Perguruan Sejati (17)
Oleh Gu Long
=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================
Sang Ibu dengan lengan tuanya mengusap-usap pipi anaknya dengan penuh kasih sayang. “Anakku semua ini benar adanya! Selama belasan tahun engkau kami rawat, dengan rasa penuh kasih sayang. Disamping itu kami berdoa agar kelak engkau bisa menemukan orang tuamu yang sejati….engkau mungkin belum mengerti apa yang terjadi akan dirimu ini…baiklah kututurkan bagaimana aku menemuimu. Tujuh belas tahun yang lalu, diawal musim semi, air sungai yang beku mulai berair, sedangkan tanggul-tanggul sungai banyak yang rusak, akibatnya akan timbul bahaya banjir. Penduduk kampung bergotong royong dan bermusyawarah untuk mengatasi bencana yang tidak diinginkan itu, demikian pula dengan ayahmu sering pergi bermusyawarah ke kabupaten. Pada suatu hari, diperjalanan pulang. Ia melihat sebuah kas kayu yang terumbang ambing di atas sungai. Entah bagaimana perhatiannya sangat tertarik dengan kas itu, dan disuruhnya tukang perahu mengambilnya. Begitu dibuka kas itu, ia menjadi melongo, karena didalamnya terlihat anak kecil berusia setahun lebih, penuh dengan darah. Mula pertama orang-orang yang melihat kejadian ini, menganggap anak itu sudah mati. Tapi setelah dipeeriksa dengan cermat, nyatanya anak itu masih bernyawa. Ayahmu segera membawa pulang, dan memanggil tabib mengobati anak kecil yang malang itu. Sebulan kemudian anak itu sudah sehat walafiat. Ia sangat mungil dan manis, siapapun senang kepadanya. Lagi pula kami yang berusia hampir setengah baya belum dikaruniakan barang seorang anak, begitu mandapatkan anak ini, bukan buatan girangnya dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tiong Giok seperti mimpi mendengar perkataan ibunya itu, sedangkan air matanya mengalir terus tanpa dirasa.
(more…)