Kumpulan Cerita Silat

09/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 59

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 2:59 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Tengah Goan-ci bersangsi, tiba-tiba di luar hutan sana bergema suara orang mengakak tawa, suara tertawa itu sangat nyaring dan lepas. Menyusul berkumandang pula suara tertawa kaum wanita, suaranya genit menggiurkan.

Goan-ci lantas teringat kepada A Ci yang sedang menunggunya di luar hutan itu, kalau ada orang datang, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Maka cepat ia lari keluar hutan sana.

Dan baru saja tubuhnya bergerak, tahu-tahu di sebelahnya angin berkesiur, gerakan Toan Ki ternyata lebih cepat daripada dia dan tahu-tahu sudah melayang ke depan.

Goan-ci terkesiap dan bersuara kaget, ia pikir orang ternyata memiliki kepandaian setinggi ini. Tapi dilihatnya pula kelakuan Toan Ki seperti orang kesurupan setan, maka ia menjadi tertegun, sementara itu Toan Ki sudah menghilang dari pandangannya.

Waktu Goan-ci pasang telinga, ia dengar di luar hutan sana sayup-sayup ada suara orang bicara, cuma tidak terdengar jelas. Segera ia pun lari ke sana secepat terbang, hanya sekejap saja ia sudah berada di luar hutan. Ia lihat Toan Ki berdiri di tengah jalan sambil terlongong-longong memandang ke depan sana.

Waktu Goan-ci celingukan sekitarnya, ia jadi kelabakan karena A Ci tidak terlihat. Segera ia berteriak-teriak, “A Ci! A Ci! Di mana kau?”

Sungguh rasa khawatir Goan-ci sukar dilukiskan demi tidak diperoleh jawaban A Ci, seketika keringat membasahi tubuhnya dan otot-otot hijau memenuhi jidatnya. Ia coba mendekati Toan Ki dan tanya, “Saudara tadi keluar lebih dulu, apakah kau lihat A Ci?”

Tapi Toan Ki masih meneleng ke depan padahal di jalan sana keadaan sunyi senyap tiada seorang pun dan entah apa yang dia pandang.

Sesudah Goan-ci mengulangi pertanyaannya barulah ia jawab dengan bingung, “Hah, apa? O, A Ci?”

“Ya, seorang gadis cantik berbaju ungu, kedua matanya buta, tentu dia takkan pergi jauh dari sini,” sahut Goan-ci. “Apakah kau lihat dia?”

“Tadi dia sudah pergi!” kata Toan Ki.

“Pergi ke mana?” desak Goan-ci.

Toan Ki tersenyum getir, sahutnya, “Ya, dia sudah pergi. Melirik saja tidak padaku, anggapnya dunia ini seperti tiada terdapat seorang aku ini.”

Goan-ci menjadi khawatir dan tambah gopoh, cepat tanyanya pula, “Apa yang kau ocehkan? Di mana A Ci? Tentu kau lihat dia?”

Sembari berseru, berulang ia goyang-goyangkan bahu Toan Ki.

Karena itu barulah Toan Ki seperti tersadar dari impiannya, dengan kening bekernyit ia tanya, “Ada apa sobat?”

“A Ci! Aku mencari A Ci!” seru Goan-ci, saking gugupnya sampai suaranya serak.

“O, kiranya saudara hendak mencari orang, sayang tidak dapat kubantu apa-apa,” sahut Toan Ki.

“Kentut!” semprot Goan-ci. “Baru saja kau bilang melihat dia. Nah, lekas katakan, telah kau bawa dia ke mana?”

Sebabnya Toad Ki mendadak lari keluar hutan tadi adalah karena tiba-tiba mendengar suara tertawa seorang laki-laki dan seorang wanita yang dikenalnya sebagai suara Buyung Hok dan Ong Giok-yan, sebab itulah ia lari keluar seperti kesetanan. Tapi yang dapat dilihatnya hanya bayangan belakang Giok-yan saja, lantaran itu ia menyesal setengah mati dan merasa kehilangan sesuatu sehingga seperti orang linglung.

Ketika ditanya Goan-ci pada hakikatnya ia tidak mendengarkan, sebaliknya ia berkeluh kesah akan perasaan sendiri. Sekarang didengarnya Goan-ci berkata, “Baru saja kau bilang melihat dia,” ia sangka “dia” yang dimaksudkan itu adalah Ong Giok-yan, maka kembali kumat pula ketolol-tololannya, sahutnya, “Ya, aku memang melihat dia, cuma dia tidak melihat aku.”

“Sudah tentu dia tak dapat melihatmu,” kata Goan-ci cepat.

Yang dimaksudkan Goan-ci adalah karena A Ci sudah buta, sudah tentu tak bisa melihat.

Maka Toan Ki menghela napas, katanya, “Dalam hatinya hanya terisi seorang saja, orang lain hanya terpandang dan tak terlihat olehnya.”

Goan-ci merasa bangga, sahutnya, “Sudah tentu dalam hatinya hanya terdapat seorang saja!”

Nyata terjadi salah wesel antara mereka, yang satu maksudkan Ong Giok-yan, yang lain A Ci, tentu saja tidak kelop.

Lalu Goan-ci berkata lagi, “Dan sekarang ke manakah dia?”

“Entah, aku tidak tahu,” sahut Toan Ki, “wahai Toan Ki! Ke manakah dia pergi, apakah kau tahu?”

Goan-ci berjingkrak kaget demi mendengar nama “Toan Ki” disebut. Beruntun ia mundur tiga langkah, hatinya berdebar-debar, tanyanya, “Kau bilang Toan Ki? Sia… siapakah yang bernama Toan Ki?”

“Aku inilah Toan Ki sendiri,” sahut Toan Ki.

Keruan Goan-ci tambah kaget, serunya, “Jadi kau ini….”

Mendadak ia berhenti, lalu menyambung lagi dengan bentakan bengis, “Di mana A Ci? Lekas katakan!”

Sebenarnya Goan-ci sudah biasa dimaki dan dihajar orang, biarpun dipukul mati juga tidak berani melawan. Tapi sekarang diketahuinya bahwa pemuda di hadapannya ini adalah Toan Ki, ditambah “provokasi” yang telah dicekoki Ciumoti, maka ia anggap Toan Ki benar-benar seorang Toa-ok-jin, apalagi mendadak A Ci menghilang, hal ini digandengkan dengan kejahatan sang Toa-ok-jin pula, maka ia yakin hilangnya A Ci pasti juga permainan Toan Ki.

Soalnya menyangkut keselamatan A Ci, dalam keadaan terpaksa pun ia berani menyelamatkan A Ci di depan hidung Ting Jun-jiu, apalagi sekarang yang dihadapi adalah Toan Ki, si “Toa-ok-jin”.

Dalam keadaan gusar, muka Goan-ci yang babak bundas bekas luka menjadi merah padam, matanya berkilat-kilat, tampaknya sangat seram.

Ketika Toan Ki memandang sekejap padanya ia pun terkesiap dan menyurut mundur selangkah, katanya, “A Ci? A Ci apa?”

“Eh, masih berlagak pilon?” damprat Goan-ci dengan gusar.

“Aku tidak tahu tentang A Ci segala, jangan kau tanya padaku!” ujar Toan Ki sambil goyang-goyang kedua tangannya.

Melihat orang menyangkal, Goan-ci tambah murka sehingga mukanya yang jelek itu tambah beringas, kedua tangannya terus diangkat, dengan kaku ia menubruk ke depan. Meski gerak ilmu silatnya cuma biasa saja, tapi mukanya itulah yang menakutkan.

Toan Ki terkejut, cepat ia keluarkan “Leng-po-wi-poh” yang aneh, sedikit meluncur, segera tubrukan Goan-ci dapat dihindarkannya.

Dengan tubrukan yang kalap itu Goan-ci sangka pasti akan kena sasarannya, siapa tahu mendadak lawan meluncur pergi, sampai ujung bajunya saja tidak tersenggol.

Goan-ci tertegun sejenak, tiba-tiba ia bersuara aneh dan kembali menubruk pula.

Cepat Toan Ki berseru, “Hei, sobat, ada urusan apa hendaknya dibicarakan dengan baik-baik….”

“Kembalikan A Ci-ku!” teriak Goan-ci dengan suara aneh.

“Aku tidak tahu A Ci itu apa?” sahut Toan Ki.

“Kentut, baru saja kau bilang melihat dia!” semprot Goan-ci. Tengah bicara, berulang Goan-ci menubruk lagi beberapa kali.

Meski Toan Ki Tidak balas menyerang namun sama sekali Goan-ci tidak pikirkan lawan itu sebenarnya bukan Toa-ok-jin segala, sebaliknya ia sangka ilmu sakti yang diajarkan Tay-lun-beng-ong padanya teramat lihai sehingga “Toa-ok-jin” tidak berani melawannya. Maka ia makin dapat hati dan menubruk semakin cepat.

Begitulah yang satu menubruk dan yang lain menghindar, kedua orang sama-sama cepat luar biasa. Toan Ki menjadi kebat-kebit, ia merasa kejadian sekarang ini jauh lebih berbahaya daripada dahulu waktu ia mempermainkan Lam-hay-gok-sin. Untunglah gerak langkah “Leng-po-wi-poh” teramat aneh dan bagus sehingga sebegitu jauh Toan Ki selalu dapat terhindar dari bahaya.

Setelah udak-udakan hampir setengah jam, tetap Goan-ci tidak mampu memegang Toan Ki, saking nafsunya sampai matanya merah membara dan menakutkan. Tapi Toan Ki terus tutup mata malah dan anggap tidak melihat, hanya kakinya saja yang bekerja.

Sembari mengudak Toan Ki, diam-diam Goan-ci merasa khawatir juga akan keselamatan A Ci, keringat mengucur dari jidatnya bagai air hujan sehingga menghalangi pandangannya, terpaksa ia mengangkat lengan baju untuk mengusap.

Di luar dugaan, sesudah sekian lama ia menubruk kian kemari, debu pasir ikut bertebaran dan memenuhi lengan bajunya, sekali ia mengusap keringat pada mukanya, seketika matanya kelilipan dan tidak dapat melihat lagi.

Keruan Goan-ci jadi kelabakan, walaupun soal mata kelilipan hanya sekejap saja sudah dapat disembuhkan, tapi menghadapi seorang “Toa-ok-jin”, kalau mendadak diserang, kan bisa celaka? Maka terpaksa tangannya mencakar-cakar dan diobat-abitkan ke depan.

Tak tersangka permainan secara ngawur itu justru mendatangkan hasil di luar dugaan. Pada waktu menggunakan “Leng-po-wi-poh”, yaitu Langkah ajaib andalan Toan Ki, jika musuh mengincar tubuhnya dan menyerang menurut aturan, biarpun berusaha sampai sekarat juga takkan kena. Sebaliknya kalau menyerang secara ngawur dan serabutan hal ini justru berbahaya bagi pemain langkah aneh itu.

Sekarang mata Goan-ci kelilipan sehingga terpaksa ia mencakar dan menjambret sekenanya, tahu-tahu malah Toan Ki kena dipegangnya.

“Nah, kena dia!” seru Goan-ci di dalam hati.

Keruan Toan Ki terkejut, sekuatnya ia mengebaskan tangannya, “bret”, sepotong lengan bajunya terobek dan pegangan Goan-ci juga terlepas.

“Leng-po-wi-poh” yang selama ini menguntungkan itu sekarang mendadak tidak manjur, keruan Toan Ki kaget sehingga langkahnya sedikit terlambat, sedang lawan terlihat menubruk maju lagi, dalam gugupnya terpaksa Toan Ki menggeser mundur sedikit, dan otomatis kedua tangannya digunakan menyambut tubrukan orang. Maka terdengarlah suara “plak-plok” dua kali, empat tangan seketika saling lengket.

Goan-ci masih ingat pesan Tay-lun-beng-ong, maka segera ia kerahkan tenaga. Tubuh kedua orang pun lantas terpaku di tempat masing-masing tanpa bergelak lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba Ciumoti tampak melayang tiba. Orang pandai seperti dia ini ternyata juga tercengang demi melihat keadaan kedua orang yang saling dorong dengan kedua tangan masing-masing mirip dua orang pegulat yang sedang mengukur tenaga.

Tertampak muka Toan Ki merah membara, badan menguap mirip kuali panas yang baru ditutupnya. Sebaliknya sekujur badan Goan-ci tampak terbungkus oleh selapis salju putih tipis.

Ciumoti sangat luas pengalamannya, tadinya ia cuma mengetahui ilmu yang dimiliki Toan Ki dan Goan-ci itu yang satu mahakeras dan mahapanas, sebaliknya yang lain mahadingin dan maha berbisa, lebih dari itu ia tidak tahu dari mana datangnya kedua macam ilmu silat yang sangat aneh itu.

Sekarang sesudah kedua orang saling gebrak ia jadi terperanjat pula demi melihat keadaan panas-dingin di antara mereka itu.

Sejak Toan Ki makan katak merah dan tanpa sengaja menggunakan “Cu-hap-sin-kang” untuk menyedot lwekang beberapa jago kelas satu, sebenarnya kekuatannya boleh dikatakan tiada tandingannya lagi di dunia ini. Tapi kebetulan muncul pula seorang Yu Goan-ci yang telah mengisap racun mahadingin dari ulat sutra es dan memperoleh pula Ih-kin-keng yang mukjizat sehingga berhasil memiliki “Peng-jan-ih-kang” (ilmu ajaib ulat sutra es). Ilmu kedua orang itu justru berlawanan sehingga sekali gebrak kedua orang benar-benar ketemu tandingan yang sama kuatnya dan sukar dipisahkan.

Bagi Toan Ki sudah tentu tiada maksud hendak membikin susah orang. Sebaliknya meski Goan-ci ingin merobohkan Toan Ki, hal ini pun tidak mudah, ia pun tidak tahu cara bagaimana harus melaksanakan maksud itu.

Oleh karena itu kepandaian kedua orang sama-sama mahakuat dan hebat, maka begitu tangan saling menempel, secara otomatis tenaga murni kedua orang lantas dikeluarkan untuk menyerang lawan, semakin kuat daya tekanan lawan, dengan sendirinya tenaga perlawanan yang dikeluarkan juga tambah kuat, sebab itulah sekali gebrak mereka lantas mengeluarkan tenaga murni masing-masing sepenuhnya sehingga boleh dikata pertarungan mereka ini adalah pertarungan yang mahadahsyat dan jarang terdapat di dunia persilatan.

Hanya sebentar saja Ciumoti menyaksikan di samping, terlihat sekujur badan Toan Ki sudah terbungkus oleh uap panas hingga mirip sebuah anglo. Sebaliknya badai Goan-ci juga perlahan terbungkus oleh selapis es tipis hingga mirip sebuah lemari es.

Diam-diam Ciumoti sangat senang karena usahanya mengadu domba kedua orang itu telah berhasil. Segera ia melangkah maju dan angkat tangan hendak melontarkan pukulan ke arah Toan Ki. Tapi belum lagi pukulannya terjadi, tiba-tiba dari belakang terdengar teriakan orang yang sangat nyaring, “Jangan, Taysu!”

Cepat Ciumoti menoleh, ia lihat di belakangnya sudah berdiri seorang laki-laki dan seorang perempuan, kiranya Buyung Hok dan Ong Giok-yan berdua.

“Kenapa jangan?” tanya Ciumoti.

Seketika Buyung Hok tak bisa menjawab. Sebabnya dia berseru mencegah adalah lantaran rasa sayangnya kepada kepandaian Toan Ki dan Yu Goan-ci yang luar biasa itu sehingga tanpa terasa ia mencegah serangan gelap Ciumoti itu.

Karena tidak mendapat jawaban, Ciumoti berkata pula, “Dahulu Siauceng bersahabat sangat akrab dengan Buyung-siansing, ketika bicara tentang ilmu pedang di dunia ini, Buyung-siansing menyatakan bahwa Lak-meh-sin-kiam dari Thian-liong-si di Tayli adalah ilmu pedang nomor satu di dunia ini. Cuma sayang beliau tidak pernah menyaksikan sendiri sehingga hal ini sangat disesalkannya. Tatkala itu aku berjanji padanya untuk berusaha melaksanakan cita-cita beliau itu. Kini meski Buyung-siansing sudah wafat, tapi tetap harus kutepati janji, biarpun Lak-meh-sin-kiam-boh (kitab ilmu pedang) sudah musnah, tapi Toan Ki ini sudah menghafalkan seluruh isi kitab ilmu pedang itu di luar kepala sehingga pada hakikatnya dia merupakan kiam-boh hidup, maka hendak kutawan dia ke depan makam Buyung-siansing untuk dibakarnya di sana guna menepati janjiku itu.”

“Taysu,” tiba-tiba Giok-yan berseru, “persahabatanku dengan Toan-kongcu ini belum lama, tapi kami agak cocok satu sama lain. Maka janjimu yang tidak penting itu harap dianggap sebagai kelakar saja dan tak perlu ditepati.”

Tapi Ciumoti melihat Toan Ki sudah tak bisa bergerak lagi, sekali pegang tentu akan dapat ditawannya dengan mudah, sudah tentu ia tidak mau menuruti permintaan Giok-yan itu, katanya dengan terbahak-bahak, “Hahaha, Lisicu anggap aku ini orang apa? Masakah boleh janji tidak ditepati?”

Sembari berkata, terus saja tangannya mencengkeram pundak Toan Ki.

Giok-yan menjerit tertahan sambil menutup mukanya dengan tangan karena tidak tega menyaksikan lebih jauh. Namun Buyung Hok lantas bertindak, ia melayang maju sambil membentak, “Tahan, Taysu!”

Dengan cepat luar biasa ia melayang sampai di samping Ciumoti, jari tengahnya terus menyelentik “Siau-yau-hiat” di pinggang padri itu.

Tapi pada saat itu pula mendadak Ciumoti menjerit aneh sekali, tahu-tahu tubuhnya terpental pergi dengan berjumpalitan. Tutukan Buyung Hok secepat kilat itu ternyata mengenai tempat kosong, segera ia menarik kembali tangannya, sementara itu Ciumoti kelihatan berdiri di tempat sejauh tiga-empat meter sana dengan muka pucat dan badan agak gemetar.

Buyung Hok tidak tahu apa yang telah terjadi dalam sekejap itu, maka ia coba tanya, “Ada apa Taysu?”

Sudah tentu Ciumoti tidak dapat menjelaskan. Yang terang tadi baru saja jarinya menyentuh pundak Toan Ki, mendadak ia merasa yang dipegangnya itu seperti arang yang membara, berbareng terasa dari badan Toan Ki timbul semacam daya sedot yang mahakuat hingga tenaga dalamnya terisap.

Keruan kaget Ciumoti tidak kepalang dan cepat menarik kembali tangannya, untung ia masih dapat melepaskan diri dari sedotan Toan Ki, hal ini boleh dikatakan luar biasa berkat ketangkasan dan kecerdikannya yang dapat bertindak dengan cepat.

Walaupun demikian tidak urung tenaga dalam Ciumoti itu juga sudah tersedot sebagian oleh “Cu-hap-sin-kang”, ilmu sakti katak merah yang dimiliki Toan Ki itu.

Saat itu Toan Ki sedang mengukur tenaga dengan Goan-ci, ketika mendadak mendapat bantuan tenaga segar dari luar, seketika juga Goan-ci kena didesaknya hingga mundur setindak.

Dan sedikit badan Goan-ci bergerak, segera lapisan es yang membungkus tubuhnya itu sama rontok dan jatuh ke tanah. Tapi hanya setindak saja ia terdesak mundur, lalu ia dapat berhenti pula dengan kuat, sedang “Peng-jan-ih-kang” tetap bekerja sehingga dengan cepat badannya kembali terbungkus oleh selapis es tipis yang baru, bahkan makin lama makin tebal lapisan es itu dan mengeluarkan cahaya gemerlapan di bawah sinar sang surya.

Sebaliknya badan Toan Ki tampak menguap lebih keras lagi hingga seperti mengepulkan asap yang tipis. Pemandangan yang berlawanan dengan Goan-ci itu sungguh sangat aneh dan menarik.

Sesudah Ciumoti kaget setengah mati, lekas ia kerahkan tenaga murni untuk menghimpun kembali lwekangnya hingga seketika tidak sanggup bersuara. Sedangkan Buyung Hok juga melongo menyaksikan apa yang terjadi tadi.

“Piauko, apakah dapat kau pisahkan mereka?” tanya Giok-yan kemudian.

Buyung Hok menghela napas panjang, sahutnya, “Hari ini barulah kutahu bahwa ilmu silat sesungguhnya tiada batasnya, mungkin di zaman ini tidak seorang pun yang dapat memisahkan mereka ini.”

Giok-yan merasa khawatir, katanya, “Habis, apakah Toan-kongcu dan laki-laki jelek ini akan….”

“Mereka berdiri terpaku di sini, pada akhirnya tenaga mereka tentu akan habis dan tatkala itu dengan sendirinya mereka akan terpisah,” ujar Buyung Hok.

Walaupun tidak dijelaskan juga Giok-yan tahu bahwa terpisahnya kedua orang itu nanti tentu akan dibarengi dengan kematian mereka. Dalam keadaan demikian, mau tidak mau teringat juga olehnya kebaikan Toan Ki padanya selama ini sehingga sedikit banyak ia pun merasa cemas.

Dengan termangu-mangu Buyung Hok menyaksikan Toan Ki dan Goan-ci yang masih saling pegang tanpa bergerak itu, mendadak ia berteriak, “Piaumoay, selama hidupku terang ilmu silatku tak mungkin mencapai setinggi mereka ini.”

“Pertarungan mereka ini kelak tentu akan dibuat cerita pujian sepanjang masa di dunia persilatan, sebaliknya aku hanya menyaksikan saja tanpa dapat berbuat apa-apa, dalam cerita itu nanti entah diriku akan dijadikan peranan sebagai apa?”

Belum lagi Giok-yan menjawab, tiba-tiba Buyung Hok menyambung dengan menjengek, “Hm, tentu aku akan diceritakan sebagai seorang pengecut yang tiada taranya. Ya, biarpun aku harus binasa tergetar oleh tenaga mereka juga akan kupisahkan mereka agar dapat meninggalkan nama harum di kemudian hari.”

Giok-yan terkejut mendengar tekad sang piauko itu, cepat ia berseru, “Jangan, Piauko!”

Namun sudah terlambat, Buyung Hok telah rangkap kedua tangannya bagaikan orang sembahyang Buddha dan sekaligus terus menerjang ke depan.

Dalam hal pengetahuan, Ong Giok-yan ada lebih tinggi daripada Buyung Hok. Ia tahu sekali sang piauko telah menerjang sepenuh tenaga, andaikan dapat memisahkan kedua orang yang sedang mengadu tenaga itu, tapi sang piauko sendiri tentu juga tidak dapat menahan gencetan dari dua arus tenaga yang berlawanan dan mahahebat itu dan pasti akan binasa seketika. Maka ia menjadi khawatir dan tanpa berdaya, ia hanya bisa menangis saja sambil menekap mukanya sendiri.

Syukurlah pada saat Buyung Hok mulai menerjang itu, sekonyong-konyong dari dua jurusan telah menyambar pula dua rangkum angin yang mahakuat dengan cepat luar biasa. Maka tertampaklah dari sebelah timur telah melayang tiba seorang laki-laki berbaju hitam yang berperawakan tegap, muka berkedok, hanya kelihatan kedua matanya. Sedangkan dari sebelah barat muncul seorang padri berjubah putih, mukanya juga berkedok kain putih dan juga melulu sepasang matanya yang kelihatan.

Datangnya kedua orang itu sedemikian cepat sehingga seakan-akan dua jalur sinar hitam-putih yang mendadak berkelebat melampaui di depan Buyung Hok, berbareng kedua orang itu telah angkat tangannya pula sehingga dua arus tenaga yang sangat kuat menyambar ke arah Buyung Hok, tanpa kuasa lagi Buyung Hok terpental mundur.

Sesudah mendesak mundur Buyung Hok, segera laki-laki baju hitam dan padri berjubah putih bergabung menjadi satu, dengan berjajar mereka terus menerjang ke depan, tenaga pukulan mereka pun terhimpun menjadi satu hingga mendadak Toan Ki dan Goan-ci dapat dipisahkan. Bahkan kedua orang itu sedikit pun tidak berhenti, secepat kilat mereka lantas terpencar pula, seorang ke timur dan yang lain ke barat, hanya dalam sekejap mereka sudah menghilang lagi.

Rupanya kedua orang yang berbaju hitam-putih itu telah menggabungkan tenaga pukulan mereka menjadi suatu jalur tenaga yang sempit untuk menerobos keempat tangan Toan Ki dan Goan-ci yang saling lengket itu sehingga kedua pemuda itu dapat dipisahkan secara mentah-mentah, bahkan tenaga pukulan gabungan itu tidak lantas lenyap, tapi masih terus menyambar ke depan sehingga sebatang pohon besar dengan tepat kena terhantam, maka terdengarlah suara gemuruh, pohon itu seakan-akan terbelah oleh sebuah kapak raksasa yang mahatajam dan tumbang seketika.

Toan Ki dan Goan-ci juga tergetar mundur dua-tiga tindak. Lapisan es di tubuh Goan-ci sama rontok pula, sedang hawa berbisa Toan Ki juga menguap lenyap tanpa bekas.

Waktu Goan-ci terhuyung-huyung mundur, ia masih sempat mengetahui berkelebatnya bayangan si orang berbaju hitam yang melayang ke barat sana. Seketika ia tercengang dan teringat sesuatu.

Dahulu waktu Kiau Hong mengamuk di Cip-hian-ceng, saat itu Goan-ci mengikuti peristiwa itu dengan sembunyi di balik dinding ia menyaksikan para kesatria sama menggeletak mati atau terluka parah, akhirnya Kiau Hong juga tidak tahan, tapi dapat ditolong oleh seorang laki-laki berbaju hitam dengan seutas tambang panjang, sebab itu kesan Goan-ci kepada orang berbaju hitam itu sangat mendalam.

Maka sekarang sekilas lihat saja ia dapat mengenali orang berbaju hitam tadi bukan lain adalah orang yang sama dahulu itu. Sedangkan padri berjubah putih yang melayang ke arah timur itu tidak keburu dilihat oleh Goan-ci.

Sebaliknya arah berdiri Ciumoti dan Buyung Hok kebetulan dapat melihat bayangan tubuh padri berjubah putih itu. Mestinya Ciumoti sudah mulai tenang kembali, tapi demi tampak potongan tubuh padri itu, kembali air mukanya berubah hebat penuh keheranan dan kesangsian. Ia berpaling dan tanya Buyung Hok, “Taysu tadi itu apakah….”

Tapi Buyung Hok lantas menggeleng kepala dan menjawab, “Gerak tubuhnya terlalu cepat, menyesal tidak jelas kulihatnya.”

Ciumoti tercengang sambil bergumam sendiri, “Apakah dia… ah, tentu mataku yang kabur sehingga mengira dia seorang sobatku yang lama.”

Dalam pada itu sesudah terpisah dari Toan Ki segera Goan-ci memeriksa sekitarnya dan tidak mendapatkan A Ci, yang terlihat hanya Ong Giok-yan dan Buyung Hok saja, maka kembali ia berteriak aneh, “Di mana A Ci?” Segera Toan Ki hendak ditubruknya pula.

Tapi baru saja badannya bergerak, tiba-tiba terdengar suara sambutan A Ci dari tempat jauh, “Ong-kongcu, aku berada di sini!”

Sungguh girang Goan-ci melebihi putus lotre 120 juta demi mendengar suara A Ci, sekuatnya ia menahan tubuhnya sehingga terjatuh ke tanah, tapi biarpun dia terbanting lebih keras juga takkan terasa sakit, bahkan segera ia meloncat bangun terus memburu ke arah datangnya suara A Ci.

Maka tertampaklah A Ci sedang mendatang dengan perlahan, bajunya yang berwarna ungu muda itu bergerak-gerak tertiup angin, wajahnya menampilkan senyuman manis.

Saking girangnya Goan-ci sampai berteriak-teriak aneh terus memapak maju, meski ia lewat di samping Giok-yan yang kecantikannya boleh dikata tiada bandingannya di dunia ini, tapi sekejap pun Goan-ci tidak meliriknya, mungkin dalam pandangannya biarpun bidadari yang turun dari kahyangan juga tak dapat membandingi si A Ci kesayangannya itu.

Sesudah dekat, dengan napas memburu ia lantas tanya, “A Ci, ke manakah dikau pergi? Ai… aku… aku sungguh sangat khawatir.”

“Bukankah sekarang aku sudah kembali, khawatir apa?” sahut A Ci.

Tadi Goan-ci memang kelabakan setengah mati dengan hilangnya A Ci, kini demi ditegur oleh anak dara itu, seketika ia merasa rasa khawatirnya itu memang berlebihan, dalam keadaan buta dengan sendirinya A Ci takkan meninggalkan dia, mengapa mesti khawatir?

Sekarang sesudah anak dara itu diketemukan kembali, sungguh girangnya susah dilukiskan, segala apa yang terjadi tadi telah dikesampingkan seluruhnya.

Maka dengan tertawa A Ci tanya, “Apakah kau jadi berkelahi dengan orang?”

Goan-ci hanya memandangi anak dara itu dengan terkesima, pada hakikatnya ia tidak dengar apa yang ditanyakan itu.

Berulang A Ci tanya pula, tapi mendadak Goan-ci malah balas tanya di luar garis, “Kenapa engkau tidak omong dan lantas tinggal pergi begitu saja?”

A Ci tertawa genit, sahutnya, “Aku pergi mencari tahu tentang dirimu.”

“Hah? Kau… kau….” seru Goan-ci terkejut.

“Tadi kudengar Buyung-kongcu dan nona Ong berdua lewat di luar hutan itu, teringat olehku bahwa Buyung-kongcu adalah kawanmu, maka aku lantas berseru memanggilnya dan berbicara tentang dirimu.”

Seketika kepala Goan-ci seperti diguyur air es, keluhnya di dalam hati, “Wah, celaka! Tamat tamatlah riwayatku sekarang!”

“He, kenapa kau? Mengapa diam saja?” tanya A Ci dengan heran.

Belum lagi Goan-ci menjawab, tiba-tiba sebuah tangan orang meraih pundaknya. Cepat Goan-ci menoleh, ia lihat orang itu adalah Buyung Hok yang sedang memandang padanya dengan tertawa. Keruan kejut Goan-ci tambah hebat sehingga mundur setindak.

Tapi dengan tertawa Buyung Hok berkata, “A Ci, sayang kau datang terlambat sedikit, Ong-kongcumu ini sangat mengkhawatirkan dirimu dan dia telah unjuk ilmu saktinya, sehingga kami benar-benar terpesona.”

Dengan girang A Ci menjawab, “Apakah betul? Ah, Buyung-kongcu sendiri terlalu rendah hati.”

“Sekali-kali aku tidak rendah hati,” sahut Buyung Hok. “Betapa tinggi ilmu silat Ong-kongcu sungguh sukar diukur.”

Mendengar ini A Ci tertawa lebih gembira lagi. Sebaliknya Goan-ci berdiri terpaku di tempatnya dengan perasaan bingung.

Sehabis berkata, lalu Buyung Hok lari pergi dengan perlahan, katanya, “Kami masih ada sedikit urusan, sampai bertemu pula!”

Hanya sekejap saja orangnya sudah pergi jauh.

Sesudah termangu-mangu sebentar, kemudian Goan-ci berkata, “A Ci, ketika kau tanya mereka tentang diriku, apa yang dikatakannya padamu?”

“Semula Buyung-kongcu tercengang,” tutur A Ci, “tapi kemudian nona Ong mengingatkan dia, lalu ia mengatakan bahwa engkau sangat mirip dia, bahkan orang lain sering menyangka kalian adalah saudara sekandung!”

Kembali Goan-ci termangu-mangu, sungguh terima kasihnya tak terhingga kepada Buyung Hok dan Ong Giok-yan berdua. Ia tahu kedua orang itu tentu melihat A Ci sudah buta, tatkala membicarakan diriku tampaknya arak dara ini sedemikian mesra, karena tidak ingin A Ci sedih dan kecewa, maka mereka sengaja membohonginya, hal ini tidak ubahnya seperti telah menolong jiwaku.

Sampai sekian lama Goan-ci tertegun, ketika ia menoleh, ia lihat Toan Ki juga sudah pergi, sedang Ciumoti tampak lagi bergerak keluar hutan sana dengan cepat. Segera Goan-ci berteriak-teriak, “Taysu! Taysu!”

Tapi Ciumoti sama sekali tidak menoleh, secepat terbang orangnya menghilang di balik pohon sana.

“Taysu, nanti malam akan kau cari aku lagi tidak?” seru Goan-ci pula.

Dari jauh terdengar Ciumoti menjawab, “Kau tidak dapat membedakan antara yang jahat dan bajik, buat apa aku berhubungan lagi denganmu?”

Goan-ci semakin gugup, serunya pula, “Tapi engkau telah berjanji akan terima aku sebagai murid, apa… apa….”

Tapi segera teringat olehnya bahwa A Ci berada di situ, ucapannya itu tentu akan membikin rahasianya terbongkar, seketika ia berkeringat dingin dan tidak sanggup meneruskan ucapannya.

Sementara itu Ciumoti sudah berada sangat jauh, tapi suaranya masih terdengar, “Jika kau mau taat kepada pesanku dan berdaya untuk membasmi Toa-ok-jin Toan Ki maka harapanmu akan kuterima sebagai murid di kemudian hari mungkin bisa terkabul.”

Saking girangnya Goan-ci menjawab dengan suara keras, “Ya, ya, Taysu! Engkau sendiri jangan lupa ya!”

Habis itu, suasana di tengah hutan lantas sunyi senyap. Sampai agak lama baru terdengar A Ci bersuara, “Ong-kongcu, ilmu silatmu sendiri sudah tergolong kelas wahid, sampai Ting Jun-jiu juga kena kau labrak hingga mengacir, mengapa engkau sedemikian menghormat kepada Tay-lun-beng-ong itu? Bukankah hal ini akan merosotkan harga dirimu?”

Goan-ci merasakan nada ucapan A Ci itu mengandung rasa kecewa, tidak puas dan mendongkol, agaknya menaruh curiga pula kepadanya, maka cepat ia menjawab, “A Ci, rupanya kau… kau tidak tahu bahwa aku hanya pura-pura hendak mengangkat guru padanya, tapi… tapi sebenarnya aku mempunyai maksud tujuan tertentu.”

“Ah, kiranya demikian, jadi engkau hanya pura-pura saja hendak mengangkat guru padanya?” A Ci menegas dengan tertawa.

“Ya, sudah tentu hanya pura-pura saja,” sahut Goan-ci. “Coba pikirkan, aku Ong Sing-thian adalah Ciangbunjin Kek… Kek-lok-pay, masakah aku sudi berguru pula kepada orang lain? Tentang maksudku hendak mengangkat guru padanya sudah tentu cuma pura-pura saja. Bicara tentang ilmu silat sejati, huh, masakah Ciumoti itu….”

Sebenarnya ia hendak mengatakan Ciumoti itu tak mungkin dapat menandingi dirinya, tapi dia adalah seorang jujur, terhadap Ciumoti memang sangat kagum, biarpun di belakang juga tidak mau berlaku kurang sopan, sebab itulah ia urung melanjutkan ucapannya itu.

Maka dengan tertawa A Ci berkata, “Ong-kongcu, jangankan cuma Ciumoti, sedangkan tokoh mahahebat seperti Buyung-kongcu itu juga sedemikian menghormat dan segan padamu, sudah tentu Ciumoti itu sekali-kali bukan tandinganmu. Tapi engkau sengaja pura-pura hendak berguru padanya, sebenarnya apa maksud tujuanmu?”

Goan-ci bukan anak bebal, tapi juga bukan orang pintar dan cerdik, disuruh mencari akal mendadak untuk membohong sekali-kali tak bisa. Maka demi ditanya oleh A Ci terpaksa ia menjawab, “Tentang ini… ini… ehm… ini….”

Seketika A Ci ngambek, dengan mulut menjengkit ia berkata, “Jika engkau tidak sudi menerangkan juga tak apa, memangnya aku juga tidak sesuai untuk ikut mengetahui rahasia dunia persilatan yang mahapenting ini.”

Goan-ci menjadi gugup melihat A Ci kurang senang, cepat katanya, “Ini pun bukan rahasia apa-apa, jika kau ingin tahu, sudah tentu dapat kuterangkan….” Berbareng itu ia coba peras otak dengan harapan dapat menemukan sesuatu akal untuk menjawab pertanyaan A Ci itu, tapi meski sudah dipikir kian kemari tetap tak diperoleh sesuatu akal yang baik.

Karena Goan-ci tergegap-gegap tak bisa menerangkan lebih jauh, A Ci mengira pemuda itu sengaja tidak mau bicara terus terang padanya. Biasanya A Ci terlalu dimanjakan dan tinggi hati, meski sekarang matanya buta tapi dalam waktu singkat sifat-sifatnya itu sukar berubah. Maka dalam gusarnya segera ia membuang muka terus tinggal pergi dengan cepat.

Keruan Goan-ci tambah gugup, cepat ia berseru, “A Ci, A Ci, jangan gusar, biarlah kukatakan padamu sekarang juga.”

“Huh, tidak begini!” jengek A Ci. “Aku tidak suka dengar lagi.”

Mendadak kakinya kesandung sesuatu dan jatuh tersungkur sambil menjerit kaget. Meski nyatanya sudah buta, tapi ilmu silat A Ci masih cukup lihai, sekali tangan kanan menahan tanah, dengan enteng ia melompat bangun lagi.

Segera Goan-ci mendekatinya sambil bertanya, “Engkau tidak apa-apa bukan, A Ci?”

“Biar terbanting mati saja daripada hidup disiksa,” sahut A Ci.

Diam-diam Goan-ci heran bilakah dirinya pernah menyiksa anak dara itu? Selama berkenalan dengan A Ci, yang sudah kenyang dihina dan disiksa ialah Goan-ci sendiri, tapi sekarang anak dara itu mengomeli dia dan memutarbalikkan apa yang terjadi sebenarnya, keruan Goan-ci serbarunyam.

Waktu A Ci berdiri tegak kembali, ketika ia coba meraba barang apa yang menyandung kakinya itu hingga jatuh, ternyata di situ terlintang sebatang pohon tumbang yang sudah terbelah menjadi dua, bagian batang pohon yang terbelah terasa sangat licin dan rajin, rasanya sekali-kali bukan dipotong oleh gergaji dan sebagainya, andai kata dikapak juga tidak mungkin terdapat kapak sebesar itu yang dapat membelahnya dari atas ke bawah dan tidak mungkin pula terdapat manusia raksasa yang mampu membelah sebatang pohon besar dari atas.

Sesudah berpikir sejenak, segera A Ci tahu sebab musababnya, katanya dengan suara terputus-putus, “Ong… Ong-kongcu, tadi engkau telah… telah bertanding dengan orang dan membelah pohon ini menjadi dua, bukan?”

Sebenarnya watak Goan-ci sangat rendah hati dan tidak suka membual serta mengagulkan diri, sebab ia tahu awak sendiri adalah orang bodoh, hendak, membual juga tidak bisa, tapi sekarang di hadapan A Ci, ia menjadi khawatir kalau anak dara itu mengetahui harga dirinya yang tidak laku sepeser pun, sekali guci wasiatnya terbongkar, seketika anak dara itu akan meninggalkan dia.

Sebab itulah, setiap kesempatan yang dapat menaikkan harga diri dan ilmu silatnya tentu tidak disia-siakan olehnya.

Akan tetapi terbelahnya pohon besar ini adalah lantaran gabungan tenaga laki-laki baju hitam dan padri jubah putih yang dilakukannya dalam sekejap setelah memisahkan Goan-ci dan Toan Ki, betapa hebat tenaga gabungan itu mana dapat ditandingi oleh siapa pun juga? Biarpun sekarang Goan-ci hendak membual di hadapan A Ci juga tidak berani mengaku mempunyai kemampuan sehebat itu.

Karena itulah ia hanya menjawab dengan tergegap, “Tentang ini… ini… bukan….”

“Ong-kongcu,” sela A Ci dengan tersenyum, “engkau ini sangat baik, cuma ada sesuatu yang kurang.”

“Kur… kurang apa?” tanya Goan-ci cepat.

“Engkau terlalu rendah hati,” ujar A Ci. “Sudah terang gamblang ilmu silatmu mahatinggi, tapi engkau tidak mau mengaku. Meski orang pandai biasanya memang tidak suka pamer, tapi terhadap… terhadap diriku masakah kau pun anggap seperti orang lain?”

Hati Goan-ci berdebar-debar hebat, dengan suara kikuk ia jawab, “Terhadapmu sudah… sudah tentu lain dari yang lain. Kau bilang apa tentu itu yang kulakukan. A Ci, sejak berjumpa denganmu aku selalu bersikap demikian.”

Perlahan A Ci menghela napas, katanya, “Cuma sayang aku tidak pernah dapat melihat wajahmu. Ya, seumur hidup ini aku takkan dapat melihatmu lagi.”

Seketika anak dara itu menjadi muram durja. Tapi sejurus kemudian ia lantas berkata dengan tertawa lagi, “Menurut Buyung-kongcu itu, katanya orang lain suka anggap mukamu sangat mirip dengan ia, tapi ia sendiri merasa tak dapat membandingimu. Nyata engkau memang seorang yang ganteng bagus, ilmu silatmu sangat tinggi pula, sebaliknya aku… aku hanya seorang nona buta, di manakah letak kebaikanku sehingga berharga mendapatkan perhatianmu?”

Hati Goan-ci sangat terharu, mendadak ia berlutut dan katanya dengan suara gemetar, “No… nona, hendaklah jangan berkata demikian lagi, aku Yu… Ong Sing-thian hanya berharap selama hidup ini senantiasa dapat berdampingan dengan nona, untuk itu biarpun aku menjadi budakmu juga aku rela.”

Sudah tentu A Ci tidak tahu Goan-ci berlutut, tapi dari nada ucapannya itu ia dapat mendengar perasaan pemuda itu sangat terguncang, maka ia sangat girang, katanya, “Ong-kongcu, engkau sedemikian baik padaku, ya, boleh dikata kita ini memang ada jodoh, aku pun berharap dapat berdampingan denganmu untuk selamanya dan takkan berpisah lagi. Cuma… cuma, di kemudian hari nanti kurasakan engkau belum tentu tetap setia padaku seperti sekarang.”

Goan-ci menjadi gugup, cepat ia bersumpah dengan suara keras, “Tuhan menjadi saksi, bila kelak aku berbuat tidak pantas kepada nona A Ci, biarlah Tuhan menghukum aku tersiksa selama hidup dan takkan hidup gembira seperti sekarang ini.”

“Hihi, jadi sekarang engkau sangat gembira?” tanya A Ci dengan tertawa.

“Ya, gembira sekali,” seru Goan-ci sambil berdiri. “Sekarang aku merasa sangat bahagia, mungkin malaikat dewata juga tak dapat melebihiku.”

Tiba-tiba A Ci termenung-menung sambil menengadah, katanya, “Ong-kongcu engkau telah menipu Tay-lun-beng-ong dan pura-pura menyatakan hendak mengangkat guru padanya, sebenarnya apa maksud tujuanmu? Apakah dalam ilmu silatnya itu ada sesuatu yang istimewa yang ingin kau selami dan engkau menipunya untuk mendapatkan kepandaiannya itu, lalu akan kau binasakan dia? Ya, bagus, kukira pasti demikian. Cuma saja Ciumoti itu sangat licin, rasanya tidak mudah untuk mengakali dia.”

Diam-diam Goan-ci terkejut, ia tidak habis mengerti mengapa yang dipikirkan anak dara itu selalu hal-hal yang keji seperti itu? Tapi dengan uraian A Ci itu kini dapat memecahkan kesulitan Goan-ci malah. Sebenarnya ia serbasusah karena tak dapat memberi alasan yang masuk akal untuk membohongi A Ci, sekarang ia tidak perlu cari akal lagi, segera ia mengiakan dan membenarkan saja untuk menuruti jalan pikiran A Ci itu.

Maka A Ci berkata pula, “Ong-kongcu, bahwasanya ilmu silatmu sangat tinggi, rasanya Ciumoti yang cerdik dan pintar itu tidak mungkin tahu dan tentu dia takkan mau mengatakan padamu tentang ilmu sakti andalannya dengan sejujurnya, maka jika kau ingin menipu ilmu silatnya, kukira hanya ada satu jalan.”

“Jalan bagaimana?” tanya Goan-ci.

“Begini,” tutur A Ci, “lebih dulu engkau berjanji dengan dia agar saling mengajarkan kepandaian andalan masing-masing, harus saling tukar kepandaian masing-masing baru akan membawa manfaat bagi kedua pihak, dengan demikian tentu dia akan keluarkan kepandaiannya yang sejati tanpa curiga. Sebaliknya kau pun mesti mengajarkan kepandaianmu yang sejati padanya, sekali-kali tidak boleh main simpan kepandaian. Sebab dengan kecerdikan Ciumoti itu, sedikit kau curang tentu akan diketahui olehnya.”

“Aku… aku harus mengajarkan dia dengan kepandaianku yang sejati?” Goan-ci menegas dengan ragu-ragu. Sedang di dalam hati ia membatin, “Aku mempunyai kepandaian sejati apa? Kalau kepandaian gegares sih aku memang hebat.”

Tapi dengan tersenyum A Ci berkata, “Ya, kau pun harus mengajarkan kepandaianmu yang sejati padanya, kalau tidak, tentu sukar mendapatkan kepandaian Ciumoti yang sejati. Cuma saja harus kau tinggalkan satu-dua jurus terakhir yang paling lihai dan jangan buru-buru diajarkan semua padanya, dengan demikian tentu dia takkan turun tangan lebih dulu untuk membunuhmu.”

Goan-ci terperanjat, serunya, “Apa? Dia akan turun tangan lebih dulu membunuh aku?”

“Ya, kalau dia tidak turun tangan lebih dulu maka engkau yang harus turun tangan lebih dulu,” sahut A Ci. “Ong-kongcu, aku menaksir dia juga mempunyai maksud tujuan yang sama seperti dirimu, tapi hendaklah engkau jangan terlalu tamak, asal sudah dapat menguasai sembilan bagian dari seluruh kepandaiannya yang sejati, sisanya boleh kau tinggalkan saja, yang paling penting turun tangan lebih dulu dan sekali hantam lantas membinasakan dia daripada akhirnya engkau yang akan dibunuh olehnya kan bisa runyam?”

Seketika Goan-ci merinding. Ia sudah kenal watak A Ci yang kejam, asal dapat menyenangkan diri sendiri, tentang mati-hidup orang lain tidak pernah dipikirkan, hal ini Goan-ci sendiri sudah kenyang merasakannya.

Tapi dasar Goan-ci sudah kesengsem benar-benar padanya, mesti merasa seram atas sifat anak dara itu, namun dalam hati ia masih pikir, “Ya, betapa pun yang dipikirkan itu adalah demi kebaikanku, jika aku tidak turun tangan lebih dulu untuk membinasakan Ciumoti, tentu aku sendiri yang akan mampus dibunuh oleh Ciumoti.”

Kalau terang-terangan suruh dia membunuh orang, terutama “padri sakti” yang sangat dipujanya itu betapa pun ia merasa segan. Semula ia berharap Ciumoti lekas datang menemuinya lagi, tapi sekarang ia berbalik berharap semoga padri itu jangan diketemukannya.

Dan karena tidak mendengar jawaban Goan-ci, segera A Ci bertanya lagi, “Kenapa? Apakah perkataanku salah?”

“O, tidak, tidak! Perkataanmu sangat tepat!” cepat Goan-ci menjawab. “Aku sedang berpikir bila kelak Ciumoti itu hendak tukar pikiran tentang ilmu silat denganku, lantas ilmu silat mana yang harus kupakai untuk mengadakan pertukaran dengan dia.”

Diam-diam A Ci pikir, “Ong-kongcu ini sekarang sangat kesengsem padaku, agaknya dia memang sungguh-sungguh, tetapi siapa berani menjamin dia takkan berubah pikiran di kemudian hari? Andaikan kelak mendadak timbul maksud jahatnya dan aku ditinggal pergi begitu saja, sedangkan kedua mataku sudah buta, lantas cara bagaimana aku dapat hidup di dunia ini? Namun kalau aku sudah berhasil memperoleh ilmu saktinya, aku dapat menggunakan telinga sebagai gantinya mata, dalam kedudukanku sebagai ketua Sing-siok-pay, aku dapat menyuruh para murid mengiring di sekelilingku, tatkala itu bila dia berani main gila tentu aku dapat berdaya untuk membunuhnya. Maka hal yang terpenting sekarang adalah belajar ilmu saktinya. Tapi kalau aku bicara terus terang untuk belajar padanya belum tentu dia mau meluluskan, maka lebih baik aku mengakali dia saja.”

Sesudah ambil keputusan demikian, segera ia berkata, “Ong-kongcu, meski kedua mataku sudah buta, tapi pikiranku masih cukup cerdas, bukan?”

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci. “Kecerdasanmu bahkan jauh lebih hebat daripadaku, otakmu lebih tajam daripadaku.”

“Itulah susah dipastikan,” ujar A Ci dengan tertawa. “Tapi sebodoh-bodohnya seorang tentu akan menjadi pintar bila dua orang suka berunding. Maka kalau kita berdua mau bersatu padu, kukira cara berpikir kita tentu akan lebih sempurna.”

“Jika begitu, apa pun yang nona hendak katakan padaku boleh silakan bicara terus terang saja, aku pasti akan menurut,” sahut Goan-ci.

“Kupikir Ciumoti itu sangat licin dan licik, sebaliknya engkau ini sangat lugu dan jujur, bila bergebrak dengan dia, mungkin engkau akan tertipu olehnya. Maka lebih baik begini saja, boleh keluarkan segenap ilmu silatmu padaku, nanti aku akan ikut memikirkan bagian-bagian mana yang boleh diajarkan kepada Ciumoti itu dan bagian mana yang harus dirahasiakan.”

Keruan Goan-ci kelabakan oleh permintaan A Ci itu, pikirnya, “Wah, celaka! Apa barangkali dia telah mengetahui rahasiaku yang sebenarnya tidak becus sesuatu ilmu silat apa pun dan sekarang sengaja hendak membikin susah padaku? Wah, lantas bagaimana baiknya ini?”

Karena tidak memperoleh jawaban Goan-ci dasar A Ci memang kelewat pintar, sebaliknya tidak dapat melihat perubahan air muka Goan-ci, maka disangkanya pemuda itu sungkan mengunjukkan ilmu silatnya sendiri. Diam-diam A Ci pikir pula, “Ilmu silat Ong Sing-thian mahasakti, dia adalah seorang ciangbunjin pula, sudah tentu dia bukan orang bodoh dan tidak dapat kutipu dengan begini saja, kulihat dia memang sungkan memamerkan ilmu silatnya padaku.”

Karena gugupnya itu, tanpa terasa menangislah A Ci.

Goan-ci terkejut, cepat serunya, “He, kenapa nona?”

“Sudahlah, lekas… lekas kau pergi saja dan selanjutnya jangan urus diriku pula, aku pun tidak ingin melihatmu lagi,” sahut A Ci sambil terguguk.

Keruan bukan main kejut Goan-ci, sahutnya cepat, “Ai, baru saja kita bicara dengan baik-baik, kenapa mendadak nona berkata demikian?”

Mendengar suara orang agak gemetar, diam-diam A Ci bergirang, pikirnya, “Orang ini ternyata benar-benar telah jatuh hati padaku. Untuk menipu dia terang sangat susah, lebih baik kubicara terus terang dan memohon padanya, mungkin dia akan dapat meluluskan permintaanku.”

Karena itu segera A Ci berkata, “Kukira sepuluh hari atau setengah bulan lagi tentu akan kau tinggalkan diriku, daripada nanti sedih dan berduka, lebih baik sekarang juga kita lekas berpisah saja.”

Goan-ci menjadi girang dan khawatir pula, cepat sahutnya, “Aku sudah menyatakan selama hidup takkan meninggalkan nona, janji sudah kukatakan, sumpah sudah kuucapkan, masakah nona masih tidak percaya?”

“Aku justru tidak percaya,” ujar A Ci sambil goyang kepala.

“Habis bagaimana, apa perlu kukorek hatiku ini supaya nona memeriksanya sendiri, dengan demikian tentu nona akan percaya.”

Tiba-tiba A Ci menangis lagi sambil berkata, “Kau… kau tahu kedua mataku sudah buta, maka… maka sengaja menggunakan kata-kata demikian untuk menyindir aku.”

Goan-ci tambah gugup sehingga keluar keringat, mendadak ia berlutut dan bermaksud merangkul kaki A Ci, tapi sebelum menyentuh kaki anak dara itu, tiba-tiba timbul rasa takutnya dan cepat menarik kembali tangannya dan berkata, “Sekali-kali aku tidak bermaksud begitu, jika aku sengaja, biarlah aku terkutuk.”

A Ci dapat mendengar suara Goan-ci berlutut di hadapannya, diam-diam ia sangat girang, tapi air matanya semakin bercucuran, katanya dengan sesenggukan, “Ya, kecuali kau penuhi sesuatu permintaanku baru aku mau percaya.”

“Jangankan satu, biarpun seratus atau seribu permintaan nona juga akan kuterima,” sahut Goan-ci cepat. “Nah, lekas nona katakan.”

“Tapi… tapi engkau toh tidak bakalan menerima, biar kukatakan juga percuma, paling-paling akan dibuat buah tertawaanmu saja,” ujar A Ci.

Begitulah A Ci sengaja “jual mahal” untuk memancing Goan-ci, semakin dia tak mau bicara, semakin bernafsu Goan-ci memohon.

Akhirnya berkatalah A Ci, “Apabila engkau benar jujur padaku, maka hendaknya kau ajarkan sedikit banyak ilmu saktimu padaku agar kelak bila kau tinggalkan aku, paling tidak aku sudah mempunyai sedikit ilmu penjaga diri.”

Jika Goan-ci benar-benar mempunyai ilmu sakti, sedikit A Ci memohon saja pasti akan diluluskannya.

Akan tetapi pada hakikatnya Goan-ci tidak mahir ilmu silat apa-apa, dibandingkan kepandaian A Ci sendiri bahkan juga selisih sangat jauh, dari mana Goan-ci dapat menerima permintaannya itu?

A Ci menjadi gelisah karena sampai lama tidak mendengar jawaban Goan-ci. Pikirnya, “Mumpung sekarang dia sangat kesengsem padaku, betapa pun aku harus minta dia meluluskan permohonanku.”

Maka sengaja dia menghela napas, lalu berkata, “Ong-kongcu, bahwasanya aku minta kau ajarkan ilmu saktimu, hal ini memang tidak pantas dan tentu sukar diterima olehmu, tapi aku pun tidak menyalahkanmu, maka biarlah kita berpisah saja mulai sekarang.”

Goan-ci menjadi gugup, cepat serunya, “Tidak, tidak! Aku meluluskan permintaanmu, aku akan mengajarkan ilmu sakti padamu.”

A Ci sangat girang, tapi lahirnya ia berlagak anggap sepele dan berkata, “Kau terpaksa menerima permintaanku, andaikan mengajar juga kurang rela dalam hati, buat apa sih begini? Lebih baik kita berpisah saja dan untuk selanjutnya tidak perlu bertemu lagi.”

Dalam gugupnya timbul suatu pikiran pada benak Goan-ci, “Betapa pun harus kualangi kepergiannya. Soal mengajar ilmu juga bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu-dua hari, paling penting sekarang aku harus menahannya di sini.”

Dalam bingungnya itu tiba-tiba teringat olehnya kejadian di Cip-hian-ceng dahulu, tatkala mana ayahnya minta seorang tokoh persilatan agar sudi memberi petunjuk beberapa jurus padanya. Maka tokoh persilatan itu minta dia mengunjuk dulu apa-apa yang telah pernah dipelajarinya agar dapat diketahui sampai di mana kepandaian yang telah dikuasainya.

Namun Goan-ci sendiri menyadari dalam hal ilmu silat dirinya terlalu tak becus, sekali main tentu akan membikin malu sang ayah dan pamannya, maka biarpun sudah dipaksa-paksa tetap ia tidak mau main, sudah tentu tokoh persilatan itu tidak senang dan karena itu pula lantas tidak jadi memberi petunjuk.

Teringat akan kejadian dahulu itu segera Goan-ci berkata, “Nona, jika engkau hendak mempelajari ilmu saktiku maka kita harus mencari suatu tempat yang sunyi sepi agar tidak diganggu orang luar. Lebih dulu harus kau tunjukkan segenap kepandaian yang pernah kau pelajari dari Sing-siok-pay, dengan demikian barulah aku dapat menilai kepandaianmu dan kemudian mengajarkan ilmu… ilmu sakti padamu.”

“Bagus, memang seharusnya begitu,” seru A Ci dengan girang. “Cuma kita juga tidak perlu mencari tempat yang terlalu sepi, paling baik sembari mengajarkan ilmu padaku, kita sambil mencari markas besar Kay-pang, dengan demikian kita dapat segera merebut kedudukan pangcu dari kaum jembel itu untuk dikembalikan kepada Cihuku di negeri Liau sana. Besar kemungkinan Cihu tak mau terima, dengan demikian aku sendirilah nanti yang akan menjadi pangcu. Wah, sungguh hebat, selain menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay aku pun merangkap menjadi Pangcu Kay-pang, aku akan bekerja sama dengan Ciangbunjin Kek-lok-pay untuk menjagoi dunia persilatan ini, biarpun Siau-lim-pay, Koh-soh Buyung dan lain-lain juga pasti akan keder bila mendengar nama kita. Wah, sungguh bagus sekali, bukan?”

Begitulah makin bicara makin gembira, meski kedua matanya buta, tapi tidak mengurangi kecantikannya tatkala gembira ria demikian sehingga jantung Goan-ci berdebar-debar dibuatnya.

Sesudah A Ci tenang kembali, lalu berkatalah Goan-ci, “Untuk merebut kedudukan Pangcu dari Kay-pang memang juga bukan soal sulit, cuma saja kalau aku yang merebutnya bagimu, hal ini rasanya takkan membikin tokoh Kay-pang itu tunduk benar-benar, lebih baik tunggu saja nanti bila aku sudah mengajarkan ilmu sakti padamu dan kau sendiri dapat menundukkan mereka dengan kepandaianmu sendiri, paling-paling aku cuma mengawalmu dari samping saja untuk menjaga keselamatanmu, dengan demikian bukankah jauh lebih baik.”

“Ya, ya, bagus!” seru A Ci. “Ong-kongcu, sifatku memang terlalu tergesa-gesa. Kita juga tidak perlu mencari tempat sepi lagi, di sini kan tiada orang lain. Nah, biar kupertunjukkan kepandaian Sing-siok-pay yang paling kasar kepadamu agar engkau dapat segera pula mengajarkan ilmu sakti padaku. Nah, kunci dari pengantar ilmu silat Sing-siok-pay adalah begini!”

Lalu ia menguraikan istilah-istilah yang merupakan kunci ilmu silat Sing-siok-pay yang pernah dipelajarinya dari Sing-siok Lokoay, menyusul ia unjukkan pula beberapa jurus permainannya.

Diam-diam Goan-ci berpikir, “Sebenarnya aku telah diterima sebagai murid oleh Sing-siok Lokoay, tapi karena membela A Ci sehingga aku bermusuhan dengan dia, maka sedikit pun aku belum memperoleh kepandaiannya sebaliknya malah banyak mengalami kesukaran selama ini. Sekarang aku mengaku sebagai seorang kosen yang memiliki ilmu sakti segala, padahal kepandaianku hanya gegares belaka, ilmu sakti apa segala sama sekali aku tidak becus. Tapi agar tidak mencurigakan A Ci, terpaksa aku main kayu sekadar mengelabui dia, biarlah kukatakan ilmu silat Sing-siok-pay tidak berguna, selain ini aku tidak punya jalan lain.”

Segera ia berkata, “Nona, kulihat ilmu yang kau pelajari telah tersesat ke jalan yang tidak benar, cuma ilmu silat Sing-siok-pay memang juga tidak terlalu jelek, maka aku harus mempelajarinya dahulu agar dapat memahami di mana letak kesalahannya, dengan demikian barulah aku dapat memberi petunjuk padamu agar kembali ke arah yang benar.”

“Betul,” seru A Ci dengan girang. “Memang guruku, eh, tidak, Ting-lokoay itu memang biasanya tidak suka menerima murid yang sudah pernah belajar silat, sebab katanya orang yang sudah pernah belajar silat bila disuruh ganti berlatih ilmu Sing-siok-pay akan beberapa kali lebih sukar daripada orang yang tadinya sama sekali belum pernah belajar silat. Tapi sekarang, Ong-kongcu, tentu engkau akan banyak lebih susah bila mengajarkan ilmu sakti padaku.”

“Ah, hanya sedikit kesukaran ini apa alangannya?” sahut Goan-ci. “Nah, coba aku akan mulai. Jurus pertama yang kau mainkan tadi adalah begini, dan jurus kedua demikian….”

Begitulah Goan-ci lantas menirukan gaya permainan A Ci tadi dan mulai berlatih.

Ilmu silat Sing-siok-pay itu dasarnya memang berpangkal pada ilmu berbisa, semakin kuat lwekang yang berbisa jahat, semakin lihai pula ilmunya itu.

Dua jurus pertama yang dipertunjukkan A Ci tadi disebut “Kun-goan-bu-kek-sik” (gaya jagat tak berkutub), yaitu jurus permulaan dari kungfu Sing-siok-pay. Bagi yang mulai berlatih biasanya perlu makan waktu sebulan atau dua bulan baru dapat menguasainya betul-betul.

Tapi sekarang Goan-ci sudah memiliki lwekang yang tinggi, racun ulat sutra es yang mahahebat dan mukjizat itu luar biasa kuatnya, sampai Ting Jun-jiu sendiri pun kewalahan.

Kini Goan-ci menirukan gaya permainan A Ci tadi, sekali tangannya bergerak, segera terjadilah jurus pertama itu dengan sempurna, bahkan ketika tangannya menampar ke depan, mendadak terdengar suara gemuruh yang keras, sebatang pohon kecil yang terletak kira-kira dua-tiga meter di depan sana kontan tumbang.

Keruan Goan-ci kaget. Ia coba memainkan jurus kedua dan kembali tangannya menampar lagi ke depan, tapi lagi-lagi sebatang pohon terhantam patah menjadi dua.

Ia bergirang dan terperanjat pula, pikirnya, “Wah, ilmu silat Sing-siok-pay ini ternyata membawa daya sakti sehebat ini. Jangan-jangan dia (A Ci) sengaja hendak mempermainkan aku, dia sendiri mahir ilmu selihai ini, tapi mengapa minta belajar ilmu sakti apa segala padaku?”

A Ci sendiri ketika mendengar suara tumbangnya pohon itu segera berkata, “Wah, benar-benar mahalihai! Ong-kongcu, lekas kau ajarkan padaku, cara bagaimana sekali hantam dapat menumbangkan pohon?”

“Apakah jurus yang kau mainkan tadi tidak dapat menumbangkan pohon?” tanya Goan-ci dengan ragu.

A Ci mengikik tawa, sahutnya, “Jurus ‘Kun-goan-bu-kek-sik’ ini adalah jurus pengantar yang paling kasar dan dipelajari setiap murid Sing-siok-pay yang mulai belajar, kalau sekali hantam dapat tumbangkan pohon, bukankah setiap murid Sing-siok-pay akan menjadi jago yang tiada tandingannya di dunia ini?”

Tapi Goan-ci tetap tidak paham sebab musabab pohon tumbang itu. Segera ia coba menghantam pula, tapi tidak menurut gaya permainan A Ci tadi. Sekarang pohon yang diarah itu ternyata bergoyang sedikit pun tidak, ia coba perkeras tenaganya, tetap pohon itu bergeming. Sebaliknya ketika ia gunakan gaya “Kun-goan-bu-kek-sik” lagi, “blang”, kontan pohon itu patah dan tumbang bagai dipotong dengan sebatang kapak raksasa.

Kiranya setiap jurus dan setiap gaya ilmu silat Sing-siok-pay dapat mengembangkan racun dingin dari tenaga dalam melalui jurus ilmu silat itu. Untuk ini yang lebih penting adalah tenaga dalam dengan racun dingin yang hebat, dengan demikian baru dapat dikerahkan melalui daya serangan yang dilontarkan dengan sepenuhnya.

Untuk belajar jurus ilmu silat Sing-siok-pay itu gampang, yang susah adalah memiliki lwekang yang hebat itu. Pada umumnya murid Sing-siok-pay hanya pandai menggunakan gaya ilmu silat mereka, di antara cuma Ti-sing-cu dan beberapa orang lagi yang cukup tinggi lwekangnya, dan di antara mereka itulah tergolong tokoh pilihan dalam Sing-siok-pay.

Sekarang Goan-ci tidak paham seluk-beluk hal itu, ia pun tidak berani banyak bertanya, sebab khawatir rahasianya diketahui A Ci. Lantaran itu, ia hanya minta agar A Ci mengunjukkan ilmu silatnya yang lain.

A Ci lantas meneruskan permainannya sejurus dan Goan-ci juga lantas menjiplak dengan cara yang sama, tapi pada setiap jurus itu ia dapat mengerahkan tenaga serangan yang mahahebat.

Maka sesudah belasan jurus Goan-ci merasa apa yang dipelajari sudah terlalu banyak dan sukar untuk diingat semua, segera ia minta A Ci berhenti dahulu dan mengulangi lagi dari semula.

Dengan tertawa A Ci berkata, “Ong-kongcu, menurut pendapatmu, tentu ilmu silat Sing-siok-pay ini terlalu dangkal dan menertawakan, bukan?”

“Juga tidak, di antaranya banyak pula yang dapat dipakai, cuma… cuma memang agak kurang bernilai,” ujar Goan-ci dengan lagak mahaguru.

Sembari bicara, ia pun menirukan gaya A Ci sambil sebelah kakinya menendang ke depan sehingga sepotong batu kena disambarnya sehingga mencelat. Sungguh kebetulan juga, ketika batu itu mencelat beberapa meter jauhnya dan waktu turunnya dengan tepat hampir menimpa kepala dua orang yang saat itu sedang berjalan datang dengan cepat.

Melihat batu itu akan menjatuhi kepala orang, Goan-ci menjadi khawatir, cepat ia menjerit, “Wah, celaka! He, awas, ada batu jatuh!”

Seorang di antaranya yang berada di sebelah kiri segera menggeser ke samping, kedua tangannya menolak sekaligus ke atas sehingga batu yang menyambar itu kena ditolak ke samping dan membentur tebing di sisinya sehingga menerbitkan suara keras disertai meletiknya lelatu api.

Orang itu menjadi gusar, dampratnya, “Siapa yang berani main gila dengan tuanmu!”

Dengan cepat sekali mereka lantas melompat ke hadapan Goan-ci dan A Ci.

Melihat kedua orang itu berbaju compang-camping, berdandan sebagai pengemis dengan membawa beberapa buah kantong kain, maka Goan-ci segera tahu kedua orang itu pasti anggota Kay-pang. Lekas ia memberi hormat dan berkata, “Maafkan kedua Toako dari Kay-pang, kami tidak sengaja, sudilah kalian jangan marah.”

Karena Goan-ci cukup sopan dan telah minta maaf, pula dari daya sambaran batu yang keras tadi, kedua orang Kay-pang itu percaya ilmu silat Goan-ci pasti sangat lihai, maka mereka pun tidak ingin cari perkara, segera mereka membalas hormat dan menjawab, “Ah, tidak apa, tidak apa-apa!”

Habis itu segera mereka hendak melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba A Ci berseru, “He, apakah kalian orang Kay-pang? Wah, bagus, sangat kebetulan! Memang aku hendak mencari ke sarangmu untuk merebut kedudukan pangcu kalian, sekarang kalian datang ke sini, eh, di manakah letak markas besar kalian sekarang?”

Mendengar orang hendak merebut kedudukan pangcu organisasi mereka, pula melihat dandanan A Ci itu jelas bukan sesama anggota Kay-pang, terang hal ini merupakan suatu hinaan mahabesar bagi kehormatan Kay-pang mereka, keruan seketika air muka kedua orang Kay-pang itu berubah hebat, berbareng mereka bertanya, “Siapa kau ini? Kenapa sembarangan menghina kami?”

A Ci sengaja mencari alasan untuk cari perkara kepada Kay-pang, sekarang kedua orang itu menanyakan asal-usulnya, keruan hal ini sangat kebetulan baginya, segera ia jawab dengan tersenyum, “Aku ini ketua Sing-siok-pay yang baru, aku she Toan bernama Ci.”

Si pengemis yang pertama dengan badan tinggi kurus itu tampak berkerut kening, katanya, “Pemimpin Sing-siok-pay adalah Ting-lokoay, hal ini diketahui oleh setiap orang Kangouw, mengapa kau budak cilik ini berani sembarangan omong?”

Pengemis yang lain bertubuh sedang, usianya sudah mendekati setengah abad, tapi kedudukannya tampak lebih rendah daripada temannya sehingga segala apa hanya menurut perintah si pengemis kurus saja. Tapi dia dapat berpikir lebih hati-hati, maka dengan suara perlahan ia membisiki kawannya itu, “Tik-hiati, kita masih ada urusan penting, lebih baik jangan menggubris anak kecil yang masih ingusan ini.”

Si pengemis kurus mendengus sekali, katanya, “Hm, seorang budak buta, seorang lagi….”

Sampai di sini ia melirik sekejap ke arah Goan-ci dengan sikap yang jijik dan memandang rendah, nyata bila dia meneruskan ucapannya itu dapat ditaksir apa yang akan dikatakan kalau bukan “jelek seperti siluman” tentu adalah “mirip setan”.

Sudah tentu Goan-ci tidak mau memberi kesempatan padanya untuk mengucapkan kata-kata yang dapat membongkar keburukan wajahnya itu. Maka tanpa bicara lagi tangannya terus bergerak, ia pakai gaya permainan silat A Ci yang disebut “Kun-goan-bu-kek-sik” tadi dan menghantam perlahan ke depan.

Ilmu silat pengemis kurus itu juga sangat hebat, gerak-geriknya juga cepat. Begitu melihat Goan-ci menghantam, meski jarak mereka sebenarnya ada dua-tiga meter jauhnya dan tangan Goan-ci tidak nanti dapat mencapai badannya, namun dia tidak berani gegabah dan lekas menghimpun tenaga untuk menyambut serangan itu.

Maka terdengarlah suara “krak” sekali, mendadak tubuh pengemis kurus itu terjengkang ke belakang, ternyata tulang punggungnya patah sebatas pinggang, orangnya menjadi mirip tertekuk menjadi dua.

Deruan pengemis yang lebih tua tadi terkejut, ia berseru, “He, Tik-hiati, ken… kenapakah? He, engkau sudah meninggal!”

Sebenarnya Goan-ci tiada maksud hendak membunuh orang, tujuannya hanya untuk mencegah agar pengemis kurus itu tidak mengucapkan kata-kata yang akan membongkar rahasia kejelekan mukanya, siapa duga mendadak terdengar pengemis tua itu mengatakan lawannya sudah mati, keruan ia terkejut dan berseru, “He, kenapa dia?”

Segera ia memburu maju, ketika ia periksa pengemis kurus itu, ia lihat kedua biji matanya melotot keluar, mukanya sangat mengerikan. Goan-ci menjadi takut dan menyesal, katanya dengan gelagapan, “O, ini… ini….”

Sebaliknya si pengemis tua menjadi khawatir dirinya juga akan diserang oleh Goan-ci yang mukanya buruk menakutkan itu, ia pikir daripada mati konyol lebih baik turun tangan lebih dulu, maka selagi Goan-ci berjongkok memeriksa si pengemis kurus, segera pengemis tua itu angkat kedua kepalan dan sekuatnya menghantam punggung Goan-ci.

Pertama, Goan-ci memang tidak becus ilmu silat segala, maka tidak dapat berkelit. Kedua, dia telah membinasakan si pengemis kurus secara tidak sengaja, ia merasa menyesal, maka rela digebuk beberapa kali oleh lawan untuk sekadar menebus dosanya itu.

Maka terdengarlah suara “blak-bluk” dua kali, kedua kepalan pengemis tua itu dengan keras mengenai punggung Goan-ci. Akan tetapi yang roboh terpental justru pengemis itu sendiri dengan mulut menyemburkan darah segar.

Goan-ci kaget, serunya, “He, kenapa dia?”

Sebaliknya A Ci memujinya, “Ong-kongcu, ilmu silatmu benar-benar mahahebat, hanya sedia gebrak saja sudah membereskan kedua jago pilihan Kay-pang.”

Melihat darah segar masih terus menyembur keluar dari mulut pengemis tua itu, Goan-ci menjadi takut, segera ia pegang tangan A Ci dan diseretnya lari, katanya, “Marilah kita lekas pergi, lekas!’

Tanpa kuasa A Ci diseret Goan-ci dan ikut lari dengan cepat, ia dengar angin berkesiur di tepi telinga, ia tahu mereka berlari sangat cepat, ia menjadi senang dari berseru, “Wah, sangat enak! Ayolah lari lebih cepat lagi!”

Maka dalam sekejap saja mereka sudah berlari sejauh belasan li. Dari belakang sayup-sayup terdengar suara teriakan orang, “Yu-hianti! Berhenti dulu, Yu-hianti!”

Jelas itu suara Pau Put-tong. Tapi Goan-ci habis membunuh orang, ia khawatir ditangkap oleh Pau Put-tong, maka bukannya dia berhenti, sebaliknya lari terlebih cepat.

Orang yang memanggil itu memang betul Pau Put-tong. Sekarang dia bersama Hong Po-ok, Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan Kongya Kian serta Ong Giok-yan telah berkumpul kembali. Mereka telah bicara diri Yu Goan-ci yang aneh itu, karena tertarik, maka Buyung Hok lantas putar balik mencarinya lagi dengan maksud hendak tanya lebih jauh tentang seluk-beluk diri Goan-ci itu.

Dari jauh mereka melihat Goan-ci merobohkan dua orang, lalu melarikan diri dengan menyeret A Ci. Buyung Hok melihat cara lari Goan-ci itu sangat kaku, tampaknya seperti orang yang sama sekali tidak mahir ginkang, tapi betapa pesat larinya itu rasanya tidak di bawah dirinya.

Tatkala itu jarak mereka sudah dua-tiga li jauhnya. Buyung Hok menaksir andaikan mengejar juga susah menyusulnya. Karena itu ia hanya heran dan gegetun saja menyaksikan menghilangnya bayangan Goan-ci dan A Ci.

Ketika mereka sampai di tempat menggeletaknya kedua pengemis tadi, mereka terkesiap menyaksikan keadaan kedua pengemis yang terbinasa dan terluka parah itu. Lebih-lebih pengemis yang mati itu, badannya terlipat ke belakang, keadaannya sangat luar biasa.

Segera Kongya Kian memayang bangun pengemis tua itu, ia keluarkan sebutir pil dan dijejalkan ke mulutnya. Tapi darah segar masih terus mengucur dari mulut pengemis itu sehingga obat luka itu tidak dapat ditelannya.

Cepat Pek-jwan menutuk dua kali pada hiat-to penting di dada pengemis itu. Sebenarnya ilmu menutuk Ting Pek-jwan yang disebut “Cat-hiat-ci” (tutukan menghentikan darah) biasanya sangat manjur, sekali tutuk tentu darah yang mengucur keluar akan mampat. Tapi sekarang darah segar ternyata masih menyembur keluar dari mulut pengemis tua itu. Keruan hal ini membuat Ting Pek-jwan heran.

“Ting-toako, orang ini terluka parah dan terserang pula oleh racun dingin, maka harus kau tutuk hiat-to pada punggungnya,” ujar Giok-yan.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

About these ads

1 Comment »

  1. Terima kasih telah dibolehkan membaca semua cersil ini.

    Comment by buyung panyungai — 20/11/2012 @ 3:34 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: