Kumpulan Cerita Silat

25/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 12:03 am

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 10. Kah Lok-san Dibunuh (TAMAT)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Dalam kegelapan lamat-lamat terlihat sesosok bayangan berduduk di depan sana. Entah kapan datangnya, juga sudah berapa lama orang berduduk di situ?

“Ada tamu, tuan rumah tidur seenaknya, kukira bukan cara demikianlah melayani seorang tamu,” terdengar orang itu berkata.

“Rasanya aku tak pernah mengundang tamu siapa pun, agaknya Anda juga bukan tamuku, malahan bagaimana bentuk wajahmu belum pernah kulihat,” sahut Siau-hong.

“Apa susahnya jika ingin melihat wajahku.” perlahan orang itu lantas berdehem, pintu di belakangnya lantas terbuka.

Cahaya api meletik, menyalakan sebuah lampu. Seorang berbaju hitam ringkas dengan kedok kain hitam, muka lonjong kurus muncul dan kegelapan sana.

Pakaian orang itu perlente, sikapnya anggun, matanya bersinar, berwibawa. Akan tetapi tetap kelihatan menyeramkan, bahkan jauh lebih menyeramkan daripada si baju hitam yang berdiri di belakangnya.

“Ternyata boleh juga,” kata Siau-hong dengan tertawa. “Boleh juga? Kau maksudkan tampangku boleh juga?” tanya orang itu.

“Wajahmu ini ternyata tidak berbeda jauh daripada dugaanku,” kata Siau-hong dengan tertawa.

“Kau tahu siapa aku?” melengak juga orang itu. “Ya, Kah Lok-san, betul tidak?”

Orang itu mengembuskan napas dan berkata, “Pernah kau lihat diriku?”

Siau-hong menggeleng.

“Tapi kau kenal aku,” kata pula orang itu.

Liok Siau-hong tersenyum, “Kecuali Kah Lok-san, siapa pula yang mau mencari diriku ke tempat ini di bawah cuaca sedingin ini.? Selain Kah Lok-san, siapa lagi yang mempunyai pengiring tokoh Bu-lim kelas tinggi dengan menyandang pedang antik begiMaka tergelaklah Kah Lok-san

Tertawanya juga seram menakutkan, bahkan membawa semacam gaya mengejek ucapnya, “Bagus. Liok Siau-hong memang tidak malu sebagai Liok Siau-hong, memang hebat dan punya pandangan tajam.

“Terima kasih, aku cuma kebetulan melihat, tanpa terasa lantas kusebutkan.”

Mendadak Kah Lok-san berhenti tertawa, ditatapnya Siau-hong sampai lama sekali, kemudian berkata pula dengan perlahan, “Dan kau pun tahu maksud kedatanganku?”

“Lebih baik kudengarkan keteranganmu sendiri,” kata Siau-hong.

“Kuminta kau pulang?” “Pulang? Pulang kemana?”

“Pulang ke duniamu yang gemilapan dengan kerumunan nona manis, ke restoran yang tersedia santapan enak dan arak, ke rumah judi dengan segala macam kemewahannya, ke tempat-tempat itulah yang pantas didatangi Liok Siau-hong.”

Siau-hong menghela napas. “Ya, ucapanmu memang benar, aku pun sangat ingin pulang ke sana, cuma sayang…”

“Jangan kuatir,” tukas Kah Lok-san, “kutahu akhir-akhir ini kantongmu lagi kempes, maka lebih dulu sudah kusiapkan sangu yang cukup bagimu.”

Segera ia berdehem pula. Seorang hamba tua berambut putih membawa dua lelaki kekar masuk dengan menggotong peti penuh berisi emas perak yang bercahaya gemilapan menyilaukan mata.

“Darimana kau datangkan barang-barang ini masa tidak repot?” ujar Siau-hong sambil berkerut kening.

“Kutahu Ginbio memang lebih praktis daripada uang kontan,” kata Kah Lok-san “Tapi betapapun tidak lebih menarik daripada emas perak yang menyolok seperti sekarang ini. Agar dapat menggelitik hati seseorang, perlu digunakan barang yang nyata.”

“Betul juga” ujar Siau-hong “Dan kau mau terima tidak?” tanya Kah Lok-san.

“Harta tentu saja menarik, mengapa tak kuterima?”

“Dan kau mau terima?” tanya Kah Lok-san.

“Harta tentu saja menarik, mengapa tidak kuterima?”

“Dan kau pun mau pulang?”

“Tidak mau!” Siau-hong tersenyum, lalu menyambung, “Terima dan tidak adalah satu soal, pulang atau tidak juga satu soal lagi. Dua soal tidak dapat dihubung-hubungkan.”

Kah Lok-san juga tertawa. Manusia ini ternyata juga luar biasa, din dapat tertawa pada saat yang mestinya tidak perlu tertawa.

“Inilah pancingan dengan harta benda,” katanya kemudian, “kutahu juga terhadap orang semacam dirimu ini pasti takkan berhasil jika melulu menggunakan pancingan dengan harta saja.” “Lantas apa pula yang kau sediakan?”

“Kalau tidak dapat dipancing dengan harta benda, dengan sendirinya harus digunakan kekerasan.”

“Ehm. bagus!” ujar Siau-hong.

“Tidak bagus!” mendadak si baju hitam menyambung.

“Tidak bagus?” tanya Siau-hong.

“Namamu termashur, pergaulanmu memenuhi jagat, sampai kaisar yang sekarang juga suka padamu. Jika kubunuh orang semacam dirimu ini tentu akan banyak mendatangkan kesulitan,” ujar si baju hitam.

“Lantaran itulah takkan kau bunuh diriku?”

“Ya. tidak,” sahut si baju hitam.

“Kebetulan, aku tidak ingin mati.”

“Cuma sayang sekali pedangku keluar dari sarungnya pasti menemukan darah,”

“Dan inikah yang kau maksudkan kekerasan?” kembali Siau hong tertawa.

“Ini cuma satu peringatan saja.”

“Lalu bagaimana sesudah peringatan?”

Perlahan si baju hitam menurunkan lampu, perlahan pula mengangkat tangannya, “creng”, tahu-tahu pedang sudah terlolos. Cahaya pedang gemilapan seakan haus ingin minum darah segar musuh.

Siau-hong menghela napas. “Ternyata benar senjata tajam yang sukar dicari.”

“Untuk apa engkau menghela napas?” tanya si baju hitam. “Aku merasa bersyukur bagimu pada waktu bersyukur bagi orang lain terkadang aku pun menghela napas.

“Oo?” bingung juga si baju hitam.

Maka Siau-hong menjelaskan lagi, “Kau bawa senjata tajam sehebat ini, tapi rela menjadi budak orang semacam Kah Lok-san. Kalian datang dan Kanglam, sepanjang jalan ternyata tidak bertemu dengan sahabatku itu, sungguh mujur kau.”

“Memang kenapa bila bertemu dengan sahabatmu?” tanya si baju hijau.

“Jika bertemu dengan dia, saat ini pedangmu sudah berada di tangannya dan kau pasti sudah masuk liang kubur.”

“Hm, besar amat suaramu,” jengek orang itu.

“Ini bukan suaraku, tapi suaranya.”
“Memangnya siapa dia?” “Sebun Jui-soat!”

Urat hijau pada tangan yang memegang pedang itu nampak menonjol, dengan murka orang itu mendengus, “Tapi sayang, engkau sendiri bukan Sebun Jui-soat.”

Pada detik itulah pedangnya lantas menusuk, hawa pedang menyayat kulit. Tenaga yang mengejutkan, arah yang jitu dan kecepatan yang menakjubkan.

Pedang setajam itu dan ditusukkan secepat itu, daya serangnya tidak ada ubahnya seperti sambaran kilat.

Dan siapakah yang dapat mengelakkan serangan kilat itu? Hanya Liok Siau-hong!

Dia masih tetap berbaring dengan tenang, mendadak sebelah tangannya terjulur, dua jarinya menjepit perlahan.

Inilah gerak jari yang menakjubkan dan tidak ada bandingannya di dunia,

Inilah tindakan yang tiada taranya dan sukar untuk dibayangkan. Sekali jari menjepit, seketika sinar pedang lenyap dan hawa pedang sirna.

Pada saat itulah sekonyong-konyong genting rumah tersingkap sebagian, seorang memberosot ke bawah segesit kera, kedua tangan bergerak sekaligus, berpuluh bintik perak terus berhamburan an ke arah Liok Siau-hong.

Inilah serangan maut yang tak terduga dan sukar dijaga. Terdengar suara “blak-bluk” yang ramai, berpuluh macam senjata rahasia sama mengenai selimut yang membungkus tubuh Liok Siau-hong. Hanya menggunakan selimut saja.

“Padahal jaraknya sedemikian dekat, tenaga sambitan senjata rahasia itu cukup kuat menembus dinding, tapi ternyata tidak dapat menembus selimut ini, sebaliknya malah terus terpental balik dan berserakan di lantai.

Orang yang memberosot dari atas itu masih menggelantung di belandar, ucapnya dengan gegetun. “Sudah lama kudengar jari sakti Liok Siau-hong tidak ada bandingannya, tak tersangka tenaga dalamnya juga sehebat ini.”

Siau-hong tertawa, “Sesungguhnya aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa seorang pada waktu terancam bahaya, tenaganya bisa bertambah besar.”

Mendadak ia menjulurkan tangan yang lain dan perlahan meraba batang pedang yang masih dijepit itu dan berkata, “Ehm, sungguh pedang bagus.”

Habis berkata pedang terus dilepaskannya. Si baju hitam melengak, “Kau …”

Siau-hong tertawa pula, “Aku bukan Sebun Jui-soat, maka pedang kukembalikan kepadamu Jiwa juga tetap milikmu.”

Si baju hitam melongo dan Kah Lok-san tertawa.

“Inilah kekerasan,” kata Kah Lok-san dengan tersenyum, “dipancing dengan harta tidak mempan, dipaksa dengan kekerasan tidak berhasil, lalu apa yang dapat kulakukan?”

“Mengapa engkau tidak pulang saja?” kata Siau-hong.

Ucapan yang aneh, tapi Kah Lok-san seperti tidak mendengarnya, ia berkata pula, “Ada pameo yang mengatakan Enghiong (pahlawan ksatria) sukar menembus Bi-jin-juan (rintangan wanita cantik) tidak perlu disangsikan lagi. Anda adalah seorang Enghiong. lantas sekarang di mana adanya si cantik?”

Sudah tentu si cantik sudah siap. “Si cantik berada di luar pintu.

Ketika angin meniup, tercium bau harum semerbak. Seorang hamba tua yang berkuku sangat panjang sedang mencungkil sumbu pelita dengan sebatang korek kuping perak lalu di luar seorang perempuan setengah baya dengan dandanan sederhana melangkah masuk dengan dipapah oleh seorang gadis cantik berbaju ungu.

Nyonya setengah umur ini berperawakan langsing, berkulit pulih, gerak-geriknya memikat, rambutnya tersisir rapi, di bawah cahaya lampu, kulit badannya tertampak lebih halus daripada si gadis.

Siapa pun dapat menduga pada masa remajanya pasti seorang perempuan molek, sekarang mesti sudah setengah baya, daya tariknya tetap dapat membuat berdetak jantung setiap lelaki.

Bagi kaum lelaki, perempuan setengah baya yang kenyang pengalaman ini terkadang jauh lebih memikat daripada gadis yang masih hijau plonco.

Akan tetapi si gadis berbaju ungu yang berada di sampingnya ternyata lain daripada yang lain. Segala daya tarik si nyonya sirna sama sekali dan tidak menimbulkan perhatian orang lain.
Sukar untuk melukiskan kecantikan gadis ini, serupa sukarnya melukiskan betapa perasaan orang tersentuh ketika untuk pertama kalinya meresapi cinta.

Dengan menunduk gadis itu ikut melangkah masuk, lalu berdiri diam saja di sana. Seperti tidak sengaja ia melirik Siau-hong sekejap.

Seketika juga timbul perasaan aneh dalam hati Liok Siau-hong, balikan terjadi pula perubahan aneh pada bagian badan tertentu.

Lirikan si gadis serupa bara api yang tidak kelihatan dan sewaktu-waktu dapat membakar nafsu birahi lelaki.

Setelah melihat gadis itu barulah Siau-hong paham betul bentuk perempuan macam apakah yang dapat dianggap sebagai perempuan cantik.

Kah Lok-san duduk santai di kursinya, menikmati mimik wajah Liok Siau-hong. Katanya kemudian dengan perlahan, “Dia bernama Jo-jo, dia sangat menggiurkan orang bukan?”

Siau-hong tidak dapat menyangkal.

“Tampaknya engkau sangat menyukai dia,” kata pula Kah Lok-san.

Siau-hong juga tidak dapat membantah. Perlahan Kah Lok-san menghela napas, “Baik, setiap saat jika kau mau pulang, setiap saat dia akan ikut bersamamu dengan membawa peti ini.”

Perlahan Siau-hong juga menghela napas, dan berkata, “Jika begitu, hendaknya kau suruh dia menungguku di sini.”

“Bilakah engkau akan pulang?” tanya Kah Lok-san.

“Begitu menemukan Lo-sat-pai, segera juga aku pulang.”

Air muka Kah Lok-san berubah, “Sesungguhnya apa kehendakmu baru akan kau sanggupi untuk pulang sekarang? Apa permintaanmu?”

Biji mata Siau-hong berputar, kalanya, “Sebenarnya aku tidak menghendaki apa-apa, namun sekarang aku jadi teringat kepada sesuatu.”

“Sesuatu apa?” tanya Kah Lok-san.

“Kuminta hidung Sukong Ti-sing.”

Kah Lok-san tampak melenggong, “Emas dan si cantik engkau tidak mau, mengapa justru minta hidungnya?”

“Sebab ingin kulihat bagaimana macamnya sesudah kehilangan hidung, ingin kulihat apakah dia masih mampu menyaru sebagai setan untuk menakuti orang atau tidak?”

Kah Lok-san menatapnya tanpa bersuara, mendadak ia terbahak bahak.

Suara tertawanya telah berubah menjadi lantang. “Hahaha! Bagus, tak kusangka sekali ini tetap tidak dapat kugertak dirimu. Cara bagaimana dapat kau lihat penyamaranku?”

Dengan ucapannya ini sama halnya dia telah mengaku dirinya sebagai Sukong Ti-sing.

“Tidak sulit,” ujar Siau-hong dengan hambar, “dapat kucium bau malingmu!”

“Bau maling?” Sukong Ti-sing menegas. “Ya, baik maling besar maupun maling kecil tentu membawa semacam bau, ” ujar Siau-hong. “Engkau adalah raja pencuri, malingnya maling, dengan sendirinya baumu terlebih keras daripada maling lain, apalagi….”

“Apalagi apa?” Sukong Ti-sing menegas. “Biarpun aku dalam keadaan mabuk, kecuali maling semacam dirimu ini, orang lain jangan harap akan dapat menyusup masuk ke tempatku ini dan mencuri pakaianku.”

Pakaian Siau-hong semula ditaruh di ujung tempat tidur dan sekarang memang tidak kelihatan lagi.

Sukong Ti-sing tertawa, “Aku cuma membikin alasan bagimu agar kau dapat meringkuk terus di bawah selimut, memangnya siapa mengincar bajumu yang tidak laku sepicis itu.”

“Dengan sendirinya kau pun tidak menghendaki kepalaku,” kata Siau-hong.

“Kepalamu terlalu besar, dibawa terlalu berat, dipajang di rumah juga makan tempat.”

“Habis apa kehendakmu?”

“Ingin melihat dirimu.”

“Masa belum cukup kau lihat diriku?”

“Jika kau sangka aku yang ingin melihat dirimu, maka salah besar. Bagiku bila melihat sekejap dirimu, segera aku bisa tumpah.”

“Habis siapa yang ingin melihat diriku?”

“Kah Lok san,” jawab Sukong Ti-sing.

“Kah Lok-san yang tulen?” tanya Siau-hong.

Sukong Ti-sing mengangguk. “Ya, dia ingin tahu bagaimana wujudnya makhluk aneh yang beralis empat ini dan berapa lihainya?”

“Untuk itu, mengapa dia sendiri tidak datang kemari?”

“Dia sudah datang,” ujar Sukong Ti-sing.

“Dia sudah berada di rumah ini?” kata Liok Siau-hong menegas.
“Ya, dia sudah berada di sini, coba dapatkah kau kenali dia atau tidak?”

Di dalam rumah sekarang seluruhnya ada sembilan orang. Kecuali Liok Siau-hong sendiri dan Sukong Ti-sing, yang seorang ialah si lelaki berbaju hitam dan berpedang antik itu, seorang lagi si ahli senjata rahasia yang masih bergelantungan di belandar rumah, seorang hamba tua yang berkuku sangat panjang, seorang gadis cantik setengah baya. Selebihnya adalah dua lelaki kekar penggotong peti.

Di antara ketujuh orang ini, siapakah samaran Kah Lok-san tulen?

Siau-hong mengamat-amati si baju hitam beberapa kejap, katanya kemudian, “Engkau menyandang pedang antik, ilmu silatmu tidak lemah, juga berkedok, jangan-jangan engkau inilah Kah Lok-san?”

Si baju hitam diam saja.

Tapi Siau-hong lantas menggeleng-geleng dan berucap, “Tidak, tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin.” tanya si baju hitam saking tidak tahan.

“Sebab meski ilmu pedangmu cukup hebat, tapi kurang perbawa.”

“Darimana kau tahu Kah Lok-san pasti mempunyai perbawa?” tanya si baju hitam.

“Jika dia tidak mempunyai perbawa, cara bagaimana dahulu dia dapat merajai lautan dan memerintah anak buahnya?”

Maka si baju hitam tidak dapat bicara lagi.

Orang kedua yang diawasi Siau-hong adalah si ahli senjata yang bergelantung di belandar seperti kera itu, tetapi cuma dipandangnya sekejap, lalu ia menggeleng dan berkata, “Tidak mungkin dirimu Kah Lok-san.”

“Sebab apa?” tanya si kera.

“Sebab orang semacam Kah Lok-san tidak nanti bergelantungan di atap rumah serupa orang hutan.”

Maka orang ini pun tidak dapat bicara lagi.

Giliran selanjutnya adalah si hamba tua yang berkuku panjang itu. “Melihat kedudukanmu, tidak seharusnya kau piara kuku sepanjang ini,” ujar Siau-hong. “Korek kuping perak vang kau gunakan untuk mencukil sumbu pelita tadi kulihat terbuat dengan sangat indah bahkan biasanya digunakan orang Kangouw untuk menguji sesuatu makanan beracun atau tidak. Kulihat sinar matamu tajam, langkahmu mantap, Lwekangmu pasti tidak lemah.”

Hamba tua tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, “Jangan-jangan kau anggap diriku inilah Kah Lok-san?”

“Kau pun bukan,” sahut Siau-hong dengan tertawa.

“Sebab apa?” tanya si hamba tua.

“Sebab engkau tidak sesuai,” kata Siau-hong.

“Tidak sesuai?” melengak si hamba tua.

“Dahulu Kah Lok-san merajai lautan, sekarang dia juga seorang hartawan besar setempat, dalam makanannya beracun atau tidak, tentu ada pengiringnya yang akan mengujinya, padanya sendiri untuk apa mesti membawa barang tetek bengek begini?”

Maka hamba itu pun bungkam. Kedua kuli penggotong peti itu lebih-lebih tidak mungkin samaran Kah Lok-san, anggota badan mereka kasar, kekar tanpa wibawa, sekali pandang saja orang akan tahu mereka berasal dari golongan rendahan.

Sekarang Siau-hong sedang mengincar si nona cilik berbaju ngu.

“Kau kira dia samaran Kah Lok-san?” tanya Sukong Ti-sing dengan tertawa.

“Dia juga mungkin,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Dia juga mungkin?” hampir saja Sukong Ti sing berteriak.

“Dengan kecantikan dan daya tariknya, memang setiap lelaki bisa menyembah di bawah kakinya dan rela diperlakukan apa pun olehnya,” ujar Siau-hong. “Selama ratusan tahun terakhir ini, bajak laut terkenal yang merajai lautan sana memang ada seorang perempuan cantik yang meruntuhkan iman siapa pun. Cuma sayang…”

“Sayang apa?” tanya Sukong Ti-sing.

“Sayang usianya terlalu muda. Paling-paling hanya bisa jadi putri Kah Lok-san saja.”

Sukong Ti-sing memandangnya, sorot matanya menampilkan semacam rasa kagum padanya, “Dan sekarang tinggal satu orang lagi.”

Yang tersisa tinggal si Nyonya setengah baya itu.

“Apakah dia samaran Kah Lok-san?” tanya Sukong Ti-sing pula.

“Dengan sendirinya juga tidak mungkin,” ujar Siau-hong, “Sudah lebih 30 tahun yang lalu Kah Lok-san malang melintang di lautan raya sana, umurnya sekarang sedikitnya sudah 50 atau 60 tahun.”

Padahal usia nyonya cantik ini tampaknya baru 40-an. “Konon Kah Lok-san bertenaga raksasa pembawaan, bahkan gagah perkasa dan seorang sanggup melawan beratus orang,” ucap Siau-hong pula. “Dahulu bila terjadi pertempuran perebutan pengaruh di lautan, dia selalu mendahului anak buahnya menyerbu musuh lebih dulu. Dia tangkas dan berani dan sukar ditandingi.”

Sedangkan nyonya setengah baya itu kelihatan lemah lembut. Dengan tersenyum Sukong Ti-sing berkata, “Meski cukup beralasan uraianmu, tapi kau lupa pada suatu hal yang paling penting.”

“Oo?” Siau-hong melengak.

“Kau lupa bahwa Kah Lok-san adalah seorang lelaki gagah perkasa, sedangkan nyonya kita ini seorang perempuan,”

“Hal ini kukira tidak penting.”

“Oo?” kini Sukong Ti-sing yang melenggong.

“Di dunia Kangouw sekarang banyak orang mahir menyamar, ilmu rias sudah berkembang, lelaki bisa menyamar sebagai perempuan, dan perempuan juga dapat menyaru sebagai lelaki, soal ini sudah tidak mengherankan lagi.”

“Apapun juga. tentunya kau anggap dia tidak mungkin samaran Kah Lok-san.”

“Ya, memang tidak mungkin.” ujar Siau-hong.

“Tapi setahuku Kah Lok san benar-benar berada di rumah ini,” kata Sukong Ti-sing. “Jika mereka bertujuh bukan Kah Lok-san, lantas siapakah Kah Lok-san?”

“Sebenarnya tidak pantas kau tanya.”

“Mengapa tidak pantas kutanya?”

“Sebab kau pun tahu urusan di dunia ini seperti orang main catur, banyak ragam perubahannya. Ada hal yang tidak mungkin terjadi justru dapat terjadi. Ada urusan yang tidak mungkin terlaksana sekarang juga dapat terlaksana. Bahkan lautan pun bisa ditimbun menjadi daratan. Apalagi urusan lain.”

“Makanya…”

“Makanya nyonya kita ini mestinya tidak mungkin samaran Kah Lok-san, tapi justru samarannya.”

“Jadi maksudmu, dia lelaki yang menyamar sebagai perempuan?”

“Ehm,” Siau-hong mengangguk.

“Kah Lok-san merajai samudera dan memerintah kawanan bajak, dengan sendirinya dia seorang lelaki kekar dan berwajah bengis, jika wajahnya sehalus ini, mana mungkin kawanan bajak bisa tunduk padanya?” ujar Sukong Ti-sing dengan tertawa.

“Mungkin sudah kau lupakan julukannya pada masa lampau, aku sih tidak pernah lupa,” kata Siau-hong.

“Coba jelaskan,” pinta Sukong Ti-sing.

“Dahulu dia berjuluk Thi-bin-hong-ong (raja naga bermuka besi), sebabnya dia meniru panglima perang dinasti dahulu yang bernama Tik Jing, pada waktu menyerbu musuh di medan perang selalu memakai topeng tembaga yang beringas.”

Setelah tersenyum, Siau-hong menyambung lagi. “Padahal Tik Jing terkenal berwajah cakap, ia tahu wajah sendiri tidak dapat menakuti orang, sebab itulah dia sengaja memakai topeng, kukira Kah Lok-san juga demikian.”

Seketika Sukong Ti-sing menjadi bungkam juga.

Sedangkan nyonya selengah baya itu lantas menghela napas dan berkata, “Bagus. Sungguh pandangan tajam.”

“Ya, lumayan, meski tidak luar biasa.” ucap Siau-hong dengan bangga.

“Betul, aku inilah Kah Lok-san,” kata si nyonya tiba-tiba. “Aku inilah Thi-bin-liong-ong masa lampau dan si dermawan masa kini di daerah Kanglam.”

Ketika menyebut “Kah Lok-san”, wajahnya yang molek itu seketika berubah menjadi dingin, waktu menyebut “Thi-bin-liong-ong” terpancar sorot matanya yang tajam dan selesai bicara, dia benar-benar telah berubah jadi seorang yang lain.

Meski wajah dan pakaiannya tidak berubah seluruhnya, tapi sikapnya dan gayanya telah berubah sama sekali, serupa sebilah pedang tajam yang terlolos dari sarungnya, sampai Siau-hong juga dapat merasakan keseramannya.

Dia memandang Siau-hong lekat-lekat, lalu menyambung pula, “Cuma aku pun tidak habis mengerti, cara bagaimana dapat kau lihat samaranku?”

Siau-hong tersenyum, ucapnya, “Lantaran dia.” Dia yang dimaksud adalah Jo-jo, si nona jelita, bilamana memandangnya, sorot mata Siau-hong lantas penuh gairah dan penuh rasa takjub.

Sebaliknya sinar mata Kah Lok-san lantas penuh rasa murka dan curiga, dia menegas. “Lantaran dia, katamu? Apakah dia yang memberi isyarat padamu?”

Melihat sikap Kah Lok-san itu, tertawa Siau-hong semakin riang, sahutnya tak acuh, “Jika kau pikir demikian juga boleh, sebab kalau dia tidak berada di sini, aku pasti takkan menyangka engkau inilah Kah Lok-san.”

Tangan Kah Lok-san yang berpegangan pada bahu Jo-jo itu mendadak mengencang, seketika wajah Jo-jo yang cantik itu menampilkan rasa kesakitan.

Diam-diam Siau-hong menghela napas, baru sekarang ia tahu pasti hubungan di antara mereka.

Mereka diumpamakan rase tua yang licin, kelinci yane cantik dan halus, elang yang rakus dan burung kenari yang kehilangan kebebasan…

Dia tidak tega lagi melihat si nona tersiksa, cepat ia memberi penjelasan. “Anak perempuan seperti dia, kemana pun dia pergi lelaki tentu akan memandang beberapa kejap lebih banyak padanya.”

Kah Lok-san hanya mendengus saja.

“Akan tetapi lelaki yang berada di sini justru tidak memandangnya sama sekali, bahkan meliriknya saja tidak berani, padahal perempuan dilahirkan justru untuk dipandangi lelaki. Bahwa mereka tidak berani memandangnya, tentunya bukan karena takut si nona akan marah, tetapi kepadamu, maka…”

“Maka apa?” tanya Kah Lok-san.

“Maka aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, semua lelaki yang berada di sini rata-rata bukan jagoan rendahan, mengapa mereka sama takut padamu? Jangan-jangan engkau inilah Kah Lok-san yang membunuh orang tanpa berkedip itu?”

Kah Lok-san menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan berseru, “Bagus, uraian bagus, cara berpikirmu juga bagus.”

“Kedatanganmu kan bukan untuk mendengarkan khotbahku, tapi kau datang untuk melihat diriku, kau ingin tahu aku ini orang macam apa, begitu bukan?”

“Betul,” sahut Kah Lok-san.

“Dan sekarang sudah kau lihat?”

“Betul.”

“Bagaimana, orang macam apakah diriku ini?”

“Seorang pintar.”

“Bagus, jawaban bagus.”

“Engkau tidak cuma pintar saja, bahkan berpendirian teguh, beriman kuat, urusan apa pun sangat sulit menggoyahkan pikiranmu, kupikir jika benar ada sesuatu urusan yang hendak kau lakukan, pasti urusan itu akan kau selesaikan sampai tuntas biar pun ada seribu rintangan yang harus kau hadapi.”

“Bagus, pendapat yang bagus!” kata Siau-hong.

“Jadi kau ini seorang sahabat yang baik, tapi juga seorang lawan yang menakutkan,” dengan tajam Kah Lok-san pandang Siau-hong, lalu menyambung, “Cuma sayang, engkau bukan sahabatku, maka bagimu hanya ada satu jalan yaitu mati!”

“Hanya ada mati bagiku?” Siau-hong menegas.

“Ya, harus mati tidak ada pilihan, tidak boleh tidak!” jengek Kah Lok-san.

ooo000ooo

Malam bertambah larut, angin semakin dingin. Si baju hitam masih berdiri tegak seperti tonggak di situ, si hamba tua mengeluarkan sebuah kikir kecil dan sedang mengikir kukunya yang panjang itu.

Orang yang menggelantung di belandar rumah itu entah sejak kapan sudah anjlok ke bawah, sama sekali tidak menerbitkan suara.

“Pandanganmu memang tidak keliru,” kata Kah Lok-san, “Mereka bertiga memang jago yang tidak boleh diremehkan, tadi meski sudah dapat kau tangkis tusukan maut Losam dan hamburan senjata rahasia Loji. tapi kalau ditambah lagi dengan serangan Lotoa, tentu keadaannya akan sangat berbeda.”

Liok Siau-hong memandang hamba tua yang berambut putih itu dan bertanya. “Apakah dirimu yang dimaksud Lotoa?”

Hamba tua itu hanya mendengus saja, ia menekuk jarinya, kuku panjang pada jari tengah lantas terlipat serupa kertas, ketika mendadak dijentikkan, “crit”, dimana desing angin menyambar, kertas tutup jendela yang terletak tujuh delapan kaki jauhnya itu telah tertusuk satu lubang kecil oleh angin selentikan kukunya itu.

Apabila kuku ini tepat menusuk di tubuh manusia, maka dapat dibayangkan bagaimana akibatnya.

Tanpa terasa Siau-hong bersorak memuji, “Bagus, sungguh hebat! Tenaga jari sakti yang lihai dan benar-benar ilmu sakti andalan Hoa-san.”

“Hm, boleh juga pandanganmu,” jengek si hamba tua.

“Jurus pedang maut Kong-tong-pay, hujan senjata rahasia perguruan Sin-cap niocu, ditambah lagi tenaga jari sakti Hoa-san pay, tampaknya hari ini nasibku akan sukar diramalkan,” ucap Siau-hong dengan gegetun.

Tiba-tiba Sukong Ti-sing tertawa, katanya, “Orang lain sama bilang pandanganmu tidak jelek, tapi justru hendak kukatakan pandanganmu kurang baik!”

“Oo?” Siau-hong ingin tahu.

“Hanya asal-usul kungfu mereka bertiga yang kau sebutkan tapi kau lupa bahwa di sini masih ada dua tokoh lagi yang terlebih menakutkan,” ujar Sukong Ti-sing.

“Aku tidak lupa,” sahut Siau-hong.

“Memangnya aku kau hitung atau tidak?”

“Tidak,” kata Siau-hong.

“Sebab apa?” tanya Sukong Ti-sing.

“Sebab dalam pandanganku, sama sekali engkau tidak menakutkan, sebaliknya rada-rada menyenangkan.”

Sukong Ti-sing tertawa.

“Tentunya tidak kau sangka akan kukatakan engkau ini rada menyenangkan, bukan?”

“Aku pun tidak menyangka dapat kau lihat nona Jo-jo yang lembut ini sedemikian menakutkan,” sahut Sukong Ti-sing.

“Aku pun dapat melihat seginya yang menyenangkan,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

Orang yang menyenangkan biasanya kan juga menakutkan? Mungkin hal ini sukar dimengerti, tapi nanti bilamana engkau benar-benar jatuh cinta kepada seorang, barulah akan kau pahami artinya.

“Kukira engkau juga tidak pernah mendengar sesuatu pameo.” kata Sukong Ti-sing pula.

“O, pameo apa?” tanya Siau-hong.

“Lemah-lembut menarik, kejar nyawa rampas sukma!”

Siau-hong berpaling dan memandang Jo-jo, ucapnya sambil menggeleng, “Sungguh aku tidak percaya nona lemah lembut seperti dirimu ini memiliki kepandaian mengejar nyawa dan merampas sukma orang?”

“Aku sendiri tidak percaya,” ujar Jo-jo dengan tertawa.

Tertawanya manis, suaranya merdu tapi gerak tangannya lebih keji daripada ular berbisa.
Justru pada saat dia tertawa manis itulah, serentak dia turun tangan. Dinar emas berkelebat, secepat kilat menusuk leher.

Senjata yang digunakannya adalah tusuk kundai emas yang dipakainya.

Tangan Siau-hong sudah bergerak dan siap menjepitnya, jepitan Siau-hong belum pernah meleset.
Akan tetapi sekali ini baru saja tangan terjulur, segera ditariknya kembali, sebab pada saat cahaya emas berkelebat itulah tiba-tiba diketahuinya ujung tusuk kundai itu berduri, terdapat duri lembut yang tak terhitung jumlahnya.

Dengan sendirinya duri tusuk kundai itu beracun, Jo-jo bukan orang pertama yang menggunakan cara keji untuk menghadapi jepitan jari Liok Siau-hong itu.

Bahwa Siau-hong dapat hidup sampai sekarang jelas bukan lantaran nasibnya selalu mujur. Yang pasti matanya memang tajam, reaksinya cepat, begitu tangan ditarik kembali, serentak tubuhnya menggeser ke samping sehingga tusuk kundai lawan tepat menyambar lewat lehernya.

Sekali tangan Jo-jo berputar, tusuk kundai menusuk pula. Tusuk kundai ini pendek dan gesit, perubahan serangannya tentu saja sangat cepat, hanya sekejap saja sudah belasan kali ia menusuk, sudut yang ditusuk selalu bagian yang sukar terhindar, yang diincar selalu bagian mematikan.

Tusuk kundai nona yang kelihatan lemah-lembut ini ternyata jauh lebih menakutkan daripada pedang si baju hitam tadi.

Cuma sayang, lawan yang dihadapinya ialah Liok Siau-hong. Jika serangannya sangat cepat, cara berkelit Liok Siau-hong terlebih cepat. Beruntun dia menyerang 16 kali dan berturut-turut Liok Siau-hong mengelak 15 kali, mendadak tangan Siau-hong membalik dan tepat mencengkeram pergelangan tangan yang pulih halus itu.

Pergelangan tangan halus itu tidak tega dipatahkan, biasanya Siau-hong memang penyayang perempuan, apalagi perempuan cantik, mana dia sampai hati?

Akan tetapi si nona justru berhati keji, sambil menggeliat, sebelah kakinya menendang, yang diincar adalah selangkangan Liok Siau-hong, bagian yang vital dan fatal.

Serangan ini sesungguhnya tidak pantas dilakukan, apalagi oleh seorang gadis jelita. Siapa pun tidak menyangka anak perempuan lembut dan menyenangkan seperti dia bisa melakukan serangan sekeji ini.

Tapi Liok Siau-hong justru sudah menduga akan kemungkinan ini, pada saat kaki orang terangkat, berbareng ia pun memutar pergelangan tangan si nona sehingga orangnya terlempar ke sana, sedapatnya nona itu berjumpalitan di udara untuk kemudian jatuh ke dalam pangkuan Kah Lok-san.

Kah Lok-san tampak berkerut kening, tanyanya, “Kau terluka tidak?”

Cara bertanyanya ternyata sangat halus dan penuh perhatian.

Jo-jo menggeleng, perlahan ia melepaskan diri dan pelukan Kah Lok-san, mendadak tangannya membalik, tusuk kundai yang dipegangnya langsung menikam dada Kah Lok-san.

Perubahan ini sama sekali tak terduga oleh Liok Siau-hong. bahkan mimpi pun tak terpikir oleh Kah Lok-san.

Serangan ini jelas serangan yang fatal, yang mematikan.

Kah Lok-san memang tidak malu sebagai seorang gembong, biar pun terancam bahaya, dia tidak menjadi panik, dia masih dapat melancarkan serangan balasan, sekali turun tangan segera ia cekik leher Jo-jo.

Muka Jo-jo tampak pucat sebagai mayat, terdengar suara “krok-krok” dari tenggorokannya yang tercekik.

Makin kencang cekikan Kah Lok-san, katanya dengan menyeringai. “Perempuan hina, akan ku…”

Belum lanjut ucapannya, “crat”, sebuah kuku yang panjang tepat menusuk Giok-cim-hiat di bagian belakang kepalanya.

Ini pun serangan yang mematikan. Segera Kah Lok-san melepaskan cekikannya, ia meraung sambil membalik tubuh dan menubruk ke arah si hamba tua.

Akan tetapi baru saja ia membalik tubuh, serentak angin tajam menyambar tiba pula. Belasan bintik perak sama bersarang di punggungnya, sebatang pedang secepat kilat juga menyambar tiba dan tepat menusuk pinggangnya.

Sekali berhasil dengan serangannya, keempat orang serentak mundur bersama, mundur ke pojok ruangan.

Setelah pedang dicabut, darah segar lantas berhamburan, Kah Lok-san ternyata tidak lantas roboh, mukanya tampak beringas dan sangat menakutkan. Matanya melotot seakan-akan melompat ke luar dari rongga matanya, ia mendelik terhadap keempat orang itu, teriaknya dengan suara parau, “Ken.., kenapa kalian lakukan….”

Si baju hitam menggenggam pedangnya dengan erat, urat hijau tampak menonjol di punggung tangannya, karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga, ruas jarinya berubah menjadi putih, bahkan kelihatan bergemetar.

Tidak terkecuali yang lain, si hamba tua dan orang yang bergelantungan di atas belandar itu juga sama gemetar.

Meski berhasil menyerang, rupanya mereka pun ketakutan sehingga tidak sanggup bicara.

Yang masih dapat bicara dengan tenang justru ialah Jo-jo. Sambil menggigit bibir ia lantas mendengus, “Hm, kau sendiri tentunya paham kenapa kami bertindak demikian.”

Sejenak Kah Lok-san mendelik lagi, lalu mengembuskan kata-kata terakhir, “Sungguh aku tidak paham ….”

Ucapannya itu makin lemah dan pada saat kata terakhir terdengar hanya embusan napas belaka.
Dia tidak paham, sampai ajalnya rupanya dia tetap tidak paham kenapa beberapa orang kepercayaannya itu berbalik menyerang dan membunuhnya.

Cahaya pelita semakin buram.

Suasana di dalam rumah sunyi senyap, sampai suara napas dan detak jantung seakan-akan juga berhenti.

Kah Lok-san telah roboh terkulai di tengah genangan darahnya sendiri.

Siau-hong mengendurkan tangannya, tiba-tiba ia merasa tangan sendiri juga berkeringat dingin, rupanya kejadian tadi juga cukup menegangkan urat sarafnya.

Orang pertama yang membuka mulut masih tetap Jo-jo. Entah mengapa, mungkin ini buktinya lidah orang perempuan secara kodrat memang lebih lemas dan lincah daripada lidah orang lelaki.

Jo-jo membalik tubuh dan berhadapan dengan Liok Siau-hong, katanya, “Tentunya tak pernah kau sangka kami akan membunuh dia?!”

Siau-hong menyangkal, ia percaya siapa pun pasti tidak pernah menduga kejadian ini.

“Apakah kau pun tidak tahu sebab apa kami membunuh dia?” tanya Jo-jo pula.

Siau-hong merasa ragu untuk menjawab.

Perjodohan yang tidak sesuai selalu akan menimbulkan tragedi atau drama yang memilukan. Hal ini bukannya Siau-hong tidak tahu, cuma dia tidak ingin bicara, ia lebih suka si nona sendiri yang membeberkannya.

Wajah Jo-jo memang kelihatan sangat berduka dan juga murka, katanya kemudian dengan emosional, “Dia telah menguasai diriku dengan kekerasan, aku dipaksa menjadi barang permainannya, dijadikan alat pelampiasnya. Dia juga berhasil menggenggam kelemahan mereka bertiga, dia memeras mereka dan memaksa mereka jadi budaknya. Maka kami berkomplot, sudah lama kami ingin membunuh dia, cuma sayang, sebegitu jauh belum ada kesempatan baik.”

Tidak perlu disangsikan lagi Kah Lok-san adalah seorang tokoh yang sangat menakutkan, kalau tidak ada kesempatan yang menguntungkan dan dirasakan pasti berhasil dengan sendirinya mereka tidak berani sembarangan bertindak.

“Apakah sekali ini justru telah kubikin kesempatan baik bagi kalian untuk membunuhnya?” tanya Siau-hong.

Jo-jo mengangguk, katanya, “Ya. maka kami sangat berterima kasih padamu, kami sudah siap membalas kebaikanmu ini.”

“Membalas kebaikan” yang diucapkan seorang perempuan, apalagi anak perempuan secantik Jo-jo, biasanya mengandung arti khusus.

Tapi sikap Jo-jo ternyata sangat prihatin, dengan sungguh-sungguh ia berkata pula, “Kami tahu perjalanan ini bertujuan mencari Lo-sat-pai, kami juga tahu pada hakikatnya engkau sama sekali tidak yakin apakah Lo-sat-pai akan bisa kau temukan, sebab persyaratan yang ada pada kami sekarang jelas lebih baik daripada dirimu.”

“Oo? Lantas maksudmu?” tanya Siau-hong dengan berkedip-kedip.

“Asalkan kau mau, kami dapat membantumu dengan sepenuh tenaga,” jawab Jo-jo.

“Cara bagaimana akan kalian bantu diriku?” tanya Siau-hong pula.

Jo-jo menuding peti besar yang penuh berisi emas perak itu dan berkata. “Peti semacam ini masih ada 11 buah di atas kereta kami. Sementara ini, Li He tidak tahu bahwa Kah Lok-san sudah mati malahan ia pun belum kenal wajah Kah Lok-san yang sebenarnya, sebab itulah…”

“Sebab itulah jika aku memalsukan Kah Lok-san, dengan 12 peti emas ini kugunakan untuk membeli Lo-sat-pai kepada Li He, maka benda pusaka itu dapat kuperoleh dengan sangat mudah, begitu maksudmu?”

Jo-jo tidak langsung menjawab, ia menghela napas, lalu berkata pula, “Kah Lok-san memang tidak salah lihat, sedikit pun dia tidak salah menilai dirimu. Engkau memang betul seorang yang cerdas dan pintar.”

“Tapi aku tetap tidak habis mengerti, sebab apakah kalian bertindak demikian?” ujar Siau-hong.

“Sebab kami tidak ingin orang lain mengetahui bahwa Kah Lok-san terbunuh oleh kami,” tutur Jo-jo setelah berpikir sejenak.

“Oo, apakah kaitan takut anak muridnya akan menuntut balas?” tanya Siau-hong,

“Tidak, tidak ada orang yang akan menuntut balas baginya,” ucap Jo jo dengan tertawa,

“Cuma…..”

“Cuma dia kan seorang yang kaya raya, harta benda yang ditinggalkan tak terhitung jumlahnya,” tukas Siau-hong dengan tertawa. “Dan orang yang membunuhnya dengan sendirinya tidak mungkin dapat ikut mewarisi harta bendanya, begitu?”

“Ai, engkau benar-benar seorang cerdas, sungguh kelewat pintar,” ujar Jo-jo dengan menghela napas gegetun.

“Dan karena kalian merasa tidak yakin mampu membunuh diriku untuk menghilangkan saksi hidup, kalian juga kuatir rahasia peristiwa ini akan tersiar, maka kalian lantas mencari jalan untuk memelet diriku,” ucap Siau-hong pula.

“Dengan syarat yang kami kemukakan itu, memangnya belum lagi memuaskan dirimu?” tanya Jo-jo sambil memicingkan mata.

Siau-hong tertawa, katanya, “Cuma sayang orang yang hadir di sini dan langsung menyaksikan kejadian ini kan tidak cuma aku sendiri, mereka kan juga punya mata dan mulut?”

“Yang hadir di sini semuanya adalah orang kami sendiri,” ujar Jo-jo, “Hanya Sukong-tayhiap saja yang orang luar.”

“Aku bukan Tayhiap (pendekar besar), tapi Taycat (maling besar),” tukas Sukong Ti-sing dengan tertawa.

“Ya, jelas kami tahu Sukong-taycat adalah sahabat baik Liok Siau-hong, apabila Liok Siau-hong mau kompromi dengan kami dan menyetujui usul yang kami ajukan tadi, kuyakin Sukong-taycat pasti takkan berkhianat dan menjual Liok Siau-hong.” kata Jo-jo.

Mendadak Sukong Ti-sing mendelik dan berteriak, “Kubilang diriku ini Taycat, mengapa kau pun sebut aku sebagai Taycat?”

“Aku kan cuma menurut saja. Orang menurut kan lebih baik?” sahut Jo-jo dengan tersenyum geli.

Sukong Ti-sing jadi tertawa juga.

Betapa pun seorang maling kan juga manusia, apalagi lelaki. Seorang nona cantik, apa pun yang dikatakannya di depan orang lelaki, biasanya si lelaki pasti akan merasa tertarik dan senang.
Tampaknya Jo-jo sangat percaya kepada kecantikannya sendiri, dengan gaya menggiurkan ia melirik Sukong Ti-sing dan bertanya, “Bagaimana dengan pendapatmu?”

“Sukong-taycat bukanlah sahabat baik Liok Siau-hong.” jawab Sukong Ti-sing. “Maka setiap saat bilamana mau dia dapat menjual Liok Siau-hong. Hanya saja biasanya Sukong-taycat tidak suka mencari perkara dan mendapat kesulitan, lebih-lebih urusan yang tidak enak ini. maka…..”

“Maka Sukong-taycat juga setuju?” tukas Jo-jo dengan tertawa.

“Tapi Sukong-taycat juga ada sebuah syarat,” jawab Ti-sing.

“Syarat? Syarat apa pula?” biji mata Jo-jo tampak berkerling.

“Memangnya Sugong-taycat juga minta kutemani dia tidur?”

Ucapan ini sungguh sangat mengejutkan, terlebih mengejutkan daripada tendangan mautnya yang mengincar bagian vital Liok Siau-hong tadi.

Sukong Ti-sing juga melenggong, tapi lantas bergelak tawa, katanya, “Wah, anak perempuan cantik semacam dirimu ini, jika tidur di sampingku mungkin aku bisa terjaga bangun meski lagi tidur nyenyak.”

“Habis apa yang kau minta padaku?” tanya Jo-jo dengan tersenyum manis.

“Asalkan Lo-sat-pai didapatkan, keempat perempuan itu harus dilepaskan,” jawab Sukong Ti-sing.

“Keempat perempuan yang mana? Maksudmu Li He dan kawan-kawannya?”

“Ehmm,” Ti-sing mengangguk.

Jo-jo berkedip-kedip, katanya tiba-tiba, “Aneh juga mengapa engkau sedemikian memperhatikan mereka? Memangnya mereka pernah menemani tidur padamu?”

Sukong Ti-sing mendelik padanya, ucapnya kemudian sambil menggeleng kepala dan menyengir, “Ai, tampaknya dirimu ini serupa anak perempuan yang alim, mengapa kalau bicara selalu berduri?”

Jo-jo tertawa, katanya, “Sebab setiap kali aku bicara hal-hal demikian akan selalu terasa bergairah dan merangsang.”

Sukong Ti-sing menggelengkan kepala pula, ucapnya, “Aku cuma ingin tanya padamu, kau terima syaratku atau tidak?”

“Dengan sendirinya kuterima,” jawab Jo-jo tanpa pikir.

Serentak Sukong ti-sing berdiri. Ia melambaikan tangan kepada Liok Siau-hong dan berseru, “Sampai bertemu pula!”

“He, nanti dulu!” teriak Siau-hong mendadak, “Dimana pakaianku?”

Sukong Ti-sing tertawa, katanya. “Di sini ada seorang nona secantik ini, untuk apa pula kau minta pakaian? Bilakah kau berubah menjadi begini bodoh?”

Habis berkata, sekali lompat, tahu-tahu ia sudah melayang keluar jendela, hanya sekejap saja suara tertawanya sudah menjauh dan lenyap.

ooo000ooo

Aneh juga, dalam waktu singkat suasana di dalam rumah menjadi lengang juga, entah sejak kapan orang-orang itu sudah pergi semua, hanya tinggal Liok Siau-hong yang masih berbaring di tempat tidur dan Jo-jo yang berdiri di depannya.

Nona itu kelihatan sangat jinak, lembut dan hangat, mendadak ia mengajukan lagi pertanyaan yang terlebih mengejutkan, “Apakah kau ingin kutemani kau tidur sekarang?”

“Ya, ingin,” jawab Siau-hong dengan terus terang.

Rupanya sekali ini dia tidak merasa kaget oleh tawaran nona jelita itu, malahan mata pun tidak berkedip sama sekali.

“Jika ingin,” Jo-jo tertawa, suaranya sedemikian lembut dan menghanyutkan pikiran setiap lelaki, “boleh kau tidur sendirian di sini…..”

Mendadak ia membalikkan tubuh, tanpa berpaling ia terus melangkah pergi. Setiba di luar pintu barulah ia menoleh dan melambaikan tangannya sambil berseru. “Selamat tinggal sampai jumpa esok !”

“Blang”, pintu lantas digabrukkan. Suasana kembali sunyi.

Liok Siau-hong melongo, dengan mata terbelalak ia memandang langit-langit kamar, dalam hati ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. “Aneh, mengapa selalu kutemui orang-orang yang
aneh begini? Selalu kualami kejadian-kejadian yang ajaib ini?

Ia tidak tahu bahwa dunia ini memang penuh keajaiban! Dan kejadian yang aneh-aneh masih terus akan menimpanya.

TAMAT

About these ads

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: