Kumpulan Cerita Silat

07/11/2007

Pendekar Budiman: Bagian 09

Filed under: Gu Long, Pendekar Budiman — Tags: — ceritasilat @ 10:38 pm

Pendekar Budiman: Bagian 09
Oleh Gu Long

Sim-bi Taysu tampak gelisah. “Sekarang bukan waktunya sok gagah, tenagamu belum pulih, engkau pasti bukan tandingan Ngo-tok-tongcu, apabila dia datang, tentu kau ….”

Mendadak terdengar kuda penarik kereta meringkik kaget, si kusir juga menjerit, kereta terus menerjang ke samping dan “blang”, menumbuk pohon di tepi jalan.

Sim-bi Taysu juga terbentur dinding kereta, serunya dengan parau, “Mengapa tidak lekas pergi? Apakah hendak kau tolong diriku?”

Sun-hoan tertawa hambar, “Jika kau dapat menolongku, mengapa tidak dapat kutolong dirimu?”

“Namun … namun aku toh pasti akan mati, cepat atau lambat tetap mati,” ujar Sim-bi Taysu.

“Tapi sekarang engkau kan belum mati?” kata Sun-hoan sambil melolos sebilah pisau dari baju Dian Jit.

Sebilah pisau kecil yang enteng dan tipis, itulah pisau terbang si Li.

Tersembul senyuman pada ujung mulut Li Sun-hoan.

Kereta telah ambruk, roda kereta masih terus berputar pada sumbunya dan mengeluarkan serentetan suara keriang-keriut yang tidak enak didengar.

“Sumbu kereta seharusnya diberi minyak ….” gumam Sun-hoan.

Dalam keadaan dan di tempat begini dia bicara tentang sumbu kereta yang perlu diberi minyak segala, Sim-bi Taysu merasa orang ini sungguh sangat aneh dan sukar dimengerti.

Sun-hoan lantas memayang Sim-bi keluar kereta, angin dingin mengusap wajah mereka, rasanya seperti disayat pisau.

“Mestinya tidak perlu kau lakukan hal ini, lekas … lekas kau pergi saja,” ujar Sim-bi dengan terharu.

Tapi Sun-hoan lantas duduk bersandar kabin kereta yang miring itu, udara gelap, tanpa bulan tiada bintang, bumi raya ini sunyi senyap, hanya suara keresek daun kering yang tertiup angin.

Sedapatnya Sim-bi memandang sekelilingnya, namun tidak tampak bayangan seorang pun.

Didengarnya Sun-hoan berseru lantang, “Kek-lok-tongcu, apakah engkau sudah datang?”

Angin mendesir-desir, namun tidak terdengar suara manusia.

“Jika engkau tidak datang, biarlah aku pergi saja,” ucap Sun-hoan pula. Segera ia menarik bangun Sim-bi Taysu dengan setengah memayang dan setengah menyeret.

“Hendak – hendak ke mana kau?” tanya Sim-bi.

“Ke mana lagi? Dengan sendirinya Siau-lim-si,” jawab Sun-hoan.

“Siau-lim-si?” Sim-bi menegas dengan melengak.

“Kita menempuh perjalanan ini dengan mati-matian, bukankah tujuan kita adalah mencapai Siau-lim-si?” kata Sun-hoan.

“Tapi … tapi sekarang engkau tidak perlu lagi ke sana,” ujar Sim-bi dengan napas tersengal.

“Tidak, sekarang justru aku harus ke sana,” kata Sun-hoan.

“Sebab apa?”

“Sebab hanya Siau-lim-si saja mungkin ada obat penawar yang dapat menyelamatkan dirimu?”

“Mengapa … mengapa engkau menolong diriku? Padahal aku kan musuhmu?”

“Kutolong kau, sebab apa pun juga engkau tetap seorang manusia,” jawab Sun-hoan.

Kata Sim-bi kemudian, “Apabila benar dapat mencapai Siau-lim-si, pasti akan kubuktikan bahwa engkau tidak bersalah, sekarang pun sudah dapat kupastikan engkau bukan Bwe-hoa-cat.”

Sun-hoan hanya tersenyum saja tanpa bicara.

“Cuma sayang, jika kau bawa diriku, maka selamanya tak dapat mencapai Siau-lim-si, meski sekarang Ngo-tok-tongcu belum muncul, tapi dia pasti tidak tinggal diam.”

Sun-hoan hanya batuk perlahan tanpa menjawab.

Sim-bi berkata pula, “Dengan Ginkangmu mungkin masih ada harapan bila kau lari sendirian, untuk apa perlu kubikin susah padamu. Cukup ada maksud baikmu, mati pun aku tidak menyesal lagi.”

Mendadak terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Hehehe, Hwesio Siau-lim-si yang alim ternyata berkawan dengan Li-tamhoa yang ahli foya-foya, sungguh berita terbesar dan menarik.”

Juara tertawanya seperti sangat jauh, tapi mendadak lantas mendekat dan entah berkumandang dari jurusan mana.

Tubuh Sim-bi lantas mengejang, desisnya, “Ngo-tok-tongcu!”

“Hehehe, pangsit yang kubuat itu cukup sedap bukan?” suara tadi berkata pula.

Sun-hoan tersenyum, “Jika ada maksudmu hendak merenggut jiwaku, mengapa sejauh ini engkau tidak berani perlihatkan dirimu?”

“Tanpa memperlihatkan diri juga dapat kucabut nyawamu,” kata Ngo-tok-tongcu dari tempat tak terlihat.

“Oo, apa betul?” ucap Sun-hoan.

“Kau tahu, sampai malam ini, orang yang mati di tanganku sudah ada 392, satu pun tidak pernah melihat diriku, bahkan bayanganku saja tidak pernah dilihatnya.”

“Ya, sudah lama kudengar Anda ini seorang kerdil, bermuka buruk seperti setan sehingga malu bertemu dengan orang, tak tersangka berita dalam dunia Kangouw memang tidak salah.”

Suara tertawa yang mengambang dan sebentar jauh dan sebentar jauh itu mendadak berhenti.

Sejenak kemudian barulah terdengar suara Ngo-tok-tongcu berkata pula, “Hm, jika kubiarkan kau mati lewat fajar, anggaplah aku berdosa padamu.”

“Tapi jelas diriku takkan mati biarpun fajar sudah datang, adapun Anda sendiri sukar untuk diramalkan,” jawab Sun-hoan dengan gelak tertawa.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar bunyi sempritan yang aneh.

Di atas tanah salju mendadak muncul bayangan hitam yang merayap-rayap dalam jumlah yang sukar dihitung, ada besar, ada kecil, ada yang panjang, ada pendek, dalam kegelapan sukar diketahui benda apa, hanya terendus bau amis yang menusuk hidung.

“Hah, sekali Ngo-tok (lima racun) muncul, manusia pun berubah menjadi tulang …. Sekarang engkau tidak lekas pergi, memangnya mau tunggu kapan lagi?” seru Sim-bi dengan khawatir.

Tapi Li Sun-hoan seperti tidak tahu apa yang diucapkannya, dengan suara lantang ia berkata, “Konon makhluk berbisa Kek-lok-tong berjumlah ribuan jenisnya, mengapa sekarang hanya beberapa ekor ulat kecil ini saja yang terlihat, apakah makhluk berbisa yang lain sudah mati ludes?”

Suara sempritan tadi semakin keras, bayangan kecil yang merayap-rayap di tanah salju itu sudah mengepung rapat Sim-bi dan Sun-hoan, ada beberapa ekor di antaranya sudah berada di samping kaki mereka.

Ngeri dan muak Sim-bi sehingga hampir saja tumpah.

Pada saat itulah baru terdengar Ngo-tok-tongcu bersuara dengan tertawa terkekeh, “Ular berbisa ini adalah basil persilangan dari tujuh jenis makhluk berbisa pemakan daging dan darah, apabila kulit daging kalian sudah menjadi isi perut mereka, tentu takkan kau anggap jumlah mereka terlalu sedikit.”

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong sinar pisau berkelebat.

Itulah pisau kilat si Li yang tidak pernah meleset.

Hampir saja Sim-bi Taysu berteriak kaget. Ia tahu pisau yang dipegang Li Sun-hoan merupakan satu-satunya harapan, sekarang Sun-hoan menyambitkan pisaunya begitu saja, padahal bayangan musuh saja belum kelihatan. Dan kalau pisau ini tidak kena sasarannya berarti tubuh mereka akan menjadi isi perut kawanan makhluk berbisa itu.

Pertaruhan ini sungguh sangat berbahaya, kesempatan untuk menang sangat kecil. Tak pernah terpikir oleh Sim-bi bahwa Li Sun-hoan bisa bertindak gegabah begini.

Tapi pada saat itu juga, begitu sinar pisau berkelebat lenyap dalam kegelapan, seketika berjangkit suara jeritan ngeri yang singkat dan menusuk telinga. Menyusul itu seorang lantas berlari keluar dari kegelapan dengan langkah sempoyongan.

Perawakan orang ini pendek kecil seperti anak sepuluh tahun, badan telanjang, hanya mengenakan sepotong kain serupa gaun pendek sehingga kelihatan kakinya yang kecil, di bawah hujan salju begini tampaknya dia tidak kedinginan sedikit pun. Kepalanya juga sangat kecil, namun sorot matanya terang.

Dengan pandangan yang penuh rasa kaget, takut, juga benci dan dendam lagi menatap Li Sun-hoan, tampaknya seperti mau bicara apa-apa, tapi hanya keluar suara “krak-krok” dari kerongkongan tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Baru sekarang Sim-bi melihat pisau tadi menancap di tenggorokan si kerdil, tepat menancap di tenggorokannya. Pisau kilat si Li memang betul tidak pernah meleset.

Mungkin karena saluran napasnya teralang oleh pisau, Ngo-tok-tongcu tidak tahan, ia cabut pisau itu. Tapi begitu pisau tertarik, terembuslah napasnya disertai muncratnya darah segar.

Pada saat itu, kawanan makhluk berbisa tadi sudah ada yang mulai merayap ke atas kaki Li Sun-hoan. Namun Sun-hoan tidak bergerak sama sekali. Sim-bi Taysu juga tidak berani bergerak sedikit pun. Ia merasa tubuh sendiri mulai lemas dan hampir-hampir tidak sanggup berdiri lagi.

Meski pisau terbang si Li tiada bandingannya di dunia ini, agaknya nasib mereka tetap tak terhindar menjadi isi perut kawanan binatang melata itu.

Tak terduga setelah pisau tercabut dari tenggorokannya, segera Ngo-tok-tongcu meraung murka dengan darah berhamburan, serentak kawanan makhluk berbisa itu merayap ke sana dengan cepat, semuanya merambat dan menggigit leher Ngo-tok-tongcu yang memancurkan darah itu.

Terdengar suara “srat-sret” yang ramai, dalam sekejap saja si kerdil sudah berubah menjadi seonggok tulang. Tapi setelah kawanan ular itu kenyang mengganyang darah daging Ngo-tok-tongcu, perut menjadi kembung, lalu menggeletak tak bergerak lagi.

Ngo-tok-tongcu terkenal sebagai ahli racun, akhirnya dia mati akibat racun sendiri. Pemandangan ngeri ini sungguh membuat orang tidak tega melihatnya.

Sim-bi Taysu memejamkan mata dan diam-diam membaca doa. Selang agak lama barulah ia menghela napas dan membuka mata, katanya dengan gegetun, “Li-sicu, bukan cuma pisaumu tidak ada tandingannya di dunia, ketenanganmu juga tiada bandingannya.”

Sun-hoan tertawa, jawabnya, “Terima kasih. Aku cuma sudah memperhitungkan bilamana makhluk berbisa ini mencium bau anyir darah tentu segera akan pergi. Padahal dalam hati aku pun sangat takut.”

“Masa Li-sicu juga merasa takut!”

“Kecuali orang mati, di dunia ini tidak ada manusia yang tidak kenal takut!” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

“Menghadapi bahaya tidak menjadi bingung, meski takut tapi tidak panik, ketenangan Li sicu sungguh kukagumi dengan lahir batin ….” makin lemah suara Sim-bi Taysu dan akhirnya ia pun roboh terkulai.

Sementara itu fajar sudah menyingsing.

Li Sun-hoan berduduk di samping Sim-bi Taysu, yang belum sadar, agaknya tertidur.

Ia kubur tulang belulang Ngo-tok-tongcu bersama kawanan makhluk berbisa itu, lalu meneruskan perjalanan dengan membawa Sim-bi Taysu, tidak jauh ia rampai di suatu kota kecil dan menyewa sebuah kereta keledai.

Keras sekali guncangan kereta itu, namun Sun-hoan dapat tidur dengan nyenyak. Maklumlah, dia benar-benar kehabisan tenaga, sangat letih. Setelah minum dua mangkuk minuman kacang hijau, tidak ada urusan lain di dunia ini yang dapat lagi mencegahnya tidak tidur.

Entah selang berapa lama lagi, mendadak kereta keledai berhenti.

Hampir pada saat yang nama Sun-hoan juga mendusin, cepat ia menyingkap tirai kereta, angin yang mengusap wajahnya seketika membangkitkan semangatnya.

Didengarnya si kusir lagi berseru, “Sudah tiba di Siong-san kereta tidak dapat naik ke atas gunung, terpaksa silakan Toaya (tuan) berjalan kaki saja.”

Waktu Sun-hoan menyewa kereta keledai itu, si kusir diseret bangun dari kolong selimutnya oleh sang istri, malahan istrinya mendesak pula agar menerima persewaan ini, dengan sendirinya kusir ini berangkat dengan ogah-ogahan.

Maklumlah, uang sewa langsung disikat oleh istrinya, ia berangkat dengan saku kosong, kalau saja tidak ada penumpang Hwesio dalam keretanya, mungkin keretanya sudah mogok di tengah jalan.

Perlu diketahui, Siau-lim-si adalah biara yang termasyhur, penduduk beberapa wilayah kabupaten di seputar Siong-san biasanya sangat menghormati kaum Hwesio.

Begitulah Li Sun-hoan lantai memondong Sim-bi turun dari kereta keledai itu, mendadak ia beri setahil perak kepada si kusir, katanya dengan tertawa, “Inilah sekadar persen untuk minum arak, kutahu orang yang sudah beristri kalau tidak menyimpan sendiri sedikit uang jajan, biasanya dia pasti akan hidup susah.”

Girang si kusir tak terkatakan, tapi sebelum dia sempat mengucapkan terima kasih, tahu-tahu Sun-hoan sudah melangkah pergi dengan cepat.

Salju memenuhi lereng gunung, tidak ada seorang peziarah pun.

Dengan Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi, Li Sun-hoan terus berlari ke atas gunung.

Dekat kaki gunung ada sebuah biara kecil, di sinilah biasanya peziarah mendapat petunjuk seperlunya sebelum mendak ke atas. Beberapa Hwesio Siau-lim berjubah kelabu dan berkaus kaki putih sedang menghangatkan badan di samping perapian di tengah biara itu. Dua Hwesio lain bersembunyi di balik daun pintu dan sedang mengintai ke luar.

Ketika terlihat ada orang naik ke atas dengan Ginkang yang tinggi, cepat kedua Hwesio pengintai itu memapak keluar dan menegur, “Sicu datang dari mana? Apakah ….”

Salah seorang Hwesio itu melihat Sun-hoan memanggul seorang Hwesio, cepat ia pun bertanya, “Yang dipanggul Sicu itu apakah anak murid Siau-lim?”

Sun-hoan memperlambat larinya, setiba di depan kedua Hwesio ini, mendadak ia meloncat tinggi ke atas dan melayang lewat di atas kepala mereka, dan begitu kaki menyentuh tanah, segera orangnya melayang lagi lebih jauh.

Di jalan pegunungan yang licin tertimbun salju dia dapat menggunakan Ginkang tinggi gaya “capung menyentuh air”, biarpun Hwesio Siau-lim-si yang biasanya meremehkan orang lain juga sama terkesiap oleh kehebatan Li Sun-hoan.

Waktu Hwesio yang berada di dalam biara memburu keluar, sementara itu Sun-hoan sudah pergi jauh.

Siong-san bukan tempat asing bagi Li Sun-hoan, dia tidak mengambil jalan depan, tapi mendaki melalui jalan kecil di belakang gunung. Walaupun begitu diperlukan waktu hampir satu jam baru dapat terlihat bangunan biara Siau-lim yang megah itu dari kejauhan.

Siau-lim-si didirikan oleh Budhi Dharma pada zaman kaisar Liang-bu-te (502-557), turun-temurun biara ini dipuja sebagai pimpinan dunia persilatan di daerah Tionggoan (Tiongkok tengah).

Dipandang dari jauh, deretan istana biara yang megah dan tinggi menjulang di tengah aman, entah berjumlah berapa buah, sungguh bangunan besar yang jarang ada bandingannya.

Sun-hoan datang dari belakang gunung, dilihatnya di tanah datar sana penuh berderet candi yang tak terhitung banyaknya, ia tahu inilah tempat pemakaman para pimpinan Siau-lim-si selama beberapa abad. Barang siapa berada di sini tentu akan timbul semacam perasaan hampa, perawan jauh berpisah dengan dunia ramai, apalagi bagi Li Sun-hoan yang sudah bosan dan letih kepada nama dan kedudukan.

Tiba-tiba ia terbatuk-bentuk lagi.

Mendadak seorang menegur dengan suara bengis, “Sicu sembarangan melanggar daerah terlarang Siau-lim-si, sungguh Sicu terlalu meremehkan peraturan di sini.”

Dengan suara lantang Sun-hoan menjawab, “Sim-bi Taysu terluka, khusus kuantar beliau pulang ke sini, mohon Hongtiang (ketua) kalian sudi menerima kunjunganku.”

Di tengah teriakan kaget, berbondong-bondong Hwesio Siau-lim-si sama menampakkan diri dan memberi hormat, “Terima kasih atas budi kebaikan Sicu, mohon tanya nama Sicu yang mulia.”

“Cayhe Li Sun-hoan,” jawab Sun-hoan dengan lega.

*****

Di dalam Siau-lim-si, di sebuah ruangan yang resik dan tenang di bawah rimbunnya pohon bambu, dipandang dari luar jendela, terlihat dua orang sedang main catur.

Yang duduk di sebelah kanan adalah seorang Hwesio tua berwajah aneh, sikapnya yang tenang dan pendiam itu seakan-akan gunung ambruk pun takkan membuatnya kaget.

Di sebelah kiri adalah seorang kakek kurus pendek kecil, namun sinar matanya mencorong terang, hidungnya besar bengkok serupa paruh elang sehingga membuat orang melupakan tubuhnya yang pendek kecil itu melainkan cuma merasakan perbawa dan daya pengaruhnya yang kuat.

Di dunia ini yang dapat duduk berhadapan dan main catur dengan Sim-oh Taysu yang menjabat ketua Siau-lim-si ini, kecuali “Pek-hiau-sing” ini mungkin hanya beberapa orang lagi yang dapat dihitung dengan jari.

Dan pada waktu kedua orang asyik main catur, mungkin tidak ada persoalan apa pun yang dapat menghentikan permainan mereka. Tapi ketika diberi lapor tentang kedatangan Li Sun-hoan, serentak mereka berhenti dan berbangkit.

“Di mana dia sekarang?” tanya Sim-oh Taysu.

“Berada di kamar Jisusiok,” jawab Hwesio pelapor.

“Dan bagaimana keadaan Jisusiokmu?” tanya Sim-oh pula.

“Luka Jisusiok tampaknya tidak lemah, Sisusiok dan Jitsusiok sedang memeriksa luka beliau.”

*****

Saat itu Li Sun-hoan berdiri di serambi dan sedang memandang kemegahan bangunan biara yang agung itu, sayup-sayup terdengar suara kawanan Hwesio yang asyik membaca doa sehingga menambah suasana khidmat dalam biara agung ini.

Dia sudah merasakan ada orang datang, namun dia tidak berpaling, berada di tempat yang keramat ini, dia merasa tiada sesuatu yang perlu merisaukannya.

Sim-oh dan Pek-hiau-sing berhenti belasan kaki jauhnya dari tempat berdiri Li Sun-hoan, meski sudah lama Sim-oh mendengar nama “Li-tamhoa”, tapi baru sekarang dapat melihatnya. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa orang yang kelihatan kemalas-malasan, agak kurus dan pendiam serupa seorang seniman rudin ini adalah pendekar dan petualang yang termasyhur di dunia itu.

Dia mengamat-amati Li Sun-hoan dari atas sampai ke bawah, tiada satu tempat pun dilewatkannya, lebih-lebih kedua tangannya yang kurus panjang itu.

Sungguh sukar dimengerti, kedua tangan ini ada kekuatan gaib apa? Mengapa sebilah pisau biasa bila berada di tangan kurus panjang ini akan segera berubah menjadi pisau ajaib dan sakti?

Sepuluh tahun yang lalu Pek-hiau-sing sudah pernah melihat Li Sun-hoan, ia merasa selama ini tiada banyak berubah pada diri petualang ini, tapi juga seperti banyak berubah.

Mungkin orangnya memang tidak banyak berubah, yang berubah cuma hatinya. Sun-hoan seperti berubah lebih pendiam, lebih malas dan juga lebih kesepian. Biarpun berada bersama orang banyak, dia tetap seperti menyendiri.

Akhirnya Pek-hiau-sing menegur dengan tertawa, “Selamat bertemu lagi, Li-tamhoa, baik-baikkah selama berpisah?”

Sun-hoan menjawab dengan tertawa, “Tak tersangka Siansing masih kenal diriku.”

Sim-oh memberi hormat dan berucap, “Dan entah Li-tamhoa kenal padri tua tidak?”

Sun-hoan menjura dan menjawab, “Nama Taysu termasyhur dan diagungkan, sudah lama Wanpwe sangat kagum dan menyesal tidak dapat berkenalan. Sungguh beruntung sekali hari ini dapatlah melihat Taysu.”

“Li-tamhoa jangan rendah hati,” ujar Sim-oh Taysu, “Atas pertolonganmu sehingga Jisute dapat diantar pulang kemari, di sini kusampaikan rasa terima kasihku.”

“Ah, tak berani,” sahut Sun-hoan.

“Biar kujenguk dulu keadaan Sute, segera kutemani bicara lagi dengan Li-sicu,” kata Sim-oh sambil memberi hormat pula.

Setelah Sim-oh masuk ke kamar, tiba-tiba Pek-hiau-sing tertawa dan berkata, “Kesabaran orang beragama memang lain daripada orang biasa, jika aku, mungkin takkan banyak adat begini terhadap Anda.”

“Oo?!” Sun-hoan melenggong.

“Coba, jika ada orang mencelakai Sutemu dan dapatkah engkau bersikap seramah ini kepadanya?”

“Masa Anda menganggap akulah yang melukai Sim-bi Taysu?” tanya Sun-hoan.

Pek-hiau-sing menengadah dengan bersedekap, ucapnya dengan perlahan, “Kecuali Li-tamhoa, siapa pula yang mampu melukai dia?”

“Jika kulukai dia, kenapa kuantar dia pulang ke Siau-lim-si?”

“Justru di sinilah letak kecerdikan Anda,” kata Pek-hiau-sing. “Sebab barang siapa memusuhi tokoh Siau-lim-si, selanjutnya mungkin tidak dapat lagi hidup tenteram, sekian ribu anak murid Siau-lim-si cabang utara dan selatan pasti takkan tinggal diam, kekuatan ini tidak berani diremehkan oleh siapa pun.”

“Memang betul ucapanmu,” kata Sun-hoan.

“Tapi setelah kau antar pulang Sim-bi Suheng ke sini, orang lain tentu takkan mencurigai dirimu yang melukai dia, juga tidak ada yang menyangsikan engkau adalah Bwe-hoa-cat. Malahan anak murid Siau-lim akan berterima kasih padamu, caramu ini sungguh sangat pintar, sampai aku pun sangat kagum.”

Sun-hoan tertawa, “Haha, Pek-hiau-sing ternyata benar serbatahu dan serbapaham, pantas setiap perguruan besar dan aliran di dunia Kangouw sama ingin berkawan denganmu, sebab manfaat yang dapat dipetik darimu ternyata tidak sedikit.”

Sama sekali Pek-hiau-sing tidak memusingkan ejekan Sun-hoan, ia malah berkata, “Yang kukemukakan hanya kebenaran dan keadilan saja.”

“Cuma sayang Anda melupakan sesuatu,” sambung Sun-hoan, “Sim-bi Taysu belum lagi meninggal, dia sendiri tentu tahu siapa yang melukainya, tatkala mana bukankah Anda terpaksa harus menelan kembali ucapanmu ini?”

Pek-hiau-sing menghela napas, katanya, “Jika tidak meleset dugaanku, kesempatan Sim-bi Suheng untuk bisa bicara mungkin tidak banyak lagi.”

Pada saat itulah mendadak terdengar Sim-oh Taysu membentak dengan bengis” “Memangnya siapa yang melukai Suteku jika bukan dirimu?”

Entah sejak kapan padri agung ini ternyata sudah keluar, mukanya tampak dingin.

“Masa Taysu tidak dapat melihat siapa yang turun tangan keji terhadap Sim-bi Taysu?” jawab Sun-hoan.

Sim-oh tidak menjawab, ia berpaling dan berseru, “Jitsute!”

Jitsute atau adik perguruan ketujuh yang dimaksudkan ialah Sim-kam Taysu.

Setiap orang Kangouw tahu Siau-lim-si adalah perguruan ternama yang tergolong suci, yang diutamakan adalah ilmu pukulan atau kekuatan luar, dengan sendirinya tidak pernah menggunakan Am-gi atau senjata rahasia serta racun segala. Hanya Sim-kam Taysu ini menjadi Hwesio setelah usia setengah tua, dia masuk perguruan Siau-lim dengan membawa dasar ilmu silat yang sudah cukup kuat. Sebelumnya orang kenal dia berjuluk “Jit-giau-susing” atau si pelajar serbapintar, disegani sebagai seorang ahli racun.

Maka muncullah Sim-kam Taysu yang bermuka pucat kuning, serupa orang yang selalu berpenyakitan sepanjang tahun, namun kedua matanya bersinar tajam, seperti kilat ia menyapu pandang sekejap ke arah Li Sun-hoan, lalu berucap, “Racun yang mengenai Jisuheng adalah racun khas Ngo-tok-tongcu dari daerah Miau, racun ini tidak berwarna dan tidak berbau, orang yang keracunan kalau tidak mendapatkan obat penawar tepat pada waktunya, kulit daging seluruh tubuh akan berubah menjadi bening seakan-akan tembus pandang. Dalam keadaan begitu berarti racun sudah menyebar dan tak tertolong lagi.”

Sun-hoan tertawa dan berkata, “Taysu sungguh berpengetahuan sangat luas.”

Sim-kam Taysu mendengus, “Aku cuma tahu racun yang mengenai Jisuheng, tapi siapa yang meracuni dia tidak kuketahui.”

“Keterangan yang baik,” tukas Pek-hiau-sing. “Racun bukan makhluk hidup.”

Sim-kam Taysu bertutur pula, “Meski tindak tanduk Ngo-tok-tongcu sangat kejam, tapi biasanya dia memegang teguh suatu prinsip, yaitu asalkan orang tidak mengganggu dia, maka dia juga takkan mengganggu orang. Perguruan kita tidak pernah ada sengketa apa pun dengan dia, untuk apa jauh-jauh dia datang ke sini untuk mencelakai Jisuheng?”

“Hal ini disebabkan sasarannya bukanlah Sim-bi Taysu melainkan diriku,” ujar Sun-hoan dengan menyesal.

“Keteranganmu terlebih bagus lagi,” ujar Pek-hiau-sing. “Bahwa yang hendak dicelakai dia ialah dirimu, tapi sekarang engkau masih berdiri sehat walafiat di sini, Sim-bi Suheng bukan sasarannya, tapi malah kena racunnya.”

Ia tatap Sun-hoan tajam-tajam, lalu menyambung sekata demi sekata, “Bilamana dapat kau kemukakan lagi dalih yang tepat, sungguh kukagum padamu.”

Sun-hoan termenung hingga lama, tiba-tiba ia tertawa, katanya, “Tak dapat kukatakan apa-apa lagi, sebab apa pun juga yang kukatakan toh belum pasti akan dipercaya oleh kalian.”

“Uraian Anda ini sungguh sukar untuk dapat dipercaya,” ujar Pek-hiau-sing, tokoh Kangouw yang dianggap sebagai serbatahu serupa ensiklopedia hidup.

“Meski tak dapat kukatakan apa-apa, tapi masih ada orang yang dapat bicara,” kata Sun-hoan pula.

“Siapa?” tanya Sim-oh Taysu.

“Sim-bi Taysu, kenapa kalian tidak menanyai dia bilamana sudah siuman nanti.”

Sim-oh memandangnya dengan tajam dan tampak ragu.

Angin mendesir dingin, tiba-tiba serombongan burung gagak yang biasa hinggap di wuwungan sama terbang terkejut, menyusul dari belakang sana bergema suara genta yang nyaring dan juga memilukan.

Sampai suara genta pun seolah-olah ikut berdukacita atas wafatnya Sim-bi Taysu.

Untuk pertama kalinya Sun-hoan merasakan dinginnya udara, akhirnya ia tidak tahan dan terbatuk-batuk, sukar dilukiskan perasaannya, entah murka, menyesal atau susah?

Setelah terbatuk-batuk, dilihatnya beberapa puluh Hwesio berjubah kelabu satu per satu masuk dari pintu bulat sana, air muka semuanya kaku dingin, semuanya, bungkam, semuanya menatap tajam ke arah Sun-hoan, namun sama tutup mulut dengan rapat. Suara genta juga sudah berhenti, segala macam suara seakan-akan membeku oleh hawa dingin, hanya suara langkah kaki yang menyaruk salju menimbulkan suara “srak-srek”.

Waktu suara orang melangkah itu pun berhenti, sekujur badan Li Sun-hoan seolah-olah beku juga di dalam lapisan es yang tebal.

Biara yang agung dan khidmat ini mendadak penuh diliputi suasana pembunuhan.

“Apa yang hendak kau katakan lagi?” tanya Sim-oh dengan suara serak.

Sun-hoan termenung agak lama, ia menghela napas panjang, lalu berucap, “Tidak ada lagi.”

Kalau ucapannya toh tidak ada gunanya, kan lebih baik tidak bicara saja.

“Mestinya jangan kau datang ke sini,” ujar Pek-hiau-sing.

Tiba-tiba Sun-hoan tertawa, katanya, “Mungkin aku memang tidak perlu datang, tapi kalau sang waktu dapat diputar balik lagi, aku tetap akan datang kemari.”

Setelah menghela napas, dengan tak acuh ia menyambung pula, “Meski selama hidupku tidak sedikit orang yang kubunuh, tapi tidak pernah meninggalkan orang sekarat yang perlu ditolong.”

“Sampai di sini, kau masih juga menyangkal?” bentak Sim-oh.

Sun-hoan tertawa, katanya, “Orang beragama tidak boleh sembarangan naik pitam, konon Taysu seorang padri saleh, mengapa juga pemberang seperti diriku.”

“Sudah begini, masih juga kau putar lidah, jelas sama sekali tidak ada rasa penyesalanmu, tampaknya hari ini terpaksa aku harus melanggar pantangan membunuh,” bentak Sim-kam Taysu dengan gusar.

Sun-hoan tertawa, katanya, “Silakan saja bertindak, toh Hwesio yang suka membunuh juga tidak cuma engkau sendiri.”

“Kubunuh orang demi menuntut balas dan juga menumpas kejahatan sekaligus,” teriak Sim-kam Taysu.

Baru saja dia hendak bertindak, tiba-tiba terlihat sinar pisau berkelebat, entah sejak kapan tangan Sun-hoan sudah bertambah dengan sebilah pisau. Pisau kilat si Li?

“Kuharap janganlah engkau sembarangan bergerak,” demikian Sun-hoan menjengek. “Sebab engkau jelas bukan tandinganku.”

Seketika Sim-kam seperti terpaku di tempatnya dan tidak dapat bergerak lagi, sebab ia tahu asalkan bergerak maju sedikit saja, segera pisau kilat itu akan menembus lehernya.

“Masa kau masih berani melawan?” damprat Sim-oh.

“Hidup ini meski susah, sayang ajalku belum waktunya,” jawab Sun-hoan.

Pek-hiau-sing ikut bicara, “Meski pisau kilat si Li tidak pernah meleset, tapi ada berapakah pisaumu dan dapat membunuh berapa orang sekaligus?”

Sun-hoan tertawa tanpa menanggapi, sebab ia tahu pada saat demikian tidak bicara akan jauh lebih baik daripada bicara.

Pandangan Sim-oh Taysu tidak pernah terlepas dari tangan Li Sun-hoan, katanya tiba-tiba, “Baik, biarlah kucoba belajar kenal dengan pisau saktimu!”

Dia mengebaskan lengan jubahnya dan melangkah maju.

Tapi Pek-hiau-sing lantai menariknya dan mendesis, “Suheng jangan turun tangan sendiri.”

“Sebab apa?” tanya Sim-oh dengan kening bekernyit.

Pek-hiau-sing menghela napas, katanya, “Tiada seorang pun di dunia ini yakin dapat menghindarkan pisaunya.”

“Tidak ada yang mampu menghindar?” Sim-oh menegas.

“Ya, tidak ada, seorang pun tidak,” ujar Pek-hiau-sing.

Sim-oh menghela napas panjang dan menyitir ucapan Buddha, “Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang mau masuk neraka ….”

Cepat Sim-kam mencegah juga, “Suheng, padamu terletak keselamatan segenap anggota perguruan kita, mana boleh engkau menyerempet bahaya.”

“Betul, kalian memang tidak perlu menyerempet bahaya,” kata Sun-hoan dengan tertawa, “Toh jumlah murid Siau-lim-si beribu banyaknya, asalkan kalian memberi perintah, yang siap mengantar kematian bagi kalian pasti tidak sedikit jumlahnya.”

Air muka Sim-oh berubah, ucapnya dengan beringas, “Dengarkan, tanpa izinku setiap anak murid Siau-lim dilarang sembarangan bertindak, kalau melanggar perintah akan dihukum sesuai tata tertib perguruan ….”

Serentak para murid Siau-lim-si yang hadir sama menunduk.

Dengan tersenyum Sun-hoan berkata pula, “Memang sudah kuduga engkau pasti tidak mau membiarkan murid sendiri mengantar nyawa percuma, betapa pun Siau-lim-si tidak sama dengan perkumpulan atau sindikat dunia Kangouw, kalau tidak, mana tipu pancinganku ini bisa berhasil.”

Tiba-tiba Pek-hiau-sing menjengek, “Meski para Suheng Siau-lim tidak perlu mengadu jiwa dengan orang macam dirimu ini, tapi apakah kau pikir dapat angkat kaki begitu saja?”

“Siapa bilang aku hendak angkat kaki?” jawab Sun-hoan dengan tertawa.

“Memangnya engkau tidak … tidak ingin pergi?” tanya Pek-hiau-sing.

“Sebelum salah dan benar menjadi jelas, mana boleh kupergi begini saja?” ujar Sun-hoan.

“Masakah kau dapat menyuruh Ngo-tok-tongcu datang ke sini untuk mengakui sebagai pembunuh Sim-bi Taysu?”

“Tentu saja tidak dapat, sebab dia sudah mati,” kata Sun-hoan.

“Apa katamu? Ngo-tok-tongcu sudah mati? Memangnya engkau yang membunuhnya?” Pek-hiau-sing menegas dengan terkesiap.

“Dia kan juga manusia, maka dia juga tidak dapat mengelakkan pisauku,” ucap Sun-hoan dengan hambar.

Tiba-tiba Sim-oh berkata, “Jika engkau dapat memperlihatkan jenazahnya, sedikitnya kan dapat membuktikan kau tidak berdusta seluruhnya.”

Diam-diam Sun-hoan mengeluh di dalam hati, katanya dengan gegetun, “Sekalipun ada orang dapat menemukan jenazahnya juga tidak ada yang mengenali dia lagi.”

“Hm, jika begitu, siapa pula di dunia ini yang dapat membuktikan engkau tak berdosa?” jengek Pek-hiau-sing.

“Sampai saat ini memang belum kudapatkan seorang pun,” ujar Sun-hoan.

“Kalau begitu, lantas apa kehendakmu?” tanya Pek-hiau-sing.

Sun-hoan terdiam sejenak, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “Sekarang aku cuma ingin minum arak.”

*****

Saat itu A Fei sedang berduduk, gaya berduduknya kurang sedap dipandang, dia tidak pernah berduduk dengan santai sebagaimana halnya Li Sun-hoan, maklumlah, selama hidupnya hampir tidak ada kesempatan baginya untuk berduduk di atas kursi.

Api menyala pada tungku di dalam rumah dan cukup hangat, tapi A Fei malah merasa tidak enak, maklumlah, dia tidak biasa duduk di dalam rumah dengan perapian yang hangat. Lim Sian-ji meringkuk di samping perapian, wajahnya kelihatan kemerah-merahan.

Selama dua hari ini nona itu hampir tidak pernah memejamkan mata, sekarang luka A Fei seperti sembuh secara ajaib, maka dapatlah dia tidur dengan hati lega.

Pada waktu tidur tampaknya dia terlebih cantik daripada waktu sadar, bulu matanya yang panjang menutupi pelupuk matanya, dadanya yang bernas tampak bergerak naik turun, mukanya bersemu merah bagi bunga. A Fei memandangnya dengan terkesima.

Di dalam rumah hanya terdengar suara napas Sian-ji yang teratur dan suara nyala api di tungku, salju di luar sudah mulai cair, bumi raya penuh suasana hangat tenteram.

Namun sorot mata A Fei justru mulai menampilkan rasa tersiksa. Mendadak ia berbangkit. diam-diam ia mengenakan sepatu, perlahan ia menghela napas, ia mendapatkan pedangnya yang tertaruh di atas meja di pojok rumah sana, perlahan ia selipkan pedang pada ikat pinggangnya.

Tiba-tiba terdengar Sian-ji menegur, “Hei, mau … mau apa kau?”

Nona itu terjaga bangun, dengan pandangan tercengang ia tatap A Fei.

Namun A Fei tidak berani memandangnya, ia menggereget dan menjawab, “Aku mau pergi!”

“Pergi?” teriak Sian-ji, ia berbangkit dan memburu ke depan A Fei, ucapnya dengan suara gemetar, “Kau mau pergi begitu saja tanpa pamit?”

“Jika mau pergi, untuk apa pula bicara,” jawab A Fei.

Tubuh Sian-ji menjadi lemas mendadak, ia menyurut mundur dan jatuh di atas kursi, ia pandang A Fei dan menitikkan air mata.

Mendadak A Fei merasa pedih, belum pernah dirasakannya perasaan semacam ini, perasaan yang sukar dijelaskan. Mungkinkah ini perasaan cinta?

“Engkau telah menyelamatkan diriku, cepat atau lambat pasti akan kubalas kebaikanmu ini,” kata A Fei.

Tiba-tiba Sian-ji tertawa, “Baik, lekas kau balas kebaikanku, kuselamatkan dirimu memang berharap supaya mendapatkan balas jasa darimu.”

Dia tertawa, namun air matanya juga tambah deras bercucuran.

“Kutahu perasaanmu,” ucap A Fei dengan sedih. “Tapi tidak boleh tidak harus kupergi mencari Li Sun-hoan ….”

“Dari mana kau tahu aku tidak mau mencari dia? Mengapa tidak kau bawa serta diriku?”

“Aku … aku tidak ingin membikin susah dirimu.”

“Membikin susah diriku?” Sian-ji menegas sambil menangis. “Kau kira setelah kau pergi aku akan sangat berbahagia?”

A Fei ingin bicara lagi, tapi bibirnya menjadi rada gemetar. Tidak pernah terpikir olehnya bawa bibir juga bisa gemetar.

Mendadak Sian-ji menubruk maju dan merangkulnya erat-erat, desisnya, “Bawalah aku, bawalah pergi diriku, jika tidak kau bawa diriku, biarlah kumati di depanmu.”

Tidaklah banyak lelaki di dunia ini yang mampu menyatakan “tidak” di depan anak perempuan yang cantik, apalagi kalau anak perempuan itu menyatakan ingin mati, hampir tidak ada seorang lelaki pun yang sanggup menolak permintaannya.

Malam sunyi.

Keluar dari rumah A Fei lantas melihat bunga Bwe yang dihiasi bunga salju.

Kiranya di sinilah paviliun “Leng-hiang-siau-tiok”, anehnya, kegemparan yang terjadi di Hin-hun-ceng selama dua hari ini, selama itu tiada seorang pun datang ke paviliun ini.

Jika mereka mau mencari A Fei, mengapa mereka tidak mencari ke sini? Masa mereka begitu memercayai Lim Sian-ji?

Sian-ji memegang tangan A Fei dengan erat, katanya, “Perlu kubicara dulu dengan Ciciku.”

“Silakan,” kata A Fei.

“Tapi kukhawatir bila kutinggalkan dirimu di sini, engkau ikut pergi saja bersamaku.”

“Tapi Cicimu ….”

“Jangan khawatir, dia juga sahabat baik Li Sun-hoan.”

Segera Sian-ji menarik A Fei menerobos semak bunga dan melintasi jembatan kecil, di dalam taman sunyi senyap, tidak ada suara apa pun, cahaya lampu juga jarang-jarang, A Fei merasa tidak sanggup melepaskan tangan yang dipegang si dia.

Di atas loteng sana sinar lampu masih berkelip, tabir jendela tampak setengah tertutup sehingga suasana loteng kecil itu terasa semakin sunyi.

Lim Si-im sedang berduduk menghadapi pelita dengan termangu-mangu dan entah apa yang sedang dipikirkan.

Perlahan Sian-ji naik ke atas dengan menarik A Fei, lalu memanggil, “Toaci, meng … mengapa engkau belum tidur?”

Tapi Si-im tetap termangu-mangu, berpaling pun tidak.

“Toaci, ku … kudatang untuk mohon diri padamu, aku akan pergi, namun … namun takkan kulupakan budi kebaikan Toaci kepadaku, selekasnya aku akan datang lagi menjenguk engkau.”

Si-im seperti tidak mengerti apa yang diucapkan Sian-ji, sampai lama sekali barulah ia mengangguk dan berucap, “Pergilah engkau, memang paling baik engkau pergi saja, di sini tiada sesuatu lagi yang dapat menahanmu.”

“Di manakah Cihu (suami kakak)” tanya Sian-ji tiba-tiba.

Kembali sampai sekian lamanya barulah Si-im dapat menerima ucapan Sian-ji itu, gumamnya, “Cihu? … Cihu siapa?”

“Dengan sendirinya Cihuku?” jawab Sian-ji.

“Aku … aku tidak tahu Cihumu, aku tidak … tidak tahu ….” seru Si-im dengan parau.

Sian-ji melengak, sampai sekian lamanya ia melenggong, lalu berkata, “Sekarang juga kami akan menyusul ke Siau-lim-si ….”

Mendadak Si-im melonjak bangun dan berseru, “Pergilah lekas, lekas … jangan bicara lagi, lekas berangkat!”

Dia mengusir pergi Sian-ji dan A Fei, lalu berduduk lagi di samping pelita dengan air mata bercucuran.

Dari balik tabir sana tiba-tiba muncul seorang dengan perlahan, ternyata Liong Siau-hun adanya. Ia melototi Si-im, tersembul senyuman dingin pada ujung mulutnya, jengeknya. “Hm, biarpun mereka terbang ke Siau-lim-si juga tidak ada gunanya, di seluruh dunia ini tidak ada seorang pun yang sanggup menyelamatkan Li Sun-hoan ….”

*****

A Fei sedang makan, meski banyak dia makan tapi tidak cepat, sesuap nasi yang masuk mulutnya pasti dikunyahnya dengan cermat baru kemudian ditelannya. Tapi ia pun bukan sedang menikmati rasanya setiap makanan dengan perlahan seperti apa yang dilakukan Li Sun-hoan. Ia cuma ingin menyerap segenap kalori pada makanan itu untuk menambah daya tahan tubuhnya.

Kehidupan nelangsa yang berkepanjangan telah menjadikan semacam kebiasaan baginya dan juga membuatnya tahu betapa berharganya makanan. Di tengah hutan belukar setiap kali makan bisa jadi merupakan santapannya yang terakhir. Setelah makan satu kali, tidak pernah diketahuinya makan berikutnya akan terjadi kapan lagi, sebab itu sesuap makanan apa pun tidak boleh dibuangnya dengan percuma.

Hotel ini tidak besar, sudah sehari penuh mereka menempuh perjalanan tanpa berhenti dan akhirnya berhenti di sini, rumah makan sudah tutup semua, terpaksa mereka makan di dalam kamar.

Sian-ji duduk bertopang dagu dan memandangnya dengan termenung. Belum pernah dilihatnya seorang yang sedemikian menghargai makanan, sebab hanya orang yang pernah merasakan betapa menakutkannya lapar yang dapat menghargai makanan.

Begitulah A. Fei menikmati makanannya dengan perlahan dan penuh cita rasa, setiap bulir nasi secuil daging pun dimakannya hingga bersih, habis itu barulah ia menaruh kembali mangkuk dan sumpit sambil mengembus napas puas.

“Sudah kenyang?” tanya Sian-ji.

“Ehm,” A Fei mengangguk.

“Sungguh sangat menarik caramu makan nasi,” ujar Sian-ji dengan tertawa. “Kau makan satu kali tidak habis kumakan tiga kali.”

“Tapi aku sanggup tidak makan nasi selama tiga hari, apakah kau sanggup?” tanya A Fei dengan tertawa.

Tertawa A Fei juga mempunyai cara khas, tertawanya dimulai dari matanya, lalu terpancar ke bagian lain hingga akhirnya sampai ke mulut.

Memandangi senyuman yang menghiasi wajah A Fei, Sian-ji jadi terkesima.

Sampai sekian lamanya, mendadak ia tanya, “Agaknya kau lupakan sesuatu.”

“Oo, sesuatu apa?” tanya A Fei.

“Kim-si-kahmu masih berada padaku,” kata Sian-ji.

Ia lantas membuka ranselnya dan mengeluarkan baju kutang benang emas itu, dipandang di bawah sinar lampu, benda mestika yang membuat mengiler setiap orang persilatan itu memang gilang-gemilang dan tidak ada bandingannya.

“Waktu kuperiksa lukamu, terpaksa kulepaskan baju pusaka ini, sebegitu jauh kulupa mengembalikannya padamu,” tutur Sian-ji.

Tanpa memandang sekejap pun A Fei berkata, “Boleh kau simpan saja.”

Sorot mata Sian-ji menampilkan rasa girang, tapi dia malah menggeleng kepala dan berkata, “Inilah mestika yang kau dapatkan dengan susah payah, selanjutnya mungkin perlu kau gunakan baju ini, mana boleh sembarangan kau berikan kepada orang lain?”

A Fei memandangnya lekat-lekat, tiba-tiba suaranya berubah lembut, “Aku tidak memberikannya kepada orang lain, juga takkan kuberikan kepada siapa pun, aku cuma memberikannya padamu.”

Sian-ji memandangnya dengan termangu-mangu, sinar matanya penuh rasa terima kasih dan gembira. Kedua orang lantas saling pandang tanpa bicara. Entah berapa lamanya, mendadak Sian-ji bersuara lirih dan menubruk ke dalam pangkuan A Fei.

Angin mendesir di luar jendela, pelita di atas meja bergoyang-goyang. Tubuh Sian-ji terasa sedemikian lunak dan halus, begitu hangat dan agak gemetar.

Jantung A Fei juga berdetak dengan keras. Selama hidupnya belum pernah merasakan kehangatan demikian. Betapa pun dia juga lelaki, apalagi muda dan kuat.

Meski tidak pernah belajar, tapi urusan ini selamanya memang tidak perlu belajar, tanpa terasa ia menunduk, bibir beradu dengan bibir.

Panas bibir Sian-ji seperti berapi.

Dalam sekejap itu segala urusan duniawi berubah seakan-akan tidak ada artinya sama sekali, segala benda di dunia ini seolah-olah luluh terbakar semua, waktu juga seperti berhenti berputar.

Gemetar tubuh Sian-ji dan mengeluarkan keluhan perlahan. Tubuhnya yang gemetar menjadi petunjuk bagi tangan A Fei. Kulit tubuhnya yang halus dan licin panas seperti terbakar.

Rambutnya sudah kusut, gaunnya juga tersingkap, sekujur badannya seolah-olah mengalami dipanggang. kedua pahanya yang panjang dan putih terlipat menjadi satu. A Fei sendiri rasanya hampir meledak.

Di bawah cahaya pelita yang guram, paha yang putih licin itu tampak merinding, pahanya merapat, punggung kakinya mengeras lurus.

Mungkin tiada sesuatu lagi di dunia yang lebih memikat daripada pemandangan ini.

Dengan erat Sian-ji merangkul leher A Fei, napasnya yang panas dan memburu menyembur telinga anak muda itu, perlahan ia gigit ujung kuping sehingga meruntuhkan sukmanya.

Butiran keringat tampak menghiasi wajah A Fei, saking tegangnya ia pun menggigil. Inilah untuk pertama kalinya, nafsu berahi yang terpendam selama 20 tahun segera akan meledak dalam sekejap ini.

Entah sejak kapan mereka sudah berbaring di tempat tidur.

Mestinya A Fei adalah seorang yang paling dapat mengatasi perasaan sendiri, tapi sekarang ia tidak tahan lagi.

Dalam keadaan demikian, memangnya pemuda mana yang bisa tahan? Dia mulai membuka pakaian Sian-ji ….

Terasa dada beradu dada, A Fei seperti telah berubah seekor binatang.

Tapi pada saat terakhir itulah mendadak Sian-ji mendorongnya dengan keras, karena tidak terduga-duga, A Fei tertolak jatuh ke bawah tempat tidur.

Keruan A Fei melenggong.

Didengarnya Sian-ji berucap dengan suara gemetar, “Ti … tidak, tidak boleh kita berbuat begini, tidak boleh ….”

Dia masih meringkuk di tempat tidur memeluk selimut kencang-kencang, ucapnya dengan menitikkan air mata, “Meski aku pun tidak tahan, tapi kalau … kalau kita tidak dapat bersabar, kelak pasti … pasti akan menyesal, dalam hatimu selanjutnya pasti akan memandang diriku sebagai perempuan yang hina.”

A Fei tidak bicara, selang agak lama barulah ia berdiri perlahan.

Sekarang dia sudah dingin, seperti api habis disiram air, sudah paham.

Sian-ji merosot ke bawah tempat tidur dan merangkul kaki A Fei, ucapnya dengan menangis, “O, kumohon dengan sangat, maafkan diriku. Kulakukan hal ini demi kehidupan kita di kemudian hari. Hari depan kita masih sangat panjang, betul tidak?”

A Fei menggigit bibir, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Ya, tindakanmu memang tepat. Akulah yang salah, mana dapat kusalahkan dirimu.”

“Kutahu saat ini engkau pasti sangat kagok dan tentu ingin … dapat juga kuberikan padamu, cepat atau lambat aku toh akan menjadi milikmu.”

Perlahan A Fei membelai rambut Sian-ji, ucapnya dengan lembut, “Jika engkau dapat menunggu, mengapa aku tidak dapat? Hari depan kita memang masih sangat panjang.”

Diam-diam tertawalah Sian-ji.

Sebab ia tahu pemuda yang angkuh dan keras kepala ini akhirnya telah ditaklukkan seluruhnya, selanjutnya anak muda ini pasti akan berlutut di bawah kakinya.

A Fei mengangkat Sian-ji dan dibaringkan perlahan di tempat tidur serta menutupnya dengan selimut, dalam pandangannya nona ini adalah jelmaan kecantikan dan kesucian. Si dia sudah menjadi dewi pujaannya.

*****

A Fei sudah pergi.

Sian-ji berbaring di tempat tidur dan diam-diam lagi tertawa.

Dapat menaklukkan seorang lelaki memang sesuatu yang sangat menggembirakan.

Sekonyong-konyong daun jendela terbuka, angin dingin mengembus masuk.

Serentak Sian-ji bangun berduduk dan membentak, “Siapa itu?”

Baru dia bertanya, segera terlihatlah seraut wajah yang menakutkan, wajah yang bersemu hijau, dipandang di tengah malam gelap serupa setan iblis.

Di tengah malam sunyi mendadak muncul sebuah wajah demikian di luar jendela, biarpun orang yang bernyali besar pasti juga akan kaget setengah mati jika tidak jatuh kelengar.

Tapi Sian-ji lantas berbaring pula, tidak menjerit kaget, juga tidak jatuh pingsan. Ia cuma memandang orang ini dengan tenang, bahkan tiada terunjuk setitik rasa takut pun.

Orang aneh ini pun sedang meratap Sian-ji, kedua matanya serupa dua titik api setan.

Sian-ji berbalik tertawa, sapanya, “Jika sudah datang, mengapa tidak masuk saja?”

Baru habis ucapannya, tahu-tahu orang itu sudah berdiri di depan tempat tidurnya.

Sungguh menakutkan perawakannya yang tinggi, mukanya juga lonjong, lehernya panjang, pada lehernya malahan terbebat sepotong kain putih sehingga tubuhnya kaku tegak serupa mayat hidup.

Namun gerak-geriknya ternyata sangat lincah dan sangat cepat, siapa pun tidak tahu cara bagaimana dia melayang masuk melalui jendela.

“Engkau terluka?” tanya Sian-ji sambil memandangi leher orang.

Orang itu hanya mendelik, tapi tutup mulut.

“Li Sun-hoan yang melukai kau?” tanya pula Sian-ji.

Berubah juga air muka orang itu, ucapnya dengan bengis, “Dari mana kau tahu?”

Sian-ji menghela napas, “Semula kukira engkau dapat membunuhnya, siapa tahu engkau berbalik dilukai olehnya.”

“Dari mana kau tahu aku ingin membunuh dia?” tampaknya orang itu tambah marah.

“Sebab dia telah membunuh Ku Tok dan Ku Tok adalah anakmu yang tidak resmi,” kata Sian-ji.

Dia tersenyum, lalu menyambung pula, “Tentunya kau heran lagi dari mana kutahu hal ini. Padahal urusan ini sangat sederhana, selamanya ‘Jing-mo-jiu’ In Gok tidak pernah menerima murid, tapi Ku Tok tidak cuma mendapatkan segenap intisari ilmu silatmu, bahkan juga mewarisi sebuah tangan iblis hijau darimu.”

Orang itu memang Jing-mo-jiu In Gok. Dia melototi Sian-ji dengan mata merah membara, sampai sekian lama barulah ia berucap pula sekata demi sekata, “Aku juga kenal darimu.”

“O, sungguh aku sangat beruntung,” Kata Sian-ji dengan tersenyum.

“Sebelum Ku Tok mati, Jing-mo-jiu sudah hilang lebih dulu.”

“Ya, memang hilang.”

“Tangan maut itu telah diberikannya padamu?”

“Rasanya memang begitu.”

“Kalau Jing-mo-jiu tidak diberikannya kepadamu, mana bisa dia mati di tangan Li Sun-hoan,” kata In Gok dengan gusar.

Sian-ji tertawa, “Engkau tidak pernah memberikan Jing-mo-jiu padaku, tapi engkau kan juga dilukai oleh Li Sun-hoan, betul tidak?”

Dengan beringas mendadak In Gok menjambak rambut Lim Sian-ji.

Tapi Sian-ji tidak takut, sebaliknya tertawanya tambah manis, ucapnya dengan lembut, “Hm, umpama dia mati demi diriku kan boleh dikatakan mati dengan sukarela, sebab ia yakin matinya itu cukup berharga.”

In Gok menyeringai dan mendesis, “Hm, justru ingin kulihat apakah kau memang betul berharga atau tidak?”

Mendadak ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Sian-ji. Tubuh yang telanjang dan melingkar itu serupa seekor domba.

Biji leher In Gok tampak naik turun, kerongkongannya serasa kering.

“Bagaimana, berharga tidak?” tanya Sian-ji dengan tertawa genit.

In Gok memuntir rambutnya terlebih kencang, seakan-akan hendak mencabut seluruh rambut dari kulit kepalanya.

Karena kesakitan, Sian-ji mencucurkan air mata, tapi di antara air mata yang berlinang itu juga menampilkan semacam rasa kehausan yang merangsang, ia pandang In Gok dengan mata terpicing, keluhnya dengan napas terengah, “Mengapa engkau cuma berani menjambak rambutku? Memangnya tubuhku berduri?”

Lelaki mana yang tahan oleh kerlingan mata sayu dan ucapan begitu?

Mendadak tangan In Gok membalik dan tepat menampar muka Sian-ji, habis itu lantas mencengkeram erat-erat bahunya serta setengah diangkat.

Tubuh Sian-ji lantas gemetar mendadak, entah gemetar tersiksa atau gemetar karena bergairah, mukanya berubah merah lagi.

In Gok terus menghantam perutnya sambil membentak dengan parau, “Perempuan hina, kiranya kau suka dipukul.”

Kembali tubuh Sian-ji melingkar karena pukulan In Gok, keluhnya, “Oo, pukul, pukul lagi, pukul mati saja diriku ….”

Suaranya ternyata tidak menderita sedikit pun, bahkan penuh rasa harap.

“Kau tidak takut padaku?” tanya In Gok.

“Kenapa kutakut padamu?” ucap Sian-ji dengan gemetar. “Meski mukamu buruk, tapi engkau tetap seorang lelaki.”

Serentak In Gok mengangkat tubuh Sian-ji dan dibanting ke lantai, lalu menjambak lagi rambutnya. Namun Sian-ji berbalik merangkulnya erat-erat, ucapnya dengan napas memburu, “Aku tidak takut padamu, aku justru suka padamu, aku justru suka padamu! Sudah terlalu banyak lelaki cakap yang kulihat, sekarang aku justru suka kepada lelaki bermuka buruk. Ap … apa lagi yang kau tunggu sekarang?”

In Gok tidak menunggu lagi.

Dalam keadaan demikian, lelaki mana pun tidak mau menunggu lagi ….

*****

Di dalam kamar hanya tersisa suara napas yang tersengal.

In Gok berdiri di depan tempat tidur dan sedang memakai baju, dipandangnya Sian-ji yang telentang di tempat tidur dengan wajah yang puas dan bangga sebagai seorang penakluk.

Sampai lama sekali, mendadak Sian-ji tertawa dan berkata, “Sekarang tentunya kau tahu aku berharga atau tidak?”

“Seharusnya kubunuh dirimu, kalau tidak, entah betapa banyak orang yang akan menjadi korbanmu,” kata In Gok.

“Sebenarnya kau datang untuk membunuhku?” tanya Sian-ji.

“Hmk,” jengek In Gok.

“Kau tega turun tangan?” tanya Sian-ji dengan tersenyum genit.

Kembali In Gok menatapnya hingga lama, tiba-tiba ia tanya, “Siapa anak muda yang ikut kemari bersamamu itu?”

Sian-ji tertawa, “Untuk apa kau tanya dia? Cemburu? Atau takut?”

In Gok mendengus dan tak mau menjawab.

“Dia seorang anak penurut,” ucap Sian-ji sambil mengerling genit, “tidak busuk seperti engkau, sejak tadi dia sudah pergi tidur ke rumah lain yang berjauhan dari sini. Jika dia berada di sekitar sini dan mendengar suaramu, mana dia mau tinggal diam dan membiarkan diriku dihina olehmu.”

“Hm, untung dia tidak mendengar suaraku,” jengek In Gok.

“Oo, apakah kau pun ingin membunuh dia?” tanya Sian-ji.

“Hmk,” kembali In Gok mendengus.

Sian-ji tertawa, “Kukira engkau tak dapat membunuhnya, bukan cuma ilmu silatnya sangat tinggi, bahkan dia juga sahabat Li Sun-hoan, aku pun sangat suka padanya.”

Seketika air muka In Gok berubah.

Biji mata Sian-ji mengerling pula, katanya dengan tertawa, “Dia tinggal di deretan rumah yang paling belakang sana, berani kau cari dia?”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu In Gok sudah melayang pergi.

“Eh, hati-hati sedikit, bisa jadi lehermu terkena tusukan lagi,” seru Sian-ji.

Sambil tertawa cekikik dia terus menyusup ke dalam selimut, senangnya tidak kepalang serupa seorang anak kecil habis mencuri permen dan tidak kepergok.

Bila terbayang tangan iblis hijau In Gok akan menghancurkan kepala A Fei, seketika matanya mencorong terang, kalau teringat pedang A Fei juga akan menembus leher In Gok, saking senangnya sampai tubuhnya gemetar.

Pikir dan pikir, akhirnya dia terpulas. Dalam tidurnya ia masih tertawa manis, sebab siapa yang akan terbunuh oleh siapa tetap akan menyenangkan dia. Malam ini dia benar-benar tidur dengan sangat enak.

Akan tetapi pada saat yang sama A Fei justru tidak dapat pulas. Selamanya dia tidak pernah sulit tidur seperti sekarang ini.

Sebelum ini, asal terasa letih, sekalipun berbaring di tanah bersalju juga dapat tidur. Sekarang, meski badan dirasakan penat, tapi bergulang-guling tetap sukar terpulas dan selalu terkenang kepada Lim Sian-ji.

Bila teringat kepada Sian-ji hatinya lantas terasa manis, timbul juga perasaan sesal terhadap dirinya sendiri, ia merasa dirinya telah memperlakukan si nona dengan tidak senonoh.

Ia bersumpah selanjutnya pasti akan lebih menghormatinya, sebab dia tidak saja cantik, juga sangat menyenangkan, tidak cuma menyenangkan, juga suci bersih dan anggun.

Dapat bertemu dengan anak perempuan seperti ini, sungguh ia merasa sangat beruntung.

Entah selang berapa lama lagi, baru melayap-layap hendak pulas, entah mengapa, mendadak ia melonjak bangun.

Kebanyakan binatang liar bilamana mengendus sesuatu bau bisa mendadak terjaga bangun dari tidurnya.

Baru saja A Fei menyelipkan pedang di pinggang, daun jendela lantas terbuka. Terlihat sepasang mata yang lebih seram daripada mata setan sedang melotot padanya.

“Kau ini yang datang bersama Lim Sian-ji?” In Gok.

A Fei mengiakan.

“Baik, keluar sini,” kata In Gok pula.

Di luar jendela adalah tembok, antara tembok pagar itu dan kamar ada tempat luang selebar tiga-empat kaki, A Fei dan In Gok lantas berdiri berhadapan di situ.

A Fei tidak bicara, ia tidak suka bicara, selamanya ia tidak mau membuka mulut lebih dulu.

“Akan kubunuh dirimu,” ucap In Gok. Ia pun tidak suka banyak bicara, hanya berucap seperlunya saja.

Kembali A Fei termenung hingga lama, akhirnya berkata dengan tak acuh, “Hari ini aku tidak suka membunuh orang, boleh kau pergi saja.”

“Hari ini aku pun tidak ingin membunuh orang, hanya ingin membunuhmu.”

“Oo!” melengak juga A Fei.

“Tidak seharusnya kau datang bersama Lim Sian-ji,” kata In Gok pula.

Mendadak sorot mata A Fei memancarkan sinar tajam, “Jika kau sebut namanya lagi terpaksa akan kubunuh dirimu.”

“Sebab apa?” In Gok menyeringai.

“Sebab tidak setimpal kau sebut namanya.”

Mendadak In Gok tertawa terkekeh-kekeh, “Bukan namanya saja akan kusebut, bahkan ingin kutidur bersama dia, kau bisa apa?”

Muka A Fei mendadak marah membara. Biasanya dia seorang tenang dan pendiam, hampir tidak pernah semurka ini. Tangan sampai gemetar saking gusarnya.

Tangan yang gemetar dengan sendirinya kurang mantap memegang pedang, tapi dia lupa, rasa murka telah membakar rasionya, dengan kalap pedangnya lantas menusuk.

Pada saat yang sama tangan iblis hijau juga mengebas, “tring”, pedang patah menjadi dua.

“Hahahaha!” In Gok tertawa latah. “Begini saja Lim Sian-ji bilang kepandaianmu sangat tinggi.”

Di tengah gelak tertawanya In Gok menyerang belasan jurus sekaligus. Senjata berbentuk tangan itu sungguh sangat aneh, tampaknya sangat berat, tapi gerak-geriknya sangat lincah, jurus serangannya juga sangat aneh.

Hampir sama sekali A Fei tidak mau menangkis, yang dipegangnya tertinggal pedang patah, terpaksa ia berusaha menghindar dengan langkah yang gesit.

In Gok menyeringai, “Jika kau mau menjawab pertanyaanku dengan jujur, dapat juga kuampuni jiwamu.”

A Fei mengertak giginya erat-erat, butiran keringat tampak menghiasi hidungnya. Dia tetap diam saja.

“Ingin kutanya padamu, apakah Lim Sian-ji sering tidur dengan orang? Pernah dia tidur bersamamu tidak?” tanya In Gok.

Mendadak A Fei meraung murka, pedang buntung yang dipegangnya menusuk pula.

“Tring”, kembali terdengar suara nyaring, pedang kutung juga terpukul mencelat oleh tangan iblis hijau, A Fei sendiri juga tergetar roboh.

Secepat kilat Jing-mo-jiu lantas menghantam pula, karena untuk berdiri saja tidak sempat, terpaksa A Fei bergulingan di tanah, setelah menghindar beberapa kali, akhirnya ia merasa kewalahan. Daya tekan Jing-mo-jiu sungguh terlalu kuat, terlalu menakutkan.

“Ayolah bicara, bila kau jawab pertanyaanku tadi segera kuampuni jiwamu!” In Gok menyeringai pula.

“Baik, kukatakan!” desis A Fei.

Baru saja In Gok terbahak-babak lagi, sedikit lengah, mendadak sinar pedang berkelebat. Selama hidup In Gok tidak pernah melihat sinar pedang secepat ini.

Ketika dia tahu apa yang terjadi, tahu-tahu pedang sudah menembus tenggorokannya, dia mengeluarkan suara “krak-krok”, wajahnya penuh rasa takut dan sangsi, seperti mati pun tidak mau percaya.

Sampai ajalnya ternyata dia tidak tahu dari mana datangnya tusukan pedang itu? Mati pun dia tidak percaya anak muda itu mampu melancarkan serangan secepat itu.

Ternyata dengan dua jari A Fei menjepit bagian pedang yang patah tadi, perlahan ia cabut ujung pedang yang menembus leher In Gok itu.

Kulit muka In Gok tampak berkejang dan mata mendelik.

Dengan sorot mata dingin A Fei menatapnya dan berucap, “Barang siapa menghinanya harus mati!”

Kerongkongan In Gok masih mengeluarkan suara “krak-krok”, sampai mata alisnya juga berkerut-kerut, sebab ia masih ingin tertawa, tertawa yang menakutkan. Dengan tertawa dia ingin memberitahukan kepada A Fei bahwa “cepat atau lambat kau pun akan mati di tangan perempuan itu”.

Cuma sayang, perkataan itu tidak dapat lagi diucapkan selamanya.

Waktu Lim Sian-ji mendusin, segera dilihatnya sesosok bayangan sedang mondar-mandir di luar jendela.

Ia tahu orang ini tentu A Fei adanya, ingin masuk kamarnya, tapi khawatir membuatnya terjaga bangun. Jika In Gok, tentu dia takkan menunggu di luar.

Melihat bayangan orang ini, hati Sian-ji terasa sangat senang.

Meski In Gok terhitung seorang lelaki istimewa, juga sangat terkenal, lelaki demikian memang serbabaru dan sangat merangsang. Tapi tidak perlu disangsikan lagi A Fei terlebih menarik baginya.

Dengan gembira Sian-ji berbaring di tempat tidurnya dan membiarkan A Fei menunggu sekian lama pula di luar, kemudian ia memanggilnya perlahan, “Apakah Siau Fei di luar?”

“Siau Fei” atau Fei cilik, sebutan yang hangat dan mesra.

Bayangan A Fei lantas berhenti di balik jendela dan menjawab, “Ya, aku.”

“Mengapa engkau tidak masuk saja?” kata Sian-ji.

Perlahan A Fei mendorong, daun pintu lantas terpentang, ia berkerut kening. “Pintu tidak kau palang?”

Lim Sian-ji menggigit bibir dan tertawa, “Ai, kulupa … semuanya kulupakan.”

Mendadak A Fei memburu ke depan tempat tidur dan memandang wajahnya dengan lekat-lekat, muka Sian-ji agak biru dan rada bengkak.

Air muka A Fei berubah, “Ada … ada apa dengan kau?”

Sian-ji menjawab dengan tersenyum genit, “Jika kurang tidur mukaku lantas bengkak, semalam … semalam aku tidak dapat tidur ….” mukanya lantas merah, ia bersuara malu dan menutup mukanya dengan selimut, lalu berkata pula dengan tertawa, “Mengapa kau pandang orang cara demikian? Aku … aku tidak dapat tidur, tentu … tentu kau pikirkan hal yang tidak-tidak lagi?”

A Fei jadi terkesima, hatinya kembali cair. “Dan engkau bagaimana? Dapat kau tidur dengan baik?” tanya Sian-ji.

“Aku pun tidak dapat tidur dengan nyenyak,” tutur A Fei. “Ada seekor anjing gila menggonggong sepanjang malam di luar kamarku.”

“Anjing gila?” Sian-ji terbelalak.

“Ehm, sudah kubinasakan anjing gila itu dan kubuang ke sungai,” tutur A Fei pula.

Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada suara orang mengetuk sesuatu.

A Fei mengintip ke luar, dilihatnya pelayan berdiri di halaman dan sedang memukul tempat air teh sambil berseru, “Dengarkan para tamu, bilamana tuan-tuan ingin mendengarkan berita dunia Kangouw yang menggemparkan dan peristiwa besar yang terjadi di dunia persilatan akhir-akhir ini, disilakan datang ke ruangan makan, baru saja datang Sun-siansing dari daerah selatan, beliau akan mulai bercerita tepat pada waktu tengah hari nanti, dijamin pasti mengasyikkan dan menegangkan, pasti berita baru yang belum tuan-tuan ketahui, pada kesempatan itu tuan-tuan sekaligus dapat bersantap dan minum arak.”

A Fei menutup kembali daun jendela dan menggeleng kepala.

“Engkau tidak mau mendengarkan?” tanya Sian-ji.

“Tidak,” jawab A Fei.

“Tapi aku ingin mendengarkannya, apalagi kita juga harus makan siang,” kata Sian-ji pula.

A Fei tertawa, “Tampaknya cara si pelayan meramaikan rumah makannya memang sangat pintar.”

Sian-ji lantas menyingkap selimut dan bermaksud bangun, tapi mendadak ia bersuara kaget dan mengkeret lagi ke dalam selimut, dengan muka merah ia berseru, “He, kau jahat, ayolah lekas … lekas ambilkan pakaianku.”

Muka A Fei juga merah, jantung berdebar karena melihat tubuh yang bugil itu.

Sian-ji tertawa mengikik dan berseru pula, “Berpaling ke sana, tidak boleh mengintip.”

A Fei menghadap dinding, jantung serasa mau melompat keluar.

Ruangan makan sudah hampir penuh, cerita dunia Kangouw selalu merangsang setiap peminat, siapa pun ingin mendengarkannya.

Pada meja yang berdekatan dengan jendela berduduk seorang tua berbaju panjang warna biru, rambut beruban, asyik udut dengan pipa tembakau panjang dengan mata terpejam.

Di sebelahnya berduduk seorang nona yang masih sangat muda, rambut dikepang menjadi kucir panjang, matanya besar, hitam gilap, kerlingannya bisa menghanyutkan sukma setiap lelaki.

Waktu A Fei dan Sian-ji masuk ke situ, pandangan setiap orang sama terbeliak, si nona berkucir juga lantas menatapnya tanpa berkedip.

Sian-ji meliriknya sekejap, tiba-tiba ia mendesis kepada A Fei, “Coba lihat sinar matanya, hati-hati, jangan sampai engkau kecantol olehnya.”

Baru saja mereka minta beberapa macam makanan, terdengar si kakek berdehem beberapa kali, ia mengetuk pipa tembakaunya di atas meja, lalu berkata, “Hong-ji, sudah waktunya, bukan?”

“Ya, sudah,” jawab si nona berkucir.

Si kakek lantas membentangkan matanya, meski orangnya kelihatan tua renta, tapi sinar matanya masih tajam, sekali menyapu pandang, para tamu merasa dirinya yang lagi ditatap olehnya.

Sian-ji tertawa dan berbisik, “Sun-losiansing ini tidak mirip seorang pengelana, tampaknya cuma sekadar cari makan saja.”

Meski suara ucapannya sangat lirih, namun si kakek she Sun itu seperti dapat mendengarnya, sinar matanya menyapa sekejap ke arah Sian-ji, ujung mulutnya menampilkan secercah senyuman.

Si nona berkucir lantas mendekatkan semangkuk teh kepada si kakek, lebih dulu kakek itu minum dua-tiga ceguk teh mangkuk itu, lalu mulai berkisah, “Bwe-hoa-cat berbuat macam-macam kejahatan, Tamhoalong, mengutamakan setia kawan dan mengorbankan harta.”

Rupanya itulah judul ceritanya.

Ia berhenti sejenak dan menyapa pandang para tamu, lalu bertanya, “Apakah hadirin tahu siapa kedua orang yang kumaksudkan ini!”

Dengan sendirinya si nona berkucir tahu pertanyaan si kakek tidak sungguh-sungguh ditujukan kepada para tamu melainkan cuma ingin mencari seorang penanggap saja. Maka dia lantas menggoyangkan kedua kucirnya, ucapnya dengan menggeleng, “Siapakah kedua orang itu? Rasanya tidak perih terdengar cerita tentang mereka.”

Sun-losiansing tertawa dan berucap pula, “Ah, jika begitu, jelas kau ini sedikit pengetahuan dan kurang pengalaman. Mengenai kedua orang ini, mereka sungguh sangat ternama. Selama beberapa puluh tahun ini Bwe-hoa-cat hanya muncul dua kali, meski cukup dua kali saja, namun perkara yang dilakukan oleh beratus orang gagah di lembah kedua Sungai Besar kalau dijumlahkan tetap tidak sebanyak perkara yang diperbuatnya.”

Si nona berkucir menjulur lidah, ucapnya dengan berlagak kaget, “Wah, lihai amat …. Dan siapa lagi Tamhoalong yang dimaksudkan?”

“Orang ini adalah keturunan keluarga hartawan dan berpangkat, boleh dikatakan sangat terhormat dan disegani. Dari ketiga angkatan tua leluhurnya, tujuh kali mendapat gelar Cinsu, sayangnya cuma tidak pernah lulus ujian Conggoan (gelar tertinggi ilmu kesusastraan). Sampai pada angkatan Li-tamhoa tua, beliau hanya mempunyai dua orang putra. keduanya bahkan jauh lebih cerdas daripada leluhurnya, harapan orang tua benar-benar tertumpu atas diri kedua putra kesayangan ini semoga mereka berhasil lulus ujian Conggoan untuk memenuhi kekurangan keluarga Li selama ini.”

“Gelar Tamhoa juga sudah cukup lumayan, kenapa mesti mengharapkan Conggoan segala?” ujar si nona dengan tertawa.

“Mungkin sudah nasib, Li-kongcu besar juga cuma mendapatkan gelar Tamhoa saja, dengan sendirinya ayah dan anak merasa kurang puas, harapan mereka sekarang hanya terletak kepada Li-kongcu kecil saja,” tutur kakek Sun lebih lanjut. “Siapa tahu takdir memang tidak dapat dipaksa, Li-kongcu kecil yang sangat cerdas ini akhirnya juga cuma lulus sebagai Tamhoa saja. Keruan Li-tamhoa tua sangat kecewa, tidak sampai dua tahun beliau lantas meninggal. Menyusul Li-kongcu besar juga terkena penyakit yang tak tersembuhkan. Dengan sendirinya Li-kongcu kecil ini juga putus asa dan berduka, ia terus mengundurkan diri dari jabatannya dan tirakat di rumah, harta benda tidak terpandang lagi olehnya, banyak dia mengikat persahabatan, luhur budi dan keterbukaan tangannya sungguh sukar ditandingi sosiawan mana pun baik zaman dahulu maupun masa kini.”

Sekaligus dia mencerocos sampai di sini baru berhenti dan menghirup lagi seceguk air teh.

Bergolak darah A Fei mendengarkan cerita itu, ada orang memuji kehebatan Li Sun-hoan, baginya jauh lebih gembira daripada orang memuji dia sendiri.

Didengarnya kakek Sun itu bercerita pula, “Tamhoalong kecil ini memang sangat banyak mendapat ajaran orang kosen dan menguasai Kungfu mahalihai.”

About these ads

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: