Kumpulan Cerita Silat

01/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (01)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:18 pm

Bahagia Pendekar Binal (01)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Gui Moa-ih pikir diri sendiri memang tidak mungkin tahan seperti Siau-hi-ji, tapi ia menjadi gusar dan mendamprat, “Kau sudah terpikat oleh bocah ini, dengan sendirinya segalanya kau puji.”

“Dia memang hebat dan harus dipuji, kalau tidak…kalau tidak masa aku sampai terpikat olehnya?!”

Gui Moa-ih jadi melengak dan kikuk sendiri, katanya, “Ucapan begini pun dapat tercetus dari mulutmu?”

“Mengapa aku tidak berani mengucapkan isi hatiku sendiri? Ini kan bukan sesuatu yang memalukan? Jika main sembunyi-sembunyi, diam-diam makan dalam menyukai seorang, tapi tidak berani mengutarakannya, cara beginilah baru memalukan dan menggelikan… Betul tidak?”

Wajah Gui Moa-ih yang pucat kekuning-kuningan itu jadi merah jengah juga, segera ia menjengek pula, “Tapi meski kau menyukai dia, rasanya belum tentu dia suka padamu.”

“Yang penting aku suka padanya, apakah dia juga suka padaku atau tidak bukan soal, kau tidak perlu ikut khawatir,” kata So Ing.

“Hm, kau…” Gui Moa-ih bermaksud mencemoohkannya, tapi tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Dengan tertawa So Ing menyambung, “Apalagi seumpama sekarang dia tidak suka padaku, nanti juga aku ada akal untuk membuatnya suka padaku.”

Sampai di sini, tak tahan lagi Siau-hi-ji, ia bergelak tertawa, katanya, “Tepat, tepat sekali. Rasanya sekarang juga aku sudah mulai menyukai kau.”

Air muka Gui Moa-ih sebentar putih sebentar hijau saking menahan geramnya. Teriaknya kemudian dengan bengis, “Jika demikian, bila dia mati tentu kau sangat berduka, bukan?”

So Ing tersenyum, jawabnya, “Sejak mula sudah kuketahui kau pasti akan memperalat dia untuk memeras diriku. sesungguhnya apa kehendakmu? Masa kau tidak enak untuk bicara terus terang?”

Melihat kerlingan mata si nona yang menggetar sukma, melihat dadanya yang berombak perlahan di bawah bajunya yang tipis itu, hati Gui Moa-ih menjadi berdebar dan bibir pun terasa kering, serunya, “Aku…aku ingin kau…” mendadak ia menggerung dan berputar cepat sambil memukuli dada sendiri beberapa kali, ia tidak berani menatap si nona pula, teriaknya, “Aku ingin kau ceritakan rahasia yang kau dengar kemarin.”

“O, kau sudah bertemu dengan Pek San-kun?”

“Hmk,” dengus Gui Moa-ih.

Tiba-tiba So Ing tertawa dan berkata, “Sebenarnya, sekalipun yang kau inginkan adalah diriku pasti juga akan kuserahkan padamu, cuma sayang kau sendiri tiada punya keberanian sehingga kesempatan baik ini tersia-sia.”

Gui Moa-ih meraung gusar, mendadak ia membalik tubuh dan mencengkeram pundak si nona, teriaknya dengan suara parau, “Kau…kau budak busuk, perempuan hina, kau…kau…”

Tapi So Ing tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum genit, “Kutahu sekarang kau menyesal mengapa tadi tidak berani mengutarakan isi hatimu. Tapi itu urusanmu sendiri, mengapa aku yang menjadi sasaran kedongkolanmu?”

“Persetan!” bentak Gui Moa-ih murka. “Siapa menghendaki perempuan busuk macam kau, kau -.” karena tak tahu apa yang dikatakan, mendadak sebelah tangannya menampar muka So Ing.

Namun si nona tidak berkelit, sebaliknya mukanya yang molek itu seolah-olah sengaja disodorkan malah, katanya, “Jika ingin memukul aku, silakan pukul saja. Tapi apakah kau sampai hati memukulku?”

Di bawah cahaya bintang yang berkelip-kelip itu wajah So Ing kelihatan kemerah-merahan laksana bunga mawar yang baru mekar dengan pandangannya yang sayu. Tangan Gui Moa-ih jadi terhenti di udara dan tidak jadi memukul.

So Ing malahan terus mendekatkan tubuhnya ke sana, katanya sambil memejamkan mata, “Pukul, ayolah pukul! Mengapa tidak jadi pukul!”

Tubuh Gui Moa-ih seperti mulai gemetar, hatinya menggereget. Kalau bisa dia ingin memeluk si nona sekarang juga, tapi dia justru sangsi dan tidak berani. Wajahnya yang pucat kuning tampak berkeringat.

Dongkol dan geli pula Siau-hi-ji menyaksikan semua itu. Tiba-tiba dilihatnya salah satu jari So Ing yang lentik itu entah sejak kapan telah memakai sebuah cincin yang mengkilap.

Karena dia tergantung menjungkir, matanya tepat berada di depan cincin itu. Di bawah sinar bintang yang remang-remang dapat dilihatnya di atas cincin itu ada sebuah jarum yang lembut dan runcing.

Dengan gaya yang menggiurkan serta suara yang samar-samar, perlahan So Ing mengangkat tangannya yang bercincin itu dan merangkul leher Gui Moa-ih.

Dalam keadaan begitu bila kulit leher Gui Moa-ih tergores sedikit saja oleh jarum perak itu, maka jiwanya pasti akan melayang. Padahal saat ini Gui Moa-ih dalam keadaan kesengsem, hati berdebar-debar, mata terbelalak bingung, pikiran melayang entah ke mana, dengan sendirinya tak terpikir olehnya maut sedang mengintai jiwanya.

Pada saat itulah, mendadak Siau-hi-ji berteriak, “Awas tangannya! Tangannya berjarum berbisa!”

Gui Moa-ih meraung kaget, berbareng sebelah tangannya terus mengebas sehingga So Ing terdorong mundur beberapa kaki.

Tubuh So Ing terbentur pohon, dengan terbelalak ia pandang Siau-hi-ji, serunya, “Kau…apakah sudah gila?”

“Siapa bilang aku gila? Otakku cukup waras!” jawab Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Lalu mengapa…mengapa kau…”

“Kau heran mengapa aku malah menolong dia, begitu bukan?”

So Ing menggigit bibir dan tidak berucap lagi.

Gui Moa-ih terkejut dan gusar pula, ia pun tak mengerti mengapa Siau-hi-ji berbalik menolongnya malah. Sebab itulah dia hanya mendelik dan juga tidak bersuara.

Maka terdengar Siau-hi-ji berkata dengan tertawa, “Sebabnya kutolong dia, karena aku pun ingin tahu rahasia apa yang dimaksudkannya itu.”

“Ap…apa katamu?” tanya So Ing.

“Cinta saudara padamu ini sudah merasuk tulang sumsum, tapi pada kesempatan baik untuk melaksanakan idam-idamannya ini dia justru menyampingkan urusan cinta dan cuma minta kau menjelaskan sesuatu rahasia, ini suatu tanda bahwa rahasia yang dimaksudkannya terlebih penting daripada dirimu yang dicintainya.”

“Hmk,” Gui Moa-ih hanya mendengus dan tidak menanggapi komentar Siau-hi-ji itu.

Segera Siau-hi-ji menyambung pula, “Sebaliknya kau rela menyerahkan tubuhmu padanya daripada menceritakan rahasia yang dia minta, ini pun suatu tanda bahwa kau memandang rahasia itu jauh lebih penting daripada tubuhmu sendiri.”

So Ing menggigit bibir, katanya kemudian sambil membanting-banting kaki, “Tolol kau, masa…masa kau tidak tahu maksudku?”

“Sudah tentu kutahu maksudmu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi bila dia mengetahui dirinya keracunan, apakah dia dapat mengampunimu?”

“Dia tidak berani membunuhku,” ujar So Ing, “Sebab kalau aku dibunuhnya maka selanjutnya jangan harap akan dapat mengetahui rahasia itu.”

“Itulah dia, kan cocok dugaanku!” seru Siau-hi-ji dengan tergelak-gelak. “Jadi apa pun juga dia tetap ingin mengetahui rahasia ini. Dari sini dapat diketahui bahwa rahasia yang dimaksud pasti sangat hebat, maka aku jadi ingin tahu juga.”

“Tapi kalau kau…”

“Agar kau mau membeberkan rahasia yang dimaksud, jalan satu-satunya ialah biarkan kau dipaksa oleh dia,” sela Siau-hi-ji sebelum So Ing bicara lebih lanjut. “Sebab kalau kau sampai terbunuh, jelas rahasia ini takkan kau ceritakan dan aku pun tidak dapat mendengarnya.”

So Ing membanting-banting kaki dengan mendongkol, katanya, “Tapi kan aku mau menolongmu, mengenai rahasia ini kelak kan dapat kuberitahukan padamu?”

“Belum tentu,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kalau melihat aku akan mati, kau khawatir, lalu rahasia itu akan kau beberkan. Tapi bila aku tertolong, kau khawatir pula aku akan kabur, untuk ini kau pasti akan ceritakan rahasia ini untuk mengikat diriku, bukan mustahil aku harus menunggu dan menunggu terus, entah sampai kapan barulah kau mau memberitahukan rahasia ini. Nah, mana aku sanggup bersabar menunggu selama itu?”

Setelah terbahak-bahak, lalu dia menyambung lagi, “Bicara sejujurnya, setelah kau tolong aku, bisa jadi akan terus kutinggal pergi. Jika begitu, kan selamanya aku tak dapat mendengar rahasia ini, dan selama itu pula pikiranku akan merana.”

Uraian Siau-hi-ji yang aneh, seperti betul dan juga seperti tidak betul ini, membuat Gui Moa-ih rada-rada bingung dan serba salah. Apalagi So Ing, hampir meledak perutnya saking gemasnya.

Dengan suara gemas So Ing lantas berkata, “Jika rahasia ini sedemikian pentingnya, kalau kau ikut mendengarnya, apakah dia mau mengampunimu? Kau suka anggap dirimu ini orang pintar nomor satu di dunia, mengapa segi ini tidak kau pikirkan?”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Pagi bisa mendengar, mati petang tanpa menyesal. Asalkan aku dapat mendengar rahasia sebagus ini, biarpun mati juga bukan soal.”

So Ing melengak, sampai sekian lama barulah ia berucap pula dengan tersenyum getir, “Di dunia ini ternyata ada manusia seperti kau, jika tidak kusaksikan sendiri, biarpun kepalaku dipotong juga aku tidak percaya.”

“Kan sudah kukatakan sejak mula kau bertemu dengan aku, anggaplah kau yang sial,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Nah, sekarang lekaslah kau ceritakan rahasia itu, kalau tidak, segera dia akan membunuhku.”

Sungguh ganjil bin janggal. Dia berbalik membantu orang lain, seakan-akan khawatir orang lain tidak jadi membunuhnya, makanya dia harus lekas-lekas mengingatkannya.

Benar juga, dengan suara bengis Gui Moa-ih lantas membentak, “Betul, jika kau ingin main gila lagi, segera kubinasakan dia!”

So Ing memandang Siau-hi-ji, lalu memandang Gui Moa-ih, mendadak ia tertawa terkikik-kikik, tertawa geli, geli sekali. Katanya kemudian, “Sungguh lucu, sungguh aneh! Di dunia ini ternyata ada manusia begini. Untuk persoalan ini, sebenarnya tidak nanti kubeberkan rahasia ini bagi siapa pun, akan tetapi bagimu…”

“Bagiku, tentu kau mau membeberkan bukan?” tukas Siau-hi-ji.

“Sesungguhnya dunia ini sudah membosankan bagiku,” kata So Ing dengan tertawa. “Jika sekarang kubiarkan kau mati, hidupku kan tambah kosong?”

“Betul, betul,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa, “Orang macamku ini sekali-kali tidak boleh mati. Nah, lekaslah kau beberkan.”

So Ing lantas berpaling ke arah Gui Moa-ih sambil menarik muka, katanya kemudian dengan tenang, “Padahal biarpun kuceritakan rahasia Ih-hoa-ciap-giok ini juga tiada gunanya bagimu. Untuk belajar jelas kau tidak becus, hendak mematahkannya juga kau tidak mampu…”

Belum lagi Gui Moa-ih menjawab, seketika air muka Siau-hi-ji berubah, serunya, “Apa katamu? Rahasia Ih-hoa-ciap-giok?”

“Betul, rahasia Ih-hoa-ciap-giok, rahasia terbesar dalam ilmu silat,” kata So Ing. “Karena rahasia inilah selama dua puluh tahun ini mereka guru dan murid tidak enak makan dan tidak enak tidur.”

“Jadi kau…kau tahu rahasia Ih-hoa-ciap-giok?” tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak.

“Ya, selain orang-orang Ih-hoa-kiong sendiri, yang mengetahui rahasia ini mungkin cuma aku saja di seluruh dunia ini,” ucap So Ing dengan tertawa.

Gui Moa-ih tampak tidak sabar lagi, teriaknya dengan suara serak, “Sudahlah, yang penting kau ceritakan rahasia itu padaku, dapat mempelajarinya atau tidak adalah urusanku.”

“Baik,” jawab So Ing, “Dengarkan…”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Siau-hi-ji berteriak-teriak dan tertawa sekeras-kerasnya, suaranya melengking memekak telinga sehingga apa yang diucapkan So Ing tak terdengar oleh Gui Moa-ih.

Tentu saja Gui Moa-ih menjadi gusar, ia melompat ke sana dan meraung murka, “Apa kau sudah gila, keparat!”

Siau-hi-ji mencibir padanya, jawabnya dengan tertawa, “Tidak, aku tidak gila, soalnya aku tidak ingin lagi mendengarkan rahasia ini.”

Ucapan ini membuat So Ing melengak pula.

Sedang Gui Moa-ih tambah murka, teriaknya gemas, “Tadi mati pun kau ingin tahu rahasia ini, bila dapat mendengar rahasia Ih-hoa-ciap-giok, mati pun tidak penasaran, mengapa sekarang malah tidak mau mendengarkan lagi?”

“Rahasia lain memang menarik bagiku, tapi rahasia Ih-hoa-ciap-giok ini…hehe, sejak umur tiga tahun aku sudah tahu, untuk apa kudengarkan pula?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Gui Moa-ih tercengang, tanyanya, “Masa kau…kau pun tahu?”

“Bukan saja tahu, bahkan apa yang kuketahui terlebih banyak dan lebih jelas daripada yang diketahui So Ing, apakah kau ingin mendengarnya dariku?”

Girang dan kejut Gui Moa-ih, tapi dia sengaja menarik muka dan menjawab, “Jika benar kau dapat menguraikannya, tentu aku…”

“Aku tidak memerlukan terima kasihmu, asal saja kau bebaskan aku,” tukas Siau-hi-ji.

“Baik, baik,” seru Gui Moa-ih cepat.

“Nah, dengarkan. Kunci utama latihan Ih-hoa-ciap-giok dimulai dari berdiri dengan menjungkir, tangan digunakan sebagai kaki, kedua kaki menegak ke atas, kepala terangkat, lalu kaki dibentangkan disertai menahan napas dan…”

“Kungfu macam apa ini?” teriak Gui Moa-ih sambil berkerut kening.

“Kau mesti tahu bahwa kegaiban ilmu Ih-hoa-ciap-giok terletak pada cara latihannya yang berlawanan dari semua kebiasaan, dengan sendirinya gaya latihannya juga harus begitu,” tutur Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

“Tapi…tapi…”

“Tapi apa? Sudahlah, jika kau tidak ingin belajar juga tak apalah,” omel Siau-hi-ji.

Meski sangsi, tapi Gui Moa-ih benar-benar keranjingan ilmu Ih-hoa-ciap-giok yang sakti itu, asalkan dapat mempelajari ilmu itu, dia bersedia mengorbankan apa pun juga. Asalkan ada kesempatan untuk itu, biarpun cuma setitik harapan saja pasti takkan dilewatkannya.

So Ing hanya menyaksikan saja dengan sebelah tangan menutup mulut dan tidak bersuara.

Dilihatnya Gui Moa-ih telah menuruti kehendak Siau-hi-ji, dia terus berjungkir seperti pemain akrobat, dengan kedua tangan menahan tanah, kedua kaki menegak ke atas dengan sedikit terpentang, kepala diangkat tinggi-tinggi. Macamnya itu mengingatkan orang pada katak buduk.

Tapi Siau-hi-ji memandanginya dengan dingin, sedikit pun tiada mengunjuk senyum, katanya, “Tekuk lagi sedikit dengkulmu dan angkat lebih tinggi kepalamu.”

Gui Moa-ih benar-benar penurut, ia lakukan semua petunjuk itu, tanyanya, “Sudah cukup begini?”

“Ya, kacek sedikit, bolehlah!” kata Siau-hi-ji, tapi habis ucapan ini, lalu diam tanpa bersambung.

Selang sekian lama, Gui Moa-ih menjadi tidak sabar, tanyanya pula, “Lalu bagaimana lagi?”

Dengan nada kurang senang Siau-hi-ji menjawab, “Jika ingin berilmu sakti harus tekun berlatih. Kalau kesabaran sedikit saja tidak ada, lalu kepandaian apa yang dapat dihasilkan?”

Sekonyong-konyong Gui Moa-ih melompat bangun, katanya sambil mendelik, “Jika kau menipu aku, akan ku…”

“Menipu kau? Untuk apa kutipu kau?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Coba pikir, apabila aku tidak tahu rahasia ilmu sakti ini, masa aku sengaja membuang kesempatan baik untuk mengetahui rahasia ilmu yang diidam-idamkan setiap orang persilatan ini?”

Untuk sekian lama Gui Moa-ih melotot dengan sangsi, tapi akhirnya ia pun menurut, kembali ia berjungkir pula seperti tadi dan tidak bersuara lagi. Namun setelah lewat sejenak Siau-hi-ji tetap diam saja, tetap tidak bersambung.

Biarpun tenaga dalam Gui Moa-ih sangat kuat, tapi gaya berjungkir itu benar-benar sangat melelahkan. Betapa pun tinggi ilmu silat seseorang kalau disuruh berdiri menjungkir begitu juga pasti merasa payah.

Setelah seminuman teh pula, dahi Gui Moa-ih sudah mulai berkeringat, kembali ia tanya, “Harus menunggu berapa lama lagi?”

“Baiklah, hawa murni dalam tubuhmu rasanya sudah terhimpun sampai di dada, langkah dasar pertama ini boleh dikatakan sudah cukup,” ujar Siau-hi-ji. “Sekarang langkah kedua, sebelum dimulai, kentut dulu satu kali.”

“Apa, kau suruh aku kentut?” tanya Gui Moa-ih dengan gusar.

“Betul, kau harus kentut,” kata Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

“Kukira mulutmu yang lagi kentut!” teriak Gui Moa-ih dengan gusar. Meski gelisah dan gusar, tapi dia belum berani melompat bangun karena khawatir hasil latihannya tadi terbuang percuma.

Dengan tenang Siau-hi-ji lantas berkata, “Kau tahu, kentut adalah angin busuk dalam tubuh manusia, sebabnya kusuruhmu mengentut ialah supaya angin busuk dalam tubuhmu dihalau keluar, habis itu barulah mulai berlatih ilmu sakti.”

Gui Moa-ih pikir alasan Siau-hi-ji itu pun masuk di akal, terpaksa ia benar-benar mengentut satu kali. Orang yang punya Lwekang tinggi memang dapat mengendalikan setiap anggota badannya dan juga pernapasannya, maka untuk mengentut bukan sesuatu yang sukar.

Dengan sendirinya So Ing merasa geli, tapi sedapatnya ia menahan perasaannya sambil mendekap hidung dan melengos ke sana.

Namun Siau-hi-ji tetap bersikap sungguh-sungguh, katanya, “Kentutmu ini tidak masuk hitungan.”

“Kenapa tidak masuk hitungan?” tanya Gui Moa-ih.

“Caramu kentut harus buka celana,” kata Siau-hi-ji.

“Bu…buka celana…” Gui Moa-ih tergagap, mukanya menjadi merah padam.

“Ya, langkah ini disebut ‘buka celana dan kentut’,” ujar Siau-hi-ji.

Gui Moa-ih meraung murka sambil melompat bangun. Dia bukan orang tolol, bahkan licin dan licik, bukan manusia yang mudah diakali. Soalnya dia keranjingan belajar Ih-hoa-ciap-giok sehingga rada keblinger, sebab itulah ia kena dikibuli Siau-hi-ji.

Sekarang didengarnya ucapan Siau-hi-ji semakin tidak masuk akal, segera ia melompat bangun dan membentak, “Sesungguhnya ilmu…ilmu apakah ini?”

“Ini namanya ‘ilmu sakti si tolol kentut’, jauh lebih lihai daripada Ih-hoa-ciap-giok,” jawab Siau-hi-ji, tetap dengan air muka serius.

Saking geregetan Gui Moa-ih mengepal dengan kencang, sekujur badan serasa gemetar semua, sungguh kheki setengah mati. Akhirnya So Ing terpingkal-pingkal.

Baru sekarang Siau-hi-ji terbahak-bahak, ucapnya, “Goblok kau! Coba pikir apabila benar aku mahir Ih-hoa-ciap-giok, apakah mungkin aku bisa kau gantung di atas pohon? Kau telah menipu aku, jika sekarang tidak kubalas menipu kau, kan tidak adil?”

So Ing terkikik-kikik geli, katanya, “Tapi caramu…caramu ini rada-rada kebangetan.”

“Orang yang berani mengakali aku harus terima ganjarannya lebih banyak,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau menipu aku, hendak kucabut nyawamu!” teriak Gui Moa-ih sambil menubruk maju.

Tapi mendadak So Ing berseru, “Inilah kunci dasar latihan Ih-hoa-ciap-giok…”

Agaknya daya tarik ucapan So Ing lebih kuat daripada apa pun, pukulan Gui Moa-ih sudah hampir dilontarkan, tapi dia tahan mentah-mentah demi mendengar ucapan So Ing itu. Tanyanya dengan parau, “Bagaimana? Lekas katakan!”

“Sudah tentu akan kujelaskan,” ujar So Ing dengan tak acuh. “Tapi kau…”

“Aku harus bikin keparat ini tutup mulut dulu,” Gui Moa-ih menyeringai setelah mendeliki Siau-hi-ji.

Tapi mendadak Siau-hi-ji berteriak-teriak pula, “Wahai malaikat langit dan setan akhirat, ayolah lekas keluar menolong tuanmu, jika tidak segera akan kucaci maki kalian.”

“Huh, orang macam kau ini, setan pun tidak sudi menolongmu,” ejek Gui Moa-ih, berbareng jarinya lantas menutuk Hiat-to bisu anak muda itu.

Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba dari tempat gelap seseorang bersuara seram. “Kau bukan setan, dari mana kau tahu setan tidak sudi menolong dia?”

Suara itu samar-samar dan mengambang seperti diucapkan seorang yang sedang sekarat, waktu suara terdengar rasanya seperti di sebelah timur, tapi pada akhir ucapannya kedengarannya sudah di sebelah barat.

Di tengah malam buta dan di tengah hutan sunyi mendadak terdengar suara seram begini, sungguh membikin berdiri bulu roma orang.

Bahkan Gui Moa-ih juga merinding tanpa terasa, segera ia membentak, “Siapa itu? Manusia atau setan?”

“Memangnva aku bukan manusia!” suara tadi menjawab dengan tertawa seram.

Gui Moa-ih berputar dan mengincar ke tempat datangnya suara itu, secepat panah dia menubruk ke sana.

Tak terduga di tempat gelap sana berkumandang lagi suara seram itu, “Aku berada di sini!”

Waktu Gui Moa-ih memutar tubuh dan menubruk ke sana, tahu-tahu suara itu sudah berada di pucuk pohon dan sedang berkata, “Coba memandang ke atas!”

Gui Moa-ih mendongak, dilihatnya di pucuk pohon samar-samar memang ada sesosok bayangan kelabu dengan bajunya yang longgar berkibaran, kelihatan wajah seram dan lebih mirip setan daripada manusia.

