Kumpulan Cerita Silat

26/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 16 (Tamat)

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:20 am

Pedang Tetesan Air Mata – 16 (Tamat)
Pahlawan Sejati
Oleh Gu Long

Hari ini sudah bulan dua tanggal dua puluh tujuh.

Fajar belum menyingsing meski sudah tak jauh lagi, kegelapan malam yang luar biasa masih mencekam tanah pegunungan di luar kota Tiang-an.

Di luar cahaya lentera yang bercahaya terang, tampak dua sosok bayangan manuia munculkan diri. Seorang membopong alat pie-pa, seorang meniup seruling. Walaupun tubuh mereka masih samar-samar, suara irama lagu yang sedu-sedan masih mengalun, tapi dapat diketahui mereka adalah si pemusik tua dari rumah makan Tiang-an-kit bersama si nona cilik bermata buta itu.

Mengapa mereka bisa muncul secara tiba-tiba di sana? Apakah ada orang yang sengaja minta kepada mereka untuk menyanyikan lagu sedih di tempat tersebut?

Ulat sutera telah mati, tapi seratnya tak pernah habis, biar lilin meluber, air mata tak akan mengering.

Darah panas dan semangat tinggi yang semula menghiasi wajah Cu Bong, tiba-tiba saja berubah menjadi serat-serat yang tak menentu.

Karena dia telah melihat lagi seseorang.

Dari balik kegelapan tiba-tiba saja muncul seseorang, dia seperti sukma gentayangan dari kupu-kupu dalam impian, hanya mengenakan pakaian penari yang amat tipis.

Kemudian iapun mulai menari.

“Bertemu bagai tak bertemu.

Ada perasaan seperti tanpa perasaan.

Di saat nyanyian telah berakhir, mabuk pun jadi mendusin.

Rembulan bersinar cerah, suasana pun hening…….”

Pakaian penari itu berkibar-kibar seperti kupu-kupu, penarinya juga bagaikan kupu-kupu.

Cu Bong tiak melelehkan air mata, Cu Bong sudah tak berair mata, bahkan darah panaspun seperti sudah mengering.

Dia tahu, penari itu bukan Tiap-wu, tapi tariannya justru membawa dia memasuki alam impian. Seperti sungguh, bukan sungguh, seperti semu, bukan semu.

Sebetulnya sungguh atau hanya khayalan?

Kalau sungguh bagaimana? Kalau khayalan bagaimana pula? Mengapa harus bersikap serius dalam kehidupan yang amat singkat?

Biarkan saja ia pergi, apapun persoalannya, biarkan saja dia pergi……

Dia tahu, bila ada orang hendak membunuhnya pada saat ini, hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah, tapi dia tak ambil perduli.

Ia sudah bersiap-siap untuk melepaskan segala sesuatunya.

Tapi Suma Cau-kun tidak membiarkan dia melepaskan dengan begitu saja.

Ketika suara nyanyian masih mengalun, ketika penari masih menari, tiba-tiba Suma Cau-kun menubruk ke muka seperti seekor kucing, dia hendak mencengkeram penari itu dan membunuhnya dengan cepat…..

Penari itu bukan saja tidak menghindar, malah justru maju menyongsong. Dengan semacam gaya tarian yang indah, dia menyambut ke depan, mula-mula menghindari serangan itu, kemudian membisikkan sesuatu di sisi telinga Suma Cau-kun.

Tiada orang yang mendengar apa yang dikatakan penari itu, tapi setiap orang dapat melihat perubahan dari Suma Cau-kun.

“Tong-tong”

Dia hanya mengucapkan perkataan itu, dua patah kata yang sama sekali tidak mengandung arti apa-apa.

“Tong-tong.”

Siapa saja yang mendengar kedua patah kata ini, mereka tak akan menunjukkan reaksi apapun, tapi bagi pendengaran Suma Cau-kun, kedua patah kata ini seperti petir yang tiba-tiba muncul dari tengah udara dan menghantam tubuhnya secara telak.

Dalam waktu singkat dia menghentikan seluruh gerakan tubuhnya, secara mendadak seluruh anggota badannya menjadi kaku, sorot matanya memancarkan sinar ngeri, kaget, tercengang dan seram. Tanpa terasa selangkah demi selangkah dia mundur terus ke belakang.

“Tong-tong.”

Kedua patah kata ini seperti semacam mantera yang amat misterius, dalam waktu yang amat singkat telah merenggut sukma Suma Cau-kun.

Mengapa bisa demikian?

Tak ada yang tahu siapakah penari itu, pun tiada yang tahu darimana datangnya penari itu, tapi dua patah kata yang tak mungkin mengandung sesuatu makna apapun, mengapa bisa merubah Suma Cau-kun menjadi begini rupa?

Tiada orang yang bisa menjelaskan persoalan ini, tapi ada satu hal yang bisa dilihat oleh setiap orang dengan jelas.

Nasib Suma Cau-kun dan Cu Bong sudah hampir berakhir, dalam waktu singkat batok kepala mereka akan ditenteng oleh orang lain.

Si pemusik berambut putih yang buta, meski tak bisa melihat apa-apa, namun di balik nada suara musiknya secara lamat-lamat sudah terdengar hawa nafsu membunuh yang mengerikan.

Tiba-tiba saja seluruh angkasa diliputi hawa nafsu membunuh, termasuk cahaya lentera pun berubah menjadi pucat dan tajam, menyoroti wajah Suma Cau-kun dan Cu Bong yang pucat, juga menyoroti pedang Kongsun Po-kiam yang telah mulai dihunus.

Pedang mestika telah diloloskan dari sarungnya, batok kepalapun segera akan menggelinding ke atas tanah.

Tiba-tiba cahaya lentera yang tajam berkilat. Di tengah-tengah cahaya lentera mendadak berkelebat pula sekilas cahaya yang jauh lebih tajam.

Cahaya tajam itu berkelebat lewat lalu lenyap, tahu-tahu sebilah pedang telah menembusi dada.

Sebelum pedang di tangan Kongsun Po-kiam lolos semua dari sarung, senjata itu sudah terpantek di atas tanah oleh sebilah pedang lain. Pedang itu bukan melayang turun secara tiba-tiba dari luar angkasa, tapi seseorang yang melompat sambil melancarkan sebuah tusukan.

Hanya saja orang itu beserta pedangnya datang kelewat cepat, tubuh dan pedangnya seolah-olah telah bersatu padu.

Serangan itu sebetulnya dilancarkan oleh siapa? Atau orang itu memang memanfaatkan kesempatan tersebut meluncur datang?

Tiada orang yang bisa membedakan, juga tiada orang yang bisa melihat dengan jelas.

Tapi semua orang dapat melihat wajah orang itu dengan jelas sekali.

Dalam sekilas pandangan, orang itu seperti Suma Cau-kun di masa muda dulu, tampan, gagah, jangkung dan berwibawa, pakaiannya berpotongan bagus, berbahan mahal, sorot matanya memancarkan pula sinar kepercayaan pada diri sendiri.

Dalam sekilas pandangan tersebut, hampir tiada orang yang dapat mengenali kalau dia adalah si jago pedang tanpa nama Ko Cian-hui yang dulu terlunta-lunta dalam dunia persilatan.

—–

Irama musik telah berhenti, tarianpun berhenti, si penari berbaring di atas tanah, seolah-olah tak berani mengangkat kepalanya untuk menyaksikan peristiwa berdarah itu.

Siau-ko telah mencabut keluar pedangnya, pedang yang bening bagaikan embun pagi itu tiada noda darah, yang ada hanya noda tetesan air mata.

Dengan pandangan terkejut Kongsun Kay-ji mengawasi orang ini serta pedang tersebut, meskipun tongkat panjang dalam genggamannya telah memperlihatkan posisi menusuk dari tusukan tombak, akan tetapi ia tidak berkeberanian untuk melanjutkan tusukan itu.

Cu Bong dan Suma Cau-kun masih berdiri termangu-mangu di tempat, seakan-akan tidak melihat sesuatu apapun.

Tiba-tiba Kongsun Kay-ji membentak keras.

“Mana pengawal? Apakah kalian semua telah pada mampus? Mengapa belum juga kemari?”

Di luar bayangan sinar, seseorang dengan suara yang sangat lembut menjawab: “Kali ini perkataanmu tepat sekali, orang-orangmu sudah mampus semua, orang yang membawa lampupun sudah ditukar dengan orang-orangku.”

Seorang manusia berbaju perlente, mengenakan mantel bulu binatang dan bergendong tangan pelan-pelan munculkan diri dari balik kegelapan.

Gayanya waktu berjalan amat tenang dan indah, tak seorang manusia pun yang tahu kalau dia adalah seseorang yang cacad kakinya, seorang pincang.

Paras muka Kongsun Kay-ji berubah hebat. Serunya tanpa sadar: “Cho Tang-lay, rupanya kau!”

“Ya, aku! Tentu saja aku!”

Pelan-pelan Cho Tang-lay melanjutkan.

“Hanya aku yang bisa menggunakan caramu menghadapi orang lain untuk menghadapi dirimu, bagaimana kau menghabisi nyawa anak buah Cu Bong, dengan cara itu juga anak buahmu pada mampus. Dengan cara apa kau hendak membunuh orang, akupun akan membunuhmu dengan cara yang sama.”

Setelah tersenyum, terusnya: “Kau seharusnya tahu juga, cara kerjaku selama ini selalu adil dan bijaksana.”

Tiba-tiba Kongsun Kay-ji melejit ke muka, tongkatnya dengan jurus Wan-hong-si menusuk alis mata Cho Tang-lay.

Ketika tongkat itu menusuk ke depan, tubuhnya justru melompat ke belakang, setelah berjumpalitan di udara dengan gaya burung Manyar membalikkan badan, tahu-tahu ia sudah berada di luar garis cahaya sinar.

Tampaknya dia akan segera lenyap di balik kegelapan sana.

Kecepatannya bereaksi, kemampuannya menghadapi keadaan, boleh dibilang merupakan hasil pengalamannya selama ini untuk memadukan antara kepandaian silat dengan kecerdasan otak.

Sayang sekali, dia toh masih terlambat satu tindak.

Sewaktu badannya berjumpalitan di tengah udara, ia sudah melihat sekilas cahaya pedang yang amat menyilaukan mata meluncur ke arahnya. Dalam waktu singkat, tahu-tahu sudah berada di depan matanya, begitu menyilaukan mata cahaya pedang tersebut sehingga dia tak mampu membuka matanya.

Menanti ia dapat membuka kembali matanya, cahaya pedang tersebut sudah tidak terlihat lagi, yang terlihat hanya gagang pedang yang seperti tumbuh secara tiba-tiba dari dalam tubuhnya, tumbuh persis di atas dadanya.

Sampai badannya terjatuh ke atas tanah seperti sebutir batu cadas, dia masih mengawasi gagang pedang itu, sorot matanya penuh perasaan kaget, tercengang dan ngeri. Seakan-akan dia masih belum paham, mengapa secara tiba-tiba dadanya bisa tumbuh sebuah gagang pedang semacam itu.

Tapi dia sudah tahu dimanakah letak mata pedang dari pedang tersebut.

Mata pedang itu sudah amblas semuanya di dalam dadanya.

Begitu pedang meluncur, selembar jiwapun melayang.

“Suatu serangan pedang yang amat cepat, sebuah serangan kilat yang sangat mengagumkan,” Cho Tang-lay memuji sambil memberi hormat kepada Siau-ko, “cukup melihat keampuhan dari seranganmu ini, kau sudah cukup mampu untuk memimpin Toa Piau-kiok.”

“Memimpin Toa Piau-kiok?”

Tiba-tiba Cu Bong seperti baru mendusin dari impiannya, pelan-pelan dia membalikkan badan dan mengawasi Siau-ko dengan sepasang mata besarnya yang seperti merekah itu.

“Sekarang kau telah memimpin Toa Piau-kiok?” dia bertanya lebih jauh.

Siau-ko tidak menjawab, dia hanya membungkam dalam seribu bahasa.

“Bagus, bagus sekali…..! Kau memang Ko Cian-hui yang hebat,” Cu Bong tertawa tergelak, “sekarang kau memang benar-benar makin lama semakin pandai terbang.”

Suara tertawanya amat nyaring dan amat memekikkan telinga.

“Jika kau datang untuk mengambil batok kepalaku ini, silahkan kau mengambilnya dengan segera,” gelak tertawa Cu Bong semakin parau, “sudah sejak lama ingin kuhadiahkan batok kepalaku ini kepada orang, memang lebih baik kuhadiahkan untukmu daripada memberikan kepada orang lain.”

Siau-ko tidak tertawa, juga tidak memberikan reaksinya.

Dalam beberapa hari yang amat singkat ini, dia telah melatih diri menjadi seorang manusia sekeras batu karang, bahkan perubahan mimik wajahpun tiada.

“Mengapa kau masih belum juga kemari?” Cu Bong kembali membentak keras, “apalagi yang sedang kau nantikan?”

Tiba-tiba ia membalikkan badannya menghadap ke arah Suma Cau-kun, lalu terusnya: “Tentu saja kau seharusnya lebih tahu bukan, apa yang sedang kunantikan?”

Lewat lama kemudian, pelan-pelan Suma Cau-kun baru mengangkat kepalanya, seolah-olah baru pertama kali melihat orang itu, seakan-akan pula dia telah melupakan semua orang dan persoalan yang pernah dikenal dan dialaminya di masa lalu.

Kembali lewat cukup lama.

Dengan semacam suara yang sangat aneh, Suma Cau-kun baru bertanya kepada Siau-ko: “Apa yang sedang kau nantikan?”

“Menunggu untuk membereskan dulu sebuah hutang lama antara kau dengan aku.”

“Bagus, bagus sekali!” di tengah nada suara Suma Cau-kun seolah-olah terkandung suatu kepedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, “sekarang memang sudah tiba saatmu untuk menagih hutang kepadaku, orang yang berhutang kepadaku, aku yang berhutang kepada orang, sekarang memang sudah waktunya untuk dibereskan.”

“Dengan keadaanmu sekarang, sebetulnya aku tak pantas memaksamu untuk turun tangan,” Siau-ko berkata dingin, “tapi sewaktu kau mengalahkan aku tempo hari keadaanku waktu itu juga tidak jauh lebih baik daripada keadaanmu sekarang.”

Mendengar ucapan mana ternyata Suma Cau-kun malah tertawa tergelak.

“Sebetulnya aku memang tidak menyalahkan kau, buat apa sih kau mesti banyak berbicara?”

“Tunggu dulu!” tiba-tiba Cu Bong membentak keras, “apakah sekarang kau telah melupakan janji antara kita berdua?”

Suma Cau-kun segera menarik muka.

“Paling baik kau menyingkir sejauh-jauhnya,” dia berseru, “persoalan ini merupakan masalahku dengan Ko Cian-hui, barang siapa ingin mencampurinya, aku hanya akan menghadapinya dengan kematian….”

Cho Tang-lay turut menghela napas.

“Aaaaai…, meskipun sang pahlawan sudah mendekati jalan buntu, bagaimanapun juga pahlawan tetap pahlawan,” ia berkata, “Cu Tongcu, kaupun terhitung seorang pahlawan, kau seharusnya dapat memahami pula jalan pemikirannya. Mengapa kau membiarkan nama besarnya hancur berantakan dengan begitu saja?”

Cho Tang-lay sama sekali tidak memandang ke arah Cu Bong, biar hanya sekejappun, ia malahan berjalan ke muka dan mencabut keluar pedang dari atas dada Kongsun Kay-ji.

Di ujung pedang itu belum juga ditemukan noda darah, yang ada hanya setitik noda tetesan air mata.

Dengan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kirinya Cho Tang-lay menjepit ujung pedang, lalu dia sodorkan gagang pedang itu ke depan Siau-ko.

“Inilah pedang milikmu!” ia berkata.

Siau-ko sama sekali tidak mengulurkan tangannya untuk menerima pedang tersebut.

“Aku tahu, pedang ini pedangku, tapi akupun tahu, dia tidak berpedang.”

“Dia tak punya, tapi kau punya.”

Siau-ko segera tertawa.

“Betul! Dia tak punya, aku punya. Keadaanku saat ini agaknya memang seperti demikian.”

“Dalam dunia ini, sesungguhnya memang banyak terdapat persoalan yang demikian ini,” Cho Tang-lay berkata hambar.

“Aku mengerti!” kata Siau-ko, “maksudmu juga telah kupahami semua…..”

Akhirnya dia mengulurkan tangannya ke muka.

Tangan itu akhirnya menggenggam juga gagang pedangnya.

Dalam detik itulah senyuman yang semula menghiasai wajahnya tiba-tiba lenyap tak karuan paran, hawa nafsu membunuh mencorong ke luar dari balik matanya, karena pada saat itulah dia telah menusukkan pedangnya ke depan.

Jarak antara ujung pedang dengan dada Cho Tang-lay tidak lebih dari satu depa. Sebenarnya ujung pedang itu memang sudah di arahkan tepat di atas ulu hati sendiri. Ternyata dia hanya mempergunakan dua jari tangan untuk menjepit pedang itu dan ternyata pedang itu diserahkan kepada orang lain.

Tiada orang yang dapat membuat kesalahan seperti ini, sebab barang siapa berani membuat kesalahan seperti ini, dia pasti akan tewas di ujung pedang orang lain.

Tidak terkecuali pula dengan diri Cho Tang-lay.

Dalam keadaan seperti ini, pada hakekatnya, dia tidak memiliki kemampuan untuk menghindar ataupun menangkis.

Siau-ko selalu menunggu, menunggu datangnya kesempatan yang sangat baik seperti ini.

Sepasang matanya mengawasi terus wajah Cho Tang-lay, karena setiap pekerjaan yang harus dilakukan olehnya tak lebih hanya menantikan datangnya detik seperti ini.

Pada detik ujung pedang itu hendak menembus ulu hati Cho Tang-lay, bagaimanakah perubahan mimik wajahnya ketika itu?

Paras muka Cho Tang-lay sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, sebab setiap kejadian yang bakal menimpanya telah diperhitungkan secara baik-baik.

Di saat pedang itu menusuk ke muka, tubuhnya telah menyurut mundur pula ke belakang.

Gerak serangan pedang itu sama sekali tidak berhenti, tusukan itu mengejar lebih maju ke depan.

Untuk kesekian kalinya dia mundur kembali ke belakang.

Tusukan itu telah mempergunakan segenap kekuatan yang dimiliki, kekuatannya lembek dan mengalir keluar tiada habisnya.

Untuk kesekian kalinya dia mundur lagi.

Ujung pedang itu masih dijepit oleh jari tangannya, jarak dengan dadanya masih tetap seperti sedia kala.

Siau-ko segera berhenti.

Ketika ia menghentikan gerakan tersebut, pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat.

Cho Tang-lay memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, lalu dengan mempergunakan suara yang lembut tapi dingin ia berkata: “Kali ini kau benar-benar merasa kepayahan, gara-gara menunggu datangnya kesempatan seperti ini, kau memang sudah mengeluarkan banyak pikiran, mengeluarkan banyak tenaga, kau memang sudah melakukan semuanya dengan sangat baik, aku seharusnya memberi kesempatan kepadamu agar mati terbunuh oleh pedangmu.”

Dibalik nada suaranya sama sekali tidak terselip nada mengejek ataupun menyindir, sebab apa yang dia ucapkan memang merupakan sebuah kenyataan.

“Tapi akupun harus memberitahukan kepadamu, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk membunuh seorang manusia macam aku, aku tak bisa membiarkan kau berhasil dengan mudah, apalagi sekalipun kau berhasil membunuh akupun, tak ada gunanya.”

Siau-ko tidak berbicara, dia hanya mendengarkan terus dengan seksama.

Ya, dia hanya mendengarkan belaka.

Dalam keadaan dan situasi seperti ini, setiap orang hanya mendengarkan Cho Tang-lay seorang yang berbicara, karena selain dia, apa yang bisa dikatakan orang lain?

Tiba-tiba Cho Tang-lay mengucapkan sepatah kata, sepatah kata yang membuat setiap orang merasa terkejut.

“Jika kau membunuhku, kaupun pasti akan mati,” kata Cho Tang-lay kepada Siau-ko, “bila pedangmu itu benar-benar menembusi dadaku, pada detik yang sama kaupun pasti akan tewas, bahkan bisa jadi akan tewas jauh lebih cepat daripada aku.”

Selama ini Cho Tang-lay adalah seorang yang amat jarang berbicara bohong, tapi ucapannya kali ini sungguh membuat orang sukar untuk mempercayainya.

Tidak tahan Siau-ko segera bertanya: “Apakah maksudmu bila tusukan pedang itu berhasil membunuhmu, aku malah akan mati jauh lebih cepat daripadamu?”

“Benar!”

“Kenapa?”

“Sebab aku tahu di dunia ini paling tidak terdapat lima jenis senjata rahasia yang benar-benar bisa membunuh korbannya dalam waktu sedetik,” kata Cho Tang-lay, “dalam dunia persilatan, paling tidak terdapat pula tiga orang yang sanggup mempergunakan senjata rahasia jenis ini.”

“Oya?”

“Yang paling penting adalah, akupun sudah tahu salah seorang di antara ketiga orang itu telah berada di sini, dia telah mempergunakan salah satu di antara lima jenis senjata rahasia tersebut untuk mengincar punggungmu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

“Bila pedangmu itu berhasil menembusi dadaku, waktu itu kau pasti akan kegirangan, merasa amat bangga, dan siapa saja bila berada dalam keadaan seperti ini tak urung akan menjadi teledor, menjadi gegabah, tidak terkecuali kau sendiri.”

Memang, apa yang dikatakannya merupakan sebuah kenyataan.

“Di saat kau paling gembira, paling bangga itulah, tiba-tiba saja kau akan merasakan punggungmu seakan-akan digigit nyamuk, “kata Cho Tang-lay lebih jauh, “kemudian kaupun akan roboh secara tiba-tiba, di saat tubuhmu roboh, jantungmu turut berhenti berdetak, waktu itu mungkin aku masih belum mati.”

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggung Siau-ko, diam-diam hatinya bergidik.

Dengan pelan Cho Tang-lay berkata lebih jauh.

“Tapi sekarang aku tak usah kuatir lagi, oleh karena aku belum mati, hingga kini untuk sementara waktu mungkin diapun masih belum berani turun tangan, sebab orang itupun sama seperti kita ini, selamanya dia enggan melakukan pekerjaan yang tidak terlalu yakin.”

“Siapakah orang ini?”

“Bila kau ingin mengetahui siapakah orang ini, terlebih dulu harus kau pikirkan ke tiga masalahnya.”

“Apakah ke tiga masalah itu?”

“Ke satu, mengapa Kongsun bersaudara bisa mempunyai kepandaian meramal kejadian yang akan datang? Mengapa semenjak lima hari berselang mereka sudah tahu kalau dalam Toa Piau-kiok bakal berlangsung perubahan yang amat besar sehingga datang tepat pada saatnya. Kedua, darimanakah datangnya penari berkerudung ini? Sebenarnya Suma Cau-kun hendak membunuhnya demi Cu Bong. Mengapa dia segera mundur setelah mendengar dua patah katanya? Bahkan seolah-olah telah berubah seperti orang lain?”

Siau-ko tidak mengerti, cukup dua masalah itupun sudah tak bisa dipahami olehnya.

Sekali lagi Cho Tang-lay memperingatkan kepadanya.

“Padahal kedua masalah tersebut hanya bisa dihitung satu persoalan saja, seperti juga sebuah rumah, biarpun mempunyai dua buah pintu, tapi cukup mempergunakan sebuah anak kunci, kedua-duanya sudah bisa dibuka.”

Siau-ko segera tertawa getir.

“Sayang sekali, aku tidak memiliki anak kunci tersebut, akupun tidak tahu harus mencarinya di mana.”

“Biasanya anak kunci selalu berada di saku orang hidup, orang yang telah mati tak perlu lagi membawa anak kunci,” kata Cho Tang-lay tawar, “tapi bila kau hendak mencari anak kunci tersebut, tak ada salahnya bila kau mencarinya di tubuh orang mati.”

“Siapakah orang mati itu?”

“Kongsun bersaudara tidak memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang, tapi mereka bisa datang tepat pada waktunya, tentu saja ada orang yang minta kedatangan mereka,” kata Cho Tang-lay lebih jauh, “tapi siapa pula yang bisa menghitung dengan tepat pada lima hari sebelumnya bahwa persahabatanku dengan Suma Cau-kun yang telah berlangsung tiga puluh tahun akan berantakan dalam waktu singkat?”

Tidak menunggu orang lain menjawab, dia segera menjawab sendiri pertanyaan itu.

“Hanya ada satu orang, karena perselisihanku dengan Suma Cau-kun juga gara-gara orang ini.”

“Apakah orang ini adalah orang mati?”

“Benar! Seharusnya dia memang seorang yang telah mati. Dia tahu setelah kematiannya, Suma Cau-kun tak akan melepaskan aku, karena di saat dia masih hidup, aku telah melintangkan sebilah golok beracun di antara kami semua.”

Tiba-tiba berkilat sinar terang dari balik mata Siau-ko, mendadak tanyanya kepada Cho Tang-lay: “Mungkinkah seorang perempuan lain bisa disaru seperti diri sendiri? Apakah inipun bisa dipakai untuk mengelabuhi suami sendiri….?”

“Bila dia masih hidup, hal tersebut tentu tak bisa mengelabuhinya, tapi jika ia telah mati beberapa hari, keadaannya jadi sedikit berbeda.”

Kemudian ia menerangkan lebih jauh.

“Bila seseorang telah mati selama beberapa hari, kulit tubuhnya akan menjadi kaku dan mengeras, paras muka aslinya juga pasti akan turut berubah, bila dia mati karena digantung, maka perubahannya tentu akan lebih banyak dan lebih menakutkan, siapapun orangnya sudah pasti dikelabuhi olehnya.”

Siau-ko segera menghela napas panjang.

“Bila seseorang dalam pulangnya ke rumah secara tiba-tiba menemukan anak bininya telah tewas semua, dalam keadaan demikian, persoalan macam apapun mungkin tak akan bisa dilihat secara jelas lagi….”

“Bila secara tiba-tiba ia menemukan kembali bahwa bininya ternyata belum mati, akan berubah menjadi apakah dia?” kembali Cho Tang-lay berkata sepatah demi sepatah.

“Pada waktu itu, mungkin dia akan berubah secara tiba-tiba menjadi seseorang yang lain.”

Sekali lagi Siau-ko menghela napas panjang.

“Aaaai…., sebenarnya apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Seorang wanita mengapa bisa berhati sebuas ini? Mengapa dia sanggup melakukan perbuatan seperti ini?”

“Dalam dunia ini memang terdapat semacam manusia yang sanggup melakukan pekerjaan macam apapun, entah dia lelaki atau perempuan, keduanya sama saja. Bila kau tak habis mengerti hal ini, disebabkan kau bukan termasuk manusia macam begini.”

“Bagaimana dengan kau?” tanya Siau-ko kepada Cho Tang-lay, “apakah kau termasuk manusia macam begini?”

“Ya, benar!”

Paras muka Suma Cau-kun telah berubah begitu pucat sehingga sama sekali tiada warna darah, bahkan Cu Bong yang ikut menyaksikan, turut merasakan penderitaannya.

Si penari yang sedang mendekam di atas tanah seolah-olah tidak mendengar sama sekali apa yang sedang dibicarakan Cho Tang-lay.

Cho Tang-lay memandangnya dengan dingin lalu berkata: “Padahal aku tidak menyalahkan dirimu, karena kita sebenarnya berasal dari satu jenis manusia, tentu kaupun dapat melihat, dalam Toa Piau-kiok terdapat tiga orang yang selalu bersikap tak enak kepadaku, dan cuma mereka bertiga yang bisa menghadapiku, oleh sebab itu secara diam-diam kau telah mengadakan kontak dengan mereka. Itulah sebabnya sekarang kau baru bisa menemukan mereka tepat pada waktunya.”

“Kau berbuat begitu, tak lebih hanya demi melindungi dirimu sendiri,” ucap Cho Tang-lay, “sebenarnya aku tak mungkin akan turun tangan keji kepadamu lantaran persoalan ini, sayang kau telah salah jalan.”

Tiba-tiba nada suaranya kembali berubah, ia tidak menggunakan nada khasnya yang berbicara sepatah demi sepatah kata lagi.

“Perduli disebabkan apakah kau berbuat demikian, tapi yang jelas kau tidak seharusnya berbuat demikian terhadap Suma Cau-kun.”

Ditinjau dari sudut luar, Cho Tang-lay sebenarnya tidak mirip seorang manusia yang buas dan kejam, tapi setiap kali dia berbicara dengan mempergunakan nada pembicaraan seperti itu, siapa saja yang mendengarnya tentu akan merasakan bulu kuduknya pada berdiri, ngerinya bukan kepalang.

Tentu saja orang yang paling memahami tentang dia adalah Suma Cau-kun.

Setiap kali dia mendengar Cho Tang-lay berbicara terhadap seseorang dengan mempergunakan nada suara semacam itu, sama artinya orang itu telah dijatuhi hukuman mati.

“Kau tak boleh mengusiknya!”

Tiba-tiba Suma Cau-kun melompat ke depan dan menghalangi di muka penari misterius itu dengan tubuhnya sendiri, bentaknya lebih jauh: “Perduli perbuatan apapun yang telah dia lakukan, aku tak akan menyalahkan dia. Selama beberapa tahun terakhir ini, akulah yang selalu bersalah kepadanya. Sekalipun aku bakal tewas di tangannya, aku tetap melarangmu mengusiknya barang seujung rambutpun.”

Tiba-tiba paras muka Cho Tang-lay berubah hebat, kelopak matanya berkerut kencang, teriaknya mendadak: “Hati-hati….!”

Sayang peringatan tersebut masih saja terlambat satu tindak.

Si penari yang semula berbaring di atas tanah, mendadak saja melompat bangun seraya berseru: “Bila kau menghendaki mati, pergilah untuk mati!”

Di tengah deruan angin tajam, tiga titik cahaya bintang telah meluncur ke muka menghajar punggung Suma Cau-kun.

Dengan kaki kirinya Cho Tang-lay segera menggaet kaki Suma Cau-kun, kemudian menggunakan telapak tangannya membabat iga Siau-ko. Begitu Siau-ko melepaskan gagang pedangnya, Cho Tang-lay pergunakan tangan kirinya yang selama ini menjepit ujung pedang untuk membetotnya ke belakang, tahu-tahu gagang pedang itu sudah berpindah ke tangan kanannya.

Beberapa macam gerakan ini hampir diselesaikan semua dalam waktu yang bersamaan, begitu cepatnya gerakan itu sungguh di luar dugaan siapa saja.

Sayang sekali dia masih juga terlambat satu langkah.

Walaupun tubuh Suma Cau-kun tergaet sampai jatuh, walaupun ke tiga macam senjata rahasia itu ada dua di antaranya meleset dari sasaran, toh masih ada satu di antaranya yang menghajar lengan di bawah bahu kirinya secara tepat.

Tanpa berpikir panjang atau mempertimbangkan lagi, Cho Tang-lay segera mengayunkan pedangnya. Cahaya pedang berkelebat lewat, lengan Suma Cau-kun sebatas bahu segera terpapas kutung.

Siau-ko cukup memahami betapa jahatnya racun yang terkandung pada senjata rahasia tersebut. Bila ingin mencegah racun tersebut menjalar ke atas, satu-satunya cara memang memotong lengan tersebut sebatas bahu.

Tapi ia toh masih sempat bertanya kepada diri sendiri.

Andaikata dia adalah Cho Tang-lay, dapatkah ia putuskan hal tersebut dalam waktu singkat? Mampukah dia turun tangan dengan tegas dan cepat?

Angin pedang mengibarkan kain kerudung yang menutupi wajah si penari itu, akhirnya raut wajah aslinya terlihat juga.

Go Wan!

Ternyata penari misterius itu tak lain adalah Go Wan.

Kutungan lengan rontok ke bawah, darah segar segera berhamburan ke mana-mana, akan tetapi tubuh Suma Cau-kun masih tetap berdiri tegak di sana, seperti sebatang tombak berdiri dengan tegap.

Cahaya pedang kembali berkelebat lewat, langsung mengancam tubuh Go Wan.

Ternyata Suma Cau-kun mempergunakan lengannya yang tidak kutung untuk merampas mata pedang yang berada dalam genggaman Cho Tang-lay.

“Kau tidak boleh menyentuhnya,” nada suara Suma Cau-kun parau lagi sedih, “sudah kukatakan, entah aku mati atau hidup, kau tak boleh lagi mengusiknya.”

Biar lengannya kutung, jiwanya belum putus.

Serangan pedang dari Cho Tang-lay itu seakan-akan tertahan dengan segera oleh sikapnya yang gagah itu, dia tak sanggup lagi meneruskan serangannya.

“Go Wan, aku masih tetap tak akan menyalahkan dirimu, pergilah kau sekarang!”

Go Wan memandang ke arahnya, mempergunakan semacam sorot mata yang tiada orang bisa melukiskan dengan kata-kata untuk memperhatikan suaminya.

“Benar! Aku memang harus berangkat pergi, aku memang seharusnya pergi dari sini,” dia berkata pelan.

Tapi ia tidak beranjak pergi.

Tiba-tiba saja ia menubruk ke muka dan memeluk suaminya erat-erat, menempelkan wajahnya di atas lengannya yang putus, mempergunakan wajahnya untuk menyumbat aliran darah dari mulut luka itu.

Darah meleleh di atas wajahnya, air mata pun turut bercucuran keluar.

“Tapi aku telah salah jalan di dalam hidupku ini, aku sudah tak mungkin bisa salah lagi.” Kata Go Wan, “kali ini aku tak akan salah jalan lagi.”

Agaknya dia telah memilih jalan yang terbaik baginya, satu-satunya jalan yang dia miliki.

Cho Tang-lay masih berdiri dengan pedang terhunus.

Tiba-tiba Go Wan memeluk suaminya kencang-kencang dan menumbukkan diri ke ujung pedang tersebut. Mata pedang segera menembusi punggungnya, menembusi ulu hatinya kemudian menembusi ulu hati Suma Cau-kun.

Pada hakekatnya pedang tersebut memang sebilah pedang mestika yang tajamnya bukan alang kepalang.

Pedang tersebut dengan cepat menembusi dua buah hati.

“Tong-tong….,” rintih Go Wan lirih, “Tong-tong……akhirnya kita mati bersama-sama, mati pada tahun yang sama, bulan yang sama, tanggal yang sama serta saat yang sama, akhirnya kita mati bersama-sama…..”

Tong-tong memang berarti sama-sama.

Dan perkataan itu pula merupakan kata-kata terakhir dari kehidupannya di dunia ini.

—–

Pedang mestika tiada berbelas kasihan, pahlawan tiada berair mata.

Suma Cau-kun berdiri di sana bagaikan sebuah tombak, dia tidak melelehkan air mata.

Sampai ajalnya tiba, ia tetap berdiri tegak sampai ajalnya datang, dan dia tidak melelehkan air mata.

Air mata seorang pahlawan telah berubah menjadi darah.

Di atas pedang masih belum juga dijumpai noda darah, yang ada hanya noda tetesan air mata, tapi sekarang, noda tetesan air mata yang misterius itu seakan-akan telah berubah menjadi merah karena darah pahlawan.

—–

Pedang itu masih berada di tangan Cho Tang-lay.

Cho Tang-lay sendiri sedang mengawasi noda tetesan air mata di atas pedang tersebut.

Ia sama sekali tidak menengok ke arah Suma Cau-kun, juga tidak menengok ke arah Go Wan.

Dalam kelompok matanya lebih-lebih tak mungkin ada air mata.

Tapi ia justru sedang mengawasi noda tetesan air mata di atas pedang itu dengan termangu-mangu, seakan-akan menemukan secara mendadak bahwa dibalik noda tetesan air mata tersebut terdapat semacam kekuatan sesat yang jahat dan misterius, pencipta dari segala ketidak beruntungan.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia berkata: “Hari ini telah datang tiga orang, yang sesungguhnya menakutkan bukanlah Kongsun bersaudara, melainkan orang ketiga.”

Suara pembicaraan Cho Tang-lay berubah semakin dingin.

“Sebenarnya orang ini tidak seharusnya mati karena dia kelewat pintar kelewat lihay, senjata rahasia maupun ilmu menyaru mukanya, jarang sekali bisa ditandingi orang lain, andaikata barusan dia pergi secara diam-diam, mungkin akupun akan berlagak seakan-akan tidak tahu, karena di kemudian hari aku pasti masih membutuhkan kemampuannya.”

“Apakah dia belum pergi?” tanya Siau-ko.

“Dia belum pergi karena dia sendiripun juga tahu kalau dia telah melakukan kesalahan, aku tak akan membiarkan dia pergi lagi.”

Mendadak dia membalikkan badan menghadap ke arah pemusik buta yang rambutnya telah beruban itu, lalu sepatah demi sepatah kata, ia berkata: “Ki sianseng, apakah kau mengira aku benar-benar tidak bisa mengenali dirimu?”

Selama ini si pemusik berambut putih itu berdiri dalam suasana remang-remang, antara cahaya lentera dan kegelapan.

Si nona cilik berkuncir yang membawa pie-pa juga berdiri di sampingnya, mukanya yang pucat tidak memancarkan kepedihan, juga tidak menunjukkan rasa ngeri, entah hal ini disebabkan dia memang tak bisa melihat sesuatu apapun, ataukah dia memang sudah menjadi kaku sama sekali.

Pemusik berambut putih itu dengan tangan sebelah memegang seruling, tangan yang lain memegang bahunya, mimik wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.

“Ki sianseng,” kembali Cho Tang-lay berkata kepadanya, “tiga bintang perenggut nyawa, dua langkah menggeser badan, akal licik membelah dunia. Ilmu menyaru muka Ki sianseng memang amat hebat, kepandaianmu juga sangat luar biasa.”

“Terima kasih atas pujianmu, terima kasih banyak, terima kasih banyak,” pemusik berambut putih itu mulai berbicara.

“Ki sianseng, kau minta Go Wan datang untuk membawakan tarian dari Tiap-wu, dalam sekejap mata kau telah berhasil menghancurkan semangat tempur dari Cu Tongcu dari Hiong-say-tong serta Suma Cau-kun, tindakanmu ini benar-benar sangat hebat.”

“Terima kasih, terima kasih.”

“Bila ada seorang pemusik tua dengan mengajak cucu perempuannya yang mengenaskan mencari sesuap nasi dengan menjual suara, siapa saja pasti tak akan perhatikan kakek berambut putih yang buta itu dengan seksama. Oleh sebab itu kau menyamar sebagai dia dengan mengajak cucu perempuannya kemari, menggunakan status pemusik buta meminta Go Wan membawakan tarian, lalu mempergunakan tariannya untuk menarik perhatian orang lain……”

Kemudian Cho Tang-lay melanjutkan.

“Sekalipun wajah pemusik tua itu tak akan menarik perhatian orang namun permainan serulingnya jauh dari kemampuan permainan serulingmu. Dalam hal ini siapa saja tentu dapat membedakannya secara nyata, hanya saja berada dalam keadaan pada waktu itu, tak akan ada manusia yang memperhatikan keadaan tersebut.”

“Ucapanmu memang benar,” ternyata Ki sianseng mengakui, “jalan pemikiranku memang begitu.”

“Ki sianseng, kau memang seorang manusia berbakat, manusia berbakat yang luar biasa, selama ini aku selalu mengagumimu.”

Nada suara Cho Tang-lay yang lembut dan sungkan tiba-tiba saja berubah, dengan menggunakan nadanya yang khas dia berkata: “Tapi kau tidak seharusnya menyerahkan jarum Coat-juang-ciam mu kepada Go Wan, perbuatanmu kali ini keliru besar sekali.”

Ki sianseng menghela napas, dengan nada suara penuh kesedihan dan menyesal, dia berkata setelah menghela napas: “Aku mengaku, aku memang salah. Walaupun aku belum pernah menduga kalau Go Wan bakal mempergunakannya untuk menghadapi Suma Cau-kun, tapi nyatanya Suma Cau-kun tewas karena benda itu. Aku memang seharusnya dapat menduga bahwa Cho sianseng tentu akan mencatat hutang itu atas namaku.”

“Mungkin kau hanya memikirkan nyawa orang lain waktu itu, sehingga melupakan senjata pelindung badan sendiri.”

Ki sianseng tidak menjawab, tapi dia mengakui bahwa perkataan tersebut memang benar.

“Perduli bagaimanapun juga, aku memang tidak seharusnya menyerahkan tabung jarum itu kepada orang lain,” setelah menghela napas, dengan suara setengah berbisik dia memberitahukan kepada Cho Tang-lay, “untung saja aku masih memiliki beberapa buah tabung jarum……..”

Suaranya sangat lirih, seakan-akan sedang memberitahukan sebuah rahasia pribadi kepada seorang sahabat karibnya.

Cho tang-lay harus memperhatikan dengan seksama untuk bisa mendengar perkataan itu.

Di saat dia masih memasang telinga itulah, jarum Coat-juang-ciam dari Ki sianseng telah dilancarkan, meluncur keluar dari ujung bajunya serta lubang-lubang serulingnya.

Ketiga tabung jarum itu sudah cukup untuk menutup mati semua jalan mundur dari Cho Tang-lay.

Satu tabung dengan tiga jarum saja sudah cukup merenggut nyawa orang, apalagi tiga tabung sekaligus.

Di tambah lagi alat rahasia dari tabung-tabung jarum itu dirancang secara khusus, kecepatan daya serangannya boleh dibilang jauh melebihi kecepatan senjata rahasia pada umumnya.

Sayang sekali Cho Tang-lay jauh lebih cepat. Pada hakekatnya ia tidak menghindar, tapi pedang yang berada di tangannya telah membentuk gerakan bulat yang amat menyilaukan mata.

Hawa pedang berputar kencang bagaikan air bah yang kuat, segera menciptakan sebuah pusaran air yang sangat kuat.

Dalam waktu singkat ke sembilan titik bintang itu sudah tergulung di dalam lingkaran kekuatan tersebut.

Menanti cahaya pedang lenyap, ke tiga buah tabung jarum itupun turut lenyap.

Ki sianseng segera merasakan hatinya seakan-akan tenggelam.

Siau-ko adalah seseorang yang belajar pedang, sekarang dia tak tahan berteriak memuji juga.

“Suatu ilmu pedang yang sangat bagus!”

“Pedangmu juga merupakan sebilah pedang yang bagus, bagus sekali….!” Cho Tang-lay tersenyum, tapi kemudian sambil berpaling ke arah Ki sianseng dia bertanya kembali, “sewaktu aku sedang berbicara tadi, sesungguhnya terhitung juga sebuah kesempatan yang sangat baik, mengapa kau tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan dengan sisa tabung jarum yang kau miliki?”

Ki sianseng menggenggam sepasang kepalannya kencang-kencang, peluh dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Darimana kau bisa tahu kalau aku masih mempunyai tiga buah tabung jarum? Agaknya berapa banyak tabung yang kumiliki telah kau ketahui dengan jelas.”

“Aku rasa semua persoalan tentang dirimu cukup kuketahui, bahkan jauh lebih banyak daripada apa yang kau bayangkan sekarang.”

Untuk kesekian kalinya Ki sianseng menghela napas panjang.

“Cho sianseng, kau memang jauh lebih tangguh daripada semua orang, jauh lebih tangguh daripada diriku, kau memang sepantasnya akan berhasil,” katanya sedih, “mulai saat ini, aku tak akan mengkhianatimu lagi.”

“Mulai saat ini?” Cho tang-lay seolah-olah keheranan, “apakah kau benar-benar mengira kau masih ada kesempatan di kemudian hari…..?”

Paras muka Ki sianseng sama sekali tidak berubah, wajah yang telah dirubah sedemikian rupa dengan obat-obatan memang tidak mudah berubah.

Tapi seluruh tubuhnya justru mengalami perubahan yang sangat besar, seperti seekor ular berbisa yang berhadapan dengan seekor bangau sakti, berubah menjadi tegang dan mengejang keras.

“Kau menginginkan aku berbuat apa?” dia bertanya kepada Cho Tang-lay, “terserah apapun permintaanmu, pasti akan kulaksanakan…….”

Cho Tang-lay manggut-manggut.

“Aku sendiripun tidak mengharapkan kau berbuat apa-apa, aku hanya berharap kau suka melakukan suatu pekerjaan yang amat sederhana, perbuatan yang bisa dilakukan oleh setiap orang.”

Ternyata Ki sianseng tidak melihat kalau mata orang ini kembali berkerut kencang, dia malah bertanya lagi: “Kau suruh aku melakukan pekerjaan apa?”

“Aku minta kau pergi mati!” sepatah demi sepatah kata Cho Tang-lay berkata.

—–

Mati, kadangkala memang merupakan suatu perbuatan yang sederhana.

Ki sianseng mati dengan amat cepat.

Di saat cahaya pedang di tangan Cho Tang-lay kembali mulai berkelebat, ia telah tewas.

Cahaya pedang hanya berkelebat lewat, tahu-tahu tenggorokannya sudah tertusuk.

Untuk kesekian kalinya kembali Siau-ko memuji: “Ilmu pedang bagus, betul-betul cepat gerak serangan pedangmu itu……”

Cho Tang-lay tersenyum.

“Pedangmu juga termasuk pedang bagus, jauh lebih bagus daripada apa yang kubayangkan, aku seperti mulai merasa berat untuk mengembalikannya kepadamu.”

—–

Selama ini Cu Bong sama sekali tidak bergerak, lagi pula selalu tenang.

Sebetulnya dia bukan termasuk manusia seperti ini, kematian dari Suma Cau-kun sebenarnya bisa mengobarkan darahnya, membuatnya jadi bersemangat.

Tapi dia sama sekali tidak bergerak, karena kematian dari Suma Cau-kun tiba-tiba saja mengingatkannya akan banyak persoalan dan setiap persoalan tersebut seakan-akan sebuah tombak yang menusuk ke dalam ulu hatinya.

Mengapa Go Wan berbuat demikian? Demi membalas dendam? Ataukah demi melindungi diri sendiri?

Seseorang telah melakukan suatu kesalahan, tapi melimpahkan kesalahannya tersebut ke dada orang lain, bukan saja di hati kecilnya tidak merasa menyesal, dia malah berusaha membalas dendam kepada orang lain. Tingkah laku semacam ini sebenarnya merupakan salah satu titik kelemahan dari umat manusia semenjak dahulu kala.

Seseorang pergi mencelakai jiwa orang lain demi melindungi diri, karena dirinya telah melakukan suatu kesalahan, jalan pemikiran tersebut rasanya memang tak jauh berbeda.

Rasa serakah dan egois, memang merupakan titik kelemahan manusia yang tak mungkin bisa di atasi oleh setiap orang.

Tapi berbeda sekali dengan jalan pemikiran Cu Bong.

Tiba-tiba saja dia mendapat gambaran bahwa Go Wan sampai berbuat demikian bisa jadi hal ini dikarenakan perasaan cintanya yang begitu dalam terhadap Suma Cau-kun. Cinta yang begitu mendalam sehingga ia menjadi sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Bila cintanya telah mencapai taraf seperti ini, apalagi cinta dengan cara demikian, akhirnya hanya kepunahan yang akan diperoleh.

Itulah sebabnya diapun menghancurkan diri sendiri, bukan cuma menghancurkan diri sendiri, juga menghancurkan segenap cintanya.

Suma Cau-kun dapat memahami hal tersebut, itulah sebabnya sampai ajalnya tiba, dia sama sekali tidak mendendam.

Bagaimana dengan Tiap-wu?

Di saat Cho Tang-lay menurunkan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang Hiong-say-tong, mengapa Tiap-wu melarikan diri? Mengapa ia lebih suka melarikan diri sekalipun harus diperalat oleh Cho Tang-lay?

Demi ‘cinta’ kah dia pergi….? Atau kepergiannya karena ‘tidak cinta’…..?

Bila diapun seperti Go Wan mencintai Suma Cau-kun, begitu mencintai Cu Bong, tentu saja dia akan pergi bila dianggapnya Cu Bong sama sekali tidak mengacuhkan dirinya.

Bila dia sama sekali tidak mencintai Cu Bong, tentu saja dia lebih-lebih akan pergi.

Tapi jika dia memang sama sekali tidak berubah, mengapa ia begitu memperhatikan Cu Bong? Mengapa ingin mati?

Tidak cinta akan timbul benci, cinta yang mendalampun bisa berubah menjadi benci, cinta dan benci memang hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis saja.

Sebenarnya cinta atau benci? Siapa yang bisa membedakan secara jelas? Dan siapa pula yang bisa memahami hal-hal seperti itu?

Mendadak Cu Bong tertawa seram.

“Suma Cau-kun, kematianmu memang amat tepat, kematian yang bagus sekali,” gelak tertawanya makin keras seperti pekikan monyet, “sebenarnya kau memang pantas mati, sebab sebetulnya kau memang seorang manusia dungu yang tak ada obatnya bisa disembuhkan lagi.”

Menanti ia sudah berhenti tertawa, Cho Tang-lay baru bertanya lagi dengan suara dingin: “Bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku lebih pantas mati lagi ketimbang dia,” kata Cu Bong, “sudah sejak lama ingin kuhadiahkan batok kepalaku ini untuk orang lain, sayang tiada orang yang mau, namun bila aku harus mati di tanganmu, akupun mati dengan perasaan tak rela.”

“Kau tidak bakal mati!” tiba-tiba Siau-ko berteriak keras.

Dengan cepat ia melompat ke muka dan berdiri berjajar di samping Cu Bong, kemudian digenggamnya lengan Cu Bong erat-erat sambil berseru: “Siapa berani mengusikmu, aku akan membunuhnya lebih dulu.”

Cho Tang-lay memandang ke arah Siau-ko, dia seakan-akan sedang mengawasi seorang bocah yang sudah terlalu dimanja, meski agak marah namun toh masih terselip perasaan sayang dan kasihan.

“Terlepas bagaimanakah sikapmu kepadaku, aku tak pernah mengusikmu, bahkan sewaktu kau menghendaki kematianku pun aku juga tidak menganggumu,” kata Cho Tang-lay, “aku percaya kau sudah seharusnya memahami maksud hatiku.”

Mau tak mau Siau-ko memang harus mengakui hal ini.

“Tentu saja aku mengerti,” katanya, “kau ingin menciptakan diriku sebagai Suma Cau-kun ke dua.”

Cho Tang-lay menghela napas sedih.

“Dia adalah satu-satunya sahabatku selama hidupku ini, entah bagaimanapun sikapnya kepadaku, akupun tak pernah berubah sikap kepadanya.”

“Aku percaya!”

“Percayakah kau setiap saat akupun dapat membunuhmu?”

“Aku memang tak bisa melebihi kelihaian ilmu pedangmu, siapa pula manusia di kolong langit yang mampu menandingi kecerdasan otakmu?” ucap Siau-ko, “tadi kau mengatakan Ki sianseng adalah seorang manusia berbakat yang luar biasa, padahal yang betul-betul luar biasa bukanlah dia, melainkan kau, siapa saja saja mau tak mau pasti akan merasa kagum.”

Ditatapnya Cho Tang-lay lekat-lekat, kemudian dengan menirukan nada yang khas dari Cho Tang-lay, sepatah demi sepatah kata dia melanjutkan: “Tapi sayang, sekalipun kau telah membunuh dirikupun percuma, karena biarpun kau mengusik Cu Bong, dan apalagi aku masih mempunyai sebuah ambisi, selama aku masih mempunyai ambisi tersebut, kau belum tentu bisa mengungguli diriku…..”

Kelopak mata Cho Tang-lay mulai berkerut kencang.

“Memang harus kuakui bahwa kau memang masih memiliki semacam semangat, semacam ambisi,” katanya kepada Siau-ko, “tapi dimanakah pedangmu sekarang?”

“Berada di tanganmu!”

“Berada di tanganku berarti milikku, apakah kau masih mempunyai pedang lain?”

“Aku tak punya.”

Cho Tang-lay segera tertawa.

“Kau tak punya, tapi aku punya!”

—–

Cho Tang-lay memang membawa pedang dan pedang tersebut sudah diloloskan dari sarungnya.

Itulah sebilah pedang yang sangat tajam dan mampu memapas rambut, sepasang tangannya juga merupakan sepasang tangan yang menakutkan, bahkan jauh lebih menakutkan daripada pedangnya.

Bila sepasang tangan itu telah membunuh orang, bukan saja tak kelihatan darah, tetesan air matapun tak akan nampak.

“Bila kau bersikeras hendak berbuat demikian, berbuat saja secara demikian,” kata Cho Tang-lay, “mungkin inilah nasibmu, nasib seseorang memang tak mungkin bisa dirubah oleh siapa saja.”

Orang ini dengan sepasang tangannya dan pedangnya memang bisa menetapkan nasib dan mati hidup seseorang di dalam waktu yang amat singkat.

Tiba-tiba Cu Bong mendongakkan kepalanya, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…… haahhh….. haahhh, seorang lelaki sejati yang tak takut hidup, mengapa harus takut menghadapi kematian? Baru hari ini aku Cu Bong memahami arti dari perkataan tersebut.”

Kemudian makin merendahkan suara tertawanya dia melanjutkan: “Ko Cian-hui, aku Cu Bong bisa mendapatkan seorang teman seperti kau, biar matipun tak akan menyesal, tapi kau masih begitu muda, mengapa kau harus beradu jiwa dengan percuma?”

Ketika berbicara sampai di situ, tiba-tiba dia mencukil pedang dari Kongsun Po-kiam yang tergeletak di tanah itu dengan ujung kakinya, lalu setelah menyambarnya, pedang tadi segera ditempelkan di atas lehernya siap memenggal batok kepala sendiri.

Namun tangannya segera digenggam Siau-ko kencang-kencang, sedang tangan Siau-ko yang lain memegang mata pedang tersebut erat-erat dan…..’Triiiing!’ pedang tersebut tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian.

Cu Bong segera melotot ke arahnya sambil membentak: “Mengapa kau tidak membiarkan aku mati saja?”

“Mengapa kau harus mati?”

“Sebab aku menginginkan kau tetap hidup,” kata Cu Bong, “aku sendiri memang sudah seharusnya mati sejak lama, bila aku telah mati, kaupun tak usah beradu jiwa lagi dengan Cho Tang-lay, akupun bisa mati tanpa menyesal, sebab kehidupanku inipun tidak hidup yang sia-sia belaka.”

“Kau keliru!”, ucap Siau-ko, “mati hidupmu sekarang sudah tiada sangkut pautnya sama sekali dengan pertarungan kami hari ini, entah kau hidup atau mati, pertarungan ini tetap akan berlangsung sebagaimana mestinya.”

“Mengapa?”

“Sebab Cho Tang-lay sudah tak akan melepaskan diriku lagi sekarang, bila aku tidak mati, dia akan mati di tanganku, bila sekarang juga aku bisa membunuhnya, tak akan kubiarkan dia hidup sampai fajar menyingsing esok hari.”

Ia menggenggam tangan Cu Bong erat-erat, kemudian melanjutkan: “Perkataanmu tadi pun keliru besar, seorang lelaki sejati bila ingin tetap hidup di dunia ini, maka dia harus hidup dengan senang dan riang gembira, bila dia ingin mati, diapun harus mati dengan berharga, sekarang bila kau ingin mati, hal tersebut tak lebih hanya akan mengantarkan selembar jiwamu kepada orang lain secara percuma, kematianmu sama sekali tak ada harganya.”

Mendadak Cho Tang-lay tertawa tergelak-gelak.

“Perkataanmu memang betul, bila ia sudah mati, belum terlambat bagimu bila ingin mampus pula, mengapa kau harus menghadiahkan selembar jiwamu secara terburu-buru? Apakah kau anggap aku akan berterima kasih kepadamu?”

Cu Bong segera mengendorkan tangannya, tapi Siau-ko masih mengenggam tangannya erat-erat.

“Bila aku tidak mati hari ini, bukan saja kubantu kau untuk membangun kembali Hiong-say-tong, bahkan akan kukuasai pula seluruh Toa Piau-kiok,” kata Siau-ko, “masa depan kita masih cukup cemerlang, itulah sebabnya selama kita masih ada kemungkinan untuk hidup janganlah membicarakan soal ‘kematian’ dengan begitu saja.”

Sekali lagi Cho Tang-lay menghela napas panjang.

“Perkataan seperti inipun betul juga, hidup di dunia mengapa harus mencari mati?. Mengapa harus memandang begitu rendah atas nyawa sendiri?”

Kemudian setelah menghela napas, terusnya: “Sayang sekali bila seseorang sudah berada dalam keadaan harus mati, tak seorangpun bisa lolos dari kematian dengan begitu saja, entah siapapun itu orangnya, semua tidak terkecuali.”

Ia memandang wajah Siau-ko, kelopak matanya kembali berkerut kencang.

“Sekarang, kau sudah tiba dalam keadaan harus mati!” kata Cho Tang-lay lebih jauh, “karena kau telah melakukan sesuatu kesalahan lagi.”

“Kesalahan apa?”

“Barusan kau tidak seharusnya mematahkan pedang tersebut, bila kau masih membawa pedang, mungkin kau masih mampu bertahan selama tiga puluh gebrakan, tapi sekarang, hanya sepuluh gebrakan saja aku sudah mampu merenggut selembar jiwamu.”

Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, terdengar seseorang telah berkata pula dengan suara yang dingin kaku dan tinggi hati.

“Kali ini, mungkin yang keliru adalah kau sendiri.”

—–

Fajar baru saja menyingsing, cahaya lentera masih kelihatan amat redup, kabut putih yang lembut menyelimuti seluruh permukaan tanah.

Dari balik kabut pagi inilah muncul seseorang yang sukar diketahui siapa orangnya, dengan membawa sebuah peti yang lebih, lebih misterius rasanya.

“Siau Lay-hiat, kau rupanya!”

“Ya, memang aku,” Siau Lay-hiat menjawab dingin, “mungkin kau mengira aku sudah tak bisa kemari lagi, karena kau pasti mempercayai penuh akan kemampuan dari Kun-cu-hiang mu, padahal kau seharusnya tahu, Kun-cu semacam ini biasanya tak bisa dipercayai seratus persen…..”

Cho Tang-lay menghela napas panjang.

“Aaaaiii…. Siau Lay-hiat, Siau sianseng, mengapa kau selalu menampakkan diri pada saat tidak seharusnya kau menampakkan diri.”

“Mungkin aku memang manusia seperti itu.”

“Aku tidak menyukai manusia seperti itu, sangat tidak suka!” nada suara Cho Tang-lay pulih kembali dalam ketenangan, “dahulu akupun pernah berjumpa manusia semacam itu.”

“Apakah mereka sudah mampus semua di tanganmu?”

“Benar!”

“Apakah kau ingin memanasi hatiku dengan perkataanmu itu….?”

“Benar!”

Ternyata Cho Tang-lay sama sekali tidak menaruh jeri atau takut terhadap bayangan manusia yang berada dibalik kabut pagi itu.

“Sudah kukatakan, bila seseorang sudah berada dalam keadaan harus mati, siapapun tak akan bisa lolos dengan begitu saja,” nada suara pembicaraannya kedengaran seperti suara Siau Lay-hiat, sama dinginnya dan sama angkuhnya, “tapi akupun percaya, mungkin kau sendiri belum dapat memastikan secara pasti, siapa yang bakal mati di tangan siapa pada hari ini.”

Cu Bong memandang terkejut ke arahnya, seakan-akan belum pernah dia saksikan manusia macam begini.

Sebab dia belum pernah menyangka kalau Cho Tang-lay adalah seorang manusia seperti ini, seorang manusia yang begitu sombong dan tekebur.

Sebab dia tidak tahu, bila dalam hati kecil seseorang sudah dipenuhi rasa rendah diri, sering kali dia akan berubah pula menjadi seseorang yang paling sombong.

Apalagi di tangan Cho Tang-lay sekarang masih menggenggam pedang tetesan air mata.

Ada orang percaya dengan nasib, ada pula yang tidak.

Tapi sebagian besar orang percaya dan mengakui di tengah jagad yang begitu luas memang terdapat semacam kekuatan yang mengatur segala sesuatunya, banyak masalah di dunia ini yang tak terpecahkan oleh pikiran manusia, karena hal tersebut timbul karena kekuatan Thian.

Semenjak pedang itu selesai dibuat, senjata itu telah dikenai kutukan, harus menggunakan nyawa dari seorang keturunan si penempa pedang itu sebagai korbannya, harus mempergunakan darah segar orang itu untuk melenyapkan noda tetesan air mata di atas pedang tersebut dan untuk menghilangkan hawa jahat dari pedang itu.

Tak bisa disangkal lagi Siau Tay-su, si pembuat pedang itu merupakan seseorang yang percaya pada nasib, itulah sebabnya dia baru melelehkan air mata di atas pedangnya.

Bagaimana dengan Siau Lay-hiat?

Percayakah dia?

Orang dibalik kabut itu masih seperti kabut, sukar diraba dan sukar diketahui suara hatinya.

Namun secara tiba-tiba saja dia bertanya kepada Siau-ko: “Ko Cian-hui, masih adakah pedangmu?”

“Tidak ada! Aku sudah tidak berpedang lagi, aku tak punya, tapi dia punya.”

“Itulah kecerdikanmu,” ucap Siau Lay-hiat, “kau kehilangan pedangmu karena itu merupakan nasib baikmu, kau mematahkan pedang tersebut, hal inipun karena kau amat cerdik.”

“Cerdik? Mengapa bisa merupakan kecerdikanku? Aku tidak mengerti!” seru Siau-ko.

“Sebab aku hanya bersedia mewariskan ilmu mematahkan pedang kepada mereka yang tak berpedang, jika tanganmu masih membawa pedang, bila kau tidak mematahkan pedang tersebut, tak nanti aku bersedia mewariskan kepandaian tersebut kepadamu.”

“Kau hendak mewariskan apa kepadaku? Ilmu mematahkan pedang? Apakah ilmu mematahkan pedang itu?”

“Tiada ilmu pedang yang tak dapat dipatahkan di dunia ini, juga tiada pedang yang tak bisa dipatahkan, apalagi jago pedang yang tak terkalahkan,” kata Siau Lay-hiat, “bila kau mempergunakan senjata dan jurus yang sesuai, asal kau bertemu dengan orang yang menggunakan pedang, kau pasti bisa mematahkan jurus serangannya, menghancurkan pedangnya serta membunuh orangnya, kepandaian seperti inilah yang dinamakan ilmu mematahkan pedang.”

Nada suaranya seolah-olah penuh diliputi semacam kekuatan yang sangat misterius.

“Dua puluh tahun berselang, ku anggap semua jago pedang di dunia ini sebagai ular berbisa yang berbahaya sekali, tapi sekarang, kupandang mereka bagaikan tahi kerbau. Sekarang, dalam pandanganku, mereka hanya manusia-manusia yang tak akan mampu menahan diri dalam satu serangan saja.”

Tiba-tiba ia bertanya lagi kepada Siau-ko: “Ko Cian-hui, masih kau miliki kecerdikanmu?”

“Agaknya masih!”

“Kalau begitu kemarilah.”

“Bagaimana dengan Cho Tang-lay?”

“Dia boleh saja menunggu, aku pasti tak akan menyuruh dia menunggu terlalu lama.”

Cho Tang-lay memperhatikan Siau-ko berjalan ke situ, bukan saja tidak menghalangi, bahkan reaksi barang sedikitpun tidak, seolah-olah dia amat rela untuk menunggu, menunggu sampai Siau-ko berhasil menguasai ilmu mematahkan pedang tersebut.

Sayang sekali, dia tak bakal akan berhasil, sebab Cho Tang-lay telah memberitahukan kepada diri sendiri: ‘Sekalipun Siau Lay-hiat benar-benar memiliki ilmu mematahkan pedang, mustahil dia akan berhasil menguasainya dalam waktu singkat’

Tapi diantara mereka berdua mungkin memang terdapat semacam hubungan yang misterius dan sukar dijelaskan, yang bisa menjalin hubungan batin di antara mereka.

Mungkin juga Siau-ko benar-benar bisa mempergunakan kecerdasan otaknya untuk menguasai rahasia dari ilmu mematahkan pedang tersebut.

Sekalipun Cho Tang-lay selalu berusaha menghibur diri, namun dia toh masih tetap merasakan semacam daya tekanan yang besar sekali. Karena terhadap manusia yang bernama Siau Lay-hiat tersebut, dia selalu menaruh semacam perasaan ngeri yang sukar dijelaskan, seakan-akan orang itu memiliki semacam daya kemampuan yang bisa mengendalikan dirinya….. semacam kemampuan aneh yang memiliki kekuatan luar biasa.

Siau Lay-hiat sudah membuka petinya.

—–

Waktu itu langit sudah terang, matahari baru saja muncul di ufuk timur, sinar keemas-emasan memancar ke empat penjuru.

Di dalam waktu yang amat singkat itulah terdengar empat kali suara gemerincingan nyaring, tahu-tahu dalam genggaman Siau Lay-hiat telah muncul semacam senjata yang aneh sekali.

Ketika cahaya matahari pertama memancar masuk dan tetap mencorong di atas senjata tersebut, terbiaslah semacam cahaya sesat yang aneh sekali.

Tiada orang yang pernah menyaksikan senjata semacam ini, juga tiada orang yang tahu apakah kegunaannya.

Tapi setiap orang yang melihat senjata tersebut, segera dapat merasakan semacam kekuatan yang sangat aneh dan sesat.

Tiba-tiba sepasang mata Cho Tang-lay memancarkan cahaya berkilat.

Dalam sekejap mata itulah, suatu titik terang melintas lewat di dalam benaknya, mendadak ia mendapatkan sebuah cara yang sangat sempurna dan meyakinkan, yang dalam waktu amat singkat bisa membinasakan Ko Cian-hui.

Dalam waktu singkat dalam hatinya telah dipenuhi rasa percaya pada diri sendiri serta kekuatan. Semacam kekuatan besar yang tak pernah dijumpai sebelumnya, sehingga dia sendiripun sampai turut digetarkan rasanya.

Perasaan tersebut seakan-akan munculnya suatu mantera jahat yang membawa semacam kekuatan luar biasa.

Sesungguhnya peti itu memang dirasakan seperti setan jahat penggaet nyawa, asal peti itu terbuka, pasti ada selembar jiwa manusia yang akan dilarikan, sekalipun orang itu berusaha menghindar dengan sepenuh tenaga.

Selama ini Cho Tang-lay tak pernah percaya dengan segala macam setan iblis, tapi dia percaya akan kejadian ini, seperti juga dia percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat semacam kekuatan yang tak akan bisa dijelaskan oleh manusia.

Karena sekarang, dia sendiripun sudah dapat merasakan kekuatan tersebut.

Siau Lay-hiat telah menyerahkan senjatanya kepada Siau-ko.

“Sekarang kau boleh maju ke depan dan bawa kemari selembar nyawa Cho sianseng,” ia berkata, “hingga kini senjata tersebut belum pernah muncul di dalam dunia persilatan dan di kemudian hari pun tak bakal akan muncul kembali.”

Suara Siau Lay-hiat seperti suara kutukan iblis dari neraka.

“Sebab Thian telah menurunkan ilham kepadaku untuk menciptakan senjata tersebut guna menghadapi Cho sianseng, di saat benda tersebut munculkan diri, maka saat itu pula kematian Cho sianseng akan tiba, entah benda itu berada di tangan siapa saja, sama saja keadaannya, karena jiwanya tak bakal tertolong.”

—–

Kabut yang tebal kembali menutupi cahaya matahari, bahkan cahaya lenterapun telah padam, suasana menjadi dingin menyeramkan, hawa nafsu membunuh telah menguasai jagad, sehingga tak seorangpun yang bisa menolong keadaan tersebut.

Siau-ko telah meluncur ke depan seperti seekor burung.

Sepasang mata Cho Tang-lay mengawasi senjata di tangannya seperti sepasang jarum.

Tiba-tiba saja dia berteriak keras sambil melemparkan pedang tetesan air mata kepada Siau-ko.

“Pedang ini milikmu, nah terimalah kembali!”

Tiada orang yang bisa menduga akan perbuatannya itu, Siau-ko sendiripun sama sekali tak mengira.

Pedang tersebut sudah banyak tahun mengikutinya, selalu berada di sisi tubuhnya dan kini sudah berubah menjadi salah satu bagian yang terpenting dari kehidupannya, bahkan boleh dibilang sudah berubah menjadi salah satu bagian dari tubuhnya, sudah bersatu padu dengan darah dan dagingnya.

Itulah sebabnya tanpa berpikir panjang lagi, ia sambut pedang tersebut, menerima pedang itu dengan tangannya sehingga seakan-akan dia lupa kalau di tangannya itu sebetulnya masih tergenggam sebilah senjata pematah pedang.

Dalam waktu yang amat singkat itu, dia seakan-akan sudah tidak berpikiran lagi, sama sekali tak mampu mengendalikan diri.

Karena selama seseorang masih mempunyai pikiran, dalam keadaan seperti ini, tiada mungkin dia akan melakukan perbuatan yang begitu bodoh.

Cho Tang-lay tertawa.

Sekarang Siau-ko sudah mempunyai pedang, tapi senjata pematah pedang tersebut sudah berhasil direbut oleh Cho Tang-lay.

Cho Tang-lay memang seseorang yang memiliki kecerdasan luar biasa, ketajaman matanya juga lebih hebat daripada orang lain, justru karena Siau Lay-hiat berbicara terlalu banyak, maka ia memperoleh waktu yang cukup banyak untuk melihat dan memahami senjata dan keistimewaannya dengan lebih dalam.

Bahkan dia sudah dapat melihat bahwa senjata tersebut memang terdapat banyak bagian yang bisa digunakan untuk mengendalikan pedang lawan, bahkan diapun sudah dapat menyaksikan bagaimana cara penggunaannya.

Siapapun lawannya, hal tersebut sama saja baginya.

Hanya manusia seperti Siau Lay-hiat yang bisa menciptakan senjata seperti ini, hanya manusia seperti Cho Tang-lay yang bisa melakukan setiap perbuatan dengan tegas.

Dua orang manusia yang nampaknya berbeda satu sama lainnya ini justru memiliki banyak kemiripan dalam bidang lain, bahkan jalan pemikiran merekapun seolah-olah saling berkaitan.

Paras muka Cu Bong berubah hebat.

Mimpipun dia tak menyangka kalau Siau-ko bakal melakukan perbuatan sebodoh itu, tapi perubahan selanjutnya lebih-lebih membuatnya tertegun.

Tiba-tiba Siau-ko meluncur ke depan seperti seekor burung terbang, pedangnya diputar membentuk segumpal bunga pedang dan langsung menusuk ke tubuh Cho Tang-lay.

Sebetulnya dia tidak seharusnya turun tangan lebih dahulu, tapi dia harus berhasil memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini sebelum Cho Tang-lay berhasil meraba dengan jelas bentuk serta manfaat dari senjata tersebut.

Tak disangkal lagi, dia sudah memandang kelewat rendah kecerdasan serta ketajaman mata Cho Tang-lay.

Dalam waktu singkat cahaya pedang berkilauan seolah-olah terdapat beberapa buah bayangan pedang yang bergerak, meski dalam kenyataan cuma sebilah.

Di antara beberapa bayangan pedang tersebut tentu saja hanya terdapat satu jurus yang merupakan jurus sesungguhnya.

Dalam sekejap pandangan saja Cho Tang-lay sudah melihat jurus manakah yang merupakan jurus sesungguhnya, menghadapi teknik penyerangan yang merupakan gabungan antara tipuan dan kenyataan tersebut, boleh dibilang dia jauh lebih memahami ketimbang kebanyakan orang lainnya.

Diapun dapat melihat bahwa di atas senjata tersebut paling tidak terdapat empat-lima macam bagian peralatan yang semuanya bisa dipergunakan untuk mengunci gerak pedang lawan, bahkan bisa pula memanfaatkan kesempatan yang ada untuk merebut pedang musuh, kemudian baru melepaskan sebuah serangan lagi yang mematikan.

Tapi dia tidak ingin berbuat sekeji itu.

Ia belum terlalu menguasai teknik penggunaan senjata tersebut, lalu terlintas ingatan dalam benaknya, mengapa tidak mempergunakan serangan pedang dari Siau-ko untuk melatih penggunaan senjata tersebut?

Sekarang ia sudah mempunyai keyakinan, bahkan setiap saat bisa merenggut nyawa Siau-ko.

Oleh sebab itu ia tidak merasa gelisah barang sedikitpun jua……

Ketika tusukan pedang Siau-ko meluncur tiba, dia menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan senjata yang berada di tangannya, dia hendak mencoba untuk mengunci pedang dari Siau-ko itu dengan gelang berkaitnya.

“Triiiiing…!”

Ketika pedang dan kaitan itu saling membentur, tiba-tiba saja senjata tersebut mengeluarkan suatu kegunaan yang sama sekali di luar dugaan siapapun, tiba-tiba muncul semacam peralatan lain yang bekerja sama dengan gelang berkait itu, kemudian bagaikan sebuah jepitan menjepit pedang Siau-ko.

Kejut dan girang menyelimuti perasaan Cho Tang-lay, dia benar-benar tidak menyangka kalau senjata tersebut memiliki daya kemampuan yang begitu besar.

Yang paling membuatnya tercengang adalah pedang Siau-ko ternyata berhasil pula menembus masuk di antara senjata tersebut.

Sebenarnya hal semacam ini tidak mungkin terjadi.

Senjata yang dibentuk dengan cara yang begitu rumit, bagaimana mungkin bisa ditembusi oleh pedang lawan dari bagian tengah?

Apakah senjata tersebut memang dibentuk dengan dibukanya sebuah lubang secara sengaja di bagian tengah sehingga tusukan pedang bisa menembusi secara telak?

Apakah Siau-ko memang sengaja membiarkan pedang sendiri terbelenggu agar dia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melepaskan tusukan yang mematikan?

Cho Tang-lay sudah tak bisa memikirkan persoalan itu lagi.

Dalam waktu yang amat singkat itulah pedang Siau-ko telah menembusi ulu hatinya, langsung tembus sedalam satu inci lebih tujuh bagian, karena pedang tersebut memang sepanjang itu.

Sekalipun panjangnya hanya sekian, hal tersebut sudah lebih dari cukup, satu koma tujuh inci sudah cukup mencapai titik maksimum untuk merenggut nyawa seseorang, persis menusuk jantung Cho Tang-lay.

Senjata tersebut agaknya memang khusus diciptakan untuk menghadapi Cho Tang-lay.

Sebab hanya Cho Tang-lay yang dapat mengetahui keistimewaan serta kelihayan dari senjata tersebut, hanya Cho Tang-lay yang bersedia mempergunakan pedang di tangannya untuk ditukar dengan senjata tersebut, orang lain bukan saja tak dapat melakukannya, membayangkanpun tidak.

Yang tidak beruntung adalah apa yang bisa Cho Tang-lay bayangkan, ternyata dapat dipikirkan juga oleh Siau Lay-hiat, bahkan ia telah memperhitungkan secara tepat bahwa dia bakal berbuat demikian.

Senjata tersebut pada hakekatnya memang merupakan sebuah perangkap yang sengaja dipersiapkan Siau Lay-hiat untuk menunggu Cho Tang-lay melangkah maju dan menjerumuskan diri.

Sekarang Cho Tang-lay baru menyadari semuanya.

“Siau Lay-hiat, Siau sianseng, ternyata aku memang tidak salah melihat, ternyata kau memang pembawa bencana bagiku, aku sudah merasa cepat atau lambat bakal tewas di tanganmu,” ucapannya pedih, “kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa tertipu oleh siasatmu itu?”

Siau Lay-hiat memandang ke arahnya dengan dingin, lalu menjawab: “Pernahkah kau ingat dengan perkataanku, entah senjata macam apapun dan berada di tangan siapapun, semuanya bisa dipakai untuk membunuhmu, sekalipun berada di tanganmu sendiri, juga sama!”

Lalu dengan suara yang lebih dingin, ia melanjutkan: “Kau seharusnya tahu, setiap perkataan yang kuucapkan semuanya adalah kata-kata yang sejujurnya.”

Cho Tang-lay tertawa pedih.

Gelak tertawanya segera menggetarkan jantungnya, juga menggetarkan mata pedangnya. Tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya kesakitan luar biasa, karena mata pedang itu menusuk seinci lebih dalam, berarti kematiannya juga setapak lebih dekat.

Pelan-pelan Siau-ko mencabut keluar pedang itu, darahpun pelan-pelan menggelincir jatuh dari atas pedang.

Tiba-tiba lapisan awan bergerak lewat, cahaya matahari bersinar kembali dan persis menyoroti di atas pedangnya.

Ketika Cho Tang-lay memandang ke atas pedang itu, tiba-tiba saja wajahnya memperlihatkan rasa seram dan ketakutan.

“Hei, mana noda tetesan air matanya?” dia berseru, “mengapa noda tetesan air mata di atas pedang itu bisa lenyap? Jangan-jangan aku adalah………”

Ia tidak mengucapkan persoalan yang sampai matipun tak bisa membuatnya memejamkan mata ini.

Jangan-jangan diapun keturunan Siau Tay-su? Mungkinkah ayahnya yang belum pernah dijumpai itu adalah Siau Tay-su? Oleh sebab itu dengan kematiannya di ujung pedang tersebut, noda tetesan air matapun turut lenyap.

Atau ramalan semacam itu memang tak bisa dipercaya, sebab lenyapnya noda tetesan air mata itu disebabkan memang sudah saatnya noda itu harus hilang?

Tiada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini, mungkin si kakek dalam gardu sebetulnya bisa menjawab, sayang sekali kakek itupun tewas di tangan Cho Tang-lay.

Persoalan yang hendak ditanyakan Siau Lay-hiat terhadap si kakek itu mungkin juga masalah tadi, bila si kakek itu menjawab pertanyaannya, mungkin juga dia tak akan menghukum mati Cho Tang-lay.

Sayang sekali segala sesuatunya sudah terlalu terlambat.

Denyut jantung Cho Tang-lay telah putus, hingga ajalnya tiba, ia masih belum mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.

Bukankah akhir seperti ini merupakan pula hasil dari perbuatannya sendiri?

—–

EPILOG

Di bawah cahaya matahari, warna pedang itu kelihatan amat bening seperti air, noda air mata di atas pedang tersebut betul-betul sudah hilang, lenyap tak berbekas.

Siau-ko mengawasi pedang tersebut dengan termangu, dalam hati kecilnya diapun sedang memikirkan persoalan itu.

Dia sendiripun tidak habis mengerti.

Entah berapa saat kemudian, dia baru teringat untuk menanyakan persoalan ini kepada Siau Lay-hiat.

Tapi ia tidak menjumpai Siau Lay-hiat, mayat Cho Tang-lay serta senjata tersebut juga hilang tak berbekas.

Cu Bong hanya memberitahukan begini kepada Siau-ko.

“Siau sianseng sudah pergi, pergi dengan membawa serta Cho Tang-lay.”

Tak disangkal lagi hati kecilnya juga dipenuhi rasa kaget dan curiga. ‘Sesungguhnya apa yang telah terjadi?’

Siau-ko memandang ke tempat kejauhan sana, memandang langit nan cerah.

“Entah apa gerangan yang terjadi, sekarang semuanya sudah tiada hubungan lagi dengan kita,” ucap Siau-ko pelan, “mulai hari ini, mungkin kita tak akan berjumpa lagi dengan Siau sianseng.”

—–

Cahaya lentera telah padam, pembawa lentera telah bubar, tinggal si nona buta itu masih berdiri di situ sambil memeluk alat pie-pa nya.

Walaupun cahaya matahari telah memancarkan sinarnya ke seluruh jagad, namun sepasang matanya masih tetap melihat kegelapan yang mencekam.

Tiba-tiba saja Siau-ko merasakan suatu kepedihan hati yang tak terlukiskan dengan kata-kata, tak tahan lagi dia menghampiri gadis cilik itu dan bertanya: “Di mana yayamu? Apakah yaya-mu masih ada?”

“Aku tidak tahu!”

Paras mukanya pucat pias seperti mayat, pikirannya seperti kosong melompong, tiada segala sesuatunya, bahkan sedihpun tidak….

Tapi setiap orang yang melihat keadaannya tersebut pasti akan merasakan kepedihan hati yang luar biasa.

“Kau berdiam di mana?” kembali Siau-ko bertanya dengan perasaan tak tahan, “kau punya rumah? Di rumahmu apakah masih mempunyai sanak keluarga yang lain?”

Gadis cilik itu tidak berkata apa-apa, dia hanya memeluk alat pie-pa nya kencang-kencang, seperti seorang yang tenggelam di air dan memeluk sebatang kayu erat-erat.

Mungkinkah satu-satunya barang yang dimilikinya hanya alat pie-pa tersebut?

“Sekarang kau hendak kemana?” tanya Siau-ko, “di kemudian hari apa pula yang hendak kau kerjakan?”

Setelah mengajukan pertanyaan ini dia mulai merasa menyesal.

Sesungguhnya pertanyaan semacam ini tidak pantas ditanyakan, bagaimana mungkin seorang anak gadis yatim piatu tanpa sanak tanpa keluarga bisa memikirkan masalah di hari depan?

Bagaimana mungkin ia bisa memikirkannya? Mana berani untuk memikirkannya? Apa yang harus ia jawab?

Siapa tahu gadis cilik yang selama hidup hanya bisa hidup dalam kegelapan ini tiba-tiba menjawab dengan semacam suara yang amat nyaring: “Selanjutnya aku masih tetap akan menyanyi, aku akan menyanyi terus, menyanyi sampai ajalku tiba.”

—–

Memandang gadis cilik yang mereka hantar pulang memasuki rumah makan Tiang-an-kit, entah bagaimanakah perasaan Siau-ko dan Cu Bong.

“Aku percaya dia pasti akan menyanyi terus,” kata Cu Bong, “selama dia belum mati, dia pasti akan menyanyi terus.”

“Akupun percaya.”

“Akupun percaya bila ada orang melarangnya menyanyi terus, dia tentu akan mati.”

Ya, sebab dia adalah seorang penyanyi, maka dia harus menyanyi, menyanyi untuk orang lain. Sekalipun nyanyiannya selalu memilukan hati, selalu membuat air mata orang bercucuran, tapi bila seseorang tidak memahami bagaimana rasanya sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami arti dari kesedihan tersebut?

Oleh sebab itu walaupun ia tidak memiliki apa-apa, namun dia masih tetap akan hidup terus.

Bila ia tak bisa menyanyi lagi, hidupnya akan berubah menjadi tanpa arti.

“Bagaimana dengan kita?” tiba-tiba Cu Bong bertanya, “selanjutnya apa pula yang harus kita lakukan?”

Siau-ko tidak menjawab pertanyaan itu, karena dia belum mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut.

Tiba-tiba saja dia melihat cahaya matahari memancarkan sinarnya menerangi seluruh jagad.

“Tentu saja kitapun harus menyanyi lebih jauh,” tiba-tiba Siau-ko berseru sambil membusungkan dada, “walaupun nyanyian kita berbeda dengan gadis itu, tapi kitapun harus menyanyi terus, menyanyi sampai mati.”

Nyanyian dari penyanyi, tarian dari penari, pedang dari jago pedang dan tulisan dari sastrawan, akan selalu hidup terus. Selama mereka masih hidup, tak akan mereka lepaskan semuanya dengan begitu saja.

—–

Matahari fajar baru muncul.

Tumpukan salju telah melumer.

Seorang lelaki membawa sebuah peti kecil diam-diam meninggalkan kota Tiang-an.

Dia hanya seorang manusia yang amat sederhana dengan sebuah peti yang sederhana pula.

Dan sampai di sini pula kisah Pedang Tetesan Air Mata ini.

Sampai jumpa dalam cerita lain.

TAMAT

25/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 15

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:14 am

Pedang Tetesan Air Mata – 15
Kilatan Cahaya Pedang
Oleh Gu Long

Kota Tiang-an.

Siau-ko masih menanti dengan sabar di ruang tunggu.
(more…)

24/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 14

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:11 am

Pedang Tetesan Air Mata – 14
Perselisihan
Oleh Gu Long

Cahaya lentera memancar dari lampu kristal, menyoroti sebuah peti yang amat sederhana.

Di bawah lampu pun tampak manusia, namun bukan manusia sederhana pemilik peti itu.
(more…)

23/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 13

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:10 am

Pedang Tetesan Air Mata – 13
Siapa Yang Jadi Domba?
Oleh Gu Long

Suma Cau-kun melarikan kudanya kencang-kencang menelusuri jalan raya yang menghubungkan Lok-yang dengan Tiang-an.

Kudanya dilarikan kencang-kencang dan binatang tersebut dapat berlari dengan penuh tenaga, sebab sepanjang jalan dia sudah empat kali berganti kuda.
(more…)

22/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 12

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:06 am

Pedang Tetesan Air Mata – 12
Tempat Pembantaian
Oleh Gu Long

Fajar baru menyingsing di kota Tiang-an.

Langit masih diliputi kegelapan, jauh lebih gelap dari hari yang manapun.
(more…)

21/05/2008

Duke of Mount Deer (33)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:09 pm

Duke of Mount Deer (33)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada hy_edl048 dan Pipit)

Para siwi yang lainnya juga terkejut. Apalagi secara tiba-tiba, mereka merasa kepala mereka pusing sekali.

“Ah, celaka!” seru mereka. “Arak ini tidak beres!”
(more…)

Pedang Tetesan Air Mata – 11

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:00 am

Pedang Tetesan Air Mata – 11
Tarian Maut
Oleh Gu Long

Kota Lok-yang masih terasa dingin membeku, bunga salju masih berguguran amat deras.

Suma Cau-kun dengan mengenakan mantel tebal, bertopi lebar dan menunggang seekor kuda, menembusi badai salju yang lebat meninggalkan Lok-yang menuju ke Tiang-an.
(more…)

20/05/2008

Duke of Mount Deer (32)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:07 pm

Duke of Mount Deer (32)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048 dan Pipit)

Selesai berkata, Pui Ie langsung menangis. Air matanya mengucur deras.

“Jangan mudah bersedih. Jangan asal mengalirkan air mata saja!” kata Siau Po. “Kau begitu cantik dan manis. Begitu indahnya sehingga mirip batu kumala dan bunga bermekaran. Melihat air matamu mengalir, hatiku pun ikut hancur luluh… Nona Pui, demi engkau, aku akan melakukan apa saja. Aku akan menolong kakak seperguruanmu. Dan aku pasti akan berhasil! Nona Pui, mari kita mengadakan perjanjian. Kalau aku gagal menolong Lau-sukomu itu, biarlah seumur hidupku aku menjadi budakmu. Sebaliknya, andaikata aku berhasil menolong Lau sukomu keluar dengan selamat dari istana ini, maka untuk seumur hidup, kau harus menjadi istriku. Seorang laki-Iaki sejati, asal kata-katanya sudah tercetus keluar, entah empat kuda apa pun sukar mengejarnya! Nah, demikianlah janji kita!”
(more…)

Pedang Tetesan Air Mata – 10

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 12:58 am

Pedang Tetesan Air Mata – 10
Delapan Puluh Delapan Pahlawan
Oleh Gu Long

Fajar telah menyingsing di kota Tiang-an.

Namun langit masih berwarna kelabu, seluruh jagad bagaikan mati, sepi dan mati.
(more…)

Misteri Kapal Layar Pancawarna (33 – Tamat)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna — ceritasilat @ 12:55 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (33 – Tamat)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-khong maksudmu? ….” seru Ban-lo-hu-jin kaget, “kalau demikian, keberangkatan Pui-Po-giok ke Pek-cui-kiong berarti akan mempertemukan tiga generasi mereka dari kakek anak dan cucu.”

Oh-Put-jiu menghela napas, “Sayang sekali meski mereka bertemu, satu dengan yang lain justru tidak boleh saling kenal, Po-ji belum tahu siapa orang yang dilihat dan dihadapinya….”
(more…)

19/05/2008

Duke of Mount Deer (31)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:03 pm

Duke of Mount Deer (31)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Siau Po sudah biasa memaki Ibu suri sebagai nenek sihir atau perempuan jalang, tapi baru kini dia mengatakannya di depan umum. Hal justru membuat hatinya menjadi senang.

Sedangkan para hadirin yang lain justru merasa heran mendengar Siau Po menyebut Ibu suri sebagai si nenek sihir. Baru kali ini mereka medengar ada orang yang menyebut kata-kata itu terhadap Ibu suri. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, Hoan Kong dan anggota Tian-te hwee lainnya jadi tertawa geli.
(more…)

Pedang Tetesan Air Mata – 09

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 12:56 am

Pedang Tetesan Air Mata – 09
Belum Terlambat
Oleh Gu Long

Fajar baru menyingsing.

Dari ujung jalan sana tampak seekor kuda dilarikan cepat-cepat menembusi badai salju menuju ke kota Lok-yang.
(more…)

18/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 08

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:49 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 08
Tiap-wu
Oleh Gu Long

Empat ekor burung merpati pos terbang dari Lok-yang menuju ke langit nan biru.

Dalam waktu singkat, bayangan tersebut sudah lenyap di balik awan yang tebal.
(more…)

Duke of Mount Deer (30)

Filed under: Duke of Mount Deer — ceritasilat @ 2:14 pm

Duke of Mount Deer (30)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong, dia juga mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali. Namun mulutnya si hiocu lihay sekali. Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya. Tampangnya seperti orang kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe.

Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran. Diam-diam dia berpikir.
(more…)

Duke of Mount Deer (30)

Filed under: +Darah Ksatria — ceritasilat @ 2:10 pm

Duke of Mount Deer (30)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong, dia juga mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali. Namun mulutnya si hiocu lihay sekali. Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya. Tampangnya seperti orang kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe.

Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran. Diam-diam dia berpikir.
(more…)

Older Posts »

The Silver is the New Black Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers