Kumpulan Cerita Silat

08/06/2008

Kisah si Rase Terbang (01)

Filed under: Jin Yong, Kisah Si Rase Terbang — ceritasilat @ 11:05 pm

Kisah si Rase Terbang (01)
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih kepada Ririn)

Musim dingin belum menyingkir dari daerah Utara. Gunung Tiang-pek-san masih mengenakan mantel salju yang putih bersih. Saat itu fajar mulai menyingsing dan timbunan salju memantulkan kembali cahaya matahari dalam beribu warna, seakan-akan beribu permata tersebar di situ.

Suasana tenang tenteram, damai dan suci seakan-akan hendak mengesankan bahwa dunia ini sungguh indah, bila saja tidak dinodai perbuatan manusia yang penuh angkara. Tetapi di sini pun tiba- tiba terdengar mendesisnya sebatang anak panah yang dilepaskan dari balik gunung di sebelah Timur dan melayang ke tengah angkasa.

Dari bunyi mendesisnya anak panah yang tiba-tiba memecahkan kesunyian dengan cepat lagi nyaring itu, dapat diketahui betapa kuat tenaga orang yang melepaskannya.

Anak panah tersebut dengan sangat tepat menembus seekor belibis yang sedang terbang bebas. Terbawa anak panah yang menancap di lehernya, belibis itu terjungkal jatuh di atas salju.

Pada saat itu, dari jurusan Barat, beberapa belas tombak dari tempat belibis itu jatuh, empat penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat. Ketika mendadak terdengar mendesisnya panah tersebut, keempat orang itu serentak menahan kuda mereka yang segera terhenti.

Menampak betapa tepatnya belibis itu dipanah jatuh, tanpa kecuali mereka merasa kagum dan di dalam hati mereka timbul keinginan untuk mengetahui siapakah gerangan pemanah yang tangkas itu.

Akan tetapi setelah sekian lama menanti dan dari balik gunung itu belum juga muncul orang yang dinantikan, mereka mendengar derap kaki kuda yang lari pesat. Ternyata orang yang ditunggu itu sudah pergi dengan mengambil jurusannya sendiri.

Seorang di antara rombongan penunggang kuda itu bertubuh kurus jangkung, wajahnya mencerminkan kecerdasan, usianya sudah agak tua. Ia mengerutkan kening demi mendengar pemanah tadi kabur. Segera ia mengeprak kudanya dan menuju ke lereng gunung di sebelah Timur, diikuti tiga kawannya.

Setelah melewati suatu tikungan, mereka melihat lima penunggang kuda yang sudah agak jauh,
mungkin sudah satu li, dari tempat mereka. Dari bekas-bekas kaki kuda yang jelas ditinggalkan di permukaan salju, dapat dikira-kira betapa cepat lari kuda mereka itu. Teranglah sudah, bahwa mereka tidak mungkin dikejar lagi.

“In Suheng, agak aneh juga kejadian ini,” kata orang tua tadi sambil mengisyaratkan agar kawan-kawannya menghampirinya.

Yang dipanggil In suheng ini juga sudah agak tua, tubuhnya agak gemuk, dua belah kumis tebal menghiasi bibirnya dan tubuhnya diselubungi mantel dari kulit tiauw (suatu jenis binatang yang mirip dengan tikus dan kulitnya berharga mahal sekali), lagaknya sebagai saudagar kaya raya.

Setelah menyaksikan apa yang dilihat si kurus jangkung tadi, ia menganggukkan persetujuannya atas pendapat kawan itu. Kemudian ia membelokkan kudanya untuk segera dilarikan kembali ke dekat bangkai belibis tadi.

Ia mengayunkan cambuknya dan dengan menerbitkan bunyi “tarrrr” yang nyaring, ia telah mementalkan belibis itu ke atas.

Ketika kemudian ia menyabet pula, ujung pecut itu segera melilit bangkai belibis tersebut. Dengan tangannya yang sebelah lagi ia menyambut bangkai belibis serta anak panah itu yang
segera diperiksanya.

“Hai!” serunya, terperanjat.

Mendengar seruan tiba-tiba itu, ketiga kawannya segera mengeprak kuda mereka dan menghampiri si orang she In.

“Wie Suheng, coba periksa ini!” seru yang disebut “In suheng” sambil melemparkan belibis serta anak panah itu kepada si kurus jangkung.

Dengan mudah saja ia ini menyambuti burung yang dilemparkan kepadanya dan memeriksa batang panah itu. Segera terdengar ia berseru juga.

“Eeeh, benar dia, lekas-lekas kita kejar!” teriaknya bernafsu. Dengan tergesa-gesa ia membelokkan kudanya dan mendahului mengejar ke jurusan depan.

Lereng gunung itu seluruhnya berlapiskan salju putih bersih. Di sekeliling sudah tidak ada orang lain lagi, maka mengikuti jejak orang yang mereka kejar itu, bukannya soal sulit.
Kecuali dua orang tua tadi, dua orang yang lain masih muda dan sedang kuat-kuatnya, seorang bertubuh tinggi tegap dan kelihatan lebih gagah lagi duduk di atas kudanya yang juga tinggi besar.

Yang seorang lagi berbadan sedang, wajahnya putih kehijau-hijauan dan-sungguh menyolok–hidungnya bahkan merah mencorong, mungkin telah menjadi beku kedinginan.

Kedua orang yang masih tertinggal ini bersiul sekali dan segera memacu kuda untuk menyusul
dengan cepat.

Hari itu adalah tanggal 15, bulan 3, tahun keempat puluh lima masa Pemerintahan Kaisar
Kian-liong dari Dinasti Ceng.

Di daerah Kanglam bunga-bunga sudah mekar memeriahkan suasana musim semi, tetapi di daerah Utara di sekitar Gunung Tiang-pek-san yang terpencil ini, timbunan salju justru baru akan mulai lumer, belum ada gejala-gejala dekat tibanya musim semi.

Dalam pada itu, sang surya baru saja mengintip dari belakang gunung di sebelah Timur. Sinarnya yang kuning keemas-emasan menyorot terang, tetapi tidak membawa hawa hangat sedikit juga.

Meski hawa di daerah pegunungan itu sangat dinginnya, tetapi karena empat penunggang kuda
tadi memiliki kepandaian yang tinggi semua, tiada seorangpun di antara mereka yang terganggu karenanya dan mereka terus melarikan kuda mereka secepat terbang.

Belum berselang lama, dari kepala mereka sudah keluar uap dan pemuda yang bertubuh tinggi tegap itu melepaskan mantelnya. Ia mengenakan baju kulit dilapis dengan sutera hijau, di pinggangnya digantungkan sebatang pedang, alisnya dikerutkan hingga hampir bersambung dan matanya berapi-api, tiada hentinya ia memacu kudanya agar berlari lebih cepat.

Pemuda ini bernama Co Hun Kie, kalangan Kang-ouw mengenalnya sebagai “Teng-liong-kiam”. Ia adalah Ciang-bun-jin Partai Thian-liong-bun Cabang Utara yang berkedudukan di Liauw-tang.
Ciang-hoat (ilmu silat tangan kosong) dan Kiamhoat (ilmu silat pedang) yang merupakan dua pelajaran utama Partai Thian-liong-bun, kedua-duanya sudah cukup dalam diselaminya.

Yang bermuka putih itu adalah sutee-nya (adik seperguruannya), namanya Ciu Hun Yang dan ia bergelar “Hwie-liong-kiam”. Dalam hal Kiam-hoat partainya, kepandaiannya sudah cukup sempurna. Si orang tua tinggi kurus adalah susiok (paman guru) mereka, yakni Cit-ceng-ciu Wie Su Tiong, tokoh tertua dalam partai Thian-liong-bun.

Orang tua yang berlagak sebagai saudagar kaya adalah ketua Thian-liong-bun Cabang Selatan, In Kiat namanya dengan gelar Wie-cin Thian-lam (Kekuasaan yang menggoncangkan daerah Selatan).

Kali ini, untuk memenuhi permintaan Cabang Utara, jauh-jauh dari tempat kedudukannya, ia telah datang ke Utara untuk bantu menghadapi musuh tangguh.

Tunggangan mereka adalah kuda pilihan semua dari daerah luar Dinding Besar. Maka sesudah mereka mengejar hingga tujuh-delapan li, lima penunggang kuda yang sedang dikejar, sudah mulai kelihatan. Lewat berapa saat lagi mereka sudah menyusul cukup dekat.

“Hai, sahabat, berhentilah!” teriak Co Hun Kie dengan nyaring sambil melampaui kawan-kawannya.

Lima orang yang di depan itu tidak menggubris seruannya, mereka bahkan membedal kuda mereka semakin kencang.

“Jika kalian tidak mau lekas berhenti, janganlah kalian kelak menyalahkan kami karena tidak berlaku sopan!” berkumandang pula teriakan Hun Kie dengan suara garang.

Sebagai jawaban terdengarlah seorang di antara rombongan itu mengatakan sesuatu. Orang itu mendadak menahan kudanya untuk menunggu, sedang empat kawannya tetap memacu kuda mereka tanpa menengok sama sekali.

Seorang diri Co Hun Kie maju ke depan mendahului rombongannya. la melihat orang itu sudah menantikan kedatangannya dengan bidikan busur dan anak panah yang ditujukan tepat ke dadanya.
Akan tetapi Hun Kie yang sudah tinggi kepandaiannya dan besar nyalinya, tak dapat digentarkan sikap mengancam orang itu.

“Apakah To Suheng yang berada di depan?” teriaknya menyapa.

Wajah orang itu tampan, alisnya tegak memanjang, usianya antara dua puluh tiga dua puluh empat tahun, pakaiannya serba ringkas. Seruan Hun Kie yang terakhir dijawabnya dengan gelak tertawa.

“Awas, panah!” serunya sebagai peringatan.

Dengan mengeluarkan bunyi mendesis tiga kali tiga batang anak panah susul-menyusul sudah meluncur menuju ketiga bagian tubuh Co Hun Kie : atas, tengah dan bawah.

Co Hun Kie tidak menyangka, bahwa tiga batang panah itu dapat dilepaskan beruntun secepat itu, maka di saat itu ia terperanjat juga. Lekas-lekas ia mengayunkan cambuknya. Dua batang anak panah yang masing-masing menyerang sebelah atas dan tengah segera dapat dipukul jatuh, menyusul mana ia menggentak kendali kudanya hingga hewan itu berjingkrak ke atas dan anak panah ketiga itu lewat di bawah selangkangan kudanya.

Pemuda she To itu bergelak ketawa sekali lagi dan sesaat kemudian membelokkan kudanya yang segera dikaburkan pula ke depan.

Karena kelakuan orang yang sungguh menantang itu, saking gemasnya, maka Co Hun Kie menjadi merah padam. Ia memacu kudanya segera hendak menyusul lagi, tetapi Cit-ceng-ciu Wie Su Tiong sudah keburu mencegahnya.

“Sabar, Hun Kie, tidak nanti ia bisa kabur ke langit, janganlah khawatir,” susiok itu menasehatkan.

Sesudah itu ia turun dari kudanya dan mengangkat tiga batang panah yang berserakan di atas
salju. Tiga batang panah itu ternyata benar-benar serupa dengan panah yang menancap di leher belibis.

Karena bukti ini yang sudah tidak usah disangsikan lagi, muka In Kiat sudah segera berubah.

“Benar, memang bocah itu!” katanya dengan suara di hidung.

“Coba tunggu sumoay dulu, lihat apa yang bisa dikatakannya lagi,” demikian pendapat Co Hun Kie.

Semua setuju dan mereka lantas berdiam. Tetapi setelah menunggu agak lama dan masih saja belum terdengar sumoay itu mendatangi, Co Hun Kie menjadi habis sabar.

“Coba kutengok di mana ia!” katanya. la segera menjalankan kudanya berbalik kembali ke jurusan darimana mereka datang.

“Ia memang tak dapat disalahkan!” kata Wie Su Tiong sambil mengikuti bayangan si pemuda dengan kedua matanya dan menghela napas.

“Apakah arti kata-katamu, Wie Suheng?” Tanya In Kiat yang belum mengerti.

Wie Su Tiong tidak menjawab, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara itu, setelah melalui lebih kurang satu li, Co Hun Kie melihat seekor kuda kelabu tanpa penunggang, serta tidak jauh dari hewan itu seorang gadis dengan pakaian putih seluruhnya, setengah berlutut seakan-akan sedang mencari sesuatu di salju.

“Apakah yang kau cari, sumoay?” tanya Hun Kie.

Gadis itu tidak menjawab, hanya sesaat kemudian ia mendadak berbangkit dan tangannya menggenggam sesuatu yang kuning-kuning berkilau menyilaukan disoroti cahaya matahari.

Co Hun Kie turun dari kudanya dan mendekati sang sumoay untuk melihat benda berkilau itu yang ternyata adalah sebatang pit (alat tulis Tionghoa) kecil dari emas murni. Panjangnya tidak cukup tiga dim, tetapi ujungnya tajam sekali, pada batangnya diukirkan sebuah huruf “An”, Hun Kie mengerutkan alisnya, mukanya segera berubah setelah melihat huruf itu.

“Dari mana kau dapat benda ini?” tanyanya.

“Setelah kalian berangkat, tidak lama lagi aku berangkat menyusul, di tempat ini mendadak aku mendengar derap kaki kuda dari sebelah belakang dan dalam sekejap saja kuda itu sudah dapat menyusul bahkan melampaui aku. Pada saat itu penunggangnya sekonyong-konyong mengayun tangannya menimpukkan sebatang senjata rahasia kepadaku, sehingga aku… aku…”

Sumoay itu tidak dapat meneruskan ceritanya, dan wajahnya segera menjadi merah. Co Hun Kie menjadi agak bercuriga dan ia menatap wajah si gadis yang agaknya sedang kemalu-maluan. Kulit gadis itu putih bersih lagi halus dengan suatu sinar dadu yang seakan-akan menerobos keluar dari bawah kulit wajahnya. Matanya, sebagai juga mukanya, ditujukan ke bawah dan dalam malunya gadis itu kelihatan semakin cantik.

“Tahukah kau, kita sedang mengejar siapa?” tanya Hun Kie.

“Entahlah,” jawab si gadis.

“Hm, benarkah kau tidak tahu?” tanya Hun Kie dengan suara dingin.

“Mengapa aku harus tahu?” berbalik si gadis menanya.

“Karena orang itu adalah kekasihmu!” jawab Hun Kie.

“To Cun An…?” teriak gadis itu dengan hati cemas.

Entah bagaimana perasaan Hun Kie pada waktu itu, hanya yang jelas adalah, bahwa mukanya
seketika itu berubah seakan-akan tertutup awan.

“Aku tidak menyebut lain daripada “jantung hatimu” dan kau lantas saja menyebut nama To Cu An!” teriaknya dengan gusar.

Muka si gadis kembali menjadi merah dan matanya menjadi basah karena air mata yang segera juga sudah turun berketel-ketel.

“Ia…Ia…!” ia berteriak-teriak tanpa bisa menyelesaikan kalimat yang akan diucapkan itu. Dalam gusarnya ia tak dapat menguasai diri lagi dan membanting-banting kaki.

“Ia… Ia…Mengapa ia?” tanya Hun Kie dengan bernapsu.

“Ia adalah bakal suamiku, bukan hanya jantung hatiku!” teriak gadis ini yang tak dapat menahan amarahnya lagi.

Co Hun Kie juga menjadi gusar kini, mendadak ia melolos pedangnya dengan sikap mengancam.

Tetapi gadis yang berada di depannya itu tidak menjadi gentar, dengan sikap menantang, ia kini bahkan melangkah maju.

“Jika berani, bunuhlah aku!” gadis itu menjerit dengan kalap. Karena kenekatan gadis itu, Hun Kie merandek dengan menggertak gigi ia menatap wajah si nona, sesaat kemudian perasaan halusnya timbul dan hatinya menjadi lemah.

“Sudahlah, apa boleh buat!” ia berteriak dan senjatanya segera ditujukan ke ulu hatinya sendiri.

Tetapi sebelum maksudnya tercapai, gadis itu dengan cepat sudah melolos pedangnya dan menyampok pedang Hun Kie, hingga perbuatan nekat pemuda ini tidak sampai terlaksana.

“Di dalam hatimu sudah tidak ada tempat untuk diriku, guna apa kau mau menyiksa aku lebih lama pula?” kata Hun Kie dengan sedih dan penasaran.

Tanpa menjawab, gadis itu memasukkan kembali pedangnya ke dalam selongsongnya.

“Sebagaimana kau juga tahu, ayah merangkap jodohku dengannya, dalam hal ini apakah yang dapat kubuat? Kenapa kau hendak juga mempersalahkan aku,” kata si gadis dengan lemah lembut.

Jawaban ini seakan-akan memberikan sedikit sinar terang kepada Hun Kie.

“Aku rela untuk mengikuti kau pergi ke mana saja, asal dapat terus berdampingan dengan kau,
biarpun harus mengasingkan diri di puncak gunung yang sunyi atau pun di pulau yang jauh dari pergaulan manusia,” kata Hun Kie selanjutnya.

“Suheng, aku sudah mengetahui perasaan hatimu, aku tidak tolol dan aku mengingat semua kebaikanmu. Tetapi kau adalah ketua Thian-liongbun Cabang Utara, maka jika sampai terjadi sebagai yang kau katakan tadi, nama partai kita akan hancur berantakan dan kita akan kehilangan muka semua,” kata si gadis sebagai jawaban.

“Meskipun harus hancur lebur, asal untuk kau aku masih rela juga!” teriak Hun Kie yang sudah
tak dapat menguasai diri lagi. “Langit ambruk pun aku tak perduli, apalagi segala Ciang-bun-jin…!”

Sikap pemuda ini membikin si gadis bersenyum.

“Justru sifatmu yang keras dan nekat-nekatan tanpa menghiraukan segala apa ini yang tak kusukai,” kata sang sumoay sambil menjabat tangan suhengnya dengan halus.

Ditunjukkan kelemahannya, Hun Kie tak dapat mengumbar nafsunya yang berapi-api lagi, ia hanya dapat menghela napas panjang.

Tetapi agaknya ia masih kurang puas, tanyanya: “Mengapa kau diam-diam menganggap pemberiannya sebagai mustika saja?”

“Pemberiannya? Kapan aku berjumpa dengannya!” bantah sumoay ini.

“Hm! Namanya jelas-jelas diukirkan di batang pit emas ini,” Hun Kie menuduh, sehingga si gadis jadi bersungut-sungut.

“Dasar kau suka menuduh secara ngawur, lebih baik jangan bicara lagi dengan aku!” si gadis membalas berteriak. Ia berlari-lari menghampiri kudanya dan dengan sekali berlompat ia sudah berada di atas pelana. Segera juga kudanya yang berwarna kelabu itu dilarikan kencang.

Buru-buru Hun Kie menyemplak kudanya dan mengejar sumoaynya. Ia memacu tunggangannya terus-menerus dan belum berselang lama, ia sudah dapat menyusul sumoay itu. Kuda sumoy segera ditahannya dengan sebelah tangan, sambil berseru:

“Sumoay, dengarlah perkataanku dulu!”

Nona itu tidak menggubris dan segera juga mengangkat cambuknya, memukul tangan Hun Kie.

“Lepas! Pantaskah kelakuanmu ini jika dilihat orang!” ia membentak.

Mungkin karena pukulan pertama tadi tidak terlalu keras, maka Hun Kie belum mau melepaskan pegangannya pada kendali kuda si nona. Ia benar-benar menjadi gusar dan segera mengulangi mencambuk, tetapi kali ini dengan keras. Seketika itu, suatu jalur merah keungu-unguan lantas saja kelihatan pada tangan Hun Kie.

Tetapi, agaknya, pemudi itu menyesal dan merasa kasihan, demi melihat tanda merah bekas pu- kulannya tadi. Dengan suara yang berubah lunak kembali, ia mengatakan: “Mengapa kau terus menggoda?”

“Baik, aku menerima salah. Coba pukul sekali lagi,” kata si pemuda.

Dengan disertai senyum manis, gadis itu menjawab: “Tanganku sudah lelah dan tak kuat mengangkat cambuk lagi.”

“Kalau begitu, mari kuurut tanganmu yang letih itu.” Sambil mengucapkan kata-kata ini, Hun Kie lantas saja hendak menarik tangan si gadis.

Di luar dugaannya, sumoay itu menyambut tangannya dengan mencambuk sekali lagi. Tetapi kali ini Hun Kie sudah berwaspada dan dengan sedikit mengegos ia dapat menghindari pukulan tersebut.

Kemudian, dengan tertawa, ia menegur: “Tanganmu sudah tidak lelah lagi?”

“Kularang kau menyentuh aku!” jawab si gadis dengan muka memberengut.

“Baiklah, sekarang coba terangkan dari siapa kau dapat pit emas itu!”

“Dari jantung hatiku, namanya jelas-jelas diukirkan pada batang pit emas ini, bukan?” Demikian dengan tertawa si gadis mengulangi kata-kata Hun Kie tadi.

Mendengar kata-kata ini hati Hun Kie kembali dirasakan pilu, sesaat kemudian tabiatnya yang keras aseran timbul lagi. Tetapi demi melihat si gadis tertawa, sehingga wajahnya sebagai juga bunga sedang mekar, melihat betapa indahnya bibir si gadis yang berwarna merah mengelilingi sebaris gigi laksana mutiara, segera juga hatinya lumer sebagai salju terkena sinar matahari yang hangat.

“Suheng, sedari kecil kau merawat aku dengan penuh kecintaan melebihi saudara kandung, aku
bukan tidak berterima kasih dan sedapat mungkin aku akan membalas budimu itu, tetapi… sekarang ini kedudukanku serba salah. Kau selalu memperhatikan aku, selalu menyayang, tetapi pada saat ini kita semua sedang menghadapi ujian yang maha berat, ayah telah meninggal secara mengenaskan dan Thian-liong-bun kita menghadapi bahaya keruntuhan. Bukankah soal-soal ini lebih penting daripada soal-soal pribadi? Mengapa kau masih belum dapat memahami perasaanku?”

Hun Kie termangu-mangu mendengarkan uraian sumoaynya itu, tak dapat ia membantah segala kenyataan ini.

“Yah, memang kau selalu berada di pihak yang benar dan aku selalu bersalah. Marilah kita lekas-lekas berangkat,” katanya dengan lesu.

Sumoay itu menjadi tertawa sendiri melihat sikap suheng ini.

“Jangan terburu-buru!” katanya, menahan. Ia mengeluarkan sapu tangan dan tanpa ragu-ragu
menyusut keringat yang membasahi muka Hun Kie.

“Di atas padang salju ini, jika keringatmu tidak lekas-lekas disusut, kau bisa masuk angin atau mendapat penyakit lain yang lebih berbahaya,” ujarnya.

Mendapat perlakuan ini, tentu saja amarah Hun Kie menjadi buyar seakan-akan asap ketiup angin.

Dengan muka mencerminkan kegirangan ia mengangkat cambuknya dan memukul kuda si nona dengan perlahan. Dalam suasana baik mereka mengaburkan tunggangan mereka dengan berendeng.

Nama gadis ini adalah Tian Ceng Bun, puteri Tian Kui Long, Ciang-bun-jin (ketua) Thian-liongbun yang baru meninggal belum lama berselang.

Oleh sebab itu ia mengenakan pakaian berkabung.

Usianya masih sangat muda, tetapi di daerah Kwangwa (di luar Dinding Besar) namanya sudah agak tersohor juga. Di samping berparas cantik, ia pun mempunyai otak yang cerdik dan banyak akalnya, maka oleh orang-orang Kang-ouw ia diberi julukan “Giok-bin-ho” (Rase dengan paras kumala).

Berkat lari kuda mereka yang cepat, tak lama kemudian mereka sudah tiba di tempat kawan-kawan mereka sedang menunggu.

“Lama juga kau pergi, apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Wie Su Tong sambil melirik keponakan muridnya ini.

Muka Hun Kie menjadi merah. Untuk seketika ia tak dapat menjawab, tetapi akhirnya keluar juga dari mulutnya: “Tidak, aku tidak menemukan apa-apa.”

Setelah ini mereka tidak berayal pula dan tanpa banyak bercakap-cakap mereka mengaburkan masing- masing tunggangannya dengan kencang.

Beberapa li sudah mereka lalui, keadaan lereng gunung di depan mereka sudah mulai curam dan berbahaya. Kadang-kadang kuda mereka terpeleset di atas salju yang membeku, maka selanjutnya mereka tak berani membedal kuda mereka. Perjalanan kini dilanjutkan dengan perlahan-lahan.

Sesudah melalui dua lereng gunung lagi, jalan bahkan menjadi semakin berbahaya. Tiba-tiba terdengar kuda meringkik dengan nyaring di sebelah kiri mereka.

Dengan gesit dan tangkas Hun Kie meloncat dari atas pelana ke belakang sebuah pohon siong
yang besar. Dari tempat bersembunyinya ini ia mengintip ke arah suara kuda tadi. Ia melihat lima ekor kuda ditambatkan pada berapa batang pohon di lereng bukit sebelah sana, di permukaan salju terdapat bekas-bekas kaki manusia yang lurus menuju ke atas bukit.

“Jiewi susiok, agaknya penjahat kecil itu kini berada di atas bukit itu. Mari kita susul cepat-cepat!”kata Hun Kie dengan suara tegang.

Dari empat orang itu In Kiat adalah yang paling berhati-hati. “Mungkin mereka telah sengaja memancing kita kemari dan mungkin juga di atas gunung ini telah diatur jebakan.” Demikian pendapatnya.

“Tidak perduli sarang naga atau gua macan, hari ini kita hanya boleh mengenal maju tak boleh
mundur!” kata Hun Kie bernapsu.

Melihat sifat pemuda ini yang sangat ceroboh, In Kiat merasa kurang senang. “Wie Suheng, bagaimana menurut pikiranmu?” tanyanya kepada Wie Su Tiong.

Tetapi Wie Su Tiong sudah didahului Tian Ceng Bun yang mengatakan: “Ada Wie-cin-thian-lam In susiok di antara kita, kita tidak usah takut kepada jebakan mereka, meskipun bagaimana lihay juga.”

In Kiat agaknya senang mendengar umpakan ini, ia tersenyum puas. “Melihat cara-cara mereka
yang begitu terburu-buru, agaknya mereka tidak berniat menjebak kita. Tetapi ada baiknya jika kita berhati-hati, kita naik ke atas dengan jalan memutar dan menyerang dari jurusan yang tak mereka duga nama sekali,” katanya.

Hun Kie menyatakan persetujuannya, disusul yang Iain-lain. Mereka turun dan lantas menambat kuda mereka pada pohon-pohon siong (cemara) yang banyak terdapat di situ. Setelah meringkaskan pakaian, mereka berjalan memutar dan mendaki bukit itu dari jurusan lain.

Seluruh lereng bukit itu ditumbuhi pohon dan batu cadas yang besar-besar, menonjol di sana sini. Tetapi, berkat ilmu mengentengkan tubuh mereka yang tinggi, segala aral itu tidak menjadikan rintangan, bahkan merupakan alingan yang baik sekali, sehingga kedatangan mereka tidak mudah diketahui musuh.

Mula-mula mereka masih merupakan iring-iringan yang tidak terputus, tetapi setelah berselang
beberapa waktu, disebabkan kepandaian mereka masing-masing tidak sama, maka In Kiat dan Wie Su Tiong sudah meninggalkan Co Hun Kie lebih setombak di belakang mereka. Tiang Ceng Bun dan Ciu Hun Yang ketinggalan lebih jauh lagi, kira-kira tiga empat tombak di belakang suheng mereka.

“In susiok adalah ketua cabang kita di Selatan, entah bagaimana tingkat kepandaian Cabang Selatan itu jika dibandingkan dengan kita dari Cabang Utara. Sebentar lagi dapat dilihat kepastiannya,” pikir Hun Kie sembari mengikuti kedua susioknya itu.

Sesaat kemudian-seakan-akan hendak memamerkan kepandaiannya-ia mempercepat tindakannya dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya, ia menyerobot ke depan melewati dua-dua susiok itu.

“Bagus sekali kepandaianmu, Co sutit. Enghiong benar-benar munculnya di antara kaum muda,” puji In Kiat.

Co Hun Kie puas, tetapi karena khawatir kesusul, ia tak berani menoleh. Jawabnya hanya: “Aku masih mengharapkan banyak petunjuk susiok.” Kata-kata ini diucapkannya tanpa memperlambat gerakan kakinya.

Sesaat kemudian ia tidak mendengar pula tindakan kaki di belakangnya, ia menoleh dan seketika itu ia terperanjat bukan main. Ternyata In Kiat maupun Wie Su Tiong masih tetap sangat dekat di belakangnya, hanya terpisah kira-kira setindak dari punggungnya. Kembali ia mengerahkan ilmu mengentengkan tubuhnya untuk mempercepat pula larinya.

Dalam sekejap ia sudah melalui berapa tombak lagi.

In Kiat bersenyum, melihat kelakuan sutitnya ini. Ia terus mengikuti Hun Kie dari belakang tanpa mempercepat atau memperlambat tindakannya. Tidak lama kemudian Hun Kie sudah agak lelah dan larinya pun mulai lambat. Mendaki gunung memang jauh lebih berat daripada berjalan di tanah datar dan memang kepandaian Hun Kie belum mencapai tingkat tertinggi. Pada suatu saat sekonyong-konyong ia merasakan tengkuknya seakan-akan ditiup orang dan ketika ia hendak menengok, pundak kanannya ditepuk seseorang.

“Hayo, anak muda, bergiatlah!” terdengar anjuran In Kiat dengan ketawa.

Tentu saja Hun Kie menjadi sangat terkejut berbareng mendongkol. Dengan nekat ia mengerahkan seluruh tenaganya dan melesat ke depan. Ia dapat meninggalkan kedua susioknya agak jauh belakang, tetapi napasnya kini sudah tersengal-sengal dan keringat sudah berketel-ketel membasahi badannya.

Dengan lengan bajunya ia menyusut keringat di mukanya dan ia segera teringat bagaimana Tian Ceng Bun telah melakukannya untuk ia tadi. Dengan timbulnya bayangan ini, tanpa terasa mukanya jadi berseri-seri.

Sedang ia asyik melamun, mendadak di belakangnya terdengar lagi tindakan kaki orang. Ternyata dua susioknya sudah menyusul dekat di belakangnya pula.

Melihat lari Hun Kie yang mula-mula begitu cepat untuk tidak lama kemudian menjadi lambat
dan napasnya sudah tersengal-sengal, In Kiat mengetahui bahwa dalam hal ilmu mengentengkan tubuh, sutitnya ini masih jauh untuk dapat menandinginya.

Hanya Wie Su Tiong yang masih tetap berlari sejajar dengannya tanpa bersuara. Jika In Kiat memperlambat larinya, Wie Su Tiong pun melambatkan gerakan kakinya dan setiap kali ia berlari cepat saudara seperguruan ini juga turut berlari cepat. Agaknya ilmu mengentengkan tubuh Wie Su Tiong adalah setara dengannya.

In Kiat menyadari, bahwa dua orang susiok-sutit itu ingin menguji kepandaiannya, maka segera
ia mengerahkan tenaganya dan dengan ilmu mengentengkan tubuhnya “Teng-peng-tow sui” atau Menginjak kapu-kapu menyeberang sungai, ia melesat ke depan seakan-akan kakinya tidak menyentuh tanah lagi.

Thian-liong-bun didirikan di awal Dinasti Ceng.

Mula-mula hanya terdapat satu cabang, tetapi pada masa Kaisar Khong-hie telah terjadi persengketaan antara dua orang murid tertua dari partai tersebut, maka sebegitu lekas Ciang-bun-jin pada masa itu meninggal dunia, Thian-liong-bun terpecah menjadi dua cabang, satu di Selatan yang lain di Utara.

Cabang Selatan itu terkenal dalam hal kegesitan dan ketangkasan, sebaliknya Cabang Utara
mengutamakan kekuatan dan ketenangan. Pada hakekatnya ilmu silat kedua cabang itu tidak berbeda, hanya penggunaannya dalam pertempuran yang agak berbeda.

Walaupun bertubuh gemuk, sesuai dengan keistimewaan Cabang Selatan, In Kiat dapat mendaki
bukit itu dengan kecepatan luar biasa, melebihi kegesitan kera.

Belum berselang lama Hun Kie sudah ketinggalan jauh di belakangnya. Tetapi, sementara itu, Wie Su Tiong masih tetap mendampinginya, seakan-akan ingin menjadi bayangannya. Berkali-kali In Kiat berusaha meninggalkan kawan ini, tetapi senantiasa ia menampak kegagalan. Setiap kali ia dapat meninggalkan rekan ini, segera juga ia sudah disusul lagi.

Demikian, dengan berendeng, mereka telah tiba pada suatu tempat yang terpisah hanya dua tiga
li dari puncak.

Mendadak In Kiat berkata: “Wie Suheng, mari kita berlomba mulai dari sini sampai ke puncak,
coba siapa yang akan tiba terdahulu.”

Meskipun kata-katanya diucapkan sambil tertawa, sebenarnya ucapannya itu mengandung tantangan yang agak terang-terangan.

“Mana aku dapat menandingi In Suheng,” kata Wie Su Tiong, merendah.

“Ah, janganlah terlalu merendah,” jawab In Kiat, yang segera mengerahkan seluruh tenaga
dan kepandaiannya.

Badannya meluncur cepat sekali ke depan laksana anak panah yang baru terlepas dari busurnya. Belum berselang lama ia hanya terpisah beberapa tombak saja dari puncak bukit. Ia menoleh dan melihat bahwa Wie Su Tiong hanya terpisah setindak dua tindak darinya.

Ketika ia sedang mengumpulkan tenaganya untuk menambah kecepatan, Wie Su Tiong sudah meloncat maju dan tiba di sampingnya.

“Kudengar suara orang di sana,” kata Wie Su Tiong sambil menunjuk ke arah gerombolan pohon
di sebelah kiri.

Melihat kegesitan kawan ini, In Kiat mau tak mau , harus mengakui juga keunggulan kawannya
dalam hal ilmu mengentengkan tubuh.

Sementara itu Wie Su Tiong sudah bergerak maju dengan membongkokkan badan dan berindap-indap.

Dengan hati-hati sekali ia menghampiri gerombolan pohon tersebut. In Kiat mengikuti di
belakangnya dan setiba mereka di ujung gerombolan tersebut, mereka bersembunyi di belakang
sebuah batu besar.

Dari tempat penginlaian ini mereka melihat lima orang di dalam lembah di sebelah bawah. Tiga
orang di antara mereka sedang menjaga tiga buah jalan yang menuju ke tempat mereka dengan senjata terhunus.

Agaknya mereka hendak mencegah orang lain datang ke tempat itu. Dua kawan mereka sedang menggali tanah di bawah sebuah pohon besar, seorang memegang sekop dan yang lain menggunakan pacul.

Agaknya mereka mengetahui, bahwa setiap saat dapat kedatangan musuh-musuh tangguh yang telah menguntit di sepanjang jalan. Maka kedua orang yang menggali itu berusaha sekuat-kuatnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka secepat mungkin.

Setelah mengamat-amati dengan seksama beberapa saat, In Kiat berkata: “Tidak salah, memang bapak dan anak she To dari Eng-ma-coan, tetapi siapakah tiga kawan mereka itu?”

“Tiga ceecu dari Eng-ma-coan juga, kelima-limanya lawan keras semua,” Wie Su Tiong menerangkan.

“Sungguh kebetulan, lima melawan lima,” In Kiat berpendapat.

“Kau, aku dan Hun Kie memang tidak usah khawatir, tetapi Hun Yang dan Ceng Bun merupakan
kelemahan pihak kita. Lebih baik kita menyerang mereka secara mendadak sebelum mereka dapat bersiap dan lebih dahulu membinasakan seorang dua orang di antara mereka. Sisanya akan lebih mudah dilayani,” kata Wie Su Tiong.

In Kiat mengerutkan alisnya, ia agak sungkan menurut usul itu. Katanya: “Jika perbuatan kita ini tersebar di luaran dan kalangan Kang-ouw mengetahui bahwa kita telah membokong orang, Thianliong-bun akan mcnjadi bulan-bulanan ejekan orang.”

Wie Su Tiong tidak memperdulikan keberatan kawannya. Ia berpendapat lain, yang segera juga
dinyatakannya: “Dalam hal ini kita harus mengingat sakit hati Tian Suheng. Kita harus membasmi rumput sampai ke akar-akarnya, seorang jua tidak boleh dibiarkan hidup. Maka jika kita semua menutup mulut, orang luar tidak akan mengetahui apa yang telah terjadi.”

“Benarkah, mereka itu sukar dilayani secara terang-terangan?” tanya In Kiat yang masih ragu-ragu.

Sebagai jawaban Wie Su Tiong hanya mengangguk. Sesaat kemudian baru ia membuka suara
pula. “Bertempur satu lawan satu, siauwtee tidak mungkin menang.”

Mendengar pengakuan ini, In Kiat baru mau percaya. Sebagai tokoh utama dalam Thian-liongbun Cabang Utara, Wie Su Tiong biasanya agak sombong dan sungkan mengakui keunggulan orang lain, bahkan di masa hidupnya, Tian Kui Long sendiri menyegani suteenya ini.

Hampir dapat dipastikan,bahwa kepandaian Wie Su Tiong masih berada di atas kepandaian In Kiat sendiri, maka selanjutnya In Kiat tidak membantah lagi dan menyerahkan kepada Wie Su Tiong untuk mengambil keputusan.

Sikapnya yang semula ragu-ragu itu, tak terluput dari perhatian Wie Su Tiong. Di dalam hatinya
Wie Su Tiong mengejek: “Hm, kau ingin menjadi enghiong, biarlah aku yang menjadi pengecutnya.”

Tetapi ejekan ini hanya dikandung di dalam hatinya, mulutnya tidak mengeluarkan sepatah kata.

Sementara itu Co Hun Kie sudah tiba di tempat mereka dan tak lama lagi Ciu Hun Yang dan Tian
Ceng Bun juga telah sampai pula.

Setelah semua berkumpul, Wie Su Tiong membentangkan siasatnya.

“In Suheng kau, aku dan Hun Kie terlebih dahulu menyerang dan membereskan tiga orang yang meronda itu dengan Tok-cui (Bor beracun), setelah itu kita bertiga maju dengan serentak
mengerubuti dua orang she To-ayah dan anak-itu. Hun Yang dan Ceng Bun baru boleh bergerak, kalau kita sudah dapat ‘mengikat’ kedua orang itu.”

Scgera juga mereka bergerak maju dengan sangat hati-hati. Mendadak Tian Ceng Bun yang
berada di belakang Wie Su Tiong berbisik: “Wie susiok, hendaknya ayah dan anak she To itu ditangkap hidup-hidup.”

Wie Su Tiong menjadi gusar sekai. Ia menoleh dan dengan melotot ia membentak dengan suara
tertahan: “Kau masih coba membela bangsat kecil To Cu An itu?”

“Kurasa ia tidak bersalah,” bantah si nona.

Bantahan ini menyebabkan muka Wie Su Tiong menjadi merah padam, kegusarannya meluap. Ia
mencabut anak panah yang diselipkan di ikat pinggangnya untuk diangsurkan kepada Ceng Bun.

“Coba kau bandingkan sendiri, inilah yang digunakan si penjahat kecil untuk memanah belibis
tadi.”

Tian Ceng Bun menyambuti panah itu, seketika itu juga tangannya bergemetar.

Co Hun Kie yang sejak tadi memandang wajah si gadis-sebaliknya daripada mengincar musuh
melihat perubahan sikap ini. Ia merasa girang,karena ia berpendapat bahwa sebentar lagi To Cu An sudah pasti akan kehilangan jiwanya. Tetapi disamping itu ia juga mendongkol, melihat betapa besarnya cinta Ceng Bun kepada To Cu An.

Co Hun Kie memang bertabiat berangasan, maka makin lama berpikir ia menjadi semakin jengkel, sehingga akhirnya-saking gemasnya-ia ingin mengeluarkan kata-kata menyindir.

Tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, pundaknya sudah ditepuk oleh Wie Su Tiong. Orang tua itu menunjuk seorang musuh yang meronda di sebelah Timur.

Ketika itu Ceng Bun dan Hun Yang berdua sudah bersembunyi di belakang sebuah batu besar.

Wie Su Tiong segera mengajak In Kiat dan Hun Kie maju bersama-sama sambil menyiapkan tiga
buah tok-cui di tangan, masing-masing mengincar seorang.

Bor beracun adalah senjata rahasia istimewa yang telah turun-temurun merupakan senjata andalan Thian-liong-bun. Racun yang dipoleskan pada ujungnya bekerjanya begitu ganas, sehingga korban, begitu terkena, akan segera terkancing tenggorokannya dengan akibat napasnya akan menjadi sesak dan ia akan tewas dalam jangka waktu satu jam.

Karena lihaynya dan ganasnya, senjata rahasia ini diberi julukan “Tui-beng-tok-liong-cui” (Bor naga beracun pengejar jiwa).

Walaupun tidak diutarakan dengan kata-kata, tetapi di dalam hatinya, Co Hun Kie mempunyai
perhitungan lain dari pendapat susioknya.

“Biarlah, akan aku mampuskan dulu To Cu An si bangsat kecil, untuk membalaskan sakit hati suhu, sekalian menyingkirkan duri di mataku. Jika ia ditangkap hidup-hidup entah gara-gara apa lagi yang akan dibuat sumoay.”

Dengan keputusan ini, ia maju lebih jauh.

Lewat beberapa waktu lagi mereka sudah berada tak jauh dari musuh. Mereka kini mendekam bersembunyi di antara semak-semak. Tanpa berkedip Hun Kie mengincar To Cu An yang sedang asyik sekali menggali. Dengan tak sabar ia menantikan isyarat Wie Su Tiong untuk menyerang.

Mendadak terdengar bunyi beradunya dua benda keras yang nyaring. Ternyata cangkul To Cu An telah membentur sesuatu yang keras di dalam tanah.

Saat itu Wie Su Tiong mengangkat tangannya, tetapi ketika ia akan memberikan isyarat untuk
menyerang, dari lain jurusan mendadak terdengar mendesirnya sekian banyak senjata rahasia yang seakan-akan dimuntahkan bukit salju di seberang mereka dengan beruntun-runtun, ditujukan kepada To Cu An berlima.

Ilmu silat ayah dan anak she To itu sudah sangat tinggi, maka walaupun senjata-senjata rahasia itu dilepaskan dari jarak dekat, berkat ketangkasan mereka, semua senjata rahasia yang mengancam itu sudah dapat disampok jatuh dengan cangkul masing-masing.

Tiga kawan mereka tidak begitu beruntung, seorang di antara mereka masih sempat menggulingkan tubuhnya di atas salju sehingga nyaris mengalami kecelakaan akibat dua batang panah kecil yang sebuah menyerempet kepalanya dan sebuah lagi lewat dekat sekali di sisi lehernya.

Dua peronda yang lain mengalami nasib terlebih buruk lagi, dengan telak sekali dua batang senjata rahasia menancap di punggung mereka dan tanpa bersuara kedua-duanya roboh untuk tidak berkutik lagi.

Kejadian ini benar-benar sangat mendadak dan di luar dugaan, sehingga bukan saja To Cu An dan bapaknya, tetapi juga Wie Su Tiong dan kawan-kawan menjadi sangat terperanjat.

“Kawanan tikus, berani benar kamu membokong!” terdengar cacian dari bawah.

Yang mencaci adalah ayah To Cu An, yakni “Tin Kwan-tang” (Penindas dari sebelah Timur Tembok Besar) To Pek Swee.

Suaranya bergemuruh laksana geledek, sesuai dengan perangai dan julukannya. Segera setelah
itu, empat orang dengan senjata terhunus dan berkilau-kilau meloncat keluar dari tumpukan salju di bukit seberang itu.

Agaknya empat orang itu sudah mengetahui, bahwa bapak dan anak keluarga To itu akan datang
di tempat tersebut dan sudah menunggu mereka, sambil bersembunyi di dalam suatu lobang yang telah mereka gali di bawah salju.

Mulut lobang itu ditutup dengan batang-batang kayu yang kemudian tertutup pula oleh salju, sehingga pekerjaan mereka itu tiada bekas-bekasnya lagi. Hanya beberapa lobang kecil mereka tinggalkan untuk bernapas dan mengintip keluar.

To-sie-hu-cu sementara itu sudah meletakkan cangkul dan sekop mereka dan mencabut senjata
masing-masing. Senjata To Pek Swee adalah “kang pian” (cambuk baja) yang beratnya ada enam belas kati.

To Cu An menggunakan sebilah golok.

Ma Ceecu yang tadi telah menjatuhkan diri ke dalam tanah legok, telah berguling berapa kali
karena khawatir musuh melanjutkan serangan dengan senjata rahasia, seperti tadi. Setelah itu baru ia melompat bangun.

Senjata yang berada di tangannya adalah “lian-cu-tui”, yakni sepasang martil yang dihubungkan satu pada yang lain dengan rantai.

Dari empat penyerang gelap itu yang paling depan adalah seorang tinggi kurus berkulit hitam.

Orang ini adalah Cong-piauw-thauw (Kepala perusahaan pengawalan) “Peng Thong Piauw Kiok” di Pakkhia (Peking), namanya Him Goan Hian. la terkenal karena ilmu goloknya “Tee-tong-to” dan ia menjagoi di wilayah “Hoo-siok” (daerah di sekitar sungai Huang-ho).

Berapa tahun sebelumnya, kawanan Eng-macoan itu pernah merampas suatu kiriman barang-barang berharga yang berada di bawah pengawalan piauw-kiok tersebut. Him Goan Hian telah berusaha sebisa-bisanya, tetapi ia tidak berhasil meminta kembali barang-barang itu. Gara-gara peristiwa itu mereka telah jadi bermusuhan.

Orang kedua-yang berjalan di belakang Him Goan Hian-adalah seorang wanita. Usianya kira-kira tiga puluh dua-tiga tahun.

Ma Ceecu juga kenal siapa dia itu, ialah Siang-to The Sam Nio, sepasang golok andalannya telah menyebabkan ia mendapat julukannya itu. Mendiang suaminya adalah seorang anggota pegawai “Peng Thong Piauw Kiok” yang telah tewas ketika terjadi peristiwa perampasan tersebut.

Dua orang kawan mereka yang lain adalah seorang hweeshio gemuk, bersenjatakan “Kai-to” (Golok suci paderi Buddhis) dan seorang laki-laki dengan wajah hitam keungu-unguan.

Senjatanya adalah sepasang “Thie-koay” (Gaitan besi yang tajam ujungnya).

Di antara pihak Eng-ma-coan tiada seorangpun yang mengenal dua orang ini.

Mungkin mereka adalah jago-jago undangan Peng Thong Piauw Kiok untuk membantu mereka menuntut balas.

“Kusangka siapa, tak tahunya pecundang-pecundangku dahulu. Kecuali kawanan tikus di bawah pimpinan tikus besar she Him, memang rasanya sudah tiada lagi yang dapat melakukan
perbuatan serendah itu,” bentak To Pek Swee demi melihat keluarnya empat musuh itu.

Dengan suara lemah lembut Him Goan Hian menjawab bentakan orang tua itu, katanya: “To
Ceecu, mari kuperkenalkan kau dengan ‘Ceng-tie’ di Shoatang dan ini adalah suhengku Lauw Goan Ho, Lauw tayjin, “Tay-to-sie-wie” (Pengawal istana kelas satu) dari kota raja.”

Bentakan To Pek Swee tadi sebenarnya hanya ditujukan kepada rombongan Him Goan Hian yang telah membokongnya tadi. Tetapi bagi In Kiat, kata-kata itu dirasakan juga ditujukan kepada pihaknya, mukanya dirasakan panas dan ia coba melirik kepada Wie Su Tiong.

Sebaliknya kawan ini menganggap sepi saja kata-kata To Pek Swee, seakan-akan ia tidak mendengarnya sama sekali. Matanya tetap mengawasi orang-orang yang berada di lembah sebelah bawah itu dan yang pada saat itu sudah berhadap-hadapan.

Sebagai juga memang sejak dilahirkan sudah ditakdirkan harus bertentangan, To Pek Swee dan
Him Goan Hian berbeda dalam segala-galanya. Si orang tua bertubuh kuat kekar dan suaranya nyaring menggetarkan. Sebaliknya Him Goan Hian bertubuh kurus lemah sesuai dengan suaranya yang lemah lembut.

“Bagus, majulah beramai-ramai, kita berbicara dengan senjata,” suara To Pek Swee kembali menggetarkan seluruh lembah dan belum lenyap kumandang suaranya ia mengayun-ayun cambuk bajanya yang mengeluarkan angin menderu-deru, membuktikan betapa besar tenaganya.

Meski adanya pameran kekuatan yang sungguh menantang ini, Him Goan Hian masih tetap berlaku tenang. Dengan suara tidak meninggalkan nada lemah lembutnya ia menjawab:

“Cayhee (aku yang rendah) adalah pecundang To Ceecu, maka tak berani aku melawan ceecu lagi. Aku hanya mengharap agar kau suka berlaku murah dan sudi menghadiahkan suatu barang kepadaku.”

“Apakah maksudmu?” teriak To Pek Swee yang menjadi agak heran, walaupun kegusarannya tidak menjadi reda karenanya.

Sebelum menjawab, Him Goan Hin lebih dulu menuding ke dalam lobang galian To Pek Swee dan anaknya. Menyusul itu ia baru menjawab: “Itu, itulah barang yang kumaksudkan.”

To Pek Swee tidak mau membuang kata-kata lagi, setelah mengerti maksud si Piauw-thiauw. Dengan cambuknya ia segera menyerang orang she Him itu.

“Tahan dulu!” teriak yang diserang ini sambil mengelakkan serangan lawan.

“Kau hendak mengatakan apa lagi!” menggelegar pula suara To Pek Swee.

“Cayhee sudah sengaja menunggu kedatangan ceecu beramai selama tiga hari di dalam gua salju itu. Jika bukan karena memandang muka kalian, barang ini tentu telah kuambil siang-siang.
Barang ini asalnya pun pengawasan kaum Thian-liong-bun, kini-setelah terlanjur berada di sini jika benda itu pindah ke lain tangan pun tidak mengapa. Harap ceecu suka memahami kata-kataku ini.”

“Jangan mengacau, salju beku tebal-tebal menutupi pegunungan ini seluas ribuan li. Jika benar
kau sudah mengetahui di mana barang ini disimpan, mustahil sekali kamu tidak mengangkatnya
siang-siang.”

The Sam Nio tidak dapat bersabar lagi, memang maksud sertanya dalam rombongannya Him Goan Hian, adalah semata-mata untuk membalas sakit hati suaminya.

Sambil menghamburkan tiga batang Hui-to (Golok terbang) ke arah Ma Ceecu ia berseru:

“Apa gunanya membuang kata-kata, labrak saja, habis perkara!”

Dengan martilnya, Ma Ceecu menyampok jatuh dua buah golok terbang Sam Nio dan dengan rantai penghubung kedua martil itu ia menahan golok yang ketiga. Segera setelah menghalau ketiga-tiga senjata rahasia itu, ia menyerang muka si nyonya dengan sebelah martilnya.

The Sam Nio ternyata juga cukup gesit, dengan membongkokkan badannya ia dapat mengelakkan sambaran martil lawannya. Berbareng dengan itu dua-dua goloknya dengan gerakan “Soan-hong-sil” (Angin puyuh) telah melayang ke arah perut Ma Ceecu yang segera menggerakkan sebelah martilnya lagi untuk menghalaukan serangan si nyonya.

Hweeshio gemuk itu juga tidak mau tinggal diam menonton saja. Goloknya segera melayang ke
arah kepala To Pek Swee. Jago tua ini tidak berusaha mengelakkan serangan musuh, bahkan ia
sengaja memapaki senjata lawan dengan cambuknya, untuk mengadu tenaga.

Kedua senjata itu beradu dengan menerbitkan bunyi nyaring dan si hweeshio merasakan tangannya panas tergetar, goloknya yang telah menjadi gumpil, hampir-hampir terlepas dari genggamannya.

Saat itu To Cu An juga tidak berdiri menonton saja. la lantas saja memilih Him Goan
Hian sebagai sasaran goloknya yang diputar kencang.

Enam orang itu terbagi dalam tiga pasang musuh bertempur dengan sengit sekali di atas padang
salju itu. Tinggal Lauw Goan Ho yang saat itu belum mendapat lawan, maka dengan menggenggam sepasang gaitannya ia bersiap-siap di sisi kalangan pertempuran.

Tetapi sesaat kemudian ia juga sudah tidak dapat menahan napsunya lagi. “Taysu, silakan
mundur, berikanlah aku ketika untuk berkenalan dengan Tin-kwan-tang,” serunya ketika ia melihat, bahwa si hweeshio sudah agak kewalahan.

Tetapi agaknya hweeshio itu masih penasaran, ia tidak mau mundur. Lauw Goan Ho yang sudah melangkah maju, tiba-tiba membentur sebelah pundaknya.

Karena tidak menyangka, bahwa ia akan dibentur kawan sendiri, maka ia terhuyung-huyung dan hampir jatuh terlentang. Sedang ia berusaha bertahan sebisa-bisanya, sekonyong-konyong ia merasakan sambaran angin dingin di belakangnya.

Dengan hati bercekat, buru-buru ia menundukkan kepalanya dan sebilah golok melayang beberapa jari saja di atas kepalanya. Itulah golok To Cu An yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera menyambutnya dengan bacokan golok.

Ceng-tie Hweeshio bermandikan keringat dingin karena terkejutnya, tetapi sesaat kemudian
timbul pula kegusarannya. Setelah dapat menenangkan hatinya, ia segera membantu Him Goan
Hian mengeroyok To Cu An.

Lauw Goan Ho, yang sedang terlibat dalam pertempuran dahsyat melawan To Pek Swee, ternyata jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada suteenya.

Ketika pada suatu saat cambuk baja To Pek Swee yang berat datang menyambar ia tidak berkelit, hanya gaitannya digerakkannya untuk menangkis, keras lawan keras.

Terbukti betapa kuat Lauw Goan Ho ini. Sedikit pun ia tidak berkisar dari tempatnya. Ia benar-benar dapat menandingi kekuatan si jago tua, bahkan pada saat itu juga ia dapat menekan cambuk lawan itu dengan gaitannya yang kanan sedang gaitan kirinya segera meluncur ke arah kepala musuh.

Sebaliknya To Pek Swee juga bukan anak kemarin sore dan ia tak tinggal diam saja. Ia tahu, bahwa hari itu ia menemukan lawan yang tidak lemah.

Semangatnya dipusatkan dan seluruh tenaganya dikerahkan untuk melayani musuh itu dengan ilmu cambuk “Liok-hap-pian-hoat.”

Tetapi usianya yang sudah tinggi itu bukannya tidak meninggalkan bekas.

Sedangkan di sebelah sana Ma Ceecu sudah mulai berada di atas angin, To Pek Swee justru sudah mulai terdesak. Ia lebih banyak menangkis, daripada melancarkan serangan.

Juga keadaan To Cu An-yang seorang diri harus melayani dua musuh-sudah agak mengkhawatirkan.

Harapan satu-satunya adalah agar Ma Ceecu dapat cepat-cepat merobohkan The Sam Nio untuk
kemudian lekas-lekas memaksa Him Goan Hian meninggalkan Cu An dan melayaninya.

Jika satu lawan satu, rasanya Cu An tidak akan menampak kesukaran untuk menjatuhkan si hweeshio.

Sungguh malang, agaknya The Sam Nio telah mengerti, bahwa jika ia bertahan lebih lama, Tosie- hu-cu pasti berturut-turut akan roboh binasa.

Maka ia segera berganti siasat, pembelaan diri sekarang diutamakannya dan sepasang goloknya diputarkan untuk melindungi tubuhnya rapat-rapat, sehingga betapa hebat juga serangan-serangan Ma Ceecu, belum dapat menyentuh apalagi melukai The Sam Nio.

Setelah lewat beberapa puluh jurus, biar bagaimana juga The Sam Nio mulai merasakan beratnya tekanan musuh. Berkali-kali ia harus mundur dan napasnya sudah mulai tersengal-sengal.

Tentu saja Ma Ceecu tidak mau memberikan ketika untuk bernapas kepadanya, ia bahkan menyerang dengan lebih ganas pula.

Pada suatu saat ia melihat gerakan golok The Sam Nio agak terlambat dan di antara penjagaannya terdapat suatu lowongan. Ia tak mau mengabaikan kesempatan baik ini dan dengan girang ia segera maju menyerbu dengan sepasang martilnya untuk enyelesaikan si nyonya.

Tetapi, sungguh diluar dugaan, mendadak ia merasakan kakinya kehilangan landasan. Ternyata
ia telah menginjak lubang persembunyian Him Goan Hian dan kawan-kawan yang sebelah atasnya masih tertutup salju, sehingga seketika itu juga ia jatuh terperosok ke dalamnya.

Inilah hasil siasat The Sam Nio yang cerdik, dalam keadaan yang terdesak ia telah sengaja memancing Ma Ceecu ke jurusan lobang tersebut dan dalam kegirangannya Ma Ceecu telah berlaku lengah dengan akibat terperosoknya ke dalam gua bikinan itu.

Di dalam lobang itu Ma Ceecu mengeluh: “Celaka!”

Dengan hati penasaran ia berusaha meloncat keluar. The Sam Nio telah berjaga-jaga di tepi
lobang dan ketika badan Ma Ceecu terapung, ia segera membacok. Tanpa dapat dicegah lagi, lengan Ma Ceecu telah dipisahkan dari tubuhnya.

Dengan memperdengarkan jeritan yang mengerikan, ia jatuh lagi dalam keadaan pingsan. The Sam Nio tidak berhenti sampai di situ saja, ia segera menyusul turun ke dalam lobang dan dengan membacok sekali lagi ia menghabiskan riwayat Ma Ceecu.

Demi mendengar jeritan Ma Ceecu, To Cu An lantas saja mengerti betapa buruknya keadaan bagi pihaknya pada saat itu. Tetapi, apa yang dapat dibuatnya? Dikerubuti Him Goan Hian dan Cengtie, ia sudah hampir kehabisan daya.

Setelah membinasakan musuhnya, The Sam Nio mengaso sebentar sambil membereskan rambutnya.

Kemudian, setelah selesai mengikat kepalanya dengan sehelai sapu tangan putih ia maju pula ke
medan pertempuran untuk membantu Lauw Goan Ho mengeroyok To Pek Swee.

Tak usah dikatakan lagi bagaimana buruknya keadaan kedua orang bapak dan anak itu.

Kalau saja To Pek Swee masih dua puluh tahun lebih muda, dalam pertempuran satu lawan satu
tadi, Lauw Goan Ho sekali-kali bukan tandingannya.

Di masa yang lampau jago tua itu terkenal karena tenaganya dan daya serangannya yang benar-
benar dahsyat sekali. Tetapi pada saat itu, dalam usianya yang sudah lanjut, melawan Lauw Goan Ho seorang saja sudah dirasakannya berat sekali.

Ditambah dengan turut sertanya The Sam Nio yang kadang-kadang melancarkan serangan pada saat ada kesempatan, maka keadaannya benar-benar sangat berbahaya.

Mendadak Lauw Goan Ho membentak: “Kena!”

Ketika itu, dengan gerakan “Liong-siang-hong-bu” (Naga melingkar, burung hong menari) kedua gaitannya telah menyerang bersama-sama.

Buru-buru To Pek Swee menangkis, tetapi pada saat itu The Sam Nio juga menyerang dari
samping. To Pek Swee tentu saja tak dapat menangkis empat batang senjata yang datangnya berbareng itu.

Karena memang sudah tidak ada jalan lain lagi, maka ia terpaksa harus melakukan suatu tindakan yang sangat berbahaya. Sambil membentak nyaring ia mengangkat kaki kirinya dan menendang The Sam Nio.

Nyonya ini sama sekali tidak menduga bahwa orang tua ini akan menjadi demikian nekat.
Ia kurang waspada dan kini harus menjadi korban tendangan jago tua ini.

Tetapi, dilain pihak To Pek Swee juga tidak dapat menghindarkan pundak kirinya dari bahaya terluka, luka yang agak lebar itu segera mengeluarkan darah. Salju di bawahnya segera juga berwarna merah.

Ternyata orang tua ini memiliki daya tahan yang menakjubkan, walaupun sudah terluka, ia masih
dapat mengayun cambuknya dengan tangkas dan ia tidak mau mundur sama sekali.

To Cu An mengerti, bahwa pihaknya sudah tiada harapan menang lagi. Buru-buru ia menghalau
Ceng-tie dengan tiga serangan beruntun. Bersama dengan mundurnya Ceng-tie, tiba-tiba ia meloncat ke belakang sambil berseru:

“Baiklah, kami ayah dan anak menyerah kalah. Kamu menghendaki jiwa atau harta kami.”

Walaupun musuh terang-terang sudah menyerah kalah, tetapi The Sam Nio masih belum mau
sudah, dengan hati penasaran ia masih menyerang To Pek Swee terus-menerus. Dalam kalapnya, ia membalas berteriak: “Hartamu, jiwamu, dua-dua kuinginkan!”

Him Goan Hian tidak sependapat dengan nyonya ini. Ia mempunyai perhitungan lain. Tahun yang
lalu, karena hilangnya barang-barang yang dikawalnya, ia harus mengganti penuh seluruh harga barang- barang tersebut.

Peristiwa itu telah menyebabkan ia bangkrut. Maka pada saat itu ia ingin menyuruh musuh-musuh yang sudah menyerah itu, menyerahkan seluruh harta kekayaan mereka untuk
menebus jiwa mereka.

“Baik, berhentilah dulu. Dengarlah kata-kataku!” serunya.

Lauw Goan Ho bukannya seorang tolol dan The Sam Nio memang sudah biasa menurut kepada
pemimpinnya ini. Kedua orang ini segera juga menghentikan desakannya kepada To Pek Swee.

Sebaliknya Ceng-tie adalah seorang hweeshio yang beradat kasar. Ketika itu keadaan pihaknya
sedang menguntungkan. Maka, mana mungkin ia mau berhenti begitu saja. Sambil memutarkan goloknya kencang-kencang ia segera menyerbu pula ke arah To Cu An.

“Ceng-tie Taysu! Ceng-tie Taysu!” teriak Him Goan Hian dengan gugup.

Akan tetapi Ceng-tie seakan-akan tidak mendengar seruannya itu.

Melihat sikap hweeshio yang sangat kasar ini, To Cu An akhirnya menjadi jengkel juga dan membuang senjatanya ke atas salju.

“Beranikah kau membunuh aku?” tantangnya sambil membusungkan dada.

Di waktu Cu An berteriak tadi Ceng-tie sebenarnya sudah mengangkat goloknya, tetapi setelah
melihat sikap lawannya itu, ia menjadi tertegun dan ragu-ragu, goloknya tidak jadi diturunkan.

“Keparat gundul! Anjing!” caci Cu An saking gemasnya melihat sikap si hweeshio, yang dianggapnya sangat keterlaluan. Menyusul kata-katanya, tinjunya melayang dan telak sekali menghajar hidung si hweeshio.

Ceng-tie sama sekali tidak menduga, bahwa ia akan diserang dengan begitu mendadak. Maka dapat dimengerli, jika ia jadi gelagapan dan jatuh terduduk seketika itu juga. Hidungnya juga berdarah berkelel-ketel.

Setelah hilang kagetnya, hawa amarahnya serentak meluap-luap lagi. Dengan kalap
ia merayap bangun dan lantas saja menerjang Cu An sambil memperdengarkan geraman yang
seram.

Akan tetapi Him Goan Hian masih keburu menarik dan menahan ia. “Sabar dulu, taysu, sabar,”
ujarnya.

Ketika Him Goan Hian sedang coba menyabarkan Ceng-tie, Cu An melompat ke dalam obang galiannya. Setelah mencangkul beberapa kali lagi ia melemparkan alat ini dan mengangkat sebuah kotak besi yang kira-kira empat kaki panjangnya.

Kotak besi ini dibawanya ke atas.

Melihat kotak besi itu, wajah Lauw Goan Ho dan kawan-kawannya berseri kegirangan. Beramai-ramai mereka maju beberapa langkah mendekati To Cu An.

Dalam pada itu Wie Su Tiong telah memikirkan suatu siasat lain. “In Suheng, kau dan Hun Kie
menghajar mereka dengan tok-cui, aku akan coba merebut pusaka itu,” bisiknya kepada In Kiat dan Hun Kie.

“Siapa yang harus kita serang?” tanya In Kiat dengan berbisik juga.

Sebagai jawaban, Wie Su Tiong hanya menunjuk keenam orang di bawah itu tanpa berkata-kata,
jelaslah bahwa maksudnya adalah semua, enam orang itu, tanpa kecuali.

“Alangkah kejamnya,” pikir In Kiat diam-diam.

Tetapi kemudian ia mengangukkan kepalanya tanda persetujuannya dan Tok-cui di kedua tangannya sudah siap untuk dilepaskan. Kemudian ia melirik ke arah Hun Kie. Ia melihat, bahwa pemuda ini tidak pernah mengalihkan pandangan matanya dari To Cu An. Agaknya ia tidak memperdulikan lima orang yang lain.

“Hari ini, kami telah terjebak akal licik, pusaka idam-idaman kalangan bu-lim ini, tentu saja akan kami serahkan dengan kedua tangan, hanya masih ada suatu hal yang aku masih belum mengerti dan mohon diterangkan,” kata Cu An dengan suara lantang.

“Apa lagi yang hendak ditanyakan Siauw Ceecu?” tanya Him Goan Hian sambil melirik.

“Bagaimana kamu dapat mengetahui, bahwa kotak besi ini disimpan di sini dan apakah sebabnya kamu mengetahui, bahwa dalam berapa hari ini kami tentu akan datang menggalinya?”

“Pada upacara pengunduran diri ketua Thian-liong-bun hari itu, banyak sekali yang datang menghadiri perjamuannya. Sebagai menantu keluarga Tian, Siauw Ceecu tentu hadir juga, bukan?” kataHim Goan Hian.

Setelah To Cu An menganggukkan kepalanya ia meneruskan: “Suhengku ini adalah seorang di
antara sekian banyak tamu hari itu, hanya saja Siauw Ceecu usianya masih muda, ketika itu, dan dengan kedudukanmu yang mulia, tentu saja kau tidak melihat kehadiran Lauw Suheng.”

“Mertuaku mengadakan perjamuan untuk sahabat-sahabat, tidak tahunya telah keliru mengundang juga mata-mata musuh,” jawab To Cu An dengan senyuman mengejek.

Kata-kata To Cu An yang menusuk ini tidak membuat Him Goan Hian menjadi naik darah, ia
ini bahkan masih melanjutkan pula pembicaraannya dengan suara lemah lembut. Katanya: “Sekali-kali bukan begitu. Lauw Suheng telah mendengar nama Siauw Ceecu yang sangat tersohor, tentu saja ia menjadi ketarik dan pada hari itu kedua mata Lauw Suheng selalu mengikuti gerak-gerik Siauw Ceecu. Ini semua adalah berkat nama Eng-ma-coan yang sudah tersiar ke mana-mana.”

“Baik! Baik! Memang sudah sepantasnya kotak ini dipersembahkan kepada Lauw tayjin,” kata Cu
An lagi dan ia mengangkat tinggi-tinggi kotak tersebut untuk diangsurkan kepada Lauw Goan Ho.

Tanpa curiga, Lauw Goan Ho hendak menerima kotak itu, ketika secara tak terduga Cu An mendadak telah menjeblakkan tutup kotak itu.

Tiga batang anak panah melesat keluar laksana kilat dan menyambar dada Lauw Goan Ho. Agaknya, dalam jarak sedekat itu, serangan anak panah tersebut sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Akan tetapi Lauw Goan Ho ternyata lihay sekali, dalam keadaan terancam ini ia masih sempat
menarik Ceng-tie Hweeshio ke depannya untuk dijadikan tameng hidup. Kasihan Ceng-tie ini, dengan mengeluarkan teriakan serak jiwanya melayang seketika itu juga. Dua dari tiga batang anak panah itu menancap di tenggorokannya.

Panah ketiga yang jurusannya agak ke samping sedikit lewat di samping tubuh hweeshio sial ini dan tepat sekali mengenai pundak kiri Him Goan Hian. Anak panah itu menancap dalam sekali, lebih separuh ke dalam tubuhnya, dapat dimengerti bahwa lukanya ini tidak enteng.

Kejadian ini lebih-lebih tidak terduga dibandingkan pembokongan atas rombongan Eng-ma-coan oleh Him Goan Hian dan kawan-kawannya tadi.

Rombongan Wie Su Tiong juga tidak kurang kagetnya, bahkan Tian Ceng Bun sampai berteriak.

Begitu mendengar teriakan itu, Lauw Goan Ho yang licik tidak menghiraukan lagi dua musuh she
To itu maupun kawan-kawannya, buru-buru ia meloncat ke belakang sebuah batu besar untuk berlindung dan dari tempatnya ini ia menantikan perkembangan selanjutnya.

“Turun tangan!” terdengar teriakan Wie Su Tiong kepada rombongannya sambil mendahului
melompat maju.

Co Hun Kie segera mengayun tangannya dan tiga batang Tok-cui menyambar ke arah To Cu An yang memang sedari tadi telah diincarnya terus-menerus.

Mungkin sekali Tian Ceng Bun memang sudah dapat menyelami pikiran si pemuda. Maka ketika
ia mengayunkan tangannya, Ceng Bun telah menyenggol pundaknya.

Karena ini tubuh Hun Kie jadi tergoncang dan tiga senjata rahasianya menyeleweng arahnya, sehingga jatuh di atas salju tanpa menemui sasarannya.

“Barang kembali kepada pemiliknya! Kembali kepada pemiliknya!” seru Wie Su Tiong berulang-ulang dan dengan jarinya yang bagaikan cengkeraman garuda ia coba mengorek kedua mata To Cu An, sementara itu tangannya yang sebelah lagi memegang tepi kotak yang diperebutkan.

Pada saat itu In Kiat juga sudah terlibat dalam pertempuran sengit dengan Lauw Goan Ho.

Mereka sudah pernah berjumpa dalam perjamuan Thianliong-bun yang disebut-sebut Him Goan Hian tadi. Mereka sama-sama mengetahui, bahwa lawannyaadalah tokoh kenamaan dalam kalangan Kang-ouw.

Setelah bertempur berapa jurus mereka mengetahui bahwa nama itu bukan hanya nama kosong
dan mereka jadi saling mengagumi.

Dengan pedang terhunus Ciu Hun Yang menyambut Him Goan Hian yang sudah maju juga
menghampiri kalangan pertempuran. Tian Ceng Bun memilih lawan sejenis, yakni The Sam Nio.

Co Hun Kie yang sudah sampai juga bukannya melayani To Pek Swee yang masih menganggur,
tetapi justru menyerang To Cu An dengan pukulan “Pek-hong-koan-jit” (Pelangi putih menembus matahari).

Serangan ini adalah serangan yang sangat hebat dan ganas.

Karena ketika itu tidak memegang senjata, maka To Cu An terpaksa harus melepaskan kotak
besi itu dan meloncat ke belakang. Kemudian ia memungut goloknya dan segera hendak merebut kembali kotak yang sudah terjatuh ke dalam tangan musuh itu.

“Anak durjana, karena temaha akan barang pusaka Thian-liong-bun, kau telah membunuh mertuamu sendiri secara pengecut, secara membokong!”

Demikian, sambil memegang kotak besi itu, Wie Su Tiong memaki dengan sengit.

Tuduhan ini tak dapat diterima To Cu An.

Dengan suara yang tak kalah sengitnya ia membantah:

“Siapa mengatakan, bahwa aku membunuh Gak-hu (mertua laki-laki)!”

Selama itu goloknya tidak pernah mengaso, ia merangsak terus dengan maksud supaya bisa lekas-lekas merebut kembali kotak itu.

Dengan terjatuhnya kotak besi itu ke dalam tangan Wie Su Tiong, sebenarnya To Cu An sudah
harus mengerti, bahwa baginya sudah tidak ada pengharapan lagi untuk dapat merebutnya kembali.

Biarpun Wie Su Tiong tidak bersenjata, tetapi dengan tangan kosong juga ia sudah bukan tandingan To Cu An. Apalagi pada saat itu Co Hun Kie membantu susioknya dari samping dan sekali-kali melancarkan serangan bila saja ada lowongan.

Mendengar tuduhan kepada anaknya itu, To Pek Swee berteriak: “Hai, orang she Wie, Tian cinkee (besan laki-laki) telah menyerahkan kotak ini dengan tangan sendiri kepada anakku. Mungkinkah kau tidak menerima atau mempunyai maksud lain?” kata-katanya ini ditutup dengan mengayunkan cambuk bajanya ke arah kepala Wie Su Tiong.

Dengan sangat mudah Wie Su Tiong dapat mengelakkan serangan ini. Ia melompat pergi dan sampai di samping Tian Ceng Bun. Tanpa mengucapkan sepatah kata ia terus saja hendak mengemplang kepala The Sam Nio dengan kotak besi itu.

The Sam Nio telah menyaksikan sendiri, bagaimana anak-anak panah tadi melesat ke luar dari dalam kotak itu. Ia takut jika kotak itu akan menyemburkan anak panah lagi, maka ia buru-buru berkelit sambil membongkokkan badan.

Di luar dugaannya, serangan itu hanyalah akal Wie Su Tiong saja, supaya Tian Ceng Bun menjadi bebas dan dapat diserahi tugas memegang dan menjaga kotak itu.

“Jaga kotak ini baik-baik, biarlah aku yang melayani musuh,” pesannya kepada si gadis.

Kemudian ia menghampiri lagi To Pek Swee untuk melanjutkan pertempuran yang tertunda tadi.

Kepandaian jago Thian-liong-bun ini ternyata masih lebih tinggi daripada yang Iain-lain. Dengan
cambuknya yang berat dan dengan tenaganya yang kuat, To Pek Swee tidak dapat berbuat banyak terhadap lawan yang bertangan kosong ini, sehingga terus-menerus ia terdesak mundur.

Juga Ciu Hun Yang sudah berada di atas angin.

Karena Him Goan Hian selama ini belum mendapat kesempatan untuk mencabut panah yang menancap di pundaknya, maka setiap kali ia menggunakan tenaga, pundaknya yang terluka ini dirasakan sakit sekali dan ia tak leluasa melawan Hun Yang yang tidak lemah kepandaiannya.

Di antara lawan-lawan kaum Thian-liong-bun ini hanya Lauw Goan Ho saja yang masih dapat
melayani lawannya tanpa terdesak. Agaknya ia memang tandingannya yang setimpal dengan In Kiat.

Sedang mereka sengit sekali bertempur, Tian Ceng Bun lari ke jurusan Barat Laut sambil
membawa kotak besi itu.

Melihat Ceng Bun kabur, To Cu An segera menggertak Co Hun Kie dengan suatu bacokan dahsyat dan ketika lawan ini hendak menangkis, ia menarik kembali serangannya. Sesaat kemudian ia sudah mengejar si gadis dengan mengerahkan seantero tenaganya.

Tindakan To Cu An ini telah membangkitkan amarah Co Hun Kie. Maka pemuda ini pun segera membalikkan tubuh dan mengubar dengan kencang.

Akan tetapi, ketika ia baru mengejar berapa langkah ia telah disambut dengan bacokan golok
oleh The Sam Nio yang telah mencegatnya. Tentu saja Hun Kie jadi sangat mendongkol, apalagi karena melihat Cu An sudah kabur semakin jauh.

Segera ia menyerang dengan serangan-serangan yang lihay dan ganas. Meski kepandaian The Sam Nio masih belum seberapa, tetapi ia telah meyakinkan satu ilmu yang khusus untuk membela diri terhadap musuh yang lebih tangguh, yakni “Tiatbun- coan” (Palang pintu besi) yang mempunyai tiga puluh enam macam gerakan.

Oleh sebab ini, maka Co Hun Kie tidak dapat mengalahkannya cepat-cepat, meskipun dengan tipu-tipu serangan yang sangat lihay.

Dalam pada itu Ceng Bun sudah kabur lebih dari satu li, ia menengok dan melihat To Cu An
sudah tidak berapa jauh di belakangnya. Inilah memang yang diinginkannya dan setelah melewati sebuah bukit, ia berhenti menunggu.

“Untuk apa kau mengejar aku?” tanyanya seakan-akan kurang senang, tetapi wajahnya mencerminkan kegirangan hatinya.

“Ceng-moay, lebih baik kita bersatu melawan kawanan penjahat itu, persoalan kita sendiri, nanti
saja kita selesaikan dengan baik-baik.”

“Siapakah adikmu, mengapa kau membunuh ayahku?”

Demi mendengar teguran ini, To Cu An lantas saja berlutut.

“Thian yang di atas, jika benar aku, To Cu An, telah mencelakakan Tian locianpwee Ciang-bun-jin Thian-liong-bun, biarlah aku kelak mati ditembusi berpuluh ribu batang anak panah dan mayatku dicincang berantakan!” ia bersumpah sambil menunjuk ke atas.

Melihat Cu An berani mengangkat sumpah, Ceng Bun jadi tidak bersangsi lagi dan ia segera
mengulurkan tangannya.

“Baik, ternyata memang bukan kau, sudah sejak semula aku tidak percaya, bahwa kau adalah pembunuhnya, tetapi mereka… mereka…”

Sebelum si gadis dapat menyelesaikan ucapannya, To Cu An sudah melompat bangun dan menggenggam tangannya sambil berkata:

“Ceng-moay…”

Mendadak Cu An menghentikan perkataannya. Ia melihat wajah nona itu mendadak berubah, ia mengerti, bahwa tentu ada orang datang ke jurusan mereka. Buru-buru ia membalikkan badan dan seketika itu ia mendengar bentakan:

“Mengapa kamu berdua bersembunyi di sini?”

Bentakan itu sangat menusuk hati Ceng Bun, sehingga ia ini menjadi sangat gusar dan membalas mendamprat: “Bersembunyi, katamu? Benar? Mulutmu harus dicuci bersih!”

Sementara itu To Cu An juga sudah mengetahui siapa pendatang baru itu ialah Co Hun Kie. Lekas-lekas ia coba memberikan keterangan. “Co Suheng, janganlah kau salah mengerti,” katanya.

Bersabar memang bukan pembawaan Co Hun Kie. Ia, yang berkepala batu, mana mau mendengarkan keterangan orang yang dianggapnya sebagai musuh itu. Dengan mata melotot ia membentak pula: “Salah mengerti apa!”

Bersama dengan diucapkannya perkataan ini ia melancarkan serangan, sehingga To Cu An juga tidak dapat berbuat lain daripada segera mengangkat goloknya untuk menangkis pedang saingannya.

Baru beberapa jurus mereka bertempur, ketika mendadak di antara gemerincing senjata beradu, terdengar tindakan kaki dan sesaat kemudian kelihatan The Sam Nio berlari secepat angin menghampiri mereka.

“Perempuan bangsat, anjing, keparat, kau selalu hendak merintangi saja!” terdengar serentetan
caci Hun Kie yang sudah tak dapat menguasai nafsunya lagi.

Ia benar-benar sebal melihat perempuan itu yang selalu membuntuti dan menghalang-halangi
segala gerak-geriknya. Tanpa membuang-buang tempo lagi, ia menyerang si nyonya.

The Sam Nio tidak diam berpeluk tangan, ia menangkis dan goloknya yang sebelah lagi segera membalas serangan lawan. Pada saat itu, dari jurusan lain golok To Cu An juga sudah melayang ke arahnya dengan gerak tipu “Ciu-liang-hoan-cu”.

Meskipun ia kini harus melawan dua musuh, Hun Kie tidak menjadi gentar karenanya, bahkan
ia menganggap ini sebagai ketika yang baik sekali untuk memamerkan ketangkasannya di hadapan gadis pujaannya, maka ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan bertempur dengan mati-matian.

Ketangkasannya menimbulkan kekaguman di hati To Cu An. “Kiam-hoat bagus!” pujiannya.

Tetapi pada saat yang sama juga ia menyerang selangkangan Co Hun Kie dengan gerakan “Siang-po Liauw-im” sambil setengah berjongkok.

Menurut dugaan The Sam Nio, Co Hun Kie tentu akan mengangkat senjatanya ke atas untuk
menangkis dan penjagaannya di sebelah bawah akan terluang. Sungkan menyia-nyiakan ketika yang baik ini, ia segera membacok dengan kedua-dua goloknya.

Tak pernah ia menyangka, bahwa To Cu An akan berganti siasat secara tiba-tiba sekali. Dengan
gerak tipu “Twe-po Cam-ma-to” dan gerakan pergelangan tangan, goloknya bukan mengenai Co Hun Kie, tetapi sebaliknya melukai paha The Sam Nio,

“Roboh!” bentak Cu An berbareng dengan itu.

Sungguh keji tipu ini dan benar-benar di luar dugaan datangnya serangan ini, sehingga seorang
ahli yang berkepandaian jauh lebih tinggi daripada The Sam Nio, juga tak akan dapat mengelakkan serangan Cu An ini. Maka dapat dimengerti jika The Sam Nio roboh seketika itu juga. Belum puas dengan hasil ini, To Cu An masih memburu maju lagi dan sudah akan menabas leher nyonya celaka ini.

Tetapi pada detik yang sangat berbahaya bagi The Sam Nio itu, mendadak Co Hun Kie menyelak
dan menangkis golok Cu An.

“Kau tidak takut kehilangan muka?” tanya Hun I Kie mengejek.

“Dalam pertempuran tidak ada soal tipu menipu, dalam hal ini aku hanya ingin membantu kau!”
jawab Cu An dengan tertawa.

Sebelum Hun Kie dapat menjawab pula, Lauw Goan Ho, In Kiat, To Pek Swee, Wie Su Tiong dan
yang Iain-lain telah datang semua.

Agaknya mereka semua mempunyai pikiran yang sama. Setelah melihat Tian Ceng Bun kabur sambil menggondol kotak besi itu, mereka serentak kehilangan nafsu bertempur dan segera menyusul beramai-ramai.

“Ayah, Thian-liong-bun adalah sahabat kita, janganlah bertempur lagi dengan Wie susiok!” teriak
To Cu An kepada ayahnya.

Sebelum To Pek Swee menjawab seruan anaknya itu, Co Hun Kie sudah keburu menyelak dan
mengatakan: “Kau telah mencelakakan suhu, tak sudi aku menjadi sahabatmu!”

Tanpa menunggu kata-katanya habis diucapkan, ia sudah melancarkan lagi serangan-serangan bertubi-tubi.

To Cu An belum berjaga-jaga dan ia dibuat kelabakan karenanya.

Dua serangan yang pertama telah ditangkisnya, tetapi serangan yang ketiga hampir-hampir tak dapat dihindarkannya. Meski ia buru-buru mengegos ke kiri, pedang lawan itu masih juga lewat dekat sekali di sisi kanan kepalanya. Sedetik saja terlambat, kepalanya tentu akan tertembus dan otaknya berarakan. Walaupun ia sudah terluput dari bahaya, tetapi saking terkejutnya ia jadi bermandikan keringat dingin dan mukanya menjadi pucat.

Ketika ia hendak membuka suara, mendadak Tian Ceng Bun berteriak: “Ai!”

Bersama dengan terdengarnya teriakan Ceng Bun ini, Cu An melihat sebuah senjata rahasia lewat di samping kepalanya dan sesaat kemudian ia merasakan punggungnya terkena senjata tajam.
Ternyata semua ini adalah gara-gara The Sam Nio. Setelah ia roboh dengan menderita luka, diam-diam ia menunggu kesempatan untuk membalas pembokongan itu. Maka pada saat Cu An mundur dengan gugup karena serangan Hun Kie yang tak diduganya, The Sam Nio segera menggunakan kesempatan ini dengan baik.

Ia meloncat maju sambil membacok kepala si pemuda.

Untungnya Tian Ceng Bun, yang senantiasa memperhatikan gerak-gerik Cu An, telah melihat
datangnya serangan nyonya itu. Dengan kecepatan bagaikan kilat ia menimpukkan sebatang bor beracunnya yang segera menancap di dada kiri The Sam Nio. Karena ini, maka daya serangan goloknya menjadi hilang, sehingga To Cu An jadi terhindar dari maut.

“Perempuan hina yang busuk!” teriak To Cu An dengan kalap sambil memutarkan tubuh. Setelah
mana sebilah goloknya ditimpukkan ke arah dada atau leher pembokongnya barusan.

Karena dekatnya jarak antara kedua orang itu, agaknya The Sam Nio sudah tidak akan dapat terhindar lagi dari kebinasaan tanpa ada seorang yang dapat menolongnya. Tetapi pada saat semua orang sedang menantikan terpanteknya tubuh nyonya itu dengan golok di atas salju, dengan mata membelalak terkesima, mendadak terdengar bunyi seakan-akan siulan panjang dan sesaat kemudian sebutir senjata rahasia yang sangat kecil telah membentur golok Cu An dengan menerbitkan bunyi nyaring. Benturan ini menyebabkan golok itu berubah arah dan menancap di salju dekat pada badan The Sam Nio.

Demi melihat betapa tepatnya senjata rahasia itu mengenai golok pembawa maut itu, meskipun
agaknya telah dilepaskan dari tempat yang agak jauh, semua orang tanpa kecuali menjadi terkejut serta kagum.
Tahulah mereka, bahwa kepandaian orang yang melepaskannya sudah sukar diukur lagi.

Serentak mereka menengok ke jurusan dari mana datangnya senjata rahasia itu. Mereka melihat seorang hweeshio yang kumis maupun jenggotnya sudah putih semua, mendatangi dengan perlahan sambil menenteng tasbih dan berulang-ulang bersabda: “Siancay, siancay.”

Setibanya di tempat itu, si hweeshio lantas saja berjongkok memungut sesuatu yang langsung dirangkaikan pada tasbihnya. Ternyata senjata rahasia tadi adalah sebutir biji tasbih.
Serenceng biji-biji tasbih itu agaknya dibuat dari kayu atau bambu. Bahwa barang itu bukan
barang berat, sudah ternyata karena angin pagi yang tidak kencang itu dapat menyebabkannya terayun.

Maka dapat dibayangkan betapa kuat tenaga jari hweeshio itu yang sudah dapat menyentil sebutir biji tasbih kecil dari jarak berapa puluh tombak untuk membentur golok baja yang berat sehingga terpental.

Sesaat kemudian, dari tercengang, semua orang-orang itu menjadi gentar dan segera berhenti
bertempur. Tanpa mengedipkan mata mereka semua mengawasi si hweeshio tua. Ia ini telah menghampiri The Sam Nio untuk diangkat bangun dan setelah mana ia mencabut bor beracun yang menancap di dada nyonya itu.

Seketika itu, dari luka si nyonya, mengalir darah kehitam-hitaman dan rasa sakit yang sangat hebat menyebabkan nyonya ini segera jatuh pingsan.

Dari sakunya, si hweeshio segera mengeluarkan sebutir pil berwarna merah, yang lantas dimasukkan ke dalam mulut The Sam Nio. Kemudian ia menatap wajah semua orang yang berada di sekitarnya dan berkata:

“Obat ini hanya dapat menghilangkan rasa sakit. Tok liong-cui adalah senjata rahasia istimewa
dari Thian-liong-bun, maka loo-lap (sebutan diri seorang hweeshio) tak berdaya terhadapnya.”

Kemudian,sambil menatap wajah Wie Su Tiong, ia melanjutkan: “Tuan adalah tokoh utama Thianliong-bun. Melihat muka hweeshio, atau kalau tidak,melihat muka sang Buddha, harap Tuan suka berlaku murah hati.” Ucapannya ini ditutup dengan mengangkat tangannya, memberi hormat kepada orang she Wie itu.

Wie Su Tiong dan The Sam Nio belum saling mengenal, di antara mereka juga tidak ada ganjelan atau dendam sakit hati, lagi pula yang meminta adalah si hweeshio tua yang kepandaiannya telah disaksikannya sendiri.

Jika ia tidak bersedia memberikan obatnya, perkembangan selanjutnya mungkin sekali akan tidak menguntungkan dirinya. Ia berpengalaman luas dan dapat melihat gelagat, maka
ketika hweeshio itu memberi hormat ia juga tidak berayal pula membalasnya.

“Jika Taysu yang memerintahkan, tentu saja aku menurut,” katanya.

Ia segera merogoh sakunya dan mengeluarkan dua botol kecil. Dari salah sebuah botol itu ia lalu mengeluarkan sepuluh butir pil berwarna hitam, yang lantas saja dimasukkan ke dalam mulut The Sam Nio. Botol yang lain diangsurkannya kepada Tian Ceng Bun sambil berkata: “Oleskan obat ini pada lukanya.”

Tian Ceng Bun menurut, kotak besi itu diserahkannya kepada susioknya dan ia menerima botol itu untuk kemudian dibubuhkan pada luka The Sam Nio.

“Syukur, syukur, siecu (tuan yang berbudi) berbelas kasihan,” katanya sambil memberi hormat
sekali lagi.

Kemudian ia bertanya: “Sebab apakah Tuan-tuan saling melabrak di sini? Sebenarnya tidak ada soal yang tidak dapat diselesaikan dengan jalan damai, maka loo-lap memberanikan diri untuk
memberikan jasa baik dan mendamaikan Tuan-tuan.”

Mendengar kata-kata si hweeshio ini semua orang jadi saling memandang. Sebagian dari antara
mereka tetap berlaku tenang, tetapi sebagian pula , terutama Co Hun Kie segera menunjukkan
kegusaran.

“Bangsat kecil ini telah membunuh guruku dan mencuri pusaka partai kami, taysu, coba pikirkan
pantas tidaknya, jika ia diharuskan mengganti dengan jiwanya?” teriak Hun Kie sambil menuding To Cu An.

Selama berbicara, ia mengayun-ayunkan pedangnya, sehingga senjata ini menggetar.

“Siapakah gurumu?” tanya si hweeshio.

“Mendiang guruku she Tian dan di masa hidupnya ia menjadi ketua partai kami Cabang Utara.”

“Ah! Kui Long telah mangkat? Sayang, sungguh sayang!” seru hweeshio tua itu terperanjat.

Agaknya ia mengenal Tian Kui Long, bahkan ia seakan-akan menganggap dirinya dari tingkatan lebih tua.

Ketika Tian Ceng Bun, yang baru saja selesai mengobati luka The Sam Nio, mendengar ucapan
si hweeshio, ia segera tampil ke muka sambil menjura dan menangis terisak-isak.

“Aku mohon pertolongan taysu untuk mencarikan pembunuhnya dan membalaskan sakit hati ayahku,” katanya dengan sedih.

Sebelum hweeshio itu dapat menjawab, Co Hun Kie sudah berteriak: “Pembunuh yang mana lagi? Dengan adanya bukti-bukti yang cukup ini, bukankah sudah jelas, bahwa bangsat kecil ini benar-benar pembunuhnya?”

To Cu An menjawab tuduhan ini dengan hanya tertawa dingin. Tetapi, sebaliknya To Pek Swee tak dapat bersabar pula. Dengan hati mendidih ia membentak:

“Berpuluh-puluh tahun aku bersahabat rapat sekali dengan Tian cinkee, dan antara kami ada
hubungan keluarga, mengapa kami harus mencelakakan beliau!”

“Mengapa? Tentu saja untuk mencuri pusaka kami!” bentak Hun Kie lagi.

Tuduhan berat yang terus-menerus dilontarkan Hun Kie ini makin membangkitkan amarah To Pek Swee Dengan dada serasa mau meledak ia melompat ke arah pemuda kepala batu itu dan terus saja menyerangnya.

Sedang Co Hun Kie hendak menangkis serangan cambuk itu, si hweeshio sudah menggerakkan
tasbihnya, yang segera melibat cambuk To Pek Swee.

Gerakan cambuk itu segera terhenti dan ketika, sesaat kemudian, si hweeshio menggerakkan
tasbihnya dengan perlahan ke atas, senjata jago Eng-ma-coan ini terpental kembali dan terlepas dari tangannya. Agaknya hweeshio itu tidak menggunakan banyak tenaga, tetapi gerakannya itu ternyata mengandung tenaga yang dahsyat sekali, sehingga To Pek Swee merasakan tangannya kesemutan dan kesakitan.

Mau tak mau ia harus melepaskan pegangannya sambil melompat ke samping dan cambuknya itu jatuh melesak di salju.

Tadinya semua orang itu berdiri dekat di sekitar si hweeshio, tetapi demi melihat cambuk baja itu melayang kembali dan terlepas dari tangan pemiliknya, serta merta mereka meloncat mundur dan mengawasi hweeshio itu dengan sikap tertegun. Pada saat itu mereka semua berpikir sama.

“Tin-kwan-tang sudah lama terkenal karena tenaganya yang besar sekali, tetapi kini dengan suatu gerakan tasbih yang perlahan, senjatanya telah dibentur terlepas oleh hweeshio ini.”

Tak usah ditanyakan lagi betapa malunya To Pek Swee, mukanya menjadi merah seketika itu juga dan tak lama pula rasa malunya berubah menjadi kegusaran yang meluap-luap.

“Bagus, hweeshio. Tak tahunya kau adalah pernbantu undangan Thian-liong-bun!” teriaknya de-ngan suara bergetar karena marah. Walaupun dicaci dan dituduh terang-terangan di hadapan orang banyak si hweeshio tetap tenang-tenang saja, bahkan senyumnya tidak pernah lenyap dari mulutnya.

“Siecu sudah berusia lanjut, mengapa masih saja berdarah panas. Tidak salah, jika siecu mengatakan loo-lap datang di Tiang-pek-san ini atas undangan orang, hanya, yang mengundang bukannya Thian-liong-bun.”

Mendengar ucapan si hweeshio yang terakhir ini, kedua-dua rombongan Thian-liong-bun maupun
To-sie-hu-cu menjadi terkejut sekali.

“Pantas ia menolong The Sam Nio tadi. Agaknya dia adalah undangan pihak Peng Thong Piauw
Kiok, rasanya kotak pusaka itu sudah sukar dipertahankan lagi,” pikir mereka.

Karena itu, Wie Su Tiong jadi berjaga-jaga. Ia mundur setindak dan Co Hun Kie serta In Kiat
segera meloncat ke samping kiri kanannya untuk bantu melindungi pusaka itu.

Hweeshio itu tidak menghiraukan tindakan mereka,ia seakan-akan tidak melihat apa-apa.

“Di sini tidak ada kayu untuk menyalakan api, juga tidak ada makanan dan minuman, ditambah
lagi dengan hawa dingin yang menusuk ini. Yang mengundang loo-lap, tempat tinggalnya tidak jauh dari sini. Tuan-tuan sekalian adalah sahabat-sahabat loo-lap, maka lebih baik kita bersama-sama menuju tempatnya untuk mengaso. Tuan rumah pasti akan menerima kita dengan segala senang hati.
Bagaimana pendapat Tuan-tuan?” kata-katanya ini diakhiri dengan tertawa terbahak-bahak, sebagai juga ia tidak memikirkan lagi pertempuran sengit antara orang-orang itu tadi.

Karena ini maka kekhawatiran orang-orang itu menjadi reda. Mereka melihat, bahwa roman hweeshio itu mencerminkan welas asih dan sikap maupun lagu suaranya ramah tamah selalu.

“Cianpwee siapakah tuan rumah, yang taysu sebutkan tadi?” tanya In Kiat.

“Tuan rumah itu tidak mengijinkan loo-lap menyebutkan namanya, harap siecu sudi memaafkan.
Loo-lap memang biasa suka mengundang tamu. Siapa saja yang telah diundang, tetapi tidak mau hadir, loo-lap menganggapnya sebagai sengaja tidak mau memberikan muka.”

Di antara sekian orang itu, agaknya Lauw Ooan Ho mempunyai pendapat lain. Ia melihat tingkah
laku hweeshio tua itu agak aneh dan hatinya lantas saja menjadi sangsi…

“Maaf taysu, heekoan (pegawai negeri yang rendah) mohon diri,” katanya. Setelah memberi
hormat ia membalikkan tubuh dan segera hendak berlalu.

“Sungguh beruntung, di tempat pegunungan yang sangat sepi ini masih juga aku dapat berjumpa
dengan pembesar negeri, benar-benar beruntung”, kata hweeshio itu dengan tertawa.

Ia menunggu sampai Lauw Goan Ho sudah berlari berapa lama. Kemudian sekonyong-konyong ia meloncat, mengejar si pembesar.

Jubah pertapaannya yang berwarna kelabu, melambai-lambai di atas salju yang putih itu Larinya
kelihatan tidak berapa cepat, walaupun demikian dalam sekejap saja ia sudah dapat mendahului Lauw Goan Ho.

“Loo-lap mengharap agar tayjin suka memberi muka,” katanya dengan tertawa setelah berhadapan muka dengan Lauw Goan Ho ini. Tanpa menunggu jawaban lagi ia mengulurkan tangannya dan memegang tangan kanan Lauw Goan Ho.

Jago pembesar ini merasakan separoh tubuhnya mendadak linu dan tidak bertenaga karena telah kena dipencet urat nadinya. Seumur hidupnya baru pertama kali ini ia mengalami kejadian serupa itu.

Dalam gugupnya, tanpa berpikir lagi, ia segera mengayun tinju kirinya, menjotos muka si hweeshio.

Sungguh tidak diduganya, bahwa dengan serangannya ini, ia seakan-akan mencari penyakit sendiri. Tadi hweeshio itu memegang tangan Lauw Goan Ho dengan jempol dan telunjuknya. Melihat datangnya serangan, ia segera menggerakkan tangannya itu ke atas berikut tangan Lauw Goan Ho.

Dengan tiga jarinya yang lain ia menyambut tangan Lauw Goan Ho yang datang menyerang itu untuk terus dijepit juga.

Dua-dua tangan Lauw Goan Ho sudah terjepit di dalam genggamannya kini, tangan kanannya masih tetap memainkan rencengan tasbih itu dan dengan perlahan serta berseri-seri ia kembali ke tempat tadi.

Melihat, bagaimana Lauw Goan Ho dipermainkan dan diseret kembali, tentu saja pihak Thianliong-bun dan To-sie-hu-cu menjadi girang sekali.

Tetapi disamping kegirangan itu (karena kini ternyata, bahwa hweeshio itu bukan pembantu undangan Peng Thong Piauw Kiok), mereka juga terkejut, karena kepandaian yang dimiliki si hweeshio belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Ketika itu, dengan masih tetap menyeret Lauw Goan Ho, si hweeshio sudah tiba kembali di antara mereka.

“Lauw tayjin kini sudah menyanggupi akan memberi muka kepadaku, kurasa demikian juga dengan kalian,” katanya sembari memandang mereka semua.

Dengan peristiwa barusan ini sebagai contoh, meskipun semua orang itu bercuriga dan tak rela
turut, tak ada seorang yang berani menolak, mereka semua menginsyafi, bahwa penolakan akan berarti kerugian bagi mereka sendiri, sebagaimana halnya Lauw Goan Ho.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dan tetap saja menyeret Lauw Goan Ho, hweeshio tua itu
segera mendahului berjalan dengan perlahan-lahan.

Tetapi sesaat kemudian, setelah berjalan berapa tindak, ia menoleh dan mengatakan: “Suara
apakah itu?”

Ternyata juga didengarkan dengan penuh perhatian, lapat-lapat dari jurusan lembah tadi, terdengar suara bentakan-bentakan yang terputus-putus.

Agaknya di sana masih berlangsung pertempuran mati-matian. Mendadak Wie Su Tiong teringat akan Ciu Hun Yang.

“Hun Kie lekas pergi membantu Hun Yang,” katanya dengan tergesa-gesa.

“Ah, aku juga telah melupakannya,” jawab Hun Kie yang lantas saja membalikkan tubuhnya dan menuju ke tempat itu, diikuti si hweeshio yang masih tetap belum mau melepaskan Lauw Goan Ho.

Tak usah ditunggu lama-lama, ketika ternyata betapa besarnya perbedaan antara kepandaian Lauw Goan Ho dan hweeshio itu. Walaupun pembesar jagoan ini mengerahkan seantero tenaganya, tak urung ia tak dapat menandingi lari si hweeshio dan ia terus-menerus harus menerima diseret.
Percuma saja ia coba melepaskan pegangan hweeshio itu yang laksana belenggu baja. Makin ia meronta genggaman si hweeshio jadi semakin keras.

Lewat lagi berapa saat Lauw Goan Ho sudah kehabisan tenaga, sebaliknya si hweeshio mempercepat lagi larinya. Karena itu pembesar celaka ini jatuh, tetapi tangannya masih tetap dipegang erat-erat oleh hweeshio itu. Seakan-akan sekerat balok tubuhnya kini diseret di sepanjang jalan bersalju itu.

Tentu saja Lauw Goan Ho menjadi sangat mendongkol serta malu. Ingin sekali ia mengangkat
kakinya dan menendang penyiksanya, tetapi maksudnya ini tetap merupakan angan-angan saja. Tambah lama si hweeshio berlari semakin cepat, sehingga Lauw Goan Ho tak dapat mewujudkan maksudnya itu.

Sementara itu semua orang itu juga mengikuti jejak mereka, maka belum berselang lama mereka beramai-ramai sudah tiba kembali di tempat itu. Suatu pemandangan yang menggelikan segera terlihat mereka, di samping lobang galian To Cu An tadi kelihatan Ciu Hun Yang dan Him Goan Hian sedang bergumul di atas salju. Senjata mereka sudah sama-sama terlepas dan kini mereka menggunakan apa saja yang diberikannya dari alam, yakni tangan, kaki, siku, lutut, kepala dan gigi.

Pertempuran mereka ini sudah tidak ada miripnya lagi dengan pertempuran antara ahli-ahli silat. Mereka saling menyodok, menggigit, menjambak dan menumbuk sekenanya saja.

Menuruti adatnya, Co Hun Kie segera hendak maju dan menusukkan pedangnya ke dalam tubuh Him Goan Hian, tetapi pada saat itu mereka masih terus berguling-guling tidak keruan. Karena ini, Hun Kie menjadi ragu-ragu. Ia khawatir melukakan suteenya sendiri.

Sebaliknya si hweeshio tanpa ragu-ragu melangkah maju dan menjambret tengkuk Ciu Hun Yang. Him Goan Hian yang seakan-akan melekat pada tubuh lawannya turut terangkat.

Pemandangan yang dapat dilihat sekarang benar-benar merupakan puncak kelucuan. Seorang hweeshio tua, dengan tangan kiri masih mengikat kedua tangan Lauw Goan Ho yang masih terduduk di atas salju di sampingnya, mengangkat tinggi-tinggi seorang lain (Ciu Hun Yang) pada tubuh siapa melekat seorang lagi (Him Goan Hian) dan kedua orang ini saling menggigit, menumbuk,menjambak dan saling menyodok, meskipun sudah tidak berada di atas
tanah lagi.

Tak mengherankan, jika si hweeshio jadi tertawa terbahak-bahak. Mungkin juga yang Iain-lain
akan turut tertawa, jika mereka bukan sedang cemas dan bimbang.

Sesaat kemudian tanpa berhenti tertawa, si hweeshio menggoncangkan badan kedua orang yang masih bergulat terus. Seketika itu juga, mereka merasakan kaki tangan mereka kesemutan dan pegangan mereka pada tubuh masing-masing jadi terlepas.

Him Goan Hian terpental pergi sejauh beberapa tombak dan jatuh dengan menerbitkan bunyi bergedebuk yang nyaring. Setelah ini si hwee shio melepaskan Ciu Hun Yang dan Lauw Goan Ho.

Karena sudah terlalu lama tergencet, maka tangan Lauw Goan Ho menjadi kaku dan tak dapat
digerakkan. Di pergelangan tangannya kelihatan bekas yang legok ke dalam dan berwarna merah.

Setelah pengalamannya tadi dan melihat bekas jari yang mengerikan ini, nyalinya menjadi ciut.

Sementara itu si hweeshio sudah berkata: “Mari kita lekas berangkat, mungkin masih keburu turut makan pagi dengan tuan rumah.”

Lagi-lagi semua orang itu saling memandang dengan hati penuh keraguan, tetapi mereka menurut juga.

Sebagai kepala rombongannya dan tanpa memperdulikan lagi adat istiadat antara wanita dan pria, Him Goan Hian segera menggendong The Sam Nio yang menjadi sangat lemah karena terluka parah tadi.

Kecuali mereka, juga To-sie-hu-cu dan Ciu Hun Yang telah terluka dan sampai saat itu luka-luka
mereka masih mengeluarkan darah, maka di atas salju di sepanjang jalan yang mereka lalui, kelihatan bintik-bintik merah.

Berjalan belum berapa li, mereka yang terluka sudah merasa payah sekali, bahkan ada yang sudah tak kuat bertahan lagi.

Agaknya Tian Ceng Bun merasa kasihan melihat penderitaan orang-orang itu, ia mengeluarkan
sepotong baju dari buntalannya untuk kemudian dirobek dijadikan berapa potong kain pembalut,
yang lalu diberikannya kepada Ciu Hun Yang dan To-sie-hu-cu.

Tindakan Ceng Bun ini merupakan duri di mata Co Hun Kie, tetapi sebelum ia dapat mengutarakan kemendongkolannya, Ceng Bun sudah mengedip kepadanya. Biarpun tidak mengerti maksud si gadis, Hun Kie mengurungkan juga maksudnya melontarkan kata-kata yang kurang enak didengarnya, ia hanya mengeluarkan suara mengejek dari lobang hidungnya.

Lewat beberapa li pula mereka harus mendaki sebuah bukit. Lapisan salju di tempat ini lebih tebal dan kaki mereka amblas di dalamnya sebatas lutut.

Perjalanan menjadi luar biasa beratnya, meskipun mereka rata-rata memiliki kepandaian silat yang tidak rendah. Mereka jadi mengeluh dan berpikir:

“Entah masih berapa jauh kita harus berjalan.”

Sepertii juga dapat menebak pikiran mereka, mendadak si hweeshio menunjuk ke puncak gunung yang menjulang tinggi di sebelah depan,

“Sudah dekat, di puncak sana,” katanya.

Semua orang-orang itu menjadi putus asa, karena gunung itu berdiri hampir tegak lurus di permukaan bumi. Meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi melihat curamnya yang luar biasa itu, agaknya bukit tersebut tak mungkin dipanjat biar oleh seekor kera juga, apalagi manusia.

“Seorang yang berkepandaian tinggi sekali mungkin masih akan dapat mendakinya perlahan-lahan dengan mengerahkan seantero tenaganya, tetapi agak mustahil kedengarannya jika ada orang yang mau tinggal di atas puncak itu,” kata mereka di dalam hati yang penuh kesangsian.

Si hweeshio tidak menghiraukan sikap mereka ini dan mendahului berjalan di depan. la pun tidak
berhenti bersenyum.

Setelah melalui dua buah bukit lagi, mereka tiba di tepi rimba pohon cemara. Pohon-pohon siong
(cemara) itu rata-rata sudah tua sekali, yang termuda juga sudah berusia ratusan tahun. Cabang-cabangnya yang lebat dan malang melintang telah menampung sebagian salju yang turun dari langit dan di bawahnya hanya terdapat sedikit salju. Maka perjalanan di dalam rimba itu menjadi lebih mudah.

Rimba itu luas juga, setelah berjalan setengah jam baru mereka tiba di ujungnya yang sebelah sana dan mendapat kenyataan bahwa mereka telah tiba di kaki bukit yang dituju itu.

Dipandang dari dekat puncak tersebut lebih-lebih lagi mematahkan semangat. Biarpun di musim
panas, bukit itu tampaknya hampir tak dapat dipanjat, apalagi di musim dingin itu, sedang salju
beku di seluruh bagian bukit tersebut. Siapa berani coba mendaki, pasti akan terpeleset dan jatuh dengan badan hancur.

Sementara itu angin pegunungan masih juga meniup dengan menerbitkan bunyi-bunyian gemerisik di antara daun-daun dan tangkai-tangkai pohon.

Mereka menggigil, kesatu karena dinginnya dan kedua karena merasa seram. Biar pun mereka
semua sudah kenyang berkelana dan sudah pula mengalami aneka ragam bahaya besar, tetapi suasana di bawah puncak gunung itu tak dapat tidak menerbitkan rasa seram di hati mereka.

Sedang mereka berdiri bengong, si hweeshio sudah mengeluarkan sebuah bumbung untuk melepaskan panah api (serupa mercon arang yang waktu itu lazim dipergunakan sebagai pertandaan di Tiongkok).

Sesaat kemudian, setelah dinyalakan, panah api itu meluncur ke atas dan mengeluarkan asap
kehijau-hijauan yang lama setelah itu baru buyar.

Rombongan orang yang mengikutinya menjadi heran melihat panah api itu dapat naik begitu tinggi dan mengeluarkan asap yang tidak segera menjadi buyar tertiup angin yang saat itu agak santer juga.

Mereka semua mendongak untuk melihat panah api itu mempunyai makna apa. Tak lama kemudian mereka melihat di puncak, jauh di atas, telah muncul suatu titik hitam, yang segera meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa.

Setelah titik hitam itu mencapai tengah lereng, semua orang itu lantas melihat, bahwa titik itu
sebenarnya adalah sebuah keranjang bambu yang diikatkan pada ujung seutas tambang bambu yang kuat. Mengertilah mereka bahwa keranjang itu telah diturunkan untuk menyambut tamu.

Setelah keranjang tersebut turun sampai di depan mereka, hweeshio itu berkata: “Keranjang
ini dapat memuat tiga orang, maka silakan dua tamu wanita ini naik dahulu serta seorang tamu laki-laki.”

Tanpa ragu-ragu Tian Ceng Bun maju dan The Sam Nio dipapahnya masuk ke dalam keranjang.
Sambil melakukan ini ia menimbang-nimbang siapa yang akan dimintanya menyertai mereka naik lebih dulu.

Pikirnya: “Jika aku tidak mengajak Hun Kie atau Cu An turut naik, tentu Hun Kie akan mencari gara-gara lagi dan mereka akan bertempur. Jika Cu An yang kupinta naik bersama-sama, susiok tentu akan merasa kurang senang.”

Maka akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Co Hun Kie saja. “Suheng, mari ikut naik lebih
dulu,” katanya.

Co Hun Kie tidak pernah menduga, bahwa sumoynya akan minta ia menyertai mereka. Sesaat ia seakan-akan kesima, tetapi segera mukanya berubah menjadi berseri-seri dan dengan bangga serta agak mengejek ia memandang Cu An, saingannya.

Dengan langkah lebar ia menghampiri keranjang tersebut dan masuk ke dalamnya. Ia duduk di samping Tian Ceng Bun, segera setelah itu ia menggoyangkan tambang pengerek alat pengangkutan istimewa itu.

Sesaat kemudian terasa bahwa keranjang itu, sudah mulai dikerek ke atas, menuju ke puncak. Ketiga orang itu segera mendapat suatu perasaan tidak enak. Setiap goncangan dirasakan mereka seakan setiap saat mereka akan jatuh. Hati mereka dirasakan ngeri dan telapak kaki mereka terasa kesemutan dan agak geli. Ketika mereka sudah mencapai tinggi setengah lereng, Tian Ceng Bun coba melongok ke bawah dan ia menjadi tercengang sekali. Ternyata orang-orang yang masih ketinggalan seakan-akan boneka-boneka yang belum satu kaki tingginya.

Dipandang dari jauh puncak itu kelihatannya tidak terlalu tinggi, tetapi pada saat itu ia mengerti bahwa sebenar-benarnya bukit itu tinggi sekali, bahkan mungkin sampai ribuan kaki. Karena melongok barusan, Tian Ceng Bun merasakan seperti ia akan jatuh setiap saat dan kepalanya menjadi pusing. Maka setelah itu ia tidak berani melongok lagi dan berduduk diam saja di dalam keranjang.

Akhirnya tibalah mereka di atas puncak. Co Hun Kie mendahului keluar dari keranjang itu,
kemudian ia membantu Ceng Bun memapah The Sam Nio. Ketika kemudian mereka memandang ke sekeliling mereka, tahulah mereka bagaimana keranjang itu telah dikerek tadi. Ternyata di dekat mereka itu terdapat sebuah roda kerekan yang sangat besar dan sepuluh laki-laki tegap kekar melayani alat tersebut.

Sementara itu keranjang tersebut sudah diturunkan pula. Dengan cara ini tak lama kemudian semua orang-orang itu berikut si hweeshio sudah tiba di atas puncak.

Sedang tadi, ketika Co Hun Kie bertiga tiba di situ, dua laki-laki berbaju kelabu yang agaknya menjadi pemimpin sepuluh pekerja itu, bersikap acuh tak acuh, kini setibanya hweeshio tua itu
mereka segera maju sambil menjura dalam-dalam.

“Maaf, meski belum mendapat ijin tuan rumah loo-lap telah lancang mengundang beberapa tamu
lain kemari, harap supaya diteruskan kepadanya,” kata si hweeshio.

“Semua sahabat Po-sie Taysu tentu akan disambut dengan gembira oleh majikan kami,” jawab
salah seorang dari dua penyambut itu, yang setengah tua dan berleher panjang, sambil membongkok memberi hormat lagi.

Semua orang yang telah turut naik itu, baru mengerti bahwa sebutan si hweeshio adalah Po-sie
Taysu. Setelah mengucapkan kata-katanya barusan, laki-laki berleher panjang itu segera memberi hormat juga kepada sekalian tamu itu.

“Berhubung dengan suatu hal yang penting, majikan kami harus pergi mendadak dan tak dapat
menyambut sendiri Tuan-tuan tamu sekalian, maka atas namanya aku kini mohon agar Tuan-tuan suka memaafkannya.”
Sambil membalas pemberian hormat itu semua orang menjadi agak heran. Penyambut ini hanya
mengenakan sepotong baju tipis, meskipun tinggal di puncak bersalju yang terpencil dan sangat dinginnya.

Agaknya ia tidak merasa kedinginan, maka tahulah mereka, bahwa orang itu tentu mempunyai
lweekang yang sangat tinggi. Melihat kenyataan ini mereka jadi mengerti bahwa tuan rumah yang menjadi majikan orang itu, tentu memiliki kepandaian yang sangat sukar diukur lagi.

“Majikanmu tidak di rumah? Dalam saat begini ia masih juga keluar?” tanya Po-sie dengan nada
heran dan kecewa.

“Sudah sejak tujuh hari majikan pergi ke Lengkouw-tha.”

“Leng-kouw-tha?” tanya Po-sie pula. “Untuk apa?

Pegawai itu kelihatan agak ragu-ragu, ia tidak lantas menjawab dan melirik ke,arah Wie Su Tiong
dan kawan-kawannya.

“Katakan saja, jangan khawatir,” kata Po-sie.

“Ya, menurut majikan, musuh yang akan datang itu terlalu lihay, mungkin sekali ia sendiri tak akan bisa menandinginya, maka ia ingin sekali mohon bantuan Kim-bian-hud,” terdengar penjelasan pegawai itu.

Mendengar nama Kim-bian-hud disebut, orang-orang Thian-liong-bun, To-sie-hu-cu dan Him Goan Hian serta kawan-kawan terperanjat semua. Mereka mengetahui bahwa Kim-bian-hud (Buddha bermuka emas) itu adalah seorang “Bu-lim Cianpwee” (Angkatan tua dari kalangan jago-jago silat) dan juga bahwa kalangan Kang-ouw sering menyebutkan ia sebagai ‘Ta-pian-thian-hee-bu-tek-ciu” (menjelajah seluruh dunia tanpa menemukan tandingan) selama dua puluh tahun terakhir itu.

Karena julukan yang kedengarannya temberang ini, entah berapa banyak lawan tangguh yang telah sengaja datang untuk mencoba-coba kepandaiannya. Tetapi kepandaiannya memang sudah sempurna benar-benar. Sampai pada saat itu, tidak perduli dari partai atau golongan apa saja, belum ada yang terluput daripada kekalahan jika berani coba-coba menguji kepandaiannya.

Sudah sepuluh tahun Kim-bian-hud hidup menyendiri dengan sembunyi dan selama itu tidak pernah terdengar berita-berita tentang dirinya, bahkan ada yang mengatakan, bahwa ia telah meninggal, tetapi benar tidaknya berita itu tak ada yang dapat memastikannya. Maka tidak mengherankan, jika orang-orang itu menyangsikan ucapan si pelayan.

Di samping sangsi mereka juga terkejut bukan main dan nyali mereka menjadi ciut seketika itu
juga. Semua orang mengetahui bahwa Kim-bian-hud sudah terlalu tangguh untuk dilawan, selain itu
mereka pun sudah tahu, bahwa ia itu sangat membenci kejahatan, meskipun yang kecil juga. Siapa saja yang melakukan sesuatu yang tidak pantas, asal berita tentang perbuatannya sampai di telinga Kimbian-hud, yang berbuat itu tidak akan terhindar dari bencana. Masih terbilang beruntung, jika penyeleweng itu hanya dipatahkan sebelah tangannya atau kakinya.

Justru semua orang yang mengikut Po-sie naik ke puncak itu, sedikit maupun banyak, telah berbuat dosa. Karena semua itu, mereka menganggap Kimbian-hud sebagai malaikat elmaut saja dan hati mereka berdebar-debar keras.

Sebaliknya, Po-sie bersenyum demi mendengar cerita pelayan itu.

“Majikanmu berhati-hatinya agak berlebihan saja. Berapa lihaynya “Swat San Hui Ho” (Rase Terbang di gunung salju) itu, sehingga ia menganggap perlu minta bantuan seorang jago yang tiada bandingannya?”

“Memang sebenarnya, dengan adanya taysu membantu kami, kami sudah pasti berada di pihak yang lebih unggul, tetapi mengingat betapa lihaynya dan cerdiknya si Rase Terbang itu, menurut majikan tiada jeleknya, jika kita tambah seorang pembantu lagi,” jawab si pegawai.

Setelah ini ia menghantarkan tamu-tamu itu ke sebuah gedung yang besar dan di kiri kanannya
terdapat paviliun terdiri dari lima kamar berderet-deret. Genteng maupun seluruh halaman rumah itu, tertutup salju, memberikan pemandangan yang khas.

Mereka semua dibawanya ke sebuah ruang duduk yang luas (thia), yang dihiasi sepasang tui-lian (syair berpasangan) ukiran di atas papan. Arti tui-lian itu lebih kurang sebagai berikut:

‘Bila menghadapi bahaya maut, berjuang dengan pedang yang panjangnya tiga kaki. Ribuan tail emas didatangkan dengan hanya sekali membentak’

Nada maupun gaya tulisan syair itu dengan jelas sekali membawakan sifat-sifat gagah seorang pendekar. Di muka syair tersebut, dengan huruf-huruf yang lebih kecil, telah diukirkan juga kata-kata: ‘Untuk mengabadikan Sat Kauw Jin Heng’

Di belakang kata terakhir syair tersebut terdapat huruf-huruf: ‘orat-coret Ta-pian-thian-hee-bu-tek-ciu Kimbian-hud di waktu mabuk.’

Semua huruf-huruf itu diukirkan dengan tandas dan agak kasar, terang sekali dikerjakan dengan
sebilah pedang atau golok.

Seluruh rombongan tamu-tamu itu sangat tercengang membaca sepasang syair itu. Mereka tak
mengerti, mengapa tuan rumah itu disebut “Sat Kauw Jin Heng” (saudara yang berbudi, si jagal
anjing) dan mengapa Kim-bian-hud berani berlaku begitu kurang ajar.

Dengan masih tetap diliputi keheranan tamu-tamu itu kemudian dipersilahkan duduk dan minum teh dengan dilayani kedua pegawai tadi.

Agaknya Po-sie Taysu kurang senang terhadap tulisan Kim-bian-hud itu dan sesaat kemudian ia
berkata: “Tui-lian itu memang sesuai dengan kedudukan majikanmu, tetapi dengan embel-embel
tambahan gelarnya itu, Kim-bian-hud agaknya terlalu temberang dan hendak menonjolkan diri di atas tuan rumah.”

“Taysu keliru, majikanku sangat menghormati dan mengagumi Kim-bian-hud dan ia justru merasa sayang, bahwa karena sempitnya papan itu, tak dapat ditambahkan lagi empat huruf: “Sedari dulu sehingga sekarang” di atas gelar Kim-bian-hud itu.”

Mendengar penjelasan pegawai berleher panjang ini, agaknya Po-sie Taysu bahkan semakin
penasaran dan dengan nada mengejek ia berkata:

“Jadi kalau lengkap seharusnya: Sedari dulu sehingga sekarang menjelajah seluruh dunia tanpa menemukan tandingan. Di negeri sang Buddha (India) kebetulan terdapat seorang iblis dari agama liar yang menyebutkan dirinya: ‘Di atas langit maupun di bumi, akulah rajanya.’ Ia dan Kim-bian-hud benar-benar merupakan pasangan yang setimpal.”

Ucapan Po-sie yang mengandung sindiran ini sangat menggelikan Co Hun Kie yang lantas saja
tertawa terbahak-bahak. Melihat kelakuannya ini, kawan si leher panjang menjadi kurang senang.

Dengan mata melotot ia memandang Co Hun Kie.

“Harap tuan tamu ini suka berlaku lebih sopan sedikit!”

“Apa?” tanya Hun Kie yang menjadi bingung karena teguran itu.

“Mungkin tuan sendiri yang akan rugi, jika Kim-bian-hud mengetahui, bahwa tuan telah mentertawakan dirinya,” kata kawan si leher panjang lagi.

Kata-kata ini bukannya membikin Hun Kie takut dan mundur teratur, sebaliknya ia bahkan
menjadi semakin kepala batu.

“Ilmu silat belum pernah ada batasnya, di luar langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai lagi. Meski bagaimana Kim-bian-hud juga hanya seorang manusia yang jadinya dari darah dan daging, maka biarpun ia masih sepuluh kali lebih pandai lagi, tak dapat ia disebut tiada tandingannya,” bantahnya.

Si pegawai masih tetap pada pendiriannya, katanya: “Mungkin aku yang rendah dan berpengetahuan sempit memang keliru, tetapi jika majikanku mengatakan demikian tentunya sudah tidak salah lagi.”

Walaupun kata-katanya selalu merendah dan menghormat, tetapi dari sikapnya sudah jelas bahwa ia tidak menghormati Hun Kie. Tentu saja pemuda yang aseran ini menjadi mendongkol dan di dalam hatinya ia berkata: “Jelek-jelek aku juga seorang ketua partai yang kenamaan, tak mungkin aku mandah dikurang-ajari seorang hamba yang rendah.”

Dalam penasarannya ia berkata pula: “Kalau begitu di dunia ini, kecuali Kim-bian-hud, majikanmu sudah tiada tandingannya juga.”

“Mana berani kami mengatakan demikian,” jawab si pegawai sambil menepuk sandaran kursi Hun Kie dengan perlahan.

Meski tepukan itu perlahan, Hun Kie merasakan kursinya tergoncang dan seketika itu tubuhnya
terpental ke atas. Pada saat itu Hun Kie justru sedang memegang secangkir air teh, karena terpentalnya cangkir itu jadi terlepas. Agaknya cangkir itu akan segera jatuh hancur di lantai, tetapi dengan gerakan secepat kilat, pegawai itu masih keburu menangkapnya di saat cangkir tersebut hampir menyentuh lantai. Berbareng dengan gerakannya ini mulutnya mengeluarkan kata-kata: “Harap tuan tamu berhati-hati.”

Karena malu dan gusarnya muka Hun Kie segera berubah menjadi merah padam dan tanpa
memperdulikan sindiran pegawai itu ia berpaling ke jurusan lain, sedang si pegawai dengan tenang meletakkan cangkir itu di atas meja.

Po-sie Taysu bersikap seakan-akan ia tidak melihat apa yang telah terjadi di depan matanya itu.

Ia melanjutkan percakapannya dengan si leher panjang dan bertanya: “Kecuali tiga saudara seperguruannya, Kim-bian-hud dan loo-lap, majikanmu minta bantuan siapa lagi?”

“Sebelum berangkat, majikan telah berpesan, bahwa Hian-beng-cu dari Ceng-cong-pay, Lengceng Kie-su dari Kun-lun-san dan Chio loo-kun-su dari Hoo-lam Thay-kek-bun akan datang dalam berapa hari ini dan kami di sini harus menyambut mereka dengan baik. Sekarang ternyata bahwa taysu telah datang paling dahulu, yang menandakan, betapa besar setia kawan taysu. Majikan pasti akan sangat berterima kasih karenanya.”

Po-sie agak kecewa mendengar penjelasan si leher panjang ini. Tadinya ia mengira, bahwa dengan kedatangannya segala urusan-betapa sulit juga-akan dapat diselesaikan. Sama sekali ia tidak menduga, bahwa tuan rumah akan mengundang juga sekian banyak tokoh-tokoh kenamaan, yang meskipun tidak semuanya telah bertemu dengannya nama-namanya telah dikenalnya semua. Agaknya tuan rumah itu kurang percaya akan kesanggupannya, ditambah pula dengan kenyataan, bahwa kedatangannya tidak disambut sendiri oleh si tuan rumah atau salah seorang saudara seperguruannya, karena tidak ada yang ditinggalkan untuk menyambut, maka di dalam hatinya ia mengatakan, bahwa, jika ia tahu akan begini jadinya, ia lebih baik tidak datang saja. Jauh-jauh ia sudah memerlukan datang untuk membantu, tidak tahunya ia kini harus mengalami perlakuan yang kurang hormat ini.

“Kim-bian-hud bersahabat rapat dengan majikanmu. Untuk mengundangnya, sudah cukup, jika ia pergi sendiri saja, mengapa Ma dan Lie dua saudara seperguruannya harus ikut juga?” tanyanya lebih lanjut.

“Bukan begitu, taysu, kedua tuan Ma dan Lie itu justru pergi ke Pakkhia untuk menyambut Hoan
Pangcu dari Hin Han Kay-pang.”

“Hoan Pangcu juga diundang?” tanya Po-sie yang menjadi agak terkejut, mendengar disebutkannya nama itu. “Sebenarnya, berapa banyak kawan-kawan si Rase Terbang yang akan datang menyatroni?”

“Kabarnya ia hanya seorang diri, tidak berkawan”

Tanya jawab itu telah menarik perhatian Wie Su Tiong, In Kiat, To Pek Swee dan yang Iain-lain.
Pengalaman mereka sudah cukup banyak. Mengingat, bagaimana tuan rumah itu mengumpulkan begitu banyak tokoh-tokoh ternama, sedang si Rase Terbang hanya seorang diri saja, mereka jadi beranggapan, bahwa tuan rumah itu sengaja hendak mengadakan keramaian, atau mungkin juga mempunyai maksud lain lagi. Betapa lihay juga lawan itu, umpama Hian-beng-cu dan Leng-ceng Kie-su berdua masih belum dapat menandinginya, jika mendapat bantuan tenaga seorang lagi saja, tentu sudah akan cukup untuk menjatuhkan lawan itu.

Mengapa tuan rumah itu sampai harus mengundang Kim-bian-hud dan Hoan Pangcu? Bukankah itu agak terlalu berlebih-lebihan saja?

Berbeda dengan mereka semua, Lauw Goan Ho menjadi terkejut, ketika mendengar disebutkannya nama Hoan Pangcu.

Kay-pang (partai pengemis) selalu memusuhi pemerintah Boan dan sebulan sebelumnya kaisar
Kian-liong telah memerintahkan delapan belas jago-jago utama dari keraton menangkap pemimpin pengemis itu. Akhirnya dengan suatu tipu muslihat yang licin, Hoan Pangcu dijebloskan ke dalam penjara.

Lauw Goan Ho adalah salah seorang dari delapan belas jago keraton itu. Karena peristiwa itu sangat dirahasiakan, maka orang luar hampir tiada yang mengetahuinya. Pikir Lauw Goan Ho: “Mengapa orang she Lie dan orang she Ma itu tidak langsung menuju ke markas partai pengemis di Tay-tong, di propinsi Shoa-say? Mereka justru pergi ke Pak-khia (Peking). Mungkinkah mereka sudah mengetahui ditangkapnya? Tetapi, jika sudah tahu, mengapa mereka masih mau mengundangnya lagi untuk turut membantu menghadapi si Rase Terbang?

Sementara berpikir begitu, mukanya lantas saja turut berubah. Po-sie Taysu melihat perubahan
mukanya itu dan lantas menegurnya. “Apakah Lauw tayjin mengenal orang itu?”

“Tidak, boan-seng (yang muda) hanya pernah mendengar nama Hoan Pangcu yang terkenal sebagai jago terkemuka di daerah Utara dan pernah memukul mati seekor harimau dengan tangannya.”

Agaknya Po-sie Taysu kurang percaya kepada keterangan berpura-pura itu, tetapi ia hanya bersenyum sedikit dan selanjutnya tidak menggubris lagi orang she Lauw itu, sebaliknya ia berpaling kepada si pegawai berleher panjang dan menanya agi: “Bagaimanakah si Rase Terbang itu dan apakah sebenarnya yang menjadi sebab permusuhannya dengan majikanmu?”

“Hamba tidak tahu. Majikan tidak pernah menceritakannya dan hamba tidak berani menanya.”

Sementara itu pelayan-pelayan sebawahan si leher panjang telah menyediakan makanan dan arak. Meski tempat itu berada di puncak gunung yang begitu sukar dicapai tetapi ternyata mereka
dapat menyediakan makanan yang enak dan arak yang baik untuk para tamu itu, yang sama sekali tidak menduga akan dapat menikmati hidangan sedemikian.

“Karena merasa berterima kasih kepada Tuan- tuan yang sudah memerlukan datang berkunjung,
maka nyonya telah menyuruh kami mempersilahkan Tuan-tuan minum berapa cawan lebih banyak,” ujar si leher panjang.

Walaupun berada di sekitar meja perjamuan, tetapi Co Hun Kie dan To Cu An masih saja saling
memandang dengan mata membelalak dan Ciu Hun Yang maupun Him Goan Hian juga masih saling memandang sambil menggosok-gosok kepalan. To Pek Swee yang duduk berhadapan dengan The Sam Nio pun ingin sekali melabrak nyonya itu dan sebaliknya si nyonya pun memandangnya dengan mata melotot.

Dari antara tamu-tamu itu hanya Po-sie Taysu yang terus berbicara dan tertawa-tawa, sambil terus pula makan minum sepuas-puasnya. Agaknya ia tidak pantang makan daging, meskipun ia seorang hweeshio.

Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang menyuguhkan “man-thauw” (semacam bakpauw tetapi tidak ada isinya) yang masih panas.

Karena memang sudah merasa lapar sedari tadinya, maka semua tamu-tamu itu menyambutnya dengan gembira. Ketika mereka mengulurkan tangan hendak mengambil makanan itu, mendadak terdengar bunyi seakan-akan peluit bercampur dengan bunyi mendesis dan segera terlihat sebatang panah api membubung tinggi di angkasa. Di antara asapnya yang tertinggal di belakangnya, samar-samar dapat dilihat sesuatu yang seakan-akan melukiskan seekor Rase Terbang.

“Swat San Hui Ho!” teriak Po-sie Taysu sambil melonjak bangun demi melihat lukisan di antara
asap tadi. Mendengar teriakan ini yang Iain-lain semua menjadi pucat.

Dalam pada itu si leher panjang segera menghampiri hweeshio itu dan sambil memberi hormat
ia berkata: “Majikan belum pulang, sebaliknya musuh sudah datang, maka terpaksa harus taysu yang memegang pimpinan di sini, harap taysu jangan menolak.”

“Jangan takut, ada aku di sini, biarlah ia naik ke mari,” jawab Po-sie tanpa berpikir.

Agaknya si leher panjang masih ragu-ragu. Sesaat kemudian, sambil menjura lagi, ia berkata: “Ada sesuatu yang hamba tak berani mengutarakannya kepada taysu.”

Dengan suara lantang Po-sie menjawab: “Katakan saja!”

“Karena curamnya lereng puncak ini, si Rase tak akan mampu naik kemari. Maka harap taysu
suka turun ke bawah dan memberitahukan kepadanya, bahwa majikan belum pulang.”

“Kerek saja ia naik kemari. Biar aku yang menghadapinya.”

“Justru yang hamba khawatirkan adalah jika ia naik kemari, sehingga nyonya majikan akan menjadi terkejut karenanya. Jika sampai kejadian demikian hamba tak ada muka lagi untuk berjumpa dengan majikan.”

Sikap ragu-ragu si pegawai ini tentu saja membangkitkan kemendongkolan Po-sie. Ia mendapat
kesan bahwa kesanggupannya disangsikan orang dan perasaannya jadi tersinggung.

“Kau khawatir, jika aku akan tak sanggup melayani si Rase Terbang?” tanyanya.

“Mana hamba berani.” Sambil mengucapkan kata-kata ini si leher panjang memberi hormat sekali
lagi.

“Nah, maka biarkan dia datang kemari.”

Karena terpaksa, maka si leher panjang menurut, tetapi secara diam-diam ia memberi kisikan
kepada kawannya. Mungkin ia berpesan agar dilakukan sesuatu untuk melindungi nyonya majikan mereka.

Melihat kelakuan orang itu, Po-sie bersenyum dingin tetapi ia tinggal diam saja. Sesaat kemudian ia memerintahkan agar meja perjamuan tersebut disingkirkan dan para tamu itu diaturnya sepanjang dinding ruangan tersebut.

Tak lama kemudian-sebelum mereka selesai minum-terdengar teriakan seseorang melaporkan: “Tamu sudah datang!” dan berbareng dengan itu, kedua belah daun pintu depan segera terpentang.

Semua orang yang berada di dalam ruangan itu, berhenti minum dan memandang keluar, segera
juga mereka jadi kecewa, karena yang masuk hanya dua anak tanggung yang berjalan berjajar.
Kedua kacung itu sama tingginya, usia mereka lebih kurang dua belas atau tiga belas tahun. Kedua-duanya mengenakan pakaian dari kulit tiauw yang putih. Dua kuncir kecil yang diikat dengan pita merah, berdiri tegak di atas kepala mereka dan di punggung masing-masing terdapat sebatang pedang.

Dua-dua, mereka beroman sangat cakap dan alis maupun mata mereka seakan-akan lukisan saja.
Selain segala itu, wajah mereka seakan-akan pinang dibelah dua saja, sedikit pun tiada perbedaannya.

Hanya, jika yang di sebelah kanan menggendong pedangnya agak ke kanan sedikit, sebaliknya yang di sebelah kiri membawa pedangnya pada pundak kirinya, sedang tangannya menggenggam sebuah kotak.

Pemandangan agak ganjil ini yang benar-benar di luar dugaan mereka semua, tak dapat tidak
membangkitkan keheranan mereka. Ketika dua anak itu sudah datang cukup dekat, mereka melihat, bahwa di ujung kuncir masing-masing terdapat sebutir mutiara yang kecil tetapi putih bersih dan berkeredep.

Him Goan Hian adalah seorang Piauw-thauw (pemimpin) suatu Piauw Kiok ternama sedang To
Pek Swee adalah orang yang telah kenyang makan asam garam dalam kalangan Rimba Hijau (Perampok).

Maka tak mengherankan, jika mereka lebih mengenal benda mustika daripada kawan-kawan mereka. Segera mereka mengetahui, bahwa dua butir mutiara di ujung kuncir dua kacung itu adalah barang yang sangat langka dan hati mereka serentak tergoncang.

“Dua butir mutiara itu saja sudah tak terkira harganya, ditambah pula dengan baju kulit tiauw
mereka yang putih seluruhnya tanpa ada sedikit juga cacadnya, sungguh-sungguh bukan pakaian yang umum. Bahkan anak-anak orang kaya atau anak-anak orang berpangkat sekalipun belum tentu dapat berpakaian seperti mereka,” pikir orang ini.

Dalam pada itu, dua anak itu sudah segera menghampiri Po-sie Taysu yang duduk di tengah, dan memberi hormat kepadanya. Setelah selesai melakukan peradatan ini, si anak yang di sebelah kiri segera mengangsurkan kotaknya.

Si leher panjang menggantikan tuan rumah menyambut kotak tersebut, untuk segera dibawa
menghadap kepada Po-sie. Setelah dibuka, ternyata kotak itu tidak berisi apa-apa lagi kecuali
secarik surat yang artinya lebih kurang sedemikian: “Boan-seng, Ouw Hui yang akan menerima pengajaran sesuatu, menetapkan, agar pertandingan di puncak yang bersalju ini, diadakan tepat tengah hari ini.’

Tulisan surat itu sungguh bagus dan dari gayanya dapat dilihat, bahwa penulisnya sudah terlatih
sekali menggunakan gaya “tio” (salah satu model tulisan Tionghoa).

“Ah, ternyata julukannya “Hui Ho” adalah hanya kebalikan namanya “Ouw Hui” saja, (jika dieja
dalam bahasa Kuo Yu),” pikir Po-sie setelah membaca tulisan itu.

Kepada kedua kacung itu ia bertanya: “Apakah majikanmu sudah datang?”

“Majikan muda pasti akan datang tepat pada waktu yang dijanjikan, hanya karena khawatir, jika
majikan rumah ini akan menunggu-nunggu terlalu lama, maka kami telah diperintahkan membawa kabar kemari,” jawab si kacung yang di sebelah kanan dengan suaranya yang masih kekanak-kanakan.

“Apakah kamu saudara kembar?” tanya Po-sie pula. Agaknya ia tertarik pada kedua anak itu.

“Benar,” kata kacung itu dan ia segera memberi hormat pula untuk kemudian berbalik, berdua dengan saudaranya hendak meninggalkan ruangan itu.
Tetapi sebelum mereka melangkah keluar si leher panjang telah coba menahan mereka.

“Saudara-saudara kecil, silakan makan dulu berapa potong kue, kemudian baru berangkat,” katanya dengan maksud baik.

“Banyak-banyak terima kasih, toako sebelum mendapat perkenan majikan, kami tak berani tinggal lama-lama di sini,” jawab si bocah pula.

Tian Ceng Bun juga sangat ketarik kepada dua bocah itu, ia meraup segenggaman buah-buahan
dan mengangsurkannya kepada mereka. “Makanlah sedikit buah-buahan segar ini,” katanya.

Sekali ini mereka tidak menolak, bocah yang di sebelah kiri menyambuti pemberian itu sambil
mengucapkan terima masih dengan tertawa.

Sebaliknya kejadian ini telah membangkitkan rasa kurang senang Co Hun Kie. Ia memang suka
cemburu dan adatnya memang pemarah. Sikap mengasih yang diperlihatkan Tian Ceng Bun tadi,walaupun terhadap dua anak kecil, telah menyebabkan ia naik darah. Segera ia mencari gara-gara.

Katanya: “Hm, anak sekecil itu menggendong-gendong pedang. Apakah kamu mengerti Kiam-sut
(Ilmu silat dengan pedang)?”

Mendengar kata-katanya yang mengejek, kedua kacung itu menjadi heran. Dengan sikap bingung mereka memandang Co Hun Kie. Kemudian dengan berbareng mereka menjawab:

“Kami tidak bisa.”

“Kalau tidak bisa, mengapa berlagak membawa-bawa pedang! Tinggalkan pedangmu!” bentak Co Hun Kie. Tanpa menunggu jawaban pula ia mengulurkan tangannya dan membetot dua pedang itu dari punggung bocah-bocah itu.

Tindakan Hun Kie ini sangat cepat dan sama sekali tidak diduga. Maka sebelum dua anak itu
mengetahui apa yang sedang terjadi, mata semua orang di sekitar situ telah disilaukan dua kelebatan sinar yang keluar dari pedang kedua bocah itu. Dua batang pedang itu telah berada di tangan Co Hun Kie.

Karena hasil yang sangat mudah ini Hun Kie menjadi kegirangan dan tertawa-tawa. Berbareng
dengan tertawanya ia mengoceh: “Ha-ha, kamu hanya…”

Tetapi sebelum ia dapat mengucapkan lebih daripada tiga kata ini, kedua anak itu telah melompat ke depannya dan segera mencekik leher Hun Kie, yang selalu berada di sebelah kiri menggunakan tangan kirinya sedang saudaranya menggunakan tangan kanannya.

Co Hun Kie sudah berdaya sedapat-dapatnya untuk meloloskan diri, tetapi sebelum ia menyadari apa yang akan diperbuat kedua bocah itu, kedua kakinya telah terangkat naik, disapu dari kiri kanan oleh dua bocah itu dengan berbareng. Tubuhnya yang besar berat segera terpelanting di lantai dengan menerbitkan bunyi yang nyaring juga.

Gerakan Hun Kie merebut pedang itu sudah sangat cepat, tetapi robohnya dibanting ini terlebih
cepat pula. Semua yang berada di situ jadi melongo dan sebelum keheranan mereka hilang, dua bocah itu sudah menubruk lagi untuk merebut kembali pedang mereka.

Hun Kie tentu saja tak mau menyerah mentah-mentah.

Tadi ia dapat dirobohkan dengan mudah saja, karena ia sama sekali belum bersiap sedia. Tetapi setelah terpelanting ia segera menekankan tangannya pada lantai dan dengan cara itu ia meloncat bangun. Kedua tangannya yang masih belum mau melepaskan dua bilah pedang itu diacungkannya tegak ke atas agar dua anak itu tidak merebut kembali senjata-senjata itu.

Sangkanya ia akan dapat mengingusi anak-anak itu dengan cara ini. Tetapi sesaat kemudian jelas, bahwa ia kembali salah menghitung. Sekali lagi, entah bagaimana, kedua kacung itu telah dapat mencekik lehernya dan setelah tubuhnya ditarik serta kakinya disapu dari kiri kanan, sekali lagi ia terpelanting, bahkan sekali ini lebih keras daripada yang pertama.

Ketika ia pertama kali dirobohkan, masih boleh dianggap, bahwa robohnya hanya karena belum bersiap sedia, tetapi setelah dirobohkan untuk kedua kalinya, bahkan secara lebih cepat dan keras, tak dapat disangkal pula bahwa robohnya benar-benar karena serangan anak-anak itu yang sangat aneh dan cepat bagaikan kilat.

Meski bagaimana, Co Hun Kie adalah pemimpin Thian-liong-bun, disamping itu usianya masih
muda dan tenaganya sedang kuat-kuatnya. Jika ia berdiri tegak dua-dua bocah itu tak akan lebih tinggi dadanya. Bahwa ia telah dirobohkan mereka sehingga dua kali berturut-turut, adalah suatu peristiwa yang sangat memalukan baginya, apalagi terjadinya justru dimuka orang banyak.
Mengingat ini, ia menjadi gusar dan memang sesuai dengan adatnya, nafsu membunuhnya segera berkobar. Sedang badannya masih menempel di lantai, ia lalu menggerakkan pedang yang di tangan kirinya miring ke bawah sedang tangan kanannya mengayunkan pedang ke arah bocah-bocah itu.

Nyata sekali, bahwa maksudnya adalah membunuh kedua anak itu yang sebenarnya tidak berdosa.
Melihat serangannya ini, Tian Ceng Bun terperanjat sekali. Ia ini tahu bahwa dalam kalapnya, Co
Hun Kie telah menggunakan salah satu serangan yang terlihay dari ilmu pedang Thian-liong-bun.

Kiranya serangan “Jie Long Than Shoa” (Jie Long memikul gunung) ini sudah pasti tak akan dapat dihindarkan kedua anak itu. Karena menyangka demikian maka, terdorong rasa kasihan kepada anak-anak itu, ia berteriak: “Suheng, janganlah berlaku kejam!”

Ketika terdengar teriakan Tian Ceng Bun, Co Hun Kie sudah tak dapat menarik kembali serangannya. Meskipun biasanya ia suka menurut kata sumoaynya, tetapi sekali ini ia tidak mendengarnya, apalagi karena ia juga membelokkan arah serangan bermaksud memberikan sedikit tanda di dada kedua anak itu.

Tetapi di luar dugaan semua orang, bocah yang berada di sebelah kiri itu sudah menyelusup ke
bawah ketiak kanannya dan kacung yang berada di sebelah kanan menyerobot ke sebelah kirinya.

Setelah serangannya ini gagal, Co Hun Kie berniat mengulangi serangannya, tetapi, apa mau
dikata, sebelum ia sempat menarik kembali pedangnya, dua sosok bayangan mendadak telah berkelebat di sampingnya. Agaknya dua bocah itu sudah menyerangnya lagi. Terpaksa dan dengan terburu-buru Co Hun Kie melontarkan dua batang pedang itu dan kedua tangannya didorongnya di depan untuk menolak dua anak itu sambil membentak: “Pergi!”

Dua kali ia telah diselomoti anak-anak itu, maka kali ini ia tidak mau mengambil risiko lagi.
Dorongannya ini telah dilakukannya dengan mengerahkan seantero tenaganya. Jika dua anak itu
terkena, sedikitnya mereka akan terluka.

Ternyata perhitungan Co Hun Kie meleset lagi. Mendadak, entah dengan cara apa dua bocah itu
lenyap dari depannya. Sesaat kemudian di belakangnya terdengar tertawa cekikikan. Buru-buru Hun Kie berbalik tetapi hanya untuk melihat, bagaimana dua anak itu secepat kilat menyelusup
lagi di bawah kedua ketiaknya. Sebelum Hun Kie sempat melakukan sesuatu, tengkuknya sudah kena diketok dua kali masing-masing anak itu sekali.

Kemudian dua-dua anak itu merangkul lehernya.

Ia mengenal bahaya, sekarang. Sebisa-bisanya ia berusaha menyelamatkan diri. Ia coba mengelakkan bahaya dengan melengakkan badannya ke belakang agar anak-anak itu terpental dilontarkan tenaga gerakannya itu.

Lagi-lagi ia kecele. Baru saja ia mulai bergerak, dua anak itu sudah segera melepaskan rangkulan pada lehernya. Ia jadi sangat terperanjat, karena ia tahu bahwa bahaya yang dihadapinya menjadi semakin besar. Sedapat mungkin ia menahan badannya yang sudah digerakkan ke belakang itu.

Pada saat itu, dua-dua kacung itu telah menggerakkan kaki mereka lagi untuk menyapu kaki Hun Kie, yang segera terangkat naik ke depan. Sambil berteriak-teriak mencaci dua anak itu, Co Hun Kie roboh untuk ketiga kalinya. Kali ini lebih keras pula dibandingkan dengan yang terdulu, karena memang bagian tubuh atasnya sedang digentakkannya sendiri ke belakang sedang kakinya di saat itu juga disepak ke depan oleh dua bocah itu.

Demikian keras jatuhnya kali ini, sehingga tulang- tulangnya seakan-akan terlepas berantakan
rasanya. Seketika itu ia berdaya untuk bangun kembali, tetapi ia sudah tak punya tenaga lagi, dengan merintih kesakitan ia terlentang kembali di atas lantai. Melihat keadaan suhengnya yang demikian menyedihkan itu, Ciu Hun Yang buru-buru menghampiri dan memapahnya bangun, hingga Co Hun Kie tidak usah terlentang lama-lama di lantai, menjadi tontonan yang sangat memalukan Thianliong- bun.

Kesempatan ini telah digunakan kedua bocah itu untuk memungut pedang mereka. Peristiwa ini ternyata belum akan berakhir sampai di situ saja, dalam malu dan gusarnya Hun Kie menjadi nekat. Dengan wajah muram menyeramkan, dengan mata merah melotot, ia mencabut pedangnya sendiri dan tanpa mengucapkan “ba” atau “bu” dengan tipu silat Pek-hong-koan-jit, ia menikam bocah yang di sebelah kiri.

Pada saat itu Ciu Hun Yang juga menghunus pedangnya. Ia telah melihat, bagaimana berulang-ulang suhengnya telah dipermainkan kedua bocah itu, sehingga tubuhnya penuh tanda-tanda matang biru. Ia mengerti bahwa dua bocah itu, meski masih kanak-kanak, memang sangat lihay dan sukar dilawan. Apalagi seperti tadi mereka berdua mengerubuti Hun Kie seorang. Maka jika ia kini turut maju untuk membantu suhengnya melayani mereka, rasanya ia tidak melanggar aturan.

Segera, setelah menghunus pedangnya, Hun Yang menyerang bocah yang kanan. Melihat datangnya lawan baru ini, si bocah yang kiri mengisyaratkan sesuatu kepada saudaranya dan dengan bersama-sama mereka menangkis serangan dua orang lawan mereka.

Setelah menghalau serangan-serangan lawan itu, mereka melompat mundur berapa tindak dan berteriaklah si bocah sebelah kiri: “Taysu, kami hanya diperintah menyampaikan surat oleh majikan kami, apakah dosa kami terhadap dua tuan itu, sehingga mereka mendesak kami dengan semau-maunya saja?”

“Mereka hanya ingin menguji-uji kepandaian kamu berdua, sama sekali tiada maksud jahat mereka.
Coba-coba kamu menemani mereka berlatih,” kata Po-sie dengan bersenyum.

“Kalau begitu, silakan Tuan-tuan memberi petunjuk,” kata si bocah sebelah kiri.

Sesaat kemudian mereka sudah bertempur dengan serunya.

Semua pegawai dalam rumah itu telah dating semua. Mereka telah mendengar, bahwa dua bocah pembawa surat itu telah bergebrak dengan salah seorang tamu dan mereka jadi kepingin tahu. Beramai-ramai mereka telah datang ke ruangan tamu dan berkerumun di bawah cim-che untuk menonton keramaian itu.

Si bocah yang sebelah kiri memegang pedangnya di tangan kiri, sedang saudaranya memegang
pedangnya di tangan kanan. Mereka menyerang atau mengelakkan serangan lawan dengan berbareng dengan gerakan-gerakan seakan-akan mereka adalah dua raga yang sejiwa saja.

Serangan-serangan mereka selalu berantai dan datangnya bertubi-tubi, agaknya seperti juga mereka telah berlatih menggunakan pedang sedari masih bayi. Kerja sama antara mereka sedemikian rapinya, sehingga kelihatannya mereka itu adalah “dwi tunggal” yang tak dapat dipisahkan satu dari yang lain.

Sebaliknya dua suheng-tee murid Thian-liongbun itu juga melayani mereka dengan penuh semangat.
Benar-benar seru mereka bertempur. Setelah sekian lama masih juga belum berhasil. Co Hun Kie maupun Ciu Hun Yang menjadi gemas dan menyerang dengan lebih ganas pula. Sebentar saja mereka bertempur beberapa puluh jurus, tetapi Hun Kie dan Hun Yang masih belum juga bisa menarik keuntungan.

Wie Su Tiong tidak sabar. Disamping itu ia pun menjadi khawatir. Ia melihat bahwa ilmu dua anak itu adalah ilmu pedang Tat Mo Kiam-hoat pelajaran Siauw-lim-pay yang tiada keanehannya.

Hanya dua anak itu yang memainkannya secara aneh sekali.

Jika yang satu menyerang yang lain menjaganya. Dengan demikian yang menyerang itu tidak usah khawatir akan dibokong, sedang saudaranya yang menjaga tidak perlu buru-buru menyerang. Karena itu perhatian mereka tidak usah dibagi-bagi dan sesuatu gerakan mereka jadi sangat leluasa.

Wie Su Tiong menaksir, bahwa ia masih dapat merebut senjata kedua anak itu. Ditambah lagi
dengan kenyataan, bahwa dua sutitnya sudah tidak berdaya, sehingga mungkin sekali tidak lama lagi, nama partai Thian-liong-bun akan runtuh.

Dua soal itu telah mendorongnya untuk segera bertindak.

Sambil membentak, ia memerintahkan kepada Hun Kie dan Hun Yang supaya lekas mundur dan ia sendiri yang akan melayani dua anak itu.

Dua orang muda itu, yang memang sedang kewalahan, tentu saja menjadi sangat girang, mendengar teriakan susiok mereka dan sambil mengiakan, mereka akan melompat mundur.

Tetapi maksud mereka ini tak dapat dilaksanakan, karena tepat pada saat itu, dua lawan kecil
itu sudah datang menyerang pula, bahkan dengan gerakan-gerakan yang iebih cepat dari sebelumnya.

Bertubi-tubi datangnya serangan anak-anak itu, silih berganti mereka menyerang, deras bagaikan hujan lebat. Dengan sendirinya Hun Kie dan Hun Yang harus mengangkat senjata pula untuk membela diri. Dengan demikian mereka jadi terlibat lagi dalam pertempuran yang tidak menguntungkan mereka.

Makin lama, keadaan kedua murid Thianliong-bun ini menjadi semakin mengenaskan. Terengah-
engah mereka dipaksa bertempur terus oleh serangan-serangan dua bocah itu, yang tiada sudahnya.

Tian Ceng Bun juga turut menjadi khawatir melihat keadaan kedua suhengnya. Pikirnya: “Biarlah, aku yang akan membebaskan kedua suheng agar kemudian Wie susiok yang melayani dua anak itu. Wie susiok lebih berpengalaman dan tidak seceroboh Co Suheng. Kurasa ia tentu akan berhasil.”

Ia segera mencabut pedangnya dan maju ke dalam kalangan pertempuran sambil berseru: “Jiewi Suheng, silakan mundur!”

Ia tiba di antara mereka, tepat pada saat Hun Kie sedang didesak dengan hebat sekali oleh kacung yang serba kiri itu. Tanpa berpikir panjang-panjang ia mengangkat pedangnya dan menangkis serangan si anak. Tak pernah diduganya, bahwa serangan bocah itu dapat berubah arah dengan sangat cepatnya.

Serangan terhadap Hun Kie tadi, setelah ditangkis olehnya, justru jadi berbalik mengarah
pundak kirinya. Mau tak mau ia harus menangkis pula dan sesaat kemudian sudah jelas, bahwa bukannya ia berhasil membebaskan dua suhengnya, bahkan dia sendiri jadi terlibat dalam pertempuran itu tanpa mampu menyingkir lagi.

Setelah lewat beberapa waktu lagi, Hun Kie jadi semakin penasaran. la tak mengerti, mengapa mereka sebagai murid-murid Thian-liong-bun yang sangat kenamaan, bertiga masih tidak mampu menundukkan dua anak kecil. la menganggap soal itu sebagai hal yang akan menghapus pamor Thianliong-bun, jika sampai tersiar di luar. Dengan adanya anggapan ini, darahnya semakin mendidih dalam tidak berdayanya.

Sementara itu si bocah yang serba kanan melihat saudaranya harus melayani dua orang lawan
dan keadaannya sudah tidak seleluasa tadi. Serentak ia membelokkan senjatanya dan menyerang Hun Kie. Tepat pada saat Hun Kie berputar untuk menghadapi anak ini si bocah yang serba kiri sudah meloncat ke arah Ciu Hun Yang dan menyerangnya tanpa membuang-buang waktu. Gerakan mereka yang sangat lincah dan sedap dipandang itu mendatangkan pujian orang banyak disertai tepuk tangan riuh. Dua anak itu kini sudah bertukar siasat dan menghadapi tiga lawan itu dengan bersatu.

Sesaat kemudian kelihatan bahwa mereka berada di atas angin lagi. Agaknya In Kiat juga sudah mengerti, bahwa soal ini setiap saal dapat menjadi sebab kehancuran nama partainya, maka ia segera menganjurkan kepada Wie Su Tiong supaya segera maju sendiri.

Wie Su Tiong pun sepaham dengan In Kiat. Ia mengangguk dan setelah meringkaskan pakaiannya ia segera lompat ke dalam gelanggang pergumulan itu.

“Biarlah aku melayani mereka bermain-main!” serunya dengan maksud supaya tiga-tiga keponakan murid itu akan segera mengundurkan diri.

Pertama-tama ia menyerang jalan darah “Kiekut-hiat” si anak serba kanan dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya berusaha merebut pedang anak itu.

Para penonton yang menyaksikan betapa cepat gerakan Wie Su Tiong itu, jadi khawatir untuk
keselamatan anak itu. Akan tetapi sesaat kemudian ternyata, bahwa kekhawatiran mereka tidak berdasar sama sekali. Dengan mengeluarkan sinar berkilau- kilau, pedang si bocah, sekonyong-konyong sudah berada di dekat punggung Wie Su Tiong.

Inilah suatu kejadian yang sama sekali tidak diduganya. Bocah yang serba kiri ini terang-terang
sedang melayani Hun Yang dengan asyik sekali, maka ia tidak menyangka, jika bocah itu akan dapat berbalik menyerang dirinya dengan sangat tiba-tiba sedemikian. Ia baru sadar setelah mendengar teriakan Ceng Bun: “Awas, susiok, awas!”

Untung bagi Wie Su Tiong, bahwa peringatan ini datang tidak terlambat, sehingga ia masih sempat menyingkir dari bahaya. Tetapi tidak urung leher bajunya masih terbeset robek dengan mengeluarkan bunyi memberebet.

“Harap tuan suka berhati-hati,” kata si bocah serba kiri sebagai memberi nasehat. Agaknya ia
telah sengaja tidak mau melukai orang tua itu.

Pengalaman ini tentu saja menyebabkan wajah Su Tiong menjadi merah seketika dan selanjutnya ia berlaku lebih tenang serta lebih berwaspada.

Berdasarkan pengalamannya yang luas ia melayani lawan kecil itu dengan tenang dan hati-hati. Tak berani ia sembarang menyerang lagi. Dengan “Toa-kim-na-ciu (ilmu menangkap dengan tangan kosong) ia menantikan kesempatan untuk merampas pedang si bocah.

Kepandaian Wie Su Tiong tidak sama dengan anggota-anggota Thian-liong-bun yang lain. Ilmu
silatnya dengan tangan kosong sudah dilatih puluhan tahun dan sangat dimalui orang. Maka benar-benar sukar dipercaya, meski ditambah tenaganya seorang lagi, mereka berempat masih belum dapat mengatasi dua anak kecil.

Kesempatan yang dinanti-natikannya tidak kunjung tiba.

Karena melihat kenyataan ini. In Kiat jadi mulai menimbang-nimbang untuk turun tangan juga. Pikirnya: “Cabang Selatan dan Cabang Utara berasal satu juga, maka selalu harus saling bantu membantu dalam menghadapi kesulitan. Runtuhnya pamor Cabang Utara berarti juga runtuhnya nama Cabang Selatan, biarlah kelak dikatakan orang bahwa kita merebut kemenangan dengan mengandalkan pamor Thian-liong-bun sebagai keseluruhan.”

Segera juga ia sudah maju, menyerang si bocah sebelah kiri dengan tipu serangan “Hui-seng-kionggwat”(Bintang sapu menerjang bulan) yang ditujukan ke arah dada si anak.

Demi pedang In Kiat berkelebat mengancam saudaranya, si bocah yang sebelah kanan berseru: “Aha, bagus, bagus, kau juga turut!” bersama dengan seruannya ia segera berbalik menyerang pergelangan tangan In Kiat dengan pedangnya.

Serangan bocah itu membuat In Kiat berpikir: “Cara kerja sama dua bocah ini benar-benar sempurna dan tak ada bandingannya.”

Untuk mengelakkan tusukan anak itu, In Kiat menurunkan tangannya sedikit, tetapi karena gerakannya ini, serangannya terhadap si bocah di sebelah kiri juga menjadi gagal.

Ruangan tamu itu, kini sudah menjadi gelanggang pertempuran yang seru antara dua batang
pedang melawan empat batang pedang dan sepasang tangan kosong yang menerbitkan angin menderu-deru. Sudah sekian puluh jurus mereka bertempur, tetapi keadaan tetap tidak berubah, keseimbangan kekuatan antara kedua belah pihak masih tetap sebagai semula.

Agaknya tangan To Cu An menjadi gatal juga, lebih-lebih ketika melihat, bahwa muka Tian Ceng
Bun sudah berwarna merah dan penuh keringat yang berulang-ulang sudah harus disusutnya. Nyata sekali, bahwa ia sudah sangat lelah.

Tak dapat To Cu An menahan sabar lagi. “Cengmoay, mengasolah dulu, biar aku yang menggantikan kau!” serunya sambil menerjunkan diri ke dalam medan pertempuran.

Turut sertanya ini membangkitkan amarah Co Hun Kie yang meski berada dalam bahaya, tak dapat menyingkirkan rasa cemburunya. Dengan mata melotot ia membentak: “Tak usah kau bermuka-muka!”

Pada saat itu juga ia mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan bocah yang di sebelah
kanan, tetapi berbareng dengan itu pula, tinjunya melayang ke arah hidung To Cu An.

Melihat sikap saingannya yang sangat dogol ini, To Cu An jadi tertawa geli dan ia menyingkir ke samping untuk kemudian memutar ke belakang bocah yang serba kiri. Meski sudah terluka, tetapi berkat ilmu goloknya yang bagus, ia dapat juga bertempur dengan tidak kurang tangkasnya.

Tetapi, sebaliknya, ilmu pedang kedua bocah itu juga luar biasa sekali, semakin banyak musuh
yang datang mengeroyok, semakin hebat pula daya tempur mereka, seakan-akan mereka mempunyai tenaga simpanan yang tak kunjung habis dan keluarnya sedikit demi sedikit mengimbangi tambahan tenaga pihak lawan.

Keadaan To Cu An setelah menerjunkan diri dalam pertempuran itu sangat tidak menggirangkan.
Disamping harus menahan serangan-serangan dahsyat dari kedua lawan kecil itu, ia masih harus
pula memperhatikan Co Hun Kie yang kadang-kadang mendadak menyerang, bila saja ada kesempatan.
Demi untuk menjaga keselamatan puteranya, To Pek Swee bertindak maju, mendekati kalangan
pertempuran. Cambuk bajanya disiapkan untuk turun tangan setiap saat.

Sesaat kemudian, di antara hujan senjata itu, Co Hun Kie menyerang To Cu An lagi. To Pek Swee yang memang sudah berjaga-jaga, tentu saja terus turun tangan. Cambuknya segera melayang, menangkis serangan Hun Kie kepada puteranya itu dan sesaat kemudian ia melancarkan serangan pembalasan terhadap Co Hun Kie.

Para penonton yang tidak mengerti persoalan mereka, menjadi bingung. Mereka tak mengerti
mengapa yang sedang bertempur telah menyerang orang yang datang membantu pihaknya untuk kemudian berbalik diserang oleh seorang lain lagi, yang maju paling akhir ini. Tak dapat mereka membedakan siapa – di dalam pertempuran gaduh itu -akan menyerang siapa atau siapa berkawan dengan siapa.

Tetapi di antara para penonton itu terdapat seorang yang perhatiannya bukan dipusatkan pada
pertunjukan gaduh itu. Orang itu adalah Him Goan Hian yang matanya selalu masih mengincar kotak besi yang diperebutkan di lembah tadi. Ia telah melihat jelas bagaimana, ketika akan menceburkan diri ke dalam pertarungan itu, Wie Su Tiong telah menyesapkan kotak tersebut ke dalam bajunya.

Melihat keadaan pertempuran yang sudah menjadi kacau itu, ia segera memperoleh suatu akal
licik. Menurut perhitungannya ia akan dapat mengail di air keruh, menarik keuntungan dari
kekacauan pertempuran itu. Rencananya adalah untuk segera turut serta dalam pertempuran itu dan mencari kesempatan untuk merebut kotak besi yang diincarnya sekalian membalas dendam kepada ayah dan anak she To itu. Sambil meloncat maju ia berteriak kepada suhengnya: “Lauw Suheng, mari kita mengambil bagian dalam keramaian ini!”

Sedari kecil Lauw Goan Ho sudah bergaul dengan suteenya ini, maka maksud tersembunyi
dalam teriakan suteenya, segera dimengertinya. Tanpa menunggu sampai dianjurkan untuk kedua kalinya, ia segera mengangkat senjata dan menyerbu ke tengah pergumulan itu. Dua orang suheng dan sutee ini sedikit demi sedikit berkisar ke dekat Wie Su Tiong.

Berbeda dengan lawan-Iawannya yang masing-masing mengandung maksud licik sendiri-sendiri,
dua bocah itu berhati tulus dan tak bersyak wasangka sama sekali. Sangka mereka, dua orang itu memang ingin turut mengerubuti mereka. Maka demi melihat dua orang itu masuk, mereka mendahului menyerang dengan serentak.

Di antara orang-orang Thian-liong-bun, Tian Ceng Bun berotak paling cerdas, ia melihat bahwa
Lauw Goan Ho dan Him Goan Hian terus-menerus mengincar susioknya, meskipun mereka sedang sibuk sekali melayani serangan-serangan dua bocah itu. Seketika itu juga ia sudah dapat menebak tujuan mereka. Tanpa ayal lagi ia memperingatkan susioknya: “Wie susiok, awas kotak besimu!”

Dalam pada itu Wie Su Tiong memang sedang was-was. Seantero kepandaiannya sudah dikeluarkannya semua, tetapi ia tetap tidak berhasil. Dua bocah itu tetap tidak dapat ditundukkan.

Pada saat itu mendadak ia mendengar teriakan Tian Ceng Bun. Hatinya jadi semakin tidak tenteram dan ia berpikir: “Hari ini, kami sembilan orang tak dapat mcngalahkan dua orang anak kecil. Terang kita sudah kehilangan muka. Jika harus pula kehilangan kotak besi ini, benar-benar kita bernasib malang.”

Dalam sedetik ia berpikir demikian itu, ia telah berlaku lengah dan sesaat kemudian ia merasakan datangnya sambaran angin tajam. Ternyata pada saat itu, setelah menghalau pedang Co Hun Kie dan Ciu Hun Yang berdua si bocah yang selalu berada di sebelah kiri itu, telah membelokkan pedangnya untuk membacok ke arah mukanya.

Karena mendongkol dan penasaran ditambah lagi hatinya sudah semakin gelisah, maka ia akhirnya menjadi kalap dan hati kejamnya sudah segera menguasai alam pikirannya lagi. Sambil mengegos, ia menghunus pedangnya dan di dalam hatinya ia berkata: “Apa boleh buat, sudah terlanjur harus kehilangan muka!”

Di antara sembilan orang itu, kepandaian Su Tiong adalah yang tertinggi, setelah ia mencabut
senjatanya, maka segera terdengar bunyi nyaring karena beradunya beberapa senjata dan senjata-senjata To-sie-hu-cu, Lauw Goan Ho dan Him Goan Hian sudah dibenturnya terpental semua.

Dalam saat yang sama, In Kiat mundur ke belakang sedikit sambil menjaga diri rapat-rapat.
Dengan mundurnya yang Iain-lain, maka Wie Su Tiong jadi dapat bergerak dengan leluasa dan
semangatnya terbangun seketika. Dengan suatu gerakan yang sangat tangkas ia segera menyerang kepala si bocah yang di sebelah kanan.

Serangan ini datangnya sangat cepat lagi mendadak dan justru pada saat itu si bocah sedang
menahan gaitan Lauw Goan Ho, sehingga agaknya tak mungkin ia akan dapat membalikkan pedangnya untuk menangkis serangan Wie Su Tiong. Ternyata si bocah juga menginsyafi hal ini dan ia segera menurunkan tubuhnya sedikit untuk mengelit serangan dari samping itu. Agaknya gerakannya itu agak terlambat, meskipun ia tidak sampai terlukakan tetapi mutiara yang menghiasai kuncirnya telah terbelah menjadi dua.

Seketika itu muka dua bocah kembar itu telah berubah dan bocah yang di sebelah kanan itu berteriak: “Koko!” Hampir-hampir ia menangis.

Tian Ceng Bun tak dapat menyetujui perbuatan susioknya ini. Menurut anggapannya, tiada gunanya susiok itu menghina seorang anak kecil seperti bocah itu.

Tetapi sebelum ia dapat berpikir Iebih Ianjut, mendadak kelihatan sepasang sinar putih menyilaukan telah menyambar pergi datang disertai dengan bunyi-bunyi nyaring karena beradunya beberapa senjata. Ternyata beradunya beberapa senjata.

Ternyata senjata-senjata Him Goan Hian dan Lauw Goan Ho sudah kutung ditabas kedua bocah itu, yang kini melancarkan serangan-serangan secepat kilat dari kiri kanan.

Kedua orang itu tak kepalang kagetnya dan segera meloncat mundur. Pada saat itu semua orang
itu melihat, bahwa masing-masing bocah itu sudah bertambah memegang sebilah belati yang mengeluarkan sinar berkeredep menyilaukan.

“Selesaikan perhitunganmu dengannya!” teriak bocah yang serba kiri itu kepada adiknya.

Sementara itu ia tidak menghentikan gerakannya dan segera sudah terdengar lagi beberapa bunyi nyaring karena patahnya senjata. Dua bilah belati (atau lebih tepat: dua bilah pedang pendek) kedua bocah itu ternyata adalah senjata-senjata mustika yang dapat memotong aneka macam logam seperti memotong tanah liat.

Dalam gerakan mundurnya Co Hun Kie telah bergerak agak lambat dan iga kirinya masih tergores pedang pendek anak yang serba kiri itu. Juga ikat pinggangnya turut terpotong dan sarung pedangnya jatuh di lantai dengan menerbitkan bunyi nyaring.

Di sebelah sana, si bocah yang serba kiri sedang menerjang Wie Su Tiong dengan pedang panjangnya di tangan kanan dan pedang pendeknya di tangan kiri. Dengan menggunakan dua macam senjata, serangan-serangan masing-masing tangan itu juga berbeda dan ditambah lagi dengan kegusarannya, dapat dimengerti, jika anak itu telah membuat Wie Su Tiong sibuk sekali.

Dengan hati terkejut lagi gusar Wie Su Tiong mendapat kenyataan, bahwa dengan pengalamannya yang luas, ia masih tidak dapat mengenali ilmu silat si anak. Selain itu ia pun tidak berani mengadu pedangnya dengan pedang pendek lawannya, maka ia terus-menerus terdesak mundur.

Sebaliknya anak itu sudah tidak memperhatikan lagi musuh-musuh lain dan segala daya
upayanya dipusatkan kepada keinginannya merobohkan Wie Su Tiong semata-mata. Kakaknya–si bocah yang serba kiri – menjaga dari belakang, mereka melayani musuh-musuh mereka dengan saling menempel punggung.

Sesaat kemudian, juga cambuk baja To Pek Swee sudah tertabas kutung sebagian. Segera musuh-musuh itu sudah tidak berani datang lagi terlalu dekat kepada mereka, beberapa orang itu hanya berani berputar-putar di sekeliling kalangan pertempuran sambil kadang-kadang menyerang dari jauh saja.
Yang paling cemas hatinya adalah In Kiat, Hun Kie, Hun Yang dan Ceng Bun berempat. Tanpa
dapat berbuat sesuatu untuk menolong Wie Su Tiong, mereka harus menyaksikan, bagaimana tokoh Thian-liong-bun itu terdesak sedemikian rupa, sehingga benar-benar mati kutu. Pada saat itu ia sudah tak dapat mundur lagi, punggungnya sudah menempel di tembok, sedang kawan-kawan separtainya tak dapat menembusi rintangan si kacung yang kiri.

Diam-diam Po-sie Taysu juga sangat terheran-heran melihat permainan pedang dua anak itu. Di awal pertempuran, ketika hanya melayani Hun Kie seorang, kepandaian dua anak itu kelihatan
biasa saja, tidak ada keistimewaannya. Tetapi setiap kali pihak musuh mendapat tambahan tenaga seorang, daya tempur kedua bocah itu pun bertambah sesuai dengan jumlah musuh mereka. Pada saat itu dengan ditambah sebilah pedang pendek di masing-masing tangan mereka, keadaan sudah segera berubah secara mcnyolok sekali. Agaknya sembilan orang dewasa itu sudah tidak dapat mengimbangi lagi ketangkasan mereka.

Pada suatu saat, secara tiba-tiba si bocah yang kiri memperhebat serangannya dan demi pedangnya berkelebat dengan gerakan-gerakan secepat kilat segera senjata-senjata Lauw Goan Ho dan To Cu An sudah menjadi semakin pendek, terpapas kutung sebagian lagi.

Di antara delapan orang yang sedang dihadapi anak yang kiri itu, hanya Tian Ceng Bun yang masih memegang senjata utuh. Terang sekali, bahwa bocah-bocah itu tidak mau membuat ia malu, karena mereka berterima kasih kepadanya untuk kebaikannya tadi.

Sebaliknya keadaan Wie Su Tiong sudah semakin menyedihkan. Dengan punggung menempel pada dinding dan dengan susah payah ia coba bertahan sekuat tenaganya. Pada suatu saat ketika pedang lawannya datang mengancam lagi ia menangkis dengan gerak tipu “Hoay-tiong-pau-goat” (Memeluk sang bulan di dalam pangkuan).

Dengan gerakan ini ia mencoba menyampok dan menekan pedang lawan ke bawah, sesuai dengan ajaran ilmu silat pada umumnya, yakni bila serangan musuh datang dari atas tangkisan juga harus dilakukan dengan gerakan dari atas ke bawah untuk menindih senjata lawan. Tetapi pada saat itu, diluar sangkaannya, mendadak ia merasakan seakan-akan pedangnya bertambah berat berpuluh-puluh kali. Ternyata justru pedangnya yang seketika itu telah tertindih senjata si anak.

Walaupun keadaan ini seharusnya sangat mengejutkan, tetapi Wie Su Tiong telah menjadi gembira karenanya. Ia beranggapan, bahwa betapa bagus juga ilmu pedang si bocah tak nanti anak sekecil itu akan dapat menandinginya dalam hal adu tenaga.

Serentak ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menggempur tenaga lawan kecil itu. Lagi-lagi perhitungannya meleset, berbeda dengan sangkaannya si bocah mendadak saja menarik kembali pedangnya dan menabas dengan pedang pendeknya. Sesaat itu Wie Su Tiong merasakan pedangnya mendadak menjadi enteng dan ternyata senjata itu hanya tinggal sepotong.

Pada saat itu ia benar-benar terkejut dan tanpa berpikir panjang ia segera menimpukkan sisa senjatanya itu ke muka musuhnya. Dengan mudah saja anak itu dapat mengelakkan timpukannya, bahkan secepat kilat, si anak sudah melancarkan serangan-serangan lagi dengan pedang panjangnya dari kiri kanan, sehingga Wie Su Tiong jadi terkurung rapat di antara sinar pedang yang tiada hentinya menyambar-nyambar dari segala penjuru. Wie Su Tiong menjadi ketakutan setengah mati, mukanya pucat lesi dan keringatnya berketel-ketel turun membasahi badannya.

Melihat keadaan Wie Su Tiong yang sungguh berbahaya itu, serentak In Kiat, Co Hun Kie dan
Ciu Hun Yang menghamburkan senjata-senjata rahasia.

Tetapi si bocah yang kiri, yang melindungi adiknya, meloncat secepat angin dan dengan menggerakkan tangannya berapa kali, ia sudah menangkap semua bor beracun, senjata rahasia istimewa Thian-Iiong-bun, yang sangat dibanggakan orang-orang partai tersebut. Ternyata di bawah pegangan pedang pendeknya, terdapat sebuah jaring kecil untuk menampung senjata rahasia yang datang menyerang.

Meskipun sudah tidak bersenjata lagi, Wie Su Tiong masih cukup tangkas dan untuk sementara ia masih dapat berkelit dari serangan-serangan yang datangnya bertubi-tubi dan deras laksana hujan itu.

Tetapi untuk melakukan serangan balasan ia sudah tak mampu lagi. Pula, mengetahui betapa tajamnya senjata lawan kecil itu, ia jadi tidak berani berlaku sembrono.

Di antara angin senjatanya yang menderu-deru terdengar si bocah berteriak: “Gantikan mutiaraku! Gantikan mutiaraku!”

Dapat dimengerti bahwa Wie Su Tiong seratus, bahkan seribu kali lebih suka menggantikan mutiara bocah itu. Tetapi apa mau dikata, mutiara ia tak punya lagipula ia sudah terlanjur kehilangan muka karena kekalahannya ini.

Pada saat itu Po-sie Taysu mengerti, bahwa jika pertempuran itu tidak dihentikan tidak lama lagi akan tiba saatnya Wie Su Tiong akan jatuh sebagai korban belati si anak.

Di luar kemauannya, hweeshio tua itu menjadi bingung juga. Wie Su Tiong adalah tamu yang telah diundangnya naik ke atas gunung itu, maka tak dapat ia membiarkannya dihina seorang budak musuh.

Dinilai dari ilmu silat yang sampai saat itu diperlihatkan kedua bocah itu, ia mengetahui, bahwa ia sendiri masih dapat mengatasi keadaan. Tetapi sebaliknya, ia telah menyaksikan, bagaimana dua anak itu setiap kali kekuatan lawan mereka bertambah, juga turut bertambah tenaga sesuai dengan kebutuhan. Maka ia menjadi ragu-ragu dan tak berani segera turun tangan. Ia khawatir, jika ia akan tak mampu menandingi anak-anak itu, yang batas-batas kepandaiannya tak dapat ditaksir. Andaikata ia maju dan menderita kekalahan, di mana ia harus menempatkan mukanya?

Sementara Po-sie memikirkan persoalan itu, tanpa dapat mengambil keputusan, keadaan Wie Su
Tiong sudah jadi semakin payah. Bajunya sudah robat-rabit, mukanya penuh darah dan keringat,
dada dan lengannya sudah penuh dengan luka-luka bekas tergores senjata si anak.

Dalam putus asanya, sudah beberapa kali Wie Su Tiong hampir meratap mohon diampuni, tetapi
selalu ia masih mengingat kedudukannya sebagai tokoh terutama dalam partainya dan terus menahan penderitaannya. Sebaliknya si bocah pun tiada hentinya berteriak minta mutiaranya diganti.

Agaknya si leher panjang tak dapat membiarkan keadaan itu berlangsung terus.

Katanya kepada Po-sie: “Taysu, lebih baik kau segera turun tangan untuk membereskan dua bocah itu.”

Po-sie masih tetap ragu-ragu dan hanya menjawab dengan berapa kata yang tidak tegas.

Pada saat yang sangat genting itu, mendadak terdengar suatu bunyi mendesir yang nyaring dari
angkasa di sebelah luar. Ternyata bunyi itu diterbitkan sesuatu benda yang melayang di angkasa
dengan mengeluarkan sinar api berwarna biru. Wajah si leher panjang segera kelihatan gembira, ia tahu, bahwa panah api itu adalah tanda kedatangan seorang tamu lagi yang diundang majikannya.

Sesaat sebelumnya ia menjadi sangat jengkel, karena melihat bagaimana si hweeshio-salah seorang undangan majikannya-agaknya ketakutan menghadapi dua anak kecil itu, berbeda dengan ucapannya sendiri yang semula sangat takabur itu.

Tanpa ayal, si leher panjang berlari-lari menghampiri alat kerekan itu untuk memimpin kawannya
mengerek naik dan menyambut tamu itu. Si leher panjang ini adalah pengurus rumah tangga di rumah itu dan ia bertanggung jawab atas keselamatan rumah tangga majikannya selama si majikan pergi.

Ia she Ie, asalnya juga seorang tokoh yang ternama juga dalam kalangan Kang-ouw dan ia juga cerdik serta tangkas. Sementara itu keranjang yang memuat para tamu sudah dikerek sampai di lamping gunung, dalam tidak sabarnya untuk mengetahui siapa yang datang, maka Ie Koan-kee melongok ke bawah.

Ketika itu yang dilihatnya adalah sesusun benda hitam yang agaknya bukan berbentuk manusia. Sesaat kemudian, setelah keranjang itu dikerek lebih dekat ia melihat, bahwa benda-benda itu adalah berapa buah koper, berapa buah pot kembang dan suatu benda yang mirip dengan hiolo. Selain itu masih terdapat pula beberapa macam benda yang semuanya membangkitkan keheranan Ie Koan-kee.

Di dalam hatinya timbul pertanyaan, apakah sekian banyak barang itu dibawa si tamu sebagai sumbangan untuk majikannya?

Setelah keranjang itu tiba di puncak, ia buru-buru membongkar isinya dan segera menyuruh sebawahannya menurunkannya kembali keranjang ke bawah. Kali ini yang berada dalam keranjang adalah tiga orang wanita, dua orang berusia kira-kira empat puluh tahun dengan muka serta dandanan seperti pelayan, yang seorang lagi adalah seorang gadis yang berusia lebih kurang enam belas tahun. Ia ini berwajah bulat dan pada kedua pipinya terdapat lesung pipit, dandanannya seperti seorang dayang.

Begitu lekas ia melangkah ke luar dari keranjang tersebut ia memandang Ie Koan-kee sejenak
dan segera berkata: “Kau adalah Ie toako, bukan? Aku sudah mendengar, bahwa lehermu panjang.” Kata-katanya ini disertai dengan suara tertawa riang yang enak kedengarannya.

Biasanya Ie Koan-kee paling jengkel, jika orang menyebutkan cacadnya ini, tetapi menghadapi ketawa manis si dayang, ia tak dapat berbuat lain daripada bersenyum juga, sambil mengangguk mengiyakan.
“Namaku Khim-jie. Yang itu adalah Ciu-nai-ma (inang susu she Ciu) yang telah membesarkan siocia dengan air susunya. Yang satu lagi adalah encim Han dan siocia paling suka makan sayur masakannya.
Siocia sendiri masih berada di bawah, maka lekas kau menurunkan kembali keranjang ini untuk
menyambutnya.” Demikian tanpa kikuk-kikuk si dayang menyerocos terus.

Pada saat itu le Koan-kee sebenarnya ingin menanyakan, siapakah nona yang datang itu, tetapi
ia tak mendapat ketika sama sekali, karena Khim-jie terus mengoceh sambil menurunkan barang-barang bawaannya yang makin mengherankan si leher panjang.

Yang dikeluarkan dari keranjang tersebut adalah: sangkar burung, kucing, burung kakaktua,
berapa pot kembang lagi dan aneka ragam barang tetek bengek yang aneh-aneh. Agaknya Khim-jie sibuk sekali menurunkan barang-barang itu, tetapi selama itu juga mulutnya tidak pernah menganggur.

“Aih, puncak ini benar-benar tinggi, di sini juga tidak ada rumput maupun bunganya, rasa-rasanya nona tidak akan betah tinggal di sini. Ie toako, kau terus tinggal di sini, apakah kau tidak merasa jemu?” terdengar pula dari mulutnya yang bawel.

Sebenarnya Ie Koan-kee sudah sangat mendongkol melihat tingkah laku si bawel, pikirnya: “Sedang majikan sibuk sekali bersiap-siap untuk menghadapi musuh tangguh, mengapa mendadak sontak datang sanak yang membawa orang bawel seperti dia ini.”

Berbeda dengan yang dipikirnya, mulutnya justru menanyakan: “She apakah nonamu? Apakah ia
masih terhitung sanak majikanku?”

Sambil tertawa, Khim-jie menjawabnya: “Coba kau tebak. Sekali melihat aku terus tahu siapa kau
ini, sebaliknya, she nonaku saja kau tidak tahu. Tadi, jika bukannya aku terus menyebutkan namaku, kutanggung kau juga tidak tahu. Eh… eeh… jangan lari, awas nona nanti marah.”

Kata-katanya yang terakhir ini membuat Ie Koan-kee menganga kebingungan. Tetapi sesat kemudian ia mengetahui bahwa kata-kata Khim-jie itu ditujukan kepada si kucing kecil yang barusan hendak lari, tetapi telah dapat dipegang dan diangkat si bawel.

Melihat betapa repotnya dayang itu mengeluarkan barang-barang dari dalam keranjang, Ie Koankee hendak membantunya. Tetapi, ternyata ia telah berbuat salah lagi.

“Hai, jangan dikacaukan. Di dalam peti itu terdapat buku-buku bacaan siocia, jika kau mengangkatnya terbalik begitu, buku-buku itu tentu akan berantakan…eeh, eh…jangan, jangan… bunga lanhoa itu tak boleh disentuh seorang laki. Menurut siocia, bunga lanhoa itu paling suci dan jika kesentuh orang laki, malamnya akan segera menjadi layu.”

Ie Koan-kee tertegun dan buru-buru meletakkan kembali pot kembang itu. Baru saja ia berbuat
demikian, kembali ia harus mengalami kekagetan tak terkira. Mendadak ia mendengar orang
bersajak di sampingnya. Buru-buru ia menoleh, tetapi yang dilihatnya adalah kakatua, yang masih terus mengucapkan sajak tersebut.

Dalam jengkelnya tetapi berbareng geli, ia memerintahkan orang-orangnya menurunkan keranjang untuk mengerek si siocia naik. Lagi-lagi ia agaknya telah keliru, sekali ini adalah si inang susu yang mengatakan, bahwa ia harus mengambil mantel dari koper itu dulu, untuk mengganjal tempat duduk dalam keranjang tersebut, yang dikatakannya sangat keras dan tak enak untuk duduk.

Ie Koan-kee tak dapat bersabar lagi, melihat bagaimana si inang susu itu mengambil kunci, membuka koper dan kemudian berunding dulu dengan rekannya untuk menetapkan mantel apa yang harus digunakan untuk keperluan itu, yang terbuat dari bulu rase atau yang terbuat dari bulu tiauw.

Pikiran Ie Koan-kee tak dapat melupakan pertempuran di ruangan tamu itu. Ia ingin segera mengetahui, bagaimana kesudahannya dengan Wie Su Tiong, maka sambil meninggalkan pesan sesuatu kepada salah seorang bawahannya, ia berlari-lari kembali ke ruangan tamu tersebut.

Begitu melangkah masuk ia mendapat kenyataan, bahwa selama itu tidak terjadi perubahan dalam pertempuran itu. Wie Su Tiong masih tetap terempas- empis terdesak mepet pada dinding, hanya keadaannya sudah semakin payah. Bajunya sudah semakin compang camping, sepatu kirinya sudah terlepas dan kuncirnya sudah tertabas, sehingga rambutnya berserakan di lantai.

In Kiat, Co Hun Kie dan Ciu Hun Yang, yang telah dapat meminjam senjata dari para pegawai
rumah itu, berusaha sekuat-kuatnya untuk mendobrak rintangan si bocah yang kiri untuk menolong Wie Su Tiong, tetapi sampai sedemikian jauh mereka tetap tidak berhasil, bahkan lambat laun, karena desakan si bocah, mereka jadi terpisah semakin jauh dari Wie Su Tiong.

Di pihak lain, Lauw Goan Ho berulangkali hendak mempergunakan kesempatan itu untuk merebut kotak besi itu. Tetapi si bocah yang kiri itu selalu dapat menghalang-halanginya mendekati Wie Su Tiong. Semakin keras ia menerjang, semakin keras pula ia terdampar kembali oleh ancaman senjata si anak, hampir- hampir ia sendiri kena dilukai.

Karena pengalaman ini, akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya dan mundur, keluar dari kalangan pertempuran. Melihat semua itu, Ie Koan-kee jadi berpikir: “Ketika berangkat, majikan telah menyerahkan segalanya kepadaku, jika sekarang tamu-tamu itu harus mengalami malu besar ini, muka majikan juga seakan-akan mendapat tamparan. Biar pun harus binasa, aku tak dapat membiarkan orang she Wie itu dihina terus-menerus.”

Setelah mengambil ketetapan ini, ia segera menuju ke kamarnya untuk mengambil goloknya “Ciekim-pat-kwa-to”. Dengan membekal senjatanya ia kembali ke ruangan tamu dan segera berteriak: “Saudara-saudara kecil, jika kamu tidak mau berhenti dengan segera, janganlah mengatakan, bahwa kami, pihak Soat-hong-san-chung, berlaku kurang sopan!”

Dua bocah kecil itu tidak menghiraukan seruannya, mereka meneruskan serangan-serangan mereka, tetapi si bocah yang kanan menjawab: “Majikan muda kami hanya menyuruh kami membawa surat, bukannya untuk berkelahi. Maka, asal dia mengganti mutiaraku, aku akan segera mengampuninya!”

Sambil mengucapkan kata-kata ini ia melangkah maju dan segera berhasil melukai pundak Wie Su Tiong sekali lagi. Ie Koan-kee akan membuka suara lagi, ketika…mendadak terdengar suara wanita, yang merdu, sudah mendahuluinya. “Ah, jangan berkelahi, jangan berkelahi. Aku paling tidak suka melihat orang mengangkat senjata dan menggerakkan kaki tangan untuk saling menghantam.”

Terpesona oleh nada suara yang empuk berirama itu, semua orang menengok ke belakang. Seorang gadis yang mengenakan baju kuning berdiri di ambang pintu. Putih bersih laksana salju yang baru turun warna kulitnya, matanya yang jernih menatap wajah semua hadirin di situ dan mulutnya senantiasa tersenyum menggiurkan.

Kecantikan gadis jelita ini bukannya terlalu luar biasa, tetapi murni dan bersinar suci, mempesona dan menarik, laksana batu permata yang tiada cacadnya.

Mereka yang berada dalam ruangan itu adalah orang-orang Kangouw yang sudah menjelajah kemana-mana dan kenyang mengalami rupa-rupa kejadian. Tetapi berhadapan dengan gadis jelita itu, mereka merasa seakan-akan memasuki dunia lain.

Tanpa kecuali, mereka jatuh di bawah pengaruh matanya yang suci dan agung itu dan merasa diri sendiri rendah serta kotor. Yang paling usil mulut pun tak berani berlaku kurang ajar terhadapnya.

Berbeda dengan yang Iain-lain, dua anak itu tidak menghiraukan kedatangan si nona. Karena
usia mereka yang masih terlalu muda, maka pikiran mereka pun masih sangat sederhana.
Menggunakan kesempatan, ketika semua orang itu masih ternganga, dua bocah itu telah bergerak secepat kilat dan berturut-turut senjata orang-orang itu yang masih utuh sudah terbabat
kutung semua.

“Sudahlah, sudahlah, saudara kecil, jangan membikin onar lagi. Lihat, bagaimana kau telah melukai orang itu. iiih, benar mengerikan,” kata nona itu sambil bertindak maju untuk memisahkan.

“Dia belum mau mengganti mutiaraku!” jawab bocah yang kanan itu setengah menangis.
“Mutiara apa?”

Si bocah mengacungkan pedangnya ke dada Su Tiong dan segera berjongkok untuk memungut belahan mutiara yang berada di dekatnya.

“Lihatlah, ia yang merusakkan dan aku menuntut supaya ia menggantinya,” kata si bocah. Saking menyesalnya, hampir-hampir ia menangis.

Gadis itu mendekatinya untuk memeriksa pecahan mutiara itu.

“Ah, memang bagus sekali mutiara ini, aku pun tak dapat menggantinya…tetapi, tunggulah sebentar. Khim-jie, ambillah sepasang kuda batu giok itu dan berikan kepada dua saudara kecil ini.”

Si dayang tidak segera menurut, agaknya ia merasa sayang untuk memberikan dua barang bagus itu dengan cuma-cuma.

Ia sudah akan membantah, tetapi sebelum ia dapat mengatakan apa-apa, si gadis yang agaknya sudah dapat menebak pikirannya bersenyum dan berkata:

“Dasar kau terlalu pelit. Coba lihat dua saudara kecil ini yang begini tampan. Bukankah sesuai benar, jika sepasang kuda-kudaan itu dipakai mereka?”

Dua anak itu menjadi bingung dan mereka saling memandang. Ketika itu Khim-jie tak berani
membantah pula dan segera membuka koper yang dimaksudkan dan mengambil dua barang berharga itu, yang berada dalam sebuah kantong sutera.

Setelah dikeluarkan, si gadis segera menggantungkan kuda-kudaan itu pada pinggang dua anak itu.
Ternyata mulut setiap kuda-kudaan diikat dengan benang sutera, sehingga dapat digantungkan, seperti yang dilakukan si nona barusan.

Si bocah yang kiri menyambut pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi agaknya
ia masih ragu-ragu. la melihat betapa bagusnya kuda-kudaan itu yang terbuat dari batu giok putih yang diukir dengan seksama dan indah. Walaupun tak tahu berapa harganya, tetapi ia mengerti, bahwa barang itu sangat berharga dan karena itu ia justru menjadi sangsi. Lagipula ia tidak mengetahui asal usul gadis itu.

Ketika itu si bocah yang kanan sudah memungut juga belahan mutiaranya yang satu lagi. Sambil
memperlihatkan kepingan mutiara itu kepada si gadis, ia menerangkan: “Mutiaraku ini adalah mutiara mustika yang dapat mengeluarkan sinar di waktu malam. Mutiara kakakku adalah pasangannya. Maka sekalipun sekarang sudah ada kuda giok ini. Keadaan kami masih ganjil juga.”

Setelah dua anak itu berdiri berendeng, si nona melihat persamaan antara mereka yang sangat
menyolok dan mengerti, bahwa mereka adalah saudara kembar. Ia tahu, bahwa rusaknya mutiara itu tidak begitu berarti, tetapi kepincangan dalam keadaan mereka itu, akibat perbuatan orang yang di saat itu seolah bermandikan darah, telah membikin mereka kalap.

Ia mengambil kuda-kudaan itu dari tangan si anak dan mengusulkan agar dua belahan mutiara itu dimasukkan ke dalam mata kuda-kudaan.

“Bukankah menjadi bagus sekali?” tanyanya kemudian.

Si bocah yang kiri menjadi girang sekali. Segera ia juga mencabut mutiaranya dari kuncirnya
dan membelah permata itu dengan pedang pendeknya.

“Adik, sekarang kuda-kudaan maupun mutiara kita sudah serupa lagi,” katanya dengan suara riang.
Si bocah yang kanan juga menjadi gembira dan segera menghaturkan terima kasih berulang-ulang kepada si gadis. Kemudian ia juga menjura kepada Wie Su Tiong sambil berkata: “Sekarang kau, orang tua, jangan marah.”

Wie Su Tiong mendongkol sekali, ia ingin mengetuk kepala anak itu, tetapi keberaniannya sudah
lenyap, sampai pun memaki ia sudah tak berani. Dengan terpaksa ia harus mandah dihina, sedang badannya berlumuran darah.

Sesaat kemudian, dengan bergandengan tangan, dua bocah itu segera akan bertindak pergi,
akan tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, si bocah yang kiri menoleh kepada nona itu dan
bertanya: “Bolehkah kami mengetahui nama nona agar kami dapat melaporkannya kepada majikan kami dan juga, kami sangat berterima kasih atas budi nona.”

“Siapakah majikanmu?” si nona berbalik menanya.

“Majikan kami she Ouw,” jawab si bocah.

Seketika itu juga, wajah si gadis berubah. “Ah, jadi kamu adalah pesuruh-pesuruh Swat San Hui
Ho?” tanyanya.

“Benar.”

“Aku she Biauw dan jika majikanmu menanyakan, katakanlah bahwa pemberi dua kuda giok itu
adalah puteri Ta-pian-thian-hee-bu-tek-ciu Kim-bian-hud, Biauw Jin Hong.”

Mendengar ucapan si gadis yang terakhir, semua orang terkejut bukan main. Mereka hanya
mengenal Kim-bian-hud sebagai jago yang tak terkalahkan, tetapi tak ada yang menduga, bahwa ia punya seorang puteri yang lemah lembut serta cantik agung seperti gadis itu.

Berdasarkan sikap dan tindak tanduknya, semula semua hadirin mengira, bahwa ia itu puteri
seorang pembesar tinggi yang berasal dari keluarga terpelajar. Tak pernah mereka menyangka,
bahwa gadis itu adalah puteri seorang pendekar dari kalangan Kang-ouw yang sangat disegani
orang.

Ketika mendengar keterangannya, dua bocah itu jadi saling memandang dan bersama-sama meletakkan kuda-kudaan pemberian si nona ke atas meja. Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata, mereka berlalu dengan berendeng.

Melihat kelakuan dua anak itu, si gadis tertawa, tetapi ia pun tidak mengatakan suatu apa.
Yang pada saat itu paling girang adalah Khimjie, ia segera menyimpan lagi sepasang kuda
giok itu.

“Siocia, dua bocah itu benar tidak mengenal adat. Hadiah yang begini bagus mereka kembalikan,
jika aku yang diberi…”

Tetapi sebelum Khim-jie dapat menyelesaikan kata-katanya, Biauw siocia sudah memotong pem
bicaraannya: “Sudahlah, jangan banyak bicara lagi, Apakah kau tak khawatir dikatakan terlalu pelit?”

Sementara itu, demi mendengar siapa nona yang baru datang itu, Po-sie segera tampil ke muka dan dengan nyaring ia bertanya: “Ah, tak tahunya nona adalah puteri Biauw Tayhiap. Apakah ayahmu baik?”

“Bukankah gelar taysu terdiri dari dua huruf, Po di atas dan Sie di bawah? Ayah telah memesan
untuk menyampaikan salam kepada taysu.”

“Terima kasih, tak pernah kusangka, bahwa Biauw Tayhiap juga mengenal namaku yang rendah.”

Po-sie tertawa, agaknya ia puas sekali. Kemudian ia menanya pula: “Bolehkah aku mengetahui
nama nona yang mulia?”

“Boanpwee bernama Yok Lan. Silakan kalian duduk saja, aku harus segera masuk ke belakang
untuk menemui pehbo dulu.”

Sebagai penutup kata-katanya ia memberi hormat kepada sekalian hadirin, yang segera juga membalas penghormatannya.

“Nona ini benar-benar boleh dipuji. Sebagai puteri seorang pendekar yang tiada tandingannya,
sedikit pun ia tidak jumawa atau berlagak,” pikir mereka.

Biauw Yok Lan bahkan tidak segera meninggalkan mereka. Ia masih menunggu lagi sampai
semua orang itu sudah duduk, baru ia bertindak masuk.

Sesaat kemudian, di sebelah luar, terlihat pula kedatangan delapan orang pelayan laki-laki
dan perempuan. Dandanan mereka semua juga bagus- bagus. Mereka menggotong macam-macam koper, kasur, bantal, sangkar burung, pot kembang dan Iain-lain lagi. Agaknya mereka telah sengaja dibawa untuk melayani si nona.

Melihat barang bawaan yang sangat banyak serta berharga itu, To Pek Swee dan To Cu An ayah
dan anak jadi saling memandang. Mereka memang mencari sesuap nasi dengan melakukan pekerjaan membegal, dan mereka bersyukur, bahwa mereka bukan berjumpa dengan rombongan itu di tengah jalan, sehingga tak dapat tidak mereka tentu akan berusaha merampasnya. Andaikata sampai kejadian begitu, mencari bencana sendiri?

Sementara itu Wie Su Tiong sedang membersihkan darah yang berlepotan di mukanya dan di
seluruh tubuhnya. Untungnya si kacung tadi tidak mempunyai niatan untuk mencelakainya. Semua luka-lukanya hanya luka yang enteng.

Tian Ceng Bun segera menghampirinya dan membubuhkan obat pada luka-lukanya. Karena tidak ada pembalut yang lebih baik, maka Wie Su Tiong lalu merobek bajunya untuk digunakan sebagai gantinya.

Pada saat itu, secara tiba-tiba terdengar bunyi bergedubrak yang nyaring. Seakan-akan sudah berjanji, semua orang meloncat ke arah itu, karena yang jatuh itu adalah peti besi yang tadi disembunyikan di dalam baju Wie Su Tiong.

Tetapi Wie Su Tiong, yang memang berdiri paling dekat dari peti itu, segera berjongkok untuk memungutnya kembali. Sambil melakukan itu, ia mengayunkan sebelah tangannya yang lain untuk menghalau para penyerbu. Pada detik tangannya sudah menyentuh tutup kotak itu, tiba-tiba pundaknya terasa ditubruk suatu tenaga yang sangat kuat dan tanpa dapat dicegah pula ia terhuyung dan jatuh di atas lantai. Seketika itu juga ia melompat bangun, hanya untuk mendapat kenyataan, bahwa kotak tersebut sudah berada di tangan Po-sie Taysu.

Karena tak seorang di antara mereka yang tidak gentar terhadap kegagahan si hweeshio, maka mereka semua mundur kembali dan hanya mengawasi gerak-geriknya tanpa mengucapkan sepatah kata.

Setelah lewat sekian lama, baru Co Hun Kie memecahkan kesunyian. “Taysu, kotak itu adalah pusaka Thian-liongbun, maka kumohon kau suka mengembalikannya,” katanya. Jawab Po-sie hanyalah tertawa yang nyaring dan bernada agak mengejek.

“Kau menganggap barang ini sebagai pusaka partaimu. Baiklah, jika memang benar demikian, tentu kau tahu apa yang terdapat di dalamnya, bukan? Sekarang, coba katakan, apakah isinya? Jika kau dapat menebaknya dengan jitu, kata-katamu boleh dianggap benar, dan kau boleh mengambilnya sebagai hakmu yang sah,” katanya dengan nyaring. Pada penutup kata-katanya ia mengangsurkan kotak itu ke depan, ke arah Co Hun Kie.

Seluruh muka Hun Kie menjadi merah, sepatah pun ia tak dapat menjawab, tangannya yang tadi
sudah diangsurkan untuk menyambut, segera ingin ditariknya kembali, tetapi karena malu, ia membatalkan niatnya dan menurunkannya dengan perlahan-lahan.

Hun Kie memang tidak tahu apa yang berada di dalam peti itu. Pengetahuannya hanya terbatas
pada ujar gurunya yang mengatakan bahwa barang itu adalah milik partainya dan tak boleh diperlihatkan kepada sembarang orang. Selama hidupnya, gurunya selalu menyimpan dan menjaga barang itu dengan teliti. Belum pernah ia melihat kotak itu dibuka dan belum sekali gurunya menceritakan apa dan dari mana asal usul kotak itu. Bukan saja Hun Kie, bahkan In Kiat dan Wie Su Tiong yang tergolong tokoh-tokoh tertua dalam lingkungan Thianliong-bun, hanya dapat saling memandang dengan terlongong-longong.

Sedang mereka membungkam dalam seribu bahasa, mendadak Ciu Hun Yang menyeletuk: “Tentu saja kita mengetahui isinya, yaitu golok mustika!”

Dalam lingkungan Thian-liong-bun kepandaian Ciu Hun Yang hanya termasuk golongan kedua.
Gurunya juga tidak terlalu menyayang kepadanya, sedang otaknya juga tidak seberapa cerdas. Oleh karena itu, tak heran, jika Wie Su Tiong dan rekan-rekan separtainya semua terkejut.

“Kau tahu apa? Lebih baik kau diam saja!” bentak mereka di dalam hati.

Sungguh mereka tidak menyangka, bahwa justru mereka yang keliru.

Sesaat kemudian Po-sie sudah membenarkan Hun Yang.

“Benar, memang isinya bukan lain daripada golok mustika. Tetapi tahukah kau siapa pemiliknya
yang sah dan bagaimana barang itu bisa terjatuh ke dalam tangan Thian-liong-bun?” Keheranan Wie Su Tiong dan rekan-rekannya tak dapat dilukiskan, terkaan Hun Yang yang jitu itu benar-benar di luar dugaan mereka. Maka menghadapi pertanyaan Po-sie yang terakhir ini, dengan penuh pengharapan mereka menantikan jawaban Hun Yang.

Tetapi sekali ini, Hun Yang sendiri melongo tanpa dapat menjawab sepatahpun.

“Barang itu adalah pusaka Thian-liong-bun, sudah berapa turunan menjadi peraturan partai kami,
bahwa siapa yang mendapatkan golok itu akan diangkat menjadi Ciang-bun-jin,” akhirnya tercetus juga dari mulutnya secara dipaksakan.

“Salah, salah besar! Memang sudah kuduga, bahwa kau tak akan dapat menerkanya,” kata Po-sie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sebaliknya, kau sendiri tahu apa?” tanya Hun Yang dengan penasaran.

“Dua puluh tahun yang lalu, aku mendengar cerita ini dari chung-cu tempat ini. Justru gara-gara
ini, ia harus berselisih dengan Swat San Hui Ho. Jika bukan karena kalian sedikit maupun banyak masih ada sangkut pautnya dengan soal ini, guna apa loo-lap mengajak kalian naik kemari,” demikian Po-sie mulai menerangkan.

Demi mendengar kata-katanya, tanpa kecuali, semua hadirin jadi sangat terkejut. Menurut anggapan mereka, hari itu mereka telah terjebak semua dalam perangkap si hweeshio yang ingin mengangkangi pusaka itu, dan setelah berada di situ, agaknya sukar untuk mereka dapat berlalu dalam keadaan hidup.

Seakan-akan sudah dijanjikan lebih dahulu, dengan serentak mereka menghunus senjata dan
bertindak maju, mengurung Po-sie di tengah-tengah.

Juga mereka yang sudah kehilangan senjata, seperti Wie Su Tiong, karena dikutungi dua bocah tadi, memungut sisa, atau lebih benar reruntuhan senjata mereka untuk turut mengepung.

Po-sie tak menjadi gentar karenanya. Sambil bersenyum ia berjalan mengelilingi garis kepungan
itu, laksana seorang jenderal yang sedang memeriksa barisan.

“Kalian hendak mengeroyok loo-lap?” tanyanya dengan lantang.

Walaupun mereka semua mendengar pertanyaannya yang diucapkan dengan nyaring, tetapi seorang jua tiada yang berani menjawab atau segera membuka serangan. Mereka hanya memandangnya dengan beringas.

Sekian lama keadaan ini berlangsung tanpa terjadi perubahan.

Tiba-tiba terdengar Lauw Goan Ho berteriak: “Marilah kita maju beramai-ramai. Bunuh saja hweeshio ini, mustahil kita tidak dapat merobohkannya. Urusan kita sendiri boleh diselesaikan kemudian!”

Memang sedari tadi semua orang itu sudah mengandung niat demikian, maka demi mendengar anjuran Lauw Goan Ho barusan, dengan serentak mereka hendak maju menyerang. Tetapi sebelum mereka dapat melakukan sesuatu, di angkasa sebelah luar telah terdengar suatu
letusan yang dahsyat.

Dalam kekagetan mereka, orang-orang itu jadi saling pandang dengan diliputi kebingungan.
Berselang berapa saat dari luar kelihatan seorang berlari-lari mendatangi. Orang itu ternyata adalah Ie Koan-kee.

“Celaka Tuan-tuan!” jauh-jauh sudah terdengar seruannya.

Semua mata sekarang ditujukan kepadanya.

Wajah Ie Koan-kee tampak muram dan sikapnya gugup.

“Apakah Swat San Hui Ho sudah datang?” Tanya Hun Kie sebagai yang pertama membuka
suara.

“Bukan! Tetapi tambang dan roda pengerek untuk naik turun gunung ini telah dihancurkan
orang!”

“Hah?!” seru mereka dengan berbareng. Wajah mereka pucat seketika.

“Tak mungkin!”

“Apakah di sini tidak ada tambang lain?”

“Mustahil tiada cara lain untuk naik turun!”

Seruan-seruan itu terdengar bercampur aduk.

Tak dapat dikenali apa yang diucapkan siapa.

“Celakanya, justru di atas puncak ini hanya terdapat seutas tambang itu saja, dan karena lengah
sebentar, alat-alat itu sudah dihancurkan dua bocah tadi!” Ie Koan-kee menerangkan.

“Mengapa sampai dapat dihancurkan?” Tanya Po-sie dan wajahnya menjadi pucat juga.

“Setelah menurunkan dua bocah itu, kawan-kawanku semua masuk untuk mengaso. Sesaat kemudian terdengar letusan tadi. Ketika aku memburu untuk melihat apa yang terjadi, kulihat bahwa alat-alat pengerek itu sudah hancur. Tentunya, dua bocah itu telah memasang bahan peledak di bawah roda itu dengan diberi sumbu panjang yang sampai di bawah, di mana kemudian mereka menyalakannya.”

Demikian Ie Koan-kee melanjutkan ceritanya dengan ditambah tafsirnya sendiri tentang bagaimana dua-dua tambang dan roda itu diledakkan.

Pada saat itu tidak ada seorangpun yang tidak merasa cemas. Dengan tergesa-gesa mereka memburu ke depan untuk melihat sendiri. Benar saja alat-alat pengerek itu sudah hancur berarakan dan tak berguna lagi. Satu-satunya keuntungan adalah bahwa pada saat terjadinya ledakan itu tidak ada orang di dekatnya, jika ada, tak usah disangsikan lagi betapa akan hebat akibatnya.

“Taysu, dapatkah kau menerka maksud si Rase Terbang dengan perbuatannya ini?” tanya In Kiat, wajahnya mencerminkan penasarannya.

“Mudah saja. la menghendaki, supaya kita semua mati kelaparan di atas puncak ini,” jawab Po-sie.

“Mengapa ia menghendaki kematian kita semua, sedang kita tidak bermusuh dengannya.”

“Memang dengan kita, ia tidak mempunyai ganjalan apa-apa, tetapi permusuhannya dengan tuan rumah kita sedalam lautan. Lagipula kotak besi itu berada di tanganmu, hal itu sama saja artinya dengan menerbitkan permusuhan.”

Karena penjelasan Po-sie terakhir ini, mereka jadi semakin cemas. Mereka menggigil dan dalam
putus asa, mereka bungkam dengan wajah muram.

Dengan tindakan lesu, mereka mengikuti Po-sie kembali ke ruangan tamu.

Sementara itu Biauw Yok Lan juga sudah keluar.

Agaknya ia telah dikejutkan letusan tadi dan kini ia ingin tahu apa sebenarnya telah terjadi.

Setelah mendapat penjelasan, ia bertanya: “Taysu, apakah dengan muslihat ini si Rase Terbang memang sengaja hendak membikin kita mati kelaparan di sini?”

“Hal ini tak usah diragukan pula, maka paling baik sekarang kita bekerja sama untuk mencari jalan turun dari gunung ini.”

Kemudian kepada yang lain-lain ia menambahkan: “Permusuhan pribadi baik dikesampingkan dulu, demi untuk keselamatan kita bersama.”

“Kurasa kita tidak usah terlalu khawatir. Dalam sedikit hari lagi ayahku akan datang dan pasti sekali ia akan dapat menolong kita pergi dari sini,” kata Yok Lan dengan penuh keyakinan.

About these ads

10 Comments »

  1. Sambungan Kisah si Rase terbang apa ada ? saya cari kemana ya?

    Comment by Krisnohadi — 17/08/2008 @ 2:54 pm

  2. site yang bagus

    salam kenal
    please visit my site
    need advise

    Comment by harlockwords — 05/11/2008 @ 2:54 am

  3. Mas Harlockwords, site-nya Anda mana, ya? Kok, tidak ada link-nya.

    Btw, trims atas kunjungannya.

    Comment by ceritasilat — 07/11/2008 @ 2:59 am

  4. site yg bagus dan membudayakan budaya membaca.. hobby baca saya terpuaskan.. salam kenal.

    Comment by Thomas — 05/04/2009 @ 5:46 pm

  5. Sambungannya dooonnnggg…..

    Comment by o.k — 29/09/2009 @ 2:15 pm

  6. Diusahakan segera. Cuma karena gaya bertutur flashback, sy cukup enggan untuk membacanya.

    Comment by ceritasilat — 30/09/2009 @ 3:20 am

  7. cersil ini sudah saya baca sampai tamat cuma sayang ceritanya tidak TAMAT dan bikin penasaran saja…..judul cerita ini SI RASE DARI PEGUNUNGAN SALJU….sedangkan KISAH SI RASE TERBANG terdiri 2 jilid, disadur ulang sama BOE Beng Tjoe…adakah yg mempunyai kisah lengkapnya…? Pada bukunya cetakan baru maret 2010..!!

    Comment by Arya Nathan — 04/09/2010 @ 4:03 am

  8. kayak nya mas sengaja tgdak tuntaskan setiap judul..memberi minum pada gelas yg retak Mending mancing.

    Comment by Anonymous — 09/08/2011 @ 7:51 am

  9. kayak nya mas sengaja tgdak tuntaskan setiap judul..memberi minum pada gelas yg retak Mending mancing.

    Comment by mel — 09/08/2011 @ 7:53 am

  10. kok banyk ceritny ga tamat. Bikn penasarn ja.. Kalo ga ikhlas mending ga usah di edit ja.

    Comment by vredo — 27/09/2011 @ 1:17 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: