Kumpulan Cerita Silat

18/11/2007

Pendekar Budiman: Bagian 20

Filed under: Gu Long, Pendekar Budiman — Tags: — ceritasilat @ 10:51 pm

Pendekar Budiman: Bagian 20
Oleh Gu Long

“Ada orang mohon bertemu dengan Pangcu,” lapor orang di luar.

“Siapa dia?”

“Pendatang itu tidak mau memberitahukan namanya.”

“Untuk urusan apa?”

“Dia bilang setelah berhadapan dengan Pangcu baru akan bicara langsung.”

Hing Bu-bing tidak bersuara lagi.

Siangkoan Kim-hong mendadak berkata, “Di mana orangnya?”

“Di halaman depan,” lapor orang di luar.

Siangkoan Kim-hong tetap asyik membalik halaman buku dan tanpa mengangkat kepala, katanya, “Bunuh dia!”

“Baik!” jawab si pelapor.

Mendadak Siangkoan Kim-hong bertanya pula, “Siapa yang membawa dia ke sini?”

“Pat-tocu (kepala seksi kedelapan) Hiang Siong,” jawab orang di luar.

“Bunuh sekalian bersama Hiang Siong!” kata Siangkoan Kim-hong.

Orang di luar mengiakan pula.

Tapi Hing Bu-bing lantas berkata, “Aku pergi!”

Baru kedua kata itu terucapkan, tahu-tahu dia sudah membuka pintu dan menyelinap keluar.

Untuk membunuh orang Hing Bu-bing tidak pernah ketinggalan, apalagi Hiang Siong berjuluk Hong-ih-liu-sing (bintang meluncur di tengah hujan angin), senjata andalannya sepasang Liu-sing-tui (bandulan berantai) termasuk nomor 19 dalam daftar senjata yang disusun Pek-hiau-sing, untuk membunuhnya tidaklah mudah.

Memangnya siapakah pendatang yang ingin menemui Siangkoan Kim-hong itu? Dan ada urusan apa?

Ternyata Siangkoan Kim-hong tidak menghiraukannya, bahkan tidak timbul setitik pun rasa ingin tahunya. Orang ini sungguh tidak mempunyai sifat manusia.

Sejauh itu malahan kepalanya tetap tidak terangkat dan tangan tetap membalik halaman buku.

Ketika pintu terbuka lagi, Hing Bu-bing menyelinap masuk kembali.

Siangkoan Kim-hong tidak tanya apakah orang sudah dibunuhnya atau tidak, sebab ia tahu Hing Bu-bing tidak pernah meleset membunuh orang. Ia cuma berkata, “Pergi lagi! Jika Hiang Siong tidak melawan, berikan pensiun selaksa tahil emas kepada keluarganya, bila Hiang Siong melawan, bunuh sama sekali segenap anggota keluarganya.”

“Tapi aku tidak membunuhnya,” jawab Bu-bing tiba-tiba.

Baru sekarang Siangkoan Kim-hong mengangkat kepalanya dan menatap Hing Bu-bing dengan sorot mata tajam.

Air muka Bu-bing tetap kaku dingin, katanya, “Sebab orang yang dibawanya kemari itu tidak dapat kubunuh.”

“Setiap orang di dunia ini boleh dibunuh, mengapa dia tidak boleh?” kata Siangkoan Kim-hong dengan bengis.

“Aku tidak membunuh anak kecil,” kata Bu-bing.

Siangkoan Kim-hong melengak, perlahan ia menaruh pensilnya dan bertanya, “Jadi maksudmu, yang ingin menemuiku cuma seorang anak kecil?”

“Ya,” jawab Bu-bing.

“Seorang anak macam apa?”

“Seorang anak cacat.”

Mencorong sinar mata Siangkoan Kim-hong, ia termenung sejenak, akhirnya berkata, “Baik, bawa dia masuk!”

Bahwasanya ada seorang anak kecil mohon bertemu dengan Siangkoan Kim-hong, hal ini sungguh Siangkoan Kim-hong sendiri pun tidak percaya. Jika bukan nyali anak ini terlalu besar, tentu anak ini latah atau sinting.

Tapi yang muncul memang benar seorang anak kecil.

Mukanya pucat pasi tiada warna darah sama sekali. Sorot matanya juga buram, tidak jernih dan bercahaya seperti sinar mata anak-anak umumnya.

Gerak-geriknya juga sangat lamban, malahan punggungnya rada bungkuk. Anak ini tampaknya seperti seorang kakek saja.

Anak ini ternyata Liong Siau-in adanya.

Siapa pun bila berhadapan dengan anak semacam Liong Siau-in tentu akan memandangnya beberapa kejap lebih banyak. Siangkoan Kim-hong juga tidak terkecuali.

Sorot mata Siangkoan Kim-hong setajam pisau menatap wajah Liong Siau-in.

Siapa pun bila tertatap oleh sinar mata Siangkoan Kim-hong yang tajam ini umpama tidak gemetar tentu juga kakinya akan lemas dan tidak sanggup bicara.

Tapi Liong Siau-in harus dikecualikan.

Ia melangkah masuk dengan perlahan, membungkuk tubuh sebagai tanda hormat, katanya, “Wanpwe Liong Siau-in menyampaikan sembah hormat kepada Siangkoan-pangcu.”

“Liong Siau-in?” Siangkoan Kim-hong mengulang nama itu dengan sinar mata gemerdep. “Liong Siau-hun pernah hubungan apa denganmu.”

“Ayahku!” jawab Siau-in.

“Apakah ayahmu yang menyuruhmu kemari?”

“Ya!”

“Mengapa ia tidak datang sendiri?”

“Jika ayah yang mohon bertemu, bukan saja sukar bertemu dengan Pangcu, bahkan ada kemungkinan akan terbinasa di sini.”

“Kau kira aku tidak mau membunuhmu?” tanya Siangkoan Kim-hong dengan suara bengis.

“Apa artinya jiwa seorang anak kecil bagi Pangcu?” jawab Siau-in. “Bukan Pangcu tidak mau membunuh, tapi tidak sudi membunuh.”

Air muka Siangkoan Kim-hong tampak berubah tenang kembali, katanya, “Meski kecil usiamu dan lemah tubuhmu, namun nyalimu ternyata tidak kecil.”

“Seorang kalau mengharapkan sesuatu, mau-tak-mau nyalinya akan berubah besar!” kata Liong Siau-in.

“Ucapan bagus!” seru Kim-hong, mendadak ia berpaling dan tertawa kepada Hing Bu-bing, “Jika melulu kau dengarkan perkataannya, dapatkah kau percaya dia seorang anak kecil!”

Wajah Hing Bu-bing tidak menampilkan sesuatu perasaan, sahutnya dingin, “Aku tidak mendengar!”

Siangkoan Kim-hong menatapnya lekat-lekat, senyuman yang jarang tertampak itu mendadak membeku.

Meski kepala tertunduk, namun sebenarnya Liong Siau-in selalu memerhatikan gerak-gerik mereka, dia seperti sangat tertarik oleh hubungan khas kedua orang ini.

Akhirnya Siangkoan Kim-hong bersuara pula, “Tidak suka bicara adalah kebaikanmu yang terbesar. Tapi tidak suka mendengar bicara orang mungkin akan merupakan kesalahan maut bagimu.”

Sekali ini bersuara saja Hing Bu-bing tidak mau.

Setelah termenung sekian lama barulah Siangkoan Kim-hong berpaling kembali dan bertanya, “Apa yang kau harapkan pada kedatanganmu ini?”

“Setiap urusan ada berbagai jalan untuk dikemukakan,” jawab Siau-in. “Mestinya Wanpwe dapat mengutarakan urusan dengan cara bertele-tele supaya enak didengar, namun Pangcu adalah orang sibuk yang harus mengurus urusan penting lain, maka Wanpwe tidak berani mengganggu terlalu lama, terpaksa kugunakan cara bicara secara langsung menuju pokok persoalan.”

“Bagus,” kata Kim-hong. “Aku memang tidak suka terhadap cara bicara yang bertele-tele, terhadap orang demikian cuma ada satu caraku, yaitu memotong lidahnya.”

“Kedatangan Wanpwe ini hanya ingin bicara suatu bisnis dengan Pangcu,” kata Siau-in.

“Bisnis?!” Kim-hong menegas, air mukanya tambah dingin, katanya pula, “Sebelum ini ada juga orang mau bicara bisnis denganku, apakah kau ingin tahu dengan cara bagaimana kuhadapi?”

“Wanpwe siap mendengarkan,” kata Siau-in.

“Caraku menghadapi mereka juga cuma ada satu cara, yakni mencencang tubuh mereka.”

Siau-in tetap tenang saja, katanya dengan tak acuh, “Tapi bisnisku ini lain daripada yang lain, kalau tidak masakah Wanpwe berani datang kemari?”

“Bisnis tetap bisnis, apa bedanya?”

“Bedanya ialah bisnisku ini ada seratus keuntungan bagi Pangcu dan tidak ada ruginya.”

“Oo?!” Siangkoan Kim-hong melengak.

“Kekuasaan Pangcu merajai seluruh negeri, kekayaanmu melebihi negara, segala benda di dunia ini dengan sangat mudah dapat dimiliki Pangcu.”

“Ya, memang, makanya pada hakikatnya aku tidak perlu bicara tentang bisnis dengan siapa pun.”

“Tapi tetap ada semacam barang di dunia ini yang belum tentu dapat diperoleh Pangcu,” kata Siau-in.

“Oo, apa betul?”

“Nilai barang ini sendiri mungkin tidak tinggi, tapi bagi Pangcu nilainya menjadi lain.”

“Sebab apa?” tanya Kim-hong.

“Sebab hanya sesuatu yang sukar diperoleh di dunia ini barulah dapat dianggap berharga.”

“Barang apakah yang kau maksudkan?”

“Nyawa Li Sun-hoan,” jawab Siau-in.

Sorot mata Siangkoan Kim-hong yang dingin itu mendadak berubah membara, “Apa katamu?” bentaknya.

“Jiwa Li Sun-hoan sudah tergenggam dalam tangan kami, asalkan Pangcu menghendakinya, setiap saat Wanpwe dapat mempersembahkannya kepadamu.”

Siangkoan Kim-hong termenung lagi.

Sampai sekian lamanya, ketika sorot matanya yang panas berubah dingin lagi barulah ia berucap dengan hambar, “Huh, apa artinya Li Sun-hoan bagiku. Pada hakikatnya dia tidak terpandang olehku.”

“Jika begitu biarlah Wanpwe mohon diri saja,” kata Siau-in. Tanpa bicara lagi ia memberi hormat terus membalik tubuh dan melangkah pergi.

Ia berjalan dengan sangat lambat, tapi sama sekali tidak menoleh, Siangkoan Kim-hong juga tidak memandang lagi padanya sekejap pun.

Dengan perlahan Siau-in mendekati pintu dan menarik daun pintu.

Pada saat itulah mendadak Siangkoan Kim-hong bersuara, “Nanti dulu!”

Tertampil secercah rasa puas pada sinar mata Liong Siau-in, tapi ketika ia berpaling, sorot matanya kembali buram lagi, dengan hormat ia bertanya, “Pangcu ada pesan apa?”

Siangkoan Kim-hong tidak memandangnya, ia cuma menatap sinar lilin di atas meja, katanya perlahan, “Akan kau gunakan jiwa Li Sun-hoan untuk menukar apa?”

“Sudah lama ayahku sangat mengagumi kebesaran nama Pangcu, cuma sayang tidak dapat berkenalan,” kata Siau-in.

“Ini omong kosong belaka, aku cuma ingin tahu apa yang kau minta?” potong Siangkoan Kini-hong dengan ketus.

“Ayahku berharap akan dapat mengangkat saudara dengan Pangcu di hadapan para kesatria sejagat,” ucap Siau-in.

Seketika api kemarahan terpancar lagi dari sinar mata Siangkoan Kim-hong, tapi segera tenang kembali, katanya dengan hambar, “Hah, tampaknya Liong Siau-hun juga seorang pintar, cuma sayang, apa yang dilakukannya ini sungguh terlalu bodoh.”

“Tindakan ini memang sangat bodoh, tapi cara yang paling bodoh terkadang juga paling efektif,” ujar Siau-in.

“Kau yakin bisnis ini akan disepakati?” tanya Siangkoan Kim-hong.

“Jika tidak yakin akan berhasil, untuk apa Wanpwe menyerempet bahaya datang kemari?”

“Bukankah Liong Siau-hun cuma mempunyai seorang anak saja, yaitu dirimu?”

Siau-in mengiakan.

“Jika begitu, seharusnya dia tidak menyuruhmu ke sini,” kata Kim-hong.

“Soalnya bila orang lain yang disuruh kemari, jelas tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Pangcu.”

“Dalam bisnis ini kalian mestinya adalah pihak pembeli, tapi dengan kedatanganmu ini posisimu menjadi berubah sama sekali.”

“Pangcu mengira dapat menggunakan diriku sebagai sandera untuk memeras ayahku dan memaksa dia menyerahkan Li Sun-hoan?”

“Memang begitulah maksudku.”

Tiba-tiba Liong Siau-in tertawa, katanya, “Pangcu seorang bijaksana dan biasanya dapat menilai setiap pribadi orang, tapi terhadap ayahku Pangcu telah salah nilai.”

Siangkoan Kim-hong menjengek, “Hm, masakah dia lebih suka membiarkan kubunuh dirimu daripada menyerahkan Li Sun-hoan?”

“Ya, begitulah.”

“Memangnya dia bukan manusia?”

“Beliau manusia, tapi manusia juga terdiri dari berbagai jenis.”

“Dia jenis yang mana?”

“Ayahku sama jenisnya dengan Pangcu, yaitu demi mencapai maksud tujuan dapat menggunakan cara apa pun dan tidak sayang mengorbankan apa pun.”

Mulut Siangkoan Kim-hong jadi bungkam. Selang agak lama baru bicara pula dengan perlahan, “Sudah 20-an tahun tidak ada orang berani bicara demikian di hadapanku.”

“Justru lantaran Pangcu adalah manusia jenis ini, maka Wanpwe berani bicara demikian, hanya dengan bicara cara demikian baru dapat menggerakkan hati orang semacam Pangcu.”

Siangkoan Kim-hong menatap anak itu tajam-tajam, katanya kemudian, “Dan bila aku tidak menerima permintaanmu, apakah kalian akan membebaskan Li Sun-hoan?”

“Betul!” jawab Siau-in.

“Masa kalian tidak takut dia akan menuntut balas terhadap kalian?”

“Dia adalah manusia jenis lain, tidak nanti bertindak demikian,” Siau-in tertawa lalu menyambung, “Bila dia mau berbuat demikian, tentu nasibnya tidak menyedihkan seperti sekarang.”

“Biarpun kalian melepaskan dia, apakah kau yakin aku takkan membunuhnya sendiri?” kata Siangkoan Kim-hong dengan suara bengis.

“Pisau kilat si Li, sekali timpuk tidak pernah meleset,” ucap Siau-in dengan hambar.

“Kau kira aku pun tidak mampu menghindarkan sambitan pisaunya?”

“Sedikitnya Pangcu sendiri tidak yakin sepenuhnya, betul tidak?”

“Hmk!” jengek Kim-hong.

“Apalagi, dengan kedudukan dan pengaruh Pangcu sekarang ini, untuk apa mesti menyerempet bahaya?”

Mulut Siangkoan Kim-hong kembali bungkam.

“Pula, meski Kungfu ayahku tidak terlalu tinggi, tapi mengenai nama dan kedudukan serta kecerdasannya juga tidak di bawah orang lain, bila Pangcu mengilat saudara dengan beliau kan cuma ada untung dan tidak ada ruginya.”

Siangkoan Kim-hong berpikir sejenak, mendadak ia tanya, “Li Sun-hoan juga saudara angkat ayahmu, bukan?”

Siau-in membenarkan.

“Hm, jika dia dapat menjual Li Sun-hoan, siapa yang berani menjamin dia takkan menjual diriku?” jengek Siangkoan Kim-hong.

Siau-in tertawa, “Tapi Pangcu bukan Li Sun-hoan.”

Jawabnya sangat sederhana juga sangat tajam.

Mendadak Siangkoan Kim hong bergelak tertawa, “Haha, betul, biarpun Liong Siau-hun berani menjual diriku juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu.”

“Jadi Pangcu menerima permintaanku?”

Mendadak Siangkoan Kim-hong berhenti tertawa dan menegas, “Cara bagaimana dapat kuketahui Li Sun-hoan benar berada dalam genggaman kalian?”

“Asalkan Pangcu menyebarkan kartu undangan dan mengundang para kesatria ikut menghadiri upacara pengangkatan saudara antara Pangcu dengan ayahku ….”

“Kau pikir mereka berani hadir?”

“Hadir atau tidak bukan soal, cukup asalkan umum mengetahui peristiwa ini,” ujar Siau-in dengan tersenyum.

“Hm, rapi juga pertimbanganmu,” jengek Kim-hong.

“Mungkin Pangcu masih perlu menimbang urusan ini, biarlah Wanpwe menunggu kabar Pangcu lebih lanjut, sementara Wanpwe tinggal di Ji-in-kek-can di dalam kota,” perlahan Siau-in menyambung pula, “Asalkan kartu undangan Pangcu sudah disebarkan, bilamana sudah ada yang menerimanya, setiap saat Wanpwe akan membawa Li Sun-hoan ke tempat Pangcu ini.”

“Membawanya ke sini? …. Hm, mungkin kalian tidak mempunyai kesanggupan sebesar ini,” jengek Siangkoan Kim-hong.

“Wanpwe juga menyadari hal ini, jika pekerjaan demikian tidak mampu dilaksanakan tokoh seperti Sim-bi Taysu dari Siau-lim-pay dan Dian-jitya, apalagi diriku, hanya saja ….”

“Hanya apa?” tanya Kim-hong.

“Bila sepanjang jalan dikawal oleh Hing-siansing, tentu segala sesuatu akan berjalan dengan lancar.”

Siangkoan Kim-hong termenung lagi.

“Baik, kupergi,” kata Hing Bu-bing mendadak sebelum Siangkoan Kim hong bersuara.

Untuk pertama kalinya wajah Liong Siau-in menampilkan rasa girang, ia menjura dan mengucapkan terima kasih.

Siangkoan Kim-hong berpikir lagi agak lama, tiba-tiba ia tanya, “Ilmu silatmu telah dipunahkan dan takkan pulih untuk selamanya, yang merusak dirimu apakah Li Sun-hoan?”

Wajah Siau-in yang pucat seketika berubah hijau, ia menunduk dan mengiakan.

Siangkoan Kim-hong menatapnya dengan tajam sambil bertanya sekata demi sekata, “Kau benci padanya?”

Siau-in mengepal tinjunya erat-erat, sampai lama baru menjawab, “Ya.”

“Seharusnya tidak boleh kau benci dia, sebaliknya mesti berterima kasih kepadanya.”

Tentu saja Siau-in melengak, ia mengangkat kepala dan bertanya, “Terima kasih?”

“Ya, bila ilmu silatmu tidak dipunahkan olehnya, saat ini kau pasti sudah mati di sini.”

Siau-in menunduk pula.

“Masih sekecil ini hatimu sudah sedemikian culas dan keji, tidak lebih dari 20 tahun tentu akan berebut pengaruh denganku, apabila keadaanmu tidak cacat, mana bisa kulepaskan dirimu?”

Liong Siau-in tetap diam saja sambil mengertak gigi ….

*****

Di tempat lain. Dalam kegelapan ada suara keluh orang dan desah napas ….

Kemudian keadaan menjadi hening.

Sampai lama sekali baru terdengar suara seorang perempuan berucap lirih, “Terkadang sungguh ingin kuajukan suatu pertanyaan padamu.”

Suara orang perempuan ini sangat manis dan lembut, jika orang lelaki ingin melawan suara yang penuh daya pikat ini tiada jalan lain kecuali dia berubah menjadi orang tuli.

“Kenapa tidak kau tanya?” terdengar suara seorang lelaki menjawab.

Suara orang ini sangat istimewa, bila kau dengarkan dari dekat, suaranya justru kedengaran datang dari tempat jauh, bila kau dengar dari jauh, suaranya justru seperti berada di dekat telingamu.

“Sebenarnya engkau manusia biasa atau gemblengan dari baja?” tanya si perempuan.

“Masa tidak dapat kau rasakan?” sahut si lelaki.

Dengan suara terlebih manis si perempuan berucap pula, “Jika engkau manusia mengapa selamanya tidak merasa lelah?”

“Memangnya engkau tidak tahan?”

Si perempuan tertawa mengikik, “Apakah kau kira aku akan minta ampun? Mengapa tidak kau coba lagi?”

“Sekarang tidak,” kata si lelaki.

“Mengapa?”

“Sebab sekarang hendak kuminta kau kerjakan sesuatu.”

“Apa pun yang kau minta kukerjakan pasti akan kuterima.”

“Baik, sekarang hendaknya kau pergi membunuh A Fei.”

Agaknya si perempuan jadi melengak, sampai sejenak barulah ia menghela napas dan berkata, “Kan sudah kukatakan sejak mula bahwa sekarang belum tiba waktunya kubunuh dia.”

“Sudah tiba waktunya sekarang,” kata si lelaki.

Kembali si perempuan seperti melengak lagi, “Sebab apa? Memangnya Li Sun-hoan sudah mati?”

“Meski belum mati, jaraknya dengan kematiannya sudah tidak jauh lagi,” ujar si lelaki.

“Ber … berada di mana dia sekarang?”

“Dalam genggamanku.”

Si perempuan tertawa, “Selama beberapa hari ini hampir setiap hari siang dan malam kuberada bersamamu, dengan cara bagaimana dapat kau tangkap dia? Memangnya engkau mempunyai ilmu menjelma dua.”

“Sesuatu yang kuinginkan, tanpa kugunakan tanganku sendiri tentu ada orang akan mengantarkan padaku.”

“Siapa yang mengantarnya kemari? Siapa yang mempunyai kepandaian setinggi ini mampu menawan Li Sun-hoan?”

“Liong Siau-hun,” tutur si lelaki.

Agaknya si perempuan terkejut pula, katanya kemudian dengan tertawa, “Ya, betul, tentu Liong Siau-hun, hanya sahabat baik Li Sun-hoan sendiri yang dapat membikin celaka dia. Jika ingin menjatuhkan dia dengan senjata macam apa pun sukar merobohkan dia, harus menggunakan sentuhan perasaan.”

“Tampaknya engkau sangat memahami dia,” kata si lelaki.

“Terhadap musuh biasanya aku terlebih paham daripada terhadap kawan, misalnya … aku tidak memahami dirimu.”

Segera ia berubah pokok pembicaraan, sambungnya lagi, “Aku juga sangat mengerti akan pribadi Liong Siau-hun, tidak nanti dia mengantarkan Li Sun-hoan kepadamu secara cuma-cuma.”

“Oo!” si lelaki melengak.

“Ia sendiri tidak suka membunuh Li Sun-hoan, maka sengaja meminjam tangan orang untuk membunuhnya.”

“Kau kira cuma ini saja tujuannya?”

“Memangnya dia mau apa lagi?”

“Ia juga minta kujadi saudara angkatnya.”

Si perempuan menghela napas, katanya, “Orang ini sungguh pintar mencari keuntungan, tapi … apakah kau terima permintaannya?”

“Ehm,” agaknya si lelaki mengangguk.

“Masa tidak kau rasakan dia hendak memperalat dirimu?”

“Hmk,” jengek si lelaki, “cara berpikirnya bukankah terlalu kekanak-kanakan? Apakah dia mengira setelah menjadi saudara angkat lantas takkan kubikin susah padanya? Padahal, jangankan cuma saudara angkat, biarpun saudara sekandung juga tiada gunanya.”

“Betul, jika dia dapat menjual Li Sun-hoan, dengan sendirinya kau pun boleh menjual dia,” ujar si perempuan dengan tertawa genit.

“Meski dalam pandanganku Liong Siau-hun tidak berharga sepeser pun, tapi putranya justru sangat lihai,” kata si lelaki.

“Pernah kau lihat setan cilik itu?”

“Justru yang datang bukan Liong Siau-hun sendiri melainkan anaknya.”

Si perempuan menghela napas, “Ai! Bocah itu memang kecil orangnya tapi besar nyalinya.”

Si lelaki termenung sejenak, katanya tiba-tiba, “Baiklah, boleh kau pergi saja.”

Terdengar si perempuan berkeluh, “Lelaki lain bila berada bersamaku biasanya akan merasa berat meninggalkan diriku, hanya engkau, setiap kali bila sudah selesai satu kali lantas kau usir diriku.”

“Sebab aku bukan lelaki lain dan juga bukan sahabatmu,” kata si lelaki dengan dingin. “Antara kita tidak lebih cuma saling memperalat saja, jika kita tahu sama tahu, untuk apa pula mesti berlagak sayang dan pura-pura cinta segala?”

Terpaksa si perempuan alias Lim Sian-ji harus angkat kaki.

Di dalam rumah sangat gelap, di luar rumah justru ada cahaya bintang.

Di bawah cahaya bintang berdiri tegak seorang berjaga di luar rumah, matanya yang berwarna pucat kelabu memandang jauh ke depan sana tanpa bergerak serupa patung belaka.

Tapi sekarang sorot mata pucat kelabu itu menampilkan semacam perasaan menderita yang sukar dilukiskan.

Sungguh ia tidak sanggup lagi berdiri di sini. Ia tidak sanggup menahan suara yang didengarnya dari dalam rumah itu. Tapi terpaksa dia harus bertahan. Selama hidupnya dia cuma setia terhadap satu orang, yaitu Siangkoan Kim-hong.

Hidupnya ini, bahkan sukmanya juga sudah menjadi milik Siangkoan Kim-hong.

Ketika pintu terbuka, sesosok bayangan ramping perlahan mendekatinya.

Di bawah cahaya bintang wajahnya kelihatan cantik, baru, bersih, murni, siapa pun pasti tidak menyangka apa yang telah dilakukannya baru saja.

Lahiriah bidadari, sukma setan iblis. Siapa lagi selain Lim Sian-ji.

Hing Bu-bing tidak menoleh.

Sian-ji mengitar ke depannya dan memandangnya dengan mesra.

Namun Hing Bu-bing tetap memandang jauh ke depan, seperti sama sekali tidak pernah terdapat siapa pun di situ.

Tangan Sian-ji yang halus memegang pundaknya, perlahan menggeser ke atas, perlahan meraba daun telinganya. Ia cukup tahu bagian di tubuh lelaki yang paling peka.

Hing Bu-bing tidak bergerak, seperti sudah kaku.

Dengan tertawa Sian-ji berkata pula, “Terima kasih atas penjagaanmu di luar bagi kami, asal kutahu engkau berada di luar, hatiku lantas merasa aman, berbuat apa pun akan kurasakan dengan sangat senang.”

Tiba-tiba ia berbisik perlahan di tepi telinganya, “Ingin kuberi tahukan suatu rahasia padamu, meski usianya agak lanjut, tapi dia tetap sangat kuat, bisa jadi lantaran pengalamannya jauh lebih luas daripada orang lain.”

Di tengah tertawanya yang nyaring pergilah dia.

Hing Bu-bing tetap tidak bergerak, namun setiap bagian tubuhnya sama gemetar.

*****

Ji-in-kek-can adalah hotel terbesar di kota ini, dengan sendirinya juga hotel paling mahal dan paling gampang untuk membuang uang di sini.

Asalkan punya uang yang cukup, tidak perlu keluar hotel setiap tamu akan mendapatkan segala kenikmatan yang diinginkannya.

Di sini, asalkan kau buka mulut, maka segera akan diantarkan hidangan yang paling lezat di kota ini atau perempuan penghibur yang paling terkenal dan paling cantik juga akan diantarkan ke kamarmu.

Pada siang hari di sini pintu setiap kamar hampir selalu tertutup dan hampir tidak terdengar sesuatu suara apa pun.

Tapi bila malam tiba, pintu setiap kamar akan terbuka. Yang akan terdengar lebih dulu adalah suara teriakan dan bentakan kepada pelayan, lalu suara ucapan terima kasih para pelayan yang menerima tip, kemudian lantas terdengar suara senda gurau orang perempuan.

Akhirnya akan ramai pula suara gelak tertawa orang minum arak diseling suara cekikak-cekikik anak perempuan serta bualan orang lelaki, terkadang juga ada suara biji dadu yang bergelindingan di dalam mangkuk ….

Di sini, bila malam tiba, tentu akan terdengar segala macam suara yang paling jorok di dunia ini.

Di antaranya cuma ada sebuah kamar yang tidak mengeluarkan suara. Hanya terkadang saja terdengar sekali dua kali keluhan singkat dan ratapan perlahan orang perempuan.

Pintu kamar ini juga selalu tertutup. Tapi pada waktu magrib setiap hari selalu ada orang mengantar seorang nona cilik ke kamar ini. Dengan sendirinya nona cilik antaran ini rata-rata sangat cantik, masih muda belia dan kecil mungil.

Waktu masuk ke kamar itu dengan sendirinya mereka berdandan dengan sangat cantik, rapi dan bersih, wajah senantiasa mengulum senyum, sekalipun cuma senyum profesional yang sudah terlatih, tapi senyum yang tertampil pada wajah gadis-gadis ini cukup menarik dan tidak menjemukan.

Namun bila mereka keluar dari kamar ini pada esok paginya, keadaan lantas berubah sama sekali.

Rambut yang seharusnya teratur sekarang menjadi semrawut, bahkan ada yang terbetot rontok, mata yang semula bening kini berubah menjadi buram, bahkan jadi cekung.

Wajah yang semula bercahaya dan cerah kini pun berubah pucat, kurus, dan membawa bekas air mata.

Selama tujuh, hari berturut-turut keadaan demikian terus berlangsung.

Semula tidak ada orang yang memerhatikannya, tapi lama-lama orang pun merasa tertarik oleh hal-hal yang demikian ini.

Timbul dugaan mereka, “Sesungguhnya siapakah penghuni kamar ini? Masa begini lihai? Tentu penghuninya seorang lelaki kekar dan kuat.”

Maka orang-orang pun sama menyelidik. Tapi hasil selidikan mereka membuat mereka sama terkejut.

Kiranya penghuni kamar ini bukan lelaki kekar segala melainkan cuma seorang anak yang tidak sempurna pertumbuhannya.

Tentu saja semua orang bertambah tertarik, segera ada orang mencari salah seorang nona cilik yang pernah diantar masuk ke kamar itu untuk ditanyai.

Nona cilik itu lantas gemetar ketika ditanya urusan ini, air matanya lantas mengucur malah dan sama sekali tidak mau memberi keterangan. Ketika didesak, jawabnya cuma satu kalimat, “Dia bukan manusia … dia bukan manusia?”

Senja tiba pula. Pintu kamar ini tetap tertutup.

Seorang anak berwajah pucat duduk menghadap jendela di dalam kamar ini, asyik memandangi pohon waru di luar kamar sana, sudah sekian lama sama sekali tidak bergerak.

Meski sinar matanya kelihatan guram, tapi terkadang terkilas juga setitik sinar yang licin dan keji.

Anak inilah Liong Siau-in!

Di atas meja tersedia arak dan hidangan, tapi hampir tidak disentuhnya sama sekali.

Dia makan sangat sedikit, dia sedang menunggu, menunggu kenikmatan yang lebih besar. Terhadap “makan” biasanya dia memang kurang berminat, ia anggap seorang kalau makan terlalu banyak, tentu benaknya akan tersumbat.

Akhirnya terdengarlah pintu diketuk.

Siau-in tidak menoleh, ia cuma bersuara, “Pintu terbuka, masuklah sendiri.”

Pintu didorong, terdengar langkah kaki yang sangat perlahan, sangat lambat.

Jelas yang datang ada seorang anak perempuan yang kecil mungil, bahkan rada takut-takut.

Inilah jenis anak perempuan yang disukai Liong Siau-in. Karena ia lemah, maka ia suka menjadi yang “kuat”, hanya berduduk di depan anak perempuan semacam ini dia akan merasakan dirinya orang kuat.

Suara langkah kaki berhenti di samping meja.

Siau-in lantas berkata, “Orang yang membawamu kemari itu sudah memberitahukan padamu tentang harga?”

“Ehm,” sahut si anak perempuan lirih.

“Harga ini dua kali lebih tinggi daripada tarif umum, bukan?”

“Ehm.”

“Maka dari itu harus kau turut kepada perkataanku, sama sekali tidak boleh membangkang, tahu tidak?”

“Tahu,” jawab anak perempuan itu.

“Baik, sekarang tanggalkan pakaianmu, seluruhnya!”

Untuk sejenak anak perempuan itu diam saja, katanya tiba-tiba, “Waktu kulepas pakaian engkau tidak mau melihatnya?”

Suaranya sangat manis dan enak didengar.

Siau-in seperti terkesiap.

Dengan suara lembut anak perempuan itu berucap pula, “Melihat anak perempuan menanggalkan baju juga semacam kenikmatan, mengapa kau lepaskan kenikmatan ini?”

Agaknya Siau-in merasakan ada sesuatu yang tidak beres, serentak ia berpaling. Seketika ia jadi melenggong.

“Anak perempuan” yang datang ini ternyata Lim Sian-ji adanya.

Wajah Sian-ji tetap menampilkan senyuman bidadari.

Sebaliknya air muka Liong Siau-in menjadi kaku, namun ini hanya terjadi sekejap saja, segera ia tertawa dan berbangkit, sapanya, “Ah, kiranya bibi Sian lagi bergurau denganku.”

Tertawa Sian-ji tambah memikat, “Sampai saat ini masakah masih kau panggil bibi padaku?”

“Bibi kan tetap bibi,” ujar Siau-in dengan tertawa.

Sian-ji meliriknya sekejap, “Tapi engkau kan sudah dewasa, bukan?”

Ia menghela napas, lalu menyambung dengan perlahan, “Baru dua-tiga tahun tidak bertemu, tak tersangka kau tumbuh secepat ini.”

Secara pintar Siau-in mengelakkan perkataan orang ini, ucapnya, “Selama dua-tiga tahun ini kami tidak memperoleh kabar berita bibi Sian, sungguh kami sama merindukan bibi.”

“Tapi aku justru banyak mendengar tentang dirimu,” ujar Sian-ji dengan tersenyum manis. “Konon … terhadap anak perempuan engkau jauh lebih kuat daripada kebanyakan lelaki yang berusia lebih banyak daripadamu.”

Siau-in menunduk dan tertawa, “Tapi di depan bibi aku tetap seorang anak kecil.”

Sian-ji melotot, omelnya, “Masih kau panggil bibi padaku? Memangnya aku sudah begitu tua?”

Tanpa terasa Siau-in mengangkat kepala.

Sian-ji berdiri di depannya, berdiri secara santai, namun gayanya, sungguh sukar untuk dilukiskan, berjuta orang perempuan juga sukar ditemukan bandingannya.

Sorot mata Siau-in yang buram seketika bercahaya.

Sambil menggigit bibir Sian-ji berkata pula, “Kabarnya yang kau sukai adalah nona cilik, sedangkan aku sudah … sudah nenek-nenek.”

Jantung Siau-in terasa berdetak, katanya tanpa terasa, “Engkau sama sekali tidak tua.”

“Benar?!” Sian-ji menegas.

“Jika ada orang bilang engkau sudah tua, orang itu kalau bukan tolol tentulah buta,” ucap Siau-in sambil menunduk.

“Dan kau buta tidak? Tolol tidak?” tanya Sian-ji dengan senyum manis.

Tentu saja Liong Siau-in tidak buta, juga tidak tolol ….

Pada waktu Sian-ji meninggalkan dia, dirasakan juga sangat payah.

“Anak” ini ternyata bukan anak lagi, juga bukan orang buta, terlebih bukan anak tolol, tapi lebih tepat dikatakan orang gila.

Orang gila yang menakutkan! Sampai Sian-ji sendiri pun tidak pernah bertemu dengan orang gila semacam ini.

Tapi sinar matanya justru menampilkan semacam cahaya gembira. Betapa pun dia toh mendapatkan berita yang diharapkannya.

Terhadap lelaki, Sian-ji tidak pernah gagal, tidak peduli lelaki itu orang tolol atau gila.

Meski fajar sudah tiba, namun di dalam kamar seberang masih ada orang asyik minum arak. Terdengar seorang lagi berseru dengan tertawa, “Soal minum arak, kalau sudah mau minum, maka harus minum sampai pagi, minum sampai menggeletak.”

Mendengar ucapan ini, seketika Sian-ji teringat kepada satu orang.

Dia merasa seperti mendengar lagi suara batuk orang itu. Bila teringat kepada orang ini dia lantas benci.

Ia tahu biarpun setiap lelaki di dunia ini dapat ditaklukkannya, namun selamanya takkan mendapatkan orang itu. Dan sesuatu yang tidak bisa diperolehnya ia pun tidak ingin orang lain mendapatkannya.

Sambil mengertak gigi ia membatin, “Meski kuinginkan kematianmu, tapi sekarang belum dapat kubiarkan kau mati, terlebih tidak boleh membiarkan kau mati di tangan Siangkoan Kim-hong. Kalau kau mati, tentu di dunia ini tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya gentar. Tapi pada satu hari akan kubikin kau mati di tanganku, mati dengan perlahan ….”

*****

Waktu A Fei mendusin, yang pertama terlihat olehnya adalah sebatang pedang.

Sebatang pedang yang aneh, sangat tipis, sangat enteng, tangkai pedang cuma digapit dengan potongan kayu yang lunak dan enteng. Di dunia ini hanya ada seorang yang mampu dan berani menggunakan pedang semacam ini.

Pedang ini terletak di atas meja pendek di samping tempat tidur, ditaruh bersama dengan seperangkat pakaian hijau yang bersih.

Seketika mencorong terang sinar mata A Fei.

Melihat pedang ini baginya serupa mendadak berjumpa kembali dengan sahabat yang sudah lama berpisah, darah panas serasa bergolak dalam rongga dadanya.

Perlahan ia menjulurkan tangan untuk memegang pedang itu, tangan pun terasa agak gemetar.

Tapi ketika tangannya menggenggam tangkai pedang yang istimewa itu, perasaannya lantas tenang dan mantap.

Perlahan ia meraba mata pedang, pandangannya serasa menuju jauh ke sana.

Teringat olehnya pada waktu pertama kali menggunakan pedang, terkenang ketika darah segar menetes dari ujung pedangnya, terpikir orang-orang yang mati di bawah pedangnya, orang-orang jahat.

Namun semua itu sudah lalu, sudah lama lalu. Ia sudah berjanji kepada orang yang dicintainya akan melupakan selamanya segala kejadian masa lampau.

Meski kehidupannya sekarang terasa hambar, cemplang, bahkan agak kesepian, tapi apa jeleknya kehidupan semacam ini, jika dapat hidup aman tenteram selama hidup bukankah memang menjadi harapan kebanyakan orang di dunia ini?

Tanpa suara tahu-tahu Lim Sian-ji sudah muncul di depan pintu.

Tampaknya dia agak lelah dan agak lesu, namun senyumnya tetap serupa bunga yang baru mekar, harum dan segar.

Apa pun pengorbanannya, asal setiap hari dapat melihat senyuman yang serupa bunga ini akan terasa mendapatkan ganti rugi segalanya.

Segera A Fei menaruh pedang dan menyapa, “Hari ini engkau bangun terlebih dini daripadaku, rasanya makin lama aku tambah malas.”

Sian-ji tidak menjawab perkataan ini, sebaliknya balas bertanya, “Kau suka pedang ini tidak?”

A Fei juga tidak menjawab, sebab ia tidak dapat bicara terus terang, juga tidak mau berdusta.

“Kau tahu pedang ini datang dari mana?” tanya Sian-ji pula.

“Tidak tahu,” jawab A Fei.

Perlahan Sian-ji mendekatinya dan berduduk di sampingnya, lalu berkata, “Semalam sengaja kusuruh orang menggemblengkan pedang ini bagimu.”

A Fei tampak terkejut, “Kau?!”

Sian-ji mengangkat pedang itu, ucapnya lembut, “Coba lihat, bukankah pedang ini serupa pedang yang kau pakai dahulu?”

A Fei diam saja.

“Engkau tidak suka?” tanya Sian-ji.

Sampai sekian lama baru A Fei bertanya, “Mengapa kau buatkan pedang ini bagiku?”

“Sebab kuingin kau gunakan pedang ini.”

“Kau … kau minta kubunuh orang?”

“Bukan membunuh, tapi menolong orang.”

“Menolong orang? Menolong siapa?”

“Menolong sahabatmu yang paling karib ….”

Belum habis ucapan Sian-ji ini, serentak A Fei melompat bangun dan berseru, “Sun-hoan?”

Sian-ji mengangguk tanpa bersuara.

Muka A Fei yang pucat seketika merah membara, “Di mana dia sekarang? Apa yang terjadi?”

Sian-ji menarik tangannya, katanya dengan lembut, “Duduklah dulu, dengarkan perlahan, urusan begini biarpun gelisah juga tiada gunanya.”

A Fei menarik napas panjang, akhirnya berduduk.

“Di dunia ini kecuali dirimu masih ada empat jago paling lihai, apakah kau tahu siapa mereka?” tanya Sian-ji.

“Coba katakan,” jawab A Fei.

“Orang pertama dengan sendirinya ialah Thian-ki Lojin, kedua ialah Siangkoan Kim-hong, dengan sendirinya Li Sun-hoan juga tidak kurang hebatnya daripada mereka.”

“Lalu siapa lagi yang seorang?”

“Orang ini bernama Hing Bu-bing,” tutur Sian-ji dengan gegetun. “Usianya paling muda tapi juga paling menakutkan.”

“Paling menakutkan?” A Fei menegas.

“Ya, sebab pada hakikatnya dia bukan manusia, tidak punya sifat manusia. Tujuan hidupnya hanya membunuh orang, kenikmatan hidupnya juga membunuh orang. Kecuali membunuh orang, dia tidak mau tahu apa pun, juga tidak ingin tahu.”

Gemerdep sinar mata A Fei, “Dia menggunakan senjata apa?”

“Pedang,” sahut Sian-ji sambil menaruh kembali pedang tadi.

Tanpa terasa A Fei memegang pedang itu dengan erat.

“Konon ilmu pedangnya sama cepatnya denganmu, juga sama ganasnya,” tutur Sian-ji.

“Aku tidak paham ilmu pedang segala, aku cuma paham cara menusuk leher musuh dengan pedang,” kata A Fei.

“Itulah ilmu pedang, ilmu pedang macam apa pun, tujuan yang terakhir juga begitu.”

“Maksudmu … maksudmu Li Sun-hoan sudah jatuh dalam cengkeraman orang itu?”

“Bukan cuma dia saja, juga ada Siangkoan Kim-hong,” tutur Sian-ji dengan menyesal. “Tapi mungkin Siangkoan Kim-hong tidak berada di sana, maka engkau cukup menghadapi dia seorang saja.”

Ia tidak memberi kesempatan bicara kepada A Fei, cepat ia menyambung pula, “Sebelum melihat orang ini tentu takkan tahu betapa menakutkan orang ini, mungkin pedangmu terlebih cepat daripadanya, tapi engkau kan manusia ….”

“Aku cuma ingin tahu orang ini sekarang berada di mana?” tanya A Fei sambil mengertak gigi.

Perlahan Sian-ji meraba tangannya dan berkata, “Mestinya aku tidak ingin engkau menggunakan pedang dan membunuh orang lagi, terlebih tidak ingin engkau menyerempet bahaya. Tapi demi Li-toako, tidak … tidak boleh tidak harus kubiarkan kau pergi menolongnya.”

A Fei memandangnya dengan sorot mata penuh rasa terima kasih.

Sian-ji lantas mencucurkan air mata pula dengan menunduk, katanya, “Dapat kuberi tahukan padamu cara bagaimana akan kau temukan dia, namun … namun kau pun harus menerima suatu syaratku.”

“Katakan saja,” pinta A Fei.

Sian-ji memegang tangannya dengan erat dan menatapnya dengan air mata berlinang, katanya, “Kuminta engkau berjanji pasti akan kembali lagi ke sini, akan kutunggumu selamanya ….”

*****

Sementara itu Liong Siau-in berduduk di sudut dalam kabin kereta yang sangat longgar dan sedang memandang seorang di depannya.

Orang ini berdiri tegak. Meski menumpang kereta orang ini tetap tidak mau duduk. Betapa keras guncangan kereta orang ini tetap berdiri tegak seperti tonggak.

Liong Siau-in tidak pernah melihat orang semacam ini, bahkan tidak pernah membayangkan di dunia ada orang seperti ini.

Biasanya ia merasa kebanyakan orang di dunia ini orang tolol belaka dan dapat dipermainkan olehnya, tapi entah mengapa, di depan orang ini diam-diam timbul rasa takutnya.

Tapi sekarang ia pun merasa senang, sebab apa yang dimintanya telah diterima oleh Siangkoan Kim-hong. Kartu undangan sudah disebarkan, sudah banyak orang yang menerimanya. Upacara angkat saudara ditetapkan pada tanggal satu bulan depan.

Sekarang Hing Bu-bing ikut pergi bersamanya, tidak perlu disangsikan lagi nasib Li Sun-hoan pasti akan mati. Tak terpikir olehnya siapa di dunia ini yang mampu menyelamatkan Li Sun-hoan.

Ia menghela napas lega dan memejamkan mata, terbayang olehnya seraut wajah yang cantik dan manis lagi berbaring dalam pangkuannya dan sedang berbisik padanya, “Engkau memang bukan anak kecil lagi, apa yang kau pahami jauh lebih banyak daripada orang lain. Sungguh aku tidak tahu dari mana kau belajar hal-hal begini?”

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa tersembul senyuman pada wajah Liong Siau-in, senyuman mabuk.

Ada sementara urusan pada hakikatnya tidak perlu belajar, tiba saatnya, secara otomatis akan paham.

Ia merasa dirinya memang sudah dewasa.

Ada anak-anak yang berusaha berlagak sudah dewasa, sebaliknya ada orang tua yang sedapatnya berlagak seperti masih anak muda. Ini juga salah satu kekonyolan di antara sekian macam tingkah laku orang hidup.

Jika orang lain, berpikir sampai di sini tentu sudah mabuk dan lupa daratan, tentu tak mau berpikir lebih lanjut. Tapi Liong Siau-in justru berpikir lagi terlebih mendalam, “Sebab apa dia berbuat begini padaku. Jangan-jangan dia ingin mencari di mana beradanya Li Sun-hoan?”

Berpikir demikian, seketika benaknya banyak lebih sadar, “Sebab apa dia mencari tahu jejak Li Sun-hoan? Memangnya dia ingin menolong Li Sun-hoan?”

Dengan sendirinya hal ini tidak mungkin, sebab Siau-in juga tahu Sian-ji sangat benci kepada Li Sun-hoan, juga tahu Lim Sian-ji mengatur tipu daya keji agar Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing membunuh Li Sun-hoan.

“Habis apa maksud tujuannya?”

Ia tidak sanggup berpikir lagi, sebab sukar dimengerti.

Ia tidak tahu keadaan sekarang sudah berubah, dulu Lim Sian-ji memang bermaksud meminjam tangan Siangkoan Kim-hong untuk membunuh Li Sun-hoan, tapi sekarang keadaannya telah berubah terlebih gaib. Sebab bila Sian-ji ingin mempertahankan keseimbangannya dengan Siangkoan Kim-hong, dia tidak boleh membiarkan Li Sun-hoan dan A Fei mati.

Kalau tidak, maka Siangkoan Kim-hong yang akan menginjak di atas kepalanya, sebab Siangkoan Kim-hong sudah memberi suara dan maksudnya sudah cukup dipahaminya, yaitu, “Aku ialah aku, bukan Hing Bu-bing, juga bukan A Fei, di antara kita tidak lebih hanya saling memperalat saja, bilamana nilai saling memperalat ini sudah lenyap, maka ucapan terakhir ialah sampai bertemu pula!”

Apa yang terjadi dan perubahan di dunia Kangouw serupa juga hati orang perempuan, tidak mungkin dapat diraba oleh siapa pun.

Kereta besar itu akhirnya berhenti di pusat kota, di tempat yang paling ramai, berhenti di depan sebuah toko cita yang paling megah.

Memangnya Li Sun-hoan disekap di sini?

Liong Siau-hun ayah dan anak memang tidak malu sebagai tokoh lihai, mereka sangat paham pemeo yang mengatakan, “untuk persembunyian kecil boleh sembunyi di pegunungan, jika ingin bersembunyi besar harus sembunyi di tengah kota”. Mereka tahu tempat yang paling ramai justru paling mudah menghindari mata-telinga orang.

Begitulah Liong Siau-in lantas berbangkit dan berkata kepada Hing Bu-bing dengan tertawa, “Silakan!”

“Kau dulu,” jawab Bu-bing.

Sejauh ini baru sekarang ia bicara satu kalimat ini dengan anak itu.

Ia tidak mau berjalan di depan orang lain, tidak ingin orang menguntit di belakangnya.

Mereka terus melalui deretan barang dagangan di tengah sambutan hormat dan tertawa para pelayan dan kuasa toko kain itu. Di bagian belakang adalah gudang.

Apakah Li Sun-hoan dikurung di dalam gudang kain? Sungguh suatu tempat sembunyi yang bagus.

Tapi Liong Siau-in belum lagi berhenti dan terus masuk lebih jauh. Di belakang lagi adalah pintu belakang.

Di luar pintu belakang ternyata sudah menunggu sebuah kereta yang serupa.

Sekali ini Siau-in tidak bicara apa pun, ia memberi hormat kepada Hing Bu-bing, lalu naik ke atas kereta.

Kiranya Li Sun-hoan tidak disembunyikan di sini. Apa yang dilakukan Liong Siau-in ini hanya sebagai tabir belaka untuk menghindari penguntitan orang.

Cara berpikir ayah dan anak ini sungguh sangat cermat dan jauh lebih mendalam daripada siapa pun.

Begitu kereta membelok dari gang belakang itu, langsung terus dilarikan ke luar kota.

Kemudian kereta lantas berhenti di depan sebuah gudang beras, tapi gudang beras ini pun bukan tempat Li Sun-hoan dikurung.

Mereka berganti kereta lagi di pintu belakang gudang beras ini.

Kereta yang digunakan sekarang adalah sebuah gerobak yang biasa digunakan mengangkut beras ke dalam kota. Di tengah tumpukan karung beras ada tempat luang yang tiba cukup untuk berduduk dua orang.

“Maaf bikin susah?” kata Siau-in.

Namun satu kata pun Bu-bing tidak menanggapi.

Gerobak sapi itu menuju kembali ke tengah kota.

Nyata perencanaan mereka tidak saja cermat dan bergerak cepat, bahkan perubahan arah jalan juga di luar dugaan orang.

Cara bekerja mereka, sekalipun detektif paling jempolan juga sukar melacaki mereka.

Liong Siau-in juga tahu Hing Bu-bing pasti takkan memujinya, yang diharapkannya cukup wajah orang menampilkan setitik rasa memuji.

Seorang kalau sudah berbuat sesuatu yang bagus dan tidak mendapatkan pujian, rasanya akan serupa seorang perempuan menemui kekasihnya dengan baju baru kesayangan, tapi sang kekasih sama sekali tidak memandang bajunya.

Terlebih bagi Liong Siau-in, betapa pun dia masih anak kecil. Menurut pandangan orang lelaki, pikiran anak kecil dan orang perempuan terkadang memang tidak banyak berbeda.

Ternyata wajah Hing Bu-bing tetap kaku dan dingin tanpa perasaan setitik pun.

Akhirnya pedati itu memutar masuk ke sebuah jalan yang sepi, jalan ini cuma ada enam-tujuh rumah penduduk. Tapi penduduk di sini kalau bukan keluarga bangsawan pastilah pembesar negeri yang berkedudukan tinggi.

Ketika berada di jalan ini, sebuah pintu samping pada salah satu rumah itu mendadak terbuka. Langsung pedati itu dihalau ke dalam rumah.

Setiap orang di kota ini sama tahu rumah ini adalah tempat kediaman Han Lim-coan yang berpangkat menteri, rasanya orang Kangouw tidak mungkin ada hubungan dengan pembesar negeri setinggi ini.

Memangnya Li Sun-hoan di sembunyikan di sini? Rasanya tidak mungkin.

Tapi yang menyambut kedatangan pedati ini di undak-undakan ruangan tengah itu ternyata Liong Siau-hun adanya. Begitu Hing Bu-bing turun dari pedati segera Liong Siau-hun memapaknya.

“Sudah lama kudengar nama kebesaran Hing-siansing, sungguh sangat beruntung sekarang dapat bertemu,” demikian Siau-hun menyapa. “Soalnya perjalanan ini harus menghindari mata-telinga orang, sebab itulah tak dapat menyambut sepantasnya, harap dimaafkan.”

Mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu itu hanya memandang tangan sendiri, melirik pun tidak terhadap Liong Siau-hun.

Namun Siau-hun tetap menyambutnya dengan tertawa, katanya, “Di ruangan sudah siap perjamuan selamat datang, harap Hing-siansing sudi minum barang dua cawan sekadar melepaskan lelah dalam perjalanan.”

Hing Bu-bing hanya berdiri tegak tanpa bergerak, ucapnya dengan dingin, “Apakah Sun-hoan berada di sini?”

“Tempat ini adalah tempat kediaman pribadi Han-tayjin, cuma belum lama mendadak Han-tayjin berangkat pesiar karena cuti dinas selama tiga bulan.”

Bicara sampai di sini tertampil rasa bangga pada wajah Liong Siau-hun, sambungnya, “Kebetulan kepala pengurus rumah tangga keluarga Han adalah sahabatku, sebab itulah dapat kupinjam pakai sementara rumah gedung ini.”

Hing Bu-bing masih memandang tangan sendiri, katanya tiba-tiba, “Kau kira tidak ada orang dapat menguntit ke sini?”

Air muka Liong Siau-hun berubah, tapi segera ia tertawa dan berkata, “Jika benar ada orang dapat menguntit ke sini, aku rela menyembah padanya sebagai tanda hormat dan kagumku padanya.”

“Baik, boleh kau siap menyembah padanya,” jengek Bu-bing.

” Jika ….” baru kata ini terucap, mendadak senyum Liong Siau-hun membeku.

Waktu Siau-in ikut memandang ke sana, wajahnya yang pucat seketika juga berubah hijau.

Ternyata di pojok ruangan sana telah berdiri satu orang.

Entah sejak kapan datangnya orang ini dan entah cara bagaimana datangnya.

Dia memakai baju hijau, mestinya baju baru, tapi sekarang sudah dekil, siku dan dengkulnya tampak lecet. Tubuhnya juga kotor, rambutnya semrawut.

Meski dia berdiri jauh di sana dapat juga dirasakan Liong Siau-hun rasa seramnya, sama seramnya serupa pedang yang terselip pada ikat pinggang orang itu sendiri.

Pedang yang tak bersarung.

Dia A Fei. Akhirnya muncul juga A Fei.

Di dunia ini mungkin cuma A Fei saja yang dapat menguntit sampai ke sini.

Binatang yang paling licin dan paling pintar menyembunyikan diri ialah rase atau musang.

Anjing pemburu yang paling cerdik dan sudah terlatih baik juga belum tentu mampu menemukan rase.

Perjalanan pemburuan ini jelas sangat sulit, makanya A Fei sedemikian kotor, bahkan terluka lecet.

Tapi juga cuma begini baru dapat memperlihatkan ketangkasan, keuletan dan sifat liarnya yang khas.

Dengan cepat Liong Siau-hun dapat menenangkan diri, segera ia menyapa dengan tertawa, “Aha, kiranya saudara A Fei, selamat bertemu!”

A Fei cuma memandangnya dengan dingin.

“Saudara ternyata benar dapat menguntit sampai di sini, sungguh mengagumkan,” kata Siau-hun pula.

A Fei tetap memandangnya dengan dingin, matanya bening, sinarnya tajam, setelah mengalami penguntitan dua hari ini, agaknya dia telah pulih kembali kepada ketangkasannya masa lampau.

Matanya sungguh sangat kontras dibandingkan mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu.

Siau-hun tertawa dan berkata pula, “Cara menguntit saudara meski sangat tinggi, cuma sayang tetap diketahui oleh Hing-siansing ini.”

Pandangan A Fei beralih ke arah Hing Bu-bing. Bu-bing juga sedang menatapnya.

Ketika sinar mata kedua orang kebentrok, serupa sebilah pedang menusuk pada batu karang beribu tahun. Entah pedangnya lebih tajam atau batunya yang lebih keras.

Meski keduanya sama tidak bersuara, namun di antara sinar mata kedua orang seolah-olah memercikkan lelatu api.

Liong Siau-hun memandang Hing Bu-bing, lalu memandang A Fei pula, katanya, “Meski Hing-siansing sudah mengetahui penguntitanmu, tapi sejauh itu tidak diungkapkannya, apakah kau tahu apa sebabnya?”

Sinar mata A Fei agaknya telah tertarik oleh Hing Bu-bing dan sejak tadi tidak tergeser lagi sedetik pun.

Siau-hun tertawa pula dan menyambung perlahan, “Sebab Hing-siansing justru lagi berharap akan kedatanganmu.”

Lalu ia berpaling kepada Hing Bu-bing dan bertanya dengan tertawa, “Hing-siansing, apa yang kukatakan tidak salah, bukan?”

Agaknya sinar mata Hing Bu-bing juga tertarik oleh A Fei dan juga tidak tergeser sama sekali.

Selang agak lama, kembali Liong Siau-hun tergelak dan berkata, “Sebabnya Hing-siansing mengharapkan kedatanganmu memang ada alasannya, yaitu lantaran dia ingin membunuhmu.”

“Dan bilamana seorang akan dibunuh Hing-siansing, biasanya dia tidak dapat hidup lama lagi,” tukas Liong Siau-in.

Baru sekarang sinar mata A Fei beralih kepada pedang Hing Bu-bing dan pandangan Hing Bu-bing juga berpindah kepada pedang yang terselip di pinggang A Fei.

Mungkin inilah dua pedang yang paling serupa di dunia ini.

Kedua pedang ini bukan senjata wasiat, bukan gemblengan pandai besi terkenal. Meski kedua pedang ini sama tajamnya, tapi terlalu tipis, terlalu getas, mudah patah.

Meski kedua pedang serupa, namun cara menyelipkan pedang di tali pinggang tidak sama.

Pedang A Fei terselip di tengah tali pinggang dengan tangkai pedang menyerong ke kanan. Sebaliknya pedang Hing Bu-bing terselip di kanan tali pinggang dengan tangkai pedang menyerong ke kiri.

Begitu sinar mata kedua orang menatap pedang lawan, segera mereka melangkah maju sambil tetap menatap pedang masing-masing. Ketika jarak keduanya tinggal lima kaki, serentak keduanya berhenti. Lalu keduanya berdiri tegak seperti terpaku di situ.

Baju Hing Bu-bing cekak dan berwarna kuning, lengan baju sempit, jari tangan panjang kecil, namun ruas jarinya menonjol menandakan sangat kuat.

Baju A Fei terlebih cekak, lengan bajunya hampir seluruhnya terobek, punggung tangan juga pipih dan panjang, tapi juga sangat kasar serupa ampelas.

Keduanya tidak suka berdandan, namun kuku jari keduanya sama pendek. Rupanya keduanya sama-sama tidak suka gerak tangan melolos pedang akan teralang.

Mungkin mereka adalah dua orang di dunia ini yang paling sama dan akhirnya keduanya bertemu di sini. Tapi kalau diamat-amati dengan teliti akan kelihatan meski lahiriah kedua orang serupa, namun pada dasarnya tidak sama.

Wajah Hing Bu-bing selalu kaku dingin serupa memakai topeng, tidak pernah ada sesuatu perubahan pada air mukanya.

Air muka A Fei juga kaku dingin, tapi sinar matanya setiap saat dapat membara, sekalipun jiwa raganya akan terbakar seluruhnya juga tak dihiraukannya.

Dia sanggup menunggu, bisa bersabar, tapi tidak tahan menerima cercaan apa pun dari siapa pun.

Sebaliknya Hing Bu-bing dapat membunuh orang hanya karena satu patah kata saja, bahkan membunuh orang hanya karena sesuatu alasan. Tapi bila perlu ia sanggup menahan cercaan dan penasaran apa pun.

Sifat kedua orang ini sangat istimewa, dan juga sangat menakutkan, Thian menciptakan dua orang yang aneh ini dan justru membuat mereka bertemu di sini.

Suasana hening tegang, meski pedang kedua orang masih tetap terselip diikat pinggang masing-masing dan belum tersentuh jari, namun Liong Siau-hun ayah beranak merasa sangat tegang hingga menahan napas.

Sekonyong-konyong sinar tajam gemerdep, berpuluh bintik sinar perak mendesing menyambar ke arah A Fei.

Ternyata Liong Siau-hun sudah mendahului turun tangan. Dengan sendirinya ia tidak menaruh harapan senjata rahasianya akan dapat merobohkan A Fei, tapi bila A Fei sedikit meleng saja, pedang Hing Bu-bing tentu dapat menembus tenggorokannya.

Mendadak terdengar suara berdering, berpuluh bintik tajam itu sama rontok ke tanah.

Pedang Hing Bu-bing telah bekerja, ujung pedang mendenging di samping telinga A Fei, segera tangan A Fei juga sudah memegang tangkai pedang, tapi belum lagi terlolos dari ikat pinggang.

Ternyata senjata rahasia telah dipukul rontok seluruhnya oleh pedang Hing Bu-bing.

Air muka Liong Siau-hun berubah pucat.

Hing Bu-bing dan A Fei tetap saling tatap tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan. Kemudian Bu-bing menyelipkan kembali pedangnya pada tali pinggangnya.

Tangan A Fei juga lantas diturunkan kembali ke bawah.

Entah berapa lama lagi, mendadak Bu-bing berkata, “Kau pun dapat melihat pedangku hanya kugunakan menjatuhkan senjata rahasia dan bukan untuk menyerang dirimu?”

“Ya,” jawab A Fei.

“Dan engkau masih tetap sangat tenang,” kata Bu-bing pula.

Pada waktu terjadi hujan senjata rahasia dan pedang Hing Bu-bing dilolos, segera A Fei juga siap menarik pedangnya, namun sama sekali tidak tampak gugup.

Tanpa menunggu jawaban A Fei segera Bu-bing menyambung lagi, “Namun reaksimu sudah terlambat.”

A Fei termenung hingga lama, sorot matanya menampilkan setitik perasaan pedih, akhirnya berkata, “Ya!”

“Mestinya dapat kubunuhmu,” kata Bu-bing pula.

Kembali A Fei mengiakan.

Sampai di sini Liong Siau-hun ayah beranak saling pandang sekejap, diam-diam mereka menghela napas lega.

“Tapi tidak kubunuhmu!” tiba-tiba Bu-bing menambahkan pula.

Seketika air muka Liong Siau-hun berdua berubah lagi.

A Fei menatap sinar mata Hing Bu-bing yang buram itu, sampai sekian lama baru berucap, “Engkau tidak membunuhku?”

“Ya, tidak kubunuh dirimu karena engkau ialah A Fei!” ucap Bu-bing.

Sinar matanya yang buram itu mendadak menampilkan lagi semacam perasaan penderitaan yang sukar dilukiskan, sinar mata ini bahkan jauh lebih menderita daripada sinar mata A Fei sekarang.

Ia memandang jauh ke sana, di kejauhan seperti berdiri satu orang. Seorang yang terpadu dari bidadari dan iblis.

Selang sekian lama pula barulah dia berkata lagi, “Jika aku menjadi dirimu, hari ini dapatlah kau bunuh aku.”

Ucapan ini mungkin A Fei pun tidak paham apa artinya, hanya Hing Bu-bing sendiri yang mengerti.

Maklumlah, siapa pun juga bila menjalani dua tahun kehidupan serupa A Fei, reaksinya pasti juga akan berubah lamban. Apalagi setiap malam dia selalu dibius orang.

Setiap jenis obat bius apa pun akibatnya dapat membuat reaksi orang menjadi lamban.

Hing Bu-bing tidak membunuh A Fei bukan lantaran timbul rasa simpatinya melainkan karena dia sangat memahami penderitaan A Fei, sebab ia pun mengalami penderitaan yang serupa dengan A Fei.

Ia menghendaki A Fei tetap hidup, bisa jadi karena ingin A Fei menderita bersama dia.

Biasanya seorang yang patah hati bilamana mengetahui ada orang lain juga mengalami nasib yang sama, maka rasa pedihnya akan banyak berkurang. Sama halnya jika seorang pejudi melihat orang lain kalah terlebih banyak daripadanya, maka hatinya akan terasa agak terhibur.

A Fei berdiri kaku di tempatnya, seperti lagi merenungkan apa yang diucapkan Bu-bing tadi.

“Boleh kau pergi saja,” kata Bu-bing.

Mendadak A Fei mengangkat kepala dan berkata tegas, “Aku tidak mau pergi.”

“Tidak pergi? Kau minta kubunuhmu?”

“Ya,” jawab A Fei.

Bu-bing berpikir agak lama, katanya kemudian, “Karena Li Sun-hoan?”

“Ya, selama aku masih hidup tidak boleh kubiarkan dia mati di tanganmu.”

Mendadak Liong Siau-in menyela, “Dan bagaimana dengan Lim Sian-ji? Masa kau tega membiarkan dia tersiksa bagimu?”

Hati A Fei serupa tertusuk jarum sekali, dada mendadak seperti kejang.

Bu-bing tidak memandangnya lagi, ia berpaling dan mendekati Liong Siau-hun, ucapnya sekata demi sekata, “Aku suka membunuh orang, suka kulakukan sendiri, kau tahu bukan?”

“Ya, kutahu,” jawab Siau-hun sambil menyengir.

“Sebaiknya kau tahu, kalau tidak, dirimu yang akan kubunuh,” tanpa memandang Liong Siau-hun lagi Bu-bing berpaling pula dan berkata, “Li Sun-hoan berada di mana, bawa aku ke sana!”

Diam-diam Liong Siau-in melirik A Fei sekejap dan berkata, “Tapi dia ….”

“Setiap saat dapat kubunuh dia!” jengek Bu-bing.

A Fei merasa lambungnya berkejang dan mengencang, mendadak ia tertumpah-tumpah, tapi tiada sesuatu yang tertumpah kecuali air asam. Maklumlah, selama dua hari pada hakikatnya dia tidak makan sesuatu.

“Hendaknya engkau berjanji pasti akan kembali, akan kutunggu selamanya ….” inilah ucapan orang yang dicintainya.

Demi ucapan ini, betapa pun dia tidak boleh mati. Akan tetapi bagaimana dengan Li Sun-hoan?

Li Sun-hoan bukan cuma sahabatnya yang paling baik, juga orang yang berpribadi paling luhur yang pernah dijumpainya selama hidup ini. Dapatkah dia berdiri di sini dan menyaksikan orang lain membunuhnya?

Ia terus tumpah, akhirnya yang tertumpah adalah darah ….

*****

Pada hakikatnya Li Sun-hoan tidak tahu dirinya berada di mana, ia pun tidak ingin tahu, juga tidak dapat dibedakannya sekarang siang atau malam.

Bahkan ia pun tidak dapat bergerak sama sekali, sebab Hiat-to pada ruas tulang tertentu sudah tertutuk seluruhnya.

Tidak ada makanan, juga tidak ada air minum. Sudah belasan hari dia terkurung di sini.

Dalam keadaan demikian, sekalipun Hiat-to tidak tertutuk, lapar dan dahaga sudah cukup menyusutkan kekuatannya.

Pada saat begitulah Hing Bu-bing muncul dan memandangnya dengan dingin.

Sun-hoan meringkuk di pojokan serupa sebuah karung kosong.

Ruangan bawah tanah sangat gelap, tidak tertampak jelas air mukanya, hanya samar-samar kelihatan bajunya yang dekil dan compang-camping dan keadaannya yang kurus dan lemas serta sorot matanya yang penuh rasa duka dan putus asa.

“Inikah Li Sun-hoan?” mendadak Hing Bu-bing bersuara.

“Ya,” jawab Liong Siau-hun.

Hing Bu-bing seperti merasa kecewa, juga seperti tidak percaya, ia coba menegas lagi, “Inikah Li-tamhoa yang termasyhur itu?”

Siau-in tertawa dan menyela, “Biarpun ia singa jantan atau harimau garang, bila kelaparan belasan hari juga akan berubah menjadi begini.”

(Cerita silat ini terhenti di sini. Saya kesulitan mencari sumber lanjutannya. Ada yang mau membantu?)

About these ads

2 Comments »

  1. Wah, sayang banget gantung yah…klo sdah ada segera di posting yah…asli…gantung banget…

    Comment by Julian cheng — 03/04/2010 @ 7:00 am

  2. Pdkr Bdmn ini sama plek dg ‘Pisau Terbang Li’..
    Mungkin krn itu tak dilanjut..
    Sebaiknya sih di hapus aja biar gak dobel posting
    Bgmn tanggapan Anda, locianpwe Admin?

    Comment by Part D Anderson — 02/10/2010 @ 6:33 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: