Kumpulan Cerita Silat

16/07/2008

Hina Kelana: Bab 122. Lim Peng-ci Kebiri Diri Sendiri untuk Meyakinkan Ilmu

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 3:02 am

Hina Kelana
Bab 122. Lim Peng-ci Kebiri Diri Sendiri untuk Meyakinkan Ilmu
Oleh Jin Yong

Leng-sian menghela napas, katanya, “Adik Peng, engkau mengatakan Ayah mengincar kiam-bohmu, kenyataan memang demikian, aku pun takkan membela Ayah, tapi engkau menuduh dia hendak membunuhmu lantaran engkau mahir Pi-sia-kiam-hoat, kurasa hal ini tidak masuk di akal. Pi-sia-kiam-boh memangnya adalah milik keluarga Lim kalian, jika engkau mempelajari ilmu pedangmu adalah layak sekali, betapa pun Ayah tidak dapat membunuhmu hanya karena alasan itu.”

“Kau bicara demikian lantaran belum kenal pribadi ayahmu dan juga tidak tahu macam apakah Pi-sia-kiam-boh itu,” kata Peng-ci.

“Bahkan terhadap hatimu aku pun sungguh tidak paham,” kata Leng-sian.

“Ya, tidak paham, kau memang tidak paham! Buat apa mesti paham?” kata Peng-ci mulai aseran pula.

Leng-sian tidak berani banyak omong lagi, katanya kemudian, “Marilah kita berangkat saja.”

“Ke mana?” tanya Peng-ci.

“Kau suka ke mana, ke situlah aku akan ikut, biarpun ke ujung langit sekalipun aku tetap bersamamu,” jawab Leng-sian tegas.

“Apa betul ucapanmu ini? Apa pun yang terjadi kelak kau jangan menyesal.”

“Aku sudah bertekad menjadi istrimu, sebelumnya aku sudah ambil keputusan bagi kehidupanku seterusnya, mana bisa merasa menyesal? Matamu terluka, rasanya masih dapat disembuhkan, umpama tak bisa pulih kembali juga aku akan selalu mendampingimu, melayanimu, sampai saat terakhir hidup kita berdua.”

Ucapan Leng-sian yang penuh perasaan ini sangat mengharukan Ing-ing, ia merasa Gak Leng-sian sebenarnya adalah nona yang sangat baik, hanya saja bernasib malang sehingga tingkah lakunya terkadang rada-rada aneh.

Terdengar Peng-ci mendengus, agaknya masih kurang percaya akan tekad Gak Leng-sian itu.

Dengan suara halus Leng-sian berkata pula, “Adik Peng, agaknya engkau masih sangsi pada diriku. Biarlah malam ini juga aku me… menyerahkan diriku padamu, dengan begitu dapatlah kiranya kau percayai diriku. Biarlah malam ini juga kita bermalam pengantin di sini, marilah kita menjadi suami istri yang sesungguhnya dan selanjutnya… selanjutnya kita pun menjadi suami istri yang sebenarnya….”

Makin lama makin lirih suaranya sehingga akhirnya tak terdengar.

Kembali Ing-ing merasa heran dan kikuk oleh ucapan Leng-sian itu. Segera ia bermaksud tinggal pergi agar tidak menyaksikan “praktik” menjadi suami istri sebagaimana dikatakan Gak Leng-sian itu, dalam hati ia pikir Nona Gak ini benar-benar tidak tahu malu, masakah di tengah jalan raya sampai hati melakukan hal begituan.

Sekonyong-konyong terdengar Lim Peng-ci berteriak, suaranya seram bengis, menyusul lantas membentak, “Enyah sana! Jangan dekat-dekat ke sini.”

Keruan Ing-ing terkejut dan tidak tahu apa yang terjadi, hal apa yang membuat Lim Peng-ci menjadi beringas?

Menyusul terdengar pula suara tangisan Leng-sian, lalu Peng-ci membentaknya lagi, “Enyah sana, enyah yang jauh! Aku lebih suka dibunuh ayahmu daripada kau ikut diriku.”

“Mengapa engkau menghina diriku sedemikian rupa, sesungguhnya apa… apa kesalahanku?” tanya Leng-sian sambil menangis.

“Aku… aku…” Peng-ci tertegun, lalu melanjutkan, “Kau… kau….” tapi lantas bungkam pula.

“Apa yang hendak kau katakan, bicaralah terus terang,” pinta Leng-sian. “Jika memang aku bersalah atau engkau tak dapat memaafkan kesalahan ayahku, asal kau bicara terus terang, tanpa engkau bertindak apa-apa segera aku akan bunuh diri di hadapanmu.”

“Sret”, segera ia melolos pedangnya.

“Aku… aku…” kembali Peng-ci berkata dengan tergegap. Selang sejenak, lalu ia menghela napas panjang dan menyambung, “Ya, memang bukan salahmu, sesungguhnya aku sendiri yang tidak baik.”

Kembali Leng-sian menangis sedih, ya malu, ya gemas, ya cemas.

Akhirnya Peng-ci berkata, “Baiklah, akan kukatakan terus terang padamu.”

“Memangnya, biar kau pukul diriku atau bunuh sekalipun aku rela, asalkan jangan kau bikin orang merasa bingung,” kata Leng-sian.

“Karena kau tidak berhati palsu terhadap diriku, maka akan kukatakan terus terang padamu agar selanjutnya kau tak mengharap-harapkan lagi atas diriku,” kata Peng-ci.

“Sebab apa?” tanya Leng-sian bingung.

“Sebab apa? Tentunya kau tahu Pi-sia-kiam-hoat sangat terkenal di dunia persilatan sehingga tokoh-tokoh ilmu pedang seperti ayahmu dan Ih Jong-hay juga mengincarnya dengan segala daya upaya, akan tetapi mengapa ilmu pedang ayahku sebaliknya begitu rendah? Dianiaya orang juga tidak mampu melawan? Kenapa bisa begitu, apa sebabnya.”

“Mungkin bakat Kongkong kurang atau sejak kecil mungkin badannya lemah. Anak murid keturunan jago silat tidak selamanya berilmu silat tinggi pula.”

“Bukan begitu. Biarpun ilmu pedang ayahku sangat rendah, paling-paling disebabkan latihannya kurang, tenaga dalamnya lemah. Akan tetapi Pi-sia-kiam-hoat yang dia ajarkan padaku pada hakikatnya salah semua.”

“Ini benar-benar aneh,” ujar Leng-sian.

“Kalau kuceritakan tentu tak aneh lagi. Apakah kau tahu orang macam apakah sebenarnya moyangku yang bernama Lim Wan-tho itu?”

“Tidak tahu,” sahut Leng-sian.

“Asalnya dia adalah seorang hwesio.”

“O, kiranya seorang cut-keh-jin (orang yang meninggalkan rumah). Banyak juga tokoh-tokoh persilatan ternama yang pada hari tua sering kali meninggalkan masyarakat ramai dan menjadi hwesio.”

“Tapi moyangku tidak meninggalkan rumah pada hari tua, dia justru menjadi hwesio lebih dulu baru kemudian kembali ke masyarakat ramai.”

“Tentang masa muda moyang kita itu apakah kau dengar dari cerita Kongkong?” tanya Leng-sian.

“Tidak, selamanya Ayah tak pernah bercerita, bahkan beliau sendiri mungkin juga tidak tahu. Ruangan sembahyang kediaman kami yang dulu di Gang Matahari di Kota Hokciu itu pernah kita datangi pada malam itu, kau masih ingat bukan?”

“Ya,” sahut Leng-sian.

“Sebab apa Pi-sia-kiam-boh itu tertulis di atas kasa? Soalnya beliau tadinya adalah seorang hwesio sebuah biara, di sana beliau dapat mencuri baca kiam-boh itu, lalu diturun dengan ditulis pada kasa yang dipakainya itu. Setelah beliau kembali menjadi preman, di rumah kediamannya diadakan pula sebuah ruangan Buddha dan tetap melakukan ibadatnya dengan taat.”

“Gagasanmu cukup masuk di akal. Namun bukan mustahil kiam-boh itu diperoleh moyang kita dari seorang padri sakti dan kiam-boh itu memang tertulis di atas kasa. Jadi moyang kita memperoleh kiam-boh itu dengan cara yang jujur dan terang.”

“Bukan begitu,” ujar Peng-ci.

“Bila engkau mempunyai dugaan lain, tentu engkau ada alasannya,”

“Aku tidak menduga secara ngawur, tapi moyang Lim Wan-tho sendiri yang mencatat kisahnya di atas kasa.”

“O, kiranya demikian,” kata Leng-sian.

“Pada akhir kiam-boh yang dia turun dari hasil curi lihat itu dengan jelas ditulis oleh beliau, bahwa tatkala itu beliau masih menjadi hwesio di kuil itu dan tanpa sengaja melihat kiam-boh tersebut, lalu diturunnya di atas kasa serta dibawa pulang. Beliau memperingatkan dengan sangat bahwa ilmu pedang itu terlalu keji dan merugikan orang yang melatihnya, yang melatihnya pasti akan putus keturunan, oleh karena itu beliau menganjurkan jangan sembarangan meyakinkan ilmu pedang tersebut.”

“Akan tetapi beliau sendiri toh melatihnya juga.”

“Tadinya aku pun berpikir begitu,” kata Peng-ci. “Seumpama ilmu pedang itu terlalu keji dan sulit, namun setelah moyang sendiri meyakinkannya toh masih kawin dan beranak, tetap punya keturunan.”

“Benar. Cuma besar kemungkinan beliau kawin dan punya anak lebih dulu, kemudian baru meyakinkan ilmu pedang.”

“Pasti tidak begitu. Setiap orang persilatan di dunia ini betapa pun lihainya, bila sekali sudah tahu jurus pertama Pi-sia-kiam-hoat, maka pasti ingin tahu pula jurus kedua, lalu ingin tahu pula jurus ketiga dan seterusnya. Sekalipun tahu akibatnya akan sangat merugikan dirinya pasti takkan digubrisnya.”

Mendengar sampai di sini, Ing-ing menjadi teringat kepada ucapan ayahnya bahwa Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berasal dari suatu sumber yang sama dengan Kui-hoa-po-tian yang menjadi pusaka agamanya. Pantas ilmu pedang Gak Put-kun dan Lim Peng-ci sedemikian mirip dengan kepandaian Tonghong Put-pay. Ayahnya juga pernah mengatakan bahwa ilmu silat dalam kitab Kui-hoa-po-tian itu lebih banyak merusak daripada mendatangkan manfaat bila meyakinkannya. Sekali membaca ilmu pedang atau ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu, biarpun tahu akibatnya bisa celaka toh sukar untuk menahan rasa ingin mempelajarinya. Rupanya Ayah sejak mula sama sekali tidak membuka kitab itu, dengan demikian beliau menjadi tidak terjerumus, sungguh suatu tindakan yang tepat dan bijaksana.

Tetapi segera terpikir pula olehnya, “Lalu mengapa Ayah menurunkan kitab pusaka itu kepada Tonghong Put-pay?”

Pertanyaan itu segera terjawab, “Tentu pada waktu itu Ayah telah mengetahui maksud buruk Tonghong Put-pay, maka sengaja menyerahkan kitab pusaka itu padanya untuk menjerumuskan dia. Hiang-sioksiok mengira Ayah kena dipikat oleh Tonghong Put-pay sehingga merasa khawatir. Padahal orang cerdik dan lihai seperti Ayah mana bisa dikelabui orang dengan begitu saja? Hanya saja segala sesuatu juga bergantung pada takdir, Tonghong Put-pay ternyata turun tangan lebih dulu, Ayah ditawan dan dikurung di gua di dasar danau. Syukur Tonghong Put-pay tidak teramat kejam, bila waktu itu Ayah terus dibunuhnya, tentu Ayah tiada kesempatan buat menuntut balas. Padahal terbunuhnya Tonghong Put-pay juga terjadi secara untung-untungan saja, tentu Ayah, Hiang-sioksiok, dan diriku sudah terbunuh oleh Tonghong Put-pay. Dan kalau waktu itu tiada Nyo Lian-ting yang sengaja kusiksa untuk memencarkan perhatian Tonghong Put-pay (tak terkalahkan) tentu pula akan tetap put-pay dia.”

Berpikir sampai di sini ia menjadi rada kasihan terhadap nasib Tonghong Put-pay. “Meski Ayah dikurung olehnya namun aku diperlakukan tidak jelek dan cukup terhormat di Tiau-yang-sin-kau, malahan sekarang ayahku sendiri yang menjadi kaucu aku tidak punya kekuasaan seperti tempo hari. Tapi, ai, aku sudah memiliki Engkoh Tiong, buat apa menginginkan kekuasaan apa segala seperti dahulu,” demikian terpikir pula olehnya.

Teringat kepada kejadian-kejadian yang telah lalu, ia sendiri menjadi terkesiap pula pada jalan pikiran sang ayah, bahkan sampai sekarang ayahnya masih tidak mau mengajarkan kepada Engkoh Tiong cara memunahkan tenaga liar yang bergolak di dalam tubuh, yaitu tenaga yang disedotnya dari orang lain dengan Gip-sing-tay-hoat. Menurut kata ayahnya, bila Lenghou Tiong mau masuk agamanya baru akan mengajarkan ilmu memunahkan hawa murni liar itu kepadanya, bahkan akan diumumkan kepada segenap anggota bahwa Lenghou Tiong adalah calon penggantinya, namun Lenghou Tiong ternyata tidak mau tunduk, hal ini membuatnya ikut serbasusah. Begitulah, di tempat sembunyinya ternyata yang terpikir oleh Ing-ing hanya diri Lenghou Tiong belaka.

Saat itu Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci juga terdiam semua. Selang tak lama barulah Peng-ci membuka suara, “Begitulah moyang Wan-tho menemukan ilmu pedangnya.”

“Sekalipun ilmu pedang yang dilatihnya akan menimbulkan malapetaka tentu pula akan waktu cukup lama. Maka moyang Wan-tho sempat kawin dan punya anak, hal ini tentu terjadi sebelumnya timbul bencana baginya.”

“Bukan. Semula aku juga berpikir begitu, tapi kemudian aku lantas tahu bukan begitu halnya. Moyang Wan-tho menikah dan punya anak justru terjadi sebelum beliau memperoleh kiam-boh.”

“Ah, mana bisa begitu?” ujar Leng-sian.

“Sudah tentu jadi, waktu itu beliau masih menjadi hwesio. Bahwasanya hwesio tidak boleh beristri adalah jelas, tapi punya anak kan boleh. Kalau kakek adalah putra kandung moyang Wan-tho, maka tentu kakek adalah putranya yang tidak sah, tegasnya anak haram dari hubungan gelap. Kukira sebabnya moyang Wan-tho terpaksa kembali ke masyarakat ramai tentu disebabkan persoalan pribadinya itu. Mungkin rahasianya terbongkar dan terpaksa beliau harus angkat kaki.”

“Tapi moyang Wan-tho adalah seorang kesatria, seorang tokoh termasyhur, mungkin… mungkin takkan berbuat demikian.”

“Sebab apa?” tanya Peng-ci dengan tak acuh.

“Kaum kesatria tulen harus dapat berbuat apa yang tak bisa diperbuat oleh orang biasa. Sesudah melihat kiam-boh pusaka itu, mungkin moyang Wan-tho sanggup menahan diri dan tidak lantas melatihnya. Sesudah kawin dan punya anak barulah beliau mulai berlatih.”

“Dan bagaimana dengan kesanggupanku menahan diri?” tanya Peng-ci tiba-tiba.

“Kau… sudah tentu sangat hebat,” sahut Leng-sian.

“Ketika di Kota Heng-san, di rumah Lau Cing-hong, aku menyaru sebagai orang bungkuk, aku terpaksa menjura kepada Bok Ko-hong dan memanggil kakek padanya, soalnya karena aku menanggung sakit hati yang belum terbalas sehingga aku terima dihina untuk menunggu kesempatan yang baik bagiku.”

“Seorang laki-laki sejati harus bisa menahan perasaan, betapa pun hebatnya moyang Wan-tho mungkin juga tidak sesabar dirimu,” ujar Leng-sian.

“Waktu aku melihat Pi-sia-kiam-boh, tatkala itu sudah dekat hari pernikahan kita, beberapa kali aku berpikir akan kawin lebih dulu denganmu, habis itu baru mulai berlatih ilmu pedang itu. Akan tetapi ilmu pedang yang tertera dalam kiam-boh itu ternyata mempunyai daya tarik yang luar biasa sehingga setiap jago silat tak mampu menguasai nafsu ingin belajar bila melihatnya. Karena itu, akhirnya aku mengebiri diri sendiri demi untuk meyakinkan ilmu pedang….”

“Hah! Engkau… mengebiri diri sendiri untuk meyakinkan ilmu pedang jahanam itu?” Leng-sian menegas sambil melonjak.

“Benar,” jawab Peng-ci dengan dingin. “Kunci pertama pada pembukaan Pi-sia-kiam-boh itu menyebutkan bahwa jika ingin menjagoi dunia persilatan, pertama harus kebiri diri sendiri lebih dulu.”

“Mengapa harus beg… begitu?” tanya Leng-sian dengan suara lemah.

“Pi-sia-kiam-boh itu harus dimulai dengan berlatih lwekang, kalau tidak kebiri dahulu, sekali mulai berlatih serentak hawa nafsu akan berkobar-kobar, akibatnya menjadi cau-hwe-jip-mo, (kelumpuhan), lalu mati kaku.”

“O, kiranya demikian,” kata Leng-sian dengan lirih, hampir-hampir tak terdengar.

Dalam hati Ing-ing juga berucap, “O, kiranya demikian!”

Baru sekarang ia paham mengapa seorang tokoh mahabesar seperti Tonghong Put-pay akhirnya terima memakai baju perempuan, menyulam dan melayani orang macam Nyo Lian-ting dengan mesra, kiranya semua itu adalah gara-gara meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, akibatnya berubah menjadi banci.

Terdengar Gak Leng-sian menangis tersedu-sedan, katanya dengan suara tak lancar, “Jadi ayahku juga… juga telah berubah seperti… seperti engkau….”

“Jika sudah meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat mana bisa terkecuali?” jawab Peng-ci. “Sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan ternama, bila perbuatan ayahmu yang kebiri sendiri itu tersiar, bukankah akan ditertawai setiap orang Kang-ouw? Sebab itulah, bila dia mengetahui aku juga meyakinkan ilmu pedang ini, pasti aku akan dibunuhnya. Berulang kali dia tanya tentang perlakuanku terhadap dirimu, justru dia ingin tahu apakah aku masih mampu berbuat begituan atau sudah kebiri juga. Coba kalau waktu itu kau kelihatan menyesali diriku, sudah lama nyawaku melayang.”

“Dan sekarang dia tentu sudah tahu,” kata Leng-sian.

“Tentu saja. Setelah aku membunuh Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong, dalam waktu beberapa hari saja tentu akan tersiar luas di dunia Kang-ouw,” kata Peng-ci dengan bangga.

“Jika betul seperti katamu, bisa jadi Ayah benar-benar takkan mengampuni dirimu. Lalu sebaiknya ke mana kita harus sembunyi?” ujar Leng-sian.

“Kita?” Peng-ci menegas. “Kau sudah tahu keadaanku sekarang dan masih mau mengikut aku?”

“Sudah tentu. Karena terpaksa, kau pun tak dapat disalahkan. Adik Peng, cintaku padamu dari awal sampai akhir tetap sama. Nasibmu sungguh harus dikasihani….”

Belum habis ucapannya, mendadak ia menjerit dan melompat ke bawah kereta, agaknya didorong oleh Lim Peng-ci.

Lalu terdengar Peng-ci berkata dengan gusar, “Aku tidak tahu dikasihani, siapa yang minta kasihan padamu? Ilmu pedang sudah berhasil kuyakinkan, apa lagi yang kutakuti sekarang? Jika Gak Put-kun mengejar kemari untuk membunuh diriku, lebih dulu dia harus mampu mengalahkan pedangku.”

Leng-sian diam saja.

Maka terdengar Peng-ci menyambung pula, “Nanti kalau luka mataku sudah sembuh, aku Lim Peng-ci akan menjagoi dunia persilatan, apakah dia Gak Put-kun, Lenghou Tiong, dan ketua-ketua dari apa yang disebut Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay segala semuanya bukan tandinganku lagi.”

Diam-diam Ing-ing membatin dengan gusar, “Kalau matamu sudah sembuh? Huh, matamu yang sudah buta itu bisa sembuh?”

Sebenarnya dia rada kasihan terhadap nasib Peng-ci yang malang itu, tapi demi menyaksikan sikapnya yang kasar dan tak berperasaan terhadap istrinya sendiri, pula mendengar ucapannya yang sombong itu, mau tak mau timbul rasa gemas dalam hati Ing-ing.

Terdengar Leng-sian menghela napas, lalu berkata, “Kau pun perlu mencari tempat untuk tinggal sementara, sembuhkan dulu luka matamu.”

“Aku sudah tentu mempunyai cara menghadapi ayahmu,” kata Peng-ci.

“Keadaanmu dan Ayah sama saja, tentu kalian tidak perlu khawatir salah satu akan menyiarkan ciri pihak lain,” ujar Leng-sian.

“Hm, terhadap pribadi ayahmu, aku jauh lebih kenal daripadamu,” jengek Peng-ci. “Mulai besok, terhadap setiap orang yang kujumpai tentu akan kuberi tahukan hal ini.”

“Buat apa mesti berbuat begitu? Bukankah kau sendiri….”

“Buat apa? Justru inilah caranya menyelamatkan jiwa ragaku. Akan kukatakan kepada setiap orang yang kujumpai dan tidak lama dengan sendirinya akan tersiar pula ke telinga ayahmu. Setelah dia mengetahui aku sudah membeberkan rahasianya, tentu dia tidak perlu lagi membunuh aku untuk menutupi rahasianya, malahan sebaliknya dia akan berusaha menyelamatkan jiwaku.”

“Jalan pikiranmu sungguh sangat aneh,” kata Leng-sian.

“Kenapa merasa aneh? Apakah ayahmu kebiri diri sendiri atau tidak, sekali pandang saja tentu akan ketahuan. Tapi kalau mendadak aku mati secara tidak terang, tentu setiap orang akan menuduh ayahmu sebagai pembunuh diriku.”

Leng-sian menghela napas, ia paham apa yang dikatakan Peng-ci itu memang tidak salah. Ia menjadi serbasusah. Jika Peng-ci benar mulai menyebarkan rahasia diri ayahnya, itu berarti runtuhlah nama baik ayahnya selama ini. Sebaliknya kalau Peng-ci tidak bicara, itu berarti akan membahayakan diri pemuda itu sendiri.

“Sekalipun mataku buta, tapi hatiku tidak buta,” kata Peng-ci pula. “Walaupun selanjutnya aku tak bisa melihat apa-apa lagi, namun aku tidak menyesal karena sakit hati ayah bunda sudah terbalas. Dahulu Lenghou Tiong menyampaikan pesan terakhir Ayah padaku, katanya benda-benda leluhur yang berada di kediaman lama di Gang Matahari itu sekali-kali jangan diperiksa dan dilihat, katanya itulah pesan wasiat dari leluhur. Tapi sekarang aku sudah memeriksa dan membaca dengan jelas benda tinggalan leluhur itu, meski aku melanggar pesan leluhur, namun dapat membalas sakit hati ayah-bunda. Kalau aku tidak berbuat demikian, Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami hanya punya nama kosong belaka, orang-orang Hok-wi-piaukiok hanya kaum pendusta belaka.”

“Dahulu engkau dan Ayah sama mencurigai Toasuko dan menuduh dia mengambil Pi-sia-kiam-boh, katanya dia memalsukan pesan Kongkong….”

“Biarpun keliru menuduh dia lalu mau apa?” sela Peng-ci. “Bukankah waktu itu kau sendiri pun mencurigai dia?”

Leng-sian menghela napas perlahan, katanya, “Waktu itu engkau belum lama kenal Toasuko, adalah layak jika engkau berprasangka padanya. Tapi aku dan Ayah sebenarnya tidak pantas mencurigai dia. Di dunia orang yang benar-benar dapat memercayai Toasuko hanyalah Ibu seorang.”

“Siapa bilang hanya ibumu seorang?” demikian Ing-ing membantahnya di dalam batin.

Terdengar Peng-ci menjengek, “Hm, ibumu memang benar-benar sayang kepada Lenghou Tiong. Lantaran bocah itu, entah berapa kali ayah-ibumu bertengkar.”

“Ayah dan Ibu bertengkar karena Toasuko? Padahal Ayah dan Ibu selamanya tidak pernah cekcok, dari mana engkau mendapat tahu?”

“Hm, selamanya tidak pernah cekcok? Itu cuma permainan sandiwara saja,” jengek Peng-ci. “Sampai hal-hal demikian Gak Put-kun juga memakai kedok untuk menutupi kemunafikannya. Dengan telingaku sendiri aku mendengar mereka bertengkar, mana bisa keliru.”

“Aku tidak bilang kau keliru, aku hanya merasa heran,” ujar Leng-sian. “Mengapa aku tidak tahu atau mendengar, sebaliknya engkau malah mendengar pertengkaran mereka.”

“Tiada alangannya kalau sekarang kuceritakan kepadamu,” kata Peng-ci. “Ketika di Hokciu tempo hari, ketika orang Ko-san-pay berhasil merebut kasa pusaka moyang, tapi mereka itu kena dibinasakan pula oleh Lenghou Tiong dan dengan sendirinya kasa itu jatuh ke tangan Lenghou Tiong. Akan tetapi dia juga terluka parah dan jatuh pingsan, ketika aku menggeledah badannya ternyata kasa itu sudah hilang entah ke mana?”

“Kiranya di Hokciu dahulu itu kau telah menggeledah badan Toasuko,” kata Leng-sian.

“Memang, ada apa?” tanya Peng-ci.

“Tidak apa-apa,” jawab Leng-sian.

Dalam hati Ing-ing merasa kasihan kepada Leng-sian yang mendapatkan suami selicik dan seculas itu, tentu banyak kesukaran yang akan dideritanya kelak.

Terdengar Peng-ci berkata lagi, “Kalau kasa itu tidak berada pada Lenghou Tiong tentu telah diambil oleh ayah-ibumu, maka sepulangnya di Hoa-san diam-diam aku lantas menyelidiki gerak-gerik ayahmu, namun permainan ayahmu benar-benar sangat rapi, sedikit pun tiada memberi petunjuk yang mencurigakan. Waktu itu ayahmu jatuh sakit, sudah tentu tiada seorang pun yang tahu apa penyakitnya, lebih-lebih tak tahu bahwa begitu membaca Pi-sia-kiam-boh dia lantas kebiri diri sendiri untuk meyakinkan ilmu pedang. Setiap malam aku berusaha mencari tahu rahasia ayah-ibumu itu, aku ingin mengetahui di mana kiam-boh itu disembunyikan dari percakapan ayah-ibumu.”

“Setiap malam kau sembunyi di tepi tebing curam itu?” Leng-sian menegas.

“Ya,” sahut Peng-ci.

“Engkau benar-benar amat sabar dan telaten,” ujar Leng-sian.

“Demi menuntut balas sakit hati, terpaksa harus begitu,” kata Peng-ci.

Kiranya tempat tinggal Gak Put-kun di puncak Hoa-san itu dibangun di tepi sebuah tebing curam yang disebut “Thian-seng-kiap”. Di bawah tebing itu adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, sungguh suatu tempat yang sunyi dan sangat berbahaya. Orang luar mengira Gak Put-kun dan istrinya suka kepada kesunyian agar dapat menyelami ilmu silat lebih tinggi, padahal Gak Put-kun mempunyai perhitungan lain.

Soalnya sejak Hoa-san-pay terpecah menjadi dua sekte, yaitu Kiam-cong dan Khi-cong, maka Gak Put-kun khawatir kalau sisa-sisa sekte Kiam-cong menyergapnya untuk menuntut balas. Sebab itulah ia sengaja tinggal di tempat yang amat curam dan berbahaya itu. Untuk mencapai Thian-seng-kiap yang terletak di puncak yang tinggi itu hanya dihubungkan dengan sebuah jalan kecil yang melingkar-lingkar. Bila orang lain tentunya sukar mendatangi tempat kediaman Gak Put-kun, namun Lim Peng-ci diketahui sebagai menantu kesayangan ketua Hoa-san-pay itu, dengan sendirinya tiada seorang pun yang curiga bila melihat Peng-ci menuju ke Thian-seng-kiap.

Begitulah terdengar Peng-ci menutur pula, “Berturut-turut belasan malam aku menunggu, tapi tiada terdengar sesuatu yang menarik. Suatu malam kudengar ibumu berkata pada ayahmu, ‘Suko, kulihat air mukamu akhir-akhir ini rada-rada berubah, apakah akibat gangguan Ci-he-sin-kang yang meyakinkan itu? Hendaknya kau dapat membatasi dirimu dan terburu nafsu ingin lekas mencapai tujuan sehingga menimbulkan kesukaran malah.’ Ayahmu tertawa dan menjawab, ‘Ah, tidak apa-apa, lancar sekali latihanku.’”

“Tapi ibumu tidak percaya, katanya, ‘Jangan membohongi aku. Apa sebabnya suaramu akhir-akhir ini rada-rada berubah, bernada melengking tajam, lebih mirip suara perempuan.’ Ayahmu menjawab, ‘Hus, ngaco-belo! Selamanya suaraku juga begini?’ Kudengar suaranya memang tajam melengking dan benar-benar mirip orang perempuan bawel yang lagi uring-uringan.”

“Lalu ibumu berkata pula, ‘Masakah masih bilang tidak berubah? Selama ini belum pernah kau bicara sekasar ini kepadaku. Suko, sesungguhnya ada urusan apa yang menyulitkanmu, hendaklah kau katakan terus terang padaku. Sudah berpuluh tahun kita menjadi suami-istri mengapa kau dustai aku?’

“Ayahmu menjawab, ‘Urusan apa yang menyulitkan aku? Pertemuan di Ko-san sudah dekat waktunya, Co Leng-tan bermaksud mencaplok keempat aliran yang lain, paling-paling hal inilah yang membikin hatiku rada kesal.’ ‘Kukira ada persoalan lain lagi,’ kata ibumu.

“Ayahmu menjadi aseran, katanya dengan suara melengking, ‘Kau memang suka curiga. Selain itu ada persoalan lain apa lagi?’ – ‘Kalau kukatakan hendaklah engkau jangan naik pitam, kutahu engkau telah salah menuduh Anak Tiong,’ kata ibumu. ‘Anak Tiong?’ ayahmu menegas. ‘Dia bergaul dengan orang Mo-kau dan main cinta dengan nona she Yim dari agama iblis itu, hal ini diketahui siapa pun juga, masakah aku keliru menyalahkan dia?’.”

Mendengar kata-kata Gak Put-kun yang diuraikan kembali oleh Lim Peng-ci menyangkut dirinya, wajah Ing-ing menjadi panas, seketika timbul rasa hangat dalam hatinya.

Sementara itu terdengar Peng-ci berkata pula, “Ibumu menjawab, ‘Dia bergaul dengan orang Mo-kau sudah tentu hal ini bukan fitnah, yang kumaksudkan adalah engkau menuduh dia mencuri Pi-sia-kiam-boh milik Anak Peng itu.”Memangnya kiam-boh itu tidak dicuri olehnya? Bukankah kau menyaksikan sendiri ilmu pedangnya mendadak maju dengan pesat, bahkan lebih lihai daripadaku,’ kata ayahmu.

“Ibumu menjawab pula, ‘Bisa jadi dia memperoleh penemuan aneh, aku berani memastikan dia pasti tidak ambil Pi-sia-kiam-boh. Biarpun watak Anak Tiong suka ugal-ugalan, tapi sejak kecil dia punya sifat yang suka terus terang, tidak sudi berbuat hal-hal yang memalukan. Sejak Anak Sian bergaul rapat dengan Anak Peng dan mengesampingkan dia, orang yang berwatak angkuh seperti dia, sekalipun Anak Peng mempersembahkan kiam-boh kepadanya juga tak sudi diterima olehnya.’.”

Sungguh tidak kepalang rasa senang Ing-ing mendengar kata-kata demikian, saking senangnya ia berharap akan segera dapat merangkul Gak-hujin untuk menyatakan terima kasih padanya. Ia pikir Nyonya Gak itu memang tidak sia-sia membesarkan Engkoh Tiong sejak kecil, segenap orang Hoa-san-pay hanya engkau seorang yang kenal pribadi Engkoh Tiong. Melulu berdasarkan kata-kata penilaian pribadi Engkoh Tiong itu saja, kelak bila ada kesempatan tentu akan kuberi balas jasa yang pantas, demikian pikirnya pula.

Dalam pada itu, Peng-ci sedang menyambung ceritanya, “Ayahmu telah mendengus, katanya, ‘Jika demikian, jadi kau malah merasa menyesal karena kita telah memecat bocah durhaka itu dari perguruan kita?’ Ibumu menjawab, ‘Jika dia melanggar peraturan dan dipecat, sudah tentu siapa pun tak dapat membelanya. Engkau tuduh dia bergaul dengan orang Mo-kau kan sudah cukup beralasan, buat apa mesti memfitnah dia mencuri kiam-boh? Padahal engkau sendiri jauh lebih tahu daripadaku, dengan jelas kau tahu dia tidak ambil kiam-boh keluarga Lim itu.’ Ayahmu mendadak berteriak, ‘Dari mana kau tahu?’.”

Karena suara Peng-ci juga tajam melengking, di tengah malam sunyi suaranya yang menirukan jerit gusar Gak Put-kun itu menjadi seperti burung hantu yang menyeramkan.

About these ads

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: