Kumpulan Cerita Silat

October 20, 2009

Memanah Burung Rajawali – 70

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:26 am


Bab 70. Kumpul semua!
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Kwee Ceng berlayar terus menuju ke barat sesudah melalui beberapa puluh lie, mendadak ia mendengar suar burung terbang di atasannya. Ia mengenali sepasang burungnya, yang terbang menyusul padanya. Dengan cepat kedua burung itu menclok di atas layar.

“Burung ini mengikuti aku, Yong-jie berada sendirian di pulau, ia bakal menjadi tambah kesepian,” pikirnya, maka timbullah rasa kasihannya.
(more…)

October 19, 2009

Memanah Burung Rajawali – 69

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:25 am


Bab 69. Hebat!
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Suhu,” kata Oey Yong kemudian. “Di dalam pertemuan di Yan Ie Lauw itu, pihak sana pasti bakal mengundang Auwyang Hong, benar Loo Boan Tong tidak bakal kalah tetapi dia berandalan, dia suka mengacau, aku khawatir nanti timbul keonaran, maka itu aku pikir perlu kita pergi ke Tho Hoa To untuk mengundang ayahku. Dengan begitu barulah kita akan merasa pasti akan kemenangan kita!”
(more…)

October 17, 2009

Memanah Burung Rajawali – 67

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:25 am


Bab 67. Pergulatan di atas perahu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Pasti kita akan memakai perahunya itu,” menyahut si nona. “Bangsat tua Khiu Cian Jin telah melukai hebat padaku, hendak aku membalas terhadapnya, umpama kata aku tidak sanggup melayani dia, puas juga sedikit hatiku papabila aku bisa menyingkirkan beberapa pengikutnya.”

Keduanya lantas kembali ke rumah makan. Di sana si tukang perahu yang gagu lagi tangal-tongol, mengharapai kedatangan orang. Ia menjadi girang sekali apabila dia menampak kembalinya si muda-mudi.
(more…)

October 16, 2009

Memanah Burung Rajawali – 66

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:24 am


Bab 66. Nasib
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Dengan tangan kanannya, nona Bok menggenggam erat tangannya Oey Yong, dengan tangan kirinya ia mengusap-usap belakang tangan nona itu. Dengan matanya, ia mengawasi rontoknya bunga ke permukaan air.

“Melihat dia membunuh Auwyang Kongcu, aku menduga ia telah merubah perbuatannnya yang sudah-sudah,” demikian ia melanjuti. “Aku lebih girang lagi melihat dia disambut kedua orang lihay dari Kay Pang, yang memperlakukan dia dengan hormat sekali. Begitulah aku turut dia sampai di Gak-ciu, di mana pihak Kay Pang mengadakan rapat besarnya di gunung Kun San. Lebih dulu daripada itu, diam-diam dia memberitahukan aku bahwa Ang Pangcu telah meninggalkan pesan agar dia menjadi pengganti pangcu. Aku heran dan girang, tetapi aku sangsi, hanya melihat semua orang Kay Pang begitu menghormati dia, kesangsianku lenyap. Aku bbukan orang Kay Pang, tidak dapat aku menghadiri rapat, maka itu aku menanti di dalam kota. Aku pikir, dengan menjadi pangcu dari Kay Pang, pasti dia bakal bekerja untuk negara dan rakyat, pasti benar usahanya. Aku percaya juga, dia bakal menumpas musuhku, guna membalaskan sakit hati ayah dan ibu angkatku. Malam itu aku berpikir keras hingga aku tidak dapat tidur pulas. Diwaktu fajar selagi aku mulai lelah dan tidur layap-layap, mendadak dia pulang dengan jalan melompat jendela. Aku kaget, aku kira dia mau main gila pula. Aku hendak menegur, dia mendahului membisik. ’Adik, urusan gagal, mari kita lekas menyingkir!’ Aku lantas tanya dia apakah yang terjadi. Dia menjawab; ’Di dalam Kay Pang ada pemberontak. Golongan Baju Kotor dan Baju Bersih bentrok karena urusan mengangkat pangcu, mereka bertempur, sudah ada banyak yang binasa’. Aku kaget dan heran, aku menanya bagaimana duduknya persoalan. Dia menjawab; ’Karena yang binasa begitu banyak, aku mengundurkan diriku sendiri, aku tidak mau lagi menjadi pangcu’. Aku pikir, tindakan itu benar. Ia menerangkan pula, ’Tapi pihak Pakaian Bersih tidak mau melepaskan aku, syukur aku dibantu Khiu Pangcu dari Tiat Ciang Pang, dengan begitu bisa juga aku meloloskan diri dan berlalu dari Kun San. Sekarang ini mari kita pergi ke Tiat Ciang Pang untuk menyingkir buat sementara waktu.’ Aku tidak tahu Tait Ciang Pang rombongan baik atau jahat, aku turut padanya. Setibanya di Tiat Ciang San, baru aku melihat gerak-geriknya Khiu Pangcu aneh, rupanya mereka dari kaum sesat. Karena itu aku usulkan dia mencari Tiang Cun CU Cu Khu Cie Kee, supaya imam itu mengundang orang-orang gagah, untuk membantu pihak Kay Pang mengadakan tata-tertib partainya, supaya bisa dipilih satu pangcu yang tepat. Aku kata, dia tidak dapat pergi dengan begitu saja, dia mesti ingat budinya Ang Pangcu serta menjalani baik-baik pesannya. Tapi dia aneh, dia bukannya bicara dari hal Kay Pang, dia justru menimbulkan urusan pernikahan. Kita jadi bentrok, Aku telah memberi teguran padanya.”
(more…)

October 15, 2009

Memanah Burung Rajawali – 65

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:23 am


Bab 65. Selamat
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Eng Kouw, lebih dahulu aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk pertolonganmu!” si nona lantas berkata.

Tapi si nyonya terus-terang, “Aku memberi petunjuk kepadamu untu kau datang berobat kemari, maksudku yang utama bukan untuk menolongi kau, hanya untuk mencelakai orang. Buat apa kau mengucap terima kasih padaku?”
(more…)

October 14, 2009

Memanah Burung Rajawali – 64

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:21 am


Bab 64. Asmara di dalam keraton
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Mendengar suara guru mereka, keempat murid itu tercengang.

Kwee Ceng berlompat seraya berseru, “Aku ingat sekarang! Ketika malam itu Oey Tocu meniup seruling, Ciu Toako tak kuat menahan hatinya, kemudian aku mendengar ia membacakan syairnya itu. Ialah: ’Empat buah perkakas tenun…maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan…sayang, belum lagi tua tetapi kepala sudah putih…Gelombang musim semi, rumput hijau, di musim dingin, di dalam tempat tersembunyi, saling berhadapan baju merah…!” Ia menepuk paha kanannya, ia kata pula, “Tidak salah! Ketika itu aku heran sekali. Di dalam segala-gala, Ciu Toako lebih menang daripada aku tetapi selagi aku tidak terganggu serulingnya Oey Ytocu, ia sendiri kelabakan, tak kuat ia mempertahankan diri, tak tahunya ia dapat mengingat peristiwa lama itu hingga pemusatan pikirannya menjadi kacau. Pantaslah ia mencaci orang perempuan! Kau tahu, Yong-jie, dia sampai menasehati aku untuk aku jangan baik dengan kau…”
(more…)

October 13, 2009

Memanah Burung Rajawali – 63

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:20 am


Bab 63. Sapu tangan sulam
Oleh Jin Yong

Si pelajar berempat menjadi sangat terkejut begitu juga dengan Kwee Ceng. Bersama-sama mereka berlompat menubruk. Mereka melihat daging di mukanya pendeta itu bergerak-gerak, tandanya dia lagi melawan rasa nyeri yang hebat. Mereka menjadi bingung sekali, tak tahu mereka bagaimana harus menolongnya. Semua lantas berdiri diam di pinggiran.

Tidak lama, It Teng bersenyum.
(more…)

October 12, 2009

Memanah Burung Rajawali – 62

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:19 am


Bab 62. It Teng Taysu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Pelajar itu menunjuk dengan kipasnya ke kumpulan pohon palem itu, ia membacakan syairnya itu, atau lian, yang dikatakan bagian atasnya, “Sang angin meniup-niup pohon palem, bagaikan seribu tangan menggoyang-goyang sang kipas.”

Syair itu di satu pihak menggambarkan pemandangan alam – ialah yang pohon, di lain pihak menunjuki juga hal dirinya si pelajar – ialah kipasnya, maka Oey Yong lantas berpikir, “Tidak dapat aku menjawab dia dengan hanya menunjuk serupa benda, mesti juga ada arti yang merangkap di dalamnya.” Ia lantas memandang ke sekitarnya, hingga ia melihat di depannya, di tanah datar, sebuah bangunan sebagai kuil atau biara, di depan mana ada sebuah pengempang teratai. Ketika itu bulan ke tujuh hampir habis, daun teratai sudah kering kebih dari separuhnya. Lalu ia tertawa dan berkata, “Jawabanku itu untuk menyambungi sudah ada hanya aku khawatir aku berbuat salah terhadap kau, paman, jadi tidak leluasa untuk aku mengatakannya…”
(more…)

October 11, 2009

Memanah Burung Rajawali – 61

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:18 am


Bab 61. Tukang pancing, tukang kayu, petani dan pelajar
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Satu jam Kwee Ceng jalan terus. Kadang-kadang ada tempat demikian sempit hingga untuk lewat di situ, Oey Yong mesti dipondong, tubuhnya dikasih miring.

Ketika itu ada bulan ke tujuh, matahari sangat terik, akan tetapi di situ puncak gunung menghalangi pengaruhnya sang Batara Surya, maka juga jalanan di selat itu sebaliknya menjadi adem.
(more…)

October 10, 2009

Memanah Burung Rajawali – 60

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:17 am


Bab 60. Wanita dari Rawa Lumpur Hitam
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Oey Yong mendengar permintaan itu, ia tertawa.

“Burungku ini tidak dapat menggendong dua orang!” ia riang gembira. “Kamu bersaudara kandung, kau baiklah minta ampun pada saudaramu itu!” Dan ia menepuk burungnya, menyuruhnya si burung terbang terus.
(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.