Kumpulan Cerita Silat

16/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:18 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 01: Pelarian
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Sepotong tembaga penindih kertas yang mengkilat terletak di atas meja. Di bawahnya tertindih 12 helai kartu putih. Di sekeliling meja yang berbentuk antik itu berduduk tujuh orang. Tujuh tokoh yang namanya mengguncangkan dunia Kangouw.

Mereka adalah Koh-siong Kisu, Bok-tojin, Koh-kua Hwesio, Tong-jisiansing, Siau-siang-kiam-khek, Sukong Ti-seng, dan Hoa Ban-lau,
(more…)

15/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:33 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 07 (Tamat)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Di dalam sana si jenggot biru sedang mengamat-amati tangannya sendiri.

Kedua tangannya terawat sangat baik, kukunya terpotong rajin, jarinya juga panjang lentik.
Sungguh tangan yang indah, tidak perlu disangsikan juga pasti sepasang tangan yang gesit.
(more…)

14/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:33 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 06
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Setengah bulan kemudian, di dalam rumah yang teratur rapi dan resik, cuaca cerah, cahaya mentari gilang gemilang. Di depan jendela ada hiasan pot bunga yang indah.

Ting-hiang-ih ternyata sudah dapat berduduk, wajahnya yang pucat sudah mulai bersemu merah, serupa setangkai bunga yang semula sudah layu mendadak segar kembali.
(more…)

13/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:19 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 05
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Cing-cing tidak mati, ia malahan sangat sadar sejak tadi.

Dalam keadaan demikian, kesadaran sendiri merupakan semacam siksaan yang sukar ditahan, di alam halus seakan-akan benar ada badan halus yang menegakkan keadilan dan sengaja memberi hukum siksa kepadanya.
(more…)

12/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:17 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 04
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

File-nya hilang. Saya masih mencarinya. Nanti, kalau ketemu akan disusulkan.

11/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:01 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 03
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Rumah bekas restoran ini sudah dipotong-potong menjadi beberapa buah kamar, dipisahkan dengan papan. Kamar yang paling besar terdapat sebuah ranjang besar dengan selimut yang tebal. Dan Liok Siau-hong sekarang berbaring di tempat tidur ini sambil selimutan, namun masih terasa kedinginan.

Setiap orang tentu pernah mengalami penurunan mental, Siau-hong juga manusia. Dalam keadaan demikian, ia merasa segala urusan telah dilakukannya dengan kacau-balau tak keruan. Ia menjadi gemas dan ingin menghajar dirinya sendiri hingga setengah mati.
(more…)

27/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 6:44 am

Pendekar Empat Alis
Buku 5: Keajaiban Pulau Es (01)
Oleh Gu Long

Rahasu, negeri yang hendak dituju oleh Liok Siau-hong terletak di selatan Siang-hoa-kang, sungai bunga cemara. Sungai yang terletak di ujung utara, berbatasan dengan daerah yang kini dikenal sebagai Siberia.

Arti Rahasu adalah Lau-ok atau rumah tua, suatu tempat dingin dan terpencil, setiap tahun bila sudah menginjak bulan kesembilan, sungai itu lantas beku, sampai Jing-beng pada bulan keempat tahun berikutnya barulah air sungai akan cair lagi. Sungai terbeku selama tujuh bulan, jadi selama setahun sungai itu lebih lama dalam keadaan beku daripada cair.
(more…)

25/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 12:03 am

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 10. Kah Lok-san Dibunuh (TAMAT)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Dalam kegelapan lamat-lamat terlihat sesosok bayangan berduduk di depan sana. Entah kapan datangnya, juga sudah berapa lama orang berduduk di situ?

“Ada tamu, tuan rumah tidur seenaknya, kukira bukan cara demikianlah melayani seorang tamu,” terdengar orang itu berkata.
(more…)

24/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 12:01 am

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 09. Memaksa Orang Lain untuk Makan
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Akhirnya Siau-hong berangkat juga. Ucapan Ting-hiang-ih memang tidak salah, dengan sendirinya ia tidak dapat menemaninya selama hidup.

Cuaca cukup cerah, sinar sang surya tetap gilang gemilang, tapi rencana Siau-hong tidak riang lagi seperti tadi.
(more…)

23/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:58 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 08. Kutahu Kau Belum Mati
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Di dalam rumah masih ada cahaya lampu.

Pada waktu dia berangkat tadi, cahaya lampu mestinya sangat terang, tapi sekarang sudah jauh lebih guram.
(more…)

22/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:57 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 07. Im-tong-cu
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Liok Siau-hong sudah berangkat, dia berangkat seperti mau berjalan-jalan mencari angin. Leher baju saja tidak dikancingkan dengan baik.

Akan tetapi mengapa dia meninggalkan semua Ginbio itu, apakah lantaran dia tidak yakin benar akan dapat kembali dengan hidup?
(more…)

21/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:55 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 06. Ting-hiang ih, si nona Bunga Cengkeh
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Cuma saja, rasa lega demikian tidak bertahan lama. Pada esok paginya, diketahuinya orang yang menguntitnya dari tiga orang telah berubah lagi menjadi sepuluh orang.
Agar malamnya bisa tidur nyenyak, sedapatlah Siau-hong tidak menoleh, sebisanya ia berlagak tidak tahu.

Sebaliknya Ting-hiang-ih justru terus menerus berpaling dan mengintip ke belakang melalui jendela kecil di belakang kereta.
(more…)

20/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:46 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 05. Makan Nasi Lunak
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Dugaannya memang tidak salah. Nona yang dibawa datang oleh pelayan memang betul si dia.

“Inilah nona Ting, Ting-hiang-ih. dan inilah Liok-kongcu, silakan kalian bersahabat,” ucap si pelayan dengan senyuman penuh arti. Lalu dia mengeluyur keluar sambil merapatkan pintu kamar.
Ting-hiang-ih atau nona Bunga Cengkeh berdiri dengan menunduk dan sedang memainkan ujung bajunya dengan tangannya yang putih halus, diam saja dengan malu-malu kucing.
(more…)

19/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:45 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 04. Dikuntit Tiga Kelompok Orang
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Angin mendesir, tiba-tiba Siau-hong merasa dingin, sebab tiba-tiba teringat olehnya harus segera menempuh perjalanan jauh, teringat kepada sungai Siong-hoa yang hampir sepanjang tahun selalu membeku dan teringat kepada kota Rahasu yang penuh es itu.

Semua orang tahu Liok Siau-hong adalah seorang petualang. Bertualang juga semacam penyakit, serupa penyakit kanker, tidaklah mudah untuk menyembuhkannya, ingin punya penyakit ini juga sama sulitnya.
(more…)

18/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:39 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 03. Arak Paksaan
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Membuka rumah judi dengan sendirinya bukan pekerjaan yang halal, orang yang berkecimpung di lapangan ini, hidupnya tentu juga tidak normal, sampai makan dan tidur juga sama sekali berbeda daripada orang lain.

Sekarang adalah waktunya mereka makan, sebab itulah di ruangan depan tadi cuma dijaga oleh si Kerbau Gede dan si Buta. Dan kini kedua orang itu sudah terkulai.
(more…)

« Newer PostsOlder Posts »

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers