Kumpulan Cerita Silat

06/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 56

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:44 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Begitulah makin dipikir makin pedih perasaan Toan Ki, akhirnya ia berjalan ke depan dengan menunduk seperti orang linglung, dalam hati terpikir pula olehnya, “Ya, asalkan nona Ong merasa senang dan bahagia, apa artinya kalau aku berkorban baginya?”

Melihat Toan Ki mendadak pergi sendiri, cepat Buyung Hok berseru, “Toan-heng, kita baru berkenalan dan belum lagi bicara, mengapa terburu-buru hendak pergi?”

Tapi Toan Ki sendiri sedang melamun, sama sekali ia tidak dengar seruan Buyung Hok itu dan tetap berjalan ke depan dengan kepala menunduk.

Sesudah berseru pula beberapa kali dan tetap tidak dijawab Toan Ki, akhirnya Buyung Hok cuma menghela napas gegetun saja.

“Kongcu, biar kutangkap dia kembali!” teriak Po-ok.

“Jangan main kasar,” cepat Buyung Hok mencegahnya. “Dia adalah Toan-kongcu dari Tayli, lain kali kalau kalian ketemu dia lagi kalian harus menghormatinya seperti kalian menghormati aku.”

Po-ok cuma saling pandang saja dengan Pau Put-tong dan tidak bersuara.

Lalu Buyung Hok berkata pula, “Nona cilik yang ditolong bocah kepala besi itu adalah murid Ting Jun-jiu, urusan yang tiada sangkut pautnya dengan kita jangan kalian ikut campur lagi.”

Tiba-tiba Hong Po-ok mengedipi Pau Put-tong lalu katanya kepada Buyung Hok, “Kongcu, nona Ong sedang menantikan engkau di sana, apa engkau takkan menemuinya?”

Buyung Hok hanya tersenyum tawar saja, katanya, “Kalian masih ingin menguber si bocah kepala besi itu, bukan?”

“Ini… ini….” sahut Po-ok dengan gelagapan.

“Segala apa masakah mampu membohongi Kongcu? Sudahlah katakan terus terang saja!” seru Pau Put-tong.

Maka dengan tertawa kikuk Po-ok bertutur, “Kami masing-masing pernah dihantam sekali oleh Thi-thau-siaucu (bocah kepala besi) itu dan sangat menderita untuk beberapa hari lamanya, sampai sekarang kami masih sangat penasaran, betapa pun kami ingin menanggalkan kerudung besinya itu untuk melihat bagaimana sebenarnya tampang asli bocah itu.”

Buyung Hok berpikir sejenak sambil menengadah, katanya kemudian, “Tapi ilmu silat orang berkepala besi itu sangat aneh, kalian harus hati-hati!”

“Tahu, Kongcu!” sahut Po-ok sambil tepuk tangan, sekali melompat segera ia lari secepat terbang ke depan disusul oleh Pau Put-tong.

Waktu Buyung Hok menoleh, ia lihat Toan Ki sudah agak jauh, untuk menyusulnya tentu dapat, tapi tadi Toan Ki sudah tidak mau menjawab teriakannya, dengan sendirinya ia pun tidak ingin menyusulnya lagi, hanya dalam hati ia agak menyesal.

Di lain pihak Hong Po-ok dan Pau Put-tong sedang menguber secepat terbang ke depan, sesudah tujuh atau delapan li jauhnya, tetap bayangan Thi-thau-jin (orang berkepala besi) itu tidak ditemukan.

Po-ok dan Put-tong berwatak sama, suka berkelahi dan senang cari perkara, kalau bisa biar terjadi “perang dunia” dan mereka akan dapat berkelahi sepuas-puasnya. Meski yang mereka kejar itu tidak diketemukan, tapi mereka masih terus menguber ke depan.

Mereka tidak tahu bahwa lari Yu Goan-ci secepat terbang itu mungkin sudah dua-tiga puluh li lebih jauh di depan mereka.

Sesudah membawa lari A Ci tanpa memikirkan keganasan Ting-lokoay, Goan-ci terus berlari kesetanan ke depan, betapa cepat larinya itu sampai dia sendiri tidak percaya. Yang terpikir olehnya hanya sejauh mungkin meninggalkan Ting-lokoay agar A Ci dapat diselamatkan, pikiran lain tidak ada. Tapi sesudah berpuluh li jauhnya berlari, ketika terbayang olehnya betapa ganas dan kejamnya Ting Jun-jiu, mulailah ia merasa takut. Bukannya ia takut diri sendiri akan dihajar atau dibunuh sekalipun oleh Ting Jun-jiu, ia takut bila Sing-siok Lokoay mengalihkan rasa murkanya kepada A Ci dan menyiksa anak dara itu dengan berlipat ganda lebih kejam.

Dalam takutnya itu tanpa terasa ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah Lokoay mengejarnya atau tidak. Tapi sekali ia menoleh, seketika kaki terasa lemas. Sebab sama sekali tak terduga olehnya bahwa larinya bisa sedemikian cepatnya bagaikan terbang.

Dalam kagetnya itu, larinya jadi sedikit meleng, dan ketika ia berpaling ke depan lagi, wah, celaka, tahu-tahu ia sudah hampir menumbuk sebatang pohon besar yang di depannya.

Keruan ia kaget. Sekuatnya ia hendak mengerem, tapi biarpun “rem angin” pada saat itu juga sukar ditahan lagi.

Dalam seribu kali kelabakan Goan-ci masih sempat lemparkan A Ci ke samping dengan perlahan. Menyusul sambil tutup mata dan meringis kuda, terdengarlah suara “blang” yang keras, badannya tertumbuk dengan tepat pada batang pohon besar itu.

Goan-ci terus peluk erat-erat pohon yang ditumbuknya itu sehingga sekian lamanya batu dapat pulih semangatnya. Anehnya ia tidak terluka apa-apa, sebaiknya tiba-tiba daun pohon itu rontok berhamburan, hanya sekejap saja di tanah sekitar pohon itu sudah berlapiskan permadani daun pohon yang tebal.

Diam-diam Goan-ci heran, waktu itu bukan musim rontok, malahan daun pohon itu tadi masih kelihatan menghijau segar, mengapa mendadak bisa layu dan rontok semua?

Ia tidak tahu bahwa karena pelukannya itu, tanpa terasa ia telah salurkan hawa mahadingin dan maha beracun dalam tubuhnya kepada pohon itu sehingga pohon itu mati beku dan kering.

Waktu Goan-ci menoleh pula, ia lihat A Ci sedang duduk di tanah dan lagi menangis tersedu-sedan sambil menutupi mukanya dengan tangan. Karena di sekitar situ sunyi senyap, maka Goan-ci dapat mendengar suara tangisan A Ci yang lirih itu dengan jelas.

Ketika ia turun tangan menolong A Ci, yang terpikir olehnya hanya menyelamatkan anak dara itu dari tangan jahat Ting Jun-jiu, sama sekali tak terpikir olehnya bagaimana urusan selanjutnya atas diri anak dara itu. Sekarang melihat A Ci menangis tersedu-sedan maka bingunglah Goan-ci.

Sesudah ragu-ragu sebentar akhirnya mendekati A Ci dan memanggilnya dengan kikuk, “No… nona….”

Mendadak A Ci berdiri, “plak” kontan ia hantam sekali hingga tepat mengenai dada Goan-ci.

“Kenapa kau selamatkan aku?” teriaknya melengking.

Karena tidak menyangka, Goan-ci hampir jatuh kena genjotan itu. Cepat ia menjawab, “Kalau… kalau aku tidak turun tangan, tentu… tentu waktu itu nona akan… akan menderita hebat.”

“Peduli apa denganmu jika aku menderita?” semprot A Ci.

Goan-ci jadi gelagapan, untuk sejenak ia tertegun kemudian baru berkata, “Nona, maksudku supaya engkau terhindar dari derita dan tiada… tiada maksud jahat. Jika engkau menyalahkan aku dan tidak senang, ai, tahu begitu, tentu… tentu aku tidak perlu ikut campur urusan ini.”

“Sudah tentu aku tidak senang,” kata A Ci sambil menangis. “Bila mendadak kedua matamu buta, apakah kau akan senang?”

“Jika kedua mata nona dapat melihat kembali biarpun aku yang harus buta juga aku suka dan rela,” sahut Goan-ci dengan tersenyum getir.

A Ci termangu-mangu sejenak dan perlahan berhenti menangis. Lalu ia tanya, “Siapakah kau?”

Perasaan Goan-ci seakan dihantam sekali dengan keras oleh pertanyaan itu.

Maklum, ia menghormati A Ci, memuja A Ci meski anak dara itu tiada di dampingnya juga senantiasa ia terkenang padanya. Dahulu ia dianggap sebagai “badut besi” oleh anak dara itu dan hampir setiap hari berkumpul, sekarang sesudah berhadapan, paling tidak ia berharap suaranya akan segera dikenal anak dara itu, siapa duga A Ci bertanya malah, hal ini menandakan sudah lama bayangan “si badut besi” terhapus dalam ingatan anak dara itu.

“Ya, memang. Sebagai seorang tuan putri yang dihormati di Lamkhia, sudah tentu A Ci banyak mempunyai permainan yang serbabaru, hilang seorang badut besi, dengan sendirinya masih banyak badut-badut lainnya yang serbabaru dan serbalucu yang dapat menyenangkan hatinya. Maka rupa “si badut besi” memang sudah lama dilupakannya sama sekali.”

Apalagi waktu Goan-ci menyelamatkannya dari tangan jahat Ting Jun-jiu, yang terpikir oleh A Ci adalah penolongnya itu pasti seorang terkemuka dari dunia persilatan, betapa pun tidak terpikir olehnya akan diri Goan-ci.

Begitulah selagi Goan-ci termangu-mangu tak bisa menjawab, tiba-tiba A Ci tanya pula, “Apakah engkau ini Buyung-kongcu?”

“Buyung-kongcu?” Goan-ci mengulangi nama itu. Seketika di depan matanya terbayang potongan Buyung Hok yang gagah dan cakap itu, biarpun ia tidak memakai topeng besi yang sialan itu juga pasti bukan apa-apa kalau dibandingkan Buyung Hok, apalagi sekarang ia memakai kerudung besi sehingga lebih mirip setan daripada manusia.

Seketika merasa diri sendiri sangat rendah dan jelek, maka dengan suara lirih ia menjawab, “O, bu… bukan, aku bukan Buyung-kongcu.”

Tertampak A Ci miringkan kepala dan berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Dari suaramu, agaknya usiamu belum seberapa tua, apakah engkau ini kawan Buyung-kongcu?”

Kiranya kesan A Ci terhadap Buyung Hok sangat mendalam, sekarang meski kedua matanya sudah buta, ia sangka penolongnya itu pasti juga seorang muda yang lemah lembut, ganteng dan cakap, sebab itulah ia tanya Goan-ci apakah kawan Buyung-kongcu.

Melihat sikap A Ci sekarang telah berubah agak riang, Goan-ci lantas menuruti haluan anak dara itu, jawabnya, “Ya, kami memang saling kenal.”

Perlahan A Ci mendongak, lalu katanya, “Jika demikian, tentu… tentu kau pun sama cakapnya seperti Buyung-kongcu?” habis mengeluarkan kata-kata itu, wajahnya yang pucat itu bersemu merah.

Sejak tadi A Ci memejamkan kedua matanya pula sudah mengusap bersih darahnya tadi, maka sekilas pandang takkan ketahuan bila dia gadis buta. Kini pipinya bersemu kemerah-merahan, tampaknya menjadi tambah ayu.

Goan-ci sampai terkesima memandangi gadis cantik itu dan tidak dapat membuka suara.

Selang sejenak, kembali A Ci tanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku… aku sedang memandangimu,” sahut Goan-ci.

“Memandang aku? Mengapa memandang aku?” tanya A Ci.

“Engkau sangat cantik, aku tidak bermaksud apa-apa melainkan ingin memandangmu saja,” sahut Goan-ci.

Merah muka A Ci semakin merata, katanya pula, “Kau… kau bilang aku cantik?”

Goan-ci menghela napas, sahutnya, “Ya, belum pernah kulihat seorang nona yang lebih cantik daripadamu.”

Sesudah kedua matanya dibutakan Ting Jun-jiu, sebenarnya perasaan A Ci sangat tertekan. Cuma saja ia adalah murid Sing-siok-pay, sudah sering dilihatnya segala macam dan cara siksaan keji. Kalau dibandingkan dosanya yang mencuri kitab pusaka gurunya dan cuma dihukum membutakan mata oleh Sing-siok Lokoay, maka hukuman yang diterimanya itu boleh dikatakan terlalu ringan, sebab itulah ia berduka karena matanya buta, tapi tidak begitu berduka sebagai orang biasa yang mendadak menjadi buta.

Sekarang dalam khayalnya ia kira penolongnya itu adalah seorang pemuda ganteng dan tinggi pula ilmu silatnya, sekali hatinya sudah timbul rasa senang, ditambah lagi pujian Goan-ci tadi, keruan ia tambah gembira, hati pun berdebar-debar juga.

Selamanya tiada orang pernah memerhatikan apakah dia cantik atau jelek, dalam perguruan ia cuma dianggap anak kecil oleh para suhengnya, begitu pula Siau Hong memandangnya sebagai anak dara yang nakal, hanya dahulu Goan-ci pernah memuji kecantikannya. Tapi kedudukan Goan-ci terlalu rendah, pujian itu tidak lebih dianggapnya sebagai pujian seorang hamba kepada junjungannya.

Sekarang A Ci tidak tahu siapakah sebenarnya penolongnya itu, sama-sama pujian dan sama pula orangnya, namun reaksi yang timbul dari perasaan A Ci sekarang jauh berbeda daripada dahulu. Saking senangnya sampai sekian lamanya ia tidak sanggup bersuara.

Agak lama kemudian barulah ia berkata pula, “Kau bilang aku cantik, engkau mengatakan selamanya tidak pernah melihat seorang nona lain yang lebih cantik daripadaku?”

“Ya,” jawab Goan-ci.

“Bukankah engkau cuma… cuma sengaja hendak membikin senang hatiku saja?”

“Tidak, aku… aku berkata dengan sungguh-sungguh. Jika aku mempunyai pikiran palsu dan maksud jahat, biarlah aku mati tak terkubur.”

Betapa hormat dan agungnya A Ci bagi Goan-ci, sudah tentu ucapannya itu dikeluarkan dengan nada setulus hati. Namun pada waktu mengucapkan kata-kata “pikiran” dan “maksud” itu, mau-tidak-mau ia merasa ucapannya itu telah menodai A Ci.

Kembali A Ci termangu-mangu dengan muka muram, katanya kemudian, “Tapi kukira engkau berdusta. Aku… aku sudah buta, andaikan cantik juga terbatas, ya, kecuali… kecuali kaum wanita di dunia ini sudah buta semua barulah aku akan terhitung orang yang paling cantik.”

Goan-ci merasa merinding oleh kata-kata anak dara itu. Sudah tentu di dunia ini tiada seorang pun yang berkuasa membutakan mata seluruh kaum wanita di dunia ini. Tapi ia kenal sifat A Ci, jika anak dara itu mempunyai kemampuan itu, pasti tanpa ragu ia akan berbuat seperti apa yang dikehendaki itu.

Maka cepat ia berkata, “Nona, meski kedua matamu sudah buta, tapi engkau tetap sama cantiknya, hendaknya jangan kau pikir yang tidak-tidak.”

A Ci terdiam.

Maka Goan-ci berkata pula, “Nona, sebelum diriku tentu sudah pernah ada orang memuji akan kecantikanmu.”

A Ci berpikir sejenak, lalu menjawab, “Ya, ada seorang juga pernah mengatakan aku cantik.”

Hati Goan-ci mendebar keras katanya, “Nona, siapakah orang itu?”

Mendadak A Ci tertawa, katanya, “Jika kau lihat orang itu, tentu kau pun akan tertawa terpingkal-pingkal. Dia adalah seorang bocah dungu, aku telah kerudungi dia dengan sebuah topeng besi dan kuberi sebuah nama padanya, yaitu si badut besi. Sungguh lucu rupanya, aku sering menggoda dia sebagai binatang hiburan seperti kucing kesayanganku itu.”

Sebenarnya Goan-ci sengaja memancing A Ci agar membicarakan dirinya untuk menjajaki bagaimana kesan anak dara itu terhadapnya, dengan demikian bila perlu ia dapat bicara terus terang siapa dirinya. Sekarang ternyata A Ci menganggapnya tidak lebih hanya seperti seekor kucing piaraannya saja, keruan kepalanya seperti diguyur air dingin, ia pikir kalau sekarang dia mengaku siapa dirinya, tentu anak dara itu akan sangat kecewa. Maka ia cuma menghela napas panjang saja.

A Ci merasa heran, ia tanya, “Kenapa engkau menghela napas?”

“O, tidak!” sahut Goan-ci gugup. “Kupikir orang… orang itu harus dikasihani!”

“Dia sudah mati,” kata A Ci. “Kalau tidak, tentu aku akan mengelotoki topeng besinya yang sudah melengket dengan mukanya itu, dan tentu akan sangat menarik sekali kelihatannya.”

Kembali Goan-ci merinding mendengar kata-kata itu, tanpa terasa ia mundur setindak, ia meraba kerudung besi di atas kepalanya sendiri. Kerudung itu sudah lengket dengan kulit dagingnya, kalau dibeset mentah-mentah, bukan saja sangat membahayakan jiwanya, yang terang ia pasti akan kesakitan setengah mati lebih dulu.

Goan-ci merasa tidak pernah berbuat salah terhadap A Ci, dahulu malah banyak disiksa olehnya mengapa sampai sekarang dirinya masih belum terhindar dari ancaman anak dara ini? Tapi selama beberapa tahun ini ia sudah kenyang menderita, sudah biasa difitnah dan disiksa orang, maka ia cuma berpikir sejenak lalu menjawab menuruti haluan A Ci, “Ya, kukira pasti sangat menyenangkan!”

A Ci bertambah gembira, mendadak tangannya bergerak dan kebetulan lengan Goan-ci terpegang, katanya, “Kukira engkau serupa dengan aku, juga suka kepada permainan yang aneh-aneh itu.”

Karena lengannya dipegang A Ci, badan Goan-ci menjadi agak gemetar, dan karena itu suaranya menjadi terputus-putus, jawabnya, “Thi-thau-jin… Thi-thau-jin itu….”

“Thi-thau-jin itu kenapa!” A Ci menegas.

“Mestinya kau suruh Thi-thau-jin itu memasukkan kepalanya ke dalam mulut binatang buas sebangsa singa atau harimau, coba apakah gigi binatang buas itu sanggup tidak menggigit kepala besinya itu,” kata Goan-ci.

“Hah, ternyata pikiranmu sama seperti aku,” seru A Ci sambil bertepuk tangan dan tertawa. “Aku justru sudah pernah mencobanya, sudah pernah kusuruh dia masukkan kepalanya ke mulut singa, tapi tidak cedera!”

Saking senangnya sehingga waktu bicara tangan A Ci ikut bergerak-gerak dan tanpa sengaja jarinya menyenggol topeng besi Goan-ci dan mengeluarkan suara “cring” yang nyaring perlahan, keruan Goan-ci kaget dan cepat melompat mundur.

“He, tanganku menyentuh apa barusan ini?” tanya A Ci.

“O, ini, hou-sim-kia (kaca pelindung dada) pada bajuku ini,” cepat Goan-ci berdusta.

“Wah, itu tentu sebuah benda mestika yang tiada taranya,” puji A Ci sambil manggut-manggut.

Karena tahu asal-usul dirinya tidak mungkin dikatakan terus terang lagi, maka Goan-ci sengaja membual sekalian, katanya, “Ya, memang benda ini gemblengan dari besi meteor yang diketemukan di puncak Thian-san, tidak mempan senjata dan dapat menolak segala bahaya.”

“Wah, hebat benar!” demikian kelihatan sekali A Ci sangat kagum. “Sebenarnya siapakah namamu?”

“Aku she Ong bernama Sing-thian,” sahut Goan-ci mengada-ada.

Tapi A Ci percaya saja, tanyanya pula, “Dan ilmu silatmu dari aliran manakah?”

“Tentang asal-usul ilmu silatku ini sungguh luar biasa, yaitu berasal dari warisan Tat-mo Cosu, namanya….” demikian Goan-ci sengaja membesar-besarkan dirinya. Ia pikir jika senantiasa dapat berada bersama dengan A Ci, tentu hidupnya akan sangat gembira, maka ia menyambung, “… namanya Kek-lok-pay, dan aku… aku adalah Ciangbunjin dari Kek-lok-pay (golongan paling gembira).”

Tentu saja A Ci bertambah tertarik, katanya, “Usiamu masih muda, tapi ternyata sudah menjadi ketua sesuatu aliran persilatan yang besar, pantas dengan gampang saja dapat kau selamatkan aku dari tangan jahat Ting Jun-jiu.”

Padahal waktu Goan-ci menolong A Ci tadi, sesungguhnya adalah tindakan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Coba kalau sekarang dia teringat pada perbuatan itu, biarpun mati pun dia tidak berani lagi. Karena itu dalam hati ia tersenyum getir atas pujian A Ci itu, tapi di mulut tetap ia berkata, “Ya, sudah tentu. Ting Jun-jiu itu terhitung manusia apa? Huh, semua orang takut padanya, hanya aku saja tidak takut!”

A Ci melangkah maju setindak, ia mendongak di hadapan Goan-ci. Maka terenduslah Goan-ci bau harum yang mendebar-debarkan jantungnya. Malahan anak dara itu lantas ulurkan tangannya dan perlahan meraba lengan Goan-ci dari atas ke bawah, lalu ia pegang telapak tangan Goan-ci.

Dengan menahan napas Goan-ci coba memandang tangan A Ci, ia lihat sebuah tangan yang putih bersih laksana salju dan halus sebagai sutra, seketika ia terkesima.

“Kenapa engkau tidak tanya namaku?” tanya A Ci tiba-tiba.

“O, ya, siapa namamu?” tanya Goan-ci dengan kaku.

“Aku she Toan, bernama A Ci.”

“A… A Ci!” untuk sejenak barulah Goan-ci dapat mengucapkan nama itu dengan suara lemah.

“Ya, aku… aku suka kau panggil namaku. Coba panggil lagi sekali!” pinta A Ci dengan berseri-seri.

Maka Goan-ci memanggilnya lagi, “A Ci!”

Selama ini Goan-ci menganggap A Ci seakan-akan bidadari dari kahyangan, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa pada suatu hari ia dapat langsung menyebut nama A Ci, bahkan atas permintaan anak dara itu dengan segala senang hati, malahan dapat pegang-pegang tangannya pula.

Begitulah, maka tampak wajah A Ci yang berseri-seri itu tambah manis, katanya, “Apakah engkau sudi mendampingi aku?”

Hati Goan-ci tergetar hebat, sudah tentu seribu kali ia ingin berdampingan dengan A Ci. Tapi ia pun khawatir bila lama berada bersama dengan anak dara itu, jangan-jangan nanti akan ketahuan bahwa dirinya tak-lain-tak-bukan adalah “si badut besi” yang disangkanya sudah mati itu, kan urusan bisa runyam?

Topeng besi yang sebal itu tadi telah tersenggol jari A Ci dan hampir diketahui, ia pegang kerudung besi itu dan dibetot-betot sekuatnya, ia benar-benar ingin mencopot topi besi itu dari kepalanya.

Merasa Goan-ci mendadak melangkah mundur, hati A Ci menjadi pedih, katanya, “O, kiranya engkau tidak sudi berada bersamaku.”

“Tidak, ti… tidak!” cepat Goan-ci menjawab, “Aku… aku khawatir….”

“Khawatir apa?”

“Aku khawatir bila berada di sampingmu, mungkin aku… aku tak dapat membuatmu senang.”

“Salah besar sangkaanmu.” kata A Ci. “Justru kalau engkau berada di sampingku, maka pasti senanglah aku. Jika Sing-siok Lokoay tak mau mengampuni aku dan bila engkau tidak mengawaniku lalu bagaimana jadinya bila aku dipergoki dia?”

Walaupun tahu bahwa ucapan A Ci ini ditujukan kepada “Ong Sing-thian” dan bukan terhadap seorang Yu Goan-ci, tapi hatinya merasakan juga semacam kenikmatan yang sukar dilukiskan. Sejak keluarganya berantakan dan hidup merana penuh siksa derita sungguh mimpi pun Goan-ci tidak pernah menduga dia akan dapat merasakan kenikmatan batin seperti sekarang ini.

A Ci mendongak dan tanya pula, “Bagaimana, apa engkau sudi?”

“Ya, sudah tentu aku sudi cuma….”

“Aku melarang engkau berkata ‘cuma’ apa segala!” cepat A Ci memotongnya.

Sikap anak dara yang mengomel manja itu membuat hati Goan-ci bertambah terombang-ambing, katanya, “Ya, sudah, jika engkau tidak suka mendengarkan, biarlah tidak kukatakan.”

Maka tertawalah A Ci, katanya pula, “Sekarang bawalah aku ke tepi sungai dulu.”

“Ke tepi sungai?” Goan-ci menegas dengan heran.

“Ya, mukaku tentu sangat kotor, aku ingin cuci muka.”

“Meski mukamu masih ada sedikit noda darah tapi engkau tetap sangat manis dipandang.”

Kembali A Ci tertawa, tapi sekali ini tertawa yang memilukan.

Dengan gemetar Goan-ci mengulurkan tangannya, katanya, “Bo… boleh kau pegang tanganku biar kubawamu ke sana.”

A Ci lantas mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Goan-ci.

Seketika badan Goan-ci seperti kena setrum dan gemetar. Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa pada suatu hari A Ci dapat mengulurkan tangan untuk memegang tangannya, dapat mengucapkan kata-kata sedemikian ramah kepadanya. Setindak demi setindak ia bawa A Ci ke depan, ia merasa seperti terbang di awang-awang, semangat serasa kabur.

Selang agak lama barulah A Ci tanya pula, “Apakah di sekitarmu sini tiada sungai kecil?”

Mendadak Goan-ci sadar dari lamunannya, ia dengar jauh di sana ada suara gemerciknya air, maka cepat jawabnya, “Ada, tampaknya di depan sana ada sebuah sungai.”

Benar juga, sesudah menyusur hutan, tertampaklah sebuah sungai kecil dengan airnya yang jernih sedang mengalir dengan tenangnya.

Sesudah membawa A Ci ke tepi sungai, lalu kata Goan-ci, “Nah, A Ci, sekarang engkau sudah berdiri di tepi sungai.”

A Ci berjongkok, ia rendam tangannya sejenak di dalam air sungai, lalu berkata, “Coba kau menyingkir dulu, kalau aku memanggilmu barulah boleh kau kembali ke sini.”

Goan-ci menjadi gugup karena anak dara itu menyuruhnya menyingkir, tanyanya, “Sebab apa?”

Tapi A Ci jadi marah-marah, katanya, “Aku menyuruhmu menyingkir dan kau harus segera menyingkir!”

Dasar sifat A Ci memang manja, ketika hidup dalam istana Lam-ih-tay-ong di Lamkhia ia sudah biasa berkuasa dan main perintah, maka tanpa terasa sifat tuan putrinya itu menonjol lagi.

Tapi sesudah berkata, segera ia ingat, “Wah, sekarang aku tidak boleh main perintah lagi, jika dia sampai marah dan aku ditinggalkan, lantas bagaimana?”

Karena itu, cepat ia berdiri dan berkata pula dengan suara halus, “Perasaanku sedang tertekan sehingga bicaraku agak kasar, harap engkau jangan marah padaku.”

Padahal dahulu Goan-ci sudah kenyang dihajar, dicambuk, dan disiksa oleh A Ci, untuk itu Goan-ci harus bersorak malah sekarang cuma didamprat saja hal ini boleh dikatakan kejadian yang terlalu biasa dan soal kecil.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa sekarang A Ci berbalik minta maaf padanya dan mohon dia jangan marah. Saking gugupnya lantaran perbedaan yang mencolok itu, cepat Goan-ci menjawab, “Ah, ti… tidak. Asalkan engkau senang boleh kau bicara sesukamu kepadaku.”

Mendengar itu, diam-diam A Ci merasa heran juga. Ia tidak paham mengapa “Ong-kongcu” yang serbajempolan ini sedemikian baik hati dan suka mengalah padanya? Apakah dirinya memang sudah ditakdirkan mempunyai rezeki sebesar ini? Demikian pikir A Ci.

Karena senang, maka ia berkata pula, “Jika demikian, hendaknya menyingkir dulu. Tapi jangan mengintip, lho!”

“Namun… namun aku tetap khawatir bila meninggalkanmu,” kata Goan-ci sambil geleng kepala.

“Tidak apa-apa, lekas pergi!” ujar A Ci dengan tertawa.

Tapi Goan-ci masih merasa berat, setiap melangkah tentu menoleh satu kali. Akhirnya beberapa puluh tindak jauhnya, lalu ia berhenti.

Selang agak lama barulah terdengar suara A Ci yang merdu itu memanggilnya, “Ong-kongcu, di manakah engkau?”

Goan-ci memang sedang menunggu dengan tidak sabar lagi, demi mendengar seruan anak dara itu, terus saja ia melompat ke depan A Ci.

Noda darah di muka A Ci sekarang sudah tercuci bersih, pakaian lelaki yang semula juga sudah berganti dengan baju wanita yang sepan berwarna ungu. Kedua matanya setengah terpejam, wajah tersenyum manis menantikan datangnya “Ong-kongcu”.

Tapi mendadak Goan-ci terpatung di tempatnya, sepatah kata pun tak sanggup diucapkannya.

“Ong-kongcu, coba lihat, sekarang aku tidak sejelek tadi, bukan?” demikian A Ci berkata lagi.

Tetap Goan-ci tidak sanggup bersuara.

Mendadak air muka A Ci mengunjuk rasa cemas dan khawatir, serunya, “Ong-kongcu, apakah… apakah engkau tidak berada di sini?”

Dengan susah payah akhirnya Goan-ci menjawab satu kata tok, “Ada!”

“Kenapa engkau tidak menjawab pertanyaanku?” tegur A Ci.

“Aku… aku tidak tahu cara bagaimana harus bicara,” sahut Goan-ci tergegap.

A Ci melangkah maju dua tindak, mendadak tangan meraba ke atas dan tanpa sengaja menyenggol pula topeng besi Goan-ci.

Keruan Goan-ci kaget dan cepat menyurut mundur.

A Ci tertegun, tampaknya sangat heran, tanyanya kemudian, “Engkau… memakai topi apakah itu?”

Goan-ci sampai keluar keringat dingin, sahutnya dengan gugup, “O, tidak apa-apa, hanya… hanya topi biasa saja.”

“Aku seperti menyentuh sepotong besi?” ujar A Ci.

“O, bukan, bukan!” seru Goan-ci gugup sambil goyang tangan tanpa pikirkan apa A Ci dapat melihatnya atau tidak. “Ini hanya sepotong batu giok hiasan topiku.”

Sambil berkata, ia pun melangkah mundur terus, tiada hentinya ia berpikir, “Bila ingin berada bersama A Ci, maka sekali-kali tidak boleh A Ci mengetahui bahwa diriku adalah si badut besi alias Yu Goan-ci. Tapi kalau topeng besi ini tetap berada pada kepalaku, pada suatu hari akhirnya tentu juga akan diketahui anak dara itu, tatkala mana apakah ia masih akan sedemikian baiknya kepada diriku?”

Begitulah, maka sambil kedua tangan memegangi kerudung besi itu, dalam hati Goan-ci terus menjerit, “Aku harus lepaskan ini, harus lepaskan ini!”

Mendadak ia putar tubuh terus tinggal pergi.

Mendengar langkah orang, A Ci menjadi khawatir, teriaknya, “Ong-kongcu, apakah engkau hendak pergi? Hendak ke mana?”

Mendadak Goan-ci berhenti dan menjawab, “A Ci, tiba-tiba aku teringat kepada sesuatu urusan yang harus kuselesaikan. Hendaknya kau tunggu di sini, bila urusanku sudah beres, segera kukembali ke sini.”

Air muka A Ci berubah sedih, katanya, “Urusan apakah yang harus kau selesaikan, apa sangat penting?”

“Ya, sangat penting,” sahut Goan-ci dengan tersenyum getir. “Jika tidak kuselesaikan, maka… maka aku tidak dapat berada bersamamu lagi.”

Semula A Ci melengak oleh jawaban Goan-ci itu. Tapi segera terpikir olehnya, “Dia masih muda dan ganteng, sudah tentu ia mempunyai kekasih. Sekarang mendadak aku hendak ditinggalkan, boleh jadi dia hendak pergi menceraikan kekasihnya itu untuk kemudian datang kembali untuk berkumpul denganku.”

Berpikir demikian, A Ci menjadi gembira lagi, katanya, “Baiklah, aku akan menunggumu di sini, tapi jangan lama-lama, ya?”

Sebabnya Goan-ci hendak meninggalkan A Ci adalah karena bertekad akan menghilangkan kerudung besi yang membungkus kepalanya itu. Tapi kerudung itu sudah melengket dengan kulit dagingnya, untuk melepaskannya dengan paksa sudah tentu bukan soal mudah, bisa jadi jiwanya akan melayang sekalian. Dan kalau mati, tentu dia tak dapat kembali lagi untuk bertemu dengan A Ci.

Karena itu, Goan-ci menjadi tertegun di situ dan sulit menjawab. Sebaliknya A Ci sedang pikir ke jurusan lain, ia menduga “Ong-kongcu” yang ganteng itu tentu sangat banyak kekasihnya, kalau mesti menceraikan mereka satu per satu tentu juga akan banyak makan tempo. Maka katanya kemudian, “Ya, sudahlah, bolehlah kau pergi dan aku akan tetap menunggu di sini asal engkau pasti kembali ke sini.”

“Aku pasti akan kembali,” sahut Goan-ci.

“Ya, sudahlah, boleh berangkatlah!” kata A Ci sambil menghela napas perlahan.

Goan-ci mundur beberapa tindak, tiba-tiba ia berkata pula, “A Ci, kau sendirian….”

“Aku takkan pergi dari sini, rasanya takkan beralangan, asalkan engkau lekas pergi dan lekas kembali,” sahut A Ci.

Teringat bila nanti kerudung besi sudah dilepaskan, sedangkan mata A Ci sudah buta, tentu tidak dapat mengenali dirinya lagi, selanjutnya akan dapatlah berdampingan dengan anak dara pujaannya itu, hidup di dunia ini masakah ada yang lebih gembira dan bahagia daripada kejadian ini?

Segera Goan-ci putar tubuh dan berlari pergi secepat terbang, ia ingin pergi ke suatu kota dan cari seorang pandai besi untuk membuka topengnya itu secara paksa.

Tapi bila membayangkan betapa akibatnya kalau topeng itu dibeset mentah-mentah dari mukanya, mau tak mau ia sendiri pun merasa ngeri.

Namun demi hidup berdampingan selamanya dengan A Ci, agar anak dara itu percaya dia adalah Ciangbunjin dari Kek-lok-pay, ia harus berani “menyerempet bahaya”, betapa pun siksa derita harus berani dihadapinya. Karena itu, ia tidak gentar lagi, maju terus pantang mundur.

Ia berlari-lari beberapa li jauhnya, tapi sekitarnya adalah hutan belukar belaka, entah kota terletak di mana. Ia menjadi gelisah, ia lari ke atas sebuah bukit kecil dan memandang jauh sekitarnya. Ia lihat di arah timur laut sana ada mengepul asap cerobong dapur, ia pikir di sana tentu ada rumah penduduk, segera lari pula ke arah itu.

Tapi baru satu-dua li jauhnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan, “Ooi, Engkoh Jun-jiu yang tercinta! Lotoa bikin marah padamu, mengapa aku pun tidak digubris lagi olehmu?”

Suara itu sangat halus dan terputus-putus, tapi sangat jelas.

Goan-ci terkesiap, cepat ia menyusup dan sembunyi di tengah semak-semak rumput di tepi jalan, diam-diam ia mengeluh mengapa dunia sesempit ini, di mana-mana selalu kepergok Sing-siok Lokoay.

Maka terdengar Ting Jun-jiu sedang membentak dengan gusar, “Pergi sana, pergi!”

Dari suaranya jelas orangnya sudah sangat dekat dengan tempat sembunyi Goan-ci itu. Keruan Goan-ci tambah takut, sampai bernapas pun tidak berani keras-keras.

Waktu ia mengintip, ia lihat lengan baju Ting Jun-jiu robek sebagian, mukanya merah padam dan sedang berlari ke arahnya, di belakang iblis tua itu menyusul Yap Ji-nio yang genit.

Melihat muka Ting Jun-jiu yang bengis itu saking takutnya sampai Goan-ci memejamkan mata. Ia berharap iblis itu terus lari lewat ke sana dengan demikian tempat sembunyinya itu tidak sampai diketahui.

Ia tidak tahu bahwa sesudah tubuhnya penuh dengan racun dingin peng-jan (ulat sutra es), maka unsur racun yang bersemayam dalam tubuhnya jauh lebih jahat daripada badan Ting Jun-jiu, jadi Goan-ci sesungguhnya sudah berubah menjadi “manusia berbisa.”

Selama hidup Ting Jun-jiu suka berkutatan dengan makhluk-makhluk berbisa, biarpun di semak rumput hanya bersembunyi seekor ular berbisa, bila dia melayang lewat juga dapat diketahuinya, apalagi Goan-ci yang badannya penuh racun ulat sutra es yang mahalihai?

Maka ketika Ting Jun-jiu mendekat dengan tempat sembunyi Goan-ci itu, mendadak ia berhenti, air mukanya menampilkan rasa curiga dan ragu.

Ting Jun-jiu tidak tahu yang sembunyi dalam semak-semak rumput itu adalah Yu Goan-ci, ia cuma merasa ada sesuatu makhluk yang mahadingin dan maha berbisa berada di tempat dekat situ. Ia pun khawatir makhluk maha berbisa itu terkejut dan lari, juga khawatir karena Pek-giok-giok-ting tidak dibawanya sehingga sulit untuk menangkap makhluk maha berbisa itu. Lantaran itulah, maka ia menjadi ragu dan tertegun di tempat.

Karena untuk sekian lamanya tiada terdengar sesuatu suara, Goan-ci lantas membuka matanya, ia lihat jarak Sing-siok Lokoay dengan tempat sembunyinya cuma empat-lima meter jauhnya, keruan ia ketakutan dan gemetar. Dan celaka, karena gemetarnya sehingga rumput di sekitarnya ikut berkeresekan.

Sebaliknya Ting Jun-jiu juga kaget, ia menyangka makhluk maha berbisa itu tentu sangat besar maka ia pun tidak berani sembarangan bertindak.

Melihat Ting Jun-jiu mendadak berhenti, maka Yap Ji-nio ikut berhenti, katanya, “Engkoh Jun-jiu apakah engkau mau rujuk kembali denganku? Ai, dasar tidak punya perasaan, tidak ingat bahwa orang siang-malam senantiasa merindukan dikau!”

Ting Jun-jiu sama sekali tidak menoleh, hanya sinar matanya memandangi ke semak rumput dengan tajam. Selang sejenak mendadak jarinya menyelentik tiga kali, tiga butir obat sebesar gundu berwarna kuning muda terus menyambar ke tengah semak rumput itu.

Melihat tindakan Ting Jun-jiu, air muka Yap Ji-nio berubah, mestinya hendak bicara menjadi urung, lekas ia mundur ke belakang.

Hal itu dapat dilihat Goan-ci dengan jelas, meski ia tidak kenal benda apakah ketiga butir gundu warna kuning itu, tapi ia menduga pasti benda yang sangat berbisa.

Ia menjadi takut dan karena itu badan semakin gemetar. Kebetulan juga, waktu ketiga butir gundu kuning yang diselentikkan Ting Jun-jiu itu jatuh ke bawah, sebutir di antaranya tepat mengenai kepala besi Goan-ci. “Blang”, mendadak gundu itu meletus dan menghamburkan kabut kuning, segera terendus pula bau yang aneh, tapi Goan-ci sendiri tidak merasakan apa-apa.

Sedang gundu yang lain jatuh di sampingnya dan juga meledak, kabut kuning lantas menjalar memenuhi tanah, di mana kabut itu menyambar, segera tetumbuhan yang tadinya menghijau segar itu menjadi layu dan kering.

Selagi Goan-ci merasa bingung sementara itu gundu ketiga telah jatuh tepat di punggung tangannya. Dengan kaget ia kebaskan tangannya, tapi gundu itu sudah keburu pecah, tiba-tiba ia merasa punggung tangan dingin segar, selain itu tiada terasa apa-apa.

Karena itu barulah ia merasa lega. Ia coba mengintip ke sana, ia lihat wajah Ting Jun-jiu tampak merasa kaget dan khawatir.

Dalam pada itu terdengar Yap Ji-nio juga berkata dengan terperanjat, “He, Engkoh Jun-jiu, makhluk aneh apakah yang berada di tengah semak-semak rumput itu? Beruntun kau timpuk tiga butir ‘Hoa-kut-wan’ (pil pemunah tulang), kenapa hasilnya nihil?”

Jun-jiu menoleh dan melototi Yap Ji-nio, semprotnya, “Maksudmu Hoa-kut-wan ini kurang lihai?”

“Eh, Engkoh Jun-jiu, jangan main-main,” sahut Ji-nio sambil mundur lagi beberapa tindak. Ia khawatir jangan-jangan dirinya akan dibuat percobaan dengan gundu berbisa si iblis.

Padahal Ting Jun-jiu sendiri juga sedang heran dan ragu karena ketiga butir Hoa-kut-wan yang ditimpukkan tadi tidak membawa hasil apa-apa. Padahal kabut kuning yang dihamburkan gundu Hoa-kut-wan itu sangat jahat, kalau kena badan orang rasanya seperti dibakar, baik binatang maupun manusia pasti tidak tahan.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa dia justru kebentur Yu Goan-ci yang badannya penuh terisi unsur racun dingin dari ulat sutra es, biarpun makhluk berbisa paling lihai di dunia ini juga tidak dapat mengapa-apakan dia sekarang.

Ting Jun-jiu tidak berani sembarangan menyingkap semak rumput itu untuk memeriksa, sebaliknya ia malah mundur lagi dua langkah. Lalu tangannya bergerak pula, dari dalam lengan baju lantas melayang keluar dua titik api hijau dan terbang ke depan dari kanan dan kiri.

Berulang-ulang Ting Jun-jiu menjentik pula sehingga kedua titik bunga api itu mendadak menyala menjadi dua gumpal api unggun dan jatuh ke tanah, api yang berkobar itu terus menjalar ke depan, lalu kedua ujung api saling sambung menjadi satu hingga berwujud sebuah lingkaran api seluas beberapa meter.

Meski api yang berkobar itu tidak terlalu hebat, namun dalam sekejap saja lingkaran api itu menjadi sangat sempit.

“Hebat benar ilmu ‘Tok-yap-sau-heng’ (api berbisa mencari jejak) yang kau semburkan ini, sungguh banyak menambah pengalamanku, Engkoh Jun-jiu,” demikian Yap Ji-nio memuji dari jauh.

Ting Jun-jiu tampak berseri-seri, sahutnya, “Ya, biarpun makhluk yang sembunyi di semak rumput itu betapa bandelnya, jika apiku sudah membakar, akhirnya dia pasti akan menjadi abu.”

Di lain pihak Goan-ci menjadi ketakutan, karena terkepung di tengah api dan lingkaran api itu makin lama makin sempit, demi mendengar ucapan Ting Jun-jiu itu, ia tambah takut hingga giginya gemertukan.

Suara kertukan gigi itu segera didengar oleh Sing-siok Lokoay dan dikenali adalah suara manusia, segera ia membentak, “Siapa itu? Tidak lekas keluar?!”

Goan-ci pikir urusan sudah begini, untuk sembunyi lagi terang tidak dapat, malah sebentar lagi bisa mati konyol terbakar menjadi abu, bahkan A Ci yang sedang menunggu-nunggu kembalinya itu tentu akan sia-sia.

Maka terpaksa ia berdiri dan berseru dengan ketakutan, “Suhu, akulah yang sembunyi di sini, harap engkau jangan gusar, aku….”

Girang dan kejut pula Ting-lokoay demi melihat yang muncul itu adalah Goan-ci. Cepat ia membentak pula, “Di mana A Ci?”

“Dia… dia entah sudah lari ke mana?” sahut Goan-ci.

Tiba-tiba Ting-lokoay menghantam ke depan, tenaga pukulannya membikin Goan-ci terpental dari lingkaran api yang sementara itu sudah menyempit itu. Sesaat kemudian, mendadak api menjulang tinggi ke atas, lalu menyurut kembali dan sebentar lagi lantas padam.

Segera Jun-jiu membentak Goan-ci, “Mestinya akan kubiarkan kau terbakar menjadi abu, sekarang aku mengampuni jiwamu, kenapa kau tidak lekas menyembah dan berterima kasih?”

Dengan ketakutan Goan-ci berlutut dan menyembah, katanya, “Ya, banyak terima kasih atas budi kebaikan Suhu.”

Pada saat Goan-ci berlutut itulah, sekonyong-konyong Ting Jun-jiu sambar pergelangan tangan Goan-ci dan dipegang erat-erat.

Keruan Goan-ci kaget, serunya, “Suhu, ken… kenapa….”

Sebenarnya tidak nanti Goan-ci berani meronta atau melawan, tapi karena dipegang secara mendadak, dalam kagetnya dengan sendirinya ia pun hendak menarik kembali tangannya. Karena itu suatu arus hawa murni terus menerjang ke arah urat nadi pergelangan tangan yang terpencet itu.

Kontan Ting Jun-jiu merasa tangannya kedinginan, seperti ada arus racun meresap ke tubuhnya. Sungguh kagetnya bukan buatan, lekas ia lepas tangan dan melangkah mundur.

Sebaliknya saking ketakutan kedua kaki Goan-ci menjadi lemas dan kembali ia menyembah-nyembah lagi.

Pada waktu pertama kalinya bertemu dengan Goan-ci memang Ting Jun-jiu sudah merasa dalam tubuh pemuda itu mengeram unsur racun yang jauh lebih hebat dan lebih kuat daripada dirinya.

Apalagi ia habis bertempur dengan Buyung Hok dan Toan Yan-king, banyak tenaganya terbuang tatkala menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat”, maka sekarang unsur racun dalam tubuhnya menjadi lebih lemah daripada Goan-ci. Dan sebabnya dia lantas lepas tangan sebenarnya juga lantaran dia merasa takut.

Kini melihat Goan-ci berulang menyembah dan minta ampun, walaupun dalam hati Ting-lokoay sendiri sangat jeri, namun sedikit pun ia tidak perlihatkan perasaannya itu, tiba-tiba ia melangkah maju, bentaknya, “Waktu kau angkat guru padaku kau telah bersumpah setia, tapi sekarang kau berani mendurhakai guru dan membawa lari sumoay sendiri, sekarang kau berani minta ampun padaku?”

Goan-ci tidak menjawab melainkan terus menyembah.

“Baiklah, boleh juga jiwamu kuampuni, tapi selanjutnya kau harus betul-betul setia, tidak boleh main gila lagi,” kata Lokoay.

“Terima kasih, Suhu, Tecu pasti tidak berani lagi,” sahut Goan-ci.

“Nah, sekarang katakan, di mana A Ci?” tanya Jun-jiu.

Jika tanya urusan lain, tentu Goan-ci akan menjawab terus terang. Tapi yang ditanya sekarang adalah di mana beradanya A Ci, sudah tentu ia tidak mau mengaku. Maka ia hanya menunduk sambil berlutut saja dan tidak bersuara.

Ting Jun-jiu menjadi gusar, bentaknya, “Baru saja kau minta ampun, tapi sekarang sudah tidak menurut padaku lagi?”

Mendadak ia angkat sebelah kaki dan menginjak di atas kepala besi Goan-ci sehingga menempel tanah.

Walaupun demikian, tetap Goan-ci tidak mau menjawab.

Yap Ji-nio mengikuti semua kejadian ini, ia lihat api berbisa yang dibakar oleh Ting-lokoay itu tidak mendapatkan sesuatu makhluk berbisa apa-apa, sebaliknya muncul seorang Thi-thau-jin (orang berkepala besi) yang aneh, maka ia pun sangat terkejut.

Ketika dilihatnya Goan-ci berlutut dan menyembah minta ampun kepada Sing-siok Lokoay, segera ia pun melangkah maju, katanya, “Engkoh Jun-jiu, sejak kapan kau menerima murid berkepala besi ini?”

Ting-lokoay hanya berdehem dan tidak gubris padanya.

Saat itu Yap Ji-nio sudah di depan Goan-ci, dengan heran ia menjentik di kerudung besi itu sehingga mengeluarkan suara “plak-plok” dua kali.

Memangnya pinggang Goan-ci sudah pegal karena kepalanya diinjak. Sekarang diselentik oleh Yap Ji-nio, keruan kepala terasa sakit dan mata berkunang-kunang, tanpa kuasa lagi hawa murni lantas bergolak.

Yap Ji-nio kembali ulur tangan untuk meraba kepala besi Goan-ci yang dianggapnya lucu itu.

Tak tersangka olehnya saat itu di atas kerudung besi itu penuh dengan hawa murni yang mahadingin sehingga membeku selapis es yang tipis.

Maka begitu tangan Yap Ji-nio menyentuhnya, seketika ia merasa dingin tak terhingga dan cepat menarik kembali tangannya. Namun sedikit terlambat, “cret”, kulit di telapak tangan sobek sebagian terlengket di kerudung besi itu.

Karena kesakitan Yap Ji-nio menjadi murka, bentaknya, “Thi-thau-siaucu, kau main sihir apa?” menyusul tangannya menabok dari samping.

Melihat Yap Ji-nio hendak menghajar Goan-ci, hal ini kebetulan malah bagi Ting Jun-jiu, segera ia menarik kakinya dan melangkah mundur.

Karena kepala mendadak enteng, Goan-ci menjadi terjengkang ke belakang, kepalanya membentur batu hingga bersuara nyaring, karena jumpalitan yang tak sengaja itu serangan Yap Ji-nio menjadi luput malah.

Sekali luput serangannya, segera Ji-nio melangkah maju dan serangan lain dilontarkan lagi.

Melihat wanita itu sangat genit dan galak, pula menyebut gurunya “Engkoh Jun-jiu”, maka Goan-ci tidak berani melawan, ia hanya melindungi tempat yang berbahaya dengan kedua tangan sambil berteriak-teriak, “Suhu aku benar-benar tidak tahu di mana beradanya A Ci, sungguh tidak tahu!”

Baru habis ucapannya, tahu-tahu tubuhnya kena dihanjut tiga kali oleh Yap Ji-nio sehingga mencelat.

Yap Ji-nio merasa tubuh Thi-thau-jin itu sedingin es, tenaga pukulan yang dilontarkan itu segera hilang sirna tanpa bekas. Mendadak ia ingat Thi-thau-jin itu adalah murid Ting-lokoay, dengan hilangnya tenaga pukulan sendiri secara aneh jangan-jangan kena dimakan oleh “Hoa-kang-tay-hoat” dari Sing-siok-pay yang mahalihai itu?

Dalam pada itu dengan napas terengah-engah Goan-ci berkata, “Suhu, aku benar-benar tidak tahu jejak A Ci.”

Ting Jun-jiu mendengus katanya, “Kau yang membawa lari A Ci, di mana dia, mengapa tidak tahu?”

Goan-ci menjadi bungkam, ia lihat tangan sang guru mulai terangkat lagi, ia ketakutan dan berseru pula, “Ampun Suhu! Tecu benar-benar tidak… tidak tahu di mana A Ci berada!”

Perlahan tangan Ting-lokoay menabok ke depan, kira-kira belasan senti di atas kepala Goan-ci mendadak tangannya membalik dan berganti arah, “blang”, tahu-tahu sebatang pohon di samping sana dihantamnya sehingga patah.

“Jika pukulanku ini mengenai kepalamu, bagaimana jadinya denganmu?” bentak Lokoay.

“Tecu… Tecu tidak sanggup menahan pukulan Suhu ini,” sahut Goan-ci dengan ketakutan dan gelagapan.

“Ya, mungkin kepala besimu ini bisa gepeng kena pukulanku ini,” jengek Lokoay.

“Terima kasih atas kemurahan hati Suhu,” kata Goan-ci.

“Kau tidak mengaku di mana A Ci berada, mana dapat kuampuni jiwamu?” damprat Lokoay.

Goan-ci menghela sahutnya, “Suhu, tampaknya aku sudah ditakdirkan harus mati di bawah pukulanmu. Aku… tidak bisa berkata lain.”

Jun-jiu melengak, tapi lantas tertawa dan berkata, “Kau jujur, rasanya tak nanti mendustai aku.”

Merasa ada harapan buat hidup, cepat Goan-ci menyembah dan berkata pula, “Ya, mana Tecu berani berdusta.”

“Baiklah,” kata Ting-lokoay, “dahulu waktu kau angkat guru padaku, pernah kukatakan akan menjodohkan A Ci padamu. Sekarang dia sudah buta, apakah kau masih mau terima dia?”

Cepat Goan-ci menjawab, “A Ci adalah gadis secantik bidadari, mana Tecu berani mengimpikan hal itu.”

“Ahh, tidak perlu pura-pura,” ujar Lokoay dengan tertawa. “Meski kau durhaka padaku, tetap aku dapat mengampuni dosamu. Sekarang boleh kau bawa aku menemui A Ci, aku pasti akan menjodohkan dia padamu.”

Tapi Goan-ci tahu yang disukai A Ci adalah pemuda ganteng seperti Buyung Hok, jika anak dara itu mengetahui orang yang menyelamatkan dia itu adalah “si badut besi” yang pernah diperbudak olehnya, pasti dia akan sangat kecewa dan tidak nanti mau menjadi istrinya.

Meski tak keruan rasa hatinya pada saat itu tapi ia tetap menjawab, “Tecu benar-benar tidak tahu di mana beradanya A Ci, betapa pun Suhu akan memaksa pengakuan Tecu juga percuma.”

Sungguh gusar Ting Jun-jiu tak terkatakan, coba kalau bukan ingin mencari Pek-giok-giok-ting yang berada pada A Ci itu, tentu sekarang Goan-ci sudah dibunuhnya.

Tapi ia dapat berlaku tenang lagi, dengan tersenyum ia berkata, “Baiklah, berdirilah!”

Goan-ci mendongak ke atas, ia ragu dan tidak berani berdiri.

“Aku bilang berdirilah!” ucap Jun-jiu pula.

Dan barulah Goan-ci berani berdiri.

Mendadak Ting Jun-jiu melengos, katanya, “Sudahlah, lekas enyah! Kau tidak setia padaku, aku pun tidak sudi mempunyai murid seperti dirimu lagi.”

Habis berkata terus saja ia melesat pergi, hanya sekejap saja sudah menghilang di kejauhan sana.

Untuk sekian lama Goan-ci termangu-mangu, ketika sadar ia coba melihat sekitarnya, namun Ting Jun-jiu benar-benar sudah pergi, bahkan Yap Ji-nio juga sudah menghilang, ia sangsi apakah bukan sedang mengimpi.

Waktu ia coba membenturkan kepala pada sepotong batu, “trang”, kepala terasa sakit, terang bukan dalam mimpi.

Ia jalan beberapa tindak ke depan sambil memanggil-manggil, “Suhu! Suhu!”

Tapi keadaan sunyi senyap, tiada seorang pun yang kelihatan. Ia tahu tidak mungkin dirinya diampuni dengan begitu mudah. Maka kembali ia berseru, “Suhu, Tecu akan memberitahukan jejak A Ci.”

Ia pikir kalau sang suhu masih berada di situ pasti akan perlihatkan diri lagi jika mendengar ucapannya itu. Siapa tahu tetap tiada suara jawaban meski dia sudah mengulangi seruannya itu.

Setelah berpikir sejenak, mendadak ia berlari cepat ke depan, namun tetap tiada seorang pun dilihatnya. Baru sekarang ia merasa lega. Ia pikir, barangkali Sing-siok Lokoay menaruh belas kasihan padanya agar bisa hidup bersama dengan A Ci, maka benar-benar mau mengampuninya.

Teringat kerudung besinya itu harus lekas dilepaskan, maka cepat ia lari pula ke depan untuk mencari kota. Sesudah beberapa li lagi, benar juga dari jauh kelihatan di depan ada sebuah kota.

Segera ia menanggalkan bajunya untuk membungkus kepalanya hingga rapat, hanya matanya yang kelihatan.

Setelah setengah li lagi, tiba-tiba dilihatnya ada dua orang sedang datang dari depan, Goan-ci kenal kedua orang itu adalah kameradnya Buyung Hok, yaitu Hong Po-ok dan Pau Put-tong. Keruan ia terkejut dan berhenti lari.

Secepat angin Hong Po-ok dan Pau Put-tong sudah lewat di sampingnya. Baru Goan-ci merasa lega, sekonyong-konyong pundaknya ditepuk sekali.

“He, kenapa kepalamu dibungkus rapat?” itulah suara Pau Put-tong alias si “bukan”.

“O, aku… aku meriang, tidak boleh kena angin,” Goan-ci membohong.

“Samko, buat apa gubris seorang desa, ayolah kita lekas mengejar ke sana!” demikian Po-ok sedang memanggil.

“Bukan, bukan! Dia membungkus kepalanya dengan baju, larinya tadi juga kelihatan sangat cepat, tidak mungkin orang sakit, kukira pasti Thi-thau-siaucu itu!” sahut Put-tong.

Goan-ci menjadi gugup, badan terasa lemas, lekas ia menggoyang-goyang kedua tangannya dan berkata, “Tidak, tidak, aku bukan si Thi-thau-siaucu itu!”

Tapi karena ia menggoyang-goyangkan kedua tangannya, maka baju yang membungkus kepalanya menjadi kendur dan terbuka sehingga kelihatanlah kerudung besinya itu.

Maka tertawalah Pau Put-tong terbahak-bahak, katanya, “Nah, Site, tajam tidak pandangan Samkomu ini?”

“Awas, Samko!” tiba-tiba Po-ok menarik mundur Pau Put-tong.

Meski Put-tong tidak kenal apa artinya takut, tapi derita sengsara sesudah kena pukulan berbisa Goan-ci tempo hari itu masih terasa ngeri bila teringat olehnya, maka ia pun menurut saja ketika ditarik mundur.

Goan-ci masih coba hendak menutupi kepalanya yang khas itu. Namun Pap Put-tong sudah lantas membentaknya, “Hai, Thi-thau-siaucu, sebenarnya kau ini manusia apa?”

“O, aku… aku cuma seorang kecil yang tak berarti, buat apa tuan-tuan mencari perkara padaku?” sahut Goan-ci.

“Bukan, bukan! Pukulanmu yang berbisa itu sampai Hian-thong Taysu dari Siau-lim-si juga tidak tahan, kami berdua saudara justru sangat kagum padamu,” kata Put-tong. “Tampaknya biar betapa pun tinggi kepandaian Ting Jun-jiu juga tidak sesuai menjadi gurumu, entah asal-usulmu sebenarnya dari mana?”

“Aku… aku tidak punya asal-usul apa-apa,” sahut Goan-ci gugup.

Tiba-tiba Pau Put-tong melangkah maju setindak. Begitu pula Hong Po-ok lantas cabut belatinya yang mengilap itu dan melangkah maju.

Melihat belati Po-ok yang tajam itu Goan-ci menjadi girang, cepat katanya, “Eh tuan ini, aku ingin pinjam sesuatu barang padamu, entah boleh tidak?”

Seketika air muka Po-ok berubah hebat.

Maklum, di dunia Kangouw banyak sekali istilah-istilah yang kedengarannya sangat sopan, tapi mengandung arti yang sebaliknya. Misalnya orang berkata “mohon petunjuk”, maka itu berarti ajak berkelahi. Dan bila dipakai kata-kata “pinjam”, maka besar kemungkinan barang yang hendak “dipinjam” itu adalah sebelah tangan, mata atau buah kepala dari lawan itu.

Sebab itulah Hong Po-ok menjadi kaget demi mendengar Goan-ci ingin pinjam sesuatu padanya, cepat ia tanya, “Apa yang hendak kau pinjam?”

Goan-ci tuding Po-ok, tapi susah untuk menerangkan. Keruan sikap Goan-ci ini membikin Hong Po-ok tambah khawatir, cepat ia mundur selangkah lagi.

“Sebenarnya kau mau pinjam apa?….” belum habis Pau Put-tong bertanya, mendadak ia loncat ke samping sana secepat anak panah dan menghilang ke dalam semak-semak rumput. Menyusul segera terdengar dua kali teriakan orang yang aneh tahu-tahu Pau Put-tong sudah melompat balik lagi dengan menjinjing dua orang.

Kedua orang itu tampak meronta-ronta tapi cengkeraman Put-tong seperti kaitan kuatnya, betapa pun sukar terlepas.

Sesudah dekat, Put-tong melemparkan kedua tawanan itu ke tanah, segera ia pun meloncat dan menginjak punggung mereka.

“Sute, lekas turun tangan!” seru kedua orang itu tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya.

Baru sekarang Goan-ci dapat melihat jelas bahwa kedua orang ini adalah saudara seperguruannya.

Pau Put-tong bergelak tertawa, katanya, “Kiranya kalian adalah anak murid Sing-siok Lokoay. Kalian main sembunyi di situ ingin berbuat apa?”

“Pau-enghiong, kami diperintahkan Suhu untuk mengawasi jejak Thi-thau-jin ini dan tiada sangkut pautnya denganmu, harap sudilah angkat kakimu!” mohon kedua orang itu.

Put-tong terbahak-bahak lagi, mendadak ia lompat turun dari punggung kedua tawanan itu. Sebagai kesatria, ia tidak sudi banyak tingkah dengan murid Sing-siok-pay yang dianggapnya kaum keroco itu.

Sebaliknya Goan-ci menjadi khawatir, cepat ia berseru, “Pau-enghiong, jangan bebaskan mereka!”

Namun kedua murid Sing-siok-pay sudah merangkak bangun, mereka terus menubruk maju. Selagi Goan-ci tercengang, tahu-tahu kedua lengannya sudah dicengkeram kedua suhengnya itu.

“Ayo, ikut kami menemui Suhu!” bentak kedua orang itu.

“Ai, kenapa kedua Suheng bikin susah padaku? Jika sudi melepaskan diriku, sungguh budi kebaikan kalian takkan kulupakan,” mohon Goan-ci.

“Tidak bisa!” bentak kedua orang itu dengan bengis. Lalu Goan-ci diseret pergi.

Otomatis Goan-ci meronta sebisanya, maksudnya cuma ingin melepaskan diri dari pegangan ke dua orang itu. Tak tersangka, baru saja tangan bergerak, tahu-tahu kedua orang itu sudah lantas mencelat pergi sehingga beberapa meter jauhnya, tulang mereka patah dan kepala pecah, ternyata sudah terbanting mati semua.

Keruan Goan-ci tambah kaget, sesudah tercengang sejenak, segera ia angkat langkah seribu alias kabur.

Menyaksikan kejadian itu, sungguh heran dan kejut Pau Put-tong dan Hong Po-ok tak terkatakan. Melihat Goan-ci lari, berbareng mereka berseru, “Nanti dulu!”

Namun Goan-ci sudah ketakutan, ia lihat kedua suhengnya mendadak terbanting mampus, ia sangka itu perbuatan Pau Put-tong dan Hong Po-ok, maka ia lari terbirit-birit. Apalagi mendengar seruan kedua orang itu, ia jadi makin takut dan ingin lari lebih cepat. Namun kaki menjadi lemas malah dan akhirnya jatuh tersungkur di tanah.

Seperti angin lesus cepatnya Hong Po-ok sudah lantas menyusul sampai di depan Goan-ci, tanyanya, “Tadi sebenarnya kau ingin pinjam apa padaku?”

“Tidak, aku… aku tidak berani pinjam lagi,” sahut Goan-ci dengan takut sambil memandang belati yang masih dipegang Po-ok itu.

Melihat sinar mata orang mengincar belatinya, tiba-tiba Po-ok paham maksudnya, tanyanya pula, “O, apa barangkali kau ingin meminjam belatiku ini?”

“Ya… ya, sebenarnya ada maksudku hendak pinjam, tapi… tapi kalau tuan tidak boleh, ya, sudahlah,” kata Goan-ci dengan tergegap.

“Belatiku ini tajamnya bukan main, dapat memotong besi seperti mengupas mangga, apa kau mau meminjamnya untuk mengupas kerudung besi pada kepalamu ini?” tanya Po-ok.

“Ya, betul,” sahut Goan-ci.

Po-ok tertawa dingin, jengeknya, “Hm, ketika di depan Siau-lim-si aku pernah hendak mengupas topengmu ini, tapi kau tidak mau, bahkan menghantam aku satu kali sehingga aku menderita setengah mati, sekarang… hm….”

Goan-ci menjadi ketakutan, sahutnya, “Aha… tentu Hong-toaya salah paham, mana mampu aku menyerangmu?”

Hong Po-ok adalah seorang laki-laki jujur, melihat Goan-ci menyangkal perbuatannya itu, menjadi gusar, dampratnya, “Bagus, sudah memukul orang dan sekarang berani mungkir. Habis apakah orang yang memukul aku di Siau-lim-si itu adalah tangan babi atau tangan anjing?”

“Bukan, tapi cakar kura-kura,” sambung Put-tong.

“Itu berkat kesaktian Sing-siok Losian dan tiada sangkut pautnya denganku,” kata Goan-ci dengan kikuk.

Mendengar itu, Po-ok dan Put-tong tambah heran dan bingung, sudah terang mereka kena pukulan berbisa Thi-thau-jin ini sehingga menderita sekian lamanya, sampai Sih-sin-ih juga geleng-geleng kepala tak berdaya, coba kalau tidak ditolong oleh hwesio muda itu, mungkin sampai saat ini mereka masih tersiksa, mengapa Thi-thau-jin ini tidak mau mengakui perbuatannya dahulu itu? Tapi kalau melihat sikapnya jelas bukan sengaja pura-pura bodoh?

Maka dengan terheran-heran mereka sama tanya, “Kau bilang itu berkat kesaktian Sing-siok Lokoay?”

“Ya, Sing-siok Losian bilang itu adalah ilmu gaib Sing-siok-pay dan tidak boleh diceritakan kepada orang luar,” sahut Goan-ci sesudah ragu sejenak.

“Ilmu gaib?” Po-ok dan Put-tong menegas dengan heran. “Jadi Sing-siok-pay juga punya ilmu gaib? Eh, sobat kepala besi, cobalah jelaskan!”

Goan-ci memandang belati tajam di tangan Hong Po-ok itu, ia jadi sangsi untuk menceritakan “mantra” ajaran Sing-siok Lokoay itu, ia masih ingat apa yang dikatakan Lokoay bahwa mantra itu sangat manjur, bila ia ucapkan mantra itu, maka dari jauh juga sang guru itu akan dapat membantunya dengan ilmu gaib. Tapi sekarang ia telah membawa lari A Ci, entah mantra itu masih manjur atau tidak.

Melihat Goan-ci lagu-ragu, segera Po-ok menarik Put-tong, katanya, “Samko marilah kita pergi saja. Thi-thau-jin ini adalah musuh kita, buat apa kita meminjamkan belati padanya!”

Goan-ci menjadi gugup karena akan ditinggal pergi, ia tahu belati Hong Po-ok itu sangat tajam dan sukar mencari senjata serupa itu, maka cepat ia berseru, “Nanti dulu, baiklah akan kuterangkan, ilmu gaib itu dimulai dengan membaca mantra yang berbunyi: ‘Sing-siok Losian, Sing-siok Losian, lindungilah muridmu, atasi musuh dan memperoleh kemenangan, satu-tiga-lima-tujuh-sembilan,’ dan sekali aku membaca mantra ini dari jauh segera beliau akan menggunakan ilmu gaibnya untuk menolong aku.”

Semula Po-ok dan Put-tong melengak oleh keterangan itu. Tapi segera mereka merasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal, Hong Po-ok sampai menjengking dan Pau Put-tong mendongak sambil memegangi perutnya yang melilit saking gelinya.

“Jangan kalian anggap lucu, justru dengan ilmu gaib itulah telah kulukai kalian dengan sekali pukul saja,” ujar Goan-ci.

Po-ok coba menahan rasa gelinya, lalu berkata, “Sobat kepala besi, meski kami pernah dilukai olehmu, tapi melihat kau dibohongi iblis tua itu secara kelewatan, maka kami sekarang ikut penasaran. Haha, iblis tua itu mahir ilmu gaib kentut! Jika kau dikatakan jago kelas satu di dunia persilatan, inilah yang betul!”

Tapi Goan-ci berulang goyang tangannya, katanya, “Hendaknya tuan jangan berkata demikian, dari mana aku bisa dikatakan jago kelas satu? Hehe, masakah aku jago kelas satu?”

Ia termangu-mangu pula ketika teringat dalam anggapan A Ci ia pun disangka sebagai jago kelas satu, paling baik hal ini akan tetap menjadi impian muluk bagi anak dara itu agar dia selalu merasa gembira.

Melihat Goan-ci tiba-tiba termangu-mangu, maka Po-ok berkata pula, “Malah menurut pendapatku, mungkin ilmu silat Sing-siok Lokoay sendiri juga tidak bisa lebih tinggi daripadamu.”

“Ai, jangan dibicarakan lagi,” demikian Goan-ci berulang menggoyang tangan pula.

“Hong-site,” kata Put-tong, “orang ini tampaknya setengah gila, tidak perlu banyak bicara lagi dengan dia.”

Tapi dengan sungguh-sungguh Po-ok berkata pula, “Sobat kepala besi, pada suatu hari nanti tentu kau akan tahu bahwa apa yang kukatakan ini bukanlah omong kosong. Ilmu silatmu sangat tinggi, pukulanmu yang berbisa itu boleh dikata nomor satu di jagat ini, yang kuharap adalah selanjutnya jangan sembarangan kau pukul orang lagi!”

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci cepat. “Asal orang tidak memukul aku, tidak nanti kupukul orang.”

Tiba-tiba Po-ok melemparkan belati ke arah Goan-ci setelah digosok-gosok beberapa kali pada kain celananya, katanya, “Baiklah, orang she Hong telah anggap dirimu sebagai kawan, belati ini kuberikan padamu!”

Cepat Goan-ci menyambut belati itu, untuk sejenak ia tertegun, tapi mendadak ia berlutut.

Kepalsuan orang Kangouw sukar diduga, sebagai orang Kangouw kawakan, sudah tentu Hong Po-ok dan Pau Put-tong selalu waspada. Maka demi melihat Goan-ci mendadak berlutut, cepat mereka melangkah mundur ke samping.

Sudah tentu Goan-ci tiada maksud menyerang atau maksud jahat lain tapi dengan menurut aturan ia menjura tiga kali, lalu berkata, “Tuan berdua sudi menganggap aku sebagai kawan, sungguh aku orang she Yu merasa sangat berterima kasih.”

“O, kiranya kau she Yu?” Po-ok menegas.

“Ya,” sahut Goan-ci.

“Yu-keh-siang-hiap dari Cip-hian-ceng yang tersohor itu apakah angkatan tua keluargamu?” tanya Pau Put-tong.

Goan-ci menjadi pilu teringat kepada ayah dan pamannya itu. Sejenak kemudian barulah ia menjawab, “Sudah lama kukagum pada kedua pendekar tua yang tersohor dari Cip-hian-ceng itu, cuma sayang tiada punya rezeki untuk bertemu dengan kedua Yu-loenghiong itu!”

Sembari berkata air matanya lantas bercucuran juga, cuma dia memakai topeng besi sehingga orang lain tidak tahu.

Hong Po-ok saling pandang sekejap dengan Pau Put-tong, mereka tahu Thi-thau-jin ini tentu belum mau menjelaskan asal-usulnya, mereka sekarang sudah berkawan, masakah kelak tiada kesempatan untuk berjumpa pula?

Karena itu mereka lantas memberi salam dan berkata, “Baiklah, sobat Yu, sampai berjumpa pula kelak!”

“Ya, sampai berjumpa,” sahut Goan-ci sambil membalas hormat.

Dan sesudah kedua orang itu pergi, cepat Goan-ci juga lantas berangkat. Tidak lama, sampailah di tepi sebuah sungai kecil.

Sambil bercerminkan air sungai, perlahan Goan-ci mengangkat belatinya, tapi tangan terasa gemetar luar biasa. Maklum, topeng besi itu telah melengket dengan kulit, dagingnya di bagian kepala kalau dibesetnya mentah-mentah bukan mustahil jiwanya akan terancam sudah tentu hal ini membuatnya takut.

Tapi demi teringat bila nanti topeng besi itu sudah dilepaskan, untuk selanjutnya ia akan dapat hidup berdampingan untuk selamanya dengan A Ci dalam kedudukannya sebagai “Ong Sing-thian, Ciangbunjin dari Kek-lok-pay,” maka seketika semangat jantannya timbul lagi, ia pegang kencang belatinya dan perlahan memotong bagian sela-sela sambungan topeng besi bekas las-lasan itu.

Memang belati Hong Po-ok itu sangat tajam maka sekali potong dengan perlahan, seketika tempat las itu terbelah.

Lalu Goan-ci simpan baik-baik belati itu, dengan sebelah tangan pegang belahan topeng besi bagian depan dan tangan lain pegang belahan bagian belakang sambil meringis menahan sakit terus saja ia pentang sekuat-kuatnya.

Dia sudah nekat, maka sekali pentang kulit daging yang melengket pada topeng itu lantas ikut terobek mentah-mentah.

Seketika ia merasa kesakitan luar biasa, pandangannya menjadi gelap, ia menjerit sekali, lalu tak sadarkan diri lagi.

Entah berapa lama kemudian, perlahan ia siuman kembali. Ia merasa kepala sakit luar biasa, sampai mata juga sukar dibuka. Ia hendak merangkak bangun, ketika tangan menahan tanah barulah ia tahu bahwa separuh badannya bagian atas telah terendam dalam air sungai. Cepat ia raba pula kepala sendiri, tapi yang terpegang oleh tangannya itu terasa sangat keras dan dingin.

Kiranya setelah topeng besi itu terbeset dari kepalanya berikut kulit daging yang melengket itu saking sakitnya ia jatuh pingsan dan secara kebetulan bagian kepala itu terendam dalam air sungai sehingga jiwanya tertolong malah.

Maklum, begitu kepalanya terendam air, ketika hawa berbisa mahadingin dari tubuhnya ikut mengalir keluar, segera air sungai di sekeliling kepalanya lantas membeku menjadi es sehingga membungkus kepalanya, darah yang tadinya mengucur lantas mampat, kepalanya sekarang kembali seperti bertopeng lagi, cuma sekali ini topeng es dan bukan topeng besi. Ia sendiri merasa kaget ketika meraba kepalanya dan mengira topeng besi itu belum terlepas, dalam kaget dan kecewanya kembali ia jatuh pingsan lagi.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

About these ads

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: