Thi Hoa-nio menjadi tersipu malu mendengarnya.</p>
<p>Yang Cu-kiang berkata dengan serius, &#8220;Mempunyai anak adalah hal yang normal, mengapa harus malu?&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata, &#8220;Hai-heng dan Yang-heng, guru kalian Bak-giok-hujin adalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Hai Tong-jin menghela napas dalam-dalam, &#8220;Ya, kami tahu. Tangkwik siansing telah memberitahu kami&#8230; meskipun dia adalah&#8230;, betapapun dia telah membesarkan kami dan mengajari kami ilmu silat dan jika kau tidak keberatan, kami ingin menguburkan jenasahnya dengan selayaknya&#8221;</p>
<p>Setelah mengatakan hal ini, air matanya bercucuran, bahkan Yang Cu-kangpun kelihatan sedih. Betapapun juga, Ki Pi-ceng adalah guru dan orang tua mereka.</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata, &#8220;Tentu saja, tapi apa yang hendak kalian berdua lakukan sesudahnya?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kiang berkata, &#8220;Tentu saja mempunyai anak! Omong-omong kakak Hai dan aku telah menjelaskan bahwa kematian Tong Bu-siang tidak ada hubungannya dengan dirimu. Tong Ki siocia juga telah menjelaskan posisimu. Dia berkata bahwa dia dan Tong Lin tahu bahwa Tong Bu-siang yang itu adalah gadungan dan itulah sebabnya dia dan nona Tong Lin membunuhnya. Karena dia ingin menyelidiki siapa dalang di balik semua ini dia harus menyalahkan seseorang. Selain itu, Hong Sam cianpwe, Tangkwik siansing juga berkata bahwa engkau tidak terlibat dalam hal ini.&#8221;</p>
<p>Para anak murid keluarga Tong merasa malu.</p>
<p>Ji Pwe-giok berpikir bahwa sampai saat ini Tong-Ki masih merahasiakan bahwa sebenarnya ayahnya telah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p>Hai Tong-jin berkata, &#8220;Aku punya banyak waktu sekarang, aku pikir aku akan berkelana dan menikmati hidup&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tersenyum, &#8220;Aku harap kita tetap menjadi sahabat baik&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang dan Hai Tong-jing tersenyum dengan tulus, &#8220;Tentu!&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang tiba-tiba berkata sambil tersenyum nakal, &#8220;Baiklah.., aku harus pergi sekarang. Aku masih harus menemui ayah mertua nih&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio mencibir dan berkata dengan geregetan, &#8220;Kau ini memang&#8230;&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok dan Hai Tong-jin tertawa.</p>
<p>Tangkwik siansing, Hong Sam, Tangkwik Ko sedang berbicara dengan Thian-in taysu dan Jut Tun Totiang, Tangkwik siansing melambaikan tangannya, &#8220;Anak muda, kemarilah&#8230;&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berjalan menghampiri mereka.</p>
<p>Thian-in taysu kemudian berkata, &#8220;Ji kongcu, terima kasih telah membeberkan rahasia kitab Giam-ong-ceh, karena dengan ini Siau-lim berhasil menemukan seorang pengkhianat yang telah kami cari lebih dari 40 tahun lamanya. Siau-lim-si berhutang budi pada kongcu&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata merendah, &#8220;Thian in taysu, anda terlalu sungkan&#8221;</p>
<p>Thian-in taysu menghela napas, &#8220;Hu Pat-ya itu sebenarnya adalah suhengku. Dia sangat berbakat dalam ilmu silat tapi sayang hatinya tidak setia kepada ajaran Budha. Setelah guruku wafat, dia melarikan diri keluar dari Siau-lim sambil membawa kitab jurus 100 langkah tinju sakti&#8221;</p>
<p>Hong sam berkata, &#8220;Pendeta, dalam pohon yang baikpun pasti ada beberapa buah apel yang busuk. Anda tidak perlu terlalu memikirkan hal ini&#8221;</p>
<p>Thian-in taysu menghela napas, &#8220;Betapapun juga dia menggunakan ilmu Siau-lim untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap banyak tokoh Bu-lim&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan bertanya, &#8220;Bolehkah saya bertanya, apa&#8230;&#8221;</p>
<p>Jut Tun totiang memotong dengan tersenyum, &#8220;Ji kongcu, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Kau ingin tahu apa yang membuat kami berubah pikiran?&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata dengan hormat, &#8220;Benar, totiang&#8221;</p>
<p>Tangkwik siansing mengelus-elus jenggot panjangnya dan tertawa, &#8220;Itu semua adalah gara-gara seorang teman lamaku&#8230; engkau juga kenal padanya, Pwe-giok&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok kebingungan.</p>
<p>Tangkwik Ko tersenyum, &#8220;Meskipun engkau pernah bertemu dengannya, tapi engkau belum pernah melihatnya&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tiba-tiba teringat pada seseorang dan berkata, &#8220;Hwe sing-diong!&#8221;</p>
<p>Tangkwik siansing tertawa, &#8220;Ya, si tua itu telah pindah ke sebuah lembah dan menamai lembah itu sebagai lembah gema. Sedikitnya sudah 20 tahun terakhir aku bertemu dengannya.</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata, &#8220;Aku ingin berterima kasih kepada cianpwe itu atas bantuan-bantuannya&#8221;</p>
<p>Tangkwik siansing berkata, &#8220;Si tua bangka itu selalu berpergian semaunya sendiri dan tidak ada seorangpun yang tahu dimana letak lembah gema. Kalau dia ingin bertemu denganmu, dia akan pergi mencari dirimu. Dia itu seorang tua bangka yang aneh, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang yang berhati lurus.&#8221;</p>
<p>Jut-tun totiang berkata, &#8220;Beberapa tahun yang lalu cianpwe ini memberi pertolongan kepada kami ketika Siau-lim dan Bu-tong menghadapi suatu masalah yang sulit. Maka ketika cianpwe ini meminta kami untuk tidak turut campur pada urusan ini, Thian-in taysu dan pinto mematuhinya&#8221;.</p>
<p>Setelah itu Jisim suthay berjalan menghampiri dan memberi salam kepada tokoh-tokoh yang hadir sebelum menoleh kepada Ji Pwe-giok, &#8220;Omitohud, Ji siauhiap, muridku Konghuan mendoakan keselamatanmu dan berharap engkau dapat menegakkan kebenaran dan keadilan di Bu-lim. Nama lama dari Konghuan adalah Tong Lin. Omitohud, pin-ni harus pergi sekarang. Semoga kalian semua diberkati. Sampai jumpa lagi&#8221;</p>
<p>Jisim suthay adalah seorang nikou yang berumur lebih dari 60 tahun, wajahnya nampak agung, dia adalah seorang locianpwe yang sangat dihormati di dunia persilatan.</p>
<p>Ji Pwe-giok tidak tahu harus memikir apa ketika dia mendengar bahwa Tong Lin telah menjadi seorang nikou.</p>
<p>Ang Lian-hoa menghampiri Ji Pwe-giok dan tersenyum, &#8220;Saudara Ji, sudah lama sekali&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok merasa terakhir kali dia berbicara dengan Ang Lian-hoa seolah-olah pada kehidupannya yang lain.</p>
<p>Ang Lian-hoa menepuk bahunya dan berkata, &#8220;Aku selalu percaya engkau akan dapat menghadapi semua masalah. Engkau benar-benar seorang yang mengagumkan!&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok bercucuran air mata kegembiraan, &#8220;Saudara Ang Lian-hoa, aku&#8230; jika bukan karena bantuanmu aku tidak mungkin dapat berada di sini saat ini&#8221;</p>
<p>Ang Lian-hoa berkata, &#8220;Mimpi buruk akhirnya telah berlalu, tapi kewajiban baru sekarang ada di tanganmu&#8221;</p>
<p>Pada saat ini, semua tokoh Bu-lim telah berkumpul, Lim Tay-ih, Cu Lui-ji dan Kim Yan-cu berdiri dekat Ji Pwe-giok sebagai tanda dukungan mereka terhadap Ji Pwe-giok.</p>
<p>Thian-in taysu berkata, &#8220;Ang-lian pangcu benar, aku merasa Ji Tayhiap harus memimpin Bu-lim sekarang&#8221;</p>
<p>Bwe Ceng-hoa dari Tiam-jong berkata dengan dingin, &#8220;Baik, mungkin semua pendekar menerima Ji kongcu, tapi&#8230; Tiam-jong tidak setuju. Ji kongcu, bagaimana engkau menjelaskan kematian ketua kami Cia Thian-pi?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kiang bertanya kepada Hai Tong-jin, &#8220;Kakak Hai, sejak kapan Ji kongcu menjadi murid Tiam-jong?&#8221;</p>
<p>Hai Tong-jin menyahut, &#8220;Sepengetahuanku Ji kongcu tidak mempunyai hubungan apapun dengan Tiam-jong-pay&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kiang berkata, &#8220;Oh&#8230; Bwe siansing, kalau begitu mengapa Ji kongcu harus membantumu menyelidiki kematian ketuamu? Apakah Ji kongcu seorang polisi?&#8221;</p>
<p>Bwe Ceng-hoa berkata dengan marah, &#8220;Yang Cu-kiang dan Hai Tong-jin, kalian berdua adalah murid Ki Pi-ceng! Jangan-jangan kalian sedang merencanakan sesuatu rencana busuk? Tiam-jong-pai tidak takut pada bajingan-bajingan seperti kalian&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kiang berkata, &#8220;Baik, mari kita lihat kehebatan Tiam-jong-pai&#8230;&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok tahu bahwa Bwe Ceng-hoa bukan tandingan Yang Cu-kiang dan cepat-cepat menengahi, &#8220;Bwe siansing, saya benar-benar tidak bertanggung jawab atas kematian Cia pangcu. Saya berani bersumpah mengenai hal ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Ang Lian-hoa berkata, &#8220;Saudara Cia tidak dibunuh Ji kongcu&#8221;</p>
<p>Shikang totiang berkata dengan keras, &#8220;Bagaimana dengan kakak seperguruanku? Ji Pwe-giok, engkau adalah seorang murid Kun-lun! Katakan padaku apa yang telah terjadi&#8221;</p>
<p>Shikang totiang mengemukakan fakta bahwa dia dapat memerintah Ji Pwe-giok karena tidak saja dia adalah susiok dari Ji Pwe-giok tapi dia juga saat ini adalah ketua Kun-lun-pai.</p>
<p>Tiba-tiba sebuah suara jernih terdengar , &#8220;Berhenti bertengkar!&#8221;</p>
<p>Suara itu terdengar jernih, mendayu-dayu tetapi dingin. Yang berbicara adalah seorang gadis muda, Ji Pwe-giok mengenalinya. Dia adalah saudara sepupunya Ki Leng-yan. Dua orang lelaki tampak berjalan mengikuti di belakangnya.</p>
<p>Tiba-tiba Bwe Ceng-hoa berkata dengan terkejut, &#8220;Thian-pi, engkaukah itu?&#8221;</p>
<p>Salah seorang dari dua lelaki itu memang adalah Cia Thian-pi, dia nampak sangat kurus, pucat dan sakit. Tapi ketika dia melihat Bwe Ceng-hoa dia kelihatan gembira dan berkata, &#8220;Bwe susiok, ya ini aku. Ji kongcu telah membunuh orang yang memalsu sebagai diriku&#8230; kita tidak boleh salah menuduhnya&#8221;</p>
<p>Bwe Ceng-hoa tampak bingung dan tidak tahu mana yang harus dipercaya.</p>
<p>Ki Leng-yan berkata dengan dingin, &#8220;Aku tahu, Cia Thian-pi seorang tidak cukup untuk meyakinkanmu, tapi ada seseorang lagi yang dapat bersaksi bahwa Ji Pwe-giok tidak berdosa.&#8221;</p>
<p>Dia menunjuk ke lelaki yang lain, semua orang ini melihat bahwa orang ini adalah Lim Soh-koan atau lebih tepatnya Lim Soh-koan palsu, Lim Tay-ih sangat marah dan sedih.</p>
<p>Ki Leng-yan berkata dengan dingin, &#8220;Aku menahan orang ini ketika dia berusaha meloloskan diri keluar propinsi. Katakan kepada semua orang, siapa engkau sebenarnya!&#8221;</p>
<p>Lim Soh-kuan berkata, &#8220;Namaku yang sebenarnya adalah Siahou Kosing.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba beberapa orang berseru dengan terkejut, &#8220;Si pedang seribu ular!&#8221;</p>
<p>Si Pedang Seribu Ular Siahou Kosing adalah seorang tokoh jahat yang berkeliaran di daerah utara dan kabarnya merupakan seorang teman karib dari Ji Tok-ho. Kadang-kadang mereka melakukan kejahatan dan pembunuhan bersama-sama, merampok rombongan piaukiok. Berkat ilmu silatnya yang tinggi dia dapat lolos dari kejaran musuh-musuhnya, tapi sepuluh tahun yang lalu tiba-tiba tidak terdengar kabar apapun mengenai dia. Orang-orang menganggapnya telah mati, padahal kenyataannya dia bersekongkol dengan Ki Pi-ceng, Ki Go-ceng dan Ji Tok-ho.</p>
<p>Siahou Ko-sing berkata, &#8220;Ya, aku memang si Pedang seribu ular. Kakak Ji memerintahkan Cia Thian-pi palsu untuk membokong pendeta Thiankang dari Kun-lun-pai, sesudah itu Cia Thian-pi palsu itu turut menghilang. Kami beranggapan bahwa dia telah dibunuh Ji Pwe-giok dan Ang Lian-hoa. Rencana kami untuk menguasai dunia persilatan sudah gagal, tidak ada satu katapun yang dapat kukatakan sekarang. Jika kalian mau, bunuh saja aku, aku tidak keberatan, toh aku sudah hidup cukup lama&#8221;</p>
<p>Dia memandang Lim Tay-ih dan tertawa dingin, &#8220;Sebenarnya, aku membunuh ayahmu, aku memimpin kelompok yang membantai keluargamu!&#8221;</p>
<p>Lim Tay-ih menjerit, &#8220;Engkau bajingan!&#8221; dia menghunus pedangnya dan menikam jantung Siahou Kosing.</p>
<p>Semua orang bersorak, &#8220;Bagus, nona Lim!&#8221;</p>
<p>Dia lalu menangis terisak-isak, akhirnya dia berhasil membalaskan dendam ayahnya. Ji Pwe-giok meraih tangannya dengan lembut, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji berdua berkata, &#8220;Jangan sedih, kakak Tay-ih.&#8221;</p>
<p>Bwe Ceng-hoa dan Shikang totiang menghampiri dan membungkuk ke hadapan Ji Pwe-giok, &#8220;Mohon maafkan kami orang tua yang keras kepala dan tolol ini.&#8221;</p>
<p>Cia Thian-pi menambahkan, &#8220;Tiam-jong-pai tidak mempunyai keberatan sama sekali terhadap Ji Kongcu sebagai Bulim-bengcu yang baru.&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata dengan sopan, &#8220;Bwe locianpwe, tidak usah dipikirkan. Dan terima kasih kepada Cia pangcu tapi aku takut aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjadi Bengcu&#8221;</p>
<p>Shikang Totiang berkata, &#8220;Ji kongcu, mohon maafkan ketidaksopanan pinto. Tapi pinto rasa engkau harus menjadi Bulim Bengcu yang baru. Sebagai susiokmu, aku merasa engkau sesuai untuk memimpin dunia persilatan ke era baru. Engkau bukan saja akan mengembalikan nama baik keluargamu tapi juga almarhum gurumu. Suheng Thian-kang tentu juga akan ikut berbahagia&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata dengan hormat, &#8220;Susiok Shikang, aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Ji Siok-cin dari Hoa-san juga berkata, &#8220;Aku setuju dengan Shikang totiang&#8221;</p>
<p>Thian-in taysu berkata, &#8220;Jut Tun totiang dan pinceng mendukung usulan Ji tayhiap untuk menjadi Bulim Bengcu yang baru&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata terbata-bata, &#8220;Tapi&#8230;tapi&#8230; banyak orang lain yang lebih cocok daripadaku&#8230; Tangkwik siansing dan&#8230;&#8221;</p>
<p>Tangkwik siansing memotong, &#8220;Jangan engkau paksa aku, aku tidak punya cukup kesabaran untuk memerintah dunia persilatan&#8230; bocah, jangan kau limpahkan permasalahanmu pada diriku&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok menatap pada Hong Sam dan Tangkwik Ko.</p>
<p>Hong Sam berkata, &#8220;Adik, aku sudah tua, di samping itu aku sudah lama ingin mengembara di lautan lepas. Akhirnya, kini aku punya waktu untuk mewujudkannya.&#8221;</p>
<p>Tangkwik Ko berkata, &#8220;Ji kongcu, kau pasti sanggup. Aku sudah tua dan tidak ingin terseret urusan dunia persilatan lagi.&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok berkata, &#8220;Baiklah, karena seluruh cianpwe begitu mempercayaiku, aku bersedia menjadi Bengcu sampai aku menemukan orang lain yang lebih cocok untuk menggantikanku. Dan aku juga punya satu syarat&#8230; Aku ingin saudara Ang-lian-hoa untuk menjadi penasehatku.&#8221;</p>
<p>Setiap orang setuju dengan usulan ini, Ang-lian-hoa adalah seorang yang pandai dan cerdas dan mempunyai watak yang baik. Dia pasti bisa membantu Ji Pwe-giok dalam melaksanakan tugasnya.</p>
<p>Aliran-aliran lain seperti Kong-tong-pay dan Thian-lam-pai tidak keberatan, terutama disebabkan dengan tarap kemampuan ilmu silat Jue Qinzi dan Hi Soan mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi Bengcu. Di samping itu, Hi Soan menyadari bahwa Ji Pwe-giok adalah seorang yang pandai dan mempunyai ilmu silat yang tinggi, dia benar-benar menghargai Ji Pwe-giok dan sangat mendukung usulan itu.</p>
<p>Maka Bulim bengcu baru telah dinobatkan: Ji Pwe-giok.</p>
<p>Musim semi tiba dan musim semi berlalu, musim dingin tiba dan musim dingin berlalu. Waktu berlalu dengan cepat.</p>
<p>Banyak hal terjadi di dunia persilatan setelah Ji Pwe-giok menjadi bengcu, pertama-tama semua orang munafik dan orang-orang busuk di kitab Giam-ong-ceh diadili dan dihukum. Sebagai contoh: Hu Pat-ya dan Hu Pat-naynay dibawa kembali ke biara Siau-lim, ilmu silat mereka dimusnahkan dan mereka ditawan di dalam sebuah gua di gunung Siong-san.</p>
<p>Ji Pwe-giok juga memohonkan ampun untuk Ciong Cing dan Kwe Pian-sian kepada Hay-hong hujin, Ang Lian-hoa dan Ji Siok-cin. Rupanya Ki Leng-yan melepaskan mereka setelah dia lolos dari ruangan batu. Ang Lian-hoa, Ji Siok-cin dan Hay-hong hujin setuju untuk mengampuni Kwe Pian Sian dan Ciong-cing sepanjang mereka bertobat dan tidak membuat masalah baru di dunia persilatan, kalau tidak mereka tidak akan lolos dari hukuman. Ji Pwe-giok setuju dengan syarat-syarat ini.</p>
<p>Sedangkan mengenai Ki Leng-hong, setelah usahanya untuk menguasai dunia persilatan gagal, dia tidak mempunyai ambisi lagi untuk menguasai dunia persilatan. Dia mengurus adiknya yang mempunyai kelainan jiwa dan ibunya yang sakit-sakitan. Mereka meninggalkan Sat-jin-keh dan tinggal di tempat terpencil. Rupanya ketika Ki Song-hoa mendengar bahwa ayah dan ibunya, Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng mati, Ki Song-hoa menjadi gila dan berlari ke komplek pekuburan keluarga mereka dan membakarnya, dia sendiri mati terbakar.</p>
<p>Tangkwik Siansing memberi hadiah sekarung penuh harta yang diambil dari perkampungan Hu. Hadiah itu digeletakkan di depan pintu rumah Ji Pwe-giok bersama sebuah surat yang menyatakan hadiah itu adalah hadiah perkawinan. Dia sendiri akan mencari tempat baru untuk bertapa karena tempat yang lama sudah diketahui orang banyak.</p>
<p>Hong Sam membeli sebuah kapal dan berpetualang dengan kapalnya. Dia tidak lagi mempunyai beban. Cu Lui-ji sudha selamat dan bahagia. Akhirnya dia dapat melakukan apa yang telah diinginkannya sejak lama. Hai Tong-jin menemaninya dalam berpetualang.</p>
<p>Tangkwik Ko pindah ke sebuah rumah dekat Ki Leng-hong, dia menjadi gurunya dan mulai mengajarinya ilmu silat. Dia lebih bahagia sekarang dan kadang-kadang sambil bergurau mengatakan bahwa sedikit banyak cita-citanya telah tercapai karena sepupunya menjadi Bulim Bengcu.</p>
<p>Thian-can-kau hidup damai berdampingan dengan ke tiga belas aliran. Yang Cu-kiang dan Thi-hoa-nio mengundurkan diri dari dunia persilatan. Kadang-kadang orang mendengar kabar tentang seorang aneh yang lucu melakukan perbuatan-perbuatan baik tapi tidak pernah mengatakan namanya. Seorang wanita cantik selalu berada di sisinya sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.</p>
<p>Setahun kemudian, rumah Ji Pwe-giok kosong. Bendera Bengcu diletakkan di sebuah kotak di atas meja, Jut Tun totiang dan Thian-in taysu kedua-duanya menerima surat dari Ji Pwe-giok.</p>
<p>Dalam surat itu, dia menyatakan bahwa Ang Lian-hoa adalah orang yang lebih cocok untuk menjadi Bengcu, Ang Lian-hoa juga menerima sepucuk surat dari Ji Pwe-giok yang mengatakan Ji Pwe-giok tidak mempunyai cukup kemampuan untuk memimpin dunia persilatan dan lebih baik menghabiskan waktunya bersama istri-istrinya.</p>
<p>Maka Ang Lian-hoa menjadi Bengcu yang baru dan Cia Thian-pi menjadi penasehatnya. Kedua-duanya adalah orang-orang muda yang pandai dan bijaksana. Dengan mereka sebagai pemimpin, dunia persilatan menjadi aman.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, dunia persilatan menjadi damai. Orang-orang yang tinggal di kota Kunming sering melihat seorang muda yang tampan dengan tiga orang wanita cantik berjalan-jalan sambil tersenyum di sepanjang danau Thian-ci.</p>
<p>Seorang lelaki mempunyai tiga orang istri cantik sungguh sangat luar biasa, tidak banyak orang yang beruntung sekalipun hanya untuk mendapatkan seorang istri cantik. Tapi orang-orang juga menyadari betapa banyak air mata, keringat dan darah yang mengalir sebelum impian indah itu terwujud.</p>
<p>Tetapi, sesuatu yang lebih indah bahkan terjadi, yaitu masing-masing istri menggendong bayi yang lucu dan saling bergurau dengan gembira.</p>
<p>Tentu saja mereka adalah Ji Pwe-giok, Lim Tay-ih, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji.</p>
<p>SELESAI</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1629/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1629&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/17/imbauan-pendekar-17-epilog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 16</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/16/imbauan-pendekar-16/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/16/imbauan-pendekar-16/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 01:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia, Kris_jusup, Bpranoto dan Axd002) Sekilas melihat Lengkui, sukma Cu Lui-ji seakan-akan terbang meninggalkan raganya, ia menjerit ngeri dan takut, cepat ia memutar balik dan menjatuhkan diri di atas dipan batu. Ia mendekap mukanya dan tidak berani memandang lagi, tapi suasana di dalam gua sunyi senyap, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1628&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia, Kris_jusup, Bpranoto dan Axd002)</p>
<p>Sekilas melihat Lengkui, sukma Cu Lui-ji seakan-akan terbang meninggalkan raganya, ia menjerit ngeri dan takut, cepat ia memutar balik dan menjatuhkan diri di atas dipan batu.</p>
<p>Ia mendekap mukanya dan tidak berani memandang lagi, tapi suasana di dalam gua sunyi senyap, tiada suara apa pun.<br />
<span id="more-1628"></span><br />
Lama-lama ia merasa heran, perlahan ia merenggangkan jarinya dan coba mengintip ke sana melalui sela-sela jari&#8230;ia merasa pandangannya tidak terhalang oleh barang apapun, apalagi makhluk aneh yang menakutkan itu.</p>
<p>Mau tak mau ia menjadi ragu dan menyaksikan apa yang dilihatnya tadi hanya khayalan belaka. Padahal ia sudah bertekad akan mati untuk menebus kesalahannya.</p>
<p>Maka untuk kedua kalinya ia berbangkit, dengan nekat ia menerjang lagi ke dinding sana.</p>
<p>Akan tetapi, sama juga seperti tadi, yang tertumbuk olehnya tetap benda dingin serupa es tipis itu, waktu ia menengadah, kembali dilihatnya wajah seram Lengkui sedang menyeringai padanya.</p>
<p>Bedanya sekali ini adalah Lengkui itu telah buka suara, &#8220;Lengkui paling takut mati, sebab itulah iapun tidak menghendaki orang lain mati, lebih-lebih anak perempuan cantik semacam kau ini.&#8221;</p>
<p>Sedapatnya Lui-ji menabahkan hati, ia mendongak dan berkata, &#8220;Tadi jelas-jelas kau tidak berada dalam goa, mengapa sekarang kau berada di sini? Darimana kau muncul secara mendadak begini?&#8221;</p>
<p>Lengkui tertawa, katanya, &#8220;Rupanya kau lupa siapa diriku, aku ini Lengkui, setan ajaib, kalau mau datang segera bisa datang, jika mau pergi seketika dapat pergi. Kalau tidak percaya, boleh coba kau lihat lagi, sekarang.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, benarlah, mendadak ia menghilang tanpa bekas, seperti telah berubah menjadi kabut asap yang sukar diraba dan dilihat.</p>
<p>Tapi hanya sekejap kemudian, tahu-tahu Lengkui sudah muncul kembali di bawah remang cahaya lampu yang seram itu, berdiri di situ dengan tertawanya yang mengerikan itu.</p>
<p>&#8220;Jangan tertawa, jangan tertawa&#8221; jerit Lui-ji terkejut. &#8220;Aku paling takut melihat tertawamu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Lengkui hanya bisa tertawa, kalau menangis tambah menakutkan,&#8221; kata Lengkui tetap dengan menyeringai.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, lekas pergi kau, lekas enyah!&#8221; teriak Lui-ji sambil mengucurkan airmata. &#8220;Ku jemu melihat mukamu, muak melihat cecongormu!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apakah kau tetap ingin mati?&#8221; tanya Lengkui.</p>
<p>&#8220;Itu urusanku, perduli apa dengan kau? Lekas enyah!&#8221; teriak Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tapi Lengkui harus perduli, kalau tidak bila kepalamu hancur menumbuk dinding, kan segalanya bisa runyam?&#8221;</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara &#8220;grat-gret&#8221; di atas gua, suara batu besar digeser.</p>
<p>&#8220;Siapa itu di luar?&#8221; bentak Lengkui sambil mendongak.</p>
<p>Akan tetapi suasana lantas sunyi senyap, tiada suara jawaban apapun.</p>
<p>Lengkui berpaling dan memandang Lui-ji sekejap, dilihatnya anak dara itu juga lagi pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat, tampaknya juga heran dan terkejut.</p>
<p>Cepat Lengkui melompat keluar gua untuk memeriksa apa yang terjadi. Tapi secara cerdik mendadak ia mendongak dan menjengek, &#8220;Aha, sahabat jangan kau main licik, kau kira dengan akalmu memancing harimau meninggalkan sarangnya, lalu dengan leluasa akan kau tolong anak dara ini dan dibawa lari. Tapi nyatalah salah besar perhitunganmu, kaupun salah sasaran, sebab selamanya Lengkui tidak dapat ditipu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, jika begitu, biarlah ku turun ke situ dan coba-coba menempur kau,&#8221; mendadak seseorang menanggapi dengan suara ketus dibagian atas sana.</p>
<p>Tidak kepalang girang Lui-ji, sebab segera dikenalnya suara itu, jelas itu suara Hong Sam, Hong saceknya.</p>
<p>Pada saat itulah sekonyong-konyong menyambar tiba angin kencang, pelita minyak yang guram itu hampir saja padam, lalu terang lagi. Habis itu didalam gua tahu-tahu sudah bertambah satu orang lagi.</p>
<p>Memang betul, Hong Sam telah muncul di situ.</p>
<p>&#8220;Sacek!&#8230;&#8221; teriak Lui-ji dengan kegirangan meski air mata pun bercucuran.</p>
<p>Segera ia bermaksud menubruk ke pelukan Hong Sam, akan tetapi Lengkui telah merintanginya sambil menyeringai.</p>
<p>&#8220;Creng&#8221;, Hong Sam melolos pedangnya.</p>
<p>&#8220;Lekas kau lepaskan dia dan akan kubawa pergi dia, kalau tidak, kau yang akan kubinasakan.&#8221; bentak Hong Sam sambil menuding Lengkui.</p>
<p>&#8220;Hahaha, rupanya kau hendak menipu diri sendiri,&#8221; jengek Lengkui, bukankah kau tahu dengan jelas, Lengkui tidak mungkin mati, selamanya Lengkui tak dapat dibunuh mati.&#8221;</p>
<p>Lui-ji sangat cemas dan gelisah, iapun lupa akan rasa takut, &#8220;bret&#8221;, mendadak ia merangkul Lengkui dari belakang sambil berteriak, &#8220;Lekas, Sacek, lekas turun tangan, tabas kepalanya.&#8221;</p>
<p>Tanpa ayal Hong Sam angkat pedangnya dan menabas.</p>
<p>&#8220;Crat!&#8221; pedang Hong Sam bekerja secepat kilat, dan kepala Lengkui lantas menggelinding ke tanah di bawah berkelebatnya sinar pedang.</p>
<p>Tapi aneh benar, meski kepala sudah jatuh di tanah, senyuman pada wajahnya itu tetap tidak berubah, masih menyeringai terhadap Cu Lui-ji.</p>
<p>Tidak kepalang takut Lui-ji, ia menjerit dan menubruk ke dalam rangkulan Hong Sam.</p>
<p>Sambil menepuk bahu anak dara itu, Hong Sam berkata, &#8220;Lekas, kita harus cepat meninggalkan tempat ini.&#8221;</p>
<p>Lui-ji mengangguk dengan rada gemetar, nyata rasa takutnya belum lagi hilang.</p>
<p>Segera Hong Sam menarik Lui-ji dan melompat keluar gua, di luar dugaan, mendadak sesosok bayangan hitam sudah menghadang lagi dimulut gua.</p>
<p>Kaget mereka tidak terperikan ketika bentuk penghadang jalan itu dapat dilihat jelas oleh mereka.</p>
<p>Bajunya yang ringkas ketat berwarna hitam dengan ikat pinggang berwarna merah darah, terutama wajahnya yang seram dan selalu menyeringai itu.</p>
<p>Siapa lagi dia kalau bukan Lengkui? Padahal jelas-jelas kepala Lengkui tadi sudah tertabas putus.</p>
<p>Hong Sam menyurut mundur dua-tiga tindak, ia tuding Lengkui dan membentak, &#8220;Kepalamu tadi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kepalaku berada di sini!&#8221; jawab Lengkui sambil menuding kepala sendiri dan menyeringai sehingga kelihatan baris giginya yang putih, &#8220;Kepala Lengkui selalu tumbuh di atas lehernya, memangnya kau kira kepala Lengkui mudah dipenggal? Haha, apa yang kau lihat tadi tidak lebih hanya khayalan belaka.&#8221;</p>
<p>Mau-tak-mau Hong Sam jadi melengak, menghadapi makhluk yang tak dapat dibunuh mati selama ini, sungguh ia kehabisan akal dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.</p>
<p>Hong Sam coba membawa lari Lui-ji dengan Gingkangnya yang tinggi, tapi usahanya tetap gagal, Lengkui tetap masih membayanginya dari belakang, tetap sukar melepaskan diri dari kejarannya.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, meski menyadari ilmu pedangnya juga tiada gunanya menghadapi makhluk yang serba aneh ini, terpaksa Hong Sam melakukan segala apa yang dapat dilakukannya dengan harapan akan timbul keajaiban dan akhirnya dapat melepaskan diri dari penguntitan lawan.</p>
<p>Ilmu pedang Hong Sam sekarang sudah mencapai tingkatan yang paling sempurna, tertampaklah sinar pedang gemerlapan berkelebat ke sana sini, hanya sekejap saja Lengkui sudah terkurung rapat di bawah sinar pedangnya.</p>
<p>Akan tetapi Lengkui tetap melayani ilmu pedangnya dengan cekatan, iapun memutar goloknya dengan sama kencangnya. Bahkan jika kewalahan, iapun tidak segan-segan menerima tusukan dan tebasan pedang Hong Sam.</p>
<p>Melihat pertarungan yang berlangsung dengan sengit itu, Lui-ji juga cukup cerdik, pada waktu Lengkui harus melayani serangan Hong Sam, diam-diam ia menggeser ke samping, lalu kabur ke bawah gunung secepat terbang.</p>
<p>Tapi meski sedang bertempur sengit, Lengkui tetap sempat berkata, &#8220;Hah, kau ingin lari di depan hidung Lengkui? Hm, sungguh kau terlalu meremehkan Lengkui.&#8221;</p>
<p>Baru habis ucapannya, seketika bayangan Lengkui lantas lenyap di bawah kurungan sinar pedang Hong Sam, tahu-tahu Lengkui sudah menghadang pula di depan Lui-ji.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, ngeri juga Hong Sam, makin lama bertempur makin seram rasanya.</p>
<p>Sekarang timbul semacam pikirannya yang melemahkan semangat, jelas Lengkui tidak dapat ditumpas, dalam hal ini berarti pula selamanya Lui-ji tak bisa ditolong, biarpun Tangkwik-siansing datang sendiri juga tak berdaya.</p>
<p>Lalu dengan cara bagaimana agar Lengkui dapat dibasmi? Apakah tidak ada jalan lain lagi?</p>
<p>Betapapun Hong Sam juga tahu untuk menumpas Lengkui, yang utama harus menundukkan dulu Ki Pi-ceng yang mengendalikan Lengkui ini.</p>
<p>Akan tetapi ia menyadari kekuatan sendiri hanya dengan ilmu pedangnya jelas bukan tandingan Ki Pi-ceng alias Bak-giok Hujin.</p>
<p>Mendadak didengarnya Lui-ji menjerit, &#8220;Tolong&#8230; Sa &#8230; Sacek &#8230; tolong!&#8230;&#8221;</p>
<p>Kiranya waktu itu Lui-ji lagi berusaha lari, tapi telah kena dibekuk oleh Lengkui dengan cara seperti elang mencengkeram anak ayam. Bahkan dengan kecepatan luar biasa anak dara itu terus dibawa lari ke atas gunung.</p>
<p>Keruan Hong Sam terkejut, sekuatnya ia mengerahkan Ginkangnya dan menguber kesana.</p>
<p>Akan tetapi sayang Hong Sam memang cepat. Lengkui ternyata terlebih cepat, seperti angin puyuh saja, hanya dalam sekejap bayangannya sudah hilang tanpa bekas.</p>
<p>Kembali Hong Sam melengak.</p>
<p>Sayup-sayup ia mendengar suara tangisan Lui-ji dari kejauhan suaranya sangat kecil, baru terdengar segera hilang pula terbawa angin sehingga sukar baginya untuk menemukan arahnya yang pasti.</p>
<p>Dengan cemas Hong Sam memandang sekelilingnya sambil berlari.</p>
<p>Angin meniup kencang, malam tambah kelam tiada terlihat sesuatu yang mencurigakan, juga tidak mendengar sesuatu suara apa pun.</p>
<p>Semakin gelisah hati Hong Sam, perasaannya tertekan dan mirip terjerumus ke dalam jurang yang tak terhitung dalamnya.</p>
<p>Pada saat itulah, ditengah tiupan angin terdengar suara Ki Pi-ceng, &#8220;Hong-sam siansing, apakah tidak kau rasakan agak kurang sopan main seruduk dan terjang tanpa aturan di tempatku ini?&#8221;</p>
<p>Hanya terdengar suaranya, tapi tidak kelihatan orangnya.</p>
<p>&#8220;Ki-hujin,&#8221; seru Hong Sam dengan suara lantang. &#8220;Kuharap kau perlihatkan dirimu dan bicara berhadapan denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, apakah kau kira hal ini perlu?&#8221; jawab Ki Pi-ceng sambil mendengus.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu perlu,&#8221; kata Hong Sam, &#8220;Kuharap kau mau menjelaskan apa alasanmu menahan Lui-ji?”.</p>
<p>&#8220;Alasannya sangat sederhana,&#8221; kata Ki-Pi-ceng, &#8220;Karena ku kuatir Ji-kongcu tidak menepati janji menurut waktu yang telah ditentukan&#8221;</p>
<p>Hong Sam menjengek, &#8220;Hm, dengan nama kebesaran Ki-hujin di dunia persilatan sekarang, tapi perlu menahan seorang anak perempuan sebagai sandera, apakah tindakanmu ini takkan ditertawakan orang Kangouw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inipun perlu melihat keadaan dan persoalannya,&#8221; jawab Ki Pi-ceng. &#8220;Sekarang kuperlakukan Cu Lui-ji sebagai tamu, sama sekali tidak kuperlakukan dia dengan kasar dan juga tidak mengganggu seujung rambutnya, kenapa mesti takut ditertawakan orang lain? Apalagi &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apalagi segala perbuatanmu yang busuk sudah diketahui umum,&#8221; tukas Hong Sam. &#8220;Apa artinya jika sekarang kau lakukan lagi beberapa perbuatan busuk lainnya. Begitu bukan?&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng tertawa, katanya, &#8220;Baiklah, anggaplah kau benar. Dan kalau kau tahu persoalannya, sekarang lekas kau pergi saja. Asalkan Ji-kongcu sudah menepati janji, tentu anak dara itu takkan kuganggu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; teriak Hong Sam dengan gemas, semoga ucapanmu dapat dipercaya, kuberani menjamin Ji Pwe-giok pasti akan menepati janji pada waktunya nanti.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, sekali melayang pergi, maka sekejap saja sudah menghilang.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Tepat lohor, sang surya memancarkan cahayanya yang panas.</p>
<p>Di atas puncak gunung muncul sesosok bayangan putih melayang kian kemari melintasi lereng dan menyusuri selat, setelah melayang sekian lamanya, akhirnya bayangan putih itu hinggap di sebuah tanah yang datar dipinggang gunung.</p>
<p>Itulah seorang pemuda berbaju putih, siapa lagi kalau bukan Ji Pwe-giok.</p>
<p>Dia berdiri tegak di tanah datar itu dan memandang sekelilingnya dengan sinar mata yang tajam.</p>
<p>Sunyi senyap suasana di sekitarnya.</p>
<p>Pegunungan ini tandus, gundul, tiada tetumbuhan apapun, yang terlihat hanya batu padas belaka, di sana sini di kaki bukit sana berserakan gundukan pekuburan.</p>
<p>Sampai sekian lama Ji Pwe-giok memandang sekitarnya dengan cermat, tapi tiada menemukan sesuatu yang mencurigakan, musuh ternyata tidak memasang perangkap apapun.</p>
<p>Hal ini rada di luar dugaan Pwe-giok, bahwa Ki Pi-ceng telah berjanji padanya akan menyelesaikan segala persoalan pada lohor ini, adalah aneh kalau tidak melakukan persiapan dan penjagaan seperlunya.</p>
<p>Pada saat Ji Pwe-giok merasa sangsi itulah, dari kaki gunung kembali muncul tiga sosok bayangan kelabu, semuanya menggunakan Ginkang yang tinggi, secepat terbang mereka berlari, hanya sekejap saja mereka sudah mendekati Ji Pwe-giok dan berdiri tegak disampingnya.</p>
<p>Ketiga orang ini adalah kedua Tangkwik bersaudara dan Hong-samsiansing.</p>
<p>Tangkwik Ko tidak lupa membawa kucing hitam kesayangannya, binatang itu dipondongnya dan dibelai bulunya.</p>
<p>&#8220;Anak muda,&#8221; tegur Tangkwik-siansing kepada Pwe-giok, &#8220;Apakah kau periksa dengan teliti keadaan di sekeliling sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, sudah ku periksa,&#8221; jawab Pwe-giok, &#8220;tapi tidak kutemukan sesuatu yang mencurigakan.&#8221;</p>
<p>Tangkwik siansing berkerut kening, katanya, &#8220;Wah, kalau begitu kita harus tambah hati-hati, bisa jadi mereka bertiga sedang main gila dan mengatur sesuatu.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok mengangguk, lalu ia berseru dengan suara lantang ke atas puncak, &#8220;Ji Pwe-giok telah datang menurut waktunya, silahkan kalian keluar saja.&#8221;</p>
<p>Baru senyap suaranya, segera sesosok bayangan orang muncul di puncak gunung, itulah dia Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho.</p>
<p>Menyusul dari balik batu karang sana melayang keluar pula Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng, keduanya melayang secepat terbang menuju ke sini.</p>
<p>Dengan suara tertahan Tangkwik-siansing mendesis, &#8220;Kau tahu, di atas gunung ini tidak sedikit liang tikus, dari liang tikus itulah mereka muncul.&#8221;</p>
<p>Tidak lama, Ki Go-ceng dan Ku Pi-ceng telah melayang tiba di hadapan mereka.</p>
<p>Dengan sorot mata tajam Ki Pi-ceng memandang Ji Pwe-giok, ucapnya, &#8220;Apakah masih ingat apa yang kukatakan padamu, di lorong bawah tanah sana ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu tentang perintahmu agar kubunuh Tangkwik-siansing?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Ya, kecuali itukan masih ada urusan lain lagi,&#8221; kata Ki Pi-Ceng.</p>
<p>&#8220;Tentu saja kuingat dengan baik,&#8221; ujar Pwe-giok, &#8220;kalau saja permainan sandiwara suamimu yang pura-pura sudah mati itu tidak terbongkar dan juga catatan dalam buku Giam-ong ceh yang cukup terang dan gamblang itu, mungkin sampai saat ini aku tetap tidak dapat membedakan siapa kawan dan siapa lawan.</p>
<p>&#8220;Hm,&#8221; dengus Ki Pi-ceng, &#8220;kau masih muda belia, apakah urusan Giam ong ceh itu tidak kau rasakan sebagai tindakan yang keterlaluan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kalau dibandingkan dengan cara kalian mengerjai ayahku yang kini sudah almarhum, kukira masih selisih sangat jauh,&#8221; jawab Pwe-giok dengan ketus.</p>
<p>&#8220;Juga tidak kau pikirkan bahwa perbuatanmu itu akan menimbulkan rasa gusar setiap orang bulim yang bersangkutan?&#8221; jengek pula Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Sudah barang tentu telah kupikirkan,&#8221; kata Pwe-giok, &#8220;demi kebenaran dan keadilan, hakekatnya tidak pernah kupikirkan apa akibatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, apapun juga, lebih dulu harus kukagumi kegagahanmu dan keberanianmu,&#8221; kata Ki Pi-ceng. &#8220;Tapi, sekarang dosamu sudah tak terampunkan, hari ini juga tidak dapat kau lolos dari peradilan umum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru kuharap akan mendapatkan peradilan umum,&#8221; ujar Pwe-giok dengan tersenyum, &#8220;cuma, segala urusan kalau sudah ada prasangka, tentu juga perlu dipikirkan kemungkinan yang paling buruk. Untuk itu kukira Ki-hujin sudah memahami maksudku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu, apa bila hari ini kami tidak dapat mengalahkan kau, lalu apa yang harus kami lakukan, begitu?&#8221; tanya Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Ki Pi-ceng mendengus, &#8220;Hm, itu kan urusan kami dan tidak perlu kau kuatir.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini ia lantas berpaling ke arah Tangkwik siansing dan berkata padanya, &#8220;Pokoknya urusan hari ini adalah perkara yang harus diselesaikan secara tuntas, betul tidak, Tangkwik-siansing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; jawab Tangkwik-siansing, &#8220;memangnya kau kira aku sudah pikun sehingga tidak dapat melihat keadaan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab itulah pada saat terakhir masih ingin ku peringatkan padamu, mudah-mudahan kau tidak terlibat dalam perkara yang tidak enak ini, hendaklah camkan dengan baik,&#8221; kata Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Aku tidak perlu pikir, juga tidak perlu mencamkan apa pun,&#8221; jawab Tangkwik-siansing, &#8220;pendek kata, urusan ini sudah pasti aku akan ikut campur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah jika begitu,&#8221; kata Ki Pi-ceng, &#8220;Yang pasti hari ini tiada satupun diantara kalian yang dapat lolos.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya &#8220;Orang tua semacam diriku ini masakan dapat digertak, kau kira ucapan Ki-hujin barusan ini agak terlalu berlebihan.&#8221;</p>
<p>Ki-Pi-ceng mendengus dan tidak menghiraukannya lagi. Ia berpaling dan memberi isyarat tangan kepada Ji Hong-ho gadungan yang berdiri diatas puncak sana.</p>
<p>Seketika Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho mengibarkan sebuah panji dan diayun tekanan dan ke kiri.</p>
<p>Itulah panji kebesaran Bu lim-bengcu, ketua perserikatan dunia persilatan, panji kebesaran hanya digunakan pada waktu perlu memberi perintah kepada para jago dunia persilatan. Panji ini mewakili kekuasaan Bu-lim-bengcu, pada waktu panji itu berkibar dan digoyangkan, setiap jago silat harus tunduk dan menurut perintah, disuruh matipun tidak boleh menolak.</p>
<p>Dalam sekejap itu, berbareng dengan berkibarnya panji kebesaran itu, serentak terompetpun berbunyi sahut menyahut di sana sini, suasana pegunungan yang tadinya sunyi serentak bergemuruh dengan munculnya jago silat yang tak terhitung banyaknya, mereka muncul secara aneh seperti badan halus saja, entah muncul dari mana, jumlahnya tampaknya tidak kurang daripada tiga-empat ratus orang.</p>
<p>Jago silat yang muncul ini sangat lengkap, meliputi para ketua dari ke-13 aliran besar dunia persilatan yang dahulu ikut hadir dalam pertemuan besar Wi-ti-tayhwe, inilah adegan paling ramai semenjak pertemuan Wi-ti dahulu.</p>
<p>Air muka Ki-Pi-ceng menampilkan perasaan senang dan bangga, katanya, &#8220;Nah sudah kau lihat sendiri bukan, Tangkwik-siansing? Dalam keadaan demikian, bagaimana akibatnya nanti tentu dapat kalian bayangkan sendiri.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang lebat itu, katanya seperti berguman, &#8220;Wah, tampaknya pengaruh kalian masih cukup besar juga, sungguh sangat mengejutkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa jadi kau akan menyesal nanti,&#8221; ujar Ki Pi-ceng, &#8220;tapi akupun merasa menyesal bagimu, sebab sekarang pun sudah terlambat&#8221;</p>
<p>Habis berkata, panji kebesaran Bu-lim tadi diayun pula berapa kali.</p>
<p>Inilah tanda memberi perintah agar para jago Bu-lim siap bergerak, atau dengan perkataan lain perintah melancarkan serangan, hanya boleh maju dan tidak boleh mundur.</p>
<p>Diam-diam pihak Ji Pwe-giok sendiri sama terkejut. Apabila kawanan jago Bu-lim itu bergerak serentak dan membanjir tiba, sungguh sukar dibayangkan entah betapa akan terjadi banjir darah.</p>
<p>Akan tetapi, kejadian di luar dugaan telah timbul.</p>
<p>Jago silat yang muncul membanjiri lereng pegunungan itu ternyata tidak memperdulikan tanda kibaran panji kebesaran itu, semuanya anggap sepi saja, seperti kedatangan mereka hanya untuk menonton keramaian saja dan tiada sangkut paut apapun dengan keadaan ini,</p>
<p>Dengan kuat Ji Tok-ho telah mengayun panjinya lagi dengan lebih keras sehingga menimbulkan suara menderu.</p>
<p>Akan tetapi, biarpun Ji Tok-ho telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya sehingga panji itu hampir saja tergetar patah, namun para jago silat yang muncul itu tetap tidak menggubrisnya.</p>
<p>Mendadak Ji Tok-ho menggulung panjinya dan meraung gusar, &#8220;Kurang ajar! Kalian berani membangkang terhadap perintah Bu-lim-bengcu dan meremehkan panji kebesaran ini?&#8221;</p>
<p>Keras suaranya dan mendengung-dengung sampai sekian lama diangkasa pegunungan, tentu saja dapat didengar oleh setiap orang.</p>
<p>Namun semua orang tetap tidak menghiraukan teriakan Ji Tok-ho itu, sejenak kemudian bahkan seorang menanggapi dengan suara lantang ditengah orang banyak itu.</p>
<p>&#8220;Tapi sayang, kau bukan Hong-ho Lojin yang tulen melainkan Ji Tok-ho, adiknya yang sudah diusir dan terkenal sebagai bandit It-ko-yan di gurun pasir, malahan kau rela menjadi boneka Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng suami-istri. Setelah kami tahu duduknya perkara dan dapat membongkar rahasia dirimu yang sebenarnya, memangnya kau kira kami masih dapat kau perintah dan kau peralat sesukamu?&#8221;</p>
<p>Seketika Ji Tok-ho melenggong dan tidak sanggup bersuara.</p>
<p>Ki Pi-ceng dan Ki Go-ceng juga melengak dengan air muka pucat, entah kejut entah gusar, yang jelas tubuh mereka agak gemetar.</p>
<p>Semua ini menandakan bahwa segala urusan Kangouw yang misterius dan serba rahasia, namun kebenaran dan keadilan selalu hidup dengan abadi, pada detik yang paling gawat kebenaran dan keadilan pasti akan muncul.</p>
<p>Tidak kepalang terharu Ji Pwe-giok, emosinya bergolak, air matanya bercucuran, sudah cukup lama ia menderita, sudah kenyang ia tersiksa lahir dan batin, dan baru sekarang semua siksa derita itu mendapatkan keadilan.</p>
<p>Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya, sambil bergelak tertawa, katanya, &#8220;Nah, Ki-hujin, perubahan yang luar biasa ini bukan saja bagiku, bahkan juga sangat diluar dugaanmu bukan?&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng mendengus, katanya &#8220;Hm, kaupun tidak perlu bergembira dulu, kecuali darah Bak-giok Hujin berhamburan di sini, berapapun utang-piutang ini tetap harus ku tuntut dan perlu diselesaikan secara tuntas.&#8221;</p>
<p>Mendadak Ki Go-ceng meraung murka, ia menubruk maju terus menghantam Tangkwik-siansing sepenuh tenaga.</p>
<p>Tangkwik-siansing tidak menangkis juga tidak balas menyerang, ia melayang mundur cukup jauh, matanya yang kecil bulat itu mendelik, ejeknya &#8220;Eh, anak kecil, utang piutang ada yang bertanggung jawab, kalau sekarang anak muda ini sudah tampil sendiri, mengapa diriku yang kau jadikan sebagai sasarannya?&#8221;</p>
<p>Ucapan Tangkwik-siansing ini membikin Ki Go-ceng melengak dan serba salah.</p>
<p>Pwe-giok lantas melangkah maju dan berkata, &#8220;Ucapan Tangkwik-locianpwe memang betul, yang bertanggung-jawab dalam urusan ini ialah diriku, silahkan kau serang saja padaku.&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng menyeringai, ucapnya, &#8220;Baik, tidak nanti kumampuskan kau sekarang juga, pasti akan kubawa kau kembali ke gua dan akan ku kerjai kau di sana, tempo hari aku telah satu kali kehilangan kesempatan, sekali ini tidak nanti kusia-siakan lagi.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mendadak kedua tangannya menolak ke depan, begitu keras tenaga pukulannya sehingga menimbulkan deru angin yang dahsyat, kontan ia hantam lawan tanpa kenal ampun lagi.</p>
<p>Akan tetapi Pwe-giok sudah siap, segera ia sambut pukulan orang, kedua telapak tangannya juga mendorong ke depan.</p>
<p>&#8220;Blang!&#8221;</p>
<p>Dua tenaga tak kelihatan beradu dan menimbulkan getaran dahsyat&#8230;</p>
<p>Apa yang itu hanya berlangsung dalam sekejap saja, terdengar jerit ngeri Ki Go-ceng seperti layangan yang putus benangnya, tubuhnya mencelat ke sana dan jatuh terjungkal beberapa meter jauhnya dengan tumpah darah dan binasa.</p>
<p>Pada waktu putus napasnya dia masih juga mendelik, seakan-akan merasa penasaran mati terkena pukulan Ji Pwe-giok itu.</p>
<p>Seketika Ki Pi-ceng berdiri melenggong, terkesima seperti mendengar bunyi geledek disiang bolong.</p>
<p>Meski resminya dia dan Ki Go-ceng adalah saudara sekandung, tapi juga ada hubungan erat sebagai suami-istri, tentunya pedih hatinya menyaksikan kematian Ki Go-ceng yang mengerikan itu.</p>
<p>Tapi ketenangannya sungguh luar biasa dan mengherankan, kecuali kelihatan pundaknya gemetar sejenak, sama sekali tidak ada pergolakan perasaan lagi.</p>
<p>Dia pandang Ji Pwe-giok dengan penuh rasa benci dan dendam, ucapnya, &#8220;Baru berpisah beberapa hari, ternyata kau sudah lain daripada dulu agaknya Bu-siang-sin-kang sudah berhasil kau kuasai.&#8221;</p>
<p>Betul, semua ini berkat bantuan Tangkwik-lociapwe,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Wah, anak muda,&#8221; teriak Tangkwik-siansing &#8220;masa sengaja kau alihkan urusanmu kepadaku, kalau dia marah padaku dan mendadak melancarkan serangan dengan ilmu kebanggaannya Sian-thian-ceng-gi, sekali pukul aku bisa dibuatnya mencelat.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok dapat menangkap maksud ucapan si kakek, yaitu sama dengan memperingatkan dia agar waspada terhadap serangan mendadak Ki Pi-ceng.</p>
<p>Benar juga, seperti apa yang diduga Tangkwik-siansing, pada saat itu Ki Pi-ceng telah mengerahkan tenaga dalam Sian-thian-ceng-gi, dengan dahsyat ia hantam Pwe-giok.</p>
<p>Akan tetapi karena lebih dulu sudah diperingatkan oleh Tangkwik-siansing, diam-diam Pwe-giok sudah siap, segera ia sambut serangan lawan.</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, terjadi benturan keras antara dua tenaga yang maha dahsyat, suara yang menggelegar memekak telinga.</p>
<p>Adu kekuatan ini jelas tidak sama dengan serangan Ki Go-ceng tadi.</p>
<p>Sian-thian-ceng-gi dan Bu-siang-sin-kang adalah tenaga dalam yang sama-sama maha dahsyat, kekuatan benturan itu sungguh luar biasa seakan-akan menggoncang bumi, getaran yang timbul juga sangat hebat dengan arusnya yang menyerupai angin lesus, debu pasir bertebaran meliputi belasan meter di sekitar situ.</p>
<p>Perlahan kabut debu mulai buyar, di tengah kabut yang mulai menipis itu kelihatan dua sosok bayangan yang sama bergoyang-goyang berdiri Pwe-giok tampak kurang mantap, sebaliknya Ki Pi-ceng merasa darah dalam rongga dadanya bergolak dan seakan-akan menumpah keluar.</p>
<p>Tangkwik-siansing menyaksikan itu dengan tertawa lebar.</p>
<p>Meski sedapatnya Ki Pi-ceng bersikap tenang dan berlagak seperti tidak terjadi apapun, tapi tidak urung sorot matanya menampilkan juga rasa kejut luar biasa.</p>
<p>Sungguh sukar untuk dipercaya bahwa yang dihadapinya adalah Ji Pwe-giok yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Tidaklah mengherankan jika dalam waktu yang sesingkat ini Pwe-giok berhasil meyakinkan Bu-siang-sin-kang, yang sukar dimengerti adalah dalam waktu sesingkat ini dia sudah memiliki kekuatan sehebat ini, bagi orang lain hal ini tidak mungkin terjadi tanpa melalui latihan selama berpuluh tahun lamanya.</p>
<p>Sian-thian-ceng-gi, ilmu kebanggaan Ki Pi-ceng sebelum ini boleh dikatakan jarang ada tandingannya di dunia persilatan kecuali seorang dua orang saja diantaranya Tangkwik-siansing yang dapat melawannya, tapi sekarang dia benar-benar ketemu lagi seorang lawan mau.</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara orang membentak murka dari kejauhan, sesosok bayangan kelabu melayang tiba dari puncak gunung, hanya sekejap saja bayangan itu sudah hinggap di depan Ki Pi-ceng.</p>
<p>Nyata pendatang ini bukan lain daripada Ji Tok-ho adanya.</p>
<p>Dia telah kehilangan wibawa sebagai Bu-lim-bengcu, perintahnya tidak diturut lagi oleh jago persilatan, tentu saja ia menjadi kalap, matanya merah membara, dengan sorot mata beringas ia mendelik Ji Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Eh, tidak perlu kau bersikap sebuas itu,&#8221; ejek Tangkwik-siansing dengan tertawa. &#8220;Jelek-jelek anak muda itu sudah banyak membantu padamu, selayaknya kau berterima kasih padanya.&#8221;</p>
<p>Mendadak Ji Tok-ho berpaling dan mendamprat, &#8220;Tua bangka, apa maksud ucapanmu ini?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing menuding mayat Ki Go-ceng, lalu berkata pula, &#8220;Anak muda itu telah membinasakan sainganmu, selanjutnya kau dapat menggantikannya sebagai anggota keluarga Ki, hubunganmu dengan Ki-hujin tidak perlu lagi dilakukan secara gelap-gelapan.&#8221;</p>
<p>Rupanya perkataan Tangkwik-siansing itu terlalu menyinggung perasaan, Ki Pi-ceng tidak tahan lagi dia lantas menyerang.</p>
<p>Karena Tangkwik-siansing dan Ki Pi-ceng telah bergebrak, &#8220;creng&#8221;, segera Ji Tok-ho juga melolos pedangnya.</p>
<p>&#8220;Sret-sret-sret&#8221;, kontan pedangnya berputar dan melancarkan beberapa kali tebasan ke arah Pwe-giok.</p>
<p>Sekarang dia telah kembali lagi kepada kebuasannya sebagai bandit &#8220;It-ko-yan&#8221; digurun pasir, dia menyerang dengan kalap seakan-akan Ji Pwe-giok hendak diganyangnya mentah-mentah kalau bisa.</p>
<p>Sampai belasan kali Pwe-giok harus berkelit kesana dan mengegos ke sini, lalu sempat meloloskan pedangnya.</p>
<p>Serentak ia putar pedangnya, dengan jurus &#8220;Boan-thian-sing-tau&#8221; atau bintang bertaburan memenuhi langit, tertampak cahaya pedang gemerlapan memburu ke arah musuh.</p>
<p>Seketika bergemuruhlah suara sorakan orang banyak. Beratus pasang mata sama tertarik oleh pertarungan sengit yang mendebarkan hati ini, semuanya mengikuti pertempuran maut itu dengan menahan napas, suasana sunyi senyap sehingga deru angin yang ditimbulkan oleh sambaran pedang terdengar dengan jelas.</p>
<p>&#8220;Sret-sret, sret-sret-sret.&#8221; Sinar pedang sambar-menyambar.</p>
<p>Lambat-laun dua gulung cahaya pedang seolah-olah terbaur menjadi satu dan terbentuk sinar tirai pedang yang tebal. Ditengah tirai sinar pedang itu samar-samar hanya kelihatan dua sosok bayangan yang bergeser kian kemari dan sukar lagi dibedakan mana bayangan Ji Tok-ho dan Ji Pwe-giok.</p>
<p>Sekonyong-konyong ditengah tabir sinar pedang itu terdengar suara nyaring.</p>
<p>Suaranya melengking seperti bunyi ular naga, tertampak sejalur sinar putih menjulang tinggi ke angkasa, bayangan orang dibalik tabir cahaya pedang lantas terpencar. Pedang yang dipegang Ji Tok-ho ternyata sudah terkutung, hanya tinggal tangkainya saja yang terpegang, ia berdiri melenggong dengan mandi keringat.</p>
<p>Rupanya dalam sekejab tadi Ji Pwe-giok telah menggunakan tenaga sakti Bu-siang-sin-kang, kalau tidak, sukar untuk menggetar patah pedang Ji Tok-ho yang juga tidak kurang lihainya itu.</p>
<p>Agaknya tenaga dalam antara Siau-thian-ceng-gi Ki Pi-ceng dan Bu-siang-sin-kang Tangkwik-siansing sukar ditentukan unggul dan asor, maka pertarungan kedua orang itu sudah berhenti dan sedang mengawasi hasil pertarungan sebelah sini.</p>
<p>Saat itu tiada seorangpun yang bersuara, semuanya terkesima sehingga suasana sunyi senyap.</p>
<p>&#8220;Tangkap pedang ini,&#8221; tiba-tiba Pwe-giok melemparkan pedangnya ke depan Ji Tok-ho.</p>
<p>Lalu dengan penuh rasa pedih dan gemas anak muda itu berkata pula, &#8220;Kutahu engkau adalah pamanku, tapi tindak-tandukmu, perbuatanmu, telah merusak nama baik keluarga Ji yang sudah turun temurun.&#8221;</p>
<p>Kedua mata Ji Tok-ho tampak merah, seperti orang kalap, ia hanya mendelik dan tidak bersuara.</p>
<p>Pwe-giok lantas berkata pula, &#8220;Mengingat leluhur keluarga Ji, baik atau jelek kau adalah keturunan orang she Ji dan masih terhitung pamanku, maka aku tidak dapat turun tangan membunuhmu, sekarang kuberikan pedangku, dan boleh kau bereskan dirimu sendiri.&#8221;</p>
<p>Air muka Ji Tok-ho tampak berubah, sebentar merah, sebentar pucat dan saat lain menjadi hijau, siapapun tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya dan apa yang hendak dilakukannya.</p>
<p>Suasana menjadi hening, tiada seorangpun bersuara, semuanya menahan napas dan ingin tahu apa kelanjutan daripada pertunjukan ini dan bagaimana pula akhirnya.</p>
<p>Akhirnya Ji Tok-ho menjemput pedang di depannya dengan perlahan.</p>
<p>Sekonyong-konyong pada saat Ji Pwe-giok tidak berjaga-jaga, mendadak ia menubruk maju, secepat kilat pedangnya menusuk.</p>
<p>Serentak bergema teriakan kaget orang banyak, suasana rada gempar.</p>
<p>Serangan yang dilakukan Ji Tok-ho sangat cepat, yang digunakan juga jurus maut yang sukar diduga. Ji Pwe-giok sendiri tidak siap siaga, maka banyak yang menduga anak muda itu pasti akan termakan tusukan Ji Tok-ho, semuanya berkuatir baginya.</p>
<p>Di bawah berkelebatnya sinar pedang, terdengar Pwe-giok mendengus tertahan. Berbareng itu semua orang merasakan serangkum angin maha dahsyat menumbuk ke bahu kanan Ji Tok-ho, apa yang terjadi ini hanya berlangsung dalam sekejap saja, sedetik kemudian lantas berakhir.</p>
<p>Rupanya ada orang yang ikut turun tangan, ialah Tangkwik-siansing.</p>
<p>Ia merasa Ji Pwe-giok takkan sempat menghindarkan serangan licik Ji Tok-ho itu, mau tak mau ia harus turun tangan menolongnya, maka cepat ia melancarkan pukulan Bu-siang-sin-kang.</p>
<p>Tenaga Bu-siang-sin-kang tak terperikan hebatnya, Ji Tok-ho tergetar hingga terhuyung-huyung ke belakang, dan karena itu pula Ji Pwe-giok hanya terluka ringan oleh sergapan Ji Tok-ho itu, hanya lengannya luka tertusuk.</p>
<p>Mata Tangkwik-siansing yang kecil bulat itu melototi Ji Tok-ho dengan sorot mata tajam, bentaknya, &#8220;Ji Tok-ho, sungguh bagus seranganmu ini, jika kau berani mengaku sebagai seorang ksatria, maka selayaknya lekas kau bunuh diri sekarang juga&#8221;</p>
<p>Kedua mata Ji Tok-ho merah seakan-akan menyemburkan api, katanya sambil menyeringai, &#8220;Hmm, kau kira aku akan mati begitu saja menurut kehendakmu? Andaikan mati, perlu juga kucari dua orang pengganjal punggungku, dan orang pertama yang ku penujui ialah dirimu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, bagus, bagus sekali!&#8221; seru Tangkwik-siansing sambil bergerak, &#8220;memangnya akupun ingin memberi bantuan kepada anak muda ini, sekarang kau yang minta aku turun tangan, biarlah kuwakilkan dia memberantas manusia tidak tahu malu dan sampah dunia kangouw macam kau ini.&#8221;</p>
<p>Ji Tok-ho tertawa latah, teriaknya, &#8220;Hehe, baik juga, akan kukabulkan kehendakmu supaya leas kau naik surga.&#8221;</p>
<p>Baru habis ucapannya, kembali ia berputar, sekaligus pedangnya ikut bekerja terus menabas ke atas kepala Tangkwik-siansing.</p>
<p>Kakek kecil itu melayani musuh dengan bertangan kosong, tapi sedikitpun dia tidak berani gegabah.</p>
<p>&#8220;Sret-sret-sret&#8221;, Ji Tok-ho melancarkan beberapa kali serangan maut, ia tahu pertarungan ini menentukan mati dan hidupnya, sebab itulah segenap kepandaiannya telah dikeluarkannya.</p>
<p>Dalam sekejap itu sinar pedang berhamburan, angin pukulan menderu, kedua orang sama-sama melancarkan serangan mematikan.</p>
<p>Terdengar pula gemuruh orang menjerit kaget.</p>
<p>&#8220;Ciatt.&#8221;</p>
<p>&#8220;Blang&#8221; dan &#8220;Bluk&#8221;</p>
<p>Seketika terdengar pula suara ramai di sana sini, suara yang berbeda.</p>
<p>Inilah hasil serangan maut kedua orang yang dilontarkan, akibatnya jubah kelabu Tangkwik-siansing tertabas robek lengan bajunya, tapi tidak terluka, sebaliknya Ji Tok-ho dengan telak terkena pukulan si kakek, tenaga pukulan Bu-siang-sin-kang yang dahsyat itu telah membikin Ji Tok-ho mencelat jauh ke sana, darah segar tersembur dari mulutnya, belum lagi terbanting jatuh ke tanah sudah mati lebih dulu dengan isi perut hancur lebur.</p>
<p>Serentak terdengar suara sorak-sorai gemuruh di lereng pegunungan itu.</p>
<p>Ji Pwe-giok berdiri tegak dengan melenggong, tak keruan perasaannya dan sukar untuk dijelaskan.</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong Ki Pi-ceng melayang pergi, dengan gerakan It-ho ciong-thian atau burung bangau terbang ke langit, ia melayang tinggi ke depan sana untuk kemudian terus meluncur ke bawah gunung.</p>
<p>Cepat Tangkwik-siansing berteriak dengan kuatir, &#8220;Jite, hendaklah kau temani anak muda ini pergi mencari Lengkui, anak dara she Cu itu masih berada dalam cengkeramannya dan mungkin jiwanya terancam bahaya.&#8221;</p>
<p>Ji Pwe-giok dan Tangkwik Ko mengiakan bersama, segera mereka berlari pergi ke arah gua di bawah tanah sana.</p>
<p>Sedangkan Tangkwik-siansing dan Hong Sam juga lantas melayang secepat terbang ke sana, mereka mengejar ke arah larinya Ki Pi-ceng. Betapapun mereka tidak dapat membiarkan Ki Pi-ceng lolos begitu saja.</p>
<p>Para jago Bu-lim yang ikut menyaksikan pertarungan sengit itu kini secara otomatis telah terpecah menjadi dua kelompok, yang satu kelompok ikut pergi bersama Ji Pwe-giok, sedangkan kelompok lain ikut Tangkwik-siansing, semuanya ingin menyaksikan pula bagaimana akhir dari permainan yang belum tamat ini.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Batu besar yang menutup mulut gua di bawah tanah itu sangat menyolok sehingga dengan mudah dapat ditemukan oleh Ji Pwe-giok.</p>
<p>Disekitar mulut gua itu berserakan batu padas yang aneh ragamnya, suasana sepi dan sunyi.</p>
<p>Pwe-giok sangat menguatirkan keselamatan Cu Lui-ji, ia tak sabar lagi, tanpa pikir ia hantam sekuatnya.</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, suara gemuruh menggetar lembah gunung, batu padas yang menutup mulut gua itu hancur berkeping dan berserakan.</p>
<p>Di dalam gua sangat gelap, meski mereka coba mengamati dengan segenap ketajaman mata mereka tetap tidak melihat keadaan didalam.</p>
<p>Sekonyong-konyong dari dalam gua berkumandang suara seorang yang dingin dan kaku, &#8220;Siapa itu yang berada di luar, berani kau datang cari perkara kepada Lengkui?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lekas lepaskan Cu Lui-ji, kalau tidak, gua setan ini akan kuruntuhkan,&#8221; ancam Pwe-giok dengan gemas.</p>
<p>&#8220;Hah, memangnya kau kira Lengkui dapat kau gertak?&#8221; jengek Lengkui di dalam gua, &#8220;Jika kau tidak takut anak dara yang cantik ini akan ikut terkubur hidup-hidup disini, boleh saja kau coba runtuhkan gua ini, tapi apapun juga sebentar tetap aku akan keluar untuk belajar kenal denganmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sicek&#8230;&#8221; terdengar teriakan Lui-ji dengan suara tersendat, mungkin menangis saking girangnya.</p>
<p>Mendadak dari dalam gua mengepulkan asap hijau tebal, cepat Pwe-giok melompat mundur.</p>
<p>Sejenak kemudian setelah asap hijau itu buyar, tahu-tahu Lengkui sudah berdiri di depan Pwe-giok. Cu Lui-ji tampak berada di samping Lengkui, tapi urat nadi pergelangannya terpencet olehnya sehingga tak dapat berkutik.</p>
<p>Di bawah terik matahari Lengkui tetap kelihatan seram menakutkan, lebih-lebih mukanya yang pucat seperti mayat itu, tetap menampilkan senyuman yang kaku atau lebih tepat dikatakan menyeringai,</p>
<p>&#8220;Lepaskan dia!&#8221; bentak Pwe-giok sambil menuding lawan.</p>
<p>&#8220;Haha, lepaskan dia, kau kira harus ku turut perintahmu?&#8221; ejek Lengkui. &#8220;Apakah kau tahu bahwa semalam Hong Sam telah datang dan pulang dengan tangan hampa, sekarang kaupun coba-coba datang kemari?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pendek kata, sekarang juga harus kau lepaskan dia atau kubinasakan kau!&#8221; ancam pula Pwe-giok dengan beringas.</p>
<p>&#8220;Hmm. boleh saja kau coba,&#8221; jawab Lengkui, untuk membebaskan anak dara ini lebih dulu harus kau bunuh Lengkui, tapi hendaklah kau ketahui, selamanya Lengkui tak dapat mati terbunuh.&#8221;</p>
<p>Betapapun Pwe-giok menyadari sukar menghadapi makhluk yang serba aneh ini, akan tetapi apa pun juga dia ingin mencoba Bu-siang-sin-kang terhadap makhluk aneh yang tidak takut terhadap senjata tajam ini, Namun karena Lengkui memegangi Lui-ji dengan erat, iapun kuatir kalau-kalau Bu-siang-sin-kang akan mencelakai anak dara itu.</p>
<p>Lui-ji sendiri kelihatan kuatir dan takut, tampak sangat kasihan, nyata, baru berpisah beberapa hari, anak dara itu sudah jauh lebih kurus.</p>
<p>Dalam keadaan demikian Pwe-giok benar-benar mati kutu dan tak berdaya, sebab itulah iapun sengaja main ulur waktu untuk mencari kesempatan.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba kucing hitam yang selalu dibawa Tangkwik Ko itu bersuara &#8220;meong-meong&#8221; beberapa kali terhadap Cu Lui-ji, agaknya binatang kecil ini sudah kenal baik dengan anak dara itu.</p>
<p>Mendengar suara kucing hitam itu, Lengkui kelihatan melengak.</p>
<p>Pwe-giok merasa ada kesempatan baik, tanpa ayal lagi segera ia turun tangan.</p>
<p>Tenaga pukulannya menggoncang bumi, sinar pedangnya mengejutkan setan.</p>
<p>Walaupun menyadari pedangnya mungkin tak dapat melukai Lengkui, tapi dia tetap menggunakan pukulan dan senjata sekaligus, sebab selain ini dia tidak mempunyai akal lain lagi.</p>
<p>Serangan hebat dan cepat ini menimbulkan ancaman besar juga terhadap Lengkui, mau tak mau membuatnya rada kelabakan.</p>
<p>Tapi Lengkui tetap Lengkui, dengan gerakannya yang lincah dan cepat, terkadang menghilang dan lain saat muncul, kalau terpaksa tidak dapat menghindar lagi, dengan tabah ia biarkan dirinya dilukai oleh pedang Pwe-giok, bahkan ia terima serangan lawan dengan tertawa.</p>
<p>Sungguh ngeri Pwe-giok menghadapi lawan yang tidak kenal mati ini, sedangkan Cu Lui-ji ketakutan hingga menjerit-jerit.</p>
<p>Dalam sekejap saja ratusan jurus sudah berlangsung dan Ji Pwe-giok tetap tidak dapat mengalahkan lawan.</p>
<p>Sungguh celaka, kalau keadaan demikian berlangsung terus, biarpun seribu jurus juga tetap begini, biarpun sehari semalam juga tiada gunanya, sebaliknya tenaga Pwe-giok pasti akan terkuras habis.</p>
<p>Wajah Lui-ji menampilkan rasa putus asa, ia berteriak, &#8220;Sudahlah, lekas kau lari saja dan jangan&#8230; jangan menghiraukan diriku lagi&#8230; kalian&#8230; kalian bisa kehabisan tenaga dan roboh sendiri jika harus bertempur cara demikian.&#8221;</p>
<p>Tangkwik Ko tampaknya sangat prihatin, kucing hitam dalam pangkuannya tampak gelisah juga dan berulang bersuara &#8220;meong-meong&#8221; terhadap Cu Lui-ji bahkan berlagak seperti hendak menubruk ke arah Lengkui.</p>
<p>&#8220;Jangan kuatir, Lui-ji!&#8221; seru Pwe-giok sambil bertempur, &#8220;tenanglah kau, apa pun juga pasti akan kuselamatkan kau dari cengkeraman siluman ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo&#8230;!&#8221; tidak kepalang terharu Lui-ji, air matanya bercucuran seperti hujan.</p>
<p>Tangkwik Ko masih berdiri termenung di tempat semula, melihat gelagatnya, agaknya dia juga memikirkan akal agar dapat melayani Lengkui dengan tepat.</p>
<p>Sekonyong-konyong terjadi sesuatu yang tidak terduga&#8230;</p>
<p>Lengkui kelihatan berdiri diam di tempatnya, mulutnya tampak komat-kamit, entah lagi bicara dengan siapa, sebaliknya tidak menghiraukan terhadap ancaman pedang Ji Pwe-giok.</p>
<p>Tentu saja Ji Pwe-giok jadi melengak malah, segera iapun berhenti menyerang dan ingin tahu permainan apa yang hendak dilakukan lawan.</p>
<p>Selang sejenak, setelah berkomat-kamit pula dan termenung sejenak, lalu pandangan Lengkui perlahan beralih ke arah Ji Pwe-giok, katanya, &#8220;Ji-kongcu, ingin kuberitahukan sesuatu kabar buruk padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kabar buruk apa?&#8221; tanya Pwe-giok. &#8220;Persetan dengan kabar burukmu?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi Lengkui sedang mendengarkan perintah dari Ki-hujin&#8221; tutur Lengkui. &#8220;Apakah kau tahu perintah apa yang diberikannya kepadaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, omongan setan yang hanya dapat kau pahami sendiri, siapa perduli?&#8221; damprat Pwe-giok</p>
<p>Lengkui menuding Lui-ji yang masih dipegangnya dan berkata, &#8220;Ki-hujin bilang anak dara ini sudah kehilangan daya gunanya, maka tidak perlu dipikirkan lagi, Lengkui diperintahkan segera membunuhnya.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok terkejut sehingga menyurut mundur, ancamnya, &#8220;Kau berani?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, kenapa aku tidak berani, memangnya ku takut padamu?&#8221; ucap Lengkui dengan tertawa, &#8220;yang benar, aku rada tidak tega, tidak sampai hati membunuh seorang nona secantik ini, sungguh kasihan.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara ia terus melolos golok melengkung yang terselip pada ikat pinggangnya sehingga menimbulkan cahaya gemerlapan.</p>
<p>&#8220;Tapi apa dayaku?&#8221; ucap Lengkui pula sembari mengacungkan goloknya, &#8220;Lengkui harus melaksanakan tugas, harus taat kepada perintah sang majikan.&#8221;</p>
<p>Cara bicara makhluk aneh ini masih tetap dingin dan kaku, di tengah bicara inilah, mendadak goloknya membacok ke kuduk Cu Lui-ji.</p>
<p>Untunglah, pada detik berbahaya itu, setitik sinar perak mendadak menyambar tiba secepat kilat.</p>
<p>Itulah pedang Ji Pwe-giok, dengan kecepatan luar biasa, tepat pada waktunya ia tangkis golok melengkung Lengkui.</p>
<p>&#8220;Creng&#8221;, terjadi benturan dan menimbulkan suara nyaring.</p>
<p>Seketika tangan Lengkui bergetar kesemutan, dia tergetar oleh tenaga dalam Ji Pwe-giok yang tersalur ke batang pedang dan mundur terhuyung-huyung.</p>
<p>Kejadian ini memberi kesempatan kepada Cu Lui-ji untuk meloloskan diri. Pada saat Lengkui lagi sempoyongan, sekonyong-konyong ia meronta sekuatnya dan melepaskan diri dari pegangan Lengkui, segera ia membalik tubuh dan berlari ke arah Pwe-giok.</p>
<p>Tapi dengan segera Lengkui sudah berdiri tegak lagi. Ia mendengus, &#8220;Hm, masakah ingin lari? Tidak ada orang yang mampu lolos dari cengkeraman Lengkui!&#8221;</p>
<p>Berbareng itu, dengan gerakan enteng dan cepat, seperti badan halus saja dia lantas melayang ke depan, selagi Cu Lui-ji masih berjarak sekian jauhnya dengan Ji Pwe-giok, tahu-tahu Lengkui sudah menyusul tiba.</p>
<p>Di tengah berkibarnya ikat pinggang yang merah itu, sinar perak juga lantas berkelebat dan menyambar.</p>
<p>Sungguh cepatnya sukar dilukiskan, sampai-sampai Pwe-giok juga tidak berdaya dan tidak sempat menolongnya.</p>
<p>Syukurlah, pada detik yang gawat itu, pada saat golok melengkung Lengkui menyambar tiba dan Lui-ji akan tertabas&#8230; &#8220;Siut&#8221;, mendadak sesosok bayangan hitam kecil menubruk ke arah Lengkui secepat anak panah.</p>
<p>Hah, kiranya si kucing hitam yang selalu berada dalam pondongan Tangkwik Ko itu.</p>
<p>Saat itu golok Lengkui sedang menabas ke bawah, tapi kucing hitam itupun tepat menubruk tiba, kontak kedua belah pihak itu terjadi dalam sedetik saja.</p>
<p>&#8220;Crat, meong!&#8221;</p>
<p>Kucing hitam bersuara ngeri dan jatuh terbanting!</p>
<p>Sungguh luar biasa, di tengah berhamburnya darah, kepala kucing itu terbelah dan cakarnya juga putus tertabas, dalam keadaan tidak terduga-duga, seluruh wajah Lengkui penuh berlepotan darah kucing hitam yang muncrat itu.</p>
<p>Lui-ji sempat merangkul badan binatang kecil itu, tapi binatang itu sudah tidak bergerak lagi.</p>
<p>Tak terduga, dalam sekejap itu telah terjadi keajaiban.</p>
<p>Mendadak Lengkui menjerit ngeri dan jatuh terguling-guling di tanah, tampaknya sangat tersiksa.</p>
<p>Kejadian ini membikin Lui-ji dan Pwe-giok heran. Ketika mereka memandang Tangkwik Ko, orang tua itu kelihatan berdiri tenang di sana dengan mengulum senyum dan berucap, &#8220;Omitohud! Siancai&#8230;siancai&#8230;&#8221;</p>
<p>Hanya dalam sekejap itu, di tengah kalangan telah terjadi pula perubahan yang lebih besar dan sama sekali tak terduga.</p>
<p>Mendadak Lengkui menghilang, telah luluh menjadi darah kental di atas tanah.</p>
<p>Pwe-giok memandang kian kemari, ia coba periksa sekitarnya.</p>
<p>Maklumlah, menghilangnya Lengkui itu adalah permainan yang biasa dilakukannya. Setelah menghilang mendadak, tahu-tahu muncul lagi di tempat lain dalam waktu singkat.</p>
<p>Dalam pada itu Tangkwik Ko telah mendekati Pwe-giok dan berkata padanya, &#8220;Jangan kuatir lagi, Ji-kongcu, selamanya Lengkui akan hilang dan takkan muncul kembali.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok dan Lui-ji sama melenggong, mereka memandang orang tua itu dengan bingung.</p>
<p>Sambil membelai badan kucing hitam, Tangkwik Ko berkata, &#8220;Apa yang terjadi ini sungguh tak terduga oleh siapapun. Lengkui ternyata musnah oleh kucing hitam ini, darah kucing hitam inilah yang memusnahkan Lengkui secara tuntas&#8221;</p>
<p>Rupanya kepala kucing hitam yang terluka itu tidak sampai pecah melainkan cuma kulit kepalanya yang terkelupas, lukanya yang cukup parah adalah cakarnya yang tertabas buntung.</p>
<p>&#8220;Konon darah anjing hitam dapat melawan ilmu hitam, apakah darah kucing hitam juga dapat memunahkan ilmu sihir?&#8221; tanya Pwe-giok dengan heran.</p>
<p>&#8220;Tentu saja dapat, apa yang terjadi barusan bukankah suatu bukti nyata?&#8221; ujar Tangkwik Ko.</p>
<p>Dalam pada itu kelihatan Lui-ji lagi menggendong si kucing hitam dan berulang menciumnya dengan penuh kasih sayang, gumamnya, &#8220;O, kucing sayang, demi membela diriku, akhirnya kau menjadi korban dan cacat selama hidup&#8221;</p>
<p>&#8220;Meong, meong!&#8221; kucing itu bersuara jinak seperti mengerti ada orang sedang menyatakan kasih sayang padanya.</p>
<p>Pwe-giok memandang keadaan sekeliling, lalu bersama Tangkwik Ko dan Cu Lui-ji berlari ke puncak gunung.</p>
<p>Sembari berlari Lui-ji mengeluarkan obat luka untuk mengobati cakar kucing hitam yang buntung itu. Setiba di atas gunung, cakar si kucing sudah dibalut dengan baik.</p>
<p>Dari kejauhan Pwe-giok dapat melihat bayangan Tangkwik-siansing dan Hong Sam sedang berputar di lereng gunung sana dengan ginkang mereka yang tinggi. Segera Pwe-giok bertiga memburu ke sana.</p>
<p>Sesudah berhadapan, kejut dan girang Hong Sam tak terkatakan demi melihat Lui-ji telah tertolong tanpa kurang suatu apapun. Setelah diberitahu kejadian musnahnya Lengkui secara ajaib, mau tak mau Hong Sam dan Tangkwik-siansing sama melongo heran.</p>
<p>&#8220;Di manakah Ki Pi-ceng sekarang?&#8221; tanya Pwe-giok kemudian.</p>
<p>&#8220;Waktu kami menyusul sampai di sini, mendadak kehilangan jejaknya, bayangannya lenyap di sekitar sini, dapat dipastikan dia telah sembunyi lagi ke dalam liangnya&#8221; tutur Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Ayolah lekas kita mencarinya, supaya tidak ada tempat yang terlampaui, marilah kita membagi diri menjadi beberapa arah untuk mencarinya, kalau terlambat mungkin akan terjadi hal lain yang tak terduga&#8221; kata Tangkwik Ko.</p>
<p>Serentak semua orang menyatakan setuju dan segera mereka terpencar sendiri-sendiri untuk mencari jejak Ki Pi-ceng, hanya Lui-ji saja yang mendampingi Pwe-giok.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Di tepi puncak gunung itu adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, sangat curam dengan macam-macam batu karang yang aneh.</p>
<p>Melihat keadaan setempat, dapat dipastikan puncak gunung ini hampir tidak pernah didatangi manusia, juga bersih dari jejak burung dan binatang buas.</p>
<p>Dengan susah payah mereka terus mencari, menyusur semak belukar&#8230;</p>
<p>Sekonyong-konyong terdengar suara teriakan kaget Tangkwik-siansing, &#8220;Hai, lekas kalian kemari, Ki Pi-ceng ternyata bersembunyi di sini&#8221;</p>
<p>Mendengar suara itu, cepat semua orang memburu ke arahnya.</p>
<p>Setelah berkumpul di situ, tertampaklah ada sebuah gua yang tertutup oleh semak rumput yang lebat, betapa dalamnya gua itu sukar diduga.</p>
<p>&#8220;Ya, apa yang dikatakan Tangkwik-locianpwe memang tidak salah, melihat semak rumput yang acak-acakan ini, jelas di sini pernah dilalui orang,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Kalau sudah tahu, ayolah ikut kakek masuk ke sana untuk mencari pengalaman,&#8221; ujar Tangkwik-siansing dengan tertawa.</p>
<p>Dengan hati-hati dan sambil menahan napas, semua orang ikut Tangkwik-siansing menerobos ke dalam gua.</p>
<p>Gua itu sangat gelap, seram lagi, tercium bau lembab yang menusuk hidung.</p>
<p>Mereka menyalakan obor, setelah membelok suatu tikungan di dalam goa, tiba-tiba tertampak Bak giok hujin alias Ki Pi-ceng yang mereka cari.</p>
<p>Memang benar, nyonya cantik dan juga keji ini memang bersembunyi di sini.</p>
<p>Anehnya Ki Pi-ceng tidak menghiraukan kedatangan mereka, ia duduk bersila di atas sepotong batu hijau, mata terpejam dan tanpa bergerak, sikapnya itu mengingatkan orang kepada kaum paderi yang sedang meditasi atau semedi.</p>
<p>Semua orang merasa curiga, merekapun siap siaga terhadap segala kemungkinan.</p>
<p>Jarak mereka dengan tempat duduk Bak giok hujin semakin dekat, dan nyonya cantik itu tetap diam saja tanpa memberi reaksi apa pun.</p>
<p>Setelah melenggong sejenak, tiba-tiba Tangkwik-sianseng menghela napas panjang, katanya dengan menyesal sambil menggeleng kepala, &#8220;Ai, tak tersangka dia telah membunuh diri.&#8221;</p>
<p>Semua orang sama melengak, cepat mereka memburu maju dan memeriksanya dengan teliti.</p>
<p>Benarlah, Ki Pi-ceng atau Bak-giok hujin sudah kaku walaupun masih tetap kelihatan sangat cantik, anggun, serupa pada waktu masih hidup.</p>
<p>Semua orang sama menghela napas menyesal, tak terduga perempuan cantik dan juga berhati keji itu mengakhiri hidupnya dengan jalan pendek demikian.</p>
<p>Dengan berbagai macam perasaan mereka lantas meninggalkan gua itu.</p>
<p>Setiba di mulut gua, tertampak kawanan jago persilatan beramai-ramai muncul pula memenuhi lereng gunung sana.</p>
<p>Waktu mereka sampai di atas puncak gunung, serentak terdengar gemuruh sorak-sorai orang banyak, sorak gembira yang gegap gempita.</p>
<p>&#8220;Hidup Ji Pwe-giok, Ji-kongcu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamat Ji-kongcu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Diharap Ji kongcu tampil sebagai Bu-lim bengcu yang baru! Kami siap tunduk di bawah perintahnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hidup Bu-lim Bengcu baru!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ji-kongcu harus meneruskan cita-cita Hong-ho Lojin dan menuntun dunia persilatan ke tertib baru!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami bersatu padu mendukungnya demi mengembangkan semangat dunia persilatan yang baru!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hidup Bu-lim-bengcu!&#8221;</p>
<p>Demikian sorak sorai dan teriakan dukungan orang banyak itu terhadap Ji Pwe-giok terus berlangsung hingga sekian lamanya.</p>
<p>Tangkwik-siansing tersenyum gembira sambil mengelus jenggotnya yang panjang.</p>
<p>Akhirnya berlalu juga badai dunia persilatan yang cukup banyak menimbulkan korban itu.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan dunia persilatan yang akan datang?</p>
<p>Siapapun tidak dapat memberi jawaban, manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.</p>
<p>Hati manusia sukar diduga dan dapat berubah setiap saat, segala sesuatu bergantung pada kondisi dan keadaan.</p>
<p>Kini sakit hati kematian ayah Ji Pwe-giok sudah terbalas, biang keladi dari petaka ini sudah menerima ganjarannya yang setimpal.</p>
<p>Legalah hati Pwe-giok di samping timbul pula berbagai macam perasaan.</p>
<p>Teringat olehnya akan Lim Tay-ih.</p>
<p>Teringat pula masa depan dunia persilatan yang masih harus dibinanya.</p>
<p>Juga teringat olehnya tugasnya yang berat selanjutnya.</p>
<p>Dia terus melangkah ke depan, tidak jauh di belakangnya mengikut seorang nona dengan menggendong seekor kucing hitam, dia Cu Lui-ji yang baru saja lolos dari renggutan elmaut.</p>
<p>Entah bagaimana perasaan nona itu sekarang, akan tetapi satu hal yang pasti, yaitu, kemana pun Ji Pwe-giok pergi, kesana pula dia akan ikut, biarlah laut akan kering dan gunung akan runtuh, biarlah langit bertambah tua dan bumi bertambah gersang, biarlah segala apa di dunia ini akan berubah, akan tetapi hati Lui-ji, cintanya terhadap Ji Pwe-giok akan tetap abadi, takkan berubah selamanya.</p>
<p>TAMAT</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1628/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1628&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/16/imbauan-pendekar-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 15</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/15/imbauan-pendekar-15/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/15/imbauan-pendekar-15/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 01:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1627</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Sikasep, Bpranoto, Axd002, Budiwibowo, Yusuf_hari, Bsarwono, dan Sukantas009) Di belakang air terjun yang airnya berhamburan dengan derasnya itu memang ada sebuah tebing miring, di situ mencuat sepotong batu karang yang rata sehingga mirip sebuah panggung alam terapung. Batu itu seluas meja, karena teraling-aling oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1627&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Sikasep, Bpranoto, Axd002, Budiwibowo, Yusuf_hari, Bsarwono, dan Sukantas009)</p>
<p>Di belakang air terjun yang airnya berhamburan dengan derasnya itu memang ada sebuah tebing miring, di situ mencuat sepotong batu karang yang rata sehingga mirip sebuah panggung alam terapung. Batu itu seluas meja, karena teraling-aling oleh air terjun, maka tidak kelihatan bila dipandang dari depan. Untuk bisa melihat dengan jelas orang harus mengitar dari sisi kanan atau kiri air terjun.</p>
<p>Hong Sam dan Tangkwik Ko ikut di belakang Tangkwik-siansing, di bawah hamburan air terjun, akhirnya mereka dapat menerobos ke sisi kiri dan menemukan panggung alam yang mencuat di dinding tebing secara aneh itu.<br />
<span id="more-1627"></span><br />
Itulah dia, Ji Pwe-giok lagi duduk bersila di atas panggung.</p>
<p>Gaya duduknya adalah semedi agama Buddha, sikapnya khidmat, wajahnya tenang, kelopak matanya setengah tertutup, keadaannya seperti sudah melupakan segalanya.</p>
<p>Kalau tidak mengalami sendiri memang sulit dibayangkan. Tokoh yang bertenaga dalam kuat seperti Hong Sam dan kakek Ko saja merasakan hati berdebar menghadapi suara gemuruh air terjun laksana gelegar guntur itu. Tapi Ji Pwe-giok sedikitpun tidak terpengaruh, bahkan tetap bersemedi dengan tenangnya, sungguh suatu keajaiban.</p>
<p>Ketiga orang itu berdiri di situ sampai sekian lamanya tanpa bersuara, lalu Tangkwik-siansing mengajak mereka mundur kembali ke bawah pohon raksasa tadi.</p>
<p>Tiba-tiba Hong Sam ingat sesuatu, katanya, &#8220;Setelah kau lukai dia dengan Bu-siang-sin-kang, lantas kau bawa dia langsung ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memangnya ku gendong dia pelesir kemana-mana, kemudian datang ke sini?&#8221; sahut Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Di tengah jalan dia terus berada dalam keadaan tidak sadar dan tidak pernah kontak dengan siapa pun?&#8221; tanya pula Hong Sam.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu tanya hal-hal ini?&#8221; Tangkwik-siansing merasa heran.</p>
<p>Tiba-tiba Tangkwik Ko menimbrung, &#8220;Waktu kami memburu ke sini, kami mendengar Giam-ong-ceh sudah tersiar luas di dunia Kangouw, entah betul tidak hal ini?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya, &#8220;Masa tidak betul, meski bocah ini dalam keadaan tak sadar, apakah tidak dapat ku bekerja bakti baginya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, celaka!&#8221; seru Hong Sam dengan gegetun. &#8220;Tindakanmu ini hakekatnya ingin berjangkitnya kekacauan dunia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya ada kejadian apa sehingga membikin tegang padamu?&#8221; tanya Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Sedikitnya tujuh hari lagi barulah ilmu sakti Pwe-giok berhasil diyakinkan, tapi dalam dua-tiga hari ini dunia kangouw pasti akan bergolak, mengapa buru-buru kau siarkan Giam-ong-ceh kepada umum?&#8221;</p>
<p>Melengak juga Tangkwik-siansing, &#8220;Ah, rupanya karena terdorong oleh hasratku akan membikin gempar sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini. Wah, kan bisa celaka!&#8221;</p>
<p>Dengan prihatin kakek Ko ikut bicara, &#8220;Harapan kita sekarang, mudah-mudahan tempat ini tidak diketahui orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biasanya tempat rahasia begini tentu sukar ditemukan orang,&#8221; kata Hong Sam. &#8220;Tapi setelah suasana bergolak akibat tersiarnya Giam-ong-ceh keadaan tentu saja berubah, tentu tokoh-tokoh yang merasa dirugikan oleh berita Giam-ong-ceh itu akan mencari kemana pun, dan tiada yang berani menjamin bahwa tempat ini takkan ditemukan oleh mereka.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing sampai garuk-garuk kepala saking kelabakan, katanya, &#8220;Apa mau dikatakan lagi, Giam-ong-ceh sudah terlanjur tersiar dan sukar ditarik kembali, kukira boleh kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai di sini mendadak ia merandek sambil melirik air muka kedua rekannya.</p>
<p>&#8220;Katakan terus, &#8220;Ujar Hong Sam. &#8220;Yang penting kita harus menjaga keselamatan Pwe-giok agar tidak terganggu, untuk ini sekalipun jiwaku harus melayang juga takkan kusesalkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus!&#8221; Tangkwik-siansing berkeplok gembira, &#8220;memangnya sedang kutunggu ucapanmu ini. Sekarang kita tidak perlu banyak omong. pokoknya beberapa kerat tulang rapuh kita bertiga sudah siap berserakan di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berserakan di sini tidak menjadi soal, tapi perlu juga kita memperkirakan kemungkinan apa yang akan terjadi,&#8221; sela kakek Ko. &#8220;Coba pikirkan, siapa-siapa di antara orang-orang itu yang mungkin akan mengadu jiwa ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, tentu saja banyak,&#8221; kata Tangkwik-siansing, &#8220;Kecuali Ji Hong-ho gadungan itu, tentu masih ada Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng, lalu si Hu-patya yang celaka itu, Lo-cinjin dan&#8230; pendek kata, setiap orang kangouw yang menonjol pasti tersangkut, bahkan kau Hong Sam sendiri juga tidak terkecuali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku?&#8221; teriak Hong Sam dengan kaget sambil menuding hidung sendiri. &#8220;Masakah dalam Giam-ong-ceh itu juga menyebut diriku? Memangnya perbuatanku mana yang memalukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau tidak ditunjukkan, mungkin kau sendiri sudah lupa,&#8221; ujar Tangkwik-siansing. &#8220;Tapi dalam Giam-ong-ceh tercatat dengan gamblang, aku sendiri sudah membacanya, tidak mungkin keliru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kulihat,&#8221; pinta Hong Sam sambil mengulurkan tangannya, &#8220;kalau tidak ada bukti, akan kutangkap kau sengaja memfitnah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buku itu sudah ku masukkan lagi ke saku bocah itu,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Jika kau ingin tahu, bolehkah kukatakan terus terang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, coba katakan.&#8221; Hong Sam memandangnya dengan terbelalak.</p>
<p>Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya, &#8220;Ingat tidak sepuluh tahun yang lalu kau tergila-gila pada seorang pesinden, namanya si Mirah, akhirnya dompetmu kempes dan didepak orang, betul tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Omong kosong, masakah aku didepak orang.&#8221; cepat Hong Sam membantah. &#8220;Soalnya aku sudah bosan dan kutinggalkan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokoknya pernah terjadi hal begitu, soal didepak orang adalah sengaja kubumbui untuk memancing pengakuanmu,&#8221; kata Tangkwik-siansing dengan tertawa.</p>
<p>Seketika muka Hong Sam menjadi merah.</p>
<p>Cepat Tangkwik-siansing menyambung lagi, &#8220;Tidak perlu malu, urusan begituan adalah jamak bagi kaum lelaki. Malahan namaku sendiri pun tercatat di dalam Giam-ong-ceh, kalau kuceritakan persoalannya tidak banyak berbeda dengan perbuatanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa waktu muda kaupun suka main perempuan,&#8221; tanya Hong Sam.</p>
<p>Tangkwik-siansing menggeleng kepala, jawabnya, &#8220;Aku tidak sembarangan main perempuan, soalnya secara diam-diam kucintai seorang nikoh jelita, tapi sayang, aku hanya bertepuk sebelah tangan, cintaku tidak mendapat sambutan yang memuaskan, akhirnya aku hampir saja membunuh diri.&#8221;</p>
<p>Hong Sam dan Tangkwik Ko saling pandang sekejap, lalu ketiga orang sama bergelak tertawa&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Sang surya sudah hampir tenggelam di ufuk barat, di bawah cahaya senja yang keemasan itu sesosok bayangan orang tampak berjalan di antara pematang sawah menuju ke sebuah sungai kecil di depan sana.</p>
<p>Bayangan kecil itu adalah Cu Lui-ji, setelah keluar dari lorong bawah tanah itu ia lantas berpisah dengan Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing, tujuannya mencari Pwe-giok.</p>
<p>Akan tetapi dunia seluas ini, kemanakah perginya Ji Pwe-giok?</p>
<p>Namun Lui-ji tidak perduli, setiap tempat yang mungkin disinggahi Pwe-giok pasti berusaha dicarinya. Demi Pwe-giok dia tidak menghiraukan capek lelah segala.</p>
<p>Bicara sesungguhnya, selama dua hari ini dia benar-benar susah payah dan kehabisan tenaga, namun jejak Pwe-giok tetap tidak diketahui.</p>
<p>Bahkan gerak-geriknya sekarang perlu hati-hati, dia sudah tahu Ki Pi-ceng bermaksud menawannya untuk dijadikan sandera. Sekarang rahasia keluarga abnormal itu sudah terbongkar, sepanjang jalan ia harus waspada agar tidak tersusul oleh Ki Pi-ceng.</p>
<p>Selama dua hari ini iapun mendengar berita Giam-ong-ceh yang ramai dibicarakan orang kang-ouw itu, ini membuktikan bahwa percakapan antara &#8220;Ji Hong-ho&#8221; dan Ki Pi-ceng di gua bawah tanah itu memang tidak salah, iapun tahu dunia kang-ouw sudah mulai bergolak sehingga dia tambah kuatir akan keselamatan Pwe-giok.</p>
<p>Terutama pada siang hari ini, dilihatnya berturut-turut rombongan orang Kang-ouw yang berlalu-lalang di jalan raya, dari suara yang didengarnya tanpa sengaja, diketahuinya bahwa tujuan orang-orang itu adalah hendak mencari Ji Pwe-giok.</p>
<p>Dari kenyataan ini, dia tidak berani lagi berspekulasi, ia harus berusaha menemukan Pwe-giok selekasnya untuk menyampaikan segala rahasia yang didengarnya di gua rahasia itu serta kejadian yang dilihatnya sepanjang jalan.</p>
<p>Semua ini jelas ada hubungan erat dengan Ji Pwe-giok, kalau tidak disingkapnya, tentu Pwe-giok akan mudah tersesat ke arah yang tidak tepat.</p>
<p>Padahal persoalan yang paling penting adalah kematian Ki Go-ceng yang palsu itu, kalau hal ini tidak dibongkar, tentu Pwe-giok sukar membedakan &#8220;Bak-giok Hujin&#8221; Ki Pi-ceng itu sesungguhnya kawan atau lawan.</p>
<p>Pada saat Lui-ji sudah putus asa untuk menemukan Pwe-giok itulah, tiba-tiba teringat olehnya cerita Hong Sam yang pernah menyebut tempat tinggal kakek Ko, kalau tidak salah rasanya seperti terletak di sekitar tempat ini, hanya letaknya yang persis belum diketahui. Sebab itulah terpaksa ia mencari sedapatnya secara untung-untungan.</p>
<p>Sekarang Lui-ji benar-benar sangat payah, terasa punggung pegal dan kaki linu, kalau tidak mendapatkan makanan dan istirahat yang cukup, sungguh dia tidak tahan lagi.</p>
<p>Ditengah remang senja itulah dia masih terus mencari ke depan&#8230;</p>
<p>Dengan langkah lemah ia masuk ke pintu pagar bambu itu dan berseru, &#8220;Sepada?&#8221;</p>
<p>Namun tidak terdengar jawaban, suasana sunyi senyap. Sampai beberapa kali Lui ji berteriak dan tetap tiada suara lain. Sialan, rupanya rumah ini kosong.</p>
<p>&#8220;Perduli amat, masuk saja, syukur bila dapat menemukan sedikit makanan, makan kenyang dulu dan perkara urusan belakangan,&#8221; karena pikiran inilah Lui-ji mendorong pintu rumah itu. Pintu terbuka, &#8220;Ngeongng&#8221;, mendadak sesosok bayangan meloncat ke pangkuannya.</p>
<p>Lui-ji terkejut. Akan tetapi rasa kaget itu segera lenyap dalam sekejap. sebab diketahuinya yang melompat ke pangkuannya itu seekor kucing hitam.</p>
<p>Pelahan Lui-ji membelai bulu kucing yang halus itu dan berucap, &#8220;O, kucing sayang, dimanakah majikanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Meong, meong!&#8221; kucing hitam itu memandang si nona dengan matanya yang mengkilap. Lui-ji seperti lupa bahwa kucing itu tak dapat bicara, seperti menimang anak kecil ia berkata pula, &#8220;Ah, tentunya kau lapar, kucarikan sedikit makanan bagimu.&#8221;</p>
<p>Segera ia mengetik api dan menyalakan lentera minyak di atas meja.</p>
<p>Mendadak perhatian Lui-ji tertarik oleh sepotong baju di amben sana, itulah baju yang dijahit untuk Hong Sam, jelas, tidak mungkin keliru.</p>
<p>jangan-jangan disinilah tempat kediaman kakek Ko? Sungguh sangat kebetulan!</p>
<p>Tapi kemana perginya Hong-sacek dan kakek Ko?</p>
<p>Saking girangnya sampai Lui-ji lupa lapar dan lelah. pada saat itulah kucing hitam dalam pangkuannya itu mendadak melompat keluar dan berlari ke arah sawah sana.</p>
<p>Kepergian kucing itu seperti mengandung maksud tujuan tertentu, Lui-ji menjadi curiga, segera ia membuntuti kucing itu.</p>
<p>Sementara itu kelam malam sudah meliputi bumi, di ujung langit timur sana mulai menongol sang dewi malam.</p>
<p>Kucing hitam tadi masih terus berlari ke depan, terkadang menoleh dan memandang Lui-ji seakan-akan kuatir Lui-ji tidak dapat menyusulnya, maka sengaja menunggunya.</p>
<p>Heran sekali Lui-ji, dia lebih-lebih yakin bahwa lari si kucing hitam ini pasti mempunyai tempat tujuan. Seketika semangatnya terbangkit, cepat ia mengejar dengan kencang, ia ingin tahu selekasnya ke mana kucing hitam itu hendak membawanya.</p>
<p>Di bawah sinar bulan yang mulai terang, dapatlah Lui-ji mengikuti kucing itu melintas sungai kecil dan menyusuri hutan, mendaki lereng bukit, dan kucing hitam itu masih terus berlari ke depan.</p>
<p>Sekonyong-konyong Cu Lui-ji merasa ada sesuatu di belakangnya, waktu ia berpaling, ternyata tiada sesuatu yang dilihatnya.</p>
<p>Ia tidak menaruh perhatian dan tetap berlari ke depan agar tidak kehilangan jejak si kucing hitam.</p>
<p>Setelah berlangsung dua-tiga jam, tertampaklah lereng gunung terjal menghadang di depan.</p>
<p>Kucing itu menoleh dan bersuara &#8220;meong-meong&#8221; dua kali, habis itu mendadak mempercepat larinya ke atas gunung.</p>
<p>Lui-ji sendiri sudah kepayahan, sesungguhnya ia tidak sanggup lagi mengejar kucing itu, tapi sekuatnya ia tetap memanjat ke atas.</p>
<p>Tapi sebelum tiba di pinggang gunung, hanya sekejap saja kucing hitam itu sudah menghilang entah kemana, lalu didengarnya suara gemuruh air terjun.</p>
<p>Ditengah gunung seluas ini dan suara gemuruh air terjun yang menggelegar menimbulkan kumandang suara yang tiada hentinya itu, Lui-ji menjadi bingung dan tak dapat membedakan arah letak air terjun.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, Lui-ji merasakan dirinya benar-benar sangat kecil di alam ini, memanggil langit tidak terjawab, menyebut bumi tidak digubris.</p>
<p>Tapi dia tidak menyesal sedikitpun. Baginya, asalkan dia sudah dekat dengan Ji Pwe-giok yang dicarinya itu, sedikit capek lelah ini sama sekali tidak ada artinya.</p>
<p>Begitulah ia membangkitkan semangat dan bertekad terus mendaki ke atas, paling tidak kucing hitam tadi harus ditemukan.</p>
<p>Pada saat itulah baru saja dia hendak melangkah pula, tiba-tiba dari belakang terjulur tiba sebuah tangan yang indah, seketika pergelangan tangan Lui-ji terpegang.</p>
<p>Ditengah malam sunyi, di pegunungan sepi, kejadian ini sungguh sangat mengejutkan.</p>
<p>Tentu saja Lui-ji merinding, tanpa kuasa tubuhnya terus ditarik memutar balik oleh tangan yang indah itu.</p>
<p>Sekilas pikir Lui-ji mengira dirinya bertemu dengan hantu. Tapi baru saja pikiran demikian terlintas dalam benaknya, apa yang dilihatnya segera ternyata seorang perempuan yang amat cantik dengan gayanya yang anggun.</p>
<p>&#8220;Haya!&#8221; Lui-ji berteriak kaget.</p>
<p>Sungguh tak terduga, setelah melihat jelas orang yang memegang tangannya adalah seorang perempuan cantik berbaju hitam, sungguh kagetnya melebihi melihat setan iblis, saking kagetnya, dan juga lantaran lelahnya, ia jatuh terduduk.</p>
<p>&#8220;kau&#8230;&#8221; terbelalak mata Lui-ji dan tidak sanggup bersuara lagi.</p>
<p>&#8220;Betul, aku. Tak kau duga bukan?!&#8221; kata perempuan cantik itu, siapa lagi dia kalau bukan Ki Pi-ceng.</p>
<p>Lui-ji gelagapan dan tidak tahu apa yang harus diucapkan.</p>
<p>Ki Pi-ceng lantas berkata pula, &#8220;Pernah ku puji kau ini anak perempuan yang baik, mengapa mendadak kau tidak penurut lagi?&#8221;</p>
<p>Setelah berhenti sejenak, lalu ia menyambung, &#8220;Tadinya kukira kau ikut Hay Tong jing pulang ke gunung, siapa tahu kau kabur ditengah jalan sehingga aku kecelik.&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji meronta bangun dan berteriak. &#8220;Mengapa aku harus tunduk kepada kehendakmu?&#8221;</p>
<p>Suara cukup keras dan sikapnya tegas, mendadak ia menjadi tabah.</p>
<p>&#8220;Sebab orang yang tunduk kepadaku tentu takkan susah, tapi kau ternyata tidak mau menurut.&#8221; Kata Ki pi-ceng.</p>
<p>Lui-ji tambah berani, ia bertolak pinggang dan mendengus, &#8220;Hm, sekarang juga aku tidak merasa susah, bahkan pasti tidak akan tunduk kepada perintahmu, selamanya jua aku tidak pernah susah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu kan belum kau rasakan,&#8221; ujar Ki Pi-ceng dengan tertawa. &#8220;Apabila kau mulai merasa susah, tentu kau akan menyesal.&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengak, katanya, &#8220;Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa perlu kujelaskan?&#8221; kata Ki Pi-ceng. &#8220;Baiklah, biar kau tambah pengalaman.&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji merinding, lamat-lamat ia merasakan gelagat tidak enak.</p>
<p>Terdengar Ki Pi-ceng menyambung lagi. &#8220;Petang tadi jejakmu sudah ku ikuti, bahkan mengikut pula banyak kawanku&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa? kawanmu? Siapa? Di mana?&#8221; Teriak Lui-ji dengan gugup.</p>
<p>Ki Pi-ceng tertawa, katanya, &#8220;Wah, banyak sekali jumlah mereka. ada diantaranya Ji Hong-ho, Ki Go-ceng, Lo-cinjin, Hu-patya dan lain-lain lagi, sukar dihitung satu persatu. Mereka sudah menuju ke air terjun sana. Tahukah kau untuk apa mereka pergi ke sana?&#8221;</p>
<p>Lui-ji tidak menjawab, tapi mukanya menjadi pucat.</p>
<p>Ki Pi-ceng berkata pula, &#8220;Kepergian mereka ke sana adalah untuk menjenguk seorang tamu terhormat, sedangkan tamu terhormat itu adalah orang yang sedang kau cari dengan segala daya upaya, tanpa petunjukmu tentu sukar bagi kami untuk menemukan dia. Coba bayangkan, bukankah yang rugi dan bakal susah ialah dirimu?&#8221;</p>
<p>Seketika kepala Lui-ji seperti dikemplang satu kali, ia berdiri mematung dan tak sanggup bersuara.</p>
<p>&#8220;Nah, ucapanku tidak salah bukan?&#8221; kata Ki Pi-ceng pula. &#8220;Anak perempuan yang tidak menurut tentu akan susah sendiri, semoga kejadian seperti ini jangan terulang pula.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tidak menghiraukan ejekan orang, mendadak ia berpaling ke sana dan berteriak sekeras-kerasnya, &#8220;Ji-Kongcu, akulah yang membikin susah padamu!&#8221;</p>
<p>Menyusul ia terus melompat ke sana. Tapi peristiwa aneh segera terjadi.</p>
<p>Baru saja ia berlari dua-tiga langkah, dari belakang tiba-tiba timbul semacam daya isap yang sangat kuat, kontan dia tertarik balik mentah-mentah.</p>
<p>Jelas itulah perbuatan Ki Pi ceng.</p>
<p>Air mata Lui-ji bercucuran, ucapnya, &#8220;Cianpwe, akulah yang menyiarkan Giam-ong-ceh, jika mau membunuh boleh bunuhlah diriku, tapi jangan membikin susah Ji-kongcu.&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng menggeleng, katanya, &#8220;Tampaknya kekuatan cinta memang maha besar, bahkan orang rela mati baginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang, ku rela mati asalkan tidak membikin susah dia,&#8221; seru Lui-ji dengan menangis. &#8220;Biarlah aku mati seratus kali&#8230; seribu kali&#8230; ku rela&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak nada ucapan Ki Pi-ceng berubah menjadi ketus &#8220;Hm, urusan di dunia ini memang serba aneh, orang yang pantas mati biarpun ingin lari juga tidak bisa lolos, orang yang tidak harus mati, ingin matipun sukar.&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengak pula, tanyanya, &#8220;Cianpwe, kau bilang siapa tidak pantas mati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau anak perempuan yang pintar, tentunya dapat kau bedakan,&#8221; kata Ki Pi-ceng.</p>
<p>Seketika Lui-ji seperti terperosot ke jurang, ia menyadari tiada gunanya memohon belas kasihan orang, ia menangis keras-keras, mendadak ia berlari pula ke pinggang gunung.</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, tahu-tahu ia menyeruduk sesuatu, kontan ia terpental balik.</p>
<p>Rupanya dia terlalu gugup dan tergesa-gesa, yang dipikir hanya lari secepat-cepatnya sehingga entah apa yang ditubruknya, tapi begitu ia menengadah dan melihat jelas, seketika ia menjerit tertahan.</p>
<p>Hah, Leng-kui adanya!</p>
<p>Betul, inilah Leng-kui yang ajaib dan tidak pernah mati itu, senyumannya yang seram, pakaian hitam yang ketat, ikat pinggangnya yang merah dan sebilah golok melengkung terselip di ikat pinggangnya&#8230;</p>
<p>Saking kagetnya Lui-ji mendekap mukanya dan tidak berani memandang pula.</p>
<p>&#8220;Bawalah dia pulang ke gunung,&#8221; demikian pesan Ki Pi-ceng kepada Leng-kui.</p>
<p>Baru lenyap suaranya, serentak Ki Pi-ceng melayang ke atas, gerakannya jauh lebih cepat dari pada Leng-kui, dalam sekejap saja sudah menghilang.</p>
<p>Segera Leng-kui mencengkeram Lui-ji. Kalau Leng-kui ibaratnya elang, maka Lui-ji tepat seperti anak ayam.</p>
<p>Mendingan jatuh dalam cengkeraman orang lain, tapi Lui-ji jatuh dalam cengkeraman makhluk aneh ini, keruan ia ketakutan setengah mati.</p>
<p>Leng-kui menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, katanya, &#8220;Anak perempuan harus menurut, marilah kita pulang ke gunung.&#8221;</p>
<p>Saking seramnya, pikiran Lui-ji menjadi jernih malah, ia sempat melolos belati terus menikam tubuh Leng-kui.</p>
<p>&#8220;Crat&#8221;, darah muncrat, dada Leng-kui berlubang.</p>
<p>Akan tetapi Leng-kui tetap menyeringai seram, ucapnya, &#8220;Eh, kenapa kau lupa lagi, selamanya Leng-kui takkan mati.&#8221;</p>
<p>Hampir saja Lui-ji semaput saking ngerinya.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang berteriak, &#8220;Lui-ji! Lui-ji!&#8230;&#8221;</p>
<p>Lamat-lamat Lui-ji merasa suara itu seperti suara Hong-saceknya, hati tergetar, serentak ia siuman kembali.</p>
<p>Cepat iapun berteriak, &#8220;Sacek&#8230; Sacek&#8230;&#8221;</p>
<p>Baru berteriak dua-tiga kali, tahu-tahu ia merasa dirinya sudah berubah seperti sehelai kertas yang tertiup angin dan melayang di udara.</p>
<p>Iapun melihat sesosok bayangan kelabu secepat terbang lagi melayang ke arah sini, lamat-lamat dapat dikenalnya pendatang ini ialah Hong-saceknya.</p>
<p>Dengan Ginkang secepat terbang memang betul Hong Sam sedang memburu ke sini, tapi dia hanya sempat melihat Lui-ji dipanggul oleh sesosok bayangan hitam, lalu seperti asap buyar tertiup angin, dalam sekejap saja sudah menghilang.</p>
<p>Keruan Hong Sam terkesiap, sungguh ia tidak tahu Ginkang apakah bisa secepat itu?</p>
<p>Tak terpikir oleh Hong Sam bahwa yang membawa lari Lui-ji itu ialah Leng-kui, tapi ia merasa bingung untuk mengejarnya.</p>
<p>Pada saat itulah, terdengar angin berkesiur, beberapa bayangan orang melayang keluar dari kaki gunung dang menuju ke air terjun.</p>
<p>Hong Sam tahu gelagat tidak enak, tidak sempat lagi memikirkan Lui-ji, sekali lompat, secepat terbang ia menuju ke tempat Pwe-giok berlatih kungfu itu.</p>
<p>Sesudah dekat, dilihatnya beberapa tombak di luar air terjun sana berdiri tiga orang, Ki Pi-ceng berdiri ditengah diapit oleh Ki Go-ceng dan Ji Hong-ho. Dengan tiga pasang mata yang jelalatan mereka sedang mencari orang yang membentak agar mereka jangan maju lebih jauh lagi.</p>
<p>Sedetik, dua detik, tiga detik&#8230; Sungguh aneh, dengan ketajaman mata mereka, jangankan malam ini di cakrawala dihiasi sang dewi malam, sekalipun tanpa sinar bulan, seekor tikus ditengah semak pohon saja dapat mereka temukan dengan cepat. Tapi sekarang sinar mata mereka telah menjelajahi segenap pelosok air terjun itu dan tetap tidak melihat sesuatu.</p>
<p>Ki Go-ceng tidak tahan, dengan gusar ia berteriaknya, &#8220;Siapa itu yang bicara tadi? kalau tidak perlihatkan dirimu segera akan kumaki kau!&#8221;</p>
<p>Mendadak seorang dengan suara melengking berteriak, &#8220;Orang tua berada tidak jauh di depan kalian, apakah mata kalian sudah buta semua, masakah tiada seorangpun melihat diriku?&#8221;</p>
<p>Sekali ini ketiga orang itu dapat mendengar dengan jelas, suara itu bergema dari onggokan batu yang terletak beberapa tombak di depan mereka sana.</p>
<p>Dengan pandangan setajamnya mereka mencari pula, tapi tetap tidak menemukan orang bersembunyi didalam onggokan batu itu, hanya tertampak sepotong batu raksasa seperti sedang bergerak-gerak.</p>
<p>&#8220;Huh, kiranya dia!&#8221; jengek Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221; tanya Ki Go-ceng dengan heran.</p>
<p>&#8220;Coba kau perhatikan batu yang bergerak itu, apakah betul-betul batu?&#8221; ujar Ki Pi-ceng.</p>
<p>Waktu Ki Go-ceng memandang secermatnya, lalu berkata, &#8220;Ya, batu itu lebih mirip sebuah karung warna kelabu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, warnanya serupa batu, kalau tidak bergerak, hakekatnya tak ketahuan bahwa benda itu adalah sebuah karung yang ada isinya,&#8221; kata Ki Pi-ceng. &#8220;Kecuali orang goblok yang melebihi babi, kalau tidak tentu dapat kau pikirkan siapa yang kita hadapi ini.&#8221;</p>
<p>Setelah termenung sejenak, akhirnya Ki Go-ceng menepuk dahi sendiri dan berteriak, &#8220;Ah, betul, rupanya kita sedang berhadapan dengan Po-te Siansing.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, kawan kerdil, hanya separuh tepat terkaanmu!&#8221; mendadak seorang bergelak tertawa di sana. &#8220;Awas, tangkap!&#8221;</p>
<p>Baru lenyap suaranya, isi karung itu menggelinding keluar dengan cepat luar biasa, secara tepat benda itu lantas berhenti setelah menggelinding sampai di depan ketiga orang.</p>
<p>Hah, karung itu terikat erat mulutnya, isinya pasti manusia, hal ini terbukti karena dapat bergerak-gerak.</p>
<p>Ki Go-ceng yakin isi karung itu pasti si tua bangka Tangkwik, memang cara beginilah biasanya Tangkwik-siansing main sembunyi dan menggoda orang. Tanpa pikir segera ia hantam karung itu, &#8220;blang-blang&#8221;, kontan terdengar suara jeritan di dalam karung. Mulut karung yang terikat juga pecah dan meluncur keluar satu orang dengan mulut tumpah darah.</p>
<p>Seketika air muka Ki Go-ceng berubah, sikapnya menjadi serba susah seperti kera makan terasi.</p>
<p>Ki Pi-ceng dan Ji Hong-ho terkejut.</p>
<p>Isi karung itu memang benar-benar sangat mengejutkan dan di luar dugaan siapapun. Yang menggelinding keluar ini bukanlah Po-te Siansing alias Tangkwik-siansing melainkan Thian-sip-sing, si tukang gegares, yang kini terluka parah karena pukulan Ki Go-ceng.</p>
<p>Ki Pi-ceng bertiga bukan cuma terkejut saja, bahkan melongo tak mengerti. Sebab Thian-sip-sing adalah komplotan mereka yang datang bersama untuk membikin perhitungan dengan Ji Pwe-giok, beberapa saat yang lalu bahkan masih bersembunyi bersama kawan yang lain, siapa tahu sekarang telah ditawan oleh Tangkwik-siansing dan dimasukkan ke dalam karung, malahan dengan meminjam tangan Ki Go-ceng si tukang gegares ini dihantamnya hingga terluka parah.</p>
<p>Maka terdengar gelak tertawa pula dibalik onggokan batu, waktu semua orang memandang kesana, tertampaklah Tangkwik-siansing lagi nongkrong di atas batu dan sedang tertawa terkial-kial.</p>
<p>Ukuran jenggot Tangkwik-siansing yang luar biasa memang tidak sebanding dengan tubuhnya yang kecil, sekarang menongkrong di atas batu dan terkial-kial sehingga kelihatannya menjadi sangat lucu.</p>
<p>Tapi ketiga orang di hadapannya ini tiada satupun dapat tertawa, sebaliknya mereka melotot gusar ke arah Tangkwik-siansing.</p>
<p>Tapi dengan santai Tangkwik-siansing lagi membetulkan jenggotnya yang panjang itu, katanya, &#8220;Eh, tumben kalian bertiga pesiar bersama, mengapa kalian suami istri bertiga tidak mengeram di dalam kamar, tapi jauh-jauh datang ke pegunungan sepi ini untuk mencari diriku? Memangnya kalian ingin cari lawan berkelahi?&#8221;</p>
<p>Sindiran Tangkwik-siansing itu benar-benar sangat menusuk perasaan Ki Pi-ceng. Muka Ki Go-ceng dan Ji Hong-ho juga merasa panas, sungguh kalau bisa mereka ingin membinasakan Tangkwik-siansing dengan sekali hantam.</p>
<p>Sejenak kemudian, setelah menenangkan diri, Ki Pi-ceng berkata, &#8220;Tangkwik-siansing adalah tokoh terkemuka dan terhormat, apabila kutanya sesuatu padamu, tentunya engkau akan bicara terus terang dan takkan berdusta&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, betapapun Bak-giok Hujin memang lihay, dengan satu kata saja aku lantas terikat untuk tidak berdusta&#8221; ujar Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Sekarang ingin kutanya, apakah Ji Kongcu berada di tempatmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kalian mencari ke sini, apakah aku dapat menyangkal lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus jika kau sudah mengaku&#8221; kata Ki Pi-ceng. &#8220;Sekarang ingin ku bicara beberapa kata langsung dengan dia&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing tampak melengak, katanya, &#8220;Eh, jangan-jangan kau suruh dia membunuhku lagi?&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng tampak kikuk, katanya kemudian, &#8220;Hal ini adalah kesalahan siasatku, seharusnya kubunuh dia, dengan memegang Giam-ong-ceh dan Po-in-pai, maka seluruh dunia persilatan akan berada dalam genggamanku&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, sungguh aku sangat beruntung, untuk pertama kalinya selama hidupmu kau mau mengaku salah di depan orang&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng tersenyum kecut, ucapnya, &#8220;Tapi sudah terlambat, segalanya sudah terlambat. Hanya ada sesuatu persoalan yang belum lagi terlambat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo, persoalan apa?&#8221; tanya Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Bunuh dia!&#8221; ucap Ki Pi-ceng dengan penuh dendam.</p>
<p>Keras dan tegas ucapannya ini, jelas tidak kepalang bencinya terhadap Ji Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, tentu kau akan menyesal satu kali lagi,&#8221; kata Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa?&#8221; tanya Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Sebabnya akulah yang menyiarkan Gian-ong-cek ke dunia Kangouw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah betul?&#8221; Ki Pi-Ceng menegas dengan melengak.</p>
<p>&#8220;Tindakan ini kan tidak mendatangkan hadiah, untuk apa kau mencari muka?&#8221; jawab Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, paling-paling kaupun cuma perantara saja, yang ingin kucari adalah biang keladinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi sudah pasti kau tuduh bocah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat mengubah penderitaanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kupaksakan diri memikul tanggung jawab ini?&#8221; tanya Tangkwik-siansing.</p>
<p>Semoga ucapan ini karena Tangkwik-siansing salah omong atau aku salah dengar, kalau tidak, silahkan kau tarik kembali ucapanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf kalau boleh kusitir ucapanmu, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini dapat mengubah penderitaanku.&#8221; kata Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, urusan menjadi rada ruwet,&#8221; kata Ki Pi-ceng dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Persoalan ini juga tidak sederhana,&#8221; ujar Tangkwik-siansing. &#8220;Sekalipun kau mau menyudahi urusan ini juga tidak dapat lagi.&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng melengak, tanya, &#8220;Agaknya ada maksud tertentu ucapanmu ini, dapatkah kau bicara dengan lebih jelas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira ada baiknya kau linglung untuk sementara, selekasnya tentu kau paham persoalannya.&#8221;</p>
<p>Jika tidak mau kau lakukan, aku pun tidak perlu mendesak lagi. Mengingat sesama orang persilatan, biarlah kugariskan dua jalan bagimu dan silahkan Tangkwik-siansing memilihnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba katakan,&#8221; jawab Tangkwik-siansing.</p>
<p>Mendadak suara Ki Pi-ceng berubah kereng, katanya, &#8220;Pertama, serahkan Ji-kongcu dengan segera, persoalannya akan diputuskan oleh sidang umum dunia persilatan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bandit besar dari gurun utara It-koh-yan, dengar tidak kau?&#8221; teriak Tangkwik-siansing mendadak.</p>
<p>Ji Hong-ho kelihatan melengak, tanyanya, Siapa yang kau maksudkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang kumaksudkan ialah Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho, Anda sendiri!&#8221; seru Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Hm, tampaknya Anda sudah linglung sehingga tidak kenal orang lagi?&#8221; jengek Ji Tok-ho.</p>
<p>&#8220;Ji Tok-ho,&#8221; kata Tangkwik-siansing, &#8220;di dalam Giam-ong-ceh, seluk beluk dirimu tercatat dengan jelas, kukira tidak perlu lagi kau berlagak pilon, kalau terus berlagak lagi bisa segera kujadikan kau asap buyar benar-benar.&#8221;</p>
<p>Air muka Ji Tok-ho tampak merah padam dan tidak dapat bersuara lagi.</p>
<p>&#8220;Apa yang dikatakan Ki-hujin tadi sudah kaudengar tidak?&#8221; tanya Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Tentu, itulah usul yang tepat dan pantas,&#8221; kata Ji Tok-ho.</p>
<p>&#8220;Tapi usulnya dapat kuberi tamsil mengadukan perampok di sarang bandit,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Maka jalan ini tidak kutempuh, coba saja jalan kedua?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, Ki-hujin, sekarang boleh kau sebutkan jalan kedua,&#8221; ujar Ji Tok-ho.</p>
<p>&#8220;Mati!&#8221; hanya satu kata saja diucapkan Ki Pi-ceng.</p>
<p>Tangkwik-siansing bergelak tertawa sambil mengelus jenggotnya yang panjang, ucapnya, &#8220;Usul ini lebih lebih tidak dapat kuterima. Setua ini belum pernah kunikah, kalau harus mati sekarang, cara bagaimana aku akan bertanggung jawab terhadap Giam-lo-ong? Kedua jalan yang digariskan Ki-hujin jelas tak dapat kuterima. Bagaimana kalau kita bicara saja tentang jalan ketiga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jalan ketiga apa?&#8221; Ki Pi-ceng melengak.</p>
<p>&#8220;Setiap suka duka, setiap dendam dan benci orang Kangouw memang perlu diselesaikan secara tuntas,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Maka berikan waktu tujuh hari padaku, sesudah itu, andaikan kalian tidak mencari bocah itu, tentu juga dia akan mencari kalian, tatkala mana segalanya tentu dapat dibereskan seluruhnya.&#8221;</p>
<p>Mendadak Ki Go-ceng meraung, &#8220;Setan tua Tangkwik, jangan kau main siasat ulur waktu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, yang bicara apakah sahabat kerdil? Kenapa baru sekarang kau bicara?&#8221; ejek Tangkwik-siansing.</p>
<p>Mendadak sesosok bayangan menubruk tiba, menerjang Tangkwik-siansing. Siapa lagi dia kalau bukan Ki Go-ceng yang murka itu.</p>
<p>Daya tubruknya sungguh sangat dahsyat, tertampak Tangkwik-siansing mengebutkan jenggotnya yang panjang, menyusul tubuhnya lantas mengapung ke atas. &#8220;Blang&#8221; ia sambut pukulan lawan dengan tepat.</p>
<p>Angin keras berjangkit, adu pukulan itu dilakukan kedua orang dengan sama terapung di udara, seketika timbul damparan angin keras, waktu turun ke bawah tubuh Tangkwik-siansing terhuyung mundur dua tiga tindak, sebaliknya Ki Go-ceng tergulung oleh angin dahsyat itu dan berputar-putar beberapa kali di udara dan &#8220;brakâ€™, ia terbanting jatuh di tempat semula.</p>
<p>Wajah Ki Go-ceng pucat seperti mayat, ujung mulut juga berdarah, seketika tidak sanggup merangkak bangun.</p>
<p>&#8220;Hm, hebat benar Bu-siang-sin-kang Tangkwik-siansing kita,&#8221; jengek Ki Pi-ceng. &#8220;Tapi perlu kuperingatkan padamu, malam ini selain hadir kami bertiga, di sekitar sini sedikitnya bersembunyi belasan tokoh kelas tinggi, mungkin tidak mudah kau bereskan sebagaimana kau duga.&#8221;</p>
<p>Sinar mata Tangkwik-siansing gemerdep dan menyapu pandang sekelilingnyaâ€¦</p>
<p>Memang betul, bayangan orang bergerak di sana-sini, belasan tokoh Bu-lim serentak muncul dari tempat gelap seperti badan halus saja.</p>
<p>&#8220;Masih ada tidak? Biarlah kubereskan saja sekalian supaya anak itu tidak perlu repot lagi,&#8221; kata Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, tampaknya kalau belum sampai di tepi jurang, Tangkwik-siansing belum juga putus asa?&#8221; ujar Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Anggaplah kau bicara bagiku, sebelum tahu bagaimana lihainya Bu-siang-sin-kang, agaknya kalian pun tidak mau pergi,&#8221; jawab Tangkwik-siansing dengan sama tajamnya.</p>
<p>Dalam pada itu belasan bayangan orang ini sudah semakin dekat, semuanya berdiri di belakang Ki Pi-ceng. Sungguh luar biasa, hampir segenap tokoh ternama telah hadir.</p>
<p>Ki Pi-ceng tertawa, katanya, &#8220;Tangkwik-siansing tampaknya yakin benar akan kelihaian sendiri, mungkin kau kira kami tak dapat menemukan Ji-kongcu, jika demikian halnya, maka salahlah kau.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing melengak, sorot matanya yang tajam menatap wajah Ki Hi-ceng.</p>
<p>Segera Ki Pi-ceng menyambung, &#8220;Biarlah kita buka kartu saja secara terus terang, supaya urusan bisa lekas diselesaikan. Memangnya kau kira kami tidak tahu Ji-kongcu bersembunyi di belakang air terjun sana?&#8221;</p>
<p>Kembali Tangkwik-siansing melengak, mau tak-mau ia merasa kagum terhadap ketajaman mata lawan.</p>
<p>&#8220;Tangkwik-siansing,&#8221; kata Ki Pi-ceng pula. &#8220;Sekarang kuberi lagi suatu kesempatan padamu, bermusuhan dengan setiap tokoh Bu-lim bukanlah sesuatu yang menguntungkan.&#8221;</p>
<p>Waktu Tangkwik-siansing menoleh, dilihatnya Hong-sam dan Tangkwik-ko sudah berjaga di samping air terjun itu, maka hatinya tambah tabah.</p>
<p>Dengan tiga orang harus menghadapi tokoh Bu-lim sebanyak ini, jelas kekuatan mereka terasa sangat tipis, tapi keadaan sudah kadung begini, tiada pilihan lain baginya.</p>
<p>Tangkwik-siansing menjadi nekat, teriaknya, &#8220;Ayolah maju! Boleh kalian bertiga maju sekaligus! Tapi ingin kuperingatkan lebih dulu, jangan lupa julukanku yang sebuah karung dapat mengisi seluruh jagat ini, jika cuma kalian bertiga saja tentu belum dapat memenuhi karungku.&#8221;</p>
<p>Jangan dikira kata-kata Tangkwik-siansing ini seperti banyolan belaka, secara tidak kelihatan justru menimbulkan pengaruh psikologis terhadap kawanan tokoh Bu-im itu.</p>
<p>Seperti diketahui, dalam perjamuan ulang tahun Hu-patya tempo hari, ketika mendengar munculnya &#8220;si tuan karung&#8221;, seketika semua orang lari terbirit-birit, apalagi sekarang berhadapan langsung dengan orangnya.</p>
<p>Walaupun keadaan sekarang belum sampai terjadi seperti tempo hari, tapi sudah ada sebagian hadirin itu merasa ngeri dan diam-diam sudah ambil keputusan akan putar haluan apabila keadaan berbahaya.</p>
<p>Sampai di sini, pertempuran tidak mungkin bisa dihindarkan lagi.</p>
<p>Mendadak Ji Tok-ho berteriak, &#8220;Lo-cinjin, bawalah beberapa kawan dan menghadapi Tangkwik-ko.&#8221;</p>
<p>kini Ji Tok-ho telah memperlihatkan wibawanya selaku Bu-lim-bengcu, ketua perserikatan dunia persilatan yang berkuasa.</p>
<p>Lo-cinjin mengiakan, segera ia berlari pergi membawa beberapa orang temannya.</p>
<p>Lalu Ji Tok-ho berpaling dan berteriak pula, &#8220;Hi Soan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap!&#8221; seru Hi-soan.</p>
<p>&#8220;Bawalah beberapa kawan dan hadapi Hong Sam, Ji Pwe-giok harus ditawan hidup-hidup untuk diadili atas segala perbuatannya selama ini,&#8221; kata Ji Tok-ho.</p>
<p>Hi Soan juga mengiakan dan berlari pergi dengan beberapa kawannya.</p>
<p>Sekarang di tengah kalangan hanya tersisa dua setengan orang, kecuali Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho, Ki G0-ceng sudah terluka, maka dia hanya dapat dihitung setengah orang.</p>
<p>Dengan sorot mata membara Ji Tok-ho melototi Tangkwik-siansing, katanya, &#8220;Asalkan karungmu cukup longgar, malam ini kurela terisap ke dalam karungmu, pendek kata, antara kita harus ada penyelesaian yang tuntas.&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, serentak ia mengapung ke atas terus menubruk maju, &#8220;Brak-brek-brak&#8221; kontan dia menghantam tiga kali.</p>
<p>Tapi dia sangat licin, waktu Tangkwik-siansing balas menyerangnya, cepat ia melompat mundur lagi.</p>
<p>Jelas kelihatan ia sangat jeri terhadap kelihaian Bu-siang-sin-kang, sebab itulah dia tidak berani menangkisnya dengan keras lawan keras.</p>
<p>Pukulan Tangkwik-siansing memang sangat mengejutkan, angin mendampar sekeliling kalangan, debu pasir beterbangan, seketika di sekitar orang tua ini seakan-akan terbentuk selapis dinding hawa yang sukar ditembus.</p>
<p>Diam-diam Ki Pi-ceng terkejut, mau tak-mau ia harus mengakui kelihaian setan tua tangkwik-siansing, jelas orang sudah nekat dan siap mengadu jiwa.</p>
<p>Di tengah deru angin yang keras, &#8220;brek-brek&#8221;, terjadi beberap kali gebrakan, tapi Ji Tok-ho tidak mampu menangkis, untung dia mengutamakan berkelit dan menghindar, kalau tidak tentu dia sudah roboh terluka oleh Bu-siang-sin-kang.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang ke tengah medan pertempuran.</p>
<p>Itulah Bak-giok hujin Ki Pi-ceng.</p>
<p>Begitu kedua tangannya ditarik ke depan dada, menyusul lantas ditolak ke depan. &#8220;Blang&#8221;, terdengar suara benturan keras, terjadi kontak langsung antara kedua tokoh utama itu.</p>
<p>Ki Pi-ceng telah mengeluarkan kungfu andalannya &#8220;Sian-thian-ceng-gi&#8221; beradu dengan Bu-siang-sin-kang.</p>
<p>Dua bayangan segera terpencar lagi, berturut-turut Ki Pi-ceng menyurut mundur, sedangkan Tangkwik-siansing juga bergeliat, jenggotnya yang panjang bergoyang terdampar angin pukulan sehingga mirip boneka si kakek di toko mainan anak-anak.</p>
<p>Dengan pandangan tercengang Ki Pi-ceng menatap orang tua itu.</p>
<p>Sebaliknya Tangkwik-siansing juga sedang melotot dengan matanya yang kecil itu.</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong serangkum angin pukulan dahsyat menyambar tiba dari beakang Tangkwik-siansing.</p>
<p>Tapi mendadak orang tua itu membentak, &#8220;Huh, terhitung Bu-lim-bengcu macam ini? Pandainya cuma main sergap dari belakang?!&#8221;</p>
<p>Berbareng dengan ucapannya itu, serentak ia berputar, Bu-siang-sin-kang bekerja cepat, suatu pukulan dahsyat dilontarkan ke belakang.</p>
<p>&#8220;Brak&#8221;, berjangkit suara orang jatuh.</p>
<p>Rupanya Ji Tok-ho tidak sempat menarik kembali serangannya sehingga tepat kena ditolak oleh Bu-siang-sin-kang, kontan ia terpental dan jatuh tersungkur.</p>
<p>Untung baginya, hanya terluka ringan saja dan tidak sampai mati.</p>
<p>Selagi Tangkwik-siansing henak menambah sekali pukulan lagi, pukulan Sian-thian-ceng-gi Ki Pi-ceng keburu menyambar tiba pula.</p>
<p>Dan begitulah, dengan satu lawan dua, Tangkwik-siansing menghadapi kerubutan Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho tanpa gentar.</p>
<p>Sembari bertempur, Ki Pi-ceng sembat memberi pesan kepada Ji Tok-ho, &#8220;Ji-bengcu, tempur dia dengan gerak cepat, sedapatnya menguras tenaganya.&#8221;</p>
<p>Sungguh celaka! Justru inilah yang dikuatirkan Tangkwik-siansing.</p>
<p>Maklumlah, Bu-siang-sin-kang paling banyak makan tenaga, sedangkan lawannya adalah tokoh besar kelas wahi, tanpa menggunakan Bu-siang-sin-kang jeas tidak mampu menandinginya.</p>
<p>Pada suatu kesempatan Tangkwik siansing coba mamandang ke sana&#8230;</p>
<p>Ternyata di samping kanan-kiri air terjun sana juga mulai terjadi pertempuran. Tangkwik-ko dan Hong Sam masing-masing menghadapi kerubutan beberapa tokoh bu-lim, berbareng itu mereka harus menjaga Ji Pwe-giok yang asyik berlatih Bu-siang-sin-kang, tentu saja mereka agak kerepotan dan berulang-ulang terancam bahaya.</p>
<p>Biji mata Tangkwik-siansing berputar, sedapatnya ia mencari akal.</p>
<p>Mendadak ia menghimpun tenaga murni pada kedua tangannya, sekonyong-konyong ia mendorong pada gundukan tanah yang terletak tidak jauh di sebelahnya.</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, terjadi guncangan keras seperti gempa bumi.</p>
<p>Karena getaran keras itu, mendadak gundukan tanah itu muncrat ke udara sehingga berubah menjadi segulung kabut tebal, mirip angin badai yang berjangkit di gurun pasir.</p>
<p>Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho sama terkejut.</p>
<p>Kesempatan itu segera digunakan oleh Tangkwik-siansing untuk lolos dari kabut tanah itu, secepat terbang ia memburu ke arah air terjun.</p>
<p>Selagi orangnya melayang tiba, segera terdengar suara bentakannya yang menggelegar, &#8220;Ini dia Po-te Siansing, yang takut mati lekas lari, yang tidak takut mati boleh pergi menghadapi Giam-lo-ong!&#8221;</p>
<p>Baru lenyap suaranya; segera orangnyapun tiba di tempat itu, seperti burung elang menyambar anak ayam, lebih dulu ia menerjang Hi Soan.</p>
<p>Saat itu Hong Sam sedang menghadapi keroyokan rombongan Hi Soan, karena bentakan Tangkwik-siansing yang keras itu, ia menjadi bingung malah.</p>
<p>Bentakan Tangkwik-siansing itu tiada ubahnya sengaja memeberitahukan kepada musuh agar lekas lari. Padahal memang inilah maksud tujuan Tangkwik-siansing.</p>
<p>Nama &#8220;Po-te Siansing&#8221; yang gilang gemilang dan dapat membikin gentar atau merontokkan nyali setiap jago persilatan, sudah tentu tidak kecil efeknya bilaman nama itu ditonjolkan.</p>
<p>Padahal rombongan Hi Soan yang mengerubuti Hong Sam itu cukup kuat, tampaknya mereka sudah berada di atas angin. Tapi karena bentakan Tangkwik-siansing itu, seketika kuncup nyali mereka seperti tikus ketemu kucing, sekali berteriak, kontan mereka lari tunggang langgang.</p>
<p>Malahan tidak terbatas pada rombongan Hong Sam saja, bahkan rombongan Lo-cinjin juga terpengaruh dan sama lari ketakutan.</p>
<p>Hanya Lo-cinjin dan Hi Soan yang masih tertinggal disitu. Sebagai kepala rombongan, dengan nama mereka yang menonjol, kalau merekapun lari terbirit-birit oleh gertakan Tang Kwik- sian sing itu, kan bisa ditertawakan orang.</p>
<p>Dalam pada itu, seperti burung saja Tang Kwik- sian sing telah menubruk dari udara, belum lagi orangnya turun, lebih dulu tenaga Bu-siang-sin-kang sudah mendampar tiba.</p>
<p>Hi Soan yang menghadapi terjangan Tang Kwik- sian sing itu, terpaksa mengerahkan tenaga untuk menyambut pukulan lawan.</p>
<p>&#8220;Bluk,&#8221; terjadi benturan keras tenaga pukulan kedua orang itu, Hi Soan terpental dan jatuh terguling beberapa tombak jauhnya dan tidak dapat bangun lagi.</p>
<p>Dengan demikian tekanan terhadap Hong Sam menjadi longgar. Sedangkan di pihak Tang Kwik Ko sana, karena yang dihadapapinya sekarang juga tinggal Lo-cinjin saja, ia pun merasa ringan.</p>
<p>&#8220;Lihat pukulan, setan tua Tang Kwik!&#8221; mendadak bergema suara bentakan dari atas.</p>
<p>Suaranya berasal dari satu orang, tapi yang melayang tiba ada dua orang. Yang sebelah kiri adalah Ki Pi-ceng dan yang kanan Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho.</p>
<p>Dengan sepenuh tenaga kedua orang menghantam, apalagi dari atas menghantam ke bawah, tentu saja luar biasa dasyatnya.</p>
<p>Agaknya mereka pun sudah mempertaruhkan segalanya, hidup atau mati bergantung pada serangan ini.</p>
<p>Tang Kwik- sian sing prihatin, iapun mengerahkan segenap tenaganya dan memapak serangan lawan.</p>
<p>Waktu tenaga pukulan kedua pihat kebentur lagi, kembali terbit suara keras dan damparan hawa yang dahsyat laksana badai mengamuk di tengah debu pasir yang berhamburan kelihatan bayangan orang berseliweran.</p>
<p>Sungguh luar biasa! Tang Kwik- sian sing tergetar mundur tiga empat tindak, setelah berdiri tegak, darah terasa bergolak dalam rongga dada, air muka pun sebentar merah dan sebentar pucat.</p>
<p>Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho menyerang dari atas, jelas posisi mereka lebih menguntungkan, walaupun begitu, menghadapi Bu-siang-sin-kang yang maha sakti itu merekapun tidak banyak menarik keuntungan, merekapun tergetar mundur beberapa tindak.</p>
<p>Sementara Hi Soan belum lagi merangkak bangun, ia berduduk di tanah dengan wajah pucat seperti mayat, jelas terluka parah.</p>
<p>Dengan murka Ji Tok-ho hendak menubruk maju lagi, tapi mendadak Ki Pi-ceng berteriak mencegahnya.</p>
<p>Dengan sorot mata tajam ia tatap Tangkwik-siansing, katanya, &#8220;Selama 40 tahun ini belum pernah ada orang berani main gila padaku&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan orang tua ini harus dikecualikan bukan?&#8221; ujar Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Permusuhan kita jelas sudah terikat erat&#8221;, kata Ki Pi-ceng. &#8220;Tapi tidak ingin kubereskan sekarang ini&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing tertawa lebar, ucapnya, &#8220;Haha, kukira bukannya tak ingin, soalnya hasrat besar tenaga kurang, kenapa tidak kau katakan terus terang bahwa keadaanmu malam ini sudah tamat segalanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Terserah cara bagaimana akan kau katakan&#8221; kata Ki Pi-Ceng, &#8220;Hanya kau katakan kepada Ji-kongcu agar dalam waktu tiga hari dia datang ke tempatku untuk membereskan segala urusannya&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau dia tidak memenuhi waktu yang kau tentukan, lalu bagaimana?&#8221; tanya si kakek.</p>
<p>&#8220;Jika dia tidak datang menurut waktu yang kutentukan, terpaksa kami yang akan mencarinya lagi, dan untuk itu mungkin dia harus mengorbankan suatu nyawa lain yang perlu disayangkan&#8221; kata Ki Pi-ceng.</p>
<p>Tangkwik-siansing melengak, tanyanya, &#8220;Apa artinya ucapanmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Harus kau pikirkan sebaik-baiknya bahwa saat ini Lui-ji berada dalam cengkeramanku&#8221; jawab Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;He, telah kau apakan anak dara itu?&#8221; teriak Hong Sam dengan kuatir.</p>
<p>&#8220;Jangan cemas&#8221; ujar Ki Pi-ceng dengan tak acuh, &#8220;Sekarang dia berada dalam pengawasan Lengkui, dalam waktu tiga hari dia tidak akan diganggu, selewatnya tiga hari tentu tidak kujamin lagi keselamatannya&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, ia lantas memberi tanda kepada Ji Tok-ho. Segera Ji Tok-ho memanggul Hi Soan dan dibawa pergi dengan cepat.</p>
<p>Selagi Ki Pi-ceng hendak pergi juga, sekonyong-konyong angin pukulan dahsyat menyambar tiba. Tanpa pikir tenaga Sian-thian-ceng-gi lantas dikeluarkan untuk menangkis, kontan Hong-sam yang menyerang itu tergetar mundur dus-tiga tindak.</p>
<p>&#8220;Hm, kau juga ingin bergebrak denganku?&#8221; jengek Ki Pi-ceng.</p>
<p>Hong Sam mendelik, &#8220;Pendek kata, kalau Lui-ji tidak kau serahkan, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, memangnya kau mampu menahanku disini?&#8221; jengek Ki Pi-ceng. &#8220;Sudah tentu, jika kau minta bantuan Tangkwik-siansing tentu adalah soal lain. Cuma perlu kuperingatkan kau lebih dulu sebelum kau bertindak sesuatu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peringatan pa?&#8221; tanya Hong Sam.</p>
<p>&#8220;Jangan lupa, Lengkui adalah ciptaanku, aku lah yangmengemudkikan dia, antara dia dan aku ada kontak batin (semacam telepati), asalkan timbul sesuatu pikiran ku, seketika Leng-kui akan membinasakan Cu Lui-ji.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau berani?!&#8221; teriak Hong sam dengan murka.</p>
<p>&#8220;Memangnya aku tidak berani?&#8221; jengek Ki Pi-ceng. &#8220;Berani atau tidak, jika perlu boleh kau coba serang lagi diriku.&#8221;</p>
<p>Serentak Hong Sam angkat tangannya dan siap menyerang pula.</p>
<p>Tapi pada saat terakhir, mendadak ia urungkan maksudnya, sorot matanya yang membara itu seakan-akan ingin membakar musuhnya, ia pandang Ki Pi-ceng dengan murka.</p>
<p>Ki Pi-ceng tertawa senag, tertawa kemengangan, ia tahu lawan benar-benar mati kutu oleh ancamannya.</p>
<p>Dengan mengejek Ki Pi-ceng berkata pula, &#8220;Wah, sungguh bijaksana dan harus dipuji bawa Hong-siansing dapat mengendalikan diri pada detik terakhir menghadapi maut. Baiklah, hendaknya jangan kau lupa menyampaikan pesanku kepada Ji-kongcu tentang batas waktu tiga hari, pada saatnya nanti akan kusambut dengan hormat kedatangannya.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, dengan gemulai ia memutar tubuh dan menghilang dalam kegelapan.</p>
<p>Dalam pada itu Lo-cinjin dan Tangkwik Ko masih saling labrak dengan sengit.</p>
<p>Tidak kepalang dahsyat pukulan Lo-cinjin, berbareng mulutnya juga berteriak dan membentak terus-menerus.</p>
<p>Sekonyong-konyong dilihatnya di belakang terlah bertambah dua orang, mereka ialah Hong Sam dan Tangkwik-siansing.</p>
<p>Lo-cinjin terkejut dan berhenti menyerang sambil melompat mundur.</p>
<p>&#8220;He, hidung kerbaa, apakah benar-benar hendak kau jual nyawa bagi Ki Pi-ceng?&#8221; tanya Tangkwik-siansing dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kubela dia? Aku kan tidak menaksir dia,&#8221; jawab Lo-cinjin dengan mendelik.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, jadi kau berjuang membela Bilim-bengcu?&#8221; tanya pula si kakek.</p>
<p>Tambah besar mata Lo-cinjin mendelik, ucapnya, &#8220;Huh, lelbih-lebih tidak bisa jadi, memangnya kau kira Lo-cinjin orang yang suka menjilat dan mengekor?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, aku menjadi bingung, memangnya untuk apa kau tinggal di sini an mengadu jiwa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, kenapa kau perlu bertanya lagi?&#8221; jengek Lo-cinjin. &#8220;Soalnya, mengapa bocah she Ji itu membeberkan urusanku yang memalukan di masa lampau, uaitu yang tercatat dalam buku Giam-ong-ceh?&#8221;</p>
<p>Biji mata Tangkwik-siansing yang kecil itu berputar, katanya, &#8220;Oya, rasanya aku juga membaca catatan mengenai dirimu di dalam Giam-ong-ceh itu, kalau tidak salah, konon kau pernah berlutut di hadapan Siau-hun-kiongcu, bukan kau minta ampun padanya, tapi kau ingin melamarnya sebagai isterimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; kata Lo-cinjin.</p>
<p>&#8220;Huh, masakah untuk persoalan sekecil ini pantas bagimu untuk mengadu jiwa?&#8221; jengek Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Bagiku, kejadian itu adalah noda besar dan memalukan,&#8221; kata Lo-cinjin. &#8220;Kau tahu, nama atau kehormatan adalah jiwaku yang kedua.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira urusan ini tidak perlu dipersoalkan lebih lanjut.&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Kau tahu, aku pun pernah jatuh cinta kepada seorang nikoh jelita, lelaki cinta kepada perempuan, ialah kodrat, kenapa mesti malu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh tidak kusangka kau bisa bicara blak-blakan begini,&#8221; ujar Lo-cinjin dengan heran.</p>
<p>&#8220;Biarlah kukatakan lagi terus terang, sesungguhnya akulah yang mewakili Ji-kongcu menyiarkan catatan dalam buku Giam-ong-ceh itu,&#8221; tutur Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Jika betul demikian, aku menjadi lebih tidak mengerti apa maksud tujuanmu?&#8221; tanya Lo-cinjin. &#8220;Masakah kaupun tidak segan-segan menyiarkan perbuatanmu sendiri yang kurang terpuji itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini sangat sederhana jika kujelaskan, &#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Segala sesuatu ini adalah demi pembaharuan Bu-lim secara tuntas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Demi pembaharuan dunia persilatan masakah termasuk urusan tetek bengek yang brengsek ini? &#8221; kata Lo-cinjin.</p>
<p>&#8220;Betul, untuk pembaharuan seluruh Bu-lim secara tuntas harus dimulai dengan memperbaiki karakter, moral dan tindak-tanduk setiap orang Bu-lim, &#8220;tutur Tangkwik-siansing, &#8221; Dengan menyebar-luaskan isi Giam-ong-ceh itu, diharapkan selanjutnya akan memaksa para anggota Bu-lim supaya mengoreksi tindak-tanduk sendiri di masa lampau. Dengan demikian tentu akan besar efeknya bagi ketentraman dunia persilatan. Tidak terlalu lama lagi seluruh dunia persilatan pasti akan lebih segar dan teratur dengan baik, selamanya takkan terjadi lagi bunuh-membunuh tanpa bermoral. &#8220;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi kerugian nama baikku…&#8221; Lo-cinjin masih juga kurang mantap.</p>
<p>&#8220;Apa artinya kejadian itu?&#8221; ujar Tangkwik-siansing, &#8220;Pada waktu muda, siapa yang tidak pernah berfoya-foya?&#8221;</p>
<p>Lo-cinjin menunduk, ia bergumam, &#8220;Ehm, kedengarannya perkataanmu cukup beralasan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi pembaharuan Bu-lim secara tuntas sekali ini, sudah barang tentu ada sementara orang yang tidak terlepas dari pembersihan, dosa mereka tidak dapat diampuni sehingga mereka harus mendapat ganjaran yang setimpal,&#8221; demikian Tangkwik-siansing menambahkan.</p>
<p>&#8220;Siapa-siapa saja yang kau maksudkan?&#8221; tanya Lo-cinjin.</p>
<p>&#8220;Apakah kau tahu persoalan Bu-lim bengcu sekarang, si Ji Hong-ho?&#8221; tanya Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Tentu saja tahu, kan cukup jelas catatan dalam Giam-ong-ceh yang sudah tersiar itu?&#8221; jawab Lo-cinjin.</p>
<p>&#8220;Bagus, tapi sekarang kuharap dengan mulutmu sendiri dapat kau sebutkan bagaimana duduk perkaranya mengenai orang she Ji itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aslinya dia adalah bandit gurun pasir yang berjuluk It-koh-yan, nama aslinya Ji Tok-ho, sudah banyak perbuatan terkutuk yang dilakukannya, lebih-lebih setelah dipermak oleh Ki Pi-ceng, sehingga wajahnya telah berubah dan dipalsu menjadi Ji Hong-ho, dia rela menjadi boneka Ki Pi-ceng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, jika kau tahu semua ini, urusan tentu akan lebih mudah diselesaikan,&#8221; ujar Tangkwik-siansing. &#8220;Orang semacam Ki Pi-ceng dan Ki Go-ceng yang serba aneh dengan jiwa yang tidak normal, bilamana mereka berhasil menguasai dunia persilatan ini, coba , dapatkah kau bayangkan bagaimana akibatnya nanti?&#8221;</p>
<p>Lo-cinjin menggeleng kepala, katanya, &#8220;Ya, memang sangat menakutkan dan mengerikan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab itulah penyiaran catatan dalam Giam-ong-ceh itu, sasaran yang sesungguhnya adalah sekelompok manusia abnormal seperti mereka itu,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Sedangkan kau, hanya disebabkan sedikit urusan tetek-bengek yang tidak berarti, tanpa sadar kau ikut terlibat oleh persoalan ini dan tanpa sadar telah diperalat oleh mereka. Coba pikirkan, apakah kau tidak merasa malu diri?&#8221;</p>
<p>Seketika Lo-cinjin tak dapat bersuara, ia menunduk kikuk.</p>
<p>Tangkwik-siansing lantas berkata pula, &#8220;Persoalannya sudah kubeberkan dengan gamblang, bagaimana sikap dan pendirianmu selanjutnya, boleh terserah kepada keputusanmu sendiri. Yang pasti, malam ini takkan ku persulit dirimu, biarlah kita berjumpa lagi kelak.&#8221;</p>
<p>Muka Lo-cinjin merah jengah, cepat ia berputar tubuh dan berlari pergi.</p>
<p>Begitulah kegemparan tadi telah dapat diselesaikan, tapi lantaran Cu Lui-ji berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng, hati Hong Sam merasa tidak tenteram.</p>
<p>&#8220;Sementara ini tidak perlu kau kuatir,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Dalam waktu tiga hari ini jelas anak dara itu takkan berbahaya, kuberani menjamin dengan jiwaku yang sudah lapuk ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi jangan lupa, dia berada dalam cengkeraman Leng-kui, setelah lewat tiga hari, dengan cara bagaimana akan kita hadapi makhluk yang tidak dapat dibunuh mati itu?&#8221; jawab Hong Sam.</p>
<p>&#8220;Alam menciptakan berjuta jenis makhluk, satu dan lain saling anti dan saling mengatasi, jika ada Leng-kui, tentu ada cara menghancurkan dia, biarlah perlahan kita mencari jalan untuk menghadapinya,&#8221; sela Tangkwik Ko tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Tapi jangan lupa, dia bukan manusia, juga bukan makhluk, tapi Leng-kui, setan, hantu yang tidak pernah ada sebelum ini,&#8221; tukas Hong Sam.</p>
<p>&#8220;Itupun tidak terkecuali,&#8221; ujar Tangkwik Ko. &#8220;Jangankan dia cuma semacam makhluk aneh yang dikendalikan oleh Ki Pi-ceng, sekalipun setan sungguhan juga ada cara untuk menghadapinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ucapan adik memang tepat,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Biarlah urusan ini sementara kita kesampingkan dulu, yang paling penting tidak boleh kita abaikan keadaan di sini, harus kita jaga ketat, hati-hati terhadap kemungkinan serbuan Ki Pi-ceng secara pengecut.&#8221;</p>
<p>Hong Sam dan Tangkwik Ko setuju atas jalan pikiran Tangkwik-siansing, maka mereka bertiga tetap berjaga di situ, tiada seorangpun berani meninggalkan air terjun.</p>
<p>Semalam berlalu dengan aman, fajar sudah menyingsing, cahaya sang surya yang keemasan menyinari bumi raya yang luas ini.</p>
<p>Baru tiga hari Ji Pwe-giok bersemedi mendalami Bu-siang-sin-kang.</p>
<p>Menurut perkiraan Tangkwik-siansing, perlu tujuh hari barulah Pwe-giok mampu menguasai Bu-siang-sin-kang dengan baik, kini baru tiga hari, jadi masih perlu empat hari lagi. Sedangkan batas waktu tiga hari yang diberikan Ki Pi-ceng kini sudah lewat satu hari, jadi masih ada waktu dua hari saja.</p>
<p>Jika menurut perhitungan tersebut, jelas Pwe-giok tidak keburu memenuhi batas waktu Ki Pi-ceng, bila dia harus pula menamatkan pelajarannya, sebab itulah semua orang sangat prihatin terhadap soal ini.</p>
<p>Sudah barang tentu, yang paling gelisah ialah Hong Sam. Sebab Ji Pwe-giok bukan saja saudara angkatnya, dapat tidak anak muda itu memenuhi batas waktu yang diberikan Ki Pi-ceng itu juga menyangkut mati-hidup Cu Lui-ji.</p>
<p>Dengan air muka prihatin, ia pandang Tangkwik-siansing, katanya, &#8220;Bagaimana, menurut pandanganmu, dapatkah Pwe-giok menyelesaikan pelajaran Bu-siang-sin-kang lebih cepat daripada perkiraan semula? Mungkinkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sulit, sangat sulit,&#8221; jawab Tangkwik-siansing. &#8220;Ya, kecuali terjadi keajaiban.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kau maksudkan dengan &#8220;keajaiban&#8221; dan cara bagaimana mendapatkannya?&#8221; tanya Hong Sam.</p>
<p>Tangkwik-siansing jadi melenggong, jawabnya, &#8220;Wah, pertanyaanmu ini membikin bungkam lagi padaku. Soalnya keajaiban hanya dapat dialami secara kebetulan dan tidak mungkin dicari.&#8221;</p>
<p>Keterangan ini membuat perasaan Hong Sam tambah tertekan. Betapapun ia sangat menguatirkan keselamatan Lui-ji.</p>
<p>Tak lama, mereka coba mengitari air terjun dan menuju ke depan panggung alam itu. Tampak Pwe-giok masih asyik duduk bersila di atas sana, sikapnya tenang seperti orang yang sudah melupakan segalanya, alam dianggapnya kosong belaka.</p>
<p>Keadaan anak muda itu hanya ada setitik perbedaan yang menyolok dibandingkan kemarin, yaitu air mukanya yang bercahaya, bersemu merah mengkilap.</p>
<p>&#8220;Aha, aneh… ajaib….&#8221; teriak Tangkwik-siansing mendadak.</p>
<p>&#8220;He, ada apa, kenapa terkejut dan gembar-gembor?&#8221; tanya Hong Sam cepat.</p>
<p>Mendadak Tangkwik-siansing menarik lengan baju Hong Sam dan mendesis, &#8220;Ssst, jangan kita ganggu dia, marilah kita pergi, bicaralah di luar sana.&#8221;</p>
<p>Segera ia mengajak kedua rekannya kembali ke tempat tadi, yaitu di tengah onggokan batu karang yang berserakan di luar air terjun sana.</p>
<p>Setelah masing-masing mengambil tempat duduk di atas batu, berkatalah Tangkwik Ko, &#8220;Tadi toako menyebut aneh dan ajaib, apakah karena engkau melihat perubahan cahaya muka Ji-kongcu yang berbeda dengan kemarin itu?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing mengangguk, jawabnya, &#8220;Betul, inilah tanda yang luar biasa dan tak terduga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tanda baik atau buruk?&#8221; cepat Hong Sam ikut bertanya.</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya baik,&#8221; tutur Tangkwik-siansing. &#8220;Itulah pertanda pelajaran Bu-siang-sin-kang hampir diselesaikan, nyata dia dapat menyelesaikan pelajarannya tiga hari lebih cepat daripada perkiraanku semula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, tiga hari lebih cepat katamu?&#8221; seru Hong Sam kejut dan girang, &#8220;jika begitu, artinya hari ini juga ilmu sakti itu dapat diselesaikan olehnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Sekarang sudah mendapatkan jawabannya, dan inilah keajaiban yang kukatakan itu. Cuma seketika akupun tidak tahu sebab musabab terjadinya keajaiban ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ku tahu,&#8221; tukas Tangkwik Ko, &#8220;Pasti disebabkan Ji-kongcu sudah memiliki ilmu sakti keluarganya, yaitu Lwekang bu-khek-bun yang hebat, maka untuk meyakinkan lagi Bu-siang-sin-kang menajdi lebih mudah daripada orang lain dan lebih pesat kemajuan yang dicapainya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aha, ucapan Jite memang betul,&#8221; seru Tangkwik-siansing dengan gembira, &#8220;Sungguh aku malah tidak pernah berpikir sampai ke situ.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berpaling dan berkata kepada Hong Sam, &#8220;Sekarang tentu kau tidak perlu kuatir lagi, paling tidak, kita dapat maju satu hari untuk memenuhi janji pertemuan dengan Ki Pi-ceng.&#8221;</p>
<p>Seketika air muka Hong Sam yang muram itu tersapu bersih, katanya, &#8220;Agaknya jiwa Lui-ji ditakdirkan belum tiba ajalnya, akan tetapi &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi entah cara bagaimana harus menghadapi Leng-kui pula, begitu maksudmu bukan?&#8221; tukas Tangkwik Ko.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; Hong Sam mengangguk.</p>
<p>&#8220;Jangan kuatir.&#8221; kata Tangkwik Ko dengan penuh keyakinan. &#8220;Sekarang sudah kutemukan cara bagus untuk menghadapi Leng-kui, kuyakin segalanya takkan menjadi soal dan tidak perlu diragukan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana caranya? Coba lekas katakan,&#8221; pinta Hong Sam dengan cemas-cemas girang.</p>
<p>&#8220;Untuk menghadapi Leng-kui, kuncinya terletak pada Ki Pi-ceng,&#8221; tutur Tangkwik Ko. &#8220;Coba kau pikir, segala sesuatu Leng-kui itu berada di bawah kemudi Ki Pi-ceng, atau dengan kata lain, jiwa Ki Pi-ceng seolah-olah melengket pada tubuh Leng-kui dan dapat melakukan segela kehendak hatinya. Maka sekarang asalkan kita dapat menaklukan Ki Pi-ceng, dengan sendirinya pula Leng-kui akan kehilangan daya gunanya, akan kehilangan kemampuannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tepat!&#8221; seru Tangkwik-siansing sambil berkeplok. &#8220;ya, pasti begitulah halnya. Agar Lui-ji tidak mengalami sesuatu cedera, kita harus menundukkan Ki Pi-ceng lebih dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika betul demikian, aku ingin pergi dulu dari sini,&#8221; kata Hong sam tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Hendak kemana kau?&#8221; tanya Tangkwik-siansing dengan heran.</p>
<p>&#8220;Harus kuawasi gerak-gerik Ki Pi-ceng, perlu dijaga kemungkinan dia akan kabur,&#8221; tutur hong sam.</p>
<p>&#8220;Hanya perlu menunggu satu hari lagi, masakah tidak dapat kau tunggu disini?&#8221; ujar Tangkwik-siansing. &#8220;Sebelum magrib latihan nanti, latihan Bu-sian-sin-kang bocah itu tentu dapat selesai, kenapa kita tidak menunggu, lalu pergi bersama, bukanlah jauh lebih kuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi, dalam satu hari segala kemungkinan dapat terjadi.&#8221; Hong Sam. &#8220;Bukan mustahil akan terjadi perubahan besar di sana, sebab itulah aku sangat gelisah, betapapun aku harus berangkat lebih dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; kata Tangkwik Ko, &#8220;boleh kau berangkat lebih dulu, cuma harus hati-hati, tidak obleh kau berindak sendiri-sendiri. Jika secara gegabah kau bertindak, bisa jadi takkan mendatangkan manfaat bagi pekerjaan kita, sebaliknya akan membahayakan keselamatan Lui-ji.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kutahu, akan kutunggu kalian disana,&#8221; kata Hong Sam.</p>
<p>Selesai berkata segera ia melayang ke sana, hanya beberapa kali naik turun saja bayangannya lantas menghilang di balik lereng sana.</p>
<p>&#8212;&#8212;oo0&#8212;&#8211;o-</p>
<p>Sehari berlalu dengan cepat, selama sehari ini, dirasakan jauh lebih panjang daripada biasanya oleh kedua saudara Tangkwik itu. Begitu panjang sehingga rasanya seperti setahun lamanya.</p>
<p>Syukurlah sehari itu tidak terjadi ganguan apa pun, hal ini membuktikan bahwa sebelum lewat batas waktu yang diberikan, Ki Pi-ceng tidak lagi merencanakan penyergapan dan sebagainya.</p>
<p>Tangkwik-siansing berduduk di tepi sumber air sana, sambil menikmati pemandangan alam menjelang senja itu, mereka pun mengobrol ke barat dan ke timur.</p>
<p>Kalau menuruti apa yang terlihat pagi tadi, latihan Bu-siang-sin-kang paling lambat besok pagi pasti dapat diselesaikan oleh Pwe-giok, bahkan ada kemungkinan akan lebih cepat daripada perkiraan itu.</p>
<p>Oleh karena itu, kedua kakek tidak berani meninggalkan tempat ini untuk menjaga segala kemungkinan atau kejadian yang tak terduga.</p>
<p>Mendadak terdengar suara &#8220;bar .. ber, bar â€&#8221; ber&#8221; suara gemuruh yang aneh.</p>
<p>Tentu saja kedua kakek ini terkejut, mereka coba mendengarkan dengan lebih cermat, suara gemuruh air terjun.</p>
<p>Tentu saja kedua Tangkwik bersaudara terkejut dan heran, mereka memandang ke arah datangnya suara.</p>
<p>Busyet! Sungguh luar biasa!</p>
<p>Air terjun yang dituangkan dari ketinggian ribuan tombak itu kini terputus di bagian tengah, bagian yang bawah bahkan terus muncrat balik ke atas sehingga berbentuk tiang air yang menjulang tinggi ke langit.</p>
<p>Sungguh pemandangan yang ajaib, pemandangan yang indah dan megah!</p>
<p>Saking kegirangan Tangkwik-siansing sampai berjingkrak, teriaknya, &#8220;Aha! Sungguh luar biasa. Sungguh hebat! Inilah hasil permainan anak itu!&#8221;</p>
<p>Segera Tangkwik Ko juga paham duduknya perkara, iapun tertawa gembira.</p>
<p>Kiranya apa yang terjadi itu adalah pertanda Bu-siang-sin-kang yang diyakinkan Ji Pwe-giok sudah selesai, air terjun yang mucrat balik ke atas itu adalah akibat tolakan tenaga dalam Pwe-giok, dimana air terjun itu dijadikannya sebagai sasaran percobaan ilmu saktinya.</p>
<p>Air terjun itu mengguyur dari ketinggian ribuan tombak, sahsyatnya dapat dibayang kan. Tapi tenaga pukulan Pwe-giok ternyata mampu menolak guyuran air terjun itu hingga muncrat balik ke atas, maka kekuatannya sungguh sangat mengejutkan.</p>
<p>Mendadak terdengar suara siulan nyaring terseling di tengah gemuruh air terjun, begitu nyaring suara itu laksana guntur menggelegar. Menyusul sesosok bayangan putih mengapung ke udara.</p>
<p>Sungguh indah sekali gaya melayang itu, cepatnya juga luar biasa.</p>
<p>Pada ketinggian tertentu, bayangan itu lantas berjumpalitan terus menukik ke bawah laksana orang mendadak terjerumus ke dalam jurang, seperti batu meteor jatuh, tahu-tahu bayangan orang itu hinggap di depan kedua kakaek.</p>
<p>Siapa lagi dia kalau bukan Ji Pwe-giok!</p>
<p>Dengan enteng ia turun di permukaan tanah, tenang dan ringan, seperti gerakan mengapung tadi, sedikitpun tidak memakan tenaga.</p>
<p>Tidak kepalang senang Tangkwik-siansing, ia tertawa lebar sehingga hampir saja mulutnya tidak dapat terkatup kembali. Jenggotnya yang panjang itu ikut tergoyang-goyang dan berucap, &#8220;Terima kasih atas bantuan Cianpwe yang tak ternilai ini.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing menariknya bangun, lenyap tertawanya, sebaliknya berkata dengan kereng. &#8220;Eh, sejak kapan kau belajar menyembah begini?&#8221;</p>
<p>Dengan tulus Pwe-giok berkata, &#8220;Cianpwe telah mengajarkan Bu-siang-sin-kang padaku, sepantasnya Wanpwe memberi sembah hormat ini&#8221;</p>
<p>Dengan muka kecut Tangkwik-siansing berkata pula, &#8220;Eh, tidak perlu kau bicara tentang terima kasih segala padaku, kuajarkan Bu-siang-sin-kang padamu karena kau pegang Po-in-pay, jadi Bu-siang-sin-kang kutukarkan dengan Po-in-pay, selanjutnya lunas, kedua belah pihak tidak ada yang utang, hakikatnya tidak perlu kau terima kasih padaku&#8221;</p>
<p>&#8220;Meskipun demikian, namun&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Namun apa? Sudahlah, tidak perlu banyak cingcong, kau asyik belajar ilmu sakti selama empat hari, apakah kau tahu selama empat hari ini telah terjadi peristiwa yang mengejutkan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok garuk-garuk kepala, jawabnya, &#8220;Ya, wanpwe memang tidak tahu&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, jika kukatakan, tentu akan kau sangka aku sengaja menonjolkan jasaku, biarlah kau tanyakan kepada saudaraku saja&#8221; kata Tangkwik-siansing.</p>
<p>Tanpa menunggu perintah lagi atau diminta oleh Pwe-giok, segera Tangkwik Ko menguraikan apa yang terjadi selama beberapa hari ini.</p>
<p>Tentu saja Pwe-giok merasa sangat berterimakasih, selain itu dia sangat menguatirkan keselamatan Lui-ji yang berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng dan dijadikan sandera itu. Apalagi anak dara itu diawasi oleh Leng-kui, sungguh sukar dibayangkan keadaannya sekarang.</p>
<p>&#8220;Biar sekarang juga kupergi membikin perhitungan dengan Ki Pi-ceng&#8221; teriak Pwe-giok dengan tak sabar.</p>
<p>&#8220;Untuk apa tergesa-gesa?&#8221; ujar Tangkwik-siansing. &#8220;Berangkat saja besok dan tepat menurut waktu yang dijanjikan Ki Pi-ceng. Sekarang Bu-kang-siang-sin-kang baru saja selesai kau latih, kukira paling tidak kau perlu istirahat satu hari&#8221;</p>
<p>Pwe-giok berkerut kening dan merasa serba susah, ucapnya, &#8220;Akan tetapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang pasti, sebelum lewat batas waktu yang diberikan Ki Pi-ceng, Lui-ji pasti takkan mengalami gangguan apapun&#8221; sela Tangkwik Ko. &#8220;Ucapan toako memang betul, setelah digembleng lahir batin selama beberapa hari, kau perlu istirahat dulu&#8221;</p>
<p>Meski dalam hati seperti dibakar dan tidak sabar lagi, terpaksa Pwe-giok harus menurut nasihat kedua kakek itu.</p>
<p>&#8220;Meong&#8221;, mendadak sesosok bayangan hitam melayang ke pangkuan Tangkwik Ko.</p>
<p>Kiranya si kucing hitam yang memancing Lui-ji ke arah air terjun itu.</p>
<p>Pelahan Tangkwik Ko membelai bulu kucing yang hitam mulus itu. Ucapnya dengan tersenyum &#8220;Kucingku sayang, kemana kau sembunyi semalam?&#8221;</p>
<p>&#8220;Meong, meong!&#8221; kucing itu bersuara pula beberapa kali sambil memandang sang majikan dengan matanya yang kecil gilap, seperti anak yang manja dan mendekap dalam pangkuan sang ibu.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Awan mendung memenuhi angkasa, malam kelam, angin kencang. Lereng gunung yang memang sunyi itu bertambah suram oleh gumpalan awan tebal yang menyelimuti seluruh lereng gunung, di tengah kesuraman tersebar pula semacam suasana yang seram.</p>
<p>Angin menderu-deru dengan keras menambah ngerinya suasana yang mencekam.</p>
<p>Di pinggang gunung sana ada sepotong batu besar yang rata permukaannya, di bawah batu itu adalah sebuah liang di bawah tanah, mulut liang itu tertutup rapat oleh batu besar itu sehingga tidak kelihatan apapun dari luar.</p>
<p>Di dalam gua bawah tanah itu menyala lampu minyak yang hijau suram.</p>
<p>Sungguh aneh sekali, mungkin di dunia ini hanya lampu minyak ini saja yang mengeluarkan sinarnya yang kehijau-hijauan.</p>
<p>Pada ujung dinding gua sana ada sebuah dipan batu, di bawah cahaya lampu yang suram itu kelihatan seorang anak dara terlentang di situ.</p>
<p>Siapa lagi dia kalau bukan Cu Lui-ji.</p>
<p>Sejak kemarin malam Lui-ji sudah dikurung di dalam gua ini.</p>
<p>Hanya satu hari yang singkat saja, keadaan Lui-ji sudah banyak lebih kurus, pukulan batin yang dirasakannya paling berat ialah dia merasa dirinya terjatuh dalam cengkeraman Leng-kui, makhluk aneh yang tak dapat dibinasakan itu.</p>
<p>Bila Lui-ji terkenang kepada wajah yang senantiasa mengulum senyum kaku itu, segera pula anak dara itu akan merinding, berdiri bulu romanya.</p>
<p>Mendingan, sejak Leng-kui mengurungnya di dalam gua ini, lalu Leng-kui sendiri tinggal pergi. Hal ini jauh mengurangi rasa seram yang mencekam hati Lui-ji.</p>
<p>Pernah juga anak dara itu memikirkan agar melarikan diri dari gua ini, tapi sampai sekarang belum lagi ditemukan peluang itu, maklumlah, tipis sekali kemungkinan itu. Oleh karenanya, tiba-tiba timbul keinginannya untuk mati.</p>
<p>Manusia yang menghadapi keputus-asaan dan tidak tahan menghadapi pukulan batin yang dahsyat, seringkali mencari pelepasan melalui jalan ini.</p>
<p>Lebih-lebih keadaan Cu Lui-ji sekarang, selagi pikirannya merasa kusut dengan penyesalan yang tak terperikan, sebab ia merasa tindak-tanduk sendiri terlalu gegabah, kurang hati-hati, sepanjang jalan di ikuti Ki Pi-ceng ternyata tidak tahu sama sekali, ini sama artinya dia yang memberi petunjuk jalan bagi musuh untuk membikin celaka Ji Pwe-giok.</p>
<p>Lantas bagaimanakah keadaan Ji pwe-giok sekarang?</p>
<p>Inilah tanda tanya besar yang ingin diketahuinya, dia menduga keadaan Pwe-giok besar kemungkinan lebih banyak celaka daripada selamatnya.</p>
<p>Maklumlah, lawannya adalah tokoh-tokoh besar seperti Ki Pi-ceng, Ki Go-ceng, Ji Tok-ho dan sebagainya, semuanya maha sakti dan sukar diukur kepandaiannya, apalagi ditambah tokoh Bu-lim kosen yang lain seperti Thian-sip-sing dan sebagainya.</p>
<p>Bila terpikir semua ini, Lui-ji lantas merasa sedih, hati serasa disayat-sayat, ia menyesal dan merasa berdosa, sebab ia tidak sempat membantu apapun bagi Pwe-giok, sebaliknya malah mendatangkan petaka baginya.</p>
<p>Lui-ji sangat menyesal karena kecerobohannya, sehingga akibatnya terjadi keadaan yang celaka ini.</p>
<p>Akan tetapi apa gunanya kalau cuma menyesal saja?</p>
<p>Banyak persoalan di dunia ini mestinya dapat dicegah atau dihindarkan sebelum terjadi. Kalau menyesal setelah terjadi, jelas takkan menyelesaikan persoalan apapun dan juga takkan menarik kembali apa yang sudah kadung terjadi.</p>
<p>&#8220;Mati! Kau harus segera mati! Sekalipun nanti Ji Pwe-giok ternyata selamat tanpa kurang sesuatu apapun rasanya kaupun malu untuk bertemu lagi dengan dia.&#8221;</p>
<p>Beginilah Lui-ji terus berpikir dan menyesali dirinya sendiri, bahkan keberanian untuk hidup lebih lama lagipun tidak sanggup.</p>
<p>Makin dipikir makin sedih, makin sakit hatinya.</p>
<p>Ia berbaring sendirian di dipan batu ini dan mulai menangis, dan tentu saja, melulu menangis pun takkan memecahkan persoalan.</p>
<p>Selang sejenak, mendadak ia berhenti menangis dan melompat bangun.</p>
<p>Sinar matanya tampak buram, mukanya kurus pucat, dia seperti habis jatuh sakit keras.</p>
<p>Akhirnya dia mengambil keputusan, ia bertekad akan mati.</p>
<p>Mendadak ia menundukkan kepala dan menyeruduk dinding gua sekuatnya.</p>
<p>Dinding gua itu tidak mengalami perataan oleh tenaga manusia sehingga menonjol dan mendekuk tidak rata, yang menonjol jelas sangat tajam mirip gigi binatang.</p>
<p>Jika diseruduk secara keras seperti Lui-ji sekarang, jelas kepalanya pasti akan pecah dan jiwa melayang.</p>
<p>Di luar dugaan, terjadilah keajaiban!</p>
<p>&#8220;Bluk!&#8221;</p>
<p>Dengan tepat kepala Lui-ji menumbuk dinding, tapi bukan dinding batu melainkan dinding sesuatu yang terasa halus dingin, juga tidak terlalu keras, rasanya seperti menumbuk lapisan es yang tipis.</p>
<p>Tentu saja Lui-ji terkejut, pelahan ia angkat kepalanya.</p>
<p>Sialan!</p>
<p>Kembali ia melihat lagi seraut wajah kaku pucat dan senyuman abadi itu. Nyata tadi serudukannya ini tepat menyeruduk pada perut Leng-kui.</p>
<p>Leng-kui masih tetap dengan dandanannya yang khas itu, baju hitam ketat, ikat pinggang merah darah, golok melengkung terselip pada ikat pinggangnya, sekujur badan seolah-olah memancarkan semacam hawa seram, di bawah cahaya lampu yang hijau redup tampaknya menjadi lebih mengerikan.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Bagaimanakah nasib Cu Lui-ji di bawah cengkeraman Leng-kui? Dapatkah dia lolos atau jadi membunuh diri?</p>
<p>Cara bagaimana Ji Pwe-giok akan menghadapi rombongan Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho dengan ilmu sakti Bu-siang-sin-kang?</p>
<p>Apa pula yang terjadi pada akhir cerita ini?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1627/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1627&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/15/imbauan-pendekar-15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 14</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/14/imbauan-pendekar-14/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/14/imbauan-pendekar-14/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 01:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1626</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Kunamisme, Bpranoto, Sukantas009, Bsarwono dan Axd002) Thian-sip-sing berkedip-kedip, dia tidak berkata apa-apa melainkan cuma memberi isyarat dengan tangan. Melihat isyarat tangan itu, seketika berubah air muka Pwe-giok, serunya, &#8220;He, apakah&#8230; apakah isyarat tangan yang diberikan kepada Cianpwe oleh Ji-bengcu tempo hari itu juga isyarat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1626&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Kunamisme, Bpranoto, Sukantas009, Bsarwono dan Axd002)</p>
<p>Thian-sip-sing berkedip-kedip, dia tidak berkata apa-apa melainkan cuma memberi isyarat dengan tangan.</p>
<p>Melihat isyarat tangan itu, seketika berubah air muka Pwe-giok, serunya, &#8220;He, apakah&#8230; apakah isyarat tangan yang diberikan kepada Cianpwe oleh Ji-bengcu tempo hari itu juga isyarat ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, kaupun tahu kejadian itu?&#8230; Aneh, sungguh aneh?!&#8221; kata Thian-sip-sing dengan tercengang.<br />
<span id="more-1626"></span><br />
&#8220;Setahuku, isyarat tangan ini kan dimaksudkan sebagai Tangkwik-siansing?&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Tangkwik-siansing? Siapa bilang isyarat tangan ini menandakan Tangkwik-siansing? Hah, masakah Tangkwik-siansing telah berubah menjadi wanita maha cantik?&#8221; ujar Thian-sip-sing.</p>
<p>Pwe-giok melonjak kaget, serunya, &#8220;He, kalau bukan Tangkwik-siansing, habis siapa yang dimaksudkan dengan isyarat tangan ini?&#8221;</p>
<p>Sorot mata Thian-sip-sing menampilkan rasa kejut dan takut, katanya dengan suara parau, &#8220;Jika kau tidak tahu, darimana pula ku tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>Baru omong sampai di sini, mendadak ucapannya terputus, sebab entah kapan dan darimana datangnya, tahu-tahu mulutnya telah dijejal dengan sebuah jeruk, dengan tepat mulutnya tersumbat.</p>
<p>Padahal orang yang hadir di sini tidaklah sedikit, kalau Thian-sip-sing sendiri tidak tahu darimana datangnya jeruk itu, apalagi orang lain.</p>
<p>Menyusul lantas terdengar seorang berkata dengan menyesal, &#8220;Ai, jaman ini memang serba susah, ingin mencari suatu tempat untuk tidur senyenyaknya saja tidak gampang.&#8221;</p>
<p>Suaranya ternyata berkumandang dari langit-langit rumah.</p>
<p>Serentak semua orang sama mendongak ke atas, maka tertampaklah di belandar tengah entah sejak kapan bergelantungan sebuah karung besar, suara orang itu timbul dari dalam karung besar itu.</p>
<p>Sungguh aneh, masakah di dalam karung itu ada orangnya? Kalau di dalam karung terisi orang mengapa pula karung itu bisa tergantung di atas belandar? Tanpa sebab mengapa orang itu mengurung dirinya di dalam karung?</p>
<p>Selagi Pwe-giok merasa heran, mendadak orang banyak sama berteriak kaget, &#8220;Hah! Tay-te-kian-kun-it-te-ceng (bumi dan langit masuk satu karung)&#8230; Itulah dia Poh-te Siansing (Tuan karung)!&#8221;</p>
<p>Di tengah jerit kaget dan takut itu, berpuluh orang yang hadir di situ lantas berlari sipat kuping, semuanya kabur pontang-panting, hanya sekejap saja sudah bersih, seorang pun tak ketinggalan, kecuali Ji Pwe-giok.</p>
<p>Malahan Thian-sip-sing tidak sempat mengeluarkan dulu jeruk yang menyumbat mulutnya itu, hanya kotak berisi patung itu yang ditinggalkan, sebab ia tahu untuk lari akan lebih leluasa bertangan kosong daripada membawa barang.</p>
<p>Seorang kalau kepergok Poh-te Siansing, tentu saja lebih baik lari secepatnya.</p>
<p>Suasana di ruangan besar itu menjadi sunyi, hanya Ji Pwe-giok saja yang masih berada di situ.</p>
<p>Setelah terjadi serentetan hal-hal yang aneh dan misterius itu, lalu seorang berdiri di tengah ruangan sebesar itu dalam keadaan sunyi senyap, di atas kepala malahan bergelantung sebuah karung besar yang tampak bergontai kian kemari, keadaan ini sungguh membuat orang merasa ngeri.</p>
<p>Hampir saja Pwe-giok juga ingin angkat kaki saja.</p>
<p>Tapi pada saat itulah dari dalam karung lantas timbul pula suara orang, &#8220;He, anak muda, jika kau tidak pergi, mengapa tidak lekas kau turunkan aku si orang tua?&#8221;</p>
<p>Seketika Pwe-giok hanya melenggong, sebab iapun tidak tahu apa yang harus dilakukannya?</p>
<p>Segera orang di dalam karung berseru pula, &#8220;He, cepatlah sedikit, memangnya kau lebih suka menyaksikan orang tua mati sesak napas terkurung di dalam karung ini?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, &#8220;Jika kau dapat masuk sendiri ke situ, mengapa kau tidak dapat keluar sendiri pula?&#8221;</p>
<p>Orang tua di dalam karung itu tidak bicara lagi, tapi terus mengeluh seperti orang yang benar-benar hendak mati sesak napas. Sampai akhirnya suara keluhan pun tidak terdengar lagi.</p>
<p>Setelah menunggu lagi sekian lamanya, akhirnya Pwe-giok tidak tahan, segera ia meloncat ke atas.</p>
<p>Siapa tahu baru saja tubuhnya mengapung, mendadak &#8220;bluk&#8221;, karung besar itu terus jatuh ke bawah.</p>
<p>Cepat Pwe-giok melayang turun pula dan membuka karung itu, tapi&#8230; mana ada orangnya? Yang terdapat di dalam karung hanya beberapa jilid buku saja.</p>
<p>Pwe-giok jadi melongo, hampir saja ia tidak percaya kepada matanya sendiri.</p>
<p>Padahal jelas-jelas suara orang tua itu tadi timbul dari dalam karung, mengapa di dalam karung ini tidak terdapat orang?</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba terdengar orang tertawa di atas belandar. Keruan Pwe-giok terkejut. Cepat ia menengadah, maka tertampaklah dua kaki dan segumpal jenggot panjang bergontai kian kemari di atas.</p>
<p>Kedua kaki itu sangat kecil, sebaliknya jenggot itu sangat panjang dan subur. Cahaya lampu tak dapat mencapai langit-langit rumah, maka sukar terlihat bagaimana bentuk orangnya kecuali kedua kaki dan jenggotnya yang panjang itu.</p>
<p>Pwe-giok menarik napas panjang. Kalau orang lain mungkin akan lari terbirit-birit ketakutan karena menyangka telah ketemu hantu atau siluman. Tapi Pwe-giok tahu orang tua ini pasti menerobos keluar dari karungnya pada saat dia melayang ke atas tadi, lalu pada waktu karung itu jatuh ke bawah dan selagi perhatian Pwe-giok tertarik kepada karung yang jatuh itu, segera orang tua itu melayang lagi ke atas belandar. Sudah barang tentu semua ini dilakukan dengan sangat cepat.</p>
<p>Apa yang terjadi ini kalau sudah dijelaskan tentu tidak perlu dibuat heran, hanya saja kalau Ginkang orang tua itu tidak maha tinggi, mana bisa mata-telinga Pwe-giok dikelabui?</p>
<p>Begitulah Pwe-giok tetap menahan perasaannya, ia tertawa, ucapnya dengan hambar, &#8220;Sungguh tak tersangka Lo-siansing masih suka main kucing-kucingan seperti anak kecil. Tapi Cayhe tidak berminat main sembunyi-sembunyi denganmu, maaf, aku mau pergi saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, kau mau pergi? Apakah kau tidak ingin melihat barang ini?&#8221; tiba-tiba si kakek berseru.</p>
<p>Belum lagi Pwe-giok bersuara pula, mendadak sesuatu barang jatuh dari atas belandar. Ia tidak berani menangkapnya dengan tangan, sedikit mengegos, dengan lengan bajunya ia tadah barang itu.</p>
<p>Di bawah cahaya lampu terlihat benda ini kemilauan, nyata barang ini pun sebuah patung ukir batu kemala, patung wanita cantik. Waktu ia pandang ke sana, kotak besi dan patung yang ditinggalkan Thian-sip-sing di atas meja tadi seluruhnya sudah hilang.</p>
<p>Nyata, pada saat Pwe-giok sibuk membuka karung tadi, sekejap itu telah digunakan oleh si kakek untuk melayang turun dan mengambil kotak besi dan patung di atas meja, semua itu hanya dilakukan dalam sekejap saja, maka dapat dibayangkan betapa hebat ginkangnya.</p>
<p>Betapapun tabahnya Pwe-giok, sekarang ia merasa ngeri juga.</p>
<p>Didengarnya si kakek lagi berkata dengan tertawa, &#8220;Eh, anak muda. si cantik dalam pelukanmu, kenapa tidak kau pandang dengan cermat? Kan sayang jika kesempatan baik ini kau sia-siakan?&#8221;</p>
<p>Kalau patung batu pada umumnya hanya kelihatan warna aslinya, tapi pakaian pada patung kemala ini ialah selapis warna hitam dari bahan poles yang aneh, sebab itulah meski warna bajunya hitam, tapi lamat-lamat kelihatan badan patung si cantik yang putih bersih.</p>
<p>Kecantikan wajah patung kemala inipun bak bidadari dari kahyangan, hanya di antara mata alisnya membawa semacam sifat dingin yang sukar di jelaskan sehingga membuat orang segan mendekatinya.</p>
<p>&#8220;Apakah kau kenal dia?&#8221; terdengar si kakek bertanya.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Kakek itu menghela nafas, ucapnya, &#8220;Ya, kau lahir terlalu lambat, makanya tidak kenal dia. Tapi pada 30-40 tahun yang lalu, apa bila orang Kangouw menyebut Bak-giok Hujin, sedikitnya berlaksa lelaki akan sukarela mati baginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kurasa wanita ini sangat sulit didekati,&#8221; kata Pwe-giok dengan tak acuh.</p>
<p>&#8220;Ya, justeru lantaran sikapnya terhadap orang lain selalu dingin seperti es, maka orang lain pun semakin tertarik dan ingin berdekatan dengan dia&#8221;, tutur si kakek dengan tertawa. &#8220;sembilan diantara sepuluh orang lelaki umumnya berwatak rendah masakah kau tidak paham akan hal ini?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Biarpun wanita ini maha cantik, akhirnya juga masuk liang kubur dan menjadi tanah kembali. Apa sangkut-pautnya wanita cantik 40 tahun yang lalu dengan diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau tidak ada sangkut-pautnya tentu tidak ku suruh kau pandang dia,&#8221; ujar si kakek.</p>
<p>&#8220;Oo?&#8221; Pwe giok bersuara heran.</p>
<p>&#8220;Yang di maksudkan oleh isyarat tangan Thian sip-sing tadi ialah si dia ini,&#8221; kata kakek.</p>
<p>Jantung Pwe-giok berdetak, sedapatnya ia menahan perasaan dan menjawab, &#8220;Tapi aku memang tidak kenal dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba ingat-ingat lagi, apakah kau benar-benar tidak kenal dia?&#8221; ujar si kakek. &#8220;Setahuku sedikitnya kau pernah bertemu satu kali dengan dia.&#8221;</p>
<p>Kembali jantung Pwe-giok berdebar keras, tiba-tiba teringat olehnya guru Hay Tong-jing dan Yang cu-kang, wanita bercadar sutera hitam yang maha cantik dan anggun itu.</p>
<p>Serentak juga teringat olehnya sepotong bambu kecil itu, pada bambu kecil itu terukir sebuah karung atau kantung.</p>
<p>Sampai di sini, Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia tanya, &#8220;Jangan-jangan engkau inilah Tangkwik-siansing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tangkwik-siansing&#8221;, nama ini seakan-akan mempunyai semacam kekuatan gaib, setelah menyebut nama ini, Pwe-giok sendiripun terkejut.</p>
<p>Sungguh sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dirinya bisa mendadak bertemu dengan Tangkwik-siansing.</p>
<p>Kakek itu tertawa, ucapnya. &#8220;Padahal kita sebenarnya juga sahabat lama, seharusnya kau kenal padaku.&#8221;</p>
<p>Di tengah gelak tertawanya, dengan enteng ia melayang ke bawah.</p>
<p>Begitu ringan seolah-olah segumpal kapas, seperti sehelai daun jatuh, jenggotnya yang panjang bertebaran seperti titik-titik air hujan mencurah dari langit.</p>
<p>Perawakan pendek kecil dan kurus sehingga seluruh tubuh seakan-akan terbungkus oleh jenggotnya yang lebat dan panjang itu.</p>
<p>&#8220;He, kiranya kau!&#8221; seru Pwe-giok dengan melenggong.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Pwe-giok memang betul pernah bertemu dengan kakek ini, bahkan tidak cuma satu kali saja melainkan dua kali.</p>
<p>Pertama bertemu pada waktu dia tertimpa musibah, ayahnya terbunuh dan rumah hancur, untung dia dapat menyelamatkan diri, namun dia menjadi putus asa dan tiada keberanian untuk hidup lagi. Pada saat demikian itulah dia bertemu dengan si kakek.</p>
<p>Waktu itu dipergokinya si kakek hendak menggantung diri.</p>
<p>Pwe-giok telah menyelamatkan jiwa orang lain tiba-tiba timbul juga semangatnya untuk mencari hidup.</p>
<p>Pertemuan yang kedua adalah pada waktu dia kehilangan kepercayaan atas ilmu silatnya sendiri, dalam keadaan pikiran kusut itulah dia bertemu pula dengan si kakek.</p>
<p>Tatkala mana si kakek sedang melukis, yang hendak dilukisnya adalah gunung, tapi yang muncul pada kanvasnya ternyata bukan gunung.</p>
<p>Dia masih ingat ucapan si kakek itu, &#8220;Jelas-jelas gunung yang kulukis, tapi lukisanku justeru tidak mirip gunung, jelas tidak mirip gunung, tapi setelah kau pandang dengan cermat ternyata memang gunung yang kulukis. Hal ini karena apa yang kulukis ini meski belum tampak berbentuk gunung, tapi intinya, jiwa daripada obyek yang kulukis sudah kutonjolkan dengan jelas. Mungkin orang lain tidak paham melihat lukisanku ini, tapi perduli amat, asalkan yang kulukis adalah gunung, asalkan dalam pandanganku dan perasaanku lukisanku ini adalah gunung, kan cukup dan terlaksanalah tujuanku? Jika aku sendiri dapat menangkap intisari dari lukisan ini dan orang lain justeru tidak paham, hal ini kan terlebih baik?&#8221;</p>
<p>Begitulah, justeru ucapan si kakek yang berfalsafah itulah sehingga ilmu silat Pwe-giok dapat melangkah lebih tinggi lagi (tentang pertemuan Pwe-giok dan Tangkwik siansing hendaklah baca &#8220;Renjana pendekar&#8221;.)</p>
<p>Maklumlah, kungfu aliran Bu-kek-bun keluarga Ji justeru cocok dengan uraian si kakek itu bermakna tapi tak berbentuk, terlepas dari bentuk yang terbatas dan masuk ke alam yang tak berkutub, (Bu-kek artinya tak berkutub).</p>
<p>Sejak itulah kungfu Bu-kek-bun benar-benar dikuasai Pwe-giok dengan baik, meski belum mencapai tingkatan yang sempurna, tapi sudah dekatlah dengan tingkatan tersebut.</p>
<p>Makin dipikir makin terasa oleh Pwe-giok bahwa si kakek ini sama sekali tiada bermaksud jahat padanya, bahkan si kakek selalu muncul pada saat dia menghadapi bahaya sehingga dia terlepas dari kesukaran.</p>
<p>Jika si kakek dikatakan sebagai iblis yang diam-diam hendak membikin celaka padanya seperti apa yang diceritakan &#8220;Bak-giok Hujin&#8221;, sungguh sukar untuk dipercaya, tapi apa yang dikatakan Bak-giok Hujin itu rasanya juga sulit untuk tidak dipercaya.</p>
<p>Waktu ia angkat kepalanya, dilihatnya si kakek alias Tangkwik-siansing sedang memandangnya dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Sekarang sudah kau kenal diriku bukan?&#8221; tanya si kakek.</p>
<p>Dengan hormat Pwe-giok menjawab, &#8220;Ya, berulang-ulang Tecu menerima petunjuk dan petuah Cianpwe, sungguh Tecu sangat berterima kasih.&#8221;</p>
<p>Dengan jarinya Tangkwik-siansing menjentik patung Bak-giok Hujin dan berkata, &#8220;Dengan sendirinya kaupun pernah melihatnya bukan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok membenarkan.</p>
<p>&#8220;Aneh juga bahwa dia ternyata tidak membunuh kau.&#8221; gumam Tangkwik-siansing.</p>
<p>&#8220;Kenapa dia perlu membunuh diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab, bisa jadi kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membongkar rahasia pribadinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rahasia pribadi bagaimana?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Apakah kau tahu siapa namanya?&#8221; tiba-tiba Tangkwik siansing balas bertanya.</p>
<p>Tanpa menunggu jawaban Pwe-giok segera ia menyambung. &#8220;Ya, dengan sendirinya kau tidak tahu siapa namanya, sebab di dunia ini hakekatnya cuma beberapa orang saja yang tahu namanya, Namanya sendiri juga merupakan rahasia besar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masakah namanya saja mengandung rahasia besar?&#8221; Pwe-giok menegas dengan heran.</p>
<p>&#8220;Ya, sebab namanya Ki Pi-ceng!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ki Pi-ceng? Masakah dia ada sesuatu hubungan dengan Ki Go-Ceng?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja ada hubungannya, bahkan sangat erat hubungan antara mereka,&#8221; tutur Tangkwik siansing. &#8220;Sebab dia bukan saja saudara Ki Go-ceng adik perempuannya, bahkan juga isterinya.&#8221;</p>
<p>Seketika Pwe-giok melenggong dan tidak sanggup bersuara.</p>
<p>Tangkwik siansing menghela nafas, katanya &#8220;Kualat&#8230; memang begitulah mereka kena itulah,&#8221; ia tersenyum getir, lalu menyambung, &#8220;sebab keluarga Ki mempunyai pikiran yang gila, yaitu selalu menganggap di dunia ini hanya keturunan keluarga Ki saja yang maha pintar, maha cerdik, superior yang teratas, yang paling unggul, orang dari keluarga lain tak dapat menimpali mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi demikian, jadi&#8230;jadi telah berlangsung perkawinan antar anggota keluarga mereka sendiri?&#8221; tanya Pwe-giok dengan melengak.</p>
<p>&#8220;Betul&#8221; jawab Tangkwik-siansing, &#8220;justeru lantaran jalan pikiran mereka yang gila itu, karena menganggap hanya anggota keluarga mereka sendiri saja bibit unggul, maka turun temurun terjadi perkawinan antara kakak dan adik sendiri dan putera-puterinya yang dilahirkan kalau tidak gila tentulah linglung, seperti Ki Pi-ceng, meski lahiriah kelihatan secantik bidadari, padahal dia juga tidak terkecuali juga seorang gila.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok memandang sekejap patung cantik itu, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin.</p>
<p>&#8220;Tapi dia adalah seorang gila yang angkuh,&#8221; sambung Tangkwik siansing. &#8220;Ketika mengetahui Ki Cong-hoa yang dilahirkan itu ternyata abnormal, berbentuk kerdil dan berotak miring, ia sangat kecewa, tanpa pikir ia tinggalkan rumah dan putus cinta dengan Ki Go-ceng, makanya sampai dengan tingkatan Ki Cong-hoa hanya terdapat dia saja putera satu-satunya dan terpaksa pula kawin dengan perempuan dari keluarga luar. Walaupun demikian, sejak awal hingga akhir Ki Cong-hoa tetap tidak mau meniduri isterinya.&#8221; </p>
<p>Baru sekarang Pwe-giok tahu duduknya perkara mengapa Ki Leng-hong sejauh itu tidak mau mengakui Ki Cong hoa sebagai ayahnya, baru diketahuinya pula betapa penderitaan Ki-Hujin, isteri Ki Cong hoa.</p>
<p>Tapi kalau Ki Cong-hoa bukan ayah Ki Leng hong, lantas siapa ayahnya?</p>
<p>Mungkinkah &#8220;orang she Ji&#8221; yang bersembunyi di lorong bawah tanah itu?</p>
<p>Jangan-jangan &#8220;orang she Ji&#8221; itu ialah&#8230;</p>
<p>Makin dipikir makin ngeri Pwe-giok, sungguh ia tidak berani berpikir lagi.</p>
<p>Cuma ada beberapa hal di antaranya yang mau tak mau harus dipikirnya.</p>
<p>Antara lain tentang Bak-giok Hujin, apabila benar wanita cantik ini adalah istri Ki Go-ceng kenapa dia membunuh Ki Go-ceng? Kejadian ini disaksikannya dengan mata kepala sendiri, tidak bisa tidak dia harus percaya apa yang terjadi itu.</p>
<p>Didengarnya Tangkwik-siansing berkata pula, &#8220;Sejak itu Ki Go-ceng berubah semakin gila. Waktu itu di dunia Kangouw mendadak terjadi beberapa peristiwa kejahatan yang menggemparkan dan tidak diketahui pula siapa pelakunya. Ada harta benda partai besar yang dirampok secara misterius. Beberapa tokoh ternama secara misterius pula terbunuh. Pelakunya diketahui sangat tinggi kungfunya, setiap peristiwa dilakukan dengan cermat tanpa meninggalkan jejak apapun. Siapapun tidak menyangka bahwa penjahat itu bukan lain ialah Ki Go-ceng.</p>
<p>Ceritera ini sudah pernah didengar Pwe-giok dari si kakek Ko di lorong bawah tanah di Sat-jin-ceng dahulu, maka terbuktilah bahwa cerita Tangkwik-siansing ini bukan karangan belaka.</p>
<p>Terdengar Tangkwik-siansing menyambung lagi, &#8220;Waktu itu meski dunia persilatan telah dibikin heboh dan mengerahkan berpuluh-puluh tokoh terkemuka untuk mencari si penjahat, tapi tetap tidak dapat menemukan jejaknya, hanya seorang saja yang mengetahui bahwa pelakunya ialah Ki Go-ceng, tapi sayang, pikirannya ternyata tidak dipercaya oleh orang lain&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apakah Cianpwe kenal orang ini?&#8221; tanya Pwe-giok tiba-tiba.</p>
<p>Tangkwik Sian-sing tertawa, jawabnya, &#8220;Dengan sendirinya kukenal dia, sebab dia adalah adikku Ban-li-hui-eng Tangkwik Ko&#8221;</p>
<p>Sejak mula Pwe-giok memang sudah membayangkan &#8220;Kakek Ko&#8221; yang misterius itu pasti mempunyai sejarah yang gemilang pada masa lampau, tapi tak pernah terpikir olehnya bahwa kakek Ko itu adalah saudara Tangkwik-siansing yang berjuluk Ban-li-hui-eng atau si Elang terbang berlaksa li.</p>
<p>Dengan tajam Tangkwik-siansing memandang Pwe-giok, tanyanya kemudian dengan tertawa, &#8220;Ku tahu, pasti kau kenal dia bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wanpwe menerima budi kebaikan yang amat besar dari Locianpwe itu, sungguh jiwa Tecu boleh dikatakan atas berkahnya sehingga dapat hidup sampai sekarang&#8221; tutur Pwe-giok dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Adikku itu bukan saja Ginkangnya sangat tinggi sesuai nama julukannya, juga pandang kejahatan sebagai musuhnya, ilmu pertabibannya juga sangat tinggi dan hampir tiada bandingannya di dunia ini. Sekalipun Hoa To (seorang tabib terkemuka di jaman Sam Kok) lahir lagi juga belum tentu dapat melebihi dia, terutama dalam hal ilmu bedah.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok jadi teringat kepada muka sendiri yang pernah dipermak oleh kekek Ko itu, tanpa terasa ia meraba pipi sendiri dan timbul rasa terima kasih dan hormatnya.</p>
<p>Tangkwik-siansing bercerita pula, karena diuber dan dicari terus oleh saudaraku itu, Ki Go-ceng kehabisan akal, terpaksa ia pura-pura mati dan meninggalkan Sat jin-ceng dan mengasingkan diri di pegunungan terpencil, dicarinya isterinya Bak-giok Hujin Ki Pi ceng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu itu Ki Pi ceng juga jauh berada di luar perbatasan?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Betul. Setelah suami-isteri ini berkumpul kembali di Kwan-gwa (di luar tembok besar yang merupakan perbatasan antar negara), namun ambisi mereka masih tetap besar, senantiasa mereka bersiap-siap untuk muncul kembali dan merajai dunia persilatan. Tapi mereka tetap jeri terhadap kami bersaudara, sebegitu jauh mereka tidak berani menampakkan diri di depan umum, terpaksa mereka harus menggunakan tipu muslihat, mereka memakai seorang yang ternama dan disegani di dunia persilatan sebagai boneka.&#8221;</p>
<p>Kulit muka Pwe-giok berkerut-kerut, ucapnya dengan parau, &#8220;Yang dimaksudkan Cianpwe tentunya orang&#8230; orang she Ji itu?!&#8221;</p>
<p>Sorot mata Tangkwik-siansing menampilkan perasaan kasihan dan simpatik, ucapnya dengan suara halus, &#8220;Hong-ho Lojin adalah ksatria pilihan yang jarang ada di dunia persilatan, mana dia mau membantu kejahatan mereka. Dengan sendirinya merekapun cukup tahu bagaimana pribadi Hong-ho Lojin, maka mereka harus menggunakan muslihat keji untuk melenyapkan Hong-ho Lojin dari pergaulan ramai ini, lalu dicarinya seorang yang menyamar sebagai Hong-ho Lojin, mereka bertekad akan memperalat nama baik Ji Hong-ho, dengan sendirinya tindakan mereka tidak kenal cara, yang penting tercapainya cita-cita mereka.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, hati Pwe-giok menjadi pedih, gemas dan juga terharu.</p>
<p>Yang membuatnya pedih dan gemas karena teringat kepada berantakannya keluarga serta kematian ayahnya.</p>
<p>Dia terharu karena untuk pertama kalinya sekarang ada orang membela kemalangannya ini, untuk pertama kalinya ada orang menyatakan simpati kepada nasib mereka ayah dan anak, untuk pertama kalinya ada orang mau bicara baginya.</p>
<p>Tangkwik-siansing menepuk pundak anak muda itu, katanya pula dengan suara lembut, &#8220;Jaring langit cukup ketat, setiap perbuatan berdosa tidak nanti lolos begitu saja. Meski sekarang kau kenyang merasakan kegetiran orang hidup, pada suatu hari kelak segala sesuatu pasti dapat dibikin jelas, pada waktu itulah bolehlah kau kembangkan kemahiranmu dan berbuat kebaikan bagi sesamanya.&#8221;</p>
<p>Hati Pwe-giok merasa terbakar oleh hawa panas, air mata hampir saja bercucuran, ia berlutut di depan kakek dan berkata, &#8220;Jangan-jangan Cianpwe sudah tahu asal-usul Tecu?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing membangunkan anak muda itu, katanya, &#8220;Ya, dengan sendirinya sudah ku ketahuinya sejak dulu. Masih ingatkah kau, pada hari pertama kau tertimpa musibah itulah kita bertemu tatkala mana sudah kuketahui kau mempunyai keberanian menanggung penderitaan dan menahan hinaan.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela napas panjang agar perasaan menjadi lapang dan tenang, lalu berkata dengan muram, &#8220;Hanya masih ada suatu hal yang sampai saat ini tetap tidak kuketahui.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal apa?&#8221; tanya si kakek.</p>
<p>Dengan gregetan Pwe-giok berkata, &#8220;Sesungguhnya siapakah bangsat yang menyaru sebagai ayahku itu? Mengapa dia juga mahir kungfu Bu-kek-bun? Bahkan dapat menirukan suara dan gerak-gerik ayahku dengan begitu persis?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing termenung sejenak, lalu menghela nafas panjang, katanya, &#8220;Naga melahirkan sembilan anak dan semua tidak ada yang sama, Hong-ho Lojin terkenal berbudi luhur dan berhati mulia, tapi saudaranya, Ji Tok-ho, justeru seorang terkutuk, binatang yang maha jahat dan tak terampunkan.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok jadi teringat kepada catatan di dalam buku harian tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, tanpa terasa tubuhnya menggigil, kaki dan tangan menjadi dingin juga, ucapnya dengan gemetar, &#8220;Apakah&#8230;apakah bangsat itu ialah&#8230; ialah pamanku sendiri?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing tidak segera menjawab, ia menghela nafas, lalu berkata, &#8220;Ada beberapa hal rasanya tidak enak kukatakan padamu secara terus terang, cuma harus kau maklumi, meski pamanmu itu dikabarkan minggat dari rumah karena terpaksa, padahal ayahmu tidak pernah bertindak sesuatu yang tidak baik padanya.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menunduk dengan berduka dan hanya mengangguk saja.</p>
<p>&#8220;Setelah Ji Tok-ho berpisah dengan ayahmu, seperti harimau lepas dari kurungan, dia berbuat sesukanya, segala kejahatan dilakukannya, tangannya berlumuran darah, juga mengikat musuh yang tidak sedikit. Cuma ilmu silatnya sangat tinggi, jejaknya sukar dicari, meski orang membencinya dan ingin mencincangnya kalau bisa, tapi sayang sukar menemukan jejaknya.&#8221;</p>
<p>Kakek itu berhenti sejenak, lalu menyambung pula dengan perlahan. &#8220;Sampai akhirnya tiba suatu hari yang naas baginya, yaitu pada hari Tahun baru, dia sedang makan dan minum di rumah pelacur terkenal langganannya, di kota Lok-yang, tanpa terasa dan juga tidak curiga ia minum hingga mabuk, ia tidak menduga bahwa perempuan langganannya yang sudah berlangsung sekian tahun itu telah membelot, telah diperalat pihak musuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahun baru?&#8230;&#8221; Pwe-giok bergumam, teringat olehnya apa yang didengarnya di lorong bawah tanah di Sat jin-ceng dahulu, yaitu &#8220;Waktu orang she Ji itu datang ke Sat jin-ceng adalah hari ketiga sesudah tahun baru&#8230;</p>
<p>Didengarnya Tangkwik siansing lagi menyambung ceritanya, &#8220;Tapi Ji Tok-ho memang seorang jagoan lihay yang jarang ada di dunia persilatan, meski dikerubuti belasan tokoh Bu-lim terkemuka dalam keadaan mabuk, dia tetap mampu membobol kepungan dan lari masuk ke Sat-jin-ceng&#8230;&#8221;</p>
<p>Dia menghela nafas, lalu menyambung, &#8220;Ia tahu dalam perkampungan pembunuh itu pasti ada yang akan melindunginya, apa lagi dia juga sudah biasa masuk keluar kampung itu, jelas orang lain tidak sanggup menemukan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kejadian itu bukan untuk pertama kalinya dia lari masuk ke Sat-jin-ceng?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu bukan,&#8221; jawab Tangkwik-siansing. &#8220;Sudah lama dia mempunyai hubungan gelap dengan isteri Ki Cong-hoa, kau tahu Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan kakak beradik itu justeru adalah anaknya dari hasil berhubungan gelap dengan Ki-hujin.&#8221;</p>
<p>Sekujur badan Pwe-giok terasa dingin.</p>
<p>Segera teringat olehnya lorong di bawah tanah yang ditemukannya di Sat-jin-ceng dahulu, disanalah dia menemukan sepotong batu Giok waktu itu ia merasa sangat heran, sebab batu jade atau kemala itu dikenalnya sebagai benda pusaka Bu-kek-bun, perguruan keluarga Ji sendiri, mengapa bisa muncul di Sat-jin-ceng?</p>
<p>Selain itu ditemukan sebuah dompet bersulam dan potret sulaman serta dua bait tulisan yang berbunyi, &#8220;Senantiasa mendampingi Anda, semoga jangan ditinggalkan&#8221;.</p>
<p>Cuma waktu itu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa kekasih Ki-hujin yang dimaksudkan ia adalah pamannya.</p>
<p>Lalu teringat pula olehnya kakak beradik Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan, kedua nona itu selalu menaruh perhatian padanya secara misterius. Kiranya didalam tubuh mereka memang mengalir darah keluarga Ji, sebab antara Pwe-giok dan mereka adalah saudara sepupu.</p>
<p>Didengarnya Tangkwik-siansing telah berkata &#8220;Ki-hujin telah menyembunyikan Ji Tok-ho di lorong bawah tanah, ia mengira perbuatan mereka pasti tidka diketahui oleh siapapun. Tak tersangka setelah pura-pura mati dan menghilang dari pergaulan umum, Ki Go-ceng juga sembunyi ke dalam lorong bawah tanah itu dan kebetulan memergoki Ji-Tok-ho.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, meng&#8230;mengapa dia tidak&#8230;tidak&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tangkwik siansing tahu apa yang hendak ditanyakan anak muda itu, maka sebelum orang mengejutkan ia telah menyambung dengan menghela nafas, &#8220;Sebenarnya Ki Go-ceng hendak membunuh &#8220;Ji Tok-ho untuk menutup mulutnya agar rahasia pura-pura matinya tidak ketahuan orang. Tapi kemudian terpikir olehnya bahwa orang ini cukup berharga untuk diperalat bagi muslihatnya, mungkin juga dia menganggap Ji Tok-ho sehaluan dan sepaham dengan dia, maka dia hanya menculik dan membawanya pergi dan tidak membunuhnya.&#8221;</p>
<p>Hal ini sudah lama terfikir oleh J Pwe-giok, sebab kalau Ji Tok-ho tidak dibawa pergi orang secara mendadak dan tergesa-gesa, tentu dia takkan meninggalkan dompet bersulam dan batu Giok itu di lorong bawah tanah di Sat-jin-ceng sana.</p>
<p>Terdengar Tangkwik-siansing berkata pula, &#8220;Namun tampaknya langkah Ki Go-ceng itu tidaklah percuma, sebab Ji Tok-ho dan Hong-ho Lojin adalah saudara, dengan sendirinya lahiriah mereka hampir sama, cukup dipermak lagi sedikit sana sini, tentu sukar lagi untuk dibedakan tulen dan palsunya. Apalagi sejak kecil kedua bersaudara itu selalu berkumpul, dengan sendirinya setiap gerak-gerik dan tutur kata Hong-ho lojin cukup dikuasai oleh Ji Tok-ho, maka selain wajahnya telah dibedah dan dipermak, iapun dapat menirukan suara dan gerak-geriknya dengan persis&#8221;</p>
<p>Dia menghela napas lalu melanjutkan, &#8220;Sebab itulah, semua persoalan ini bukanlah karena terjadi secara kebetulan, tapi setiap langkah boleh dikatakan sudah mengalami pertimbangan dan pengaturan yang cermat. Kalau tidak kebetulan diketemukan Ji Tok-ho, bisa jadi mereka takkan memilih Hong-ho lojin sebagai sasaran utama.</p>
<p>Lama juga Pwe-giok termenung, tanyanya kemudian, &#8220;Apakah Ki Go-ceng juga mahir ilmu bedah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan dia, tapi istrinya, Bak-giok Hujin&#8221; jawab Tangkwik-siansing. &#8220;Konon ilmu bedahnya dipelajarinya dari seorang Persi dari wilayah barat, meski kepandaiannya tidak sama dengan ilmu bedah Tangkwik Ko, tapi keduanya mempunyai hasil kerja yang hampir sama&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Cianpwe juga tahu kedua murid Bak-giok hujin?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Maksudmu Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing berdua?&#8221; sahut si kakek.</p>
<p>&#8220;Betul&#8221; kata Pwe-giok</p>
<p>Tangkwik-siansing menghela napas menyesal, ucapnya, &#8220;Pada dasarnya jiwa kedua anak muda itu sebenarnya tidak jelek, cuma sayang, tanpa sadar mereka telah diperalat oleh gurunya. Menurut pendapatku, mungkin sekali kedua orang itupun tidak tahu rahasia sang guru, terutama mengenai asal-usulnya dan rencana kejinya&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, sampai-sampai akupun percaya penuh kepada ocehan perempuan itu, apalagi kedua muridnya, tentu mereka percaya kepada sang guru&#8221; kata Pwe-giok. &#8220;Cuma&#8230; jika demikian halnya, lalu atas perintah siapakah tokoh yang disebut sebagai Lengkui itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya juga atas perintah Ki Pi-ceng&#8221; kata si kakek.</p>
<p>&#8220;Sungguh aneh&#8221; Pwe-giok merasa heran. &#8220;Jika begitu, mengapa Ki Pi-ceng sengaja menyuruh Lengkui membunuh Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing, mereka kan muridnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bisa jadi disebabkan Bak-giok Hujin juga mulai ragu terhadap kesetiaan murid sendiri, sebab lambat laun Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing mulai banyak mengetahui rahasianya,&#8221; tutur Tangkwik-siansing. &#8220;Menjadi anak murid orang gila seperti Bak-giok Hujin, jika terlalu banyak urusan yang diketahuinya, bukannya beruntung sebaliknya malah akan buntung dan mendatangkan petaka baginya. Mungkin juga Bak-giok Hujin merasa usahanya kini sudah mencapai sukses besar, sebentar lagi dia akan menjadi tokoh utama yang paling berkuasa di dunia persilatan, maka dia merasa Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing sudah tidak diperlukan lagi.&#8221;</p>
<p>Dia berhenti sejenak dan menghela napas, lalu menyambung. &#8220;Apapun juga, kan sejak awal sudah kukatakan bahwa mereka kakak beradik adalah orang gila semua, tindak tanduk mereka tidak dapat diukur dengan akal sehat .&#8221;</p>
<p>&#8220;Kecuali Lengkui yang asli, bukankah ia masih mempunyai beberapa duplikat Lengkui yang lain?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>Tangkwik-siansing tertawa, ucapnya, &#8220;Ah, semua itu adalah permainan belaka, dia sengaja membesar-besarkan hal itu untuk menakuti orang lain. Membuat orang menjadi setan bukanlah pekerjaan yang mudah.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok termenung sejenak, gumamnya kemudian, &#8220;Wah, jika demikian, jadi selama ini Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing juga selalu dikelabui oleh gurunya sendiri. Bahwa aku disuruh bersembunyi ke gua di bawah tanah di pinggang gunung itu bukankah karena dia sengaja hendak mencelakai aku. Apa yang dikatakannya kepadaku itupun dipercaya penuh oleh mereka sendiri.&#8221;</p>
<p>Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia merasa ngeri bila membayangkan apa yang dialaminya itu, telapak tangannya kembali berkeringat dingin.</p>
<p>Sebab faktanya memang begitu, sekarang bukan saja Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing dalam keadaan bahaya, bahkan Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio juga sudah masuk ke mulut harimau dan sukar dibayangkan bagaimana nasib mereka saat ini.</p>
<p>Seumpama sekarang juga Pwe-giok pergi menolong mereka, tetap tiada gunanya, sebab pada hakekatnya dia tidak tahu mereka telah dibawa ke mana oleh Bak-giok Hujin?</p>
<p>Lalu, apa yang diuraikan Tangkwik-siansing apakah seluruhnya benar?</p>
<p>Didengarnya kakek itu berkata pula, &#8220;Meski berbagai kejadian rahasia ini adalah hasil penyelidikanku selama bertahun-tahun dan tentu saja telah banyak memakan tenaga dan pikiranku, tapi ada juga sebagian adalah hasil perkiraanku berdasarkan semua fakta yang telah terjadi, boleh dikatakan tak dapat kubuktikan, tentu juga tidak seluruhnya dapat membuat orang percaya, umpama saja&#8230;kalau sekarang kukatakan Ji Hong-ho adalah samaran Ji Tok-ho, coba, siapakah yang mau percaya?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela napas, diam-diam ia membatin, &#8220;Memang betul. Kalau aku saja tidak percaya penuh terhadap keteranganmu, apalagi orang lain?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing memandang anak muda itu dengan lekat-lekat, katanya kemudian dengan tenang, &#8220;Ku tahu, dalam hati tentu juga kau sangsi terhadap apa yang ku uraikan ini, sebab itulah&#8230; sekarang juga akan kubawa kau menemui satu orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menemui siapa?&#8221; tanya Pwe-giok heran.</p>
<p>Tangkwik-siansing tertawa, jawabnya, &#8220;Setelah bertemu nanti, tentu kau akan tahu sendiri.&#8221;</p>
<p>Begitulah mereka lantas meninggalkan gedung itu, meninggalkan jalan raya dan menyusur jalan gili-gili sawah, di depan kelihatan sebuah sungai kecil.</p>
<p>Ada sebuah jembatan kecil dengan embun yang belum kering, di seberang jembatan tampak pagar bambu mengelilingi tiga buah rumah gubuk beratap rumput alang-alang kering. Terdengar suara ayam dan anjing berisik di balik gubuk sana.</p>
<p>Cerobong asap di atas rumah tampak sedang mengepulkan asap dan buyar terbawa angin.</p>
<p>Dari jauh Pwe-giok sudah mencium bau harum obat yang sedang dimasak.</p>
<p>Kalau ada orang menyeduh obat, tentu di dalam rumah gubuk ada orang sakit. Dan siapakah yang sakit? Siapa pula yang sedang masak obat?</p>
<p>Pintu pagar tampak setengah tertutup, di bawah pagar tampak terletak sebuah anglo kecil dengan pot kecil tempat masak obat, agaknya air obat sudah mulai mendidih dan menyebarkan bau obat yang keras.</p>
<p>Seekor kucing hitam mendekam di samping anglo dengan setengah mengantuk. Di sekeliling situ tak tampak seorangpun. Di manakah orang yang memasak obat? Untuk apakah Tangkwik-siansing membawa Pwe-giok ke tempat ini?</p>
<p>&#8220;Meong&#8221;, mendadak kucing itu berbunyi sambil meloncat ke atas, ke dalam pangkuan Tangkwik-siansing.</p>
<p>Perlahan Tangkwik-siansing membelai bulu kucing hitam yang halus bagai sutera itu, ucapnya dengan tertawa, &#8220;Haha, si Hitam sayang, jangan mencakar jenggot kakek!&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tidak berminat terhadap anjing atau kucing, maka ia tidak tertarik kepada kucing hitam kesayangan Tangkwik-siansing.</p>
<p>Selagi ia merasa kesepian, tiba-tiba terdengar seorang menegur, &#8220;Apa kabar, Ji-kongcu? Baik-baikkah selama ini?&#8221;</p>
<p>Suara itu timbul dari belakangnya. Keruan Pwe-giok terkejut, cepat ia berpaling, maka terlihatlah seraut wajah yang sudah dikenalnya.</p>
<p>Wajah yang sudah tua, penuh keriput dan bekas-bekas penderitaan kehidupan yang panjang, namun sinar matanya yang menampilkan senyuman simpatik tampak jernih bagai air telaga yang bening.</p>
<p>Kejut dan girang Pwe-giok demi mengenal siapa gerangan si kakek, serunya, &#8220;He, kiranya engkau berada di sini ? &#8220;</p>
<p>Di sini dan dalam keadaan demikian ia dapat bertemu lagi dengan &#8220;si kakek Ko&#8221;, sungguh rasanya seperti mimpi atau sudah pada penjelmaan hidup baru.</p>
<p>Kakek itu memang betul si kakek Ko alias Tangkwik Ko yang sudah dikenalnya dan pernah menyelamatkan jiwanya di Sat-jin-ceng dahulu.</p>
<p>Tangkwik Ko sedang menjinjing sebuah ember kayu yang penuh terisi air. Meski dengan membawa ember sebesar itu dengan air penuh, ternyata Pwe-giok sama sekali tidak tahu akan munculnya orang tua itu, dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya.</p>
<p>Melihat codet pada muka Pwe-giok itu, seketika air muka Tangkwik Ko berubah, ia memandangnya lagi beberapa kejap, segera sorot matanya memancarkan senyuman pula, gumamnya, &#8220;Tampaknya segala sesuatu di dunia ini tidak boleh terlalu sempurna, akan lebih baik jika ada sedikit cacat atau sesuatu kekurangannya.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok merasa kerongkongannya tersumbat, ingin bicara, tapi sukar bersuara. Seketika ia hanya melenggong saja.</p>
<p>Tangkwik Ko menepuk-nepuk bahunya, ucapnya dengan tertawa cerah, &#8220;Kutahu apa yang hendak kau katakan. Lebih baik tidak kau katakan saja. Di dalam rumah masih ada satu orang yang senantiasa memikirkan dirimu, lekas kau masuk menjenguknya.&#8221;</p>
<p>Siapakah orang di dalam rumah yang dimaksudkan Tangkwik Ko? Siapakah yang sakit dan perlu dimasakkan obat? Jangan-jangan Ki Leng-yan? Atau Cia Thian-pi? Atau Lim Tay-ih?</p>
<p>Tangan Pwe-giok terasa agak gemetar, tidak urung ia mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah gubuk itu.</p>
<p>Dilihatnya seorang berbaju putih berbaring miring di atas tempat tidur, mukanya pucat kekuning-kuningan dan agak kurus, matanya setengah terbuka dan setengah terpejam, namun sinar matanya tampak gemerlapan.</p>
<p>Begitu melihat orang ini, tak terkatakan rasa girang Pwe-giok, mendadak ia berteriak sambil menubruk maju, &#8220;Hong-samko! Mengapa engkaupun berada di sini, Hong-samko?&#8221;</p>
<p>Yang berbaring di situ, orang sakit yang perlu minum obat, ternyata Hoang Sam adanya.</p>
<p>Demi melihat Hong Sam dan Tangkwik Ko berada bersama di sini, seketika kepercayaan Ji Pwe-giok terhadap Tangkwik-siansing bertambah kuat, walaupun masih ada beberapa hal dirasakannya masih sukar mendapat penjelasan.</p>
<p>Lebih-lebih tentang kejadian di gua bawah tanah itu, di mana disaksikannya dengan jelas Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng telah membinasakan Ki Go-ceng, peristiwa ini dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan bukan kabar berita.</p>
<p>Begitulah, secara ringkas ia ceritakan kepada Hong Sam pengalamannya selama berpisah ini. Waktu menuturkan cara bagaimana Cu Lui-ji tertipu dan dibawa pegi oleh Ki Pi-ceng, sungguh tidak kepalang rasa sedih Pwe-giok dan juga merasa malu karena dirinya gagal melindungi anak dara itu.</p>
<p>Tapi Hong Sam lantas menghiburnya malah, katanya, &#8220;Ki Pi-ceng pasti tidak akan membikin susah Lui-ji, sebabnya dia membawa pergi Lui-ji hanya digunakan sebagai sandera saja agar kau tunduk kepada segala perintahnya, supaya kau tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kehendaknya, supaya kau tidak memusuhi dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, seharusnya sejak semula kupikirkan hal ini, mengapa kubiarkan Lui-ji dibawa pergi olehnya?&#8221; kata Pwe-giok dengan menunduk.</p>
<p>&#8220;Padahal kaupun tidak perlu berkuatir bagi Lui-ji,&#8221; ujar Hong Sam dengan tertawa. &#8220;Anak dara ini cukup cerdik dan licin, kuyakin Ki Pi-ceng belum tentu dapat mengatasi dia. &#8220;</p>
<p>Pwe-giok pikir urusan sudah kadung begitu, biarpun kuatir juga tiada gunanya. Terpaksa untuk sementara dia harus melapangkan dada dan kesampingkan dulu urusan Cu Lui-ji. Segera ia mengeluarkan buku harian dan potongan bambu itu, katanya kepada Hong Sam, &#8220;Barang-barang inilah yang kutemukan di bawah loteng kecil di Li-toh-tin itu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh aneh, mengapa buku kecil catatan begini sedemikian mendapat perhatian Siau-hun-kiongcu dan disimpan secara rahasia ? &#8220;kata Hong Sam sambil berkerut kening.</p>
<p>Dengan serius Pwe-giok berkata, &#8220;Sebab buku ini adalah buku hutang-piutang yang disebut Giam-ong-ceh ( piutang raja akherat). Di sini tercatat segala perbuatan jahat setiap tokoh dunia persilatan. Dengan memiliki buku ini, sama halnya Siau-hun kiongcu memegang semacam jimat, sebab siapapun pasti kuatir rahasia buruknya akan dibongkar dan disiarkan olehnya, mau-tak-mau mereka merasa jeri dan segan padanya. &#8220;</p>
<p>Hong Sam mengangguk, tapi lantas menggeleng-geleng pula, katanya, &#8220;Tidak, alasan ini memang betul juga, tapi masih ada juga segi kebalikannya, maksudku, buku Giam-ong-ceh ini justru merupakan sumber bencana.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok termenung sejenak, katanya kemudian, &#8220;Ya, ku paham maksud Samko. Setiap tokoh Kangouw yang perbuatan buruknya tercatat di dalam Giam-ong-ceh, tentu dengan segala upaya ingin memiliki buku catatan ini, sebab kalau buku ini sudah dipegangnya, di samping perbuatan buruk sendiri dapat ditutupi atau dihapus, sekaligus dapat digunakan sebagai alat pemeras kepada orang lain. Betul tidak ?&#8221;</p>
<p>Hong Sam mengangguk, katanya &#8220;Betul, sebab itulah jika dari buku Giam-ong-ceh ini sudah sekian banyak rahasia orang lain yang kau ketahui, maka sekarang tidak perlu lagi kau pertahankan buku ini, supaya tidak mendatangkan kesukaran yang tidak kau harapkan.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tersenyum, jawabnya, &#8220;Dalam hal ini jalan pikiranku justru berlawanan dengan pendapat Samko. Sebab bila orang lain mengetahui buku Giam-ong-ceh ini berada padaku, biarpun buku ini kumusnahkan juga tetap sukar menghindari gangguan serta kesukaran yang akan timbul. &#8220;</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa ?&#8221; tanya Hong Sam dengan heran.</p>
<p>&#8220;Sebab pasti tidak ada orang mau percaya buku ini telah kumusnahkan dengan begitu saja,&#8221; jawab Pwe-giok. &#8220;Jadi kesukaran yang akan timbul tetap sukar dihindari, malahan aku sendiri berharap semoga gelombang perkara ini bisa lekas timbul.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing menyabetkan jenggotnya yang panjang itu dan menyela, &#8220;He, anak muda, dari nada ucapanmu ini agaknya kau sangat menghendaki kekacauan di dunia ini , begitu bukan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok mengangguk, jawabnya, &#8220;Betul, karena itulah besok juga ku siarkan berita tentang Giam-ong-ceh, tentang macam-macam perbuatan jahat tokoh-tokoh kangouw itu. Tujuan daripada tindakanku ini bukan saja hendak menuntut balas bagi kematian ayahku, bahkan lebih dari itu, ingin kubersihkan dunia kangouw, hendak ku perbaharui dunia persilatan, tata tertib dunia kangouw harus dipulihkan, tidak boleh lagi dikotori oleh sekelompok manusia munafik yang bermantelkan bulu domba, tapi berhati serigala, setiap perbuatan yang mengelabui mata umum dan merugikan harus disikat bersih secara tuntas.&#8221;</p>
<p>Ucapan Pwe-giok ini membuat semua orang yang berada di dalam ruangan ini sama terbelalak dan juga merasa kagum dan memuji.</p>
<p>Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang panjang itu sambil terus menerus mengangguk, akhirnya iapun berkata dengan air muka kereng, &#8220;Anak muda, sungguh besar cita-citamu, sungguh gagah pendirianmu. Tapi tekadmu yang terpuji itu perlu juga disertai tindakan yang berencana. Jika sekarang juga secara gegabah kau bongkar apa yang tercatat dalam buku Giam-ong-ceh itu, maka dapat kuberikan suatu tamsil padamu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tamsil bagaimana?&#8221; tanya Pwe-giok dengan mengulum senyum.</p>
<p>&#8220;Dapat ditamsilkan seperti orang tidak sakit tapi minum obat, mencari penyakit sendiri, barangkali sudah bosan hidup,&#8221; ujar si kakek.</p>
<p>&#8220;Oo, apakah maksud Cianpwe hendak bilang kungfuku sekarang ini belum cukup mampu untuk menghadapi tokoh-tokoh Kangouw, belum kuat dikerubut oleh gembong-gembong dunia persilatan. Begitu?&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; Tangkwik-siansing mengangguk. &#8220;Pintar juga kau, memang tepat tebakanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Site, hal ini memang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan,&#8221; sela Hong sam. &#8220;Meski cita-citamu setinggi langit, segala sesuatu juga harus dilakukan sesuai kemampuanmu. Jangan sampai terjadi napsu besar tapi tenaga kurang.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Pwe-giok menjawab, &#8220;Ya, ucapan Samko memang betul, dengan sendirinya ada keyakinanku, ada sesuatu peganganku, makanya berani kukemukakan jalan pikiran yang latah ini, dan bukan omong kosong belaka.&#8221;</p>
<p>Semua orang menjadi saling pandang dengan melongo, mereka tidak percaya anak muda itu mempunyai sesuatu andalan yang bisa membantunya melaksanakan cita-citanya itu.</p>
<p>Dengan terbelalak Hong Sam lantas bertanya, &#8220;Memangnya apa peganganmu? Memangnya berdasarkan apa kau berani bicara sebesar itu? Coba jelaskan, supaya kamipun mengetahuinya.&#8221;</p>
<p>Segera Pwe-giok mengeluarkan potongan bambu kecil itu dan diacungkan ke atas, katanya, &#8220;Inilah Po-in-pay (tanda balas budi) Tangkwik-siansing, dengan pegangan benda ini, tidak perlu lagi kukuatirkan apapun.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing melonjak kaget, serunya , &#8220;He, anak muda, kenapa Po-in-pay itu juga berada padamu: Keji amat kau, masakah kakek hendak kau seret ke medan juang yang mungkin akan banjir darah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Janganlah Lo-cian-pwe salah paham,&#8221; kata Pwe-giok dengan khidmat. &#8220;Bukan maksudku dengan menonjolkan Po-in-pay untuk memaksa Locianpwe tampil ke depan untuk mengadu jiwa dengan mereka, tapi tujuanku hanya memohon agar Cianpwe suka mengajarkan Bu-siang-sin-kang padaku agar dengan ilmu sakti ini dapat kubersihkan kaum munafik dan menegakkan orde baru di dunia persilatan.&#8221;</p>
<p>Kembali Tangkwik-siansing melengak, tanyanya, &#8220;Darimana kau tahu aku memilik ilmu sakti Bu-siang-sin-kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng sendiri yang memberitahukan hal ini kepadaku,&#8221; jawab Pwe-giok. &#8220;Menurut keterangannya, hanya Bu-siang-sin-kang inilah ilmu sakti yang dapat mengatasi kungfu andalannya, yaitu Sian-thian-ceng-gi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Makanya akulah yang menjadi sasaranmu, dengan Po-in-pay hendak kau peras diriku?&#8221; kata Tangkwik-siansing.</p>
<p>Dengan hormat Pwe-giok mengangsurkan Po-in-pay dengan kedua tangannya, ucapnya, &#8220;Harap Cianpwe jangan marah, sungguh Wanpwe tidak ada niat hendak memeras orang dengan barang yang ku pegang ini. Yang kuharapkan adalah sudilah cianpwe mengingat keselamatan dunia Kangouw umumnya di kemudian hari dan bantulah terlaksananya cita-cita Wanpwe ini.&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing mendengus, mendadak ia merampas Po-in-pau itu, menyusul sebelah tangannya terus menyodok ke dada Pwe-giok.</p>
<p>Keruan Hong sam dan Tangkwik Ko berseru kaget.</p>
<p>Tapi sayang, sudah terlambat, ketika mereka mengetahui yang digunakan Tangkwik-siansing adalah tenaga Bu-siang-sin-kang, terdengar Pwe-giok telah menjerit ngeri, tubuhnya terus mencelat dan melayang jauh ke sana seperti layangan yang putus benangnya, seperti dibawa angin lesus tubuh Pwe-giok menerobos rumah gubuk dan melayang ke tepi sungai.</p>
<p>Hong Sam melenggong, teriaknya kuatir, &#8220;Tangkwik-siansing tua bangka, kenapa kau turun tangan sekeji itu kepadanya?&#8221;</p>
<p>Tapi kakek itu tertawa sehingga matanya menyipit, ucapnya, &#8220;Haha, jangan-jangan karena kau terlalu lama kau berbaring di tempat tidur sehingga matamu sudah rabun!&#8221;</p>
<p>Hanya mengucapkan kata-kata yang tidak keruan juntrungannya itu, lalu dia melayang pergi secepat terbang.</p>
<p>Waktu Hong Sam memburu keluar, dilihatnya Tangkwik-siansing dan Pwe-giok sudah lenyap dari pandangan, hanya di kejauhan kelihatan sesosok bayangan kelabu berlari ke depan secepat terbang, hanya sekejap saja lantas menghilang.</p>
<p>Tentu saja Hong Sam kelabakan, segera ia bermaksud memburu kesana.</p>
<p>Pada saat itulah terdengar suara Tangkwik Ko bicara di belakangnya, &#8220;Jangan kau kuatir dan tidak perlu mengejarnya, dengan kecepatan lari kita jelas tidak dapat menyusulnya. Ku tahu tempat sembunyinya, nanti kalau kesehatanmu sudah pulih seluruhnya, akan kubawa kau kesana.&#8221;</p>
<p>Mendadak Hong Sam membalik tubuh dan menegas, &#8220;Harus menunggu sampai kesehatanku pulih sama sekali &#8230; tatkala mana Site sudah &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan kuatir,&#8221; cepat Tangkwik Ko memberi tanda agar Hong Sam tidak melanjutkan ucapannya. &#8220;Kukira tidak perlu kau cemas baginya, Ji Pwe-giok bukanlah anak muda yang berpotongan cekak umur, dia takkan mati.&#8221;</p>
<p>Tapi Hong Sam masih tetap sangsi, ia pandang kawannya dengan perasaan bimbang &#8230;</p>
<p>Sang surya sudah mulai terbit, cahayanya yang gemilang menyinari sawah ladang sehingga alam ini kelihatan kuning emas. Di bawah cahaya subuh itulah Hong Sam seperti menyadari sesuatu, air mukanya berubah cerah.</p>
<p>o0o</p>
<p>Pada suatu tempat lain saat itu keadaannya hanya kegelapan belaka, kegelapan yang sunyi dengan angin dingin menyeramkan dan bau apek yang menusuk hidung.</p>
<p>Jalan lorong di bawah tanah yang panjang itu masih tetap sama seperti waktu datangnya, tetap sangat panjang seolah-olah tidak berujung.</p>
<p>Tiga sosok bayangan sedang merayap ke depan di dalam lorong panjang dan gelap itu.</p>
<p>Mereka ialah Cu Lui-ji, Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing.</p>
<p>Sesuai perintah gurunya, yaitu yang kini telah diketahui sebagai Bak-giok Hujin alias Ki Pi-ceng, adik perempuan merangkap isteri Ki go-ceng, Hay tong-jing hendak membawa Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio pulang ke gunung.</p>
<p>Ketiga orang itu terus merayap ke depan dalam kegelapan tanpa bicara Cu Lui-ji memegang Hay Tong-jing, dengan beriring-iring demikianlah mereka terus menggeremet ke depan, hati mereka terasa berat, seperti tertekan oleh batu yang berat.</p>
<p>Kini ketiga orang itu sama merasakan seolah-olah baru hidup kembali dari malapetaka, ketika di dalam gua tadi, pada detik terakhir yang berbahaya itu, kalau Bak-giok Hujin alias Ki Pi-ceng tidak muncul tepat pada waktunya, tentu mereka bertiga sekarang sudah mati tersiram lilin panas dan telah dijadikan patung penghias kamar batu yang penuh patung lilin itu.</p>
<p>Keadaan mereka sekarang tidak banyak berbeda daripada waktu masuknya tadi, tapi lantaran kekurangan seorang, yaitu Ji Pwe-giok, hal ini jelas lebih menekan perasaan Cu Lui-ji, baginya, kehilangan Ji Pwe-giok sama halnya kehilangan pelita, membuatnya merasa lorong di bawah tanah itu lebih gelap daripada semula, juga membuatnya bingung dan waswas.</p>
<p>Jarak mereka sekarang dengan ke-39 buah lentera itu masih sangat jauh.</p>
<p>Agaknya Hay Tong-jing tidak mau kesepian, dia yang membuka mulut terlebih dulu dan bertanya, &#8220;Kalau tidak salah ingat, pernah ada orang bilang, &#8220;tidak bicara lebih susah daripada mati&#8221;. Tapi pada saat diperlukan orang bicara seperti sekarang, ternyata tenggorokannya seperti keluar bisul dan tidak mau bersuara. Coba aneh tidak?&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji berhenti berjalan, katanya. &#8220;Ucapanmu ini kau tujukan kepadaku, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tertuju siapa ucapanku ini kukira kita sama-sama tahu, masa perlu kujelaskan lagi?&#8221; jawab Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Hatiku lagi kesal, cara bicaramu hendaknya jangan berduri dan menusuk perasaan.&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Hatimu kesal? Memangnya kenapa merasa kesal?&#8221; tanya Hay Tong-jing dengan melenggong.</p>
<p>Karena pertanyaan ini, seketika Lui-ji juga melengak dan tak dapat menjawab.</p>
<p>Thi-hoa-nio lantas menimbrung, &#8220;Masakah perlu kau tanya lagi? Lantaran harus berpisah dengan Ji Pwe-giok, tentu hati nona Cu merasa kesal dan seperti kehilangan sukma, perasaan demikian tentu saja sukar dipahami oleh kaum lelaki seperti dirimu ini.&#8221;</p>
<p>Muka Lui-ji menjadi merah karena isi hatinya dengan tepat dibongkar oleh Thi-hoa-nio, untung di tengah lorong bawah tanah itu gelap gulita sehingga rasa likatnya itu tidak dilihat orang.</p>
<p>&#8220;Betapapun kesalnya kan juga tidak perlu murung begini,&#8221; ujar Hay Tong-jing, &#8220;perpisahan ini kan cuma untuk sementara waktu saja, bahkan guruku ada maksud menerima nona Cu sebagai murid, ini kan rejeki besar dan menggembirakan, kalau aku tentu sudah berjingkrak kegirangan sejak tadi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itukan jalan pikiranmu, tentu berlainan dengan jalan pikiran nona Cu,&#8221; kata Thi-hoa-nio. &#8220;Memangnya kau tahu apa yang sedang dipikirkan dia?&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing menjadi bungkam dan tak dapat menjawabnya.</p>
<p>Mereka terus merambat ke depan dengan diam, sungguh mereka ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang serupa neraka ini.</p>
<p>engah berjalan, mendadak Lui-ji berhenti, desisnya dengan perasaan tegang, &#8220;Ssst, coba dengarkan &#8230; suara apakah ini?&#8221;</p>
<p>Di lorong bawah tanah ini tidak cuma gelap gulita, bahkan juga sunyi senyap dan menyesakkan napas. Tapi di tengah keheningan yang amat luar biasa itu, sayup-sayup terdengar suara &#8220;srak-srek&#8221; yang berkumandang dari kejauhan.</p>
<p>Suara ini dapat diketahui sebagai suara berkibarnya kain baju ketika orang melompat tinggi atau melayang jauh, atau bisa jadi suara langkah orang yang sedang berjalan, tapi lantaran daya kumandang di lorong ini terlalu keras sehingga sukar dibedakan dengan jelas.</p>
<p>Suara &#8220;srak-srek&#8221; itu sangat lirih, seperti terjadi di tempat yang sangat jauh, yang didengar mereka adalah gema suaranya saja, kalau tidak, tentu merekapun takkan mengetahui apa-apa.</p>
<p>Cuma ada satu hal dapat dipastikan, yakni di lorong bawah tanah ini telah muncul orang lain lagi, dan orang ini sedang melayang ke arah sini.</p>
<p>Cu Lui-ji terlebih cermat daripada orang lain, cepat ia menarik Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing agar berjongkok di kaki dinding, mereka mendengarkan dengan menahan napas untuk menunggu kejadian selanjutnya.</p>
<p>Benarlah, pada saat lain, sesosok bayangan hitam secepat terbang melayang tiba.</p>
<p>Sungguh cepat luar biasa, seperti angin lalu saja cepatnya.</p>
<p>Cuma sayang, mereka bertiga tidak ada yang dapat membedakan potongan tubuh bayangan itu, bayangan itu seperti seekor burung raksasa dan juga seperti seekor kelelawar besar.</p>
<p>Setelah bayangan itu berkelebat dan menghilang, mereka bertiga masih terus berjongkok di situ hingga sekian lama lagi.</p>
<p>Selang sejenak pula, mendadak Lui-ji berucap dengan suara tertahan, &#8220;Aneh! Sungguh aneh!?&#8221;</p>
<p>Pelahan Thi-hoa-nio menarik lengan baju si nona dan bertanya, urusan apa yang membikin kau terheran-heran? Jangan-jangan ada kau temukan lagi sesuatu yang mencurigakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan,&#8221; jawab Lui-ji. &#8220;aku cuma merasakan bayangan yang lewat tadi seperti Ji Hong-ho, Bu-lim-bengcu sekarang. Mungkin inilah yang dikatakan orang sebagai perasaan ke enam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ji Hong-ho katamu? Memangnya untuk apa dia datang ke sini?&#8221; ujar Thi hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu tidak ada yang tahu, kecuali sekarang juga kita putar balik kesana dan mengintai secara diam-diam,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Aku tidak berminat untuk merayap kian kemari di dalam lorong yang gelap dan pengap ini&#8221; ujar Thi hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Tapi aku mendukung usul nona Cu ini,&#8221; tukas Hay Tong-jing. &#8220;Bukankah makhluk aneh yang suka menyiram manusia hidup dengan lilin panas itu sudah dibinasakan oleh ilmu sakti guruku, di sana tentu takkan timbul lagi adegan yang menakutkan seperti tadi, apalagi yang perlu kita takuti?&#8221;</p>
<p>Lui-ji juga berkeras pada sarannya, ucapnya, &#8220;Jika secara diam-diam Ji Hong-ho menyusup ke sini, bisa jadi sangat besar sangkut-pautnya dengan urusan Ji Pwe-giok, apapun juga aku harus kembali kesana untuk mengintipnya, inilah kesempatan baik yang sukar dicari.&#8221;</p>
<p>Karena dua suara melawan satu suara, terpaksa Thi hoa-nio tunduk kepada suara yang lebih banyak, akhirnya iapun setuju dan ikut putar balik ke arah datangnya tadi.</p>
<p>000OOO000</p>
<p>Di dinding ruangan gua sana menyala beberapa pelita minyak, di bawah cahaya yang redup, ada sebuah kursi batu kelihatan berduduk seorang perempuan berbaju hitam mulus, dan dia inilah Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng.</p>
<p>Di ruangan gua batu itu sunyi senyap, tiada terdengar suara apapun. Ki Pi-ceng juga duduk tepekur di situ seperti menanggung tekanan batin yang amat berat.</p>
<p>Watak Bak-giok Hujin suka unggul, berkukuh kepada pendiriannya sendiri. Tapi setelah diberitahu dan diingatkan oleh Ki Go-ceng, akhirnya ia merasa caranya terhadap Ji Pwe-giok memang rada-rada kurang aman.</p>
<p>Namun sesuai wataknya yang kepala batu, ia suka meneruskan kesalahannya itu daripada mengaku salah di depan orang lain.</p>
<p>Dinding batu ruangan itu sangat dingin, tapi raut muka Bak-giok Hujin tampak lebih dingin, lantaran dalam hati merasa tidak aman, tanpa terasa tercetus pada mulutnya, &#8220;Masakah aku salah?&#8230; Masakah aku keliru&#8230;?</p>
<p>Ia menyangka di dalam gua rahasia ini, bahkan di seluruh lorong bawah tanah itu tiada terdapat orang lagi, biarpun dia berteriak mengutarakan segenap isi hatinya juga takkan dilihat dan didengar orang.</p>
<p>Tapi pikirannya ternyata keliru!</p>
<p>Justru pada saat suara ucapannya hampir lenyap, tiba-tiba dari luar pintu ruangan itu berkumandang suara seorang, &#8220;Kau memang keliru, bahkan keliru besar, tidak kepalang tanggung kesalahanmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221; bentak Ki Pi-ceng terkejut.</p>
<p>&#8220;Masakah suaraku saja tidak kau kenal lagi?&#8221; ucap suara di luar pintu itu. &#8220;Wah, tampaknya pikiranmu saat ini benar-benar sangat kusut.&#8221;</p>
<p>Berbareng dengan lenyapnya suara itu, serentak melayang tiba sesosok bayangan orang, kiranya Ki Go-ceng adanya.</p>
<p>Ki Pi-ceng memandang dengan dingin, lalu bertanya, &#8220;Kenapa kau kembali secepat ini?&#8221;</p>
<p>Air muka Ki Go-ceng kelihatan juga masam, jawabnya, &#8220;Pertanyaanmu ini salah alamat, seharusnya kau tanya kepada bocah itu kenapa dia mengambil keputusan secepat itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau maksudkan Ji Pwe-giok?&#8221; tanya Ki Pi-ceng dengan heran.</p>
<p>&#8220;Siapa lagi kalau bukan dia? Bocah ini benar-benar sukar dilawan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya keputusan apa yang telah diambilnya?&#8221; tanya Ki Go-ceng tak sabar.</p>
<p>&#8220;Urusah yang paling kita takuti,&#8221; tutur Ki Go-ceng. &#8220;Ia telah menyiarkan secara terbuka ke dunia Kangouw segenap apa yang tercatat dalam Giam-ong-ceh.&#8221;</p>
<p>Tergetar hebat hati Ki Pi-ceng, serentak ia melonjak bangun dan berteriak, &#8220;Apa katamu? Coba ulangi lagi sekali?&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng menyengir, ucapnya, &#8220;Ulangi lagi sekali atau seratus kali juga tetap begitu. Diantara catatan Giam-ong-ceh itu tidak cuma meliputi rahasia hubungan kita, bahkan juga mengenai hubungan gelap orang kita dan Ji Tok-ho.&#8221;</p>
<p>Tubuh Ki Pi-ceng tampak rada gemetar, gumannya, &#8220;Harus kubunuh dia&#8230; Akan kubinasakan dia secara mengerikan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Baru sekarang teringat olehmu harus membinasakan dia, kukira sudah agak terlambat,&#8221; ucap Ki Go-ceng. &#8220;Sebab berita dalam Giam-ong-ceh sudah terlanjur tersiar, siapapun tak dapat menariknya kembali dan menghapusnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kalau urusan sudah kadung begini, masakah kau malah menyesali diriku?&#8221; teriak Ki Pi-ceng dengan gusar.</p>
<p>Ki Go-ceng menggeleng, ucapnya dengan menghela napas, &#8220;Bukannya aku menyesali dirimu, tapi kenyataannya memang demikian. Malahan bocah she Ji itu sangat licik dan licin, saat ini dia telah menghilang, entah sembunyi dimana, sudah beberapa tempat kucari dan tetap tak dapat menemukan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, itu hanya soal waktu saja,&#8221; ujar Ki Pi-ceng dengan suara gemas, &#8220;Aku pasti akan membinasakan dia dengan tanganku sendiri, bahkan harus kubunuh dia dengan cara yang paling kejam dan paling mengerikan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi berbareng itu kita masih perlu juga membinasakan seorang lagi,&#8221; tukas Ki Go-ceng. &#8220;Sebab orang ini jauh lebih menggemaskan daripada bocah itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya siapa yang kau maksudkan?&#8221; tanya Ki Pi-ceng dengan melengak.</p>
<p>&#8220;Ialah musuh bebuyutan kita, si tua bangka Tangkwik-siansing,&#8221; tutur Ki Go-ceng.</p>
<p>&#8220;Hah, dia? Masakah urusan inipun ada sangkut-pautnya dengan dia?&#8221; tanya Ki Pi-ceng dengan heran.</p>
<p>Sinar mata Ki Go-ceng seperti mengeluarkan api, katanya dengan gregetan, &#8220;Justru setan tua itulah yang menjadi tulang punggung anak muda itu sehingga dia berani menantang kita. Ku tahu maksud tujuanmu semula adalah hendak memperalat Po-in-pay yang berada pada bocah itu untuk memeras dan mengancam setan tua Tangkwik itu, siapa tahu sekarang malah senjata makan tuan, kita yang menerima akibatnya. Siapa pun tidak menyangka urusan ini akan berubah menjadi begini buruk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembali kau menyesali diriku lagi?&#8221; tanya Ki Pi-ceng dengan melotot.</p>
<p>&#8220;Apa gunanya sekarang kita bicara tentang kesalahan siapa, toh tak dapat menyelesaikan persoalan pokoknya,&#8221; ujar Ki Go-ceng. &#8220;Yang penting sekarang harus kita pikirkan akal yang baik untuk menghadapi mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuyakin persoalan Ji Pwe-giok mudah dibereskan, yang sulit ialah si setan tua Tangkwik itu,&#8221; kata Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, terpaksa kita harus membuka kartu terakhir,&#8221; kata Ki Go-ceng sambil menyengir. &#8220;Terpaksa kita tonjolkan Ji Hong-ho gadungan hasil karya bedah kita. Biarkan dia melaksanakan tugasnya selaku Bu-lim-bengcu yang berkuasa, biarkan dia mengumumkan kedua orang, yang satu tua dan yang lain muda itu sebagai musuh bersama dunia persilatan. Dengan begitu kita lantas tidak perlu kuatir lagi dan juga tidak perlu turun tangan sendiri.&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng mendengus, katanya, &#8220;Tapi jangan kau lupa bahwa aslinya dia adalah bandit di daerah gurun yang terkenal dengan julukan It-koh-yan. Pada saat yang belum cukup masak, masakah dia mau diperalat oleh kita semudah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira tidak ada soal, &#8220;ujar Ki Go-ceng. &#8220;Sebab jelek-jelek dia kan sudah berbau anggota keluarga kita, Kalau bicara tentang untung rugi pribadinya, tentu juga dia tak bisa tinggal diam, sebab di dalam Giam-ong-ceh itu juga tidak terlepas dari hutangnya yang masih wajib dibayar.&#8221;</p>
<p>Ki Pi-ceng tidak bersuara, dia seperti sedang merenungkan gagasan Ki Go-ceng itu.</p>
<p>Pada saat itulah, mendadak sinar mata Ki Go-ceng memancar tajam seperti sinar kilat yang menyorot ke arah pintu, dengan suara bengis ia menegur, &#8220;Siapa itu yang berada di luar?!&#8221;</p>
<p>Segera di luar pintu berkumandang suara ketus seseorang, &#8220;Kawan atau lawan, selanjutnya terserah kepada pilihanmu!&#8221;</p>
<p>Suara itu sudah sangat dikenal oleh Ki Go-ceng maupun Ki Pi-ceng, segera pula pembicara itu menyelinap masuk. Siapa lagi dia kalau bukan Ji Hong-ho tiruan, Bu-lim-bengcu gadungan, Ji Tok-ho tulen.</p>
<p>Melihat kedatangan Ji Tok-ho, kedua orang she Ki itu menjadi rada kikuk malah.</p>
<p>Sikap Ji Tok-ho ternyata sekarang tidak sungkan-sungkan lagi terhadap mereka, ia hanya melirik sekejap kepada mereka, lalu berkata, &#8220;Hah, lakon sandiwara yang kalian sutradarai selama ini sungguh amat bagus dan menarik, baru sekarang ku tahu jelas wajah asli kalian.&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng mendelik, ucapnya, &#8220;Jika demikian, jadi maksudmu kau telah dirugikan, begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Antara kita sebenarnya tidak perlu bicara tentang untung dan rugi, &#8220;jengek Ji Tok-ho. &#8220;Sebab kalau mau menyusun neraca, biarpun seratus tahun juga sukar dihitung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, baik neraca untung maupun rugi boleh kita kesampingkan,&#8221; kata Ki Go-ceng.</p>
<p>&#8220;Cuma, sudah sekian tahun keluarga Ki kami telah kau nodai, masakah kau malah menyesal kepada kami?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kentut anjing! Hal-hal ini masakah pantas kau kemukakan?&#8221; damprat Ji Tok-ho dengan gusar.</p>
<p>&#8220;Keluarga Ki sekarang sudah tercemar dan berantakan, untuk apalagi ku tinggal di sini!&#8221; teriak Ki Go-ceng dengan gusar, mendadak ia melayang keluar dengan cepat.</p>
<p>Setelah terdiam sejenak, kemudian Ki Pi-ceng berkata, &#8220;Sepantasnya tidak boleh kau datang ke sini, sehingga membikin urusan tambah runyam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergolakan sudah timbul di dunia kangouw, dan itu memerlukan tindakanku, masa aku tidak perlu berunding dengan kau?&#8221; kata Ji Tok-ho.</p>
<p>&#8220;Apakah kau maksudkan pergolakan yang timbul akibat tersiarnya Giam-ong-ceh?&#8221; tanya Ki Pi-ceng.</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; Ji Tok-ho mengangguk. &#8220;Tak terduga berita yang kau terima ternyata tidak lebih lambat daripadaku. Sekarang urusan lain tidak perlu kita persoalkan, marilah kita mendahului turun tangan, mungkin segala sesuatu masih dapat kita pertahankan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira sukar untuk dipertahankan, hanya setan tua dan bocah keparat itu harus kita tumpas untuk melampiaskan dendam kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira masih belum terlambat, asalkan kita turun tangan selekasnya, bisa jadi segala sesuatu masih dapat berubah,&#8221; ujar Ji Tok-ho.</p>
<p>&#8220;Kan Giam-ong-ceh sudah disebar-luaskan di dunia Kangouw, masakah pamor kita masih dapat dipertahankan?&#8221; tanya Ki Pi-ceng dengan heran.</p>
<p>&#8220;Betul, sebab sampai saat ini, berita yang tersiar itu hanya terbatas pada percakapan orang di tepi jalan saja dan belum ada orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri catatan dalam buku Giam-ong-ceh itu, jadi pada umumnya orang Kangouw masih diliputi kesangsian, setengah percaya setengah ragu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika menurut penuturanmu, jadi masih ada setitik harapan, &#8220;kata Ki Pi-ceng. &#8220;Apa maksudmu hendak mengajak aku berangkat bersama sekarang juga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, &#8220;jawab Ji Tok-ho. &#8220;Ku tahu tempat sembunyi si tua bangka Tangkwik Ko, bila beruntung, bisa jadi kita akan menemukan mereka di sana.&#8221;</p>
<p>Biji mata Ki Pi-ceng berputar, katanya tiba-tiba, &#8220;Tidak, aku perlu pulang dulu ke gunung&#8221;</p>
<p>&#8220;Pulang ke gunung?&#8221; Ji Tok-ho menegas dengan heran. &#8220;Ada urusan apa yang bisa lebih penting daripada pergolakan yang ditimbulkan oleh berita Giam-ong-ceh itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan ku kurung dulu Cu Lui-ji di sana, sebab anak dara itu telah dibawa pulang ke gunung oleh Hay Tong-jing atas perintahku&#8221; tutur Ki Pi-ceng. &#8220;Jika anak dara itu tetap dalam genggaman kita, tentu akan besar manfaatnya untuk kita gunakan sebagai alat pemeras terhadap Ji Pwe-giok&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian boleh kutemani kau pulang ke gunung dulu, habis itu barulah kita bersatu untuk membikin perhitungan dengan mereka&#8221; kata Ji Tok-ho.</p>
<p>Ki Pi-ceng mengangguk setuju, segera mereka meninggalkan gua di bawah tanah itu.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Mungkin disebabkan pikiran yang sedang resah dan hati gelisah, maka ketika Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho meninggalkan ruangan gua itu dan masuk ke lorong, mereka ternyata tidak memergoki Cu Lui-ji bertiga yang bersembunyi di sekitar situ.</p>
<p>Lui-ji bertiga segera menyusul ke situ setelah Ji Tok-ho masuk ke lorong itu tidak lama kemudian, sebab itulah semua percakapan antara Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho dapat didengar oleh mereka, mereka mendekam di tempat sembunyinya dan tidak berani bergerak sedikitpun, bahkan bernapas tidak berani keras-keras.</p>
<p>Sekarang, setelah bayangan Ji Tok-ho dan Ki Pi-ceng menghilang di ujung lorong sana, demi menjaga segala kemungkinan, mereka bertiga masih terus mendekam sekian lamanya di tempat sembunyi itu, setelah semuanya terasa aman barulah pelahan mereka berdiri.</p>
<p>Hay Tong-jin menghentakkan kaki ke tanah dan berucap dengan menyesal, &#8220;Sungguh aku menyesal! Aku menyesal mengapa aku mempunyai guru sekotor ini? Aku menyesal mengapa tidak sejak dulu kuketahui rahasia mereka&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita boleh dikatakan sangat mujur&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Untung mendadak timbul semacam firasatku dan tidak langsung ikut kau ke gunung, tapi memutar balik ke sini. Kalau tidak, tentu sampai saat ini kita masih tidak tahu apa-apa, jelas akupun akan dijadikan sandera oleh mereka&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk mengobrol, kita harus lekas-lekas meninggalkan lorong ini,&#8221; kata Thi-hoa-nio. &#8220;Apapun juga kita harus berdaya untuk mengadakan kontak dengan Ji-kongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi siapakah yang tahu dimana jejak mereka sekarang?&#8221; ujar Lui-ji dengan sedih, hampir saja mengucurkan air mata.</p>
<p>&#8220;Bukankah tadi Ji Hong-ho gadungan itu mengatakan Ji-kongcu sangat besar kemungkinan berada di tempat kakek Ko?&#8221; tukas Thi-hoa-nio. &#8220;Maka bolehlah kita mengusut dan mencarinya melalui garis petunjuk ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi siapa pula yang tahu letak tempat kediaman kakek Ko?&#8221; sela Hay Tong-jing. &#8220;Mencari sesuatu yang tidak jelas kan sama saja seperti omong kosong?&#8221;</p>
<p>Seketika semangat Lui ji terbangkit, katanya, &#8220;Mari, kita keluar dulu dari lorong pengap ini, apapun juga kita harus berusaha mendahului menemukan Toako, kalau tidak, tentu dia akan terjebak oleh kelicikan musuh.&#8221;</p>
<p>Segera mereka mempercepat langkah menuju ke lubang keluar lorong itu. Mereka sudah tidak menghiraukan lagi bahaya apa yang mungkin timbul.</p>
<p>000OO000</p>
<p>Kabut telah menyelimuti lereng-lereng gunung yang terjal dan berderet-deret. Indah sekali pemandangan alam ini.</p>
<p>Tidak lama kemudian kabut pagi itupun buyar, sang surya sudah terbit, di bawah cahayanya yang gilang gemilang tertampak puncak gunung menjulang tinggi menghijau segar, pepohonan lebat masih basah oleh embun dilingkupi awan tipis laksana kepulan asap&#8230; Sungguh pemandangan permai seperti tempat kediaman malaikat dewata dalam dongeng.</p>
<p>Terdengar suara gemuruh air terjun, di pinggang gunung sana yang berkumandang hingga jauh, selain itu lereng gunung ini boleh dikatakan sunyi senyap.</p>
<p>Pada saat itulah, di tengah semak pepohonan yang rindang di kaki gunung sana muncul dua sosok bayangan kelabu, kedua orang itu sama memiliki Ginkang kelas satu, mereka terus berlari, dengan cepat sepanjang jalan melayang dan meloncat dengan enteng sekali, melintasi gunung dan memanjat puncak, menyeberangi sungai dan menyusuri kali, hanya sebentar saja mereka sudah melayang tiba di tempat air terjun yang gemerojok dengan kerasnya!.</p>
<p>Pemandangan di sekitar air terjun terlebih permai, batu karang yang beraneka ragamnya, tebing yang curam dengan dinding yang berlumut dan air pun berhamburan dari atas sana.</p>
<p>Kedua sosok bayangan orang itupun turun dari puncak sana dan berhenti tidak jauh di depan air terjun.</p>
<p>Kedua orang ini bukan lain daripada Tangkwik Ko dan Hong Sam.</p>
<p>Setelah memandang sekitarnya sejenak, lalu Tangkwik Ko berkata, &#8220;Ya, betul, inilah tempatnya. Pasti di sini, tidak nanti dia bersembunyi di tempat lain.&#8221;</p>
<p>Hong Sam kelihatan sangat kagum, katanya, &#8220;Sungguh suatu tempat yang indah, bilakah dia menemukan tempat tirakat sebagus ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum lama berselang, tanpa sengaja dia bercerita tentang tempat baik ini,&#8221; tutur kakek Ko dengan tertawa &#8220;Kecuali diriku, di dunia ini mungkin tidak ada orang lain lagi yang tahu akan tempat ini.&#8221;</p>
<p>Hong Sam lantas memandang sekitarnya dengan cermat, katanya kemudian, &#8220;Lantas dimanakah dia? Mengapa tidak kelihatan?&#8221;</p>
<p>Pada saat itulah, ditengah gemuruh suara air terjun itu mendadak berkumandang suara orang tua berteriak, &#8220;Hai, mengapa kalian seperti setan gentayangan saja, kemana pun ku pergi selalu kalian kuntit. Tempat sembunyiku yang terpencil ini akhirnya dapat kalian temukan juga.&#8221;</p>
<p>Suara itu timbul dari balik gerombol pohon cemara yang lebat sana.</p>
<p>Dari suaranya segera Hong Sam berdua dapat mengenalinya sebagai suara Tangkwik-siansing. segera mereka berlari kesana mengikuti arah suara itu.</p>
<p>Setiba di tempat, hanya sekilas pandang saja mereka lantas melihat Tangkwik-siansing lagi bersantai di atas pohon.</p>
<p>Cara bersantai kakek kurus kecil itu sangat istimewa, kedua kakinya yang kecil itu menggantol pada dahan pohon, kepalanya menjungkir ke bawah sehingga wajahnya tertutup seluruhnya oleh jenggotnya yang panjang, apabila orang melihatnya secara mendadak, mustahil kalau tidak menyangka ketemu siluman.</p>
<p>&#8220;Eh, semangat kau orang tua benar-benar harus dipuji, tampaknya dari tua telah kembali muda sehingga berhasrat main ayun-ayunan di tempat tersembunyi ini,&#8221; dengan tertawa Hong Sam berseloroh.</p>
<p>&#8220;Kalau berminat, boleh juga kaupun naik kemari untuk mencobanya,&#8221; jawab Tangkwik-siansing. &#8220;Aku berani menjamin, inilah cara bersantai yang paling menyenangkan apabila kau habis berlatih kungfu.&#8221;</p>
<p>Sungguh Hong Sam ingin tertawa, sedangkan kakek Ko hanya berdiri disamping sambil menggeleng-geleng kepala.</p>
<p>Mendadak Tangkwik-siansing mengayun tubuhnya, sekali melejit, seperti putaran roda saja, belum lagi orang sempat melihatnya bagian mana kepalanya dan bagaimana kakinya, tahu-tahu ia sudah melayang turun dan berdiri tegak di depan Hong Sam.</p>
<p>&#8220;He, dimanakah saudaraku?&#8221; seru Hong Sam dengan tak sabar lagi.</p>
<p>&#8220;Untuk apa kau tegang begini? ujar Tangkwik-sian-sing, &#8220;Memangnya kalian kuatir kubunuh dia dan kurampas harta bendanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekalipun kami berpendapat begitu juga tidak keterlaluan,&#8221; ujar Hong Sam. &#8220;Coba jawab apa maksudmu merampas Po-in-pay, lalu menghantam bocah itu hingga mencelat, memangnya semua itu bermaksud baik? Dapatkah kau sangkal semua fakta ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru itulah peraturanku yang khas dan sudah berlaku sejak dulu,&#8221; teriak Tangkwik-siansing. &#8220;Barang siapa ingin belajar kungfuku, maka dia harus kucoba dengan Bu-siang-si-kang, supaya ku tahu sampai dimana tingkat kekuatannya menahan pukulanku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Busyet!&#8221; seru Hong Sam. &#8220;Masakah pakai dicoba dengan pukulan segala?&#8230; Sungguh aneh dan ajaib, di dunia ini ternyata ada cara menerima murid dengan syarat selucu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apanya yang aneh? Apanya yang lucu? Kau sendiri yang sedikit pengalaman dan dangkal pengetahuan, maka segalanya kau rasa aneh,&#8221; omel Tangkwik-siansing dengan mencibir. &#8220;Padahal waktu kucoba dia hanya kugunakan tiga bagian tenaga ku saja, apabila dia tidak cukup memenuhi syarat, tentu kontan dia akan mati ku pukul. Tapi bocah itu memang lain daripada yang lain, sekumur darah saja tidak tumpah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, tidak perlu banyak membual lagi,&#8221; si kakek Ko menyeletuk, &#8220;Yang penting sekarang, Ji-kongcu berada di mana?&#8221;</p>
<p>Tangkwik-siansing menuding ke arah air terjun dan berkata, &#8220;Di balik air terjun itu ada sebuah panggung batu alam, di sanalah dia berduduk untuk berlatih&#8221;</p>
<p>Hong Sam merasa heran, tanyanya, &#8220;Air terjun sekeras itu dengan suara gemuruh terus menerus tanpa berhenti, suaranya memekak telinga, masakah kau biarkan dia berduduk dan berlatih di sana&#8221;</p>
<p>&#8220;Tampaknya kau memang dangkal pengetahuan, makanya segala apa membuat kau heran&#8221; kata Tangkwik-siansing. &#8220;Ketahuilah, di sinilah terletak perbedaan Bu-siang-sing-kang dengan kungfu lain&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, anggaplah memang dangkal pengetahuanku, maka sekarang kuminta penjelasanmu supaya ku tahu rahasia apa di balik cara berlatih yang luar biasa ini?&#8221; kata Hong Sam.</p>
<p>Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang panjang, tuturnya kemudian, &#8220;Bu-siang-sin-kang dapat diyakinkan atau tidak bergantung kepada kekuatan batin dan kecerdasan otaknya. Apabila kekuatan batinnya sudah terpupuk dengan baik, biarpun gunung ambruk di hadapannya juga takkan membuatnya terkejut, apalagi cuma air terjun dan suaranya yang gemuruh. Jika yang berlatih tidak tahan oleh suara gemuruh yang berlangsung terus menerus, maka hal ini berarti kekuatan batinnya belum cukup, kalau kekuatan batin tidak kuat, berarti sukar membangkitkan kecerdasannya, ini berarti tidak memenuhi syarat untuk berlatih Bu-siang-sin-kang, sebab itulah bocah itu harus lulus dulu dari ujianku ini, habis itu baru dapat ku tentukan dia dapat berlatih Bu-siang-sing-kang atau tidak&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang apakah dia sudah memberi reaksi akan kekuatan batinnya atau belum?&#8221; tanya Hong Sam.</p>
<p>&#8220;Dia memang hebat&#8221; kata Tangkwik-siansing dengan tertawa. &#8220;Bahkan sama sekali di luar dugaanku. Kuberani bertaruh dengan siapapun, sebelum lewat tujuh hari dia pasti akan berhasil meyakinkan Bu-siang-sin-kangku&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa begitu pesat kemajuannya?&#8221; Hong Sam menegas dengan melongo.</p>
<p>&#8220;Ya, kalau orang lain, tidak mungkin berhasil secepat ini&#8221; ujar Tangkwik-siansing. &#8220;Pembawaan bocah ini memang lain daripada yang lain, ditambah lagi kegiatan berlatih secara pondasi yang telah dimilikinya sebelum ini, maka dia memang pemuda yang sukar dicari bandingannya. Cuma dalam waktu tujuh hari, siapa pun tidak boleh mengejutkan dia, kalau tidak, bukan saja Bu-siang-sin-kang akan gagal dilatihnya, akibatnya akan membuatnya mengalami kelumpuhan dan tamatlah segalanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa kami memandangnya dari jauh juga tidak boleh?&#8221; tanya Hong Sam.</p>
<p>Untuk sejenak Tangkwik-siansing melenggong, katanya kemudian, &#8220;Baiklah, kalau tidak kululuskan permintaanmu, bisa jadi kau masih mencurigai diriku telah membunuh dan merampas harta bendanya.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Cara bagaimana si kakek Tangkwik-sianseng menggembleng dan mengajarkan Bu-siang sin kang kepada Pwe giok?</p>
<p>Bagaimana pula nasib Cu-Lui-ji yang berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng alias Bak giok Hujin?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1626/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1626&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/14/imbauan-pendekar-14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 13</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/13/imbauan-pendekar-13/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/13/imbauan-pendekar-13/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 01:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1622</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Sdr. Bagusetia, Kunamisme, dan Velovia) &#8220;Dia cukup sehat, sepanjang tahun tidak pernah sakit, masuk angin saja tidak pernah, mana bisa sakit?&#8221; &#8220;Kalau bukan meninggal sakit, habis&#8230; apakah&#8230;apakah terbunuh orang?&#8221; tanya Auyang liong dengan ragu. &#8220;Betul, dia mati terbunuh,&#8221; jawab Hi Soan. &#8220;Padahal senjata The-tocu, sepasang Ji-goat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1622&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Sdr. Bagusetia, Kunamisme, dan Velovia)</p>
<p>&#8220;Dia cukup sehat, sepanjang tahun tidak pernah sakit, masuk angin saja tidak pernah, mana bisa sakit?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau bukan meninggal sakit, habis&#8230; apakah&#8230;apakah terbunuh orang?&#8221; tanya Auyang liong dengan ragu.<br />
<span id="more-1622"></span><br />
&#8220;Betul, dia mati terbunuh,&#8221; jawab Hi Soan. &#8220;Padahal senjata The-tocu, sepasang Ji-goat lun (gada bulan dan matahari) konon adalah ajaran langsung mendiang Tonghong-sengcu, selama berpuluh tahun tidak pernah ketemu tandingan, siapa ada yang mampu membunuhnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa lagi kalau bukan Hu-patya!&#8221; sahut Hi Soan.</p>
<p>Seketika air muka Auyang Liong berubah pucat dan tidak bersuara lagi.</p>
<p>Hi soan berucap pula, &#8220;Tahun yang lalu waktu Hu patya merayakan ulang tahun, kartu undangannya tersebar ke Ci-sah-to, karena itu The Hian lantas bekerja giat, dia menyelam ke dasar laut selama tiga hari dan barulah didapatkan setangkai bunga karang setinggi tiga kaki, Diam-diam ia bergirang ia anggap kadonya ini umpama tidak dapat melebihi orang lain, sedikitnya akan dapat memuaskan Hu-patya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo!&#8221; Auyang Liong terkesiap.</p>
<p>&#8220;Seterima kado itu, Hu-patya tidak memberi komentar apapun, ia hanya membawa The Hian ke sebuah kamar, didalam kamar itu tidak ada barang lain, isinya melulu bunga karang, setiap bunga karang sedikitnya lima kaki tingginya,&#8221; Hi Soan menghela nafas, lalu menyambung, &#8220;Melihat itu, hati The Hian terasa dingin, benarlah, setetes arak saja Hu-patya tidak memberinya minum, tapi langsung mengantar dia angkat kaki, malahan beliau sendiri yang mengantar The Hian hingga jauh ke luar kota.</p>
<p>&#8220;O, dan kemudian bagaimana?&#8221; tanya Auyang Liong.</p>
<p>&#8220;Kemudian The hian langsung pulang ke rumah. tapi begitu sampai dirumah dia lantas tumpah darah dan roboh, sampai dia sendiripun tidak tahu mengapa bisa terluka. Ia hanya ingat waktu Hu-patya hendak berpisah setelah memberi soja (hormat dengan kedua kepalan di depan dada) dan saat itu juga dia merasa dadanya rada panas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berapa hari dia hari sampai&#8230;sampai dirumah?&#8221; tanya Auyang Liong.</p>
<p>&#8220;Tujuh hari, daerah yang ditumpahkannya hampir sebaskom penuh dan malam itu juga dia meninggal.&#8221;</p>
<p>Auyang Liong berdiam sejenak dengan wajah kelam, gumamnya kemudian, &#8220;Lihay benar Pek-poh-sin-kun (pukulan sakti seratus langkah), bukan saja dapat mencelakai orang tanpa kelihatan dan baru kambuh lukanya setelah lewat tujuh hari. Tampaknya nama kebesaran Hu-patya memang bukan omong kosong belaka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap orang Kangouw sama tahu ilmu pukulan sakti Hu-patya tiada tandingannya,&#8221; kata Hi Soan dengan gegetun. &#8220;siapapun tahu bila ada yang mengirim kado tidak cocok dengan seleranya, maka sukarlah terhindar dari suatu pukulannya, apa yang tersiar ini tidak omong kosong.&#8221;</p>
<p>Seketika Auyang Liong memandang, menatap di atas gerobaknya dan tidak dapat bersuara lagi.</p>
<p>&#8220;Karena sudah ada contoh yang terjadi di atas diri The Hian, maka kado yang harus ku sediakan tahun ini tidak dapat sembarangan kukirimkan kata Hi Soan pula. &#8220;Begitu menerima kartu undangannya, segera ku mulai mencari dan sampai saat ini belum lagi mendapatkan kado yang sekiranya dapat memuaskan hati Hu-patya. Padahal hari ulang tahun Hu-patya sudah dekat, coba bagaimana baiknya kalau menurut pendapat Pangcu?&#8221;</p>
<p>Baru sekarang Pwe-giok paham duduknya perkara, diam-diam iapun merasa serba runyam, di dunia ini memang tidak sedikit orang mencari keuntungan pada saat-saat tertentu, seperti ulang tahun, perkawinan dan hajat lain, tapi cara Hu-patya yang bertindak sewenang-wenang ini sungguh jarang terdengar, caranya ini jelas jauh lebih ganas dan kejam daripada kaum perampok dan pembegal di tengah jalan.</p>
<p>Iapun tahu Pek-poh-sin-kun adalah ilmu pukulan Siau-lim-pay yang tidak diajarkan kepada orang lain, jadi Hu-patya ini mungkinkah murid Siau-lim-si dari keluarga orang preman?</p>
<p>Hi Soan dan Auyang Liong adalah tokoh kelas satu di dunia Kangouw, kalau merekapun sedemikian ketakutan, dengan sendirinya Hu-patya yang dimaksudkan itu bukanlah tokoh sembarangan, Tapi seketika Pwe-giok tidak ingat siapakah gerangan Hu-patya ini?</p>
<p>Dilihatnya Auyang Liong terdiam sekian lamanya, katanya kemudian dengan perlahan. &#8220;Betapa tertekan perasaan Tosu saat ini dapat juga kurasakan, cuma saja, menjaga diri sendiri saja sukar, terpaksa aku tidak dapat memberi bantuan apa-apa kepada Tocu.&#8221;</p>
<p>Gemerdep sinar mata Hi Soan, iapun sedang mengawasi barang muatan di atas pedati, jengeknya, &#8220;Jika demikian jadi Pangcu juga belum berhasil mendapatkan kado yang sesuai?&#8221;</p>
<p>Auyang Liong menyengir, ucapnya, &#8220;Kado sih sudah ku sediakan, cuma tidak diketahui apakah memenuhi selera Hu-patya atau tidak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, janganlah Pangcu berkelakar,&#8221; ujar Hi Soan dengan tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa, lalu melototi Auyang Liong, katanya pula, &#8220;Di depan kaum ahli tidak perlu omong kosong. Kalau saja kado Pangcu tidak dapat memenuhi selera Hu-patya, lalu kado siapakah yang dapat memuaskan beliau?&#8221;</p>
<p>Seketika air muka Auyang Liong berubah, katanya, &#8220;Memangnya kau sudah tahu kado apa yang hendak kupersembahkan kepada Hu-patya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tahu sekedarnya,&#8221; ucap Hi Soan dengan tenang.</p>
<p>&#8220;Jadi sepanjang jalan kau selalu mengintai di belakangku?&#8221; bentak Auyang Liong.</p>
<p>&#8220;Sepanjang jalan telah dilalui Pangcu dengan aman dan tenteram, sampai di sini satu maling kecil saja tidak ku pergoki, barangkali inilah kemahiran Pangcu menyembunyikan dan mengelabuhi mata orang,&#8221; kata Hi Soan. Dia menengadah dan tergelak, lalu sambungnya. &#8220;Padahal, biarpun seorang maling kecil yang masih hijau juga dapat melihat barang muatan pedatimu pasti bukan bahan obat-obatan segala&#8230;Haha, di dunia ini mana ada bahan obat-obatan seberat ini?&#8221;</p>
<p>Mendadak Auyang Liong mendengus, &#8220;Hmmm.. seumpama ada sementara maling kecil yang lamur dan bermaksud mengincar barang muatan pedati ini, rasanya juga aku tidak perlu takut padanya.</p>
<p>&#8220;Eh, tahulah Pangcu bahwa sepanjang jalan orang she Hi telah banyak membantu mengawasi Pangcu ke sini, entah berapa banyak penjahat yang sedikitnya juga sudah berkeringat&#8230;&#8221; dia tertawa lalu melanjutkan, &#8220;makanya kedatanganku ini adalah ingin minta sekedar persen pada Pangcu, tentunya takkan Pangcu tolak bukan?&#8221;</p>
<p>Sekalipun Auyang Liong ini seorang tolol juga sekarang dapat menangkap apa maksud ucapan Hi Soan itu.</p>
<p>Sekarang dia lantas bersabar malah, jawabnya kemudian, &#8220;O, jangan-jangan yang dikehendaki Tocu adalah gerobak ini?&#8221;</p>
<p>Hi Soan menghela nafas, katanya, &#8220;Kalau kukatakan memang rikuh, soalnya memang terpaksa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, akan kuberikan kepadamu,&#8221; kata Auyang Liong, mendadak ia mendorong gerobaknya ke depan, langsung menumbuk Hi Soan.</p>
<p>Namun sebelumnya Hi Soan sudah berjaga akan kemungkinan ini, sebelum tertumbuk dia sudah melompat ke atas lebih dulu, &#8220;creng&#8221;, pedang segera dilolosnya. Di tengah gemerdepnya sinar pedang, segera ia menusuk Auyang Liong.</p>
<p>Hui hi kiam khek, si pedang ikan terbang, sudah lama terkenal sebagai jago pedang paling cepat di lautan selatan, serangan ini sungguh cepat luar biasa, reaksinya cepat, caranya meloloskan pedang juga cepat, serangan yang dilancarkan terlebih-lebih cepat.</p>
<p>Tapi Auyang Liong sempat mendak ke bawah, sekali tangan menarik, mantel ijuk yang dipakainya terus menyambar ke depan untuk menangkis tusukan pedang Hi Soan.</p>
<p>Kiranya mantel ijuk yang dipakaiannya ini bukanlah ijuk sungguh-sungguh melainkan terbuat dari benang emas hitam dan tidak mempan ditembus senjata, inilah senjata andalannya yang sudah terkenal, untuk menyerang senjatanya ini mungkin agak lamban, tapi untuk berjaga boleh dikatakan sangat efektif.</p>
<p>Maka terdengarlah suara &#8220;creng-cring&#8221; beberapa kali, lelatu api meletik ketika ujung pedang bersentuhan dengan mantelnya.</p>
<p>Waktu Auyang Liong memutar mantelnya, dengan dahsyat ia sabet ke arah Hi Soan, serentak di bawah mantel itupun memancar berpuluh bintik cahaya, langsung menyerang dada lawan, dibalik mantelnya tersembunyi pula senjata rahasia sungguh serangan yang keji dan sangat lihay, sejak Auyang Liong terkenal, belum pernah ada lawan yang sanggup menghindarkan serangan ini.</p>
<p>Siapa tahu, mendadak bayangan orang berkelebat, kembali Hi Soan mengapung lagi ke atas sinar pedang melingkar di udara, tahu-tahu ia sudah berada di belakang Auyang Liong. Inilah gerakan &#8220;ikan terbang&#8221; andalan Hi Soan.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, sudah terlambat bagi Auyang Liong untuk membalik tubuh, sinar pedang sudah terbenam dipunggungnya, tokoh perairan ini memang tidak seharusnya meninggalkan air, kalau ikan meninggalkan air jelas akan mati di daratan.</p>
<p>Sungguh Pwe-giok tidak nyana, tidak sampai tiga jurus Auyang Liong sudah tewas di bawah pedang Hi Soan, padahal ia sendiri belum lagi mengambil keputusan apakah mesti ikut campur urusan ini atau tidak dan tahu-tahu Auyang Liong sudah mati.</p>
<p>Dilihatnya Hi Soan lagi mencabut pedangnya sambil menghela nafas panjang, gumamnya, &#8220;Auyang pangcu, sebenarnya dia tidak ingin kubunuh kau, tapi kalau tidak kubunuh kau berarti aku sendiri yang harus mati. Jadi janganlah kau sesalkan diriku, yang harus disesalkan ialah Hu-patya&#8230;&#8221;</p>
<p>Sembari bergumam ia terus siap mendorong gerobak roda satu tadi.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak seorang berseru, &#8220;Kawan satu haluan asal melihat mendapat bagian, Mayat bagianmu, gerobak serahkan padaku!&#8221;</p>
<p>Suaranya lantang, kedengarannya masih jauh, tapi begitu kata terakhir terucapkan, tahu-tahu orangnya sudah berada di depan Hi Soan, sampai Hi Soan sendiri tidak tahu cara bagaimana orang muncul di situ. Hanya terdengar suara &#8220;tring-tring&#8221; dua kali, suara nyaring seperti bunyi keleningan dan orang itupun sudah berada di depannya seakan tumbuh dari bawah tanah.</p>
<p>Pwe-giok tidak dapat melihat air muka Hi Soan hanya diketahuinya bahwa melihat orang ini, seketika tubuh Hi Soan seolah-olah lantas mengkeret sebagian, menegakkan leher saja tidak berani, apalagi membusungkan dada.</p>
<p>Gerak tubuh orang ini sangat cepat, tapi perawakannya tinggi besar, cuma bagian punggung membonggol, ternyata dia seorang bungkuk.</p>
<p>Melihat sikap Hi Soan yang ketakutan itu serta melihat bentuk tubuh orang bungkuk ini, mendadak Pwe-giok ingat pada semboyan yang pernah didengarnya, &#8220;Apabila keleningan unta berbunyi, jiwa akan melayang seketika&#8221;. Jangan-jangan orang ini adalah &#8220;Hui-toh&#8221; (unta terbang) It Kun, seorang tokoh yang sederajat dengan Lo-cinjin, Oh-lolo dan lain-lain.</p>
<p>Dilihatnya Hi Soan tetap menyapa dengan mengiring senyum, &#8220;Sudah belasan tahun It-cinjin tidak pernah muncul di daerah Tionggoan, beruntung hari ini dapat berjumpa, sungguh beruntung&#8230;&#8221;</p>
<p>Tapi It Kun sama sekali tidak menggubrisnya sorot matanya yang tajam terus mengincar muatan di atas gerobak roda satu itu.</p>
<p>Hi Soan berusaha mengalingi gerobak itu, kalau bisa gerobak itu akan disulapnya menjadi kecil dan disembunyikannya.</p>
<p>Mendadak It Kun melayang ke dekat gerobak, sekali tangannya bekerja, barang muatan di atas gerobak diobrak-abriknya sehingga kelihatanlah sebuah kotak besi.</p>
<p>Mata Hi Soan seakan-akan menyemburkan api, tapi dia tidak berani merintangi perbuatan orang.</p>
<p>Terlihat It Kun telah mengangkat kotak besi itu dan dibuka, dipandangnya sekejap isi kotak, lalu menengadah dan terbahak-bahak, katanya. &#8220;Hahahaha! Bagus, bagus&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, tidak bagus, tidak bagus!&#8230;&#8221; Hi Soan menukas, &#8220;Isinya cuma beberapa potong patung batu saja, dimana kebagusannya belum lagi kau ketemukan, masa It-cinjin tertarik oleh beberapa potong batu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kau bilang tidak bagus, boleh kau berikan padaku saja,&#8221; ujar It Kun dengan tertawa.</p>
<p>Hi Soan jadi melengak, ia tidak dapat mengelak lagi, tapi berkata dengan gelagapan, &#8220;Barang-barang ini tidak berharga, apabila&#8230;apabila It Cinjin suka, biarlah lain hari ku pesankan beberapa pasang patung perempuan cantik ukiran ahli pahat terkenal di kota raja, kujamin pasti jauh lebih indah dan bernilai daripada beberapa potong orang-orangan batu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, aku tidak suka barang lain, hanya menyukai beberapa patung ini,&#8221; kata It Kun dengan tertawa.</p>
<p>Hi Soan mengusap keringat, katanya, &#8220;Akan&#8230;akan tetapi&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak It Kun mendelik, bentaknya, &#8220;Hampir tidak pernah kubuka mulut minta sesuatu kepada siapapun, kau berani bicara keras kepadaku, memangnya kau hanya takut pada Pek-boh-sin-kun Hu Lopat dan tidak gentar kepada Tui-hong-ciangku?&#8221;</p>
<p>Hi Soan tampak mandi keringat, sudah diusap masih terus mengucur, ia menunduk dan memandangi pedang sendiri, seperti ingin melabrak orang tapi ragu-ragu.</p>
<p>It Kun mendengus, &#8220;Konon pedangmu sangat cepat, bahwa kau dapat menjadi pemimpin lautan selatan, tentu sedikit banyak kau mempunyai kemampuan. Marilah mari, boleh coba-coba kau tusuk aku satu-dua kali, takkan kusalahkan perbuatanmu.&#8221;</p>
<p>Hi Soan menggreget, katanya, &#8220;Jika demikian terpaksa ku turut saja kehendak It-cinjin.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara pedang lantas menusuk, menghadapi saat gawat yang menyangkut mati hidupnya dengan sendirinya ia menyerang sepenuh tenaga, terlihat sinar pedang berkelebat, tahu-tahu ujung pedang itu menyambar ke tenggorokan It Kun.</p>
<p>Tapi It Kun tetap berdiri di tempatnya dengan tegak seakan-akan menganggap serangan lawan seperti permainan anak kecil saja.</p>
<p>Diam-diam Hi Soan bergirang, ia pikir bila pedang sudah dekat, jangan harap akan dapat kau hindarkan.</p>
<p>Siapa tahu, pada saat terakhir itu, sekonyong-konyong It Kun mengangkat tangannya, secepat kilat jarinya menjepit. Betapa cepat gerakan pedang Hi Soan, gerak tangan It Kun ternyata lebih cepat, hanya dengan dua jari saja batang pedang Hi Soan sudah terjepit.</p>
<p>Keruan Hi Soan terkejut, ia putar mata pedangnya dan bermaksud melukai jari lawan, siapa tahu jepitan It Kun itu ternyata lebih kuat daripada tanggam, meski Hi Soan sudah mengerahkan segenap tenaganya pedang tetap tidak dapat bergerak.</p>
<p>Mendadak terdengar It Kun tertawa panjang, tangannya menyendal pelahan dan pedang itu sudah berpindah ke tangan It Kun, bahkan patah menjadi dua.</p>
<p>&#8220;Hahaha!&#8221; It Kun bergelak tertawa. &#8220;Besok lusa barulah tiba hari ulang tahun Hu-lopat, sedangkan esok pagi sudah tiba hari ulang tahunku kini akupun ketularan penyakit Hu-lopat, barang siapa tidak mengirim kado padaku akan kubunuh dia. Nah, kado ini akan kau berikan padaku tidak, katakanlah, terserah kepada keputusanmu!&#8221;</p>
<p>Muka Hi Soan tampak pucat seperti mayat, satu kata saja tidak mampu bersuara.</p>
<p>Mendadak seorang menanggapi dengan tertawa, &#8220;Esok baru tiba hari ulang tahun Anda, padahal hari ini juga sudah tiba hari lahirku, kukira lebih dulu kado ini kudu diberikan padaku.&#8221;</p>
<p>Di tengah gelak tertawanya seorang muncul dari balik batu karang sana dengan tenang, pakaiannya kotor, tapi tidak kelihatan miskin dan jelek.</p>
<p>Terkejut juga It Kun, selama berpuluh tahun belum pernah ada orang berani bicara demikian dihadapannya. Sinar matanya menyapu pandang sekejap pada pendatang ini, lalu mendengus dengan gusar. &#8220;Diberikan padamu? Hm, memangnya kau ini orang macam apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe Ji Pwe-giok, berjuluk pendekar pedang paling gagah di dunia&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, tertawalah it Kun, katanya &#8220;Hahahaha, pendekar pedang paling gagah?</p>
<p>Haha, selama hidupku banyak juga melihat orang yang bermuka tebal, tapi belum ada seorang pun yang melebihi kau.&#8221;</p>
<p>Hi Soan juga merasa kaget dan geli, cuma tak dapat tertawa.</p>
<p>Sesudah berhadapan baru dirasakan Pwe-giok bahwa perawakan It Kun memang sangat tegap, meski bungkuk, tetap lebih tinggi satu kepala daripada Pwe-giok, dandanannya juga nyentrik, bukan pertapa, bukan preman, panjang jubahnya yang mirip jubah kaum Tosu juga kepalang tanggung, hanya sebatas lutut. Suara tertawanya lantang seperti bunyi genta, nyaring memekak telinga, jelas tenaga dalamnya juga luar biasa, pantas Hui hi kiam khek yang malang melintang di lautan selatan juga ketakutan padanya.</p>
<p>Tapi Pwe-giok seperti tidak pandang sebelah mata kepada orang ini, dengan tersenyum ia berkata, &#8220;Serupa Anda, akupun akan marah barang siapa tidak memberi kado padaku.&#8221;</p>
<p>Suara tertawa It Kun seketika berhenti, dengan mata terbelalak ia pandang Pwe-giok, seperti selama hidup tidak pernah melihat makhluk seaneh ini. Pandang sejenak barulah ia bergelak tertawa dan berkata pula, &#8220;Hahaha! Bagus, boleh coba kau marah padaku, ingin ku tahu cara bagaimana kau marah.</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Begitu kata &#8220;baik&#8221; terucapkan, mendadak ujung kakinya mencungkit, pedang patah di tanah telah diungkitnya ke atas dan disambarnya. &#8220;Sret.. serentak ia menusuk ke arah It Kun.</p>
<p>Sama sekali Hi Soan tidak menyangka anak muda ini benar-benar berani menyerang It Kun, dilihatnya tusukan pedang patah itu sangat enteng tak bertenaga, gerakannya juga tidak cepat. Ia yakin dengan mudah saja It Kun pasti dapat membikin pedang kutung itu terpental.</p>
<p>Siapa tahu, bukannya menangkis, tapi sebaliknya It Kun terdesak mundur dua tiga langkah oleh tusukan itu, bahkan berkaok-kaok, &#8220;Aha, tak tersangka kau anak busuk ini memang mempunyai sedikit kepandaian.&#8221;</p>
<p>Hi Soan jadi melengak. masa permainan pedang yang lamban mendapatkan pujian dari It Kun.</p>
<p>Tertampak sinar pedang terus menyambar, meski tidak terlalu cepat, tapi terus menerus dan tidak terputus, sudah belasan kali Pwe-giok menusuk It Kun tidak melakukan serangan balasan.</p>
<p>Walaupun Hi Soan juga seorang ahli pedang tapi sudah sekian lama ia mengikuti pertarungan ia merasa tidak melihat sesuatu daya serangan yang lihai pada ilmu pedang Pwe-giok itu, bahkan jurus apa yang digunakannya juga tidak dikenalnya.</p>
<p>Tapi didengar It Kun memuji terus menerus, &#8220;Baik, bagus, anak muda, seperti kau inilah baru dapat dianggap pemain pedang yang sesungguhnya. Kalau ada manusia lain yang tidak becus, hanya putar pedang seperti anak kecil juga menandakan dirinya ahli pedang dan menjadi pimpinan suatu aliran, maka julukanmu sebagai pendekar pedang paling gagah di dunia memang tidak terlalu berlebihan.&#8221;</p>
<p>Meski dia tidak tunjuk hidung dan menyebut namanya, tapi siapa yang disindirnya cukup jelas bagi Hi Soan. Meski dia tidak berani membantah, tapi dalam hati penuh rasa penasaran, maka berulang ia mendengus.</p>
<p>Ia menyangka dengusannya itu takkan didengar oleh It Kun, tak tahunya mata telinga It-Kun benar-benar tajam dan luar biasa, sekali lompat mendadak ia mendekat Hi Soan dan bertanya, &#8220;Apa yang kau denguskan? Memangnya kau kira ilmu pedangmu terlebih tinggi daripadanya?&#8221;</p>
<p>Hi Soan tidak tahan, ia menjawab, &#8220;Cayhe memang tidak tahu dimana letak kehebatan ilmu pedangnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, jika kau dapat melihat dimana letak kebagusan ilmu pedangnya, maka berarti ilmu pedangnya tidak bagus lagi. Sama halnya seorang pemusik mahir, kalau pendengarnya bukan seorang peminat seni musik, tentu juga takkan tahu dimana kebagusannya.&#8221;</p>
<p>Tidak kepalang dongkol Hi Soan, mendadak ia melompat maju, dia jadi lupa bahwa Pwe-giok berdiri satu garis dengan dia, tapi segera ia melancarkan dua kali pukulan terhadap anak muda itu.</p>
<p>Pwe-giok juga tidak menyangka orang ini berwatak sedongol ini, melihat pukulan yang cukup dahsyat ini, terpaksa ia putar pedangnya melabrak ke belakang.</p>
<p>Dia menebaskan pedangnya sekenanya, akan tetapi bagi Hi Soan terasa sukar ditahan hawa pedang yang tajam itu sekujur badannya seketika seperti terkurung ditengah hawa pedang, sukar ditembus dan sulit pula menarik diri.</p>
<p>Beberapa kali dia berganti serangan dan akhirnya dapatlah dia lolos dari kurungan hawa pedang lawan, tapi tidak urung pundaknya keserempet juga oleh ujung pedang, meski tidak terluka, namun baju sudah robek.</p>
<p>It Kun bergelak tertawa, katanya, &#8220;Nah, sekarang apakah kau tahu dimana letak kebagusan ilmu pedangnya?&#8221;</p>
<p>Muka Hi Soan sebentar merah sebentar pucat, mendadak ia memberi hormat kepada Pwe-giok dan berucap, &#8220;Ilmu pedang Anda memang jauh lebih hebat dari padaku, sungguh aku menyerah kalah&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, boleh juga kau ini, sedikitnya kau masih mau mengaku salah dan menyerah kalah, &#8220;Kata It Kun.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya sudah lama kudengar di dunia Kangouw muncul seorang anak muda yang bernama sama dengan putera Ji-bengcu, selama tiga bulan saja telah banyak melakukan hal-hal yang menggemparkan,&#8221; kata Hi Soan.</p>
<p>Pwe-giok tersenyum, ucapnya, &#8220;Berita dunia Kangouw ternyata cepat juga tersiar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Konon ilmu silat Ji-kongcu ini tidak lemah, juga ramah tamah, rendah hati dan prihatin,&#8221; kata Hi Soan pula.</p>
<p>It Kun bergelak tertawa, katanya, &#8220;Haha, menurut pendapatku, ramah tamah dan prihatin memang cocok bagi orang lain, tapi tidak sesuai bagimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo, maksudmu?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Habis, seorang kalau berani mengaku sebagai pendekar pedang paling gagah di dunia, apakah orang ini ramah tamah dan rendah hati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang tidak cocok,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Nah, meski ilmu pedangmu tidaklah rendah, tapi sekarang masih bukan tandinganku,&#8221; kata It Kun pula.</p>
<p>&#8220;Betul, dalam 300 jurus, meski aku tidak sampai kalah, tapi juga sukar untuk menang,&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Tidak bisa menang berarti kalah,&#8221; kata It Kun.</p>
<p>&#8220;Selewatnya 30-0 jurus jelas kau pasti kalah, tapi tampaknya kau ingin bergebrak denganku, apakah orang demikian terhitung prihatin segala?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap orang tentu bisa berubah,&#8221; ujar Pwe-giok dengan tertawa. &#8220;Dan diriku sekarang sudah bukan diriku yang kemarin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kan baik-baik saja, kenapa bisa berubah?&#8221; tanya It Kun.</p>
<p>Pwe giok berdiam sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan, &#8220;Sebab sekarang aku mendadak menjadi sangat terkenal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Manusia takut ternama, babi takut gemuk masakah kau lupa pada kiasan ini? Semakin besar namamu, semakin banyak orang yang akan mencari perkara padamu dan semakin cepat pula kematianmu, apa gunanya terkenal?&#8221;</p>
<p>Kembali Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Justeru kuharap dicari orang.&#8221;</p>
<p>It Kun menggeleng kepala, &#8220;Turutlah pada nasehatku, lebih baik kau pulang saja dan hidup aman tenteram dirumah, tidaklah jelek kupandang dirimu, maka tidak ingin ku celakai kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Asalkan kau serahkan kotak besi ini padaku, segera aku akan angkat kaki,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Gemerdep sinar mata It Kun, tanyanya, &#8220;Apakah kau tahu apa isi kotak ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak tahu,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Habis untuk apa kau minta kotak ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak untuk apa-apa.&#8221;</p>
<p>It Kun menjadi melenggong, &#8220;Kalau tidak untuk apa-apa, perlu apa pula kau minta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena kalian sama menghendakinya, kenapa aku tidak boleh memintanya?&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Seketika It Kun menarik muka, &#8220;Kiranya kau sengaja mencari perkara padaku.&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, kembali kedua orang saling gebrak lagi.</p>
<p>Sampai di sini, bahkan Hi Soan juga menganggap Pwe-giok tidak waras, malah cukup parah penyakitnya. Maka ia berharap pertarungan kedua orang akan berakhir dengan sama menggeletak, maka kotak besi itu dapat dimilikinya lagi.</p>
<p>Dengan sabar ia menonton di samping. Selang cukup lama, ia merasa sinar pedang Pwe-giok sudah mulai guram, sebaliknya angin pukulan It Kun bertambah dahsyat.</p>
<p>Di bawah ketiak It Kun masih mengempit kotak besi tadi, namun tidak menghalangi gerak-geriknya, dari sini terbukti bahwa sesungguhnya belum sepenuh tenaga dia melayani Ji Pwe-giok. Sungguh Hi Soan tidak habis mengerti untuk apakah anak muda itu sengaja cari gara-gara, bukan mustahil cari mampus malah.</p>
<p>Dilihatnya It Kun sudah hampir dapat mengalahkan Pwe-giok, siapa tahu, pada saat itulah anak muda itu seperti membisikkan sesuatu pada It Kun, Hi Soan tidak tahu apa yang dikatakannya, hanya dilihatnya It Kun terus berjumpalitan ke belakang, lalu dipandangnya Pwe-giok dengan mata terbelalak dan muka pucat, bahkan badan raga gemetar.</p>
<p>Lagi-lagi Hi Soan tercengang. Sungguh aneh, mengapa tokoh bungkuk ini mendadak bisa berubah menjadi begini?</p>
<p>Selang sejenak, dengan suara gemetar It Kun berkata, &#8220;Se&#8230;sesungguhnya siapa kau? Dari&#8230;darimana kau tahu urusan ini?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok hanya memandangnya dengan diam, apapun tidak diucapkannya.</p>
<p>Tertampak butiran keringat sebesar kedelai menghiasi dahi It Kun. Sampai sekian lama lagi barulah dia menghela nafas panjang, lalu berkata, &#8220;Sudah 29 tahun, lewat 17 hari lagi genaplah 29 tahun. Sungguh tak tersangka masih ada orang ingat akan peristiwa ini, masih ada orang tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Masakah kau sendiri sudah melupakan peristiwa ini?&#8221; tanya Pwe-giok tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Sangat kuharapkan dapat melupakannya, cuma sayang, selamanya sukar melupakannya,&#8221; kata It Kun.</p>
<p>&#8220;Kalau kau sendiri tidak dapat melupakannya, mana bisa orang lain melupakannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan&#8230;akan tetapi urusan ini tidak diketahui oleh siapa-siapa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bila tidak ingin diketahui orang lain, kecuali diri sendiri jangan berbuat, dan bukankah aku telah mengetahuinya?&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan kau dan urusan ini ada&#8230;ada hubungannya?&#8221; tanya It Kun.</p>
<p>&#8220;Setiap orang di dunia ini, asalkan berperasaan tentu dia ada hubungannya dengan urusan ini,&#8221; jawab Pwe-giok dengan hambar.</p>
<p>Mendadak It Kun menengadah dan bergumam &#8220;Ya, akupun tahu utang ini cepat atau lambat harus kulunasi.&#8221;</p>
<p>Mendadak ia menghentakkan kakinya ke tanah dan berteriak dengan parau, &#8220;Tak perduli siapa kau aku hanya minta diketahui olehmu bahwa aku It Kun bukanlah manusia yang tidak mau bayar hutang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kedatanganku juga bukan untuk menagih utang, aku cuma menghendaki keinsafanmu dan memperbaiki kesalahanmu,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>IT Kun bergelak pula, ucapnya, &#8220;Jika aku tidak menyesali kesalahanku, begitu kau berani menyinggung peristiwa itu, tentu sejak tadi sudah kubunuh kau.&#8221;</p>
<p>Perlahan ia menaruh kotak besi yang dikempitnya itu ke tanah, lalu menghela nafas pula dan berkata. &#8220;Sekali salah langka, menyesal selama hidup&#8230;&#8221; sampai di sini, mendadak tangannya menghantam kepala sendiri dan robohlah dia.</p>
<p>&#8220;Sekali salah langkah, menyesal selama hidup,&#8221; Pwe-giok bergumam mengulang kata-kata itu, mendadak hatinya merasa pedih dan tertekan.</p>
<p>Perbuatan salah yang dilakukan seorang dalam sekejap harus ditebus dengan jiwa selama berpuluh tahun ini, bukankah hal ini rada kurang adil dan rada kejam?</p>
<p>Jika It Kun tidak punya perasaan menyesal, di memang tidak perlu menebus dosanya dengan membunuh diri. Kalau dia sudah mau menyesal, kenapa kesalahannya tidak dapat diampuni?</p>
<p>Pwe-giok berdiri dengan menunduk kepala, gumamnya, &#8220;Apakah salah tindakanku?&#8230;Salahkah tindakanku?&#8230;&#8221;</p>
<p>Hi Soan terkesima menyaksikan apa yang terjadi itu baru sekarang ia bertanya, &#8220;Sesungguhnya apa yang pernah diperbuatnya?&#8221;</p>
<p>Mendadak Pwe-giok mengangkat kepalanya dan menjawab dengan bangis, &#8220;Kenapa kau tidak tanya pada dirimu sendiri telah berbuat salah apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku?&#8221; Hi Soan melenggong.</p>
<p>&#8220;Demi beberapa potong patung mainan yang tak berarti ini lantas kau bunuh orang, inilah perbuatanmu yang salah,&#8221; seru Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Kalau tidak kubunuh dia, tentu aku yang akan dibunuhnya, sebab itulah terpaksa kubunuh dia, yang kuat hidup, yang lemah mati, inilah hukum dunia persilatan,&#8221; kata Hi Soan. &#8220;Sebagai orang Kangouw, soal mati hidup tidak pernah ku risaukan. Jika kaupun sudah berkecimpung di dunia Kangouw, pada suatu hari tentu kaupun akan membunuh orang, kenapa kau pandang mati hidup segawat ini?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok termenung agak lama, setelah menghela nafas panjang, kemudian berkata, &#8220;Mungkin ucapanmu memang benar, sebagai orang Kangouw, mati atau hidup seharusnya tidak perlu dipikir lagi, akan tetapi&#8230;jika kau tidak takut mati, kenapa kau takut kepada Hu-patya tersebut?&#8221;</p>
<p>Muka Hi Soan menjadi merah, ucapnya, &#8220;Orang yang tidak takut mati, bisa juga&#8230;bisa juga takut pada setan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masakah dia itu setan?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Menurut pandanganku, dia lebih menakutkan daripada setan,&#8221; kata Hi Soan dengan gegetun. Lalu sambungnya, &#8220;Orang ini she Hu (kaya), maka di belakangnya orang Kangouw suka bilang dia &#8220;kaya tapi tidak mulia&#8221;, tapi dihadapannya tidak seorang pun berani menyebutkan poyokannya ini. Pernah satu kali seorang salah omong, baru keluar dari pintu rumah Hu-patya, kontan dia tumpah darah dan roboh binasa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;He, dia mempunyai seorang isteri yang dipanggil sebagai Hu-pat-naynay (nyonya besar Hu) bukan?&#8221; tanya Pwe-giok tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Betul, konon Hu-patnaynay ini seorang nyonya yang baik hati dan bijaksana, hidup prihatin dan bersujud kepada Buddha, selamanya tidak suka kepada bunuh membunuh, sebab itulah orang yang dibinasakan Hu-patya selalu terjadi setelah meninggalkan pintu rumahnya.&#8221;</p>
<p>Gemerdep sinar mata Pwe-giok, gumamnya, &#8220;Ah, ingatlah aku&#8230; akhirnya kuingat juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau ingat apa?&#8221; tanya Hi Soan.</p>
<p>Pwe-giok tidak menjawabnya, ia hanya tertawa dan berkata, &#8220;Orang ini cukup menarik, akupun ingin berkunjung padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menarik?&#8230;&#8221; seru Hi Soan. &#8220;O, masakah kau bilang orang ini cukup menarik?&#8230; Nanti kalau sudah berhadapan dengan dia barulah kau tahu dia tidak menarik.&#8221;</p>
<p>Ketika matanya mengerling kotak besi tadi air mukanya lantas berubah, katanya pula, &#8220;Tapi disini hanya tersedia kado ini, jika&#8230;jika kaupun ingin berkunjung kesana&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh kau antarkan kadomu dan aku akan pergi menurut keinginanku sendiri,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;tapi seorang yang tidak membawa kado, cara&#8230;cara bagaimana dapat masuk ke rumahnya?&#8221; ujar Hi Soan.</p>
<p>Kembali Pwe-giok tertawa, katanya. &#8220;Aku tidak perlu membawa kado, sebab aku hanya pengiringmu, seorang Ciangbunjin dengan kado berharga ini, kan pantas jika membawa seorang pengiring?&#8221;</p>
<p>o-o-ooO0Ooo-o-o</p>
<p>Tempat tinggal Hu patya itu bernama &#8220;Ge-sik-wan&#8221; atau taman asyik.</p>
<p>Di dunia ini, hartawan yang rakus dan pelit justeru sok menganggap diri sendiri paling hebat, hidupnya paling senang, maka kediaman &#8220;Ge-sik-wan&#8221; inipun dibangun serupa kompleks perumahan orang kaya umumnya, bangunannya sangat kukuh, sangat luas, seperti hendak didiami oleh beberapa ratus tahun lamanya, ia lupa bahwa hidupnya paling-paling cuma beberapa puluh tahun, sesudah mati harus ditanam, tanah yang diperlukan paling-paling juga cuma tujuh kaki.</p>
<p>Tapi semua itu tidak ada sesuatu yang istimewa, yang aneh adalah penghuni perumahan ini. Begitu masuk pintu halaman, segera kelihatan banyak centeng, tempat kediaman kaum hartawan tentu saja banyak centengnya, hal inipun tidak perlu heran. Yang aneh adalah centeng ini meski semuanya lelaki dan juga berilmu silat, tapi gaya jalannya kelihatan berlenggak-lenggok, mirip anak perempuan.</p>
<p>Kedatangan Hi Soan dan Pwe-giok telah disambut oleh dua orang, yang satu tinggi dan yang lain pendek, yang pendek ini bermuka putih dan berjerawat, yang terus menerus dipandang justeru Ji Pwe-giok, pandangannya itu lebih mirip anak gadis yang sedang mata dengan kekasihnya.</p>
<p>Memang sudah sering Pwe-giok mendapat main mata dari anak perempuan, tapi lelaki main mata padanya baru pertama kali ini terjadi. Sungguh tidak kepalang gemas Pwe-giok, ingin sekali dia mencolok biji mata si pendek ini.</p>
<p>Sedangkan si jangkung berdiri dengan bertolak pinggang dan seperti sedang menegur Hi Soan. &#8220;Siapakah kau ya? Ada keperluan apa ya?</p>
<p>Suaranya kecil dan setengah melengking, waktu bicara pinggangnya juga berlenggak-lenggok, kalau mukanya tidak ada akar janggut, mungkin sukar orang membedakan dia ini lelaki atau perempuan.</p>
<p>Hi Soan berdehem, lalu menjawab, &#8220;Cayhe Hi Soan dari laut selatan, khusus datang untuk menyampaikan selamat ulang tahun kepada Hu patya.&#8221;</p>
<p>Dengan lagak genit si jangkung berseru, &#8220;Oo! Kiranya Hi-tayciangbun ya. dan kadonya sudah kau bawa belum ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kado sudah tersedia, mohon Koankeh (pengurus rumah tangga) sudi melaporkannya,&#8221; ucap Hi Soan.</p>
<p>Tiba-tiba si jangkung melirik Pwe-giok dan berkata pula, &#8220;Dan siapakah yang ini ya? Untuk apa pula kemari ya?&#8221;</p>
<p>Setiap kalimat ucapannya selalu disertai dengan kata &#8220;ya&#8221;, suaranya ditarik panjang sehingga membikin tidak enak telinga yang mendengarkannya, sungguh Pwe-giok ingin sekali jotos merontokkan giginya.</p>
<p>Anehnya Hi Soan yang berwatak berangasan itu setiba di sini mendadak berubah menjadi sabar, sedikitpun tidak berani memperlihatkan rasa kurang senang, dengan tertawa ia menjawab, &#8220;Dia bernama Hi Ji, pengiringku, berharap Koankeh suka banyak memberi petunjuk padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiranya Hi-jiko ya?&#8221; kata si jangkung dengan tertawa genit, &#8220;Ai, cakap ya? Entah sudah beristri belum ya?&#8221;</p>
<p>Mendadak si pendek mendekat dan memegang tangan Pwe-giok, ucapnya dengan terkikik, &#8220;Silahkan Tay-ciangbun masuk dan memberi selamat kepada Patya, Hi-jiko ini boleh tinggal di sini untuk mengobrol dengan kami.&#8221;</p>
<p>Tangan si pendek ini terasa basah dan lengket, Pwe-giok merasa seperti disentuh benda cair seperti riak kental. Hampir saja ia muntah.</p>
<p>Syukurlah pada saat itu juga muncul lagi satu orang yang berseru, &#8220;Patya dengar Hi-tayciangbun datang, silahkan masuk bersama kado yang dibawa.&#8221;</p>
<p>Cepat Hi soan menukas, &#8220;Baik, baik, segera Cayhe menghadap beliau!&#8221;</p>
<p>Segera ia mendahului melangkah ke dalam, setelah naik ke undak-undakan baru menoleh dan berseru, &#8220;Eh, Hi Ji, kenapa tidak lekas bawa kemari kado kita itu.&#8221;</p>
<p>Maka legalah Pwe-giok akhirnya Hi Soan telah membebaskan dia dari kerumunan si jangkung dan si pendek.</p>
<p>Tampaknya si pendek merasa berat melepaskan tangan Pwe-giok, dia titip pesan pula, &#8220;Sebentar jangan lupa keluar dan mencari diriku ya, namaku si genit!&#8221;</p>
<p>Tidak kepalang dongkol Pwe-giok, kalau bisa dia ingin menempelengnya beberapa kali, lalu didepaknya pula. Tanpa menghiraukan segera ia ikut Hi Soan ke ruangan besar sana.</p>
<p>Di tengah pendopo itu sudah berduduk beberapa orang, semuanya kelihatan angker, pakaian merekapun mentereng, jelas semuanya berkedudukan dan terhormat. Tapi di sini jelas kelihatan mereka serba salah, duduk tidak tenang, berdiripun tidak enak.</p>
<p>Tepat ditengah ruangan besar itu sudah dipajang tempat duduk kehormatan yang empunya hajat, dan yang duduk di situ dengan sendirinya ialah Hu-patya dan Hu-pat-naynay. Tuan rumah yang termasyhur ini ternyata seorang kakek yang berbentuk aneh.</p>
<p>Sebenarnya dia juga punya hidung, punya mata, tidak bungkuk, tidak pincang, telinganya juga satu di kanan dan satu di kiri, hidungnya juga tidak pesek dan tidak mancung. Cuma, entah mengapa rasanya tidak sedap dipandang.</p>
<p>Hu-patnaynay, si nyonya rumah, jelas kelihatan seorang nyonya yang anggun, hanya mukanya terlalu banyak dipoles pupur.</p>
<p>Semakin tua usia seorang perempuan, semakin banyak pula pupur yang diperlukan, ini soal biasa dan jamak, jika muka perempuan di dunia ini tidak berkeriput dan tidak hitam, maka pembuat pupur di dunia ini mungkin sudah bangkrut semua.</p>
<p>Setiba di ruangan tengah, meski Hi Soan ingin berlagak sebagai seorang pemimpin, seorang ketua suatu perguruan, tapi tubuhnya justeru sukar ditegakkan, terpaksa ia membungkuk tubuh dan menyampaikan hormat kepada tuan rumah, katanya. &#8220;Wanpwe Hi Soan dari Lam-hay khusus datang menyampaikan selamat ulang tahun kepada Pat-ya, semoga Pat-ya panjang umur, banyak rejeki, tambah Hokkhi.&#8221;</p>
<p>Hu-patya tampak acuh tak acuh, ucapnya, &#8220;Wah, bikin repot juga padamu datang dari jauh, duduk, silahkan duduk.&#8221;</p>
<p>Ketika Hi Soan menyodorkan kotak besi yang dibawanya, segera wajah Hu-patya bertambah cerah, apa lagi setelah kotak itu dibuka, senyuman lantas menghias wajahnya. Dia memegang sebuah patung orang-orangan sepanjang satu kaki lebih, dipandangnya dengan cermat patung itu, lalu diraba-raba, setelah senyuman bertambah lebar, matapun hampir terpejam, berturut-turut ia mengucapkan belasan kali &#8220;bagus, bagus&#8221;.</p>
<p>Lalu ia tepuk pundak Hi Soan dan berkata, &#8220;Bagus bagus sekali. Silahkan duduk, silahkan duduk ditempat utama. Syukurlah kau dapat menemukan kado sebaik ini untukku, tempat duduk utama dalam perjamuan ini pastilah bagianmu.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini tidak cuma membuat Hi Soan seakan-akan anak yang mendadak mendapat pujian, bahkan tetamu lain sama merasa heran dan juga penasaran.</p>
<p>Maklumlah, setiap orang yang menyampaikan selamat ulang tahun kepada Hu-patya tidak dibedakan tinggi rendahnya kedudukan, juga tidak ditentukan oleh tua mudanya umur, barang siapa mengantar kado paling berharga, dia yang akan menduduki tempat paling terhormat. Inilah peraturan yang tidak tertulis, tapi diketahui setiap orang.</p>
<p>Meski tempat duduk utama itu tidak akan memberi imbalan apa-apa yang lebih berarti, tapi orang persilatan paling suka pada kehormatan, asalkan mendapat muka, urusan lain tak terpikir lagi.</p>
<p>Apalagi orang yang bisa menerima kartu undangan Hu-patya pasti bukan orang miskin, yang hadir ini kalau bukan ketua sesuatu aliran dan golongan terkemuka tentu juga pemimpin sesuatu perusahaan pengawalan besar dan gembong bandit terkenal, semuanya mencari kado dengan susah payah, yang diharapkan adalah menggirangkan hati Hu-patya, sekaligus juga menonjolkan muka sendiri di depan orang banyak.</p>
<p>Jadi kado yang diantar para tetamu ini tiada satupun yang tidak bernilai, semuanya sangat berharga dan sukar dicari, satu diantaranya mengantar kado 18 biji Ya-beng-cu, mutiara sebesar gundu yang bercahaya di waktu malam.</p>
<p>Seorang lagi mengantar sebuah Kiu-liong-pwe, cangkir kemala berukir sembilan naga. Pada waktu mendung, cangkir ini akan berubah menjadi kelam, jika hari cerah, warna cangkir inipun gemilang. Air yang tertuang ke dalam cangkir akan berubah menjadi arak.</p>
<p>Kedua benda mestika ini sekalipun didalam istana raja juga tidak dapat ditemukan, tapi sekarang mereka telah digunakan sebagai kado ulang tahun Hu-patya, walaupun terasa berat, tapi juga bergembira, sebab mereka mengira kado sendiri pasti akan mengalahkan kado orang lain, bila tersiar, tentu namanya akan semakin menonjol.</p>
<p>Siapa tahu, sekarang Hi Soan hanya memberikan kado beberapa patung orang-orangan dan benda mestika mereka lantas terkalahkan, padahal mereka tidak tahu dimana letak kebagusan patung-patung kecil itu.</p>
<p>Begitulah semua orang bertanya-tanya di dalam hati, sementara itu perut merekapun bertambah lapar.</p>
<p>Kiranya sudah lama tiba waktunya makan, padahal mereka jauh-jauh datang kemari, minum saja belum disuguhi, dan kini perut pun sudah lapar, mereka berharap selekasnya tuan rumah akan menjamunya.</p>
<p>Siapa tahu tiada sedikitpun tanda Hu-patya akan membuka perjamuan, sebaliknya ia malah memejamkan mata, seperti tertidur. padahal perut semua orang sudah berkeroncongan, tapi siapakah yang berani ribut?</p>
<p>Untung Hu-patnaynay sedikit banyak masih punya perasaan, diam-diam ia memanggil seorang pesuruh dan berpesan padanya. &#8220;Waktu makan Loyacu belum tiba, sedangkan para tetamu yang datang dari jauh ini tentu sudah lapar, coba tanya ke dapur, adakah makanan kecil yang enak, boleh keluarkan dulu sekedar untuk ganjal perut para tetamu.&#8221;</p>
<p>Mendengar ini, hati semua merasa lega, seketika mereka merasa Hu-patnaynay ini dua puluh tahun lebih muda, makin dipandang makin manis.</p>
<p>Selang tak lama benarlah ada dua orang membawa senampan makanan yang masih panas. Dipandang dari jauh bentuknya sangat menarik, tapi sesudah dekat baru diketahui bahwa isi kedua nampan ini adalah ketela rebus.</p>
<p>Kalau ketela rebus digolongkan &#8220;makanan kecil yang enak&#8221;, maka segala macam ubi di dunia ini tentu juga terhitung makanan lezat.</p>
<p>Tampaknya Hu-patnaynay juga merasa rikuh, terpaksa ia berucap, &#8220;Meski makanan kecil ini tidak begitu baik, kuharap kalian sudilah makan seadanya, sebab tidur Patya ini entah berlangsung hingga kapan, kalau kalian terlambat mengisi perut, bisa masuk angin.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu para tokoh persilatan ini tidak pernah makan ketela rebus, tapi mengingat waktu perjamuan masih belum ada kepastiannya, maka mau tak mau mereka harus isi perut seadanya.</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok merasa geli dan juga mendongkol. Dilihatnya Hu-patnaynay sedang tertawa, ia menjadi kuatir kalau-kalau labur pada wajah nyonya rumah akan rontok semua. Kalau labur pada mukanya rontok, entah bagaimana bentuknya, sesungguhnya ia tidak berani membayangkannya.</p>
<p>Untung pupur Hu-patnaynay itu dilabur dengan lapisan lebar itu tidak sampai terkelupas.</p>
<p>Waktu ia pandang para tokoh dunia persilatan itu, biasanya mereka sudah bosan makan ikan dan daging, tapi sekarang ketela rebus itupun disikatnya dengan lahap.</p>
<p>Sehabis makan ketela, semua orang merasa haus dan terpaksa minum air sebanyaknya, mendingan tidak minum air, sekali minum air satu-dua mangkuk, seketika perut mereka sama kembung dan sesak nafas.</p>
<p>Banyak orang diantaranya yang cukup encer otaknya dapat memahami maksud tujuan Hu-patya, mereka sengaja dijejali ketela rebus, sebentar kalau santapan lezat disuguhkan, tentu perut mereka sudah tidak ada tempat luang lagi dan terpaksa harus melotot memandangi tuan rumah makan sendirian.</p>
<p>Karena itulah, beberapa orang yang lebih cerdik itu segera berhenti makan setelah melalap satu dua biji ketela rebus itu, mereka lebih suka menahan lapar sebentar lagi.</p>
<p>Dugaan mereka ternyata tidak keliru, setelah perut tetamunya kembung, segera Hu-patya mendusin dan berulang mendesak, &#8220;Ayo, siapkan perjamuan! Para tetamu tentu sudah lapar, kenapa tidak lekas dimulai, tunggu apa lagi?&#8221;</p>
<p>Diam-diam beberapa orang yang lebih cerdik tadi merasa geli, mereka menganggap orang yang terlanjur makan ketela itu orang tolol, sebentar bila perjamuan dimulai, terpaksa orang-orang yang kenyang ketela itu hanya akan menyaksikan orang lain makan minum belaka. Beberapa orang cerdik ini bertambah gembira ketika diketahui hidangan pertama yang diantarkan adalah Hay-hong-hi-sit (kepet ikan masak telur kepiting).</p>
<p>Betapa sedapnya masakan ini, tidak perlu makan, cukup memandang warnanya saja sudah bisa membikin mereka mengiler.</p>
<p>Maka orang yang sudah kenyang ketela tadi menjadi menyesal, yang belum banyak makan ketela mulai mengedip mata, mereka hanya menunggu komando tuan rumah saja, sekali diberi aba-aba, kontan Hay-hong-hi-sit itu akan segera diserbu.</p>
<p>Bukan cuma hidangannya yang tergolong kelas satu, malah arak yang segera disuguhkan juga arak simpanan berpuluh tahun. Begitu poci arak ditaruh di atas meja, serentak bau arak yang merangsang tercium oleh para tetamu.</p>
<p>Maka orang-orang yang terlanjur kenyang ketela tadi merasa gembira pula, mereka pikir meski tuan rumah yang pelit ini telah menjejal perut mereka dengan ketela, tapi arak enak tentu dapat minum beberapa cawan lagi.</p>
<p>Terlihat Hu-patya mengangkat poci arak, dan dia mengendus dulu isi poci itu, mendadak ia berkata dengan serius, &#8220;Wah, arak adalah cairan tajam yang dapat merantas usus, minum arak lebih banyak celaka daripada faedahnya, sedangkan para hadirin adalah tamu undanganku, jauh-jauh kalian mengantar kado padaku, mana boleh ku bikin susah kalian malah? Tidak bisa&#8230;jelas tidak bisa&#8230;..&#8221;</p>
<p>Segera ia memberi tanda dan berseru, &#8220;Ayo, lekas isi cangkir para tetamu dengan sirup, juga jangan terlalu banyak sirupnya, kalau terlalu banyak makan gula, gigi cepat rusak.&#8221;</p>
<p>Semua orang saling pandang dengan melongo. Orang yang gemar minum arak tadi sudah tergelitik ingin membasahi kerongkongannya dengan arak sedap itu, tapi sekarang hampir saja mereka tumpah darah saking gemasnya.</p>
<p>Sebaliknya Hu-patya lantas menuang cawan sendiri, yang dituangnya adalah arak, lebih dulu ia mencium bau arak itu, lalu bergumam, &#8220;Ehm, alangkah sedapnya arak simpananku ini. Aku sudah tua, sudah bosan hidup, seumpama mati keracunan arak juga tidak menjadi soal&#8230;Eh, marilah mari, ku suguh dulu satu cawan kepada kalian&#8230;Ayo, minum lagi satu cawan!&#8221;</p>
<p>Orang yang suka minum arak hanya dapat menyaksikan orang lain minum arak enak, sedangkan yang diminumnya adalah air sirup, bagaimana rasa dongkolnya tentu dapat dibayangkan.</p>
<p>Setelah beberapa cawan arak masuk perut, wajah Hu-patya tampak cerah, ia tertawa dan berkata, &#8220;Sirup tentu saja jauh lebih enak daripada arak&#8230;, Hahaha, mari-mari, silahkan makan!&#8221;</p>
<p>Sejak tadi beberapa orang yang lebih cerdik itu memang lagi menunggu &#8220;komando&#8221; tuan rumah, maka belum lenyap Hu-patya menarik muka dan membentak, &#8220;He, siapa yang mengantarkan makanan ini? Apakah sengaja bikin celaka orang.&#8221;</p>
<p>Hati beberapa orang cerdik itu seketika mencelos lagi demi mendengar ucapan yang tidak beres itu.</p>
<p>Seseorang merasa tidak tahan, dengan tersenyum ia tanya. &#8220;Memangnya dimana ketidak beresan hidangan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa kalian tidak tahu?&#8221; ujar Hu-patya.</p>
<p>&#8220;Makanan berminyak kurang baik bagi kesehatan, bikin gemuk dan menyumbat pembuluh darah, lebih-lebih kaum persilatan kita, bila terlalu banyak makan barang berminyak, umpama tidak bikin perut mules, akibatnya akan membikin gemuk badan. Dan bila badan sudah gemuk, gerak-gerik tentu tidak leluasa&#8230;&#8221; ia merandek, lalu menyambung pula, &#8220;kalau gerak-gerik kurang leluasa, jika bergebrak dengan orang, sedikit banyak kungfunya pasti akan berkurang pula. Sedangkan kalian datang dari jauh untuk mengucapkan selamat padaku, bila terjadi apa-apa setelah makan hidanganku, kan aku yang berdosa kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Dia bicara seperti beralasan, bahkan jujur dan terus terang, malahan seperti sangat bersimpati terhadap orang lain, meski para tamunya sangat mendongkol, tapi juga tidak dapat membantah.</p>
<p>Karena itulah, Hu-patya lantas mengangkat satu porsi besar Hay-hong-hi-sit itu ke depan sendiri, katanya dengan menyesal, &#8220;Jika yang makan kakek semacam diriku tentu tidak menjadi soal, sebab aku kan sudah bosan hidup dan hampir masuk liang kubur, apa yang perlu kutakuti?&#8221;</p>
<p>Begitulah sambil minum arak dan makan Hi-sit, berulang-ulang ia menyatakan rasa penyesalannya, &#8220;Ai, kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang mau masuk neraka, Demi para sahabatku, biarpun aku memikul dosa bagi mereka juga pantas. Eh, silahkan kalian minum sirup, boleh tambah lagi jika kurang.&#8221;</p>
<p>Semua orang saling pandang dengan melongo dan terbelalak, meski di mulut tidak berani bicara, tapi didalam hati semua orang hampir mati kaku saking gemas terhadap orang pelit ini.</p>
<p>Baru sekarang Pwe-giok tahu artinya istilah &#8220;orang kaya tidak mulia&#8221; itu. Sudah banyak juga dilihatnya orang serakah, iapun tahu orang yang tamak harta tentu pula pelit, tapi orang kaya pelit semacam Hu-patya ini sungguh ia tidak tahu cara bagaimana lahirnya.</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang menanggapi dengan tertawa, &#8220;Sahabat baik harus ada rejeki dinikmati bersama, ada kesulitan ditanggung bersama, dosa yang kau tanggung sudah terlalu banyak, biarlah akupun ikut memikulnya sebagian.&#8221;</p>
<p>Apa yang diucapkan orang ini sama juga apa yang dipikirkan oleh orang banyak, kini orang ini telah mewakilkan mereka menyatakan isi hatinya, tentu saja mereka merasa senang. Tapi diam-diam merekapun berkuatir bagi orang ini, bahwa ada orang berani bicara demikian di hadapan Hu-patya, barang kali orang ini sudah bosan hidup.</p>
<p>Air muka Hu-patya tampak berubah, &#8220;brak mendadak ia gabrukkan sumpitnya ke meja dan mendengus, &#8220;Selama hidupku tidak punya sahabat, semua sahabatku sudah lama mati. Memangnya siapa kau?&#8221;</p>
<p>Terdengar orang itu menjawab dengan tertawa &#8220;Siaute sengaja datang buat mengucapkan selamat hari jadinya Hu-patko, belum lagi bertemu muka kenapa Patko sudah menyumpahi diriku?&#8221;</p>
<p>Waktu pertama kali dia bicara orang lain merasakan orangnya sudah berada di sekitar situ, tapi belum kelihatan mukanya, dan sekarang waktu bicara untuk kedua kalinya, semua orang berbalik merasa dia berada di tempat jauh. Tapi begitu kata terakhir terucapkan, tahu-tahu di depan pintu sudah muncul sesosok bayangan orang.</p>
<p>Perawakan orang ini sangat tinggi dan kurus, pakaiannya berwarna ungu bukan, hijau bukan, kelabu pun tidak, ikat pinggangnya berwarna kuning jingga dan terselip sebatang pedang berbentuk antik. Kepalanya memakai sebuah caping, begitu lebar caping ini sehingga mirip sebuah baskom yang menutupi hampir seluruh mukanya, orang lain tidak dapat melihat bagaimana bentuk wajahnya, tapi dia dapat melihat orang lain dengan jelas.</p>
<p>Agaknya Hu-patya sudah dapat mengenali pendatang ini, sampai sikap Hu-patnaynay juga rada berubah, untung mukanya berpupur tebal sehingga perubahan air mukanya sukar dilihat orang lain.</p>
<p>Si jubah hijau berpedang antik ini mendekati Hu-patya dengan langkah berlenggang, katanya dengan tertawa, &#8220;Eh, kenalan lama datang dari jauh, masakah Patko tidak menyilahkan duduk?&#8221;</p>
<p>Air muka Hu-patya berubah kelam seperti telapak sepatu, ucapnya, &#8220;Ya, duduk, silahkan duduk.&#8221;</p>
<p>Entah beberapa banyak kata &#8220;duduk&#8221; yang diucapkannya tapi badannya tidak bergerak sedikitpun.</p>
<p>&#8220;Ah, pahamlah aku,&#8221; kata pula si jubah hijau, &#8220;menurut peraturan Patko, untuk mendapatkan tempat duduk harus memberi kado dulu, orang yang tidak membawa kado bukan saja tidak disediakan tempat duduk, sebaliknya pantatnya mungkin akan di depak hingga luluh.</p>
<p>Dia tepuk-tepuk bajunya, lalu berkata pula. &#8220;Celakanya Siaute justeru lupa membawa kado, wah, bagaimana baiknya?&#8230;Aha, betul, seperti kata orang, sekedar angpau sebagai tanda hormat, meski kecil nilainya, tapi besar artinya. Betul tidak?&#8221;</p>
<p>Ia terus merogoh saku, tapi digagap-gagap, sampai sekian lamanya, akhirnya dikeluarkannya secarik kertas kumal, entah kertas bekas apa, tapi kertas kumal itu terus disodorkan kepada Hu-patya, katanya dengan tertawa, &#8220;Eh, entah kadoku ini cukup berbobot atau tidak?&#8221;</p>
<p>Kini air muka Hi Soan juga berubah kelam, orang mengantar bunga karang sebagai kado saja akibatnya pulang sampai dirumah terus mati tumpah darah, sekarang orang ini memberikan secarik kertas kumal dan katanya juga kado, mustahil kalau kepala orang ini tidak dihancurkan oleh Hu-patya.</p>
<p>Tapi keanehan segera terjadi. Hu-patya justeru manggut-manggut dan berkata. Ya, cukup, sudah cukup&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Patko bilang cukup, kan Siaute pantas diberi tempat duduk untuk ikut memikul dosa bagimu,&#8221; kata si jubah hijau. Habis berkata, mendadak sebelah tangannya terjulur, kuduk salah seorang tamu seketika dicengkeramnya.</p>
<p>Padahal tamu itu berjuluk &#8220;Poan-cat-san&#8221; atau setengah gunduk gunung, dari nama julukannya dapat dibayangkan betapa besar tubuhnya dan betapa kuat tenaganya, tapi sekarang kena dicengkeram begitu saja oleh si jubah hijau, mirip elang mencengkeram anak ayam, menyusul terus dilemparkan ke luar pintu tanpa bisa melawan sedikitpun.</p>
<p>Lalu si jubah hijau terus menempati tempat duduk yang luang itu, dalam sekejap saja sisa Hay-hong-hi-sit yang baru dimakan sedikit oleh Hu-patya itu telah disikatnya hingga bersih. Kemudian ia angkat poci arak, seperti ikan paus mengirup air, arak yang mancur dari poci itu terisap seluruhnya ke dalam perut si jubah hijau.</p>
<p>Apa yang diperbuat si jubah hijau telah disaksikan oleh Hu-patya dengan diam saja tanpa bergerak sedikitpun.</p>
<p>Setelah makan dan minum, si jubah hijau mengusap mulut dan menghela napas lega.</p>
<p>&#8220;Patko, sudah lama Siaute tidak menanggung dosa sebagus ini, apa bila Patko masih ada dosa lain, biarlah kuwakilkan sekalian.&#8221; katanya dengan tertawa.</p>
<p>Maka Hu-patya tampak sebentar pucat sebentar hijau, mendadak ia menggebrak meja dan berkata, &#8220;Hm, percuma kalian mengaku sebagai tokoh dunia Kangouw, masakah melihat kedatangan Dian toaya kalian tetap duduk saja ditempat tanpa memberi hormat dan mengucap selamat?!&#8221;</p>
<p>Semula semua orang mengira sasaran kemarahan Hu-patya itu pastilah si jubah hijau, siapa tahu justeru orang lain yang dijadikan alat pelampias dongkolnya.</p>
<p>Hanya Pwe-giok saja yang diam-diam merasa geli, ia tahu &#8220;si pelit&#8221; kembali menggunakan akal licik untuk melepaskan diri dari &#8220;kewajiban, sebab sekali ia sudah marah-marah berarti telah dihematnya perjamuan selanjutnya.</p>
<p>Sejak semula Hi Soan sudah memperhatikan pedang antik yang dibawa si jubah hijau, sekarang ia lantas berbangkit dan memberi hormat, seraya berkata &#8220;Anda she Dian, entah adakah hubungan dengan Dian-toaya yang berjuluk Sin-liong-kiam-khek (pendekar pedang naga sakti) yang termasyhur dari Thian san itu.&#8221;</p>
<p>Si jubah hijau tidak menjawabnya, tapi perlahan ia menanggalkan capingnya sehingga kelihatan wajahnya yang kurus pucat, wajah ini kalau dipandang dari jauh akan kelihatan cakap, tapi bekas luka pedang atau golok pada mukanya yang menakutkan itu.</p>
<p>Serentak Hi Soan menyurut mundur dua langkah demi nampak wajah luar biasa ini. Para tamu juga sama tergetar dan berbangkit meninggalkan tempat duduknya.</p>
<p>&#8220;Ah, kiranya memang betul Dian-locianpwe sendiri,&#8221; ucap Hi Soan sambil memberi hormat lagi.</p>
<p>&#8220;Tidak berani, Cayhe memang betul Dian Liong-cu adanya,&#8221; kata si jubah hijau dengan tertawa.</p>
<p>Karena tertawa, kulit mukanya yang penuh codet itu bergerak sehingga menambah keseraman dan misteriusnya dan membikin orang tidak berani lebih lama memandang padanya.</p>
<p>Pwe-giok sudah lama mendengar orang ini adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sederajat dengan Lo-cinjin dan lain-lain, jejaknya sukar dicari dan cara turun tangannya paling ganas, Pwe-giok sendiri sudah pernah belajar kenal dengan kepandaian muridnya yang bernama Dian Ce-hun, maka sekarang iapun mencoba mengamati orang beberapa kejap.</p>
<p>Sinar mata Dian Liong-cu menyapu pandang sekeliling ruangan itu, ketika sampai pada wajah Pwe-giok, ia melototinya dengan senyum tak senyum, tanyanya, &#8220;Siapakah nama sahabat muda ini?&#8221;</p>
<p>Cepat Hi Soan mendahului menjawab, &#8220;Dia bernama Hi Ji pengiringku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo?!&#8221; Dian Liong-cu bersuara heran, &#8220;tidak nyana pemuda bertampang segagah ini adalah pengiring dan anak buah Hi-tayciangbun.&#8221;</p>
<p>Ia pandang Pwe-giok pula beberapa kejap, lalu sinar matanya beralih ke wajah Hi Soan dan bertanya, &#8220;Konon Bu-lim-pat-bi (delapan cantik dunia persilatan) telah jatuh di tanganmu entah betul tidak?&#8221;</p>
<p>Hi Soan menunduk, ucapnya dengan tergagap sambil melirik Hu-patya, &#8220;O, tentang &#8230;tentang ini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tahulah aku,&#8221; tukas Dian Liong cu sambil tertawa, &#8220;Pantas Hu-patko meladeni Anda sebagai tamu utama, kiranya Anda telah menggunakan Bu-lim-pat-bi sebagai kado.&#8221;</p>
<p>Semua orang merasa heran, masakah patung orang-orangan tadi disebut &#8220;Bu-lim-pat-bi&#8221; segala.</p>
<p>Terdengar Dian Liong-cu berkata pula, &#8220;Patko, jika kumakan minum di sini tentu akan membuat Patko seperti disayat-sayat, kalau sekarang aku cuma minta pinjam lihat Bu-lim-pat-bi, tentunya kau tidak keberatan bukan?&#8221;</p>
<p>Hu-patya hanya diam saja dengan muka kelam.</p>
<p>Mendadak Dian Liong cu menarik muka, katanya, &#8220;Aku hanya pinjam lihat saja, toh takkan membikin si cantik kehilangan secuil daging apapun?&#8221;</p>
<p>Muka Hu-patya sebentar pucat sebentar merah, mendadak ia menggebrak meja dan berseru, &#8220;Dian Liong-cu, jangan kau kira aku benar-benar takut padamu, Pek-poh-sin-kun belum tentu bisa dikalahkan oleh Yu-liong-ciang andalanmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan juga belum tentu bisa menang, begitu bukan?&#8221; tukas Dian Liong cu dengan tak acuh.</p>
<p>&#8220;Hmk!&#8221; Hu patya mendengus.</p>
<p>Dian Liong-cu manggut-manggut dengan tertawa, katanya, &#8220;Ya, sudah lama kutahu, kalau tidak yakin pasti menang, tidak nanti Patko mau berkelahi. Sebab itulah akan lebih baik Patko perlihatkan saja Bu-lim-pat-bi, aku berjanji takkan mengusiknya.&#8221;</p>
<p>Hu-patya mengertak gigi, tampaknya masih ragu.</p>
<p>Hu-patnaynay lantas menyela dengan tertawa, &#8220;Dian toaya selama bisa pegang janji, apa halangannya kalau kau perlihatkan kepadanya. Apa lagi para tamu yang hadir tentu juga ingin tahu dimana letak kebagusan Bu-lim-pat-bi yang termasyhur ini.&#8221;</p>
<p>Sampai sekian lama pula Hu-patya berpikir, akhirnya ia memberi tanda dan berseru, &#8220;Baik, ambilkan Cui-ci-boan (baskom kristal) dan isi dengan air jernih.&#8221;</p>
<p>Kembali semua orang merasa heran, untuk menonton patung kecil yang disebut Bu-lim-pat-bi itu, untuk apa disediakan air jernih segala?</p>
<p>Namanya Cui-ci boan atau baskom kristal, dengan sendirinya baskom itu tembus pandang, besarnya baskom, kira-kira dua kaki, tampak gemerlapan di bawah cahaya lampu sehingga air didalam baskom juga berkilauan.</p>
<p>Hampir setiap orang yang hadir ini adalah ahli barang antik, begitu melihat baskom kristal ini, semua lantas tahu inilah sebuah benda antik yang jarang ada bandingannya. Tapi tiada seorangpun tahu hendak diapakan baskom antik ini oleh tuan rumahnya.</p>
<p>Hu-patya menyuruh baskom itu dengan di taruh di atas meja, lalu berkata dengan perlahan, &#8220;selama 30 tahun ini, tidak sedikit muncul tokoh dunia Kangouw yang baru, tidak sedikit pula pahlawan yang ternama, tapi perempuan maha cantik yang diakui secara resmi oleh dunia Kangouw, selama 30 tahun ini hanya ada delapan orang. Meski usia dan kedudukan mereka tidak sama, tapi sejauh ini ke delapan perempuan cantik ini memang benar sangat mempesona dan membikin orang tergila-gila.&#8221;</p>
<p>Dia angkat baskom kristal itu, lalu menyambung, &#8220;Nah, kado yang diantar Hi-tocu ini adalah patung daripada ke delapan perempuan cantik tersebut.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, semua orang merasa sangat kecewa. Sebab, sekalipun patung perempuan paling cantik di dunia juga takkan menarik bagi mereka. Patung tetap patung, sungguh mereka tidak habis mengerti apanya yang menarik hanya sebuah patung benda mati.</p>
<p>Terdengar Hu-patya berkata pula, &#8220;Patung-patung ini meski tetap patung belaka, tapi berbeda daripada patung biasa. Kalau patung lain adalah benda mati, maka patung-patung ini adalah patung hidup.&#8221;</p>
<p>Sungguh aneh dan sukar dipercaya, masakah ada patung hidup di dunia ini?</p>
<p>Dalam pada itu Hu-patya telah mengeluarkan sebuah patung dan ditaruh di atas meja, lalu bertanya, &#8220;Adakah para hadirin kenal siapa dia?&#8221;</p>
<p>Tertampak patung ini memang terukir dengan sangat halus dan indah serupa orang hidup, sampai rambut dan alisnya juga begitu jelas seolah-olah dapat dihitung, wajahnya terlebih hidup ukirannya, cantiknya seperti bidadari, pakaiannya justeru berdandan sebagai gadis suku bangsa Mongol sehingga tampaknya mempunyai gaya tersendiri.</p>
<p>&#8220;Apakah nona ini yang terkenal sebagai Say-siang-ki-hoa (bunga aneh di luar perbatasan) si Ang-boh-tan (si peoni merah)&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, luas juga pengetahuanmu,&#8221; jengek Hu-patya.</p>
<p>Dian Liong-cu tersenyum, katanya, &#8220;Ang-boh-tan ini adalah isteri kesayangan tokoh utama Lama besar sekte Mi yang bergelar Ang-hun Lama, konon tidak saja lahiriahnya cantik molek, juga pembawaannya memiliki daya tarik yang menggiurkan setiap orang yang memandangnya. Cuma sayang, Ang-hun Lama adalah seorang pencemburu, isterinya ini disimpan rapat-rapat, orang luar dilarang memandangnya sekejap pun.&#8221;</p>
<p>Air muka Hu-patya tampak senang, katanya &#8220;Dan sekarang kita justeru boleh memandangnya dengan jelas.&#8221;</p>
<p>Sampai akhirnya hanya tertampak tubuhnya yang mulus, si cantik yang telanjang bulat itu timbul tenggelam didalam air, di bawah cahaya lampu yang berkilauan si cantik seolah-olah sedang menari.</p>
<p>Saking gembiranya Hi-patya berkeplok tertawa, katanya, &#8220;Ang-hun menyimpannya sebagai perempuan pingitan, barang siapa memandangnya sekejap saja akan dilabraknya, tapi sekarang kita tidak cuma memandangnya sekenyangnya, bahkan boleh mempermainkan dia sesukanya.&#8221;</p>
<p>Kebanyakan tamu yang hadir sama kesima memandangi si cantik dalam air itu, semua melongo dan ada yang hampir saja mengiler. Hanya satu dua orang saja yang dapat berpikir dengan sehat, mereka merasa jiwa Hu-patya pasti kurang beres, tapi kelainan jiwa demikian rasanya juga menghinggapi kebanyakan lelaki di dunia ini.</p>
<p>Ada pepatah yang mengatakan &#8220;hwa-pia-jong-ki&#8221; atau menggambar pia (panganan) untuk menelan lapar, yaitu cerita orang yang kelaparan dan sukar mendapatkan makanan, terpaksa melukis barang panganan sekedar mengurangi rasa laparnya dengan membayangkan betapa lezatnya sedang menikmati panganan tersebut.</p>
<p>Dalam hal patung dan lukisan perempuan cantik, hal ini memang banyak mendapat peminat kaum lelaki tertentu, terutama tidak &#8220;mampu&#8221;. Meski tahu apa yang dilihatnya itu cuma benda mati, tapi jauh lebih baik aripaa sama sekali tidak ada dan cuma berkhayal belaka.</p>
<p>Begitulah terdengar Dian Liongcu berkata dengan tertawa, &#8220;Daripada menari sendirian, kan lebih menarik jika menari berduaan, kenapa patko tidak mencarikan partner baginya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, usul bagus,&#8221; ujar Hu-patya. Ia memandang ke dalam kotak, lalu berkata, &#8220;Usia Ang-boh-tan sudah tidak sedikit, biarlah kucari seorang muda untuk menari bersama dia.&#8221;</p>
<p>Lalu mengeluarkan lagi sebuah patung dan dimasukkan ke dalam baskom, katanya dengan tertawa, &#8220;Apakah para hadirin tahu siapakah si cantik nomor satu di daerah Kanglam? Nah, sekarang juga akan kuhadapkan si cantik nomor satu daerah Kanglam dan si cantik nomor satu dari daerah perbatasan untuk menari bersama. Kecuali berada ditempatku ini, selama hidup kalian mungkin tidak ada harapan dapat menyaksikan tontonan menarik ini.&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, air muka Pwe-giok berubah hebat. Ternyata patung kedua yang dimasukkan ke dalam air itu bukan lain daripada Lim-Tay-ih.</p>
<p>Melihat &#8220;Lim-Tay-ih&#8221; sedang menari-nari didalam air, mata alisnya seperti orang hidup, sambil tersenyum dan mengerling seolang-olah sedang menuturkan penderitaannya selama ini.</p>
<p>Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia menerjang maju, meja itu terus didepaknya hingga terjungkir balik.</p>
<p>Keruan semua orang terkejut dan juga gusar, beramai-ramai mereka berlari menyingkir, mereka mengira anak muda ini mungkin sudah gila, makanya mencari kematian sendiri. Air muka Hi Soan juga pucat seperti mayat, kalau Pwe-giok berbuat sesuatu yang membikin marah tuan rumah, dia sendiri pasti ikut bertanggung jawab.</p>
<p>Hu-patya tampak terkejut juga, sungguh tak tersangka olehnya bocah ini berani main gila di hadapannya hanya Dian Liong-cu saja tetap tersenyum-senyum menghadapi Pwe-giok yang mengamuk itu, agaknya dia sudah dapat mengetahui asal-usul anak muda ini.</p>
<p>Setelah melenggong sejenak, bukannya gusar, berbalik Hu-patya lantas tertawa, katanya sambil mengangguk, &#8220;Bagus, bagus sekali! Jika kau sudah bosan hidup, kenapa tidak kupenuhi kehendakmu?&#8221;</p>
<p>Segera ia mendorong minggir meja yang terbalik itu dan membersihkan arak yang muncrat di atas tubuhnya, lalu selangkah demi selangkah mendekati Pwe-giok.</p>
<p>Mengingat betapa hebatnya Pek-poh-sin-kun tuan rumah itu, sekarang dalam keadaan murka, betapa dahsyat pukulannya sungguh sukar dibayangkan. Maka semua orang sama menyingkir agak jauh, mereka kuatir ikut terkena getahnya apa bila berdiri terlalu dekat dengan Pwe-giok.</p>
<p>Hanya Hi Soan saja yang masih punya rasa setia kawan, tampaknya dia ingin membantu Pwe-giok tapi juga ragu-ragu, Dian Liong-cu sempat pula menariknya ke samping.</p>
<p>Orang yang paling tenang adalah Ji Pwe-giok sendiri, Meski rasa gusarnya belum reda, tapi orang lain tak dapat melihat perasaannya itu. Waktu Hu-patya mendekatinya, ia tidak memapak maju dan tak menyurut mundur, dia hanya berucap dengan tak acuh, &#8220;Kau bukan tandinganku, akan lebih baik suruh istrimu saja yang maju.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini membikin heran pula semua orang. Padahal Pek-poh-sin-kun tuan rumah termasyhur di seluruh dunia, justeru tidak pernah terdengar bahwa kungfu Hu-patnaynay terlebih tinggi daripada suaminya.</p>
<p>Tapi air muka Hu-patya lantas berubah, seperti mendadak pantatnya di depak orang, dia berseru kaget, &#8220;Apa&#8230;apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudku masakah belum jelas bagimu? Perlu kukatakan lagi?&#8221; jawab Pwe-giok dengan ketus.</p>
<p>Hu-patya yang tadinya berlagak seperti paling kuasa di dunia ini sekarang ternyata berdiri terkesima seperti patung tanpa bisa menjawab. Juga Hu-patnaynay kelihatan serba salah, meski tidak kelihatan bagaimana perubahan air mukanya, tapi pupur pada mukanya sudah mulai rontok, seperti labur dinding yang terkelupas karena gempa bumi.</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Padahal kalian kan tidak benar-benar ingin mendapatkan patung cantik ini, minat kalian juga tidak terletak pada perempuan, soalnya karena barang ini sudah diantar kemari, terpaksa kalian menerimanya.&#8221;</p>
<p>Air muka Hu-patya pucat seperti mayat, ia menyurut mundur setindak, ucapnya dengan suara serak, &#8220;Dari&#8230;darimana kau tahu?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak Hu-patnaynay menyerobot maju terus menjotos, belum lagi kepalannya mengenai sasarannya, angin pukulannya terlebih dulu sudah menyambar ke dada Pwe-giok.</p>
<p>Siapapun tidak menyangka nyonya rumah yang ramah tamah dan anggun itu memiliki daya pukulan sedahsyat ini, tampak Pwe-giok berputar dengan cepat sehingga daya pukulan maut itu terhindar, namun sekali sudah mendahului, segera Hu-patnaynay melancarkan pukulan lain lagi susul menyusul.</p>
<p>Demikian gencar pukulan lawan sehingga ganti napas saja Pwe-giok tidak sempat, terpaksa ia main mundur untuk menyelamatkan diri. Pada saat itulah sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tahu-tahu Hu-patnaynay menjerit terus melompat mundur, beberapa orang yang berpandangan tajam sempat melihat dada baju nyonya rumah itu telah tertabas robek hingga kelihatan dadanya.</p>
<p>Anehnya nyonya rumah itu mempunyai dada yang lapang, bahkan bersimbar dada, penuh tumbuh bulu panjang dan lebat.</p>
<p>&#8220;Hahahaha&#8221; Dian Liong-cu bergelak tertawa dengan pedang terhunus. &#8220;Dugaanku ternyata tidak keliru, Hu-patnaynay memang benar seorang lelaki.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang para hadirin melenggong.</p>
<p>Tertampak Hu-patya meringkuk di pojok sana dengan malu, sedangkan Hu-patnaynay berusaha menutupi dadanya dengan baju yang sudah robek itu, keadaannya yang runyam itu sungguh menggelikan dan juga pantas dikasihani.</p>
<p>Padahal dengan kungfu Hu-patya &#8220;suami-isteri&#8221; cukup kuat untuk menandingi Dian Liong-cu, tapi sekarang mereka seolah-olah ayam jago yang sudah keok, bersuara saja tidak berani.</p>
<p>Maklum, bila perbuatan seseorang yang memalukan terbongkar di depan umum, betapapun hatinya pasti malu dan gugup. Apalagi rahasia mereka ini sudah berjalan selama berpuluh tahun, yang mengetahui rahasia mereka mestinya ada seorang lagi, cuma sayang orang ini sudah lama mati, sekarang rahasia mereka terbongkar begini saja oleh seorang anak muda ingusan, sungguh mereka merasa heran dan bingung entah cara bagaimana anak muda ini mendapat tahu rahasia mereka, karena tidak mengerti tentu juga semakin takut.</p>
<p>Kalau mereka sudah takut, dengan sendirinya orang lain tidak takut lagi kepada mereka, malahan ada diantaranya segera tertawa mengejek.</p>
<p>Dian Liong-cu juga tertawa dan menyindir, &#8220;Haha, pantas di tempatmu ini penuh dipelihara makhluk-makhluk aneh, semuanya lelaki bukan perempuan tidak, kiranya kalian sendiri inilah biangnya kawanan siluman ini. Hehe, kalau lelaki berniat memperistri lelaki, hal ini benar-benar berita aneh yang jarang terdengar di dunia.&#8221;</p>
<p>Mendadak seorang menanggapi, &#8220;Kalau dia suka memperistri seorang lelaki, ini kan urusan pribadinya. Seumpama dia suka memperistri seekor monyet, hal ini pun haknya, asalkan dia sudah memaksamu menjadi isterinya, kan sudah, berdasarkan apa kau ikut campur urusannya?!&#8221;</p>
<p>Berbareng dengan ucapan itu, seorang telah masuk ke ruangan besar itu dengan langkah berlenggang.</p>
<p>Orang ini berbicara dengan suara lemah, seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan nasi, tapi cara berjalannya justeru seperti tuan besar. Cuma sayang mukanya kelihatan kurus kering, kulit badannya kendur semua, mirip balon yang gembos, Bahan bajunya berkualitas tinggi, yang longgar, cukup untuk mengisi tiga sosok tubuhnya. Orang pakai baju selonggar ini mustahil takkan dituduh sebagai baju hasil mencuri.</p>
<p>Orang yang berani bicara kasar dengan sin-liong-kiam-khek Dian Liong cu boleh dikatakan sangat sedikit di dunia ini, semula orang mengira pendatang ini pasti seorang tokoh besar yang hebat, karena itu semuanya ikut kebat-kebit dan berdebar-debar.</p>
<p>Siapa tahu yang muncul adalah seorang berbaju kedodoran, kulit badannya juga kedodoran, tampaknya sekali pukul saja pasti akan mencelat.</p>
<p>Tentu saja Dian Liong-cu mendongkol dan juga geli, tapi dia tidak berani mengumbar rasa marahnya, sebaliknya ia menyapa dengan tertawa, &#8220;Wah, tampaknya Anda ini juga beristerikan seorang lelaki, sebab kalau melihat tampang Anda, mungkin tiada perempuan di dunia ini yang sudi menjadi istrimu.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini membikin para hadirin tertawa geli.</p>
<p>Tapi makhluk aneh ini sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, maklumlah, kulit mukanya terlalu kendur, seumpama kulit dagingnya bergerak, kulit yang kedodoran itu tentu takkan ikut bergerak.</p>
<p>Terdengar dia bergelak tertawa lalu berseru, &#8220;Seumpama aku beristerikan seorang lelaki kan juga tiada sangkut-pautnya dengan kau, bukan?&#8221;</p>
<p>Kalau orang lain tertawa di kulit, maka dia tertawa di daging dan kulitnya tidak tertawa, meski keras suara tertawanya, tapi wajahnya tetap lesu dan lemas, seakan-akan orang yang tertawa itu bukan dia, suara tertawanya seperti timbul dari suatu tempat yang lucu dan aneh.</p>
<p>Semula semua orang merasa orang ini sangat lucu, tapi sekarang berbalik terasa rada menakutkan.</p>
<p>Dian Liong-cu berdehem beberapa kali, lalu berkata, &#8220;Kalau lelaki beristerikan lelaki, lalu harus dikemanakan orang perempuan? Jadi urusan ini aku kudu campur?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi kau pasti akan ikut campur,&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Betul, aku pasti ikut campur.&#8221; jawab Dian Liong-cu.</p>
<p>Tapi baru saja kata &#8220;campur terucapkan, &#8220;plak-plok&#8221;, mendadak terdengar suara gamparan keras dan nyaring. Tahu-tahu pipi kanan kiri Dian Liong-cu telah bertambah lima jalur merah bekas jari seperti sengaja digores dengan pensil, sampai ia sendiri tidak tahu cara bagaimana kena digampar.</p>
<p>Yang dirasakan ketika pipi kanan berbunyi &#8220;plak&#8221;, segera tubuhnya mendoyong ke kiri, tapi segera pipi kiri ditampar dan &#8220;plok&#8221;, lalu tubuhnya menegak kembali seperti semula.</p>
<p>Waktu dipandang si orang aneh itu, dia masih tetap berdiri di depan dan sedang memandang padanya dengan gayanya yang khas itu, kalau dikatakan kedua kali gamparan itu dilakukan olehnya mungkin tidak ada orang yang mau percaya.</p>
<p>Dian Liong-cu merasa seperti bermimpi saja, mendingan mukanya tidak merasa sakit. Anehnya semua orang sama memandang mukanya dengan sorot mata yang kaget dan kuatir, seperti orang yang melihat setan di siang bolong.</p>
<p>Tanpa terasa Diong Liong-cu meraba mukanya sendiri, baru sekarang diketahuinya bagian mukanya telah membengkak lima jalur bekas jari, rasanya kaku dan panas dan sukar bergerak.</p>
<p>Saking kagetnya tanpa terasa ia menjerit perlahan, dan baru diketahuinya bahwa kulit muka sendiripun kaku, makanya tidak terasa sakit.</p>
<p>&#8220;Hehehe, coba katakan lagi, kau pasti ikut campur urusan ini bukan?&#8221; dengan tertawa orang aneh itu bertanya pula.</p>
<p>Kerongkongan Dian Liong-cu berbunyi &#8220;krak-krok&#8221;, tapi sukar berbicara.</p>
<p>Orang aneh itu tepuk-tepuk pundak Hu-patya, lalu berkata, &#8220;Nah, sudah ku lampiaskan rasa gemasmu tadi, sekarang apa imbalannya sebagai tanda terima kasihmu padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini&#8230;Cianpwe&#8230;&#8221; rupanya Hu-patya jadi bingung juga oleh kungfu si orang aneh yang maha sakti ini, tepukan orang pada pundaknya membuatnya hampir berjongkok kebawah, mana sempat lagi bicara.</p>
<p>&#8220;Jika kau tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih padaku, biarlah kukatakan saja padamu.&#8221; kata orang itu lalu ia pungut patung yang berantakan bersama kotaknya tadi dan menyambung pula, &#8220;Nah, cukup kau berikan saja mainan ini padaku.&#8221;</p>
<p>Hu-patnaynay menabahkan hati dan berseru, &#8220;Siapakah nama Cianpwe yang terhormat, bolehkah kami diberi tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa kau tidak kenal siapa diriku?&#8221; tanya orang aneh itu. Dia menggeleng kepala dan menyambung dengan gegetun, &#8220;Jika orang lain tidak tahu siapa diriku masih dapat dimaklumi, tapi kalau kalian juga tidak kenal siapa diriku, wah sungguh aku sangat sedih, sanagat berduka&#8230;&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, mendadak dari dalam bajunya yang kedodoran itu dirogohnya keluar sepotong paha ayam goreng. Memandangi paha ayam ini, sorot matanya menampilkan rasa rakusnya, akan tetapi paha ayam itu hanya dipandang, lalu diendusnya beberapa kali, kemudian ia menghela nafas panjang dan menyimpan kembali paha ayam itu kedalam bajunya.</p>
<p>Melihat kelakuan orang itu, kulit muka Hu-patnaynay seketika berkerut-kerut, ucapnya dengan suara gemetar, &#8220;Oo&#8230;Thian&#8230;Thian&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekaligus ia berucap belasan kata &#8220;Thian&#8221;, tapi sukar melanjutkannya.</p>
<p>Tergerak pikiran Pwe-giok, tiba-tiba teringat satu orang olehnya serunya, &#8220;He, bukankah Cian-pwe ini Thian-sip-sing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahaha! Memang betul,&#8221; seru orang aneh itu sambil tergelak, &#8220;Tak tersangka bocah ini malah kenal diriku, sungguh tidak gampang.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang Pwe-giok tahu apa sebabnya kulit muka orang begitu kendur dan mengapa bajunya begitu longgar tidak sesuai dengan tubuhnya, karena sebagaimana sudah diketahui. Thian-sip-sing ini tadinya adalah seorang gemuk, bahkan maha gemuk.</p>
<p>Kalau orang gemuk mendadak menjadi kurus, tentu saja akan berubah seperti balon gembos.</p>
<p>Mengapa Thian-sip-sing yang gemuk seperti gajah bengkak itu dalam waktu tidak sampai tiga bulan telan berubah menjadi sekurus ini? Padahal orang gemuk kalau ingin kurus bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.</p>
<p>&#8220;Meng&#8230;,mengapa Cianpwe ber&#8230;berubah menjadi sekurus ini?&#8221; tanya Hu-patnaynay dengan tergagap.</p>
<p>Thian-sip-ping menghela nafas, ucapnya, &#8220;Masakah tidak kau lihat? Sekarang barang apapun tidak berani kumakan, jika kumakan, segera perut terasa mules. Nah, kalau orang tidak makan, kan mustahil jika tidak cepat kurus?&#8221;</p>
<p>Ia berhenti sejenak, lalu menghela nafas gegetun dan berkata pula, &#8220;O, agaknya aku harus ganti nama menjadi Thian-go-sing (si binatang kelaparan).&#8221;</p>
<p>Padahal Thian-sip-sing biasanya suka menganggap perutnya sebagai mesin pabrik, apapun dimakannya segala dilalap, apapun dicerna, mungkin hanya mayat dan lalat saja yang tidak pernah dimakannya.</p>
<p>Dan seorang pelahap begitu masakah sekarang tidak berani makan paha ayam, sungguh sukar untuk dimengerti dan mengherankan. Tapi tiada seseorang pun berani bertanya.</p>
<p>Hanya Pwe-giok saja yang lantas berkata &#8220;Cianpwe sudah digoda sekian lamanya oleh Hwe-sing-diong, selama itu tentu sangat kapiran bukan?&#8221;</p>
<p>Mata Thian-sip-sing terbelalak lebar, tanyanya dengan heran. &#8220;He, kaupun tahu kejadian itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tahu sekedarnya,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Wah, tidaklah sedikit pengetahuan anak muda ini,&#8221; gumam Thian-sip-sing dengan melotot.</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Barang siapa kalau sudah digoda oleh Hwe-sing-diong, maka hidupnya pasti konyol, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, kalau digoda hingga dua-tiga bulan lamanya, betapapun gemuk juga akan berubah menjadi kurus.&#8221;</p>
<p>Thian-sip-sing menghela napas, ucapnya, &#8220;Memang betul, sedikitpun tidak salah. Selama dua-tiga bulan ini sungguh aku ingin mati saja lebih baik, untunglah setelah aku digoda hingga lebih dua bulan, mendadak mereka menghilang tanpa bekas. Tapi selera makanku juga sudah kadung rusak, apapun tidak menarik lagi bagiku, biarpun santapan yang paling lezat ditaruh di depan hidungku juga tidak akan menimbulkan nafsu makanku.&#8221;</p>
<p>Bicara dan bicara, begitu sedih hingga hampir saja ia meneteskan air mata.</p>
<p>Maklumlah, seorang pelahap kalau sekarang tidak dapat makan enak lagi, maka dapat dibayangkan betapa tersiksa lahir batinnya.</p>
<p>Pwe-giok melototi patung yang dipegang Thian sip-sing, katanya kemudian, &#8220;Makan enak dan main perempuan adalah watak pembawaan manusia, sekarang Cianpwe tidak doyan makan lagi makanya kau lantas berganti kesenangan.&#8221;</p>
<p>Thian-sip-sing tertawa, katanya, Aha, dalam hal ini salahlah kau. Maksudku mencari patung ini adalah karena aku ingin mencari satu orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mencari satu orang?&#8221; Pwe-giok menegas sambil berkerut kening.</p>
<p>&#8220;Apapun juga dia juga salah seorang Bu-lim-pat-bi, patungnya pasti juga terdapat di antara patung-patung indah ini,&#8221; kata Thian-sip-sing. &#8220;Karena aku tidak dapat melihat orangnya, juga tidak berani melihatnya bila berhadapan, kan lumayan jika dapat kulihat patungnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang siapa dia?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Siapakah gerangan yang dimaksudkan dengan isyarat tangan Thian sip-sing dan Ji Hong-ho tempo hari itu?</p>
<p>Apa yang terjadi lagi dalam perjamuan &#8220;khas&#8221; pada ulang tahun Hu-patya ini?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1622/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1622&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/13/imbauan-pendekar-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 12</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/12/imbauan-pendekar-12/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/12/imbauan-pendekar-12/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 01:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1625</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Budiwibowo, Bsarwono, Koedanil, M_haury dan Sukantas009) &#8220;Dan ginkangnya juga tidak rendah, buktinya kita sama tidak tahu kapan dan kemanakah perginya?&#8221; sambung Pwe-giok. &#8220;Masa&#8230;masa orang-orang ini seluruhnya patung lilin?&#8221; tanya Thi-hoa-nio. Berpuluh orang itu masih tetap berduduk di tempatnya tanpa bergerak, tampaknya seperti manusia hidup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1625&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Budiwibowo, Bsarwono, Koedanil, M_haury dan Sukantas009)</p>
<p>&#8220;Dan ginkangnya juga tidak rendah, buktinya kita sama tidak tahu kapan dan kemanakah perginya?&#8221; sambung Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Masa&#8230;masa orang-orang ini seluruhnya patung lilin?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.<br />
<span id="more-1625"></span><br />
Berpuluh orang itu masih tetap berduduk di tempatnya tanpa bergerak, tampaknya seperti manusia hidup benar-benar.</p>
<p>&#8220;Untuk apakah orang itu memasang patung-patung sebanyak ini di sini?&#8221; tanya Thi-hoa-nio pula.</p>
<p>&#8220;Mungkin dia kesepian tinggal sendirian di sini, maka membuat orang-orangan ini untuk mengawaninya&#8221;, ujar Lui-ji, mendadak ia tertawa dan menambahkan, &#8220;Apapun juga patung lilin kan jauh lebih baik daripada manusia tulen.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa? Apa alasanmu?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Paling sedikit patung lilin kan tidak dapat menyerang kita?&#8221; jawab Lui-ji</p>
<p>Meski merasa tempat ini sangat menyeramkan, tapi lega juga hati Thi-hoa-nio, sebab ia merasa ucapan Lui-ji memang tidak salah. Berada bersama orang-orangan lilin tentunya tidak akan berbahaya.</p>
<p>Hanya Pwe-giok saja yang kelihatan prihatin, tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu, ucapnya kemudian dengan suara tertahan, &#8220;Kita tidak boleh tinggal di sini, lekas kita pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa? Orang hidup sudah lari, masakah kita takut kepada kawanan patung lilin ini?&#8221; ujar Lui-ji. Dia terus mendekat ke sana dan menambahkan, &#8220;Coba kau lihat, ku pukul mereka juga tidak ada yang berani membalas.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara ia terus menampar muka salah satu patung lilin itu.</p>
<p>Patung lilin itu tadinya duduk bersandar kursi dan sedang &#8220;membaca&#8221;. Karena ditampar Lui-ji robohlah patung itu, &#8220;brak&#8221;, patung itu pecah berantakan.</p>
<p>&#8220;Maaf, maaf, apakah kau sakit? Biar kubangunkan kau!&#8221; kata Lui-ji dengan tertawa.</p>
<p>Betapapun dia masih seorang anak dara, sejak lahir belum pernah bermain boneka, sekarang mendadak melihat &#8220;boneka raksasa&#8221; sebanyak ini, dengan sendirinya ia sangat tertarik.</p>
<p>Begitulah seperti anak kecil yang sedang momong boneka, Lui-ji membangunkan patung yang jatuh dan perlahan memijati bagian punggungnya sambil berucap, &#8220;O, sayang, tentunya kau kesakitan, biar kupijat&#8230;&#8221;</p>
<p>Selagi Thi-hoa-nio merasa geli melihat kelakuan Lui-ji itu, mendadak anak dara itu menjerit kaget sambil melompat mundur. Kontan patung lilin itu terguling dari kursinya dan hancur.</p>
<p>Cepat Pwe-giok melompat maju dan bertanya, &#8220;Ada apa?&#8221;</p>
<p>Lui-ji menjatuhkan diri pada pelukan anak muda itu, katanya sambil menuding patung lilin yang sudah hancur itu. &#8220;Di tubuh lilin itu ada&#8230; ada tulangnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tulang?&#8221; Thi-hoa-nio menukas dengan kaget. &#8220;Patung lilin masa bertulang?&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, dilihatnya dalam patung lilin yang hancur itu memang betul ada seonggok tulang putih, bahkan dapat dipastikan bukan tulang buatan.</p>
<p>Nyata, tulang di dalam patung lilin itu adalah tulang orang mati asli.</p>
<p>Pwe-giok coba menjemput beberapa cuil lilin remukan patung itu dan diperiksanya dengan teliti, seketika air mukanya berubah hebat, tampaknya seperti mual dan hendak tumpah.</p>
<p>&#8220;He, ken&#8230; kenapakah kau?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>Pwe-giok menghela nafas panjang, ucapnya, &#8220;Ini bukanlah orang-orangan buatan dari lilin, tapi mayat manusia tulen, lorong di bawah tanah ini adalah hasil kerja mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa katamu?&#8221; seru Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tentunya begini kisahnya,&#8221; tutur Pwe-giok. &#8220;Lantaran kuatir orang-orang ini akan membocorkan rahasia lorong di bawah tanah ini, maka orang yang menyuruh pembuatan lorong ini telah membunuh seluruh pekerja ini tatkala lorong ini sudah selesai dibuat, lalu tubuh mereka disiram dengan vaselin sehingga jadilah mereka patung lilin.&#8221;</p>
<p>Merinding Lui-ji oleh cerita ngeri ini, katanya, &#8220;Pantas, makanya mereka kelihatan seperti orang hidup.&#8221;</p>
<p>Dengan gegetun Hay Tong-jing ikut berkata, &#8220;Begitu masuk kemari memang sudah kurasakan keadaan di sini rada-rada janggal, orang-orang kasar ini kenapa bisa berubah seperti seniman. Waktu itu jika kuperiksa dengan teliti mungkin sudah dapat ku bongkar rahasia mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi waktu itu mana dapat kita bayangkan di dunia ini ternyata ada orang gila sekejam ini?&#8221; ucap Lui-ji dengan gregetan.</p>
<p>Mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan menanggapi, &#8220;Hehe, kau salah, nona cilik, aku sama sekali tidak kejam, juga tidak gila, sebaliknya aku ini manusia yang paling welas asih, seorang yang paling tahu aturan, orang yang paling punya hati nurani.&#8221;</p>
<p>Meski semua orang dapat mendengar suaranya, tapi bagaimana bentuk orang ini tidaklah kelihatan.</p>
<p>Lui-ji lantas menjawab, &#8220;Seumpama kau punya hati nurani juga sudah lama hatimu itu dimakan anjing.&#8221;</p>
<p>&#8220;Justeru lantaran mengingat mereka terlalu lelah menggali lorong di bawah tanah ini, makanya kuundang mereka istirahat di sini, supaya mereka selanjutnya tidak perlu berkeringat dan kerja keras lagi,&#8221; kata orang itu dengan tertawa. &#8220;Coba kalau tidak ada aku, mana bisa mereka menikmati kebahagiaan begini. Dan kalau begini baik kuperlakukan mereka, kenapa kau maki diriku sebagai orang gila dan orang busuk?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, kau bukan saja orang busuk, bahkan bukan orang. Tapi setan, iblis, iblis yang gila!&#8221; maki Lui-ji pula.</p>
<p>Dia ingin memancing keluar orang itu. Siapa tahu meski dia mencaci maki sekian lama, orang itu tetap tidak memberi reaksi apa-apa. Bahkan satu kata saja tidak bicara pula, keadaan menjadi sunyi senyap.</p>
<p>Dengan gemas Lui-ji mengusulkan, &#8220;Tempat ini toh tidak terlalu luas, marilah kita ketemukan dia.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio menghela nafas, katanya, &#8220;Kalau dia tidak mencari kita kan sudah untung, masakah kau malah ingin cari dia?&#8221;</p>
<p>Mendadak Pwe-giok berkata kepada Hay Tong-jing dengan tertawa, &#8220;Dalam keadaan demikian, masakah kau belum mau membongkar teka-teki ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Teka-teki? Teka-teki apa?&#8221; Hay Tong-jing jadi melengak malah.</p>
<p>&#8220;Sungguh aku tidak mengerti untuk apa kalian berdua sengaja memancing kami kesini?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Ap&#8230; apa katamu?&#8221; Hay Tong-jing menegas dengan bingung. &#8220;Mengapa kami memancing kalian ke sini? Hakekatnya aku tidak pernah kenal tempat ini, lebih-lebih tidak kenal si gila ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa jadi Hay-heng memang belum pernah datang ke tempat ini, tapi Lo-siansing ini justeru sudah dikenal Hay-heng,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Mana bisa kukenal dia?&#8221; sahut Hay Tong-jing dengan gugup. &#8220;Untuk.. untuk apa ku tipu kau?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela nafas, ucapnya, &#8220;Akupun tidak tahu untuk apa Hay-heng menipuku? Tapi berita yang dituturkan Hay-heng di lorong tadi&#8230; cerita tentang Tangkwik-siansing itu, tadinya kupercaya penuh setiap kata ceritamu, tapi sekarang mau tak mau harus kusangsikan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Demi membuat lorong bawah tanah ini, dia tidak sayang membunuh semua pekerja ini untuk menutup mulut mereka selamanya. Dengan sendirinya lorong di bawah tanah ini menyangkut sesuatu rahasia maha besar, betul tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, betul,&#8221; jawab Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, mengapa dia perlu membangun rumah gubuk pada ujung jalan keluar tadi? Jika di atas gunung yang paling sepi ini ada sebuah rumah kosong, bukankah hal ini akan sangat menarik perhatian orang?&#8221;</p>
<p>Kembali Hay Tong-jing melengak, katanya, &#8220;Bisa jadi&#8230; bisa jadi rumah itu bukan rumah kosong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, rumah itu pasti tidak kosong, tapi dimana orangnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin telah dibunuh oleh Yang Cu-kang?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Apakah mungkin demi merampas sebuah rumah Yang-heng perlu membunuh orang tak berdosa sebanyak itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini &#8230; ini &#8230; &#8221; Hay Tong-jing tak dapat menjawab.</p>
<p>&#8220;Apalagi, jika dia menyuruh orang-orang itu berjaga di dalam rumah, tentu mereka ada kontak satu sama lain, setelah mereka dibunuh Yang-heng, mustahil dia tidak tahu? Dan kalau dia tahu, masakah Yang-heng dibiarkan tinggal di sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi maksud Ji-heng &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku hanya ingin menyatakan antara Yang-heng dan Lo-siansing ini pasti sudah ada hubungan, dia menyuruh kita masuk ke lorong ini juga sebelumnya telah direncanakan.&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Hay tong-jing, katanya, &#8220;Untuk apa dia berbuat begini? Kenapa aku tidak diberitahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hay-heng benar-benar tidak tahu?&#8221; Pwe-giok menegas dengan melotot.</p>
<p>&#8220;Ya, sedikitpun tidak tahu,&#8221; jawab Hay Tong-jing tegas.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, mengapa Hay-heng mengantar nona Ki Leng-hong ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;He, apa pula artinya ucapanmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku memang lagi heran, sebab apakah Hay-heng menangkap Ki Leng-hong? Padahal ku tahu kalian hendak menyerahkan Kwe Pian-san dan Ciong Cing kepada Pek-hoa-bun untuk mengambil hati Hay-hong-hujin, tapi sejauh itu aku tidak mengerti Ki Leng-hong hendak kalian serahkan kepada siapa? Dan baru sekarang ku tahu jelas duduknya perkara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu jelas duduknya perkara? Perkara apa?&#8221; tanya Hay Tong-jing dengan bingung.</p>
<p>&#8220;Tujuan Hay-heng menangkap Ki Leng-hong adalah untuk diserahkan kepada Lo-siansing ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa diserahkan kepadanya? Untuk apa pula dia menghendaki Ki Leng-hong?&#8221; tanya Hay Tong-jing.</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Bisa jadi untuk dijadikan patung lilin, mungkin juga ada keperluan lain. Kukira Hay-heng tentu jauh lebih jelas dari padaku.&#8221;</p>
<p>Hay tong-jing menghela napas panjang, katanya, &#8220;Meski aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, tapi kuyakin jalan pikiranmu pasti keliru, hakekatnya aku tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini, jika Ji-heng tidak percaya, terpaksa aku &#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak terdengar suara jeritan, suara jeritan Lui-ji dan Thi-hoa-nio.</p>
<p>Pwe-giok terkejut dan berpaling, terlihatlah kedua orang itu telah berada dalam pelukan dua patung lilin.</p>
<p>Muka Lui-ji tampak pucat, serunya dengan suara parau, &#8220;Patung lilin ini bukan mayat, tapi orang hidup.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio tampak gemetar dan hampir saja jatuh kelengar.</p>
<p>Terdengar orang lilin itu berkata, &#8220;Jika kalian menghendaki mereka tetap hidup, maka berdirilah di situ dan jangan bergerak.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara, lapisan lilin yang tipis pada mukanya lantas terkelupas sepotong demi sepotong.</p>
<p>Terpaksa Pwe-giok berdiri di tempatnya dan tidak bicara apapun.</p>
<p>Hay Tong-jing tidak tahan, ucapnya, &#8220;apa kehendak kalian?&#8221;</p>
<p>Padahal pertanyaannya ini terlalu berlebihan dan menggelikan. Tapi setiap orang bila sudah kepepet memang sering mengucapkan kata-kata yang lucu.</p>
<p>Pada saat itulah tertampak dua patung lilin yang sedang main catur di kejauhan sana mendadak juga bergerak, tubuh mereka hanya berkelebat dan tahu-tahu sudah menubruk tiba.</p>
<p>Tapi patung lilin yang memeluk Cu Lui-ji itu lantas berseru, &#8220;Berhenti, barang siapa di antara kalian bergerak sedikit saja, jiwa kedua perempuan ini segera melayang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan urus diriku, mereka tidak berani membunuhku!&#8221; teriak Lui-ji.</p>
<p>Pwe-giok menghela napas, tahu-tahu ia merasakan dua tangan yang kuat telah merangkul tubuhnya, menyusul beberapa tempat Hiat-to penting juga tertutuk.</p>
<p>Kembali Lui-ji menjerit kuatir, teriaknya parau, &#8220;He, apa &#8230; apa kehendak kalian? &#8230;&#8221; belum habis ucapannya, berderailah air matanya.</p>
<p>Terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya, &#8220;Nona cilik, tentunya sekarang kau tahu orang-orang lilin tidaklah lebih baik daripada manusia tulen. Padahal terkadang merekapun jauh lebih berbahaya daripada orang asli.&#8221;</p>
<p>Ditengah suara tertawa yang melengking itu, si kakek berjubah hitam tadi telah muncul pula, cuma sekarang topinya bukan lagi caping bambu melainkan sebuah topi tinggi dan berbentuk aneh.</p>
<p>Potongan badan kakek ini sangat pendek, sekarang memakai topi setinggi ini, sekilas pandang, topinya seakan-akan lebih tinggi daripada orangnya, bentuknya kelihatan lucu dan mentertawakan.</p>
<p>Tapi dalam keadaan demikian siapa pula yang dapat tertawa?</p>
<p>Segera Lui-ji memaki, &#8220;Kau tua bangka, siluman &#8230;&#8221; segala kata makian yang paling keji telah dihamburkan seluruhnya, tapi si kakek mendengarkan saja seperti sangat tertarik.</p>
<p>Setelah Lui-ji kehabisan kata-kata makian barulah kakek itu berkata dengan tersenyum, &#8220;Nona cilik, kau sangat pintar menangis, juga pandai memaki orang, aku justeru sangat suka kepada nona cilik semacam kau ini. Sebentar tentu akan kujadikan kau patung lilin yang cantik, secantik boneka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau &#8230; kau &#8230;&#8221; Lui-ji sampai kehabisan suara. Ia ingin memaki lagi, tapi ngeri, bibirpun kering.</p>
<p>Topi tinggi di atas kepala si kakek tampak bergoyang-goyang, ia mendekati Pwe-giok dan berkata, &#8220;He, anak muda, namamu Ji Pwe-giok bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul.&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Si kakek mengekeh tawa, ucapnya, &#8220;Meski belum pernah kulihat kau, tapi sekali pandang saja lantas kukenali kau.&#8221;</p>
<p>Mendadak Pwe-giok juga tertawa, katanya, &#8220;Meski aku tidak pernah melihat kau, tapi akupun kenal kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo?!&#8221; si kakek melengak, lalu bergelak tertawa, katanya, &#8220;Wah, jika benar kau kenal diriku, sungguh tidak kecil kepandaianmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bukan manusia,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Si kakek menyeringai, &#8220;Kau pun serupa nona cilik itu, pintar memaki orang. Aku bukan manusia, memangnya siluman?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kaupun bukan siluman, cuma sesosok mayat,&#8221; ujar Pwe-giok. &#8220;Sebab sudah lama kau mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bilang aku ini mayat?&#8221; seru si kakek dengan terbahak.</p>
<p>&#8220;Betul, meski belum pernah kau lihat diriku, tapi aku sudah pernah melihat kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pernah kau lihat diriku? Dimana?&#8221; tanya si kakek.</p>
<p>&#8220;Di dalam sebuah kuburan.&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Seketika Lui-ji melenggong, ia merasa bingung oleh ucapan Pwe-giok itu, bahkan anak muda ini hampir disangkanya rada kurang waras.</p>
<p>Sebab seorang yang sehat, seorang yang normal, tentu takkan menuduh seorang hidup sebagai sesosok mayat, lebih-lebih takkan menyatakan dirinya pernah pesiar ke dalam sebuah kuburan. Semua ini hakekatnya bukan ucapan Ji Pwe-giok yang sebenarnya.</p>
<p>Siapa tahu, setelah mendengar kata-kata demikian, air muka si kakek mendadak berubah, dia melototi Pwe-giok hingga sekian lamanya, lalu menegas, &#8220;Kau pernah datang di kuburan itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, malahan cukup lama ku tinggal di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan cara bagaimana kau keluar lagi?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, jawabnya, &#8220;Keluar melalui pantatmu.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, bukan cuma Lui-ji saja yang menganggap anak muda itu kurang waras, bahkan Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing juga mengira Pwe-giok mendadak sinting, sebab apa yang diucapkannya sama sekali bukan kata-kata manusia normal.</p>
<p>Tapi air muka si kakek lantas berubah menjadi lebih menakutkan, mendadak ia berseru, &#8220;Cucu perempuanku sayang, marilah keluar!&#8221;</p>
<p>Ketika cucu perempuannya sudah keluar, kecuali Pwe-giok, yang lain-lain sama terperanjat pula. Sebab siapapun tidak menyangka cucu perempuannya adalah Ki Leng-hong.</p>
<p>Tapi sejak tadi Pwe-giok sudah tahu kakek ini adalah Ki go-ceng yang menghilang dengan berlagak mati itu. Kepandaiannya membikin patung lilin memang bagus (bacalah jilid ke-4 Renjana Pendekar).</p>
<p>Terdengar si kakek alias Ki Go-ceng lagi bertanya kepada cucu perempuannya, &#8220;Apakah betul perkataan bocah ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entah, aku tidak tahu,&#8221; jawab Ki Leng-hong. Nona ini kelihatan sangat kurus dan lesu, sangat lemah, tapi jawabannya cukup tegas.</p>
<p>&#8220;Dia pernah datang ke Sat-jin-ceng bukan?&#8221; tanya pula Ki Go-ceng.</p>
<p>&#8220;Jika dia belum pernah ke Sat-jin-ceng, cara bagaimana dapat kukenal dia? Tapi banyak juga orang yang pernah mengunjungi sat-jin-ceng, tidak cuma dia saja.&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng tertawa, ia tepuk-tepuk pelahan muka Ki Leng-hong yang bulat telur itu, ucapnya dengan tertawa, &#8220;Ai, cucu perempuanku sayang, bicara terhadap kakek mana boleh sekasar ini.&#8221;</p>
<p>Ki Leng-hong moncongkan mulutnya dan berucap manja, &#8220;Orang pening kepala, ingin tidur.&#8221;</p>
<p>Begitu habis ucapannya, segera ia melangkah pergi, sama sekali tidak memandang lagi terhadap Ji Pwe-giok.</p>
<p>Ki Go-ceng geleng-geleng kepala, gumamnya</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>&#8220;Ai, bocah ini jadi rusak karena terlalu dimanjakan ibunya&#8221; Mendadak ia melototi Pwe-giok pula dan bertanya, &#8220;Eh, kabarnya putra Ji Hong-ho itupun bernama Ji Pwe-giok, apa betul?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitulah kalau tidak salah&#8221;, jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Konon dia sudah mati di Sat jin-ceng&#8221;</p>
<p>&#8220;Agaknya juga betul&#8221;</p>
<p>Mendadak mencorong sinar mata Ki Go-ceng, ucapnya dengan pelahan, &#8220;Bisa jadi tidak mati, mungkin dia telah pesiar sejenak ke kuburan, lalu hidup kembali, bahkan bertemu dengan seseorang yang telah mengubah bentuk wajahnya&#8221;</p>
<p>Mendadak ia jambret leher baju Pwe-giok dan berteriak, &#8220;Dan mungkin kau inilah dia, kau inilah putra Ji Hong-ho itu&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Pwe-giok tidak mengerti apa sebabnya Ki Leng-hong berdusta, dan sekarang ia tahu duduknya perkara. Meski lahirnya dia tetap tenang saja, tapi telapak tangan sudah merembeskan keringat dingin.</p>
<p>Bukan mustahil Ki Go-ceng adalah sekelompotan dengan &#8220;Ji Hong-ho&#8221; itu, Pwe-giok sengaja dipancing ke sini untuk diselidiki apakah dia dan Pwe-giok yang tersiar sudah mati itu sama atau tidak.</p>
<p>Maklumlah, tentang perubahan wajah Pwe-giok hanya diketahui oleh Ki Leng-hong saja, tapi nona itu ternyata tidak menyingkap rahasianya, meski tidak tahu mengapa orang menutupi rahasianya, namun Pwe-giok sangat berterima kasih padanya.</p>
<p>Ki Go-ceng masih terus melototi Pwe-giok, tanyanya pula, &#8220;Sesungguhnya kau anak Ji Hong-ho atau bukan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, jawabnya, &#8220;Aku ini anak siapa, ada persoalan apa dengan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekalipun kau mengaku sebagai anak Ji Hong-ho kan juga tidak menjadi soal?&#8221; ujar Ki Go-ceng.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau sendiri tidak mau mengaku sebagai anaknya?&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Ki Go-ceng menarik muka, mendadak ia tertawa pula, &#8220;Bagus, anak muda, anggaplah mulutmu memang keras, jika kau tidak suka bicara terus terang, biarlah sekalian kubikin kau tak dapat bicara untuk selamanya&#8221;</p>
<p>Gua batu ini jauh lebih terang daripada ruangan gua sebelah luar sana, juga jauh lebih hangat, sebab api pada sebuah tungku besar telah dinyalakan, di atas tungku ada sebuah wajan besar. Lilin di dalam wajan sudah mulai cair.</p>
<p>Dengan sebuah gayung besar, pelahan Ki Go-ceng mengaduk cairan lilin itu, ketika api tungku sudah mulai menghijau, menguaplah hawa panas dari wajan besar. Di bawah gemerdep cahaya api dan uap lilin, wajah Ki Ko-ceng kelihatan seperti sebuah topeng setan.</p>
<p>Sinar matanya juga gemerdep memancarkan cahaya kebuasan dan kegilaan, terdengar dia berucap &#8221; Bukanlah pekerjaan mudah membuat patung lilin dengan manusia berdarah daging, pertama harus memperhatikan waktu masak lilin, selain lilin harus cair seluruhnya dan tidak boleh terlalu mendidih, pada saat lilin baru mulai bergelembung segera cairan lili dituang pada tubuh manusia.&#8221;</p>
<p>Dia tertawa, lalu menyambung, &#8220;Jadi seperti koki memasak Ang-sio-hi, setelah gorengan irisan ikan diangkat dari wajan, pada saat yang tepat disiram dengan saus asam manis. Cuma disini gerakan tangan harus cepat, siraman lilin harus rata, apabila lapisan lilin pertama sudah beku seluruhnya barulah mulai siram lapiran kedua, sedikit salah siram, semua usaha akan gagal total.&#8221;</p>
<p>Dia bicara dengan adem ayem, seperti halnya seorang ahli masak yang sedang memberi ceramah di depan sekawanan penggemar makanan enak. Cuma sayang, yang mendengarkan ceramahnya sekarang bukanlah penggemar makanan melainkan &#8220;ikan&#8221; yang sedang menanti giliran untuk dijadikan Ang-sio-hi.</p>
<p>Hati Lui-ji saat ini diliputi rasa gusar dan juga takut, sungguh kalau bila ia ingin menggigit mampus orang gila ini.</p>
<p>Sebaliknya Thi-hoa-nio seperti tidak dapat mengekang diri lagi saking takutnya, ia berteriak dengan histeris, &#8220;Lekas kau bunuh kami saja, lekas, kenapa tidak lekas turun tangan ?&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng tertawa, katanya, &#8220;Aku ingin membuat patung lilin yang indah, untuk ini masih harus diperhatikan sesuatu, yaitu tidak boleh membunuh mati model yang akan ku gunakan,. Dengan demikian , hasil patung yang kubuat barulah akan kelihatan hidup dan bergairah. Apabila modelnya dibunuh mati mati dulu baru kemudian disiram lilin, maka patung yang dihasilkan juga akan kelihatan mati dan kaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau &#8230; kau &#8230; &#8221; Thi-hoa-nio tidak sanggup bersuara lagi. Bibirnya gemetar, mulut seperti tersumbat.</p>
<p>Mendadak Ki Go-ceng tertawa padanya dan berkata, &#8220;Tapi Yang-hujin juga tidak perlu khawatir, aku pasti takkan membikin susah padamu, sebab kuyakin Yang Cu-kang pasti tidak suka tidur bersama patung lilin.&#8221;</p>
<p>Air muka Hay Tong-jing berubah, tanyanya, &#8220;Apakah benar Yang Cu-kang ada persengkongkolan dengan kau ?&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng tertawa, jawabnya, &#8220;Betul, dia terlebih cerdik daripadamu, juga lenih pintar memilih kawan. Jika dia memilih si koki sebagai kawannya, sebaliknya kau pilih kawan pada ikannya.&#8221;</p>
<p>Sampai sekian lama Hay Tong-jing termangu-mangu, katanya dengan suara gemetar, &#8220;Yang Cu-kang, wahai Yang Cu-kang, tidak jelek suhu terhadapmu, kenapa kau melakukan perbuatan khianat begini, memangnya sudah kaulupakan semua ajaran dan peraturan perguruan ?&#8221;</p>
<p>Sembari bicara, matanya mendelik dengan menahan rasa murka.</p>
<p>Dengan lemas Lui-ji juga berkata, &#8220;Pantas dia tidak takut di bunuh Lengkui, kiranya dia tahu setelah kita pergi, maka dapatlah dia bicara dengan Leng-kui bahwa antara mereka sesungguhnya adalah kawan. Hah, bangsat ini telah berbuat khianat, tapi justru bicara seperti seorang baik hati.&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, menangislah Thi-hoa-nio tergerung-gerung.</p>
<p>Lui-ji menjengek, &#8220;Yang-hujin, apakah yang kau tangisi ? Bisa kaudapatkan suami sebaik itu, masakah kamu tidak senang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230; Aku &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Eh, siapa di antara kalian yang mau tolong singkirkan nyonya Yang ini dari sebelahku, sungguh aku tidak tahan lagi bau busuk pada tubuhnya,&#8221; ejek Lui-ji pula.</p>
<p>Dengan tertawa Ki Go-ceng berucap, &#8220;wah. hampir saja kulupa jika tidak kau singgung sejak tadi-tadi seharusnya ku undang nyonya Yang berduduk di tempat yang terhormat.&#8221;</p>
<p>Tapi Thi-hoa-nio lantas berteriak-berteriak pula dengan histeris, &#8220;Jangan kalian menyentuh diriku, aku bukan istri Yang Cu-kang, aku lebih suka mati bersama mereka.&#8221;</p>
<p>Dengan tak acuh Ki Go-ceng berkata, &#8220;Siapapun kalau sudah berada disini, mati atau hidupnya tidak bebas lagi baginya.&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing memandang Pwe-giok, ucapnya dengan rawan, &#8220;Ji-heng, aku telah salah menilai Yang Cu-kang, maaf, aku &#8230; aku menyesal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini bukan salahnya dan bukan salahmu, untuk bisa (jangan) Hay-heng merasa sedih.&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>Hay Tong-jing menghela napas, ucapnya, &#8220;Betapapun dia adalah saudaraku, aku &#8230; &#8220;</p>
<p>Mendadak Ki Go-ceng berseru, &#8220;Cepat lekas buka pintu tungku dan kerek wajan agak tinggi sedikit, saat itulah cairan lilin sudah dapat digunakan!&#8221;</p>
<p>Lalu ia mulau menceduk cairan lilin dengan gayungnya, mengepul uap lili panas itu.</p>
<p>Dengan tertawa Ki Go-ceng berkata, &#8220;Pertama kali disiram lilin memang akan terasa sakit, maka hendaknya Ji-kongcu dapat bertahan sedikit, nanti kalau sudah tersiram tiga empat gayung, perlahan tidak lagi merasa sakit.&#8221;</p>
<p>Lebih dulu ia menyiram lilin pada gayungnya pada sepotong papan, melihat cairan lilin yang membeku di atas papan, Ki Go-ceng bergumam, &#8220;Ya, memang saat yang paling tepat untuk disiram &#8230; Nah, lekas kau buka baju, Ji-kongcu!&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji berteriak, &#8220;Kenapa tidak kau mulai dari diriku!&#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Sabar, sabar! Sebentar lagi akan datang giliranmu, kenapa terburu-buru ?&#8221; ujar Ki Go-ceng dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Kumohon dengan sangat, mulailah atas diriku, matipun aku berterima kasih padamu.&#8221; teriak Lui-ji dengan parau.</p>
<p>&#8220;Apakah kau tidak tega menyaksikan Ji Pwe-giok tersiksa dan ingin tutup mata lebih dulu ?&#8221; tanya Ki Go-ceng.</p>
<p>Lui-ji hanya menggigit bibir, ia mengangguk sambil menangis.</p>
<p>&#8220;Tapi apakah kau suka telanjang di hadapan mereka ?&#8221; tanya Ki Go-ceng dengan tertawa.</p>
<p>Lui-ji jadi melengak, segera ia menangis lagi tergerung-gerung.</p>
<p>Dengan suara parau Thi-hoa-nio berteriak, &#8220;Silakan kau turun tangan dulu padaku, aku tidak &#8230; tidak takut &#8230; &#8220;</p>
<p>Ki Go-ceng mengawasi dia sekejap, lalu berucap, &#8220;Potongan tubuhmu tidak jelek, kukira merekapun jika kuturun tangan padamu dulu, sebelu mati daapt menyaksikan perempuan cantik telanjang bulat seperti dirimu ini, tentu kematian merekapun cukup berharga,&#8221; â€&#8221; Dia menghela napas, lalu menyambung, &#8220;Cuma sayang, kau ini bini Yang Cu-kang, sayang, sungguh sayang&#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Kau tua bangka, kau binatang, hewan, sungguh kau bukan manusia &#8230; &#8221; mendadak Hay Tong-jing mencaci maki.</p>
<p>&#8220;Apakah sengaja kau bikin marah diriku agar turun tangan dulu padamu ?&#8221; kata Ki Goceng tertawa.</p>
<p>Hay Tong-jing berteriak gusar, &#8220;Memangnya kau berani turun tangan padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, bagus, bagus!&#8221; Ki Go-ceng terbahak. &#8220;Kalian memang sangat setia kawan, sungguh ksatria sejati, semuanya berebut mati lebih dulu. Jika demikian, biarlah kupenuhi kehendak kalian sekaligus.&#8221;</p>
<p>Ia menyeringai, lalu menyambung, &#8220;Akan kubelejti kalian bertiga hingga telanjang bulat, akan kuikat kalian menjadi satu dalam keadaan saling rangkul, akan kubikin kalian menjadi sebuah patung yang istimewa, agar sekali pandang saja siapapun tahu kalian adalah sahabat karib yang tak dapat dipisahkan.&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing dan Cu Lui-ji berteriak-teriak, meski sudah banyak siksa derita yang dialaminya tapi baru sekarang Lui-ji benar-benar kenal apa artinya takut.</p>
<p>Meski Pwe-giok hanya diam saja sejak tadi, tapi di dalam hati jauh lebih murka dan berduka. Ia tidak tahu mengapa Thian memberi nasib seburuk ini kepadanya. Tahu begini, lebih baik dulu mati saja di tangan Siang Cap-long. Walaupun Siang Cap-long juga sangat kejam, tapi jauh lebih baik daripada Ki Go-ceng, betapapun dia tidak sampai melakukan hal-hal yang gila dan kotor begini.</p>
<p>Pada saat gawat itulah, sekonyong-konyong seorang terbang masuk dari luar dengan kaki dan tangan menari-nari di udara, serupa boneka yang dikerek dan terapung di udara, melayang tibanya orang ini sungguh cepat luar biasa.</p>
<p>&#8220;Siapa?!&#8221; bentak Ki Go-ceng.</p>
<p>Baru lenyap suaranya, dengan tepat orang itu jatuh di dalam wajan yang penuh cairan lilin panas itu, maka terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayat hati.</p>
<p>Cairan lilin di dalam wajan muncrat kemana-mana, ada setitik cairan yang menciprat ke tubuh Lui-ji, meski cuma setitik, namun rasa sakitnya sudah tak terkatakan.</p>
<p>Pada saat lain, dari luar melayang masuk lagi orang, juga menari-nari di udara dan &#8220;plung&#8221;, dengan tepat kembali nyemplung di dalam wajan disertai jeritan yang sama ngerinya.</p>
<p>Seketika wajan itu terguling, cairan lilin tumpah memenuhi lantai.</p>
<p>Serentak Ki Go-ceng mengapung ke atas, dengan gusar ia membentak, &#8220;Siapa itu?&#8221;</p>
<p>Di tengah suara bentakannya, orang ketiga melayang tiba pula, sekali ini menerjang ke arah Ki Go-ceng.</p>
<p>Cepat tubuhnya menggeliat di udara sehingga terhindar. Tapi segera orang ke empat dan kelima melayang pula dan menumbuk Ki Go-ceng. Betapapun tinggi ginkangnya juga sukar untuk mengelak lagi.</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, dalam keadaan mengapung di udara Ki Go-ceng menghantam, kontan kedua orang yang menerjang ke arahnya itu digenjot hingga tergetar balik, tapi ia sendiripun tergetar jatuh ke bawah dan hampir saja menumbuk dinding.</p>
<p>Kejut dan girang Lui-ji, baru sekarang dapat dilihatnya dengan jelas bahwa kelima orang yang melayang dari luar itu semuanya adalah &#8220;patung lilin palsu&#8221; anak buah Ki Go-ceng.</p>
<p>Tadi dia telah dikerjai &#8220;patung lilin&#8221; ini, meski disergap, tapi jelas ilmu silat orang-orang ini juga tidak lemah, bahkan sangat cepat dan cekatan cara turun tangannya. Tapi sekarang hanya dalam sekejap saja mereka telah dilempar masuk seperti lempar bola, jelas sedikitpun tidak mampu melawan. Maka betapa tinggi kungfu pendatang ini tentu dapat dibayangkan.</p>
<p>Air muka Ki Go-ceng tampak pucat hijau, ia melototi Pwe-giok dan berkata, &#8220;Tak tersangka masih ada juga bala bantuanmu, tampaknya tidaklah sedikit kawanmu.&#8221;</p>
<p>Tapi seorang lantas menanggapi, &#8220;Aku tidak kenal anak muda itu, sebaliknya aku dan kau adalah sahabat lama.&#8221;</p>
<p>Suara ini sangat halus dan lembut, empuk dan enak didengar.</p>
<p>Lui-ji dan Thi-hoa-nio sama-sama anak perempuan cantik pembawaan, yang satu adalah puteri Siau-hun-kiongcu yang terkenal pembetot sukma setiap lelaki, yang lain adalah &#8220;Khing-hoa-samniocu&#8221; yang genit dan pemikat lawan jenisnya, keduanya tahu suara yang enak didengar adalah senjata yang paling ampuh kaum wanita untuk menghadapi kaum lelaki. </p>
<p>Suara mereka sendiri sangat merdu dan enak didengar, tapi kalau dibandingkan suara perempuan pendatang ini, mau tak mau mereka harus tutup mulut dan tidak berani bersaing.</p>
<p>Selain enak didengar suaranya, bahkan apa yang dikatakannya seperti air dingin yang menyiram kepala Cu Lui-ji, sebab pendatang ini ternyata mengaku sebagai sahabat lama Ki Go-ceng.</p>
<p>Hanya Hay Tong-jing saja yang segera memperlihatkan rasa kegirangan, desisnya perlahan, &#8220;Inilah guruku, tertolonglah kita.&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengong, tanyanya kemudian, &#8220;Gurumu seorang perempuan?&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing tidak menjawabnya dan memang juga tidak perlu menjawab, sebab waktu itu seorang perempuan berbaju hitam sudah muncul.</p>
<p>Mukanya juga memakai cadar sutera hitam, meski Lui-ji tidak dapat melihat jelas wajahnya, tapi entah mengapa, ia merasa perempuan ini pasti cantik tiada bandingannya. Lui-ji tidak pernah melihat wanita bergaya secantik dan seluwes ini.</p>
<p>Jalan perempuan berbaju hitam itu seperti sangat lambat, tapi tahu-tahu sudah berada di dalam, siapapun tidak tahu persis cara bagaimana dia menggeser kakinya dan cara bagaimana masuk ke situ.</p>
<p>Dia memakai jubah panjang warna hitam, panjangnya sampai menyentuh tanah, hanya ujung sepatu saja yang masih kelihatan, pada tangannya juga mengenakan sarung tangan warna hitam.</p>
<p>Meski melihat orang, tapi rasanya sama seperti tidak tahu, yang dilihat Lui-ji hanya pakaiannya saja, namun dalam hati sudah timbul perasaan enak, perasaan aman.</p>
<p>Ki Go-ceng juga seperti kesima memandang perempuan berbaju hitam itu, sampai sekian lama barulah ia menghela nafas dan berkata, &#8220;Kiranya kau!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak kau duga bukan?&#8221; ujar perempuan berbaju hitam.</p>
<p>Kembali Ki Go-ceng menghela nafas, lalu berucap pula sambil tersenyum getir, &#8220;Kukira sudah lama kau mati.&#8221;</p>
<p>Perempuan berbaju hitam itu seperti tersenyum, lalu mendekati Ki Go-ceng dengan perlahan.</p>
<p>Di dalam gua ini suasana dingin dan seram, di atas tanah juga penuh cairan lilin dan mayat. Namun gaya berjalan perempuan itu seperti sedang berada di tengah istana.</p>
<p>Yang dihadapinya juga seorang gila dan kejam, tapi gaya perempuan itu seperti seorang permaisuri yang hendak menghadap Sri Baginda.</p>
<p>Siapapun tidak mengira perempuan lemah gemulai ini adalah tokoh persilatan yang lihay, lebih-lebih tidak ada yang percaya bahwa dalam sekejap tadi dia sudah membunuh lima orang.</p>
<p>Dahi Ki Go-ceng tampak berkeringat, ia menyengir dan berucap, &#8220;Belasan tahun tidak bertemu, masakah baru bertemu lantas hendak berkelahi denganku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak bermaksud demikian,&#8221; jawab si perempuan baju hitam.</p>
<p>Ki Go-ceng seperti merasa lega, ucapnya, &#8220;Jika begitu, hendaklah kau berdiri agak jauh. Bila kau mendekat, hatiku lantas berdetak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau memang tidak punya hati, mana bisa hatimu berdetak ?&#8221; ujar perempuan itu. Dia berjalan dengan lambat, tapi tidak berhenti.</p>
<p>Bibir Ki Go-ceng seperti mengering, ucapnya dengan suara serak, &#8220;Sesungguhnya apa kehendakmu?&#8221;</p>
<p>Perempuan itu tidak menjawabnya, tapi bertanya malah, &#8220;Tahun ini usiamu sudah ada 72 bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ingat juga kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Perempuan itu berucap pula, &#8220;Siapapun kalau sudah hidup 72 tahun, tentunya sudah cukup bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu ini?&#8221; tanya Ki Go-ceng sambil mengusap keringatnya.</p>
<p>&#8220;Apa maksudku masakah belum jelas bagimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Selama berpuluh tahun ini, siapa pula yang pernah tahu jelas maksudmu?&#8221;</p>
<p>Perempuan itu menghela nafas perlahan, lalu berkata, &#8220;Ai, kuharap janganlah kau paksa ku turun tangan padamu.&#8221;</p>
<p>Air muka Ki Go-ceng berubah hebat, mendadak ia menengadah dan terbahak-bahak, &#8220;Hahaha&#8230; memangnya baru bertemu kau menghendaki aku segera bunuh diri?&#8221;</p>
<p>Meski tertawa, tapi suara tertawanya jauh lebih tidak enak didengar daripada suara menangis.</p>
<p>Pada saat itu juga, mendadak tubuh Ki Go-ceng mengapung ke atas, perawakannya yang kurus itu seperti bukan tubuh manusia melainkan seekor elang yang buas dan lapar.</p>
<p>Namun si perempuan baju hitam tetap berdiri tenang di tempatnya, jika Ki Go-ceng ibaratnya seekor elang, maka dia sama seperti seekor domba. Tapi ketika Ki Go-ceng menubruk tiba, lengan bajunya lantas mengebut perlahan.</p>
<p>Siapapun tidak menyangka kebutan lengan bajunya yang perlahan ini dapat menahan serangan Ki Go-ceng. Maka terdengarlah suara jeritan, bukan perempuan itu yang menjerit melainkan Ki Go-ceng, tubuhnya mendadak mencelat beberapa tombak jauhnya dan menumbuk dinding, &#8220;blang&#8221;, lalu tubuhnya memberosot ke kaki dinding dan jatuh terduduk, matanya melotot ke arah perempuan baju hitam, ucapnya dengan serak, &#8220;Inilah Cing&#8230; Cing-gi&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, darah segar lantas menyembur dari mulutnya.</p>
<p>Dengan tak acuh, perempuan baju hitam berkata, &#8220;Betul, inilah Sian-thian-cing-gi, tajam juga pandanganmu!&#8221;</p>
<p>Mendadak Ki Go-ceng bergelak seperti orang gila, teriaknya, &#8220;Bagus, haha, bagus! Sian-thian-cing-gi, tiada tandingannya di dunia, matipun aku tidak penasaran.&#8221;</p>
<p>Sambil tertawa kaki dan tangannya juga bergerak-gerak, keadaannya benar-benar mirip orang gila.</p>
<p>Percikan darah tampak berhamburan mengikuti suara tertawanya, waktu habis ucapannya darahpun kering, suara tertawa juga berhenti, tinggal kerongkongannya mengeluarkan suara &#8220;krok-krok&#8221; seperti kodok ngorok.</p>
<p>Meski benci terhadap orang ini, tanpa terasa Lui-ji memejamkan mata juga dan tidak tega memandangnya.</p>
<p>Pwe-giok sendiri pernah mendengar nama &#8220;Sian-thian-cing-gi&#8221; atau tenaga sakti asli, selama ini ia menyangka ilmu itu hanya dongeng Kangouw seperti halnya orang bilang &#8220;pedang dapat dikendalikan dengan hawa&#8221; serta &#8220;mengirimkan gelombang suara&#8221; segala. Ilmu sakti ini mungkin terjadi di jaman dahulu, tapi sekarang tentunya sudah lenyap dan tiada orang yang mampu melatihnya lagi.</p>
<p>Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa sekarang dirinya justeru dapat menyaksikan ilmu sakti tersebut.</p>
<p>Dilihatnya Ki Go-ceng telah terkulai di tengah genangan darah, semula masih terus ngorok seperti suara kodok, selang sejenak mendadak tubuhnya melonjak ke atas, lalu jatuh dan tidak bergerak lagi.</p>
<p>Baru sekarang si perempuan baju hitam berpaling dan memandang Pwe-giok. Sinar matanya masih tetap tenang dan lembut, tapi seakan-akan dapat menembus cadar sutera dan menembus darah daging, terus menembus ke lubuk hati Pwe-giok. Tanpa terasa anak muda itu menunduk.</p>
<p>&#8220;Kau inikah Ji Pwe-giok, Ji-kongcu ?&#8221; tanya si perempuan baju hitam.</p>
<p>Bahwa dia ternyata kenal nama Pwe-giok, bahkan bersikap seramah ini padanya, kalau orang lain tentu akan merasa senang seperti mendapat rejeki di luar dugaan.</p>
<p>Tapi Pwe-giok justeru merasa rada takut. Ia tidak mengerti dirinya ternyata sedemikian terkenal. Ia tahu terkenal bukan sesuatu yang menyenangkan.</p>
<p>&#8220;Terkenal&#8221; dapat diibaratkan sepotong baju yang mewah, meskipun dapat membuat orang kelihatan cemerlang, tapi harganya terkadang juga sangat menakutkan.</p>
<p>Melihat anak muda itu termenung, Hay Tong-jing lantas menyela, &#8220;Ji-heng, guruku sedang bicara denganmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ya, cayhe memang betul Ji Pwe-giok,&#8221; cepat Pwe-giok menenangkan diri.</p>
<p>&#8220;Baik, coba kau ikut padaku,&#8221; kata perempuan itu sambil mengebaskan lengan bajunya perlahan.</p>
<p>Ji Pwe-giok, Hay Tong-jing dan Cu Lui-ji bertiga segera seperti diembus angin sejuk, seketika hiat-to mereka yang tertutuk tadi telah terbebas semua.</p>
<p>Cepat Hay Tong-jing menyembah, &#8220;Tecu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusanmu dengan Yang Cu-kang sudah kuketahui dan tidak perlu bicara lagi,&#8221; kata si perempuan baju hitam, sedikit bergeser, tahu-tahu sudah sampai di luar pintu.</p>
<p>Mendadak Lui-ji menarik tangan Pwe-giok erat, tanyanya dengan suara tertahan, &#8220;Hendak kau ikut pergi bersama dia?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok merasa tangan anak dara itu rada gemetar, tanpa terasa timbul perasaan kasihannya, jawabnya dengan lembut, &#8220;Sudah tentu kaupun ikut bersamaku.&#8221;</p>
<p>Terbeliak mata Lui-ji, makin kencang ia pegang tangan anak muda itu, katanya, &#8220;Kemanapun pasti akan kau bawa serta diriku?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok terharu, jawabnya, &#8220;Ya, kemanapun aku akan tetap berada bersamamu.&#8221;</p>
<p>Tapi mendadak si perempuan baju hitam menyeletuk, &#8220;Tapi sekali ini dia tidak dapat membawa kau.&#8221;</p>
<p>Tubuh Lui-ji tergetar dan melepaskan tangan Pwe-giok, tanyanya dengan parau, &#8220;Sebab apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab aku yang omong,&#8221; sahut perempuan itu.</p>
<p>Lui-ji melonjak dan berteriak, &#8220;Berdasarkan apa hendak kau pisahkan kami? Meski kau telah menyelamatkan kami, tapi kalau bukan muridmu yang membikin susah kami, tidak nanti kami datang ke sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Suaranya seperti tersumbat, air matanya bercucuran pula, lalu ia menghentakkan kaki dan berteriak lagi, &#8220;Jadi adalah pantas jika kau selamatkan kami, berdasar apa lantas bersikap garang dan main kuasa?&#8221;</p>
<p>Air muka Hay Tong-jing berubah, ia menyembah di tanah dan memohon, &#8220;Dia masih anak kecil, mohon Suhu jangan marah padanya.&#8221;</p>
<p>Lui-ji mendongak, ia tahan air matanya dan berseru, &#8220;Tidak perlu kau mohonkan ampun bagiku. Aku tidak takut, biarpun dia membunuhku juga aku tidak takut. Matipun aku ingin berada bersama Ji Pwe-giok.&#8221;</p>
<p>Ia pegang lagi tangan Pwe-giok dan berkata, &#8220;Kau sendiri yang bilang, kemanapun akan kau bawa serta diriku, masa&#8230; masa akan kau tarik kembali janjimu?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok terdiam, dengan lembut ia mengusapkan air mata di pipi anak dara itu, mendadak ia berpaling menghadapi si perempuan berbaju hitam dan berkata, &#8220;Sudah ku janji padanya, juga sudah berjanji pada Saceknya, betapapun tidak boleh kutinggalkan dia.&#8221; </p>
<p>&#8220;Masa hubungan mesra ini saja tidak dapat kau tinggalkan, lalu pekerjaan besar apa yang dapat kau hasilkan?&#8221; jengek si perempuan baju hitam.</p>
<p>Dengan sekata demi sekata Pwe-giok menjawab, &#8220;Jika aku tidak dapat menepati janji, lalu dapatkah aku dikatakan manusia?&#8221;</p>
<p>Perempuan baju hitam memandangnya lekat-lekat, perlahan sinar matanya menampilkan secercah senyuman, ucapnya, &#8220;Bagus, bagus, kau memang anak yang baik&#8230;&#8221; ia melayang ke depan Lui-ji dan perlahan mengangkat tangannya.</p>
<p>Nafas Pwe-giok dan Hay Tong-jing serasa berhenti, sebab mereka tahu, asalkan tangan itu jatuh ke bawah, seketika kepala Lui-ji bisa hancur luluh.</p>
<p>Terdengar perempuan itu bertanya kepada Lui-ji, &#8220;Jadi kau merasa berat untuk berpisah dengan dia?&#8221;</p>
<p>Dengan menggertak gigi Lui-ji memandangnya dan menjawab, &#8220;Siapapun jika ingin memisahkan aku dan dia, lebih dulu dia harus melangkahi mayatku.&#8221;</p>
<p>Memandangi tangan si perempuan berbaju hitam, jantung Pwe-giok serasa mau berhenti berdetak.</p>
<p>Tapi tangan perempuan itu perlahan diturunkan lagi, dengan perlahan dia membelai rambut Lui-ji, katanya dengan suara halus. &#8220;Kaupun anak yang baik, tapi kalau benar-benar kau suka padanya, selayaknya tidak boleh menjadi bebannya, harus membiarkan dia pergi sendiri untuk melakukan tugas berat.&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengak, mendadak ia mendekap mukanya dan menangis.</p>
<p>&#8220;Bukan maksudku hendak menyuruh dia meninggalkan kau,&#8221; kata pula si perempuan baju hitam, &#8220;aku hanya menghendaki kalian berpisah untuk sementara, toh kalian masih sangat muda, kesempatan bertemu di kemudian hari kan masih panjang.&#8221;</p>
<p>Lui-ji mendelik, ucapnya dengan suara parau, &#8220;Baik, tidak perlu kau katakan lagi. Aku akan pergi, pergi seorang diri&#8230;&#8221; dia mendekap mukanya dan berlari pergi.</p>
<p>Tapi Pwe-giok sempat menariknya dan bertanya, &#8220;Hen&#8230; hendak kemana kau?&#8221;</p>
<p>Sambil menggigit bibir Lui-ji menjawab, &#8220;Kaupun tidak perlu urus diriku, dengan sendirinya ada tempat yang ku tuju.&#8221;</p>
<p>Meski dia menahan perasaan sedapatnya, tidak urung air mata masih terus berderai.</p>
<p>Meski dunia ini tidak cuma seluas daun kelor, tapi kemanakah dia harus pergi?</p>
<p>Tiba-tiba perempuan berbaju hitam menghela nafas perlahan, ucapnya, &#8220;Tong-jing, boleh kau bawa dia pulang ke gunung, tentu akan kusuruh Ji-kongcu kesana untuk mencarinya, tahu tidak?&#8221;</p>
<p>Dengan girang dan kejut Hay Tong-jing mengiakan, tanyanya, &#8220;Apakah Suhu hendak mengambilnya sebagai murid perempuan?&#8221;</p>
<p>Tersenyum juga perempuan baju hitam, jawabnya dengan perlahan, &#8220;Dia memang anak perempuan yang baik.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Cuaca cerah dan hawa sejuk, sang surya memancarkan sinarnya dengan gemilang, meski sudah di buntut musim rontok, namun hawa udara seperti musim semi.</p>
<p>Untuk pertama kalinya Pwe-giok merasakan betapa menyenangkan sinar matahari setelah sekian lama dirundung malang.</p>
<p>Sekarang segalanya sudah mulai ada titik balik, Lui-ji juga mempunyai harapan hari depan yang baik. Berdiri di bawah sinar sang surya yang hangat ini, saking tak tahan hampir saja dia bersenandung sekerasnya.</p>
<p>Satu-satunya urusan yang disesalkannya adalah ia tidak menemukan Kwe Pian-sian dan Ciong Cing, juga tidak menemukan Ki Leng-hong, bisa jadi Ki Leng-hong telah membawa pergi Kwe Pian-sian dan Ciong Cing secara diam-diam.</p>
<p>Tapi kalau dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan itu, apa artinya sedikit penyesalan.</p>
<p>Didengarnya si perempuan berbaju hitam lagi berkata, &#8220;Meski Yang Cu-kang adalah murid khianat, tapi ada sementara urusan dia tidak berdusta, tatkala mana Hay Tong-jing berada di sampingnya, tentunya dia tidak berani berdusta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Ki Go-ceng adalah Tangkwik-sianseng?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; jawab perempuan baju hitam. &#8220;Ki Go-ceng tidak lebih juga cuma salah seorang boneka Tangkwik-sianseng, baik ilmu silat maupun tipu akal dan keganasannya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Tangkwik-sianseng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan Cianpwe sendiri&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus terang,&#8221; tukas perempuan baju hitam sambil menghela nafas, &#8220;aku sendiripun bukan tandingan iblis jahat itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Sian-thian-cing-gi Cianpwe kan tiada tandingannya di dunia?&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Meski Sian-thian-cing-gi maha sakti, tapi sang pencipta alam ini sangat adil, setiap makhluk setiap barang, selalu diciptakan secara saling anti menganti. Meski kelabang adalah serangga berbisa, tapi ayam jago adalah musuhnya. Biarpun Sian-thian-cing-gi sangat hebat, tetap belum terhitung tiada tandingannya di dunia.&#8221;</p>
<p>Setelah menghela nafas, lalu ia melanjutkan. &#8220;Demi menghadapi diriku, selama belasan tahun ini Tangkwik-siansing telah berhasil meyakinkan semacam kungfu yang khusus ditujukan untuk melawan Sian-thian-cing-gi. Kalau tidak, mana dia berani muncul lagi di dunia Kangouw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, kungfu apakah itu?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Bu-siang-sin-kang (ilmu sakti tak berwujud)!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bu-siang-sin-kang?&#8221; Pwe-giok menegas. &#8220;Wah, setelah berhasil meyakinkan Bu-siang-sin-kang, lantas orang ini boleh malang melintang di dunia Kangouw tanpa takut kepada siapa pun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di dunia ini sekarang memang tiada seorang pun dapat menandingi dia, orang yang dapat menumpasnya di dunia ini mungkin hanya ada seorang saja,&#8221; tutur si perempuan baju hitam.</p>
<p>&#8220;Oo, siapa?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Kau!&#8221; jawab perempuan itu tegas.</p>
<p>&#8220;Ak&#8230; aku?!&#8221; Pwe-giok jadi melenggong. &#8220;Tapi&#8230; aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bicara tentang ilmu silat, dengan sendirinya kau bukan tandingannya, tapi kau seorang yang dapat berpikir panjang, berhati tabah, tenang, banyak segi baikmu yang tidak terdapat pada orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kau tahu kisah Heng Ko membunuh raja Cin di jaman Ciankok dahulu?&#8221; sela si perempuan baju hitam.</p>
<p>&#8220;O, maksudmu aku&#8230; akupun harus membunuh Tangkwik-siansing secara gelap?&#8221;</p>
<p>&#8220;Membunuh secara licik sebenarnya bukan tindakan seorang ksatria sejati,&#8221; ujar si perempuan baju hitam. &#8220;Tapi keadaan mendesak, urusan sudah terlanjur begini, terhadap iblis jahat seperti dia itu tidak perlu lagi bicara tentang tindakan terang atau gelap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi orang kosen semacam Tangkwik-siansing, cara&#8230; cara bagaimana dapat kudekati dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Banyak sekali kesempatanmu untuk mendekati dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Caranya?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu jalan yang paling mudah adalah berusaha mendapat kepercayaan dan kaupun dapat mendekati dia dengan leluasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi berdasarkan apa Tecu akan mendapatkan kepercayaannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja kau memiliki barang yang bisa mendapatkan kepercayaan Tangkwik-siansing, hanya saja kau sendiripun tidak mengetahuinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo? Sudikah Cianpwe memberi penjelasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba katakan dulu, benda mestika simpanan Siau-hun-kiongcu sudah kau dapatkan bukan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tidak berani berdusta, tanpa pikir dia membenarkan.</p>
<p>Mencorong sinar mata si perempuan baju hitam, katanya, &#8220;Dan di antara barang-barang tinggalan Siau-hun-kiongcu itu terdapat sepotong Tik-pai (plat bambu) bukan?&#8221;</p>
<p>Orang kosen ini ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa dan pengetahuan yang luas, rasanya sukar sekali bagi orang yang ingin berdusta padanya.</p>
<p>Maka Pwe-giok mengiakan pula.</p>
<p>&#8220;Dan Tik-pai itu apakah masih berada padamu?&#8221; tanya perempuan baju hitam.</p>
<p>&#8220;Syukurlah sampai sekarang masih kusimpan,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya barang itu cuma sepotong belahan bambu yang sangat umum, tapi dalam pandangan orang lain justeru merupakan benda yang tak ternilai harganya, dan apakah kau tahu dimana letak nilainya yang tinggi itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Justeru hal inilah yang tidak kuketahui,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sebab Tik-pai itu adalah benda kepercayaan Tangkwik-siansing.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benda tanda kepercayaan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, barang siapa memegang pelat bambu itu, seketika jadilah dia tuan penolong Tangkwik-siansing, apapun yang harus dilakukan Tangkwik-siansing atas permintaan orang yang memegang benda itu pasti takkan ditolaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, sebab apa?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Orang ini meski sangat kejam, tapi berwatak angkuh, tinggi hati, sama sekali dia tidak mau hutang budi, betapapun dia tidak suka ditolong orang. Tak tersangka, 30 tahun yang lalu ia justeru telah utang budi kepada seseorang, dan orang ini justeru tidak mengharapkan balas jasa apapun dari dia. Karena itu, terpaksa dia mengukir sepotong bambu dan diberikan kepada penolongnya itu sebagai tanda kepercayaannya. Pada potongan bambu itu terukir huruf yang mengatakan &#8220;melihat Tik-pai sama dengan ketemu orangnya&#8221;, jadi Tik-pai itu mewakili Tangkwik-siansing&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ku paham maksudnya,&#8221; kata Pwe-giok. &#8220;Dan siapakah orang yang memegang Tik-pai itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapapun orang ini tidaklah penting bagi kita, sebab dia sudah mati, yang utama sekarang adalah Tik-pai tersebut sekarang berada padamu,&#8221; kata si perempuan baju hitam. &#8220;Jika Tangkwik-siansing sudah menyatakan Tik-pai itu sama dengan dia pribadi, maka sekarang kau juga sama sebagai tuan penolongnya. Apapun yang kau minta, pasti dilakukannya tanpa ditolak. Kan sudah kukatakan, watak orang ini sangat tinggi hati, apa yang sudah diucapkannya tidak nanti dijilat kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi maksud Cianpwe agar kubawa Tik-pai untuk menemui Tangkwik-siansing dan menyuruh dia memenggal kepalanya sendiri?&#8221; tanya Pwe-giok setelah berpikir.</p>
<p>Perempuan baju hitam tertawa, katanya, &#8220;Biarpun dia tidak bakalan menjilat kembali apa yang diucapkannya, kala kau minta dia memenggal kepalanya sendiri, betapapun tidak nanti dilakukannya. Jika 30 tahun yang lalu permintaanmu mungkin akan terpenuhi, tapi sekarang, usia seorang kalau sudah tambah lanjut, semakin dekat akhir hayatnya, biasanya orang akan semakin merasakan betapa berharganya jiwa sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, jadi maksud Cianpwe&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh kau temui dia dengan membawa Tik-pai dan minta dia mengajarkan Bu-siang-sin-kang padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemudian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk belajar Bu-siang-sin-kang, tentu saja tidak dapat diselesaikan dalam waktu tiga atau lima hari. Selama kau belajar kungfu padanya, tentu banyak kesempatanmu untuk berdekatan dengan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, betul,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Tidak dapat membalas budi, inilah yang dianggapnya penyesalan selama hidup. Sekarang kau datang padanya dengan membawa Tik-pai serta memohon sesuatu padanya, hal ini boleh dikatakan telah melunasi cita-citanya selama ini. Dia pasti akan sangat girang dan takkan tanya asal usulmu, juga pasti tidak berprasangka buruk padamu, pepatah bilang &#8220;harimau pun ada kalanya berkedip&#8221;. Nah, karena kau dapat mendekati dia setiap saat, tentu banyak kesempatan bagimu untuk turun tangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi&#8230;&#8221;</p>
<p>Perempuan baju hitam tidak membiarkan anak muda itu bicara, dengan suara tegas ia menyela, &#8220;Setelah kau tahu kejahatan dan rencana kejinya, apa pula yang kau ragukan lagi? Masakah kau tidak ingin menumpas kejahatan bagi dunia Kangouw umumnya, masakah kau tidak ingin membalas dengan bagi dirimu sendiri?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi asal usul diriku sudah diketahui Cianpwe?&#8221; tergerak hati Pwe-giok.</p>
<p>Perempuan itu tersenyum, katanya, &#8220;Tahukah kau siapa yang mengubah bentuk wajahmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh menyesal, Tecu menerima budi pertolongan beliau, tapi siapa nama beliau yang mulia sejauh ini belum kuketahui,&#8221; jawab Pwe-giok dengan sedih.</p>
<p>&#8220;Pribadinya juga menanggung penderitaan yang sangat mendalam, sebab itulah sudah lama dia mengasingkan diri dan melupakan nama, tapi dapat kuberitahukan kepadamu, dia adalah sahabatku yang paling karib.&#8221;</p>
<p>Mau tak mau Pwe-giok merasa kagum.</p>
<p>&#8220;Sudah lama sekali Tangkwik-siansing tidak berani bergerak,&#8221; demikian perempuan baju hitam menyambung lagi, &#8220;sebabnya adalah karena dia jeri terhadap kami berdua, sebab meski Bu-siang-sin-kang telah berhasil dilatihnya dengan baik, tapi kalau menghadapi gabungan kami berdua, tetap kami sanggup mematikan dia&#8230; cuma&#8230; cuma sayang&#8230;&#8221; suaranya semakin lemah dan berubah menjadi helaan nafas.</p>
<p>&#8220;Cuma sayang apa?&#8221; tanya Pwe-giok. &#8220;Masakah beliau sudah&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai cukup lama si perempuan baju hitam terdiam, habis itu kelihatan terangsang pula, dadanya naik-turun, ia menghela nafas panjang sekali lalu berucap dengan sedih, &#8220;Mungkin&#8230; mungkin ia sudah terkena tangan keji Tangkwik-siansing&#8230;&#8221; tapi dengan cepat ia menyambung pula, &#8220;Namun urusan ini belum dapat kubuktikan, jika Tangkwik tidak mengetahui jelas dia sudah meninggal, mana dia berani muncul lagi di dunia Kangouw? Justeru lantaran dia sudah mati, maka Tangkwik menjadi berani.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok mengertak gigi dan berkata, &#8220;Apa pesan Cianpwe pasti akan kukerjakan, cuma, kalau gerak-gerik Tangkwik-siansing ini sedemikian misterius, kemana harus kucari dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya sukar bagimu untuk mencarinya, tapi dapat diusahakan agar dia yang mencari kau,&#8221; kata perempuan baju hitam.</p>
<p>&#8220;O, maksud Cianpwe agar Tecu menyiarkan berita bahwa Tik-pai itu berada pada tanganku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, jika mendengar berita Po-in-pai (pening balas budi) sudah jatuh di tanganmu, tentu dia akan mencari kau betapapun jauhnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Melihat Tik-pai itu sama melihat orangnya, artinya hanya kenal pada Tik-pai itu dan tidak pula kenal orangnya, tapi sebelum kuserahkan Tik-pai itu padanya, kan setiap orang juga dapat merampas Tik-pai itu dari tanganku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi siapakah yang mampu merebut Tik-pai itu dari tanganmu?&#8221; ujar si perempuan baju hitam.</p>
<p>Pwe-giok tersenyum getir, ucapnya, &#8220;Bukannya Tecu tidak dapat menilai dirinya sendiri, tapi sesungguhnya orang kosen di dunia Kangouw ini masih sangat banyak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul juga ucapanmu,&#8221; kata perempuan itu, &#8220;dengan ilmu silatmu sekarang, di dunia ini sedikitnya masih ada 13 tokoh yang mampu mengalahkanmu, bisa jadi lebih. Tapi orang-orang ini kebanyakan sudah mengasingkan diri, jika mendengar berita hangat ini, mungkin sekali merekapun akan tertarik, andaikan tidak sampai main rebut secara terang-terangan, bukan mustahil akan mengincarnya secara diam-diam.&#8221;</p>
<p>Tanpa memberi kesempatan bicara kepada Pwe-giok, dengan tertawa ia menambahkan pula, &#8220;Tapi kau juga sudah memegang Giam-ong ceh (piutang raja akhiran), kenapa mesti takut lagi kepada orang-orang ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Giam-ong-ceh?&#8221; Pwe-giok menegas dengan heran.</p>
<p>&#8220;Ya, jika kau pegang Po-sin-pai, masa tidak pegang Giam-ong-ceh?&#8221; ujar si perempuan baju hitam.</p>
<p>&#8220;Yang Cianpwe maksudkan apakah buku catatan itu?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; jawab perempuan itu, lalu dengan perlahan ia berucap, &#8220;Manusia bukan nabi, siapa yang tidak pernah berbuat salah? Orang hidup selama berapa puluh tahun, sedikit banyak pasti pernah berbuat salah dan merugikan orang lain, lebih-lebih orang yang sudah terkenal litu, orang hanya melihat sebelah yang gemilang, tapi lupa pada sisi yang lain. Siapapun tidak tahu dengan batu loncatan apa mereka berhasil merangkak ke atas?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela nafas panjang, iapun tahu jalan menuju sukses memang tidak mudah, untuk bisa mencapai titik final entah perlu melangkahi berapa banyak mayat orang.</p>
<p>&#8220;Misalnya,&#8221; demikian perempuan baju hitam menyambung lagi, &#8220;sebabnya Ang Seng-ki dapat menjadi ketua Hong-bwe-pang, justeru lebih dulu dia membunuh Suhengnya, lalu meracun mati gurunya. Rahasia ini akhirnya toh terbongkar. Tapi sebelum tersingkap, setiap orang Kangouw sama mengakui Ang Seng-ki adalah seorang ksatria sejati, seorang pahlawan besar.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela nafas dan diam saja.</p>
<p>Perempuan itu melanjutkan, &#8220;Setelah rahasianya terbongkar, maka orang hanya menganggap nasib Ang Seng-ki lagi malang, sebab entah berapa banyak peristiwa serupa yang terjadi di dunia Kangouw, hanya saja tidak diketahui orang luar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika ingin orang lain tidak tahu, hanya diri sendiri jangan berbuat,&#8221; ucap Pwe-giok menyitir pepatah. &#8220;Seorang kalau berbuat dosa, lambat atau cepat pasti akan ketahuan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, rahasia apapun juga akhirnya pasti akan terbongkar, dan diseluruh dunia ini, orang yang paling banyak mengetahui rahasia ini ialah Siau-hun-kiongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo ?!&#8221; Pwe-giok bersuara heran.</p>
<p>&#8220;Kau tahu Siau-hun-kiongcu cantik molek dan tidak sedikit lelaki yang terpikat, dan saat yang paling sukar untuk menyimpan rahasia kaum lelaki adalah pada waktu berbaring di tempat tidur, di samping si molek.&#8221;</p>
<p>Ucapan perempuan baju hitam ini hanya samar-samar, tapi apa maksudnya cukup gamblang bagi pendengarnya.</p>
<p>Artinya, bilamana seorang perempuan cantik tidur bersama kau di suatu tempat tidur, sebuah mulut mungil berbisik-bisik di tepi telingamu, sepasang mata jeli memandangi kau di samping bantal. Dalam keadaan demikian, jika kau dapat tutup rahasia, maka tergolong kuat imanmu dan harus diberi tanda pujian. Sebab kalau seorang dapat menjaga rahasia bagi orang lain, maka hakikatnya kau adalah seorang nabi.</p>
<p>Dan betapapun nabi di dunia ini tidaklah banyak.</p>
<p>&#8220;Dari sekian orang yang dikenalnya, Siau-hun-kiongcu telah memperoleh macam-macam rahasia yang tidak diketahui umum,&#8221; demikian perempuan baju hitam itu melanjutkan. &#8220;Semua rahasia yang didengarnya itu lantas ditulisnya dalam buku catatan itu. Dia memang seorang pintar, dia cukup tahu betapa nilainya sesuatu urusan, ia dapat menunggu naiknya harga pasar. Ditunggunya bilamana harga urusan itu sudah mencapai titik tertinggi barulah dijualnya. Sebab itulah buku catatan itu selalu disimpannya dengan baik dan tidak pernah dibawanya dalam baju, sebab dia yakin pada suatu hari kelak buku catatan itu pasti banyak gunanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sejauh itu toh tidak pernah digunakannya,&#8221; kata Pwe-giok dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Hal ini disebabkan mendadak ia berubah menjadi bodoh,&#8221; kata perempuan baju hitam.</p>
<p>&#8220;Bodoh?&#8221; Pwe-giok menegas.</p>
<p>&#8220;Ya, bodoh,&#8221; perlahan perempuan baju hitam bertutur. &#8220;Di dunia ini ada dua macam orang yang paling bodoh. Yang pertama adalah kakek yang mencintai anak gadis. Kakek semacam ini mungkin saja cerdas, juga kenyang asam garam kehidupan, tapi sering-sering kelabakan dan pusing kepala karena dipermainkan oleh seorang anak dara yang masih berbau pupuk jeringau. Orang semacam ini meski kasihan, tapi tidak ada orang yang bersimpatik padanya, sebab perbuatannya itu adalah akibat tingkah polah sendiri.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok hanya tersenyum getir saja, ia tahu orang yang tergila-gila kepada anak gadis memang bukan kejadian yang menggembirakan, tapi sering2 malah dramatis, bahkan terkadang juga komedi.</p>
<p>&#8220;Dan orang bodoh macam kedua adalah anak gadis yang edan kasmaran,&#8221; tutur si perempuan baju hitam lebih lanjut. &#8220;Betapapun biasanya anak gadis sangat pintar dan cerdik, sekali dia gila cinta, seketika akan berubah menjadi bodoh dan buta. Sudah jelas orang yang dicintainya itu adalah seorang penjahat, seorang pengeretan, tapi dalam pandangannya lelaki itu adalah orang yang paling jujur di dunia ini, lelaki yang paling menarik. Biarpun lelaki itu bilang padanya bahwa salju itu hitam dan bak (tinta Cina) itu putih, maka iapun akan percaya penuh.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok jadi teringat kepada Ciong Cing yang tergila-gila kepada Kwe Pian-sian yang sudah berumur itu, tanpa terasa ia menghela nafas menyesal pula.</p>
<p>&#8220;Tapi Siau-hun-kiongcu kemudian justeru berubah menjadi orang yang jauh lebih bodoh daripada kedua macam orang tadi, dia bukan saja jatuh cinta secara membuta, bahkan orang yang dicintainya itu adalah binatang kecil yang umurnya lebih muda beberapa puluh tahun daripada dia.&#8221;</p>
<p>Kembali Pwe-giok menghela nafas, katanya, &#8220;Lantaran orang iniliah, Cu-kiongcu tidak sayang mengorbankan segalanya, dengan sendirinya pula dia tidak mau menggunakan rahasia pribadi untuk mengancam orang tua kekasihnya. Kemudian ketika diketahuinya bahwa mereka semua itu adalah manusia berhati binatang, namun segalanya sudah kasip, sudah terlambat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, memang begitu,&#8221; kata perempuan itu. &#8220;Tapi dengan kecerdasanmu, apabila buku catatan ini dapat kaupergunakan dengan baik, tentu banyak hal-hal yang mengejutkan dapat kau lakukan, lebih lebih tidak perlu takut orang lain akan mengusik dirimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak perlu kau katakan, kutahu maksudmu,&#8221; potong perempuan itu sebelum lanjut ucapan Pwe-giok. &#8220;Tapi air memang dapat melajukan kapal dan juga dapat menenggelamkan kapal. Pada dasarnya sesuatu benda itu tidak jahat, bergantung pada hati orang yang menggunakannya, hal ini perlu kau ketahui.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok mengiakan.</p>
<p>Maka tertawalah perempuan itu, katanya, &#8220;Bagus sekali, sudah habis ucapanku, pergilah kau! Pada hari suksesmu, hari itu pula kita akan bertemu. Tatkala mana, segala angan-anganmu akan dapat kubantu kau menunaikannya.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Ketika bayangan tubuh Pwe-giok menghilang di kejauhan, perempuan baju hitam itu masih tetap berdiri di situ.</p>
<p>Sang surya belum terbenam, remang senja sudah mulai meliputi bumi.</p>
<p>Dalam keremangan senja itu perempuan baju hitam itu mendadak berubah menjadi sangat misterius, sangat menyeramkan.</p>
<p>Dia seperti mempunyai dua macam peran, pada siang hari dia adalah manusia. Tapi bila malam tiba, dia lantas berubah menjadi badan halus dalam kegelapan.</p>
<p>Kini dalam kegelapan telah muncul pula sesosok badan halus yang lain.</p>
<p>Badan halus ini adalah Ki Go-ceng.</p>
<p>Bajunya masih berlepotan darah, tapi mukanya sudah tercuci bersih, kedua matanya yang mencorong itu menampilkan senyuman yang misterius, katanya dengan terkekeh, &#8220;Wah, hari ini tidaklah sedikit pembicaraanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mengurangi sedikit kesulitan di kemudian hari, apa alangannya bicara lebih banyak?&#8221; ujar si perempuan berbaju hitam.</p>
<p>&#8220;Bunuh saja dia agar tidak mendatangkan kesulitan?&#8221; kata Ki Go-ceng.</p>
<p>Perempuan baju hitam menggeleng, &#8220;Kau tidak paham&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku memang tidak paham mengapa kau suruh aku pura-pura mati dan mengapa melepaskan dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab hanya dengan jalan ini dapatlah memancing dia menceritakan berbagai urusan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah diceritakannya?&#8221; tanya Ki Go-ceng.</p>
<p>&#8220;Ya, dia sudah mengaku memang dialah anaknya Ji Hong-ho, bahkan dugaanku juga tidak keliru, memang betul si anjing tua itu yang mengubah bentuk wajahnya, dua hal inilah yang selama ini tidak dapat kupastikan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah sekarang sudah diketahui dengan pasti, mengapa kaulepaskan dia?&#8221;</p>
<p>Kembali perempuan itu menggeleng, &#8220;Kau tidak paham, tapi selekasnya kau akan tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuharap semoga kau tidak berbuat salah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bilakah aku pernah melakukan sesuatu kesalahan?&#8221; jengek perempuan baju hitam. Mendadak ia menyurut mundur dua langkah dan berkata, &#8220;Tubuhmu itu berdarah, kenapa tidak ganti pakaian dulu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, kaupun mengira ini darah sungguhan, tampaknya makin lama makin hebat kepandaianku,&#8221; kata Ki Go-ceng dengan tertawa.</p>
<p>Perempuan itu tertawa, ucapnya, &#8220;Kepandaianmu memang tidak kecil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, dimanakah muridmu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu Hay Tong-jing?&#8221;</p>
<p>Ki Go-ceng mengiakan.</p>
<p>&#8220;Dia sudah pulang dengan membawa Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah dia tahu urusan kita ini?&#8221;</p>
<p>Dengan sekata demi sekata si perempuan baju hitam menjawab, &#8220;Untuk suksesnya urusan besar, makin sedikit orang yang mengetahui seluk beluknya akan makin baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bagaimana dengan Yang Cu-kang?&#8221; tanya pula Ki Go-ceng.</p>
<p>&#8220;Demi suksesnya usaha kita, kanperlu mencari beberapa orang untuk dijadikan kambing hitam?&#8221; jawab perempuan berbaju hitam dengan perlahan.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Tanpa terasa musim rontok sudah lalu, makin dinginlah angin yang bertiup.</p>
<p>Selama beberapa hari terakhir ini boleh dikatakan selalu dilalui oleh Pwe-giok dalam keadaan tegang. Setiap hari selalu terjadi hal-hal yang tidak terduga, satu persatu susul menyusul, yang satu lebih berbahaya daripada yang lain sehingga menimbulkan pikirannya bahwa hari ini mungkin adalah hari kehidupannya yang terakhir. Dan baru sekarang dia benar-benar dapat menghela nafas lega.</p>
<p>Sekarang baru diketahuinya keadaan sendiri yang nelangsa, baju yang dipakainya sangat tipis dan kotor, harus ganti dan perlu mandi sebersihnya.</p>
<p>Jika tidak mati, maka dia harus hidup sebaik-baiknya.</p>
<p>Dia ingin mencari suatu tempat yang santai, lebih dulu mandi dan bersihkan muka, lalu ganti pakaian bersih. Terbayang betapa nikmatnya berendam dalam air panas, sekujur badan seketika terasa gatal.</p>
<p>Cuma sayang, dalam saku Pwe-giok sekarang tertinggal beberapa mata uang saja. Seorang kalau keselamatan jiwa selalu terancam, dalam keadaan demikian barulah dia melupakan uang.</p>
<p>Petang itu dia sampai di suatu kota kecil, dengan dua duit dia membeli sekotak geretan dan membeli mi pangsit dengan empat duit. Waktu dia meninggalkan kota kecil itu, sakunya sudah kosong melompong.</p>
<p>Namun hati terasa sangat senang, terutama rahasia orang-orang ternama adalah hal yang paling menarik bagi siapapun.</p>
<p>Sifat suka menyelidiki rahasia orang lain memang merupakan sifat buruk manusia.</p>
<p>Begitulah di luar kota Pwe-giok mendapatkan sebuah tempat yang teraling dari tiupan angin, di situ ia membuat api unggun, setelah dipanggang dengan api, timbullah huruf-huruf yang tertulis pada buku catatan tinggalan Siau-hun-kiongcu.</p>
<p>Nama-nama yang tercatat di dalam buku harian itu memang seluruhnya terdiri dari tokoh-tokoh terkenal, kebanyakan sudah pernah didengar Pwe-giok, diantaranya termasuk kesepuluh tokoh top seperti Tonghong Tay-beng, Li Thian-ong, Oh-lolo cinjin, dan sebagainya, juga nama ketua ke-13 orang besar yang ikut dalam pertemuan Wi-ti semuanya tercatat di situ.</p>
<p>Yang paling menyolok dan mendebarkan bagi Pwe-giok adalah nama ketiga orang ini, Ki Go-ceng, Hong Sam, dan Ji Hong-ho.</p>
<p>Ia hampir tidak percaya kepada matanya sendiri. Selama hidupnya ayahnya terkenal jujur dan lurus, tidak kemaruk harta, tidak cari nama. Lalu ada perbuatan apa yang juga dianggap berdosa?</p>
<p>Meski dia tidak percaya, tapi juga tidak berani tidak percaya.</p>
<p>Ketika membaca nama Hong Sam, halaman itulah dilewatkan.</p>
<p>Hong Sam adalah saudaranya, sahabatnya, biarpun pernah berbuat sesuatu kesalahan juga dapat dimaklumi, maka iapun tidak ingin tahu.</p>
<p>Tapi dia tidak melampaui catatan mengenai Ki Go-ceng. Dilihatnya di bawah nama Ki Go-ceng tercatat keterangan: Berzinah antar kakak dan adik.</p>
<p>Jantung Pwe-giok seakan-akan berhenti berdenyut. Sungguh sukar dipercaya di dunia ini ternyata ada manusia yang tidak tahu malu dan kotor begini. Tapi mau tidak mau ia harus percaya, sebab lantas teringat olehnya putera Ki Go-ceng, yaitu Ki Cong-hoa, kalau bukan hasil perzinahan antara kakak dan adik, manabisa melahirkan orang yang gila itu?</p>
<p>Tapi anehnya Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan tidak mendapatkan bibit jahat keturunan mereka. Padahal umumnya putera-puteri orang kerdil juga jarang yang normal. Apakah mereka memang bukan puteri sedarah Ki Cong-hoa?</p>
<p>Pwe-giok jadi teringat pada lorong di bawah tanah di Sat-jin-ceng atau perkampungan pembunuh orang itu. Di lorong rahasia itu ditemukannya sepotong batu giok, lalu teringat pula kekasih Ki-hujin yang misterius itu. Tidak perlu disangsikan lagi orang itu jelas adalah anggota keluarga Ji (mengenai Sat-jin-ceng dan keluarga Ki, hendaknya baca Renjana Pendekar).</p>
<p>Apakah semua itulah rahasia pribadi &#8220;Ji Hong-ho&#8221; gadungan itu?</p>
<p>Pwe-giok tidak berani memikirkannya lagi, tapi ia tahu bila urusan ini tidak dibikin terang, kelak setiap saat toh masih tetap akan teringat olehnya.</p>
<p>Tanpa terasa ia membalik halaman yang tercatat nama &#8220;Ji Hong-ho&#8221;. Tangannya terasa gemetaran dan jantung berdetak keras.</p>
<p>Dilihatnya di bawah nama &#8220;Ji Hong-ho&#8221; itu tertulis keterangan: kakak beradik tidak akur, adik diusir sehingga menjadi bandit. Wajahnya kelihatan alim, tapi perbuatannya rendah.</p>
<p>Di samping terdapat pula sebaris huruf kecil yang menjelaskan &#8220;Bandit di padang pasir utara It-koh-yan (satu gulung asap) ialah adik Ji Hong-ho, diusir sang kakak sejak kecil, akhirnya menjadi penjahat. Sang kakak terkenal sebagai orang suci, adiknya tersohor sebagai bandit. Sungguh lucu.&#8221;</p>
<p>Seketika tangan Pwe-giok berkeringat dingin.</p>
<p>Teringat olehnya waktu kecil pernah didengarnya mempunyai seorang Jicek atau paman kedua, tatkala mana ibunya belum meninggal dunia, apabila dirinya bertanya mengenai paman itu, sang ibu lantas marah dan menjawab, &#8220;Jicek sudah mati, sudah lama mati.&#8221; â€&#8221; Bahkan disuruhnya selanjutnya jangan bertanya pula.</p>
<p>Dan baru sekarang diketahuinya sang paman tidak mati, jika demikian apakah kekasih gelap Ki-hujin itu memang betul pamannya? Jangan-jangan Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan adalah puteri pamannya, hasil hubungan gelap antara sang paman dengan Ki-hujin?</p>
<p>Selama ini Ki Leng-hong terus berusaha melindungi dirinya, apakah lantaran di antara mereka memang ada semacam hubungan darah dan kontak perasaan yang aneh?</p>
<p>Selagi Pwe-giok termenung-menung sendiri, tiba-tiba didengarnya bunyi gemertak roda kereta. Seorang yang memakai mantel ijuk dan bertopi caping dengan mendorong sebuah gerobak roda satu tampak muncul dari arah timur.</p>
<p>Dalam kegelapan tidak kelihatan barang apa yang termuat di atas gerobak itu, tapi dari jauh sudah tercium bau obat-obatan, jadi muatan gerobak itu kebanyakan adalah bahan obat-obatan.</p>
<p>Jalanan di daerah Sujwan memang tidak datar, tapi banyak liku jalan pegunungan yang sukar dilalui kereta dan kuda. Hanya gerobak roda satu beginilah yang paling leluasa didorong kian kemari. Di daerah pegunungan Sujwan juga banyak menghasilkan bahan obat-obatan, maka pedagang obat di berbagai daerah kebanyakan adalah orang Sujwan.</p>
<p>Orang dengan gerobak roda satu ini tidak ada sesuatu yang istimewa, jika orang lain tentu takkan menaruh perhatian. Tapi Pwe-giok justeru merasa orang ini dan gerobaknya perlu dicurigai.</p>
<p>Dari suara roda kereta dapat diketahuinya barang muatan gerobak itu cukup berat, padahal umumnya bobot bahan obat-obatan sangat ringan.</p>
<p>Curah hujan di daerah Sujwan sangat sedikit, tapi orang ini justeru memakai mantel ijuk yang biasanya cuma dipakai kalau hari hujan, meski mendorong kereta seberat ini, namun langkahnya sangat cepat dan enteng, tidak kelihatan makan tenaga.</p>
<p>Saudagar obat-obatan biasanya juga suka berkelompok, tapi orang ini menempuh perjalanan seorang diri, bahkan kini sudah jauh malam dan dia masih meneruskan perjalanannya.</p>
<p>Semua ini cukup menimbulkan curiga. Hanya saja saat ini Pwe-giok tidak sempat memikirkan orang lain. Sedangkan tukang gerobak itupun sedang mendorong dengan kepala tertunduk dan tidak memperhatikan anak muda itu.</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari kejauhan bergema pula derap kaki kuda lari yang riuh, hanya sekejap saja, suara itu sudah mendekat, nyata kuda ini berlari dengan sangat cepat.</p>
<p>Pwe-giok terkejut oleh suara derap kaki kuda yang cepat itu, dalam kegelapan malam yang sunyi, suara kaki kuda ini kedengarannya sangat menusuk telinga. Namun si tukang gerobak tadi ternyata tidak angkat kepala dan juga tidak berpaling, seperti orang yang tidak mendengar apa-apa.</p>
<p>Tampak seekor kuda membedal dengan cepat, kira-kira masih tiga tombak jauhnya serentak si penunggang kuda melayang dari pelana kuda dan sekali berjumpalitan di udara, seperti burung seriti menerobos hutan, dengan tepat ia hinggap di depan si tukang gerobak.</p>
<p>Kuda yang ditinggalkannya itu meringkik nyaring dan berhenti seketika.</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok memuji, &#8220;Orangnya cekatan, kudanya tangkas!&#8221;</p>
<p>Tapi si tukang gerobak seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi, ia masih terus mendorong gerobaknya ke depan dengan tunduk kepala.</p>
<p>Padahal si penunggang kuda tepat menghadang di tengah jalan, tampaknya gerobak itu segera akan menumbuknya, namun dia tetap tidak bergerak sedikitpun, sungguh tenang dan tabah luar biasa.</p>
<p>Sekarang dapat dilihat Pwe-giok potongan badan penunggang kuda itu pendek lagi gemuk, sehingga mirip sebuah bola. Pada punggungnya justru menyandang sebatang pedang yang amat panjang, bentuknya menjadi rada lucu.</p>
<p>Namun sikapnya ternyata luar biasa, dia hanya berdiri di situ, seketika timbul semacam wibawa yang membikin orang jeri dan tidak berani menghinanya.</p>
<p>Meski tidak dapat melihat jelas mukanya, tapi diam-diam Pwe-giok sudah dapat menduga siapakah orang buntak ini.</p>
<p>Ketika gerobak yang didorongnya itu persis hampir menyentuh tubuh orang, barulah mendadak dihentikan, begitu cepat berhentinya seperti halnya rem pakem pada kendaraan bermesin jaman kini. Padahal muatan gerobak itu sangat berat, tapi baginya ternyata tidak ada artinya, sekali mau berhenti segera berhenti.</p>
<p>Baru sekarang si penunggang kuda menengadah dan bergelak tertawa, serunya. &#8220;Hahaha, mengapa Auyang-pangcu telah berganti usaha menjadi saudagar obat-obatan ? Wah, inilah baru berita !&#8221;</p>
<p>Kiranya si tukang gerobak adalah Auyang Liong, pemimpin besar ke 72 kelompok bajak di perairan Tiangkang. Orang ini sudah pernah dilihat Pwe-giok sewaktu rapat di Hong-ti, cuma sekarang pentolan bajak ini memakai topi dan jas hujan, sehingga wajah aslinya tertutup, tadi Pwe-giok juga merasa orang seperti sudah pernah dikenalnya, cuma tidak ingat siapa dia.</p>
<p>Begitulah terdengar Auyang Liong sedang menjawab dengan tertawa, &#8220;Tajam benar pandangan Hi-tocu, kagum, kagum !&#8221;</p>
<p>Dia mendorong capingnya ke atas, lalu menyambung pula. &#8220;Hi-tocu sendiri tidak memancing ikan saja di lautan selatan, tapi jauh-jauh lari ke sini, memangnya ada pekerjaan apa? Memangnya jabatan pemimpin besar lautan selatan juga sudah ditinggalkan Hi-tocu dan sekarang telah berganti jenis usaha?&#8221;</p>
<p>Benar juga, Pwe-giok tidak salah lihat, si buntak ini memang betul gembong bajak laut di daerah selatan, terkenal sebagai Hui-hi-kiam-khek atau si pendekar pedang ikan terbang, namanya Hi Soan.</p>
<p>Kedua orang ini sama-sama bajak, yang satu bajak laut, yang lain perompak sungai, tapi sekarang keduanya bertemu di daratan sini. Jelas ini tidak terjadi secara kebetulan, diam-diam Pwe-giok merasa heran.</p>
<p>Barang apakah muatan gerobak Auyang Liong itu? Sesungguhnya ada usaha apakah di antara mereka?</p>
<p>Pwe-giok memang bersembunyi di balik batu yang teraling dari tiupan angin, sebab itulah meski dia menyalakan api unggun juga tidak diketahui oleh kedua orang itu, apalagi sekarang api unggun itu sudah mulai padam.</p>
<p>Terdengar Hi Soan berkata lagi, &#8220;Kedatanganku dari jauh ini, masakah Pangcu tidak tahu apa sebabnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang tidak tahu, mohon penjelasan, &#8220;jawab Auyang Liong.</p>
<p>&#8220;Pangcu sendiri datang untuk apa, untuk urusan yang samalah ku datang, kenapa Pangcu berlagak pilon?&#8221; kata Hi Soan dengan tertawa.</p>
<p>Auyang Liong berdiam sejenak, mendadak ia mengeluarkan semacam barang dan berkata, &#8220;Apakah Hi-tocu juga menerima barang ini ? &#8220;</p>
<p>Yang terpegang di tangan Auyang Liong hanya sehelai kartu undangan saja, dengan kedudukan mereka, biarpun setiap hari menerima kartu undangan juga tidak mengherankan, tapi anehnya tangan Auyang Liong yang memegang kartu undangan itu justru rada gemetar seperti orang ketakutan.</p>
<p>Setelah melihat kartu undangan itu, tertawa Hi Soan seketika pun lenyap, jawabnya sambil menghela napas, &#8220;Betul, tahun ini akupun tertimpa sial.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha!&#8221; Auyang Liong tertawa. &#8220;Tahun ini Hu-patya berusia 70 tahun, jauh-jauh beliau mengirim undangan ke laut selatan, hal ini kan suatu kehormatan besar bagi Hi-heng, kenapa malah kau katakan sial?&#8221;</p>
<p>Hal ini juga yang membuat Pwe-giok heran. Bahwa orang mengirim kartu undangan padanya, hal ini menunjukkan orang yang diundang itu cukup luas bergaul, biarpun perjalanan terlalu jauh dan tidak dapat hadir sendiri, kan dapat mengutus orang dengan membawa kado sekedar tanda hormat. Padahal gembong kang-ouw seperti mereka ini masakah perlu hemat sedikit kado?</p>
<p>Tapi dari suara tertawa Auyang Liong yang penuh rasa bersyukur itu, rasanya seperti orang yang dekat ajalnya mendadak menemukan seorang pengiring yang akan masuk kubur bersama. Hal ini benar-benar membikin Pwe-giok tidak habis mengerti.</p>
<p>Terdengar Hi Soan tertawa ngekek, katanya, &#8220;Betul juga ucapan Pangcu, undangan Hu-patya memang harus kuterima sebagai suatu kehormatan, hanya saja, sudah dua bulan ini kucari kian kemari dan belum menemukan suatu kado yang sekiranya cocok. Coba, bagaimana baiknya kalau menurut pendapat Pangcu?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok bertambah heran. Mengirim kado adalah tanda persahabatan, asalkan kirim, bagaimanapun bentuk kado itu, tentunya takkan ditolak oleh si penerima. Apalagi emas perak, batu permata, benda antik, bahan baju dan makanan, semuanya juga dapat dijadikan sebagai kado. Masakah Hui-hi-kiam-khek yang terkenal kaya raya sampai mengalami kesukaran mencari kado, hal ini sukar untuk dipercaya bagi siapapun yang mendengarnya.</p>
<p>Auyang Liong lantas mendengus, &#8220;Hi-tocu dikenal setiap orang kangouw sebagai hartawan dan tokoh berpengaruh, kalau mengaku sukar mendapatkan kado, alasan ini apakah tidak lucu?&#8221;</p>
<p>Hi Soan termenung sejenak, mendadak ia tanya, &#8220;Pernahkah Pangcu mendengar orang yang bernama The Hian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu apakah The-tocu dari Ci-sah-to sahabat karib Hi-tocu sendiri?&#8221; tanya Auyang Liong. &#8220;Meski pengetahuan Cayhe kurang luas, tapi kalau nama The-tocu saja pernah kudengar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan tahukah kau cara bagaimana kematiannya?&#8221; tanya Hi Soan pula.</p>
<p>Auyang Liong melengak, sahutnya, &#8220;Apakah The-tocu meninggal sakit?&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Tokoh macam apakah Hu-patya dengan ilmu pukulan saktinya dan muslihat apa dibalik hari ulang tahunnya yang mengharapkan kado dari para tetamunya?</p>
<p>Cara bagaimana Pwe-giok akan mencari jejak Tangkwik-siansing?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1625/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1625&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/12/imbauan-pendekar-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 11</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/11/imbauan-pendekar-11/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/11/imbauan-pendekar-11/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 01:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1620</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia, Budiwibowo, Bpranoto, Vampire2000, Bsarwono, Axd002, Koedanil dan Sikasep) Tusukan ini langsung menuju ke dada dan tidak ada gerak perubahan lain, juga tiada gerak tersembunyi, tapi Lengkui justru terdesak oleh tusukan demikian dan tidak mampu balas menyerang. Sinar pedang Yang Cu-kang terus memanjang, &#8220;sret-sret-sret&#8221;, berturut ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1620&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia, Budiwibowo, Bpranoto, Vampire2000, Bsarwono, Axd002, Koedanil dan Sikasep)</p>
<p>Tusukan ini langsung menuju ke dada dan tidak ada gerak perubahan lain, juga tiada gerak tersembunyi, tapi Lengkui justru terdesak oleh tusukan demikian dan tidak mampu balas menyerang.</p>
<p>Sinar pedang Yang Cu-kang terus memanjang, &#8220;sret-sret-sret&#8221;, berturut ia menusuk pula tiga kali, semuanya lurus ke depan tanpa gerak perubahan, tapi Lengkui lantas terdesak mundur satu langkah.<br />
<span id="more-1620"></span><br />
Lui-ji juga dapat melihat ke empat jurus Yang Cu-kang itu sama sekali berbeda daripada gaya semula, setelah berpikir, ia tertawa cerah dan berseru, &#8220;Aha, akupun jadi pahamlah&#8230;&#8221; tapi segera ia berkerut kening dan menggeleng pula, sambungnya, &#8220;Tapi akupun tetap tidak paham&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio menjadi heran, tanyanya, &#8220;Kau paham apa? Dan apa pula yang membuat kau tidak paham?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Lui-ji menjawab, dilihatnya Pwe-giok entah sejak kapan sudah menjemput sebilah golok, ia melangkah maju terus menabas ke pundak Lengkui.</p>
<p>Tebasan ini sangat lambat, seumpama dapat mengenai sasarannya juga belum pasti dapat melukainya, kelihatannya malah lebih mirip hendak menaruh golok di atas pundak Lengkui.</p>
<p>Dengan sendirinya Lengkui tidak pernah menghindari, tapi ketika mata golok sudah dekat dengan pundaknya, terlambatlah baginya biarpun dia ingin cepat berkelit.</p>
<p>Sebab gerakan yang sangat lambat ini memang sangat mudah dihindari oleh siapapun, tapi ketika Lengkui bermaksud mengelak, gerakan mata golok Pwe-giok itu mendadak juga berputar. Terdengar suara &#8220;sret&#8221; satu kali, golok itu berputar satu lingkaran.</p>
<p>Gerakan ini sangat cepat, tapi tiada ubahnya seperti lagi main lingkaran, sama sekali tidak ada maksud hendak mencelakai orang. Jadi Lengkui juga tidak perlu lagi mengelak.</p>
<p>Akan tetapi cahaya golok justeru berkelebat di depan mata, mana boleh Lengkui tinggal diam.</p>
<p>Semula Lui-ji merasa cara menyerang Pwe-giok itu agak membingungkan, tapi sekarang ia sudah tahu dimana letak keajaiban serangan itu.</p>
<p>Gerakan golok Pwe-giok itu lambat luar biasa, hakekatnya tidak bergaya jurus, sebab itulah sukar untuk diraba kemana tujuannya. Maka Lengkui menjadi tidak tahu cara mengelak atau mematahkannya.</p>
<p>Tapi meski gerakan itu tanpa jurus, ada goloknya, kalau ada golok, Lengkui harus mengelak, sebab yang akan melukainya bukanlah jurusnya melainkan goloknya.</p>
<p>&#8220;Hah, permainan golok yang hebat!&#8221; seru Lengkui dengan tertawa.</p>
<p>Belum habis ucapannya, tahu-tahu golok Pwe-giok sudah kena bacok di atas tubuhnya.</p>
<p>Sebab dia tidak tahu cara bagaimana harus mengelak atau mematahkan bacokan golok Pwe-giok itu, terpaksa ia harus mematahkan dulu tiga kali tusukan pedang Yang Cu-kang dari depan, setelah dia berhasil mematahkan serangan Yang Cu-kang, tidak dapat lagi baginya untuk menghindari serangan Pwe-giok.</p>
<p>Dan kalau serangan Pwe-giok tak dapat dihindarkan, pedang Yang Cu-kang juga akan menusuk tubuhnya.</p>
<p>Seketika tertampaknya sinar pedang berkelebat, darah segar pun berhamburan.</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus sekali!&#8221; seru Lengkui tetap dengan tertawa. &#8220;Cuma sayang Lengkui tak dapat dibunuh oleh siapapun, selamanya Lengkui tak dapat dibunuh&#8230;&#8221;</p>
<p>Robohlah dia bermandikan darah, namun wajahnya masih tetap membawa senyuman yang kaku itu.</p>
<p>Sekali ini Yang Cu-Kang tidak memandangnya sama sekali, tapi melototi Ji Pwe-giok, sampai sekian lamanya barulah ia menghela napas panjang dan berkata, &#8220;Konon dahulu pendekar golok kilat si Li kecil terkenal sebagai golok nomor satu di dunia, menurut cerita, tidak pernah ada seorangpun mampu menahan sekali serangannya, sebab sekali goloknya bergerak, sukarlah bagi lawan untuk mengetahui cara bagaimana dia hendak menyerang sehingga orang tidak mampu untuk menghindar apalagi mematahkannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, cerita pendekar si golok Li kecil pernah juga kudengar,&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sama halnya kelak namamu pasti juga akan banyak dikenal orang,&#8221; kata Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Aku?&#8221; Pwe-giok menegas.</p>
<p>&#8220;Betul, kau!&#8221; kata Yang Cu-kang dengan agak penasaran terhadap dirinya sendiri sambil menuding golok di tangan Pwe-giok, &#8220;tapi bukan lantaran pribadimu ini, bukan lantaran wajahnya yang cakap, tapi karena ilmu permainan golok yang tidak pernah ada dan juga tidak bakal ada di kemudian hari.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, bukan tertawa puas karena dipuji, tapi karena tiba-tiba teringat olehnya seorang cerdik pandai pernah berkata padanya, &#8220;Seorang yang sombong, dalam keadaan terpaksa harus memuji orang lain, biasanya dia akan marah terhadap dirinya sendiri&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kau bilang ilmu permainan golok? Hakekatnya aku tidak paham ilmu golok apapun,&#8221; sahut Pwe-giok kemudian dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Justeru lantaran kau tidak paham ilmu golok, makanya menakutkan,&#8221; ujar Yang Cu-kang sambil tersenyum kecut. &#8220;Ada golok tanpa jurus, kan jauh lebih menakutkan daripada ada jurus tanpa golok?&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji menyela dengan tertawa, &#8220;Umumnya seorang lelaki suka bilang perempuan bawel, tapi menurut pendapatku, yang benar-benar bawel adalah kaum lelaki, perempuan hanya bawel pada waktu menganggur, tapi lelaki bisa lebih bawel di mana dan kapanpun juga, biarpun dalam keadaan tegang juga suka bicara hal-hal yang sukar untuk dimengerti.</p>
<p>Tertawalah Yang Cu-kang, katanya, &#8220;Ucapanmu ini memang betul, saat ini memang bukan waktunya untuk mengobrol.&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji menarik muka dan berucap, &#8220;Lengkui takkan mati, segera Lengkui akan muncul lagi untuk menuntut balas.&#8221;</p>
<p>Cara bicaranya menirukan nada Lengkui dan kedengaran lucu, tapi bila teringat kepada makhluk yang tak dapat dihalau, tak dapat dibunuh mati siapa yang dapat tertawa geli?</p>
<p>Yang Cu-kang mengusap keringat pada tangannya, lalu berkata, &#8220;Ji-heng, ku tahu dalam hatimu pasti banyak menaruh curiga terhadapku, tapi dapat kukatakan padamu, aku bukanlah lawan melainkan kawanmu.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menjawab dengan cekak aos, &#8220;Kupercaya!&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang menghela napas panjang, katanya pula, &#8220;Bagus, sekarang aku hanya ingin memohon sesuatu padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusan apa?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Di dalam rumah ini ada jalan rahasia di bawah tanah, lekas kau pergi dulu membawa yang terluka dan perempuan, juga ketiga peti ini perlu kau bawa sekalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kau?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Paling tidak aku masih sanggup menjaga diriku sendiri, tidak perlu kau kuatirkan aku dan juga tidak perlu tinggal di sini untuk membantu diriku, &#8220;ujar Yang Cu-kang dengan tak acuh.</p>
<p>&#8220;Akan tetapi kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Yang Cu-kang tidak sabar, ia mendesak, &#8220;Sudahlah, seumpama aku tak dapat menandingi orang, sedikitnya dapat ku kabur. Tapi bila kalian tetap tinggal di sini bisa jadi aku ingin laripun sukar.&#8221;</p>
<p>Dia memapah Hay Tong-jing, lalu berkata pula, &#8220;Apabila dalam hati kalian ingin tahu apa-apa, tanya saja kepada Suhengku bila dia sudah siuman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kau &#8230; &#8220;Lui-ji juga kuatir.</p>
<p>Yang Cu-kang berkerut kening, katanya, &#8220;Biniku saja sudah kupasrahkan kepada kalian, masakah kalian masih kuatir aku minggat dan tidak kembali lagi?&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Lorong di bawah tanah itu serupa lorong rahasia umumnya, gelap dan lembab, bahkan karena berada di bawah dapur, maka tercium bau yang memualkan.</p>
<p>Jalan masuk lorong rahasia itu dibukakan oleh Thi-hoa-nio, tapi dia sendiri tidak tahu lorong itu menembus ke mana, lebih-lebih tidak tahu mengapa di dapur terdapat jalan rahasia ini.</p>
<p>Lui-ji terus menerus menggerundel, &#8220;Persetan! Kenapa kita jadi menuruti kehendaknya dan menyusup ke liang tikus ini? Jika di depan sana ada binatang buas atau makhluk berbisa atau perangkap maut, nah, baru celakalah kita!&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio menggigit bibir, katanya, &#8220;Apakah selamanya kau tidak percaya kepada siapapun juga?&#8221;</p>
<p>Jawab Lui-ji dengan ketus, &#8220;Seumpama kupercaya kepada orang lain juga takkan kukawin dengan dia dengan begitu saja tanpa pertimbangan.&#8221;</p>
<p>Dia melototi Thi-hoa-nio, Thi-hoa-nio juga mendelik kepadanya, kedua orang saling melotot seperti dia dua ekor ayam jago aduan yang sedang saling melotot, sampai sekian lamanya, perlahan Thi-hoa-nio menunduk, matanya tampak basah.</p>
<p>&#8220;Aku tidak seperti kau,&#8221; demikian katanya dengan hampa, &#8220;ada yang sayang, ada yang mencintai kau pula, tapi aku sebatangkara, asalkan ada orang suka padaku sudah cukup membuatku kegirangan.&#8221;</p>
<p>Lui-ji menjengkitkan mulut, lalu melangkah ke depan, tapi beberapa langkah mendadak ia lari balik terus merangkul Thi-hoa-nio, ucapnya, &#8220;Aku tidak sengaja bicara demikian, kuharap jangan kau marah padaku. Aku .. akupun sebatangkara, bahkan sejak kecil tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak, makanya selalu menjemukan.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio tertawa sebisanya, ucapnya dengan lembut, &#8220;Siapa bilang kau menjemukan? Jika kau menjemukan, di dunia ini mungkin tidak ada anak perempuan yang menyenangkan.&#8221;</p>
<p>Lui-ji menunduk, lalu melirik Pwe-giok sekejap, katanya kemudian dengan menyesal, &#8220;Sebenarnya akupun tahu maksudmu, demi melindungi kami, demi mencari tahu seluk-beluk Yang Cu-kang, makanya kau kawin dengan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin semula memang begitu maksudku.&#8221; ujar Thi-hoa-nio dengan gegetun, &#8220;tapi kemudian kulihat cara bicara orang ini meskipun sangat menjengkelkan, tapi sebenarnya bukan orang jahat.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Menurut pendapatku, bahkan sikapnya yang menjengkelkan itupun sengaja dibuat-buat&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apakah dia sengaja berbuat demikian?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Ada sementara orang yang bercita-cita tinggi dan bertugas berat, dia terpaksa harus mandah menerima hinaan dan &#8230;&#8221;</p>
<p>Pada saat itulah mendadak terdengar suara &#8220;blang&#8221; yang keras di lorong rahasia itu.</p>
<p>Lui-ji terkesiap, katanya, &#8220;Lengkui yang tidak dapat dibunuh itu mungkin sudah muncul lagi.&#8221;</p>
<p>Wajah Thi-hoa-nio berubah pucat, agaknya juga rada gemetar.</p>
<p>Tiba-tiba Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Eh, apakah kalian pernah dengar cerita tentang Siau-sin-tong (si bocah ajaib) membikin Hiat-eng-jin (manusia bayangan darah) mati kecapaian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ti &#8230; tidak tahu,&#8221; jawab Thi-hoa-nio.</p>
<p>Dalam keadaan dan pada waktu demikian, Pwe-giok justeru ingin bercerita, sungguh aneh. tapi meski heran, karena bisa mendengar cerita menarik, betapapun Lui-ji merasa senang, katanya dengan tertawa, &#8220;Hiat-eng-jin, nama ini sungguh aneh, kukira orang ini bukan barang baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; kata Pwe-giok, &#8220;orang ini berhati keji dan bertangan ganas, membunuh orang seperti membunuh ayam, meski setiap orang Kangouw sama membencinya, tapi juga tidak dapat berbuat apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ilmu silatnya sangat tinggi?&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Bukan saja sangat tinggi, bahkan Ginkangnya tidak ada bandingannya,&#8221; tutur Pwe-giok, &#8220;beberapa kali sudah jelas dia terkepung oleh belasan tokoh kelas tinggi, tampaknya riwayatnya pasti akan tamat, tapi akhirnya dia berhasil lolos juga berkat Ginkangnya yang hebat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas, orang macam apa pula Siau-sin-tong itu? Cara bagaimana dia membikin Hiat-eng-jin mati kecapaian?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Sesuai julukannya, Siau-sin-tong dengan sendirinya adalah seorang anak kecil, bahkan baru saja muncul di dunia Kangouw, tidak ada yang tahu bagaimana asal-usulnya sehingga orang pun tidak menaruh perhatian padanya. Suatu hari, ketika Siau-sin-tong mendadak berbuat sesuatu yang menggemparkan dunia persilatan sehingga setiap orang sama tertarik padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Perbuatan apa?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Dia memberi upah dan menyuruh orang menempel plakat di setiap kota besar, katanya dia hendak bertanding Ginkang dengan Hiat-eng-jin, bahkan menyatakan apabila Hiat-eng-jin tidak berani menerima tantangannya, maka Hiat-eng-jin bukan manusia melainkan hewan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, meski kecil orang nya, tampaknya nyali Siau-sin-tong itu sangat besar,&#8221; ujar Lui-ji dengan tertawa.</p>
<p>Kini Thi-hoa-nio juga mulai tertarik oleh cerita itu, ia tidak tahan dan bertanya, &#8220;Lalu, Hiat-eng-jin terima tantangannya atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah biasa Hiat-eng-jin malang melintang di dunia Kangouw, siapapun tidak terpandang olehnya, mana dia tahan akan tantangan itu. Tidak sampai tiga hari dia sudah mendatangi Siau-sin-tong. Kedua orang bersepakat mengadakan pertandingan Ginkang, diputuskan pertandingan lari cepat itu dimulai dari kotaraja hingga Bu-han, jaraknya kurang lebih lima ribu li. Siapa yang tiba lebih dulu di tempat tujuan dianggap menang, dan yang kalah harus membunuh diri dengan menggorok leher sendiri tanpa syarat.&#8221;</p>
<p>&#8220;kalau Hiat-eng-jin adalah orang ganas dan keji begitu, mengapa dia tidak membunuh saja Siau-sin-tong?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Sebab dia memang sombong dan anggap dirinya nomor satu di dunia, kalau Siau-sin-tong menantang lomba Ginkang dengan dia, bila ia membunuh bocah itu dengan cara lain, kan kelihatan gagah,&#8221; Pwe-giok tertawa, lalu menyambung pula, &#8220;Apalagi Ginkangnya memang sangat tinggi dan sukar ditandingi siapapun, sampai tokoh Kun-lun-pay, Hui-liong Cinjin yang termasyhur dengan Ginkangnya juga mengaku bukan tandingannya, apalagi cuma Siau-sin-tong seorang bocah berumur 13-14 tahun. Biarpun bocah ini berlatih Ginkang sejak masih berada di dalam rahim ibunya, paling-paling juga cuma berlatih selama 15 tahun saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, demikian, bukankah berarti Siau-sin-tong itu mencari susah sendiri?&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Waktu itu setiap orang Kangouw memang menganggap Siau-sin-tong mencari mati sendiri, semua orang sama berkuatir baginya. Siapa tahu apa yang terjadi kemudian ternyata sama sekali di luar dugaan mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, Siau-sin-tong menang, bukan?&#8221; tanya Lui-ji dengan gembira.</p>
<p>&#8220;Waktu fajar mereka mulai lari dari pintu gerbang timur ibukota, ketika matahari terbenam, sampailah Hiat-eng-jin di kota Titlik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, kecepatan lari Hiat-eng-jin sungguh melebihi kuda lari,&#8221; ujar Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Tatkala mana iapun mengira sudah jauh meninggalkan Siau-sin-tong di belakang, selagi dia bermaksud berhenti untuk mengaso, cuci muka dan mengisi perut, siapa tahu, baru saja ia melangkah masuk rumah makan, belum lagi pegang sumpit, mendadak dilihatnya Siau-sin-tong berkelebat lewat di depan pintu secepat terbang, kecepatannya serupa pada waktu mulai start, sedikitpun tidak ada tanda-tanda lelah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, Siau-sin-tong memang hebat,&#8221; seru Lui-ji dengan tertawa cerah.</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya Hiat-eng-jin kuatir ketinggalan, tanpa sempat makan minum lagi segera ia taruh sumpit terus mengejar,&#8221; tutur Pwe-giok pula. &#8220;Setelah lari lagi sehari semalam, biarpun Hiat-eng-jin tergembleng dari baja juga mulai lelah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika aku mungkin sudah lama kurebahkan diri.&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Waktu dilihatnya di tepi jalan ada penjual wedang kacang hijau yang baru buka pasaran, kelihatan masih mengepul dan berbau sedap, ia tidak tahan, ia mendekati penjual wedang kacang dan ingin minum barang satu-dua mangkuk sekedar mengisi perut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa tahu, baru saja dia pegang mangkuk kacang hijau itu, segera dilihatnya Siau-sin-tong berkelebat lewat secepat terbang, begitu bukan?&#8221; sambung Lui-ji dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Betul, sedikitpun tidak salah,&#8221; jawab Pwe-giok dengan tertawa. &#8220;Bocah itu masih tetap mempertahankan kecepatan larinya seperti semula, seolah-olah manusia yang tidak kenal capai. Keruan Hiat-eng-jin takut kalah, belum sempat minum wedang kacang hijau itu, seketika ia angkat kaki dan mengejar lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah dia tidak salah lihat?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Waktu itu Hiat-eng-jin juga tergolong jago am-gi terkemuka, ketajaman matanya juga luar biasa, konon seekor lalat saja dapat dilihatnya dengan jelas dari jarak beratus tombak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, awas benar matanya,&#8221; seru Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Itu saja belum,&#8221; kata Pwe-giok dengan tertawa, &#8220;konon lalat itu dapat pula dibedakan lalat jantan atau betina. Sebab itulah ketika Siau-sin-tong berkelebat lewat di depan pintu segera dapat dilihatnya dengan jelas.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini Thi-hoa-nio jadi melongo terkesima.</p>
<p>&#8220;Wah, orang ini benar-benar bermata maling.&#8221; kata Lui-ji dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Ya, orang ini memang dapat dikatakan tokoh ajaib dunia persilatan yang sukar dicari bandingannya,&#8221; ujar Pwe-giok dengan gegetun. &#8220;Tapi apapun juga dia kan manusia, dan manusia tentu terbatas kekuatannya, ada kalanya dia tidak sanggup bertahan lagi. Maka setiba di Bu-han, akhirnya dia roboh&#8221;.</p>
<p>&#8220;Masa sepanjang jalan itu dia tidak pernah beristirahat?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Bukan saja tidak beristirahat, bahkan satu butir nasi saja tidak pernah masuk perut,&#8221; tukas Pwe-giok dengan tertawa. Lalu sambungnya, &#8220;Sebab setiap kali dia hendak mengaso atau makan, baru saja dia pegang sumpit, segera dilihatnya Siau-sin-tong melayang lewat. Terpaksa ia terus mengejar ke depan, dan lupa berhenti akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Ketika tiba di depan Wi-hau-lau, restoran yang menjadi tempat tujuan terakhir, ia mengira pertandingan ini pasti dimenangkan oleh dirinya. Siapa tahu, sekali mendongak, tahu-tahu Siau-sin-tong kelihatan sedang menggapai padanya di atas loteng restoran itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha ha, bagus, bagus, cerita ini sungguh sangat menarik,&#8221; seru Lui-ji sambil berkeplok.</p>
<p>&#8220;Dan kemudian, apakah Hiat-eng-jin benar-benar membunuh diri dengan menggorok leher sendiri?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Biar jahat, tapi orang ini sok anggap dirinya lain daripada orang biasa, tindakan ingkar janji dan main belit tidak pernah dilakukannya, apalagi setiba di Bu-han keadaannya sudah payah, hampir berdiri saja tidak kuat, sekalipun ingin kabur juga sulit, padahal orang lainpun pasti takkan mengampuni dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan seorang tokoh jahat itu lantas mati ditangan seorang anak kecil?!&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Betul&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Mencorong sinar mata Lui-ji, katanya, &#8220;Seorang anak berusia belasan tahun sudah memiliki Ginkang setinggi itu, sungguh sangat mengagumkan.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tersenyum dan menggeleng, &#8220;Meski Ginkangnya cukup hebat, tapi kalau dibandingkan Hiat-eng-jin, sungguh selisihnya sangat jauh&#8221;.</p>
<p>Liu-ji jadi melengak, tanyanya, &#8220;Jika Ginkangnya tidak melebihi Hiat-eng-jin, kenapa dia bisa menang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa lantaran usianya lebih muda dan tenaganya lebih kuat.&#8221; sambung Thi-hoa-nio.</p>
<p>Pwe giok menggeleng pula, katanya dengan tersenyum, &#8220;Tidak, bukan begitu sebabnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis meng&#8230; mengapa bisa begitu?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Masa tak dapat kau terka?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji merunduk dan berpikir agak lama, mendadak ia berkeplok, katanya sambil tertawa, &#8220;Aha, tahulah aku, Siau-sin-tong pasti dua saudara kembar yang serupa, salah seorang menunggu lebih dulu dibagian depan, apabila Hiat-eng-jin sampai di situ, dia sengaja memperlihatkan diri sejenak, sedangkan yang lain segera menunggang kuda cepat mendahului ke depan lagi, bila Hiat-eng-jin dapat melampaui yang satu, sementara itu Siau-sin-tong yang lain sudah menunggu lagi di depan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan, juga bukan begitu,&#8221; kata Pwe-giok dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Masih tidak betul?&#8221; Lui-ji melengak.</p>
<p>&#8220;Coba kau pikir, selama hidup Hiat-eng-jin malang melintang, masa dia mudah ditipu? Apalagi dengan gerak tubuhnya yang cepat, sekalipun ada kuda pilihan juga sukar mendahului dia jauh di depan sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa jadi&#8230; bisa jadi mereka mengambil jalan potong yang lebih dekat.&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Wah, jika demikian, aku menjadi&#8230; menjadi bingung,&#8221; ujar Liu-ji sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ha, tahulah aku!&#8221; seru Thi-hoa-nio mendadak.</p>
<p>&#8220;Oo? Kau tahu?&#8221; heran juga Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Tentu Siau-sin-tong telah mengumpulkan beberapa anak yang serupa dengan dia, lalu didandani hingga sama, mereka sembunyi di sepanjang jalan, apabila Hiat-eng-jin hendak berhenti mengaso, segera salah seorang diantara sengaja berlari lewat di depan Hiat-eng-jin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tetap tidak betul,&#8221; ujar Pwe-giok sambil menggeleng.</p>
<p>&#8220;Masa tetap tidak betul?&#8221; Thio-hoa-nio menegas dengan melengak.</p>
<p>&#8220;Kan sudah kukatakan tadi, Hiat-eng-jin bukan orang yang mudah ditipu, bahkan pandangannya sangat tajam, mana bisa Siau-sin-tong menipunya dengan cara begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, kalau cuma menyamar dan dirias saja tetap ada bagian yang kelihatan, apalagi, untuk mencari anak lain yang serupa dan berperawakan sama dengan Siau-sin-tong juga bukan pekerjaan yang gampang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih-lebih Siau-sin-tong memiliki Ginkang dengan gaya tersendiri, gerak tubuhnya sangat aneh, orang lain sukar menirukannya. Justru lantaran inilah, maka sejak mula sampai akhir Hiat-eng-jin tidak curiga sedikitpun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, jika demikian, lantas bagaimana kejadian yang sesungguhnya, aku benar-benar tidak mengerti, kata Thi-hoa-nio.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau sudah tersingkap, hal ini sedikitpun tidak mengherankan,&#8221; ujar Pwe-giok dengan tertawa. &#8220;Sebabnya, meski Siau-sin-tong bukan kembar dua, tapi justeru kembar lima. Mereka lima bersaudara serupa barang cetakan.&#8221;</p>
<p>o0oOo0o</p>
<p>Oleh karena Yang Cu-kang memberi pesan agar orang di dalam peti jangan di lepaskan dulu, agar gerak-gerik mereka bisa leluasa, terpaksa mereka menggendong peti itu dan mengikatnya dengan tali di punggung.</p>
<p>Sudah tentu bukan pekerjaan enak menggendong peti seberat itu, tanpa terasa Thi-hoa-nio dan Lui-ji lupa pada beban di punggung mereka.</p>
<p>&#8220;Hah, tadinya kukira kau tidak suka bicara, siapa tahu, sekali kau mau bercerita, orang mati pun dapat kau lukiskan seolah-olah hidup kembali,&#8221; kata Lui-ji dengan tertawa. &#8220;Bahkan kaupun dapat tahan harga, jual mahal, bikin ceritamu tambah menarik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, kalau kelima bersaudara kembar itu berbentuk serupa, kukira benar-benar sangat lucu dan menarik,&#8221; tukas Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Tapi kuberani bertaruh kelima bersaudara ini pasti sukar mencari bini,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Aneh, sebab apa?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Setelah tahu kejadian itu, anak perempuan mana lagi yang berani kawin dengan mereka?&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Mengapa tidak berani?&#8221; tanya Thi-hoa-nio pula.</p>
<p>&#8220;Coba pikir, apabila mereka iseng, lalu mereka pun menggunakan cara menghadapi Hiat-eng-jin itu terhadap isterinya sendiri, coba, anak perempuan mana yang tahan?&#8221;</p>
<p>Bicara demikian, tanpa terasa muka sendiri menjadi merah.</p>
<p>Thi-hoa-nio mengikik tawa, ucapnya, &#8220;Ya, betul juga kalau terjadi kekeliruan, kan repot!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mukanya menjadi merah juga.</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Maksudku, apakah kalian tahu untuk apakah ku tuturkan cerita ini?&#8221;</p>
<p>Terbeliak Lui-ji, katanya, &#8220;Maksudmu apakah Lengkui itupun terdiri dari lima saudara kembar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kira-kira begitulah,&#8221; kata Pwe-giok. &#8220;Cuma, mereka tentu saja bukan lima saudara kembar sungguhan, tapi kembar buatan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sama sekali tidak kulihat sesuatu ciri bekas riasan pada diri mereka,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Pwe-giok menghela napas, katanya, &#8220;Ilmu rias umumnya hanya dapat mengelabui orang untuk sementara, tapi dengan sangat mudah segera akan ketahuan. Apabila dilakukan pembedahan secara cermat, pada waktu masih kecil wajah mereka sudah dibedah dan dirias hingga serupa benar, lalu diberi obat bius untuk mempengaruhi pikiran mereka, akibatnya jadilah mereka sekawanan boneka yang berwajah serupa, suara dan gerak-gerik juga tidak banyak berbeda.&#8221;</p>
<p>Setelah menghela napas panjang, lalu ia menyambung pula, &#8220;Kejadian ini kedengarannya sukar untuk dimengerti, tapi tidak mustahil terjadi. Aku berani menjamin, bahwa di dunia ini memang ada orang pandai yang pintar permak wajah seseorang.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tercengang, katanya, &#8220;Jika demikian, manusia segar bugar juga dapat dipermaknya menjadi seperti patung, mukanya dapat diukir menurut kehendaknya dalam bentuk apapun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, Lengkui kedua itulah yang melukai Hay tong-jing, sebab dia yang pernah bergebrak dengan Hay Tong-jin, makanya dia sangat apal terhadap ilmu silat Yang Cu-kang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, Yang Cu-kang dan Hay tong-jing adalah saudara seperguruan, ilmu silat mereka tentu saja sama,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Pantas setelah Yang Cu-kang mendengar ucapanmu tadi, seketika semangatnya terbangkit,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Tadinya dia mengira Lengkui itu benar-benar hidup kembali, makanya begitu apal terhadap ilmu silatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab itulah, biarpun datang lagi Lengkui ketiga juga tidak perlu dikuatirkan lagi,&#8221; kata Pwe-giok. &#8220;Sebab Lengkui ketiga ini pasti tidak tahu gaya ilmu silatnya, sebaiknya dia sudah pernah bergebrak dengan dua Lengkui, tentu dia dapat mengenali gaya serangan lawan. Kalian pasti dapat melihatnya juga, meski cepat dan aneh daya serangan Lengkui, tapi tidak banyak perubahannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kalau tidak, masa kau tinggalkan Yang Cu-kang di sana sendirian, bukan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok hanya tertawa dan tidak menjawab, tapi Thi-hoa-nio lantas berkata. &#8220;Barang siapa yang dapat berkawan dengan orang semacam Ji-kongcu, sungguh beruntunglah dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku tetap tidak jelas sesungguhnya Yang Cu-kang kawan Ji Pwe-giok atau bukan,&#8221; tukas Kui-ji. &#8220;Kupikir tindak tanduknya rada-rada bolak-balik dan sukar untuk diraba apa maksud dan tujuannya.&#8221;</p>
<p>Mendadak seseorang menanggapi dengan menghela nafas, &#8220;Sesungguhnya ada kesukarannya yang tidak dapat dikatakan, sebelum tiba saat terakhir tidak nanti diberitahukannya rahasia dirinya kepada orang lain&#8230;&#8221;</p>
<p>Ternyata entah sejak kapan Hay Tong-jing telah mendusin, sejak tadi Pwe-giok memayangnya berjalan dengan setengah merangkul, baru sekarang dia dapat berdiri sendiri dengan tegak.</p>
<p>&#8220;Syukur kepada Thian dan Te, akhirnya kau sadar juga,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Tapi sampai kapan barulah hendak kau katakan rahasia kalian? Bilakah baru akan tiba saat terakhir kalian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Meski sekarang belum sampai detik terakhir, tapi rasanya sudah boleh kukatakan rahasia ini.&#8221; ucap Hay Tong-jing setelah berpikir sejenak.</p>
<p>&#8220;Oo ? Sebab apa ?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Sebab rahasia ini sudah bukan rahasia lagi.&#8221; kata Hay Tong-jing dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Bukan rahasia lagi ? Padahal jelas-jelas masih tetap rahasia,&#8221; tukas Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak rahasia, bergantung persoalannya terhadap siapa ? Umpama terhadap kau &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Baik, baik,&#8221; sela Lui-ji, &#8220;tak ku perduli apakah keteranganmu ini benar rahasia atau bukan, aku cuma ingin tanya padamu, sesungguhnya siapa kalian? Apa artinya kedua bait syair yang diucapkan Yang Cu-kang itu ?&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing termenung sejenak, katanya kemudian dengan pelahan, &#8220;Aku dan Yang Cu-kang sebenarnya sama-sama anak piatu, guru kami sama seperti juga ayah kami &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Ku tahu kalian adalah anak yatim piatu, aku hanya ingin tahu siapa guru kalian?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>Mendadak Hay Tong-jing menarik muka, jengeknya, &#8220;Peristiwa ini terlalu panjang untuk diceritakan, jika kau ingin tahu, hendaklah kau sabar.&#8221;</p>
<p>Lui-ji mendongkol, ia mencibir dan menjawab, &#8220;Baik, tidak perlu kau ceritakan, memangnya apa yang menarik ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang biarpun kau tidak mau mendengarkan tetap akan kuceritakan,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>Tertawalah Lui-ji, katanya, &#8220;Hihi, ini nama sifat keledai Soasay, kalau di halau tidak mau jalan, di tarik dia malah mundur. Dasarnya memang hina.&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing tidak menghiraukannya, tapi berkata kepada Pwe-giok, &#8220;Sesungguhnya rahasia ini sejak dahulu harus kuceritakan, sebab urusan ini mungkin besar sangkut pautnya dengan Ji-heng.&#8221;</p>
<p>Air muka Pwe-giok berubah, belum lagi ia bersuara, Hay Tong-jing sudah menyambung, &#8220;Sudah lama guruku mengasingkan diri, umpama ku sebut nama beliau juga belum tentu dikenal kalian, meski aku tidak ingin menjunjung tinggi beliau, tapi sesungguhnya beliau memang seorang kosen dunia persilatan, pada 50 tahun yang lalu beliau sudah tidak ada tandingannya di dunia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa jadi lantaran dia tidak pernah bertemu dengan tokoh semacam Hong-samsiansing dan sebagainya,&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>Tapi Hay Tong-jing tetap tidak menghiraukan, katanya pula, &#8220;Selama hidup beliau hanya ada seorang musuh, konon orang inipun tokoh yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, bukan saja ilmu silatnya maha tinggi, bahkan mahir segala macam ilmu pengetahuan, cuma hatinya keji dan tangan ganas, dahulu tokoh ini terpaksa kabur sejauh-jauhnya karena terdesak oleh guruku dan seorang jago tua lain, bahkan orang itu dipaksa bersumpah, selama guruku dan jago tua itu masih hidup, selama itu pula dia tidak pulang ke daerah Tionggoan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapakah orang ini ?&#8221; tanya Pwe-giok terkesiap.</p>
<p>&#8220;Guruku tidak pernah menyebut namanya hanya di katakan dia berjuluk Tangkwik-siansing&#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Tangkwik-siansing? &#8230; &#8221; Pwe-giok mengulang nama itu sambil berkerut kening.</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya Ji-heng tidak kenal namanya, sebab sudah hampir 30 tahun orang ini mengasingkan diri di daerah terpencil, bahkan tetap taat kepada sumpahnya, selama ini tidak pernah selangkah pun menginjak daerah Tionggoan.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela napas gegetun, katanya, &#8220;Betapapun jahatnya, tokoh kalangan hitam di masa lampau masih menjaga harga diri dan sayang pada namanya sendiri, tapi sekarang, agaknya satu angkatan semakin surut daripada angkatan yang tua.&#8221;</p>
<p>&#8220;Meski orang ini hidup jauh terpencil, tapi tidak benar-benar tirakat dan mawas diri,&#8221; tutur Hay Tong-jing pula. &#8220;Hanya untuk sementara saja dia tidak berani melakukan kejahatan secara terang-terangan&#8221;</p>
<p>Dia menghela napas, lalu menyambung, &#8220;Setahu guruku, selama 30 tahun ini terus menerus ia merancang tipu muslihat secara diam-diam dan bermaksud timbul kembali, bahkan sekaligus akan menyapu jagat. Kini guruku sudah lama mengundurkan diri, jago tua seangkatannya juga sudah lama wafat, maka Tangkwik-siansing merasa sudah tiba saatnya, dia lantas&#8230;lantas&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai di sini agaknya dia sudah lemah, berdiri saja tidak kuat lagi.</p>
<p>Cepat Thi-hoa-nio menurunkan peti dan memapahnya berduduk.</p>
<p>Hay Tong-jing adalah kakak seperguruan Yang Cu-kang, dengan sendirinya ia wajib menjaga dan memperhatikan keselamatannya.</p>
<p>Tapi Lui-ji buru-buru ingin tahu, ia tanya pula, &#8220;Maksudmu iblis Tangkwik-siansing itu tidak rela hidup terpencil, akhirnya merancang sesuatu intrik untuk bergerak secara besar-besaran?&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing menghela napas, katanya, &#8220;Meski guruku sudah mengundurkan diri, tapi beliau cukup kenal betapa jahatnya orang ini, sebab itulah diam-diam guruku tetap mengawasi dia. Cuma gerak-gerik orang ini memang sangat misterius, tindak-tanduknya juga rapi, selama ini guruku tetap tidak berhasil mendapatkan sesuatu bukti. Sampai akhir-akhir ini guruku keluar rumah selama lebih tiga bulan, sepulangnya kami lantas ditugaskan melakukan sesuatu.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, sesuatu tugas apa?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Kami ditugaskan mengawasi tindak-tanduk Ji Hong-ho, Bu-lim-bengcu sekarang.&#8221;</p>
<p>Air muka Pwe-giok berubah kelam, ucapnya, &#8220;Jika demikian, jadi&#8230; orang she Ji ini adalah boneka Tangkwik-siansing yang dipergunakan untuk memegang kekuasaan tertinggi di dunia persilatan. Memang sudah lama kuperkirakan dia pasti mempunyai sandaran kuat di belakangnya&#8221;</p>
<p>&#8220;Tindakan guruku biasanya tidak suka banyak penjelasan, tapi menurut perkiraan kami, keadaannya pasti demikian adanya&#8221; ujar Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Kalau Tangkwik-siansing tidak tampil ke muka, terpaksa ia menggunakan boneka yang mempunyai nama dan kedudukan di dunia persilatan, dan Ji Hong-ho biasanya memang suka meninggikan nama untuk mencari keuntungan pribadi, dialah pilihan yang paling tepat&#8221;</p>
<p>Air muka Pwe-giok berubah pula, ingin bicara tapi ditahan lagi.</p>
<p>Gemerdep sinar mata Lui-ji, katanya kemudian, &#8220;Pantas tempo hari dia hanya memberi suatu tanda, lalu si gendut Thian-sip-sing itu tidak berani mengganggunya. Tentunya Thian-sip-sing itupun kenal kelihaian Tangkwik-siansing&#8221;</p>
<p>&#8220;Pada jaman ini, kecuali guruku, mungkin tiada seorangpun yang sanggup menahan sekali pukulan Tangkwik-siansing itu, biarpun Hong Sam&#8230;hehe!&#8221; Hay Tong-jing hanya tertawa dingin saja dan tidak melanjutkan, namun sudah cukup jelas apa maksudnya.</p>
<p>Tapi sekali ini, Lui-ji tidak lagi balas mengejek, sebab ia pikir kungfu Thian-sip-sing itu memang betul tidak di bawah paman Hong, kalau Thian-sip-sing saja takut kepada Tangkwik-Siansing, maka betapa tinggi kungfu Tangkwik-siansing itu dapatlah dibayangkan.</p>
<p>Begitu terpaksa Lui-ji menahan rasa dongkolnya, lalu tanya pula, &#8220;Dan apa artinya kedua bait syair yang disebut-sebut kalian itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya Tangkwik-siansing sendiri tidak dapat masuk ke daerah Tionggoan untuk mengadakan kontak langsung dengan Ji Hong-ho, maka dia mengutus dua orang untuk menyampaikan perintahnya. Tapi kedua orang ini telah dicegat guruku di tengah jalan, dan sandi yang hendak mereka gunakan untuk mengadakan hubungan dengan Ji Hong-ho adalah dengan kedua bait syair itu&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa kedua orang itu mau memberitahukan rahasia ini kepada gurumu?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Di depan guruku, mungkin tidak ada orang di dunia yang berani berdusta&#8221;</p>
<p>&#8220;Makanya gurumu lantas menyuruh kau dan Yang Cu-kang menyamar sebagai kedua orang yang dibekuk gurumu itu untuk bekerja sama dengan Ji Hong-ho?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8221; jawab Hay Tong-jing.</p>
<p>Lui-ji menghela napas gegetun, ucapnya, &#8220;Pantaslah Ji Hong-ho sedemikian mempercayai kalian&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kalau Tangkwik Siansing mau menyerahkan pekerjaan besar itu kepada Ji Hong-ho, suatu tanda orang ini pasti tidak boleh diremehkan. Setelah kami bertemu dengan dia, kamipun dapat merasakan orang ini memang licik dan licin, cerdik dan pandai. Sebab itulah tidak boleh tidak kami harus bekerja sedikit baginya agar tidak menimbulkan curiganya&#8221;</p>
<p>&#8220;O, makanya kalian gunakan orang lain sebagai oleh-oleh&#8221; kata Lui-ji</p>
<p>&#8220;Demi kebaikan urusan keseluruhannya, terpaksa kami bertindak demikian. Apalagi, orang yang kami korbankan juga pantas mampus, kalau tidak, mengapa kami tidak turun tangan terhadap Ji-heng?&#8221;</p>
<p>Lui-ji tertawa, katanya, &#8220;Ya, hitung-hitung kalian dapat membedakan antara baik dan buruk, kalau tidak, mungkin kaupun takkan hidup sampai sekarang.&#8221;</p>
<p>Meski sekarang dia sudah tahu asal-usul Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing, tapi cara bicaranya masih tetap tajam dan tidak mau kalah sedikitpun.</p>
<p>Hay Tong-jing berlagak tidak tahu, katanya pula, &#8220;Gerakan kami boleh dikatakan sangat rapi, tapi tidak kami duga bahwa Tangkwik-siansing telah mengirim pula beberapa orang untuk berhubungan dengan Ji Hong-ho, setelah mereka saling bertemu, dengan sendirinya identitas kami lantas terbongkar. Maka Ji Hong-ho lantas mengirim mereka untuk membunuh kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kawanan Lengkui itulah yang kau maksudkan?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Betul, guruku juga pernah dengar Tangkwik-siansing mempunyai anak buah Ngo-kui (lima setan), bahkan setiap kui mempunyai beberapa duplikat lagi. Sebabnya karena Tangkwik siansing tidak cuma mahir ilmu rias, ilmu pertabibannya juga sangat tinggi, maka dapat dibayangkan duplikat kelima Kui itu pastilah hasil karya pisau operasinya yang mahir itu.&#8221;</p>
<p>Wajah Pwe-giok bertambah pucat, tapi sinar matanya tambah mencorong, sebab bermacam persoalan yang aneh dan misterius itu kini sudah dapat diketahui hal ikhwalnya.</p>
<p>Tapi Lui-ji lantas tanya lagi, &#8220;Kalau gurumu sudah tahu Ngo Kui masih mempunyai banyak duplikat, mengapa tadi Yang Cu-kang masih ketakutan menghadapi mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rahasia ini baru diketahui guruku akhir-akhir ini,&#8221; tutur Hay Tong-jing. &#8220;Belum lama pernah ku pulang untuk menemui guruku, tapi Yang Cu-kang tetap berada di tempat Ji Hong-ho, baru malam tadi kami berjumpa lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, makanya demi mendengar Lengkui menyebutkan syair itu, air mukanya lantas berubah hebat, sebab ia menyadari rahasia dirinya sudah diketahui,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Tiba-tiba Thi-hoa-nio berkata, &#8220;Jika duplikat Lengkui itu ada lima-enam orang, wah, dapatkah dia me&#8230; melayani mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika seorang Lengkui ada enam duplikat, satu Kui berarti ada tujuh Kui, cuma sebelumnya sudah kutumpas dua,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Jika begitu masih ada tiga, apa&#8230; apakah&#8230;&#8221; Thi-hoa-nio tetap kuatir.</p>
<p>&#8220;Jangan cemas,&#8221; kata Lui-ji dengan suara lembut, &#8220;orang macam Yang Cu-kang, jangankan cuma tiga Kui, biarpun tiga ratus setan juga tak berdaya terhadapnya.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio tersenyum sebisanya, namun tetap tidak mengurangi rasa kuatirnya.</p>
<p>Hay Tong-jing berkata pula, &#8220;Apabila ketiga Kui itu turun tangan berbareng, bisa jadi Yang Cu-kang akan repot melayani mereka. Cuma, meski ilmu silat mereka sangat aneh, namun pikiran sehat mereka sudah terpengaruh oleh obat sehingga gerak-gerik mereka jauh lebih lambat daripada orang biasa. Sebab itulah meski aku terluka, tetap dapat lolos dari cengkeraman mereka. Kupikir, umpama Cu-kang tak dapat menandingi mereka, sedikitnya dia dapat kabur dengan selamat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bagaimana dengan kita?&#8221; tanya Lui-ji. &#8220;Menembus kemanakah lorong hantu ini? Siapakah yang membuat jalan di bawah tanah ini? Sebab apakah dia membuat lorong ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusan ini tidak perlu kita tanya, cukup asal kita tahu setiap jalan di bawah tanah di dunia ini pasti ada lubang keluarnya,&#8221; ujar Hay Tong-jing dengan tak acuh.</p>
<p>&#8220;Tapi sesungguhnya kau tahu tidak jalan keluar lorong ini? Kalau jalan buntu, lantas bagaimana?&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing berkerut kening, katanya, &#8220;Apapun juga, jalan ini pasti tidak menuju ke gerbang akhirat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, juga belum tentu,&#8221; ujar Lui-ji. &#8220;Bisa jadi lorong ini adalah jalan masuk menuju neraka&#8230;&#8221;</p>
<p>Entah mengapa, belum habis ucapannya, tiba-tiba ia merasa hawa dingin dan seram berkesiur di samping kakinya sehingga tanpa terasa ia merinding.</p>
<p>Didengarnya Pwe-giok lagi berkata, &#8220;Hay-heng, aku ingin&#8230; ingin mohon sesuatu padamu.&#8221;</p>
<p>Gemerdep sinar mata Hay Tong-jing, katanya, &#8220;Kau minta kubawa kau menemui guruku, begitu bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; sahut Pwe-giok.</p>
<p>Hay Tong-jing menggeleng, ucapnya, &#8220;Urusan ini mungkin tidak mudah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku harus menemui beliau,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Untuk apa?&#8221; tanya Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Ada suatu rahasia besar harus kuberitahukan kepada beliau.&#8221;</p>
<p>Air mukanya memperlihatkan penderitaan yang sukar dikatakan, dengan rawan ia menjawab kemudian, &#8220;Mungkin di dunia ini hanya gurumu saja yang dapat menyelesaikan persoalanku ini, kuyakin beliau pasti mau menerima diriku.&#8221;</p>
<p>Hay Tong-jing berpikir sejenak, katanya, &#8220;Apakah rahasia ini juga ada sangkut pautnya dengan Tangkwik-siansing itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan saja ada sangkut pautnya, bahkan sangat besar sangkut pautnya,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Dapatkah kau katakan dulu kepadaku?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela nafas panjang, ucapnya, &#8220;Bukanlah aku tidak mempercayai Hay-heng, soalnya urusan ini&#8230; urusan ini&#8230;&#8221; mendadak bibirnya gemetar dan tidak sanggup melanjutkan.</p>
<p>Melihat penderitaan batin anak muda itu, tanpa terasa Hay Tong-jing juga menghela nafas, katanya, &#8220;Bukannya aku tidak mau membantu permintaanmu, soalnya sudah lebih 20 tahun guruku tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya kepada orang lain, bahkan kami dilarang keras membocorkan jejak beliau. Perintah guru tak boleh dilanggar, kuharap engkau dapat memaklumi kesukaranku.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tersenyum getir dan mengangguk, &#8220;Ya, ku paham,&#8221; ucapnya dengan lesu.</p>
<p>&#8220;Tapi bisa jadi setiap saat beliau akan menemui kau, bahkan bukan mustahil kalian sudah pernah berjumpa,&#8221; tutur Hay Tong-jing pula. &#8220;Tindak tanduk beliau selamanya memang sukar diraba, siapapun tidak dapat menduganya.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok mengangguk, tiba-tiba ia seperti teringat kepada sesuatu kejadian, dibayangkan lagi peristiwa dahulu itu sehingga melamun.</p>
<p>Hay Tong-jing lantas berdiri, katanya, &#8220;Lorong ini entah berapa panjangnya, marilah kita mencari dulu jalan keluarnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bagaimana dengan ketiga peti ini?&#8221; tanya Lui-ji. &#8220;Untuk apa kita menggendongnya? Kan lebih baik kita lepaskan orang yang tersekap di dalamnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk sementara orang di dalam peti tidak dapat siuman, kau lepaskan mereka juga percuma, lebih baik kau gendong lagi sebentar,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Sialan!&#8221; omel Lui-ji sambil menghentakkan kaki.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Jalan di bawah tanah itu memang rahasia dan berliku-liku, bahkan sangat dalam dan panjang, untung setiap belokan selalu diterangi sebuah pelita yang terselip di sela dinding. Cahaya pelita guram sehingga mirip api setan.</p>
<p>Mendadak Lui-ji bertanya, &#8220;Eh, tahukah kau sudah berapa buah pelita yang kita lalui?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tahu anak dara ini tidak dapat diam. Lewat sekian lama tentu akan timbul sesuatu pertanyaan baru, bahkan setiap pertanyaannya selalu aneh-aneh.</p>
<p>Siapapun tidak tahu untuk apa dia bertanya begitu, maka tidak ada yang menjawab.</p>
<p>&#8220;Sampai saat ini, sudah 39 buah pelita yang kita lalui, coba, aneh tidak?&#8221; kata Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Apanya yang aneh?&#8221; Hay Tong-jing tidak tahan dan menanggapi.</p>
<p>&#8220;Tidak kau rasakan aneh, karena kau tidak suka banyak melihat dan tidak mau banyak berpikir,&#8221; omel Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Soalnya urusan yang harus kupikirkan jauh lebih penting daripada urusan lampu,&#8221; jengek Hay Tong-jing.</p>
<p>Sekali ini Lui-ji ternyata tidak menanggapi, ia hanya memandangi pelita perunggu itu dengan termangu-mangu.</p>
<p>Tanpa terasa Hay Tong-jing ikut berhenti, tapi setelah dipandang sekian lama tetap tidak terlihat sesuatu keanehan pada lampu itu, akhirnya ia tidak tahan pula dan berucap, &#8220;Tiada sesuatu keanehan pada lampu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo? Begitukah?&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Memangnya ada kau lihat sesuatu?&#8221; tanya Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Betul, makin kulihat makin mengherankan, makin kupikir juga makin aneh, sungguh aneh sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dimana letak keanehannya?&#8221;</p>
<p>Lui-ji mencibir, jawabnya, &#8220;Jika kau anggap urusan ini tidak penting, untuk apa bertanya?&#8221;</p>
<p>Mendongkol juga Hay Tong-jing, tapi terpaksa tak dapat bicara lagi.</p>
<p>Meski Thi-hoa-nio sendiri lagi memikirkan keselamatan Yang Cu-kang, kini iapun merasa geli. Ia merasa kepandaian Lui-ji yang terbesar adalah memancing kemarahan orang, jauh lebih pandai daripada caranya menaruh racun. Berhadapan dengan anak perempuan semacam ini, kaum lelaki sebaiknya sedikit bicara, bahkan lebih baik jangan bicara.</p>
<p>Tapi Lui-ji juga ketemu batunya, yaitu terhadap Pwe-giok, di depan pemuda itu mau tak mau dia harus pendiam, sebab waktu tidak perlu bicara pasti juga Pwe-giok takkan bicara.</p>
<p>Dengan berseri seri Lui-ji lantas berkata pula, &#8220;Di lorong ini ada 39 buah lampu, tapi belum juga sampai di lubang keluarnya, dari sini dapat diketahui lorong ini pasti sangat panjang. Dan lorong sepanjang ini kan tidak banyak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang jarang ada,&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Di dalam lorong bawah tanah ini ada 39 buah lampu, sedikitnya ada empat lima hal yang pantas diherankan, apabila kau mau menirukan diriku, mau banyak memeras otak, bisa jadi akan dapat kaupikirkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak perempuan umumnya memang jauh lebih cermat daripada lelaki, meski sejak tadi kuperas otak, tetap tak dapat memikirkan apapun,&#8221; kata Pwe-giok dengan tersenyum.</p>
<p>Lui-ji tambah gembira, katanya pula, &#8220;Orang ini membuat lorong bawah tanah sepanjang ini, dapat diperkirakan pasti ada maksud tujuan yang khusus, sebab kalau tujuannya hanya untuk jalan lari saja, kan dimanapun dapat dibuatnya sebuah lubang keluar. Untuk apa mesti banyak membuang tenaga dan membangun jalan sepanjang ini.&#8221;</p>
<p>Sikap Pwe-giok mulai prihatin, katanya, &#8220;Ya, betul juga.&#8221;</p>
<p>Untuk membuat lorong sepanjang ini sedikitnya diperlukan waktu tiga atau lima tahun, padahal Yang Cu-kang belum lama muncul di Kangouw, jelas lorong ini bukan hasil kerjanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkinkah gurunya?&#8230;&#8221; kata Thi-hoa-nio.</p>
<p>Lui-ji memandang Hay Tong-jing sekejap, jawabnya, &#8220;Pasti tidak, buktinya orang inipun tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio mengangguk-angguk.</p>
<p>Lalu Lui-ji berkata pula, &#8220;Jika dia sengaja membuang tenaga dan pikiran sebanyak ini untuk membangun jalan di bawah tanah ini, tentu dia mempunyai tujuan tertentu, kalau ada tujuan, pasti gerak-geriknya sangat rahasia, lalu bagaimana Yang Cu-kang dapat mengetahui rahasianya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa jadi lorong ini sudah lama sekali dibangun dan baru akhir-akhir ini ditemukan Cu-kang secara tidak sengaja, mungkin orang yang membangun lorong ini sudah lama mati,&#8221; kata Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Tidak betul,&#8221; ucap Lui-ji tegas.</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Rumah gubuk di luar sana pasti dibangun bersama dengan lorong di bawah tanah ini, tentunya dapat kau lihat gubuk itu tidak terlalu tua, umurnya pasti tidak lebih daripada sepuluh tahun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi rumah gubuk begitu kan setiap waktu dapat diperbaiki&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Gubuk itu hanya untuk menutupi jalan di bawah tanah ini dan bukan untuk tempat tinggal, makanya tidak perlu diperbaiki segala, apalagi semua inipun bukan masalah pokok yang penting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis apa masalah utamanya?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Lampu-lampu ini,&#8221; jawab Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Lampu?&#8221; Thi-hoa-nio melongo.</p>
<p>&#8220;Ya, lampu,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Coba jawab, lampu semacam ini semacam ini, kalau tidak ditambah minyak, umumnya dapat menyala berapa lama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lampu umumnya kalau tidak tambah minyak, satu malam saja akan kehabisan minyak dan padam sendiri,&#8221; jawab Thi-hoa-nio. &#8220;Meski lampu ini lebih besar sedikit daripada lampu biasa, paling-paling juga tahan menyala sehari semalam saja.&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji berkeplok dan berkata, &#8220;Tepat. Sedangkan lampu-lampu ini terus menyala tanpa membedakan siang atau malam dan tidak pernah padam, ini membuktikan bahwa setiap hari pasti ada orang datang ke sini untuk menambahkan minyak lampu.&#8221;</p>
<p>Dengan sinar mata yang gemerdep ia menyambung pula, &#8220;Tapi akhir-akhir ini Yang Cu-kang jelas tidak berada di sini, suatu tanda orang yang menambahi minyak lampu bukanlah dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, lantas siapa?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Bisa jadi orang yang membangun lorong bawah tanah ini, mungkin juga budaknya,&#8221; ujar Lui-ji. &#8220;Tapi apapun juga di lorong ini pasti ada orangnya, meski kita tidak melihat dia, bukan mustahil secara diam-diam dia sedang mengintai kita.&#8221;</p>
<p>Di tengah kelip cahaya pelita minyak itu, suasana di lorong itu seolah-olah mendadak berubah dingin.</p>
<p>Thi-hoa-nio memandang sekelilingnya, ia menjadi was-was, jangan-jangan di tempat kegelapan yang tak sampai oleh cahaya lampu itu benar tersembunyi orang yang sedang mengintai mereka sambil menyeringai?</p>
<p>Tanpa terasa ia bergidik, ucapnya sambil menyengir, &#8220;Aneh, nyaliku terasa makin kecil sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak perempuan yang kawin biasanya akan bertambah kecil nyalinya,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Seumpama di sini benar ada orangnya, kukira juga tak bermaksud jahat terhadap kita, buktinya Yang Cu-kang menyuruh kita masuk ke sini tanpa kuatir,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Ah, juga belum tentu,&#8221; jengek Lui-ji. Tanpa memberi kesempatan bicara kepada orang, ia menyambung pula, &#8220;bisa jadi ia sendiripun tidak tahu apakah di lorong bawah tanah ini ada orang atau tidak, bisa jadi dia menemukan rumah gubuk itu secara tidak sengaja dan di dalam rumah juga kebetulan tidak ada penghuninya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; tukas Thi-hoa-nio, &#8220;waktu aku dibawanya ke sini, semula rumah itu penuh debu, tungkunya juga kotor dan dingin, jelas sudah lama tidak ditinggali orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia pasti sudah lama menemukan tempat ini, kalau tidak masakah dia berjanji dengan Ong Uh-lau dan lain-lain untuk bertemu di sini?&#8221; Setelah memandang Hay Tong-jing sekejap, lalu Lui-ji bertanya, &#8220;Tentunya kaupun sudah lama mengetahui akan tempat ini, kalau tidak tentu kaupun takkan lari ke sini, betul tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tempat ini justeru ku dapat tahu dari Ong Uh-lau, sebelum ini aku tidak pernah ke sini,&#8221; jawab Hay Tong-jing. Setelah merandek sejenak, segera ia melanjutkan pula, &#8220;Tapi apapun juga di lorong sini pasti ada orang lain, kalau kita sudah sampai di sini, mau tak mau harus kita temukan orangnya, apa gunanya kita hanya sembarangan menerka tanpa bukti?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Pwe-giok menyela dengan tertawa, &#8220;Sebenarnya tanpa kita mencari dia, pasti juga dia akan mencari kita.&#8221;</p>
<p>Segera Thi-hoa-nio memandang lagi sekeliling, katanya, &#8220;Perduli dia orang macam apa, kuharap selekasnya dia mau muncul, makin cepat makin baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapapun orangnya tidak kutakuti, jika yang muncul bukan orang, itulah yang repot,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Kembali Thi-hoa-nio merinding, tanpa terasa ia mendekatkan tubuhnya ke samping Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji mengikik tawa, ucapnya, &#8220;Hihi, kukira kau tidak takut sungguh-sungguh, tapi mencari kesempatan&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapan Lui-ji, mendadak pelita minyak sama padam, kegelapan seakan-akan mendatangkan hawa dingin yang membuat bungkam mulut anak dara itu.</p>
<p>Akan tetapi cahaya lampu segera terlihat di balik belokan sana, tanpa disuruh semua orang lantas memburu ke sana. Siapa tahu, setiba di bawah lampu itu, sekonyong-konyong lampu inipun padam.</p>
<p>Seketika suasana tenggelam dalam kegelapan yang membuat orang putus asa, meski tempat dimana mereka berada sangat sempit, namun kegelapan justeru tak terhingga luasnya. Setiap orang seakan-akan beku oleh kegelapan, siapapun tidak dapat bicara lagi.</p>
<p>Sampai agak lama barulah Lui-ji menghela nafas dan berkata, &#8220;Apabila sekarang dapat ku beli minyak lampu, kuberani bayar satu tahil minyak dengan satu kati perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan kuatir, aku membawa geretan api,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Geretan api dapat menyala berapa lama?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sudah terpakai dua kali, sisanya mungkin masih tahan setanakan nasi,&#8221; tutur Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Lekas keluarkan, setanakan nasi lamanya mungkin dapat kita temukan jalan keluarnya,&#8221; seru Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Dan kalau tidak menemukannya?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Betapapun harus kita coba, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak dapat dicoba! Sebab geretan api ini adalah kesempatan kita yang terakhir, jika geretan api ini terpakai habis, tanpa orang turun tangan terhadap kita, jelas kita akan mati terkurung di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kita kan dapat mundur kembali ke sana?&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tidak bisa mundur lagi,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Lorong ini tampaknya seperti cuma satu, yang melingkar dan berliku-liku, jika kita merayap di dalam kegelapan, bisa jadi kita akan terus putar kayun di tempat semula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, jangan-jangan lampu ini sengaja dipadamkan orang?&#8221; seru Thi-hoa-nio dengan suara serak.</p>
<p>&#8220;Adakah kau lihat seseorang?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tidak, akan tetapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya hendak kau katakan orang itu bisa ilmu menghilang?&#8221; ujar Lui-ji dengan tertawa. Meski sambil tertawa, tanpa terasa ia memegang lengan Pwe-giok erat-erat.</p>
<p>&#8220;Apapun juga kita tak dapat berdiri di sini,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Betul, jika di luar tentunya kita dapat menunggu hingga terang tanah,&#8221; tukas Lui-ji. &#8220;Tapi berada di tempat setan ini, selamanya takkan pernah terang tanah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maka sekarang juga kita harus merambat ke depan, kalau perlu barulah kita menyalakan geretan api,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Tapi bilakah baru akan dianggap perlu?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Untuk ini&#8230;&#8221; Pwe-giok menjadi ragu.</p>
<p>&#8220;Sekali ini kukira ucapan nona Cu tidak&#8230; tidak betul,&#8221; sela Hay Tong-jing. &#8220;Kalau sekarang juga kita menyalakan api terus menerjang ke depan, mungkin sebelum geretan api menyala habis sudah dapat kita temukan jalan keluar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, meski ini merupakan pertaruhan terakhir, betapapun boleh kita coba daripada tinggal diam,&#8221; tukas Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Agar gerakan kita bisa lebih leluasa, biarlah kita tinggalkan dulu di sini ketiga peti ini, nanti kalau kita sudah keluar baru berusaha lagi menolong mereka,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Jika kita tidak dapat menemukan&#8230;&#8221; Pwe-giok tetap ragu.</p>
<p>&#8220;Jika tidak menemukan jalan keluar, toh kita tetap akan mati terkurung di sini,&#8221; ujar Hay Tong-jing.</p>
<p>Pwe-giok termenung sejenak, kemudian menghela nafas panjang, katanya, &#8220;Akupun tidak tahu tindakan kalian ini tepat atau tidak, cuma kupikir&#8230; pendapat tiga orang tentunya lebih baik daripada pendapat seorang&#8230;&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Meski cahaya geretan api yang dinyalakan itu tak dapat mencapai jauh, tapi dalam kegelapan asalkan ada setitik sinar tentu akan membangkitkan semangat orang. Maklumlah, siapapun juga bila berada dalam kegelapan tentu akan merasa putus asa dan kehilangan keberanian.</p>
<p>Pwe-giok memegang obor kecil itu dan mendahului jalan di depan, sangat cepat jalan mereka. Meski Hay Tong-jing terluka, tapi dia dipegang oleh Pwe-giok sehingga tidak sampai ketinggalan.</p>
<p>Akan tetapi jalan di bawah tanah ini memang panjang luar biasa, seolah-olah tidak berujung.</p>
<p>Sejak awal Hay Tong-jing terus memperhatikan obor yang dipegang Pwe-giok, tiba-tiba ia menghela nafas dan berkata, &#8220;Mungkin api sudah hampir padam.&#8221;</p>
<p>Benarlah, api obor itu sudah mulai guram.</p>
<p>Dengan gemas Lui-ji berkata, sungguh aku benci mengapa manusia tidak membuat baju dari bahan kertas, kalau tidak, tentu dapat kita nyalakan.&#8221;</p>
<p>Mendadak Pwe-giok ingat dalam bajunya masih tersimpan satu jilid &#8220;buku catatan&#8221;. Meski buku ini adalah benda yang diharap-harapkan oleh Ji Hong-ho dan begundalnya dan dicari dengan segala daya upaya, tapi bagi Pwe-giok buku ini justeru tidak ada sesuatu yang istimewa dan menarik.</p>
<p>Ia tahu ada sementara buku yang sengaja ditulis secara rahasia dan sukar terbaca, tapi kalau kertas buku dibasahi dengan air, tulisan itu akan timbul dan terbaca dengan jelas.</p>
<p>Akan tetapi ia sudah pernah mencobanya dengan merendam buku itu di dalam air dan tetap tiada kelihatan satu huruf pun.</p>
<p>Cuma Pwe-giok tetap merasa buku kosong ini pasti besar artinya bagi Ji Hong-ho, kalau tidak masakah ia mengerahkan begundalnya dan membumi-hanguskan sebuah kota.</p>
<p>Dan sekarang ia merasa buku ini ada gunanya.</p>
<p>Pwe-giok lantas mengeluarkan buku itu, meski buku yang cuma belasan halaman inipun takkan tahan lama dibuat obor, tapi kan lebih baik ada daripada tidak ada, sebab soal sedetik saja terkadang justeru menentukan antara mati dan hidup.</p>
<p>Sama sekali tak terpikir oleh Pwe-giok bahwa buku ini ternyata tidak dapat dibakar.</p>
<p>Di bawah gemerdepnya cahaya obor yang guram, tiba-tiba dilihatnya buku kosong yang tidak dapat menyala ini timbul beberapa huruf, yang ditulis seperti nama beberapa orang.</p>
<p>Pada saat lain, api obor itupun padam.</p>
<p>Hampir saja Lui-ji berteriak, omelnya, &#8220;He&#8230; masakah menyalakan kertas saja tidak bisa ?&#8221;</p>
<p>Sedapatnya Pwe-giok menahan gejolak hatinya yang bergembira, jawabnya tenang, &#8220;Sebab kertas buku ini basah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Basah?&#8221; Thi-hoa-nio pun tidak tahan dan berseru, &#8220;kenapa bisa basah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kena keringat badanku,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji melengong sejenak, katanya kemudian, &#8220;Ya, betul, jika ada orang yang tidak berkeringat dalam keadaan demikian, tentu dia itu orang-orangan terbuat dari kayu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang lelatu api saja tidak ada, lantas bagaimana baiknya?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Bagaimana baiknya? Kau malah tanya? Kan kalian tadi yang menganjurkan menyalakan api?&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230; tapi semula itu kan usulmu?&#8221; ujar Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Siapa suruh kalian menurut kepadaku?&#8221; seru Lui-ji. &#8220;Mengapa kalian tidak turut kepada anjuran Pwe-giok? Kalian memang pantas mampus terkurung di sini.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio jadi melenggong, selang sejenak didengarnya dalam kegelapan ada orang menangis perlahan, kiranya Lui-ji tidak tahan dan telah menangis.</p>
<p>&#8220;Sayang, air mata tak dapat dijadikan minyak lampu, kalau tidak, tentu akan banyak manfaatnya jika kita menangis semua,&#8221; ejek Hay Tong-jin.</p>
<p>Lui-ji melonjak bangun dan berteriak, &#8220;Siapa menangis ? Kau sendiri yang menangis, untuk apa aku menangis ? Meski kedua mataku tidak dapat melihat apa-apa, tapi kedua kakiku tidak buntung, tetap dapat keluar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, akan kupapah Hay-heng, dan kalian memegangi tangannya, kita jangan sampai terpencar,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Aku lebih suka memegang kaki anjing daripada pegang tangannya,&#8221; ucap Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Biar kupegang dia dan kau pegang tanganku, boleh?&#8221; kata Thi-hoa-nio.</p>
<p>Lui-ji hanya mendengus saja. Dia lantas menjulurkan tangannya ke arah Thi-hoa-nio dan memegang satu tangan, dalam kegelapan ia merasa tangan ini tidak terlalu besar, juga tidak kasar, ia pikir tangan ini pasti tangan Thi-hoa-nio.</p>
<p>Siapa tahu mendadak terdengar Hay Tong-jing berucap dengan tertawa, &#8220;Inilah kaki anjing.&#8221;</p>
<p>Keruan Lui-ji terkejut, baru saja ia hendak lepas tangan, tapi urung, bahkan ia tertawa dan berkata, &#8220;Karena kau mengaku ini kaki anjing, ya sudahlah.&#8221;</p>
<p>Orang yang baru saja menangis dengan sedih, kini telah tertawa. Coba, siapa yang dapat marah terhadap anak perempuan demikian?</p>
<p>Begitulah Pwe-giok terus merambat ke depan, dirasakan meski dinding terasa licin, padahal yang benar sangat kasar, agaknya lorong ini dibuat dengan tergesa-gesa asal jadi.</p>
<p>Sangat lama mereka berjalan, semula mereka berusaha bicara ini dan itu, sebab mereka tahu dalam kegelapan bila tidak terdengar suara, suasana akan tambah mencekam.</p>
<p>Akan tetapi lama-lama mereka merasa sudah kehabisan bahan bicara, sampai Lui-ji juga tidak menyangka dirinya akan kehabisan bahan cerita.</p>
<p>Namun sekarang biarpun perasaan semua orang terasa tertekan, semuanya tetap mempunyai harapan, yaitu lubang keluar lorong itu setiap saat muncul di depan mereka. Tanpa harapan ini, mungkin satu langkah saja tidak ada yang sanggup berjalan.</p>
<p>Entah sudah berjalan berapa lama lagi, mendadak Lui-ji dengar di depan sana ada suara &#8216;trang&#8217; yang keras, seperti suara tambur ditabuh. Seketika Hay Tong-jing yang berjalan di depannya menerjang beberapa langkah ke depan dengan sempoyongan.</p>
<p>Baru saja Lui-ji terkejut, tahu-tahu kaki sendiripun kesandung sesuatu dan menimbulkan bunyi &#8216;trang&#8217; yang keras.</p>
<p>&#8220;He, barang apa ini?&#8221; seru Thi-hoa-nio.</p>
<p>Sudah sekian lama dia berucap, tapi tiada seorangpun menjawab.</p>
<p>Seketika hati Thi-hoa-nio merasa ngeri, katanya dengan suara gemetar, &#8220;He, ke&#8230; kenapa kalian tidak bicara?&#8221;</p>
<p>Padahal saat itu setiap orang juga sedang berpikir barang apakah yang kesandung kaki mereka, hanya tiada seorangpun berani bersuara.</p>
<p>Sampai lama sekali barulah terdengar Pwe-giok berucap dengan menyesal, &#8220;Inilah peti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peti?&#8221; Thi-hoa-nio menegas. &#8220;Masa&#8230; masakah peti yang&#8230; yang kita tinggalkan tadi?&#8221;</p>
<p>Sekuatnya dia mengucapkan kata-kata itu dan kedua kaki sendiripun terasa lemas.</p>
<p>Selang sekian lama pula, Pwe-giok berkata lagi dengan perlahan, &#8220;Betul, ketiga peti tadi.&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio menjerit kaget dan jatuh tersungkur, ia tidak sanggup berdiri lagi.</p>
<p>Kalau tidak salah mereka sudah berjalan hampir seharian, siapa tahu berjalan kesana kemari, ternyata kembali lagi ke tempat semula.</p>
<p>Lui-ji juga merasakan kedua kakinya jauh lebih berat daripada diganduli sepotong besi, dengan lemas iapun roboh bersandarkan dinding batu, nyata harapannya yang terakhir juga lenyap, di dunia ini tidak ada lagi tenaga yang dapat mendorongnya berjalan pula.</p>
<p>Entah sudah lewat berapa lama, mendadak terdengar Pwe-giok berkata, &#8220;Bukan mustahil pada tubuh Kwe Pian-sian dan Ki Leng-hong membawa geretan api.&#8221;</p>
<p>Seketika Lui-ji melonjak bangun, serunya, &#8220;He, betul, kenapa kita tidak ingat tadi&#8230;&#8221;</p>
<p>Sembari bicara ia terus meraba ke sana dan menemukan sebuah peti.</p>
<p>Baru saja Thi-hoa-nio hendak menyusul ke sana, mendadak terdengar lagi jeritan kaget, suara Lui-ji dan Pwe-giok yang menjerit bergema.</p>
<p>Bahwa Ji Pwe-giok sampai menjerit kaget, maka keadaannya pasti luar biasa.</p>
<p>Seketika Thi-hoa-nio merasa telapak tangannya berkeringat dingin, ia coba berseru, &#8220;He, ada&#8230; ada apakah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Peti&#8230; peti sudah kosong&#8230;!&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Thi-hoa-nio baru saja berdiri, segera dia jatuh terduduk lagi, ucapnya dengan tergegap, &#8220;Kosong?&#8230; masakah mereka sudah siuman dan&#8230; dan sudah pergi ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; jawab Lui-ji. &#8220;Gembok pada peti ini dipuntir patah orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkinkah salah seorang di antara mereka siuman lebih dulu, lalu memutuskan gembok pada kedua peti yang lain ?&#8221; tanya Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Tidak, gembok ketiga peti ini sama-sama dipatahkan orang dari luar,&#8221; tutur Lui-ji. &#8220;Apalagi, kalau cuma kekuatan Kwe Pian-sian bertiga tidak nanti mampu memuntir patah gembok ini.&#8221;</p>
<p>Meski sedapatnya dia menahan perasaannya, tidak urung suaranya kedengaran rada gemetar.</p>
<p>Walaupun sejak tadi semua orang sudah menduga di lorong bawah tanah ini ada orang lain, tapi semula mereka berharap dugaan mereka tidaklah benar, tapi sekarang harapan inipun meleset.</p>
<p>Jadi tidak perlu disangsikan lagi bahwa di dalam lorong ini memang ada orang, bahkan selama ini selalu mengintai setiap gerak gerik mereka, hanya saja orang itu tidak pernah unjuk muka.</p>
<p>&#8220;Sungguh aku tidak paham apa maksud mereka? Mengapa main sembunyi dan tidak berani menemui orang?&#8221; ujar Lui-ji dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Masa kau tidak paham ?&#8221; tanya Hay Tong-jin.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; jawab Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Sebab orang itu ingin mengurung mati kita di sini, hakekatnya dia tidak perlu memperlihatkan dirinya,&#8221; tutur Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Siapakah dia? Ada permusuhan apa pula dengan kita?&#8221; tanya Thi-hoa-nio dengan parau.</p>
<p>&#8220;Dia tidak perlu bermusuhan dengan kita, yang jelas kita sudah melanggar tempat rahasianya, tidak boleh tidak kita harus dibunuhnya.&#8221;</p>
<p>Keterangan ini membikin semua orang tidak dapat bersuara lagi.</p>
<p>Pada saat itulah, mendadak dalam kegelapan bergema serentetan suara yang aneh, seperti orang menghela nafas menyesal, seperti suara orang menangis dan seperti juga orang mengejek.</p>
<p>Dalam keadaan dan di tempat demikian, suara ini sungguh membikin orang mengkirik.</p>
<p>Thi-hoa-nio berkata sambil tertawa getir, &#8220;Kami sudah cukup tersiksa, untuk apa pula kau menakut-nakuti kami lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada sementara orang sedikitpun tidak dapat diam,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Siapa yang kau maksudkan?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>Hay Tong-jing tertawa, jawabnya, &#8220;Aku cuma heran, entah bagaimana caramu mengeluarkan suara semacam ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, ada sementara orang suka kentut, tapi selalu menyangkal, bahkan suka menuduh orang lain yang kentut,&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Makanya kau tuduh diriku?&#8221; tanya Hay Tong-jing.</p>
<p>&#8220;Suara ini jelas suara orang lelaki, kalau bukan kau lantas siapa?&#8221; kata Lui-ji dengan gusar.</p>
<p>Mendadak Hay Tong-jing diam saja, selang sejenak barulah berucap pula, &#8220;suara itu masa bukan suaramu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu bukan,&#8221; teriak Lui-ji. &#8220;Siapa yang bohong, anggaplah dia bukan manusia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi juga bukan suaraku,&#8221; kata Hay Tong-jing.</p>
<p>Tiba-tiba Thi-hoa-nio menyela dengan suara parau, &#8220;Jika kalian sama-sama tidak bersuara, habis si&#8230; siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan kau?&#8221; tanya Lui-ji mendadak.</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya bukan diriku,&#8221; cepat Thi-hoa-nio membantah. &#8220;Sejak tadi aku ketakutan setengah mati, memikirkan diri sendiri saja tidak sempat, masa menakut-nakuti orang lain?&#8221;</p>
<p>Mereka sama sekali tidak tanya Ji Pwe-giok, sebab siapapun tahu anak muda itu pasti tidak mau berbuat hal-hal begini. Seketika semua orang sama melenggong.</p>
<p>Dari suara tadi, jelas dalam kegelapan ada lima orang.</p>
<p>Tapi siapapun tidak dapat melihat kelima orang itu, juga tidak diketahui mereka sembunyi di mana.</p>
<p>Mendadak Lui-ji berteriak, &#8220;Aku sudah melihat kau, kau hendak sembunyi kemana lagi?&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio terkejut, tapi segera ia tahu ucapan Lui-ji itu cuma gertak sambal saja, segera iapun berteriak, &#8220;Ya, jika kau sudah datang kemari, apakah ingin lari lagi ?&#8221;</p>
<p>Meski mereka berkaok-kaok sampai sekian lamanya, namun dalam kegelapan tetap tidak ada suara jawaban dan reaksi apapun. Mereka sama merasa keringat dingin membasahi tangan sendiri, orang itu tidak dapat digertak, sebaliknya diri sendiri yang tambah ketakutan.</p>
<p>Tiba-tiba Pwe-giok berucap, &#8220;Kalian salah dengar semua, hakekatnya tidak ada suara apapun tadi&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230; tapi jelas kudengar,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Mengapa aku tidak mendengarnya ?&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji bermaksud bicara lagi, tapi mendadak dirasakan Pwe-giok memegang tangannya sambil berbisik, &#8220;Marilah kita bergandengan tangan dan menerjang ke depan, coba saja dia akan lari ke mana ?&#8221;</p>
<p>Segera tangan kanan Lui-ji memegang tangan kiri Thi-hoa-nio, tangan Thi-hoa-nio lantas menarik tangan Hay Tong-jing, ke empat orang sama menempel dinding dan maju ke depan dengan perlahan dengan maksud mengepung orang itu.</p>
<p>Tak terduga, meski sudah belasan langkah jauhnya, tiada sesuatu apapun yang mereka sentuh.</p>
<p>Tiba-tiba Lui-ji berseru terkejut, &#8220;He, kenapa tempat ini mendadak menjadi longgar.&#8221;</p>
<p>Lorong di sini luasnya tidak ada tujuh kaki, tapi sekarang mereka sudah melangkah belasan kaki dan tidak membentur dinding batu bagian depan. Hal ini membuat mereka terkejut.</p>
<p>Selang sejenak, terdengar Thi-hoa-nio berkata, &#8220;Jangan&#8230; janganlah kau meremas tanganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Persetan, menyentuh tanganmu saja tidak,&#8221; jawab Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Aku juga tidak, aku berada di sebelah sini,&#8221; Hay Tong-jing menambahkan.</p>
<p>&#8220;Betul kau di sisi kananku,&#8221; ucap Thi-hoa-nio dengan suara rada gemetar. &#8220;Tapi tangan kiriku&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, dapatlah dirasakan tangan yang menariknya itu bukan Cu Lui-ji. sedangkan Lui-ji juga merasakan tangan yang dipegangnya itu kaku lagi dingin, jelas bukan tangan Thi-hoa-nio.</p>
<p>Sungguh tidak kepalang rasa kaget kedua orang itu, serentak mereka melepaskan tangannya dan menyurut mundur, serunya dengan suara parau, &#8220;Siapa kau?&#8221;</p>
<p>Dalam kegelapan tiba-tiba ada suara orang mengekeh tawa.</p>
<p>Suara tertawa itu timbul di tengah-tengah mereka, tapi hanya sekejap saja sudah menjauh, agaknya terus masuk ke balik dinding batu antara kedua sisi lorong.</p>
<p>Membayangkan tangan yang dipegangnya itu entah tangan siapa, seketika setengah badan Lui-ji terasa lemas.</p>
<p>Bahwa orang itu dapat memegang tangan mereka tanpa disadarinya, maka kalau orang hendak membunuh mereka bukankah segampang mengambil barang di saku sendiri?</p>
<p>Betapapun besar tabahnya hati Lui-ji, mau tak mau kedua kakinya terasa lemas juga dan hampir tidak sanggup berdiri.</p>
<p>Thi-hoa-nio juga tidak berani bergerak sama sekali.</p>
<p>Terdengar Pwe-giok berkata, &#8220;Tempat ini bukan lorong yang pernah kita lalui tadi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi ketiga peti ini&#8230;&#8221; Lui-ji merasa bingung.</p>
<p>&#8220;Justeru lantaran ketiga peti ini telah dipindahkan orang ke sini, makanya kita mengira tempat ini adalah tempat semula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas, sesungguhnya kita sudah berada di tempat apa ?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>Dalam kegelapan tempat manapun akan berubah sama, sebab tempat ini baik besar atau kecil, luas atau sempit, semuanya tak dapat dirasakan.</p>
<p>Selagi Pwe-giok termenung, tiba-tiba seorang mengikik tawa dan berkata, &#8220;Inilah rumahku, tidak jelek tempatnya, di atas meja ada arak, di kotak sana ada buah. Kalian sudah datang ke sini, silahkan minumlah barang secawan.&#8221;</p>
<p>Suara orang ini kecil lagi melengking, kedengarannya seperti suara anak kecil yang sedang bertembang.</p>
<p>Bila hari-hari biasa tentu Lui-ji akan merasa suka, tapi sekarang dalam keadaan begini, suara orang dirasakannya seperti jeritan setan.</p>
<p>Pada saat itulah sekonyong-konyong setitik sinar lilin telah dinyalakan.</p>
<p>Baru sekarang mereka mengetahui sudah berada di dalam sebuah ruangan yang sangat luas, cahaya lilin itu terasa sangat kecil, tapi karena sudah terlalu lama berada dalam kegelapan, cahaya yang suram ini jadi cocok bagi mereka, sebab kalau cahaya lampu terlalu terang, bisa jadi mereka akan silau dan sukar membuka mata.</p>
<p>Terlihat di ruangan besar ini berduduk belasan orang, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang kurus, ada yang gemuk, ada yang sedang main catur, ada yang lagi membaca, ada pula yang sedang memandang lukisan, juga ada yang lagi memetik kecapi.</p>
<p>Sikap orang-orang ini kelihatan sangat santai, apa yang dikerjakan merekapun sangat bernilai seni adanya. Tapi pakaian mereka justeru terdiri dari kain kasar, malahan baju lengan cekak, bahkan sepertinya telanjang kaki, paling-paling hanya pakai sandal, sekilas pandang mereka lebih mirip kuli yang baru pulang dari tempat kerja, sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sedang dikerjakan mereka.</p>
<p>Ditengah-tengah ruangan besar ini terdapat sebuah meja perjamuan, beberapa lelaki kekar dan berwajah kasar sedang minum arak. Dilihat dari dandanan mereka sepantasnya mereka makan minum dengan lahapnya, tapi tampaknya semuanya justru duduk dengan sangat sopan. Satu cawan arak terpegang ditangan, tapi sampai sekian lama belum lagi diminum, agaknya melulu bau harum arak saja yang dinikmatinya, meski jelas tahu kedatangan rombongan Pwe-giok, tapi tiada seorangpun yang berpaling.</p>
<p>Betapapun Lui-ji tidak menyangka akan mendadak melihat orang sebanyak ini, tentu saja ia terkejut. Meski orang-orang ini tidak mirip tokoh Bu-lim, tapi muncul ditempat misterius begini tentu membuat orang sukar meraba orang macam apakah mereka ini. Lui-ji juga tidak berani meremehkan mereka.</p>
<p>Terdengar suara mengikik tawa tadi bergema pula, kata seorang. &#8220;Kalau tuan rumah tidak pelit, kenapa tetamunya rikuh? Silahkan, silahkan minum barang secawan.&#8221; &#8211; Jelas suara tertawa ini berkumandang dari meja makan sana.</p>
<p>Perawakan orang yang bicara itu tidak tinggi meski duduk di dalam rumah yang seram ini, namun kepalanya justru memakai caping bambu yang biasa digunakan kaum petani, sehingga wajahnya hampir tertutup dan tidak kelihatan.</p>
<p>Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, &#8220;Jika demikian, terpaksa kami harus mengganggu kawan.&#8221;</p>
<p>Pelahan mereka lantas menuju ke tengah ruangan, orang-orang itu masih asyik main catur dan membaca, tiada seorangpun menghiraukan mereka, seperti tidak menghargai sang tetamu sama sekali. Sungguh lagak orang ini teramat sombong.</p>
<p>Meski mendongkol, tapi berada ditempat demikian, Lui-ji tidak berani sembarangan bertindak.</p>
<p>Pada meja bundar itu hanya diduduki enam-tujuh orang, kebetulan masih ada lima-enam tempat duduk luang. Maklumlah, meja perjamuan umumnya disediakan untuk 12 orang.</p>
<p>Pwe-giok mendahului maju dan berduduk tanyanya dengan tersenyum, &#8220;Siapakah she Tuan rumah yang mulia?&#8221;</p>
<p>Orang yang memakai caping itu tertawa dan menjawab, &#8220;Kalian adalah tetamu yang tidak diundang, untuk apa bertanya nama tuan rumah segala?&#8221;</p>
<p>Lilin yang menyala itu kebetulan terletak di sebelahnya, ditambah lagi dia memakai caping bertepi lebar, meski Pwe-giok duduk di depannya, tetap tidak dapat melihat jelas wajahnya.</p>
<p>Ia coba memandang orang-orang yang duduk di sebelahnya, semuanya memakai topi yang ditarik rendah ke depan, tampaknya orang-orang ini sudah berniat tidak mau menegur, bahkan memandang mereka sekejap saja tidak mau.</p>
<p>Air muka orang-orang ini sama dingin dan seram, yang dipakai adalah baju dari kain kasar dan sudah rombeng, namun topi yang dipakai mereka tampak masih baru, juga dari kwalitas tinggi. Malahan ada sebagian diberi hiasan batu permata sehingga tidak serasi dengan baju mereka, seperti habis membeli topi, lalu tidak punya uang lagi untuk membeli baju.</p>
<p>Berputar biji mata Cu Lui-ji, ia mengejek. &#8220;Tampaknya kalian merasa berat untuk membeli baju dan sepatu, tapi berani membeli topi dengan royal, sungguh aneh bin heran.&#8221;</p>
<p>Dia sengaja membikin marah orang-orang itu, siapa tahu mereka tetap diam saja seperti tidak mendengar ocehannya, bahkan bergerak sedikit saja tidak.</p>
<p>Hanya orang yang bercaping besar itu lantas berkata dengan tertawa. &#8220;Manusia adalah makhluk yang paling cerdik di jagat raya ini, soalnya karena manusia mempunyai otak yang jauh lebih besar daripada makhluk lain. Maka layaklah kalau otak harus lebih diperhatikan dan dijaga, harus dilindungi lebih dari yang lain.&#8221;</p>
<p>Kepala orang ini memakai sebuah caping batu, tapi tubuhnya memakai baju dari bahan yang sangat bagus, jadi sangat berbeda dengan orang lain.</p>
<p>Biji mata Lui-ji berputar pula, jengeknya, &#8220;Jika demikian, mengapa kau keberatan membeli sebuah topi? Memangnya buah kepalamu tidak lebih berharga daripada kepala orang lain?&#8221;</p>
<p>Orang itu bergelak tertawa, ucapnya, &#8220;Tajam benar mulut nona, cuma mulut harus digunakan untuk makan nasi dan bukan untuk bicara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, belum tentu, lihat keadaan,&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tidak makan nasi bisa mati, tidak bicara apakah juga bisa mati?&#8221; tanya orang itu dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Suruh aku tidak bicara rasanya terlebih tidak enak daripada mati,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Apa yang dikatakannya ini memang sejujurnya, hampir saja Hay Tong-jin dan Thi-hoa-nio tertawa geli, cuma dalam keadaan demikian tak dapatlah mereka tertawa.</p>
<p>Orang bercaping batu itu tertawa, katanya pula, &#8220;tepat juga ucapan nona cilik, bolehlah kau tidak bicara dan tidak makan nasi, tapi santapan yang ku sediakan ini tidak beracun, silahkan kalian makan saja dan jangan kuatir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika beracun, kau kira aku tidak berani makan?&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>Hidangan yang tersedia di atas meja itu ada satu porsi Ang-sio-hi, ikan gurami masak saus manis, maka sumpit Lui-ji langsung menuju kepada Ang-sio-hi ini. Siapa tahu beberapa kali ia menyumpit, ikan itu tetap tidak bergerak. Ketika ia menjepit sekuatnya, ikan itu lantas hancur.</p>
<p>Kiranya santapan yang tersedia di atas meja ini semuanya adalah model yang terbuat dari lilin, hanya dapat dilihat, tapi tak dapat dimakan.</p>
<p>Dongkol dan geli pula Lui-ji, baru saja dia hendak memaki, tiba-tiba dilihatnya air muka Pwe-giok berubah hebat, tanyanya sambil memandang seorang yang bertopi yang berduduk di sebelahnya, &#8220;Siapa nama Anda?&#8221;</p>
<p>Kedua tangan orang ini tampak kasar dan besar, otot hijau timbul di punggung tangannya, sebuah cawan arak terpegang di tangannya dan menempel bibir sejak tadi, tapi arak tidak lagi diminum, tampaknya cukup baginya melulu mengendus bau sedap arak saja dan merasa sayang untuk diminum. Pertanyaan Pwe-giok juga sama sekali tidak digubrisnya.</p>
<p>Watak Lui-ji memang pemarah, maka ia lantas mendamprat, &#8220;He, apakah kau ini tuli?&#8221; Sembari bicara, sumpit yang dipegangnya itu terus menutuk ke Hiat-to siku orang itu, tujuannya hendak membikin orang melepaskan cawan araknya sehingga berantakan dan membuatnya malu.</p>
<p>Siapa tahu sumpitnya langsung ambles ke dalam daging tangan orang itu, yang aneh orang itu seolah-olah tidak merasakan sesuatu.</p>
<p>Karuan Lui-ji terkejut, baru sekarang diketahuinya orang inipun terbuat dari lilin. Semua orang yang duduk bersanding meja ini ternyata terbuat dari lilin seluruhnya.</p>
<p>Lui-ji benar-benar melenggong, sampai sekian lamanya barulah ia mendengus. &#8220;Hm, paling sedikit di sini kan ada seorang hidup.&#8221;</p>
<p>Tapi baru habis ucapannya, diketahuinya satu-satunya orang hidup tadi kinipun sudah menghilang entah kemana, hanya caping bambunya yang besar dan bobrok itu masih tertinggal di atas meja.</p>
<p>Lui-ji menarik napas dingin, dengusnya, &#8220;Pantas orang-orang ini sama mengenakan baju rombengan, tapi memakai topi baru.&#8221;</p>
<p>Sekarang ia sudah paham semua ini adalah permainan orang tadi, patung-patung lilin ini sengaja diberi pakaian dan topi agar tulen atau palsunya sukar untuk diketahui dengan cepat.</p>
<p>Saking gemasnya, Lui-ji terus mencopoti semua topi yang dipakai orang-orangan ini, tertampak semua patung lilin itu berwajah cerah, jenggot dan alisnya juga asli, sungguh mirip sekali dengan manusia tulen.</p>
<p>Lui-ji menghela napas, katanya dengan tersenyum getir, &#8220;Apapun juga, karya seni orang ini memang harus dipuji.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sampai si ahli pembuat patung lilin dari kota raja si patung Thio mungkin juga tidak lebih pandai daripada dia,&#8221; tukas Hay Tong jing.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Rahasia apakah dibalik patung lilin sebanyak ini?</p>
<p>Tempat apakah ruangan besar ini dan siapa tuan rumahnya? Bagaimana nasib Pwe-giok dan rombongannya?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1620/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1620&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/11/imbauan-pendekar-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 10</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/10/imbauan-pendekar-10/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/10/imbauan-pendekar-10/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 01:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1618</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo) Tapi sayang, segala macam senjata orang perempuan ternyata tidak mempan terhadap orang semacam Yang Cu-kang. Lui-ji juga tahu bicaranya sia-sia belaka, maka akhirnya dia cuma melotot doang dengan hati gemas. &#8220;Baiklah, anggaplah aku tak dapat mengungguli pembicaraanmu,&#8221; kata Lui-ji akhirnya dengan tertawa, &#8220;Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1618&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)</p>
<p>Tapi sayang, segala macam senjata orang perempuan ternyata tidak mempan terhadap orang semacam Yang Cu-kang. Lui-ji juga tahu bicaranya sia-sia belaka, maka akhirnya dia cuma melotot doang dengan hati gemas.</p>
<p>&#8220;Baiklah, anggaplah aku tak dapat mengungguli pembicaraanmu,&#8221; kata Lui-ji akhirnya dengan tertawa, &#8220;Jika kau jadi perempuan, tentu kaupun seorang perempuan bawel dan barang siapa berhadapan dengan perempuan bawel, anggaplah dirinya sedang sial!&#8221;<br />
<span id="more-1618"></span><br />
Tiba-tiba Pwe-giok tertawa dan berkata, &#8220;Eh, Yang-heng menunggu di sini sekian lama. Apakah tujuanmu untuk bertengkar mulut dengan dia?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang jadi melengak dan tidak dapat menjawab untuk sekian lamanya, mendadak iapun tertawa dan berkata, &#8220;Anjing yang menggigit orang biasanya tidak menggonggong, pameo ini ternyata benar. Tampaknya selanjutnya harus kupandang Ji-heng dengan cara lain.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok hanya tertawa saja tanpa menjawab.</p>
<p>Terpaksa Yang Cu-kang berhenti tertawa dan berucap dengan sungguh-sungguh. &#8220;Cayhe sengaja menunggu di sini berhubung ku tahu Ji-heng adalah seorang Kuncu sejati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak berani,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Selama hidupku paling benci kepada Kuncu palsu, manusia munafik,&#8221; kata Yang Cu-kang pula. &#8220;Tapi Kuncu sejati seperti Ji-heng ini, Cayhe tetap sangat kagum dan hormat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak berani,&#8221; ucap Pwe-giok pula.</p>
<p>&#8220;Lebih-lebih orang jujur dan berpendirian teguh seperti Ji-heng, penuh rasa tanggung jawab dan sanggup menderita&#8230;&#8221;</p>
<p>Lui-ji tidak tahan, ia menyela, &#8220;Sesungguhnya apa keperluanmu, ingin bicara lekas bicara, ingin kentut lekas kentut, tiada gunanya kau menyanjung puji belaka. Sebab cara bagaimanapun kau jilat dia, jawabannya tetap kedua kata itu saja, yakni tidak berani.&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang terkekeh, katanya lagi, &#8220;Cayhe hanya ingin minta petunjuk satu hal kepada Ji-heng, Kuncu sejati seperti Ji-heng tentunya takkan berdusta padaku.&#8221;</p>
<p>Benar juga seperti apa yang dikatakan Lui-ji, dengan tersenyum Pwe-giok tetap menjawab, &#8220;Ah, tidak berani!&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini,&#8221; ucap Yang Cu-kang. &#8220;Cayhe hanya ingin tanya satu hal saja, sesungguhnya siapakah yang membunuh Tong-Bu-siang itu? Apakah Tong-toakohnio yang membunuhnya? Untuk apa dia membunuhnya? Apakah karena dia sudah mengetahui ayahnya itu barang palsu? Darimana pula dia tahu akan hal ini?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata, &#8220;Soal ini bukan lagi satu hal, tapi meliputi lima hal.&#8221;</p>
<p>Mencorong sinar mata Yang Cu-kang, katanya dengan melotot, &#8220;Baiklah, boleh dianggap Cayhe minta petunjuk lima hal kepadamu.&#8221;</p>
<p>Dengan perlahan Pwe-giok menjawab, &#8220;Karena Yang-heng sudi bertanya, dengan sendirinya Cayhe tidak berani memberi keterangan bohong. Hanya saja&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya saja apa?&#8221; tukas Yang Cu-kang.</p>
<p>Mendadak Pwe-giok tutup mulut dan tidak bicara lagi.</p>
<p>Lui-ji bertepuk tangan dan berkata dengan tertawa, &#8220;Hihi, masakah kau tidak paham maksudnya? Dia tidak boleh membohongi kau, tapi juga boleh tutup mulut tanpa bicara. Baru sekarang ku tahu cara inilah cara yang paling baik untuk menghadapi perempuan bawel.&#8221;</p>
<p>Mendadak Yang Cu-kang berbangkit dan bertanya dengan suara bengis, &#8220;Jadi kau tidak mau bicara?!&#8221;</p>
<p>Serentak Lui-ji juga melompat bangun dan menjawab dengan mendelik, &#8220;Memangnya mau apa jika tidak bicara?&#8221;</p>
<p>Kelam air muka Yang Cu-kang, Lui-ji menyangka orang pasti akan turun tangan menyerangnya, mau-tak-mau tegang juga hatinya. Sebab ia menyadari apabila orang mulai turun tangan maka serangannya pasti maha dahsyat.</p>
<p>Tak terduga Yang Cu-kang lantas tertawa malah, katanya, &#8220;Ya sudahlah! Kalau Ji-heng tidak mau bicara, anggaplah aku tidak pernah bertanya.&#8221;</p>
<p>Lui-ji jadi melengak sendiri, tanyanya, &#8220;He, kenapa kau jadi sungkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab sesungguhnya aku ingin bersahabat dengan Ji-heng,&#8221; jawab Yang Cu-kang. &#8220;Apabila Ji-heng sudi mampir ke tempat tinggalku untuk minum barang satu-dua cawan, maka hatiku akan sangat bergembira.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke tempat tinggalmu? Kau punya rumah?&#8221; tanya Lui-ji dengan terkejut.</p>
<p>&#8220;Setiap orang harus punya rumah, masa aku dikecualikan?&#8221; jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Betul, tikus pun punya liang, apalagi kau,&#8221; ujar Lui-ji. &#8220;Eh, dimanakah letak liang tikusmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kediamanku terletak tidak jauh dari sini,&#8221; jawab Yang Cu-kang. &#8220;Biniku juga dapat membuatkan dua-tiga macam santapan yang dapat sekedar untuk teman minum arak.&#8221;</p>
<p>Kembali Lui-ji terkejut, ia menegas, &#8220;Hah, binimu? Kaupun punya bini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika ada tikus jantan, tentunya perlu tikus betina, kalau tidak darimana datangnya tikus anakan?&#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>Lui-ji menghela nafas, katanya kemudian, &#8220;Ai, sebenarnya permainan apa yang sedang kau lakukan? Sampai akupun merasa bingung. Tapi aku pun benar-benar ingin tahu macam apakah binimu itu, ternyata sudi diperistri oleh makhluk semacam kau ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Entah Ji-heng sudi mampir atau tidak?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>Ji Pwe-giok tertawa, belum lagi dia bersuara, Lui-ji telah mendahului, &#8220;Kuyakin dia juga ingin melihat binimu itu, betul tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, bagus,&#8221; seru Yang Cu-kang sambil bertepuk tangan. &#8220;Bila nona sudah omong begini, mau-tak-mau Ji-heng harus pergi.&#8221;</p>
<p>Padahal Pwe-giok memang benar ingin pergi juga, sebab kini diketahuinya Yang Cu-kang ini bukan saja misterius, bahkan ajaib, bukan saja menakutkan, tapi juga sangat menarik. Diundang orang macam begini mungkin sukar ditolak oleh siapapun juga.</p>
<p>Rumah Yang Cu-kang memang betul terletak tidak jauh dari situ, setiba di sana fajar belum lagi menyingsing. Terlihat di kaki gunung sana ada tiga atau lima buah rumah gubuk, asap dapur kelihatan sudah mengepul keluar atap rumah.</p>
<p>&#8220;Wah, tampaknya binimu sangat rajin,&#8221; ujar Lui-ji sambil berkedip-kedip. &#8220;Sedini ini dia sudah bangun dan menanak nasi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini dilakukannya karena dia tahu bakal kedatangan tamu agung, maka perlu persiapan lebih dulu,&#8221; jawab Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Oo? Sebelumnya dia sudah tahu akan kedatangan kami?&#8221; tanya Lui-ji heran.</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; jawab Yang Cu-kang dengan tertawa. &#8220;Terus terang apabila kalian tidak kubawa pulang sekarang, pintu rumah itu tidak nanti akan terbuka lagi untukku.&#8221;</p>
<p>Lui-ji bertambah bingung, tanyanya, &#8220;He, sebab apa dia mengharuskan kau bawa pulang kami? Memangnya dia kenal kami?&#8221;</p>
<p>Sekali ini Yang Cu-kang hanya tertawa saja tanpa menjawab, tampaknya urusan menjadi semakin misterius.</p>
<p>&#8220;He, kutanya padamu, mengapa tidak kau jawab?&#8221; kata Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Sikapku ini kubelajar dari Ji-heng,&#8221; ujar Yang Cu-kang. &#8220;Ini namanya kulak kontan jual tunai.&#8221;</p>
<p>Dengan gemas Lui-ji berkata, &#8220;Baik, sudahlah jika kau tidak mau bicara, toh sebentar juga akan kuketahui.&#8221;</p>
<p>Pagar bambu di luar rumah gubuk itu penuh dirambati akar-akaran, pintu pagar setengah terbuka, kebun di depan rumah penuh bunga seruni yang sedang mekar sehingga menambah keindahan suasana subuh.</p>
<p>Yang Cu-kang menyilakan tetamunya masuk ke rumah dengan mengulum senyum, sikapnya benar-benar seorang tuan rumah yang simpatik, tapi sesungguhnya apa yang sedang dirancangnya hanyalah Thian yang tahu.</p>
<p>Tepat di tengah ruangan rumah ada sebuah meja sembahyang, yang dipuja adalah lukisan Tho-wan-sam-kiat-gi, atau tiga bersaudara angkat di jaman Tho, yaitu gambar Lau Pi, Kwang Kong dan Thio Hui. Di sebelahnya adalah gambar Kwan-im-posat. Di depan tempat pemujaan ada sebuah meja besar.</p>
<p>Pajangan rumah ini adalah model rumah petani asli. Dipandang dari depan, diamati dari samping, Lui-ji merasa tidak melihat sesuatu yang luar biasa, tapi justeru karena tiada sesuatu yang luar biasa, hatinya juga semakin heran.</p>
<p>Apapun juga Yang Cu-kang tidak mirip petani atau orang yang mau tinggal di rumah gubuk begini.</p>
<p>Di atas meja besar itu benarlah sudah disiapkan beberapa mangkuk santapan, ada mangkuk besar atau mangkuk kecil, semuanya masih mengepulkan asap, jelas baru saja selesai diolah. Di samping ada satu kuali nasi liwet dan satu guci arak.</p>
<p>Lui-ji tidak sungkan-sungkan lagi, tanpa disuruh ia terus berduduk dan makan.</p>
<p>Setelah berjuang semalam suntuk, dia memang sudah lapar. Sambil makan sembari berkata dengan tertawa, &#8220;Hah, seni masak binimu memang boleh juga. Sungguh besar rejekimu berhasil mendapatkan seorang bini yang pandai masak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, beberapa macam masakan udik ini mungkin tidak cocok dengan selera kalian,&#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa senang.</p>
<p>&#8220;Dan dimanakah Enso (sebutan kepada isteri kawan)? Mengapa tidak kau undang keluar untuk bertemu?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Sebentar, mungkin dia lagi sibuk di dapur,&#8221; ujar Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Sudah sebanyak ini santapan yang disediakan, apalagi Enso hendak menambahinya lagi, wah hati kami menjadi tidak enak,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Untuk tamu agung dengan sendirinya dia bekerja gia,&#8221; tukas Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Wah, apakah kalian ingin membikin perut kami meledak? Sudahlah, lekas mengundang Enso keluar saja!&#8221; pinta Pwe-giok dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Baik, baik,&#8221; Yang Cu-kang juga tertawa. &#8220;Jika demikian terpaksa ku turut perintah dengan hormat.&#8221;</p>
<p>Apabila ada orang lain menyaksikan keadaan ini serta mendengar percakapan mereka, tentu akan disangka sepasang suami-isteri desa ini sedang meladeni sanak famili kaya dari kota.</p>
<p>Mimpi pun takkan tersangka oleh siapa pun bahwa apa yang diucapkan ketiga orang ini adalah basa-basi yang sangat umum, tapi yang terpikir oleh mereka justeru hal-hal yang sangat rumit dan misterius.</p>
<p>Dengan sendirinya lebih-lebih tak terpikir oleh siapapun bahwa ketiga orang yang sedang duduk makan dan omong iseng ini, yang seorang mengemban tugas berat keluarga yang mengalami musibah, putera keluarga ternama dunia persilatan yang telah banyak menimbulkan huru-hara. Seorang lagi adalah tokoh ajaib yang tindak-tanduknya sangat aneh, sebentar baik, lain saat jahat, tapi memiliki ilmu maha sakti. Sedangkan orang ketiga adalah puteri mendiang Siau-hun-kiongcu yang termasyhur dan disegani.</p>
<p>Apabila benar ada orang melihat mereka sekarang dan mengetahui asal-usul mereka yang sesungguhnya, bisa jadi siapapun akan ketakutan dan segera angkat langkah seribu, biarpun dibunuh juga tak berani lagi kembali ke sini.</p>
<p>Begitulah terdengar Yang Cu-kang lagi berseru dengan tertawa, &#8220;Ya, menantu buruk rupa akhirnya toh harus menghadap mertua. Bolehlah kau keluar saja sekarang!&#8221;</p>
<p>Benarlah, di dapur lantas terdengar seorang perempuan menjawab dengan suara merdu, &#8220;Setelah Pak-lay-cah (goreng jerohan) ini selesai kubuat, segera ku keluar!&#8221;</p>
<p>Seketika Lui-ji melengong, ucapnya, &#8220;He, suara siapa itu? Rasanya seperti sudah apal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu apal, masa tak dapat kau kenal suaranya?&#8221; ujar Yang Cu-kang tertawa.</p>
<p>Pwe-giok juga merasa heran.</p>
<p>Pada saat itulah, tirai bambu tersingkap dan muncul seorang nyonya muda berbaju hijau dengan membawa satu piring Pak-lay-cah yang masih hangat.</p>
<p>Melihat nyonya ini, Pwe-giok dan Lui-ji benar-benar melengong.</p>
<p>Isteri Yang Cu-kang ternyata tak-lain tak bukan ialah Thi-hoa-nio.</p>
<p>Sungguh mimpi pun tak terpikir oleh siapapun. Seumpama saat itu dari dapur mendadak muncul siluman yang berkepala tiga dan berenam tangan takkan membuat mereka lebih kaget daripada sekarang.</p>
<p>Mulut Lui-ji sampai melongo seakan-akan sukar terkatup kembali. Karena terlalu lebar mulutnya melongo sehingga sepotong Ang-sio-bak yang baru saja dimasukkan ke mulut itu hampir jatuh keluar.</p>
<p>Dengan muka merah Thi-hoa-nio berucap, &#8220;Masakanku kurang enak, hendaknya jangan kalian tertawai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, janganlah&#8230; enso merasa sungkan,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Betapapun sabarnya, kini iapun harus melongo dan tergagap, sebutan &#8220;enso&#8221; itu harus diucapkannya dengan sepenuh tenaga.</p>
<p>Muka Thi-hoa-nio bertambah merah, katanya, &#8220;Pak-lay-cah ini harus dimakan selagi hangat-hangat, hendaknya Ji-kongcu jangan sungkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku tidak sungkan,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Sungguh ia tidak tahu apa yang dapat dikatakannya lagi, terpaksa mulutnya diisi saja dengan Pak-lay-cah.</p>
<p>Apapun juga Pwe-giok dapat menahan perasaannya, tapi Lui-ji tidak sanggup bertahan lagi, mendadak ia melonjak bangun dan berseru, &#8220;Jadi kau benar-benar telah menikah dengan dia?&#8221;</p>
<p>Thi-hoa-nio menengadah, ucapnya dengan tersenyum, &#8220;Seorang perempuan, lambat atau cepat kan harus menikah, bukan?&#8221;</p>
<p>Cu Lui-ji duduk lagi di kursinya, ia menggeleng kepada dan berkata, &#8220;Sungguh aku tidak paham, mengapa kau bisa menikah dengan makhluk aneh ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pandang diriku sebagai makhluk aneh, tapi tidak aneh bagi pandangannya,&#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa. &#8220;Ini namanya lain ladang lain belalangnya, lain pandang lain kesimpulannya. Kalau tidak, setiap perempuan di dunia ini kan serupa nona Cu, hanya Ji-heng saja yang sedap dalam pandanganmu dan lelaki lain tiada satupun yang cocok. Wah, bisa runyam kaum lelaki.&#8221;</p>
<p>Mendadak ia angkat guci arak dan bergumam, &#8220;Eh, entah betapa rasa guci arak ini dan entah siapa yang beruntung dapat mencicipinya.&#8221;</p>
<p>Lui-ji menarik nafas panjang, &#8220;Tidak perlu kau pancing diriku, karena sudah kalah dengan sendirinya akan kutelan guci arak ini. Hanya menelan guci arak sekecil ini apa artinya? Bagiku rasanya lebih mudah daripada makan sayur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha, jika benar kau sanggup barulah benar-benar ku kagum padamu,&#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Baik, boleh kau lihat saja nanti,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Dia benar-benar mengangkat guci arak itu.</p>
<p>Seketika mata Yang Cu-kang terbelalak, ia tahu bahwa segala sesuatu dapat diperbuat oleh anak dara ini, bisa jadi dia benar-benar akan menelan guci arak itu, maka dia ingin tahu dengan cara bagaimana guci itu akan ditelannya.</p>
<p>Dilihatnya Cu Lui-ji mengangkat guci itu ke atas, lalu dipandang dari kiri dan diamati dari kanan, mendadak ia menggoyang kepala dan berucap, &#8220;Ah, tidak, tidak benar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apanya yang tidak benar?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Guci arak yang kukatakan tadi bukanlah guci ini, hendaknya kau pergi ke kelenteng tadi dan mengambilkan guci yang berada di sana,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>Saking geli, akhirnya Yang Cu-kang bergelak tertawa.</p>
<p>&#8220;Apa yang kau tertawakan? Pergilah ambil! Sudah lama ingin kucicipi rasanya guci arak, sungguh aku tidak sabar menunggu lagi!&#8221; seru Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Nona berkata demikian, tentunya kau kira ku malas pergi ke sana,&#8221; kata Yang Cu-kang dengan perlahan. &#8220;Padahal jarak ke kelenteng itu tidak terlalu jauh dari sini, apa halangannya kalau ku pergi lagi ke sana.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara ia lantas berdiri sungguh-sungguh.</p>
<p>&#8220;Hm, kalau mau pergi lekaslah pergi, aku tidak sempat menunggu terlalu lama di sini,&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>Thi-hoa-nio tertawa, katanya, &#8220;Jika benar dia pergi mengambil guci arak itu, biar kubantu kau makan setengahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, jika mau makan harus kumakan satu guci bulat, kalau cuma setengah saja belum cukup kenyang bagiku,&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Wah, apapun juga nona memang tidak mau mengaku kalah,&#8221; ujar Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Kenapa aku harus mengaku kalah?&#8221; jawab Lui-ji dengan ngotot.</p>
<p>Yang Cu-kang tergelak, ucapnya, &#8220;Tapi jangan kau kuatir, jika benar ku pergi ambil guci itu tentu akan merusak suasana gembira ini. Mana berani ku bikin marah si cantik dan mengharuskan nona menelan guci arak sungguhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kau sendiri yang tidak mau pergi mengambilnya dan bukanlah aku yang tidak berani makan gucinya,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, jangankan cuma sebuah guci arak, biarpun selusin juga kupercaya akan dilalap habis oleh nona,&#8221; seru Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>Tanpa terasa Cu Lui-ji tertawa geli, ucapnya, &#8220;Ya, memang betul. Tampaknya kau cepat belajar menjadi pintar.&#8221;</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari kejauhan ada suara ringkik kuda. Meski suaranya masih sangat jauh, tapi terdengar sangat jelas pada waktu subuh di daerah pegunungan yang sunyi ini.</p>
<p>Lui-ji berkerut kening, ucapnya, &#8220;Jangan-jangan kalian kedatangan tamu pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tampaknya memang begitu,&#8221; sahut Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Siapakah yang datang?&#8221; tertarik juga Lui-ji.</p>
<p>Yang Cu-kang tersenyum, tanyanya, &#8220;Menurut pendapat nona, siapakah kiranya yang datang itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentunya tidak lain daripada begundalmu itulah,&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>Mendadak Yang Cu-kang menggebrak meja, serunya dengan bergelak tertawa, &#8220;Hahaha, sedikitpun tidak salah, tampaknya nona cepat belajar menjadi pintar.&#8221;</p>
<p>Terdengar suara derapan kaki kuda semakin dekat, benar juga arahnya menuju ke rumah gubuk ini, bahkan derap kaki kuda itu sangat kerap, agaknya yang datang ini berjumlah tidak sedikit.</p>
<p>Air muka Lui-ji rada pucat, berulang ia mengedipi Pwe-giok, namun anak muda itu tetap mengulum senyum saja, seolah-olah tidak mendengar apapun.</p>
<p>Mendadak Yang Cu-kang menggebrak meja pula dan berkata, &#8220;Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwe-giok, sekujur badanmu sungguh nyali belaka, sampai aku mau-tak-mau harus kagum padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak berani,&#8221; sahut Pwe-giok dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kalau nyalimu tidak besar, mana kau berani ikut aku ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pemandangan di sini sangat indah, Enso juga pandai masak, masa aku tidak ikut ke sini?&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Dengan sinar mata mencorong Yang Cu-kang menatap anak muda itu, katanya, &#8220;Masakah tidak kau kuatirkan kemungkinan ku pancing kau ke sarang harimau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ku tahu Anda bukanlah manusia licik demikian,&#8221; ujar Pwe-giok dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Tahu orangnya, kenal mukanya, tapi tidak tahu hatinya, janganlah Ji-heng menganggap diriku ini orang baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apabila Anda bermaksud membikin celaka diriku, tentu tidak perlu menunggu sampai sekarang, lebih-lebih tidak perlu banyak membuang tenaga percuma.&#8221;</p>
<p>Sejenak Yang Cu-kang melototi Pwe-giok, tiba-tiba ia menengadah dan terbahak-bahak, ucapnya, &#8220;Hahaha! Ji-heng menggunakan hati Kuncu untuk menilai perut Siaujin (orang kecil/rendah), mungkin kau akan menyesal kelak.&#8221;</p>
<p>Terus menerus dia memaki dan menjelekkan dirinya sendiri, tapi Pwe-giok berbalik memberi penjelasan baginya. Lui-ji menjadi serba salah dan bingung, ia tidak tahu mengapa Pwe-giok sedemikian mempercayai orang ini.</p>
<p>Sejak mula Lui-ji merasakan orang she Yang ini tidak dapat dipercaya, tapi seumpama sekarang mau pergi pun tidak keburu lagi, sebab ketika suara tertawa Yang Cu-kang telah berhenti, tahu-tahu suara derapan kaki kuda yang ramai tadi pun berhenti di depan gubuk.</p>
<p>Segera terdengar seorang berseru, &#8220;Sepada?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelas kau tahu di dalam sini ada orang, untuk apalagi bertanya?&#8221; jawab Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Setiba di tempat kediaman Yang-kongcu mana kami berani sembarangan masuk ke situ,&#8221; kata orang di luar dengan mengiring tawa.</p>
<p>&#8220;Kau sudah cukup sopan, lekaslah masuk kemari,&#8221; kata Yang Cu-kang sambil berkerut kening.</p>
<p>Maka terdengarlah suara langkah orang, sejenak kemudian tertampaklah tiga orang melangkah masuk ke dalam gubuk.</p>
<p>Dua orang diantaranya masing-masing membawa sebuah peti, ukuran peti cukup besar, tampaknya tidak ringan bobotnya. Tapi kedua orang itu dapat mengangkatnya dengan enteng, sedikitpun tidak nampak memakan tenaga.</p>
<p>Orang ketiga bermuka putih, tidak jelek, malahan selalu tertawa, bajunya sangat serasi dengan potongan badannya, golok yang tergantung di pinggangnya tampaknya bukan sembarangan golok, sekujur badannya boleh dikatakan cukup sedap dipandang orang, tapi entah mengapa Yang Cu-kang justeru merasa tidak cocok dengan orang demikian.</p>
<p>Lui-ji merasa orang ini sudah dikenalnya, seperti pernah dilihatnya entah dimana, tapi Pwe-giok lantas memberitahukan bahwa tempo hari orang inipun berada di Li-toh-tin dan menyaksikan Ji Hong-hong main catur bersama Tong Bu-siang itu. Malahan kemudian ketika Ji Hong-ho mengunjungi Hong-samsiansing di loteng kecil itu, rasanya orang inipun ikut serta.</p>
<p>Begitu masuk segera orang ini memandang sekejap Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, seketika sikapnya rada berubah.</p>
<p>Pwe-giok diam saja dan berlagak tidak mengenalnya.</p>
<p>&#8220;Barang yang ku hendaki apakah sudah dibawa kemari?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>Kedua orang yang membawa peti itu menjawab, &#8220;Ya, berada di dalam peti ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentunya tidak keliru, bukan?&#8221; Cu-kang menegas.</p>
<p>&#8220;Barang pesanan Kongcu mana bisa keliru?&#8221; ujar kedua orang itu dengan tertawa sambil melirik Pwe-giok, tampaknya merekapun rada sirik padanya.</p>
<p>Mendadak Yang Cu-kang berseru, &#8220;He, kiranya kalian saling kenal?&#8221;</p>
<p>Si muka putih bergolok tadi terkejut, cepat ia berkata dengan tertawa, &#8220;O, ti&#8230; tidak kenal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika tidak kenal, biarlah kuperkenalkan kalian,&#8221; kata Cu-kang dengan tertawa. Lalu ia tuding kedua orang yang menggotong peti itu dan menjelaskan, &#8220;Kedua orang ini yang satu bernama Pi-san-to (golok pembelah gunung) Song Kang dan yang lain bernama Pah-hou-kun (jago pukul harimau) Tio Kiang. Konon mereka adalah tokoh terkemuka di sekitar utara Kangsoh.&#8221;</p>
<p>Tio Kiang dan Song Kang tertawa dan mengucapkan kata-kata rendah hati.</p>
<p>Yang Cu-kang lantas menyambung lagi sambil mendengus, &#8220;Padahal, huh, golok pembelah gunungnya itu tidak lebih banyak golok pembelah kayu, dan si jago pukul harimau itu, hahaha&#8230; bukan saja harimau tak terpukul mati, bahkan kucing saja tak dapat dipukulnya mati.&#8221;</p>
<p>Keruan muka Tio Kiang dan Song Kang sebentar merah sebentar pucat, mereka tidak berani marah, mau tertawa juga tidak bisa, jadinya cuma menyengir.</p>
<p>Melihat keadaan mereka yang serba salah itu, Lui-ji merasa kasihan kepada mereka.</p>
<p>Lalu Yang Cu-kang menuding lagi si muka putih dan berkata, &#8220;Dan kungfu saudara ini jauh lebih tinggi daripada kedua orang tadi, dia bernama Giok-bin-sin-to (si golok sakti bermuka kemala) Co Cu-eng. Golok yang tergantung di pinggangnya itu meski tak dapat memotong besi dan merajang baja seperti memotong sayur, tapi sedikitnya berharga beberapa tahil perak untuk beli arak. Beberapa jurus permainan goloknya juga cukup menarik untuk ditonton.&#8221;</p>
<p>Tak tertahan tersembul juga senyuman bangga Co Cu-eng, dengan tertawa ia berkata, &#8220;Ah, Kongcu terlalu memuji.&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang tidak menghiraukannya, ia menyambung pula, &#8220;Cuma orang ini lebih tepat diberi nama &#8220;macan ketawa&#8221; atau &#8220;Siau-li-cong-to&#8221; (di balik senyuman tersembunyi pisau), perutnya penuh berisi air kotor, dia inilah model orang munafik yang dimulut menyebut sayang, tapi sekaligus juga menikam.&#8221;</p>
<p>Co Cu-eng masih juga tertawa, cuma tertawa yang lebih tepat disebut menyengir.</p>
<p>&#8220;O, kagum,&#8221; demikian Pwe-giok memberi hormat.</p>
<p>&#8220;Kau tidak perlu sungkan terhadap mereka,&#8221; kata Cu-kang pula. &#8220;Ketiga orang ini adalah begundal Ji Hong-ho, jika ada kesempatan setiap saat jiwamu diincar mereka, tidak nanti mereka sungkan padamu.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Lui-ji menyeletuk, &#8220;Ah, kalian datang dari jauh, jangan-jangan menghendaki jiwa kami?&#8221;</p>
<p>Co Cu-eng tertawa terkekeh, katanya. &#8220;Untuk ini harus melihat bagaimana kehendak Yang-kongcu, sebab kamipun termasuk begundal Yang-kongcu.&#8221;</p>
<p>Serentak Lui-ji berdiri sambil melototi Yang Cu-kang.</p>
<p>Namun dengan tenang Yang Cu-kang berkata, &#8220;Siapa di antara kalian yang mengincar jiwa siapa, semuanya aku tidak ambil pusing, terserah kepada kalian siapa yang lebih tangguh.&#8221; Mendadak ia berkata kepada Co Cu-eng dengan tertawa, &#8220;Santapan sudah ku sediakan di atas meja, apakah kalian perlu menunggu ku tuangkan ke dalam mulut kalian?&#8221;</p>
<p>Seketika semangat Co Cu-eng terbangkit, mata Tio Kiang dan Song Kang juga terbeliak.</p>
<p>&#8220;Bagus, kiranya kau pancing kami ke sini dan menganggap kami sebagai santapan lezat?&#8221; teriak Lui-ji dengan gusar.</p>
<p>Yang Cu-kang menghela nafas, katanya, &#8220;Kan sudah kukatakan padamu bahwa aku ini cuma seorang Siaujin, siapa suruh dia mengukur diriku sebagai Kuncu. Dia sendiri yang mau masuk perangkap, masakah menyalahkan orang lain?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa hambar, katanya, &#8220;Cayhe tidak pernah menyalahkan orang lain.&#8221;</p>
<p>Segera Co Cu-eng memberi isyarat kepada Tio Kiang dan Song Kang, lalu berkata, &#8220;Jika demikian, kami akan&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Thi-hoa-nio berteriak, &#8220;Aku tidak perduli apa kehendak kalian, yang pasti santapan yang kubuat dengan susah payah ini tidak boleh disia-siakan, seumpama kalian harus mengadu jiwa, sedikitnya harus tunggu dulu setelah mencicipi masakanku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan nona ini siapa lagi?&#8221; tanya Co Cu-eng dengan ketus.</p>
<p>&#8220;Ini bukan nona, tapi nyonya isteriku,&#8221; kata Cu-kang.</p>
<p>Co Cu-eng melengak, cepat ia memuji dengan tertawa, &#8220;Wah, pantas masakan ini enak dipandang dan sedap dimakan, kiranya adalah hasil karya nyonya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum kau makan, darimana kau tahu rasanya masakan ini?&#8221; ujar Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Biarlah kami menyelesaikan urusan pokok dulu, habis itu barulah kami menikmati masakan enak nyonya,&#8221; kata Co Cu-eng dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Wah, akan terlambat nanti, sebab masakan ini harus dimakan selagi panas,&#8221; kata Thi-hoa-nio. &#8220;Apalagi jika diantara kalian berlima ada dua yang mati, mungkin masakan ini takkan habis termakan, kan sayang?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang menghela nafas pula, katanya, &#8220;Masakan lezat yang sudah disiapkan oleh orang perempuan, kalau tidak ada yang makan, rasanya sakit seperti mukanya tertampar. Maka kupikir kalian perlu makan lebih dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, kenyang makan barulah bertenaga, kalau mati juga tidak perlu menjadi setan kelaparan,&#8221; tukas Thi-hoa-nio dengan tertawa.</p>
<p>Dengan simpatik ia mengambilkan tiga pasang sumpit dan dibagikan kepada Co Cu-eng bertiga.</p>
<p>Kalau tangan sudah memegang sumpit, dengan sendirinya tak dapat lagi memegang senjata.</p>
<p>Padahal setelah menempuh perjalanan jauh, Song Kang dan Tio Kiang memang juga sudah lapar. Mula-mula mereka merasa sungkan, tapi setelah menyumpit dua-tiga kali, akhirnya makan mereka jadi bernafsu, kerja sumpit mereka seperti mesin saja cepatnya.</p>
<p>&#8220;Cara menyerang kalian kalau bisa secepat sumpit kalian ini, maka Ji-heng pasti akan celakalah nanti,&#8221; kata Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Plak,&#8221; mendadak Thi-hoa-nio menampar Yang Cu-kang dengan perlahan, omelnya dengan tertawa, &#8220;Cis, coba kau lihat, sedikitpun kau tidak pantas menjadi tuan rumah, kan seharusnya kau bujuk para tamu makan lebih banyak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Plok,&#8221; Yang Cu-kang juga membalas menamparnya perlahan serta menjawab dengan tertawa, &#8220;Isteriku sayang, jangan kuatir, sebelum masakanmu ini dimakan habis, siapapun dilarang turun tangan.&#8221;</p>
<p>Di hadapan sekian orang, kedua suami isteri ini ternyata bersenda gurau dengan mesranya. Melihat kedua orang ini sedemikian mesra dan penuh kasih sayang, diam-diam Lui-ji merasa heran dan dongkol pula.</p>
<p>Semula dia mengira sebabnya Thi-hoa-nio memaksa Co Cu-eng bertiga makan dulu pastilah mempunyai maksud tujuan tertentu, bisa jadi ingin membantu dirinya dan Pwe-giok, bahkan mungkin sekali di dalam santapan itu sudah diberinya racun untuk mematikan Co Cu-eng bertiga. Tapi sekarang tampaknya tidak demikian adanya.</p>
<p>Thi-hoa-nio benar-benar seperti pengantin baru yang mulai belajar masuk dapur dan buru-buru ingin memperlihatkan kemahirannya memasak, di dalam makanan ternyata tiada racun sedikitpun.</p>
<p>Tampaknya Yang Cu-kang sudah mengambil keputusan akan menjual Ji Pwe-giok kepada Ji Hong-ho, cuma dia sendiri malas turun tangan. Meski Lui-ji tidak gentar menghadapi Co Cu-eng bertiga, tapi kalau mereka tidak mampu mengatasi Pwe-giok, akhirnya Yang Cu-kang juga akan turun tangan dan Pwe-giok tetap sukar lolos dari cengkeraman mereka.</p>
<p>Makin dipikir makin kuatir Lui-ji, dengan sendirinya dia tidak bernafsu makan, sungguh ia ingin mendepak meja makan itu supaya jungkir balik, kalau bisa lari akan terus lari, kalau tidak bisa lari harus turun tangan lebih dulu.</p>
<p>Tapi Pwe-giok kelihatan makan dengan nikmatnya, bahkan ia sibuk menyumpit Pak-lay-cah yang masih hangat itu dan dikunyah dengan perlahan.</p>
<p>Lui-ji sangat mendongkol, ia tidak tahan, katanya, &#8220;Apakah selama hidupmu tidak pernah makan Pak-lay?&#8221;</p>
<p>Lebih dulu Pwe-giok menelan makanan yang memenuhi mulutnya itu dan didorongnya dengan seceguk arak, lalu memejamkan mata dan menghela nafas lega, kemudian menjawab dengan tersenyum, &#8220;Pak-lay-cah selezat ini, selanjutnya mungkin sulit untuk mencicipinya lagi, kesempatan terakhir ini mana boleh dilewatkan secara sia-sia?&#8221;</p>
<p>Hampir saja Lui-ji berteriak, tapi bila terpikir setelah mengalami perjuangan mati-matian, akhirnya Pwe-giok tetap juga akan jatuh ke dalam cengkeraman Ji Hong-ho, tanpa terasa hatinya menjadi pedih.</p>
<p>Pwe-giok menyumpit secuil daging itik ke mangkuk Lui-ji, katanya, &#8220;Itik cah sayur Kay-lan ini adalah masakan terkenal daerah Sujwan, meski tidak selezat bebek panggang Peking yang termasyhur itu, tapi mempunyai cita rasa tersendiri, kau perlu mencicipinya.&#8221;</p>
<p>Lui-ji memandang sekejap, tanpa omong apa-apa ia makan daging bebek itu.</p>
<p>Melihat Pwe-giok dan Lui-ji juga makan dengan nikmatnya, Thi-hoa-nio berucap dengan tertawa, &#8220;Bebek ini memang tidak selezat bebek panggang Peking, tapi cukup untuk meledakkan perut orang yang makan terlalu bernafsu.&#8221;</p>
<p>Saat itu Tio Kiang dan Song Kang memang sudah penuh mengisi perut mereka, mendengar ucapan Thi-hoa-nio itu, mereka menjadi melengak dan curiga.</p>
<p>Benarlah, ketika mereka mengerahkan tenaga dalam, terasa perut seperti ditusuk jarum, sakit dan perih. Mereka tahu gelagat jelek, segera Tio Kiang meraung, &#8220;Keparat orang she Yang, sampai hati kau kerjai kawan sendiri dan mengkhianati perintah Bengcu?!&#8221;</p>
<p>Co Cu-eng lebih cerdik, sejak tadi dia belum sempat makan, demi melihat keadaan kedua rekannya itu, serentak ia mendahului angkat langkah seribu.</p>
<p>Akan tetapi baru saja tubuhnya melayang keluar gubuk, mendadak Yang Cu-kang membentak, &#8220;Lari kemana!&#8221; Berbareng kedua tangannya bekerja dengan cepat, belum lagi Tio Kiang dan Song Kang sempat melakukan perlawanan, tahu-tahu mereka tercengkeram seperti anak ayam dicengkeram elang, sekali lempar kedua orang itu disambitkan ke arah lari Co Cu-eng.</p>
<p>Sungguh dahsyat luar biasa daya lempar kedua sosok tubuh itu, baru saja Co Cu-eng sempat melompat keluar halaman, dua sosok tubuh kawan sendiri sudah menumbuk punggungnya, dia menjerit ngeri dan roboh terkapar. Song Kang dan Tio Kiang juga terbanting dan tak bisa bergerak lagi.</p>
<p>Rupanya pada waktu mencengkeram mereka, sekaligus Yang Cu-kang telah meremas Hiat-to maut mereka sehingga binasa seketika.</p>
<p>Selesai membereskan ketiga orang itu, Yang Cu-kang tepuk-tepuk tangannya, lalu berduduk kembali, katanya, &#8220;Aku ini memang orang busuk, jangan Ji Hong-ho harap akan dapat memperalat diriku.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tertawa, katanya, &#8220;Kau ini sungguh orang aneh. Kalau orang lain sedapatnya ingin orang lain memujinya sebagai orang baik, hanya kau saja yang justeru lebih suka dimaki orang sebagai telur busuk, makin sering dimaki orang makin senang kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ini memang telur busuk, biarpun setiap orang bilang aku ini baik, memangnya aku dapat berubah menjadi telur baik?&#8221; ujar Yang Cu-kang.</p>
<p>Dengan tertawa Thi-hoa-nio ikut berkata, &#8220;Sejak kecil dia sudah biasa dimaki orang, kalau tiga hari tidak dimaki, tentu tulangnya akan terasa gatal dan pegal, lantaran inilah aku mau menjadi isterinya, sebab aku paling suka memaki orang dan sekarang setiap hari aku dapat memaki dia secara gratis.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tertawa, &#8220;Wah, tampaknya kau mendapatkan suami yang tepat, dapat memaki lakimu setiap hari dan lakimu pasti tidak balas memaki, sungguh besar rejekimu dapat memperoleh laki semacam ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, kalau nona merasa iri, kenapa tidak menikah sekalian denganku,&#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Tapi sayang kau sudah berbini, kalau tidak tentu aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tambah bini tambah rejeki, semakin banyak bini semakin baik,&#8221; seru Yang Cu-kang sambil terbahak.</p>
<p>&#8220;Akan tetapi sayang, aku ini tidak suka memaki orang,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;O, kiranya nona juga serupa diriku, lebih suka dimaki orang,&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Wah, baru saja kukatakan kau ini seorang Kuncu, sekarang penyakitmu sudah kumat lagi?&#8221; omel Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Aku memang bukan seorang Kuncu, siapa bilang aku ini seorang Kuncu?&#8221; jawab Cu-kang dengan serius. &#8220;Apabila aku ini seorang Kuncu, sekarang kuterima upah dari Ji Hong-ho, seharusnya aku setia kepada perintahnya dan bekerja baginya. Tapi aku justeru terima upah dari dia tapi bekerja bagi orang lain, apakah ini perbuatan seorang Kuncu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, bilamana kami kau bunuh barulah kau terhitung seorang Kuncu?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Juga belum tentu,&#8221; ujar Yang Cu-kang. &#8220;Cuma sedikitnya perlu ku tutuk Hiat-to kalian, ku masukkan kalian ke dalam peti, lalu ku antarkan ke tempat Ji Hong-ho.&#8221;</p>
<p>Bicara tentang peti, tanpa terasa pandangan Lui-ji jadi tertarik kepada kedua peti yang dibawa datang oleh Tio Kiang dan Song Kang tadi. Kedua peti itu berukuran cukup besar dan memang dapat memuat satu orang.</p>
<p>&#8220;Eh, apakah isi kedua peti itu?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Kedua peti adalah kado Ji Hong-ho yang minta ku antarkan kepada Pek-hoa-pangcu Kun-hujin,&#8221; tutur Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Kado? Kado apa?&#8221; tanya Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Apa salahnya jika nona menerkanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan Khong Beng, mana dapat kuterka isi kedua peti ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Isi peti itu sudah lama dilihat oleh nona&#8230;&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Pwe-giok menimbrung dengan tertawa, &#8220;Eh, bagaimana kalau Cayhe ikut menebak teka-teki ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh saja,&#8221; sahut Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Isi peti itu adalah manusia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo?!&#8221; Yang Cu-kang bersuara singkat.</p>
<p>&#8220;Bahkan terdiri dari seorang lelaki dan seorang perempuan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo?!&#8221; Yang Cu-kang bersuara pula.</p>
<p>&#8220;Mereka adalah Kwe Pian-sian dan Ciong Cing,&#8221; demikian Pwe-giok menambahkan.</p>
<p>Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang, ia tatap Pwe-giok lekat-lekat, selang sejenak barulah ia menghela nafas panjang, ucapnya, &#8220;Pantaslah Ji Hong-ho bertekad harus melenyapkan dirimu, bilamana aku mempunyai musuh cerdik pandai semacam kau, mungkin akupun tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi isi peti memang betul orang she Kwe itu?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Ya, sedikitpun tidak salah,&#8221; sahut Cu-kang. &#8220;Tempo hari, ketika timbul kebakaran di Li-toh-tin, akhirnya mereka jatuh pingsan di tengah lautan api, untung mereka diselamatkan lalu diisi ke dalam peti seperti babi panggang.&#8221;</p>
<p>Sembari mendengarkan cerita Yang Cu-kang itu, segera Lui-ji mendekati peti dan bermaksud membukanya. Tapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yang Cu-kang sudah berduduk di atas peti, ucapnya dengan perlahan, &#8220;Peti ini tidak boleh disentuh olehmu, kecuali Kun Hay-hong sendiri, siapapun tidak boleh membukanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang tidak boleh?&#8221; teriak Lui-ji dengan mendelik.</p>
<p>&#8220;Janganlah nona mendelik padaku, larangan ini bukan kehendakku,&#8221; kata Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Bukan kau, habis siapa?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Siapa lagi, tentulah Bu-lim Bengcu sekarang, Ji Hong-ho, Ji-losiansing,&#8221; jawab Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Hah&#8230; kenapa sekarang kau tunduk lagi kepada perintahnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehmm!&#8221; Yang Cu-kang hanya mengangguk.</p>
<p>Seketika Lui-ji melonjak bangun, teriaknya, &#8220;Yang Cu-kang, coba jawab, sesungguhnya kau ini kawan kami atau antek Ji Hong-ho?&#8221;</p>
<p>&#8220;Adakah faedahnya menjadi kawan kalian?&#8221; tanya Yang Cu-kang acuh tak acuh.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu banyak faedahnya, misalnya&#8230;&#8221; tapi Lui-ji jadi sukar untuk menerangkan.</p>
<p>&#8220;Haha, jika nona tak dapat menerangkan, biarlah ku wakili dirimu sebagai juru bicara,&#8221; seru Yang Cu-kang dengan tertawa sambil menekuk jarinya. &#8220;Pertama, kalian sanggup membantu aku makan minum. Faedah kedua, jika aku lagi iseng, boleh ku pergi kemanapun untuk menolong kalian. Faedah ketiga, haha&#8230; pokoknya banyak sekali faedahnya dan sukar untuk diceritakan satu per satu. Akan tetapi aku lebih suka tiada satupun mendapatkan faedah itu.&#8221; &#8220;Jadi akhirnya kau toh mengaku dirimu adalah antek Ji Hong-ho,&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Seorang baik-baik seperti diriku menjadi bos besar saja cukup memenuhi syarat, untuk apa aku menjadi antek orang lain?&#8221; jawab Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Habis, sesungguhnya apa maksud tujuanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tetap aku, bukan kawan siapapun, juga tidak menjadi antek siapapun. Apa yang kulakukan tanggung jawabku sendiri, ingin berbuat apapun boleh kulakukan sesukaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi urusan apapun yang berfaedah bagimu lantas kau lakukan, begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tepat! Sedikitpun tidak salah, ucapan nona sungguh kena di dalam hatiku,&#8221; seru Yang Cu-kang sambil bergelak.</p>
<p>Lui-ji tidak sanggup berucap pula saking dongkolnya.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara roda kereta yang berkumandang dari kejauhan.</p>
<p>&#8220;Aha, meski aku tidak punya kawan, tapi tidak sedikit tetamuku,&#8221; kata Cu-kang dengan tertawa. Sembari bicara ia terus melayang keluar, sekali mengitar hanya sekejap saja ketiga sosok mayat di luar sana telah di depak ke tempat gelap, baru lenyap suaranya dia sudah duduk kembali di tempat semula seperti tidak pernah bergerak sedikitpun.</p>
<p>&#8220;Yang datang ini apakah juga mengantarkan kado?&#8221; jengek Lui-ji, lalu sambungnya, &#8220;Tapi sayang, seperti mak inang yang mengasuh anak, akhirnya anak itu tetap punya orang.&#8221;</p>
<p>Dia bicara sambil berdiri di ambang pintu, kini dapat dilihatnya seorang muncul dengan mendorong sebuah gerobak beroda satu dari liku jalan pegunungan sana. Di atas gerobak memang betul termuat dua buah peti, pendorong gerobak itu hanya berlengan satu, sebelah lengannya sudah buntung. Akan tetapi gerobak itu dapat dikuasainya dengan stabil, bahkan cukup cepat lajunya.</p>
<p>Mendadak Thi-hoa-nio mengikik tawa.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tertawa gembira?&#8221; tanya Lui-ji dengan mendelik.</p>
<p>&#8220;Dia mendapatkan suami semacam diriku, kalau dia tidak gembira lantas siapa yang akan gembira?&#8221; ujar Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Hm, kukira terlalu dini dia bergembira,&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Aku bukan gembira, melainkan merasa rasa geli,&#8221; kata Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Apa yang menggelikan?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Coba lihat,&#8221; jawab Thi-hoa-nio sambil mencibir keluar. &#8220;Kanglam-tayhiap Ong Uh-lau yang gagah perkasa dan terhormat kini ternyata telah menjadi tukang gerobak, apakah tidak lucu dan menggelikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Perbuatannya ini hanya sekedar menebus dosa saja,&#8221; ujar Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Menebus dosa?&#8221; Thi-hoa-nio menegas.</p>
<p>&#8220;Ya, sebab dia suka membual, tapi seorang anak ingusan seperti Tong Giok saja tak dapat dijaganya, untuk kesalahannya itu mestinya akan kutabas pula sebelah tangannya,&#8221; kata Cu-kang.</p>
<p>Dalam pada itu gerobak dorong satu roda itu sudah masuk halaman, Ong Uh-lau juga sudah melihat jelas Cu Lui-ji dan Ji Pwe-giok yang berada di dalam rumah, seketika air mukanya berubah pucat, tapi cepat pula ia tertawa, katanya, &#8220;Aha, tidak tersangka Ji-kongcu juga berada di sini, selamat bertemu!&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa genit Thi-hoa-nio menegur, &#8220;Masakah yang kau kenal cuma Ji-kongcu saja dan tidak kenal lagi padaku?&#8221;</p>
<p>Saat itu sebelah kaki Ong Uh-lau baru melangkah masuk ke dalam rumah, ia memandang sekejap kepada Thi-hoa-nio, seketika sebelah kakinya itu ditarik kembali keluar, mukanya juga berubah pucat, serunya dengan parau, &#8220;Hah, Khing hoa-samniocu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hihi, boleh juga daya ingatmu!&#8221; kata Thi-hoa-nio dengan tertawa.</p>
<p>Tanpa terasa Ong Uh-lau memandang lengan baju sendiri yang kosong melompong itu, lalu berucap sambil menyeringai, &#8220;Kebaikan nona terhadapku, selama hidup tentunya tak dapat kulupakan, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan nona lagi, tapi nyonya,&#8221; sahut Thi-hoa-nio.</p>
<p>&#8220;Oo, Ji-hujin?&#8221; ucap Ong Uh-lau sambil mengerling ke arah Ji Pwe-giok.</p>
<p>Thi-hoa-nio menggeleng, dan Yang Cu-kang lantas berkata dengan tertawa, &#8220;Bukan Ji-hujin melainkan Yang-hujin.&#8221;</p>
<p>Terbelalak mata Ong Uh-lau, sampai sekian lama ia melenggong, mendadak ia membungkuk tubuh sebagai tanda hormat dan berkata, &#8220;Kionghi, kionghi, selamat, selamat! Yang-Kongcu menikah, kenapa tidak mengirim kartu undangan padaku? Wah, aku harus disuguh arak bahagia kalian!&#8221;</p>
<p>&#8220;Arak bahagia baru saja habis terminum, yang masih tersisa adalah satu porsi Ang-sio-pay-kut (tulang iga saus manis), jika sudi, silahkan minum saja satu-dua cawan,&#8221; kata Yang Cu-kang, ia sendiri lantas mengambilkan sepasang sumpit dan ditaruh di depan Ong Uh-lau.</p>
<p>Kalau Thi-hoa-nio yang mengambilkan sumpit, mungkin matipun Ong Uh-lau tidak berani menggunakannya, tapi Yang Cu-kang sendiri yang mengambilkan sumpitnya, Ong Uh-lau tidak curiga sedikitpun, bahkan rada bangga karena dilayani tuan rumah sendiri. Berulang kali ia mengucapkan terima kasih, katanya sambil tertawa, &#8220;Ehm, Ang-sio-pay-kut adalah kegemaranku, satu macam makanan ini sudah cukup bagiku, terima kasih. Aku tidak sungkan lagi.&#8221;</p>
<p>Tadinya Lui-ji kuatir orang tidak dapat dijebak, siapa tahu tanpa ragu ia terus pegang sumpit dan mulai makan, diam-diam Lui-ji merasa girang dan juga heran.</p>
<p>Padahal Ong Uh-lau terkenal licik dan licin, menghadapi keadaan yang lain daripada biasanya ini seharusnya dia waspada dan berjaga-jaga, tapi sekarang dia sedemikian percaya kepada Yang Cu-kang, hal ini menandakan hubungan antara Yang Cu-kang dan Ji Hong-ho pasti lain daripada yang lain, tentunya sebelumnya Ji Hong-ho telah memberi pesan padanya agar segala urusan harus tunduk kepada perintah Yang Cu-kang.</p>
<p>Ji Hong-ho sendiri juga sangat licin dan sangat cermat memperhitungkan segala sesuatunya, kalau dia sedemikian mempercayai Yang Cu-kang, tentu juga ada alasannya. Akan tetapi tindak tanduk Yang Cu-kang justeru luar biasa, sebentar baik lain saat jahat sehingga sukar diraba, sekarang bahkan Ong Uh-lau juga akan dibinasakan olehnya, sesungguhnya apa maksud tujuannya dengan bertindak demikian?</p>
<p>Sesungguhnya ada hubungan apa antara dia dengan Ji Hong-ho? Dan mengapa Ji Hong-ho sedemikian percaya padanya?</p>
<p>Sungguh makin dipikir makin bingung Cu Lui-ji.</p>
<p>Didengarnya Yang Cu-kang lagi tanya kepada Ong Uh-lau, &#8220;Peti yang kau bawa kemari tentunya tidak keliru bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kongcu jangan kuatir, Cayhe sudah salah satu kali, masakah berani salah untuk kedua kalinya?&#8221; jawab Ong Uh-lau. Ia menenggak araknya lalu menyambung pula, &#8220;Cayhe telah melaksanakan pesan Kongcu dan menemui Hay-kongcu di tempat yang ditentukan, lalu Hay-kongcu menyerahkan kedua peti ini kepadaku. Tanpa melihatnya terus saja Cayhe mengangkutnya kemari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Hay-kongcu tidak titip surat untukku?&#8221; tanya Yang Cu-kang. &#8220;Kata Hay kongcu, mendadak ia melihat jejak seorang yang mencurigakan, maka harus diselidiki hingga jelas, sebab itulah dalam beberapa hari ini mungkin Kongcu tak dapat bertemu dengan beliau.&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang berkerut kening dan berpikir sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, &#8220;Pekerjaanmu ternyata dapat kau laksanakan dengan cukup memuaskan, dan sekarang bilamana kau ingin memberi pesan terakhir apa-apa boleh kau katakan saja padaku.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini membuat Ong Uh-lau melengak, wajahnya yang berseri-seri tadi seketika lenyap, ia menegas dengan suara parau, &#8220;Pesan terakhir?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, setelah kau makan racun dari Siau-hun-kiong, masa kau kira dapat hidup lebih lama lagi?&#8221; sahut Yang Cu-kang dengan tak acuh.</p>
<p>Tubuh Ong Uh-lau bergetar hebat, cawan arak yang dipegangnya hampir saja jatuh ke lantai, ucapnya dengan terputus-putus, &#8220;Ah, jangan&#8230; janganlah Kongcu bergurau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bergurau dengan kau?&#8221; jengek Yang Cu-kang sambil menarik muka.</p>
<p>Tubuh Ong Uh-lau menggigil dan muka pucat seperti mayat, mendadak ia mendepak meja sehingga mangkuk piring berantakan, teriaknya dengan suara parau, &#8220;Bengcu menaruh kepercayaan penuh padamu, tapi kau&#8230; kau&#8230;&#8221; mendadak tenggorokannya seperti tersumbat, sekonyong-konyong tangannya menghantam ke belakang, mengincar batok kepala Cu Lui-ji.</p>
<p>Rupanya dia menyadari dirinya bukan tandingan Yang Cu-kang, maka Lui-ji yang diincarnya. Serangan ini cukup nekat, tujuannya hanya untuk mencari tumbal saja daripada mati konyol.</p>
<p>Sejak tadi dia melotot dan menghadapi Yang Cu-kang, orang lain sama sekali tidak menyangka dia akan menyerang Cu Lui-ji, apalagi serangan cepat dan keji, dapat dibayangkan betapa bahayanya.</p>
<p>Pengalaman tempur Lui-ji juga masih cetek, keruan ia terkejut akan serangan itu, tampaknya dia tidak sempat berkelit. Syukurlah pada detik terakhir Pwe-giok telah melompat maju, sebelah tangannya juga menghantam sekuatnya ke arah Ong Uh-lau.</p>
<p>Terdengarlah suara &#8220;blang&#8221; yang keras, kedua tangan beradu, tubuh Ong Uh-lau tergetar mencelat, waktu ia jatuh ke bawah, sementara itu racun dalam tubuhnya sudah bekerja, mukanya kelihatan putih seperti perak laksana orang yang mendadak berbedak.</p>
<p>Yang Cu-kang memandang Pwe-giok sekejap, ucapnya dengan tersenyum, &#8220;Anda adalah seperti anak panah yang hampir jatuh, tak tersangka masih menyimpan tenaga dalam sekuat ini, tampaknya selama ini kami terlalu menilai rendah dirimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, jangan kau pandang Ji-kongcu ini lemah lembut, padahal tenaga saktinya jarang ada bandingannya di dunia Kangouw,&#8221; sambung Thi-hoa-nio dengan tertawa.</p>
<p>Sementara itu Cu Lui-ji sudah dapat menenangkan diri, cepat ia berkata, &#8220;Sesungguhnya apa isi peti yang diantarnya kemari itu?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan ini sudah lama ditahannya di dalam hati, begitu ada kesempatan segera dilontarkannya.</p>
<p>Yang Cu-kang tertawa, katanya, &#8220;Peti ini kalau tidak kubuka dan diperlihatkan padamu, mungkin selamanya kau akan dendam padaku.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara peti pun sudah dibuka olehnya.</p>
<p>Ketika melihat isi peti itu, serentak Lui-ji menjerit kaget dan tidak dapat bicara lagi.</p>
<p>Yang terisi dalam peti ternyata Ki Leng-hong adanya.</p>
<p>Betapapun sabar dan tenangnya, tidak urung Pwe-giok juga terkejut.</p>
<p>Tertampak mata Ki Leng-hong terpejam rapat, mukanya pucat, seperti kepiting saja dia diringkus dan dimasukkan ke dalam peti, sampai saat ini dia masih dalam keadaan pingsan.</p>
<p>Padahal biasanya nona Ki ini berkuasa dan suka memerintah, setiap orang di dunia ini seolah-olah dapat dipermainkan olehnya. Sungguh tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa Ki Leng-hong juga bisa jatuh habis-habisan seperti sekarang ini.</p>
<p>Dengan sinar mata gemerdep Yang Cu-kang bertanya, &#8220;Apakah Ji-kongcu kenal dia?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tersenyum getir dan mengangguk, katanya, &#8220;Ya, kenal.&#8221;</p>
<p>Lui-ji menghela nafas gegetun dan berkata, &#8220;Mestinya dia berjanji dengan kami akan bertemu lagi di Tong-keh-ceng, aku memang lagi heran mengapa dia tidak muncul, siapa tahu dia telah berubah menjadi begini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan ilmu silatnya yang tinggi dan kecerdasannya, betapapun Ong Uh-lau pasti bukan tandingannya, entah mengapa dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang memotong sebelum habis ucapan Pwe-giok itu, &#8220;Tidakkah Ji-heng dengar tadi bahwa peti ini diterima oleh Ong Uh-lau dari seorang Hay-kongcu?&#8221;</p>
<p>Biji mata Cu Lui-ji berputar, serunya, &#8220;He, Hay-kongcu? Maksudmu Hay Tong-jing?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang seperti terkejut dan heran, tanyanya, &#8220;Kaupun kenal Hay Tong-jing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya kukenal dia,&#8221; jawab Lui-ji. &#8220;Dan kau sendiri, cara bagaimana bisa kenal dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejak berumur satu sudah kukenal dia,&#8221; tutur Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>Lui-ji melengak, &#8220;Sejak umur satu? Apakah kalian&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia adalah Suhengku,&#8221; tukas Yang Cu-kang.</p>
<p>Untuk sejenak Lui-ji melengong, katanya kemudian dengan tertawa, &#8220;Hah, pantas sifat kalian rada-rasa sama, mata kalian seolah-olah tumbuh di atas kepala, siapapun diremehkan oleh kalian, kiranya kalian memang berasal dari satu sarang&#8230;&#8221;</p>
<p>Dia mengikik tawa dan urung mengucapkan &#8220;sarang anjing&#8221;.</p>
<p>Pwe-giok menghela nafas, &#8220;Ilmu silat Hay-heng pernah kulihat, pantaslah nona Ki bukan tandingannya. Tapi ada permusuhan apa pula antara kalian dengan nona Ki ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada permusuhan apapun,&#8221; jawab Yang Cu-kang. &#8220;Hanya saja Ji Hong-ho ingin mengantar pulang dia ke Sat-jin-cengcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, orang semacam Hay Tong-jing itu juga sudi menjadi antek Ji Hong-ho?&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Jika kami berasal dari satu sarang, dengan sendirinya kamipun bernafas dari satu lubang,&#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Bila kalian toh harus tunduk kepada perintah Ji Hong-ho, mengapa pula kau bunuh Ong Uh-lau dan lain-lain ini?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Sebab aku senang,&#8221; sahut Cu-kang dengan tertawa. Baru habis ucapannya, mendadak air mukanya berubah dan membentak perlahan, &#8220;Siapa itu?&#8221;</p>
<p>Setelah ucapan Yang Cu-kang itu selesai barulah Lui-ji mendengar ada suara kesiur angin dari jauh telah mendekat, hanya sekali melayang saja sudah tiba.</p>
<p>Selagi Lui-ji terkejut oleh ginkang orang yang maha tinggi ini, &#8220;blang&#8221; tahu-tahu seorang menerjang masuk dengan membobol jendela. Siapa lagi dia kalau bukan Hay Tong-jing.</p>
<p>Kejut dan girang Lui-ji, serunya dengan tertawa, &#8220;Hah, baru saja dibicarakan, seketika orangnya datang, apakah kau&#8230;&#8221; mendadak ucapannya terhenti, sebab baru sekarang dilihatnya baju Hay Tong-jing yang hitam itu penuh berlepotan darah, sebaliknya mukanya pucat pasi.</p>
<p>Yang Cu-kang tidak bicara apa-apa, ia terus merobek baju orang, terlihat tubuh Hay Tong-jing juga berlumuran darah, sedikitnya ada belasan tempat luka.</p>
<p>Padahal betapa tinggi ilmu silat Hay Tong-jing sudah sama diketahui oleh Pwe-giok dan Lui-ji, sekarang dia juga dilukai orang, sungguh Lui-ji hampir tidak percaya kepada matanya sendiri.</p>
<p>Mau-tak-mau berubah juga air muka Yang Cu-kang, dengan suara tertahan ia tanya, &#8220;Siapa-siapa saja yang melukaimu?&#8221;</p>
<p>Dia tidak bertanya &#8220;siapa&#8221;, melainkan &#8220;siapa-siapa&#8221;, sebab ia yakin kalau musuh cuma satu orang saja tidak mungkin mampu melukai Hay Tong-jing.</p>
<p>Kedua tinju Hay Tong-jing terkepal erat-erat, sambil mengertak gigi ia berkata, &#8220;Ialah&#8230;&#8221;</p>
<p>Meski bibirnya bergerak, tapi suaranya tak terdengar.</p>
<p>&#8220;Siapa? Siapa dia?&#8221; desak Yang Cu-kang.</p>
<p>Bibir Hay Tong-jing tampak bergerak lagi dua tiga kali, lalu &#8220;bluk&#8221;, ia jatuh terkulai.</p>
<p>Maklumlah lukanya sangat parah, sebenarnya sejak tadi tidak tahan lagi, hanya setitik tekadnya ingin hidup itulah, dengan sisa tenaga terakhir dapatlah ia lari ke sini. Kini setelah bertemu dengan sanak keluarga sendiri, lega perasaannya dan badan juga tidak tahan lagi.</p>
<p>Cepat Thi-hoa-nio memapahnya ke atas kursi dan memeriksa lukanya.</p>
<p>Sedangkan Yang Cu-kang hanya berdiri terpaku di tempatnya, sampai sekian lamanya mendadak ia melotot dan berteriak, &#8220;Tidak peduli siapa saja yang melukai dia, biarpun dia lari ke ujung langit juga akan kususul ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah datang, untuk apa disusul ke sana?!&#8221; mendadak seorang menanggapi.</p>
<p>Suaranya sangat dingin, tapi juga tajam melengking sehingga membuat telinga orang yang mendengarnya merasa tidak enak.</p>
<p>Umumnya suara orang tentu bernada entah tinggi entah rendah, entah cepat entah lambat, tapi suara orang ini kedengaran datar dan hambar saja, monoton begitulah, membuat pendengarnya merasa kesal dan bosan.</p>
<p>Muka orang ini tidak terlalu jelek, juga tidak terlalu buas, lebih-lebih tiada sesuatu cacat badaniah. Tapi entah mengapa, siapapun yang melihatnya akan merasa ngeri dan menggigil.</p>
<p>Alisnya sangat tebal, matanya sangat besar, bahkan boleh dikatakan cukup ganteng dan cakap, malahan ujung mulutnya selalu mengulum senyum, sekilas pandang bahkan cukup menarik.</p>
<p>Tapi bila dipandang secara cermat, sekujur badannya terasa kaku dan dingin, tiada rasa senyuman sedikitpun. Jadi senyuman itu seolah-olah cuma dibuat-buat belaka, seperti orang lain yang mengukir pada wajahnya. Sebab itulah senyuman aneh itu tetap menghiasi mukanya, pada waktu marah tersenyum, pada waktu duka juga tersenyum, waktu membunuh orang tersenyum, waktu makan juga tersenyum, di dalam kakus jelas juga tersenyum, bahkan waktu tidur juga tetap tersenyum.</p>
<p>Jadi senyuman yang abadi, tak berubah selamanya.</p>
<p>Dia memakai baju hitam yang ketat, sangat pas dengan potongan tubuhnya, memakai ikat pinggang warna merah darah, pada ikat pinggangnya terselip sebilah golok melengkung, golok sabit. Bagian gagang golok juga terhias kain sutera merah, tapi batang goloknya berwarna hitam pekat.</p>
<p>Meski terkejut, segera Yang Cu-kang dapat menenangkan hatinya, katanya sambil melototi pendatang itu, &#8220;Jadi kau yang melukainya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, Suhengmu dibunuh oleh Lengkui (setan gaib),&#8221; jawab orang itu dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Lengkui? Jadi kau inilah Lengkui?&#8221; Tanya Yang Cu-kang menegas.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; orang itu tersenyum.</p>
<p>&#8220;Bagus, suruh pembantumu keluar semua,&#8221; kata Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Lengkui membunuh orang tidak perlu pembantu,&#8221; ucap orang itu dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Melulu kau sendiri dapat melukainya?&#8221; terkesiap juga Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Ya, cukup Lengkui seorang saja.&#8221;</p>
<p>Keterangan ini membikin semua orang terkejut pula, bahwa orang ini dapat melukai Hay Tong-jing yang lihay, betapa tinggi ilmu silatnya jelas sukar diukur.</p>
<p>Dalam keadaan demikian barulah Lui-ji membuktikan ketenangan Yang Cu-kang juga luar biasa dan sukar dibandingi siapapun.</p>
<p>&#8220;Siapa yang menyuruh kau ke sini?&#8221; tanya Cu-kang pula.</p>
<p>&#8220;Lengkui sendiri,&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Ada permusuhan apa antara kau dengan kami?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lengkui tidak ada permusuhan apapun dengan kalian.&#8221;</p>
<p>Orang itu selalu menyebut dirinya sebagai &#8220;Lengkui&#8221; dan tidak pernah menggunakan istilah &#8220;aku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya siapa kau?&#8221; bentak Cu-kang.</p>
<p>Mendadak Lengkui menyebut dua bait syair kuno yang sama sekali bukan merupakan jawaban atas pertanyaan tadi, tapi setelah mendengar syair itu, air muka Yang Cu-kang berubah hebat.</p>
<p>&#8220;Lengkui melepaskan dia lari ke sini, tujuannya justeru hendak membunuh kau,&#8221; kata pula orang yang mengaku sebagai Lengkui itu.</p>
<p>Habis berkata, mendadak bayangan tubuhnya berkelebat, entah kapan golok yang terselip pada ikat pinggangnya sudah terhunus, dan entah cara bagaimana ujung golok juga sudah mengancam tenggorokan Yang Cu-kang.</p>
<p>Gerakan ini sungguh cepat luar biasa dan sukar untuk dibayangkan. Tanpa terasa Thi-hoa-nio menjerit kaget.</p>
<p>&#8220;Creng,&#8221; terdengar suara nyaring berdenging memekak telinga. Entah sejak kapan Yang Cu-kang sudah memegang dua batang pedang pendek dan tahu-tahu kedua pedang pendek itu bersilang untuk menangkis tabasan golok sabit Lengkui.</p>
<p>Gerak tangkisan pedangnya juga cepat luar biasa dan sukar dibayangkan.</p>
<p>Dalam sekejap sinar golok yang hitam itu laksana gumpalan awan terus memburu ke arah Yang Cu-kang, di tengah gumpalan awan hitam terkadang juga berkelebat cahaya kilat yang menyerang Lengkui, meski golok seperti awan hitam dan pedang laksana kilat, namun langkah kedua orang tidak bergeser, bahkan tidak terdengar lagi suara benturan senjata.</p>
<p>Bagi pandangan orang biasa, pertarungan kedua orang itu lebih mirip orang yang lagi menari, hakikatnya bukan lagi bertempur. Tapi Pwe-giok tahu telah terjadi pertarungan sengit, kecuali kedua orang yang bersangkutan mungkin sukar dibayangkan orang lain betapa hebat gerakan mereka.</p>
<p>Kini jarak kedua orang itu tidak ada lima kaki jauhnya, dengan senjata mereka cukup untuk mencapai sasarannya dan lawan dapat tertusuk tembus, tapi anehnya serang menyerang mereka justeru tidak mengenai sasarannya.</p>
<p>Yang paling aneh adalah kaki kedua orang sama-sama tidak menggeser sedikitpun, dari sini terbukti bahwa setiap serangan kedua pihak sama-sama jitu dan cermatnya, asalkan ketinggalan sedetik saja segera akan banjir darah dan terkapar.</p>
<p>&#8220;Mengapa kedua orang ini hanya berdiri tanpa bergerak, sungguh sebal,&#8221; kata Lui-ji tak sabar.</p>
<p>Tapi Pwe-giok sangat prihatin, ucapnya, &#8220;Sebab serangan kedua orang sama-sama secepat kilat, begitu Lengkui menebas dengan goloknya, kontak Yang Cu-kang balas menusuk dengan pedangnya, terpaksa Lengkui ganti serangan untuk menyelamatkan diri, menyusul ia terus menyerang lagi dan terpaksa Yang Cu-kang juga harus bertahan. Sebab itulah meski keduanya kelihatan serang menyerang, tapi sebenarnya tak dapat melukai lawan.&#8221;</p>
<p>Lui-ji terkesiap, &#8220;Jika demikian, asal lengah sedikit saja gerak serangan Yang Cu-kang, tentu dia akan termakan oleh satu kali tabasan golok.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok memandang luka yang memenuhi tubuh Hay Tong-jing, katanya, &#8220;Mungkin tidak cuma satu kali.&#8221;</p>
<p>Melihat luka Hay Tong-jing itu, dapatlah Lui-ji membayangkan serang menyerang mereka pasti akan berbahaya, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin, ia tercengang sejenak, lalu berucap pula dengan menarik nafas, &#8220;Darimanakah datangnya makhluk aneh ini, mengapa kungfunya setinggi ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, baru sekarang juga ku tahu betapa luasnya dunia kangouw dan orang kosen macam apapun ada,&#8221; ujar Pwe-giok dengan gegetun.</p>
<p>Tiba-tiba Lui-ji mendesis, &#8220;Meski sekarang ku tahu Yang Cu-kang bukan orang baik, tapi jelek2 dia pernah menolong kita. Bagaimana kalau kita juga membantunya sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kaupun ingin turun tangan?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Makhluk aneh ini meski berdiri di situ tanpa bergeser, dia hanya memperhatikan golok lawan di depan, kalau kita mengitar ke belakangnya dan menyerangnya, tentu dia takkan tahu dan tak berjaga,&#8221; bisik Lui-ji.</p>
<p>Pwe-giok tidak bersuara, ia memutar ke belakang Lengkui, dijumputnya sebatang sumpit, dengan cara menyambitkan anak panah ia timpuk punggung Lengkui. Terdengar suara &#8220;cring&#8221; pula, suara nyaring mendenging.</p>
<p>Entah sejak kapan Lengkui dan Yang Cu-kang sudah bertukar tempat, waktu sumpit yang disambitkan Pwe-giok itu dicari, ternyata sudah terputus-putus menjadi tujuh potong dan menancap di tanah seperti paku.</p>
<p>Sama sekali Lui-ji tidak tahu cara bagaimana sumpit itu bisa tertabas putus.</p>
<p>&#8220;Nah, bagaimana?&#8221; tanya Pwe-giok sambil memandang Lui-ji.</p>
<p>Karuan Lui-ji hanya melongo saja dan tak dapat menjawab.</p>
<p>Di tengah sinar pedang dan cahaya golok, kelihatan air muka Yang Cu-kang semakin kelam, sebaliknya wajah si Lengkui tetap mengulum senyum serupa waktu datang tadi, sedikitpun tidak berubah.</p>
<p>Kini Pwe-giok dapat menilai bila pertarungan ini berlangsung terus, jelas Yang Cu-kang lebih banyak celaka daripada selamatnya.</p>
<p>Kalau bicara ilmu silat, kedua orang kelihatan setali tiga uang alias sama kuatnya. Tapi bila pertarungan berlangsung lama, betapapun hati Yang Cu-kang kurang mantap.</p>
<p>Betapapun tenangnya Yang Cu-kang bukan orang tanpa perasaan, bila teringat olehnya Suheng sendiri terluka parah, ilmu silat isterinya rendah, kalau dirinya kalah, akibatnya sukarlah dibayangkan.</p>
<p>Dan kalau teringat hal-hal demikian, tentu saja pikirannya rada terganggu, dan karena ketenangannya terganggu, cara bertempurnya tentu saja terpengaruh, sedikit lambat saja gerak serangannya akibatnya tentulah fatal.</p>
<p>Sebaliknya Lengkui tampaknya cuma sebuah raga yang kosong, seperti cuma sesosok mayat hidup belaka, kalau dia juga punya perasaan dan bisa gelisah, rasanya tidak ada yang mau percaya.</p>
<p>Mungkin lantaran demikian inilah, maka Hay Tong-jing dapat dilukai oleh Lengkui.</p>
<p>Mendadak terdengar Yang Cu-kang menarik nafas panjang, tahu-tahu ia melayang ke atas. Jelas iapun menyadari bilamana pertarungan ini diteruskan pasti takkan menguntungkan, maka sekarang ia hendak berganti siasat.</p>
<p>Siapa tahu, baru saja tubuhnya mengapung ke atas, menyusul Lengkui juga melayang ke atas sehingga kedua orang kembali saling serang beberapa kali di udara. Setelah turun ke bawah, kedua orang tetap berhadapan dalam jarak dekat.</p>
<p>Yang Cu-kang ternyata tidak dapat berbuat apa-apa, maklum golok lawan terlalu cepat, terpaksa ia menangkis setiap serangan dan pada detik yang masih luang ia balas menyerang, dengan demikian barulah ia dapat mematahkan serangan musuh, jadi sama sekali tidak ada peluang lain baginya untuk bergerak.</p>
<p>Kini bukan hanya Yang Cu-kang sendiri, sampai Lui-ji juga berkeringat saking tegangnya. Thi-hoa-nio juga pucat dengan badan gemetar.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak Ji Pwe-giok melompat keluar rumah malah.</p>
<p>Meski Lui-ji yakin anak muda itu bukan seorang pengecut yang mencari selamat sendiri pada saat gawat, tapi dia lari keluar dalam keadaan demikian, sungguh Lui-ji tidak tahu apa maksudnya.</p>
<p>Meski pertarungan yang berlangsung di depan mata ini sangat hebat, namun hatinya sudah melayang ikut kepergian Ji Pwe-giok, biarpun pedang dan golok kedua orang yang bertempur itu dapat terbang sendiri juga tidak dihiraukannya lagi.</p>
<p>Syukurlah hanya sekejap kemudian Pwe-giok sudah lari masuk kembali, kini tangannya sudah bertambah dengan sebatang pohon kecil yang dicabutnya bersama akar dan berikut daunnya.</p>
<p>Setengah tahun yang lalu, waktu menghadapi berpuluh tokoh Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay yang mengubernya masuk ke Sat jin-ceng dulu, dia menggunakan tiang gardu untuk menghalau para pengeroyok itu. Kini dilihatnya ilmu golok Lengkui yang aneh dan ajaib itu, tiba-tiba timbul pikirannya akan menggunakan akal &#8220;dengan berat mengalahkan kelincahan&#8221;. Maka ia lantas berlari keluar dan mencabut sebatang pohon yang bulatan batangnya sebesar mangkuk.</p>
<p>Walaupun Lui-ji sudah tahu tenaga Pwe-giok sangat besar, tapi tak terduga dalam keadaan letih begitu ia masih sanggup mencabut sebatang pohon, seketika ia menjadi melengong.</p>
<p>Sembari berjalan Pwe-giok terus membersihkan ranting dan daun pohon itu, mendadak ia membentak keras-keras, batang pohon terus menyerang ke punggung Lengkui.</p>
<p>Meski rumah ini cukup luas, tapi batang pohon yang diputar itu sedikitnya mencakup tempat seluas beberapa tombak, maka terdengarlah suara gemuruh, segala isi ruangan telah tersapu berantakan.</p>
<p>Dari suara angin Lengkui merasakan datangnya serangan, mendadak golok sabit berkelebat dan menebas ke belakang, gerakan serangan ini sungguh sangat cepat, tempat yang diarah juga jitu. Cuma sayang, yang sedang menghantam punggungnya itu bukan lagi sebatang sumpit melainkan sebatang pohon.</p>
<p>Biarpun tenaga dalam Lengkui sangat hebat, tapi untuk menabas putus batang pohon dengan golok sabitnya yang kecil itu terasa rada sulit juga. Maka terdengarlah suara &#8220;crat&#8221; satu kali, batang pohon tertabas golok, tapi golok itu terus terjepit oleh batang pohon.</p>
<p>Hampir pada saat yang sama pedang pendek Yang Cu-kang juga sudah menusuk, terdengar suara &#8220;crat-cret&#8221; susul menyusul, dalam sekejap saja sekujur badan Lengkui telah tertusuk belasan kali oleh pedang Yang Cu-kang sehingga darah berhamburan.</p>
<p>Namun wajah Lengkui masih tetap mengulum senyum, katanya, &#8220;Tusukan hebat, serangan bagus! Cuma sayang, selamanya Lengkui tak dapat mati, siapapun tak dapat membunuh Lengkui&#8230;&#8221;</p>
<p>Sembari bicara golok bulan sabit yang terjepit batang pohon telah dicabutnya, mendadak goloknya membalik, ia tikam hulu hati sendiri, golok sepanjang tiga kaki lebih itu hampir amblas seluruhnya hingga sebatas gagang golok, ujung golok tampak menembus ke punggung.</p>
<p>Air muka Lengkui sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit dan menderita, ia tetap tersenyum dan berkata, &#8220;Jika kalian tidak lekas angkat kaki, sebentar Lengkui akan kembali lagi dan menuntut balas padamu.&#8221;</p>
<p>Omong kosong ini jelas tak dipercaya oleh siapapun, tapi melihat Lengkui mendadak membunuh diri, kematiannya juga sedemikian aneh, mau tak mau hati semua orang merasa ngeri.</p>
<p>Lui-ji menghela nafas lega, ucapnya, &#8220;Orang ini tidak cuma aneh ilmu goloknya, orangnya juga sangat aneh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ilmu golok aneh ini, mungkin di dunia Kangouw sekarang tidak ada sepuluh orang yang mampu menangkis sepuluh jurus serangannya,&#8221; kata Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Tapi dia telah kau bunuh, tokoh Kangouw yang mampu menangkis sepuluh kali seranganmu pasti juga takkan lebih dari sepuluh orang,&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>Yang Cu-kang tersenyum, katanya, &#8220;Ah, masa!&#8221;</p>
<p>Tapi Lui-ji lantas menjengek, &#8220;Hm, betapapun tinggi ilmu pedangnya, coba kalau Pwe-giok tidak ikut turun tangan, mungkin saat ini jiwamu sudah melayang, memangnya apa yang kau banggakan?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang tidak menjadi marah, sebaliknya ia bergelak tertawa, &#8220;Haha, memang betul, sedikitpun tidak salah.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berpaling dan berkata kepada Ji Pwe-giok, &#8220;Wahai Ji-heng, waktu pertama kali kulihat kau, kukira tidak lebih kau ini cuma seorang pemuda bangor saja. Ketika bertemu lagi untuk kedua kalinya, kesannya memang bertambah baik sedikit, tapi masih kupandang sepele akan dirimu. Pernah juga kulihat kau bertempur tiga kali, setiap kali penilaianku kepada kungfumu selalu bertambah. Tapi sesungguhnya betapa tinggi dan betapa dalam kungfumu, sekarang akupun merasa bingung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Yang-heng terlalu memuji,&#8221; jawab Pwe-giok. &#8220;Padahal bila Cayhe bergebrak dengan Lengkui ini, mungkin akupun tidak sanggup menahan sepuluh kali serangannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kau katakan mungkin betul, &#8220;kata Cu-kang. &#8220;Ilmu silatmu sekarang mungkin belum luar biasa, tapi tiga tahun lagi, tanggung kepandaianmu pasti tidak di bawahku.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tertawa, katanya, &#8220;Eh, kenapa kau jadi rendah hati sekarang?&#8221;</p>
<p>Dengan sungguh-sungguh Yang Cu-kang menjawab, &#8220;Yang kukatakan ini sama sekali bukan basa-basi, akupun tidak perlu menjilat pantatnya. Betapa besar kungfu akan dicapai oleh seseorang sudah ditakdirkan, sudah pembawaan, biarpun berlatih giat juga tidak besar manfaatnya. Seperti halnya orang main catur atau melukis, perlu juga melihat bakat orangnya. Kalau tidak berbakat, biarpun berlatih mati-matian, hasilnya tetap terbatas dan tidak dapat mencapai titik tertinggi, hanya bentuknya saja berhasil, tapi tak dapat menjiwainya.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba ia tertawa, lalu menambahkan, &#8220;Tapi walaupun bakatmu sangat bagus, tanpa giat berlatih juga tidak akan menghasilkan apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, kenapa bicaramu menjadi banyak, apakah kau tidak kuatir Lengkui akan datang lagi dan menuntut balas padamu?&#8221; kata Lui-ji dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Orangnya saja aku tidak takut, apalagi cuma Kui (setan)?&#8221; ujar Cu-kang.</p>
<p>Meski bersenda gurau, tidak urung sinar mata semua orang sama memandang ke arah Lengkui yang sudah menggeletak tak bernyawa itu, se-akan2 kuatir orang mati ini mendadak bisa melompat bangun untuk menuntut balas.</p>
<p>Tapi sekali pandang, wajah semua orang yang sedang tertawa dan senda gurau itu seketika berubah kejut dan melongo.</p>
<p>Mayat Lengkui ternyata mulai membusuk, tulang belulangnya sudah mulai berubah menjadi cairan darah.</p>
<p>Pwe-giok jadi teringat kepada kejadian dulu atas diri Cia Thian-pi, itu tokoh Tiam-jong-pay yang dipalsukan, mayatnya waktu itu juga membusuk di bawah hujan lebat, keadaannya serupa benar dengan mayat Lengkui sekarang, keruan ia terkejut dan curiga.</p>
<p>Kalau Cia Thian-pi gadungan itu adalah antek Ji Hong-ho, maka Lengkui ini tentu juga begundalnya, kalau tidak masakah mayat kedua orang bisa membusuk dengan cara yang sama? Jelas racun yang membikin mayat membusuk itu tersembunyi di sela-sela gigi dan sudah disiapkan akan digunakan apabila keadaan kepepet, supaya rahasia penyamaran mereka tidak ketahuan.</p>
<p>Dan kalau Lengkui adalah begundal Ji Hong-ho, kan juga segolongan dengan Yang Cu-kang, mengapa sekarang dia datang hendak membunuh Yang Cu-kang, apakah Ji Hong-ho sudah mengetahui pengkhianatan orang she Yang ini.</p>
<p>Yang jelas, baik Lengkui maupun Yang Cu-kang, ilmu silat mereka jauh di atas Ji Hong-ho, mengapa mereka tidak berdiri sendiri, sebaliknya rela menjual nyawa baginya?</p>
<p>Begitulah dalam hati Pwe-giok penuh tanda tanya, tapi dia memang seorang sabar dan pendiam, dapat berpikir panjang, teringat olehnya tindak-tanduk Yang Cu-kang yang sukar diraba, maka iapun tidak ingin bertanya lagi, hanya terlintas sesuatu ingatan dalam benaknya, ia coba tanya Yang Cu-kang, &#8220;Tadi mendadak orang ini menyebut dua bait syair kuno, apakah Yang-heng paham maksudnya?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang termenung sejenak, jawabnya kemudian, &#8220;Persoalan ini sangat besar dan luas sangkut-pautnya, bahkan&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong seorang menanggapi, &#8220;Selamanya Lengkui tak bisa mati, siapapun tak dapat membunuh Lengkui, sekarang juga Lengkui sudah datang lagi untuk menuntut balas.&#8221;</p>
<p>Suaranya datar dan hambar, tidak cepat dan tidak lambat, terasa bersahaya nadanya dan mencekam. Berbareng dengan datangnya suara itu, tahu-tahu seorang sudah muncul di depan pintu.</p>
<p>Wajah orang ini kelihatan putih, alis tebal dan mata besar, ujung mulutnya selalu mengulum senyum laksana wajah ukiran, kaku dan dingin. Baju yang dipakainya berwarna hitam dan sangat pas dengan tubuhnya, pinggangna juga ada ikat pinggang warna merah darah dan golok sabit terselip miring pada ikat pinggangnya.</p>
<p>Jelas orang inilah Lengkui!</p>
<p>Waktu mereka pandang mayat Lengkui di tanah tadi, ternyata sudah habis cair, sudah lenyap.</p>
<p>Apakah Lengkui benar-benar tak dapat dibinasakan?</p>
<p>Apakah betul sekarang dia telah hidup, kembali dan datang menuntut balas? Biarpun Pwe-giok dan Yang Cu-kang sangat tabah, berdiri juga bulu romanya demi munculnya orang ini secara mendadak. Apalagi Thi-hoa-nio dan Cu Lui-ji, mereka sama menjerit kaget.</p>
<p>Yang Cu-kang tidak berucap apapun, cepat ia melompat maju, pedang berputar, langsung ia menusuk tenggorokan Lengkui. Baru saja menusuk serentak ia menggeser dua tiga kali dan mengitar ke samping lawan.</p>
<p>Ia kuatir kejadian tadi berulang lagi, maka harus mendahului turun tangan, sekali menyerang segera menggunakan gerak perubahan yang cepat dan sukar diraba.</p>
<p>Siapa tahu, belum lagi dia berputar lebih jauh, golok sabit musuh telah berubah menjadi selapis tabir cahaya, &#8220;sret-sret-sret&#8221;, sekaligus tiga kali tabasan, si Lengkui seperti sudah memperhitungkan gerak perubahan serangan Yang Cu-kang, serentak ia tutup jalan mundurnya.</p>
<p>Namun Yang Cu-kang tetap berdiri saja tanpa bergerak, maka tiga kali tabasan golok itupun takkan menyentuh bajunya, tapi sedikit ia bergerak, maka samalah seperti tubuhnya sengaja ditumbukkan kepada golok sabit Lengkui.</p>
<p>Terpaksa Yang Cu-kang memutar pedangnya dan menyampuk golok lawan.</p>
<p>Tak terduga, Lengkui seakan-akan sudah tahu bahwa dia pasti akan bertindak demikian, goloknya ditarik miring ke bawah sehingga meluncur lewat mata pedang musuh, berbareng ia menusuk bahu Yang Cu-kang.</p>
<p>Lekas Yang Cu-kang memutar lagi pedangnya, berturut empat kali ia ganti serangan, walaupun tiba cukup untuk menghindarkan tebasan golok lawan, namun kakinya tidak mampu bergeser sedikitpun. Dia benar-benar tidak dapat berkutik dengan bebas.</p>
<p>Setelah sepuluh jurus, tanpa terasa tangan Yang Cu-kang berkeringat dingin. Dia mulai merasakan betapapun dia memutar pedangnya, cukup lawan menyerang satu kali saja dan buntulah jalannya, setiap gerak-geriknya sudah berada dalam dugaan musuh.</p>
<p>Dalam pertarungan tadi, sedapat-dapatnya ia mendahului menyerang, tapi sekarang Lengkui seperti sudah tahu jelas setiap gerak perubahannya. Sekalipun dia mengeluarkan segenap kemampuannya juga cuma sanggup bertahan saja sekedarnya, serangannya sama sekali tidak dapat dikembangkan, jangankan hendak mengatasi musuh.</p>
<p>Jadi seperti dua orang bermain catur, kalau langkah kita selanjutnya sudah diketahui pihak lawan, maka setiap langkahnya seolah-olah akan masuk jaring belaka dan terjebak oleh siasat yang sudah diatur lawan. Maka belum lagi permainan catur ini selesai, kekalahan sudah ditentukan, andaikan permainan diteruskan juga tidak menarik.</p>
<p>Sebaliknya Lengkui dapat memainkan golok sabitnya dengan bebas dan leluasa, namun senyumannya masih tetap kaku dan dingin, dengan sorot mata yang dingin tajam menembus cahaya pedang ia tatap Yang Cu-kang, ucapnya dengan tersenyum, &#8220;Kau sendiri tentunya tahu bahwa setiap jurus serangan Lengkui dapat mencabut nyawamu, untuk apalagi kau bertahan? Lekas serahkan nyawamu saja kan lebih enak?&#8221;</p>
<p>Tapi Yang Cu-kang anggap tidak mendengar ucapannya, padahal setiap kata lawan itu setajam sembilu yang menikam ulu hatinya, bahkan lebih tajam daripada sembilu.</p>
<p>Rontakan orang dalam keadaan putus asa memang jauh lebih menderita daripada kematian.</p>
<p>Lengkui tersenyum dan berkata pula, &#8220;Tentunya kau heran, mengapa Lengkui sedemikian paham jurus ilmu silatmu bukan? Padahal hal ini cukup sederhana, sebab Lengkui sudah pernah bertempur satu kali denganmu.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Yang Cu-kang merasakan hawa dingin dari lubuk hatinya dan merembes hingga ujung kaki.</p>
<p>Masakan Lengkui yang ini benar adalah orang yang telah dibunuhnya tadi? Makanya orang sedemikian paham akan ilmu silatnya. Kalau demikian, andaikan Lengkui yang ini dibunuhnya pula, bukankah Lengkui masih akan hidup kembali, dan dalam pertarungan berikutnya akan lebih paham pula pada setiap jurus serangannya? Jadi seumpama Lengkui dapat dibunuhnya seratus kali, lambat atau cepat dirinya akan mati juga di tangan Lengkui, sebaliknya Lengkui akan tetap hidup dan tak bisa mati.</p>
<p>Pada waktu hal ini tidak terpikir oleh Yang Cu-kang, sekuatnya dia masih kuat bertahan, tapi demi teringat, makin dipikir makin takut sehingga pedang hampir tidak kuat lagi dipegangnya.</p>
<p>Waktu ia melirik kesana, dilihatnya Hay Tong-jing sudah pingsan, wajah Thi-hoa-nio pucat pasi, tampaknya setiap saat juga bisa jatuh semaput.</p>
<p>&#8220;Nah, matilah, lekas matilah!&#8221; seru Lengkui dengan tersenyum. &#8220;Lengkui sudah pernah mati berpuluh kali, Lengkui berani menjamin bahwa kematian bukan kejadian yang menyakitkan, mati tidak menimbulkan derita, bahkan jauh lebih enak daripada tidur.&#8221;</p>
<p>Ucapannya masih tetap datar dan dingin, namun nadanya seolah-olah membawa semacam kekuatan gaib yang membuat orang secara tidak sadar melepaskan daya perlawanannya dan tertidur lelap.</p>
<p>Jika Yang Cu-kang berasal dari perguruan Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay, maka tidaklah perlu diherankan jika setiap jurus serangannya dapat diselami orang lebih dulu. Sebab beberapa perguruan ternama ini sudah turun temurun sekian ratus tahun, setiap jurus ilmu silatnya ada aturannya, tapi setelah berjalan sekian ratus tahun, sedikit banyak jago persilatan sudah dapat memahami setiap jurus ilmu silatnya, lantaran itulah kebanyakan tokoh terkemuka dari perguruan ternama itu tidak suka mengalahkan musuh dengan jurus serangannya, tapi mengatasi lawan dengan tenaga dalamnya yang jauh lebih ulet.</p>
<p>Tapi sekarang ilmu silat Yang Cu-kang dipelajari dari perguruannya yang tidak dikenal umum, setiap jurus serangannya boleh dikatakan masih asing bagi jago silat lain. Namun sekarang Lengkui ternyata dapat mengetahui sebelum Yang Cu-kang melontarkan serangannya, kalau tidak pernah bergebrak dengan dia, darimana pula lawan mengetahui rahasia serangannya.</p>
<p>Seumpama Yang Cu-kang tidak percaya Lengkui yang sudah mati dapat hidup lagi, tapi menghadapi kejadian demikian, mau tak mau ia menjadi percaya, ia pikir kalau musuh yang dihadapinya adalah seorang yang tak bisa mati, lalu apalagi yang dapat diperbuatnya?</p>
<p>Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio tidak tahu dimana letak kehebatan jurus serangan musuh, tapi kini pun sudah dapat melihat keadaan Yang Cu-kang yang terdesak dan berbahaya itu.</p>
<p>Mereka menjadi heran mengapa sekali ini Ji Pwe-giok tidak turun tangan membantunya.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak terdengar Pwe-giok berseru, &#8220;Yang diketahuinya bukanlah tipu seranganmu, melainkan kepunyaan Hay Tong-jing.&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengak, ia tidak paham apa maksud Pwe-giok. Tapi semangat Yang Cu-kang seketika terbangkit, matanya juga mencorong, teriaknya dengan bergelak tertawa, &#8220;Aha, betul, pahamlah aku, pahamlah aku sekarang&#8230;&#8221; di tengah tertawanya itu mendadak pedangnya menusuk.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Orang macam apakah kawanan &#8220;Lengkui&#8221; yang sudah mati bisa muncul kembali itu?</p>
<p>Ada sangkut paut apa antara kawanan Lengkui itu dengan rencana keji Ji Hong-ho gadungan dan apa pula hubungannya dengan Ki Leng-hong dan Sat-jin-cengcu?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1618/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1618&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/10/imbauan-pendekar-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 09</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/09/imbauan-pendekar-09/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/09/imbauan-pendekar-09/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 01:31:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1612</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia dan Sukantas009) Ucapan ini memang benar dan masuk akal sehingga sukar dibantah. Tong Siu-jing menghela napas panjang, lalu berkata dengan muram, &#8220;Pandangan anda sangat tajam, kami tidak cuma berterima kasih, juga sangat kagum. Hanya saja anak murid keluarga Tong yang dewasa sedikitnya ada 500 orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1612&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Sukantas009)</p>
<p>Ucapan ini memang benar dan masuk akal sehingga sukar dibantah.</p>
<p>Tong Siu-jing menghela napas panjang, lalu berkata dengan muram, &#8220;Pandangan anda sangat tajam, kami tidak cuma berterima kasih, juga sangat kagum. Hanya saja anak murid keluarga Tong yang dewasa sedikitnya ada 500 orang lebih, yang mahir menggunakan Tok-cit-le ini juga ada ratusan orang. Dalam waktu singkat mungkin sangat sukar menemukan siapa pembunuhnya. Sebab itulah diharap anda suka menyerahkan persoalan ini kepada kami untuk membereskannya. Kelak kami pasti akan memberi pertanggung jawaban kepada anda.&#8221;<br />
<span id="more-1612"></span><br />
&#8220;Hm, orang luar semacam diriku ini memang tidak pantas ikut campur urusan dalam rumah tangga keluarga Tong,&#8221; jengek Yang Cu-kang. &#8220;Hanya saja apa yang kau katakan barusan ini sukar dipercaya orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang kukatakan adalah sejujurnya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejujurnya?&#8221; Yang Cu-kang menegas, &#8220;Kalau begitu coba jawab, apakah Tong-locianpwe meninggal di kamar pribadinya yang terahasia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini&#8230; ini&#8230;.&#8221; Tong Siu-jing gelagapan.</p>
<p>&#8220;Kalau dia tidak mati di kamar rahasia pribadinya, maka setelah dia terkena senjata rahasia berbisa, tentu akan segera diketahui oleh kalian, mengapa mesti menunggu sampai ikut campurnya orang luar seperti sekarang ini?&#8221;</p>
<p>Karena tidak ada alas an lain, terpaksa Tong Siu-jing mengaku, katanya, &#8220;Betul, beliau memang wafat di kamar tidur pribadinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, ingin kutanya pula, di antara ratusan anggota keluarga Tong yang mahir menggunakan Tok-cit-le, ada berapa orang di antaranya yang boleh masuk ke kamar pribadi Tong-locianpwe?&#8221;</p>
<p>Biarpun Tong Siu-jing juga pandai bicara, sekarang ia menjadi mati kutu dan tak dapat menjawab pertanyaan Yang Cu-kang yang tajam itu.</p>
<p>Baru sekarang Pwe-giok mengetahui ketajaman mulut Yang Cu-kang ternyata tidak di bawah ilmu silatnya.</p>
<p>Para anak murid keluarga tong, sama menunduk, tiada seorangpun berani memandang Tong Ki.</p>
<p>Tapi semakin mereka tidak berani memandangnya, justru sama dengan memberitahukan kepada orang lain, bahwa yang dapat memasuki kamar pribadi Tong Bu-siang itu setiap saat, hanya terdiri dari beberapa nona keluarga Tong saja. Hanya saja mereka merasa borok rumah tangga sendiri tidaklah baik disiarkan keluar, maka tidak ada yang mau bicara.</p>
<p>Maka selain anak murid keluarga Tong, pandangan semua orang sama tertuju kea rah Tong Ki. Sorot mata mereka jauh lebih merikuhkan daripada ucapan apapun.</p>
<p>Wajah Tong Ki tampak pucat. Nona besar keluarga Tong yang sehari-hari terkenal pintar bicara dan cekatan dalam bertindak ini, kini harus menghadapi tuduhan membunuh orang tua sendiri. Sekujur badannya kelihatan gemetrar, ia berdiri kaku di situ dan tak dapat bicara sekatapun.</p>
<p>Mendadak salah seorang hadirin berseru, &#8220;Masakah anak perempuannya juga bisa membunuhnya?&#8221;</p>
<p>Ucapan ini kedengarannya seperti ingin membela Tong Ki, padahal sama saja melontarkan tuduhan resmi terhadap Tong Ki. Waktu semua orang menoleh, tidak kelihatan siapa yang bersuara itu.</p>
<p>Terdengar yang Cu-kang menjengek,&#8221; Seorang kalau sudah kemaruk kepada kekuasaan dan kedudukan, segala apapun dapat diperbuatnya.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba seseorang berseru pula di tengah orang banyak, &#8220;Masakah maksudmu demi menjabat Ciangbunjin, nona besar Tong tidak sayang membunuh ayahnya sendiri, memangnya siapa yang mau percaya kepada ocehanmu ini?&#8221;</p>
<p>Ucapan ini tambah menyudutkan Tong Ki, meski dia bilang siapapun tidak mau percaya, yang benar mungkin sedikit sekali orang yang tidak percaya kepada ucapan ini.</p>
<p>Yang Cu-kang mendengus,&#8221; Apabila hati Tong-toakohnio tidak menyembunyikan sesuatu, mengapa dia melarang orang lain memeriksa sebab musabab kematian Tong-locianpwe? Pada waktu jenazah Tong-locianpwe dibersihkan, masa dia tidak melihat tanda-tanda luka beracun pada tubuhnya?&#8221;</p>
<p>Seketika para pelawat menjadi heboh, semuanya yakin si pembunuhnya pastilah Tong Ki, sampai-sampai Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji mau-tak-mau juga percaya.</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia sendiripun sedih, pikirnya,&#8221; Jika benar Tong Ki membunuh ayahnya lantaran ingin kedudukan dan berkuasa, maka apa yang terjadi ini boleh dikatakan hukum karma, sebab &#8220;Tong Busiang&#8221; yang dibunuhnya ini justru adalah musuhnya yang membunuh ayahnya yang sesungguhnya.&#8221;</p>
<p>Sorot mata Yang Cu-kang yang tajam itu menatap wajah Tong Ki, katanya dengan bengis, &#8220;Tong-toakohnio, sekarang apa yang dapat kaukatakan lagi?&#8221;</p>
<p>Tong Ki balas melototinya dan menjawab sekata demi sekata, &#8220;Benar kau minta aku menceritakan duduk perkara yang sebenarnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, masa kau berani bercerita?&#8221; jengek Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Baik, kau sendiri yang memaksa ku bicara,&#8221; jawab Tong Ki dengan suara bengis, lalu ia menarik napas panjang-panjang.</p>
<p>Tapi sebelum ia bicara lagi, mendadak Tong Lin berseru, &#8220;Kejadian ini seharusnya akulah yang menjelaskannya.&#8221;</p>
<p>Gadis yang selalu murung ini biasanya jarang bicara, sejak tadi iapun bungkam belaka, siapa tahu pada detik yang genting ini mendadak ia buka suara. Apa yang diucapkannya bahkan sangat mengejutkan, sampai Pwe-giok juga terkesiap dan tak dapat menerka apa yang hendak diceritakan.</p>
<p>Tong Ki memandangnya dengan penuh rasa heran dan sangsi, tanyanya, &#8220;Kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan air muka kelam Tong Lin berkata pula, &#8220;Pada saat terakhir sebelum ayah meninggal, hanya aku saja yang berjaga di sampingnya, sebab itulah cuma aku saja yang mengetahui dengan jelas sebab musabab kematian beliau.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, hanya kau yang tahu?&#8221; Yang Cu-kang menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Ya, hanya aku,&#8221; jawab Tong Lin.</p>
<p>Yang Cu-kang berkerut kening, katanya, &#8220;Apakah kau sendiri yang membunuh Tong-locianpwe?&#8221;</p>
<p>Betapapun ia merasa sangat heran, sebab sesungguhnya Tong Lin tidak ada alasan untuk membunuh ayahnya sendiri.</p>
<p>Li Be-ling menarik tangan Tong Lin dan bertanya dengan suara lembut,&#8221; Mungkin kau terlalu berduka, sehingga pikiranmu menjadi kurang sadar?&#8221; &#8220;Pikiranku cukup terang dan sadar,&#8221; jawab Tong Lin, &#8220;sebenarnya tidak ingin kukatakan kejadian ini, akan tetapi keadaan sudah mendesak, jika tidak kubeberkan, tentu fitnah terhadap Toaci sukar lagi dicuci bersih.&#8221;</p>
<p>Tong Ki memandang adiknya itu dengan bingung, entah kaget entah terima kasih.</p>
<p>&#8220;Malam itu,&#8221; demikian Tong Lin mulai berkisah,&#8221; Toaci dan Toaso sudah sama tidur. Tiba-tiba teringat sesuatu urusan dan harus kubicarakan dengan ayah. Maka aku lantas mencari beliau untuk berunding, meski sudah larut malam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau teringat kepada urusan apa?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Urusan rumah tangga kami apakah kaupun ingin ikut campur?&#8221; jengek Tong Lin.</p>
<p>Yang Cu-kang menyengir dan tidak bicara lagi.</p>
<p>&#8220;Siapa tahu, belum lagi ku masuk ke kamar ayah, segera kudengar ada suara orang bicara di situ,&#8221; demikian Tong Lin melanjutkan ceritanya. &#8220;Tentu saja aku sangat heran, sudah larut malam begini mengapa di kamar ayah masih ada tamu? Padahal sehari-hari ayah hidup teratur, jarang tidur jauh malam, bahkan bila kedatangan tamu tentu kamipun diberitahu, kecuali tamunya tidak melalui pintu gerbang , melainkan masuk secara sembunyi-sembunyi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, penjagaan Tong-keh-ceng sedemikian keras dan ketat, sekalipun ada orang hendak menyelundup ke sini secara sembunyi-sembunyi kukira juga bukan pekerjaan mudah,&#8221; jengek Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Bukan saja tidak mudah, bahkan tidak mungkin terjadi,&#8221; tukas Tong Lin.</p>
<p>&#8220;Jika demikian, cara bagaimana pula tamu itu masuk ke kamar ayahmu?&#8221; Tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Di kamar ayah ada sebuah jalan rahasia yang langsung menembus ke luar perkampungan,&#8221; tutur Tong Lin, &#8220;mungkin orang itu sudah ada janji dengan ayah, sebab itulah ayah sendiri yang membawanya masuk melalui jalan rahasia di bawah tanah itu.&#8221;</p>
<p>Bahwa kejadian rahasia inipun diceritakannya, meski belum diketahui bagaimana lanjutannya, tapi sedikit banyak orang sudah mulai percaya kepada penuturannya.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku tidak sengaja hendak mengintip rahasia ayah, tapi aku sudah terlanjur datang ke situ, selagi aku berdiri di situ dengan ragu, mendadak kudengar ayah sedang berkata, &#8220;Kita adalah kenalan lama, tapi persoalan ini cukup penting, betapapun aku harus hati-hati. Kau tahu, senjata rahasia Tong-keh-ceng selamanya tidak pernah dipinjamkan kepada orang luar.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, orang itu datang untuk meminjam senjata rahasia kepada Tong-locianpwe,&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Tatkala mana, akupun merasa orang itu terlalu tidak tahu diri dan ingin memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Kudengar dia bicara banyak dengan ayah dan tampaknya tetap minta ayah meminjamkan senjata rahasia kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apalagi yang dikatakannya?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Dia bilang urusan yang akan dilaksanakannya sangat penting, jika berhasil, ayah juga akan mendapatkan manfaatnya. Dia bilang jika ayah tidak mau tampil sendiri, sedikitnya harus meminjamkan senjata rahasia kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu Tong-locianpwe menerima permintaannya?&#8221; tanya Yang Cu-kang lagi.</p>
<p>&#8220;Tidak, meski ayah adalah kepala keluarga, tapi peraturan leluhur betapapun tidak berani dilanggar oleh beliau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kalau senjata rahasia tidak dipinjamkan kepada orang itu, maka orang yang menewaskan Tong-locianpwe juga bukan dia.&#8221; ujar Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Kudengar orang itu masih terus membujuk,&#8221; demikian Tong Lin menyambung, &#8220;ku kuatir ayah akan terbujuk akhirnya, maka cepat ku masuk ke situ. Sebab kuyakin bilamana ada orang ketiga ikut hadir, tentu orang itu tidak leluasa untuk bicara lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan dia juga melihat kedatanganmu?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Dia bukan orang buta, masa tidak melihat kedatanganku?&#8221; jawab Tong Lin. &#8220;Meski kedatanganku membuatnya agak terkejut, tapi dia ternyata tidak mengurungkan maksud tujuannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, dia kenal kau?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>Tong Lin mengangguk, jawabnya dengan muram, &#8220;Justru lantaran kukenal dia, makanya aku tidak mencurigai dia. Siapa tahu pada saat aku lengah, sebiji Tok-cit-le yang kubawa telah dicuri olehnya.&#8221;</p>
<p>Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang, tiba-tiba ia mendengus, &#8220;Hm, rupanya orang itupun seorang copet sakti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gerak tangannya sungguh halus dan cepat, bukan saja aku tidak tahu sama sekali, bahkan ayah juga tidak mengetahuinya, &#8220;sambung Tong Lin dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Kau datang ke kamar ayahmu, untuk apa kau bawa senjata rahasia?&#8221; tanya Yang Cu-kang dengan melotot.</p>
<p>&#8220;Anak murid keluarga Tong tidak pernah meninggalkan senjata rahasianya, pada waktu tidurpun selalu membawanya,&#8221; jawab Tong Lin.</p>
<p>&#8220;Apakah inipun peraturan leluhur kalian?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; jawab Tong Lin tegas.</p>
<p>&#8220;Dan dengan Tok-cit-le yang dicurinya darimu itu digunakannya untuk membunuh ayahmu?&#8221; tanya Yang Cu-kang lagi.</p>
<p>Tong Lin menunduk dengan muram, sambungnya lagi,&#8221; Pada waktu ia mohon diri, ayah mengantarnya keluar, setiba di ambang pintu, mendadak dia membalik badan dan memberi hormat, tapi kesempatan itu telah digunakannya menepuk sekali di dada ayah, siapapun tidak menyangka pada telapak tangannya tersembunyi senjata rahasia, lebih-lebih tidak menyangka hanya lantaran ayah menolak meminjamkan senjata rahasia kepadanya, lalu dia turun tangan keji terhadap ayah.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini ceritanya, tanpa terasa semua orang percaya tujuh bagian kepadanya. Sebab meski urusan ini tidak seluruhnya masuk akal, tapi urusan sudah terlanjur begini, betapapun Tong Lin sendiri ikut bertanggung jawab, jadi mustahil dia berdusta hal-hal yang tidak menguntungkan dia.</p>
<p>Yang Cu-kang menghela napas panjang, katanya,&#8221; Jika demikian, jadi kau menyaksikan sendiri ketika orang itu membunuh Tong-locianpwe?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; jawab Tong Lin.</p>
<p>Mendadak Yang Cu-kang membentak dengan gusar,&#8221; Jika benar kau saksikan sendiri kejadian itu, mengapa baru kau ceritakan sekarang?&#8221;</p>
<p>Tong Lin menunduk, ucapnya dengan sedih. &#8220;Sebab&#8230; sebab orang yang bertindak begitu adalah &#8230;adalah bakal suamiku, ayah memang sudah menjodohkan diriku kepadanya.&#8221;</p>
<p>Keterangan ini seketika menggemparkan para hadirin, ada yang terkejut, ada yang menyesalkan, ada yang kasihan, tapi terhadap apa yang diceritakan itu tidak curiga lagi. Sebab kalau tidak terpaksa, tidak mungkin Tong Lin mau membeberkan rahasianya sendiri.</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok juga merasa gegetun, sungguh dia tidak menyangka urusan bisa berbelit-belit begini.</p>
<p>Dengan menangis Tong Lin berkata pula, &#8220;Waktu kulihat dia berani turun tangan keji terhadap ayah, sebenarnya saat itu juga ingin ku adu jiwa dengan dia, tapi hatiku menjadi lemah setelah dia membujuk rayu diriku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, dasar perempuan,&#8221; jengek Yang Cu-kang, &#8220;perempuan memang condong ke luar, kalau sudah punya suami, ayah ibu pun tak terpikir lagi. Kebanyakan perempuan di dunia memang begini, maka kaupun tak dapat disalahkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuminta jangan kau omong lagi,&#8221; kata Tong Lin dengan air mata bercucuran. &#8220;Akupun tahu dosaku, namun menyesalpun tidak keburu lagi, sebab apa yang terjadi ini tidak kubeberkan waktu itu, kemudian aku semakin tidak berani omong. Waktu ayah dimasukkan peti, akulah yang mengatur segala sesuatu, sebab ku kuatir luka di tubuh beliau diketahui orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan saudaramu yang lain?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Ya, hakekatnya mereka tidak tahu apapun,&#8221; kata Tong Lin.</p>
<p>&#8220;Hm, bagus, pemberani, kau memang pemberani dengan menanggung semua perbuatan ini,&#8221; jengek Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Hal ini memang kesalahanku, dengan sendirinya aku harus bertanggung jawab,&#8221; kata Tong Lin dengan menangis.</p>
<p>&#8220;Tapi siapakah bakal suamimu itu? Masa orang lain tidak tahu?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Perjodohan kami ini diputuskan oleh ayah dan mestinya akan diresmikan pada hari ulang tahunku yang ke 18 nanti, siapa tahu&#8230;siapa tahu belum tiba hari ulang tahunku dan beliau sudah&#8230;sudah &#8230;&#8221; dia menangis tersedu-sedu sehingga tidak sanggup melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Apakah kau masih hendak menyembunyikan identitasnya?&#8221; tanya Yang Cu-kang dengan bengis.</p>
<p>Tong Lin menangis sambil menutup mukanya dan tidak menjawab.</p>
<p>Semua orang jadi murka, ada yang berteriak &#8220;Siapa anak jadah itu? Jika tidak kau katakan, cara bagaimana akan kau hadapi ayahmu di alam baka nanti nona tong?&#8221;</p>
<p>Tong Lin menggreget, seperti mengambil keputusan dengan tekad yang bulat, mendadak ia mendongak, katanya sambil menuding seorang, &#8220;Bakal suamiku itu ialah dia!&#8221;</p>
<p>Sungguh, siapapun tidak menduga bahwa orang yang dituding oleh Tong Lin adalah Ji Pwe-giok!</p>
<p>Mimpipun Pwe-giok sendiri juga tidak menduga, dia malah menyangka yang dimaksudkan Tong Lin adalah seorang yang berdiri di belakangnya, ia menoleh.</p>
<p>Tapi segera didengarnya Tong Lin menyambung lagi, &#8220;Iyalah orang ini, Ji Pwe-giok.&#8221;</p>
<p>Keterangan ini tidak cuma menggemparkan para hadirin, para anak murid Tong juga serentak mengepung Pwe-giok di tengah, semuanya melototinya dengan mata merah berapi, seperti sekawanan binatang liar yang sudah kalap dan siap menerkam dan mengganyangnya.</p>
<p>Selama hidup Pwe-giok sudah acapkali dituduh dan difitnah, entah sudah betapa banyak dia mengalami kejadian di luar dugaan dan mengejutkan, tapi tidak ada satupun yang lebih menggetarkan hatinya seperti sekarang. Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus membantah atau memberi penjelasan, seketika ia terkesima dan tidak dapat bicara.</p>
<p>Di ruangan besar itu kembali gempar, ada yang berteriak murka, ada yang mencaci-maki.</p>
<p>Ada yang berkata, &#8220;Sungguh tidak tersangka sudah membunuh Tong-loyacu, keparat ini masih juga berani datang ke sini, sungguh besar amat nyalinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tampaknya dia ramah tamah dan sopan santun, siapa tahu dia adalah manusia yang berhati binatang,&#8221; sambung yang lainnya.</p>
<p>Ada lagi yang menanggapi dengan suara tertahan, &#8220;Jika bukan pemuda cakap seperti dia ini, mana bisa Tong-jikohnio terpikat olehnya.&#8221;</p>
<p>Dengan sendirinya Lui-ji juga melenggong kaget, baru sekarang ia berteriak, &#8220;Tidak, bukan dia, tidak mungkin dia, kalian keliru!&#8221;</p>
<p>Seperti orang kesetanan dia menerjang ke tengah kerumunan orang banyak dan menubruk ke samping Pwe-giok terus mendekapnya, dengan suara parau ia berteriak pula, &#8220;Tidak mungkin dia melakukan hal ini. Apalagi dua hari yang lalu hakekatnya dia tidak berada di sini, tapi masih berada beratus li jauhnya di sana, mana bisa dia terbang ke sini untuk membunuh oang.?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari mana kau tahu dua hari yang lalu dia masih berada di tempat beratus li jauhnya?&#8221; bentak Tong Siu-hong mendadak.</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya ku tahu, sebab selama ini aku selalu berada bersama dia,&#8221; jawab Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Memangnya kau ini apanya?&#8221; tanya Siu-hong.</p>
<p>&#8220;Akulah isterinya &#8221; jawab Lui-ji tegas.</p>
<p>Tong Siu-hong menggeleng dan menghela napas, katanya, &#8220;Ai, nona cilik, mungkin kau telah tertipu dan diperalat olehnya.&#8221;</p>
<p>Dengan suara parau Lui-ji berteriak, &#8220;Meng&#8230;mengapa kalian tidak percaya kepada keteranganku ? Mengapa kalian memfitnah orang baik-baik.?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang semacam ini tidak ada harganya untuk dibela, nona cilik,&#8221; ujar Tong Siu-hong dengan gegetun. &#8220;Kalau dia dapat menipu orang lain, lambat atau cepat kaupun akan tertipu olehnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia pernah menipu siapa? Coba katakan!&#8221; teriak Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Kalau dia sudah mengikat jodoh dengan gadis keluarga Tong, tapi di luaran dia memelet pula dirimu, jahanam yang tidak berbudi pekerti seperti ini masakah masih kaubela?&#8221; teriak Siu-hong dengan gusar.</p>
<p>&#8220;Tapi hakikatnya dia tidak pernah mengikat jodoh apa segala dengan orang keluarga Tong kalian,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Darimana kau tahu?&#8221; Siu-jing ikut bertanya.</p>
<p>&#8220;Tentu saja kutahu, sebab sejak kukenal dia, selama ini kami tidak pernah berpisah,&#8221; jawab Lui-ji tegas.</p>
<p>Gemerdep sinar mat Tong Siu-jing, tanyanya pula, &#8220;Bilakah kau kenal dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;aku &#8230;&#8221; hanya satu kata saja Lui-ji berucap dan tidak dapat menyambung lagi. Sebab perkenalannya dengan Ji Pwe-giok belum lagi ada sebulan lamanya, apa yang dilakukan Pwe-giok lebih sebulan yang lalu, tentu saja tak diketahuinya sama sekali.</p>
<p>Baru sekarang ia merasakan dirinya sama sekali tidak tahu apapun mengenai diri Ji Pwe-giok, kecuali tahu namanya, urusan lain tidak pernah diberitahu oleh Pwe-giok. Bahkan namanya asli atau palsu juga tidak diketahuinya dengan pasti.</p>
<p>Tong Siu-jing melihat perubahan air muka si nona, katanya dengan lembut, &#8220;Nona cilik, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, lebih baik kau menyingkir saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa &#8230; apa kehendak kalian?&#8221; tanya Lui-ji</p>
<p>Wajah para anak murid keluarga Tong tampak kelam dan masam, semuanya tutup mulut.</p>
<p>Padahal tanpa menjawabpun semua orang tahu apa yang hendak mereka lakukan.</p>
<p>Jika benar Ji Pwe-giok telah membunuh orang tua mereka, mana bisa mereka melepaskan dia begitu saja. Sejak tadi mereka sudah menyiapkan senjata rahasia maut di tangan masing-masing.</p>
<p>Kini Pwe-giok terkepung oleh berpuluh orang. Asal Am-gi atau senjata rahasia mereka dihamburkan, biarpun punya sayap juga sukar bagi Pwe-giok untuk menghindar.</p>
<p>Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya dengan rawan,&#8221; Ya, persoalan ini memang tidak ada sangkut-pautnya dengan kau, maka lebih baik kau menyingkir saja.&#8221;</p>
<p>Dia tahu mati hidupnya hanya bergantung dalam sedetik saja, maka ia tidak ingin membuat susah Lui-ji, apalagi iapun dapat melihat kini anak dara itupun curiga kepadanya dan tidak lagi percaya kepadanya seperti sebelum ini.</p>
<p>Lui-ji mengertak gigi dan berkata, &#8220;Tidak, apapun juga ku tahu hal ini pasti takkan kau lakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa gunanya kalau tahu?&#8221; ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir, &#8220;apa yang kau katakan hakekatnya tidak dipercaya mereka, padahal selain dirimu, siapa lagi yang dapat memberi kesaksian bahwa dua hari yang lalu hakekatnya aku tidak berada di sini.&#8221;</p>
<p>Ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu menyambung pula dengan suara parau, &#8220;Ya, seandainya ada orang lain yang tahu, siapakah di dunia seluas ini yang sudi menjadi saksi bagi Ji Pwe-giok.&#8221;</p>
<p>Air mata Lui-ji sudah meleleh di pipinya.</p>
<p>Dilihatnya Tong Lin telah menyusup ke tengah orang banyak sambil berseru, &#8220;Ji Pwe-giok, jangan kau salahkan diriku, aku&#8230;aku terpaksa, maka kukatakan terus terang.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tersenyum pedih, katanya, &#8220;Ya, kau sangat baik, sangat baik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bagaimanapun juga, bila kau mati, akupun tidak ingin hidup lagi di dunia ini&#8230;&#8221; ucap Tong Lin dengan menangis.</p>
<p>Mendadak Lui-ji membentak, &#8220;Kau perempuan jahanam, kau bikin celaka dia hingga begini, kau masih berani bicara lagi dengan dia!&#8221; Di tengah bentakannya segera ia menubruk ke sana.</p>
<p>Tong Lin tidak menangkis, dan juga tidak menghindar, ucapnya dengan pedih, &#8220;Bagus, biarlah kita mati bersama-sama saja!&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, tahu-tahu tangan Lui-ji sudah mencekik lehernya.</p>
<p>Tong Siu-jing bermaksud melerai mereka, tapi dicegah oleh Tong Siu-hong, &#8220;Tidak perlu,&#8221; bisik Tong Siu-hong dengan suara tertahan, &#8220;keluarga Tong kita tidak beruntung, sehingga terjadi urusan begini, biarkan saja dia mati.&#8221;</p>
<p>Tong Siu-jing menoleh, dilihatnya Tong Ki masih berdiri kaku di tempatnya tadi dengan wajah pucat seperti mayat, sama sekali tidak ada niatnya hendak mencegah keributan antara kedua nona itu.</p>
<p>Dalam pada itu para hadirin lantas berteriak-teriak, &#8220;Ji Pwe-giok, apa lagi yang akan kau katakan&#8230; Hayolah, anak murid keluarga Tong, lekas kalian turun tangan, kami sama menunggu hendak menggunakan hati keparat ini untuk sesaji di depan layon Tong-locengcu.&#8221;</p>
<p>Tapi Pwe-giok berdiri berpangku tangan tanpa bicara apapun, sebab ia tahu tiada gunanya bicara terhadap orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat ini.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berseru, &#8220;Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwe-giok, sungguh kau bernasib sial, tanpa sebab kau difitnah sebagai pembunuh. Tampaknya lebih baik kau mati di tanganku saja daripada mati secara penasaran.&#8221;</p>
<p>Suaranya bergema hingga lebih keras daripada suara beratus orang yang sedang berteriak-teriak itu. Tanpa terasa semua orang sama mendongak dan memandang ke atas. Baru diketahui mereka entah sejak kapan Yang Cu-kang telah melompat lagi ke atas belandar, dengan tangan memegang poci arak dan mulut menggigit sepotong paha ayam, sedang makan dengan nikmatnya.</p>
<p>&#8220;Difitnah apa? Bukti sudah nyata, saksi juga ada, masa kaupun ingin membelanya ? &#8220;teriak Tong Siu-hong.</p>
<p>Yang Cu-kang menjengek, &#8220;Hm, bukti dan saksi ? Di mana ? Siapa pula yang menyaksikan dia membunuh Tong-locengcu ? &#8220;</p>
<p>&#8220;Apa yang dikatakan Ji-kohnio tadi masa tidak kau dengar? &#8220;kata Siu-hong.</p>
<p>Yang Cu-kang menghela napas dan menggeleng, ucapnya, &#8220;Hanya berdasarkan keterangan seorang perempuan dan kalian lantas hendak menjatuhkan vonis padanya, sungguh anggap nyawa orang bagai permainan anak kecil saja.&#8221;</p>
<p>Tong Siu-hong menjadi gusar, teriaknya,&#8221; Memangnya kau anggap Ji-kohnio berdusta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, mana mungkin Jikohnio berdusta!&#8221; teriak orang banyak.</p>
<p>&#8220;Betul, tindakannya itu selain membikin celaka orang lain, ia sendiripun susah dan ikut tersangkut, sungguh akupun tidak paham mengapa dia berdusta? Yang jelas ku tahu dia memang berdusta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tahu? Kau tahu apa?&#8221; teriak Siu-hong dengan murka.</p>
<p>&#8220;Ku tahu dengan pasti malam kemarin dulu orang she Ji ini memang tidak berada di Tong-keh-ceng, tapi jauh berada di tempat ratusan li sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, hanya berdasarkan keteranganmu saja masa dapat dipercaya?&#8221; jengek Siu-jing.</p>
<p>Yang Cu-kang menghela napas, katanya, &#8220;Ya, akupun tahu keteranganku sukar dipercaya oleh kalian, sebab itulah sejak tadi aku diam saja.&#8221;</p>
<p>Baru saja habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara &#8220;cas&#8221; satu kali, menyusul lantas terjadi getaran dahsyat seperti langit runtuh dan bumi ambles, belandar ruangan pendopo itu mendadak patah. Atap pendopo itu ambruk dengan menerbitkan suara gemuruh yang menggetar sukma.</p>
<p>Seketika jeritan kaget dan takut terdengar di mana-mana, semua orang berebut lari keluar agar tidak tertindih oleh gedung yang ambruk itu. Ada yang bertenaga lemah dan berilmu silat rendah, kontan roboh terinjak-injak sehingga timbul teriakan ngeri di sana-sini.</p>
<p>Tong Siu-hong, Tong Siu-jing dan lain-lain merasa kayu dan batu bertebaran menjatuhi mereka, terpaksa mereka harus mencari selamat lebih dulu. Dengan tangan mereka melindungi kepala masing-masing, walaupun begitu, tidak urung merekapun tidak terhindar oleh urukan puing, sebelah kaki Tong Siu-hong malah tertindih oleh belandar patah dan merintih kesakitan.</p>
<p>Walaupun begitu, ia tetap berteriak memberi komando, &#8220;Awas, jangan sampai lolos keparat she Ji itu, jaga rapat pintu keluar!&#8221;</p>
<p>Tapi seluruh ruangan pendopo itu sekarang sudah kacau balau, mana Ji Pwe-giok dapat ditemukan lagi.</p>
<p>&#8220;Mungkin dia sudah kabur pada waktu kekacauan terjadi,&#8221; teriak Siu-jing dengan gusar.</p>
<p>Di tengah teriakannya, serombongan anak murid keluarga Tong yang tidak terluka telah ikut dia menerjang ke luar. Tapi baru sampai di ambang pintu, kembali debu pasir dan rontokan puing berhamburan dari depan, bahkan sedemikian kuat sehingga tanah pasir yang rontok ke lantai juga menerbitkan suara gemerasak.</p>
<p>Mendadak tampak Yang Cu-kang berdiri di depan pintu dengan tertawa, ucapnya dengan tenang, &#8220;Apa yang kalian kejar ? Memangnya kalian tidak percaya kepada keteranganku ? Kalau tidak percaya, agaknya terpaksa harus kuruntuhkan segenap rumah Tong-keh-ceng kalian. &#8220;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Pada waktu terjadi kekacauan, tiba-tiba Pwe-giok mendengar suara Yang Cu-kang berkata di sampingnya, &#8220;Di sini dapat kulayani sendiri, lekas kalian menerjang keluar dan menyusur jalan raya, nanti kalian akan dipapak orang&#8230; &#8220;</p>
<p>Belum habis ucapan Yang Cu-kang, segera Pwe-giok menarik Cu Lui-ji dan sebelah tangan mengempit Tong Lin yang sudah jatuh pingsan itu, mereka terus menerjang keluar mengikuti arus manusia.</p>
<p>Tanpa banyak buang tenaga, dapatlah Pwe-giok menerjang keluar pintu, sebab Yang Cu-kang telah menghadang di depan sana, didengarnya di ruangan pendopo sana masih ramai dengan suara gemuruh.</p>
<p>Tetamu yang semula duduk makan minum di luar, karena diterjang oleh arus manusia yang membanjir keluar dari dalam, serentak merekapun lari lintang pukang, meja kursi jungkir balik, mangkok piring pecah berantakan. Ada yang sol sepatunya agak tipis, begitu menginjak pecahan beling seketika menjerit kesakitan, tapi baru menjerit kontan mereka diterjang roboh dan terinjak-injak oleh arus manusia.</p>
<p>Ada sementara tamu yang hadir dengan membawa anak kecil, maksud mereka ingin hemat, daripada makan di rumah, mumpung ada pesta, nunut makan sekalian. Siapa tahu keuntungan tidak diperoleh, sebaliknya malah tertimpa petaka.</p>
<p>Maka di tengah jeritan di sana sini terselip pula jerit tangis orang perempuan dan anak kecil.</p>
<p>Jika yang hadir cuma orang-orang kangouw saja, mungkin kekacauan itu akan lebih mudah diatasi, tapi kini di antara tamu ditambah sanak famili dan sobat andai keluarga Tong di sekitar Tong-keh-ceng, maka suasana benar-benar kacau-balau tak keruan, ada orang yang biasanya bisa bersikap tenang, dalam keadaan begitu pusing kepala juga oleh suasana hiruk pikuk ini.</p>
<p>Hanya Pwe-giok saja yang sudah gemblengan dan kenyang siksa derita, pada saat demikian masih tetap tenang dan kepala dingin. Ia menyapu pandang sekejap sekelilingnya, segera ia menarik Lui-ji berlari menuju ke sebuah gang di sebelah kiri sana.</p>
<p>&#8220;Mengapa kita tidak menyusuri jalan raya, bukankah di sana katanya akan dipapak orang ? &#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>Dengan suara tertahan Pwe-giok menjawab, &#8221; Meski Yang Cu-kang menolong kita, tapi kata-katanya tetap tidak boleh dipercaya, orang ini banyak tipu akalnya, tindak-tanduknya sukar diduga, dia menolong kita pasti dengan tujuan tidak baik. &#8220;</p>
<p>&#8220;Betul, akupun tidak habis mengerti mengapa dia tidak membunuh kita, sebaliknya malah menyelamatkan kita, &#8220;kata Lui-ji.</p>
<p>Setelah masuk ke jalan kecil ini, orang berlalu lantas sedikit, sebab pada umumnya semakin kacau suasananya, semakin sedikit orang yang menuju ke tempat sepi, kebanyakan orang tentu berlari menuju ke tempat yang banyak orangnya dan tidak dapat membedakan arah mana yang lebih aman.</p>
<p>Meski ada orang yang jelas-jelas tahu di depan ada jurang berapi, tapi bila melihat semua orang sama berlari ke sana, tanpa kuasa iapun akan ikut orang banyak berlari ke situ. Sebab dalam keadaan demikian umumnya orang sudah kehilangan rasio, sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.</p>
<p>Di depan kelihatan pepohonan yang jarang-jarang, ternyata suatu tempat yang sunyi, suasana kacau balau tadi tampaknya sudah ditinggalkan jauh di belakang sana.</p>
<p>&#8220;Tempat apakah ini ? &#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Tempat pribadi keluarga Tong, &#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji terkejut, serunya, &#8220;Lari saja kuatir tersusul, kenapa kita malah menuju ke tempat mereka? Memangnya kita sengaja mengantar nyawa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya jalan ini paling baik bagi kita, &#8220;ujar Pwe-giok, &#8220;sekalipun rada berbahaya, terpaksa harus kita coba.&#8221;</p>
<p>Lui-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, &#8220;Kau kira segenap anggota keluarga mereka berada di depan sana, maka sengaja kau tempuh bagian yang sepi dan penjagaan longgar ini?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak terdengar seorang menghardik, &#8220;Berhenti! Apakah kalian ingin lari?&#8221;</p>
<p>Berbareng dengan suara bentakan itu, belasan pemuda berpakaian ringkas ketat serentak melayang keluar dari balik hutan di sebelah kanan sana, yang menjadi kepala adalah orang yang terluka sebelah kakinya, darah di kaki yang cidera itu belum lagi kering, nyata dia inilah Tong-Siu-hong yang tadi tertindih oleh belandar patah itu.</p>
<p>Orang ini benar-benar manusia baja, meski kaki sudah patah tulang, tapi tubuh masih tegak seperti tonggak.</p>
<p>&#8220;Kau lagi, seru Lui-ji dengan gregetan. &#8220;Mengapa kau terus membuntuti kami?&#8221;</p>
<p>Ia tidak tahu bahwa Tong Siu-hong tidaklah sengaja mengejarnya, hanya lantaran jalan mereka dirintangi Yang Cu-kang, terpaksa mereka harus memutar dari belakang, siapa tahu secara kebetulan jalan lari Pwe-giok dan Lui-ji malah benar-benar tercegat.</p>
<p>Nasib manusia terkadang memang sangat ajaib, seperti kata peribahasa, &#8220;Sengaja menanam bunga, bunga tidak berkembang. Tidak sengaja menanam pohon Liu, justru pohon ini tumbuh rindang.&#8221; Seluk-beluk hal demikian mungkin hanya orang yang sudah mengalami sendiri barulah dapat memahaminya.</p>
<p>Baru habis Lui-ji berkata tadi, serentak anak murid keluarga Tong lantas terpencar dan mengepung mereka di tengah, cuma merekapun jelas merasa jeri, maka tidak berani sembarangan turun tangan.</p>
<p>Berputar biji mata Lui-ji, segera ia tahu pihak lawan merasa kuatir bila melukai Tong Lin yang berada dalam cengkeraman Pwe-giok. Maka ia lantas berkata dengan tertawa, &#8221; Sesungguhnya kami tidak membunuh Tong Bu-siang, selamanya kita tidak kenal mengenal dan tiada sengketa apapun, asalkan kalian melepaskan kami, segera kami kembalikan nona Tong kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Ia menyangka ucapannya ini sudah cukup tepat. Siapa tahu Tong Siu-hong seakan-akan tidak mendengar saja, mendadak ia membentak, &#8220;Tok-soa ! &#8220;</p>
<p>&#8220;Tok-soa&#8221; atau pasir berbisa adalah senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihai, meski jaraknya tak dapat mencapai jauh, tapi asal dalam lingkaran seluas kurang dari dua tombak, asalkan pasir beracun itu dihamburkan, jarang ada orang yang dapat lolos dari serangannya, dan asalkan terkena satu butir pasir saja, kalau tidak dioperasi bagian lukanya, dalam waktu singkat bagian luka itu akan membusuk dan dalam waktu tiga hari, orang itu akan mati.</p>
<p>Tong Siu-hong tidak malu berjuluk sebagai &#8220;Thi-bin-giam-lo&#8221;, si raja akhirat bermuka besi, artinya orang yang berhati keras tanpa kenal ampun, nyata ia sudah bertekad mengambing-hitamkan Tong Lin, bila perlu nona itu akan dibiarkan mati bersama Ji Pwe-giok.</p>
<p>Di antara anak murid keluarga tong ada juga sementara pemuda yang diam-diam menaksir Tong Lin, tapi sekali mendengar perintah Tong Siu-hong, tiada seorangpun yang ragu dan membangkang. Dalam sekejap itu belasan tangan yang bersarung kulit menjangan sudah meraup pasir beracun yang berada di kantung masing-masing, bila tangan mereka ditarik kembali, segera akan terjadilah hujan pasir, dan dalam jarak belasan tombak di sekitar Pwe-giok dan Lui-ji akan berada di bawah ancaman pasir berbisa itu.</p>
<p>Tapi sekarang mendadak Pwe-giok menerjang ke sebelah kiri.</p>
<p>Rupanya pada waktu Tong Siu-hong memberi perintah tadi, ia sempat melihat perubahan air muka dua orang pemuda di sebelah kiri, mereka memandang Tong Lin dengan sorot mata yang sedih dan tidak tega.</p>
<p>Maka tahulah Pwe-giok kedua pemuda ini pasti diam-diam mencintai tong Lin, serangan mereka tentu juga tidak tega, asalkan cara turun tangan mereka memperlihatkan agak ragu, tentu Pwe-giok ada harapan untuk menerjang keluar kepungan.</p>
<p>Walaupun cara demikian sangat berbahaya, tapi dalam keadaan kepepet, tiada pilihan lain lagi baginya. Dia benar-benar menerjang keluar.</p>
<p>Tapi dia lupa terjangannya itu tetap tak dapat lolos dari jangkauan pasir beracun itu, bila anak murid keluarga Tong itu menghamburkan pasir beracun dari belakang, tentu juga akan sulit menghindarkannya.</p>
<p>Untunglah pada saat itu juga mendadak terdengar suara Tong Ki berteriak, &#8220;Berhenti, semuanya berhenti!&#8221;</p>
<p>Di tengah suara teriakannya, muncul Tong Ki bersama Li Be-ling , di belakang mereka ikut pula tujuh atau delapan orang pelayan berpakaian singset, semuanya berlepotan debu pasir.</p>
<p>&#8220;Hamburkan Tok soa, jangan sampai mereka kabur!&#8221; bentak Siu-hong dengan bengis.</p>
<p>&#8220;Jangan! Tidak boleh!&#8221; bentak Tong-ki tidak kurang bengisnya.</p>
<p>&#8220;Serang!&#8221; teriak Siu-hong pula sambil menghentak kaki.</p>
<p>Tong Ki juga menghentakkan kakinya ke tanah dan berteriak, &#8220;Siu-hong apa kau tidak pikirkan lagi keselamatan Jimoay?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu para anak murid keluarga Tong sudah siap menggenggam pasir berbisa, tapi semuanya ragu dan serba salah, entah perintah siapa yang harus mereka turut. Sementara itu Pwe-giok dan Lui-ji sudah sempat menerjang pergi beberapa puluh tombak jauhnya.</p>
<p>&#8220;Kohnaynay (bibi), jika kau pikirkan hubungan pribadi, keluarga Tong bisa hancur oleh tindakanmu ini, &#8220;seru Siu-hong dengan suara parau.</p>
<p>Tib-tiba Li Be-ling ikut bicara, &#8220;Urusan ini tidak perlu kalian ikut campur, kujamin mereka takkan bisa kabur, turutlah kepada perkataanku dan tentu takkan salah.&#8221;</p>
<p>Biasanya Li be-ling terkenal pendiam dan jarang bicara, maka setiap ucapannya cukup berbobot.</p>
<p>Tong Siu-hong melotot, katanya,&#8221; Baik, biarlah kuserahkan mereka kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara rombongan anak murid keluarga Tong itu tetap mengejar ke depan sana. Sebaliknya Pwe-giok membawa seorang tawanan, jalanan tidak apal pula, maka sukar untuk lolos dari kejaran lawan. tapi setelah Siu-hong memberi tanda, pengikutnya tadi lantas berhenti mengejar, hanya tinggal Li Be-ling dan Tong Ki saja yang masih terus mengejar ke depan.</p>
<p>Dengan ginkang Pwe-giok dan Lui-ji, mestinya mereka dapat lolos dari kejaran musuh, tapi apa yang dapat dikatakan lagi kalau di depan sudah buntu, beberapa rumah tampak menghadang di depan sana, di belakang rumah adalah dinding tebing belaka.</p>
<p>Yang dipikir Pwe-giok hanya selekasnya meloloskan diri, tidak ada hasratnya untuk bergebrak dengan lawan. Dia tidak ingin mencelakai lawan, juga kuatir sukar kabur bila terlibat lagi dalam pertempuran, namun keadaan sekarang memaksanya mau-tak-mau harus menggunakan kekerasan.</p>
<p>Tak terduga, setiba di sini, Tong Ki dan Li Be-ling lantas berhenti jauh di sana dan tidak mendesak maju lagi. Malahan Tong Ki memberi tanda lambaian tangan, agaknya menyuruh mereka lekas pergi.</p>
<p>Pwe-giok jadi melengak, seperti ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi, ia tarik Lui-ji dan menerjang masuk ke dalam deretan rumah di depan.</p>
<p>Tampak segala sesuatu yang terdapat di dalam rumah itu teratur dengan rapi, setiap alat perabotnya serba antik dan indah.</p>
<p>Lui-ji menggeleng, katanya, &#8220;Aku tidak paham mengapa yang Cu-kang menolong kita, tapi aku lebih-lebih tidak habis mengerti bahwa Tong-toakohnio inipun menolong kita, sungguh aneh dan ajaib.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di dunia ini memang banyak kejadian yang tak terduga,&#8221; ucap Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Dan bahwa Tong-jikohnio bisa membikin susah padamu, mungkin juga tidak kauduga bukan?&#8221; jengek Lui-ji tiba-tiba.</p>
<p>Pwe-giok hanya menghela napas dan tidak bicar lagi.</p>
<p>Saat itu Tong Lin belum lagi siuman, Pwe-giok menaruhnya di atas kursi, lalu dia mencari di seluruh ruangan.</p>
<p>Lui-ji tidak tahu apa yang dicari anak muda itu, ia coba tanya, &#8220;Tempat apakah di sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamar pribadi Tong Bu-siang,&#8221; jawab Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji terkesiap, ucapnya, &#8220;Tong-toakohnio sudah menolong kita, kesempatan ini tidak kita gunakan untuk kabur, untuk apa kita berbalik lari masuk ke kamar rahasia Tong Bu-siang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mencari jalan keluarnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jalan keluar? Masa di sini ada jalan keluarnya?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Pwe-giok menjawab, Lui-ji sudah melihat dipan di pojok kamar itu mulai bergeser, di bawah tempat tidur itu muncul sebuah lorong di bawah tanah yang sangat gelap.</p>
<p>&#8220;Hah, kiranya di sini memang ada jalan keluar rahasia, &#8220;seru Lui-ji sambil berkedip-kedip, &#8220;pantas Tong-jikohnio ini mengatakan kau masuk ke sini melalui jalan rahasia, caranya berdusta ternyata sangat hidup dan seperti terjadi sungguhan. &#8220;</p>
<p>Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menanggapi, segera ia mendekati tong Lin dan mengangkatnya.</p>
<p>Mendadak Lui-ji mendengus, &#8220;Hm, tampaknya kalian memang tidak mau berpisah sedikitpun, kukira lebih baik kalian berdua diikat menjadi satu saja dengan tali. &#8220;</p>
<p>Sementara itu Pwe-giok sudah melangkah turun ke lorong di bawah tanah itu, tiba-tiba ia menoleh dan berkata, &#8220;Saat ini bukan waktunya bicara, maukah kau tutup mulut ?&#8221;</p>
<p>Terkesiap Lui-ji, matanya menjadi merah. Belum pernah Pwe-giok bicara kepadanya dengan muka masam seperti ini.</p>
<p>Pwe-giok berjalan di depan dengan hati-hati, setelah berjalan sekian jauhnya, ia menghela napas dan berkata,&#8221; Nah, apa yang hendak kau katakan sekarang boleh kau katakan saja sepuasmu.&#8221;</p>
<p>Tapi mulut Lui-ji justru tertutup rapat-rapat.</p>
<p>&#8220;Meski tadi tidak kau bunuh dia, tapi ku tahu dia pasti terkena racun di tubuhmu, jika sekarang kau paham maksudku, hendaklah kau punahkan dulu racun dalam tubuhnya.&#8221;</p>
<p>Tapi Lui-ji tutup mulut semakin rapat, seakan-akan tidak mau lagi dibuka.</p>
<p>Pwe-giok berkerut kening, katanya, &#8220;Kenapa. Sekarang kau malah tidak mau bicara.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tetap tutup mulut, hanya dengan jarinya ia tuding Pwe-giok, lalu tuding pula mulutnya sendiri.</p>
<p>Pwe-giok tersenyum, ucapnya, &#8220;Sekarang kau sudah dewasa, masa masih suka ngambek seperti anak kecil.?&#8221;</p>
<p>Mendengar dirinya dianggap sudah &#8220;dewasa&#8221;, Lui-ji tertawa, dengan mulut menjengkit, ia berkata, &#8220;Kau yang suruh aku tutup mulut, aku kan selalu menuruti perintahmu saja. &#8220;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, lekaslah kau menolong dia, &#8220;kata Pwe-giok.</p>
<p>Mata Lui-ji kembali merah, ia menggigit bibir dan berkata, &#8220;Tahumu hanya menyuruh ku tolong dia, kau hanya gelisah baginya, mengapa tidak kau tanyakan diriku, apakah juga terkena racunnya atau tidak? Anggota keluarga Tong mereka kan juga terkenal ahli racun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Meski senjata rahasia berbisa keluarga Tong sangat terkenal, tapi kau sendiri kan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku kenapa? Aku ini orang berbisa, begitu? Barang siapa bila menyentuh diriku pasti keracunan, begitu? Jika demikian, kenapa sampai sekarang kau tidak keracunan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok jadi melenggong, jawabnya, &#8220;Soalnya ku&#8230;kulihat Gin-hoa-nio yang cuma menampar kau satu kali dan tangannya lantas keracunan, anggota Thian-can-kau itupun hanya mencolek kau sekali dan dia juga&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Tong-jikohnio ini kan tidak memukul dan mencolek diriku? Jika racun di tubuhku tak dapat kukuasai sendiri, mungkin sejak dulu Sacek sudah mati keracunan.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi begitu, jadi dia tidak keracunan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kau kira aku ini orang goblok dan tidak tahu bahwa nona Tong kita ini tidak boleh dibunuh?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menghela napas, katanya, &#8220;Ai, rupanya aku salah mengomeli kau, soalnya kulihat sampai saat ini nona Tong itu belum lagi siuman, maka kukira&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapan Pwe-giok, Lui-ji mendekati Tong Lin dan menepuk bahunya sambil mendengus, &#8220;Tong-jikohnioku sayang, tampaknya kau tidak cuma pintar berdusta, caramu pura-pura juga sangat ahli. Akan tetapi bila kau tidak segera siuman, sekarang juga akan kubelejeti pakaianmu.&#8221;</p>
<p>Tubuh Tong Lin tampak bergetar, benarlah dia lantas membuka mata.</p>
<p>Lui-ji melototi Pwe-giok, katanya, &#8220;Nah, sekarang tentunya kau paham apa yang terjadi. Lantaran kuatir ditanyai, maka dia sengaja pura-pura mampus&#8230;Hm, tanpa membedakan hitam dan putih lantas menuduh orang yang tak bersalah, malahan menganggap dirinya sangat pintar dan cerdik , huh.!&#8221;</p>
<p>Terpaksa Pwe-giok menerima omelan itu dengan jujur, bahkan tunduk lahir batin.</p>
<p>Mulut Lui-ji menjengkit, dia melengos dan mengejek pula, &#8220;Nah, Tong-jikohnio, apakah sekarang kau masih segan untuk bangun berdiri?&#8221;</p>
<p>Muka Tong Lin yang pucat itu kelihatan merah, ia menggreget, jawabnya, &#8220;Sudah jelas kau&#8230;kau tahu hiat-to kakiku tertotok, tapi kau bicara seenaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terkadang aku memang juga bisa membikin dongkol orang,&#8221; ujar Lui-ji tak acuh. &#8220;Memangnya hanya kalian saja yang boleh memfitnah diriku dan aku tidak boleh membalas.?&#8221;</p>
<p>Sekujur badan Tong Lin gemetar saking gemasnya, tapi tak dapat menjawab.</p>
<p>Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian. &#8220;Ji-kohnio, aku tidak ada permusuhan apapun dengan kau, mengapa kau sengaja mencelakai diriku?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Lui-ji mendengus pula. &#8220;Kau boleh sembarangan menuduh diriku, tentu boleh juga dia sembarangan menuduh kau. Kalian berdua adalah sepasang ahli yang suka menuduh orang baik, kenapa kau salahkan dia ? &#8220;</p>
<p>Sungguh Pwe-giok serba susah, ia hanya menyengir saja, tapi sekarang ia tidak berani lagi menyuruh Lui-ji tutup mulut, sebab ia telah mendapatkan suatu pelajaran berharga pula, yaitu: Jangan sekali-kali kaum lelaki menyuruh orang perempuan tutup mulut. Sebab seketika itu mungkin si dia akan benar-benar tutup mulut, tapi seterusnya bukan mustahil dia akan cerewet selama hidup.</p>
<p>Kini yang tutup mulut benar-benar adalah Tong Lin, dia seperti sudah mengambil keputusan takkan bicara lagi.</p>
<p>Dengan suara lembut Pwe-giok membujuknya. &#8220;Caramu bersikap demikian bisa jadi lantaran kaupun mempunyai kesulitan, sebab jelas kau bukan seorang yang suka berdusta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, justru lantaran dia bukan seorang yang suka berdusta, maka apa yang diucapkannya tentu dipercaya orang lain,&#8221; jengek Lui-ji. &#8220;Apabila dia kelihatan sebagai seorang perempuan bawel, tentu tiada orang yang mau percaya kepada ocehannya.&#8221;</p>
<p>Setiap kali Pwe-giok tanya Tong Lin, yang ditanya tidak bersuara, tapi Lui-ji selalu mendahului menanggapi.</p>
<p>Terpaksa Pwe-giok berlagak pilon dan bersabar, katanya pula, &#8220;Bisa jadi ada alasanmu yang kuat sehingga terpaksa kau berdusta, asalkan kau tuturkan terus terang, pasti tidak kusalahkan kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, bisa jadi memang benar-benar kekasihnya yang membunuh Tong Bu-siang itu, demi untuk menyelamatkan kekasihnya, maka dia perlu mencari seorang sebagai tumbal,&#8221; jengek Lui-ji lagi.</p>
<p>Sekali ini dia tidak menanggapi dengan ngawur, tapi yang dikemukakan cukup masuk akal.</p>
<p>Terbeliak mata Pwe-giok, serunya, &#8220;Masa benar-benar kau tahu siapa si pembunuhnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu dia tahu, &#8220;Lui-ji mendahului menanggapi pula, &#8220;Tapi caramu bertanya ini tentu juga takkan mendapatkan jawabannya.&#8221;</p>
<p>Lalu Lui-ji mendekati Tong Lin, dengan bengis ia berkata, &#8220;Sesungguhnya siapa yang membunuh Tong Bu-siang itu ? Jika tetap tidak kau katakan, segera ku&#8230; &#8220;</p>
<p>Belum habis ucapannya, mendadak seorang menanggapi dengan perlahan, &#8220;Orang yang membunuh Tong Bu-siang itu ialah diriku ini.&#8221;</p>
<p>Dalam kegelapan entah sejak kapan telah bertambah sesosok bayangan orang yang berwarna putih kelabu, seperti badan halus saja yang mendadak muncul di situ.</p>
<p>Karena tak dapat melihat jelas wajah orang, Pwe-giok dan Lui-ji berseru berbareng, &#8220;Siapa kau ? &#8220;</p>
<p>Orang itu tidak menjawab, tapi lantas mengetik api.</p>
<p>Di bawah cahaya api, tampak seorang perempuan berkabung, geretan api yang dipegangnya berkelip seperti api setan, wajahnya pucat lesi tanpa warna darah sedikitpun.</p>
<p>Melihat orang ini, Pwe-giok benar sangat terperanjat, serunya tanpa terasa, &#8220;He, kau ?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, betul aku!&#8221; sahut orang itu sambil menghela napas.</p>
<p>&#8220;Sungguh tak tersangka olehku yang berbuat itu adalah dirimu,&#8221; kata Pwe-giok dengan gegetun.</p>
<p>Mendadak Lui-ji membentak, &#8220;Kau berani mengaku sebagai si pembunuhnya di depan kami, apakah kau sudah bertekad akan membunuh kami untuk menghilangkan saksi?&#8221;</p>
<p>Orang itu mendengus, &#8220;Huh, jika ingin kubunuh kalian, mengapa tadi ku tolong kalian?&#8221;</p>
<p>Orang yang mengaku sebagai &#8220;pembunuh&#8221; ini ternyata nona besar keluarga Tong, yaitu Tong Ki.</p>
<p>Air mata Tong Lin sudah bercucuran, ucapnya dengan suara parau, &#8220;Toaci, untuk apa kau datang kemari? Aku sudah jelas tak dapat hidup lagi, juga tidak ingin hidup lebih lama lagi, mengapa tidak kau biarkan ku tanggung dosa ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ku tahu tindakanmu ini adalah demi diriku,&#8221; ucap Tong Ki dengan rawan. &#8220;Kau rela mengorbankan dirimu, kau memang anak yang baik, tapi aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Akupun tahu tindakan toaci ini adalah demi mempertahankan nama baik keluarga Tong kita&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus, kalian semuanya anak baik, apa yang kalian lakukan semuanya beralasan. Tapi Ji Pwe-giok apakah harus ikut dikorbankan ?&#8221; teriak Lui-ji mendadak.</p>
<p>Tong Ki menghela napas panjang, katanya. &#8220;Ya, ku tahu tindakan kami ini telah membikin susah Ji-kongcu, tapi di dalam persoalan ini sesungguhnya memang mengandung banyak rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar. &#8220;</p>
<p>&#8220;Masa sekarang kami belum juga berhak mengetahui rahasia ini?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Kedatanganku untuk menemui kalian ini justru sudah siap hendak kuberitahukan rahasia ini kepada kalian,&#8221; ucap Tong Ki. Ia berhenti sejenak dan tersenyum getir, lalu melanjutkan, &#8220;Tentu dalam hati kalian merasa sangat heran mengapa aku membunuh ayah sendiri, bukan ? &#8220;</p>
<p>&#8220;Ya, aku memang sangat heran,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Setelah ku beritahu rahasia ini, kuharap kalian jangan menyiarkannya, sebab rahasia ini sesungguhnya sangat penting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa kau tidak percaya kepada Ji Pwe-giok?&#8221; Lui-ji mendahului bertanya.</p>
<p>&#8220;Justru ku tahu lantaran Ji-kongcu adalah seorang kuncu sejati, maka ku datang ke sini&#8230;&#8221;, tiba-tiba Tong Ki tersenyum misterius, &#8220;Kalian tahu, Tong Bu-siang yang kubunuh itu sebenarnya bukanlah ayahku.&#8221;</p>
<p>Ia mengira keterangannya ini pasti akan membikin kaget Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, tak terduga Lui-ji hanya mencibir saja dan berkata, &#8220;Rahasia ini tidak luar biasa, sebelumnya kami sudah tahu.&#8221;</p>
<p>Tong Ki berbalik terperanjat, serunya, &#8220;Apa, kalian sudah tahu sebelumnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang betul, &#8220;tukas Pwe-giok.</p>
<p>Dia sebenarnya adalah pemuda yang pendiam, apalagi berada bersama Lui-ji, kesempatannya bicara boleh dikatakan sangat sedikit, sejak tadi sampai sekarang, hanya ketiga kata itu saja sempat diucapkannya.</p>
<p>Malahan sekarang Lui-ji terus mendahului berkata pula, &#8220;Tidaklah heran jika hal ini diketahui oleh kami, yang ku herankan justru cara bagaimana kalianpun mengetahuinya?&#8221;</p>
<p>Tong Ki tersenyum getir, tuturnya, &#8220;Sebenarnya urusan keluarga Tong ini hanya diketahui olehku sendiri, tapi sekarang kalianpun mengetahuinya, tentu saja sangat mengherankan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malahan kami tahu pula bahwa Tong Bu-siang gadungan itu aslinya cuma seorang kusir,&#8221; kata Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Kusir?&#8221; Tong Ki menegas dengan tercengang.</p>
<p>&#8220;Betul, hanya seorang kusir,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Dia berkasak-kusuk dengan anak buah Ji Hong-ho di Bong-hoa-lou sana, mereka tidak tahu kami mengintipnya dari balik dinding, sehingga rahasianya ketahuan.&#8221;</p>
<p>Mendingan dia tidak bicara, sebab Tong Ki tambah bingung oleh ceritanya itu.</p>
<p>Dengan menyesal Pwe-giok berkata, &#8220;Urusan ini memang sangat ruwet, tapi yang paling penting haruslah diketahui oleh nona, bahwa semua tipu muslihat, semua intrik keji ini datang dari &#8230; dari Ji Hong-ho itu, dialah yang mendalangi semua kejadian ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ji Hong-ho?&#8221; Tong Ki menegas pula dengan melenggong. &#8220;Kau maksudkan Ji-lo-siansing yang menjadi Bu-lim bengcu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, siapa lagi kalau bukan dia?&#8221; jawab Pwe-giok dengan menggreget.</p>
<p>Tong Ki tambah tercengang, katanya, &#8220;Dan apa sangkut-pautnya dengan urusan keluarga Tong kami ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru lantaran ia ingin menguasai keluarga Tong yang berpengaruh ini, maka dia telah menculik Tong-locianpwe untuk memalsukannya, &#8220;tutur Pwe-giok. &#8220;Tindakannya ini sebenarnya berlangsung dengan sangat rahasia, siapa tahu secara tidak sengaja dapat kami pergoki.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kedatangan kami ke sini justru hendak membongkar tipu muslihatnya itu,&#8221; timbrung Lui-ji tak tahan.</p>
<p>Tong Ki melengak sejenak, mendadak ia bergelak tertawa.</p>
<p>Pwe-giok dan Lui-ji saling pandang dengan bingung, mereka tidak tahu mengapa nona besar keluarga Tong itu tertawa sedemikian geli.</p>
<p>Setelah tertawa sekian lamanya, tiba-tiba Tong Ki menghela napas panjang dan bergumam, &#8220;Agaknya inilah yang disebut manusia berencana, Thian yang menentukan. Betapapun usaha manusia takkan berhasil jika Thian tidak berkenan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221; tanya Lui-ji sambil berkerut kening.</p>
<p>&#8220;Terus terang, ayahku sudah wafat belasan tahun yang lalu,&#8221; tutur Tong Ki dengan suara tertahan.</p>
<p>Kembali Pwe-giok terkejut, serunya, &#8220;Belasan tahun yang lalu? Tapi jelas&#8230;jelas ku..&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu beliau wafat, saat itulah suasana di daerah Sujwan ini sedang kacau balau, keluarga Tong kami waktu itupun menghadapi sesuatu yang sangat berbahaya,&#8221; tutur Tong Ki. &#8220;Berkat mendiang ayahku bertahan dengan tenang sehingga segala kesulitan dapat diatasi. Tapi beliau kuatir apabila dia meninggal, suasana bisa kacau lagi, maka beliau sengaja mencari seorang duplikat untuk menyaru sebagai dia, guna mengatasi segala kemungkinan.&#8221;</p>
<p>Dia tertawa, lalu melanjutkan, &#8220;Duplikat yang ditemukan ayah itu adalah seorang paman yang masih sanak keluarga kami dan bukanlah kusir segala. paman ini memang sangat mirip ayah, setelah dirias, sukarlah orang luar akan membedakannya. Apalagi seumpama ada sesuatu yang tidak betul, tentu orang akan menyangka karena ayah habis sakit, sehingga terjadi perubahan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, jadi Tong-locianpwe yang pernah kutemui itu sesungguhnya juga palsu?&#8221; kata Pwe-giok dengan menyesal.</p>
<p>Baru sekarang ia paham, mengapa Tong Bu-siang itu kelihatan takut urusan, terkadang sikapnya tidak menampilkan wibawa seorang pemimpin.</p>
<p>Akhirnya iapun paham sebab apa &#8220;Tong Bu-siang&#8221; itu mengkhianatinya.</p>
<p>&#8220;Paman itu memang bukan seorang bijaksana dan cekatan, maka sebelum wafat, ayah telah pesan padaku secara wanti-wanti agar paman itu hanya dijadikan sebagai boneka saja. Apabila suatu waktu timbul pikiran jahatnya hendak merebut kedudukan dan merampas kekuasaan, ayah menyuruhku agar membinasakan dia tanpa ragu,&#8221; setelah berhenti sejenak sambil menghela napas, lalu Tong Ki menyambung, &#8220;Justru karena diberi tugas berat ini oleh mendiang ayahku, terpaksa ku jaga keluarga ini sepenuh tenaga, betapapun aku tak dapat menikah dan ikut suami.&#8221;</p>
<p>Teringat kepada pengorbanan Tong Ki yang besar ini, tanpa terasa Pwe-giok ikut terharu dan bersedih baginya. Seorang perempuan rela mengorbankan masa muda sendiri dan hidup kesepian, kehidupan demikian tidaklah mudah dilakukan setiap orang.</p>
<p>&#8220;Selama belasan tahun ini,&#8221; tutur Tong Ki pula, &#8220;pamanku itu tampaknya juga hidup prihatin, segala persoalan akulah yang memutuskan, ia sendiri tidak berani bertindak di luar tahuku. Siapa tahu, setelah pulang sekali ini, dia kelihatan berubah, dalam waktu satu hari saja dia berani mengambil keputusan sendiri dan mengeluarkan belasan macam perintah. Demi untuk melaksanakan pesan ayah, terpaksa kubunuh dia.&#8221;</p>
<p>Ia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi, &#8220;Tapi akupun tidak menyangka bahwa di balik kepalsuan itu, masih ada tiruan pula. Kejadian aneh di dunia ini sungguh terkadang jauh lebih mustahil daripada dongeng.&#8221;</p>
<p>Termangu-mangu Lui-ji mendengarkan ceritanya, baru sekarang ia tersenyum getir dan bergumam, &#8220;Ya, memang tidaklah gampang bila suatu keluarga persilatan ternama ingin mempertahankan nama dan kehormatannya.&#8221;</p>
<p>Tong Ki tersenyum pedih, katanya, &#8220;Betul, umumnya orang hanya tahu kebesaran dan kejayaan keluarga Tong kami, tapi siapa yang tahu di balik kejayaan ini entah tersembunyi betapa banyak pahit getir, betapa banyak mengalirkan darah dan air mata&#8230;&#8221;</p>
<p>Dia seperti terkenang kepada kejadian-kejadian di masa lampau, tanpa terasa air matanya bercucuran.</p>
<p>Pwe-giok jadi teringat kepada nasib Tong Ki yang pernah bertunangan 2 &#8211; 3 kali, tapi setiap kali bakal suaminya selalu mati mendadak, apakah orang-orang itu hanya mati secara kebetulan ? Adakah di balik kematian itu tersembunyi suatu rahasia ?</p>
<p>Teringat demikian tanpa terasa Pwe-giok bergidik.</p>
<p>Ia tidak ingin memikirkannya lagi, juga tidak sampai hati untuk memikirkannya, apapun juga Tong Ki harus dianggap sebagai anak perempuan yang tidak beruntung dan perlu dikasihani.</p>
<p>Kejayaan hanya bisa diperoleh dengan macam-macam imbalan yang besar. Sejak dahulu kala, di balik soal &#8220;kejayaan&#8221;, entah telah berapa banyak menimbulkan korban, entah berapa banyak tulang-belulang yang bertumpuk dan betapa banyak darah yang mengalir.</p>
<p>Dan semua ini apa cukup berharga?</p>
<p>Lui-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya, &#8220;Apakah Tong Giok juga tidak tahu rahasia keluarga kalian ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, iapun tidak tahu,&#8221; jawab Tong Ki.</p>
<p>&#8220;O, pantas dia&#8230; &#8220;mendadak Lui-ji tidak melanjutkan ucapannya, sebab ia merasa orang yang telah mati tidak perlu lagi disinggung perbuatannya yang memalukan itu.</p>
<p>Pwe-giok memandangnya sekejap sebagai tanda memujinya.</p>
<p>Betapapun pada dasarnya Lui-ji adalah anak perempuan yang berhati bajik, cuma seperti juga kebanyakan anak perempuan di dunia ini, terkadang dia suka banyak bicara walaupun sebenarnya bukan waktunya untuk bicara.</p>
<p>Tong Ki lantas menutur pula, &#8220;Kecuali diriku dan paman itu, di dunia ini jelas tiada orang lain lagi yang tahu rahasia penyamaran ini. Sebab waktu itu adik-adikku masih kecil, maka ayah menyuruhku sekalian merahasiakan urusan ini bagi mereka.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, ia tahu Tong Jan juga pasti tidak tahu rahasia ini, kalau tidak, mustahil ia mau membantu Tong Bu-siang gadungan itu untuk mengkhianatinya dahulu.</p>
<p>Rupanya setelah belasan tahun menjadi boneka, Tong Bu-siang palsu itu tidak rela dan merasa penasaran, maka dia bersekongkol dengan Ji Hong-ho untuk mempertinggi kedudukan sendiri dan memperkuat kekuasaannya.</p>
<p>Tapi meski dia telah mengkhianati Ji Pwe-giok, dia tidak menjual keluarga Tong, sebab itulah ketika ajalnya itu, dia tetap tidak memberitahukan rahasia kepalsuannya sendiri kepada Ji Hong-ho.</p>
<p>Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya, &#8220;Apapun juga pamanmu itu tidak bersalah terhadap keluarga Tong kalian.&#8221;</p>
<p>Tong Ki menghela napas, katanya, &#8220;Demi kehormatan keluarga, terpaksa harus berkorban sendiri, inilah penderitaan kebanyakan murid ke keluarga persilatan di dunia ini, juga semangat dasar keluarga persilatan ini supaya dapat bertahan hidup di dunia persilatan. &#8220;</p>
<p>&#8220;Tadinya akupun sangat mengagumi para murid keluarga persilatan, tapi sekarang&#8230; &#8220;Lui-ji berucap dengan rawan, sebab iapun mempunyai penderitaannya sendiri, menjadi puteri &#8220;Siau-hun-kiongcu&#8221;, betapapun bukanlah sesuatu yang enak.</p>
<p>Selang sejenak, tiba-tiba ia bertanya pula, &#8220;Rahasia ini mungkin tidak diketahui orang lain, tapi Ji-kohnio tentunya tahu, bukan? &#8220;</p>
<p>&#8220;Ia baru tahu pada kemarin malam, &#8220;jawab Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Ooh ? Baru kemarin malam ? &#8220;Lui-ji merasa heran.</p>
<p>&#8220;Ya, baru kemarin malam, memang betul ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Tong&#8230;Tong Bu-siang itu, setiba di luar pintu, ia memang berhenti di sana, sebab saat itu aku sedang bicara di dalam kamar. &#8220;</p>
<p>&#8220;O, jadi dia menyaksikan kau bunuh Tong Bu-siang itu, tentu saja dia terkejut, ketika kau tahu dia berada di luar kamar, terpaksa kau beritahukan rahasia keluargamu itu kepadanya, begitu ? &#8220;tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Ya, memang betul begitu, &#8220;sahut Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Aku memang lagi heran mengapa kalian tidak mau menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya waktu itu kami belum mengetahui liku-liku urusan ini, lebih-lebih tidak tahu bahwa Tong Bu-siang palsu itu telah dipalsukan pula oleh orang lain.&#8221;</p>
<p>Lui-ji menjengek, &#8220;Hm, kalian tidak ingin orang luar mengetahui perebutan kekuasaan di tengah keluarga sendiri, demi menjaga nama baik keluarga Tong, lantas kalian korbankan Ji Pwe-giok, begitu bukan?&#8221;</p>
<p>Terpaksa Tong Ki menghela napas panjang, sebab dia memang tidak dapat menjawabnya.</p>
<p>Lui-ji melototi Tong Lin, katanya pula dengan perlahan, &#8220;Ji-kohnio, ingin kuminta penjelasan sesuatu kepadamu.&#8221;</p>
<p>Tong Lin menundukkan kepala, seakan-akan tak mau mendongak lagi untuk selamanya.</p>
<p>Maka Lui-ji berkata pula. &#8220;Jika kau perlu cari tumbal, siapapun boleh kau cari, kenapa pilihanmu jatuh pada diri Ji Pwe-giok ? Ada persoalan apa antara kau dengan dia ? &#8220;</p>
<p>Kepala Tong Lin tertunduk lebih rendah lagi, air matapun berderai.</p>
<p>Mendadak Tong Ki menghela napas, katanya, &#8220;Daripada kau minta penjelasannya, lebih baik aku saja yang berbicara baginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, kiranya kaupun tahu apa sebabnya, jangan-jangan hal inipun atas gagasanmu?&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>Tong Ki tak tahan, iapun balas menjengek, &#8220;Hm, jika gagasanku, tentu takkan jadi begini, sebab biarpun Ji-kongcu adalah pemuda cakap yang jarang ditemukan, tapi bagiku rasanya tidak berarti apa-apa.&#8221;</p>
<p>Dia seperti dibikin marah oleh Lui-ji sehingga cara bicaranya juga tidak sungkan-sungkan lagi.</p>
<p>Lui-ji berbalik tertawa geli malah, ucapnya, &#8220;Baik sekali, justru kuharapkan dia akan dipandang sebagai siluman buruk di mata wanita lain. Apabila semua perempuan di dunia ini berpandangan serupa Tong-toakohnio, maka amanlah hatiku.&#8221;</p>
<p>Tong Ki memandangnya, rasa gusarnya perlahan-lahan lenyap, sebab ia merasa Lui-ji tidak lebih hanya seorang anak kecil yang berlagak menjadi orang tua. Ia tertawa, lalu menghela napas panjang lagi dan berkata, &#8220;Namun adik perempuanku ini justru&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Toaci!&#8221; seru Tong Lin mendadak sambil mendongak, &#8220;jangan&#8230;jangan kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa jangan?&#8221; jawab Tong Ki lembut. &#8220;Seorang anak gadis jatuh cinta kepada seorang pemuda kan bukan sesuatu yang memalukan ? Mengapa tidak boleh kita katakan terus terang?&#8221;</p>
<p>Tubuh Tong Lin tampak gemetar, mukanya bersemu merah.</p>
<p>Lui-ji mendelik, ucapnya, &#8220;Jadi maksudmu, lantaran dia suka kepada Pwe-giok, maka dia mencelakainya pula. Wah, kalau begitu, rasa sukanya itu rada-rada tidak enak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia memang jatuh cinta kepada Ji-kongcu,&#8221; sambung Tong Ki, &#8220;ketika diketahuinya Ji-kongcu sudah menikah denganmu, betapa sedih hatinya, tentu dapat kau bayangkan, ditambah lagi kemalangan yang menimpa keluarga kami, derita batinnya mana bisa ditahannya ? &#8220;</p>
<p>Dia menatap Lui-ji lekat-lekat, lalu berkata pula dengan perlahan, &#8220;Tentu nona juga tahu, jarak antara cinta dan benci sedemikian kecilnya. Bilamana nona yang berada dalam keadaan seperti dia ini, mungkin kaupun akan bertindak demikian. &#8220;</p>
<p>Lui-ji terdiam sejenak, ia pandang sekejap Pwe-giok yang sedang melenggong itu, lalu berucap dengan sayu, &#8220;Ya, bisa jadi aku akan bertindak terlebih kejam daripada dia. &#8220;</p>
<p>&#8220;Apalagi, memang cuma Ji-kongcu saja yang dapat disebutnya, bila dia menyebut orang lain, pasti tidak ada yang mau percaya, &#8220;kata Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Sebab apa? &#8220;tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Sebab dia telah cukup tersiksa demi membela Ji-kongcu, &#8220;tutur Tong Ki dengan gegetun. &#8220;Jika bukan lantaran kejadian itu, meski kemudian tidak menimbulkan banyak persoalan, mungkin dia sudah dihukum mati menurut peraturan rumah tangga kami&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, Pwe-giok tidak tahan lagi, ucapnya dengan terharu, &#8220;dia membawa Gin-hoa-nio ke tempat rahasia pembuatan Am-gi keluarga Tong, apakah tindakannya itu demi diriku ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal kau tahu saja,&#8221; ujar Tong Ki dengan tersenyum getir, &#8220;dan kalau Ji-kongcu sudah tahu, tentunya kau harus memaafkan perbuatannya tadi.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok pandang Tong Lin yang sedang menangis itu dan entah apa yang harus diucapkannya.</p>
<p>Tapi Lui-ji lantas mendekati Tong Lin, ucapnya dengan suara lembut. &#8220;Jikohnio, sebenarnya aku benci padamu, tapi sekarang aku benar-benar bersimpati padamu&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Tong Lin melonjak bangun, teriaknya dengan suara parau, &#8220;Aku tidak memerlukan simpatimu, tidak perlu kasihanmu. Kubenci padamu, kubenci kau!&#8230;&#8221; dia terus meronta dan hendak menerjang maju, tapi lantaran hiat-to kaki tertotok, ia jatuh terjungkal pula.</p>
<p>Lui-ji menggigit bibir dan tersenyum pedih, ucapnya,&#8221; Tidak perlu kau benci padaku, kubilang dia suamiku, sesungguhnya hanya menipu diriku sendiri saja, sebab dalam hatinya hanya terisi oleh nona Lim Tay-ih itu. Akupun serupa kau, sama-sama gadis yang harus dikasihani, aku&#8230;aku&#8230; &#8220;sampai di sini air matanyapun berderai.</p>
<p>Tong Ki memandangi mereka, matanya juga mengembeng air mata, gumamnya, &#8220;Cinta&#8230; O cinta&#8230;&#8221; mendadak ia pandang Pwe-giok, ucapnya dengan dingin, &#8220;Ji-kongcu, tampaknya tidak sedikit kau bikin susah orang!&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tampak terkesima dan bergumam, &#8220;Tidak sedikit orang yang ku bikin susah&#8230;&#8221; ia mengulang kalimat tersebut beberapa kali, tapi selain itu dia memang tidak dapat bicara lain. Apalagi, biarpun bicara apapun juga, Tong Ki takkan bersimpati padanya.</p>
<p>Tong Ki membangunkan Tong Lin, lalu berkata, &#8220;Sekarang, selesailah perkataanku, bolehlah Ji-kongcu pergi!&#8221;</p>
<p>Dia seperti tidak mau memandang Pwe-giok lagi, sampai Lui-ji juga tidak menyangka sikapnya akan berubah menjadi sedingin itu.</p>
<p>Lui-ji tidak tahu bahwa seorang perawan tua biasanya paling benci terhadap lelaki yang tidak berbudi dan tidak setia, seakan-akan dia sendiri sudah beratus kali ditipu oleh kaum lelaki.</p>
<p>Padahal masakah dia tidak tahu bahwa Pwe-giok tidak bersalah, hanya saja ia tidak mau mengakui fakta ini, sebab yang dibencinya bukanlah Ji Pwe-giok melainkan kaum lelaki.</p>
<p>Melihat Tong Ki mulai melangkah pergi dengan memayang Tong Lin, Lui-ji tidak tahan, serunya, &#8220;Nona Tong, apakah rahasia tadi akan kau siarkan ? &#8220;</p>
<p>&#8220;Tidak, &#8220;jawab Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Jika &#8230; jika begitu, apa gunanya kau beritahukan rahasia ini kepada kami ? &#8220;tanya Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak ada gunanya ? &#8220;sahut Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Sebab kalau orang lain tidak tahu seluk-beluk persoalan ini, bukankah Pwe-giok akan tetap dianggap sebagai pembunuh Tong-locengcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, sudah jelas dia tidak setia padamu, untuk apa kau perhatikan dia?&#8221; jengek Tong Ki, sambil bicara, tanpa menoleh lagi ia terus tinggal pergi.</p>
<p>Lui-ji melenggong, ia ingin menyusul ke sana, tapi Pwe-giok keburu menariknya dan berkata. &#8220;Sudahlah, biarkan dia pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah!?&#8221; teriak Lui-ji. &#8220;Urusan ini mana boleh dianggap sudah? Masa kau lebih suka dituduh orang sebagai pembunuh?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok termangu sejenak, ucapnya kemudian dengan tersenyum getir, &#8220;Aku sendiri sudah cukup dibebani berbagai tuduhan, biarpun ditambah lagi urusan ini juga tidak menjadi soal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh aku merasa bingung, kau ini orang macam apa,&#8221; ucap Lui-ji dengan mendongkol. &#8220;Orang lain membikin susah padamu, tapi kau tidak marah sedikitpun. Orang lain kuatir dan gelisah bagimu, kau sendiri malah adem-ayem?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, katanya, &#8220;Jika kau anggap aku ini orang yang tak berbudi dan tak setia, untuk apa lagi kau perhatikan diriku?&#8221;</p>
<p>Ucapan Pwe-giok ini membuat Lui-ji melengak, mendadak ia mendekap mukanya dan menangis, dengan gemas ia berkata, &#8220;Masa kau anggap ucapanku tadi tidak pantas? Memangnya hatimu tidak memikirkan Lim Tay-ih melulu? Apakah aku salah omong, salah menuduh padamu?&#8221;</p>
<p>Apapun Pwe-giok tidak dapat bicara lagi.</p>
<p>Setelah menangis sejenak, rasanya Lui-ji sudah cukup menangis, kemudian ia bergumam, &#8220;Mungkin akulah yang salah. Aku ini gadis cerewet, cengeng, sedikit-sedikit menangis, sering pula bicara, hingga menimbulkan kemarahanmu, mengapa tidak kau tinggalkan diriku dan pergi sendiri saja ? &#8220;</p>
<p>Pwe-giok tetap tidak bicara apapun, ia hanya gandeng tangan si nona dan diajaknya berangkat, maka dengan menurut Lui-ji juga ikut berangkat.</p>
<p>Tanpa bicara memang cara yang paling baik untuk menghadapi kaum perempuan.</p>
<p>ooo00000000ooo</p>
<p>Pwe-giok tahu lorong di bawah tanah itu menembus ke kelenteng yang letaknya terpencil itu. Di kelenteng itulah anak buah Ji Hong-ho menculik &#8220;Tong Bu-siang&#8221; dan membunuh Tong Jan.</p>
<p>Juga di kelenteng itu untuk pertama kalinya Pwe-giok bertemu dengan Kwe Pian-sian. Tanpa terasa ia jadi teringat kepada Ciong Cing, gadis yang merana karena cinta itu.</p>
<p>Ke manakah mereka sekarang? masih hidup atau sudah mati?</p>
<p>Iapun teringat kepada Gin-hoa-nio, teringat kepada nasibnya yang mengerikan itu, maka wajah Kim-hoa-nio, Thi-hoa-nio, Kim-yan-cu dan lain-lain seolah-olah terbayang pula di depan matanya.</p>
<p>Dengan sendirinya, ia lebih-lebih tak dapat melupakan Lim Tay-ih.</p>
<p>Ia menghela napas panjang, pikirnya dengan rawan, &#8220;Nasib mereka sama tidak beruntung, apakah benar akulah yang membikin susah mereka&#8230;?&#8221;</p>
<p>Hampir setiap anak perempuan yang dikenalnya seakan-akan tidak ada satupun yang beruntung dan bahagia. Apakah sebabnya?</p>
<p>Wanita cantik biasanya dipandang orang sebagai &#8220;air bencana&#8221;, lalu pemuda cakap seperti Ji Pwe-giok ini terhitung apa?</p>
<p>Jalan tembus pada lorong di bawah tanah itu ditutup oleh sepotong batu yang dapat diputar, sehingga tidak banyak suara yang ditimbulkannya. Apalagi di luar sana adalah kelenteng di tanah pegunungan sunyi dan jauh dari jejak manusia, biarpun menerbitkan sedikit suara juga tidak menjadi soal.</p>
<p>Namun begitu Pwe-giok tetap sangat hati-hati, lebih dulu ia geser batu itu sedikit, di luar ternyata gelap gulita, biarpun ada cahaya bulan dan bintang juga tak dapat menyinari tempat ini.</p>
<p>Dan biasanya kegelapan selalu berkawan kesunyian, kecuali denyut jantung sendiri, hampir tak terdengar apapun oleh Pwe-giok, bahkan anginpun berhenti berdesir.</p>
<p>Setelah yakin benar keadaan aman, barulah Pwe-giok menarik Lui-ji naik ke atas.</p>
<p>Tapi pada saat itu juga dalam kegelapan mendadak timbul serentetan suara orang tertawa.</p>
<p>Seorang dengan tertawa berkata, &#8220;Baru sekarang kalian muncul? Sudah lama kutunggu di sini.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok terkejut dan menyurut mundur, tapi segera cahaya lampu terang benderang.</p>
<p>&#8220;He, Yang Cu-kang!&#8221; seru Lui-ji kaget, &#8220;Kau benar-benar seperti arwah yang tidak mau buyar, kenapa kaupun ikut ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa jadi lantaran aku dan kalian memang berjodoh&#8230;&#8221; Yang Cu-kang tersenyum, dia duduk bersila di lantai, di depannya ada sebotol arak dan beberapa bungkus makanan, ada pula sebuah lampu dan sebuah geretan api.</p>
<p>Dengan tertawa ia berkata pula, &#8220;Arak dan makanan ini kubawa sendiri dari tempat perjamuan keluarga Tong sana, meski arak masih hangat, namun makanannya sudah dingin, karena barang didapatkan dengan gratis, biarlah kita nikmati saja seadanya. Marilah, silahkan kalian ikut minum barang secawan. &#8220;</p>
<p>Pwe-giok memandangnya dengan tersenyum, ucapnya kemudian, &#8220;terima kasih!&#8221;</p>
<p>Dia benar-benar mendekati Yang Cu-kang dan ikut duduk di situ, cawan arak diangkatnya dan ditenggak habis. Lui-ji ingin mendahului mencicipi arak itu, tapi sudah tidak keburu lagi.</p>
<p>Yang Cu-kang tertawa, katanya. &#8220;Ji-heng, ilmu silatmu sebenarnya tidak seberapa, kecakapanmu juga tidak melebihi diriku, tapi kau memang jauh lebih sabar daripadaku. Hal ini mau-tak-mau aku harus kagum padamu. Marilah, ku suguh kau satu cawan.&#8221;</p>
<p>Lalu dia tertawa terhadap Lui-ji dan berkata pula, &#8220;Hendaknya nona Cu jangan kuatir, arak ini tidak beracun, untuk membunuh orang cukup banyak caraku dan tidak perlu memakai racun.&#8221;</p>
<p>Biji mata Lui-ji berputar, ucapnya hambar, &#8220;Tapi caraku membunuh orang cuma ada satu, yakni pakai racun. Setiap saat dan di manapun juga dapat ku taruh racun, entah sudah berapa banyak orang yang mati ku racun, tapi tiada seorangpun yang mengetahui cara bagaimana matinya.&#8221; Sampai di sini mendadak ia tertawa terhadap Yang Cu-kang dan menambahkan, &#8220;Bukan mustahil akupun sudah menaruh racun di dalam arak yang akan kau minum ini, kau percaya tidak?&#8221;</p>
<p>Jika orang lain yang berkata demikian, bisa jadi Yang Cu-kang akan bergelak tertawa dan menenggak habis araknya itu, tapi sekarang kata-kata tersebut diucapkan oleh puteri tunggal Siau-hun-kiongcu, maka bobotnya menjadi lain.</p>
<p>Yang Cu-kang pandang arak dalam cawan yang dipegangnya itu, katanya dengan tetap tertawa, &#8220;Bila benar arak ini sudah kau racuni, tentu takkan kau beritahukan kepadaku, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak kau coba?&#8221; ucap Lui-ji dengan tersenyum.</p>
<p>Melengak juga Yang Cu-kang, betapapun ia menjadi sangsi, seumpama tahu benar arak ini tidak beracun juga tidak sanggup diminumnya lagi.</p>
<p>&#8220;Kenapa? Bukankah nyalimu biasanya sangat besar?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Nyaliku memang sangat besar, tapi kalau dipancing orang, seketika bisa berubah menjadi kecil,&#8221; kata Yang Cu-kang.</p>
<p>Dengan jarinya yang lentik, Lui-ji mengambil cawan arak yang dipegang Yang Cu-kang itu, arak dalam cawan dituangnya ke dalam cawan Pwe-giok, lalu berkata dengan terkikik, &#8220;Sayang jika arak ini dibuang, dia tidak mau minum, biar kau saja yang menghabiskannya. &#8220;</p>
<p>Pwe-giok tertawa, tanpa bicara ia tenggak araknya hingga habis.</p>
<p>Dengan tertawa Lui-ji berkata pula, &#8220;Nah, lihatlah, hakekatnya arak ini tidak beracun, kenapa tidak berani kau minum? Sungguh memalukan jika keberanian minum arak saja tidak ada.&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang tidak malu juga tidak rikuh, ia malah tertawa dan menjawab,&#8221; Apa salahnya jika bertindak hati-hati, apalagi arak kan harus disuguhkan dulu kepada tetamu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata ia menuangi lagi cawan sendiri dengan arak dalam poci, lalu berkata, &#8220;Sekarang arak ini tentunya dapat kuminum tanpa kuatir.&#8221;</p>
<p>Mata Lui-ji berkedip, katanya, &#8220;Betul, arak baru ini tidak beracun, lekas kau minum saja.&#8221;</p>
<p>Tapi kembali Yang Cu-kang merasa sangsi, sampai sekian lama ia pandang cawan arak yang dipegangnya itu, katanya dengan menyengir, &#8220;Ah, kalau terlalu banyak minum arak mungkin akan mengidap kanker hati, lebih baik mengurangi minum arak.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tertawa senang, ucapnya, &#8220;Coba lihat, kubilang di dalam arak beracun, kau tidak berani minum, kukatakan arakmu tidak beracun, kaupun tidak berani minum. Memangnya apa yang harus kukatakan supaya kau berani minum arak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apapun yang kau katakan, jelas aku tidak ingin minum lagi, &#8221; ujar Yang Cu-kang dengan tertawa. Ia menaruh cawan araknya, lalu bergumam, &#8220;Jiwanya telah kuselamatkan, tapi secawan arak saja aku tidak boleh minum, tampaknya memang lebih baik tidak menolong siapapun.&#8221;</p>
<p>Mendadak Lui-ji menarik muka, ucapnya, &#8220;Siapa yang minta kau tolong kami ? Tong Giok telah kau bunuh, Kim-hoa-nio juga kau celakai, Thi-hoa-nio juga kau binasakan, kenapa kami tidak kau bunuh, sebaliknya malah menolong kami ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kau senang jika kubunuh kalian ?&#8221; tanya Yang Cu-kang dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Mendingan kau tidak mengincar kami, kalau tidak, tentu susah kau !&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Bagiku bukan soal susah atau tidak, jika aku berniat membunuh orang, yang menjadi soal adalah orang itu pantas dibunuh atau tidak, &#8221; kata Yang Cu-kang, mendadak ia menarik muka dan menegas, &#8220;Coba, ingin kutanya padamu, seorang demi mendapatkan isteri, dia lupa kepada sanak famili, sampai saudara sendiri juga dikhianatinya, orang demikian pantas dibunuh atau tidak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini disebabkan kalian sendiri yangâ€¦.yang memaksa dia berbuat demikian, masa kau salahkan dia malah ?&#8221; jawab Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Jika kupaksa kau bunuh Ji Pwe-giok, kau mau ?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Dengan sendirinya tidak mau,&#8221; sahut Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Nah, apa bedanya, &#8221; ujar Yang Cu-kang. &#8220;Kupaksa kau atau tidak adalah satu hal, kau mau melakukannya atau tidak juga satu hal yang lain. Jika Tong Giok setia kepada sanak keluarganya seperti kesetiaanmu terhadap Ji Pwe-giok, lalu apa gunanya kami memaksa dia ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bagaimana dengan Kim-hoa-nio ? Ken..kenapa kau&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kim-hoa-nio ? Bilakah pernah kuganggu seujung rambutnya ? &#8221; sela Yang Cu-kang, &#8220;Dia sendiri yang rela mati bersama kekasihnya, apa sangkut pautnya dengan diriku? Di dunia ini banyak perempuan bodoh seperti dia, entah berapa banyak yang mati setiap hari, masa aku yang kau salahkan? &#8220;</p>
<p>&#8220;Hm, kau tolak bersih semua kesalahanmu, jika demikian, jadi kau ini manusia baik hati malah,&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Ah, predikat ini tak berani kuterima, &#8220;jawab Yang Cu-kang dengan tertawa, &#8220;cuma orang yang memang tidak harus dibunuh, biarpun orang menyembah padaku agar membunuhnya juga takkan kulakukan.&#8221;</p>
<p>Mata Lui-ji mendelik, teriaknya dengan bengis, &#8220;Lantas bagaimana dengan Thi-hoa-nio? Dalam hal apa dia pantas dibunuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Thi-hoa-nio? Siapa bilang kubunuh dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku yang bilang!&#8221; teriak Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Kau lihat kubunuh dia? Apakah kau lihat jenazahnya? Darimana kau tahu dia sudah mati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tanpa melihatnya sendiri juga ku tahu dia mati di tanganmu,&#8221; jengek Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Eh, coba jawab, bagaimana jika dia tidak mati?&#8221; tanya Yang Cu-kang tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Jika dia tidak mati, biar ku&#8230; kutelan guci arak ini,&#8221; kata Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Wah, guci arak ini sekali-kali tidak boleh ditelan, kalau kau telan, bila ada orang melihat perutmu mendadak buncit, tentu orang akan heran, masa ada anak perawan bunting sebelum bersuami, bahkan mengandung anak kembar, kalau tidak masakah perutmu sebesar gentong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang perutku besar? &#8221; teriak Lui-ji dengan gusar dan muka merah.</p>
<p>&#8220;Bila perut terisi dua guci, mustahil tidak menjadi besar?&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengak, tanyanya, &#8220;Dua guci? Dari mana datangnya dua guci ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kan nona sendiri sudah mempunyai guci cuka, sekarang menelan lagi guci arak, jadinya kan dua guci?&#8221; jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>Seorang anak perempuan kalau kalah berdebat dengan orang, biasanya kalau tidak menangis dan ribut, sedikitnya juga akan ngambek dan menggunakan macam-macam alasan yang tidak masuk akal, orang lain kudu dibikin keok barulah dia merasa puas.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Apa maksud tujuan sebenarnya Yang Cu-kang terhadap Pwe-giok dan Lui-ji?</p>
<p>Kemana perginya Thi hoa-nio dan apa hubungannya dengan Yang CU-kang?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1612/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1612&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/09/imbauan-pendekar-09/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbauan Pendekar &#8211; 08</title>
		<link>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/08/imbauan-pendekar-08/</link>
		<comments>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/08/imbauan-pendekar-08/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 01:31:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritasilat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imbauan Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.wordpress.com/?p=1611</guid>
		<description><![CDATA[Karya: Gu Long Penerjemah: Gan KL (Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, dan Sukantas009) Dengan lembut Lui-ji memandangnya, ucapnya dengan menghela napas pelahan, &#8220;Engkau memang harus tidur sebaik-baiknya, kalau tidak, mana ada semangat untuk bekerja lagi besok?&#8221; Hotel di kota kecil itu tidak banyak tamunya, dengan sanjung puji jongos hotel menyediakan bagi mereka dua kamar besar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1611&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya: Gu Long<br />
Penerjemah: Gan KL</p>
<p>(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, dan Sukantas009)</p>
<p>Dengan lembut Lui-ji memandangnya, ucapnya dengan menghela napas pelahan, &#8220;Engkau memang harus tidur sebaik-baiknya, kalau tidak, mana ada semangat untuk bekerja lagi besok?&#8221;</p>
<p>Hotel di kota kecil itu tidak banyak tamunya, dengan sanjung puji jongos hotel menyediakan bagi mereka dua kamar besar. Tapi setelah memandang Lui-ji sekejap, Pwe-giok berkata, &#8220;Kami hanya perlu satu kamar saja.&#8221;<br />
<span id="more-1611"></span><br />
Berdetak jantung Lui-ji. Sedangkan jongos hotel kelihatan rada kecewa dan heran. Dari sudut manapun dia memandang, kedua orang ini tidak mirip suami-isteri, mengapa mereka hanya minta satu kamar saja?</p>
<p>Sesudah berada dalam kamar dan pintu ditutup, jantung lui-ji berdebur semakin keras, duduk tidak tenang, berdiripun salah, sungguh ia tidak tahu dirinya harus ditaruh di mana?</p>
<p>Dengan hati-hati Pwe-giok memalang pintu lalu menutup jendela pula, kemudian berkatalah dia dengan tersenyum lembut, &#8220;Tidurlah kau!&#8221;</p>
<p>Lui-ji menunduk, dengan menabahkan hati ia bertanya, &#8220;Dan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dua kursi ini kujajarkan menjadi sebuah tempat tidur yang cukup enak,&#8221; ujar Pwe-giok dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Boleh kau tidur di ranjang saja, kau perlu tidur nyenyak daripadaku,&#8221; kata Lui-ji sambil menggigit bibir.</p>
<p>Memandangi tubuh yang agak kekurus-kurusan dengan rambut yang rada kusut serta mata yang besar dengan sedikit garis merah itu, tanpa terasa timbul rasa kasih sayang Pwe-giok, pikirnya, &#8220;Bisa jadi Yang Cu-kang akan segera muncul. Dalam keadaan dan saat demikian, untuk apalagi ku taat adat kolot segala, untuk apa membuat susah dia dan tidak membiarkan dia tidur sebaik-baiknya, apakah kalau malam ini ku tidur seranjang dengan dia, lalu aku Ji Pwe-giok bukan lagi seorang Kuncu sejati?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu Lui-ji telah mengambil selimut yang agak tipis dari tempat tidur dan dibentang di atas kursi, ucapnya dengan menunduk, &#8220;Tidur di sini juga boleh, waktu ku rawat Sacek dahulu, biarpun berdiri juga aku dapat tidur, jadi soal tidur sudah terbiasa bagiku dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya kau sendiri tidurlah yang baik.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Pwe-giok berucap dengan lembut, &#8220;Ranjang ini sangat besar, kita juga bukan orang gendut, mengapa tidak tidur satu tempat tidur saja.&#8221;</p>
<p>Bantal yang baru dipegang Lui-ji jatuh lagi ke bawah, ia ingin memandang Pwe-giok sekejap, tapi tidak ada keberanian itu. Ia menunduk dan berkata, &#8220;Kau&#8230; kau tidak&#8230; tidak takut&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Takut apa?&#8221; sela Pwe-giok, &#8220;Dalam keadaan tidur memangnya kaupun dapat memukul orang?&#8221;</p>
<p>Tertawalah Lui-ji dengan muka bersemu merah, katanya, &#8220;Memukul sih tidak, tapi suka menyepak, awas bila ku depak kau ke bawah tempat tidur.&#8221;</p>
<p>oO-Oo oO-Oo</p>
<p>Sesungguhnya tempat tidur itu tidaklah besar. Di dunia ini tidak ada sebuah hotel yang sengaja menyediakan tempat tidur yang sangat besar bagi tamunya.</p>
<p>Sebab pada umumnya tetamu juga tidak memerlukan tempat tidur yang besar. Apabila ada dua orang tetamu lelaki-perempuan perlu tidur satu ranjang, yang mereka harapkan bukanlah tempat tidurnya yang besar, sebaliknya cukup tempat tidur yang kecil saja, makin kecil makin baik, makin sempit makin memuaskan.</p>
<p>Pwe-giok memang sudah terlampau lelah, maka dengan cepat ia lantas terpulas.</p>
<p>Waktu Lui-ji naik tempat tidur, ketegangannya sungguh sukar dilukiskan, jantungnya berdebur keras, dia tidak berani memandang sekejap pun kepada Pwe-giok, bahkan menyentuh selimutnya saja tidak berani.</p>
<p>Padahal kemarin malam rencana hatinya mengharapkan dapat tidur bersama Pwe-giok, tapi sekarang, pada malam ini, mereka benar-benar sudah tidur bersama satu ranjang, tapi dia berbalik sangat ketakutan, takut setengah mati, takut kehilangan apa-apa. Dia membungkus tubuhnya kencang-kencang dengan selimut dan meringkuk di pojok tempat tidur, kepalanya dibenamkan pada bantalnya, tubuh tidak berani bergerak sedikitpun, bernapas juga tidak berani keras-keras, dalam keadaan hening demikian, yang terdengar hanya detak jantungnya yang memukul keras.</p>
<p>Ia membayangkan, apabila mendadak tangan Pwe-giok menggerayang ke sini, lalu bagaimana?</p>
<p>Sungguh ia tidak berani memikirkannya, seketika tubuhnya terasa panas, panas sekali.</p>
<p>Sesungguhnya ia tidak tahan terbungkus dalam selimut, tapi tidak berani membukanya.</p>
<p>Untunglah Pwe-giok sudah tidur, dengan alon-alon, dengan perlahan sekali Lui-ji menjulurkan kakinya keluar selimut untuk mencari angin, tapi bila Pwe-giok membalik tubuh, dengan ketakutan cepat-cepat ia tarik kembali kakinya.</p>
<p>Namun apapun juga Ji Pwe-giok sudah berada di sampingnya, betapapun ia penuh rasa bahagia, tersembul senyuman manis, senyuman bahagia pada wajahnya, senyuman yang timbul dari lubuk hatinya yang dalam, sungguh ia ingin melompat bangun dan berteriak sekerasnya agar manusia di seluruh jagat ini mengetahui betapa bahagianya malam ini.</p>
<p>Akan tetapi bila saat ini benar-benar ada orang datang, seketika dia akan malu dan mungkin akan sembunyi di kolong ranjang.</p>
<p>Dan begitulah perangai seorang gadis, pikiran seorang perawan.</p>
<p>Menjadi seorang anak gadis sesungguhnya memang bahagia.</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Sebenarnya Pwe-giok cuma pura-pura tidur saja. Sampai sekian lamanya, didengarnya suara pernapasan Lui-ji sudah mulai tenang, mulai teratur dan rata, jelas si nona sudah tidur benar-benar, barulah dia membuka mata.</p>
<p>Betul juga, Lui-ji memang sudah pulas, bahkan sangat nyenyak tidurnya.</p>
<p>Ia pikir, sesungguhnya Lui-ji memang masih anak-anak, dan biasanya anak-anak memang lebih mudah tertidur daripada orang tua.</p>
<p>Bila membayangkan gerak-gerik Lui-ji yang lucu waktu mau naik ke atas tempat tidur tadi, tanpa terasa Pwe-giok tersenyum geli.</p>
<p>Sesungguhnya Lui-ji memang anak dara yang menyenangkan, sangat menyenangkan.</p>
<p>Tidur satu ranjang bersama anak dara yang sedemikian menyenangkan, kalau dibilang Pwe-giok sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun, maka hakekatnya dia bukan manusia.</p>
<p>Apalagi iapun tahu anak dara itu sedemikian cinta padanya, ia tahu, asalkan dirinya &#8220;mau&#8221;, tidak nanti anak dara itu menolaknya.</p>
<p>-oOo- -oOo- -oOo-</p>
<p>Malam nan sunyi, cahaya bintang yang redup menyinari kertas jendela dengan lembutnya.</p>
<p>Di tengah malam yang hening dan lembut itu, akhirnya Pwe-giok tidak tahan, ia menjulurkan tangannya dan membelai rambut Lui-ji yang halus itu yang terurai di atas bantal, tiba-tiba iapun merasa sangat panas.</p>
<p>Teringat olehnya ketika beberapa malam dia berada bersama Lim Tay-ih tempo hari juga dirasakan sangat panas, begitu panas sehingga urusan apapun tak terpikir untuk dikerjakannya, tapi rasa panas itupun mendorongnya mengerjakan urusan apapun.</p>
<p>Terbayang olehnya tubuh Lim Tay-ih yang agak menggigil itu, bibirnya yang gemetar&#8230; gemetar yang menggetar sukma, yang sukar untuk dilupakan seumur hidup.</p>
<p>Kelembutan Lim Tay-ih, kejudasannya waktu itu, semua itu membuatnya sukar untuk melupakannya.</p>
<p>Waktu itu dia tidak menceritakan rahasia penyamarannya, tapi jelas Lim Tay-ih telah mengetahui siapa dia.</p>
<p>Perempuan umumnya memang ada semacam indera yang misterius, lebih-lebih terhadap orang yang paling dekat dengan dia.</p>
<p>Misalnya sang ibu terhadap anaknya, isteri terhadap suaminya, daya perasa mereka yang tajam dan peka itu sungguh sukar untuk dijelaskan oleh siapapun.</p>
<p>Sebab itulah, kemudian ketika Lim Tay-ih merasa ada orang menguntit jejak mereka, maka dia lantas bertindak kasar terhadap Pwe-giok, supaya orang lain takkan mencurigai dia lagi sebagai Ji Pwe-giok yang sudah &#8220;mati&#8221; itu.</p>
<p>Ketika Lim Tay-ih menyerangnya, setiap tusukan pedangnya yang mengenai tubuh Pwe-giok hanya menimbulkan rasa bahagia, sebab ia tahu ketika pedang si nona mengenai tubuhnya, hati si nona jauh lebih sakit daripada dia sendiri.</p>
<p>Dan sekarang, di mana Lim Tay-ih?</p>
<p>Di manapun nona itu berada pasti juga sedang memikirkan dia.</p>
<p>Hati Pwe-giok seakan-akan sakit tertusuk pedang, serentak ia menarik kembali tangannya yang sedang membelai rambut Lui-ji itu.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Malam yang serba ruwet itu akhirnya berlalu juga dan Yang Cu-kang tetap tidak muncul.</p>
<p>Waktu Lui-ji mendusin, dilihatnya Pwe-giok belum lagi bangun, teringat dirinya telah tidur semalaman bersama seorang lelaki, timbul semacam perasaan aneh dalam hati Lui-ji, entah kejut entah girang.</p>
<p>Meski Pwe-giok tidak berbuat apa-apa terhadapnya, tapi Lui-ji merasakan dirinya sekarang sudah lain daripada Lui-ji kemarin. Ia merasa dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sudah seorang perempuan benar-benar, seorang perempuan dewasa.</p>
<p>Tanpa terasa tersembul juga senyuman bahagia pada wajahnya.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Sang surya sudah terbit tinggi di langit, Lui-ji memandangi wajah Pwe-giok yang masih lelap itu, gaya tidur Pwe-giok seperti seorang anak kecil saja, tanpa terasa Lui-ji mengangkat tangannya dari dalam selimut dan meraba pelahan hidung Pwe-giok, ucapnya dengan suara lembut, &#8220;Alangkah baiknya jika di sini adalah rumah kita, tentu akan kubuatkan sarapan pagi yang enak bagimu, bubur buatanku paling disukai Sacek, kukira kaupun suka, sedikitnya kau akan menghabiskan lima mangkuk besar.&#8221;</p>
<p>Mendadak Pwe-giok tertawa dan berkata, &#8220;Lima mangkuk saja belum banyak, takaranku adalah sepuluh mangkuk!&#8221;</p>
<p>Keruan Lui-ji kaget dan cepat menarik kembali tangannya serta menutupi mukanya dengan selimut, omelnya, &#8220;Oi, kukira kau ini orang baik, kiranya kaupun telur busuk! Sudah mendusin, tapi pura-pura tidur, bikin&#8230; bikin &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bikin&#8221; apa, tak dapat diucapkannya.</p>
<p>Pwe-giok memandangi rambut si nona yang terurai di luar selimut itu, tanpa terasa ia terkesima pula, iapun tidak tahu sesungguhnya dirinya ini bahagia atau celaka?</p>
<p>Ia tidak berani lama-lama lagi tinggal di tempat tidur, cepat ia melompat bangun dan membuka jendela, hawa udara di luar terasa segar dan sejuk, ia menarik napas dalam-dalam, lalu bergumam, &#8220;Aneh, Yang Cu-kang belum juga muncul.&#8221;</p>
<p>Teringat kepada Yang Cu-kang, seketika rasa hangat dalam hati Lui-ji menjadi dingin kembali, cepat iapun melompat turun dan berseru, &#8220;Bisa jadi dia tidak berani datang lagi.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tidak menanggapinya.</p>
<p>&#8220;Jika dia berani datang kemari, mengapa tidak kelihatan?&#8221; kata Lui-ji pula.</p>
<p>Sejenak Pwe-giok termenung, katanya kemudian dengan gegetun, &#8220;Akupun tidak tahu apa sebabnya? tapi kuyakin pasti bukan lantaran dia tidak berani.&#8221;</p>
<p>Lui-ji tersenyum manis, katanya, &#8220;Bisa jadi lantaran mendadak dia mati, atau mendadak matanya buta dicakar burung, atau mendadak sakit lepra. Kalau dia tidak datang, untuk apa kita memikirkannya?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok juga tertawa geli, katanya, &#8220;Yang kupikir sekarang hanya ingin makan bubur ayam.&#8221;</p>
<p>Lui-ji berkeplok dan berkata, &#8220;Pikiran bagus, bubur ayam dan Yucakue, nikmat!&#8221;</p>
<p>Karena urusan yang dipikirnya tidak sebanyak Pwe-giok, dengan sendirinya dia jauh lebih gembira daripada anak muda itu, lebih-lebih hari ini, dia merasa sinar sang surya jauh lebih cemerlang daripada biasanya, sampai bumi raya inipun terasa halus dan empuk, berjalan di atasnya juga terasa enteng dan seperti mengambang.</p>
<p>Menjelang lohor, sampailah mereka di wilayah yang dekat dengan Tong-keh-ceng.</p>
<p>&#8220;Masih perlu berapa lama lagi untuk bisa sampai di tempat tujuan?&#8221; tanya Lui-ji</p>
<p>&#8220;Tidak lama lagi, paling-paling setengah jam lagi,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>Lui-ji menghela napas lega, ucapnya, &#8220;Syukur alhamdulillah! Akhirnya sampai juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Tong Bu-siang gadungan itu sedikitnya sudah dua hari sampai di sini lebih dulu, dalam waktu dua hari tentu banyak pekerjaan yang dapat dilakukannya,&#8221; kata Pwe-giok dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Kau tidak perlu cemas,&#8221; ujar Lui-ji, &#8220;biarpun dia sampai lebih dulu dua hari, setiba di rumah kan banyak urusan yang perlu diselesaikan dan tidak nanti datang terus membikin celaka orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, semoga demikian hendaknya, aku hanya kuatir&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuatir apa?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>Dengan cemas Pwe-giok menjawab, &#8220;Ku kuatir orang Tong-keh-ceng tidak percaya kepada keteranganku. Coba pikir, jika kau menjadi anak murid Tong Bu-siang dan tiba-tiba kau diberitahu bahwa ayahmu sekarang itu palsu, apakah kau percaya?&#8221;</p>
<p>Persoalan yang terbesar baginya sebelum ini adalah kekuatirannya sukar datang ke Tong-keh-ceng sini, tapi sekarang setiba di Tong-keh-ceng barulah teringat olehnya masih ada banyak persoalan penting yang lain, bahkan persoalan yang satu lebih sulit daripada persoalan yang lain. Sungguh ia sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana dia harus memberi keterangan supaya dapat dipercaya oleh anak murid keluarga Tong.</p>
<p>Lui-ji berkerut kening juga setelah mendengar alasan Pwe-giok itu, katanya kemudian, &#8220;Kau kenal baik dengan anggota keluarga Tong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenal baik apa? Hakekatnya tidak kenal,&#8221; jawab Pwe-giok sambil menyengir</p>
<p>&#8220;Tidak kenal seorangpun?&#8221; Lui-ji menegas.</p>
<p>&#8220;Hanya kenal seorang nona yang bernama Tong Lin,&#8221; sahut Pwe-giok.</p>
<p>Mata Lui-ji berkedip-kedip, dipandangnya anak muda itu seperti tertawa dan tidak tertawa, katanya kemudian, &#8220;Tong Lin, ehm, indah sekali nama ini, tentu orangnya juga sangat cantik.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang Pwe-giok merasa dirinya terlalu banyak bicara, terpaksa ia hanya menjawab singkat, &#8220;Ehm!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kenal akrab dengan dia?&#8221; tanya Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Hanya pernah berjumpa satu kali saja.&#8221;</p>
<p>Lui-ji mencibir, &#8220;Cuma berjumpa satu kali saja lantas senantiasa ingat pada namanya, boleh juga kau ini.&#8221;</p>
<p>Di dampingi oleh seorang anak perempuan yang aneh, banyak olah dan sok cemburu, jalan paling baik baginya adalah tutup mulut dan jangan banyak bicara.</p>
<p>Pada tepi jalan, di bawah pohon yang rindang sana berteduh seorang penjual bakmi pikulan, penjual bakmi ini adalah seorang tua, orang Oh-pak asli, selain bakmi juga menjual penganan lain sebangsa wajik dan sebagainya.</p>
<p>Pwe-giok tidak berhenti untuk makan bakmi, tapi hanya beli beberapa biji penganan dan jajan sekadarnya.</p>
<p>Sebenarnya cukup enak penganan itu, terutama bila orang sedang lapar. Tapi Lui-ji hanya menggigit satu kali saja dan rasanya seperti sukar menelannya.</p>
<p>Pwe-giok tertawa dan berkata, &#8220;Apakah kau masih marah?&#8221;</p>
<p>Dengan bersungut Lui-ji menjawab, &#8220;Masa aku secemburu Ciong Cing?&#8221;</p>
<p>Habis bicara, ia merasa rada kikuk, ia menunduk dengan muka merah, kesempatan itu digunakannya untuk menelan makanan dalam mulutnya itu, lalu berkata pula, &#8220;Aku tiba-tiba ingat sesuatu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo? Apa?&#8221; tanya Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Kupikir, mungkin sekali Yang Cu-kang sudah tiba lebih dulu di Tong-keh-ceng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bisa jadi,&#8221; sahut pwe-giok samar-samar.</p>
<p>&#8220;Dia tahu kita pasti akan datang ke Tong-keh-ceng, maka lebih dulu dia akan menunggu kita di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin.&#8221; kata Pwe-giok pula.</p>
<p>&#8220;Bisa jadi sebelumnya dia sudah berunding dengan Tong Bu-siang gadungan, asalkan kita masuk ke Tong-keh-ceng, serentak mereka akan memperdayai kita, mungkin kesempatan bicara bagi kita saja tidak ada, lalu bagaimana kita akan mampu membongkar tipu muslihat di Tong-keh-ceng sana?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tidak bicara lagi, air mukanya tambah kelam.</p>
<p>Sebenarnya bukannya dia tidak berpikir sejauh itu, iapun tidak tahu bahwa kecil sekali harapan untuk berhasil pada perjalanannya ini, sebaliknya sangat besar bahayanya.</p>
<p>Akan tetapi ketika dilihatnya kegembiraan Lui-ji tadi, mana dia sampai hati mengutarakan rasa sedihnya kepada anak dara itu dan membuatnya ikut kuatir, bila ada kegembiraan, dia sangat suka menikmatinya bersama orang lain.</p>
<p>Tapi kesedihan dan penderitaan, dia lebih suka memikulnya sendiri.</p>
<p>&#8220;Jika kita pergi ke Tong-keh-ceng cara begini saja, hakekatnya sama saja seperti mengantar kematian,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Hampir setiap orang di Tong-keh-ceng adalah jagoan, bila Tong Bu-siang gadungan itu memberi perintah, seketika kita bisa berubah menjadi pusat sasaran senjata rahasia mereka yang berbisa itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa mau dikatakan lagi!&#8221; ujar Pwe-giok sambil menghela napas panjang, &#8220;Dalam keadaan terpaksa, segala bahaya tak terpikir lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akan tetapi engkau&#8230;&#8221; mendadak ucapan Lui-ji itu terputus setengah jalan, sebab pada saat itu juga dari kejauhan berkumandang suara roda kereta dan ringkik kuda disertai debu mengepul tinggi, tampaknya tidak sedikit jumlah orang yang datang ini.</p>
<p>&#8220;Mungkinkah orang-orang ini datang dari Tong-keh-ceng?&#8221; bisik Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Ehm, bisa jadi,&#8221; sahut Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Bolehkah kita cari keterangan tentang Tong-keh-ceng kepada mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak boleh,&#8221; jawab Pwe-giok. &#8220;Bukan saja tidak boleh, bahkan sedapatnya jangan kita memperlihatkan gerak-gerik yang dapat menarik perhatian dan menimbulkan curiga mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ku paham,&#8221; ujar Lui-ji.</p>
<p>Sementara itu kereta sudah semakin dekat, mereka menyingkir ke tepi jalan dan menunduk. Namun Lui-ji tidak tahan, ia coba melirik ke sana.</p>
<p>Dilihatnya ada iringan belasan kereta barang kawalan, seorang pengiring mondar mandir mengawasi jalannya konvoi itu. Dua ekor kuda yang tinggi besar di bagian depan berpenunggang dua orang lelaki kekar.</p>
<p>Kereta barang itu memakai tanda pengenal panji kecil segi tiga, namun panjinya tergulung. Kedua lelaki kekar berbaju perlente itupun adem ayem dan lagi mengobrol iseng.</p>
<p>Belum jauh konvoi kereta barang itu lewat, Lui-ji tidak tahan dan segera bertanya kepada Pwe-giok, &#8220;Inikah rombongan Popiau (pengawal barang)?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm,&#8221; Pwe-giok mengangguk.</p>
<p>&#8220;Selamanya tidak pernah kulihat konvoi kereta barang kawalan begini, tampaknya menarik juga,&#8221; kata Lui-ji dengan tertawa. &#8220;Jika aku menjadi lelaki, bisa jadi akupun ingin mencicipi rasanya menjadi jago pengawal barang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tampaknya memang menarik, tapi kalau kepergok sahabat kaum Lok-lim (rimba hijau, artinya kawanan bandit yang keluar masuk hutan) akan menjadi kurang menarik,&#8221; ujar Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Konon waktu iring-iringan kereta Piaukiok (perusahaan ekspedisi) berjalan, seorang pengiringnya harus berteriak-teriak di depan, harus bersikap garang, bahkan harus menonjolkan nama perusahaannya. Akan tetapi sekarang kawanan pengiring kereta itu tidak berteriak-teriak minta jalan, bahkan panji pengenalnya juga di gulung, sebab apakah bisa begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab daerah sini sudah termasuk wilayah kekuasaan Tong-keh-ceng, tindakan mereka ini adalah sebagai tanda menghormati Tong-keh-ceng. Kau lihat kedua jago pengawal yang adem-ayem tadi, mereka dapat bersenda gurau tanpa kuatir apapun, justeru lantaran mereka yakin di daerah pengaruh Tong-keh-ceng tidak bakalan diganggu oleh kawanan bandit yang buta.&#8221;</p>
<p>Lui-ji mencibir, ucapnya, &#8220;Huh, hanya Tong-keh-ceng sekecil itu apanya yang hebat? jika bukan lagi banyak urusan, pasti akan kuganggu mereka.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok hanya tertawa saja.</p>
<p>Memang, puteri Siau-hun-kiongcu, keponakan Hong Sam, dengan sendirinya tidak pandang sebelah mata terhadap Tong-keh-ceng.</p>
<p>Akan tetapi di dunia Kangouw ini seluruhnya terdapat berapa orang Siau-hun-kiongcu dan berapa orang Hong-samsiansing?</p>
<p>Tampaknya Lui-ji ingin omong apa-apa lagi tapi mendadak muncul dua penunggang kuda berbaju hitam, kuda dilarikan secepat terbang, kedua penunggangnya yang kekar itu mahir sekali mengendalikan kudanya, dari jauh mereka lantas berteriak-teriak sambil menggapai, &#8220;Ong-toapiauthau! Ci-toapiauthau, tunggu, berhenti dulu!&#8221;</p>
<p>Pengiring yang berada di belakang konvoi kereta barang tadi melihat datangnya kedua orang ini, segera iapun berseru, &#8220;Itu dia ksatria dari Tong-keh-ceng telah menyusul kemari, harap kedua Piauthau suka berhenti dulu, mereka memanggil kalian!&#8221;</p>
<p>Cukup lantang suara pengiring kereta itu dan dapat didengar oleh kedua Piausu yang berjalan di depan. Segera mereka memutar kudanya dan memburu ke belakang sini sambil bertanya, &#8220;Ada urusan apa?&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendengar kedua penunggang kuda berseragam hitam yang menyusul dari belakang itu adalah orang Tong-keh-ceng, mau tak mau Pwe-giok dan Lui-ji menaruh perhatian terhadap mereka. Pwe-giok pura-pura berjongkok untuk membetulkan sepatunya.</p>
<p>Kelihatan kedua orang itu sangat tergesa-gesa dengan wajah prihatin, masih jauh mereka sudah melompat turun dari kuda masing-masing. Kedua Piausu tadi juga turun dari kuda mereka dan menyongsongnya.</p>
<p>Piausu yang disebut she Ci itu tampaknya gesit dan cekatan, suaranya lantang, ia memberi hormat dan menyapa, &#8220;Karena hari masih terlalu pagi, ketika rombongan kami lalu di daerah sini, maka kami tidak berani mengganggu. Namun kartu kehormatan dan beberapa macam oleh-oleh itu adalah siaute dan Ong Tek yang mengantar sendiri ke tempat kalian.&#8221; </p>
<p>Rupanya dia kuatir didamperat oleh pihak Tong-keh-ceng, maka sedapatnya ingin memberi penjelasan.</p>
<p>Pwe-giok saling pandang sekejap dengan Lui-ji, diam-diam mereka terkejut, pikirnya, &#8220;Jangan-jangan Tong Bu-siang gadungan itu bermaksud menimbulkan malapetaka dan banjir darah di daerah Sujwan ini, maka kedua orangnya dikirim ke sini untuk melakukan keganasan?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menjadi ragu apakah dirinya harus ikut campur kejadian ini atau tidak? Dia tidak sampai hati menyaksikan kedua piausu itu mengalami nasib jelek, tapi juga tidak suka &#8220;memukul rumput mengejutkan ular.&#8221;</p>
<p>Siapa tahu kedua orang dari Tong-keh-ceng itu tidak bertindak apa-apa, sebaliknya salah seorang di antaranya malah tertawa dan berkata, &#8220;Justeru setelah membaca kartu nama kalian baru kami tahu ada Toapiauthau dari Wi-wan-piaukiok lalu di sini, apabila kami tidak sempat memberi sambutan apa-apa, diharap suka memberi maaf.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak berani,&#8221; jawab Ong Tek sambil memberi hormat.</p>
<p>Ci-toapiauthau itu bernama Ci Kian, katanya, &#8220;Kedua Suhu memburu kemari secara tergesa-gesa, entah ada petunjuk apa kiranya?&#8221;</p>
<p>Anak murid keluarga Tong itu tampak prihatin, ucapnya, &#8220;Soalnya ditempat kami&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak ia tekan suaranya sehingga sangat lirih, satu kata saja tak dapat didengar lagi oleh Pwe-giok dan Lui-ji. Untuk mendekati mereka jelas tidak mungkin, maka diam-diam Lui-ji sangat mendongkol.</p>
<p>Setelah bisik-bisik, air muka Ong Tek dan Ci Kian mendadak berubah, serunya, &#8220;He, bisa terjadi begitu?&#8221;</p>
<p>Anak murid keluarga Tong itu mengangguk dengan prihatin.</p>
<p>Lalu Ong Tek dan Ci Kian tidak bicara lagi, dengan pelahan mereka memberi perintah kepada pengiring kereta tadi, habis itu mereka lantas mencemplak ke atas kuda dan pergi bersama kedua orang dari Tong-keh-ceng itu.</p>
<p>Sesudah jauh mereka pergi barulah Lui-ji berkata sambil berkerut kening, &#8220;Sesungguhnya apa yang terjadi di Tong-keh-ceng, mengapa kedua orang itu kelihatan cemas dan gugup?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Pwe-giok menanggapi Lui-ji sudah mendahului menjawabnya sendiri, &#8220;Mungkin semua ini adalah tipu muslihat yang sengaja diatur oleh Tong Bu-siang gadungan itu, mereka sengaja menipu kedua orang ini ke Tong-keh-ceng, padahal di sana tidak terjadi apa-apa.&#8221;</p>
<p>Makin omong makin dirasakan betapa cepat jalan pikirannya sendiri, maka segera ia menyambung lagi, &#8220;Kita tidak boleh sembarangan menerjang ke Tong-keh-ceng, kita harus mencari keterangan lebih dulu, kita tunggu&#8230;&#8221;</p>
<p>Sudah sekian lama Pwe-giok berdiam, kini mendadak bersuara, &#8220;Dapatkah kau terima suatu permintaanku?&#8221;</p>
<p>Lui-ji melengak, jawabnya, &#8220;Maukah kau katakan lebih dulu mengenai urusan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Katakan dulu, mau terima atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, tak tersangka kaupun serupa anak kecil,&#8221; ujar Lui-ji dengan tertawa. &#8220;Aku tidak tahu urusan apa yang kau minta, mana dapat kukatakan menerima atau tidak. Apabila kau suruh aku makan kotoran umpamanya&#8230;&#8221; ia tertawa geli sehingga muka sendiri menjadi merah.</p>
<p>&#8220;Belum pernah kuminta apa-apa padamu, tapi urusan ini, betapapun kuharap harus kau terima,&#8221; kata Pwe-giok.</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; jawab Lui-ji akhirnya sambil menggigit bibir. &#8220;Urusan apakah pasti akan kusanggupi.&#8221;</p>
<p>Dengan suara tertahan Pwe-giok lantas bertutur, &#8220;Begitu masuk Tong-keh-ceng, di sebelah kiri ada sebuah Ciu-lau (restoran berloteng), itulah tempat penyambutan tamu Tong-keh-ceng. Kalau sudah berada di situ, biarpun mereka tahu kedatanganmu adalah untuk mencari perkara, mereka tidak bakalan mengganggu dirimu, sebab hal ini sudah menjadi peraturan rumah tangga Tong turun temurun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, barangkali hendak kau suruh kumakan enak di restoran itu? Apa keistimewaan masakan restoran itu, adakah bebek panggang?&#8221; tanya Lui-ji dengan tertawa. &#8220;Jika ada, sekali ini pasti akan kusikat lebih dulu kulitnya.&#8221;</p>
<p>Setelah makan bebek panggang dahulu dan diolok-olok oleh Kwe Pian-sian, sampai saat ini ia belum lagi lupa tentang kulit bebek panggang.</p>
<p>Hati Pwe-giok menjadi terharu, ucapnya dengan lembut, &#8220;Yang ingin kuminta padamu adalah supaya kau berjanji setiba di Tong-keh-ceng, langsung kau naik ke loteng restoran itu, apapun yang terjadi atas diriku, tidak boleh kau turun dari sana.</p>
<p>Sampai lama Lui-ji termenung, katanya kemudian sambil tersenyum pedih, &#8220;Jika terjadi apa-apa atas dirimu, apakah kau kira aku dapat duduk tenteram dan makan bebek panggang di restoran itu?&#8221;</p>
<p>Ia merasa tangan Pwe-giok mendadak menjadi dingin, lebih dingin daripada es, Ia dapat memahami perasaan Pwe-giok saat itu, terpaksa ia tertawa dan berkata pula, &#8220;Ya, apapun juga tetap kuterima permintaanmu, aku berjanji takkan meninggalkan restoran itu.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Ketika mereka berada di jalan raya menuju ke Tong-keh-ceng, mendadak orang yang berlalu lalang di situ bertambah banyak.</p>
<p>Pwe-giok melihat orang-orang itu kebanyakan adalah sahabat Kangouw yang berilmu silat tinggi, ada yang mencorong sinar matanya, tampaknya sangat tinggi ilmu silatnya.</p>
<p>Mereka pun berpaling mengamat-amati Pwe-giok dan Lui-ji, ada pemuda cakap dan gadis cantik berjalan bersama dengan bergandengan tangan, siapapun pasti akan melemparkan pandang sekejap dua kejap kepada mereka.</p>
<p>Ini belum lagi aneh, yang aneh ialah air muka orang-orang ini semuanya kelihatan prihatin, seperti menanggung beban pikiran apa-apa. Beberapa orang di antaranya ketika melihat Ji Pwe-giok lantas menampilkan rasa terkejut, seperti kenal padanya, tapi kebanyakan orang hanya memandangnya sekejap saja, lalu menunduk dengan muram.</p>
<p>Dalam pada itu pintu gerbang perkampungan Tong-keh-ceng sudah kelihatan dari jauh, orang-orang yang melalui jalan ini pasti akan menuju ke Tong-keh-ceng, tapi mengapa ada orang sebanyak ini yang berkunjung ke Tong-keh-ceng secara beramai-ramai begini?</p>
<p>Apakah terjadi sesuatu peristiwa besar di Tong-keh-ceng?</p>
<p>Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok erat-erat, tiba-tiba ia mendesis, &#8220;Kau kira orang-orang ini apakah tertipu oleh Tong Bu-siang gadungan itu sehingga mereka berbondong-bondong datang ke sini? Tentunya dia sengaja mengumpulkan mereka, lalu membunuh mereka sekaligus dengan senjata rahasianya yang berbisa itu.&#8221;</p>
<p>Bila teringat kepada keganasan Ji Hong-ho gadungan, Yang Cu-kang dan lain-lain, tanpa terasa Lui-ji merinding, ucapnya pula dengan parau, &#8220;Dengan demikian, maka segenap jago persilatan di daerah Sujwan ini akan sekaligus terjaring seluruhnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin nyalinya belum sebesar itu,&#8221; ujar Pwe-giok dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Toh orang lain akan memasukkan kejadian itu dalam perhitungan dengan keluarga Tong,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Dia kan berusaha mengacau dunia, tujuannya justeru ingin mengaduk dunia Kangouw ini hingga kacau balau, apapun dapat dilakukannya.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok termenung, ucapnya kemudian, &#8220;Umpama dia berani berbuat demikian, di antara anak murid keluarga Tong tentu juga ada yang cerdik dan pandai, belum tentu mereka mau menurut secara membabi buta.&#8221;</p>
<p>Meski di mulut dia berkata demikian, dalam hati sebenarnya jauh lebih kuatir daripada Lui-ji, sebab dia tahu betapa keras tata tertib rumah tangga Tong, perintah sang ketua harus dipatuhi dan tidak mungkin berubah, sekalipun anak murid keluarga Tong ada yang tidak setuju juga tidak berani membangkang secara terang-terangan.</p>
<p>Maklumlah anggota keluarga Tong terdiri dari anak cucu keluarga Tong sendiri tanpa unsur-unsur dari luar, tata tertib rumah tangga lebih keras daripada tata tertib perguruan, Ciangbunjin adalah pimpinan tertinggi, maka kekuasaan kepala keluarga Tong jauh lebih besar daripada ketua perguruan lain, meski Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay sekalipun.</p>
<p>Lui-ji seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi pada saat itu juga tiba-tiba diketahui orang-orang yang berjalan di depan begitu sampai di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng, serentak orang-orang itu sama bertekuk lutut. Bahkan di tengah kerumunan orang banyak itu sayup-sayup terdengar suara orang menangis.</p>
<p>Lui-ji saling pandang sekejap dengan Pwe-giok, keduanya sama-sama heran.</p>
<p>Dalam pada itu sekeliling tanah lapang di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng telah berjubal penuh orang berlutut, di dalam pintu gerbang juga ada belasan orang yang berlutut dan membalas hormat kepada orang-orang di luar.</p>
<p>Belasan orang di dalam pintu itu tampak berpakaian berkabung dengan wajah yang berduka cita, beberapa diantaranya bahkan merah bendul matanya. Pwe-giok kenal seorang diantaranya yang bermuka bundar dan rada gendut, yaitu murid ke tujuh dalam keluarga Tong, terkenal di dunia Kangouw dengan julukan &#8220;Jian-jiu-mi-to&#8221; atau si Budha gendut seribu tangan, namanya Tong Siu-jing, dia inilah yang menjabat sebagai juragan restoran yang merangkap sebagai penyambut tamu.</p>
<p>Seorang lagi juga dikenal Pwe-giok, yaitu yang bermuka lebar, ialah Tong Siu-hong yang berjuluk &#8220;Thi-bin-giam-lo&#8221; atau si raja akhirat berwajah besi, artinya selalu bertindak tegas tanpa kenal ampun dan tidak pandang bulu.</p>
<p>Kedua orang ini bukan saja terhitung anak murid keluarga Tong pilihan, bahkan di dunia Kangouw juga sudah lama termasyhur namanya. Tapi kini kedua orang inipun memakai baju berkabung, menyambut tamu dalam kedudukannya sebagai Haulam atau putera orang yang wafat. Jelaslah sekarang bahwa dalam keluarga Tong telah kematian orang, bahkan orang yang mati ini berkedudukan sangat tinggi dan terhormat.</p>
<p>Sungguh Pwe-giok tidak dapat menerkanya siapakah yang meninggal dunia itu?</p>
<p>Lui-ji tampaknya juga tercengang, bisiknya kepada Pwe-giok, &#8220;Kita terlambat tiba di sini, entah sudah berapa banyak anggota keluarga Tong yang menjadi korban kekejiannya. Dia tidak mencelakai orang luar, tapi membunuh dulu anggota keluarganya sendiri, hal inipun sangat aneh.&#8221;</p>
<p>Meski dia bicara dengan pelahan, tapi ada sebagian orang yang telah berpaling dan memandangnya. Orang lain sama bertekuk lutut, hanya mereka berdua saja yang berdiri ditengah-tengah orang banyak, dengan sendirinya sangat menarik perhatian orang lain.</p>
<p>Pwe-giok berkerut kening, cepat ia tarik Lui-ji dan ikut berlutut. Meski tidak rela, tapi mau tak mau anak dara itu menurut juga.</p>
<p>Terdengarlah seorang berseru dengan menangis, &#8220;Sungguh langit dan awan yang tak dapat diramal, dan manusia setiap saat dapat dirundung malang atau tertimpa rejeki. Orang yang bijaksana seperti Tong-loyacu kita harapkan sedikitnya akan berumur panjang hingga seratus tahun, siapa tahu sekarang beliau telah wafat.&#8221;</p>
<p>Lalu seorang tadi menyambung, &#8220;Tapi orang meninggal tak dapat hidup kembali, hendaklah saudara jangan terlalu berduka. Kepergian Tong-loyacu merupakan suatu kehilangan besar bagi dunia Kangouw umumnya dan Bu-lim daerah Sujwan khususnya, maka untuk selanjutnya diperlukan kepemimpinan saudara sekalian.&#8221;</p>
<p>Orang yang bicara ini sudah ubanan, tampaknya seorang tokoh angkatan tua dunia persilatan daerah Sujwan, sebab itulah dia hanya membahasakan pihak tuan rumah sebagai saudara karena dia anggap dirinya sendiri lebih tua.</p>
<p>Sebaliknya para anak murid keluarga Tong hanya mengangguk rendah-rendah dan tidak ada yang menanggapi, semuanya tampak menangis sedih.</p>
<p>Yang mati ternyata &#8220;Tong Bu-siang&#8221; adanya.</p>
<p>Sungguh Pwe-giok tidak berani percaya, tapi mau tak mau harus percaya.</p>
<p>Cu Lui-ji juga melenggong, sampai sekian lama tak dapat bicara. Setelah orang yang berlutut itu beramai-ramai sudah bangkit, barulah dia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan, &#8220;Tong Bu-siang gadungan tidak nanti mati, sampai Tong Giok yang merupakan orang kepercayaan keluarga Tong juga mengakui Tong Bu-siang palsu itu sukar dibedakan cirinya, tidak nanti anggota keluarga Tong yang lain dapat mengetahui kepalsuannya hanya dalam waktu sesingkat ini.&#8221;</p>
<p>Setelah mengerling kembali ia berkata, &#8220;Maka kukira, bisa jadi dengan jalan ini dia sengaja hendak memancing kedatangan orang banyak&#8230;&#8221;</p>
<p>Tapi Pwe-giok lantas menggeleng, katanya, &#8220;Jika dia ingin memancing orang-orang ini ke sini cara lain masih cukup banyak, kukira tidak perlu pura-pura mati. Apalagi duka cita yang diperlihatkan anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak pura-pura.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, jadi kau anggap anak murid keluarga Tong telah mengetahui kepalsuannya, lalu membunuhnya?&#8221; tanya Lui-ji.</p>
<p>&#8220;Juga tidak bisa terjadi begitu,&#8221; kata Pwe-giok. &#8220;Kalau anak murid keluarga Tong mengetahui kepalsuannya dan membunuhnya, tentu mereka takkan sedemikian berdukanya dan mengadakan upacara pemakaman sebesar ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis bagaimana, apakah dia mati karena sakit keras mendadak?&#8221; kata Lui-ji pula.</p>
<p>&#8220;Juga tidak mungkin,&#8221; ujar Pwe-giok. &#8220;Ji&#8230; orang she Ji itu cukup licin dan dapat berpikir panjang, kalau dia sudah berani mengirimnya ke sini tentu kesehatan orang ini dapat diandalkan, tidak nanti dia mati sakit. Mana mereka mau bersusah payah membuang pikiran dan tenaga serta daya atas diri yang tak dapat diandalkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul juga,&#8221; kata Lui-ji. &#8220;Jika mereka berani mengirimnya ke sini, dengan sendirinya mereka yakin Tong Bu-siang gadungan itu takkan ketahuan belangnya dan juga tidak mungkin mati sakit mendadak. Tong Bu-siang gadungan sendiri juga tidak mungkin pura-pura mati, lantas mengapa dia mati?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok tak dapat menjawabnya.</p>
<p>Kejadian itu memang di luar dugaan dan sukar untuk dibayangkan.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Orang yang melayat itu kemudian membanjir masuk ke dalam Tong-keh-ceng.</p>
<p>Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut arus manusia masuk ke sana. Urusan sudah kadung begini, mereka hanya dapat maju dan tidak dapat mundur lagi.</p>
<p>Terlihat setiap rumah di kedua sisi jalan raya di dalam Tong-keh-ceng sama tutup pintu, semuanya ikut berkabung, wajah setiap orang tampak muram durja. Maka Pwe-giok tambah yakin apa yang terjadi ini pasti bukan cuma pura-pura belaka.</p>
<p>Pada ujung jalan raya sana ada sebuah ruang pendopo yang sangat luas, di situlah biasanya anak murid keluarga Tong mengadakan rapat, tapi sekarang pendopo ini digunakan sebagai tempat semayam peti mati Tong Bu-siang.</p>
<p>Terdengar suara tangisan ramai di ruang besar itu, para pelayat satu persatu bergiliran masuk ke sana menyampaikan penghormatan terakhir.</p>
<p>Pwe-giok dan Lui-ji juga ikut di belakang dan masuk ke ruangan pendopo itu. Wajah setiap orang tampak berduka cita, sekalipun orang yang biasanya tidak ada hubungan dengan Tong Bu-siang, kini mau tak mau juga ikut sedih oleh suasana yang memilukan ini.</p>
<p>Di tengah pendopo terletak peti mati Tong Bu-siang dan meja sembahyang, di belakang peti mati terpasang tabir yang panjang, suara tangisan di belakang tabir terdengar lebih berduka daripada yang lain, sebab famili perempuan keluarga Tong sama berada di situ.</p>
<p>Jika suara tertawa orang perempuan umumnya lebih lirih daripada suara tertawa orang lelaki, maka suara tangis orang perempuan jauh lebih keras daripada lelaki.</p>
<p>Di kedua sisi pendopo terdapat dua &#8211; tiga puluh meja bundar besar, hampir semua meja sudah penuh dikelilingi tetamu, agaknya para pelayat sedang menunggu akan mencicipi perjamuan berduka cita keluarga Tong.</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun. Para pelayat ini entah datang untuk makan atau benar-benar hendak berbela sungkawa terhadap orang mati?</p>
<p>Pelayat yang datang belakangan banyak yang melongok ke sini dan memandang ke sana, kuatir tidak mendapatkan tempat di meja perjamuan. Tapi segera ada anak murid keluarga Tong yang bertugas sebagai penyambut tamu membawa mereka keluar. Kiranya di tanah lapang di depan pendopo juga sudah penuh terpasang berpuluh meja perjamuan.</p>
<p>Maka senanglah para pelayat itu, semuanya berduduk lalu perjamuan lantas dimulai, santapan lezat pun disajikan berturut-turut.</p>
<p>Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut berduduk di tengah para pelayat itu. Karena menanggung macam-macam pikiran, tidak ada napsu makan mereka, sebaliknya para pelayat yang tadi kelihatan berduka cita kini sedang makan dengan lahapnya.</p>
<p>Diam-diam Lui-ji menarik ujung baju Pwe-giok dan bertanya, &#8220;Apakah kita hanya duduk makan di sini, habis makan lantas angkat kaki, begitu?&#8221;</p>
<p>Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menjawab</p>
<p>Sambil menggigit bibir Lui-ji berkata pula, &#8220;Mengapa tidak kau cari nona yang bernama Tong Lin itu untuk mencari keterangan tentang apa yang terjadi sebenarnya?&#8221;</p>
<p>Nyata nadanya masih berbau cuka alias cemburu.</p>
<p>Selagi Pwe-giok merasa serba salah, tiba-tiba datang seorang genduk cilik yang mendekat ke sini, yang dicari juga bukan orang lain, tapi justeru Pwe-giok.</p>
<p>Setiba di depan Pwe-giok, babu cilik itu memberi hormat dan bertanya dengan suara pelahan, &#8220;Tuan ini Ji Pwe-giok, Ji-kongcu bukan?&#8221;</p>
<p>Tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa babu cilik itu mengenalinya, lebih-lebih tak diketahuinya ada urusan apa mendadak dirinya ditanyakan? Terpaksa ia menjawab. &#8220;Betul, aku memang Ji Pwe-giok.&#8221;</p>
<p>Dengan suara bisik-bisik seperti sangat rahasia babu cilik itu berkata pula, &#8220;Orang yang terhormat sebagai Ji-kongcu mana boleh berduduk di sini? Di dalam ada tempat bagi tamu agung, silakan Ji-kongcu berpindah ke dalam saja.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok menjadi bingung, mengapa dirinya bisa mendadak berubah menjadi tamu agung, ia menjawab dengan ramah, &#8220;Di sini sudah cukup baik, nona tidak perlu repot.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi nona kami memberi pesan wanti-wanti kepada hamba agar jangan kekurangan pelayanan terhadap Ji-kongcu, jika Ji-kongcu tidak sudi pindah ke dalam, tentu hamba akan dimarahi nona.&#8221;</p>
<p>Mendengar &#8220;nona&#8221; yang disebut-sebut itu, seketika air muka Lui-ji berubah kecut, segera ia berdiri dan berkata, &#8220;Jika demikian, marilah kita pindah ke dalam saja.&#8221;</p>
<p>Genduk cilik itu memandangi Lui-ji dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, lalu berkata pula, &#8220;Tapi di dalam juga sudah&#8230; sudah penuh, tinggal satu tempat saja, maka&#8230; maka nona&#8230;&#8221;</p>
<p>Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia tarik Pwe-giok dan diajak masuk ke dalam.</p>
<p>Tampaknya genduk itu menjadi serba susah, ingin merintangi juga tidak berani, terpaksa ia berkata, &#8220;Harap nona tinggal di sini saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Lui-ji menoleh dan tertawa, katanya, &#8220;Bukan nona, tapi nyonya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nyonya?&#8221; genduk itu menegas dengan mulut melongo.</p>
<p>&#8220;Ya, nyonya Ji, Ji-hujin,&#8221; kata Lui-ji</p>
<p>Genduk itu tambah tercengang, &#8220;Ji&#8230; Ji-hujin?&#8221; kembali ia menegas.</p>
<p>&#8220;Betul, Ji-hujin,&#8221; Lui-ji tersenyum. &#8220;Kalau Ji-kongcu diundang ke dalam, masakah Ji-hujin mesti duduk sendirian di luar sini?&#8221;</p>
<p>Seketika genduk cilik itu terbelalak, sampai sekian lamanya barulah ia menunduk dan berkata, &#8220;Baiklah, silahkan Tuan dan Nyonya.&#8221;</p>
<p>Kembali Pwe-giok dibuat serba salah oleh olah Lui-ji itu, ia tahu pasti Tong Lin yang berada di belakang tabir itu melihatnya, maka pelayan pribadi ini disuruh mengundangnya ke dalam.</p>
<p>Lui-ji memandangnya dengan tertawa tak tertawa dan mendesis, &#8220;Sudah kuduga, biarpun tidak kau cari dia, tentu dia yang akan mencari dirimu.&#8221;</p>
<p>Setiba di meja perjamuan ruangan dalam, Pwe-giok melihat yang hadir di sini kalau bukan orang tua yang sudah ubanan tentu juga tokoh Bu-lim yang terhormat.</p>
<p>Iapun sungkan berbicara dengan orang, dia hanya memberi hormat sekedarnya kepada hadirin yang lain, lalu berduduk dan angkat sumpit terus mencomot santapan. Sesungguhnya bukan lantaran mereka rakus, tujuannya asalkan mulut terisi, maka bebaslah daripada macam-macam kerewelan.</p>
<p>Sebaliknya orang-orang itu sama mendeliki mereka, agaknya heran mengapa keluarga Tong membawa dua orang &#8220;anak kecil&#8221; ke tempat duduk kaum &#8220;Tokoh besar&#8221; sini.</p>
<p>Untuk menandakan mereka tidak suka akan kehadiran Pwe-giok berdua, mereka hanya saling angkat cawan arak diantara mereka sendiri dan sengaja tidak menghiraukan Pwe-giok. Tak tahunya sikap mereka ini justeru kebetulan malah bagi Pwe-giok.</p>
<p>Waktu itu di balik tabir sana ada sepasang mata yang merah bendul terlalu banyak menangis sedang mengintip, setelah memandang Pwe-giok sekejap, lalu melotot ke arah Lui-ji. Sorot matanya penuh rasa duka dan hampa, juga penuh rasa dendam dan benci.</p>
<p>Untung tiada seorang pun yang memperhatikan sepasang mata itu, sebab pada saat itu juga dari meja perjamuan di pojok sana tiba-tiba maju seorang lelaki jangkung.</p>
<p>Orang ini berwajah hitam dan berpinggang kasar, bergodek, tampangnya sangat menyolok. Dengan langkah lebar ia mendekati layon Tong Bu-siang, lebih dulu ia memberi hormat kepada para hadirin, lalu berseru. &#8220;Tong-loyacu mempunyai nama besar dan terhormat, beliau adalah tokoh utama dunia persilatan wilayah Sujwan sini, sekali ini beliau mendadak wafat, tidak ada seorangpun di dunia persilatan Sujwan sini yang tidak merasa kehilangan dan berduka cita.&#8221;</p>
<p>Kata-kata demikian entah sudah berapa kali diucapkan orang, tapi orang ini masih sok aksi dan mencerocos panjang lebar, tentu saja membosankan hadirin yang lain, semua orang saling pandang dan mengira orang ini mungkin kurang waras.</p>
<p>Tapi lelaki hitam itu seperti tidak perduli dengan orang lain, ia menyambung lagi, &#8220;Yang paling harus disesalkan adalah akhir-akhir ini Tong-loyacu selalu berdiam di dalam rumah dan jarang keluar. Biasanya orang-orang luar memang kurang beruntung dapat berjumpa dengan beliau, sekarang beliau berpulang ke alam baka, selanjutnya kita akan terpisah untuk selamanya dan tidak dapat menemui beliau lagi. Sebab itulah sekarang ada usulku, kita harus memberi penghormatan yang terakhir kali di hadapan wajah beliau sekedar kenang-kenangan.&#8221;</p>
<p>Haulam, yaitu putera yang ditinggal mati, atau diwakilkan muridnya, memberi hormat dan menjawab, &#8220;Tapi peti mendiang guru kami sudah tertutup, maksud baik anda ini kami terima dengan terima kasih di dalam hati saja, di alam baka arwah guru kami pun akan merasa terhibur.&#8221;</p>
<p>Jawaban ini sebenarnya cukup sopan dan beralasan, tapi lelaki muka hitam itu tetap ngotot pada pendiriannya, dia malah mendekati peti mati dan berteriak, &#8220;Kalau untuk memandang terakhir kali saja tidak dapat, bukankah kita akan menyesal selama hidup?&#8221; </p>
<p>Haulam tadi menjawab pula, &#8220;Peti mati yang sudah di tutup tidak boleh diganggu lagi, diharap anda maklum, untuk maksud baik anda kami mengucapkan terima kasih.&#8221;</p>
<p>Meski jawaban mereka kelihatan tetap ramah tamah, tapi air muka mereka sudah kelihatan kurang senang, nadanya juga sudah berubah agak kasar.</p>
<p>Tak tahunya lelaki muka hitam itu tetap tidak tahu diri, masih terus ngotot ingin melihat wajah Tong Bu-siang yang terakhir, ia berteriak pula, &#8220;Ku datang dari tempat beribu Li jauhnya, tentunya tidak boleh pulang dengan kecewa. Sudah lama ku kagum pada nama kebesaran Tong-loyacu, masa untuk melihatnya satu kali saja tidak dapat?&#8221;</p>
<p>Sambil gembar-gembor ia terus berlari mendekati peti mati.</p>
<p>Keruan para hadirin sama gempar, banyak yang mengira orang ini sudah gila, tapi Pwe-giok dapat melihat orang ini pasti mempunyai maksud tujuan tertentu dan sukar diraba.</p>
<p>Bagi Lui-ji, dia justeru berharap orang itu dapat membongkar peti mati selekasnya, ingin diketahuinya di dalam peti mati itu apakah betul Tong Bu-siang atau bukan? Ingin dilihatnya cara bagaimana kematian Tong Bu-siang?</p>
<p>Para Haulam yang berlutut di depan layon menjadi panik juga, serentak mereka berdiri.</p>
<p>Jika dalam keadaan biasa, orang ini berani main gila di Tong-keh-ceng, tentu sejak tadi orang ini telah dibereskan. Tapi sekarang kedudukan mereka adalah keluarga yang sedang berduka-cita, mana boleh pakai kekerasan di depan layon orang tua sendiri.</p>
<p>Terpaksa mereka hanya menghadang saja di depan lelaki muka hitam itu dan menegur dengan menahan rasa gusar, &#8220;Mungkin anda ini mabuk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang mabuk?&#8221; kata orang itu. &#8220;Satu tetes saja aku tidak minum. Tujuanku hanya ingin melihat Tong-loyacu untuk penghabisan kalinya, masa perbuatan itu melanggar undang-undang?&#8221;</p>
<p>Seorang lelaki kekar yang duduk dekat Pwe-giok mendadak menggebrak meja dan berdiri, bentaknya, &#8220;Hendaknya kau tahu diri, sobat! Meski saudara dari keluarga Tong tidak leluasa turun tangan, tapi bila kau berani sembarangan main gila, aku Nyo Eng-tay yang pertama-tama akan memberi hajaran padamu.&#8221;</p>
<p>Nyo Eng-tay ini berjuluk &#8220;Kay-pi-jiu&#8221;, si tangan pembelah pilar, namanya cukup gemilang di dunia persilatan daerah Sujwan. Ucapannya ini juga cukup gagah perkasa dan beralasan, segera ada orang bersorak mendukungnya.</p>
<p>Tak terduga mendadak dari luar ada orang menjengek, &#8220;Hm, Nyo Eng-tay, sebaiknya kau pun tahu diri sedikit dan lekas tutup mulut! Kalau tidak, sebentar orang pun akan membongkar perbuatanmu di Soa-peng-pah dahulu itu!&#8221;</p>
<p>Suara orang itu kedengaran seperti suara banci, para hadirin sama melongok ke arah suaranya, tapi tiada kelihatan bayangan seorangpun.</p>
<p>Namun begitu wajah Nyo Eng-tay sudah lantas merah padam, sekujur badan kelihatan gemetar, benarlah, dengan ketakutan ia lantas duduk kembali dan tidak berani bersuara pula.</p>
<p>Pada saat itu ada seorang tua yang mungkin cukup berkedudukan seperti ingin bicara, tapi seorang tua lain cepat menariknya dan membisikinya, &#8220;Untuk apa Oh-heng mencari susah sendiri? Urusan keluarga Tong biar diselesaikan mereka sendiri, masa orang luar perlu ikut campur?&#8221;</p>
<p>Benar juga, orang itupun duduk kembali dan tutup mulut.</p>
<p>Pwe-giok tambah curiga, kini dapat diketahuinya bahwa maksud tujuan lelaki muka hitam itu jelas sengaja cari perkara, bahkan di belakangnya pasti ada yang mendalanginya. Orang yang bersuara di luar tadi bisa jadi juga begundal &#8220;Ji Hong-ho&#8221; itu.</p>
<p>Jika demikian, kematian &#8220;Tong Bu-siang&#8221; pasti juga mengandung rahasia sangat besar.</p>
<p>Tampaknya anak murid keluarga Tong juga merasakan gelagat tidak enak, diam-diam dari luar sudah masuk beberapa orang dan telah menjaga rapat semua jalan keluar, agaknya lelaki muka hitam itu takkan dibiarkan pergi begitu saja.</p>
<p>Tapi lelaki muka hitam ini hakekatnya tidak ada maksud pergi, dengan suara garang ia malah berkata pula, &#8220;Mengapa kalian tidak mengijinkan orang luar melihat wajah Tong-loyacu yang terakhir, apakah karena kematian Tong-loyacu ada sesuatu yang tidak beres? Jika demikian, kami justeru harus melihat wajahnya.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini kembali membikin gempar para pelayat. Ada sebagian hadirin diam-diam merasakan apa yang dikatakan orang ini juga cukup beralasan.</p>
<p>Tentu saja anak murid keluarga Tong bertambah gusar, segera ada yang membentak, &#8220;Sahabat, kalau bicara hendaknya yang jelas dan tahu aturan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa ucapanku kurang jelas dan melanggar aturan?&#8221; jawab si muka hitam, &#8220;Jika kalian sendiri tidak berbuat salah, mengapa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tutup mulut!&#8221; bentak seorang mendadak.</p>
<p>Suaranya tidak keras, tapi membawa semacam wibawa yang menundukkan orang. Tanpa terasa lelaki bermuka hitam menyurut mundur dan tak berani bersuara lagi. Tertampaklah dari balik tabir sana muncul beberapa orang perempuan berbaju putih berkabung.</p>
<p>Perempuan yang paling depan bertubuh ramping, baju berkabung yang putih mulus bersih sekali, raut wajahnya yang agak lonjong kelihatan penuh rasa berduka, namun tidak mengurangi wibawanya yang kereng dan disegani.</p>
<p>Inilah Tong Ki, nona pertama keluarga Tong yang memegang kekuasaan rumah tangga tertinggi.</p>
<p>Perempuan kedua bermuka bundar, matanya juga bundar besar, kelihatan lembut dan subur, inilah model isteri bijak dan ibu yang baik, menantu teladan. Dia inilah isteri Tong-toakongcu, namanya Li Be-ling.</p>
<p>Orang ketiga bertubuh lemah kurus, matanya yang hitam rada cekung, biasanya selalu berwajah sayu, kini kelihatan lebih berduka.</p>
<p>Dia seperti sengaja melirik sekejap ke arah Pwe-giok, lalu menunduk, sorot matanya memancarkan setitik perasaan benci, seakan-akan menyatakan tidak ingin lagi melihat anak muda itu.</p>
<p>Inilah nona kedua keluarga Tong, yakni Tong Lin.</p>
<p>Begitu muncul dari balik tabir, ketiganya lantas memberi hormat kepada para hadirin. Serentak para tamu membalas hormat mereka.</p>
<p>Sambil menyembah di lantai Tong Ki berkata, &#8220;Atas wafatnya ayah kami dan berkat kehadiran kalian yang sudi melayat kemari, lebih dulu atas nama keluarga kuucapkan terima kasih.&#8221;</p>
<p>Beramai-ramai para tamu menyatakan bela sungkawanya.</p>
<p>Lalu Tong Ki berucap pula, &#8220;Sebenarnya tidak pantas kami keluar menemui para hadirin, tapi lantaran ini&#8230;&#8221; pelahan dia angkat kepalanya dan menatap tajam lelaki muka hitam, lalu iapun berdiri dan bertanya, &#8220;Bolehkah kiranya mengetahui nama anda yang mulia?&#8221;</p>
<p>Lelaki muka hitam berdehem dua-tiga kali, lalu berkata, &#8220;Cayhe Gui Som-lim, tidak lebih hanya Bu-beng-siau-cut (perajurit kecil tidak bernama) dunia Kangouw, hanya saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Tong Ki menarik muka, tukasnya dengan suara bengis, &#8220;Bagus, Gui Som-lim, coba jawab, siapa yang menyuruh kau kemari?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Pwe-giok memuji, &#8220;Nona besar keluarga Tong ini memang benar pahlawan kaum wanita, pintar dan cerdik, sama sekali dia tidak menegur kelakuan Gui Som-lim yang berteriak-teriak tadi, tapi langsung bertanya siapa yang menyuruh dia ke sini. Hanya satu pertanyaan saja sudah mengalihkan perhatian semua orang. Dengan sendirinya Gui Som-lim takkan mengaku diperintah orang lain, tapi bila dia tidak dapat memberi keterangan, tentu takkan ada orang lain lagi yang menyangsikan sebab musabab kematian Tong Bu-siang.&#8221;</p>
<p>Tadi Gui Som-lim masih berseri-seri dan gembar-gembor, tapi sekarang air mukanya berubah pucat, ia menjawab dengan agak gelagapan, &#8220;Cayhe datang melayat dan tidak&#8230; tidak disuruh oleh siapa-siapa.&#8221;</p>
<p>Tong Ki menjengek, &#8220;Ruangan layon ini bukanlah tempat untuk membunuh, tapi kalau kau tidak bicara sejujurnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak ia berhenti dan memberi tanda lambaian tangan. Seketika di luar ada bunyi gembereng satu kali.</p>
<p>Lalu Tong Ki menyambung ucapannya, &#8220;Nah kau dengar suara gembereng itu, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, deng&#8230; dengar.&#8221; jawab Gui Som-lim.</p>
<p>&#8220;Bila gembereng sudah berbunyi tiga kali dan belum lagi kau bicara terus terang, segera darahmu akan berhamburan di sini,&#8221; ancam Tong Ki.</p>
<p>Dia bicara dengan tenang saja, namun nadanya berwibawa dan membikin orang mau tak mau percaya akan kebenaran ancamannya itu.</p>
<p>Wajah Gui Som-lim tampak pucat pasi, dengan suara terputus-putus ia menjawab. &#8220;Apa yang kukatakan tadi adalah&#8230; adalah sejujurnya.&#8221;</p>
<p>Tong Ki tidak menanggapi lagi, ia berdiri dengan berlipat tangan seolah-olah tidak mendengar ucapan orang.</p>
<p>Menyusul di luar ruangan gembereng berbunyi pula satu kali.</p>
<p>Mendadak Gui Som-lim membalik tubuh terus berlari pergi secepat terbang. Nyata ia bermaksud kabur.</p>
<p>Akan tetapi saat itu juga Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong segera muncul dari luar, keduanya tepat menghadang jalan pergi Gui Som-lim.</p>
<p>Thi-bin-giam-lo, si raja akhirat bermuka besi, sesuai julukannya, Tong Siu-hong memang tegas dan tidak kenal ampun terhadap siapapun yang bersalah. Kini matanya tampak merah membara, napsu membunuhnya berkobar.</p>
<p>Gui Som-lim bergidik dan tanpa terasa menyurut mundur selangkah demi selangkah.</p>
<p>Mendadak gembereng berbunyi pula.</p>
<p>Pada saat itulah di tengah para pelayat itu mendadak terdengar suara jeritan ngeri!</p>
<p>Sebarisan orang yang berdiri di depan layon sana sama menampilkan perasaan takut luar biasa. Tanpa terasa Tong Ki juga berpaling ke sana &#8230;</p>
<p>Dan sekali pandang, seketika iapun terperanjat.</p>
<p>Kiranya peti mati Tong Bu-siang entah sejak kapan telah dibuka orang, mayat Tong Bu-siang telah berdiri tegak bersama peti matinya, di bawah cahaya yang remang-remang kelihatan mukanya yang pucat kuning, mata terpejam, meski tidak begitu menakutkan mukanya, tapi keseraman orang mati cukup membikin orang merinding.</p>
<p>&#8220;Di belakang peti pasti ada orang, tangkap!&#8221; teriak Tong Ki bengis.</p>
<p>Serentak Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong menubruk maju ke sana.</p>
<p>Pada saat itu pula mayat Tong Bu-siang mendadak melayang keluar dengan kaku dari peti matinya.</p>
<p>Pwe-giok juga sudah dapat melihat di belakang peti mati pasti ada orang membikin mayat Tong Bu-siang terpental dengan Lwekang yang kuat, tapi mendadak berhadapan dengan kejadian aneh luar biasa ini, tanpa terasa tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin.</p>
<p>Dilihatnya mayat Tong Bu-siang yang kaku itu langsung menerjang ke arah Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing yang lagi menubruk ke depan. Mestinya mereka tidak berani menggunakan tangan untuk menangkap mayat itu, tapi mau tak mau mereka harus menangkapnya.</p>
<p>Suara aneh yang berbunyi di luar jendela kembali bergema pula dari balik peti mati, ucapnya dengan seram, &#8220;Tong Bu-siang sudah muncul, kenapa kalian tidak lekas menyembah padanya?&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, serentak empat atau lima orang anak murid keluarga Tong telah menubruk ke sana. Meski sedang berkabung, namun dalam baju mereka selalu membawa Am-gi atau senjata rahasia khas keluarga Tong yang termasyhur.</p>
<p>&#8220;Roboh, sahabat!&#8221; bentak salah seorang.</p>
<p>Berbareng dengan suara bentakan itu, senjata rahasia merekapun berhamburan, berpuluh bintik hitam menyambar ke belakang peti mati bagai hujan gerimis.</p>
<p>Am-gi keluarga Tong tiada bandingannya di dunia ini, bukan saja buatannya cermat dan bagus, cara menyambitkannya juga bergaya khas. Berpuluh bintik hitam itu menyambar ke depan dengan kecepatan yang berbeda, ada yang lambat, ada yang cepat, yang cepat belum tentu sampai lebih dulu, yang lambat bisa mendadak menyambar tiba dengan kuat. Jadi sukar diraba dan susah dijaga.</p>
<p>Semua orang mengira orang yang berada di belakang peti mati itu sekali ini pasti sukar terlolos dari kematian. Siapa tahu mendadak terdengar suara tertawa panjang, berpuluh bintik senjata rahasia itu mendadak berputar haluan di udara, semuanya terbang balik dan menyambar ke arah anak murid keluarga Tong sendiri.</p>
<p>Sambaran membalik ini jelas lebih keras daripada sambaran ke sana tadi, tampaknya dengan segera senjata akan makan tuannya.</p>
<p>Keruan anak murid keluarga Tong itu terkejut, cepat mereka menutupi muka sendiri dengan tangan kanan, tangan kiri melintang di depan dada, lalu melompat ke atas dan berjumpalitan sekali, ketika jatuh ke lantai, serentak mereka menggelinding jauh ke sana.</p>
<p>Cara menghindar mereka sudah cepat, tapi sambaran Am-gi jauh lebih cepat. Tanpa ampun pundak dan lengan ke empat orang masing-masing terkena beberapa bintik senjata rahasia tersebut, belum lagi mereka melompat bangun, lebih dulu mereka merogoh saku dan mengeluarkan botol kecil, obat penawar racun dalam botol terus ditelan, lalu berbaring di lantai dan tidak berani bergerak sedikitpun.</p>
<p>Maklumlah, senjata rahasia keluarga Tong terkenal maha lihay racunnya, sampai di mana kekejiannya tentu mereka sendiri yang paling tahu. Jika urat nadi yang berdekatan dengan jantung terkena senjata rahasia itu, dengan cepat racun akan menyerang jantung, sekalipun ada obat penawar buatan khusus juga belum tentu dapat menyelamatkan jiwa mereka.</p>
<p>Bila mata yang terkena senjata rahasia itu, sekalipun dapat ditolong, namun penderitaan mengorek mata dan membedah kulit daging tentu juga dapat dibayangkan.</p>
<p>Sebab itulah lebih dulu mereka melindungi bagian-bagian yang fatal dengan tangan sendiri, sekarang setelah makan obat penawar toh mereka tetap kuatir racun akan menjalar, maka mereka harus berbaring diam, setelah obat penawar sudah berjalan barulah mereka berani berdiri.</p>
<p>Di sebelah sini ke empat orang terluka dan roboh, di sebelah sana Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menurunkan mayat yang mereka pegang, lalu mereka menerjang musuh pula dari kanan dan kiri.</p>
<p>Pengalaman tempur dan kungfu kedua orang ini dengan sendirinya jauh lebih tinggi daripada sesama saudara seperguruannya, bahkan gerakan merekapun jauh lebih cermat.</p>
<p>Tak terduga, pada saat itulah, &#8220;blang&#8221;, mendadak peti mati itu pecah menjadi dua, terbelah bagian tengah, lalu menghantam ke kanan dan ke kiri, memapak serbuan Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong.</p>
<p>Peti mati itu terbuat dari kayu pilihan, biarpun tertanam di bawah tanah berpuluh tahun juga tetap utuh tanpa keropos, maka dapat dibayangkan betapa kuat dan kerasnya.</p>
<p>Tapi sekarang sekali tabas dengan telapak tangannya orang itu sanggup membelahnya menjadi dua, keruan semua orang terkejut.</p>
<p>Seketika Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong merasa pecahan peti mati itu menindih tiba bagai gugur gunung dahsyatnya, masih berjarak cukup jauh sudah terasa daya tindihnya yang hebat sehingga napaspun terasa sesak.</p>
<p>Dalam kejutnya kedua orang itu cepat menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, maka terdengarlah suara gemuruh, kedua potong peti mati yang pecah itu menghantam lantai dan mencelat pula ke sana dan menumbuk dinding, seketika batu pasir bertebaran.</p>
<p>Sial bagi yang terciprat batu, banyak yang menjerit kesakitan. Yang tidak tertimba batu juga cepat-cepat berlari menyingkir, malahan ada yang sembunyi di kolong meja sehingga meja kursi berjungkir balik dan mangkuk piring pecah berantakan.</p>
<p>Setelah kekacauan agak mereda, barulah semua orang melihat di samping mayat Tong Bu-siang telah berdiri seorang berbaju hijau dengan tersenyum simpul.</p>
<p>Anak murid keluarga Tong serentak mengepungnya dan mengawasi musuh dengan siap serbu. Namun orang ini tetap menghadapi mereka dengan tertawa pongah seperti tiada sesuatu yang ditakutinya.</p>
<p>Orang ini bukan saja sangat muda, tampaknya juga sopan santun, juga sangat cakap, hanya sikapnya kelihatan kemalas-malasan, mirip orang yang selalu kurang tidur.</p>
<p>Tidak ada seorang Kangouw yang hadir ini kenal pemuda ini, siapapun tidak menyangka orang semuda ini memiliki tenaga dalam sedemikian hebat.</p>
<p>Hanya Pwe-giok dan Lui-ji saja yang kenal orang ini, tapi mereka jauh lebih terkejut daripada orang lain, sebab mereka tidak pernah menyangka pembuat gara-gara ini ialah Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Akhirnya Yang Cu-kang datang juga!</p>
<p>Anak murid keluarga Tong sama melolos senjata dan mengepungnya di tengah, setiap saat mereka siap turun tangan.</p>
<p>Tapi mendadak Tong Ki membentak dengan suara tertahan, &#8220;Mundur semua!&#8221;</p>
<p>Tampaknya nona besar keluarga Tong ini sekarang sudah bertindak selaku Ciangbunjin, begitu dia memberi perintah, serentak anak murid keluarga Tong terpencar, sampai Tong Siu-hong juga meluruskan tangan dan tunduk kepada perintahnya.</p>
<p>Di tengah kekalutan juga cuma Tong Ki saja yang tetap dapat mempertahankan ketenangannya, sorot matanya seperti kilat berkelebat mengusap wajah Yang Cu-kang. Lalu jengeknya, &#8220;Usia anda masih muda, tapi kungfumu sudah setinggi ini, tentu anda anak murid orang kosen. Tapi mengacau di ruang layon orang lain, membikin anggota keluarganya yang hidup tambah susah dan membuat yang mati merasa terhina, apakah cara inipun termasuk ajaran perguruan anda?&#8221;</p>
<p>Asalkan nona besar keluarga Tong sudah buka suara, setiap katanya pasti mempunyai bobot. Kini dia tidak bertanya siapa nama dan asal usul orang, sebaliknya semua perbuatannya itu ditumplekkan atas perhitungan perguruannya, hal ini membuat lawan menjadi serba susah untuk menjawab.</p>
<p>Yang Cu-kang mengamat-amati Tong Ki beberapa kejap, dari atas dipandangnya ke bawah dan dari bawah diulang lagi ke atas, lalu berkata dengan tertawa, &#8220;Pantas orang Kangouw sama bilang nona besar keluarga Tong kita lihay dan galak, seekor harimau betina, setelah berhadapan sekarang ternyata memang tidak bernama kosong, benar-benar tidak bernama kosong&#8230;&#8221;</p>
<p>Dia menengadah dan terbahak-bahak, mendadak ia berhenti tertawa, dengan sorot mata yang tajam dia tatap para hadirin yang memenuhi ruangan luar dan dalam itu, lalu berseru dengan lantang, &#8220;Cayhe Yang Cu-kang adanya, meski bukan anak murid perguruan ternama segala, juga bukan keturunan keluarga terhormat, tapi juga tidak nanti melakukan hal-hal yang melanggar tata susila begini. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak bermaksud mengganggu arwah Tong-locianpwe, sebaliknya ingin kutuntut kebenaran baginya, sebab itulah diharapkan para hadirin suka memberi keadilan.&#8221;</p>
<p>Ia kuatir perbuatannya mengganggu mayat dan merusak peti mati itu akan menimbulkan amarah umum. Tapi setelah uraiannya ini, pandangan semua orang lantas berubah lagi. Semua orang telah tertarik oleh kata &#8220;menuntut kebenaran&#8221; tadi, semuanya lantas berpikir, &#8220;Apakah barangkali kematian Tong-locengcu ini ada sesuatu yang tidak beres?&#8221;</p>
<p>Tong Ki tidak sabar lagi, segera ia menjengek, &#8220;Kiranya orang she Gui itu adalah suruhanmu, kau suruh dia mengacau di depan layon untuk memancing perhatian orang banyak, kau sendiri lantas mengacau di belakang peti, begitu bukan?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang menjawab dengan tak acuh, &#8220;Demi menuntut kebenaran bagi Tong-locianpwe segala apapun dapat kulakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangankan ayahku wafat secara wajar, sekalipun pada masa hidup beliau ada permusuhan dengan siapa-siapa, segala persoalannya masih dapat diselesaikan oleh putera-puterinya, kukira tidak perlu kau ikut campur,&#8221; seru Tong Ki dengan bengis.</p>
<p>&#8220;Oo? Apakah betul kalian dapat menyelesaikannya?&#8221; tanya Yang Cu-kang.</p>
<p>&#8220;Tentu, kenapa tidak?&#8221; jawab Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Bagus,&#8221; ucap Yang Cu-kang. &#8220;Jika demikian, marilah kita melihat dulu siapakah kiranya yang turun tangan keji terhadap Tong-locengcu, lalu&#8230;&#8221; sembari bicara iapun menarik mayat Tong Bu-siang.</p>
<p>Dengan gusar Tong Ki lantas membentak, &#8220;Jahanam, berani lagi kau ganggu jenazah ayahku? Biarlah ku adu jiwa dengan kau!&#8221;</p>
<p>Dia sudah tahu kungfu Yang Cu-kang maha tinggi dan sangat mengejutkan, sebab itulah sejak tadi ia menahan rasa gusarnya dan belum turun tangan, tapi sekarang semua itu seperti tidak terpikir lagi olehnya, sekali berkelebat, tahu-tahu ia menubruk maju, kesepuluh jarinya yang lancip segera mencengkeram mata dan tenggorokan Yang Cu-kang. Tipu serangan yang cepat dan ganas, sekali turun tangan segera mengincar bagian yang mematikan.</p>
<p>Tapi Pwe-giok tahu kalau melulu kepandaian Tong Ki saja masih selisih sangat jauh untuk dapat menandingi Yang Cu-kang.</p>
<p>Diam-diam Lui-ji juga berkuatir bagi Tong Ki. Betapapun perempuan tetap berharap sesama perempuan akan mengalahkan kaum lelaki, akan tetapi Lui-ji juga berharap Yang Cu-kang akan membongkar rahasia kematian Tong Bu-siang.</p>
<p>Meski perempuan bersimpati kepada sesama perempuan, tapi perempuan juga lebih suka mencari tahu rahasia orang lain.</p>
<p>Dalam pada itu Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menubruk maju, bersama Tong Ki mereka mengerubuti Yang Cu-kang dari tiga jurusan.</p>
<p>&#8220;Apakah cuma sekian saja ilmu silat keluarga Tong?&#8221; ejek Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>Selesai dia berucap demikian, tahu-tahu jenazah Tong Bu-siang sudah diangkat olehnya. Serangan Tong Ki bertiga juga mengenai tempat kosong seluruhnya.</p>
<p>Yang Cu-kang terus berputar cepat seperti gasingan, mayat Tong Bu-siang digunakan sebagai perisai di depan tubuh. Apabila Tong Ki bertiga menyerang secara ganas, yang akan kena lebih dulu tentulah mayat Tong Bu-siang.</p>
<p>Dengan sendirinya mereka menjadi ragu untuk menyerang lagi.</p>
<p>&#8220;Lepaskan jenazah guruku dan jiwamu akan kami ampuni!&#8221; teriak Tong Siu-hong dengan murka.</p>
<p>&#8220;Haha, aku memang tidak bisa mati, tidak perlu minta ampun padamu!&#8221; jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.</p>
<p>Makin cepat dia berputar sembari membuka baju mayat yang dikenakan Tong Bu-siang itu.</p>
<p>Air muka Tong Ki berubah pucat, ia berjingkrak dan mendamprat, &#8220;Keparat, betapa rendah caramu merusak jenazah, harus kubinasakan kau dulu!&#8221;</p>
<p>Tampaknya ia menjadi nekat, tanpa menghiraukan apapun dia terus menerjang.</p>
<p>Tiba-tiba Yang Cu-kang berteriak, &#8220;Wahai para hadirin, lihatlah kalian, dia yang sengaja hendak merusak jenazah Tong-locianpwe atau aku? Dia lebih suka menghancurkan tubuh ayahnya yang sudah mati ini dan tidak memperbolehkan kuselidiki sebab-musabab kematiannya, coba jawab, mengapa?&#8221;</p>
<p>Semua orang menjadi sangsi oleh uraian Yang Cu-kang ini, sampai Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong juga mulai ragu dan tidak main kerubut lagi bersama Tong Ki. Malahan ada orang yang tidak tahan dan segera berteriak, &#8220;Nona Tong, kenapa tidak dibiarkan dia memeriksa sebab musabab kematian Tong-locengcu?&#8221;</p>
<p>Serangan Tong Ki sangat cepat, hanya sekejap saja dia sudah menyerang dua-tiga puluh kali, tapi setiap serangannya hanya menyerempet lewat saja di samping tubuh musuh, ujung bajunya saja sukar menyenggolnya.</p>
<p>Kini Tong Ki baru merasakan betapa tinggi ilmu silat pemuda aneh ini. Mendadak ia berhenti menyerang dan melompat mundur, ia menggentak-gentakkan kaki sambil mengucurkan air mata, jeritnya dengan parau, &#8220;Para hadirin sudah bicara demikian, apabila aku tidak menurut, akan kelihatan seperti ada sesuatu kesalahanku. Akan tetapi nama baik mendiang ayahku kini harus menjadi korban perbuatan jahanam ini&#8230;&#8221; sampai di sini kerongkongannya terasa seperti tersumbat dan air mata berderai.</p>
<p>Tong Lin dan Li Be-ling memburu maju dan memapah Tong Ki.</p>
<p>Dengan suara bengis Tong Siu-hong lantas berteriak, &#8220;Sahabat, jika kau ingin melihatnya boleh silahkan, tapi kalau tiada menemukan sesuatu, lima ratus anak murid keluarga Tong lebih suka mati seluruhnya sekarang juga daripada membiarkan kau lolos keluar dengan hidup.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apabila tidak kutemukan sesuatu, tanpa kalian turun tangan, aku sendiri akan mati lebih dulu di sini,&#8221; kata Yang Cu-kang dengan tertawa. Mendadak ia menarik muka, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, &#8220;Sebab sudah kuketahui, kematian Tong-locianpwe justeru adalah korban perbuatan anak muridnya sendiri.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini seketika membikin gempar setiap orang. Lebih-lebih anak murid keluarga Tong, semuanya jadi murka, beramai-ramai mereka membentak, &#8220;Kau berani sembarangan memfitnah orang? kau ada bukti?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalian ingin bukti?&#8221; tanya Yang Cu-kang, &#8220;Baik!&#8221;</p>
<p>Mendadak ia angkat mayat Tong Bu-siang tinggi-tinggi, lalu berteriak, &#8220;Inilah buktinya!&#8221;</p>
<p>Serentak anak murid keluarga Tong membanjir maju, yang di luar ruangan juga menerjang ke dalam. Seketika ruangan pendopo yang besar itu menjadi berjubal-jubal. Tapi sekali lompat Yang Cu-kang telah melayang ke atas.</p>
<p>Meski membawa sesosok mayat, tapi gerak tubuh Yang Cu-kang masih sangat gesit, sekali lompat saja ia sudah hinggap di atas belandar pendopo, lalu berteriak dengan suara bengis, &#8220;Tong-locianpwe mati terkena Am-gi perguruannya sendiri, bahkan mati di Tong-keh-ceng, lalu siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri?&#8221;</p>
<p>Kejut dan gusar semua anak murid keluarga Tong, ada yang berteriak, ada yang mencaci maki, ada yang menyiapkan senjata rahasia, tapi kuatir pula mengenai jenazah Tong Bu-siang sehingga mereka hanya bergerak saja, tapi urung menyerang.</p>
<p>Ada beberapa orang di antaranya ikut melayang ke atas, tapi baru saja tubuh mereka mengapung, kontan dia tergetar ke bawah lagi oleh angin pukulan yang dahsyat. Malahan ada seorang yang jatuh menindih tubuh kawannya.</p>
<p>Dengan suara bengis Yang Cu-kang berteriak pula, &#8220;Apabila kalian ingin melihat bukti, silahkan kalian memilih beberapa orang yang sekiranya terhormat untuk menjadi saksi dan orang lain dipersilahkan mundur lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Kini Tong Ki berbalik jauh lebih tenang daripada tadi, sinar matanya gemerdep, tiba-tiba ia berkata, &#8220;Baik, jika demikian, diharapkan Siok-san-sin-wan (si kera sakti dari Siok-san) Wan-loyacu, Kim-to Oh-toasiok, Khay-pi-jiu Nyo-toasiok dan Ji Pwe-giok, Ji-kongcu berempat untuk menjadi wasit.&#8221;</p>
<p>Sungguh tidak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa Tong Ki mendadak akan menyebut namanya, seketika ia melenggong.</p>
<p>Tapi Lui-ji lantas menarik ujung bajunya dan berseloroh, &#8220;Masa kau tidak tahu bahwa dirimu adalah seorang tokoh ternama di dunia Kangouw? Ayolah lekas tampil ke depan!&#8221;</p>
<p>Si orang tua yang berolok-olok di dekat Pwe-giok tadi cepat mendekati anak muda itu dan berkata sambil memberi hormat, &#8220;Tak tersangka anda inilah Ji Pwe-giok, Ji-kongcu yang baru-baru ini menggemparkan dunia Kangouw, sampai tokoh sakti Lo-cinjin juga sangat memuji dirimu. Bilamana sikap kami tadi kurang menghormat, mohon sudi dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Berita dunia Kangouw ternyata sangat cepat tersebar, kejadian pada setengah bulan yang lalu kini sudah diketahui orang sebanyak ini, sampai Nyo Eng-tay, Kim-to Oh Gi dan lain-lain yang tadi meremehkan dia sekarang juga memandangi Pwe-giok dengan terbelalak, air muka mereka penuh rasa kejut dan heran, seperti tidak percaya seorang pemuda tampan dapat menggemparkan Kangouw hanya dalam waktu setengah tahun ini.</p>
<p>Pwe-giok sendiri tidak pernah membayangkan dirinya ternyata bisa menonjol dan terkenal secepat ini. Terpaksa ia membalas hormat orang dan mengucapkan kata rendah hati.</p>
<p>Orang tua tadi berucap pula, , &#8220;Cayhe Wan Kong-beng dari Siok-san, selanjutnya diharapkan Ji-kongcu suka sering-sering memberi petunjuk.&#8221;</p>
<p>Pwe-giok membalas hormat dan tetap rendah hati.</p>
<p>Dalam pada itu kerumunan orang banyak sudah mulai mundur, sehingga tempat layon tadi terluang cukup luas.</p>
<p>&#8220;Dengan ke empat saksi ini, apakah cukup?&#8221; Tanya Tong Ki.</p>
<p>&#8220;Yang lain belum tentu bisa dipercaya, tapi Ji Pwe-giok ini sudah lama kudengar dia adalah Kuncu sejati, kuyakin ia takkan berdusta.&#8221; kata Yang Cu-kang sambil menunduk ke bawah dan tertawa kepada Pwe-giok, lalu ia melayang turun.</p>
<p>Pwe-giok tidak tahu mengapa orang mendadak bersikap ramah padanya, diam-diam ia mempertinggi kewaspadaan.</p>
<p>Dilihatnya sambil mengangkat jenazah Tong Bu-siang, dengan suara lantang Yang Cu-kang berkata, &#8220;Sekarang silahkan kalian memeriksanya, sesungguhnya bagaimana bekas luka Tong-locianpwe yang mengakibatkan kematiannya.&#8221;</p>
<p>Pada waktu akan dimasukkan ke peti mati, mayat Tong Bu-siang sudah didandani, mukanya sudah dipoles bedak berminyak yang tebal sehingga sukar lagi melihat air mukanya yang asli.</p>
<p>Maklum, wajah orang mati pada umumnya hampir serupa. Tapi sekarang setelah Yang Cu-kang membuka baju mayat, barulah semua orang melihat bagian dadanya hitam hangus, itulah tandanya terkena racun jahat.</p>
<p>Luka yang mematikannya terletak di bawah dada kiri, ada tiga lubang kecil sebesar mata jarum, di atas lubang kecil itu ada noda darah beku yang sudah hampir berubah menjadi hitam seluruhnya.</p>
<p>Yang Cu-kang lantas membuka telapak tangannya dan berkata pula, &#8220;Sekarang hendaknya kalian melihat apa yang terdapat pada tanganku ini?&#8221;</p>
<p>Terlihatlah satu biji Am-gi yang terbuat dengan indah di atas telapak tangannya, itulah Tok-cit-le , duri besi berbisa, senjata rahasia khas keluarga Tong, juga boleh dikatakan senjata rahasia yang bersejarah paling tua di dunia ini.</p>
<p>Setiap tokoh yang hadir ini sama kenal senjata rahasia itu, tapi merekapun tahu betapa gawatnya urusan sekarang, maka mulut setiap orang seolah-olah sudah disegel dan tiada seorangpun berani ikut bicara.</p>
<p>Hanya Tong Siu-hong saja yang segera membentak, &#8220;Inilah Tok-cit-le dari keluarga Tong kami, darimana kau memperolehnya?&#8221;</p>
<p>Yang Cu-kang tertawa, jawabnya,&#8221; Am-gi inilah yang tadi hendak kalian gunakan untuk membunuh diriku, seluruhnya mereka menghamburkan 28 biji, telah kubayar kembali 27 biji, yang kuterima hanya satu biji ini. Jika kau tidak percaya boleh kau hitung dulu barangnya.&#8221;</p>
<p>Dengan muka masam tong Siu-hong tidak bersuara lagi.</p>
<p>Yang Cu-kang lantas pegang Tok-cit-le itu dan perlahan dipasang di atas luka Tong Bu-siang, tiga ujung duri Tok-cit-le itu persis masuk pada tiga titik bekas luka di dada Tong Bu-siang itu.</p>
<p>&#8220;Nah, luka yang mematikan Tong-locianpwe ini terdiri dari senjata rahasia apa, tentunya sekarang kalian sudah dapat melihatnya bukan?&#8221; kata Yang Cu-kang.</p>
<p>Padahal sejak tadi semua orang juga sudah melihat racun yang mengenai tong Bu-siang itu serupa dengan racun senjata rahasia keluarga Tong.</p>
<p>Sebab racun yang berbeda, tanda-tanda bekerjanya racun juga berlainan. Racun senjata rahasia keluarga Tong kalau menjalar, seluruh tubuh korbannya akan berubah menjadi hitam hangus seperti halnya Tong Bu-siang sekarang.</p>
<p>Maka Yang Cu-kang lantas mendengus, &#8220;Jika Tong-locianpwe mati di Tong-keh-ceng, yang mematikannya juga Tok-cit-le keluarga Tong sendiri, lantas siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri ? &#8220;</p>
<p>Ia berhenti sejenak, lalu melototi Wan Kong-beng dan bertanya, &#8220;Coba bagaimana menurut pendapatmu?&#8221;</p>
<p>Muka kakek she Wan itu tampak prihatin dan tidak berani menjawab.</p>
<p>&#8220;Hm, sejak mula sudah kuketahui kau ini ular tua yang licin, tidak bisa menjadi penengah yang jujur,&#8221; jengek Yang Cu-kang. Lalu ia tatap Oh Gi dan bertanya,&#8221; Dan bagaimana dengan kau? Konon biasanya kau sok menjadi juru damai, apakah sekarang kaupun tidak berani bicara?&#8221;</p>
<p>Muka Oh Gi tampak merah padam, jawabnya dengan tergagap, &#8220;Ini&#8230; ini mungkin orang lain yang mencuri senjata rahasia keluarga Tong, lalu digunakan menyerang Tong-locianpwe secara gelap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, bila Tong-locianpwe benar mati di tangan orang lain, mengapa anggota keluarga Tong merahasiakannya dan tidak diumumkan secara terbuka?&#8221; jengek Yang Cu-kang pula. &#8220;Dan mengapa menyatakan Tong-locianpwe mati secara wajar karena sakit tua?&#8221;</p>
<p>Seketika Oh Gi tak dapat menjawab lagi.</p>
<p>Kini setiap orang sama setuju dengan keterangan Yang Cu-kang itu, semua menganggap Tong Bu-siang pasti mati di tangan anak muridnya sendiri. Tapi terpengaruh oleh wibawa keluarga Tong, tidak seorangpun berani bicara, namun air muka mereka jelas sama memperlihatkan rasa gusar.</p>
<p>Sebagian besar anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak tahu seluk-beluk persoalan ini. Ada di antaranya juga memperlihatkan rasa sedih dan gusar, ada juga yang cuma melenggong dan ada lagi yang menangis.</p>
<p>Sinar mata Yang Cu-kang hanya berhenti sejenak pada wajah Pwe-giok, mendadak beralih ke muka Tong Siu-hong dan berkata, &#8220;Biasanya anda terkenal adil dan tidak pandang bulu serta tidak kenal ampun, entah tindakan apa yang akan kau lakukan sekarang?&#8221;</p>
<p>Tong Siu-hong tampak menggreget-greget sehingga ujung mulutnya merembeskan darah, tampaknya dia juga menahan sesuatu yang sukar diuraikan, sebab itulah ia hanya mengertak gigi dan tidak mau bicara.</p>
<p>Mendadak Tong Siu-jing terkekeh dua kali, lalu berkata dengan suara parau, &#8220;Keluarga Tong tidak beruntung sehingga terjadi peristiwa malang ini, atas keterangan anda yang sudi membeberkan kejadian ini sungguh segenap keluarga Tong merasa sangat berterima kasih. Hanya saja, apa yang dialami mendiang guru kami ini mengapa dapat diketahui sejelas ini oleh anda?&#8221;</p>
<p>Cara bicara orang ini ternyata tidak kalah lihaynya daripada Tong Ki.</p>
<p>Tampaknya dia bertanya dengan sopan, padahal cukup keji. Di balik ucapannya itu seakan-akan hendak mengatakan,&#8221; Kalau Tong Bu-siang bukan mati sewajarnya, sedangkan orang lain tidak ada yang tahu, lalu dari mana kau mendapat keterangannya? Jangan-jangan kau sendirilah yang melakukannya?&#8221;</p>
<p>Biarpun kata-kata demikian tidak terang-terangan diucapkan, namun semua hadirin bukanlah orang bodoh, mustahil mereka tak dapat meraba apa maksudnya. Karena itu, mau tak mau semua orang lantas merasa curiga juga terhadap Yang Cu-kang.</p>
<p>Tapi Yang Cu-kang hanya tersenyum tak acuh, katanya, &#8220;Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat. Soalnya Cayhe baru saja berpisah dengan Tong-locianpwe pada tiga hari yang lalu, kini mendadak mendengar berita kematiannya, dengan sendirinya timbul curigaku. Seorang yang sehat walafiat, tidak terluka apa-apa, mengapa baru pulang lantas tutup usia dan meninggal untuk selamanya.&#8221;</p>
<p>Kata &#8216;tutup usia dan meninggal selamanya&#8217; sengaja diucapkannya dengan suara tajam, berbareng sorot matanya menyapu pandang para hadirin, melihat air muka semua orang kembali berubah, barulah ia menyambung lagi, &#8220;Meski Cayhe adalah kenalan baru Tong-locianpwe, tapi sekali bersahabat tetap bersahabat, betapapun aku tidak rela dia mati secara penasaran. Sebab itulah sengaja ku datang kemari untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Apabila anda menjadi diriku, apakah anda takkan bertindak seperti ini?&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Apakah betul Tong Bu-siang gadungan itu dibunuh oleh anak murid keluarga sendiri?</p>
<p>Apa maksud tujuan Yang Cu-kang mengusut kematian Tong Bu-siang dan apa pula yang akan diperbuat Ji Pwe-giok?</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.wordpress.com/">Cerita Silat &#8211; WordPress</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/category/gu-long/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> Tagged: <a href='http://ceritasilat.wordpress.com/tag/imbauan-pendekar/'>Imbauan Pendekar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritasilat.wordpress.com/1611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritasilat.wordpress.com/1611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritasilat.wordpress.com&amp;blog=2009380&amp;post=1611&amp;subd=ceritasilat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.wordpress.com/2010/06/08/imbauan-pendekar-08/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ceritasilat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