Betapa pun Gui Moa-ih bukan sembarangan orang, setelah melihat bayangan lawan, ia menjadi lebih sabar, selangkah demi selangkah ia mendekat ke sana sambil menjengek, “Jika kau ingin menjadi setan, baiklah akan kukabulkan keinginanmu!” Berbareng itu secomot sinar perak terus berhamburan ke arah pucuk pohon.

Bayangan di atas pohon itu menjerit kaget, dengan enteng seperti daun jatuh ia terus melayang turun.

“Hm,” jengek Gui Moa-ih, “Ingin kulihat apakah kau berani main gila lagi atau tidak…”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seseorang menanggapi dengan terkekek-kekek, “Hehe, mati satu kali jadi setan, mati dua kali juga jadi setan. Coba kau pandang lagi ke sini!”

Gui Moa-ih terkejut dan cepat menoleh, ternyata bayangan kelabu tadi tahu-tahu sudah berada di pucuk pohon yang lain lagi, sorot matanya yang tajam sedang menatap Gui Moa-ih dengan terkekeh-kekeh.

Biarpun tinggi kepandaiannya dan besar nyalinya, tidak urung kaki dan tangan Gui Moa-ih menjadi rada gemetar.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang terbahak-bahak di belakangnya sambil berseru, “Hahaha! Orang gede begini juga kena digertak oleh setan?”

Cepat Gui Moa-ih membalik tubuh, dilihatnya seorang Hwesio bermuka gemuk bundar dengan berseri-seri sedang mendekatinya.

Diam-diam Gui Moa-ih menghimpun tenaga, bentaknya, “Apakah kau pun setan?”

“Tidak, Hwesio bukan setan, tapi Hwesio justru ahli menangkap setan, haha!” jawab Hwesio itu sambil tertawa.

“Hwesio penangkap setan?” Gui Moa-ih menegas.

“Betul… Hahaha, Hwesio tidak suka menangkap manusia melainkan lebih suka menangkap setan,” kata Hwesio itu tanpa melupakan tertawanya

“Jika begitu, silakan kau tangkap setan itu, Hwesio,” jengek Gui Moa-ih.

“Haha, Hwesio tidak menangkap manusia…Hwesio dapat membedakan mana manusia dan mana setan, hahaha!”

“Dia itu bukan setan?” tanya Gui Moa-ih.

“Sudah tentu bukan, hahaha, setan tidak berada di sana.”

“Habis setan berada di mana?” tanya Gui Moa-ih.

Mendadak si Hwesio menuding ke hutan yang gelap sana.

Tanpa terasa Gui Moa-ih memandang ke arah yang ditunjuk itu, maka tertampaklah di kegelapan sana entah sejak kapan sudah duduk sesosok bayangan orang, tangan memegang sesuatu benda entah panganan apa yang sedang dimakan dengan lahapnya.

Dengan gelak tertawa Gui Moa-ih berkata, “Hahaha, orang itu memang rada-rada mirip setan, sedangkan orang tadi sama sekali tidak berbau setan.”

Si Hwesio terbahak-bahak, katanya, “Setan tidak memper setan, yang mirip setan paling-paling cuma setengah manusia setengah setan dan sekali-kali bukan setan tulen.”

Diam-diam Gui Moa-ih memandang cara bagaimana harus menghadapi musuh yang berjumlah tidak sedikit ini, ia pikir harus sekali hantam merobohkan semua lawan itu, tapi di mulut ia sengaja menjawab dengan tertawa, “Ah, masa setan juga begitu rakus dan suka makan?”

“Hahaha, setan tidak makan barang lain, setan cuma gemar makan manusia, haha!” kata Hwesio tadi.

“Makan manusia?” Gui Moa-ih menegas dengan tertawa. “Hah, masa yang dimakannya itu manusia?”

“Haha, dia tidak percaya, kenapa tidak kau perlihatkan padanya,” ucap si Hwesio, sudah tentu kata-kata ini ditujukan kepada orang yang sedang makan sesuatu di hutan sana.

Terdengar orang itu mengekek tawa, makanan yang dipegangnya mendadak dilemparkan kepada Gui Moa-ih dan tanpa sadar terus ditangkap oleh Gui Moa-ih.

Begitu barang itu terpegang, Gui Moa-ih merasakan sesuatu yang lunak dan masih hangat-hangat. Waktu diawasinya, kiranya benar-benar sepotong lengan manusia yang habis direbus.

Baru sekarang Gui Moa-ih benar-benar terkejut, badan terasa lemas dan hampir jatuh kelengar. Cepat ia lemparkan kembali potongan lengan manusia itu.

Dengan cekatan orang di hutan sana menangkap kembali makanannya itu, katanya sambil terkekeh-kekeh, “Manusia di sekitar sini sama berbau tikus dan tidak enak dimakan, dengan susah payah kudapatkan orang yang masih mulus dan kumakan dengan hemat selama tiga hari, kini hanya tersisa sepotong lengan ini, jika kau buang begini saja kan sayang.”

Habis berkata, dengan lahap kembali ia menggerogoti pula lengan manusia itu.

Saking tak tahan hampir saja Gui Moa-ih tumpah-tumpah, tanpa terasa ia menyurut mundur.

Si Hwesio lantas tertawa, katanya, “Hahaha, jangan khawatir, badanmu juga berbau tikus, dia pasti tidak doyan dagingmu.”

“Se…sebenarnya siapakah kalian? Apa kehendak kalian?” tanya Gui Moa-ih dengan parau.

“Di sini cuma aku inilah manusia satu-satunya, ada urusan apa boleh dibicarakan dengan aku,” kembali seorang lagi menanggapi. Lalu muncul seorang jangkung dengan baju putih, wajah pun pucat dingin, nampaknya lebih seram daripada setan.

“Baik, jika kau manusia, akan kubikin kau menjadi setan juga,” bentak Gui Moa-ih dengan bengis. Berbareng itu dia lantas menghantam.

Cepat si baju putih mengebas lengan bajunya yang panjang dan menjulurkan tangan untuk menangkis.

“Kau cari mampus!” bentak Gui Moa-ih. Gerakannya cepat, perubahan serangannya juga cepat, baru setengah jalan pukulannya telah berubah menjadi mencengkeram, ia incar baik-baik pergelangan tangan lawan yang terselubung lengan baju itu dan segera hendak memegangnya.

Cengkeraman ini sangat kuat, bila kena, biarpun besi atau batu juga akan hancur. Tampaknya si baju putih tidak sempat ganti serangan dan juga tidak keburu menghindar, dengan tepat tangannya telah kena dicengkeram oleh Gui Moa-ih.

Akan tetapi mendadak Gui Moa-ih merasakan yang kena terpegang itu bukan tangan manusia melainkan suatu benda keras dan dingin. Dalam kagetnya lantas terdengar si baju putih membentak dengan menyeringai, “Lepas tangan!”

“Bret”, tahu-tahu lengan baju panjang itu robek menjadi dua, “tangan” orang itu telah menggores pada telapak tangan Gui Moa-ih, darah segar mengucur.

Kini Gua Moa-ih dapat melihat jelas “tangan” lawan ternyata bukan tangan biasa melainkan sebuah kaitan baja dengan ujung yang runcing.

“Haha, tentunya kau tahu sekarang bahwa manusia terkadang lebih sukar direcoki daripada setan!” demikian Hwesio tadi berseru sambil berkeplok tertawa.

Meski luka di tangan Gui Moa-ih tidak parah, tapi khawatir kaitan orang berbisa, ia tidak berani terlibat pertempuran lebih lama lagi, sekali melompat mundur segera ia hendak menerjang pergi.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang pula membentak dengan gusar, “Anak murid Bu-geh mana boleh kabur di medan tempur? Peduli mereka itu setan atau manusia, apa yang kau takuti?”

Menyusul suara itu, seorang lantas melompat keluar dari belakang si Hwesio, berbareng sebelah tangannya terus menghantam ke belakang, kontan Hwesio gemuk terpukul mencelat jauh ke hutan yang gelap sana.

Tertampak pendatang baru ini berperawakan kurus kecil seperti kanak-kanak, muka jelek memualkan tapi berjenggot yang terpelihara dengan indah, panjang terurai hampir menyentuh tanah. Kepalanya berkopiah emas, jubahnya mengeluarkan sinar hijau kemilau, tampaknya lucu tapi juga menakutkan.

Si setan pemakan manusia di hutan tadi mendadak berteriak, “Wah, Gui Bu-geh datang! Setan saja takut padanya, lekas angkat kaki!”

Gui Moa-ih tampak terkejut juga, katanya dengan tergagap, “Eng…engkau orang tua…”

“Hm, walaupun kau tidak anggap aku sebagai gurumu, tapi kutetap pandang kau sebagai murid dan tak dapat kusaksikan kau dikerjai orang,” jengek si kerdil alias Gui Bu-geh.

Dalam pada itu kawanan setan dan manusia tadi sudah kabur bersih, hanya Siau-hi-ji saja yang masih tergantung di pohon, entah sejak kapan So Ing juga sudah menghilang.

Dengan menghela napas menyesal Gui Moa-ih berkata, “Baru sekarang Tecu tahu, apa pun juga Tecu memang tak dapat dibandingkan dengan Suhu.”

“Hm, asal kau tahu saja,” jengek Gui Bu-geh. Setelah mengibaskan lengan bajunya, lalu berkata pula, “Di mana lukamu? Apakah berbisa?”

“Mungkin berbisa,” jawab Gui Moa-ih.

Perlahan Gui Bu-geh melangkah maju, katanva, “Ulurkan tanganmu, coba kulihat.”

Dengan perlahan Gui Moa-ih menjulurkan tangannya, tapi mendadak terus menghantam ke dada Gui Bu-geh.

Serangan ini sangat cepat dan di luar dugaan. Namun Gui Bu-geh agaknya sudah memperhitungkan kemungkinan ini, mendadak ia mengegos dan menggeser mundur, lalu membentak gusar, “Murid jahanam, kau berani terhadap guru?”

Gui Moa-ih tergelak-gelak, ucapnya, “Meski kepandaian menyamar cukup lihai, tapi jika ingin menyaru sebagai Gui Bu-geh, tampaknya kau belum mampu.”

“Gui Bu-geh” itu pun tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Bagus, ternyata kau dapat membongkar penyamaranku. Tapi coba jelaskan, bagian mana penyamaranku ini yang tidak betul?”

“Kau pernah melihat Gui Bu-geh?” tanya Gui Moa-ih.

“Jika belum pernah melihat dia, cara bagaimana aku dapat menyamarnya” jawab orang itu.

“Dan pernah kau lihat Gui Bu-geh berjalan?” tanya Gui Moa-ih pula.

“Memangnya Gui Bu-geh tidak pernah berjalan?” orang itu menegas dengan melengak.

“Masa kau tidak tahu bahwa pembawaannya memang cacat, kedua kakinya kecil seperti anak bayi, cara berjalannya lebih mirip anak merangkak,” tutur Gui Moa-ih dengan tertawa. “Lantaran khawatir dilihat orang, maka dia tidak pernah berjalan sendiri…”

Pada saat itulah terdengar suara “hahaha” orang tertawa, si Hwesio tadi melompat keluar dari kegelapan sambil berseru, “Haha, sekali ini Kiau genit benar-benar jatuh habis-habisan.”

Setan pemakan manusia tadi juga tiba-tiba muncul pula, katanya sambil tertawa, “Orang aneh dan jelek seperti Gui Bu-geh rasanya sukar dicari bandingannya di dunia ini, maka tidak heran siapa pun sukar menyamar seperti dia. Sudah sejak mula kutahu usahamu ini pasti akan sia-sia belaka.”

Mendadak si kerdil menggeliat sehingga tubuhnya mulur dua kaki lebih panjang, ucapnya dengan tertawa terkikik-kikik, “Yang kupikirkan sekarang ialah dengan cara bagaimana akan kubikin Gui Bu-geh berjalan.”

Sekonyong-konyong Gui Moa-ih membalik tubuh dan secepat kilat melayang ke samping Siau-hi-ji, dengan belatinya dia ancam tenggorokan anak muda itu sambil membentak, “Apakah kedatangan kalian hendak menolong dia ini?”

“Kalau betul mau apa?” jawab si Hwesio dengan terbahak.

“Jika kalian tidak lekas enyah dari sini, segera kubunuh dia lebih dulu.” bentak Gui Moa-ih.

“Hahaha, kukira kepandaianmu setinggi langit, tak tahunya, hahaha, paling-paling cuma begini saja?” si Hwesio bergelak tertawa pula.

Si setan pemakan manusia juga menimbrung dengan tertawa, “Kau mengancam hendak membunuh dia, apakah kau mampu membunuhnya?”

Di tengah gelak tertawa ramai itu, Siau-hi-ji yang tergantung jungkir di pohon dan tak bisa berkutik itu mendadak bisa bergerak. Bukan saja bisa bergerak, bahkan gerakannya secepat kilat. Sekali tangannya bergerak, serentak beberapa Hiat-to penting di tubuh Gui Moa-ih ditutuknya.

Tentu saja Gui Moa-ih kaget, belum lagi sempat menghindar, tahu-tahu tubuh merasa kaku.

Siau-hi-ji terus merampas belatinya dan balas mengancam tenggorokan orang, serunya sambil terbahak-bahak, “Haha, kembali kau kutipu lagi.”

Gui Moa-ih hanya mendelik belaka sambil menggereget. Dalam keadaan begini apa yang dapat dikatakannya lagi.

Siau-hi-ji memandangnya dengan tertawa gembira, katanya, “Sekarang tentunya kau tahu bahwa tidaklah enak hendak menarik keuntungan atas diriku, cepat atau lambat pasti kutagih kembali pokok bersama rentenya sekaligus.”

Setan pemakan manusia itu mendekati Gui Moa-ih dan mengendus-endus kuduknya, tiba-tiba ia mengunjuk rasa girang, serunya sambil berkeplok, “Wah, bagus, bagus sekali. Tubuh orang ini sudah tidak bau tikus lagi, jika kutambahi sedikit bumbu dan diberi kecap nomor satu untuk dimasak Ang-sio, kukira rasanya pasti tidak mengecewakan.”

“Apa…apa? Kau berani…” seru Gui Moa-ih dengan gelagapan.

Setan pemakan manusia itu meraba-raba mukanya, katanya dengan tertawa, “Kau marah apa? Kulitmu yang budukan ini bisa menjadi isi perutku kan untung bagimu? Orang yang pernah kumakan semuanya lebih empuk dan lebih harum daripadamu, jika tidak mengingat sedikit namamu di dunia Kangouw, tulang igamu ini tidak nanti menarik seleraku.”

Sorot mata Gui Moa-ih menampilkan rasa kejut dan takut, dengan terbelalak ia menegas, “Kau…jangan-jangan engkau ini ‘tidak makan kepala manusia’ Li Toa-jui?”

Setan pemakan manusia itu menengadah dan tertawa, jawabnya, “Sudah dua puluh tahun aku tidak bergerak di dunia Kangouw, tak tersangka masih ada yang ingat pada namaku.”

Sekujur badan Gui Moa-ih serasa lemas lunglai. Jika orang lain bilang mau makan dia, tentu dia takkan percaya. Tapi kalau Li Toa-jui mengatakan hendak makan dia, maka hal ini pasti bukan berseloroh belaka.

Bilamana seorang mengetahui dirinya sebentar lagi akan menjadi isi perut orang, maka perasaannya jelas tidak enak, betapa pun besar nyali orang itu juga pasti akan gelisah.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata, “Untuk apa kau menakut-nakuti dia lagi, jika pecah nyalinya karena ketakutan, kan dagingnya menjadi pahit dan tidak enak dimakan?”

“Betul-betul anak didikku dan harus dipuji,” seru Li Toa-jui dengan tertawa, “Syukur kau mengingatkan aku, setelah kurebus dia, dagingnya yang paling empuk di bagian pantat pasti akan kuberikan padamu.”

“Ah, aku tidak mau, cukup kau sisihkan satu jarinya saja untukku agar dapat kugerogoti seperti makan wortel di waktu iseng,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Boleh juga, kukira tangannya yang seperti cakar ini pasti lebih gurih daripada kaki bebek,” kata Li Toa-jui.

Mendadak seorang melompat turun dari atas pohon, pakaiannya yang putih kelabu itu berkibar tertiup angin, dia hinggap di depan Gui Moa-ih, tanyanya sambil menyeringai, “Apakah kau cuma kenal Li Toa-jui saja dan tidak kenal aku?”

Orang ini yang tadi terpaksa melompat turun karena sambitan senjata rahasia Gui Moa-ih, pada kopiahnya yang besar itu masih tampak menancap beberapa biji jarum mengkilap, agaknya dia benar-benar kaget dan jatuh ke bawah walaupun jarum itu tidak tepat mengenai tubuhnya.

Gui Moa-ih memandangnya sekejap, lalu memejamkan mata dan berkata dengan gegetun, “Yang main sembunyi-sembunyi dan berlagak sebagai setan seharusnya sudah kuduga pasti kau si setengah setan setengah manusia Im Kiu-yu ini.”

Tapi orang itu lantas menggunakan ranting pohon untuk menyingkap kelopak mata Gui Moa-ih dan berkata, “Coba pentang matamu yang lebar, Im Kiu-yu masih berada di sana.”

Terpaksa Gui Moa-ih membuka mata dan memandang ke sana. Benar juga, di sana masih berdiri sesosok bayangan orang yang berdandan dan berperawakan persis seperti orang di depannya sekarang.

Rupanya orang yang menyaru sebagai setan tadi terdiri dari dua orang, pantas sebentar berada di sini dan lain saat terlihat di sana.

Gui Moa-ih menghela napas panjang, tanyanya kemudian, “Cap-toa-ok-jin sekarang datang berapa orang?”

“Tidak banyak dan juga tidak sedikit, hanya enam saja,” jawab orang itu. “Dan aku inilah ‘bikin rugi orang lain tidak menguntungkan diri sendiri’ Pek Khay-sim adanya. Apakah kau keparat ini pernah mendengar nama kebesaranku?”

“Sudah lama kudengar bahwa di antara Cap-toa-ok-jin Pek Khay-sim terhitung yang paling tidak becus, orang Kangouw hanya menggunakan dia untuk mengisi jumlah Cap-toa-ok-jin saja,” jawab Gui Moa-ih tak acuh.

Tentu saja Pek Khay-sim menjadi gusar, tapi segera ia tertawa, “Haha, tidak perlu kau memecah belah kami, usiaku tahun ini sudah empat puluh delapan, tidak nanti kuterjebak oleh muslihatmu.”

“Haha, Pek Khay-sim benar-benar sudah lebih dewasa sekarang,” seru Hwesio tadi sambil berkeplok. “Tapi umurmu jelas sudah lima puluh dua, mengapa kau bilang empat puluh delapan, kau bukan orang perempuan, untuk apa merahasiakan umurmu?”

“Aku kan masih jejaka, belum punya bini, jika tidak mengaku lebih muda sedikit, siapa yang mau kujadikan istri?” jawab Pek Khay-sim dengan mendelik.

“Jika benar tiada perawan yang sudi menjadi istrimu, maka seadanya ambil saja To Kiau-kiau,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa. “Kan pernah kau dengar bahwa lebih baik setengah perempuan daripada tidak ada perempuan sama sekali.”

Yang menyamar sebagai si kerdil Gui Bu-geh tadi jelas bukan lain daripada To Kiau-kiau.

Dia tertawa, katanya kepada Li Toa jui, “Jangan khawatir, akan lebih baik kujadi istrinya daripada diperistri olehmu, betapa pun buruk dia memperlakukan istrinya, paling tidak pasti takkan makan istrinya sendiri.”

Peristiwa Li Toa-jui makan istrinya sendiri sebenarnya sudah tak terpikir lagi olehnya, dahulu dia sendiri terkadang malah suka mengungkatnya untuk menakuti orang lain. Tapi sekarang usianya makin lanjut, di tengah malam sunyi, dalam keadaan sendirian, terkadang ia tak dapat tidur dan teringat kepada kejadian masa lampau, maka hatinya menjadi sedih juga, bila terkenang pada istrinya yang berbudi halus dan dapat melayani dia dengan baik, teringat kepada tubuh sang istri yang montok dan putih…dan hatinya lantas pedih seperti ditusuk jarum.

Pada umumnya, kalau sudah memasuki masa tua barulah seorang akan merasakan betapa sedihnya orang kesepian, betapa berharganya cinta kasih, betapa hangatnya keluarga. Cuma sayang, ketika Li Toa-jui merasakan semua ini, sementara itu sang waktu sudah lalu, menyesal pun sudah terlambat.

To Kiau-kiau hidup berkumpul dengan Li Toa-jui dan lain-lain selama dua puluh tahun, dengan sendirinya dia tahu jalan pikiran kawan-kawannya itu. Maka apa yang diucapkannya tadi benar-benar menusuk perasaan Li Toa-jui.

Begitulah Li Toa-jui menjadi marah, bentaknya, “To Kiau-kiau, bilamana kau menyinggung lagi hal ini, segera kubunuh kau.”

“Apa gunanya kau bunuh aku? Dagingku kan tidak selezat daging istrimu?” jawab Kiau-kiau dengan tertawa.

Li Toa-jui meraung murka terus menerjang maju.

“Hm, apa kau ingin berkelahi benar-benar?” jengek To Kiau-kiau. “Ayolah maju, memang sudah lama juga ingin kuhajar adat padamu.”

Nyata kedua orang benar-benar hendak bergebrak. Syukur si Hwesio lantas mengadang di tengah mereka, serunya dengan tertawa, “Hahaha, kalian sudah tergolong orang tua, mengapa masih seperti anak kecil saja, berkelakar tetap berkelakar, kenapa jadi sungguhan? Apa tidak khawatir ditertawakan orang?”

“Hm, kau yang bikin gara-gara, sekarang berlagak sebagai wasit?” jengek Pek Khay-sim. Dia tepuk-tepuk pundak Gui Moa-ih, lalu berkata pula, “Nah ingat baik-baik di balik tertawa Hwesio ini tersembunyi belati, dia bisa tertawa sambil menikam, kau harus waspada kelak.”

“Ya, kutahu dia ini Ha-ha-ji si tertawa sambil menikam,” kata Gui Moa-ih dengan gegetun. Tiba-tiba pandangannya beralih ke arah si baju putih bermuka pucat itu dan bertanya, “Dan kau…?”

Si baju putih mengebas lengan bajunya sehingga kelihatan tangan kanannya yang buntung, sebagai gantinya, lengannya bersambung sebuah kaitan baja yang mengkilat, sedangkan tangan kiri tampak merah membara.

“Hah, si tangan…tangan berdarah! Toh Sat!” seru Gui Moa-ih.

Toh Sat hanya mendengus saja.

“Bagus, bagus, kiranya Cap-toa-ok-jin benar-benar telah datang enam, apa yang dapat kukatakan pula bila aku sudah jatuh dalam cengkeraman kalian,” ucap Gui Moa-ih dengan menyengir pedih.

“Benar, hanya ada mati bagimu” jengek Toh Sat sambil melangkah maju, sinar mengkilap berkelebat, kaitannya terus menggantol ke leher Gui Moa-ih.

“Nanti dulu!” cepat Li Toa-jui menarik tangan Toh Sat.

“Apa maksudmu?” tanya Toh Sat dengan bengis.

“Wah, jangan-jangan penyakit gemar membunuh Toh-lotoa kumat lagi?” ujar Li Toa-jui.

“Kalau sudah tahu, mengapa kau merintangi aku?” kata Toh Sat.

“Mana berani kurintangi kehendak Toh-lotoa,” cepat Li Toa-jui menjelaskan dengan tertawa. “Soalnya daging di tubuh orang ini tidak banyak, jika dia dibunuh dulu baru nanti kurebus dia, tentu darahnya akan banyak keluar dan dagingnya menjadi tidak ada rasanya.”

“Masa kau hendak merebusnya hidup-hidup?” tanya Toh Sat.

“Ya, sudah lama aku tidak makan enak, sudilah Toh-lotoa memberi bantuan,” ucap Li Toa-jui.

“Lain kali…”

“Lain kali pasti juga akan kubantu memuaskan selera Toh-lotoa,” tukas Li Toa-jui.

“Hmk,” kembali Toh Sat cuma mendengus saja sambil menarik kembali tangannya.

Gui Moa-ih lantas berteriak dengan gemetar, “Li Toa-jui, betapa pun kita adalah sama-sama orang persilatan, jika kau bunuh aku, mati pun aku tidak menyesal, tapi mana boleh…mana boleh kau…” tiba-tiba ia merasa mual sehingga isi perutnya tertumpah keluar.

“Bagus, tumpahlah, paling baik tumpah sebersih-bersihnya agar bisa lebih cepat kurebus,” ucap Li Toa-jui dengan tertawa. “Kalau tidak, sedikitnya aku harus menunggu tiga hari sampai perutmu menjadi kosong…”

Dengan berlepotan kotoran yang ditumpahkannya, dengan suara serak Gui Moa-ih berteriak, “Jika kau berani…berani…jadi setan pun takkan kuampunimu.”

“Hihi, nyali paman Li biasanya besar, dia tidak pernah takut pada setan, sebaliknya setan yang takut padanya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Masa…masa kau tidak jaga etika orang Kangouw lagi?” seru Gui Moa-ih dengan parau.

“Paman Li tidak kenal sanak keluarga, apalagi moral orang Kangouw segala, dia tidak peduli,” ujar Siau-hi-ji.

“Betul, yang kuketahui cuma makan enak, cara bagaimana harus kuolah dagingmu…” dengan tertawa Li Toa-jui lantas mencubit daging pipi Gui Moa-ih, lalu bergumam sendiri, “Wah, orang segede ini sedikitnya perlu pakai dua kati kecap nomor satu, satu kati arak Siauhin, dua tahil bawang brambang dan…dan setengah tahil bubuk Ngohiang.”

Sekujur badan Gui Moa-ih serasa lemas semua, ia tidak dapat marah lagi, dengan suara gemetar ia berkata, Mohon…mohon…jangan…jangan…” orang seperti dia juga mengucapkan kata “mohon”, maka dapat dibayangkan betapa ketakutannya.

Tapi Siau-hi-ji lantas menanggapi dengan tertawa, “Hati paman Li sangat keras, sia-sia belaka meskipun kau mohon ampun seribu kali padanya.”

Sekali angkat Li Toa-jui lantas jinjing tubuh Gui Moa-ih, katanya dengan tertawa, “Nah, para saudara, perutku sudah lapar, kupergi lebih dulu…”

Belum habis ucapannya Gui Moa-ih telah meraung keras-keras satu kali, lalu tidak sadarkan diri.

“Haha, semaput, dia semaput ketakutan!” seru Ha-ha-ji sambil berkeplok tertawa. “Li Toa-jui memang bisa saja. Haha!”

“Sekarang tentu kalian tahu, betapa pun buasnya seorang juga merasa takut akan dimakan orang,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

To Kiau-kiau lantas berseru sambil mendongak ke atas, “Nah, Im Kiu-yu, kau dengar tidak, orang sekarang tidak lagi takut pada setan melainkan cuma takut pada Li Toa-jui, maka makhluk setengah setan dan setengah manusia seperti kau tiada gunanya lagi.”

Im Kiu-yu melompat turun dari pucuk pohon, katanya dengan tertawa seram, “Apakah kau ingin aku berkelahi dengan Li Toa-jui?”

“Kukira kau tidak berani,” ujar To Kiau-kiau tertawa.

“Jika kubinasakan Li Toa-jui, nanti kalau kau mati kan aku yang harus membeli peti mati untuk menguburmu,” ujar Im Kiu-yu.

“Betul, orang macam kau ini andaikan mati juga mayatmu akan dihancurkan orang,” sambung Li Toa-jui dengan tertawa. “Jalan paling selamat kukira harus kumakan kau ke dalam perutku.”

“Tapi aku bukan Gui Moa-ih, aku takkan semaput oleh gertakmu,” kata To Kiau-kiau dengan terkikik-kikik.

Pek Khay-sim meraba-raba kepala Gui Moa-ih, ucapnya, “Setelah siuman, si keparat ini pasti akan tunduk kepada setiap perintah kita. Jika kita ingin membongkar liang tikus Gui Bu-geh, bantuan keparat ini sangat dibutuhkan.”

“Memang begitulah, kalau tidak, untuk apa kita menggertaknya dengan susah payah,” ujar Ha-ha-ji.

“Tapi aku yang celaka, aku tergantung lebih lama di atas pohon,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa sambil menggeliat untuk mengendurkan urat pinggang.

To Kiau-kiau memandang anak muda itu sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Ada beberapa persoalan ingin kami tanya padamu.”

“O, urusan apa?” jawab Siau-hi-ji.

“Tadi budak So Ing sudah hampir menceritakan rahasia Ih-hoa-ciap-giok, mengapa kau malah mencegahnya?” tanya To Kiau-kiau.

“Ya, betul, mengapa kau mencegahnya,” timbrung Pek Khay-sim. “Padahal kau kan hendak perang tanding dengan Hoa Bu-koat? Jika kau dapat menyelami rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok kan menguntungkan.”

Siau-hi-ji tertawa kemalas-malasan, jawabnya, “Bila sudah kuketahui rahasia ilmu silatnya, lalu apa artinya kalau nanti aku berkelahi dengan dia?”

“Jika dia dapat kau bunuh apakah juga tiada artinya?” kata Pek Khay-sim.

“Membunuh orang juga perlu memakai tenaga, dengan demikian baru ada artinya, kalau membunuh orang terjadi seperti menyembelih ayam atau anjing, lantas apanya yang menarik?” ujar Siau-hi-ji.

Untuk sejenak Pek Khay-sim melotot padanya, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berkata, “Ah, kiranya kau ini orang baik.” Mendadak ia tertawa pula sambil berkeplok, “Hah, sungguh janggal dan sukar untuk dipercaya bahwa anak yang dibesarkan oleh Ha-ha-ji, Li Toa-jui, Toh-lotoa, To Kiau-kiau dan Im Kiu-yu ternyata seorang yang baik…” dia pandang kelima orang kawannya itu sejenak, lalu berseru pula, “Haha, seorang serigala bisa melahirkan anjing gembala, apakah kalian tidak merasa malu?”

Air muka Im Kiu-yu dan Toh Sat tampak berubah, tapi Li Toa-jui lantas menanggapi dengan bergelak tertawa, “Hah, tampaknya kau pun hendak meniru To Kiau-kiau, kau ingin mengadu domba kami?”

To Kiau-kiau mengikik tawa, ucapnya, “Dia telah dikerjai habis-habisan oleh Siau-hi-ji, sudah tentu hatinya masih panas.”

“Panas hati bisa apa?” tukas Ha-ha-ji, “Haha, biarpun sepuluh Pek Khay-sim juga tidak dapat menandingi seorang Siau-hi-ji. Jika kau bermaksud menuntut balas, kukira sebaiknya batalkan saja niatmu ini.”

Pek Khay-sim tidak marah, ia berkata pula dengan tertawa, “Mana aku panas hati segala? Bilamana kelak sarang serigala dicaplok oleh anjing gembala, nah, baru tahu rasa.”

Ucapan ini membuat air muka Li Toa-jui merah padam.

Akan tetapi Siau-hi-ji pura-pura tidak tahu, serunya sambil tertawa, “Dasar bikin rugi orang lain tidak menguntungkan diri sendiri, kalau memang begitu wataknya, mati pun takkan berubah.”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara nyaring merdu, “Cap-toa-ok-jin memang tidak bernama kosong, baru sekarang aku benar-benar kagum.”

Tiba-tiba batang pohon yang besar sana merekah dan berujud sebuah pintu, batang pohon itu ternyata geronggang bagian dalamnya dan persis dapat dibuat sembunyi satu orang, kalau sudah sembunyi di situ, jelas sukar lagi ditemukan.

Dari rongga batang pohon itulah So Ing lantas melangkah keluar, ia memberi hormat dengan lembut, ucapnya pula dengan tersenyum, “Cap-toa-ok-jin yang termasyhur sudi berkunjung kemari, maafkan aku tidak melakukan penyambutan yang layak.”

“Hahaha, nona jangan sungkan-sungkan,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa, “Orang-orang macam kami pada dasarnya memang bertulang rendah, bila diperlakukan sungkan-sungkan malah kami akan takut dikibuli olehmu.”

“Di depan tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin masa ada orang berani berbuat jahat, itu kan seperti pemeo yang berujar, ‘main kapak di depan tukang kayu’, hanya cari penyakit sendiri,” kata So Ing.

Sampai di sini, sekonyong-konyong Li Toa-jui melompat pergi sambil berteriak-teriak, “Pergi, ayo pergi, lekas pergi!”

“Eh, secawan arak saja belum kusuguhkan pada kalian, mengapa kalian terburu-buru hendak pergi?” ujar So Ing.

“Jika tidak lekas pergi, rasanya aku tidak tahan lagi,” kata Li Toa-jui sambil menoleh.

“Kenapa engkau tidak tahan?” tanya Kiau-kiau.

“Melihat tubuh budak yang putih mulus ini, sungguh air liurku bisa menetes,” ucap Li Toa-jui. “Padahal kutahu Siau-hi-ji pasti tidak mengizinkan kumakan dia. Nah, kan bisa gila aku jika tidak lekas tinggal pergi saja.”

Habis bicara, segera ia panggul Gui Moa-ih terus dibawa lari pergi secepat terbang.

Segera Pek Khay-sim juga berteriak, “Betul, aku pun mau pergi saja. Melihat nona cantik begini, betapa pun hati jejaka seperti diriku ini pun rada-rada guncang, maka lebih baik kupergi saja daripada nanti bertengkar dengan Siau-hi-ji memperebutkan si cantik.” Di tengah ucapannya, sekali melayang, hanya sekejap saja ia pun menghilang.

Menyusul Ha-ha-ji juga lari pergi sambil berseru, “Haha, memang betul, kalau tidak lekas pergi mungkin juga Hwesio bisa melanggar pantangan.”

“Untung aku ini setengah perempuan, kalau tidak…hihihi!” To Kiau-kiau tertawa nyekikik, ia lirik Siau-hi-ji sekejap, lalu melayang ke atas pohon terus lenyap.

Im Kiu-yu tertawa seram, katanya, “Jika nona merasa bosan menjadi manusia, silakan cari padaku untuk menjadi setan, menjadi setan terkadang lebih menarik daripada menjadi manusia. Malahan jaman sekarang setan perempuan sangat laris, permintaan banyak, persediaan kurang.”

“Terima kasih atas perhatianmu, cuma sekarang hidupku terasa cukup menyenangkan,” jawab So Ing sambil tertawa.

Sambil menuding Siau-hi-ji, Im Kiu-yu menambahkan pula, “Jika kau mencintai bocah ini, tidak terlalu lama tentu kau akan merasa bosan hidup -.” bicara sampai di sini, tahu-tahu suaranya sudah berada di kejauhan.

Toh Sat menatap Siau-hi-ji tajam-tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Masih berapa lama kau tinggal di sini?”

“Mungkin tidak terlalu lama lagi,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Kau tahu di mana akan dapat menemukan kami?” tanya Toh Sat pula.

“Tahu,” sahut Siau-hi-ji.

“Bagus!” ucap Toh Sat, tahu-tahu dia sudah melayang jauh ke sana, mendadak ia berpaling pula dan memberi pesan, “Awas, bilamana perempuan cantik juga makan manusia, biasanya berikut kepalanya juga akan dimakan mentah-mentah.”

“Jangan khawatir, Cianpwe,” sela So Ing dengan tertawa. “Nafsuku makan biasanya kurang baik, maka selamanya aku cuma makan barang tak berjiwa.”

Begitulah, dalam waktu singkat suasana hutan menjadi sunyi senyap.

Dengan tersenyum So Ing memandang Siau-hi-ji, tanyanya, “Waktu kau digantung di sini oleh Gui Moa-ih tadi, kawanan Cap-toa-ok-jin ini sudah tiba?”

“Ya, kedatangan mereka sangat kebetulan,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Maka kau lantas minta mereka membuka Hiat-tomu?”

“Cukup keras cara menutuk keparat she Gui itu, dengan tenaga mereka berenam perlu berkutetan sekian lama baru dapat membuka Hiat-toku.”

“Tapi kau tetap pura-pura tidak bisa bergerak untuk menipu aku?”

“Sebenarnya bukan tujuanku hendak menipumu, soalnya Gui Moa-ih telah menipu aku satu kali, mana boleh kubiarkan dia pergi sebelum kubalas mengerjai dia agar ia tahu kelihaianku.”

“Meski tujuanmu bukan menipu aku, tapi kemudian aku yang tertipu,” ucap So Ing.

“Jika begitu pikirmu, ya terserah,” ujar Siau-hi-ji sambil angkat pundak.

“Kau tahu aku sangat baik padamu, kau lantas menggunakan kelemahan ini untuk menipu aku agar aku khawatir dan cemas bagimu. Tanpa menghiraukan apa pun aku berusaha menyelamatkanmu, tapi kau menggunakannya untuk memeras aku agar menguraikan rahasiaku.”

Tanpa berkedip ia menatap Siau-hi-ji, sorot matanya kelam seperti kemilau air laut di dalam gelap.

Siau-hi-ji melengos ke sana, mendadak ia berpaling pula dan berkata, “Kan sudah kukatakan sejak mula bahwa aku ini bukan orang baik. Apabila ada orang berlaku baik padaku, maka dia sendiri yang bakal apes.”

So Ing menghela napas gegetun, ucapnya perlahan, “Kebanyakan orang di dunia ini sama khawatir dirinya akan berubah menjadi busuk, tapi kau kebalikannya, kau seakan-akan khawatir dirimu akan berubah terlalu baik, maka kau selalu ingin berbuat sesuatu untuk membuktikan bahwa kau ini bukan orang baik-baik… Sesungguhnya apa sebabnya kau berbuat demikian? Kukira kau sendiri pun tidak tahu, betul tidak?”

“Ya, bisa jadi lantaran pembawaanku memang berbibit jahat,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

So Ing memandangnya sejenak, tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata, “Tapi apakah kau tahu bahwa dirimu tidaklah sejahat sebagaimana kau bayangkan.”

“O? Orang macam apakah diriku ini, masa kau terlebih jelas daripada diriku sendiri?”

“Ehm, aku tahu,” jawab So Ing.

“Coba, coba katakan?!” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Pangkal soalnya adalah karena sejak kecil kau telah berkumpul dan dibesarkan oleh orang-orang jahat itu, maka di dalam hatimu selalu merasa dirimu tak dapat berubah menjadi orang yang baik.”

“Oya, masa begitu?”

“Pula, kau pun menganggap bila dirimu berubah terlalu baik, rasanya menjadi seperti mengkhianati orang-orang yang telah membesarkanmu itu, makanya terkadang kau harus berbuat sesuatu kebusukan untuk membuktikan dirimu -.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji terbahak-bahak dan memotong ucapan si nona, “Hahaha, kan belum berapa hari kau kenal aku, masa kau anggap telah cukup memahami diriku?”

“Tadinya aku pun tidak terlalu paham, tapi setelah melihat orang-orang tadi aku jadi jelas.”

“Oya?!”

“Orang-orang tadi sungguh boleh dikatakan jeniusnya orang jahat, kejahatan mereka boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya sempurna, mereka dapat berbuat sesuatu yang kotor dan rendah, melakukan sesuatu yang keji dan kejam, tapi malah membuat orang merasa tertarik.”

“Kau tidak perlu mengolok-olok mereka, kan mereka tidak bersalah padamu?” ujar Siau-hi-ji.

“Betul, aku malah harus berterima kasih kepada mereka,” kata So Ing dengan tertawa.

“Berterima kasih apa?” tanya Siau-hi-ji heran.

“Jika tiada mereka, mana aku dapat kenal kau,” ujar So Ing dengan tersenyum.

“Ucapanmu makin membingungkan aku,” kata Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Kau tidak paham sungguh-sungguh?”

“Ehm,” Siau-hi-ji mengangguk.

Dengan sekata demi sekata So Ing lantas menjelaskan, “Masa sampai sekarang belum lagi kau sadari bahwa mereka itulah yang memancingmu ke…ke liang tikus itu.”

Kembali Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Lucu, sungguh lelucon besar. Memangnya untuk apa mereka menipu aku?”

“Bisa jadi lantaran mereka telah mengetahui bahwa kau sesungguhnya bukan manusia jahat seperti mereka, bisa jadi akhirnya engkau juga akan mengkhianati mereka, maka mereka sengaja membuat tanda-tanda rahasia itu untuk memancingmu masuk ke liang tikus sana, dengan meminjam tangan Gui Bu-geh mereka hendak melenyapkan kau…”

“Hahaha, jika begitu, jadi kau anggap mereka sengaja hendak membinasakan aku?” Siau-hi-ji menegas dengan tertawa.

“Ehm, begitulah,” jawab So Ing.

Mendadak Siau-hi-ji berhenti tertawa dan berteriak, “Sekarang ingin kutanya, jika mereka ingin membinasakan aku, mengapa tadi mereka menyelamatkan aku pula.”

“Bisa jadi tiba-tiba mereka merasa kau masih berguna bagi mereka dan sayang kalau terbunuh begitu saja, mungkin pula mereka…”

“Kentut, kentut busuk!” mendadak Siau-hi-ji berjingkrak gusar. “Apa yang kau katakan sama sekali tak dapat kupercaya.”

So Ing menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian dengan tenang. “Kukira engkau bukan tidak percaya sungguh-sungguh, cuma tidak suka percaya saja, betul tidak?”

“Betul kentut!” omel Siau-hi-ji pula. “Kau bukan cacing pita dalam perutku, dari mana kau tahu isi hatiku?”

“Bukan maksudku mengharuskan kau percaya, cukup kau lebih waspada dan berjaga-jaga, begitu saja,” ucap So Ing sambil menghela napas.

“Haha, kau suruh aku berjaga-jaga. Kukira kau sendiri yang perlu lebih berhati-hati.”

So Ing melengak heran, tanyanya dengan tertawa, “Aku? Aku harus hati-hati urusan apa?”

“Memangnya kau kira tempatmu ini sudah cukup aman?”

“Tempatku ini selama ini memang aman tenteram.”

“Tapi sekarang belum tentu aman lagi,” jengek Siau-hi-ji.

“Oya?!”

“Orang-orang yang datang ke sini memang hendak mencari perkara kepada Gui Bu-geh, maka mereka tentu tidak perlu lagi sungkan-sungkan padamu lantaran jeri terhadap Gui Bu-geh.”

So Ing menghela napas menyesal, ucapnya, “Memang betul ucapanmu, selanjutnya tempat ini mungkin benar-benar akan berubah menjadi arena pertempuran, rasanya aku pun tidak dapat berdiam lebih lama lagi di sini. Tadi…apakah engkau telah melihat sesuatu?”

“Orang yang tergantung di atas pohon, yang dilihatnya tentu jauh lebih banyak dan lebih luas daripada orang lain,” jawab Siau-hi-ji dengan tenang.

“O, sesungguhnya apa yang telah kau lihat?”

“Kulihat dua orang.”

So Ing mengikik tawa, katanya, “Seumpama melihat dua puluh orang juga bukan urusan yang mengherankan.”

“Tapi kedua orang ini justru sangat mengherankan,” ujar Siau-hi-ji.

“Oya?….”

“Sudah sejak tadi kedua orang ini bersembunyi di balik batu sana, mereka sudah berada di sana waktu kawan-kawanku datang menolong diriku, tapi mereka seperti tidak ingin ikut campur urusan yang terjadi di sini, setelah kau dan Gui Moa-ih datang ke hutan ini, segera mereka menyusup ke rumah sana secepat terbang, Ginkang mereka ternyata tergolong kelas satu…”

So Ing tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa, katanya, “Jadi lantaran urusan inilah maka kau masih tinggal di sini?”

“Ehm,” jawab Siau-hi-ji singkat.

Makin manis tertawa So Ing, makin hangat dan lembut ucapannya, “Kiranya engkau tetap memperhatikan diriku.”

“Hm, masa bodoh jika kau suka menghibur diri sendiri, hanya saja saat ini bukan waktunya kau memuaskan dirimu sendiri, sebab kedua orang itu…”

“Kau tidak perlu khawatir bagiku,” kembali So Ing memotong. “Kutahu siapa kedua orang itu.

“Memangnya siapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Mereka adalah pasangan suami istri yang lucu, mereka sering kali berbuat sesuatu yang mereka anggap pintar. Mendingan yang lelaki, yang perempuan bahkan selalu menganggap dirinya jauh lebih pintar daripada orang lain, padahal dia sebenarnya orang sinting.”

“Orang yang suka menganggap diri sendiri lebih pintar daripada orang lain memang kebanyakan punya penyakit, kecuali aku tentunya, sebab aku memang jauh lebih pintar daripada siapa pun juga,” ucap Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

So Ing tertawa terpingkal-pingkal, katanya kemudian, “Rasanya aku harus memperkenalkan pasangan suami istri itu padamu…”

“Tapi sayang sekarang sudah terlambat,” tukas Siau-hi-ji.

“Ma…masa mereka sudah pergi?”

“Ya, bukan saja mereka sudah pergi, bahkan membawa serta dua bungkusan besar.”

So Ing melengak, katanya cepat, “Kapan mereka pergi?”

“Tadi, waktu kau sedang tertawa gembira.”

“Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?”

“Sebenarnya hendak kukatakan, tapi tertawamu tampak sangat gembira sehingga tiada peluang bagiku untuk bicara,” Siau-hi-ji sengaja menghela napas menyesal, lalu menyambung pula, “Dan sekarang, mungkin kau tidak dapat tertawa lagi.”

Tak tahunya, setelah bola matanya berputar, kembali So Ing tertawa, katanya, “Yang mereka gondol itu bukan dua bungkus barang, melainkan dua orang.”

Sekali ini yang melengak ialah Siau-hi-ji, serunya cepat, “Apa? Dua orang? Orang hidup?”

“Tak dapat dikatakan orang hidup, tapi juga bukan orang mati, ya anggaplah dua orang yang setengah hidup dan setengah mati.”

“Dengan susah payah kedua orang suami istri itu hanya mencuri dua orang yang setengah hidup setengah mati begitu?” tanya Siau-hi-ji.

“Ehm,” jawab So Ing.

“Untuk apa mereka mencuri dua orang setengah hidup setengah mati?”

“Jika ada gunanya tentu takkan kubiarkan dicuri mereka.”

Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya, “Tampaknya suami istri itu memang rada-rada sinting -.”

“Tapi tindakan mereka itu sama dengan telah membantumu,” tiba-tiba So Ing tertawa pula.

Kembali Siau-hi-ji melengak, “Membantu aku apa maksudmu?”

“Sebab satu di antara kedua orang yang mereka gondol itu adalah musuhmu yang akan duel dengantmu.”

Siau-hi-ji tambah heran, “Musuhku? Siapa maksudmu?”

“Coba ingat-ingat, adakah musuhmu yang akan mengadu jiwa denganmu akhir-akhir ini?”

Hati Siau-hi-ji serasa mencelus, serunya parau, “Mak…maksudmu Hoa Bu-koat?”

“Betul,” jawab So Ing dengan tertawa.

Seperti kucing yang terinjak ekornya, Siau-hi-ji berjingkat kaget dan berteriak, “Jadi maksudmu Hoa Bu-koat digondol orang?”

Melihat sikap Siau-hi-ji itu, So Ing jadi terkejut, jawabnya dengan ragu-ragu, “Be…betul!”

“Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?” Siau-hi-ji meraung.

“Dari mana kutahu dia dibawa lari orang? Kau sendiri yang tidak mau bilang sejak tadi-tadi,” jawab So Ing sambil tersenyum getir.

Mendadak Siau-hi-ji menampar pipi sendiri beberapa kali, serunya, “Ya, betul, mengapa tidak sejak tadi kukatakan padamu? Mengapa aku tidak berusaha merintangi perbuatan mereka…” sambil berteriak, seperti orang gila dia terus lari pergi.

Maksud So Ing ingin mencegahnya, namun bayangan Siau-hi-ji sudah menghilang di kejauhan, di dalam hutan hanya tinggal dia sendirian. Ia termangu-mangu sekian lama, gumamnya, “So Ing…O, So Ing, masa kau biarkan dia pergi begitu saja?”

Tiba-tiba dia seperti bertekad mengambil sesuatu keputusan, cepat ia lari kembali ke rumah sana sambil bergumam pula, “Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji, takkan kubiarkan kau pergi begitu saja, sebab kutahu takkan kutemukan lagi orang seperti engkau. Tak peduli ke mana kau pergi pasti akan kudapatkan engkau.”

Baru saja bayangan si nona lenyap ke rumah di kejauhan sana, mendadak sepotong batu yang terletak di bawah salah satu pohon di hutan ini bergerak dan bergeser. Di bawah batu lantas tertampak sebuah gua.

Dari dalam gua lantas menongol keluar seorang.

Lubang gua ini tidak besar, tampaknya seekor anjing saja sukar bersembunyi di situ, tapi orang ini jelas-jelas menerobos keluar dari lubang gua itu.

Tubuh orang itu begitu lemas, seperti kertas, bisa dilipat juga seperti secomot lempung, dapat digulung. Akan tetapi matanya bersinar tajam seperti mata pisau.

Menyaksikan lenyapnya bayangan So Ing, tersembul senyuman jahat pada ujung mulut orang ini, gumamnya, “Kau tidak perlu khawatir, tak peduli bocah itu kabur ke mana, pasti akan kutemukan dia bagimu.”

*****

Di balik kaki bukit yang rindang sana tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda, rupanya sebuah kereta kuda bersembunyi di sana, pengendara kereta ialah Thi Peng-koh.

Di atas kereta penuh dialing-alingi dedaunan, Thi Peng-koh siap memegang tali kendali dan cambuk, tampaknya setiap saat siap untuk melarikan kereta itu.

Dengan alis berkerut Thi Peng-koh tampak muram durja, agaknya bukan karena gelisah menunggu, tapi lantaran hatinya memang kusut dan dirundung banyak persoalan.

Sekonyong-konyong terdengar suara keresekan, dedaunan di atas kereta bergoyang. Cepat Thi Peng-koh menegur dengan suara tertahan, “Apakah Cianpwe telah kembali?”

“Ya, kami,” terdengar suara Pek San-kun.

Peng-koh menggigit bibir, namun tetap tak dapat menahan perasaannya dan akhirnya bertanya, “Apakah Cianpwe berhasil?”

“Jangan khawatir,” demikian terdengar suara Pek-hujin. “Giok-long yang kau rindukan ini sekarang sudah berbaring di dalam kereta.”

Segera Peng-koh menarik tali kendali, kereta kuda itu terus membedal cepat ke sana.

Setelah membelok beberapa kali, kereta itu bukannya keluar daerah perbukitan, sebaliknya makin jauh menuju ke pedalaman perbukitan itu. Sementara itu di dalam kereta berkumandang suara keluhan Kang Giok-long.

Tubuh Giok-long meringkuk menjadi ringkas, tiba-tiba ia merintih dengan suara gemetar, “Wah, dingin…dingin sekali!”

Tapi tidak seberapa lama, tahu-tahu dahinya penuh berkeringat, lalu berteriak-teriak pula, “Wah, panas, bisa mati kepanasan aku!”

Sepanjang jalan ini, Kang Giok-long sebentar mengeluh kedinginan dan lain saat sambat kepanasan dan begitu seterusnya entah berulang sampai berapa kali.

Pek-hujin cuma geleng-geleng kepala saja, katanya, “Entah dengan racun apa budak itu telah menyiksa anak ini sedemikian rupa.”

Pek San-kun memandang sekejap pada istrinya, ucapnya, “Jika kau susah, kenapa tidak kau carikan akal untuk menolong dia?”

“Racun apa yang digunakan budak itu sama sekali tak diketahui, cara bagaimana aku dapat menolongnya?” kata Pek-hujin dengan gegetun, “Tampaknya bocah ini selanjutnya mungkin…mungkin…”

“Hm, bocah ini bukan sanak bukan kadang kita, dia datang ke sini untuk minta pertolongan kita, untuk apa kau merasa susah baginya?” jengek Pek San-kun tiba-tiba.

“Eh, kau cemburu?” kata Pek-hujin sambil tersenyum genit.

“Hmk,” Pek San-kun mendengus.

Pek-hujin mencolek pipi sang suami, katanya dengan tertawa, “Ai, tua tolol, masa kau kira aku bersusah baginya? Aku cuma merasa cara budak itu terlalu lihai, coba kau lihat Hoa-kongcu kita ini -.”

“Ya, keadaan Hoa-kongcu inilah yang membuat kita khawatir,” akhirnya Pek San-kun juga menghela napas gegetun.

Keadaan Hoa Bu-koat memang menyedihkan, seperti orang kehilangan ingatan, duduk termenung, tidak bersuara dan tidak bergerak, sorot matanya tampak kabur, seakan-akan seluruh tubuh sudah kaku tanpa cita rasa apa pun.

Bila ada yang sedih dan kasihan melihat keadaan Buyung Kiu, maka melihat keadaan Hoa Bu-koat sekarang pasti orang akan menangis. Meski linglung keadaan Buyung Kiu, sedikitnya dia masih bisa bersuara dan dapat tertawa.

Tapi sekarang Hoa Bu-koat benar-benar tiada ubahnya seperti orang mati, bedanya cuma dia dapat bernapas, apa pun yang ditanyakan orang padanya seolah-olah tak didengarnya sama sekali.

Di pedalaman perbukitan itu suasana sunyi senyap, kabut remang-remang meliputi bumi.

Di tengah hutan ada sebuah rumah batu kecil, rumah yang mirip tempat bersemadi kaum pertapa.

Tapi kini rumah demikian telah digunakan Pek San-kun sebagai tempat bersembunyi.

Dalam rumah batu kecil ini ada beberapa buah meja dan bangku batu yang sederhana, mungkin karena sering diguyur oleh air hujan, maka di dalam rumah tidak terlalu banyak menumpuk debu kotoran.

Ke rumah batu inilah Hoa Bu-koat dibawa masuk. Rupanya bukan saja dia tidak dapat mendengar pembicaraan orang, bahkan berjalan saja tidak dapat.

Pek-hujin berkerut kening sambil memandangi Hoa Bu-koat, ucapnya, “Kau kira dia benar-benar berubah menjadi begini atau cuma pura-pura saja?”

“Hal ini sukar dikatakan!” jawab Pek San-kun.

“Jika benar, mungkin ia sendiri pun tidak ingat lagi rahasia Ih-hoa-ciap-giok apa segala,” ujar Pek-hujin dengan menyesal. “Lantas dengan cara bagaimana kita dapat memaksa dia membeberkan rahasia itu.”

Pek San-kun tidak menjawabnya, tiba-tiba ia berpaling keluar rumah.

Sejak tadi Thi Peng-koh merangkul Kang Giok-long dan duduk di bawah pohon di luar sana, nyata dia tetap tidak berani berhadapan dengan Hoa Bu-koat, maka tidak berani ikut masuk.

Mendadak sinar mata Pek San-kun berkilau, tiba-tiba ia lari keluar dan bertanya, “Sekarang dia kedinginan atau kepanasan?”

Peng-koh menghela napas, jawabnya, “Sekarang dia merasa sekujur badan sakit semua, entah -.”

Sekonyong-konyong kedua pundaknya terasa kaku kesemutan, tahu-tahu Koh-cing-hiat bagian pundak telah kena ditutuk oleh Pek San-kun.

Keruan Peng-koh terkejut dan gusar pula, teriaknya, “He, apa-apaan tindakan Cianpwe ini?”

“Kabarnya kau pun pelarian dari Ih-hoa-kiong bukan?” tanya Pek San-kun.

“Jika…jika sudah tahu, untuk apa kau tanyakan pula?” jawab Peng-koh dengan gemas.

“Kalau begitu, akan kupinjam tubuhmu sebentar,” kata Pek San-kun menyeringai. Mendadak ia jambak rambut Thi Peng-koh terus diangkat.

Dengan sendirinya Kang Giok-long yang berada dalam pangkuan Thi Peng-koh lantas jatuh ke tanah dan mengeluarkan suara keluhan. Tapi dengan suara terputus-putus ia malah berkata, “Ya, bol…boleh, si…silakan Cianpwe pakai saja.”

Orang ini benar-benar berhati keji dan juga kejam, dalam keadaan bagaimana pun cara bicaranya selalu disesuaikan dengan keadaan. Karena sekarang dia tahu merintih kesakitan juga tiada gunanya, sebab tiada seorang pun yang mau menggubrisnya, maka ia pun tidak sambat lagi.

Cuma sayang, apa pun yang dia ucapkan pada hakikatnya Pek San-kun tidak ambil pusing lagi. Dia menyeret Thi Peng-koh ke dalam rumah dan dibawa ke depan Hoa Bu-koat, lalu berteriak dengan suara bengis, “Kau kenal tidak perempuan ini?”

Namun Hoa Bu-koat cuma memandang Peng-koh dengan sorot mata hambar, tidak menggeleng juga tidak mengangguk.

“Perempuan ini pun anak murid Ih-hoa-kiong, masa kau tidak kenal dia?” bentak Pek San-kun pula.

Hoa Bu-koat tetap diam saja, tidak bersuara dan tidak bergerak.

“Hehe, ingin kulihat apakah kau benar-benar tidak kenal dia atau cuma pura-pura saja,” ucap Pek San-kun sambil menyeringai.

“Bret”, mendadak ia robek baju dada Thi Peng-koh sehingga tertampaklah buah dadanya yang montok dan halus.

Sedapatnya Thi Peng-koh menggereget menahan perasaannya, ia tidak minta ampun dan juga tidak menjerit takut. Setelah berpengalaman selama ini, ia tahu menjerit minta ampun juga tiada gunanya.

Hoa Bu-koat masih tetap duduk di tempatnya, air mukanya tetap dingin-dingin saja tanpa emosi, mata terpentang lebar memandang Thi Peng-koh seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.

Pek San-kun tambah kheki, bentaknya dengan bengis, “Kau tetap tidak kenal dia? Baik, supaya kau dapat melihatnya lebih jelas!”

“Bret-bret”, badan Thi Peng-koh yang ramping dan mulus itu segera terpampang jelas di depan Hoa Bu-koat.

Kedua paha Thi Peng-koh yang panjang polos itu berimpit kencang, seperti dadanya yang juga sudah terbuka itu tampak rada gemetar terembus oleh angin pegunungan yang sejuk.

Air mata tampak meleleh di pipi Thi Peng-koh, air mata malu dan merasa terhina, tapi juga dengan pancaran rasa benci dan dendam ia pelototi Pek San-kun.

Namun Pek San-kun hanya memandang Hoa Bu-koat dengan terbelalak.

Apabila Hoa Bu-koat tidak berani memandang tubuh Thi Peng-koh yang bugil memesona itu, jika tidak tega melihat sikap malu dan terhinanya itu, maka ini berarti Hoa Bu-koat masih mempunyai daya ingatan, masih berperasaan. Dan lagak linglungnya itu jelas cuma pura-pura belaka.

Tapi kini pandangan Hoa Bu-koat sama sekali tidak menghiraukan keadaan Thi Peng-koh yang polos itu, ia masih terbelalak linglung memandangi Thi Peng-koh dengan dadanya yang montok, perutnya yang lapang licin, pahanya yang panjang berimpit dan… Semua ini bagi Hoa Bu-koat seakan-akan cuma batu belaka.

“Menyaksikan saudara seperguruanmu dalam keadaan begini dan kau tetap tidak mau tahu, apakah kau tidak takut membikin malu habis-habisan segenap penghuni Ih-hoa-kiong kalian?,” teriak Pek San-kun dengan gusar.

Meski dia meraung-raung dengan murka, namun Hoa Bu-koat tetap tidak ambil pusing.

“Baik, karena kau tidak takut kehilangan muka, biar kubikin kau lebih malu lagi!” seru Pek San-kun sambil menyeringai.

Segera ia pegang tubuh Thi Peng-koh yang telanjang bulat itu lalu hendak di…

Sejak tadi Pek-hujin hanya menonton saja dengan tersenyum, baru sekarang ia mendekati sang suami, ia tepuk-tepuk pundaknya dan menegur, “Wah, kukira sudah cukup. Masa dari pura-pura menjadi sungguhan, jangan menggagap ikan di air keruh. Jika sandiwara ini diteruskan, bisa cemburu aku.”

Terpaksa Pek San-kun melepaskan Thi Peng-koh sambil menyengir, katanya kemudian dengan menggeleng, “Kukira bocah ini memang sudah kehilangan ingatan.”

“Ya, kalau tidak, mustahil dia diam saja menyaksikan anak murid perempuan seperguruannya dihina orang,” ujar Pek-hujin. Lalu ia tepuk-tepuk punggung Thi Peng-koh, katanya dengan tertawa, “Kau jangan marah ya, ini cuma main-main saja.”

Thi Peng-koh memejamkan mata, air mata pun bercucuran.

“Lihatlah, kau tua bangka mau mampus ini, nona kecil orang kau bikin kheki begini?” omel Pek-hujin kepada sang suami.

Pek San-kun bergelak tertawa, katanya, “Jika dia kheki, boleh dia buka pakaianku hingga bugil.”

Pek-hujin lantas menanggalkan baju luar sendiri untuk membungkus tubuh Thi Peng-koh, ucapnya dengan suara halus, “Sudahlah, jangan menangis, sudah biasa bila melihat perempuan cantik, lelaki mana pun ingin mencaploknya kalau bisa.”

“Biar kubawa dia keluar saja,” kata Pek San-kun dengan tertawa.

“Hm, kau hendak main gila apalagi?” omel Pek-hujin. “Sekarang kau tidak diperlukan lagi.”

Lalu ia membawa Thi Peng-koh keluar dan dibaringkan di samping Kang Giok-long, katanya, “Biar kalian berdua muda-mudi ini bermesra-mesraan, ya!”

Kang Giok-long masih kesakitan setengah mati, ia berlagak tertawa dan sengaja berseloroh, “Ah, dasar anak kecil, orang cuma bergurau saja lantas menangis.”

Sungguh gemas hati Thi Peng-koh, dampratnya, “Kau…kau ini manusia atau bukan?”

Kang Giok-long melirik dan melihat Pek San-kun suami istri sudah berada di dalam rumah sana, ia menghela napas lega, dengan suara tertahan isi mendesis, “Menyaksikan kau dihina orang cara begitu, memangnya kau kira hatiku tidak pedih?”

“Jika…jika pedih, mengapa begitu caramu bicara?” omel Thi Peng-koh dengan mendongkol.

“Berada di emper rumah orang yang rendah, mau tak mau kita harus menunduk,” ujar Giok-long dengan menyesal. “Keadaan kita sendiri begini, jika main kekerasan, apakah kita bisa hidup lebih lama lagi?”

“Aku tidak takut mati, bagiku lebih baik mati daripada dihina orang seperti hewan,” kata Peng-koh dengan menggereget.

“Hanya orang tolol yang tidak takut mati,” ujar Kang Giok-long.

“O, jadi…jadi kau sangat takut mati? Aku benar-benar salah menilai dirimu,” omel Thi Peng-koh dengan mendelik.

Giok-long tertawa, katanya, “Masa kau tidak tahu pemeo yang bilang ‘hidup kotor lebih baik daripada mati konyol’.”

“Hm, pemeo begini hanya berlaku bagi kaum pengecut yang tidak tahu malu, aku tidak sudi mendengarnya,” omel Peng-koh dengan gemas.

“Tapi kau ingin menuntut balas atau tidak?”

“Sudah tentu,” jawab Peng-koh.

“Nah, jika begitu kau harus tahu bahwa orang mati tidak mungkin dapat menuntut balas!”

Dalam pada itu Pek San-kun suami istri sedang duduk pandang-memandang di dalam rumah, mereka tampak lesu. Maklum, dengan susah payah dan memeras otak baru berhasil menculik Hoa Bu-koat dari tempat So Ing, tujuan mereka dengan sendirinya ialah ingin memeras rahasia Ih-hoa-ciap-giok dari mulut Hoa Bu-koat.

Tapi sekarang jerih payah mereka sia-sia belaka.

Pek-hujin menghela napas panjang, lalu berbangkit dan berjalan keluar. Karena lesu, Pek San-kun menjadi kurang hasrat menanyai sang istri hendak ke mana, dia hanya melototi Hoa Bu-koat saja dengan menyeringai.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar Pek-hujin berteriak kaget di luar, “He, lekas keluar, lihatlah apa ini?”

Secepat anak panah Pek San-kun meleset ke luar, dilihatnya Kang Giok-long dan Thi Peng-koh masih berjajar di sana seperti tertidur nyenyak. Sedang istrinya berdiri terkesima di bawah pohon.

Di bawah pohon tiada terdapat apa pun, cuma ada seonggok daun rontok saja. Akan tetapi air muka Pek-hujin tampak terkejut dan terheran-heran dan juga bersemangat, serunya, “Coba lihat, apakah ini?”

“Apa, kan cuma seonggok daun rontok,” jawab Pek San-kun dengan mendelik.

“Coba lihat lagi yang jelas,” kata Pek-hujin.

Kiranya di tengah onggokan daun rontok itu ada sebuah liang kecil, seperti lubang sarang terwelu dan mirip liang musang.

“Ya, sudah kulihat,” kata Pek San-kun. “Itu kan cuma sebuah lubang biasa saja, masa tidak pernah melihat lubang begituan?”

Mendadak Pek-hujin mendekatkan mukanya ke depan sang suami dan memandangnya dengan terbelalak seakan-akan di wajah Pek San-kun mendadak tumbuh sebuah bisul aneh.

Pek San-kun tertawa, katanya, “Masa kau sudah pangling padaku?”

Pek-hujin menghela napas, ucapnya, “Tampaknya kau sudah semakin tua, matamu sudah mulai lamur dan….”

“Hahaha,” Pek San-kun bergelak tertawa, “Meski usiaku sudah tambah lanjut, tapi tenagaku masih penuh, dalam hal ini kau sendiri tentu lebih jelas daripada siapa pun juga, memangnya sudah lupa bilamana kau kelesetan dan minta ampun padaku.”

Bisa merah juga muka Pek-hujin, omelnya, “Cis, dasar! Kubicara yang benar denganmu, tapi kau nyeleweng pada soal…”

Mendadak Pek San-kun merangkulnya dan membisikkan sesuatu dengan tertawa, “Di bawah pohon juga nyaman, biarlah…”

“Huh, sepanjang hari yang kau pikirkan selalu urusan beginian saja, pantas matamu menjadi mulai kabur dan otakmu pun puntul,” omel Pek-hujin sambil mendorong si suami.

“Kenapa kau bilang otak puntul segala?”

“Coba kau perhatikan liang ini,” ucap Pek-hujin.

“Liang apa? Memangnya apanya yang menarik, kalau liang anu…haha, aku mau melihatnya!” Pek San-kun bergelak tertawa.

“Plak”, mendadak Pek-hujin memberinya suatu tamparan keras sambil mengomel, “Tua bangka, tidak tahu malu.”

Lalu ia berjongkok dan membersihkan onggokan daun kering, terlihat sekeliling liang itu rata dan licin, bahkan tiada jalan keluarnya lagi di bawah liang.

Adalah biasa bilamana liang itu sarang terwelu atau sebangsa musang, umumnya tentu ada lubang yang bercabang sebagai jalan tembus keluar di tempat lain. Tapi liang itu ternyata tiada lubang tembusan apa pun.

“Nah, sekarang kau paham tidak?” kata Pek-hujin.

“Ya, tahulah aku, liang ini buatan manusia,” kota Pek San-kun.

“Betul,” ucap Pek-hujin. “Coba pikir lagi, untuk apa orang menggali sebuah liang di bawah pohon Ini?”

“Sebab dia ingin sembunyi di sini untuk mengintai gerak-gerik orang.”

“Tepat, tapi liang sekecil ini, siapa lagi yang mampu sembunyi di sini?”

Sekonyong-konyong Pek San-kun bersemangat, katanya, “Jangan-jangan…jangan-jangan kau maksudkan dia…dia juga datang ke sini?”

“Selain dia, memangnya siapa lagi?”

“Tapi sudah dua puluh tahun dia tidak pernah muncul di depan umum, konon dia sudah mati.”

“Coba kau pikirkan lagi, orang seperti dia apakah bisa mati begitu saja? Memangnya siapa yang dapat membunuhnya?”

Pek San-kun menghela napas, katanya, “Betul juga, orang baik tidak panjang umur, orang busuk justru awet hidup.”

“Hihi, kau masih cemburu padanya?” tanya Pek-hujin dengan mengikik.

“Hm, seumpama benar kekasihmu yang dulu akan muncul kan juga tidak perlu tertawa seriang ini di depanku?!” omel Pek San-kun.

Mendadak Pek-hujin merangkul pundak sang suami, ucapnya dengan tertawa genit, “Tua pikun, jika kusuka padanya, masa kukawin denganmu?…. Ayo…kita sekarang -.”

“Tidak…tidak mau!” seru Pek San-kun sambil mendorong pergi sang istri.

“Kenapa tidak mau? Bukankah tadi kau mengajak?” ujar Pek-hujin dengan senyuman menggiurkan.

“Tapi sekarang hasratku telah hilang,” jawab Pek San-kun. Dia menyepak onggokan daun kering itu dengan gemas, lalu menyambung, “Bila teringat pada bocah itu yang mungkin berada di sekitar sini, betapa pun hasratku jadi hilang sama sekali.”

“Jika begitu…marilah kita masuk ke dalam saja,” ajak Pek-hujin.

“Tidak, aku mau tinggal di sini saja,” jawab Pek San-kun.

“Untuk apa?” tanya Pek-hujin.

Mendadak Pek San-kun bergelak tertawa, katanya, “Masa kau lupa pada peribahasa yang berbunyi ‘menjaga pohon menunggu kelinci’?!”

Di sebelah sana sudah tentu Kang Giok-long tidak tidur sungguh-sungguh, dia sedang kesakitan, tidak mungkin bisa pulas, dia hanya pura-pura tidur saja. Maka ia menjadi heran ketika mendengar Pek-hujin berteriak memanggil si suami dan keduanya lantas ribut urusan sebuah liang. Ia menjadi geli pula ketika mendengar suami istri itu hendak main di bawah pohon. Ketika didengarnya kedua orang itu bicara tentang liang itu dapat dibuat sembunyi orang, hampir saja dia bersuara menyangkal pendapatnya, sebab liang sekecil itu tidak mungkin dapat dibuat sembunyi seorang manusia normal terkecuali bila orang itu seorang kerdil.

Terakhir dia mendengar Pek San-kun bilang hendak “menjaga pohon menunggu kelinci”. Seketika terkilas suatu pikiran dalam benak Kang Giok-long, “Apakah orang yang hendak ditungguinya itu adalah si ‘kelinci’ dari Cap-ji-she-shio?”

Seperti diketahui, Cap-ji-she-shio atau kedua belas bintang lambang kelahiran menurut perhitungan Imlek itu adalah tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing dan babi.

Sebagian besar anggota Cap-ji-she-shio itu sudah tewas belasan tahun yang lalu, ada yang terbunuh oleh Ih-hoa-kiongcu dan ada yang binasa di bawah pedang Yan Lam-thian, ada juga yang gugur di bawah jurang tempat Siau Mi-mi, lalu si ular dan si kambing telah mati keracunan ketika mereka hendak mengganggu Siau-hi-ji. Sebab itulah di antara anggota Cap-ji-she-shio sekarang hanya tertinggal si tikus, kuda, harimau dan si kelinci saja.

Si kelinci itu she Oh bernama Yok-su, akan tetapi hampir tidak diketahui kelinci ini jantan atau betina, sebabnya, ia memang jarang muncul di dunia Kangouw, maka tiada orang yang tahu bagaimana bentuknya yang sesungguhnya.

Begitulah Pek San-kun benar-benar lantas duduk di bawah pohon untuk “menjaga pohon dan menunggu kelinci”.

Dengan tenang Pek-hujin memandang sang suami sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan bertanya, “Apakah kau tahu dongeng tentang peribahasa menjaga pohon dan menunggu kelinci itu?”

“Meski tidak banyak aku belajar membaca, tapi aku tahu benar tentang dongeng ini,” kata Pek San-kun.

Pek-hujin lantas duduk, katanya dengan tertawa, “Jika begitu, coba ceritakan.”

“Dongeng ini berawal di jaman Ciankok, konon dahulu ada seorang petani miskin, suatu hari dia mendadak melihat seekor kelinci berlari-lari terlalu cepat sehingga mati menumbuk pohon.”

“Nah, itulah suatu contoh bahwa baik manusia maupun kelinci, betapa pun jangan suka terburu-buru nafsu.”

Pek San-kun mendengus, ia melanjutkan ceritanya pula, “Bangkai kelinci itu lantas diambil oleh petani miskin itu dan dijual di pasar sehingga mendapat sejumlah uang. Maka timbul pikiran pada petani miskin itu, jika dengan memungut bangkai kelinci saja bisa mendapatkan jumlah uang sebanyak itu, lalu untuk apa bersusah payah bercocok tanam segala? Maka setiap hari dia lantas duduk di bawah pohon, menantikan kelinci lain yang akan mati menumbuk pohon, ia menjadi malas untuk meluku sawah lagi.”

“Kita sudah menjadi suami istri selama ini, tak terduga olehku bahwa engkau mempunyai pengetahuan seluas ini,” Pek-hujin tersenyum genit.

Tapi Pek San-kun menjawab dingin, “Pengetahuan luas apa? Soalnya kau sangat berminat terhadap ‘kelinci’, sebab itulah segala persoalan mengenai kelinci menjadi lebih jelas kupelajari.”

“Jika begitu, apakah kau tahu petani miskin itu akhirnya berhasil mendapatkan kelinci lagi?”

“Sudah tentu tidak. Di dunia ini memang banyak manusia yang berwatak ceroboh, tapi kelinci yang ceroboh tidak terlalu banyak.”

“Ya, bukan saja ceroboh, mungkin mata kelinci itu pun rada lamur, makanya bisa mati menabrak pohon.”

“Setelah menunggu lama dan lama sekali, sama sekali petani miskin itu tidak melihat kelinci lagi, sedang sawahnya telantar tiada yang garap. Sejak inilah petani itu menjadi buah tutur dan tertawaan orang.”

“Kalau sudah tahu begitu, mengapa kau menirukan orang tolol itu?” ujar Pek-hujin. “Jika kau menunggu tanpa mendapatkan kelincinya, bukankah kau pun akan ditertawakan orang?”

“Tidak, kuyakin dia pasti akan datang,” jengek Pek San-kun.

“O? Kau yakin?” Pek-hujin menegas.

“Jika dia pernah datang ke sini, tentu dia tahu kau akan kembali lagi ke sini. Jika kau berada di sini, mustahil dia takkan datang? Hehe, bukan mustahil diam-diam dia sudah menguntit jejak kita dan mencari kesempatan untuk bertemu denganmu.”

“Hihi, aku kan sudah nenek-nenek, memangnya masih menarik?” kata Pek-hujin dengan mengikik.

“Di mata kekasih timbul si cantik, demikian kata peribahasa. Bagi orang lain mungkin kau dianggap nenek-nenek, tapi bagi pandangannya bisa jadi kau ini masih cantik serupa bidadari.”

“Dan dalam pandanganmu, seperti apa pula aku ini?” tanya Pek-hujin sambil mengerling genit.

Tiba-tiba Pek San-kun tertawa, katanya, “Sudah tentu dalam pandanganku kau pun seperti bidadari.”

Sampai di sini, diam-diam Kang Giok-long merasa geli, sungguh tak tersangka olehnya pasangan suami istri yang sudah tua bangka ini masih berguyon seperti anak muda saja. Dari ini pun dapat diketahui bahwa Pek-hujin ini memang mempunyai resep yang cespleng sehingga sang suami masih dapat digenggamnya dengan erat sampai sekarang.

Pada saat itulah Pek San-kun tiba-tiba mendesis, “Ssst, itu dia datang.”

Tanpa terasa Kang Giok-long membuka matanya dan melirik ke sana. Dilihatnya sebongkah kayu kering sebesar kepala manusia dan panjang tiga kaki tampak sedang menggelinding kemari dari kejauhan.

Bonggolan kayu ini bukan saja dapat menggelinding di tanah, bahkan seperti bermata, bila mana ketemu rintangan batu dan sebagainya, bonggolan kayu itu ternyata bisa memutar dan membelok.

Melihat peristiwa aneh di pegunungan sunyi begini, bila dalam keadaan biasa mungkin Kang Giok-long akan kaget setengah mati. Tapi sekarang dia tahu bonggol kayu ini pasti ada hubungannya dengan Oh Yok-su yang dimaksudkan Pek San-kun, ia menduga bisa jadi Oh Yok-su itu bersembunyi di bawah bonggol kayu ini, sebab itulah ia pun tidak merasa ngeri lagi, ia cuma heran saja apakah mungkin di dalam bonggol kayu ini bersembunyi orang, padahal besar bonggol kayu hanya sedikit lebih besar daripada sebuah bantal saja.

Apakah mungkin tokoh Bu-lim yang terkenal iru benar-benar seorang kerdil seperti anak kecil? Jika benar dia seorang kerdil, masa dia dapat bergendakan dengan Pek-hujin yang cantik molek itu? Ia yakin perempuan cantik macam Pek-hujin itu tidak mungkin puas dan menyukai seorang kerdil.

Dalam pada itu Pek San-kun terus mengawasi bonggolan kayu itu dengan tak berkedip, bahkan matanya seakan-akan membara, kedua tangan juga mengepal seperti orang geregetan.

Perlahan Pek-hujin memegang tangan suami, katanya dengan tertawa, “Sudah lama tidak bertemu dengan sahabat lama, janganlah seperti dulu lagi, bila bertemu lantas berkelahi.”

“Jika sahabat lama, mengapa mesti main sembunyi-sembunyi dan tidak mau dilihat orang?” jengek Pek San-kun.

Bonggol kayu yang sudah mendekat itu mendadak terbahak-bahak dan berkata, “Haha, sudah sekian tahun tidak bertemu, tidak tersangka kalian suami istri masih tetap cinta-mencintai seperti sedia kala, selamat, selamat!

“Dari mana kau tahu kami suami istri masih tetap cinta-mencintai? Apakah senantiasa kau mengintai kami secara diam-diam,” teriak Pek San-kun.

“Jika tidak tetap saling mencintai, mana mungkin cemburu sebesar itu, ini kan kelihatan dan tidak perlu dijelaskan lagi bukan?” jawab bonggol kayu itu. Di tengah suara tertawanya bonggol kayu itu pun sudah menggelinding sampai di bawah pohon dan mendadak dari dalam bonggol itu terjulur keluar sebuah kepala.

Meski sudah tahu di dalam bonggol kayu itu ada orangnya, tapi mendadak kepala itu tersembul keluar, ini membuat Kang Giok-long terkejut juga.

Tertampak kepala itu berambut ubanan, tapi jenggot di dagunya hanya beberapa helai saja, sepasang matanya bundar lagi terang, begitu bundar dan besar sehingga mirip dua butir mutiara raksasa.

Mata manusia pada umumnya pasti bulat panjang, tapi mata orang ini benar-benar bundar, pada hakikatnya bukan mata manusia, tapi lebih mirip mata kelinci. Yang paling aneh, kepala ini buka saja tidak kecil, bahkan lebih besar daripada orang biasa, andai kata bonggol kayu itu geronggang bagian dalamnya juga akan terasa sesak bila dimasuki kepala sebesar ini.

Bukan cuma kepalanya saja yang besar, telinganya juga besar lagi lancip, jadi menyerupai kuping terwelu.

Sungguh sukar dimengerti, seorang kerdil begini masa mempunyai kepala dan telinga sebesar itu?

Tentu saja Kang Giok-long bertambah terkejut, meski masih ingin pura-pura tidur, tapi berat rasanya untuk memejamkan mata, sebab itu berarti tak dapat lagi mengikuti kejadian selanjutnya. Waktu ia lirik Thi Peng-koh di sampingnya, nyata mata nona itu pun terpentang lebar-lebar.

Dengan terkikik-kikik Pek-hujin menyapa, “Hihihi, belasan tahun tidak bertemu, tak tersangka kau tetap senakal ini.”

“Hahaha, ini namanya negara mudah berganti, watak sukar berubah,” kata bonggol kayu dengan terbahak-bahak.

“Jika kau kira perempuan selalu suka pada lelaki yang nakal, maka salah besar kau,” jengek Pek San-kun.

“O, apakah suasana sekarang sudah berubah?” jawab orang itu dengan tertawa. “Kuingat dulu lelaki yang nakal paling mendapat pasaran.”

“Lelaki yang nakal sudah tentu masih punya pasaran, tapi kakek yang nakal… Hehe, siapa yang mau, bahkan memualkan,” jengek Pek San-kun pula.

Sudah tentu yang senang adalah Pek-hujin karena sampai sekarang dirinya masih dijadikan sasaran cemburu antara dua lelaki.

“Tampaknya aku kan belum tua bukan?” demikian kata Pek-hujin kemudian, tapi dia berlagak kurang senang dan mengomel, “Apabila kalian berdua masih tetap bertengkar, maka aku takkan menggubris kalian lagi.”

Mendadak Pek San-kun meraung gusar, “Kau jangan lupa, aku adalah lakimu, masa kau tidak mau menggubris aku?”

“Nah, lihat, belum lagi aku benar-benar berbuat begitu dan kau sudah tegang dan marah,” ujar Pek-hujin dengan tertawa genit. Tertampak matanya mencorong terang, mukanya juga kemerah-merahan, seakan-akan mendadak lebih muda belasan tahun.

Memang, bilamana ada lelaki yang cemburu bagi seorang perempuan, maka si perempuan kadang-kadang akan segera berubah menjadi lebih muda. Hanya cinta lelaki di dunia adalah barang perhiasan yang paling berharga, yang dapat membuat perempuan selalu awet muda. Sebab itu pula perawan tua selalu lebih cepat layu.

Begitulah orang tadi lantas menghela napas, katanya dengan tertawa, “Pek-lauko, tampaknya kau ini tua-tua tambah rezeki, agaknya setelah kau masuk peti mati juga Pek-toaso kita akan tetap awet muda seperti seorang nona.”

Kembali Pek San-kun meraung, “Apa, kau mengutuki aku lekas mati? Hm, seandainya aku mati juga kau takkan mendapat bagian.”

“O, habis bagian siapa?” tanya orang itu dengan tertawa.

Pek San-kun berjingkrak murka, teriaknya, “Kau tidak perlu tanya, yang pasti kutanggung kau akan mati lebih dulu daripadaku, kau percaya tidak?” di tengah raungannya itu ia segera menjotos.

“Blang”, bonggol kayu itu tergetar hancur oleh angin pukulan Pek San-kun, sesosok tubuh manusia mendadak terpental keluar dari dalam bonggol kayu dan “siut”, tahu-tahu melesat ke puncak pohon.

Sampai bentuk tubuh orang saja tak terlihat jelas oleh Kang Giok-long, jadi dia tetap tidak tahu apakah orang itu benar-benar kerdil atau tidak, diam-diam ia terkejut dan kagum akan kecepatan gerak tubuh orang.

Segera kepala orang yang besar itu menongol keluar dari balik dedaunan sambil menyengir, katanya, “Wah, manusia tiada maksud membunuh harimau, tapi harimau bermaksud mencaplok manusia… Eh, Pek-lauko, kedatanganku ini sekali-kali bukan untuk berkelahi denganmu.”

“Habis untuk apa kau datang kemari?” teriak Pek San-kun murka. “Meski aku si harimau ini tidak makan manusia, tapi mengganyang seekor kelinci kiranya tidak menjadi soal.”

Orang itu menjawab dengan tenang, “Jika kau mencelakai aku, mungkin selama hidup ini takkan tahu lagi rahasia Ih-hoa-ciap-giok.”

Pek San-kun melengak sejenak, segera air mukanya berubah senang, dengan tertawa ia berkata, “Oh-laute, masa kau kira aku benar-benar marah padamu?”

“Memangnya kau tidak marah? Aku menjadi bingung bagaimana bentuknya jika kau dalam keadaan marah?” ujar orang itu.

“Kau kan sahabat lama biniku, masa kau lupa pada wataknya?” kata Pek San-kun dengan tertawa.

“Bagaimana sih wataknya?” tanya orang itu.

“Dia paling suka orang cemburui dia, aku kan lakinya, dengan sendirinya aku sering-sering mencari akal untuk membuat dia senang, padahal…”

“Plak”, belum habis ucapan Pek San-kun, tahu-tahu pipinya telah digampar orang satu kali. Dengan mendelik Pek-hujin menegasnya, “Padahal apa?”

“Padahal aku suka benar-benar padamu,” jawab Pek San-kun dengan cengar-cengir. “Tapi aku juga sangat suka pada rahasia Ih-hoa-ciap-giok.”

Sorot mata Pek-hujin tampak berkilau, ia pun tertawa dan mengomel, “Tua bangka, memangnya siapa pingin disukai olehmu? Bilakah nyonyamu ini pernah penujui kau?” Lalu ia pun melotot ke atas pohon dan mengomel dengan tertawa, “Kelinci mampus, kenapa kau tidak lekas turun kemari?”

“Baik, nyonya tua, segera kuturun!” seru orang itu dengan tertawa, menyusul sesosok tubuh lantas melayang turun. Mana dia ini kerdil, sebaliknya dapat dikatakan dia seorang lelaki yang gagah. Bahkan lebih tinggi sedikit daripada Pek San-kun.

Terbelalak lebar Kau Giok-long memandang ke sana, sungguh tak terbayang olehnya bahwa seorang kekar besar begitu dapat sembunyi di dalam sepotong bonggol kayu kering sekecil itu.

Pada saat itulah mendadak Pek San-kun mendekatinya dan menegur, “Eh, kiranya kau sudah mendusin.”

Walaupun seperti maling tertangkap basah karena diketahui sedang mengintip, namun muka Kang Giok-long tidak menjadi merah, jawabnya dengan tertawa, “Ah, Tecu hanya tidur-tidur ayam saja.”

“Dari bonggol kayu bisa mendadak muncul seorang besar, kau merasa heran bukan?” tanya Pek San-kun.

“Ya, Tecu memang rada heran,” jawab Giok-long dengan mengiring tawa.

“Kuberitahu, inilah Oh Yok-su yang termasyhur di dunia Kangouw, siapa yang tidak tahu ilmu sakti ‘Soh-cu-siok-kut-kang’ Oh Yok-su yang tiada bandingannya di seluruh dunia ini?”

“Soh-cu-siok-kut-kang (ilmu menyurutkan tulang)?” Kang Giok-long menegas. “Apakah ilmu yang mahasakti andalan Bu-kut Tojin dahulu itu?”

“Memangnya ilmu sakti mana lagi?” jawab Pek San-kun. “Jelek-jelek tampaknya kau juga berpengetahuan cukup luas. Nah, sekarang tentunya kau sudah jelas.”

“Ya, Tecu sudah jelas,” jawab Giok-long.

Mendadak Pek San-kun mendelik dan berkata, “Jika sudah jelas, kenapa tidak lekas menyingkir sejauhnya, memangnya kau pun ingin mendengarkan rahasia itu?”

“Ya, ya, Tecu mohon diri,” sahut Giok-long masuk ke rumah batu itu.

Ketika angin meniup dan gaun Thi Peng-koh tersingkap sebagian sehingga kakinya yang putih mulus itu kelihatan. Seketika mata Oh Yok-su melotot, katanya dengan tertawa, “Betis anak ini tampaknya boleh juga.”

“Bukan cuma betisnya saja,” Pek San-kun mendekati orang itu sambil setengah berbisik, “Bahkan bagian…bagian lain juga… Hehe!”

Oh Yok-su menelan air liur, jakun naik turun, katanya dengan tertawa, “Kau telah melihatnya semua?”

“Aku selalu diawasi harimau betina, terpaksa hanya melihat saja dan tak dapat memegang,” tutur Pek San-kun. “Tapi kalau Oh-laute menaksirnya, kujamin pasti…” belum habis ucapannya, mendadak kupingnya dijewer orang.

“Tua bangka,” demikian terdengar omelan Pek-hujin dengan setengah tertawa. “Melihat kelakuanmu yang tidak beres ini, pasti di luaran sering ada main, betul tidak? Ayo lekas mengaku!”

Sambil menjerit kesakitan Pek San-kun minta ampun, “Tidak, benar-benar tidak pernah. O, istriku tercinta, lepaskan lekas!”

“Tidak, jika tidak mengaku sejujurnya, biar kupingmu ini kujewer hingga putus,” omel Pek-hujin.

“Setahuku, selamanya Pek-lauko cukup setia dan jujur padamu,” ujar Oh Yok-su dengan tertawa.

Pek-hujin lantas mendelik padanya, ucapnya, “Tidak perlu kau mintakan ampun baginya, kau sendiri pun bukan orang baik.”

“Wah, aku jadi ikut-ikut keserempet!” grundel Oh Yok-su dengan menyengir.

“Huh, dasar lelaki!” omel Pek-hujin sambil tertawa serta melepaskan jewerannya. “Sembilan di antara sepuluh lelaki pasti menyeleweng.”

Pek San-kun meraba-raba telinganya yang masih sakit, katanya dengan tertawa, “Sudahlah, kita kembali pada pokok persoalannya. Eh, Oh-laute, apa benar-benar kau tahu rahasia Ih-hoa-ciap-giok?”

Oh Yok-su tidak lantas menjawab, sebaliknya ia malah bertanya, “Sudah tentu kau tahu sebelum ini aku sudah pernah datang kemari.”

“Tapi…tapi waktu itu kami benar-benar tidak tahu sama sekali, tampaknya cara Oh-laute mengelabui mata orang sudah jauh lebih maju daripada belasan tahun yang lalu,” sanjung Pek San-kun.

Oh Yok-su bergelak tertawa, katanya, “Aku menyaksikan kalian menyeret murid tertua Gui-lotoa, yaitu Gui Moa-ih ke sini, setelah berunding sekian lama tampaknya kalian menyuruh dia pergi mencari seorang perempuan she So.”

“Namanya So Ing, yaitu kesayangan si tua she Gui, masa kau tidak tahu?” tukas Pek-hujin.

“Dengan sendirinya sekarang aku tahu,” jawab Oh Yok-su. “Cuma waktu itu aku merasa heran, kalian sendiri punya jalannya, mengapa suruh orang lain pergi ke sana. Tapi kemudian kulihat diam-diam kalian juga menguntit di belakangnya.”

“Haha, dengan sendirinya Oh-laute juga menguntit pula di belakang kami,” tukas Pek San-kun dengan terbahak.

“Ya, tampaknya kebiasaanku ini memang sukar diubah,” ujar Oh Yok-su dengan gegetun. “Kalau ada tontonan yang menarik, betapa pun aku ingin melihatnya. Setiba di sana barulah kutahu bahwa di tempat yang tampaknya seperti surga dunia itu sesungguhnya di mana-mana terpasang alat perangkap.”

“Budak itu tak mau belajar silat, tapi kemahiran si tua she Gui mengenai ilmu pesawat agaknya telah diturunkan semua padanya, bahkan boleh dikatakan yang hijau melebihi yang biru, budak itu jauh lebih lihai daripada Gui-lothau.”

“Ya, tampaknya budak itu memang pintar,” ujar Oh Yok-su.

“Bukan cuma pintar saja, bahkan wajahnya juga boleh,” tukas Pek San-kun.

Segera Pek-hujin mengomel, “Nah, mulai berpikir serong lagi!”

“Perempuan cantik kebanyakan juga pintar, contohnya Pek-toaso kita ini,” umpak Oh Yok-su dengan tertawa.

Tapi Pek-hujin menarik muka, omelnya, “Huh, belasan tahun tidak bertemu, tampaknya mulutmu tambah manis.”

Walaupun berlagak kurang senang, tapi toh tertawa. Dan memang begitulah penyakit perempuan, walaupun tahu jelas si lelaki sengaja menyanjungnya, tapi dia lebih suka mempercayai apa yang diucapkannya itu. Sebab itulah meski seorang perempuan terkadang dapat menahan berbagai macam pancingan kaum lelaki, tapi tetap tak dapat melawan bujuk rayu mulut manisnya.

Oh Yok-su lantas bergelak tertawa, katanya pula, “Terhadap ilmu pesawat rahasia tidak pernah berhasil kupelajari, sebab itulah aku pun tidak berani menyentuhnya. Aku lantas mencari tempat sembunyi. Selang tak lama kemudian kulihat Gui Moa-ih berhasil memancing seorang anak muda ke hutan tempatku sembunyi sana, bahkan anak muda itu ditutuk Hiat-tonya terus digantung di atas pohon.”

“O, pantas kami mendengar suara orang mencaci maki, mungkin bocah itu yang sedang memaki Gui Moa-ih,” ujar Pek San-kun.

“Betul,” kata Oh Yok-su. “Selagi aku hendak mendekati bocah itu untuk menanyai siapa dia, tak terduga pada saat itu pula ada tamu lain berkunjung lagi ke hutan sana, satu di antaranya kukenal dengan baik.”

“Siapa dia?” tanya Pek San-kun.

“Yaitu orang yang telah makan istrinya sendiri, Li Toa-jui!” tutur Oh Yok-su.

“Hah, orang ini muncul lagi?” Pek San-kun menegas dengan terkejut.

“Apakah Li Toa-jui kenal anak muda itu?” tanya Pek-hujin

“Ya, kenal,” jawab Oh Yok-su.

“Bagaimana macamnya anak muda itu?” tanya Pek-hujin sambil berkerut kening.

“Usianya belum ada dua puluh, perawakannya serupa aku, mukanya penuh codet bekas luka, seharusnya jelek dan tidak menarik, tapi entah mengapa, tampaknya sedikit pun tidak menjemukan, bahkan sangat menyenangkan orang,” Oh Yok-su merandek sejenak, “Apakah kau kenal dia?”

“Meski aku tidak kenal dia, tapi sudah dapat kuterka siapa dia,” ujar Pek-hujin setelah berpikir sejenak.

“O, siapa dia?” tanya Oh Yok-su.

“Kabarnya akhir-akhir ini di dunia Kangouw muncul seorang bintang kecil pakai nama Hi segala, kalau tidak salah seperti Siau-hi apa…ilmu silatnya meski tidak terlalu tinggi, tapi orangnya cerdik dan licik, setiap orang yang merecoki dia pasti dikerjai olehnya, sampai-sampai orang macam Kang Piat-ho juga kepala pusing menghadapi dia.”

Oh Yok-su terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum, “Ya, betul, anak muda itulah, dia benar-benar setan cerdik, Gui Moa-ih kan juga tokoh yang lihai, tapi kemudian entah dengan cara bagaimana dia juga kena dikerjai oleh bocah ini sehingga kelabakan…”

“Dan apa hubungannya bocah itu dengan rahasia Ih-hoa-ciap-giok?” tanya Pek San-kun.

“Coba jawab dulu, saat ini ada berapa orang di dunia ini yang tahu rahasia Ih-hoa-ciap-giok?” tanya Oh Yok-su.

“Kukira yang tahu ada beberapa orang, tapi yang mau menyiarkannya jelas seorang saja tidak ada,” ujar Pek-hujin.

“Itulah,” kata Oh Yok-su dengan tertawa, “Makanya sekarang aku ada akal yang dapat membuat seorang di antaranya mau memberitahukan pada kita.”

“Siapa yang kau maksudkan,” tanya Pek-hujin.

“So Ing!” jawab Oh Yok-su.

Pek-hujin menghela napas, katanya, “Bilamana kau dapat membuat budak itu buka mulut, maka aku pun dapat membikin botol berbicara.”

“Kau tidak percaya?” Oh Yok-su menegas dengan tersenyum.

Tiba-tiba Pek San-kun menyela, “Apabila Oh-laute bilang ada akalnya, dengan sendirinya akalnya pasti sangat bagus.”

Pek-hujin menghela napas pula, katanya, “Baiklah, apa akalmu, coba ceritakan.”

“Akalku ini terletak pada ‘ikan kecil’ (Siau-hi) itu,” ucap Oh Yok-su.

“Akal macam apa ini? Sungguh aku tidak paham,” Pek-hujin berkerut kening.

“Kalian tahu, budak she So itu telah kesengsem pada ikan kecil itu, sekarang kalau kita dapat menangkap ikan itu, apa pun yang kita minta masakah budak she So itu berani menolak?” tutur Oh Yok-su.

“Cara ini kukira kurang kuat,” ujar Pek-hujin. “Setahu kami, budak itu lebih keras daripada batu, pada hakikatnya tiada seorang lelaki mana pun yang terpandang di mata budak itu.”

“Betapa pun kerasnya hati seorang perempuan, pada suatu ketika juga hatinya pernah goyang,” ujar Oh Yok-su berseloroh. Kedua orang lantas main mata seakan-akan hubungan mesra di masa lalu akan dikobarkan lagi.

Cepat Pek San-kun berdehem beberapa kali dan menyela, “Tak peduli akal Oh-laute ini berhasil atau tidak, paling perlu kita mencobanya dahulu.”

“Pasti dapat dijalankan,” ujar Oh Yok-su, “Dengan mataku sendiri kusaksikan jalan itu dapat ditembus.”

“Akan tetapi rasanya tidak mudah jika kita ingin menjaring ikan kecil itu,” kata Pek-hujin dengan ragu-ragu.

“Untuk menjaringnya tentunya diperlukan peranan Pek-toaso,” ujar Oh Yok-su sambil terbahak-bahak.

Pek-hujin tersenyum genit sambil melirik, katanya, “Jangan khawatir, semakin nakal lelaki itu semakin mahir aku menundukkannya.”

*****

Di ruangan sana Hoa Bu-koat masih duduk termenung-menung seperti patung.

Waktu Kang Giok-long dan Thi Peng-koh masuk ke situ, di luar sana Oh Yok-su dan Pek San-kun sedang asyik memperbincangkan betis Thi Peng-koh yang indah. Mendengar ocehan mereka yang rendah itu, hampir saja Peng-koh meneteskan air mata.

Dengan tertawa Kang Giok-long menghiburnya, “Sebenarnya yang paling menyedihkan kau wanita ialah bilamana kaum lelaki tidak tertarik padanya. Sekarang beberapa orang itu sama kesengsem padamu, seharusnya kau merasa bangga dan bergembira, kenapa kau malah sedih?”

“Apakah kau tidak…tidak bisa bicara sebagai manusia yang layak?” damprat Thi Peng-koh pedih.

“Maksudku hanya untuk menghiburmu saja, bilamana mengalirkan air mata toh tiada gunanya, maka sebaiknya jangan mengeluarkan air mata,” ujar Kang Giok-long dengan gegetun. Nyata ia benar-benar mengucapkan kata-kata manusia yang layak.

Mendadak Thi Peng-koh memegang tangan Giok-long dengan erat, serunya dengan parau, “Mengapa kesempatan ini tidak kita gunakan untuk lari?”

“Kau kira aku dapat lari?” Giok-long menyengir.

“Akan kugendong kau,” kata Peng-koh.

“Jika kau sendiri mungkin dapat lari beberapa li jauhnya, tapi toh pasti akan tertawan kembali. Jika lari dengan menggendong diriku, paling jauh kau hanya dapat mencapai setengah li saja.”

“Betapa pun kita kan dapat mencobanya,” kata Thi Peng-koh.

“Sesuatu yang jelas-jelas tiada manfaatnya selamanya takkan kucoba,” jawab Giok-long dengan perlahan.

“Habis, apa ke…kehendakmu?” tanya Peng-koh.

“Tunggu, tunggu kesempatan. Bersabar, bersabar, sedapatnya -.” tiba-tiba Giok-long tertawa dan menyambung. “Tahukah kau, kepandaian bersabar demikian, mungkin di seluruh dunia ini tiada seorang pun yang dapat menandingiku.”

Ucapannya ini memang bukan bualan, ia memang benar-benar bisa tahan segala siksa derita, sanggup bersabar dan bila perlu juga kejam dan keji, kalau tidak tentu sejak dulu-dulu dia mati di istana bawah tanah milik Siau Mi-mi.

Peng-koh menunduk dan tidak bersuara pula.

Sekonyong-konyong Giok-long tertawa kepada Hoa Bu-koat, katanya, “Meski dahulu kita pernah bermusuhan, tapi sekarang kita menghadapi musuh bersama, jadi senasib. Apalagi sejak mula sebenarnya kita adalah sahabat baik.”

Hoa Bu-koat hanya mendelik saja, hakikatnya ia tidak tahu apa yang dikatakan Kang Giok-long.

Dengan tertawa Kang Giok-long berkata pula “Di depanku mengapa kau berlagak pilon segala. Kutahu kau cuma pura-pura saja, meski kau dapat mengelabui orang lain, tapi tidak dapat mengelabui diriku.”

Namun Bu-koat tetap diam saja dan tidak menggubris.

“Tak tersangka kau adalah orang sepintar ini,” ujar Giok-long dengan tertawa. “Jika kau tidak pura-pura dungu begini, mereka pasti akan berdaya upaya untuk memaksamu menuturkan rahasia Ih-hoa-ciap-giok dan tentu kau yang akan susah.”

Akan tetapi Hoa Bu-koat tetap bungkam seribu bahasa, bahkan berkedip saja tidak.

“Mungkin kau menyesali dirimu sendiri karena telah menceritakan rahasia itu kepada budak she So, kau menyesal telah usil mulut pula hingga sekarang!’

Tapi wajah Bu-koat masih tetap kaku seperti patung, sedikit pun tiada perubahan.

Tiba-tiba Giok-long berkata kepada Thi Peng-koh, “Coba kau memeriksanya, apakah harimau betina itu telah menutuk Hiat-tonya?”

Thi Peng-koh mendekati Hoa Bu-koat, kemudian berkata, “Hok-toh-hiat dan Thay-hong-hiat di kaki dan tangannya tertutuk.”

Bilamana kedua tempat Hiat-to tersebut tertutuk, maka sekujur badan orang akan lumpuh total.

“Nah, kau dengar tidak? Nyata Pek San-kun suami istri masih khawatir atas dirimu, makanya Hiat-tomu ditutuk,” kata Giok-long. “Apabila kau benar-benar tidak waras, tentu mereka takkan menutuk Hiat-tomu.”

“Jika dia tidak paham apa yang kau katakan, untuk apa kau bicara terus-menerus?” omel Peng-koh.

“Peduli dia paham atau tidak, tetap aku akan bicara padanya,” ujar Giok-long. Lalu ia menyambung pula, “Asalkan kau mau memberitahukan padaku satu dua bagian ilmu Ih-hoa-ciap-giok, segera akan kubuka Hiat-tomu agar kau dapat melarikan diri.”

“Kau ini memang aneh, seumpama dia paham perkataanmu, apakah dia mau memberitahukan rahasia ilmu sakti itu padamu?” ucap Peng-koh.

“Bila kuminta seluruh rahasia ilmu itu tentu dia tidak mau, tapi aku cuma minta satu dua bagian saja untuk menukar jiwanya, kan setimpal?”

“Tapi…tapi seumpama dia cuma pura-pura linglung, mungkin tenaga untuk lari juga tidak ada lagi.”

“Dengan ilmu silatnya yang tinggi, biarpun sebagian besar tenaganya sudah terbuang juga masih kuat untuk melarikan diri. Apalagi aku pun dapat merintangi Pek San-kun suami istri baginya.”

Sembari bicara Kang Giok-long terus-menerus melirik wajah Hoa Bu-koat. Namun anak muda itu tetap kaku saja seperti patung, seperti orang tuli yang tidak mendengar sama sekali.

Giok-long menghela napas panjang, ucapnya, “Baiklah, jika kau tidak percaya padaku, nanti kalau kesempatanku sudah tiba, tentu kau pun akan jatuh di tanganku, tatkala mana…” belum habis ucapannya, mendadak ia mengerang kesakitan.

Kiranya pada saat itu Pek San-kun suami istri dan Oh Yok-su telah muncul. Pek-hujin langsung mendekati Kang Giok-long dan bertanya dengan tersenyum genit. “Sampai sekarang kau masa kesakitan?”

“Ya, sakit…sakit sekali,” jawab Giok-long sambil meringis.

Perlahan Pek-hujin memijat-mijat kedua pundak Giok-long, ucapnya dengan lembut, “Begini apakah masih sakit?”

“Sa…sakit, masih sakit, cuma…cuma rasanya sudah…sudah mendingan…” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong ia menjerit seperti babi hendak disembelih.

Rupanya kedua tangan Pek-hujin yang memijat Kang Giok-long itu mendadak mengerahkan tenaga murni yang kuat.

Padahal rasa sakit Kang Giok-long itu sebagian cuma pura-pura saja dan sebagian memang sungguh-sungguh, yaitu akibat dikerjai So Ing. Kini tenaga murni Pek-hujin disalurkan sekuatnya melalui Hiat-to di kedua pundaknya, seketika Kang Giok-long merasa sekujur badan seperti ditusuk jarum, ruas tulang serasa rontok semua.

Tapi Pek-hujin tetap tersenyum simpul dan bertanya pula dengan lembut, “Bagaimana, apakah sudah enakan sekarang?”

“O, moh…mohon jangan…” demikian Giok-long merintih kesakitan.

Thi Peng-koh lantas menerjang maju, tapi sekali raih Pek San-kun berhasil memegang tangannya terus ditelikung, katanya sambil menyeringai, “Nona baik, apakah kau cemburu juga?”

Dengan suara serak Thi Peng-koh berteriak, “Dia kan tidak bersalah padamu, meng…mengapa kau menyiksanya cara begini?”

“O, kau ikut merasa sakit?” tanya Pek-hujin.

“Jika kalian perlakukan begini padanya, silakan kalian bunuh dulu diriku,” teriak Thi Peng-koh.

“Aku kan cuma memijat dia, begitu saja kau merasa sakit hati, kalau kubunuh dia, bukankah kau bisa gila?” kata Pek-hujin dengan tertawa.

Padahal sekarang pun Peng-koh sudah hampir gila, dengan histeris dia berteriak, “Kalian tidak…tidak boleh…”

“Apakah kau ingin kami lepaskan dia?” tanya Pek-hujin.

Dengan cepat Peng-koh mengangguk.

“Baik, asalkan kau berjanji akan bantu berbuat sesuatu bagi kami, segera akan kubebaskan dia,” ucap Pek-hujin dengan perlahan.

Tanpa pikir Thi Peng-koh lantas menjawab, “Baik, kuterima, kuterima…”

“Apa pun yang harus kau lakukan pasti akan kau laksanakan?” tanya Pek-hujin.

“Ya, asalkan kalian melepaskan dia, apa pun akan kulakukan bagimu,” jawab Peng-koh.

Pek-hujin menghela napas, gumamnya, “Sungguh tidak tersangka bahwa cinta antara laki-laki dan perempuan mempunyai kekuatan sebesar ini.”

Akhirnya dia melepaskan tangannya, perlahan ia mencolek pipi Kang Giok-long dan berkata pula dengan tertawa, “Anak muda, tampaknya kau memang boleh, dapat membuat seorang perempuan mati-matian setia padamu, kepandaianmu ini sungguh tidak kecil.”

Tiba-tiba Oh Yok-su tertawa dan berkata, “So Ing jauh lebih tergila-gila pada ikan kecil itu daripada anak dara ini.”

“Jika begitu, jalan yang kita tempuh ini pasti dapat dilaksanakan,” ujar Pek San-kun.

“Ya, begitulah,” kata Oh Yok-su.

Pek-hujin melototi sang suami, ucapnya, “Masa akal yang kuatur bisa gagal?”

“Betul, betul, akal bagus Hujin selamanya tidak pernah gagal,” sanjung Pek San-kun dengan tertawa.

“Sekarang kau tinggal saja di sini, kedua bocah ini kuserahkan padamu,” kata Pek-hujin.

“Baik, jangan khawatir,” jawab Pek San-kun.

Thi Peng-koh masih menangis sambil mendekap di punggung Kang Giok-long, Pek-hujin menariknya bangun dan berkata, “Ayolah ikut pergi bersamaku… Tapi ingat, jika kau tidak turut perintah dan menggagalkan urusan kami, maka berarti kekasihmu akan mati akibat perbuatanmu sendiri.”

*****

Di tempat lain Siau-hi-ji sedang kelabakan seperti kebakaran jenggot lantaran khawatir bagi keselamatan Hoa Bu-koat. Akan tetapi ia tidak berjalan dengan cepat. Ia tahu berjalan cepat juga tiada gunanya, kalau berjalan terlalu cepat mungkin malah akan melalaikan hal yang seharusnya perlu diperhatikan. Padahal sekarang dia harus mencari setiap petunjuk, setiap tanda, betapa pun kecilnya petunjuk itu.

Malam sudah lalu, fajar telah menyingsing, tapi kabut masih meliputi lembah pegunungan ini, pandangan masih sukar mencapai jauh, dedaunan pohon di kejauhan seakan-akan mengambang di tengah gumpalan awan dan kabut tanpa kelihatan dahan pohon.

Tanda-tanda rahasia yang kemungkinan ditinggalkan Ha-ha-ji, Li Toa-jui dan lain-lain kini sukar lagi ditemukan. Tentunya terlebih sulit lagi bilamana ingin mencari jejak yang ditinggalkan tokoh persilatan kelas tinggi.

Tapi semakin sulit persoalan yang dihadapi Siau-hi-ji, semakin tekun dan semakin sabar dia.

Lebih dulu ia mendapatkan sebuah sungai kecil, dengan air sungai yang jernih itu ia cuci muka sambil menenangkan pikirannya, ia mengatur pernapasan sejenak untuk mengetahui luka sendiri apakah sudah sembuh.

Perlu diketahui bahwa lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, yang lihai adalah racun yang dideritanya. Tapi setelah mengatur pernapasan dan bergerak badan sejenak, ia merasa kesehatannya tiada ubahnya seperti sebelum terluka, hanya terlalu lama tergantung sehingga langkahnya rada enteng rasanya.

Diam-diam ia tersenyum dan bergumam sendiri, “Budak itu melukiskan lukaku sedemikian berat, kutahu dia cuma menakuti aku supaya aku tidak meninggalkan dia… Ai, perempuan, dasar perempuan. Barang siapa suka percaya kepada ucapan perempuan, maka selama hidupnya pasti akan diperbudak kaum perempuan.”

Tapi bila teringat kepada kelembutan So Ing dan cinta kasihnya, mau tak mau hatinya terasa manis juga. Betapa pun, kalau seseorang telah dicintai orang lain, maka hal ini baginya adalah sesuatu yang menggembirakan.

“Liang tikus” kediaman Gui Bu-geh terletak di suatu gua yang sangat tersembunyi di sebelah barat sana. Walaupun Siau-hi-ji tidak pernah kenal apa artinya takut, tapi dia baru saja terjungkal di tangan gembong Cap-ji-she-shio itu, rasanya masih ngeri, maka dia belum berani menuju lagi ke jurusan barat.

Ia duduk di atas batu besar di tepi sungai dengan termangu-mangu, ia tidak tahu ke mana dirinya harus menuju untuk mencari Hoa Bu-koat.

Pada saat itulah tiba-tiba dilihatnya dari hulu sungai sana ada sesuatu benda merah mengalir tiba terbawa arus.

Kalau Siau-hi-ji tidak melalaikan setiap petunjuk yang dicari, kini dengan sendirinya ia pun tidak mau membiarkan benda merah itu lalu begitu saja. Segera ia ambil sepotong tangkai kayu, ia melompat ke atas batu di depan sana, benda merah itu digaetnya ke atas.

Kiranya benda merah ini adalah sebuah gaun orang perempuan, gaun merah bersulam bunga yang indah, tampaknya milik wanita keluarga berada. Cuma bagian pinggang gaun itu sudah terobek seperti ditarik dengan paksa.

Siau-hi-ji berkerut kening, pikirnya, “Di pegunungan sunyi begini, mengapa ada perempuan yang memakai gaun sebagus ini? Apakah perempuan ini kepergok orang jahat?”

Tadinya ia menyangka pasti perbuatan anak murid Gui Bu-geh. Tapi tempat Gui Bu-geh terletak di sebelah barat, sedangkan hulu sungai di arah timur-laut, jadi tidak cocok jurusannya.

Pada saat itu kembali di atas arus sungai mengambang pula sesuatu benda, juga berwarna merah. Sesudah dekat, rupanya sebuah sepatu bersulam kaum wanita.

Dengan tertawa Siau-hi-ji mengomel, “Keparat, sudah menanggalkan gaun orang, sepatu orang juga dicopotnya? Memangnya ingin mencium kakinya yang berbau busuk itu?”

Kini Siau-hi-ji dapat memastikan bahwa urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan Hoa Bu-koat, sebab Bu-koat tidak bergaun merah juga tak mungkin melepaskan sepatu orang lain. Namun Siau-hi-ji sendiri jadi ingin tahu, juga rasa keadilannya tergugah, ia merasa si penjahat atau si pemerkosa itu terlalu kurang ajar, betapa pun harus dihajar adat supaya kapok.

Di tepi sungai banyak berserakan batu-batu besar, di atas batu penuh lumut hijau dan sangat licin, tapi dengan Ginkang Siau-hi-ji tentunya dia tidak perlu takut akan tergelincir jatuh. Dia terus melompat dari satu batu ke batu yang lain. Setelah beberapa tombak jauhnya, dari air sungai dijemputnya pula sebuah beha atau baju kutang orang perempuan berwarna merah bersulaman bunga pula, cuma kutang ini pun sudah terobek.

“Bangsat,” Siau-hi-ji memaki dalam hati, “Sungguh kelewatan perbuatanmu ini? Meski sebagian besar perempuan bukan barang baik, tapi lelaki yang mengganggu perempuan terlebih bukan barang yang baik.”

Ia terus maju lagi ke depan, kembali arus sungai membawa tiba pula sebuah kutang lagi, cuma warna kutang itu hijau muda, juga terobek hancur.

“Hah, kiranya tidak cuma satu, tapi ada dua perempuan,” seru Siau-hi-ji tanpa terasa.

Tapi dia lantas berhenti di situ malah.

Kalau ada seorang perempuan diganggu segera ia hendak menolongnya, tapi kalau dua orang perempuan diganggu, mengapa ia berbalik berhenti di situ?

Sebabnya mendadak ia merasakan hal ini rada janggal. Di pegunungan terpencil ini tidak mungkin ada dua perempuan yang bergaun sebagus ini, di kota saja sukar ditemukan perempuan bergaun mewah begini.

Pada saat itulah dari hulu sungai sana tiba-tiba berkumandang suara jeritan orang ketakutan. Suara nyaring melengking, jelas memang suara perempuan.

Sambil berdiri di atas batu Siau-hi-ji melenggong lagi sejenak. Tersembul senyuman aneh pada ujung mulutnya, gumamnya, “Perempuan, O, perempuan…mengapa ke mana pun kupergi selalu bertemu dengan perempuan yang aneh-aneh?”

Di ujung hulu sana menjulang sebuah puncak bukit, air terjun tampak menuang ke bawah dengan derasnya dan di bawahnya tepat ada sepotong batu raksasa yang menahan gerujukan air terjun itu.

Air terjun menimpa batu raksasa itu sehingga muncrat tinggi dan jatuh ke dalam sungai.

Dipandang dari jauh, baik pagi maupun siang atau petang, tentu saja sekitar sini kelihatan diliputi kabut dengan air yang berhamburan dan menjadikan pemandangan yang indah. Inilah pemandangan indah ciptaan alam dan tidak mungkin dibuat oleh tangan manusia.

Tapi pada saat itu juga, di atas batu raksasa itu terdapat dua perempuan dengan tubuh yang hampir telanjang bulat. Hamburan air terjun itu menggerujuki badan mereka, tenaga jatuhnya air itu jelas sangat keras.

Tampaknya kaki mereka yang panjang putih itu telah mengejang karena siraman air terjun itu, rambut mereka pun kusut masai.

Sampai di sini Siau-hi-ji jadi melenggong. Pemandangan yang mengerikan ini penuh daya tarik yang kotor pula dan cukup membuat wajah setiap lelaki yang memandangnya akan merah, hati pun berdebar-debar dan sukar menguasai perasaannya.

“Perbuatan siapakah ini? Sungguh gila orang “ini!” demikian Siau-hi-ji bergumam sendiri.

Didengarnya kedua perempuan itu sedang berkeluh kesah, agaknya mereka pun tahu ada orang datang, segera mereka menjerit dengan suara gemetar, “To…tolong…”

“Apakah kalian tak dapat bergerak?” seru Siau-hi-ji dari kejauhan.

“Tolong…tolonglah kami…” demikian perempuan itu memohon pula.

“Siapa yang memperlakukan kalian cara begini? Di mana dia?” tanya Siau-hi-ji.

Perempuan itu seperti sedang bicara, tapi suaranya sangat lemah, sama sekali tak terdengar oleh Siau-hi-ji. Maklum, batu di mana Siau-hi-ji berdiri masih berjarak dua tiga tombak jauhnya dari mereka.

Jarak dua tiga tombak sebenarnya bukan soal bagi Siau-hi-ji, cukup sekali lompat saja dapat dicapainya.

Setiap lelaki yang memiliki Kungfu seperti Siau-hi-ji pasti akan melayang ke sana bila menyaksikan keadaan kedua perempuan itu. Tak peduli lelaki ini orang baik atau jahat pasti takkan tinggal diam. Bilamana lelaki ini orang baik tentu tanpa pikirkan risiko sendiri akan melompat ke sana untuk menolong kedua perempuan itu. Apabila lelaki ini orang jahat, tentu ia pun tidak tahan oleh pemandangan yang menarik itu, tentu dia akan melompat ke sana untuk mencari keuntungan atas diri kedua perempuan itu.

Andaikan lelaki ini adalah seorang yang cuma mementingkan diri sendiri, atau lelaki ini sudah kakek-kakek yang loyo dan sama sekali tidak punya hasrat lagi terhadap perempuan, paling-paling ia pun akan tinggal pergi saja.

Tapi sekarang Siau-hi-ji justru tidak mau menolong orang dan juga tidak mau tinggal pergi. Ia malahan terus duduk di atas batu dan memandang ke sana dengan terbelalak.

Perbuatannya ini benar-benar luar biasa dan di luar akal sehat, selain dia mungkin di dunia ini tiada orang kedua lagi yang dapat bersikap demikian.

Kedua perempuan bugil yang berada di atas batu raksasa itu dengan sendirinya ialah Pek-hujin dan Thi Peng-koh.

Melihat tindakan Siau-hi-ji itu, Pek-hujin jadi tercengang juga.

Padahal setiap muslihat dan perangkap yang telah diaturnya boleh dikatakan sangat rapi, aneh, lain daripada yang lain, sampai-sampai sukar untuk dibayangkan. Apa yang telah dirancangnya selalu membawa daya pikat dan sukar untuk dilawan. Sesungguhnya setiap tipu akalnya selama ini belum pernah gagal.

Sekali ini, bahkan ia telah mengatur tipu muslihatnya dengan lebih rapi karena dia tahu yang akan dijebaknya adalah manusia yang sangat pintar dan cerdik. Ia yakin siapa pun juga bilamana habis tergantung di pohon sekian lamanya tentu sudah kehausan dan pasti ingin minum yang banyak, sebab setiap orang pintar pasti akan membuat tenang dulu pikirannya sebelum mengerjakan sesuatu.

Sedangkan di pegunungan sunyi ini, tempat yang ada air minum hanya di sungai kecil ini.

Menurut perhitungan Pek-hujin, asalkan lelaki, apabila melihat sesuatu benda milik orang perempuan yang hanyut terbawa arus, tentu lelaki itu akan membayangkan di hulu sedang terjadi perkosaan dan pasti akan cepat memburu ke tempat kejadian.

Maka di hulu sungai itulah Pek-hujin menunggu, di situlah dia memperagakan tubuhnya yang masih menggiurkan. Ia yakin tiada seorang lelaki pun di dunia ini yang takkan mendekatinya apabila melihat pemandangan yang menarik ini.

Tapi ia pun rada khawatir kalau-kalau daya pikat tubuh sendiri yang sudah mulai menginjak ketuaan itu kurang menarik, maka dia sengaja mengikutsertakan Thi Peng-koh.

Dia kenal nama “Siau-hi-ji” dari mulut Kang Giok-long, dengan sendirinya ia pun tahu Thi Peng-koh pernah menyelamatkan jiwa anak muda itu. Maklum, waktu Kang Giok-long datang minta perlindungan kepada mereka suami istri, lebih dulu ia lelah menanyai asal usul Giok-long, lebih-lebih keterangan mengenai anak perempuan yang dibawa Giok-long itu. Pada dasarnya dia memang tidak percaya pada siapa pun juga.

Untuk memperoleh kepercayaan Pek-hujin terpaksa Kang Giok-long menceritakan seluk beluk mengenai diri Thi Peng-koh, sudah barang tentu, Kang Giok-long tidak perlu menyimpan rahasia diri orang lain.

Sebab itulah sekarang Pek-hujin yakin Siau-hi-ji pasti akan mendekati mereka. Di luar dugaan anak muda itu hanya duduk termenung saja di kejauhan.

Tetesan air yang terus-menerus dapat melubangi batu, apalagi tenaga air terjun yang deras. Dengan sendirinya batu raksasa itu telah terguyur menjadi licin dan bulat, hanya bagian tengah atas batu itu saja yang mendekuk, sekeliling batu halus licin dan sukar untuk berdiri di situ.

Pek-hujin dan Thi Peng-koh justru berbaring di bagian batu yang dekuk itu, asalkan Siau-hi-ji melompat ke atas batu untuk menolongnya, sekali mendorong perlahan Siau-hi-ji pasti akan tergelincir ke dalam sungai. Padahal saat itu Oh Yok-su sudah menyelam dan menunggu di dasar sungai, ia bernapas dengan menggunakan setangkai gelagah. Apabila Siau-hi-ji jatuh ke sungai, maka itu berarti “ikan masuk jaring”.

Maklum, seorang yang jatuh ke dalam air tentu akan kelabakan dan sekujur badan tidak terjaga, kesempatan itu tentu dapat digunakan Oh Yok-su yang telah siap siaga untuk menyergapnya.

Bahwa Pek-hujin sengaja mengatur dirinya d tempat berbahaya ini justru menurut perhitungannya hasilnya pasti akan “tok-cer”. Siapa tahu Siau-hi-ji justru tidak mudah dijebak, anak muda itu hanya duduk saja di kejauhan, bahkan memandangnya seperti orang yang sedang menonton sandiwara menarik.

Padahal tenaga gerujukan air terjun itu sangat keras, betapa pun kuat tenaga dalam Pek-hujin lama-lama juga tidak tahan.

Dia lihat Siau-hi-ji justru sedang enak-enak duduk di sana, bahkan anak muda itu lantas mencopot sepatu dan mencuci kaki di air sungai, wajahnya tampak berseri gembira seperti orang lagi berpiknik. Malahan tidak lama lagi anak muda itu lantas bernyanyi-nyanyi kecil dengan suara yang tidak tergolong merdu.

Sudah hampir meledak perut Pek-hujin saking dongkolnya. Saking tidak tahan ia memaki, “Keparat, bocah ini benar-benar bukan manusia… Apakah dia telah mengetahui rencanaku?”

Kalimat yang terakhir itu dengan sendirinya ditujukan kepada Thi Peng-koh. Di tengah suara gemuruh air terjun itu, andaikan suara bicaranya lebih keras sedikit juga cuma didengar oleh Thi Peng-koh saja.

Peng-koh sendiri sebenarnya merasa malu dan gemas juga karena dipaksa ikut telanjang bulat dan dijadikan umpan “ikan”. Kini melihat rencana Pek-hujin tidak berhasil, diam-diam ia pun merasa senang dan geli, maka dia sengaja menjawab, “Ya, kukira dia sudah tahu tipu akalmu.”

“Rencanaku ini boleh dikatakan sangat rapi, dari mana dia bisa tahu,” kata Pek-hujin.

“Banyak orang bilang dia adalah orang pintar nomor satu di dunia, tampaknya kabar itu memang tidak salah,” ujar Thi Peng-koh.

Sebenarnya tenaga dalam Peng-koh jauh lebih lemah daripada Pek-hujin, hampir-hampir saja bernapas pun sukar karena diguyur air terjun sekian lamanya, tapi kini lantaran hatinya lagi senang, bukan saja ia dapat bicara dengan lancar, bahkan suaranya juga cukup nyaring.

“Kenapa kau bicara sekeras itu? Apakah kau ingin didengar olehnya?” jengek Pek-hujin. “Hendaklah jangan lupa, kekasihmu masih tergenggam di tanganku, bilamana perangkapku ini gagal, maka kau adalah calon janda sebelum nikah.”

Disebutnya Kang Giok-long membuat hati Thi Peng-koh tertekan pula, meski dia tidak ingin Siau-hi-ji terjebak, tapi ia pun tidak tega membiarkan Kang Giok-long mati.

Maklum, sekarang biarpun dia jelas-jelas tahu Kang Giok-long adalah telur paling busuk di dunia ini juga tak berdaya lagi, sebab hatinya sudah bukan miliknya lagi, melainkan sudah tertawan oleh Kang Giok-long.

Seorang lelaki kalau dapat menundukkan tubuh seorang perempuan dengan pengaruh uang atau kekerasan, maka tidak nanti dapat menundukkan hatinya. Tapi kalau senjata yang digunakannya adalah bujuk rayu dan kata-kata manis, maka dia pasti akan berhasil menipunya bersama hatinya sekaligus.

Begitulah maka Thi Peng-koh tidak berani buka suara lagi.

Selang sejenak, Pek-hujin bertanya pula, “Kutahu kau pernah menyelamatkan jiwa anak muda itu, bukan?”

“Ehm,” sahut Peng-koh perlahan.

“Sekarang kenapa dia tidak balas menolong kau?”

“Mungkin…mungkin dia pangling padaku.”

Pek-hujin berpikir sejenak, katanya kemudian, “Betul juga…lelaki kalau melihat perempuan cantik telanjang bulat, yang dipandang cuma bagian tubuhnya saja dan jarang-jarang memandang wajahnya.”

Muka Thi Peng-koh serasa merah membara, tiba-tiba ia merasa mata Siau-hi-ji sedang melotot padanya, sungguh kalau bisa ia ingin menutupi dadanya, menutupi perutnya, menutup… Tapi demi Kang Giok-long, terpaksa ia tidak berani bergerak.

Pek-hujin mendengus pula, “Sekarang cepat berpaling ke sana dan berteriak minta tolong… Teriakanmu jangan terlalu keras, tapi juga jangan terlalu lirih, harus berlagak seperti kehabisan tenaga dan suaramu dibikin serak. Nah, lekas lakukan!”

Terpaksa Thi Peng-koh melaksanakan perintah Pek-hujin, dengan suara parau ia menjerit, “Tol…tolong…tolong…”

Dia cuma sedikit menoleh, segera dilihatnya Siau-hi-ji sudah selesai mencuci kaki, dengan tangan bertopang dagu dan setengah berbaring di atas batu, anak muda itu seperti sudah tertidur.

Dengan sendirinya Pek-hujin juga sudah melihat tingkah Siau-hi-ji, dengan geregetan ia berkata, “Bangsat cilik, licin benar! Sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya?”

Tiba-tiba seorang bicara di bawah batu sana, “Betul tidak apa yang kukatakan padamu? Ikan ini sangat sukar dijaring bukan?”

Rupanya Oh Yok-su juga tidak tahan direndam air sekian lamanya, ia telah menongolkan kepalanya ke permukaan air.

“Lekas menyelam, jangan sampai dilihatnya,” seru Pek-hujin.

“Biarpun kepandaiannya setinggi langit juga tidak mungkin pandangannya dapat menikung ke belakang batu sini,” ucap Oh Yok-su dengan tertawa.

Pek-hujin menghela napas, ucapnya, “Menurut pendapatmu, apakah rencana kita ini telah diketahuinya?

“Kau kira demikian?” Oh Yok-su balas tanya.

“Padahal rencana kita ini sangat rapi, mana dapat diketahuinya?” jengek Pek-hujin.

“Habis mengapa dia tidak mau datang kemari?”

“Bisa jadi pembawaan bocah ini memang suka curiga, segala apa pun dicurigainya, makanya dia tidak mau segera kemari dan ingin tahu bagaimana reaksi kita.”

“Tapi yang jelas kita tersiksa di sini, kalau keadaan begini berlangsung lebih lama kan kita sendiri yang celaka.”

“Dia justru ingin tahu apakah kita sanggup bertahan tidak, asalkan kita tidak tahan, maka rencana ini pun gagal total. Kalau usaha kita ini gagal, apakah tidak merasa sayang?”

“Sayang sih sayang, tapi tersiksa begini juga bukan cara yang baik,” ujar Oh Yok-su dengan gegetun.

“Habis mau apalagi?” ujar Pek-hujin. “Bocah ini memang benar-benar lebih licin daripada ikan, jika usaha kita ini diketahuinya, lain kali jangan harap lagi dapat menjaringnya.”

“Dengan kekuatan kita bertiga melawan dia seorang, masa kita tidak berani main kekerasan?”

“Kukira jangan,” ujar Pek-hujin. “Konon ilmu silat bocah ini sangat tinggi meski usianya masih muda belia, bahkan juga sangat licik dan licin, bila gelagat jelek, segera dia kabur. Sampai-sampai Ih-hoa-kiongcu kabarnya juga mati kutu menghadapi dia, lalu kita dapat berbuat apa?”

Oh Yok-su menghela napas panjang, ucapnya, “Jika demikian, tampaknya tiada jalan lain kecuali harus bertahan, tapi kita dapat tahan berapa lama lagi?”

Pek-hujin terdiam sejenak, katanya kemudian sambil menyengir, “Urusan sudah kadung begini, terpaksa mengikuti keadaan saja.”

Di luar dugaan pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji berdiri.

Kejut dan girang Pek-hujin, cepat ia mendesis, “Ssst, lekas selam, mungkin ikannya akan segera akan masuk jaring.”

Tanpa disuruh lagi cepat Oh Yok-su menyelam pula, batang gelagah yang bagian tengahnya geronggang seperti pipa itu kembali menongol di permukaan air, dengan pipa rumput gelagah inilah Oh Yok-su bernapas.

Terdengar Siau-hi-ji bergumam di sana, “Rasanya mereka bukan pura-pura, kalau tidak tentu mereka tidak tahan sekian lama.” Lalu ia menghela napas gegetun dan berucap pula, “Jika tidak pura-pura, maka aku harus segera menolong mereka.”

Sembari bicara ia pun memakai sepatunya, lalu menjulurkan kakinya ke dalam air. Nyata dia khawatir batu yang berlumut ini terlalu licin, maka sepatunya dibasahi dulu.

Pek-hujin tahu anak muda itu segera akan datang, girang hatinya sungguh sukar dilukiskan. Sebaliknya Thi Peng-koh hampir saja menangis.

Kini dia hampir melupakan Kang Giok-long dan hampir berteriak menyuruh Siau-hi-ji jangan mau tertipu. Pikiran ini bukan lantaran dia lebih berat pada Siau-hi-ji daripada Kang Giok-long, tapi pikiran ini timbul dari hati nurani manusia yang murni, yang timbul hanya pada detik antara mati dan hidup, dalam keadaan itu terkadang hati nurani bisa mengalahkan pikiran kerakusan pribadi.

Cuma sayang, tampaknya Pek-hujin juga cukup memahami perasaannya, dengan tandas ia memperingatkan, “Awas, jangan melupakan kekasihmu itu.”

Hati Peng-koh seperti ditusuk satu kali, sekuatnya ia menggigit bibir sendiri hingga kesakitan, meski teriakannya urung disuarakan, namun air mata lantas bercucuran.

Dalam pada itu terdengar Siau-hi-ji lagi berseru, “Jangan khawatir para nona, akan kutolong kalian!” Di tengah teriakannya itu segera tubuhnya melompat ke arah batu raksasa ini.

Melihat gaya lompatan Siau-hi-ji itu tanpa terasa Pek-hujin menjadi rada kecewa.

Kalau melihat cara Siau-hi-ji bersiap-siap hendak melompat Pek-hujin mengira gayanya pasti sangat indah dan gerakan gesit, siapa tahu cara anak muda itu melompat sama sekali tidak indah gayanya, juga gerakannya tidak gesit. Padahal dengan susah payah ia memasang jaring besar dengan harapan akan dapat menangkap seekor ikan besar, ikan kakap, siapa tahu “ikan” yang menjadi sasarannya ini hanya seekor ikan teri.

Begitulah diam-diam Pek-hujin gegetun, pikirnya, “Orang pintar kebanyakan memang kurang giat berlatih, bilamana tahu Kungfunya cuma begini saja, kuat apa aku bersusah payah membuang tenaga percuma.”

Baru terkilas pikirannya itu, “plung”, air muncrat ke mana-mana. Lompatan Siau-hi-ji ternyata tidak dapat mencapai batu ini, tetapi jatuh ke dalam sungai. Terlihat ia mencak-mencak dan kelabakan di dalam air, dengan mati-matian bermaksud memanjat ke atas batu raksasa ini, tapi batu ini terlalu licin, baru saja tangannya meraih, kembali terpeleset jatuh ke bawah lagi.

Menyusul lantas terdengar suara “kruk-kruk beberapa kali, suara orang megap-megap karena kemasukan air, bahkan lantas terdengar teriakannya, “O, mati aku, tolong…tolong…”

Sungguh lucu, orang yang mau menolong, sekarang malah berteriak minta tolong.

Pek-hujin menjadi dongkol dan juga geli, tak terpikir olehnya bahwa ilmu silat bocah ini sedemikian rendahnya, juga tidak bisa berenang. Cuma sayang Siau-hi-ji jatuh di sebelah sini, kalau tidak Oh Yok-su pasti sudah melemparkan “ikan” ini ke atas batu.

Kini suara teriakan minta tolong tak terdengar lagi, hanya tampak gelembung air bermunculan ke permukaan air, tampaknya “ikan kecil” ini akan mati tenggelam.

Diam-diam Pek-hujin memaki, “Keparat, jika bukannya aku masih memerlukan kau, mustahil kalau tidak kubiarkan kau mampus kelelep.”

Kini Pek-hujin tidak mengkhawatirkan apa pun, selagi dia hendak berbangkit, tapi tekanan air terjun dari atas terlalu keras, padahal tenaganya sudah hampir terkuras habis karena bertahan sekian lama, baru saja ia bangkit duduk, mendadak ia terguyur roboh lagi oleh gerujukan air terjun.

Sementara itu pipa gelagah tadi telah bergeser dari balik batu sana ke sebelah sini. Melihat Oh Yok-su akan menangkap “ikan”, maka Pek-hujin bolehlah menghemat tenaga.

Air sungai sangat jernih, Oh Yok-su dapat membuka mata dalam air, dilihatnya “ikan kecil” itu kini sudah berubah menjadi seekor ayam yang kecemplung ke kolam, tampaknya sekali pegang saja pasti dapat membekuknya.

Di luar dugaan, entah bagaimana, tahu-tahu Siau-hi-ji meronta sekali, seperti ikan mengeliat, tahu-tahu ia menongol lagi ke permukaan air. Jarinya seperti menyelentik perlahan, satu biji benda kecil dengan tepat masuk ke dalam pipa gelagah.

Padahal saat itu Oh Yok-su sedang menyedot hawa segar, mendadak ia merasakan sesuatu benda kecil tersedot masuk melalui pipa gelagah, ketika mengetahui ada yang tidak beres dan ingin memuntahkannya, namun sudah terlambat, lantaran dia harus bernapas dan menyedot hawa segar, tahu-tahu benda kecil itu pun sudah tersedot masuk perutnya.

Malah. secepat kilat Siau-hi-ji juga lantas menarik gelagah yang tergigit di mulut Oh Yok-su itu. Seketika air pun masuk mulut Oh Yok-su. Ia cuma sempat melihat kedua kaki Siau-hi-ji yang terbenam di dalam air dan tidak tahu keadaan di permukaan air. Maka ia tidak tahu sesungguhnya benda apakah yang telah diminumnya itu.

Yang jelas ia merasa benda kecil itu ya asin, ya busuk, ya manis, ya bacin seperti ikan asin. Sungguh ingin muntah rasanya. Tapi apa daya, benda itu sudah masuk perut dan ditambah minum air dua ceguk. Andaikan yang tertelan itu tai anjing juga jangan harap akan dapat dimuntahkannya kembali.

Apa yang dirasakan oleh Oh Yok-su di dalam air sudah tentu tak terlihat oleh Pek-hujin. Dia cuma mendengar suara “krak-kruk” bunyi air, belum lagi dia mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah mencabut pipa gelagah dari mulut Oh Yok-su, menyusul Yong-coan-hiat di telapak kaki Pek-hujin yang terletak di tepi batu juga tertutuk.

Waktu Oh Yok-su melompat keluar dari dalam sungai laksana seekor kodok yang diuber ular, sementara itu Pek-hujin sudah roboh seperti kuda mampus, rebah tak bisa bergerak di atas batu, seperti mimpi saja, sama sekali ia tidak tahu apa yang telah terjadi.

Setelah melompat ke atas batu, Oh Yok-su terus batuk-batuk, dengan jari mengorek mulut sendiri agar memuntahkan sesuatu, tapi sampai air mata dan ingus ikut bercucuran tetap tak dapat menumpahkan apa pun.

Waktu ia menoleh ke sana, entah sejak kapan Siau-hi-ji sudah berada di atas batu tadi dan sedang memandangnya dengan tertawa seakan-akan tidak pernah terjadi apa pun.

Baru sekarang Pek-hujin menyadari bahwa pengail ikan telah berbalik kena dikail ikan. Keruan ia terkejut dan murka pula, dengan suara serak ia berteriak, “Le…lekas buka Hiat-toku!”

Sambil kecek-kucek matanya dan terbatuk-batuk Oh Yok-su menjawab, “Hiat…Hiat-to apa?”

“Yong-coan-hiat,” jawab Pek-hujin.

Baru saja Oh Yok-su hendak berjongkok, tiba-tiba Siau-hi-ji berseru di sebelah sana, “Bilamana aku menjadi kau pasti takkan kutolong dia.”

Seketika Oh Yok-su menarik kembali tangannya dan bertanya dengan serak, “Sebab apa?”

“Sekarang masa kau sempat menolong orang lain, mestinya lebih dulu harus berdaya upaya untuk menolong dirimu sendiri,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Seketika wajah Oh Yok-su berubah pucat, tanyanya dengan tergagap, “Barang…barang apakah tadi itu?”

“Masa kau tak dapat menerkanya?”

“Ap…apakah racun?”

“Kalau bukan racun, memangnya obat kuat?”

Sekujur badan Oh Yok-su serasa lemah lunglai.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata pula, “Jika kau menginginkan pertolonganku, paling baik kau berdiam saja di situ dan jangan bergerak

“Jangan percaya dia,” tiba-tiba Pek-hujin berseru dengan suara gemetar. “Paling benar kau buka dulu Hiat-toku, nanti akan kucarikan akal untuk menolongmu.”

“Kau akan menolong dia? Haha, memangnya kau tahu racun apa?” tanya Siau-hi-ji dengan bergelak tertawa.

“Racun apa pun pasti dapat kutawarkan,” ujar Pek-hujin.

“Haha, ucapanmu ini biarpun digunakan menipu anak umur tiga juga takkan dipercaya,” ejek Siau-hi-ji.

“Apa pun juga, yang penting buka dulu Hiat-toku, nanti kita paksa dia menyerahkan obat penawarnya,” kata Pek-hujin kepada Oh Yok-su.

“Hah, cuma kalian berdua saja biarpun kentutku juga tak dapat kalian keluarkan!” Siau-hi-ji berolok-olok.

Begitulah Siau-hi-ji perang lidah dengan Pek-hujin, sedangkan Oh Yok-su cuma melenggong saja dengan bingung, entah harus menuruti kehendak Pek-hujin atau tunduk kepada perintah Siau-hi-ji.

Thi Peng-koh juga terkesiap dan bergirang menyaksikan kejadian itu, setelah tercengang sekian lama baru tiba-tiba teringat olehnya, “Tunggu kapan lagi kalau sekarang tidak angkat kaki?” segera ia memberosot ke dalam sungai.

Di sebelah sana Pek-hujin sedang mendesak Oh Yok-su, “Ayo, mengapa tidak…tidak lekas kau kerjakan?”

Oh Yok-su menghela napas, katanya sambil menyengir, “Meski ingin kutolong kau, namun apa pun juga jiwaku lebih penting.”

“Dahulu kau pernah bersumpah di depanku bahwa kau tidak sayang mati bagiku, kenapa sekarang kau lupa?” omel Pek-hujin dengan suara gemetar.

“Lain dulu lain sekarang,” jawab Oh Yok-su dengan menyesal. “Bilamana seorang lelaki sedang memburu seorang perempuan, siapakah yang tidak pernah main sumpah segala. Apabila sumpah demikian dapat dipercaya, maka lelaki di seluruh dunia ini mungkin sudah mampus semua.”

Saking gemasnya Pek-hujin hanya mendelik dan tak sanggup bersuara lagi.

Sebaliknya Siau-hi-ji lantas berkeplok tertawa serunya, “Bagus, bagus! Ucapan ini benar-benar kata-kata mutiara, kata-kata emas, harus dicatat dengan tinta biru, perempuan di seluruh dunia ini harus mendengarkan ucapanmu ini.”

Sementara itu Thi Peng-koh telah berenang k arah Siau-hi-ji, baru saja ia lompat ke atas, tiba-tiba teringat tubuhnya dalam keadaan bugil tanpa busana, mana boleh tubuh mulus begitu diperlihatkan kepada orang lain.

Tapi Siau-hi-ji justru melirik ke arahnya, bahkan tersenyum dan memicingkan sebelah mata.

Tentu saja Thi Peng-koh malu dan ingin membenamkan kepala ke dalam air.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata kepalanya, “Dalam hatimu sekarang tentu mencaci aku ini bukan seorang Kuncu, sebab mata seorang Kuncu sejati tidak nanti memandang secara melirik, begitu bukan?”

Wajah Thi Peng-koh merah, katanya, “Kau…kau…”

“Maksudmu supaya aku berpaling ke sana?” tanya Siau-hi-ji.

Cepat Peng-koh mengiakan.

“Baiklah, aku akan berpaling ke sana,” kata Siau-hi-ji. “Tapi ingin kutanya dulu padamu, tadi waktu kau berbaring di sana kan tidak merasa malu, mengapa sekarang tiba-tiba merasa malu?”

“Aku…aku hanya…” Thi Peng-koh menjadi gelagapan.

“Ya, kutahu tadi kau hanya ingin menjebak diriku saja, betul tidak? Cuma sayang, yang terjebak justru bukan diriku melainkan orang lain.”

Ucapan ini laksana cambuk yang menyakitkan, muka Thi Peng-koh dari merah menjadi pucat, ucapnya dengan suara gemetar, “Ken…kenapa kau memfitnah aku?”

“Hm, kufitnah kau?” jengek Siau-hi-ji. “Haha, coba jelaskan. Tadi tubuhmu bisa bergerak, mulutmu dapat bicara, kenapa kau tidak berteriak memperingatkan aku agar jangan sampai masuk perangkap.”

“Sebab…sebab aku…aku…” Thi Peng-koh tidak mampu bicara lagi, sebab ia merasa memang tidak punya alasan yang kuat. Tanpa terasa air matanya bercucuran pula.

“Kau tidak perlu menangis, aku bukan Hoa Bu-koat, hatiku tidak selemah dia, sekalipun air matamu mengalir seperti air sungai ini juga aku tidak pusing,” setelah menghela napas, lalu Siau-hi-ji bergumam lagi, “Sungguh aku tidak paham, mengapa ada sementara orang selalu menganggap setiap lelaki yang berbuat salah adalah bangsat bajingan, tapi kalau perempuan berbuat kesalahan yang sama harus diberi maaf.”

Sekujur badan Thi Peng-koh tampak menggigil, teriaknya parau, “Tapi aku tidak…tidak minta maaf padamu, aku…aku pun takkan memohon padamu…”

“Bagus, aku pun berharap jangan mohon padaku,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Apabila orang lain mengkhianati aku, tak peduli orang itu lelaki atau perempuan, yang jelas aku pasti takkan minta orang lain memaafkan aku.” Sekonyong-konyong ia melotot dan berteriak, “Dan aku masih ingin tanya padamu, mengapa kau mengkhianati aku? Mengapa? Ya, mengapa?…”

Mendadak Thi Peng-koh meraung-raung, teriaknya dengan parau, “Sebab kau sombong, angkuh, banyak tingkah, hanya memikirkan kepentingan sendiri, kau telur paling busuk di dunia ini. Aku justru berharap dapat menyaksikan kau mampus di tangan orang lain.”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, tapi ia lantas tertawa dan berkata, “Ah, semakin keras ucapan seorang perempuan, apa yang dikatakan semakin tak dapat dipercaya. Karena kau bicara cara demikian, aku malah menganggap kau tidak sengaja mencelakai aku. Kau pasti mempunyai kesulitan yang sukar diutarakan, bisa jadi aku benar-benar akan memaafkanmu.”

Thi Peng-koh jadi melenggong bingung, ia merasa ucapan dan tingkah laku anak muda ini benar-benar sukar dipegang ekornya. Betapa pun sulit menerka apa sebenarnya kehendaknya. Bilamana dia dianggap orang paling busuk di dunia ini, maka mendadak dia akan berubah menjadi sangat menarik.

Begitulah dengan perlahan Siau-hi-ji menyambung pula, “Mungkin sekali lantaran seorang yang sangat akrab denganmu terjatuh di tangan mereka, demi menyelamatkan jiwa orang itu, terpaksa kau mengkhianati diriku.” Dia menghela napas gegetun, lalu melanjutkan, “Jika betul demikian, betapa pun tak dapat kusalahkanmu, sebab kutahu, demi orang yang dicintainya, seorang perempuan tidak sayang menjual dirinya sendiri.”

Kata-kata Siau-hi-ji ini benar-benar kena betul di lubuk hati Thi Peng-koh, tanpa terasa air matanya bercucuran pula. Tak terduga olehnya bahwa Siau-hi-ji yang menjengkelkan ini ternyata dapat menyelami isi hati orang sedemikian mendalam, sungguh ia ingin menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu dan menangis sepuasnya untuk mengeluarkan segenap isi hatinya.

Dengan suara halus Siau-hi-ji berkata pula, “Tapi siapakah gerangannya? Apakah dia berharga mendapatkan pengorbananmu ini?”

Peng-koh menjawab dengan menangis, “Kau…kau pun kenal dia, tapi tak dapat kusebut namanya.”

Meski tak dapat disebut, tapi ucapan Peng-koh itu sama dengan mengatakan segalanya. Bilamana ingin tahu rahasia seorang perempuan, maka teramat mudah diperoleh apabila dia sedang berduka.

Air muka Siau-hi-ji berubah, tapi ia tetap berucap dengan suara lembut, “Yang kau maksudkan apakah Kang Giok-long?”

Sekali ini Thi Peng-koh hanya diam saja. Tapi bungkam sama saja dengan membenarkan secara diam-diam.

Mendadak Siau-hi-ji melonjak gusar, teriaknya, “Bagus, bagus, kiranya kau mengkhianati aku demi anak jadah Kang Giok-long itu. Apakah kau tidak tahu betapa busuknya anak jadah itu, sekalipun kepalanya dipenggal orang seratus kali juga belum cukup untuk melunasi dosanya.”

Kembali Thi Peng-koh terkesiap bingung.

“Jika demi orang lain tentu dapat kumaafkan,” Siau-hi-ji meraung gusar pula, “Tapi kau berbuat baginya…”

Mendadak Thi Peng-koh juga berteriak, “Siap yang minta kau memaafkan diriku? Seumpama dia bukan orang baik-baik, memangnya kau sendiri ini barang baik macam apa?”

Siau-hi-ji melotot sejenak, tiba-tiba ia berkata sambil menghela napas gegetun, “Ya, sebenarnya tidak dapat menyalahkan kau, mulut anak keparat itu memang manis, jangankan dirimu, sekalipun anak perempuan yang sepuluh kali lebih pintar daripadamu juga akan tertipu olehnya.”

Peng-koh berdiri bingung di dalam air dan serba susah.

Tertampak Siau-hi-ji berubah menjadi ramah tamah, dengan tertawa ia berbangkit dan berkata kepada Oh Yok-su, “Bagus, kau memang pintar, sejak tadi tidak sembarangan bergerak, cuma lelaki pintar seperti kau ini justru punya bini yang suka bugil, betapa pun rasanya kurang pantas.”

“Dia bukan biniku,” kata Oh Yok-su.

“O,” Siau-hi-ji melenggong, segera ia tertawa dan berkata, “Ah, bagus, bagus, jika demikian, tampaknya kau terlebih pintar daripada perkiraanku semula. Cuma perempuan seperti dia bila tidak punya lelaki mustahil kalau tidak menjadi gila. Di manakah lakinya?” Biji matanya berputar, segera ia menyambung pula dengan tertawa, “Aha, tahulah aku, lakinya tentu sedang mengawasi Kang Giok-long, betul tidak?”

“Ya, memang begitu,” terpaksa Oh Yok-su membenarkan.

Mendadak Siau-hi-ji melompat ke batu raksasa itu, sekali ini dia hanya melayang enteng saja lantas hinggap di atas batu dengan tegaknya, tidak mungkin kecemplung lagi ke sungai.

Tentu saja Pek-hujin sangat mendongkol, ia menggigit bibir dengan geregetan sehingga bibir pun berdarah.

Siau-hi-ji memandangnya dengan tertawa, katanya, “Nenek semacam kau ternyata lumayan juga. Tapi katanya kau sudah punya laki dan mustahil tiada punya gendak pula, lalu untuk apa lagi kau mengincar diriku?”

“Engkau kan orang paling pintar, masa tak dapat menerkanya?” ucap Pek-hujin.

Tanpa pikir Siau-hi-ji lantas menjawab, “Ya, sudah tentu lantaran usaha kalian telah mengalami kegagalan. Kalian telah menculik Hoa Bu-koat, tapi dia tidak mau menceritakan rahasia Ih-hoa-ciap-giok, maka sasaran lantas terarah kepadaku. Sebab di antara kalian bertiga pasti ada yang mengintip ketika So Ing kebingungan melayani diriku. Maka kalian ingin memperalat diriku untuk memeras So Ing agar dia menguraikan apa yang tidak dapat kalian peroleh dari Hoa Bu-koat itu.”

Belum habis ucapannya, Pek-hujin lantas melenggong. Meski tadi ia suruh anak muda itu menerkanya, tapi sama sekali tak terduga olehnya bahwa Siau-hi-ji yang sialan ini benar-benar dapat menerkanya dengan jitu.

“Nah, sekarang kau mengaku kalah tidak?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “sekarang kau harus tahu, barang siapa berani memusuhi aku, maka dia pasti akan telan pil pahit.”

Pek-hujin benar-benar mati kutu dan tidak dapat bersuara lagi.

“Sebenarnya,” demikian Siau-hi-ji menyambung pula, “Seumpama kau hendak menjebak aku, mestinya juga tidak perlu telanjang bulat begini untuk menyiksa dirinya sendiri. Kukira kau memang punya penyakit jiwa dan suka orang lain menonton tubuhmu yang bugil ini. Seperti halnya ada sementara lelaki gila yang punya hobi suka kencing di hadapan perempuan. Mungkin penyakit mereka itu serupa dengan penyakitmu yang suka bugil ini. Penyakit ini namanya ‘penyakit suka pamer’.”

Sampai gemetar bibir Pek-hujin saking gemasnya, ia tak tahan lagi, ia lantas mencaci maki, semua kata-kata kotor di dunia ini hampir seluruhnya dilontarkan ke alamat Siau-hi-ji.

Akan tetapi Siau-hi-ji anggap saja seperti tidak mendengar, bahkan tidak memandangnya barang sekejap.

Di sebelah sana Thi Peng-koh masih berendam di dalam air, ia tidak berani keluar dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, padahal air sungai sangat dingin, mukanya sudah pucat dan bibir pun gemetar, ia menjadi gemas, dongkol, ia bermaksud menumbukkan kepalanya pada batu karang untuk membunuh diri saja.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Siau-hi-ji berteriak kepada Oh Yok-su, “He, tahukah kau nona Thi itu ada sangkut-pautnya apa denganku?”

“Ti…tidak tahu,” jawab Oh Yok-su.

“Dia adalah penolong jiwaku, juga sahabatku yang baik, tapi sekarang dia terendam di dalam air dan tidak berani keluar. Coba bayangkan, hatiku serba susah tidak?”

Bahwasanya anak muda itu tiba-tiba berucap demikian, Thi Peng-koh menjadi bingung, girang dan heran pula.

Dengan tergagap-gagap Oh Yok-su menjawab. “Kukira…kukira Tuan tentu merasa susah.”

“Keparat!” damprat Siau-hi-ji dengan gusar. “Jika kau tahu hatiku susah, mengapa tidak lekas tanggalkan bajumu dan diberikan padanya.”

Dengan menyengir Oh Yok-su berucap, “Lantas…lantas bagaimana dengan diriku?”

“Jika kau sudah mampus apakah perlu pikirkan baju segala?” damprat Siau-hi-ji dengan melotot. “Orang hidup dengan telanjang kan lebih mendingan daripada mayat yang berpakaian, betul tidak?”

Oh Yok-su tidak membantah lagi, terpaksa ia membuka baju luarnya dan dilemparkan kepada Thi Peng-koh.

Setelah menerima baju itu, Thi Peng-koh menjadi bingung lagi, entah harus dipakainya segera atau tidak memakainya?

Terdengar Siau-hi-ji sedang berseru pula, “Bilamana nona sedang berpakaian, jika kau berani mengintipnya, akan kucungkil biji matamu, tahu?”

Dongkol dan geli pula Oh Yok-su, katanya di dalam hati, “Memangnya tadi belum kenyang kulihat tubuhnya? Sekarang biarpun kau suruh aku memandangnya lagi juga hasratku sudah lenyap.”

Didengarnya Siau-hi-ji berseru pula dengan tertawa, “Ya, memang aku pun tahu kau takkan mengintipnya, apabila di dalam perut seorang sudah terisi satu biji racun, biarpun seratus perempuan cantik buka baju serentak di depannya juga tiada hasratnya buat menikmatinya lagi.”

Akhirnya Thi Peng-koh memakai baju itu, katanya kepada dirinya sendiri, “Seumpama harus mati juga perlu berpakaian rapi.”

Tapi setelah berpakaian, tiba-tiba teringat olehnya akan Kang Giok-long, terkenang banyak kejadian yang telah lalu, tiba-tiba ia merasa dirinya tidak perlu mesti mati.

Sorot mata Siau-hi-ji memancarkan rasa senang, ia mafhum betapa bedanya perasaan seorang dalam keadaan bugil dan setelah berpakaian. Dengan mengulum senyum ia bergumam, “Entahlah dia sudah selesai berpakaian atau belum?”

Tanpa terasa Oh Yok-su menanggapi, “Sudah selesai!”

Mendadak Siau-hi-ji mendamprat dengan gusar, “Kurang ajar! Nyatanya kau tetap mengintipnya!”

“O, ti…tidak,” cepat Oh Yok-su menyangkal.

“Jika tidak mengintip, mengapa kau tahu dia sudah selesai berpakaian?”

“Aku…Cayhe…” Oh Yok-su gelagapan.

Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Sebenarnya sejak tadi apa pun sudah kenyang kau lihat, biarpun sekarang kau mengintipnya sekejap juga bukan soal lagi. Kau tidak perlu takut.”

Oh Yok-su memandang Siau-hi-ji dengan terbelalak, dengan penuh rasa pahit dan getir.

Ilmu silatnya tidak rendah, otaknya juga tidak bebal, malahan dia suka anggap dirinya sangat pintar, ia yakin tidak banyak orang Bu-lim yang mampu menandingi kecerdasannya, siapa tahu sekarang dia benar-benar mati kutu dipermainkan seorang anak remaja, sungguh ia sangat mendongkol dan geregetan, ingin dia mengadu jiwa saja dengan Siau-hi-ji

Berkilau sorot mata Siau-hi-ji, tiba-tiba ia tepuk-tepuk pundak Oh Yok-su dan berkata pula dengan tertawa, “Kau jangan sedih, hanya orang tolol yang tidak sayang pada jiwa sendiri. Agar aku mau menyelamatkan jiwamu kau rela tunduk padaku, di sinilah letak kecerdikanmu, orang lain pasti takkan menertawakan kau, bahkan aku kagum padamu. Seorang lelaki sejati harus dapat melihat gelagat dan membedakan arah angin, dengan demikian barulah jiwanya bisa selamat dan hidup panjang umur.”

Oh Yok-su menghela napas, perlahan-lahan ia merasakan pula segi kehebatannya sendiri, ia pikir dirinya mampu mengikuti keadaan untuk mencari selamat, justru inilah yang sukar ditiru orang lain, apanya yang memalukan?

Karena pikiran ini, niatnya hendak mengadu jiwa dengan Siau-hi-ji tadi lantas terbang entah ke mana.

Siau-hi-ji tampak tertawa gembira, katanya pula, “Sekarang, asalkan kau berbuat sesuatu pula bagiku, segera akan kuberikan obat penawarnya.”

“Sekalipun Cayhe tidak percaya obat penawarnya akan kau berikan semudah ini, betapa pun urusan ini kan harus kukerjakan juga, begitu bukan?” kata Oh Yok-su dengan menyengir.

“Ya, kau benar-benar pintar,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika begitu, ingin kutahu apa kehendakmu?” jawab Oh Yok-su.

“Bawa aku pergi mencari lakinya,” kata Siau-hi-ji sambil melirik Pek-hujin.

Teringat pada Hoa Bu-koat yang masih berada dalam cengkeraman Pek San-kun, dengan alat pemeras itu bukan mustahil Siau-hi-ji akan dapat dipaksa menyerahkan obat penawarnya. Berpikir demikian, seketika sorot matanya menjadi terang, cepat ia menjawab, “Baiklah, kuturut, kuturut perintahmu.”

“Bagus, ayo berangkat sekarang,” kata Siau-hi-ji.

Oh Yok-su memandang Pek-hujin sekejap, ucapnya, “Dan dia, bagaimana?”

“Dia suka mandi dengan telanjang bulat, maka biarkan saja dia mandi sepuas-puasnya di sini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tidak lama kemudian, rumah batu itu sudah kelihatan dari kejauhan. Angin mendesir, tapi di dalam rumah itu sunyi senyap, tiada terdengar suara apa pun.

Mendadak Siau-hi-ji bertindak, ia telikung tangan Oh Yok-su dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah mereka berada di dalam rumah?”

Oh Yok-su mengiakan.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya, “Tiga orang hidup di dalam rumah, mengapa tiada suara sedikit pun.”

“Biar kumasuk dulu memeriksanya,” seru Peng-koh.

Tapi cepat tangan Siau-hi-ji yang lain telah menarik nona itu, katanya dengan mendongkol, “Sudah sampai di sini, untuk apa kau terburu-buru.”

Peng-koh menoleh dan berkata dengan terputus-putus, “Jika…jika engkau mengingat kebaikanku pada…padamu, kumohon engkau jangan membunuh dia.”

Siau-hi-ji melotot dan menjawab, “Tidak membunuh dia? Memangnya supaya dia mencelakai orang lebih banyak lagi?”

Peng-koh menunduk, air matanya lantas bercucuran.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya sambil menggeleng, “Tahukah bahwa semakin cepat bocah itu mampus akan semakin baik bagimu, kalau tidak tamatlah hidupmu ini.”

Dengan menangis Thi Peng-koh menjawab, “Hidupku ini memang sudah lama tamat. Bilamana dia kau bunuh, lebih-lebih aku tidak sanggup hidup lagi.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan gemas, “Tampaknya kau sudah terlalu mendalam tertipu olehnya. Tapi sudah sejak mula kukatakan padamu bahwa diriku ini bukan seorang Kuncu segala, apabila kau mengharapkan balas budi dariku, maka salahlah perhitunganmu.”

Dengan rawan Peng-koh berkata, “Meski kau bicara dengan garang, tapi kutahu hatimu tidaklah demikian, engkau…engkau takkan membunuh dia, bukan?”

Siau-hi-ji tambah mendongkol, mendadak ia mengentakkan tubuh Oh Yok-su dan membentak bengis, “Suruh mereka keluar, tahu tidak?”

Oh Yok-su berdehem dulu, lalu berteriak, “Pek-toako, Siaute sudah kembali, keluarlah engkau,”

Namun cuma gema suara yang berkumandang di kejauhan, rumah itu sunyi tiada sesuatu jawaban.

“Apakah si jahanam she Pek itu orang tuli?” omel Siau-hi-ji. Setelah berpikir, ia pun berteriak, “Orang she Pek, binimu yang molek itu sudah jatuh dalam tanganku, jika kau tidak lekas keluar, biarlah kujual saja binimu itu.”

Tetap sunyi keadaan rumah itu tanpa jawaban.

Semakin rapat kening Siau-hi-ji berkerut, ucapnya, “Apa barangkali keparat ini menyadari bininya sudah terlalu sering menyeleweng, maka kini dia tidak mau lagi bininya yang sialan itu.”

Gemerdep sinar mata Oh Yok-su, tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana kalau Cayhe melihatnya ke dalam sana?”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu menjawab, “Baik, jalanlah di muka, jangan terlalu cepat, kalau berani sembarangan bergerak, segera kupuntir putus tanganmu.”

Oh Yok-su menghela napas, lalu melangkah maju perlahan, setiba di depan pintu, tertampaklah Kang Giok-long meringkuk sendirian di pojok sana dan sedang menggigil sekujur badannya. Sedangkan Pek San-kun dan Hoa Bu-koat tidak kelihatan lagi.

Kejut dan heran Oh Yok-su serta Thi Peng-koh. Tapi Siau-hi-ji lantas naik pitam demi nampak Kang Giok-long, urusan lain tak sempat terpikir lagi.

Dengan sendirinya Kang Giok-long melihat kedatangan mereka ini, cepat ia menyapa, “Aha kiranya Engkoh Hi yang datang, sudah lama kita tak bersua…”

Tapi Siau-hi-ji lantas mendamprat, “Siapa mengakui kau binatang cilik ini sebagai saudara?”

“Ah, janganlah Hi-heng lupa, jelek-jelek Siaute kan pernah sehidup semati bersamamu dalam perantauan yang banyak suka dukanya itu.”

“Ya, cuma sayang waktu itu kau tidak mati kelelep dalam jamban, kalau tidak masakah Yan-tayhiap bisa tewas di tanganmu?” damprat Siau-hi-ji gusar. Habis bicara ia terus menubruk maju, kepalan lantas menghujani tubuh Giok-long.

Kang Giok-long tiada tenaga sedikit pun buat melawan, saking kesakitan ia berteriak-teriak, “Ampun Hi-heng, ampun! Siaute sedang sakit parah, tidak tahan pukul lagi!”

“Jika takut dipukul, mengapa tidak mengurangi perbuatanmu yang terkutuk itu?” bentak Siau-hi-ji murka sambil menjotos lebih keras.

Thi Peng-koh hanya meneteskan air mata saja dan tidak berani melerai.

Terdengar Kang Giok-long berteriak dengan parau, “Jika berani bolehlah kau tunggu setelah sakitku sembuh baru kita mengadakan pertarungan menentukan, sekarang kau menyatroni seorang sakit, memangnya Enghiong (ksatria) macam apa kau ini?”

“Siapa bilang aku ini Enghiong?” jengek Siau-hi-ji, “Jika aku ini Enghiong, mungkin sudah lama kumati dikerjai olehmu.”

Meski pukulan Siau-hi-ji itu tidak menggunakan tenaga murni, tapi sudah cukup membuat Kang Giok-long babak belur, hidung matang biru dan mata bengkak, namun jotosannya masih terus menghujaninya.

Thi Peng-koh melengos ke sana karena tidak tega menyaksikan kekasihnya dihajar sedemikian rupa, tapi ia pun tahu tiada maksud Siau-hi-ji untuk membunuh Kang Giok-long, kalau tidak, cukup sekali dua pukulan saja sudah pasti akan membinasakan Giok-long. Karena itu, meski rasa pedih perasaannya, tapi diam-diam juga rada bergirang.

Terdengar Giok-long berteriak, “Peng-ji, kenapa, tidak kau lerai dia? Kau pernah menyelamatkan jiwanya, dia pasti akan menurut padamu, masa…masa kau tega menyaksikan aku dipukul mati cara begini?”

Peng-koh menjadi serba susah, pikirnya, “Bukannya aku tidak mau menolongmu, yang kuharap setelah pelajaran ini dapatlah kau perbaiki kelakuanmu, asalkan kau mau sadar, biarpun aku harus mati bagimu juga aku rela.”

Tapi mendadak Kang Giok-long bergelak tertawa latah malah, teriaknya, “Baiklah, jika memang jantan kau, ayo pukul mati aku, bilamana aku berkerut kening bukanlah seorang laki-laki.”

“Huh, kau masih sok laki-laki segala? Baik biar kupukul lebih keras,” seru Siau-hi-ji.

Tapi Kang Giok-long lantas bergelak tertawa, katanya, “Cuma, kalau betul kau memukul mati aku, maka selama hidupmu ini pun jangan harap akan dapat bertemu pula dengan Hoa Bu-koat.”

Seketika kepalan Siau-hi-ji berhenti di udara baru sekarang teringat olehnya bahwa Pek San-kun dan Hoa Bu-koat yang dicarinya itu seharusnya juga berada di rumah ini.

Keadaan Kang Giok-long sudah kempas-kempis, tapi dia masih tertawa dan berteriak, “Ayolah pukul…kenapa tidak pukul lagi?”

Tapi Siau-hi-ji lantas menyeretnya bangun dan membentak bengis, “Di mana Hoa Bu-koat?”

“Kau ingin melihatnya?” jawab Kang Giok-long.

“Kau mau mengaku tidak?” Siau-hi-ji meraung.

“Jika kau ingin melihatnya, sepantasnya kau bersikap hormat dan memohon padaku…”

Kontan Siau-hi-ji menjotos pula dan mendamprat, “Anak jadah, mohon apa katamu?”

“Baik, pukul saja,” jengek Giok-long. “Yang pasti kepalan takkan mendapatkan keterangan apa pun. Umpama kau jadi aku, memangnya kau mau mengaku hanya karena dijotos begini? Bilamana sudah kukatakan, mustahil kau tidak akan memukulku lebih kejam lagi.”

Berputar bola mata Siau-hi-ji, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Kupukul kau?… Ah, bilakah pernah kupukul kau?” Lalu dia malah memayang bangun Kang Giok-long dan mengebutkan debu kotoran bajunya. Katanya pula dengan tertawa, “Selamat bertemu pula, Kang-heng. Baik-baikkah selama ini?”

Giok-long tertawa terkekeh-kekeh, jawabnya, “Baik, cukup baik, cuma tadi seekor anjing gila telah menggigitku beberapa kali.”

Siau-hi-ji juga bergelak tertawa, katanya, “Anjing gila hanya menggigit anjing gila, kalau Kang-heng tidak gila, juga bukan anjing, dari mana ada anjing gila yang menggigit kau?”

“O, jika begitu mungkin aku yang salah lihat,” ujar Giok-long dengan terbahak.

“Mungkin Kang-heng teramat merindukan diriku, kau menangis hingga matamu bengkak, makanya pandanganmu rada kabur.”

“Betul, senantiasa kupikirkan keadaan Hi-heng, sering khawatir jangan-jangan kakak Hi terhinggap penyakit ayan atau mengidap sakit ambein, sungguh hatiku sedih apabila terkenang padamu.”

“Siaute malah mengira Kang-heng yang sehat walafiat ini pasti takkan terhinggap penyakit apa pun, tapi tadi kulihat Kang-heng berkulai di pojok sana dalam keadaan kelojotan, apakah bukan Kang-heng yang mengidap penyakit ayan?”

Gayung bersambut, kata berjawab. Begitulah kedua orang saling berolok-olok dengan tajam seakan-akan sedang melawak.

Menyaksikan perang lidah itu, Oh Yok-su merasa geli dan juga gegetun, pikirnya, “Pemeo yang mengatakan gelombang laut dari belakang mendorong ke depan tampaknya memang tepat. Di kalangan Kangouw dahulu meski juga banyak tokoh-tokoh lihai yang licik dan licin, tapi kalau dibandingkan kedua anak muda ini sungguh masih selisih jauh.”

Diam-diam ia pun heran entah ke mana perginya Pek San-kun dan Hoa Bu-koat. Apabila Pek San-kun membawa pergi Hoa Bu-koat, mengapa Kang Giok-long ditinggalkan sendirian di sini?

Didengarnya Siau-hi-ji sedang berkata pula, “Kang-heng duduk sendirian di pegunungan sunyi ini, apakah tidak takut kedatangan setan pencabut nyawa yang akan menagih janji padamu?”

About these ads

1 Comment »

  1. MaNTAP
    makin seru aja

    Comment by Firman — 24/02/2013 @ 4:44 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: