Oleh Jin Yong
(Terima Kasih Kepada Tungning)
Maka terdengarlah suara “krak” sekali, di antara dua kaki yang terbentur itu ada salah satu yang patah.
Beberapa kali seniman itu terguling-guling di tanah hingga sejauh beberapa meter, lalu ia berseru sebagai peranan dalam sandiwara, “Wahai Mo Yan-siu jahanam, biar kucencangmu… aduh, kakiku!” demikian pada akhirnya mendadak ia menjerit.
(more…)