Kumpulan Cerita Silat

August 30, 2008

Kisah Membunuh Naga (50)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:22 am

Kisah Membunuh Naga (50)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Di dalam hati, aku menyintai dan menghormati kau sebagai seorang kakak. Tapi terhadap dia, aku mempunyai rasa kasihan dan rasa cinta yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Usianya banyak lebih tua dan tingkatannya pun lebih tinggi daripada aku. Di samping itu, ayah adalah seorang musuh besarnya. Ku tahu bahwa dalam hal ini kau menghadapi kesukaran-kesukaran besar. Tapi.. tanpa memperdulikan apapun jua, aku membuka isi hatiku kepadamu.” Sehabis berkata begitu, tiba-tiba ia berbangkit dan kabur secepatnya.

Boe Kie berdiri bagaikan patung dan dengan hati berduka ia mengawasi si bayangan Poet Hwi yang lalu menghilang di lembah gunung. Lama ia berdiri di situ dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Sesudah kenyang menangis, barulah ia menyusul kawan-kawannya.
(more…)

August 29, 2008

Kisah Membunuh Naga (49)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:19 am

Kisah Membunuh Naga (49)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Karena belum berlatih dalam Thay Kek Koen, Boe Kie lantas saja keteter. Beberapa saat kemudian terdengar suara “Bret!” dan tangan baju Boe Kie robek, kesambar jari tangan yang sangat luar biasa itu. Boe Kie terpaksa menggunakan ilmu mengentengkan badan. Oe Boen Cek mencaci dan mengejar. Tapi mana bisa ia mengejar Boe Kie?

Sambil berlari-lari, Boe Kie berpikir, “Kalau aku terus kabur, bukankah aku kalah” Aku belum biasa dengan Thay Kek Koen, biarlah aku menyisipkan Kian Koen Tay Lo Ie.”
(more…)

August 28, 2008

Kisah Membunuh Naga [48]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:14 am

Kisah Membunuh Naga [48]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam sudah menjadi guru dan murid selama puluhan tahun dan mereka sudah saling mengenal isi hati masing-masing.

Mendengar perkatahan Thay Giam, Sam Hong segera mengerti maksud si murid. Ia tersenyum-senyum dan berkata, “Thay Giam, hidup atau mati, dihormati dan dihina, adalah soal-soal remeh. Tapi pelajaran istimewa dari Boe Tong Pay tidak boleh karena itu menjadi putus di tengah jalan. Dalam menutup diri selama delapan belas bulan, aku telah mendapatkan intisari dari ilmu silat dan telah mengubah Thay Kek Koen serta Thay Kek Kiam. Kedua ilmu ini sekarang aku hendak turunkan kepadamu.”
(more…)

August 27, 2008

Memanah Burung Rajawali – 48

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:13 am

Memanah Burung Rajawali – 48
Bab 48. Apa yang Nampak dari Tempat Sembunyi
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Kwee Ceng dan Oey Yong, yang bersembunyi di belakang gunung, mendengar nyata pembicaraannya Wanyen Lieh beramai. Karena mereka itu hendak mencuri surat wasiat Gak Hui, mereka takut sekali surat wasiat itu kena didapatkan pangeran itu. Inilah hebat. Dengan menggunai siasatnya Gak Hui itu, pasti bangsa Kim bakal berhasil menyerbu negara Song. Bagaimana itu bisa dicegah? Diantara orang-orangnya Wanyen Lieh pun ada Auwyang Hong yang lihay. Oey Yong mencoba mencari akal, untuk membikin mereka itu kaget dan nanti lari kabur. Kwee Ceng sebaliknya tidak sabaran, karena tidak ada tempo lagi untuk berpikir lama-lama atau mengatur tipu. Akhirnya pemudi ini menarik tangan si pemuda, untuk diajak pergi ke belakang air tumpah. Mereka sampai di sana tanpa ada yang lihat dan tanpa ada yang dengar, sebab tumpahnya air sangat berisik.

Muda-mudi ini telah siap sedia ketika See Thong Hay mencoba memasuki air tumpah itu, dengan gampang dia dihajar kembali. Hasilnya penolakan ini membikin mereka berdua jadi heran dan kagum, girang sekali. Itulah buahnya pernyakinan mereka atas ilmu Ie-kin Toan-kut Pian.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (47)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:26 am

Kisah Membunuh Naga (47)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Thio Kongcoe,” kata Siauw Ciauw sambil tertawa. “Thio Kauwnio bersikap manis luar biasa terhadapmu.”

“Aku seorang lelaki, perlu apa dengan perhiasan itu?” kata Boe Kie. “Siauw Ciauw, kau ambillah.”
(more…)

August 26, 2008

Memanah Burung Rajawali – 47

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:09 am

Memanah Burung Rajawali – 47
Bab 47. Tempat Rahasia
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Sa Kouw tidak menjadi takut, bahkan ia tertawa haha-hihi. Dia seperti tidak kenal bahaya, dia rupanya menyangka nona tetamunya tengah main-main dengannya.

Oey Yong penasaran, ia ulangi pertanyaannya.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (46)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:12 am

Kisah Membunuh Naga (46)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Menurut dugaannya, rombongannya itu merupakan bala bantuan yang datang belakangan, sebab ia melihat mereka waktu berada di Kong beng teng. Ia sendiri tak bisa menebak, mengapa mereka turunkan tangan beracun itu. Sekian antara lain penuturan In Lie-Heng.

Selama dalam perjalanan, Poet Hwie merawat Lie Heng dengan telaten. Si nona tahu, bahwa mendiang ibunya telah mengecewakan pendekar Boe tong itu. Melihat keadaan orang tua itu yang sangat menyedihkan, rasa kasihannya jadi semakin besar.
(more…)

August 25, 2008

Memanah Burung Rajawali – 46

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:06 am

Memanah Burung Rajawali – 46
Bab 46. Resoran Gelap di Dalam Desa
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tidak puas Oey Yong mendengar Pek Thong cuma mewajibkan Auwyang Hong membuang balas. Untuk orang biasa memang sukar tak karuan mengeluarkan angin busuk, perbuatan itu tak dapat dilakukan semua orang, tidak demikian dengan seorang yang ilmu dalamnya sudah mahir. Sebaliknya, sungguh gampang buat orang sebangsa See Tok. Maka ia lantas berteriak mencegah: “Tidak bagus, itu tidak bagus! Lebih dulu dia dimestikan membebaskan totokannya kepada guruku, kemudian baru kita bicarakan pula!”

Ciu Pek Thong tertawa.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (45)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:03 am

Kisah Membunuh Naga (45)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Poet Hwie moy moy apa kau terluka?” tanya Boe Kie.

“Tidak, terima kasih atas pertolonganmu,” jawabnya.
(more…)

August 24, 2008

Kisah Membunuh Naga (44)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:09 am

Kisah Membunuh Naga (44)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Jika Song Ceng Soe tidak menyerang begitu cepat, sesudah menotok Pot Hoe Hiatnya sendiri, ia tak akan bisa mengirim dua pukulan yang berikutnya. Tapi karena empat pukulan itu dikirim secara berantai dengan kecepatan luar biasa, maka biarpun Pok Hoe Hiat nya sudah tertotok, ia masih bisa mengirim dua serangan lagi, sebab lengannya belum kesemutan. Sesudah keempat pukulan itu dikirim, barulah kaki tangannya lemas dan ia roboh terjengkang. Beberapa kali ia coba bangun, tapi tidak berhasil.

Song Wan Kiauw menghampiri dengan berlari-lari. Dengan mengurut beberapa kali, ia membuka jalan darah puteranya yang tertotok. Kedua pipi Ceng Soe bengkak dan bertepa lima tarak jari. Lukanya enteng, tapi karena adatnya yang tinggi, maka bagi Ceng Soe, kekalahan itu merupakan penderitaan yang lebih hebat dari pada kebinasaan.
(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.